Rabu, 25 Juli 2018

Bocah yang Belum Pernah Kecemplung Sumur

Setiap orang memiliki luka, trauma, dan ketakutannya sendiri, dan 
kita bisa menelusurinya hingga ke ujung neraka yang paling luka.


Apa perbedaan bocah yang pernah kecemplung sumur, dengan bocah yang tidak/belum pernah kecemplung sumur? Mari saya ceritakan.

Minggu lalu, saya datang ke rumah Fatih, seorang teman. Kami berencana pergi ke suatu tempat, dan sore itu saya menjemput ke rumahnya. Ketika saya datang, Fatih sedang mempersiapkan barang-barangnya, jadi saya menunggu di depan rumah sambil merokok.

Di depan rumah Fatih—menyeberang jalan kampung—ada tanah kosong, dan di tanah kosong itu terdapat sumur tua yang sudah tak terpakai. Semula, tanah kosong itu tertutup pagar. Namun, karena sudah lapuk, pagar bambu di sana rubuh akibat hujan yang terus turun. Jadi, tanah kosong itu pun kini terbuka, dan mengundang rasa penasaran anak-anak di sana.

Namanya anak-anak, mereka tertarik pada apa saja, termasuk pada sumur tua. Sore itu, waktu saya berdiri di depan rumah Fatih, sekelompok anak memasuki tanah kosong, dan tampak mendekati sumur tua di sana. Sebagian ada yang melongok-longokkan kepala ke sumur, entah apa yang mereka cari.

Pada waktu itulah, muncul seorang laki-laki dari salah satu rumah, dan dia tampak panik serta meneriaki anak-anak agar menjauh dari sumur. Ekspresinya benar-benar ngeri dan ketakutan waktu melihat anak-anak di dekat sumur. Jadi, selama anak-anak itu belum menjauh dari sumur, laki-laki tadi terus meneriaki dengan panik, meminta bocah-bocah itu segera menjauh.

Setelah anak-anak menjauh dari sumur, laki-laki yang usianya mungkin 50 tahun itu tampak lega. Dengan kikuk, dia menengok ke arah saya, yang berdiri tidak jauh darinya. Lalu dia menjelaskan, “Saya selalu ngeri tiap lihat anak-anak di dekat sumur. Saya khawatir mereka jatuh.”

Dalam hati, saya membatin kalau saya juga khawatir. Tapi saya santai-santai saja, tidak sampai teriak-teriak panik seperti dia.

Laki-laki itu melanjutkan, “Dulu, waktu seusia anak-anak tadi, saya pernah kecemplung sumur.”

Saya bengong.

Dia lalu menceritakan, “Saya mengejar layang-layang putus, waktu itu. Seperti umumnya anak-anak lain, saya begitu semangat mengejar, berlari menuju ke tempat layang-layang mungkin akan jatuh. Saya tidak sempat memperhatikan tempat saya berlari, dan saya kecemplung sumur yang kebetulan ada di sana.”

“Dari siang sampai malam, saya di dalam sumur,” lanjutnya. “Saya baru ditemukan orang-orang, setelah orang tua saya panik karena saya tidak pulang ke rumah. Dibantu para tetangga, mereka mencari-cari saya, dan—di kedalaman sumur—saya mendengar mereka memanggil-manggil nama saya. Maka saya pun menyahut, dan mereka mendapati saya di dasar sumur. Saya diangkat dari sana, dan sejak itu saya trauma... sampai sekarang.”

Penjelasan itu pun membuat saya akhirnya mengerti kenapa dia tadi terlihat sangat panik, saat melihat anak-anak kecil mendekati sumur. Tentu dia bereaksi berdasarkan trauma yang dialami atau dirasakannya—sesuatu yang tidak saya alami. Karena dia pernah kecemplung sumur, sementara saya tidak pernah kecemplung sumur.

Sebenarnya, saya bermaksud melanjutkan percakapan dengan laki-laki tadi, ingin tahu lebih lanjut perasaan trauma yang dialaminya. Tapi Fatih kemudian keluar rumah dengan membawa tas, dan mengisyaratkan kami untuk berangkat. Percakapan saya dengan laki-laki tadi pun terputus.

Trauma, mungkin istilah yang populer. Meski begitu, hanya orang yang pernah mengalami yang benar-benar tahu arti trauma sesungguhnya. Seperti orang tadi, yang pernah kecemplung sumur. Dia tahu betul apa yang dirasakannya, ketakutannya, kekawatirannya—sesuatu yang mungkin akan sulit dipahami orang-orang lain yang belum pernah kecemplung sumur dan harus mendekam di dalamnya.

Kalau kita sama-sama pernah kecemplung sumur, dan mengobrolkan trauma atas peristiwa yang kita alami, tentu kita akan “nyambung” dan sama-sama paham yang dibicarakan. Tapi kita akan sulit “nyambung” jika hanya saya yang pernah kecemplung sumur, karena kau tidak akan memahami yang saya ceritakan. Bahkan, bisa jadi, kau akan enteng mengatakan, “Paling kecemplung sumur saja kok trauma.”

Trauma akibat kecemplung sumur—semengerikan apa pun—mungkin memang terdengar konyol. Jadi, mari kita lihat bentuk trauma lain, yang benar-benar saya alami. Kali ini bukan “sekadar” kecemplung sumur, tapi sesuatu yang mempertaruhkan nyawa.

Seperti yang ditulis di sini, saya punya “kebiasaan buruk” dalam mengatasi stres berat, yaitu ngebut di jalanan dengan motorsport. Yang saya maksud “ngebut” adalah melaju dengan kecepatan 150-160 kilometer per jam. Saat motor melaju secepat itu, kau akan merasakan ban-ban motormu seperti melayang—tidak menyentuh aspal—suasana sekelilingmu akan terasa sunyi, sementara yang terdengar hanya raungan mesin motor yang sangat membius. (Tolong jangan bandingkan suara motor hasil bobokan knalpot!)

Ketika menikmati sensasi semacam itu, saya merasakan pikiran begitu ringan, melayang, hingga stres terasa hilang.

Tapi itu bukan puncaknya.

Yang paling saya sukai ketika melakukan hal semacam itu adalah menerobos di antara dua bus atau dua truk yang sedang melaju berdampingan.

Jadi, ketika di depan saya melaju ada dua bus atau dua truk yang sedang melaju berdampingan—dengan celah yang bisa dilewati di tengah—saya akan melaju kencang di celah itu, tepat di antara dua raksasa. Aksi gila semacam itu hanya butuh waktu 1 detik, tapi 1 detik yang sangat berbahaya. Karenanya, begitu saya “lolos” dari celah itu, rasanya sangat... sangat menyenangkan.

Karena sangat menyenangkan, saya pun suka melakukannya. Sering kali, di jalanan yang lebar, ada dua bus yang melaju kencang dan berdampingan. Di antara mereka melaju, sering ada celah dengan lebar sekitar 1 meter. Saat melihat hal itu, saya pun memacu kecepatan, menerobos ke tengah-tengah mereka, dan “lolos” dengan kecepatan tinggi. Aksi gila semacam itu sempat menjadi hobi saya di jalanan.

Tetapi, seperti yang disebut tadi, aksi semacam itu sangat berbahaya. Dan, suatu hari, nahas terjadi.

Ketika saya sedang menerobos di antara dua truk yang berdampingan, dengan maksud untuk lolos seperti biasa, dua truk itu tiba-tiba saling mendekat—yang artinya mempersempit celah di tengah mereka—tepat ketika saya ada di celah itu!

Hasilnya bisa ditebak. Motor saya hancur. Dan saya masuk rumah sakit.

Itu menjadi awal trauma bagi saya, khususnya terkait menerobos di antara dua truk atau dua bus yang sedang melaju. Sejak itu, saya tidak pernah berani lagi melakukan hal serupa. Bahkan meski saya sangat yakin bisa melewatinya pun, saya tidak pernah berani mencoba. Setiap kali melihat dua bus atau dua truk berjalan berdampingan, dan di tengah mereka ada celah yang bisa dilewati, saya akan memilih untuk melaju di belakang mereka.

Saya trauma. Setiap kali akan mencoba menerobos melewati celah, saya selalu dihantui ketakutan, kalau-kalau celah di antara dua bus atau dua truk itu tiba-tiba menyempit seperti yang pernah saya alami, dan saya harus mengalami kejadian tragis seperti dulu lagi. Saya benar-benar trauma.

Trauma itu berlangsung hingga beberapa tahun. Sampai lama, tidak pernah sekali pun saya mencoba lagi. Tetapi, seiring waktu, keberanian saya mulai tumbuh kembali. Dan ketika saya mencoba melakukannya lagi, saya benar-benar mulai dari nol. Artinya, saya memulainya lagi dengan yang ringan-ringan—misal menerobos dua mobil yang sedang melaju pelan, yang saya yakini tidak akan berbahaya.

Dan proses itu membutuhkan waktu sangat lama. Jika sebelumnya saya hanya merasakan keasyikan, kini juga merasakan kekhawatiran. Kekhawatiran kalau-kalau celaka, ketakutan kalau-kalau dua kendaraan yang diterobos ternyata menyempit ketika saya ada di tengah mereka. Proses untuk membuang kekhawatiran dan ketakutan itulah yang sulit dan lama. Dan hal semacam itu hanya dapat dipahami oleh mereka yang pernah mengalami trauma.

