Kamis, 20 Agustus 2020

Hal Sepele tapi Dibikin Rumit

Terkait orang lain, aturan hidupku sederhana:
Aku akan memperlakukanmu,
tepat sama seperti caramu memperlakukanku.


Sebagian orang, dan kita mungkin termasuk di dalamnya, punya kebiasaan buruk yang tak disadari, yaitu suka mempersulit hal-hal sederhana, atau memperumit hal-hal sepele. Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya sederhana, sepele, bahkan remeh-temeh, berubah jadi masalah serius—dalam kasus tertentu, bahkan jadi masalah besar hingga timbul fitnah, perpecahan, permusuhan, dan segala macam.

Mari gunakan ilustrasi yang remeh dan sederhana, yang bisa jadi pernah menimpa banyak orang.

Bayangkan kita punya teman bernama X. Secara berkala, X suka dolan ke rumah kita, dan menghabiskan waktu untuk mengobrol layaknya teman. Lalu, suatu waktu, X tidak pernah muncul sama sekali.

Ketika menghadapi hal semacam itu, reaksi kita bisa beragam, dan akan menunjukkan seperti apa mental kita sesungguhnya. Biasanya, peristiwa semacam itu akan melahirkan tiga jenis orang dengan mental dan karakter masing-masing.

Yang pertama adalah orang yang cuek, namun berbaik sangka, “Ah, mungkin X sedang sibuk dengan urusannya. Toh nanti dia juga bakal muncul lagi.”

Yang kedua adalah orang baik yang proaktif. Ketika X lama tidak muncul seperti biasa, dia—sebagai teman—merasa khawatir, lalu berinisiatif mendatangi X, memastikannya baik-baik saja. “Bagaimana kabarmu? Lama sekali tidak melihatmu, dan aku merasa kehilangan.”

Yang ketiga adalah orang yang ribut di belakang. Ketika X tidak lagi dolan ke rumahnya, orang jenis ketiga biasanya melahirkan prasangka. “Mungkin X sudah menemukan teman yang lebih baik dariku, jadi dia sekarang lupa denganku.” 

Karena adanya prasangka semacam itu, orang jenis ketiga tidak jarang sampai memburuk-burukkan X di depan teman-teman lain, seolah X telah berbuat jahat kepadanya. Padahal intinya sepele, yaitu X tidak lagi dolan ke rumahnya, dan dia sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi.

Di antara ketiga jenis orang tersebut, termasuk yang manakah kita?

Jenis pertama—yang cuek namun berbaik sangka—biasanya orang yang menganggap hidup sudah rumit, jadi tidak perlu dibikin rumit. Toh masalahnya sepele, cuma X yang tidak datang. Kalau memang kita punya kepentingan dengan X, tinggal datangi saja langsung, atau kirim pesan lewat ponsel, atau meneleponnya langsung. Simpel, sederhana, tanpa masalah.

Orang jenis pertama biasanya juga bisa berubah menjadi jenis kedua, yaitu orang baik yang proaktif. Semula, meski cuek, orang jenis pertama bisa saja menghubungi X, atau meluangkan waktu untuk mendatangi X secara langsung. Tak peduli jenis pertama atau kedua, mereka orang-orang yang menempatkan sesuatu sesuai proporsinya. Hal sederhana dihadapi dengan pola pikir yang sama sederhana.

Yang bermasalah adalah orang jenis ketiga, yang menghadapi sesuatu dengan ribut sendiri di belakang. Wong masalahnya dengan X—yang tidak lagi dolan ke rumahnya—tapi ributnya di belakang X. Meski mungkin tidak masuk akal, sayangnya banyak sekali orang semacam itu, dan dari sanalah lalu muncul gremang-gremeng tidak jelas, prasangka yang tak bertanggung jawab, yang kadang bahkan menjurus fitnah.

X tidak lagi dolan ke rumah kita seperti biasa, alasannya bisa banyak sekali. Bisa karena sibuk, bisa karena sakit, bisa karena tiba-tiba pergi ke tempat jauh, dan sederet alasan lain. Tetapi, alih-alih berpikir sederhana seperti itu, orang jenis ketiga justru mengembangkan teori-teori rumit, yang semakin menjauhkan dirinya dengan X.

Kalau kita memang tak tahu kenapa X tidak lagi dolan ke rumah, sebenarnya ada cara yang sangat mudah untuk mengetahui dan memastikannya. Cukup datangi langsung, dan tanyakan kepadanya! Mudah, simpel, sederhana, sepele!

“Halo, X. Lama sekali tidak melihatmu. Semoga kamu baik-baik saja.”

Sikap semacam itu menunjukkan itikad baik. Ketika kita menunjukkan sikap yang baik, X tentu akan menanggapi dengan cara yang sama baik, dan dia akan menjelaskan alasannya kenapa sudah lama tidak lagi dolan ke rumah kita, dan hubungan kita dengan X pun akan tetap baik-baik saja.

