Minggu, 16 Juni 2019

Reuni, dan Dunia yang Berbeda

Kalau kau punya teman yang sudah menikah, tapi kalian
masih bisa bersama, bercakap-cakap, bercanda dan tertawa,
saling bertukar pikir seperti dulu saat masih sama-sama lajang,
maka kau dan temanmu sungguh orang-orang
beruntung dan terberkati.
@noffret


Istilah reuni lekat dengan kenangan, nostalgia, dan hal-hal dari masa lalu, karena reuni memang sering dilakukan “orang-orang dari zaman dulu” di zaman sekarang. Reuni SMP mempertemukan kita dengan teman-teman zaman SMP, reuni SMA mempertemukan kita dengan teman-teman zaman SMA, dan begitu seterusnya. Kenyataannya, orang melakukan reuni karena memang ingin kembali bernostalgia dengan teman-teman lama.

Teman-teman saya dari zaman SMP juga mengadakan reuni. Sebenarnya, mereka bahkan melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar reuni.

Beberapa tahun lalu, Si A ketemu Si B, lalu ketemu Si C dan Si D. Mereka semua teman-teman saya, yang dulu bersekolah di SMP yang sama. Empat orang itu bertemu dan terhubung lewat Facebook, lalu berinisiatif mengumpulkan teman-teman dari zaman SMP. Inisiatif itu mudah terlaksana, karena sekarang ada Facebook, dan sebagian teman kami memang menggunakan media sosial tersebut.

Dari Facebook, mereka saling berbagi nomor ponsel, lalu aktif berkomunikasi di grup WhatsApp yang mereka bikin secara khusus. Lewat grup WA itulah, jaringan mereka semakin luas, karena Si D bisa terhubung dengan Si F, lalu terhubung dengan Si G, dan seterusnya, sampai akhirnya sebagian besar teman-teman SMP berkumpul di grup WA itu.

Dari obrolan di grup WA, mereka menindaklanjuti dengan pertemuan langsung, untuk mengakrabkan kembali pertemanan lama. Pertemuan itu pun sudah berlangsung berkali-kali, bisa dibilang secara rutin, kadang di rumah seseorang, kadang pula di tempat tertentu yang disepakati.

Selama itu pula, saya tidak pernah ikut terlibat sama sekali.

Salah satu teman SMP saya adalah anak famili saya. Sebut saja Si Z. Dia perempuan, sebaya dengan saya, dan sudah punya suami serta dua anak. Hubungan kami dekat—layaknya famili—tapi kedekatan itu juga hanya sebatas sebagai famili. Beberapa tahun lalu, ketika teman-teman dari zaman SMP saling terhubung di Facebook, Si Z memberitahu saya soal itu, bermaksud agar saya ikut terhubung.

Tapi karena saya tidak menggunakan Facebook, saya pun mengatakan terus terang. “Sayang sekali,” ujar saya waktu itu. “Aku hanya pakai Twitter. Kalau ada teman kita yang juga pakai Twitter, kabari aku, biar kita bisa saling follow.”

Di luar dugaan, waktu itu Si Z tampak bingung. “Twitter itu apa?”

Saya pun menjelaskan, bahwa Twitter tak jauh beda dengan Facebook, tapi lebih simpel. Dia manggut-manggut dengan penjelasan saya, tapi entah paham atau tidak.

Beberapa waktu kemudian, ketika teman-teman SMP mulai saling berkomunikasi lewat WhatsApp, Si Z juga menghubungi saya, dan meminta saya agar bergabung dengan grup WA yang telah dibuat. Tapi karena saya tidak menggunakan WhatsApp, saya pun berkata terus terang tentang hal itu.

“Sayang sekali, aku tidak pakai WA,” kata saya kepada Si Z. Tapi saya mengizinkan Si Z untuk membagikan nomor ponsel saya, agar teman-teman kami bisa menelepon atau berkirim SMS ke saya dengan mudah.

Mungkin karena teman-teman kami tidak pernah menggunakan sarana komunikasi selain WA, mereka tidak ada yang menelepon atau mengirim SMS ke saya—sampai saat ini.

Lalu, ketika teman-teman SMP mulai mengadakan pertemuan secara langsung, Si Z pun rutin menghubungi saya—lewat SMS atau menelepon. Biasanya, dia mengabari, “Nanti sore, teman-teman akan ketemu di Kafe G. Kamu datang, ya.”

Waktu itu, agak terkejut, saya merespons, “Duh, pemberitahuannya kok mendadak sekali?”

Karena sedang sangat sibuk, saya tidak berani menjanjikan akan datang atau tidak. Pikir saya, waktu itu, saya akan datang kalau memang bisa. Tapi kalau nyatanya memang tidak mungkin meninggalkan kerja, mau bagaimana lagi?

Akhirnya, waktu itu, saya tidak bisa datang.

Lain waktu, Si Z memberitahu, “Ini teman-teman lagi kumpul di rumahku. Kamu datang, sini!”

Pemberitahuan yang sangat mendadak. Saya tidak bisa datang.

Lain waktu lagi, Si Z mengabari, “Besok siang ada pertemuan di Rumah Makan F. Kami semua berharap kamu datang.”

Tapi lagi-lagi, saya tidak datang.

Dan hal itu terus terjadi beberapa kali, dan saya tetap tidak pernah datang. Waktu itu, saya sudah mengatakan pada Si Z, agar tidak mengabari secara mendadak, karena saya sering panik hingga tidak bisa datang, karena tidak mungkin meninggalkan pekerjaan begitu saja.

“Kalau bisa,” pesan saya pada Si Z, “kabari tiga hari sebelum hari H, agar aku bisa siap-siap.”

Tapi Si Z terus menerus mengabari secara mendadak. “Soalnya teman-teman juga bikin acara secara spontan,” katanya.

Jadi, mereka saling ngobrol ngalor ngidul di WA, lalu tercetus rencana tiba-tiba untuk kumpul di suatu tempat, dan rencana itu pun dilakukan. Itulah kenapa, menurut Si Z, acara pertemuan selalu mendadak.

Ya silakan saja, toh itu hak mereka. Tapi saya tidak bisa mengikuti acara-serba-mendadak semacam itu, apalagi sekadar kumpul-kumpul tidak jelas. Saya punya kesibukan dan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan sewaktu-waktu seenaknya. Dan kalau diminta memilih antara kerja atau kumpul-kumpul, saya jelas akan memilih kerja!

Saya hanya akan meninggalkan pekerjaan untuk sesuatu yang mendadak, jika—dan hanya jika—sesuatu itu memang mendesak. Misal, ada orang mati, dan saya harus melayat. Tak peduli sesibuk apa pun, saya akan meninggalkan pekerjaan, dan melayat si mati, termasuk mengantarkan kepergian terakhirnya ke kubur. Itu sesuatu yang memang mendesak, dan tidak bisa ditunda-tunda, juga tidak bisa direncanakan beberapa hari sebelumnya. Karenanya, tak peduli sesibuk apa pun, saya akan datang, dan meninggalkan pekerjaan.