Selama waktu-waktu itu—ketika trauma belum pulih—saya selalu ngeri setiap kali melihat orang menerobos dua bus atau dua truk yang sedang melaju berdampingan. Saya ngeri, karena khawatir orang itu mengalami yang saya alami. Saya ketakutan kalau-kalau melihat orang itu dihimpit dua truk atau dua bus yang sedang diterobosnya.

Perasaan itulah yang mungkin dialami laki-laki tetangga Fatih, ketika dia tampak sangat khawatir bahkan panik, ketika melihat anak-anak kecil mendekati sumur—suatu ketakutan dan kekhawatiran yang timbul akibat trauma. Laki-laki itu mungkin belum sembuh dari traumanya, karena dia masih kecil ketika mengalami peristiwa itu, hingga ketakutan yang dialaminya mengendap ke bawah sadar.

Sebagian orang mengalami trauma, dengan berbagai sebab dan latar belakang berbeda. Di antara mereka ada yang mampu pulih, namun ada pula yang masih dihantui trauma yang dialami. Kita mungkin tidak bisa membayangkan yang mereka alami, karena trauma orang per orang bersifat subjektif. Namun, setidaknya, kita bisa menghadapi mereka dengan empati.

Dari Rizal Ramli Sampai Andrew Jackson

Yang membuatku takjub atas peristiwa ini bukan semata keberanian Rizal Ramli untuk berdebat secara terbuka, tapi juga kecerdikan Presiden Jokowi dalam memainkan bidak di papan catur. » Rizal Ramli: Sri Mulyani Nggak Punya Nyali Debat soal Utang! https://bit.ly/2JSlFVE

Aku bisa membayangkan hal-hal yang mungkin ditakuti Sri Mulyani, jika dia bersedia debat terbuka dengan Rizal Ramli. Di antara pertanyaan yang dia takuti adalah, "Siapa sebenarnya pemilik Bank Indonesia, dan kepada siapa sebenarnya pemerintah Indonesia berutang?"

"Siapa sebenarnya pemilik Bank Indonesia, dan kepada siapa sebenarnya pemerintah Indonesia berutang?" Pertanyaan itu terdengar mudah dan sederhana, tapi akan berlaku seperti skakmat jika ditanyakan kepada Sri Mulyani, dan mungkin dia harus mutar-mutar untuk bisa menjawab.

"Siapa sebenarnya pemilik Bank Indonesia, dan kepada siapa sebenarnya pemerintah Indonesia berutang?" Sebagai rakyat Indonesia, aku benar-benar ingin mendengar Menteri Keuangan Sri Mulyani menjawab pertanyaan itu dengan jujur, lugas, sederhana, dan bisa dipahami semua orang.

Orang-orang Indonesia mungkin mengira Bank Indonesia milik pemerintah Indonesia, Bank of England milik rakyat Britania Raya, dan Federal Reserve milik pemerintah federal Amerika. Kedengarannya benar, tapi salah total! Pengetahuan tentang hal ini akan membuka selubung mengerikan.

Banyak presiden yang terkejut ketika mulai menjabat presiden. Bahkan Presiden AS (dari Lincoln sampai Clinton) pun terkejut, ketika mendapati bank sentral di negaranya ternyata bukan milik pemerintah mereka. Omong-omong, itulah kenapa dulu aku menulis tweet ini:

Secara pribadi, Presiden Jokowi mungkin tidak ingin 
menambah utang negara. Tapi, kau tahu, masuk politik artinya 
masuk ke dalam konflik kepentingan, dan itulah yang terjadi.

Satu-satunya presiden di Amerika (dan mungkin juga di dunia) yang pernah berhasil melunasi utang negara kepada bank sentral hanyalah Andrew Jackson (Presiden AS ke-7, menjabat presiden 2 kali berturut-turut, 1829-1837). Setelah melunasi utang, Andrew Jackson menutup bank sentral.

Tapi kisah itu belum selesai. Setelah Andrew Jackson menutup bank sentral di AS, seorang pembunuh bayaran menembaknya. Presiden Jackson selamat. Si pembunuh bernama Richard Lawrence. Dia ditangkap akibat kejahatannya, tapi pengadilan membebaskan Lawrence dengan dalih dia gila.

Berbulan-bulan kemudian, dalam kondisi mabuk, Richard Lawrence mengaku pada kawan-kawannya, bahwa aksi penembakan yang ia lakukan terhadap Presiden Andrew Jackson adalah perintah sekelompok orang kuat di Eropa, yang menjamin akan melindungi dia jika sampai tertangkap.

Ketika Presiden Andrew Jackson ditanya, apa pencapaian terpenting dalam 2 periode kekuasaannya sebagai Presiden Amerika, dia menjawab, "Penutupan Bank Sentral!" Selama 75 tahun kemudian, Amerika tidak memiliki bank sentral, dan negara itu tumbuh makmur serta kaya-raya, tanpa utang!

Tetapi, sekali lagi, kisah itu belum selesai. Setelah menikmati kemakmuran dan kekayaan serta terbebas dari jerat utang selama 75 tahun, bank sentral kembali dipaksakan untuk berdiri di Amerika Serikat. Sosok penting (dan misterius) di balik peristiwa itu bernama Jacob Schiff.

Sekarang kita mulai paham, kenapa ada tokoh di Indonesia (dan tentu juga di negara-negara lain) yang sampai ngotot dan mati-matian berutang dan terus menumpuk utang, serta berupaya mengajukan segala macam dalih pembenaran atas utang yang dilakukan. Kau tahu siapa yang kumaksud.

Sebagian orang mudah dikibuli oleh media (khususnya media internasional) yang dianggap terkenal. Akibatnya, mereka terpengaruh untuk menilai seseorang berdasarkan penilaian media. Jika media-media itu memuji Si A, kita ikut memuji-muji Si A. Padahal media punya kepentingan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Mei 2018.

Ma

Ru

Jumat, 20 Juli 2018

Joget-joget, Lalu Mati Dimakan Piranha

Kayaknya aku emang gak bakat nonton horor.
Ngerinya nggak ilang-ilang!
@noffret


Sepertinya saya memang tidak cocok dengan semua jenis film. Kalau nonton drama, saya sering tidak sabar mengikuti jalan cerita yang bertele-tele. Sedangkan kalau nonton horor, saya sering ngeri (karena adegan-adegan sadis) atau jijik (karena adegan-adegan jorok).

Tampaknya, saya hanya cocok menonton film action, lebih khusus lagi action superhero. Sangat mengasyikkan menonton film-film semacam Batman (tentu yang trilogi The Dark Knight), atau Spider-Man, atau Iron Man, atau Captain America, atau The Avengers, dan semacamnya. Film-film itu mengasyikkan, seru, dan tidak ada adegan menjijikkan.

Untuk film-film action-superhero, saya bahkan menontonnya berulang-ulang tanpa bosan. Seluruh unsur di dalamnya benar-benar memenuhi harapan saya sebagai penonton. Seru, menegangkan, dengan tokoh-tokoh asoy, dan TIDAK ADA ADEGAN MENJIJIKKAN. Terus terang, saya benci tiap kali menemukan adegan menjijikkan dalam film.

Yang saya maksud “adegan menjijikkan” bisa macam-macam. Misal orang muntah yang di-shoot, adegan di WC kotor, penampakan mutilasi atau semacamnya (biasa ada di film horor), atau pun adegan-adegan lain yang tidak akademis dan tidak environmental—apa pun artinya.

Semua hal menjijikkan itu tidak ada dalam film-film superhero. Karena isinya hanya percakapan-percakapan penting, pertarungan-pertarungan seru, adegan-adegan menegangkan, dan kadang-kadang percakapan intim dengan mbakyu. Nah, ini! Satu hal yang membuat saya selalu senang menonton film superhero adalah... semua tokoh superhero pasti seorang bocah, dan wanita-wanita di dalamnya selalu mbakyu!

Bahkan wanita yang menjadi pasangan antihero semacam Deadpool pun seorang mbakyu! Hollywood tampaknya benar-benar tahu soal mbakyu.

Selain action-superhero, saya juga suka film-film action lain—apa saja, pokoknya action. Meski film action umumnya tidak terjamin pasti ada mbakyu, tidak apa-apa. Yang penting filmnya asyik ditonton, seru, dan memuaskan. Biasanya, setelah menonton film action yang benar-benar bagus, saya tersenyum puas, dan merasakan kegembiraan yang tidak bisa dilukiskan kata-kata.

Film-film James Bond, misalnya, selalu menyenangkan buat saya. Dari dulu sampai sekarang, semua film James Bond selalu menghadirkan tokoh wanita, bahkan banyak wanita. Tetapi, anehnya, tidak ada satu pun dari wanita itu yang mbakyu! Wanita-manita itu memang cantik dan elegan, tapi tidak ada yang mbakyu. Saya pikir, James Bond juga paham soal itu. Buktinya dia tidak juga menikah, meski dekat dengan banyak wanita.

Meski begitu, saya senang menonton film-film James Bond, atau film action lain. Karena memang asyik.