Tetapi, ribut sendiri di belakang menunjukkan kita beritikad buruk. Alih-alih langsung menemui X dan menanyakan kenapa dia tidak lagi dolan seperti biasa, kita malah mengembangkan prasangka yang bisa jadi keliru, bahkan sampai berkoar-koar ke orang-orang lain seolah X telah melakukan kesalahan kepada kita. Sekali lagi, fitnah berasal dari situ, dan persepsi salah tentang orang lain sering kali juga berawal dari situ.

Masalahnya sederhana. Hadapi dengan pola pikir sederhana, dan tunjukkan sikap yang sama sederhana. Wong masalah yang jelas-jelas rumit saja bisa dihadapi dengan sederhana, kenapa masalah sederhana justru dibikin rumit?

Semula, saya pikir ketololan semacam itu hanya dilakukan orang per orang. Ternyata tidak. Bahkan sebuah perusahaan pun bisa melakukan ketololan yang sama!

Ada kisah tentang seorang penulis yang semula sering mengirim tulisan ke sebuah media online—terlepas diterima atau ditolak. Lalu, suatu waktu, penulis itu tidak pernah lagi mengirim tulisan ke media tersebut. Masalahnya sepele; dia sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Sebegitu sibuk, sampai tidak punya waktu untuk menulis ke media tadi.

Tetapi, ternyata, pihak media tidak menanggapi hal sederhana itu dengan pola pikir sederhana. Mereka justru mengembangkan teori macam-macam yang justru melenceng jauh dari kebenaran dan kenyataan yang sesungguhnya terjadi. Alih-alih berpikir sederhana, “mungkin dia sedang sibuk”, media tadi malah berpikir kalau si penulis marah, kecewa, egois—entah apa alasannya. Bukankah itu tak masuk akal?

Lebih tak masuk akal lagi, media tadi justru ribut di belakang. Bukannya langsung menghubungi si penulis, media online tadi malah menghubungi penerbit-penerbit yang pernah menerbitkan buku si penulis, bahkan sampai menghubungi situs yang pernah memuat profil si penulis.

Tidak cukup sampai di situ, media online tadi bahkan memantau akun Twitter si penulis, dan memperhatikan dengan siapa saja si penulis berinteraksi. Setelah itu, media tadi menghubungi orang-orang yang berinteraksi dengan si penulis—laki-laki juga perempuan—dan meminta orang-orang itu agar memancing komunikasi dengan si penulis, yang intinya agar si penulis kembali terhubung dengan media online tadi. Entah apa yang mereka katakan pada orang-orang di Twitter tersebut.

Kok ribet amat?

Wong masalahnya sepele; si penulis tidak lagi mengirim tulisan ke media mereka. Kalau memang pihak media ingin tahu alasannya, ada cara yang sangat mudah, sepele, dan sederhana. Cukup minta salah satu redaktur untuk mengirim e-mail pada si penulis, dan menanyakannya langsung!

“Sudah lama Anda tidak mengirim tulisan ke media kami, dan itu membuat kami kehilangan. Saya berharap Anda dalam keadaan baik-baik saja, dan, kalau kebetulan punya waktu luang, jangan lupa untuk mengirim tulisan kembali ke media kami.”

Bukankah itu sangat mudah, sekaligus menunjukkan sikap profesional?

Dengan sikap proaktif yang menunjukkan itikad baik semacam itu, si penulis punya kesempatan untuk menjelaskan alasan kenapa dia tidak lagi mengirim tulisan ke media bersangkutan. Dengan adanya keterbukaan sikap semacam itu, si penulis bisa memberi jawaban jelas, sehingga masing-masing pihak tidak saling salah paham. Sekali lagi, bukankah itu lebih baik, lebih mudah, dan lebih sederhana?

Tetapi, alih-alih menggunakan cara yang sangat mudah dan sederhana itu, media online tadi justru memilih cara yang sulit, rumit, dan ribut sendiri di belakang. Dari menyuruh orang lain kirim e-mail, menghubungi penerbit, meminta orang-orang di Twitter memancing interaksi, mengirim kode-kode menjengkelkan, sampai repot menghubungi dan memanipulasi situs lain. Wong sesuatu yang jelas-jelas sepele kok dibikin rumit.

Akibatnya, bukan hal baik yang didapat, tapi justru sebaliknya. Siapa yang menjamin si penulis akan tetap respek dan memiliki prasangka baik pada media bersangkutan? Siapa yang menjamin si penulis masih punya ketertarikan mengirim tulisan ke media rese dan posesif semacam itu? Siapa yang menjamin si penulis tetap sudi berhubungan dengan media yang jelas-jelas melanggar privasinya?

Interaksi antarmanusia memiliki aturan yang sederhana: Kalau kita memang ingin berkomunikasi dengan seseorang, maka kitalah yang harus berinisiatif! Kalau kita ingin berkomunikasi dengan seseorang, tapi justru berharap orang itu yang memulai komunikasi, itu tolol, konyol, sekaligus gila! Kita yang punya kepentingan, tapi berharap orang lain yang harus berinisiatif.

Kalau saya memang punya kepentingan dengan seseorang, saya akan menghubungi orang bersangkutan, dan menyampaikan maksud saya dengan baik, sopan, dan jelas. Perkara orang itu merespons atau tidak, itu hak dia. Kalau dia merespons dengan baik, saya akan melanjutkan. Jika responsnya negatif, saya berhenti. Mudah, simpel, sederhana.

