Kamis, 20 Februari 2020

Kesabaran yang Dilatih Kaset Ngodol

Generasi yang paling dimanjakan zaman 
tampaknya memang generasi yang lahir setelah internet tersedia. 
Sebagai bagian generasi '90-an, aku kadang iri pada mereka.


Anak-anak ’90-an kadang mengklaim sebagai generasi terbaik, khususnya jika dibandingkan generasi 2000-an. Saya tidak tahu klaim itu benar atau tidak. Yang saya tahu, generasi ’90-an menghadapi aneka keruwetan hidup yang tidak dihadapi oleh generasi 2000-an.

Salah satu keruwetan hidup yang dialami generasi ’90-an, adalah keruwetan kaset ngodol.

Anak-anak kekinian, yang menikmati musik secara streaming semisal lewat Spotify, mungkin tidak tahu apa itu kaset, dan tidak pernah membayangkan bahwa dulu—setidaknya era ’90-an—aktivitas menikmati musik bisa jadi sesuatu yang sangat merepotkan.

Saat ini, menikmati musik bisa dibilang sangat mudah. Cukup berlangganan musik streaming, dan kita bisa menikmati musik apa pun, kapan pun, di mana pun, secara praktis. Tapi dulu, di era ’90-an, urusan menikmati musik cukup merepotkan. Sarana untuk menikmati musik secara “eksklusif” hanya tersedia dalam bentuk kaset, yang diputar di benda purbakala bernama tape recorder.

Kaset adalah benda mungil seukuran bungkus rokok, berisi gulungan pita yang sangat tipis. Pada gulungan pita terdapat rekaman musik, yang biasanya satu album, dari seorang musisi atau grup musik. Rekaman dilakukan bolak-balik pada pita di kaset, karenanya masing-masing kaset memiliki sisi A dan sisi B. Kaset itulah yang digunakan bocah-bocah generasi ’90-an untuk menikmati musik.

Tapi kaset tidak berdiri sendiri. Untuk dapat memutar kaset dan menikmati musik di dalamnya, kita juga harus punya tape, yaitu sarana untuk memutar kaset. Harga kaset tergolong mahal, harga tape jauh lebih mahal. Punya banyak kaset tapi tidak punya tape, tidak bisa mendengarkan musik. Sebaliknya, punya tape tapi tidak punya kaset, mau nyetel apa?

Bayangkan kerumitan semacam itu dihadapi oleh semua bocah di era ’90-an, saat mereka ingin menikmati lagu-lagu terbaru atau musik dari penyanyi favorit.

Sebagai bocah generasi ’90-an, dan juga penikmat musik, saya harus berjuang—dalam arti harfiah—hanya untuk menikmati musik. Saya harus menabung sampai lama, demi bisa membeli tape, pemutar kaset. Setelah tape terbeli, saya harus kembali menabung sampai lama untuk mulai mengumpulkan kaset. Hanya untuk menikmati musik saja, prosesnya sulit dan tidak sebentar.

Karenanya, di era ’90-an, memiliki tape dan koleksi kaset rasanya sangat menyenangkan. Karena artinya kita bisa mendengarkan musik apa saja dan kapan saja, meski tidak bisa di mana saja. Pasalnya, tape memang tidak bisa dibawa-bawa seenaknya, karena harus mendapat sambungan listrik!

Biasanya, remaja yang punya tape di kamar akan sering berdiam di kamar—bisa seharian tidak keluar-keluar, karena asyik menikmati musik-musik kesayangan. Saya termasuk yang begitu. Kalau tidak ada urusan di luar rumah, saya pun asyik di kamar, seharian penuh membolak-balik kaset di tape untuk menikmati lagu-lagu yang saya suka. Rasanya sangat menyenangkan. Mungkin setara dengan generasi sekarang yang berbaring-baring damai dengan earphone di telinga, menikmati musik streaming.

Bedanya, generasi sekarang tidak mengalami fenomena menjengkelkan, yang disebut kaset ngodol.

Seperti yang disebut tadi, di dalam kaset terdapat pita rekaman berisi lagu-lagu yang kita dengarkan. Pita itu sangat tipis. Kalau kita sering menyetel kaset di tape, dan sering dibolak-balik tanpa henti, selalu ada kemungkinan pita akan kusut. Ketika itu terjadi, pita dalam kaset akan keluar dari putarannya, dan nyangkut di dalam tape. Lalu musik yang kita dengarkan seketika terhenti, dan kita harus menghadapi kenyataan bernama kaset ngodol, yaitu kaset yang pitanya ruwet tak karuan.

Ketika kaset benar-benar ngodol, kita harus mempersiapkan kesabaran setingkat nabi—atau setidaknya, saya berpikir begitu.

Pertama, kita harus sebisa mungkin menahan amarah gara-gara musik yang kita dengarkan terhenti. Ini penting, karena kita harus mengeluarkan kaset dari dalam tape, lalu menarik perlahan-lahan pita yang ngodol, dan mengusahakan agar pita kaset tidak semakin ruwet. Jika kita menariknya sambil marah, pita bisa semakin ruwet tak karuan, atau bahkan sampai terputus.

Kedua, setelah kaset dan pita yang ngodol bisa dikeluarkan dari tape, kita harus menggulung pita perlahan-lahan di dalam kaset, agar kembali seperti semula. Proses ini membutuhkan kesabaran, agar pita yang kita gulung benar-benar lurus, tidak terlipat-lipat, sehingga nantinya bisa kita setel lagi di tape. Karenanya, sambil menggulung pita di kaset, kita juga perlu meluruskan bagian-bagian pita yang tampak terlipat.

Ketiga, jika ada bagian pita yang terputus, kita harus berhati-hati menyambungnya, agar rekaman lagu di dalamnya dapat didengarkan kembali secara utuh seperti semula. Dalam hal ini, saya biasanya menggunakan selotip. Saya sambung bagian pita yang putus, dan merekatkannya dengan hari-hati ke selotip. Sekali lagi, proses melakukan hal itu membutuhkan kesabaran luar biasa. Dalam bayangan saya, itu mirip tim gegana yang sedang menjinakkan bom!

Apakah generasi sekarang menghadapi kerumitan semacam itu? Tentu saja tidak! Mereka tinggal menggunakan gadget, langganan musik streaming, dan lagu-lagu apa pun bisa didengarkan dengan mudah. Tidak perlu beli tape, tidak perlu beli kaset, dan—tentu saja—tidak perlu menghadapi kemungkinan kaset ngodol.

Karenanya, saya kadang iri pada generasi 2000-an. Mereka menghadapi kehidupan yang lebih mudah, jauh lebih mudah dibanding kehidupan yang saya jalani. Karenanya pula, ketika generasi ’90-an mengatakan mereka generasi terbaik, mungkin karena mereka harus menghadapi banyak kerumitan yang tidak dihadapi generasi sekarang. Salah satunya kerumitan kaset ngodol.

