Kamis, 20 Agustus 2020

Berhenti Berharap Pada Manusia

Hanya sunyi yang tak pernah melukai.


Hal-hal besar membutuhkan upaya tanpa henti, yang kadang butuh waktu bertahun-tahun, bahkan meski “hal besar” itu tak terlihat. Misalnya, berhenti berharap pada manusia. Itu salah satu hal besar yang saya bangun bertahun-tahun, tak terlihat, dalam sunyi, di dalam diri sendiri.

Saya butuh waktu bertahun-tahun, dan tak mudah, untuk melepaskan ketergantungan (harapan, keinginan, atau semacamnya), pada sesama manusia. Dan jika ada yang bisa saya syukuri dalam hidup, itu salah satunya. Sekarang saya hanya berharap pada diri sendiri—dan Tuhan, kalau boleh disebut.

Dan gaya hidup semacam itu, ternyata, membuat saya lebih tenang dan nyaman menjalani hidup, karena melepaskan saya dari harapan pada sesuatu yang rapuh. Kita tidak bisa percaya sepenuhnya pada manusia, sebagaimana kita tidak bisa menggantungkan harapan pada mereka.

Saya tidak punya kepentingan atau keinginan apa pun denganmu, atau dengan manusia lain, dan Tuhan menjadi saksi atas kebenaran kata-kata ini. Karena, meminjam ungkapan Ali bin Abi Thalib, “Aku telah mengalami hal-hal berat, dan yang paling berat adalah berharap pada manusia.”

Jadi, kalau-kalau ada yang berpikir bahwa saya punya keinginan, harapan, atau hal lain semacamnya kepada siapa pun, saya ingin kau tahu bahwa asumsimu keliru. Bisa jadi, saya bahkan tidak mengenalmu. Jika pada orang tua—yang jelas saya kenal saja—saya tidak berharap apa pun, apalagi denganmu?

Sebagai manusia, saya jelas punya keinginan. Tapi keinginan pada diri sendiri. Sebagai bocah, saya juga punya impian. Tapi impian yang akan saya bangun sendiri. Kalau ada yang membantu ya silakan, tidak ada juga tidak masalah. Saya tidak punya kepentingan atau harapan apa pun dengan siapa pun.

Ocehan ini mungkin terdengar angkuh, seolah saya tidak menganggap ada manusia lain. Sebenarnya, bukan itu yang saya maksud. Yang saya tiadakan bukan manusia lain, melainkan kepentingan di dalam diri saya pada manusia lain. Setidaknya, saya berharap tak terlalu tergantung pada manusia.

Di masa lalu, kalau jatuh cinta pada seorang wanita, misalnya, saya tentu akan berharap setengah mati dia mau menerima. Sekarang... hal-hal semacam itu terlihat tak terlalu penting. Kalau dia mau menerima ya silakan, tidak mau menerima juga tidak masalah. Tak ada bedanya bagi saya.

Saya mendekatimu baik-baik, berharap kau juga menyambut dengan baik. Jika ternyata sambutanmu tidak baik, juga tidak apa-apa, dan saya akan melanjutkan hidup saya seperti semula. Simpel, sederhana, tanpa banyak drama. Dan bisa saya pastikan, saya tidak akan pernah mengganggumu lagi.

Itu contoh ekstrem bagaimana saya melepaskan diri dari ketergantungan pada manusia lain. Dan kalau urusan cinta yang bisa dibilang sangat emosional saja sudah terlihat tak terlalu penting... apalagi urusan remeh temeh lain? Tentu saja kau tetap ada. Yang tiada adalah harapan saya kepadamu.

Melepaskan diri dari ketergantungan pada manusia adalah resolusi saya seumur hidup, dan saya masih terus membangunnya, dari waktu ke waktu.

Kita hanya mendapatkan yang kita cari, yang kita harapkan. Dan karena “yang paling berat adalah berharap pada manusia,” saya tidak lagi melakukannya.

 
;