Kalau saya tidak pernah menghubungimu, alasanya juga sederhana; saya tidak punya kepentingan apa pun denganmu.

Wong paling ngono wae dibikin ribet.

Berhenti Berharap Pada Manusia

Hanya sunyi yang tak pernah melukai.


Hal-hal besar membutuhkan upaya tanpa henti, yang kadang butuh waktu bertahun-tahun, bahkan meski “hal besar” itu tak terlihat. Misalnya, berhenti berharap pada manusia. Itu salah satu hal besar yang saya bangun bertahun-tahun, tak terlihat, dalam sunyi, di dalam diri sendiri.

Saya butuh waktu bertahun-tahun, dan tak mudah, untuk melepaskan ketergantungan (harapan, keinginan, atau semacamnya), pada sesama manusia. Dan jika ada yang bisa saya syukuri dalam hidup, itu salah satunya. Sekarang saya hanya berharap pada diri sendiri—dan Tuhan, kalau boleh disebut.

Dan gaya hidup semacam itu, ternyata, membuat saya lebih tenang dan nyaman menjalani hidup, karena melepaskan saya dari harapan pada sesuatu yang rapuh. Kita tidak bisa percaya sepenuhnya pada manusia, sebagaimana kita tidak bisa menggantungkan harapan pada mereka.

Saya tidak punya kepentingan atau keinginan apa pun denganmu, atau dengan manusia lain, dan Tuhan menjadi saksi atas kebenaran kata-kata ini. Karena, meminjam ungkapan Ali bin Abi Thalib, “Aku telah mengalami hal-hal berat, dan yang paling berat adalah berharap pada manusia.”

Jadi, kalau-kalau ada yang berpikir bahwa saya punya keinginan, harapan, atau hal lain semacamnya kepada siapa pun, saya ingin kau tahu bahwa asumsimu keliru. Bisa jadi, saya bahkan tidak mengenalmu. Jika pada orang tua—yang jelas saya kenal saja—saya tidak berharap apa pun, apalagi denganmu?

Sebagai manusia, saya jelas punya keinginan. Tapi keinginan pada diri sendiri. Sebagai bocah, saya juga punya impian. Tapi impian yang akan saya bangun sendiri. Kalau ada yang membantu ya silakan, tidak ada juga tidak masalah. Saya tidak punya kepentingan atau harapan apa pun dengan siapa pun.

Ocehan ini mungkin terdengar angkuh, seolah saya tidak menganggap ada manusia lain. Sebenarnya, bukan itu yang saya maksud. Yang saya tiadakan bukan manusia lain, melainkan kepentingan di dalam diri saya pada manusia lain. Setidaknya, saya berharap tak terlalu tergantung pada manusia.

Di masa lalu, kalau jatuh cinta pada seorang wanita, misalnya, saya tentu akan berharap setengah mati dia mau menerima. Sekarang... hal-hal semacam itu terlihat tak terlalu penting. Kalau dia mau menerima ya silakan, tidak mau menerima juga tidak masalah. Tak ada bedanya bagi saya.

Saya mendekatimu baik-baik, berharap kau juga menyambut dengan baik. Jika ternyata sambutanmu tidak baik, juga tidak apa-apa, dan saya akan melanjutkan hidup saya seperti semula. Simpel, sederhana, tanpa banyak drama. Dan bisa saya pastikan, saya tidak akan pernah mengganggumu lagi.

Itu contoh ekstrem bagaimana saya melepaskan diri dari ketergantungan pada manusia lain. Dan kalau urusan cinta yang bisa dibilang sangat emosional saja sudah terlihat tak terlalu penting... apalagi urusan remeh temeh lain? Tentu saja kau tetap ada. Yang tiada adalah harapan saya kepadamu.

Melepaskan diri dari ketergantungan pada manusia adalah resolusi saya seumur hidup, dan saya masih terus membangunnya, dari waktu ke waktu.

Kita hanya mendapatkan yang kita cari, yang kita harapkan. Dan karena “yang paling berat adalah berharap pada manusia,” saya tidak lagi melakukannya.

Kesederhanaan Tony Stark

Dalam Avengers: Age of Ultron, ada adegan Tony Stark di pusat komputer terbesar di dunia—versi Marvel—Nexus Internet Hub, di Oslo, Norwegia, dalam upaya melacak Ultron.

"Ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami terbesar di dunia," kata Tony Stark dalam adegan itu.

Wanita di dekatnya lalu bertanya, "Bagaimana caramu menemukannya?"

"Sangat sederhana," jawab Tony Stark dengan santai. "Kau cukup menyiapkan magnet."

Aneh tapi nyata, dan terjadi di sekitar kehidupan kita: Kenapa banyak orang tidak bisa berpikir sederhana seperti itu?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Juli 2020.

Noffret’s Note: Posesif

Janjian ketemu jam 19.15, tapi aku sudah datang ke tempat pertemuan jam 18.30. Aku memang begitu.

Di depan mejaku saat ini ada 4 perempuan, sepertinya anak-anak kuliahan, sedang asyik mengobrol. Salah satunya berkata, "Dia posesif, dan itu membuatku tidak nyaman."