Tentu saja klaim atau penilaian itu bisa subjektif. Karena, bagaimana pun, setiap generasi tentu menghadapi tantangannya sendiri, meski dalam bentuk yang berbeda. Generasi ’90-an menghadapi tantangan kaset ngodol, generasi 2000-an bisa jadi menghadapi tantangan gadget rusak atau semacamnya.

Apa pun, tantangan mestinya menumbuhkan perjuangan, kesabaran, dan sikap pantang menyerah... seperti bocah yang berusaha sebaik mungkin mengatasi kaset ngodol, demi bisa mendengarkan lagu-lagu yang disukai.

Kini, saat dewasa, dan setelah jauh meninggalkan era ’90-an, saya menjadikan kaset ngodol sebagai bagian pelajaran untuk mengingatkan diri pada kesabaran. Setiap kali menghadapi hal-hal sulit, saya mengingatkan diri, “Ini lebih mudah daripada kaset ngodol!”

Kenyataannya, masalah-masalah hidup memang tak jauh beda dengan kaset ngodol. Sewaktu-waktu kesulitan muncul, sesuatu yang kita nikmati tiba-tiba terhenti atau mengalami kemacetan, dan kita kebingungan. Dalam hal itu, saya bersyukur karena menjadi generasi ’90-an, yang terlatih sabar dalam menghadapi kaset ngodol.

Belajar, Bekerja, dan Bermain

Habis mandi, nyeruput cokelat hangat, udud, dan terpikir untuk nyambung ocehan kemarin.

Orang-orang yang biasa bekerja 8 jam setiap hari mungkin heran pada orang yang bekerja sampai 10 jam atau bahkan 14 jam setiap hari. Keheranan itu, bisa jadi, karena, “aku yang kerja 8 jam sehari aja udah capek dan stres, apalagi kerja sampai 14 jam setiap hari!”

Ya, kebanyakan orang memang tidak menyukai apalagi menikmati pekerjaan mereka. Akibatnya, bagi mereka, pekerjaan terlihat seperti “musuh” yang harus dijauhi, dan bukan “teman baik” yang harus diakrabi. Mungkin mereka bahkan membenci pekerjaan yang dilakukan setiap hari.

Sebenarnya, semua pekerjaan mungkin memang tidak ada yang menyenangkan—setidaknya kalau dibandingkan dengan aktivitas liburan, rebahan, ngewe, atau bengong di depan teve. Artinya, mencintai pekerjaan sebenarnya bukan karena faktor kerja apa, tapi lebih ke diri kita.

Orang-orang yang mencintai dan menikmati pekerjaan sering kali bukan karena pekerjaan itu memang nikmat—persetan, memangnya pekerjaan apa yang nikmat?—tapi karena orang bersangkutan berusaha mencintai pekerjaannya, dan belajar menikmati pekerjaan yang dilakukan.

Terkait kerja, aku hanya menerapkan prinsip sederhana; bahwa dengan bekerjalah aku bisa mendapat uang, agar bisa melanjutkan kehidupan dengan baik. Karena prinsip itu pula, aku berusaha mencintai pekerjaanku—terlepas apa pun yang kukerjakan—dan belajar menikmatinya.

Orang tidak bisa mencintai pekerjaan semata-mata karena pekerjaan itu passion baginya! Tak peduli se-passion apa pun, pekerjaan tetap pekerjaan, dan bisa menjadi aktivitas penuh tekanan sekaligus membosankan! Orang hanya bisa mencintai pekerjaan, jika belajar mencintainya!

So, itulah yang kulakukan—aku berusaha mencintai yang kukerjakan, dan belajar menikmatinya. Belakangan, bekerja menjadi aktivitas paling menyenangkan bagiku—sebegitu menyenangkan, hingga aku ingin terus melakukannya. Ini tentu butuh proses, waktu, kesadaran, dan pembelajaran.

Apakah aku pernah stres karena pekerjaan? Tentu saja, ya, seperti umumnya orang bekerja. Tetapi, jika kupelajari, stres karena aktivitas kerja jauh lebih minim dibanding di luar kerja. Karena bekerja, bagiku, sangat menyenangkan! Aku justru mudah stres saat jauh dari kerja.

Bagiku, menjauh dari pekerjaan artinya masuk ke lingkungan masyarakat atau “orang-orang umum”. Dan masuk ke lingkungan masyarakat atau “orang-orang umum” artinya memungkinkanku rentan terkena paparan masalah dari luar, dan itu membuatku mudah stres.

Sebagian besar stres yang kualami bukan berasal dari pekerjaan, tapi justru dari luar pekerjaan. Bisa dibilang, selama aku terus berkutat dengan pekerjaan, stresku akan sangat minim. Karena itu, pekerjaan menjadi kepompong sempurna untukku berlindung dari stresnya dunia.

Sering aku membayangkan terasing seorang diri di suatu kota mati, atau di pulau kosong tak berpenghuni, dan hanya hidup sendirian. Dan aku yakin tidak akan stres, selama memiliki akses terhadap peranti yang kubutuhkan untuk terus bekerja. Dan teh hangat, dan udud—tentu saja!

So, aku mencintai pekerjaan bukan karena pekerjaanku menyenangkan atau karena itu passion-ku, tapi karena aku berusaha mencintainya, dan belajar menikmatinya. Omong kosong kalau ada pekerjaan yang tidak akan membuat stres atau bosan. Itu pasti bukan pekerjaan!

Sebagai bocah, hanya satu hal yang kucintai di dunia ini: Bermain! Belajar, berpikir, dan bekerja, adalah “permainan” menyenangkan bagiku—sebegitu menyenangkan, hingga aku ingin terus melakukannya, dan hanya berhenti setelah lelah. Itulah kenapa aku “bermain” 14 jam setiap hari.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 September 2019.

Catatan Menjelang Tidur

Tiap habis mandi, merasakan tubuh segar, lalu nyeruput cokelat hangat dan udud, aku merasa telah menyelesaikan satu hari dengan baik.

"Kenapa kamu mandinya selalu tengah malam?"

Rata-rata, aku bekerja 14 jam setiap hari, dan jam kerjaku biasanya baru selesai tengah malam. Jadi baru bisa mandi pas tengah malam. Seperti mungkin kebanyakan orang, aku baru mandi setelah kerja selesai.

"Kenapa sampai kerja 14 jam setiap hari?"

Sederhana saja, aku menyukai dan menikmatinya! Kerja telah membantuku menjaga kewarasan, hingga aku bisa menjalani hidup dengan normal. Bekerja memungkinkan pikiranku terus sibuk, dan itu menjaga kesehatan mentalku.