Tapi kalau sekadar kumpul-kumpul, lalu haha-hihi tidak jelas—apa pun alasan dan motivasinya—saya tidak bisa “di-ndadak-ndadakkan”. Saya harus benar-benar meluangkan waktu untuk hal-hal semacam itu. Karenanya, saya bilang ke Si Z, “Kabari aku, minimal tiga hari sebelum acara.”

Karena saya tidak pernah datang setiap kali dikabari Si Z, rupanya ketidakdatangan itu menjadi bahan percakapan di antara teman-teman. Mungkin, teman-teman kami bertanya apa kesibukan saya pada Si Z, hingga sangat sulit untuk bertemu dengan mereka. Lalu mereka—sebagaimana orang-orang yang tidak akademis lainnya—mereka-reka dan berasumsi terkait alasan saya tidak pernah datang setiap kali diundang.

Dan asumsi mereka tiba pada kesimpulan yang tidak ilmiah dan tidak akademis, yang belakangan membuat saya ingin menangis sambil tertawa sambil ngamuk sambil misuh-misuh. Mereka berasumsi bahwa saya tidak pernah datang ke acara kumpul-kumpul, karena saya belum kawin!

Astaghfirullahalaziiim....

Teman-teman SMP saya memang rata-rata sudah kawin dan punya anak, baik yang laki-laki maupun perempuan. Fakta itu, rupanya, membawa mereka pada asumsi tadi, bahwa saya tidak pernah datang ke acara kumpul-kumpul, akibat malu karena belum kawin.

Itu benar-benar asumsi yang asu, seasu-asunya!

Saya tahu hal itu, karena Si Z mengatakannya langsung kepada saya. Pas lebaran kemarin, saya menemani ibu datang ke rumah Si Z untuk silaturrahmi, dan Si Z—untuk kesekian kali—mengabari saya tentang pertemuan yang akan diadakan teman-teman zaman SMP. Karena mendadak, saya pun—untuk kesekian kali—mengatakan tidak bisa datang.

Lalu Si Z mulai ngoceh, persis seperti ibu-ibu sok pintar yang merasa dirinya paling bijaksana di bawah langit. “Kamu tidak perlu malu,” ujarnya kepada saya, seolah saya anak idiot yang baru lulus TK. “Kamu tidak perlu malu karena belum kawin, toh teman-teman bisa memaklumi hal itu...” dan seterusnya, dan seterusnya, dan sebagainya, dan sebagainya, dan asu seasu-asunya.

Antara ingin tertawa dan menangis dan ngamuk, saya bertanya pada Si Z, “Kenapa kamu menyimpulkan aku tidak pernah datang ke acara kumpul-kumpul karena malu akibat belum kawin?”

Sekali lagi, Si Z menjawab pertanyaan saya dengan nada sok pintar, persis seperti ibu-ibu yang kurang belajar tapi merasa paling pintar sedunia-akhirat.

“Lha pekerjaanmu tuh apa?” ujarnya. “Wong kamu kerja di rumah sendiri, tidak menjadi karyawan di perusahaan mana pun, tapi kamu tidak pernah bisa meluangkan waktu. Wong teman-teman kita yang kerja kantoran saja bisa selalu datang. Padahal mereka cuma karyawan yang kerja di tempat orang lain, dan mereka juga punya banyak kesibukan karena sudah berkeluarga. Sementara kamu hidup sendirian, tinggal di rumah sendirian, bekerja di rumah sendiri, tapi diajak kumpul-kumpul tak pernah bisa.”

Si Z tahu saya menulis buku, jadi dia mengira pekerjaan saya hanya menulis buku. Dalam pikirannya, mungkin, pekerjaan menulis adalah pekerjaan bebas yang bisa dilakukan kapan saja, karena tidak terikat jam kantor. Yang tidak dia tahu... menulis buku HANYA SALAH SATU pekerjaan saya! (Selama ini saya memang tidak pernah menjelaskan pekerjaan lain yang saya urusi, karena Si Z tidak akan paham!)

Akhirnya, dengan agak dongkol, saya pun mencoba menjelaskan pada Si Z mengenai pekerjaan saya lebih detail—apa yang saya lakukan di rumah, bagaimana keterkaitan pekerjaan saya dengan beberapa perusahaan yang namanya mungkin ia kenal, sampai kesibukan yang terus saya geluti setiap hari, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi.

Menutup penjelasan itu, saya pun mengatakan, “Karena itulah, aku tidak bisa pergi-pergi seenaknya. Karena, meski bekerja di rumah sendiri, aku terikat jadwal yang sangat ketat. Kalau kamu mengabari acara mendadak, aku akan panik, karena jelas tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja. Lain soal kalau kamu mengabari beberapa hari sebelumnya, aku akan punya waktu untuk mempersiapkan pekerjaanku, hingga aku bisa meninggalkannya dengan tenang.”

Selama saya menjelaskan, Si Z ternganga-nganga. Seperti yang sudah saya duga, dia tidak paham sama sekali pada penjelasan saya! Beberapa kali dia bertanya, dan saya berusaha menjelaskan dengan cara sederhana, dan dia tetap tidak paham.

Saya pun akhirnya menyadari, kami hidup di dunia yang berbeda. Meski kami dekat sebagai famili, nyatanya hanya itulah yang kami miliki. Kami tersambung oleh garis darah, tapi kami rupanya tidak hidup di dunia yang sama.

Si Z, sebagaimana umumnya orang lain, telah memiliki dunianya sendiri—dunia yang telah sangat ia kenal—yakni perkawinan, keluarga, pasangan, dan anak-anak. Sebegitu yakin dia dengan dunianya, sampai berpikir bahwa saya malu bertemu teman-teman, karena tidak memiliki dunia sebagaimana yang ia—dan teman-teman lain—miliki.

Dan saya pun akhirnya bisa membayangkan, apa yang akan saya hadapi jika sewaktu-waktu saya berkesempatan datang di acara reuni teman SMP kami. Mereka pasti sama sekali tidak bisa memahami saya, sebagaimana saya juga tidak bisa memahami mereka. Karena meski pernah tumbuh bersama di sekolah yang sama, kami kini hidup di dunia yang berbeda.

Saya berharap Si Z, juga teman-teman dari SMP, membaca catatan ini, agar mereka tidak salah sangka, terkait ketidakdatangan saya pada acara reuni yang mereka adakan. Tapi saya tahu, mereka tidak akan menemukan catatan ini. Karena Si Z, dan mungkin teman-teman yang lain, tidak tahu kalau saya punya blog, bahkan mungkin tidak tahu apa itu blog.

Karena dalam pikiran mereka, internet hanyalah Facebook, dan setiap orang modern pasti menggunakan WhatsApp. Persis seperti anggapan orang-orang bahwa setiap manusia harus kawin dan beranak-pinak.

Entah kenapa, saya sedih membayangkannya.

Noffret’s Note: Timpang

Kepercayaan dan keyakinan seseorang terhadap sesuatu umumnya berbanding lurus dengan tingkat pendidikan dan intelektualitas mereka. Seperti apa yang mereka yakini, maka seperti itulah tingkat intelektualitasnya. Mereka tidak/belum mampu menjangkau pengetahuan di atas mereka.