Aku bisa memahamimu, girl, karena sikap posesif memang membuat tidak nyaman.

Sikap/sifat posesif kadang tidak hanya dimiliki oleh orang yang kita kenal (dalam contoh mudah; pacar atau pasangan). Karena kadang ada orang yang bukan siapa-siapamu, tapi posesif. Lucu, tentu saja, atau menyebalkan.

Sikap/sifat posesif juga ternyata tidak hanya dimiliki manusia, tapi juga non-manusia, misalnya perusahaan. Ternyata ada perusahaan yang posesif dengan seseorang, hingga tingkahnya sama menyebalkan dengan orang posesif yang mungkin kita kenal.

Pacar posesif biasanya suka nelepon atau kirim pesan (intinya "mengingatkanmu" pada dirinya), hingga puluhan kali dalam sehari semalam. Itu benar-benar mengesalkan, menyebalkan, sekaligus membosankan. Dia pikir hidup ini cuma tentang dirinya saja, atau bagaimana?

Kalau pacar posesif saja sudah menyebalkan, apalagi orang yang bukan siapa-siapamu tapi posesif? Begitu pula perusahaan yang posesif. Setiap hari selalu berusaha "mengingatkan" kita kepadanya, seolah di dunia ini cuma ada dirinya. Bukannya tertarik, malah bikin muak.

Well, orang yang kutunggu sudah datang. Tepat waktu, seperti yang dia janjikan. 19.15. Aku suka orang ini.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Juli 2020.

Sekadar FYI

Sekadar FYI, aku rutin mengunggah catatan di blog pribadi tiap tanggal 1, 10, dan 20. Tapi link-nya belum tentu aku share di sini. Bisa karena gak ingat, gak sempat, atau memang gak penting-penting amat. So, kalau kebetulan suka baca, bisa mengingat tanggal-tanggal tadi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 Juni 2020.

Senin, 10 Agustus 2020

Media Sosial untuk Orang Introver

Kunci pertama dan paling utama yang harus diingat dalam berkomunikasi efektif
dengan introvert adalah “to the point”—jangan bertele-tele, jangan bertele-tele, 
jangan bertele-tele! Katakan saja langsung maksudmu, 
dengan sopan, jelas, dan bisa dipahami.


Ada berbagai riset terkait media sosial, yang menyatakan bahwa banyak pengguna media sosial yang sebenarnya kesepian, meski mungkin tampak asyik berinteraksi di ruang maya atau lini masa. Kenyataan itu sebenarnya berawal dari kekacauan pikiran jutaan orang terkait media sosial.

Selama ini, kebanyakan orang mengira media sosial diciptakan untuk orang-orang ekstrover yang memang senang bersosialisasi. Salah! Sebenarnya, cikal bakal media sosial berawal dari pikiran orang introver untuk menciptakan wadah bagi para introver yang tidak suka bersosialisasi!

Mark Zuckerberg adalah seorang introver. Dia kurang mampu—dan tidak nyaman—bersosialisasi dengan banyak orang. Karenanya, dia menciptakan Facebook, yang memungkinkan dia—dan orang-orang introver seperti dirinya—bisa bersosialisasi dengan nyaman, karena di dunia maya.

Jadi, Facebook dan media sosial umumnya sebenarnya ditujukan untuk orang-orang introver, yang memungkinkan mereka berinteraksi dengan orang lain tanpa harus tatap muka. Kenyataannya, orang-orang introver menikmati aktivitas di media sosial, bahkan jika mereka ngomong sendiri!

Hal sebaliknya akan terjadi pada orang-orang ekstrover yang pada dasarnya senang bersosialisasi (di dunia nyata). Jika orang-orang ekstrover masuk ke media sosial, mereka memang tampak “ramai”, tapi sebenarnya “gersang”, karena kebutuhan sosialisasi mereka justru terhambat.

Sosialisasi, dalam konteks orang ekstrover, adalah bertemu dan berkumpul secara nyata dengan orang-orang, sehingga bisa saling menyentuh, menepuk, saling mendengarkan ocehan dan tawa—dalam bentuk nyata! Di media sosial, mereka justru akan kesepian. Inilah akar masalahnya.

Karenanya wajar kalau berbagai riset yang selama ini dilakukan terkait media sosial menghasilkan kesimpulan bahwa para pengguna media sosial sebenarnya kesepian. Mungkin karena responden atau subjek penelitian itu mayoritas orang-orang ekstrover yang senang bersosialisasi.

Terkait sosialisasi, perbedaan fundamental antara introver dan ekstrover adalah: Orang introver tidak merasa kesepian, meski menghabiskan banyak waktu sendirian. Sebaliknya, orang ekstrover akan merasa kesepian, jika menghabiskan banyak waktu sendirian, karena butuh sosialisasi.

Ketika media sosial kini menjadi bagian hidup manusia, orang-orang pun masuk ke dalamnya, yang introver maupun ekstrover. Hasilnya, orang-orang introver merasa nyaman di media sosial, bahkan umpama tak punya teman. Sebaliknya, orang ekstrover akan merasa kesepian!