Awkarin pernah menyatakan, "Normal people probably would never understand how it feels like to be afraid of your own head and thoughts."

Kira-kira seperti itulah yang kualami, hingga aku sengaja menyibukkan pikiran terus menerus, dan menenggelamkan diri pada pekerjaan.

Kebanyakan orang mungkin senang saat rebahan atau malas-malasan, dengan pikiran kosong tanpa memikirkan apa pun. Aku justru senang saat tenggelam dalam pekerjaan, dan menjauhi aktivitas semacam rebahan atau malas-malasan. Aku harus selalu memikirkan sesuatu!

Jika terpaksa harus duduk diam, aku harus melakukan sesuatu—setidaknya membaca buku. Kalau tidak ada buku, dan tidak ada apa pun yang bisa kubaca, aku harus mencari dan mendapatkan sesuatu untuk kupikirkan. Membiarkan pikiran tak terkendali rasanya mengerikan.

Jadi, bekerja seperti pelarian sempurna bagiku. Bukan hanya menjadikan hidup lebih produktif, tapi juga memungkinkanku untuk memfokuskan pikiran pada pekerjaan. Aku merasa hampa jika tidak melakukan sesuatu, dan menyesali setiap waktu yang kuhabiskan tanpa melakukan apa pun.

Menjelang tengah malam, seperti biasa, saat kerjaku usai, lalu mandi dan nyeruput cokelat hangat dan udud, aku merasa begitu puas... satu hari berlalu, dan telah kuisi dengan baik, sebaik yang aku bisa, hingga bisa tidur dengan tenang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 September 2019.

Noffret’s Note: Joker

Banyak orang tertarik pada Joker, bahkan mempersonifikasi diri sebagai Joker, khususnya setelah menonton film terbarunya. Dalam hal ini, sejujurnya, aku sama sekali tidak tertarik pada Joker atau tokoh lain seperti dirinya. Joker bukan jenis kepribadian yang menarik minatku.

Apa tujuan hidup Joker? Tidak ada! Joker tidak hidup untuk tujuan jelas. Sebaliknya, dia hidup untuk tanpa-tujuan! Joker tidak mengenal keteraturan atau prinsip yang... well, akademis. Karena misi hidupnya adalah menciptakan kekacauan, persis seperti yang ada dalam pikirannya.

Banyak orang menjadi superhero—atau supervillain—karena pengaruh masa lalu atau masa kecilnya. Tapi mereka semua memiliki tujuan jelas, terlepas konstruktif atau destruktif. Beda dengan Joker. Dia tidak punya tujuan, selain mengacau! Dan karena itulah, aku tidak tertarik padanya!

Batman menjadi superhero karena pengaruh masa kecil. Lalu dia membangun misi yang menjadi tujuan hidupnya—menumpas kejahatan. Dan dia melakukannya dengan prinsip keteraturan, secara metodis, dengan satu tujuan jelas! Aku jelas lebih mengagumi Batman, daripada Joker yang kacau!

Bahkan untuk ukuran sesama supervillain, aku lebih mengagumi Ra's al Ghul, meski dia juga menjadi musuh Batman. Ra's al Ghul memang punya tujuan destruktif, tapi dia memiliki misi dan perspektf yang jelas, dan dia melakukannya secara metodis, serta dengan prinsip keteraturan.

Orang-orang semacam Joker—yang menjalani hidup dengan kacau dan asal tabrak, tanpa keteraturan pikiran, tanpa perspektif yang jelas, serta tanpa misi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan akademis—tidak pernah menarik minatku, tak peduli dia dipuja-puja seperti nabi.

Sebenarnya, aku curiga bahwa kita telah meromantisasi atau bahkan mengglorifikasi sosok Joker. In fact, Joker menyedot perhatian banyak orang, setelah Heath Ledger memerankannya secara brilian (ditambah lagi dia mati setelah memerankan tokoh itu), hingga Joker jadi sangat ikonik.

Jangan-jangan, yang kita kagumi sebenarnya bukan Joker, melainkan kehebatan akting Heath Ledger. Atau jangan-jangan... ada banyak orang yang diam-diam memang seperti Joker—hidup dengan kacau dan tanpa tujuan—lalu merasa menemukan "teman" atau personifikasi yang dianggap mewakili.

Banyaknya orang yang mengagumi—atau bahkan mengglorifikasi—Joker adalah fakta yang memprihatinkan, karena secara tak langsung menjelaskan seperti apa isi pikiran dan kehidupan banyak orang di sekeliling kita. Kekacauan... tanpa tujuan... jauh dari prinsip-prinsip keteraturan.

Oh, ya, aku juga mengagumi beberapa supervillain, seperti Magneto atau En Sabah Nur (Apocalypse). Dulu, aku ingin menjadi Magneto, tapi sekarang aku hanya ingin menjadi En Sabah Nur. Karena di dunia ini tidak ada yang mengalahkan Awkarin selain En Sabah Nur.

(Ujungnya kacau).

Ingin jadi En Sabah Nur, ya Allah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Oktober 2019.

Bosok

Oh... bosok.

Senin, 10 Februari 2020

Wajah Asli Manusia

Kita semua mengenakan topeng, karena tak sempurna. 
Sebagian orang sadar mengenakan topeng, 
sebagian lain menganggap topeng itu wajahnya.


Meski mungkin kita menyangkal, kenyataannya manusia punya sisi gelap, meski sisi itu sering kali tak tampak. Karena kita menyembunyikan, atau karena belum ada kesempatan untuk menunjukkannya. 

Kita bisa mengenali sisi gelap manusia—khususnya orang-orang terdekat—saat kita berada di posisi yang rapuh, misal dirundung masalah, menghadapi kebangkrutan, jatuh miskin, dan semacamnya. Dalam posisi semacam itu, biasanya akan tampak mana saudara dan teman sejati, serta mana yang pura-pura menjadi teman atau saudara.

Atau sebaliknya, kita bisa melihat wajah asli manusia, ketika mereka memiliki kesempatan untuk menunjukkannya. Misal menduduki jabatan tertentu, atau memegang kekuasaan, atau tiba-tiba mendapat kekayaan. Saat hal itu terjadi, kita biasanya akan melihat mana orang yang benar-benar baik, dan mana yang hanya pura-pura menjadi orang baik.

Orang sering mengatakan bahwa kekayaan atau kekuasaan bisa mengubah manusia. Sebenarnya tidak. Kekayaan atau kekuasaan justru memperkuat karakter asli manusia—orang per orang—hingga karakter asli itu akan tampak jelas.

Ketika orang baik diberi kekayaan atau kekuasaan, karakter baiknya akan semakin kuat, menonjol, dan kian tampak—dia akan menunjukkannya lewat kekayaan atau kekuasaan yang dimiliki. Karakter baik tidak bisa dirusak oleh kekayaan atau kekuasaan. Jika seseorang memang baik, dia akan tetap baik—dalam kemiskinan atau dalam kekayaan, saat lemah atau ketika memiliki daya.