Selain film action, jenis film lain yang juga saya suka adalah JAV, khususnya yang diperankan wanita-wanita dewasa. Kebetulan, artis-artis JAV yang dewasa tampaknya sangat tahu cara menjadi mbakyu. Omong-omong, saya malas nonton JAV yang diperankan cewek remaja! Apalagi cewek remaja yang masih kekanak-kanakan. Bukannya nafsu, malah jadi jengkel. Cewek-cewek yang masih bau popok itu mestinya belajar di rumah, bukan malah main film JAV!

Well, meski tidak tertarik nonton horor, ada kalanya saya tergoda atau penasaran dengan film-film horor tertentu. Khususnya film-film horor yang “unik”. Itulah kenapa, saya sempat nonton A Quiet Place, Don’t Breathe, atau Get Out, misalnya, walau sejujurnya tidak terlalu terkesan. Meski sebagian orang memuji film-film itu, bagi saya biasa saja—tidak ada istimewanya. Mungkin karena dasarnya saya memang tidak suka horor.

Salah satu film horor yang juga pernah membuat saya tergoda adalah Piranha 3D (dibintangi Mbakyu Elizabeth Shue). Karena penasaran, saya pun menonton.

Piranha 3D adalah film horor yang menjadikan ikan-ikan piranha sebagai sumber horor. Tipikal film semacam itu, isinya bisa ditebak.

Sebagaimana judulnya, film itu mengisahkan ikan-ikan piranha yang diam-diam berkembang biak di Danau Victoria, hingga jumlahnya ribuan. Mereka hidup liar di dasar danau, tanpa seorang pun menyadari, dan ikan-ikan maut yang mengerikan itu siap menciptakan malapetaka. Film yang saya tonton itulah hasilnya.

Seperti umumnya tempat wisata yang menarik, Danau Victoria kerap dikunjungi orang-orang, khususnya anak-anak muda yang ingin menikmati liburan di danau indah. Mereka datang ke sana bersama teman-teman, naik boat dengan membawa aneka perbekalan, lalu berhenti di tengah danau, dan berjoget gembira sambil menikmati bir.

Tentu menyenangkan menikmati liburan semacam itu. Berhenti di tengah danau berair biru jernih, memutar musik yang menghentak, dan berjoget seolah hidup tanpa masalah, lalu nyebur ke danau untuk menikmati kesegaran air. Lebih menyenangkan lagi, cewek-cewek yang berjoget di atas boat juga hanya mengenakan bikini. Benar-benar kesenangan yang sempurna.

Sayangnya, ikan-ikan piranha di dasar danau sedang haus darah.

Semula, bahaya yang mengancam di dasar danau hanya diketahui sherif yang bertugas di sana. Mereka telah mengidentifikasi ikan di dasar danau adalah piranha yang mematikan, dan mereka pun berusaha memberitahu anak-anak muda yang sedang berlibur di sana agar segera naik ke darat.

Menggunakan pengeras suara, sherif mengumumkan, “Mohon semuanya segera naik ke darat! Kita sedang menghadapi masalah!”

Tetapi, anak-anak muda yang asyik berjoget tadi malah menjawab, “Tenang saja, Sherif! Kita punya bir!”

Setelah itu, botol-botol bir dikeluarkan, musik dikeraskan, dan mereka makin menggila berjoget. Beberapa bocah yang belum pernah mati malah menantang dengan terjun ke danau, seolah imbauan sherif tadi hanyalah suara orang menguap.

Lalu petaka yang mengancam di dasar danau mulai naik ke permukaan. Ikan-ikan piranha bergigi tajam di bawah mereka mungkin mengendus bau daging, dan ikan-ikan itu naik ke permukaan air, menyambar apa pun yang bisa disambar, menggigit apa pun yang bisa digigit, mengunyah apa pun yang bisa dikunyah.

Jerit kengerian seketika membahana.

Air danau yang semula biru jernih berubah merah darah. Orang-orang melolong ketakutan, kesakitan, tapi ikan-ikan keparat di dalam air tidak peduli. Mereka terus menyerang orang-orang yang ada di air, dan korban-korban terus berjatuhan dengan sangat mengerikan. Daging-daging tercabik, anggota tubuh terlepas, sementara darah makin memerah di danau. Mereka yang berhasil selamat bahkan tidak lagi utuh.

Setiap kali menonton film semacam itu, saya selalu dongkol.

Saya dongkol pada orang-orang yang keluyuran ke danau, berjoget-joget tak karuan, dan tidak mau mendengar ketika diimbau agar segera naik ke darat. Saya dongkol melihat ketololan yang sangat tidak akademis semacam itu. Anak-anak muda yang datang ke danau, lalu berjoget-joget di sana, dan ketawa-tawa waktu dinasihati, mereka semua sungguh tidak environmental, tidak terapeutik, tidak moratorium—apa pun artinya.

Jadi, ketika melihat mereka dicabik-cabik piranha, saya malah tertawa puas. Rasain! Sudah diminta baik-baik agar segera naik ke darat, malah mengeluarkan bir. Sudah diberitahu bahaya sedang mengancam, malah joget-joget. Makan tuh, piranha!

Lagian, siapa pula yang menyuruh kalian ke danau, hah? Kenapa kalian tidak membaca buku saja di rumah? Wong baca buku saja sudah mengasyikkan, malah keluyuran! Dan apa maksudnya joget-joget di atas boat seperti orang kurang kerjaan? Biar keren, hah? Biar seperti anak gaul? Biar bisa bikin foto bagus di Instagram? Biar bisa bikin status keren di Facebook?

Mbok ora usah neko-neko!

Tidak usah sok keluyuran ke danau untuk joget-joget. Cukup duduk di sofa rumah yang adem, menyeruput teh hangat, membaca buku, dan menyulut udud, cukup. Kalau pun hujan, tidak kehujanan. Kalau pun panas, tidak kepanasan. Dan di rumah tentu tidak ada piranha! Wong sudah dikasih pilihan hidup yang enak dan nyaman, malah keluyuran.

Dan kalian sudah dinasihati sherif, agar segera naik ke darat, karena ada masalah. Tapi kalian malah menantang dengan mengeluarkan bir. Apa kalian pikir semua masalah bisa diselesaikan dengan bir, hah? Apa kalian pikir hidup ini hanya untuk ngebir? Dan menyetel musik? Dan joget-joget? Mbok mikir!

Kalian tidak akan muda selamanya. Daripada membuang masa muda untuk joget-joget, jauh lebih baik belajar. Daripada menghabiskan energi untuk keluyuran tidak jelas, jauh lebih baik bekerja. Akhirnya, daripada sibuk mempertaruhkan nyawa untuk bertarung dengan piranha, lebih baik menggunakan waktu untuk hal-hal bermanfaat. Wong piranha kok diajak ngebir. Mbok mikir!

Asu, iki aku nulis opo?

Bagaimana Hidupmu, Begitulah Matimu

Kelak, saat kematian mulai mendekatimu, kau akan teringat kata-kata itu.

Fakta di Balik Utang

Jika ingin tahu siapa sebenarnya Sri Mulyani,
tanyakan pada Kwik Kian Gie atau Rizal Ramli.
Dua orang itu saksi mata yang masih hidup.
@noffret, 14 Juni 2017

Tweet itu kutulis pada 14 Juni tahun kemarin. So, apakah Sri Mulyani
akan berani menerima tantangan debat Rizal Ramli? Kemungkinan besar tidak! Dan, omong-omong, Presiden Jokowi benar-benar cerdik, karena membiarkan keributan di kandang singa, sementara tangannya tetap bersih.
@noffret, 8 Mei 2018


Secara pribadi, Presiden Jokowi mungkin tidak ingin menambah utang negara. Tapi, kau tahu, masuk politik artinya masuk ke dalam konflik kepentingan, dan itulah yang terjadi.

Kenyataannya, utang RI memang sudah mencapai 4.000 triliun (sebenarnya, 4.800 triliun). Tak peduli siapa pun yang ngomong, realitasnya memang Indonesia punya utang sebanyak itu. Kemaruk kok sama utang!

Andaikan aku punya 10 media (saja) yang dapat mempengaruhi opini dan pikiran massa, aku bisa memuliakan atau menghancurkan siapa pun yang kuinginkan. Percaya atau tidak, kita sedang hidup dalam "permainan" semacam itu.

Di dunia ini, ada orang-orang yang pekerjaannya sangat "enak". Mereka dibayar mahal untuk berkeliling dunia hanya untuk mengumpulkan informasi dari setiap sudut bumi. Siapa yang membayar? Media, korporasi, shadow company, sebut apa pun.

Sampai kapan pun, utang negara-negara di dunia (termasuk Indonesia, tentu saja) tidak akan pernah lunas. Mengapa bisa begitu?

Ini jawabannya » http://bit.ly/2hpek37


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Maret 2018.

Minggu, 15 Juli 2018

Anak-anak di Thailand

Dua belas anak yang terjebak di gua Thailand
telah memberi pelajaran, bahwa kalau kau mencoba
melanggar aturan, seluruh dunia bisa ikut kerepotan.

*Sengaja baru kukatakan,
setelah mereka semua bisa diselamatkan.
@noffret


Ada perbuatan yang sebenarnya mudah dan sederhana, tapi sulit dilakukan. Setidaknya, ada banyak orang yang sulit dan tidak mampu melakukannya. Yaitu mengakui dan menyadari kesalahan.