Keyakinan terhadap "keindahan perkawinan", misalnya. Orang-orang itu sangat percaya, karena wawasan yang mereka dapatkan baru setingkat itu. Mereka butuh wawasan "yang lebih tinggi". Sayangnya, wawasan yang lebih tinggi sering sulit dipahami (misal karena pakai bahasa asing).

Ada banyak pengetahuan penting dan wawasan mencerahkan di luar sana, yang penting diketahui untuk memperluas cakrawala. Sayangnya, pengetahuan dan wawasan itu ditulis dalam bahasa asing, atau ditulis dengan bahasa rumit dan sok intelek, hingga orang-orang awam sulit memahami.

Kenyataan semacam itulah yang menjadikan si pintar semakin pintar, dan si bodoh semakin bodoh. Karena si pintar bisa mengakses pengetahuan seluas apa pun, sementara si bodoh kesulitan karena adanya keterbatasan pada diri mereka. Tugas kita mengikis ketimpangan semacam itu.

Karena latar belakang itu pula, aku selalu mewajibkan diri sendiri untuk menulis dalam bahasa Indonesia yang sederhana, mudah dipahami, hingga bisa dicerna kalangan mana pun.

Ada banyak pengetahuan keliru (bahkan menyesatkan) yang disebarkan di sekeliling kita, dan pengetahuan keliru itu diterima serta dipercaya banyak orang mentah-mentah, kenapa? Karena pengetahuan keliru itu disampaikan dengan bahasa sederhana, hingga siapa pun bisa menerima!

Sayangnya, pengetahuan-pengetahuan yang penting dan benar justru disampaikan dengan bahasa asing, atau dengan bahasa rumit yang sok ngintelek, hingga tidak setiap orang akan paham. Pengetahuan yang benar adalah satu hal, tapi cara kita menyampaikan adalah hal lain. Sederhanakan!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Juli 2018.

Noffret’s Note: Jilbab

Sejujurnya, aku lebih suka melihat Nikita Mirzani dan Kartika Dewi tidak berjilbab. Tetapi, bagaimana pun, berjilbab adalah hak masing-masing orang, dan aku harus menghormatinya. Asal yang berjilbab tidak memaksakan hal itu, atau menganggap wanita yang tak berjilbab lebih rendah.

Saat ada artis wanita berjilbab, sering media menulis berita dengan judul, misal, "Adem Melihatnya, Artis X Sekarang Berjilbab."

Bagaimana kita mengukur adem atau tidak, selain hanya pendapat pribadi? Judul semacam itu jelas penggiringan opini, dan itu tidak sehat bagi pembaca.

Ada sebagian wanita yang tidak nyaman berinteraksi dengan wanita berjilbab, karena adanya stigma bahwa wanita berjilbab cenderung menganggap rendah wanita lain yang tidak berjilbab. Bagaimana stigma itu muncul? Mungkin dari realitas, mungkin pula karena tergiring opini media.

Terkait jilbab, ada situasi awkward yang pernah kualami. Pas lebaran, beberapa teman berkumpul dengan membawa pasangan masing-masing. Beberapa perempuan di situ ada yang berjilbab, ada yang tidak. Lalu terjadi sesuatu yang tak terduga, dan hasilnya adalah kecanggungan luar biasa.

Salah satu perempuan yang berjilbab bertanya agak sinis, "Kenapa tidak pakai jilbab?" kepada yang tidak berjilbab, tentu saja.

Sebelum perempuan yang ditanya sempat menjawab, perempuan lain (yang berjilbab) menimpali, "Kasihan, ya. Sudah bersuami tapi belum berjilbab."

Hening.

Pertanyaan dan penghakiman itu membuat perempuan yang ditanya jadi bingung mau menjawab apa. Suami si wanita yang ditanya juga tampak bingung. Mereka akhirnya hanya diam. Dan suasana yang tadinya hangat berubah sangat canggung. Semua orang di sana jadi tidak betah berlama-lama.

Sejak itu pula, setiap ada acara kumpul pas lebaran, teman-teman perempuan yang tidak berjilbab (plus suaminya) tidak pernah lagi datang. Tentu aku memahami, mereka sakit hati atas pertanyaan dan penghakiman yang pernah mereka terima. Ini mungkin sepele, tapi memutus pertalian.

Sebagian orang tampaknya memang sulit menerima perbedaan, atau tak bisa tenang saat melihat orang lain berbeda. Dari jilbab sampai pernikahan, sampai kepemilikan anak, mereka sepertinya ingin sama semua. Padahal tidak setiap orang pasti memiliki hidup dan pikiran seperti mereka.

Sebagai penutup, dua catatan ini bisa dibaca sebagai pengantar tidur.

Jilbab Rina Nose » http://bit.ly/2BOYzQU
Jilbab Maria Ozawa » http://bit.ly/116qQou


Di waktu mendatang, mungkin aku akan tertarik menulis jilbab Nikita Mirzani, jilbab Syahrini, atau jilbab Kartika Dewi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Desember 2018.

Selasa, 11 Juni 2019

Lebaran dan Hal-Hal yang Bikin Eneg

Menyatakan Idulfitri sebagai "kembali suci" itu salah,
tapi kita menganggapnya benar, karena membayangkan diri
"kembali suci" terasa menyenangkan. Jadi kita pun menerimanya
sebagai kebenaran, karena memuaskan ego (ketololan) kita
@noffret


Boleh percaya boleh tidak, saya sangat jarang—bahkan hampir tidak pernah—makan lontong/ketupat opor di saat lebaran.

Kalau saya pulang ke rumah ortu, ibu saya memang menyediakan masakan opor, lengkap dengan sambal goreng kentang, dan lain-lain, plus ketupat dan lontong, seperti umumnya orang lain dalam merayakan lebaran. Tapi saya sangat jarang menikmati. Kalaupun ikut makan lontong opor, semata-mata hanya untuk—meminjam istilah Jawa—tombo pingin.

Sedari dulu saya memang kurang berminat pada masakan-masakan yang bikin eneg, semisal opor ayam, apalagi jika kuahnya kental, seperti yang biasa dibuat ibu-ibu di rumah. Ibu saya juga bikin kuah opor seperti itu—agak kental—jadi makan sedikit saja langsung eneg.

Saya pernah bilang kepadanya, agar bikin opor dengan kuah yang encer, seperti yang umum dibuat para penjual lontong opor di jalan. Tapi ibu saya bilang, dia sengaja bikin opor dengan kuah kental, untuk membedakannya dengan kuah opor yang dijual di mana-mana. “Itulah beda masakan opor buatan sendiri dengan opor hasil beli,” katanya.

Sebenarnya, saya justru bisa menikmati lontong opor yang beli di pinggir jalan, karena kuah opornya encer. Hasilnya, setelah makan selesai, perut terasa kenyang, bukan terasa eneg. Kata ibu saya—dan mungkin kata para ibu lain—para penjual lontong opor sengaja bikin kuah opor yang encer, agar tidak boros santan. “Namanya juga orang jualan,” kata mereka.