Sebaliknya, kekayaan atau kekuasaan juga akan memperkuat karakter buruk manusia. Orang tidak bisa serta merta menjadi baik hanya karena mendapat kekayaan atau kekuasaan, kalau dasarnya berkarakter buruk.

Kita mungkin sering mendapati orang yang terkesan baik ketika miskin, tapi kemudian berubah jahat ketika kaya. Dalam kasus lain, ada orang yang semula tampak humanis ketika menjadi rakyat biasa, tapi berubah menjadi iblis ketika mendapat kekuasaan.

Apakah memang kekayaan dan kekuasaan itu yang mengubah mereka? Sebenarnya tidak. Kekayaan dan kekuasaan tidak bisa mengubah sifat asli manusia—ia hanya memperkuat karakter aslinya. Yang baik akan semakin tampak karakter baiknya, begitu pula yang buruk atau jahat.

Ada banyak orang yang tampak baik, semata-mata karena miskin, lemah, dan tak berdaya. Sebegitu lemah dan tak berdaya, sampai mereka tidak berani menunjukkan karakter aslinya yang sebenarnya buruk dan jahat. Karenanya, begitu mendapat secuil kekayaan atau seupil kekuasaan, karakter asli mereka pun keluar. Banyak yang begitu.

Karenanya, jika ingin tahu seperti apa sifat atau karakter asli seseorang, jangan lihat ketika dia tidak punya kesempatan atau keberanian untuk menunjukkan wujud aslinya. Lihatlah ketika dia punya daya dan kesempatan untuk menunjukkannya. Saat manusia diberi kekuasaan sekaligus kesempatan untuk melakukan apa pun yang ingin ia lakukan, kita akan tahu seperti apa sisi gelap orang per orang.

Sisi gelap dan wajah asli manusia pernah disingkap dengan cara yang sangat artistik sekaligus mengerikan, oleh Marina Abramovic, seorang seniman pertunjukan asal Yugoslavia.

Pada 1974, Marina Abramovic punya ide melakukan eksperimen seni, dengan menjadikan dirinya sebagai objek. Belakangan, eksperimen itu berubah menjadi peristiwa berbahaya, kontroversial, sekaligus menjadi penemuan psikologi paling mengerikan mengenai wajah asli manusia.

Marina menyebut eksperimen itu sebagai Ryhthm 0. Pertunjukannya sederhana. Dia berdiri di hadapan para penonton, diam tak bergerak. Di dekatnya berdiri, ada sebuah meja yang menyediakan 72 barang, termasuk parfum, bunga mawar, gunting, paku, batang logam, dan pistol yang diisi dengan satu peluru.

Dalam pertunjukan itu, Marina akan berdiri diam selama 6 jam, dan membebaskan penonton melakukan apa saja terhadap dirinya, dengan menggunakan benda-benda yang tersedia di atas meja. Dia tidak akan bergerak, apalagi memprotes, terlepas apa pun yang dilakukan penonton terhadap dirinya. Waktu itu, ada banyak penonton yang menyaksikan pertunjukannya, pria maupun wanita.

Semula, para penonton hanya diam memandangnya. Marina berdiri mematung, tak bergerak sedikit pun. Lalu ada penonton yang mencoba mendekat, dan menyentuh pipi Marina dengan lembut. Marina masih diam, tak bergerak. Penonton lain mendekat, mengambil bunga mawar di meja, lalu menyelipkannya di baju Marina. Sekali lagi, Marina hanya diam, tak bergerak.

Penonton lain lalu tergelitik melakukan hal yang lebih berani, dengan mencium Marina, atau melakukan hal lain semacamnya. Marina tetap diam.

Detik-detik berlalu. Perlahan namun pasti, sisi gelap manusia mulai muncul, dan menampakkan wajah aslinya.

Seorang penonton mulai meraba dan mempermainkan tubuh Marina. Ketika Marina masih diam, yang lain ikut mengeksploitasi tubuh wanita itu. Ada yang menyentuh bagian sensitif, ada yang menggunting pakaiannya, dan lain-lain. Saat pertunjukan itu memasuki jam keempat, Marina sudah hampir telanjang, karena pakaiannya telah dicabik-cabik.

Sisi gelap orang-orang di sana kian pekat. Setelah tubuh Marina bebas terbuka karena tak ada lagi pakaian yang bisa dicabik, mereka mulai melakukan pelecehan seksual. [Belakangan, Marina menyatakan bahwa saat itu tidak sampai terjadi perkosaan, karena ada banyak penonton, dan sebagian besar penonton—khususnya para pelaku pelecehan terhadap dirinya—datang ke sana bersama pasangannya.]

Meski aksi mengerikan itu tidak sampai pada perkosaan, bukan berarti “baik-baik saja”. Sebagian penonton tampaknya tidak bisa lagi mengendalikan sisi gelapnya, dan mereka mulai menggunakan pisau untuk menggores kulit Marina. Ada yang membuat goresan namanya pada kulit wanita itu, bahkan ada yang menggoreskan pisau di dekat leher Marina, lalu mengisap darahnya.

Marina masih diam, meski dia tentu merasakan sakit, pedih, sekaligus terluka. Tapi dia sama sekali tak bergerak. Memasuki jam kelima, mata Marina berkaca-kaca, dengan sorot yang jelas menampakkan penderitaan. Tetapi, sekali lagi, dia sama sekali tak bergerak.

Dalam kondisi nyaris telanjang, dengan tubuh yang dieksploitasi dan penuh luka goresan berdarah, Marina terus berdiri diam. Sebagian penonton memotret hal tersebut, seolah Marina hanya seonggok patung atau benda mati. Mereka seperti lupa bahwa sosok yang berdiri diam di sana adalah manusia, seorang wanita, dengan napas dan nyawa, dengan hati dan pikiran, seperti diri mereka.

Memasuki jam keenam, salah satu penonton di sana—seorang wanita—mendekati Marina, dan memeluknya. [Belakangan, Marina mengakui bahwa pelukan itu “meredakan penderitaannya”.] Setelah satu wanita memeluk Marina, beberapa orang lain mulai tergerak untuk ikut peduli. Ada yang berusaha mengobati luka-luka di tubuh Marina, ada pula yang berusaha menutupi tubuh Marina yang terbuka.

Ironisnya, meski begitu, ada sebagian penonton yang sama sekali tidak peduli, bahkan berusaha menghalang-halangi. Sementara beberapa orang berusaha menolong, beberapa yang lain masih berusaha untuk melakukan kejahatan lain pada Marina. Seseorang bahkan meraih pistol di meja, dan nyaris menembakkannya ke kepala Marina.