Bersosialisasi di media sosial artinya “seolah bertemu dan berkumpul dengan banyak orang, padahal sendirian”. Itu kondisi yang bisa dinikmati orang introver, tapi bisa menyiksa bagi orang ekstrover. Bersosialisasi bagi orang ekstrover adalah bersosialisasi dalam wujud nyata.

Jadi, media sosial sebenarnya bukan untuk orang-orang yang senang bersosialisasi ala orang ekstrover. Media sosial justru dibuat untuk orang-orang introver, yang bisa menikmati interaksi dengan orang lain tanpa harus tatap muka, yang memungkinkan introver menjadi dirinya sendiri.

Bahkan, kalau ocehan ini mau diperluas, sebagian besar isi internet sebenarnya dirancang/diciptakan orang-orang introver. Sebut saja nama siapa pun yang punya andil besar di internet, dan kita akan melihat orang-orang introver! Dari Zuckerberg, Jack Dorsey, Evan Williams, sebut lainnya.

Bill Gates, yang menciptakan software Microsoft, seorang introver. Steve Wozniak dan Steve Jobs yang melahirkan Apple, orang-orang introver. Bahkan Larry Page dan Sergey Brin, yang menciptakan search engine Google, adalah bocah-bocah introver. Daftarnya masih panjang.

Sekadar intermeso. Dulu, Zuckerberg bikin akun di Twitter, dan ngetwit beberapa kali. Waktu itu, Jack Dorsey, pencipta Twitter, mem-follow akun Zuckerberg, tapi keduanya tidak saling sapa. Zuck tidak follback akun Jack, dan Jack lalu unfollow akun Zuck. Benar-benar khas introver!

Andai mereka orang-orang ekstrover, pasti sudah saling sapa dengan ramai. Wong keduanya sama-sama raksasa media sosial. Tapi mereka orang-orang introver, dan aku membayangkan keduanya saling bingung mau menyapa bagaimana. Mungkin mereka saling tunggu yang lain menyapa lebih dulu.

Mungkin waktu itu Zuck menunggu Jack menyapa lebih dulu, tapi mungkin pula Jack juga bingung mau menyapa bagaimana, dan akhirnya sama-sama menunggu. Ketika ternyata Zuck tidak follback akunnya, Jack pun unfollow Zuck. Lalu Zuck tidak pernah ngetwit lagi... sampai sekarang!

Jadi, sangat konyol kalau ada orang yang sok-sokan “merendahkan” introver tanpa tahu apa sebenarnya itu introver, padahal mereka menggunakan media dan aneka teknologi yang diciptakan orang-orang introver. Mengejek introver di Facebook, misal, padahal Facebook diciptakan introver!

Kesimpulannya—kalau memang maksa pakai kesimpulan—media sosial tidak bisa menggantikan sosialisasi langung di dunia nyata, khususnya kalau kau seorang ekstrover. Karenanya, kalau kau ekstrover dan hanya “berosialisasi” di media sosial, kau pasti akan kesepian. Riset membuktikan!

Andai aku orang ekstrover, dan tertarik kepadamu, aku pasti akan mengajak ketemuan, secara langsung, hingga bisa bercakap-cakap—bersosialisasi—sebagaimana seharusnya orang ekstrover. Tapi sayang, aku seorang introver. Kalau kau menungguku ngajak ketemuan, aku tidak tahu caranya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Januari 2020.

Aturan Sederhana Menarik Orang Lain

Melakukan sesuatu yang sama sampai berbulan-bulan, demi menarik perhatian seseorang, tapi orang itu tidak juga tertarik apalagi mendekat kepadamu, sudah jelas ada yang salah! Dan kalau kau masih juga melakukannya, aku bisa menjamin satu hal; dia akan muak kepadamu.

Ini aturan yang sederhana. Kita menyodorkan sepiring makanan pada seseorang, berharap dia tertarik. Jika dia tertarik, dia akan menerima. Tapi jika tidak tertarik, dia akan menolak, atau diam saja. Dan jika kita terus menyodor-nyodorkan makanan yang sama kepadanya, dia akan jengkel, sekaligus muak. Sekali lagi, ini aturan yang sederhana.

Menurutku, cara paling mudah sekaligus paling efektif untuk menarik perhatian seseorang adalah dengan langsung mengatakannya secara sopan dan baik-baik, dan tunjukkan kepadanya bahwa kita punya itikad baik. Tidak ada yang lebih baik, lebih mudah, dan lebih sederhana dari itu.

Manusia berkomunikasi dengan kata-kata, maka gunakanlah kata-kata yang jelas, hingga tidak timbul keraguan apalagi salah paham. Setidaknya, cara itu berhasil saat kulakukan, dan cara itu berhasil untuk menarik perhatianku.

Noffret’s Note: Ketemu

Menempuh perjalanan jauh, meninggalkan pekerjaan dan kesibukan, menghabiskan waktu, tenaga, biaya, capek, lelah, dan "cuma buat ketemu"? Kalau "cuma buat ketemu", aku lebih suka ketemu teman yang jelas kenal dan akrab, yang tempatnya dekat.