Tapi, bukankah tujuan orang makan adalah untuk merasakan kenyang—dan bukan untuk gagah-gagahan, meski sekadar gagah-gagahan dalam urusan santan?

Atau mungkin karena dasarnya saya memang kurang suka dengan masakan yang bikin eneg semacam itu. Kalau boleh memilih di saat lebaran, saya lebih suka makan nasi dengan sayur lodeh, atau sayur sop, atau sayur asem, dan yang segar-segar lain, daripada makan lontong dan opor berkuah kental plus sambal goreng yang—meski enak—juga bikin eneg.

Kenyataannya, ketika lebaran datang—khususnya sejak hari kedua atau ketiga lebaran—banyak warung di pinggir jalan yang diserbu pembeli, dari warung bakso, warung mi ayam, warung nasi goreng, warung lamongan, warung nasi uduk, warung soto, dan lain-lain.

Kenapa orang-orang itu menyerbu warung-warung makan—untuk mengenyangkan perut—padahal di rumahnya ada makanan berlimpah? Saya bertanya pada mereka yang saya kenal, dan mereka menjawab bahwa mereka bosan dengan makanan di rumah yang bikin eneg! Itulah kenapa, mereka terpaksa masuk warung makan, karena ingin menikmati makanan yang “wajar”.

Ironis atau konyol?

Jadi yang merasa eneg dengan masakan di rumah saat lebaran bukan cuma saya, tapi juga banyak orang lain. Mereka sama-sama eneg dengan lontong opor berkuah kental, dan perut mereka berontak, hingga mereka keluar rumah dan kelayapan, demi menemukan makanan wajar yang bikin perut nyaman. Sekali lagi, ironis atau konyol?

Tapi lontong opor tampaknya telah menjadi semacam kewajiban bagi banyak orang di saat lebaran, khususnya bagi masyarakat Indonesia. Sepertinya, lebaran belum bisa dianggap “kaffah” kalau belum bikin lontong opor. Karenanya, meski mereka sadar bahwa opor ayam cuma bikin eneg selama lebaran, mereka tetap membuatnya.

Karenanya pula, setiap menjelang lebaran, harga ayam akan naik karena orang-orang butuh daging ayam untuk opor. Begitu pula harga kelapa untuk santan, harga cabai, dan lain-lain. Tapi mereka tak peduli, tentu saja. Karena opor ayam, yang dinikmati dengan lontong atau ketupat, bagi mereka adalah “kewajiban di saat lebaran”.

Sekarang, sambil menulis catatan ini, saya bertanya-tanya, mengapa orang-orang Islam di Indonesia selalu merayakan lebaran dengan opor ayam? Sepertinya tidak ada hadist apalagi ayat suci yang memerintahkan, misalnya, “Hai orang-orang beriman, nikmatilah lebaran dengan opor ayam, karena dengan cara itulah kalian akan memahami makna kehidupan... dan seterusnya, dan seterusnya.”

Jadi, dari mana asal usul kebiasaan yang bikin eneg itu?

Kesalahan akan melahirkan kesalahan berikutnya, dan itulah yang terjadi di saat lebaran, khususnya di Indonesia. Masyarakat umum di Indonesia merayakan dan memahami lebaran secara salah, dan karenanya melahirkan kesalahan-kesalahan berikutnya. Setiap kesalahan yang tidak dibenahi, akan membuahkan kesalahan-kesalahan lain, dan begitu seterusnya.

Esensi lebaran atau hari raya Idulfitri, adalah kesempatan bagi umat muslim untuk menikmati makanan setelah sebulan berpuasa Ramadan. Karenanya, Idulfitri bermakna “hari raya makanan” atau hari raya untuk menikmati makan. Karena fungsinya untuk menikmati makanan, maka setiap orang berhak untuk memasak makanan apa pun, sesuai selera dan kesukaan masing-masing. Yang penting bisa dinikmati!

Bagi yang suka sayur lodeh, misalnya, bisa membuat sayur lodeh yang paling enak di hari lebaran, biar bisa menikmati sayur lodeh paling enak sedunia—meski menurut versi diri sendiri. Begitu pula yang suka makanan dengan sambal dan lalap, bisa membuat makanan semacam itu. Yang suka makan sate kambing, buatlah sate kambing. Yang suka sayur asem, masaklah sayur asem. Yang cinta sambal terasi, buatlah sambal terasi. Intinya, menikmati makanan yang kita suka!

Dengan membuat makanan kesukaan masing-masing, kita pun bisa merayakan Idulfitri secara “kaffah”, yaitu menikmati makanan yang benar-benar kita suka, setelah sebulan lamanya berpuasa. Sekali lagi, itulah esensi Idulfitri! Untuk menikmati makanan!

Sayangnya, masyarakat Indonesia merayakan Idulfitri secara salah. Wong disuruh bikin makanan apa saja yang disukai, agar bisa dinikmati di hari lebaran, tapi malah sibuk mencari ayam dan bikin santan. Diminta untuk menikmati makanan selama lebaran di rumah, malah kesana kemari untuk maaf-maafan. Giliran salah beneran, malah enggan minta maaf. Akibatnya, lebaran bikin eneg! Ya opornya, ya cara merayakannya yang keliru.

Mayoritas umat Islam di Indonesia mengira lebaran adalah “kembali suci” (hasil pemaknaan ngawur atas istilah Idulfitri). Karena pemahaman yang keliru itu, mereka pun merayakan lebaran dengan mewah, karena berpikir, “Yeah, orang suci ini!”

Itulah kenapa mereka sibuk maaf-maafan, karena mengira aktivitas itu menjadikan mereka “semakin suci”. Dan itulah kenapa mereka merayakan lebaran dengan opor ayam, karena... well, orang suci tentu makannya mewah, kan? Opor ayam! Masak iya orang suci makan sayur lodeh? Nggak level kalau orang suci menikmati lalapan! Ora pantes kalau orang suci makan sambel terasi!

Oh, well, orang suci! Orang suci yang makan opor ayam! Oh, well....

Agama sebenarnya mengajarkan kesederhanaan, dan—dalam hal-hal tertentu—menghormati pilihan masing-masing orang. Karena nyatanya tidak semua orang bisa diseragamkan, termasuk diseragamkan dalam hal opor ayam. Begitu pula dalam merayakan lebaran. Idulfitri tidak menjadikanmu suci, jadi berhentilah bertingkah seolah kau orang suci.

Idulfitri dimaksudkan agar umat Islam bisa menikmati makanan, setelah sebulan berpuasa Ramadan. Karena tujuannya untuk menikmati makanan, maka setiap orang boleh dan berhak bikin makanan apa pun yang disuka.

Kalau memang dasarnya suka opor ayam, ya buatlah opor ayam! Tapi jangan merasa berdosa hanya karena tidak bikin opor ayam di hari lebaran. Karena seperti apa makanan kesukaanmu, maka seperti itulah hari rayamu, lebaranmu, Idulfitri-mu! Bergembiralah karena bisa makan kembali setelah sebulan berpuasa, berbahagialah dengan makanan yang kita suka—apa saja.