Tampaknya, orang-orang yang terus menyakiti Marina seperti berusaha memanfaatkan kesempatan yang ada untuk berbuat sesukanya. Mungkin, pikir mereka, “Kapan lagi bisa menyakiti dan melukai orang lain tanpa konsekuensi?”

Akhirnya, ketika jam pertunjukan telah selesai—enam jam tepat—kejutan terjadi secara tak terduga. Waktu itu, Marina mulai bergerak dari diam mematungnya, dan orang-orang tampak shock. Mereka seperti lupa bahwa Marina masih manusia, dan bisa bergerak seperti mereka, seperti umumnya manusia lain.

Ketika Marina mulai bergerak, sebagian orang—yang tadi melakukan kejahatan kepadanya—tampak ketakutan, beberapa di antaranya sampai lari meninggalkan tempat pertunjukan.

Pertunjukan itu sukses, bahkan tercatat dalam sejarah, menjadi kajian penting dalam psikologi. Meski, untuk itu, Marina mengalami shock dan trauma berat. Dia bahkan sempat kesulitan mengembalikan dirinya sebagai manusia seutuh semula, setelah menjadi objek diam selama 6 jam. “Itu benar-benar horor,” ujarnya, dalam sebuah wawancara.

Eksperimen yang dilakukan Marina dengan jelas mengungkapkan sisi gelap manusia. Bahwa ketika manusia diberi kuasa atau kebebasan untuk melakukan apa pun yang diinginkan, mereka akan menunjukkan watak aslinya, menyingkapkan wajah aslinya.

Orang-orang tidak melakukan kejahatan dan melukai sesamanya, sering kali bukan karena menyadari itu buruk, tapi karena mengingat konsekuensinya. Bahkan meski ada konsekuensi pun, orang kadang masih nekad dan gelap mata. Mereka membegal orang lain, karena kebutuhan mendesak atau karena kerakusan, sebagaimana mereka yang menindas orang lain karena merasa memiliki kekuasaan.

Bayangkan apa yang sekiranya akan terjadi, kalau suatu hari pemerintah mengumumkan, “Selama enam hari ke depan, tidak ada hukum yang berlaku di negara ini. Kalian bebas melakukan apa pun, kepada siapa pun, tanpa ada konsekuensi sama sekali.” Kira-kira, apa yang akan terjadi selama enam hari itu?

Hanya ada satu kata; kekacauan.

Kekacauan yang akan benar-benar menunjukkan sisi gelap manusia, dan menyingkap wajah asli kita. Bayangkan saja apa yang terlintas dalam pikiran, andai “enam hari tanpa hukum” itu benar-benar terjadi. Dan apa pun yang ada dalam pikiran kita, itulah sisi gelap yang mungkin selama ini kita sembunyikan, kita sangkal, dan tak kita akui.

Komputer Ngadat dan Animisme

Teman saya bercerita tentang komputernya yang sering ngadat. Ketika sedang digunakan, entah untuk mengetik, menonton film, atau sedang membuka internet, tiba-tiba komputer mati sendiri. Setelah mati tiba-tiba, biasanya komputer sulit dinyalakan lagi. Meski tombol power sudah ditekan berkali-kali, komputer tetap tidak mau menyala.

“Biasanya, aku harus gebrak-gebrak dulu CPU-nya,” ujar teman saya. “Setelah itu, komputer baru nyala lagi.”

Kadang-kadang, sudah digebrak-gebrak pun, komputer belum mau menyala. Teman saya harus maki-maki atau misuh-misuh dulu, baru komputer mau menyala lagi.

Lalu dia bertanya, “Bagaimana menurutmu?”

Sambil tersenyum, saya menjawab, “Menurutku, itulah asal usul animisme.”

Dari Mana Datangnya Malas

Dari mana datangnya malas? Bukan dari lahir. Pertama-tama dari lingkungan (keluarga, tetangga, teman-teman, dll). Dari situ, terbentuklah kebiasaan. Setelah menjadi kebiasaan, malas pun menjadi mental, dan lahirlah orang malas.

Begitu pula hal-hal lain, baik atau pun buruk.

Contoh mudah, ada orang-orang yang biasa buang sampah sembarangan. Di mana pun berada, dia tetap buang sampah sembarangan, karena sudah KEBIASAAN. Dan kebiasaan adalah hasil "pembelajaran" bertahun-tahun, dari pengalaman dan lingkungan—bukan warisan gen sejak dilahirkan.

Di Mekkah, sebagian orang Indonesia (yang berhaji ke sana) menimbulkan reputasi buruk, khususnya dalam hal buang sampah sembarangan dan corat-coret (vandalisme). Itu contoh nyata betapa mental memang sulit diubah, setelah terbentuk. Bahkan dibawa ke Mekkah pun tetap sama.

Sebaliknya, warga Singapura terkenal "istimewa" di negara mana pun, karena mereka begitu tertib dan sangat beradab. Bahkan untuk meludah saja, mereka mencari toilet! Kebiasaan semacam itu sama dengan kebiasaan pemalas atau suka buang sampah sembarangan. Sama-sama hasil mental.

Kita tidak lahir dengan bakat beradab atau biadab, kitalah yang membentuknya—melalui lingkungan, pengalaman, kebiasaan, hingga terbentuk menjadi mental. Saat orang bermental baik dimasukkan ke tempat rusak, dia tetap baik (contoh mudah; tertib/taat aturan). Begitu pun sebaliknya.

Dan mental dalam konteks ini merentang dari semua sifat serta kebiasaan manusia. Kebiasaan suka ngurusin selangkangan orang lain (misal suka bertanya "kapan kawin?"), itu juga refleksi mental orang bersangkutan. Kebiasaanmu akan mengatakan dengan jelas siapa sebenarnya dirimu.

Hati-hati dengan lingkunganmu, karena ia akan membentuk kebiasaanmu. Hati-hati dengan kebiasaanmu, karena ia akan membentuk karaktermu. Hati-hati dengan karaktermu, karena ia akan membentuk mentalmu. Akhirnya, hati-hati dengan mentalmu, karena ia yang akan membentuk takdirmu.

Well, sekarang kita paham kenapa Si A bisa menjadi Si A, dan dia BENAR-BENAR TEPAT menjadi Si A, sementara Si B menjadi Si B, dan dia BENAR-BENAR TEPAT menjadi Si B. Karena mereka sendiri yang membentuk diri mereka begitu! Dan lihatlah dirimu... kau pun BISA TEPAT menjadi dirimu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2018.

Ilusi Kebahagiaan

Tiba-tiba ingat, The Conversation pernah menerbitkan artikel yang menyatakan bahwa "manusia tidak dirancang untuk bahagia". Karena itu, pencarian atau pengejaran kebahagiaan adalah sebentuk ilusi yang tak akan pernah tercapai. Entah banyak yang setuju atau tidak dengan tesis itu.