Itu mudah. Sebegitu mudah, hingga seharusnya anak kecil pun bisa. Tapi mengakui dan menyadari kesalahan tampaknya bukan kemampuan alami manusia. Ia membutuhkan pembelajaran untuk mampu melakukan. Saya bisa tahu hal itu, karena sepanjang hidup telah melakukan banyak kesalahan, dan saya tahu bagaimana pahitnya menyadari kesalahan agar tidak mengulangi.

Bahkan sampai saat ini pun, saya masih sering melakukan kesalahan. Dari kesalahan sepele seperti sikap yang keliru saat berinteraksi dengan orang asing (atau belum terlalu kenal), sampai kesalahan yang cukup berat terkait kehidupan pribadi. Setiap kali menyadari, saya berusaha memaksa diri sendiri untuk mengakui bahwa itu kesalahan. Tujuannya agar saya belajar dari kesalahan itu, dan tidak sampai mengulangi.

Well, kasus yang juga bagus untuk dibahas terkait hal ini adalah 12 anak di Thailand yang tempo hari terjebak di dalam gua, hingga berhari-hari. Kasus itu menarik perhatian dunia, hingga beberapa negara ikut turun tangan mengirimkan bantuan. Dari bantuan peralatan sampai bantuan pasukan. Kasus itu, bagi saya, bukan hanya menarik dari sisi kemanusiaan, tapi juga menarik untuk melihat sifat manusia.

Dua belas anak, yang tergabung dalam klub sepak bola Moo Paa (Wild Boars), bersama pelatihnya (berusia 25 tahun), terjebak di dalam Gua Tham Luang. Semula, mereka bermaksud merayakan ulang tahun salah satu anak, yang hari itu berulang tahun ke-16. Mereka jalan-jalan naik sepeda, hingga memutuskan untuk memasuki Gua Tham Luang.

Gua Tham Luang di Thailand sebenarnya bukan tempat yang relatif aman, karena rentan mengalami masalah, khususnya saat hujan turun. Karenanya, di sana ada papan peringatan yang secara jelas memberitahu, “JANGAN MASUK AREA INI, JIKA HUJAN AKAN TURUN”.

Anak-anak dan pelatihnya tahu, cuaca sedang tidak bersahabat, dan hujan akan turun. Tapi mereka melanggar aturan di sana. Bukannya berhenti dan mematuhi peringatan tersebut, mereka malah nekat melanggar aturan.

Akibatnya sangat mengerikan. Begitu mereka sampai di dalam gua, hujan turun. Dan mereka terperangkap di dalamnya, tak bisa keluar, sampai berhari-hari. Karena hujan yang turun, satu-satunya jalan keluar mereka tergenang air, dan mereka tidak bisa ke mana-mana.

Untung, penjaga gua datang ke sana, dan mendapati beberapa sepeda, tapi tidak ada orangnya. Sebagai penjaga gua, dia waswas, dan berusaha mencari para pemilik sepeda di dalam gua. Instingnya memberitahu, ada orang-orang terperangkap di dalam gua akibat melanggar peraturan, dan dia pun memberitahu polisi setempat mengenai kemungkinan itu.

Polisi turun tangan, mulai melakukan pencarian, dan kisah selanjutnya sudah kalian tahu. Peristiwa itu bahkan menjadi topik pembicaraan hingga beberapa hari di dunia.

Ketika kasus itu sedang menjadi bahan pembicaraan banyak orang, ada sebagian warganet yang mencoba mengingatkan bahwa terjadinya kasus tersebut karena anak-anak di Thailand melanggar peraturan. Saya ingin berbaik sangka, bahwa tujuan mereka menyebutkan fakta itu sebagai upaya mengingatkan. Tapi rupanya banyak yang marah, dan meminta agar tidak usah mengungkit-ungkit kesalahan.

Fakta bahwa anak-anak itu bersalah—melanggar peraturan hingga terjebak di dalam gua—bagaimana pun harus dikemukakan, seiring kita tetap berusaha membantu mereka dari musibah. Menyebutkan kesalahan mereka, bukan berarti kita tidak mau peduli dengan nasib mereka—itu dua hal yang berbeda.

Bahwa anak-anak di Thailand terjebak di dalam gua, itu fakta. Karena faktanya seperti itu, maka—sebagai sesama manusia—kita punya kewajiban untuk membantu, semampu yang kita bisa. Kalau pun tidak bisa membantu secara langsung, setidaknya kita bisa membantu berdoa, semoga mereka selamat dan bisa keluar dengan kondisi baik-baik saja.

Tetapi, bagaimana pun, kita tidak bisa menutup mata atas kesalahan mereka, lalu bersikap seolah mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak itu telah melakukan kesalahan!

Kita perlu mengingatkan kesalahan mereka, agar anak-anak itu menyadari bahwa musibah itu terjadi karena perbuatan mereka yang nekat melanggar aturan. Pertama, agar mereka belajar dari kesalahan. Kedua, agar mereka tidak mengulangi kesalahan serupa. Ketiga, agar kita belajar dari kesalahan mereka. Dan keempat, agar kita semua tetap menjadi manusia yang manusiawi.

Manusia bisa berbuat salah, dan kesadaran itulah yang menjadikan manusia tetap manusiawi. Ini, sekali lagi, bukan berarti kemudian kita lepas tangan dan tidak mau membantu orang lain, yang kebetulan kena musibah akibat kesalahan mereka sendiri.

Di jalan raya, kita pasti pernah, atau bahkan sering, mendapati remaja yang naik motor ugal-ugalan. Sudah tidak pakai helm, knalpotnya bising tak karuan, lalu berkendara seenaknya. Karena ugal-ugalan, remaja itu mengalami kecelakaan—misal menabrak sesuatu hingga jatuh terkapar.

Sebagai manusia, bisa jadi kita membatin, “Modyar! Naik motor seenaknya sendiri, dan sekarang kecelakaan. Rasain!”

Perasaan semacam itu manusiawi. Kita melihat orang naik motor seenaknya, tanpa khawatir ulahnya dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Kita tahu dia salah. Karenanya, ketika dia mengalami kecelakaan, ada semacam kepuasan karena akhirnya dia mendapat pelajaran. Tetapi, ketika melihatnya kecelakaan, dan terkapar berdarah, apakah kita akan meninggalkannya begitu saja?

Menyadari bahwa dia bersalah, adalah satu hal. Tapi menolongnya, sebagai sesama manusia, adalah hal lain. Karena itu, meski kita tahu dia bersalah, kita tetap turun tangan dan menolongnya. Dan menolong dia bukan berarti kita menganggapnya tidak bersalah. Dia tetap bersalah! Tetapi, ketika pihak yang jelas-jelas bersalah kebetulan tertimpa musibah, kita punya kewajiban moral untuk menolong. Itulah yang menjadikan kita tetap manusiawi.

Begitu pula dengan anak-anak yang terjebak di gua Thailand. Mereka bersalah, karena melanggar aturan. Meski begitu, sebagai sesama manusia, kita tetap perlu menolong—atau setidaknya membantu mendoakan keselamatan—mereka.

Ketika pasukan penyelamat pertama dari Thailand akhirnya menemukan anak-anak itu dari atas gua, sang pemimpin pasukan berseru pada anak-anak yang terjebak di bawah gua, “Ada berapa orang kalian?”

Anak-anak di bawah menjawab, “Tiga belas!”

“Tiga belas orang, bagus sekali! Kami akan menyelamatkan kalian, banyak orang yang datang untuk menyelamatkan kalian!”

Perhatikan percakapan itu. Sang penyelamat mengatakan, “Tiga belas orang, bagus sekali! Kami akan menyelamatkan kalian.”

Ungkapan “bagus sekali” tentu tidak dimaksudkan untuk mengatakan, “Bagus sekali, sialan! Kalian terjebak di gua gara-gara melanggar aturan, dan sekarang kami yang kerepotan!”

Ungkapan “bagus sekali” dimaksudkan untuk membesarkan hati anak-anak itu, bahwa mereka selamat semuanya, dan mereka tak perlu khawatir, karena orang-orang akan segera menolong. Itu upaya manusiawi yang ditujukan kepada sesama manusia. “Tak perlu khawatir, Nak. Kita memang kadang berbuat salah, dan semoga kau belajar dari kesalahanmu. Omong-omong, kami akan mengeluarkanmu dari sini.”

Well, sekarang anak-anak itu telah keluar semuanya dari dalam gua, dan mereka selamat tanpa kurang apa pun. Kita semua patut bersyukur. Bukan hanya karena anak-anak itu berhasil keluar dengan selamat, tapi juga karena menyaksikan bahwa kita masih manusia yang manusiawi. Yang menyadari bahwa anak-anak itu bersalah, tapi tetap berusaha menolong saat mereka tertimpa musibah.

Semoga anak-anak itu belajar dari kesalahannya, untuk tidak mengulangi, sebagaimana kita bisa belajar dari pengalaman (kesalahan) mereka. Karena pengalaman adalah guru yang baik tapi brutal. Ia memberi ujian terlebih dulu, baru memberi pelajaran. Susahnya, pelajaran yang diberikan oleh pengalaman kadang merepotkan banyak orang.