Sekali lagi, Idulfitri adalah kesempatan untuk (kembali) menikmati makanan. Sudah, sesederhana itu.

Wong agama mengajarkan kesederhanaan, tapi kita malah sok petingkah. Agama memberi jalan kemudahan, kita malah mencari-cari masalah. Agama memerintahkan agar rajin introspeksi, kita malah merasa jadi orang suci!

Merasa suci, tapi makan opor ayam. Eneg, jadinya!

Idulfitri adalah Hari Raya Biasa

Saat lebaran datang, banyak ustad yang berceramah bahwa kita (umat Islam) telah kembali suci seperti bayi yang baru lahir.

Ungkapan itu populer dan diyakini banyak orang, padahal itu pemahaman keliru yang mestinya diluruskan, agar orang mulai beragama dengan ilmu dan kesadaran.

Pernyataan "kembali suci seperti bayi baru lahir" itu sebenarnya berasal dari pemahaman yang keliru dalam mengartikan "idul fitri".

"Idul fitri", yang arti sebenarnya "hari raya makanan" diartikan secara sotoy menjadi "kembali suci". Lalu didramatisir "seperti bayi baru lahir".

Ini salah satu bukti bahwa "kebohongan (dalam konteks ini; kekeliruan mengartikan istilah idul fitri) yang terus menerus diulang akan menjadi kebenaran yang diyakini". Tapi apa iya kita akan terus menerus beragama dengan cara semacam itu? Ini menggelikan sekaligus menyedihkan.

Sebenarnya, ada banyak ulama yang tahu masalah ini dan menyadari kekeliruan massal yang dialami umat Islam di Indonesia selama puluhan tahun dalam merayakan Idul Fitri. Tapi mereka memilih diam, mungkin karena tidak enak jika meluruskan "sesuatu yang telah dianggap kebenaran".

Bagi orang-orang yang tahu, ini situasi yang sangat dilematis—saat kebenaran memilih diam, karena buka suara justru akan disalahkan. Dalam bahasa yang "sastrawi", kebodohan yang mayoritas adalah kegelapan yang menindas nyala api minoritas di kesunyian, hingga cahaya pun hilang.

Jadi kita merayakan hari raya sambil gembira dan merasa "suci seperti bayi baru lahir", padahal tetap bergelimang dosa. Kita berpikir sedang membawa cahaya, padahal berjalan dalam gulita. Kita meyakini telah menjalani hidup dalam kebenaran, padahal terseok-seok dalam kegelapan.

"Kalau begitu, Idulfitri tidak memiliki makna yang besar seperti yang selama ini dipahami umat Islam khususnya di Indonesia? Ya, memang demikianlah yang sebenarnya. Idulfitri tidak mempunyai makna yang besar..." » Benarkah Idulfitri Berarti Kembali Ke Fitrah?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Mei 2019.

Ramadan Bukan Bulan Suci

Kita sering mendengar orang (dari awam sampai ustad) mengatakan, “Ramadan adalah bulan suci yang bla-bla-bla...”

Sebenarnya, RAMADAN BUKAN BULAN SUCI. Islam mengenal 4 bulan suci (haram), yaitu Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab. Ramadan tidak termasuk bulan suci!

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu.” —At Taubah: 36

”.... Satu tahun ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulan berturut-turut yaitu Zulkaidah, Zulhijjah, dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab yang terletak antara Jumadil (Akhir) dan Sya’ban.” —HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679.

Lebih lanjut, mari buka Tafsir Ibnu Katsir:

Bulan yang disucikan hanya ada 4. Tiga berurutan dan 1 berdiri sendiri karena manasik haji dan umrah. Ada 1 bulan yang disucikan, yang letaknya sebelum bulan-bulan haji, yaitu Zulkaidah, karena saat itu mereka menahan diri dari perang.

Bulan Zulhijjah disucikan, karena di bulan ini mereka menunaikan haji, dan pada bulan ini mereka menyibukkan diri dengan berbagai ritual manasik haji.

Setelahnya, bulan Muharram, juga disucikan, karena di bulan ini mereka kembali dari haji ke negeri asal, dengan aman dan damai.

Adapun bulan Rajab, yang terletak di tengah-tengah tahun, diharamkan (disucikan) karena orang yang berada di pelosok Jazirah Arabia berziarah ke Baitul Haram untuk umrah. Mereka datang berkunjung ke Baitul Haram, dan kembali ke negeri mereka dalam keadaan aman.

Jadi yang selama ini gembar-gembor mengatakan Ramadan bulan suci itu sumbernya merujuk ke mana? Al Qur'an, Hadist, hingga tafsir yang otoritatif dengan jelas mengatakan bahwa RAMADAN BUKAN BULAN SUCI.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Mei 2019.

Kamis, 06 Juni 2019

Mendoktrin Kucing, dan Mengajak Kubis Jalan-Jalan

Kucing-kucing di depan rumahku kalau bertengkar
pasti menimbulkan keributan. Mungkin pertengkaran mereka
akan lebih enak didengar, kalau saja mereka menggunakan
kosakata yang baik dan benar.
@noffret


Teman-teman dekat saya tahu, kalau saya punya kecenderungan aneh yang—menurut mereka—tidak ilmiah dan tidak akademis, tapi menyenangkan. Yaitu suka mengajak omong benda-benda mati. Mereka pernah memergoki saya sedang “mengobrol” dengan pecahan genteng, kurungan ayam, tusuk gigi, potongan kabel, bungkus rokok, tiang listrik, termos, isi staples, sebut lainnya.

Kenyataan itu bagi saya sama sekali tidak aneh. Karena, jauh sebelum mengenal kebiasaan itu, saya bahkan pernah berteman dengan tutup botol kecap sampai bertahun-tahun. Tampaknya, pertemanan dengan tutup botol kecap itulah yang lalu mengembangkan kesukaan saya berteman dengan benda-benda mati.

Biasanya, teman saya yang baru mengetahui kebiasaan itu akan kaget, lalu bingung—tapi belakangan mencoba melakukannya!

Ada teman yang pernah memergoki saya “ngobrol” dengan galon Aqua. Saya tertawa-tawa dengan galon Aqua, seolah kami sedang membicarakan sesuatu yang lucu. Teman saya tanpa sengaja melihat itu, dan mula-mula bingung. Setelah saya jelaskan kalau saya mengobrol dengan galon Aqua, dia menatap seolah saya “sudah tak bisa disembuhkan”.

Yang geblek, belakangan dia mengaku kalau sekarang juga kadang “mengobrol” dengan galon Aqua di rumahnya. “Ternyata rasanya menyenangkan,” ujarnya sambil cekikikan.

Ada teman lain bernama Farhan. Di rumahnya, Farhan punya kolam ikan berisi puluhan koi. Ikan-ikan itu tampak berenang ke sana kemari di air yang jernih, memamerkan tubuh putihnya yang indah. Ketika pertama kali mendapati kolam koi itu, saya merasakan hasrat tak tertahan ingin “mengedukasi” mereka. Jadi, itulah yang saya katakan pada Farhan, “Aku boleh memberikan edukasi untuk ikan-ikanmu?”