Apakah aku percaya kebahagiaan? Sepertinya akan terdengar "terlalu revolusioner" kalau aku mengatakan "tidak". Dan, ya, aku percaya kebahagiaan—tentu saja. Meski konsep kebahagiaan yang kupercaya adalah "kebahagiaan dari moment ke moment", yang sifatnya relatif dan temporer.

Kebahagiaan dari moment ke moment yang kumaksud adalah kebahagiaan dari satu hal ke hal lain, dan begitu terus menerus, dan—kupikir—begitulah cara manusia menjalani kehidupan. Dengan hati yang berharap, dengan jiwa yang terus semangat... dari moment ke moment. Tak ada yang abadi.

Konsep "kebahagiaan abadi" mungkin terdengar menjanjikan, tapi kita tidak tinggal di surga, dan tak ada yang abadi di muka bumi. Kapan pun waktunya, cepat atau lambat, kebahagiaan—bahkan yang paling fantastis sekali pun—pasti akan berakhir. Karena begitulah dunia fana.

Bahkan, kalau dipikir-pikir, konsep "kebahagiaan abadi" itu sebenarnya tak masuk akal, karena salah satu sifat terbesar manusia adalah bosan. Dulu, misalnya, aku pernah bahagia luar biasa tiap makan nasi kebuli. Sekarang? Bosan, karena menyantapnya tiap malam, bertahun-tahun.

Atau kebanyakan dari kita, yang semula tidak punya motor, pasti bahagia sekali saat punya motor. Setelah itu? Ya biasa saja! Lalu membayangkan punya mobil. "Pasti bahagia sekali kalau punya mobil." Setelah punya mobil? Ya bahagia, sih, cuma ya akhirnya biasa-biasa saja lagi.

Tak ada yang abadi di muka bumi, begitu pun kebahagiaan. Karena itulah aku lebih percaya pada kebahagiaan dari moment ke moment, kebahagiaan dari waktu ke waktu, dari satu pencapaian ke pencapaian lain. Karena konsep semacam itu membuat kita terus tumbuh dan makin hidup.

Karenanya, slogan perkawinan terkenal, "dan mereka pun hidup bahagia selama-lamanya", sebenarnya slogan ngapusi yang jelas taik kucing! Kalau memang manusia bisa hidup bahagia selama-lamanya di dunia fana, lalu buat apa agama menjanjikan surga? Itu benar-benar slogan yang kacau!

PS:

Bagaimana pun, sebagai bocah yang sederhana, kebahagiaanku pun sebenarnya sederhana. Cukup sehat jiwa raga, tidak punya masalah berat, dan uang yang banyak! Sudah, itu saja sudah cukup!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Agustus 2019.

Laptop

Ooh... laptop.

Sabtu, 01 Februari 2020

Ngadem di Pinggir Sawah

Petani yang mencangkul sawah dengan baik, 
tukang sapu yang menyapu dengan baik, mereka eksis. 
Tapi mungkin tak terkenal.


Saya punya semacam ikatan batin dengan sawah, karena—di lubuk hati terdalam—saya ingin menjadi petani. Tapi takdir kadang menuntun kita untuk menjalani hidup yang berbeda dengan impian. Bahkan sejak awal, saya menyadari bahwa impian menjadi petani sangat sulit tercapai, karena saya tidak punya tanah atau sawah—itu butuh modal besar. Sebagai gantinya, saya menjadi penulis.

Menjadi penulis, bagi saya, terasa lebih mudah. Karena modal yang dibutuhkan hanyalah kertas dan pena, dan mesin tik—atau komputer, di zaman sekarang. Dulu, dibanding memiliki sawah, memiliki kertas dan alat tulis jauh lebih mudah dan lebih terjangkau bagi saya. Karenanya, saya pun akhirnya meletakkan hati atau passion pada aktivitas menulis. Sampai sekarang.

Meski begitu, saya masih kerap membayangkan diri menjadi petani. Dan tetap senang memandangi sawah.

Di daerah perbatasan antara Pekalongan dan Batang—yang merupakan jalan tembus—ada kawasan persawahan yang cukup luas. Sawah-sawah itu bersisian tepat dengan jalan raya, dengan posisi lebih ke bawah. Meski saya menyebutnya “jalan raya”, jalanan di situ relatif sepi, karena memang bukan jalan utama.

Kalau lewat daerah itu, saya sering berhenti, lalu duduk di pinggir jalan, menatap persawahan yang indah. Di tempat itu juga masih banyak pohon besar, hingga bisa membuat saya ngadem (menikmati suasana adem).

Duduk sendirian sambil menatap hamparan sawah, membuat saya tenang. Rasanya begitu damai. Pohon yang rindang memberikan suasana adem, angin silir-silir mengembuskan keteduhan, dan saya merasa betah berlama-lama di sana. Kalau saja bisa, saya ingin menggelar tikar di sana, lengkap dengan bantal dan guling, agar bisa tidur-tiduran. Intinya, kalau sudah ngadem di sana, saya merasa tak ingin pulang.

Sering kali, saat saya duduk-duduk di sana, di sawah tidak ada siapa-siapa, selain hamparan padi yang menghijau. Namun, di saat panen, saya mendapati orang-orang tampak sibuk bekerja—para petani yang memanen padi, laki-laki maupun perempuan, dengan caping mereka yang khas—dan saya senang menyaksikan mereka.

Kadang-kadang pula, saat duduk sendirian di sana, ada teman yang kebetulan lewat, dan melihat saya. Lalu mereka berhenti, dan menghampiri. Biasanya mereka bertanya, apa yang sedang saya lakukan di sana. Biasanya pula saya menjawab sedang ngadem. Kalau kebetulan sedang selo, mereka pun menemani saya ngadem di sana, lalu kami bercakap-cakap sambil udud.

Sendirian atau bersama teman, ngadem di pinggir sawah benar-benar menenangkan. Karena suasananya jauh berbeda dengan suasana pusat kota yang panas dan bising, yang setiap hari saya hadapi. Saat ngadem di sana, rasanya seperti menikmati oase di tengah padang gersang.

Salah satu teman yang pernah mendapati saya duduk di sana adalah Tyo. Dia tinggal di Batang, bertetangga dengan Goenawan Mohamad—iya, Goenawan Mohamad yang itu. Kalau mau ke Pekalongan, Tyo suka lewat jalan tembus yang tadi saya ceritakan, bukan lewat jalan utama. Begitu pula saat kembali ke Batang. Suatu siang, saat lewat di sana, dia mendapati saya sedang duduk sendirian di pinggir sawah.

Karena penasaran, dia pun berhenti, dan menghampiri. Ketika saya menengok ke arahnya, Tyo bertanya, “Lagi ngapain?”