Persoalan Gemes

Kenapa aku suka gemes, ya Allah?

Ngungsi

Di sebuah acara, saya duduk bersebelahan dengan seseorang yang tidak saya kenal. Seorang laki-laki yang sepertinya sebaya dengan saya, dan datang ke acara itu sendirian. Kami duduk diam, dan sampai cukup lama kami hanya saling diam.

Saya ingin membuka percakapan dengannya, biar kami tampak saling bercakap, biar terlihat seperti orang-orang normal. Tapi saya tidak tahu harus ngomong apa untuk membuka percakapan. Sementara dia mungkin segan untuk memulai percakapan—well, saya sering mendapati kondisi semacam itu.

Akhirnya, setelah cukup lama kami saling diam, dan saya merasa tidak nyaman, saya pun memberanikan diri membuka percakapan. Saya berkata, “Apakah kau pernah ngungsi, hem?”

Laki-laki di sebelah saya menengok, dan bingung. “Apakah aku pernah... apa?”

“Ngungsi,” saya mengulang.

Dia mengerutkan kening. “Ngungsi?”

“Yeah, ngungsi. Apakah kau pernah ngungsi?”

Dengan muka bingung, dia mencoba menjawab, “Ya... aku pernah ngungsi. Uhm, kampungku kena banjir, agak tinggi, dan keluargaku ngungsi ke rumah saudara. Termasuk aku.”

Saya manggut-manggut. “Syukurlah.”

Dia menatap saya, makin bingung. “Kenapa kok malah syukur?”

“Ya syukurlah, kalau pernah ngungsi. Karena hidup ini sungguh sia-sia jika kita tidak pernah ngungsi.”

Selasa, 10 Juli 2018

Pusing Mikir Susu

Doktrinasi yang tidak diimbangi akal sehat itu berbahaya,
karena membuat akal berkabut, merusak kewarasan berpikir,
dan membutakan mata.
@noffret


Susu jadi topik hangat, akhir-akhir ini, setelah terungkap bahwa susu kental manis—yang banyak beredar di pasaran—ternyata bukan susu. BPOM mengungkap bahwa produk yang disebut susu kental manis sebenarnya tidak memiliki kandungan susu, atau dengan kata lain tidak bisa disebut susu. BPOM juga mengeluarkan kebijakan baru terkait pemasaran susu kental manis, meliputi kemasan sampai periklanannya.

Tentu saja itu langkah bagus yang layak diapresiasi, agar masyarakat tidak terus terbuai oleh “khayalan atau angan-angan kosong” terkait susu yang ternyata bukan susu. Cuma, yang membuat saya tidak habis pikir, kenapa persoalan ini baru terungkap dan baru dinyatakan sekarang?

Aneka produk yang disebut susu kental manis telah ada sejak bertahun-tahun lalu, bahkan sejak saya masih kecil. Artinya, sudah puluhan tahun. Selama puluhan tahun, ada jutaan orang yang mengonsumsi, berkeyakinan bahwa mereka mengonsumsi susu, dan ternyata tertipu. Saya tahu betul soal itu, karena... saya tidak doyan susu.

Ada cukup banyak makanan/minuman di dunia ini, yang saya tidak doyan, dan tidak pernah saya konsumsi. Susu termasuk di antaranya. Jadi, jika sewaktu-waktu saya dihadapkan minuman susu atau teh, saya akan pilih teh. Sebegitu tidak doyan pada susu, hingga saya menjauhi minuman apa pun yang di dalamnya terkandung susu. Misalnya kopi susu, es susu, atau minuman ala STMJ. Susu yang saya maksud di sini susu asli, yaitu susu sapi.

Keluarga maupun teman-teman saya tahu, saya tidak doyan susu. Meski begitu, saya suka makan roti dengan tambahan “susu kental manis cokelat”—kalian pasti paham yang saya maksud. Dalam keseharian, saya kadang menikmati irisan roti tawar yang diberi susu cokelat kental tersebut, karena rasanya enak dan cukup bisa bikin kenyang.

Kadang, ada teman melihat saya menikmati roti semacam itu, dan bertanya, “Kamu tidak doyan susu, tapi kok makan roti pakai susu?”

Saya menjawab, “Ini bukan susu, ini cuma cokelat cair.”

Teman-teman mengira saya bercanda. Kadang saya berusaha meyakinkan mereka bahwa yang disebut “susu kental manis”, yang saya pakai untuk makan roti, bukan susu. Tapi mereka tidak percaya. Keluarga saya juga tidak percaya, ketika saya mencoba menjelaskan pada mereka bahwa itu bukan susu.

Sebenarnya, dari dulu saya sudah tahu bahwa “susu kental manis” itu bukan susu. Tapi tidak ada yang percaya, bahkan orang-orang terdekat saya. Umpama dulu saya menuliskan hal itu di blog, saya pun yakin kalian tidak akan percaya!

Sekarang, saat catatan ini diunggah ke blog, ada banyak teman saya di dunia nyata yang ikut membaca, dan mereka pasti ingat bahwa saya sudah pernah mengatakan kepada mereka, bahwa yang mereka sebut susu itu sebenarnya bukan susu. Dan saya mengatakan hal itu bukan kemarin, tapi bertahun-tahun lalu!

Dan, seperti yang disebut tadi, mereka tidak percaya!

Kini, ketika BPOM—yang dianggap lembaga kredibel—mengeluarkan fatwa bahwa susu kental manis bukanlah susu, terus terang saya ingin tertawa. Dikandani awit mbiyen, kok ora percoyo!

Terus terang, saya tidak terlalu peduli dengan “urusan susu yang ternyata bukan susu”. Karena, seperti yang disebut tadi, saya tidak doyan susu, dan tidak pernah mengonsumsi susu. Jadi, berita itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi saya. Sementara untuk “susu kental manis”—yang belakangan disebut bukan susu—dari dulu saya sudah tahu. Jadi, sekali lagi, urusan itu tidak punya dampak apa pun bagi saya. Toh saya mengonsumsi produk itu dengan kesadaran penuh bahwa itu bukan susu.

Yang membuat saya berpikir terkait hal ini adalah... betapa kebohongan yang diulang terus menerus bisa diyakini sebagai kebenaran, termasuk “kebohongan” soal susu yang sebenarnya bukan susu. Pernahkah kita memikirkan hal itu?

Ada ribuan—oh, well, jutaan—orang yang percaya mentah-mentah bahwa susu kental manis adalah susu, dan mereka memegang kepercayaan itu sedemikian teguh. Mereka membeli produk itu untuk dikonsumsi sendiri, atau diberikan pada anak-anak, dengan keyakinan penuh bahwa itu susu. Mereka percaya itu susu, dan mereka percaya susu baik untuk kesehatan. Kenapa? Karena mereka terus dibombardir doktrin yang mengatakan bahwa itu susu!

Pagi hari, saat mata baru melek, mereka menonton televisi, dan muncul iklan “susu”—awalilah hari dengan segelas susu. Oh, well, kedengarannya indah.

Siang hari, sambil leyeh-leyeh, mereka kembali menonton televisi, dan lagi-lagi muncul iklan “susu”—selalu penuhi kebutuhan nutrisimu. Oh, well, kebutuhan nutrisimu.

Sore hari, televisi kembali menemani waktu istirahat sepulang kerja, dan lagi-lagi muncul iklan “susu”—jangan lupa minum susu biar tulang tidak keropos. Oh, well, kedengarannya penting.

Malam hari, saat keluarga berkumpul menyembah televisi, iklan “susu” pun muncul berkali-kali, kali ini memperlihatkan seorang anak yang tampak sehat meminum segelas “susu” dengan lahap. Dan para orang tua pun mengingatkan anak-anak mereka untuk tidak lupa minum susu sebelum tidur.

Dengan doktrin yang terus memborbardir kehidupan dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, bagaimana mereka tidak percaya?

Kebohongan yang diulang dan terus diulang akan dipercaya sebagai kebenaran. Joseph Goebbels, pakar propaganda NAZI, sangat tahu hal itu. Karenanya, ketika dia memulai program propaganda, hal pertama yang dia siapkan adalah TOA. Goebbels tahu, yang penting bukan benar atau tidak benar, tapi pengulangan. Sesuatu yang tak masuk akal sekali pun akan terdengar benar, jika didoktrinkan berulang-ulang.

Dan doktrinasi/propaganda ala Goebbels terus hidup, dari zaman ke zaman, hingga ke zaman kita. Kenapa? Karena teknik itu memang terbukti berhasil.

Kenyataannya, sebagian besar kita memang lebih mudah percaya doktrinasi dan propaganda, daripada meluangkan waktu untuk memeriksa apa yang kita percaya. Kita adalah bangsat-bangsat pemalas! Sebegitu pemalas, hingga kita enggan untuk menengok dan memeriksa, apakah yang kita percaya memang benar... ataukah hanya kita anggap kebenaran karena didoktrinkan sebagai kebenaran.

Seperti susu yang ternyata bukan susu. Sesuatu yang bukan susu bisa dipercaya jutaan orang sebagai susu... kenapa? Jelas bukan karena susu! Tetapi karena kita didoktrin untuk percaya bahwa itu susu! Betapa hebatnya propaganda, dan betapa brengseknya kesadaran kita.