Farhan, yang paham dengan “ketidakberesan” saya, segera mempersilakan. “Pasti menyenangkan kalau ikan-ikanku bisa lulus kuliah,” ujarnya cekikikan.

Saya pun lalu duduk di dekat kolam ikan itu, dan mulai ngoceh ngalor ngidul, memberikan “edukasi” pada mereka. Sebegitu ekspresif saya ngoceh, sampai tanpa sadar saya menggerak-gerakkan tangan layaknya orang berorasi. Farhan terus cekikikan menyaksikan saya memberikan “edukasi” pada ikan-ikannya.

Tentu saya tidak tahu apakah ikan-ikan koi milik Farhan memahami yang saya katakan atau tidak. Dan itu tidak penting. Karena, kalau pun mereka paham, buat apa? Wong mereka ikan!

Tapi aktivitas “mengedukasi ikan koi” memberi saya semacam kepuasan batin, karena telah mengeluarkan aneka hal yang tidak mungkin saya katakan pada sesama manusia. Itulah intinya!

Belakangan, Farhan mengaku, dia juga kadang mengajak ngobrol ikan-ikannya, karena penasaran bagaimana rasanya berbicara dengan ikan koi. Ketika saya tanya bagaimana rasanya, dia menjawab, “Lebih menyenangkan daripada ngobrol dengan manusia.”

Di lain waktu, saya dolan ke rumah Haris, seorang teman lain. Di rumah Haris, ada beberapa kucing yang tampak lucu, tapi—kata Haris—kucing-kucing itu sering kurang ajar, seperti buang kotoran di tempat tidur, sampai mencuri makanan di dapur. Waktu mendengar itu, saya bilang ke Haris, “Sepertinya kucing-kucingmu perlu didoktrin agar tahu sopan santun.”

Haris lalu mengumpulkan kucingnya. Ada tiga kucing peliharaan Haris yang tampaknya menurut pada pemiliknya. Setelah tiga kucing itu berkumpul, saya pun mulai mendoktrin mereka tentang pentingnya menjaga etika, sopan santun, dan menjalani hidup dengan lurus. Kucing-kucing itu menatap saya—entah mereka paham atau tidak dengan ocehan saya—sementara Haris cekikikan sambil guling-guling.

Yang ajaib, menurut Haris, sejak itu kucing-kucingnya jadi lebih “sopan”, dan tidak lagi melakukan hal-hal menjengkelkan seperti sebelumnya. Gara-gara itu pula, belakangan ada teman-teman lain yang minta saya agar “mendoktrin” kucing-kucing mereka. “Tolong kucingku didoktrin, biar sopan kayak kucing-kucingnya Haris!”

Well, pada awal 2000-an, di Cina ada fenomena aneh yang menggejala di kalangan anak-anak muda, yaitu jalan-jalan dengan kubis. Jadi, mereka mengikatkan tali pada sebuah kubis yang masih utuh, lalu menarik kubis itu sambil jalan-jalan, seperti umumnya orang yang jalan-jalan dengan anjing peliharaan. Meski aneh, jalan-jalan dengan kubis pernah menjadi tren di Cina, yang dilakukan banyak anak muda di sana.

Bagaimana tren yang aneh semacam itu bisa terjadi? Setidaknya ada dua latar belakang. Pertama adalah kesepian, dan kedua adalah sulitnya menemukan orang yang benar-benar bisa disebut teman.

Anak-anak muda di Cina masa itu merasa kesepian, karena sulit menemukan orang yang benar-benar bisa disebut teman. Meski mungkin terdengar aneh, fenomena semacam itu sebenarnya terjadi di mana-mana. Ada banyak orang yang diam-diam kesepian, merasa tidak punya teman. Bisa karena orang-orang di sekeliling kita sibuk dengan urusan dan masalahnya sendiri, bisa pula karena mereka tidak bisa memahami atau menerima diri kita apa adanya.

Kondisi itu pula, sebenarnya, yang mengembangkan kebiasaan aneh saya dalam hal berbicara dengan benda-benda mati atau dengan hewan. Kalau kau berbicara dengan sesama manusia, selalu ada kemungkinan lawan bicaramu salah paham dengan maksudmu, menangkap omonganmu secara keliru, bahkan sampai membocorkan rahasiamu.

Hal serupa tidak terjadi kalau kau berbicara dengan galon Aqua, atau dengan termos, atau dengan pecahan genteng, atau dengan tusuk gigi, atau dengan kurungan ayam, atau dengan ikan-ikan koi.

Karenanya saya tidak heran, ketika beberapa teman yang mengikuti kebiasaan aneh itu mengatakan bahwa berbicara dengan benda-benda mati ternyata “lebih menyenangkan daripada ngobrol dengan manusia”.

Ini sebenarnya ironi paling ironis. Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang mampu berbicara. Kemampuan berbicara itu pula yang memungkinkan manusia untuk bercakap-cakap menggunakan kata dan kalimat yang terstruktur, serta bisa dipahami lawan bicara. Tetapi, meski memiliki fasilitas hebat semacam itu, manusia adalah lawan bicara yang sangat... sangat buruk!

Manusia sering salah paham dengan maksud lawan bicaranya, hingga yang dimaksud A tapi yang ditangkap malah Z. Lalu kesalahpahaman itu, bisa jadi, dikoar-koarkan kepada orang lain, hingga muncul salah paham bahkan fitnah. Kenapa? Alasannya sepele, karena manusia adalah bangsat yang paling tidak bisa mendengarkan!

Kalau kau berbicara dengan seseorang, bahkan iblis di neraka tidak bisa menjamin bahwa orang yang berbicara denganmu benar-benar mendengarkan dan memahamimu. Inilah masalah terbesar manusia, sekaligus yang paling menciptakan banyak masalah di dunia. Orang tidak mendengarkan dan menyimak dengan baik, salah paham, lalu mengabar-ngabarkan kesalahpahamannya kepada orang lain.

Cocot manusia, adalah lubang neraka sesungguhnya. Kalau menggunakan kalimat Jean Paul Sartre, “Hell is other people.”

Di Tokyo, Jepang, tepatnya di daerah Setagaya, ada sebuah bar bernama Tokyo Cotton Village. Kalau kita masuk ke bar itu, kita bisa memesan minuman yang tersedia di sana—layaknya di bar mana pun. Tapi ada yang spesial di Tokyo Cotton Village. Setiap tamu yang datang tidak hanya mendapat minuman yang dipesan, tapi juga sebuah gulungan kapas!

Untuk apa gulungan kapas itu? Untuk dijadikan teman selama di bar!

Jadi, suasana di Tokyo Cotton Village sangat unik. Orang-orang duduk di meja masing-masing, menyesap minumannya, dan mereka asyik sendiri-sendiri dengan gulungan kapas di tangan. Ada yang memutar-mutar kapas itu dengan khusyuk, ada pula yang mengajaknya bercakap-cakap. Bar aneh ini masih ada di Jepang, dan kalian bisa datang ke sana untuk membuktikan yang saya katakan.