“Lagi ngadem,” jawab saya.

Lalu dia duduk di samping saya, dan kami bercakap-cakap. Karena memang selo, kami pun mengobrol di sana sampai lama, menikmati percakapan yang menyenangkan, dengan angin yang silir-silir. Saat ada penjual es lewat, kami membeli es untuk membasahi tenggorokan, lalu melanjutkan obrolan sambil udud.

“Aku sering lewat sini,” ujar Tyo, “tapi tidak pernah kepikiran untuk duduk-duduk di sini. Ternyata kok nikmat sekali, ya.”

“Sepertinya kamu telah mendapat hidayah,” sahut saya sambil tersenyum.

Tyo lalu bertanya, “Kamu sering duduk di sini—sendirian?”

“Ya.”

“Mencari ide untuk menulis?”

“Tidak. Hanya ingin ngadem.”

Dia tampak ragu-ragu. “Uhm... apakah pertemuan ini akan kamu tulis, di blog?”

Saya tersenyum. “Kalau itu yang kamu inginkan.”

Tyo tampak senang. Sambil nyengir, dia lalu berujar, “Karena kamu akan menulisnya, sepertinya aku harus mengatakan hal-hal keren.”

Saya cekikikan.

Setelah berpikir sejenak, Tyo mengatakan sesuatu yang tidak saya duga, “Uhm... kenapa kamu tidak ingin terkenal?”

Saya mengisap rokok sesaat, lalu menjawab, “Ada banyak orang yang ingin terkenal—bahkan mungkin hampir semua orang ingin terkenal—hingga melakukan berbagai upaya agar dikenal. Aku tidak perlu menambah persaingan. Biarlah mereka ingin terkenal, aku memilih tidak terkenal saja. Lagi pula, aku sadar tidak memiliki apa pun yang layak membuatku dikenal.”

“Kamu pasti sedang merendah,” sahut Tyo. “Jawabanmu juga sebenarnya belum menjawab pertanyaanku. Kamu hanya menyatakan keinginanmu—untuk tidak dikenal—tapi kamu belum menjelaskan apa yang melatarbelakangi keinginanmu.”

“Ada beberapa hal yang melatarbelakangi, tentu saja, dan kenyamanan salah satunya.” Setelah membuang puntung rokok, saya melanjutkan, “Aku merasa nyaman seperti sekarang—menjadi bukan siapa-siapa—hingga bisa ngadem di pinggir sawah dengan tenang, tanpa dikenali orang-orang yang memang tidak kenal. Itu privilese yang tidak dimiliki orang-orang terkenal, yang sosoknya akan dikenali di mana pun.”

“Tapi, katanya, orang terkenal justru lebih mungkin mendapat privilese yang tidak dimiliki orang biasa...”

“Tentu saja hak setiap orang untuk berpikir begitu. Menurutku, sesuatu yang disebut privilese itu bisa subjektif. Menjadi pusat perhatian di mana-mana, misalnya, bisa disebut privilese bagi yang memang suka menjadi pusat perhatian. Tapi bagi yang tidak suka, justru bisa menjadi tekanan batin. Kalau kamu terkenal, misalnya, ke mana pun kamu pergi selalu ada kemungkinan orang mengenalimu, lalu meminta foto bersama. Kalau kamu memang suka, dan nyaman melakukannya, tentu itu menyenangkan. Tapi kalau kamu tidak nyaman melakukannya, bisa jadi kamu malah tersiksa.”

Tyo mengangguk-angguk.

Saya melanjutkan, “Menjadi orang terkenal—lebih khusus menjadi orang yang dikenal—artinya menjadi pusat perhatian. Karena menjadi pusat perhatian, mau tak mau kita tidak bisa seenaknya. Misal, dalam penampilan. Kalau kita terkenal, selalu ada kemungkinan orang akan mengenali kita, di mana pun. Artinya, kita harus selalu siap dikenali.

“Karena kesadaran itu, kita pun akan berusaha berpenampilan sebaik mungkin, atau bahkan semewah mungkin. Karena kita tentu tidak ingin tampak lusuh atau menyedihkan di mata orang-orang yang mengenali kita. Kapan pun, di mana pun, selalu ada kemungkinan orang yang akan mengenali kita, meminta foto bersama, lalu mereka akan mengunggahnya ke media sosial. Dengan kenyataan semacam itu, kita pasti akan sangat memperhatikan penampilan. Karena kalau kamu orang terkenal, orang-orang akan memperhatikanmu, bahkan kadang sampai ke hal-hal terkecil.

“Sejujurnya, aku tidak mampu menjalani kehidupan semacam itu, dan karena itulah aku memilih untuk tidak terkenal, atau tidak dikenal. Aku lebih senang berpenampilan sederhana, dan lebih nyaman menjalani kehidupan seperti orang biasa. Karena tidak dikenal, aku bisa menjalani hidup sesuai yang kuinginkan, tanpa mengkhawatirkan penampilan, tanpa mengkhawatirkan komentar orang-orang, tanpa mengkhawatirkan ada media yang tiba-tiba memberitakan tentangku.

“Seperti sekarang, misalnya. Aku bisa ngadem di sini, mengobrol denganmu, dan orang-orang yang lewat tidak mengenali kita. Bayangkan kalau aku atau kamu orang terkenal. Selalu ada kemungkinan orang mengenali kita, lalu minta foto bersama, lalu mengunggah fotonya ke media sosial. Lalu media-media di internet ramai menulis berita yang isinya karangan bebas dan clickbait. Bayangkan saja judul seperti, ‘Terungkap, Bocah Ini Ternyata Suka Duduk di Pinggir Sawah, Alasannya Mencengangkan!’ Opo ora pecah, ndasmu? Wong kita cuma duduk-duduk saja, pakai alasan mencengangkan.”

Tyo cekikikan.

Saya menyulut rokok baru, lalu melanjutkan, “Umumnya, seseorang dikenal karena memiliki sesuatu yang layak dibanggakan, hingga membuatnya dikenal. Karenanya, dia pun pede dikenali di mana-mana. Sementara aku, seperti yang kusebut tadi, tidak punya apa pun yang membanggakan, yang layak membuatku dikenal. Karenanya, aku justru akan malu kalau sampai dikenali banyak orang.”

Tyo nyengir. “Entah kamu sedang merendah, atau aku yang salah paham...”

“Tentu saja kamu tidak salah paham.” Saya mengisap rokok sesaat, lalu berkata, “Kamu mengenalku, menjadi temanku bertahun-tahun. Kamu tahu segalanya tentangku. Sekarang pikirkan... apa hal membanggakan dan istimewa dariku, yang layak membuatku dikenal banyak orang?”

Tyo menjawab ragu-ragu, “Kamu menulis, dan banyak orang membaca tulisanmu...”