"Ya siapa tahu kita cocok dan bisa berjodoh."

Kalau ada ekspektasi semacam itu, aku justru akan semakin malas. Karena adanya ekspektasi akan rentan menimbulkan kekecewaan, bagi satu pihak, atau bagi kedua pihak. Itulah kenapa, aku sangat hati-hati, dan lebih memilih untuk pasif.

Oh, ya, tidak perlu khawatir akan mendapat ajakan ketemuan dariku, karena itu tidak akan pernah terjadi. KARENA AKU BAHKAN TIDAK TAHU, DAN TIDAK YAKIN, BAGAIMANA CARA MELAKUKANNYA.

Mengajak seseorang di dunia maya untuk ketemu mungkin mudah bagi orang lain. Tapi tidak untukku.

Sekadar curcol. Dari Januari kemarin, aku sudah membayangkan akan ketemu seseorang di dunia maya. Kami TELAH LAMA SALING KENAL, dan kupikir sama-sama ingin ketemu. Tapi sampai Desember kini, dan sudah akan Januari lagi, aku tetap tidak yakin bagaimana cara mengajaknya ketemu.

Setiap kali akan melakukan sesuatu, aku harus meyakinkan diri terlebih dulu. Jika ada setitik saja keraguan, aku lebih memilih untuk tidak melakukan.

Jangankan mengajak seseorang untuk ketemu, bahkan sekadar menyapa atau menulis mention untuk seseorang saja, aku sering ragu.

Apakah rangkaian tweet ini membingungkan dan tak masuk akal? Mungkin ya, kalau kau membayangkan seorang laki-laki dewasa. Tapi sangat gamblang dan masuk akal, kalau kau membayangkan seorang bocah yang masih sering kebingungan.

Dan seperti sering kukatakan, aku seorang bocah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Desember 2018.

Cinta Juga Butuh Kata-Kata

Ada orang-orang yang kerja di luar kota, dan hanya pulang sebulan sekali atau bahkan lebih lama lagi. Begitu pulang, langsung sibuk dengan teman-temannya, tanpa sadar bahwa keluarganya—orang tua atau kakak adiknya—merindukan bercakap-cakap dengannya setelah lama tak bertemu.

Ini aku sedang "galau" sama adikku, sebenarnya. Dia kerja di luar kota, dan hanya pulang sebulan atau dua bulan sekali, dan hanya 2 atau 3 hari di rumah. Dalam waktu yang sempit itu, dia lebih sering di luar bersama teman-temannya, padahal aku sangat ingin ngobrol bersamanya.

Tadi siang dia pulang, dan aku pun ke rumah ortu untuk menemuinya. Tapi kata ortu, dia barusan pergi ke rumahnya sendiri (adikku sudah punya rumah sendiri). Ya sudah, kupikir dia perlu istirahat. Malam ini, aku ke rumah adikku, tapi ternyata dia sedang keluar bersama temannya.

Berdiri di depan gerbang rumahnya yang sepi, aku merasakan sesuatu yang membingungkan. Aku ingin meneleponnya, mengatakan bahwa aku merindukannya. Tapi kami tidak biasa mengungkapkan perasaan sentimental semacam itu. Sejak kecil, kami tidak pernah diajari hal-hal semacam itu.

Kalau sejak kecil kau telah diajari, dididik, dan dibiasakan mengungkapkan perasaan positif pada keluarga dan orang-orang terdekatmu (semisal ucapan I love you atau I miss you), kau perlu tahu bahwa kau orang beruntung, karena setengah dari masalah hidupmu sudah teratasi.

Ironi sebagian kita, tampaknya, lebih dibiasakan mengungkapkan perasaan negatif, tapi tak pernah diajari mengungkapkan perasaan positif. Kita mudah menunjukkan amarah pada orang-orang terdekat kita, tapi kesulitan saat ingin mengatakan bahwa kita merindukan dan menyayangi mereka.

Oh, ya, aku harus mengakui bahwa aku merasa sangat mudah saat ingin marah dan mengamuk di hadapan adikku (atau di hadapan siapa pun, sebenarnya), tapi aku sering kesulitan saat ingin mengatakan kepadanya bahwa aku merindukan, menyayangi, dan sering kangen mengobrol dengannya.

Dan sekarang aku bertanya-tanya, bagaimana "error" semacam ini bisa terjadi? Dalam perspektif komputasi, ini seperti GIGO, garbage in garbage out. Kita, atau sebagian kita, "diprogram" untuk mudah melakukan hal-hal negatif, tapi kesulitan saat ingin melakukan hal-hal positif.

Kelak, jika punya anak—meski aku tidak yakin—aku akan mengingat untuk mengajari dan membiasakan anakku mengungkapkan perasaan cinta pada orang-orang terdekatnya. Tidak hanya dalam perbuatan, tapi juga ucapan. Karena cinta kadang tak cukup lewat tindakan, dan butuh kata-kata.

*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 November 2019.

Noffret’s Note: Ngews

Vice punya istilah unik—"ngews". Aku suka istilah itu! Terus ingin ngews. Apppeeeuuhhh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 Oktober 2019.