Dengan layanan yang mungkin terdengar aneh itu, Tokyo Cotton Village termasuk bar terkenal yang dikunjungi banyak tamu di Tokyo. Alasannya juga aneh, karena orang-orang yang datang ke bar itu merasa bahwa bermain dengan kapas terasa “menenangkan pikiran dan tubuh”.

Banyak kalangan menengah di Jepang yang datang ke bar itu usai jam kerja, duduk menyesap minuman, lalu memutar-mutar kapas sendirian, dengan alasan aktivitas itu membantunya melupakan hal-hal buruk di tempat kerja.

Sekali lagi, kita mungkin bertanya-tanya, sesepi itukah kehidupan masyarakat Jepang? Pertanyaan itu sebenarnya bisa kita tanyakan pada diri sendiri: Benarkah kita tidak menghadapi kesepian sama seperti mereka?

Kita, yang hidup di negeri yang—konon—ramah-tamah ini, mungkin mudah menemukan dan mendapat teman bicara di saat kesepian. Tapi kita tidak pernah yakin apakah orang yang bersama kita, yang menghabiskan waktu berjam-jam ngobrol dengan kita, benar-benar mendengarkan dan memahami kita, ataukah sebaliknya. Bahkan, kita tidak pernah bisa yakin apakah dia memang bisa dipercaya atau tidak. Karena kawan yang paling dekat pun bisa berubah menjadi pengkhianat.

Ada satu titik ironi ketika manusia menyadari bahwa dia lebih nyaman bercakap-cakap dengan termos yang diam, daripada dengan manusia yang sama-sama bisa bicara tapi tak mampu mendengarkan.

Ada satu titik ironi ketika manusia memahami bahwa dia lebih senang berbicara dengan pecahan genteng yang bukan apa-apa, daripada dengan manusia yang tampak beradab tapi ternyata tak bisa dipercaya.

Ada satu titik ironi ketika manusia memilih berbicara dengan ikan-ikan koi, meski mereka tidak akan paham yang dia bicarakan, daripada berbicara dengan manusia dan hanya menimbulkan kesalahpahaman.

Akhirnya... ada satu titik ironi ketika manusia asyik jalan-jalan dengan kubis dan berteman dengan gulungan kapas, karena—meski benda mati—mereka benar-benar bisa menjadi teman.

Noffret’s Note: Ketidaksadaran

Dari dulu, akar masalah manusia cuma satu. Ketidaksadaran menjadi manusia.

Dunia ini penuh orang-orang yang membenci diri sendiri. Karena mereka tak bisa menyakiti diri sendiri, mereka berusaha menyakiti orang lain.

Bahkan kalau pun kita tidak pernah mengusik dan menyakiti orang lain, selalu ada orang yang berusaha mengusik dan menyakiti kita.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 November 2016.

Kepintaran yang Tercela

Ada kepintaran yang tercela. Pintar bohong termasuk di antaranya.

Sungguh menggelikan melihat orang bisa asyik berbohong sambil membawa-bawa nama Tuhan, seolah Tuhan akan melindungi kebohongan.

"Celakalah aku kalau berbohong!" | Semoga yang pintar bohong benar-benar celaka oleh kebohongannya sendiri.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Oktober 2015.

Sabtu, 01 Juni 2019

Kenangan Terindah

Sulit jatuh cinta.
Tapi kalau sudah jatuh cinta,
sulit melupakan. Aku.
@noffret


Kenangan adalah wujud yang tak tampak, tapi bisa mengaduk-aduk pikiran dan perasaan. Ia seperti mesin waktu yang mampu membawamu ke masa lalu, membuatmu teringat banyak hal yang pernah terjadi bertahun silam, dan itu bisa membuatmu tertawa, menangis, atau tertawa sambil menangis.

Itulah yang saya alami, ketika tanpa sengaja menemukan buku berisi rekaman percakapan SMS dengan mantan pacar.

....
....

Bertahun lalu, ponsel belum secanggih sekarang. Di masa itu belum ada aneka aplikasi yang memudahkan komunikasi. Hanya ada dua sarana untuk berkomunikasi, yaitu telepon dan SMS. Di masa itu, tarif telepon (lewat ponsel) mahalnya ngujubilah setan. Jadi, kebanyakan orang mengandalkan SMS, yang waktu itu tarifnya “cuma” 350 rupiah (itu pun tergolong mahal kalau dilihat di masa sekarang).

Bahkan “semahal” itu pun, tiap SMS dibatasi hanya 160 karakter. Sekali lagi, di masa itu ponsel belum secanggih sekarang. Karenanya, SMS-SMS yang masuk dan keluar tidak disimpan dalam memori ponsel (karena waktu itu memang belum ada ponsel dengan memori), tapi disimpan di kartu SIM. Dan rata-rata kartu SIM di masa itu hanya mampu menyimpan 10 SMS. Jika sudah mencapai 10 SMS, ponsel akan hang (tidak bisa lagi mengirim dan menerima SMS).

Itu benar-benar kondisi yang sangat tidak environmental, khususnya kalau kau punya pacar. Khususnya lagi kalau kau sayaaaaaang banget sama pacarmu. SMS-SMS dengan pacarmu—yang isinya tentu sangat tidak ilmiah dan akademis—harus dihapus, agar ponsel tetap dapat digunakan untuk ber-SMS. Di situ saya sedih, dan dilema.

Karena merasa sayang jika menghapus SMS dari pacar, akhirnya saya melakukan sesuatu yang—kalau dipikir sekarang—mungkin terdengar konyol. Saya mentranskrip SMS-SMS dari pacar ke lembar kertas! Hanya dengan cara itulah, saya bisa terus berkirim dan menerima SMS dengan pacar, tanpa harus kehilangan satu pun SMS yang ia kirim.

Karena setiap hari kami selalu ber-SMS (ya namanya juga pacar), SMS dari pacar pun sangat banyak, dan belakangan saya menghabiskan beberapa buku untuk mentranskrip SMS-SMS kami. Kisah lebih jauh soal itu bisa dibaca di sini.

Belakangan, setelah kami tidak lagi menjadi pacar, dan menjalani hidup sendiri-sendiri, saya membuang buku-buku berisi rekaman SMS itu, meski—sejujurnya—dengan berat hati. Kenangan adalah benda tak berwujud yang sering kali membuat kita, khususnya saya, sangat berat membuangnya. Dan buku-buku berisi rekaman SMS itu salah satu kenangan terindah yang saya miliki bersama seseorang yang saya cintai.

Tapi kita harus move on, kata orang-orang. Jadi, meski dengan berat, itulah yang saya lakukan—move-fucking-on. Saya membuang buku-buku berisi rekaman SMS itu, sekian tahun yang lalu. Semula, saya pikir semua buku sudah terbuang. Tapi ternyata ada satu buku lagi yang belum sempat terbuang, dan buku itu terselip di antara barang-barang lain hingga saya tidak menyadari.