Saya tersenyum. “Dan berapa banyak orang yang seperti itu? Sangat banyak! Tak terhitung! Kenapa aku harus merasa istimewa hanya karena itu, padahal banyak orang lain yang juga melakukannya?”

Sekali lagi Tyo nyengir. “Kenapa jawabanmu terdengar masuk akal?”

Saya ikut nyengir. “Karena aku tidak mengada-ada. Kamu tidak beda denganku; sama-sama orang yang punya kesibukan pribadi. Aku sibuk dengan pekerjaanku, dan kamu sibuk dengan pekerjaanmu. Kenapa aku harus merasa lebih istimewa darimu? Kebetulan saja aku bekerja sebagai penulis, meski sebenarnya ingin menjadi petani. Bagiku, menjadi penulis atau menjadi petani tidak ada bedanya—sama-sama mengerjakan sesuatu yang dicintai. Dan umpama aku menjadi petani, apakah kamu akan berpikir bahwa aku harus terkenal, hanya karena menjadi petani?”

Tyo menyergah, “Tapi menjadi petani dan menjadi penulis adalah dua hal yang berbeda...”

“Kamu berpikir itu dua hal yang berbeda, karena kamu berpikir begitu. Sebaliknya, aku berpikir semua pekerjaan sama saja. Menjadi penulis, menjadi petani, menjadi pelukis, menjadi penyanyi, atau menjadi apa pun. Aku tidak ingin ngotot menjadi dokter, misalnya, karena sadar tidak akan mampu menjadi dokter. Aku memilih pekerjaan yang aku bisa, dan aku berusaha sebaik yang aku bisa. Begitu pun kamu, dan orang-orang lain. Kenapa kita harus merasa istimewa hanya karena pekerjaan kita berbeda dengan orang lain?”

Tyo mengangguk-angguk, tapi juga tampak bingung. “Kenapa aku merasa kesulitan menyanggah omonganmu?”

Saya nyengir. “Karena kamu memang tidak perlu menyanggahnya.”

“Yo wis,” ujar Tyo sambil ikut nyengir. “Omong-omong, apakah sejak tadi aku sudah mengatakan hal-hal keren?”

Saya tertawa.

Di Dunia Ini Tidak Ada yang Mengalahkan Bocah

Lagi ngobrol di rumah teman. Dari depan rumah terdengar suara wanita yang memberi tahu wanita tetangganya, "Kae bocahmu mlayu-mlayu ora sruwalan." (Itu bocahmu lari-lari tidak pakai celana.)

Seketika aku ngakak guling-guling. Di dunia ini memang tidak ada yang mengalahkan bocah!

Lalu aku ingin ora sruwalan sama mbakyuku. #Appppeeeuuuuhhhh


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2019.

Percaya Keabadian

Aku tidak pernah berusaha untuk relevan. Karena "relevan" di zaman ini artinya "tidak relevan" di zaman lain. Aku hanya melakukan hal-hal yang ingin kulakukan, dengan cara terbaik yang bisa kulakukan.

Dan itulah yang dilakukan orang-orang yang terus relevan di sepanjang zaman.

Aku sering memikirkan, kenapa ada sesuatu yang tampak sangat hebat di suatu zaman, tapi terlihat biasa-biasa saja (bahkan kadang tampak buruk) di zaman lain? Karena mungkin sesuatu itu dibuat untuk mengejar relevansi di zamannya. Ketika zaman berlalu, "relevansi" itu pun pudar.

Ada banyak musik yang sangat bagus (relevan) sekian tahun lalu, tapi terdengar buruk, atau setidaknya aneh (tidak relevan), saat dinikmati sekarang. Sebaliknya, ada musik-musik bagus sekian tahun lalu, dan tetap bagus saat didengarkan sekarang, bahkan bertahun-tahun mendatang.

Ada ribuan tulisan yang kita baca, lalu lenyap dari ingatan, tanpa bekas, bahkan umpama tulisan itu kita anggap bagus saat membacanya. Seperti angin lalu. Sebaliknya, ada segelintir tulisan yang menancap dalam benak, meninggalkan kesan abadi, seolah kita tak bisa melupakannya.

Sebagai bocah, aku percaya, sesuatu yang bisa dilakukan ratusan atau ribuan tahun lalu bisa dilakukan saat ini. Meski prosesnya sangat sulit, dan kadang menghadapi konsekuensi berat, seperti yang terjadi pada orang-orang yang melakukannya di masa lalu. Tapi aku percaya keabadian.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Juli 2019.

Noffret’s Note: Lennon

Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people living life in peace

You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope some day you'll join us
And the world will be as one

John Lennon punya bibi bernama Mimi Smith, seorang wanita yang baik namun keras. Ia, sebagaimana umumnya bibi yang baik, menyayangi keponakannya. Ketika Lennon mulai akrab dengan gitar, Mimi menasihati, "Gitar memang oke, John, tapi kau tak bisa hidup dari itu."

Bertahun-tahun kemudian, ketika John Lennon telah sukses dan menjadi penyanyi terkenal dunia, ia memberikan hadiah untuk bibinya, sebuah plakat emas berisi kata-kata itu, "Gitar memang oke, John, tapi kau tak bisa hidup dari itu."

Utang telah terbayar lunas.

John Lennon dan Paul McCartney adalah pasangan pencipta lagu paling sukses di dunia. Lennon yang sinis dan McCartney yang optimis saling melengkapi, hingga lagu-lagu mereka didengarkan secara abadi. Tapi jarang yang tahu bagaimana dua orang itu bertemu.

Lennon dan McCartney sebelumnya tak saling kenal—mereka bukan teman sekolah. Keduanya diperkenalkan oleh teman Lennon, Ivan Vaughan. Segera sejak itu, Lennon dan McCartney langsung akrab dan dekat, karena keduanya merasa memiliki nasib tragis yang sama.

Lennon dan McCartney sama-sama kehilangan ibu, saat mereka masih belia. Lennon menyaksikan ibunya tewas karena kecelakaan saat ia berusia 17 tahun; McCartney kehilangan ibunya karena kanker, saat ia berusia 15 tahun. Latar belakang itulah yang mendekatkan mereka.

Persamaan nasib, tampaknya, menjadi perekat paling erat di antara dua manusia. Ketika dua orang bertemu karena kehebatan masing-masing, bisa jadi mereka saling bersaing. Tapi ketika dua manusia bertemu karena merasa senasib, mereka saling menguatkan.

Dua orang asing—yang dipertemukan di tempat asing—bisa langsung merasa dekat. Bukan disatukan oleh cinta, tapi oleh kesadaran dan luka.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Agustus 2019.

Siyi Timinnyi Mbik Piki

Ooh... siyi timinnyi mbik piki.

 
;