Sabtu, 01 Agustus 2020

Anak-Anak Terbuang di Rumania

Dan kalian terus beranak pinak dengan riang gembira, 
tanpa menyadari anak-anak kalian hanya akan menjadi budak-budak industri 
berupah murah, sekaligus terus mencemari dan merusak planet ini. 
Thanos sudah mengingatkan kita semua soal ini, 
tapi kita malah menuduhnya bajingan!


Tiba-tiba ingin ngoceh sesuatu yang bersifat ontologis. Oh, well, aku suka istilah ini—ontologis. Meski tidak tahu apa artinya. Yang penting ontologis!

Rumania pernah dipimpin seorang presiden yang progresif bernama Nicolae Ceausescu. Sebagai pemimpin yang progresif, dia pun melahirkan berbagai aturan yang sama progresif. Salah satunya, Ceausescu mewajibkan semua warga Rumania punya anak secepatnya!

Warga Rumania yang telah berusia 25 tahun tapi tidak/belum punya anak, dikenai pajak khusus. Kalau sudah 25 tahun belum menikah? Yo wis, suram nasibmu—selain dikenai pajak khusus, juga dikenai denda. (Kalian bisa mempelajari sejarah Rumania, untuk tahu lebih lanjut).

Selain mewajibkan warga Rumania cepat kawin dan cepat punya anak, pemerintahan Ceausescu juga melarang aborsi dan kontrasepsi, serta merancang undang-undang untuk mempersulit proses perceraian. Tujuannya satu: Memperbanyak penduduk untuk meningkatkan perekonomian negara.

Seperti yang kuocehkan tempo hari, anak-anakmu hanya angka statistik dalam urusan konsumsi, yang hanya menjadi sekrup-sekrup bagi roda besar industri. Ceausescu telah memahami kenyataan itu sekian puluh tahun lalu, saat menerapkan kebijakannya di Rumania.

Kini, populasi penduduk di dunia saat ini sudah tak terkendali, dan nyaris tidak ada satu pihak pun—katakanlah WHO—yang berupaya menyerukan bahaya yang mungkin akan terjadi. Padahal ledakan populasi jauh lebih berbahaya daripada sampah plastik atau pemanasan global!

Sejak itu pula, jumlah penduduk Rumania mulai meningkat signifikan, berkat aturan yang ditetapkan pemerintahan Ceausescu. Tapi yang meningkat bukan hanya jumlah penduduk. Jumlah kemiskinan juga meningkat, sementara pembuangan anak menjadi masalah besar di sana.

Banyak penduduk Rumania di masa itu mengalami dilema. Mereka dilarang menggunakan kontrasepsi, dan akibatnya punya banyak anak. Sementara mereka tidak mampu memberi makan anak-anak yang lahir. Anak-anak itu lalu dibuang di mana-mana, layaknya sampah.

Sejak itu pula, Rumania menjadi negara dengan anak yatim-piatu terbesar di dunia—anak-anak yang dibuang orang tuanya, hingga tidak tahu siapa ayah ibunya. Sebagian anak itu ditampung negara, sebagian lain tumbuh liar dan menjadi gelandangan, dan tunawisma di mana-mana.

Banyak anak rezeki? Oh, well, katakan itu pada rakyat Rumania, yang sampai membuang anak-anak mereka seperti sampah, karena tak bisa memberi makan!

Setiap anak punya rezeki sendiri? Katakan itu pada jutaan yatim piatu di Rumania, yang sekarat di mana-mana karena kelaparan!

Tapi Ceausescu sosok progresif—atau juga sinting. Ledakan penduduk di Rumania segera dimanfaatkannya untuk menggenjot ekonomi. Orang tua yang punya banyak anak, mau tak mau, harus bekerja siang malam untuk memberi makan anak-anaknya. Mesin industri pun mulai bergerak lebih cepat.

Roda ekonomi negara itu pun berputar lebih kencang, kapitalisasi bergelombang lebih besar, dan perekonomian Rumania berangsur-angsur meningkat. Tapi kenyataan itu bukan berarti semua rakyat Rumania jadi kaya. Kenyataannya, kemiskinan masih terus membelit jutaan orang di sana.

Sebagai pemimpin yang progresif, Ceausescu “menjual” peningkatan ekonomi negaranya ke luar negeri. Gayung bersambut, utang luar negeri berdatangan, masuk ke Rumania. Pada masa itu, Ceausescu mendapat utang mencapai 13 miliar dolar—jumlah yang sangat progresif untuk era 1980-an.

Lalu apa yang terjadi kemudian? Apakah Rumania tumbuh menjadi negara maju, kaya, dan ekonomi rakyatnya semakin makmur? Tidak! Utang itu justru menghancurkan Rumania dengan cara yang halus, perlahan, tak terlihat, tapi dengan efek kerusakan yang sangat... sangat mengerikan.

Tidak ada makan siang gratis, pun tidak ada pinjaman cuma-cuma. Ketika Ceausescu mulai menyadari kenyataan itu, semuanya telah terlambat. Di titik nadir kepemimpinannya sebagai Presiden Rumania, Ceausescu harus mati-matian berupaya membayar utang yang mengisap seperti lintah.