Kemarin, dalam rangka beres-beres rumah menjelang lebaran, saya membuka sebuah kardus berisi tumpukan aneka berkas. Di antara berkas-berkas itulah, sebuah buku terselip, dan saya berdebar. Saya langsung tahu, itu salah satu buku berisi rekaman SMS dengan pacar!

Saya membuka buku itu, dan seketika tenggelam dalam kenangan, saat membaca SMS demi SMS yang pernah saya kirim dan saya terima bertahun lalu, dengan seseorang yang pernah sangat dekat di hati.

Mas, ke warung soto ya. Tak tunggu skrg.
<11:28>


Di depan kampus kami, ada beberapa warung, dan salah satunya menyediakan soto. Banyak mahasiswa yang suka makan soto di sana, termasuk saya dan pacar. Karenanya, warung soto itu juga sering menjadi tempat kami ketemu, setelah jam kuliah selesai.

Karena kampus kami cukup luas, sering kali kami kesulitan untuk menemukan siapa sedang ada di mana. Begitu pun, saya sering tidak tahu pacar saya sedang ada di ruangan mana, atau di lantai berapa. Keberadaan warung soto di depan kampus cukup memudahkan kami ketemu. Biasanya, kalau pacar ingin ketemu, dia tinggal datang ke warung soto, lalu mengirim SMS ke saya. Dan saya pun datang menemuinya.

Itu salah satu kenangan indah dalam memori saya. Ketika mendapat SMS itu, saya pun segera keluar kampus, menemuinya di warung soto, dan dia tersenyum melihat saya, lalu kami duduk berdampingan. Dan bercakap-cakap dengan kedekatan seperti umumnya sepasang pacar.

Usai makan soto, kadang kami pulang ke rumah saya, atau ke rumahnya. Ngapain? Ya melanjutkan percakapan, membahas peradaban Yunani, keruntuhan Romawi, Perang Dunia II dan dampaknya bagi dunia, menghitung gletser yang mencair, memikirkan dampak lubang ozon bagi bumi, sampai mengukur berapa luas hutan yang hilang akibat modernisasi. YA ENGGAK, LAAAAAH!

Namanya pacar, rasanya ingiiiin ketemu terus, ingin selalu berdekatan. Itulah yang kami alami, waktu itu. Meski sudah ketemu di kampus, rasanya masih kurang. Apalagi, konon, perempuan suka kangen. Begitu pula pacar saya. Jadi, hampir setiap waktu saya menerima SMS yang isinya seputar itu.

Mas... aku kangen...
<23:11>

Sayang, gak tau kenapa tiba2 ak kangeeen banget.
Telpon ak ya. Ak gak bs tidur.
<21:21>

Mas, malam ini bs datang ga? Ak kangen!
<19:14>


Untuk menenangkannya, saya pun biasanya membalas SMS, atau meneleponnya. Di waktu lain, saya juga datang langsung menemuinya. Oh, saya tak bisa melupakan saat-saat itu. Ketika melihatnya membukakan pintu, dan tersenyum indah saat melihat saya datang, saat itulah saya mengetahui bagaimana rasanya mencintai dan dicintai oleh seseorang.

Di lain waktu, giliran saya yang kangen kepadanya, dan mengirim SMS serupa.

Nanti tidurnya agak larut ya. Ak ingin nilpon, tp gak ingin ganggu istirahatmu. Kangeeeen sm suara tawamu.
<20:48>


Dan dia benar-benar menunggu. Saat akhirnya saya menelepon, dia belum tidur, dan kami lalu bercakap-cakap, bercanda, tertawa—saya selalu senang mendengar tawanya. Hingga akhirnya telepon berakhir, dan saya tidur dengan hati berbunga-bunga. Betapa indahnya jatuh cinta....

Kini, saat benar-benar telah dewasa, saya kadang berpikir, mungkinkah saya bisa mengulangi keindahan serupa? Mungkinkah saya bisa menemukan seseorang yang membuat saya jatuh cinta, dan dia juga jatuh cinta kepada saya? Mungkinkah saya kembali menemukan perempuan yang mencintai diri saya apa adanya, hingga saya damai dan tenteram bersamanya?

Oh, well, mungkinkah saya kembali menemukan seseorang yang mampu menggetarkan hati saya, hingga saya menyadari jatuh cinta kepadanya?

Kadang-kadang saya apatis. Bahkan menemukan seseorang seperti mantan pacar pun kadang saya pesimis. Dia wujud terindah yang pernah saya saksikan, yang pernah saya temukan, yang pernah saya miliki... keindahan dalam kesederhanaan, keindahan dalam hati dan pikiran. Mencintai dan dicintai olehnya, membuat hidup saya terasa sempurna.

....
....

Saya memegangi buku berisi rekaman SMS itu, membuka-buka halamannya, membaca kalimat demi kalimat, dan merasakan dada menghangat. Kata-kata di dalamnya beberapa kali membuat saya tersenyum, dan beberapa kali membuat saya ingin menangis.

Dunia tampaknya bisa mengubah manusia menjadi apa pun, tapi tak pernah bisa menghapus kenangan-kenangan di dalamnya.

Noffret’s Note: Hunger Games

Tiap nonton akhir kisah Hunger Games, aku selalu menyayangkan kematian Finnick Odair. Dia telah menjalani hidup begitu berat, dan mestinya punya kesempatan untuk hidup lebih lama dalam kebahagiaan.

Mengapa Katniss Everdeen lebih memilih Peeta daripada Gale? Mungkin karena bersama dalam penderitaan adalah perekat paling kuat di antara dua orang.

‏Aku menonton seri Hunger Games berulang kali, untuk mengingatkan diri sendiri, "Setiap orang menanggung beban hidupnya masing-masing."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 & 10 September 2018.

Seorang Bocah Berkata pada Batu

Seorang bocah melangkah sendirian, melewati lapangan kosong dan sepi. Ketika sedang melangkah, dia melewati sebuah batu besar di pinggir lapangan.

Semula, dia tidak menghiraukan batu besar itu, dan terus melangkah. Namun, setelah beberapa meter dari batu tadi, dia berpikir, “Seharusnya aku mengajak bicara batu tadi. Ya, seharusnya aku mengajak bicara batu tadi. Karena hidup ini sungguh sia-sia jika kita tidak pernah bicara pada batu.”

Maka, dia pun berbalik dan melangkah mendekati batu besar tadi. Sambil menepuk-nepuk batu, si bocah berkata, “Apakah kamu pernah dindin, hem?”

Batu itu diam saja, karena ia batu. Si bocah kembali berkata, “Hem, apakah kamu pernah dindin, hem? Hidup ini sungguh sia-sia jika kita tidak pernah dindin, hem. Apakah kamu pernah dindin, hem? Hem?”

Sampai cukup lama, si bocah mengajak bicara batu, meski batu tetap diam tak bergerak. Akhirnya, setelah merasa cukup berbicara pada batu, si bocah kembali melangkah pergi.

Beberapa meter melangkah, si bocah mendengar batu di belakangnya bersuara, “Dindin itu apa, hem?”

Si bocah menengok, terkejut, lalu kabur.

 
;