Persoalan susu mungkin sepele, karena tidak menyangkut “harga diri” orang per orang. Ketika orang-orang mulai sadar bahwa yang mereka yakini sebagai susu ternyata bukan susu, mereka dengan mudah menyalahkan produsen, misal, “Iklannya nggak bener!” atau “Pembohongan publik!”

Kita merasa tertipu akibat propaganda mereka, dan kita bisa dengan mudah mengakui bahwa selama ini telah tertipu. Tapi bagaimana jika kita menjadi korban penipuan, tapi tidak bisa mengakui karena terkait harga diri?

Oh, well, ada jutaan orang yang tertipu oleh sesuatu, tapi mereka tidak bisa mengakui apalagi mengatakannya terang-terangan, karena berkaitan dengan harga diri mereka. Dalam contoh yang mudah, penipuan itu berbunyi, “Menikah akan membuatmu bahagia dan lancar rezeki.”

Itu serupa propaganda ala Goebbels, yang terus menerus disuarakan, didoktrinkan, digembar-gemborkan. Realitasnya? Oh,well, saksikan sekelilingmu. Berapa banyak orang bercerai, berapa banyak keluarga berantakan, berapa banyak anak telantar, berapa banyak pasangan terlilit utang, berapa banyak rumah tangga hancur, berapa banyak korban broken home.

Tapi persis seperti Goebbels, para pengusung propaganda itu tidak malu untuk terus gembar-gembor. Dan persis seperti korban-korban di zaman NAZI, sebagian kita masih termakan propaganda itu, karena terus menerus didoktrinkan.

Sekarang, umpamakan saja kau termakan propaganda itu, dan menikah, dengan keyakinan bahwa kau akan bahagia dan lancar rezeki. Ketika kemudian kau mendapati realitas bahwa pernikahan tidak seindah yang dijanjikan—karena nyatanya hidupmu malah keblangsak—apakah kau punya keberanian untuk mengakui terang-terangan?  

Jawabannya jelas, tidak!

Kenapa? Karena itu terkait harga dirimu. Kau tidak akan bisa mengaku terang-terangan bahwa kau menyesal dan merasa tertipu setelah menikah, karena itu sama artinya melukai egomu sendiri, sekaligus menyakiti perasaan pasanganmu. Bagaimana mungkin kau akan mengakui terang-terangan bahwa kau menyesal dan merasa tertipu, sementara kau masih ada dalam ikatan penipuan itu?

Terdengar pahit? Oh, hell, kebenaran memang pahit, sialan! Siapa yang mengatakan bahwa kebenaran terasa manis? Kalau terasa manis, sejak dulu kita sudah akrab dan dekat kebenaran! Faktanya, kita asing dengan kebenaran. Karena pahit, karena tidak enak, karena itu menyakiti ego kita. Karena kita—keparat-keparat pemalas ini—lebih suka menerima “kebenaran” daripada kebenaran. Persis seperti kita yang mudah menerima “susu” hanya karena itu disebut susu.

Yang paling ironis dan paling mengerikan dari semua ini adalah... bagaimana kalau susu yang benar-benar susu pun sebenarnya tidak benar? Ini seperti kesalahan yang diduplikasi sebagai kesalahan, lalu diklaim sebagai kebenaran.

Ada buku bagus berjudul “Unlimited Power”, yang ditulis Anthony Robbins. Buku itu merupakan satu di antara banyak buku lain yang secara rinci dan gamblang menjelaskan bahwa susu—yang benar-benar susu—sebenarnya bukan sesuatu yang layak kita konsumsi. Bukannya menyehatkan sebagaimana yang kita percaya selama ini, susu—yang dihasilkan dari sapi atau hewan lain—sebenarnya justru merusak kesehatan peminumnya.

Terdengar mengejutkan?

Yang asing dari kenyataan, kebenaran memang mengejutkan.

Ada yang Menyangka Pemilik Blog Ini Tidak Waras

Memang!

Sesaat Terbuka

Seseorang memegangi pintu yang agak terbuka, dan diam di sana. Tidak masuk, juga tidak keluar. Dia seperti memastikan pintu tidak menutup, sekaligus tidak membuka lebar.

Aku bertanya, “Apa yang kaulaukan?”

Dia tersenyum misterius, “Seperti yang kaulihat.”

Didorong penasaran, aku kembali bertanya, “Kenapa tidak kaubiarkan pintu itu membuka atau menutup saja?”

“Sengaja,” jawabnya. “Orang-orang mengatakan, pintu ini tidak pernah membuka. Jadi, kutunjukkan pada mereka bahwa pintu ini bisa membuka. Tapi sengaja kutahan agar tidak terbuka lebar, karena itu tidak sopan. Dan di sinilah aku.”

Aku mengangguk. “Setelah kau bosan memegangi pintu itu... uhm, apa yang akan kaulakukan?”

Dia tersenyum. “Tentu saja aku akan masuk, dan menutup pintu kembali.”

Kamis, 05 Juli 2018

Layang-layang Berbenang Sutra

Bertahun-tahun aku menunggu keajaiban takdir.
Sekarang aku tahu takdir hanyalah debu
di antara putaran kincir angin.


Kapan pertama kali aku melihatmu? Sudah lama, tapi aku masih mengingatnya. Kau melangkah sendirian, dengan syal dan baju tebal, melewati tempatku duduk saat sarapan, setiap pagi.

Aku bahkan masih mengingat, mula-mula kau hanya berjalan acuh tak acuh saat lewat di depan tempatku duduk. Seiring hari, kau mulai menatap ke arahku. Dan tersenyum. Sejak itu, aku selalu menikmati pagi dengan senyummu.

Hingga tiba hari itu, saat semua orang datang ke tempat prasmanan—orang-orang asing yang datang ke sana dengan berbagai tujuan. Aku sedang bersiap menyantap makananku, saat kau datang, berdiri di dekatku, dan berkata, “Aku kehabisan tempat duduk. Tidak keberatan, aku duduk di sini?”

Tentu saja aku tidak keberatan. Dan kau duduk di sampingku, satu-satunya kursi yang belum ditempati. Lalu kita tenggelam dalam keheningan, bersama makanan masing-masing. Bahkan sampai makanan habis, tak sepatah kata pun muncul.

Usai makan, aku bangkit, dan berkata kepadamu, “Aku perlu merokok, di luar.”

Kau berdiri, membiarkanku lewat, dan aku melangkah meninggalkanmu. Kupikir, itu terakhir kali aku akan duduk sedekat itu denganmu. Tapi ternyata dugaanku keliru.

Keesokan pagi, saat jalan-jalan seperti biasa, langkahmu sampai di depan tempatku sarapan, dan kau tersenyum seperti hari-hari sebelumnya. Namun, kali ini, kau berhenti. Dan menyapa, “Sarapan?”

Aku tersenyum, “Ya, seperti biasa.”

Lalu jeda menggantung.

Kau menatapku, dan berkata, “Kau sangat pendiam.”

Sejujurnya, aku terkejut waktu itu, karena tak mengira kau akan melanjutkan percakapan. Jadi, sambil tersenyum kikuk, aku menjawab, “Sebenarnya, aku kurang mampu berkomunikasi dengan orang asing, khususnya perempuan asing.”

Kau tersenyum lebar. “Sepertinya kita bukan lagi orang asing.”

Ya, kau tidak asing bagiku. Karena setiap pagi aku melihatmu, menikmati senyummu, bahkan pernah duduk di sampingmu. Dan kini aku melihatmu berdiri di depanku, dengan sikap yang hangat. Aku memberanikan diri, “Kenapa kau tidak duduk di sini, agar bisa bercakap lebih nyaman?”

Dan, seperti kau tahu, begitulah awalnya.

....
....

Mungkin kau masih ingat, aku bertanya kepadamu, “Apa yang membuatmu sampai ke sini?”

Dan kau menjawab, “Tetirah.”

“Kuharap kesehatanmu membaik selama di sini.”

Kau mengangguk, lalu menyatakan, “Sebenarnya, bukan sakit fisik yang membuatku perlu istirahat, tapi... sakit pikiran, kalau kau tahu maksudku.”

Aku berkata menerawang, “Sepertinya, orang-orang yang datang ke sini punya tujuan serupa—tetirah, menenangkan pikiran.”

“Begitu pula denganmu?”

Aku mengangguk. “Begitu pula denganku.”

Lalu kita saling berbagi cerita. Beban, luka, dan hidup masing-masing. Aku mendengarkanmu, kisah kehilanganmu, air mata yang kerap runtuh setiap kali kau teringat... hingga keputusanmu untuk memilih hidup yang berbeda dengan orang lain.

Kau menceritakan, “Aku benci mengingat saat-saat kakakku masih hidup, melihat dia menjalani hubungan yang begitu buruk dengan pasangannya. Ada masa-masa saat dia pulang ke rumah, dan menangis di kamarku. Belakangan, saat dia telah meninggal, dan aku kembali terbayang saat-saat itu, aku sering tak kuasa menahan tangisku yang runtuh. Dan bayangan itu bisa muncul kapan pun. Ada waktu-waktu ketika aku sedang menyetir sendirian, dan terpaksa menepikan mobil, karena tangis yang runtuh.”