Pada waktu itu, demi bisa membayar utang, Ceausescu memerintahkan ekspor produk agrikultur dan industri negara. Upaya itu memang bisa digunakan untuk membayar utang. Tapi akibatnya, terjadi shortage di Rumania. Standar hidup orang Rumania turun drastis, kemiskinan merajalela.

Lalu demonstrasi bermunculan, dengan beragam alasan. Demonstrasi itu makin menyebar dan terus membesar, hingga mewujud sebagai revolusi. Rakyat yang kelaparan menuntut perbaikan nasib, dan... singkat cerita, Ceausescu dan istrinya melarikan diri, tapi ditangkap, dan dihukum mati.

Ceausescu punya tiga anak. Ketika ia dan istrinya dihukum mati, tiga anaknya tetap hidup... tapi menjadi yatim piatu. Persis seperti jutaan anak lain di Rumania yang juga menjadi yatim piatu akibat kebijakannya yang progresif—oh, well, progresif. Apa sebenarnya arti kata itu?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2019.

Renungan Bocah

Cut Tari dan Richard Kevin telah resmi menikah pada Kamis (12/12), 
di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.
@kumparan


Duh, Mbak Tari.

Ada suatu masa ketika di dunia ini tidak ada yang mengalahkan Mbak Tari... sampai kemudian Negara Api menyerang, dan Nabilah menyelamatkan peradaban. Tapi Nabilah lalu kalah oleh Thanos, dan Thanos kalah oleh Awkarin, dan Awkarin kalah oleh En Sabah Nur...

#RenunganBocah


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 November 2019.

Noffret’s Note: Usia

Tadi keluar rumah tanpa sadar ini malam Minggu. Lalu bingung kenapa jalanan macet banget. Terus sadar ini malam Minggu. Apalah aku ini.

....
....

Di depan mejaku duduk saat ini, ada dua bapak-bapak yang tampaknya sedang rendezvous. Mereka bercakap dengan santai, dengan keakraban sepasang sahabat—mungkin menyepi sejenak dari dunia.

Salah satunya berkata, "Aku sadar sudah tua, saat merasakan tubuhku jadi mudah lelah."

Mereka mungkin berusia 50-an, dan tampak masih bugar. Melihat dan mendengarkan percakapan mereka, aku teringat ucapan-ucapan senada yang pernah dikatakan orang-orang lain—yang meski tampilannya masih terlihat muda, tapi "mudah lelah". Usia tampaknya memang sulit ditelikung.

Ayah seorang temanku bahkan pernah mengaku kalau dirinya seperti "mobil tua yang terlihat mengilap karena rajin dirawat".

"Dari luar, mungkin aku masih tampak muda," katanya sambil tersenyum. "Tapi seperti mobil tua, mesin-mesinku sudah berkarat, lemah, dan juga sering mogok."

"Saat kamu setua usiaku, Nak," lanjutnya, "hal paling penting yang ada dalam pikiranmu hanyalah istirahat. Kamu beraktivitas sebentar, sudah capek. Kamu bekerja sebentar, sudah lelah. Bahkan kamu berdiri sebentar, kamu sudah ingin istirahat."

Semelelahkan itukah menjadi tua?

Aku tidak tahu, tentu saja, karena aku masih bocah. Meski begitu, kadang aku juga diliputi semacam... well, kekhawatiran, saat bertemu teman, dan mereka mengeluh, "Sekarang aku merasa mudah lelah..."

Aku seperti diberi tahu bahwa kapan pun waktunya giliranku akan tiba.

Tampilan luar seseorang mungkin memang bisa menipu—seperti ayah temanku yang mengakui "seperti mobil tua yang tampak mengilap karena rajin dirawat". Tapi usia tampaknya sulit dimanipulasi, karena diri kitalah yang tahu, menyadari, dan merasakannya. Kita yang merasa "mudah lelah".

Usia, kalau dipikir-pikir, adalah pengkhianat manusia yang paling berbahaya. Ia hidup bersama kita, diam-diam, dan kita tidak menyadari bahwa ia menikam dari belakang. Kita baru menyadari ketika tubuh "mudah lelah". Dan ketika kesadaran itu datang... biasanya sudah terlambat.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2019.

Tidak Punya Masalah adalah Masalahmu

Artikel Vice menceritakan orang yang hidupnya jadi lebih tenang setelah bisa menjauh dari layar ponsel.

Ajaib, menurutku. Selama bertahun-tahun, aku juga sudah menjauh dari layar ponsel. Sangat jarang aku menatap layar ponsel, di mana pun. Tapi hidupku kok tetap tidak tenang.

Dulu, aku membayangkan Baim Wong adalah contoh orang yang mungkin tidak punya masalah. Sangat sulit membayangkan orang seperti dia punya masalah. Tapi sekarang dia sedang menghadapi masalah; tuntutan hukum untuk kesalahan yang bahkan tidak ia tahu.

Mengira orang lain tidak punya masalah adalah masalahmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Oktober 2019.

Perihal Cinta

Perihal cinta, manusia punya kecenderungan untuk jatuh cinta pada orang yang tak bisa dimilikinya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 November 2019.

 
;