“Sekarang,” ucapmu, “aku hanya ingin menjalani hidup sebagaimana yang kuinginkan.”

Aku mengagumi tekadmu. Sebenarnya, aku mengagumi dirimu. Kau perempuan yang sangat menawan, yang pasti membuat banyak laki-laki jatuh cinta kepadamu. Tetapi kau memutuskan untuk tidak menikah, menutup hatimu untuk siapa pun.

Kau mengatakan, “Ini bukan keputusan mudah. Kau tahu bagaimana masyarakat kita setiap kali melihat orang yang dinilai berbeda. Aku merasa, mereka tidak memahami yang kualami, atau yang kurasakan. Mereka hanya ingin aku sama seperti mereka—menikah, berkeluarga—seolah semua urusan dunia dan masalah manusia selesai hanya dengan itu.”

Dan aku membayangkan diriku sendiri. Bahkan meski aku laki-laki, tekanan masyarakat yang kuhadapi begitu berat, karena tidak menikah. Aku tidak bisa membayangkan seberat apa tekanan yang kauhadapi, untuk hidup yang kaupilih.

“Setelah kakakku meninggal usai melahirkan anaknya, aku tidak punya keinginan lain, selain merawat dan membesarkan anak yang ditinggalkannya. Aku mencintai anak itu, sebesar aku mencintai kakakku.”

Aku tidak tahu bagaimana hubungan antara kakak dan adik perempuan. Lebih khusus, aku tidak tahu bagaimana hubunganmu dengan kakakmu. Karena kita memiliki latar belakang jauh berbeda. Kau hidup dalam keluarga yang harmonis, saling menyayangi, menikmati kebahagiaan hidup sejak kecil sampai dewasa. Aku menjalani kehidupan yang bertolak belakang dengan kehidupanmu, dan aku tidak bisa membayangkan yang kaurasakan.

“Keponakanmu pasti anak yang beruntung,” ujarku akhirnya.

Kau tersenyum. “Aku tidak menganggapnya keponakanku. Aku menganggap dia benar-benar anakku.”

“Kalau begitu,” aku membalas senyummu, “kau pasti ibu yang baik.”

....
....

“Bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu sampai ke sini?”

Butuh waktu sesaat bagiku untuk menjawab, karena aku harus menemukan kalimat yang tepat. “Aku ke sini untuk menyepi.”

Lalu kau mendengarkanku, dengan perhatian yang tulus.

“Ada banyak hal yang membebani pikiranku, akhir-akhir ini, dan aku merasa letih. Karenanya, aku ke sini untuk menyepi. Semacam mengisi ulang baterai, agar aku bisa tetap menjadi manusia.”

Betapa mudahnya membuka diri, saat kau menemukan orang yang tepat, pendengar yang empatik, dan itulah yang kurasakan saat bersamamu. Kau kawan bicara yang baik, tahu cara mendengarkan, hingga—entah bagaimana—aku sudah bercerita banyak hal kepadamu.

“Seberat apa pun duka yang kaurasakan, kupikir kau masih beruntung karena memiliki orang-orang yang kaucintai dan mencintaimu. Setidaknya, kau tidak merasa sendirian, karena ada orang-orang terdekat yang bisa memahamimu, yang mendukungmu.”

Kau mengangguk. “Aku juga berpikir seperti itu.”

“Dan itu hal yang tidak kumiliki.” Setelah terdiam sesaat, aku berkata perlahan, “Aku merasa sendirian, karena tidak ada yang memahami. Aku punya keluarga, tentu saja. Tetapi, berbeda dengan keluargamu yang memberi dukungan dan menguatkanmu, yang kuhadapi justru sebaliknya. Saat kau letih dan butuh orang lain, kau bisa pulang ke keluargamu. Aku justru merasa ketakutan, atau prihatin, setiap kali akan bertemu keluargaku, karena yang kutemui hanya beban, masalah, dan bencana. Keluarga mengajarkanmu tentang cinta dan kepercayaan kepada orang lain, tapi keluargaku justru membuatku kehilangan kepercayaan kepada siapa pun.”

Kau mencoba membesarkan hatiku. “Hanya orang-orang tegar yang bisa berdiri sendirian.”

Aku tersenyum. “Sebenarnya, aku tidak setegar yang mungkin kaubayangkan. Kadang aku merasa serapuh layang-layang.”

“Aku yakin kau bukan layang-layang putus benang.”

“Mungkin,” jawabku, “tapi layang-layang berbenang sutra. Dihempas angin, terbang melayang tak tentu arah, dengan benang tipis yang begitu peka... sewaktu-waktu bisa putus kapan saja. Aku kadang merasa kehilangan pijakan pasti, antara terus membiarkan diri dihempas angin, atau membiarkan benang putus agar aku jatuh... di tempat yang mungkin kuiinginkan... lalu hilang.”

Noffret’s Note: Hoaks

Aku gelisah melihat kasus Saracen, karena sulit percaya pada beberapa hal terkait kasus itu. Terlalu fantastis, kalau kau tahu maksudku.
—@noffret, 25 Agustus 2017

Tweet itu kutulis pada 25 Agustus tahun lalu, saat banyak orang berusaha meyakinkan kalau kasus Saracen benar-benar terjadi. Dan apakah kegelisahanku terbukti benar? Jawabannya ada di artikel Tirto di bawah ini.
—@noffret, 7 April 2018

Artikel ini secara tegas dan jelas mengonfirmasi kecurigaanku setahun lalu, terkait kasus Saracen. Bahwa kasus itu cuma "permainan". Vonis Jasriadi: Dua Kali Polisi Gagal Buktikan Tuduhan Soal Saracen » https://bit.ly/2zhtu7g
—@noffret, 7 April 2018

Sejak awal aku tidak percaya kasus Saracen, bukan karena tendensi politik, tapi semata karena kasus itu memang aneh dan janggal. Itu sama seperti kecurigaanku pada kasus "prostitusi artis" yang kutulis di sini » https://bit.ly/2uTJBpr
—@noffret, 7 April 2018

....
....

Mabes Polri: 60 Persen Informasi di Media Sosial Hoaks » https://bit.ly/2KLTkVJ
—@kumparan,13 April 2018

Saracen (sebagai misal) dituduh sebagai pabrik hoaks, tapi tuduhan itu terbukti tidak benar. Padahal media-media sudah mem-blow up tuduhan itu besar-besaran, habis-habisan, hingga masyarakat percaya. Jadi, siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab atas penyebaran hoaks?

Ingat kasus JIS? Selama kasus itu bergulir dan bikin geger se-Indonesia, tidak ada media yang mewawancarai orang-orang yang dituduh, secara langsung, untuk mendengar suara mereka. Padahal mereka punya hak untuk didengar. Jadi, di mana "asas praduga tak bersalah"?

Lalu kasus kopi sianida. Adakah media yang langsung menemui Jessica (sang tertuduh) untuk mendengar suaranya? Tidak ada! Padahal awak media tahu, "berita harus berimbang", "kedepankan asas praduga tak bersalah", "cover both side", bla-bla-bla. Tapi mereka tidak ingat semua itu.

Aku bukan fanboy Rocky Gerung, tapi aku setuju pada satu pendapatnya, bahwa pihak yang paling mungkin membuat hoaks (secara efektif) adalah pihak yang memiliki perangkat untuk melakukannya. Karena "perangkat" itulah yang bisa mendikte media untuk menyuarakan maksud mereka.

Jika ada yang bingung dengan ocehan ini, karena membawa-bawa JIS dan Jessica, sila baca 3 catatan ini:

Kasus JIS: Sebuah Catatan » http://bit.ly/16LtOaJ 
Jejak-jejak Keanehan Kasus Kopi Sianida » http://bit.ly/2eY3ZMG 
Jessica dan Burung-burung Nasar » http://bit.ly/2eNY0dd 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 April 2018.

Tulisan Ini Viral

Ya udah, gitu aja.

Minggu, 01 Juli 2018

Surya Paloh adalah Mutan yang Berteman dengan Magneto

Mungkin terdengar absurd, tapi dulu aku benar-benar 
yakin Surya Paloh adalah anggota X-Men yang berteman 
diam-diam dengan Magneto.


Surya Paloh adalah tokoh idola saya. Sebegitu mengidolakan, sampai saya selalu tertarik membaca berita apa saja yang terkait Surya Paloh. Meski mungkin isi berita hanya hal-hal ringan, saya tetap tertarik membaca, jika di dalamnya ada nama Surya Paloh.

Jadi, saya mengidolakan Surya Paloh. Tentu bukan cuma saya yang menjadikan Surya Paloh sebagai idola, dan masing-masing orang mungkin memiliki alasan sendiri-sendiri hingga mengidolakan Surya Paloh. Lalu apa alasan saya mengidolakan Surya Paloh?

Alasan saya mengidolakan Surya Paloh mungkin tidak ilmiah. Yaitu karena saya berpikir Surya Paloh adalah mutan, yang berteman dengan Magneto.

Terus terang saya tidak ingat kapan pertama kali punya pikiran gila semacam itu—mengira Surya Paloh seorang mutan. Yang masih saya ingat, suatu waktu saya melihat foto Surya Paloh di koran, dan tiba-tiba tercetus pikiran, “Orang ini pasti mutan!”

Dalam foto yang saya lihat waktu itu, Surya Paloh sedang tersenyum, dengan bulu wajahnya yang lebat. Semakin lama memandangi fotonya, semakin kuat dugaan saya kalau Surya Paloh memang mutan. Saya sempat berpikir, bisa jadi Surya Paloh juga anggota X-Men, atau mutan yang memilih menjalani hidup sendirian dan berteman dengan Magneto. Kemunculannya di dunia kita pasti sebentuk penyamaran yang menyembunyikan identitas aslinya sebagai mutan.

Sejujurnya, saya tidak bisa membayangkan kekuatan khas mutan yang mungkin dimiliki Surya Paloh. Yang jelas, saya yakin dia seorang mutan, dan berpikir dia berteman dengan Magneto. Karena saya mengidolakan Magneto, saya pun ikut mengidolakan Surya Paloh. Magneto dan Surya Paloh pasti sepasang sahabat yang digdaya. Bedanya, Magneto muncul secara jelas dalam serial X-Men, sementara Surya Paloh tidak muncul terang-terangan. Atau, setidaknya, itulah yang saya pikirkan.

Jadi, apakah Surya Paloh seorang mutan? Saya tidak tahu—saya hanya yakin dia seorang mutan.

“Yakin” dan “tahu” adalah dua hal berbeda. “Yakin” adalah meyakini tanpa pengetahuan, sementara “tahu” adalah meyakini berdasar pengetahuan. Dalam hal ini, saya hanya “yakin” Surya Paloh seorang mutan, tapi tidak tahu pasti apakah memang begitu kenyataannya.

Tetapi... hei, orang boleh meyakini apa saja, kan? Selengkapnya, orang boleh meyakini apa saja, jika keyakinan itu hanya ia yakini sendiri, dan tidak memaksakan keyakinan pribadinya kepada orang-orang lain.

Sebagai contoh, kita tahu api panas, dan menyentuh api bisa membuat kulit terbakar. Kalau ada orang meyakini api sebenarnya dingin atau tidak panas, ya silakan. Wong itu keyakinan pribadinya. Tapi cukuplah keyakinan itu untuk diri sendiri, dan tidak usah mengkhotbahkan keyakinan pribadi yang subjektif semacam itu kepada orang lain. Karena hasilnya akan destruktif.

Bagi yang tahu, doktrin “api itu dingin” akan mendatangkan tertawaan atau cemoohan. Sementara bagi yang tidak tahu, doktrin “api itu dingin” bisa menyesatkan. Karena faktanya api tidak dingin, bahkan panas. Beberapa orang mungkin memiliki kemampuan (baca: kelainan) sehingga dapat menyentuh api tanpa terbakar. Tapi itu kasuistis, dalam arti tidak bisa diterapkan pada semua orang. Wong nyatanya api bersifat panas.

Orang bisa meyakini sesuatu berdasarkan apa pun, dan setiap orang tentu berhak untuk itu. Tapi keyakinan apa pun—jika kenyataannya masih meragukan—mestinya cukup diyakini sendiri, dan tidak usah didoktrinkan kepada orang lain. Karena hasilnya bisa mendatangkan mudarat bagi orang-orang yang tidak tahu.

Lia Eden, misalnya, meyakini dirinya mendapat wahyu dari Malaikat Jibril, dan meyakini dirinya adalah nabi baru untuk zaman ini. Masalah? Tidak!

Sebenarnya, Lia Eden berhak untuk meyakini dirinya seperti apa pun yang dikhayalkannya. Oh, jangankan “cuma” meyakini dirinya sebagai nabi baru—yang sama-sama berwujud manusia—bahkan umpama Lia Eden meyakini dirinya megalodon atau anaconda atau tarantula, ya tidak masalah. Wong itu keyakinan pribadi. Setiap orang berhak untuk meyakini dirinya sebagai apa pun, termasuk Lia Eden.

Masalah mulai muncul, ketika keyakinan pribadi didoktrinkan kepada orang-orang lain, dengan harapan orang-orang lain ikut meyakini. Bagi orang-orang yang tidak tahu, doktrin Lia Eden jelas menyesatkan. Sementara bagi orang-orang yang tahu, doktrin Lia Eden menimbulkan keresahan. Karena itulah kemudian Lia Eden ditangkap dan dihukum.

Sebenarnya—jika kita mau berpikir—penangkapan dan hukuman terhadap Lia Eden bukan karena keyakinan pribadinya, melainkan karena dia mendoktrinkan keyakinan pribadinya pada orang-orang lain.

Kalau sekadar meyakini khayalan, saya pikir semua orang juga punya keyakinan serupa, meski mungkin tidak seekstrem Lia Eden. Wong saya juga sering berkhayal menjadi Magneto. Tidak apa-apa, toh cuma khayalan. Negara ini tidak bisa menangkap saya hanya karena berkhayal menjadi Magneto, tak peduli seyakin apa pun saya pada khayalan. Saya toh cuma mengkhayal, tidak mendoktrinkan khayalan agar orang-orang percaya bahwa saya Magneto.

Omong-omong soal Magneto, saya pun berkhayal—bahkan meyakini—kalau Magneto berteman dengan Surya Paloh. Dalam hal ini, saya menyadari bahwa Magneto hanya ada dalam film X-Men, sementara Surya Paloh ada di dunia nyata. Karena saya tidak mungkin bertemu Magneto, saya pun berharap bisa bertemu Surya Paloh. Tapi karena untuk bertemu pun sepertinya sulit—karena Surya Paloh tentu sangat sibuk—saya hanya bisa sebatas mengidolakannya.

Mengidolakan seseorang, apa pun alasannya, tentu sah dan dilindungi undang-undang. Kalau kita diberi hak untuk mengidolakan tokoh fiksi, apa salahnya kalau kita mengidolakan tokoh yang benar-benar nyata? Seperti Surya Paloh. Meski mungkin alasan pengidolaan itu tidak ilmiah. Yang jelas, saya mengidolakan Surya Paloh, karena saya yakin dia seorang mutan.

Masih dalam khayalan, kadang saya membayangkan bisa bertemu Surya Paloh, bercakap-cakap langsung dengannya, dan—jika memungkinkan—saya ingin dipertemukan dengan Magneto. Surya Paloh pasti dapat mempertemukan saya dengan Magneto, karena dia teman Magneto. Saya akan memastikan pada Surya Paloh, bahwa saya bisa menyimpan rahasia, dan tidak akan memberitahu siapa pun bahwa dia sebenarnya mutan.

Jika kenyataan itu benar-benar terjadi—saya bisa bertemu Magneto—saya akan meminta Magneto untuk dijadikan muridnya. Atau pengikutnya. Atau apalah, yang penting saya bisa memiliki kekuatan mutan seperti dirinya.

Dalam X-Men seri pertama, kita melihat Magneto mencoba mentransfer kekuatan mutan kepada manusia (nonmutan), dengan harapan manusia bisa menjadi mutan. Upaya itu rupanya gagal, sebagaimana kita saksikan dalam film. Tetapi, sekarang, Magneto pasti sudah menemukan cara yang lebih baik, sehingga dapat mengubah siapa pun menjadi mutan.

Karena itulah, saya berharap bisa bertemu Magneto, dan dia berkenan mengubah saya menjadi mutan. Dalam hal itu, satu-satunya orang yang mungkin dapat mempertemukan saya dengan Magneto hanya Surya Paloh, karena dia teman Magneto.

Mungkin khayalan saya gila, tapi entah kenapa saya sulit mengenyahkan khayalan itu dari kepala. Sampai saat ini, saya masih meyakini Surya Paloh adalah mutan, dan dia berteman dengan Magneto. Karena itu, saya mengidolakan Surya Paloh. Bahkan, kadang saya mengkhayal jadi pekerjanya, atau bawahannya, atau apalah, yang penting bisa selalu dekat dengannya.

Pasti menyenangkan kalau saya bisa sering melihat Surya Paloh, melihat sosoknya langsung, mendengarkan dia berbicara, dan... well, siapa tahu saya berkesempatan melihat Magneto saat berkunjung ke rumah Surya Paloh.

Karena Surya Paloh adalah mutan, dan dia teman Magneto.


PS:
Kalau Pak Surya Paloh—entah bagaimana caranya—menemukan catatan ini, tolong maafkan kenakalan saya, Pak. Sejujurnya, saya sangat mengidolakan Anda, terlepas Anda benar teman Magneto atau bukan.

Merasa Senasib

Di depan rumah yang sepi, bocah ini duduk sendirian sambil menangis pilu. Karena kasihan, saya pun mendekat, duduk di sampingnya, dan bertanya, “Kenapa kamu menangis?”

Dengan terbata-bata, dia menjawab, “Aku bilang ke teman-temanku, di dunia ini tidak ada yang mengalahkan mbakyuku. Tapi mereka tidak percaya!”

“Kenapa mereka tidak percaya?”

“Soalnya... aku tidak punya mbakyu. Fu... fu... fu....”

Saya merasa senasib dengannya.

Bayangan

Akhirnya, pada bayangan, suatu ketika, aku berkata, “Cuma bayangan.”

 
;