Minggu, 25 September 2016

Kesan dan Penilaian

Faktanya, yang kita pikir dan yakini sebagai fakta
kadang-kadang sebenarnya bukan fakta.
@noffret


Image, atau kesan orang lain terhadap kita, bisa membuat persepsi keliru, dan—kalau dipikir-pikir—bisa berbahaya. Orang yang sudah terkenal pintar, misalnya, sering kali menghadapi kondisi yang lebih sulit daripada orang lain umumnya.

Ketika orang yang terkenal pintar menghadapi sesuatu yang benar-benar tidak ia tahu, lalu mencoba bertanya pada orang lain, bisa jadi orang yang ditanya mengira sedang dites atau diuji. Alih-alih memberi jawaban, orang yang ditanya justru bisa marah. Padahal si orang pintar tadi benar-benar bertanya karena memang tidak tahu, dan berharap orang yang ditanya bisa memberi jawaban atau penjelasan.

Hal itu tentu berbeda dengan orang yang dianggap bodoh, atau setidaknya tidak terkenal pintar. Ketika orang bodoh bertanya sesuatu yang memang ia tidak tahu, orang yang ditanya dengan senang hati menjawab dan menjelaskan. Itu benar-benar “kemewahan” yang tidak dimiliki orang yang telanjur terkenal pintar.

Lebih dari itu, image atau kesan orang lain terhadap kita bisa berbahaya, karena dapat merugikan orang lain. Setidaknya, hal semacam itu pernah saya alami.

Di masa kuliah dulu, tugas harian mahasiswa—termasuk saya—adalah membuat makalah, lalu mempresentasikannya di kelas. Jadi, untuk setiap mata kuliah, sekelompok mahasiswa diberi tugas untuk menulis makalah—dengan topik masing-masing, tapi terkait dengan suatu mata kuliah—lalu makalah itu difotokopi dan dibagikan ke teman-teman sekelas. Setelah itu, kelompok yang membuat makalah akan melakukan presentasi mengenai makalahnya.

Tugas itu bergilir untuk semua mahasiswa (yang dibagi dalam beberapa kelompok), hingga waktu satu semester habis. Saat menginjak semester berikutnya, tugas dan kegiatan yang sama akan dilakukan. Jadi, saat di kelas, dosen hanya memantau proses presentasi makalah, menilai kualitas makalah, dan menentukan nilai berdasarkan isi makalah serta penguasaan mahasiswa atas makalah yang ditulisnya.

Pada waktu saya semester lima, ada tugas membuat makalah dari seorang dosen—sebut saja Mister X—untuk suatu mata kuliah. Seperti biasa, mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok, yang masing-masing kelompok berisi 4-6 orang. Saya juga masuk dalam sebuah kelompok. Seperti biasa, teman-teman selalu mengandalkan saya dalam urusan makalah. Jadi, waktu itu, tugas saya adalah menulis makalah, sementara mereka menyediakan biaya untuk fotokopi makalah.

Kebetulan, waktu itu, Amil meminta saya mengetikkan makalah kelompoknya. Amil adalah sahabat saya, tapi dia masuk kelas lain. Sebagaimana mahasiswa lain, Amil dan teman-temannya juga mendapat tugas membuat makalah dari Mister X. Mereka telah menyusun makalah itu, namun masih berupa tulisan tangan, dan Amil meminta tolong saya untuk mengetiknya di komputer. Saya pun menerima permintaan itu, dan berjanji untuk mengetikkan makalahnya.

Ketika di rumah, dan melihat makalah yang diberikan Amil, saya mendapati bahwa isi makalah itu merupakan topik yang sama, yang ditugaskan Mister X kepada kelompok saya. Waktu itu saya belum menulis makalah tersebut. Dan mendapati isi makalah milik Amil, saya pun terpikir untuk menggunakannya. Waktu itu, saya pikir, apa salahnya kalau makalah kami sama, toh kami beda kelas?

Maka, saya pun mengetik makalah milik Amil, mencetaknya di printer, dan menyerahkan kepadanya saat di kampus. Sementara itu, saya juga sudah memiliki makalah yang akan dipresentasikan kelompok saya, yaitu makalah yang sebenarnya milik kelompok Amil. Meski saya tidak menyusun makalah tersebut, saya bisa langsung memahami isi makalah, hanya dengan satu kali membacanya. Saya cukup pede untuk mempresentasikan makalah itu, meski sebenarnya itu makalah orang lain.

Lalu hari H datang. Hari itu, kelompok saya dijadwalkan untuk presentasi. Seperti biasa, saya menyerahkan lembaran makalah ke teman sekelompok, lalu mereka memfotokopi, dan membagikannya ke teman-teman sekelas, plus satu eksemplar untuk dosen pengampu. Seperti biasa pula, saya dan teman-teman melakukan presentasi di depan kelas, menjelaskan isi makalah, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, hingga jam kuliah habis. Singkat cerita, presentasi makalah kami hari itu dinilai bagus oleh Mister X.

Di luar dugaan, ternyata hari itu kelompok Amil juga mempresentasikan makalah yang sama di kelas mereka. Setelah jam kuliah di kelas saya selesai, Mister X masuk kelas Amil. Hari itu, Amil dan kelompoknya mendapat jadwal untuk presentasi makalah, dengan isi dan topik yang sama seperti yang tadi saya presentasikan di kelas. Dan, ternyata, Mister X menyadari kalau makalah kami sama persis.

Akibatnya adalah bencana.

Seusai Amil dan kelompoknya melakukan presentasi, mereka “disidang” oleh Mister X secara pribadi, dan ditanya kenapa makalah kelompok mereka bisa sama seperti makalah kelompok saya.

Waktu itu, Amil sudah curiga, kalau saya menggunakan makalah milik kelompoknya, karena nyatanya saya mengetikkan makalah milik mereka. Tapi Amil bersikap bijak. Alih-alih langsung menuduh saya, dia memilih mengendapkan masalah itu terlebih dulu, lalu dia menemui saya.

Kepada saya, Amil menjelaskan bahwa dia beserta kelompoknya dituduh menjiplak makalah kelompok saya. Dengan jujur, saya pun mengakui kepada Amil, kalau sayalah yang menjiplak makalahnya, ketika dia meminta saya mengetik makalah itu. Saya minta maaf kepadanya karena hal itu, sebab tidak menyangka kalau kesamaan makalah akan dipermasalahkan oleh Mister X.

Pada waktu itu, kelompok Amil terancam tidak mendapat nilai akibat kasus tersebut, dan Mister X meminta mereka membuat makalah baru.

Sebagai bentuk tanggung jawab, saya pun berkata pada Amil bahwa saya akan menemui Mister X, untuk menjelaskan persoalan itu. Amil setuju.

Hari itu juga, saya menemui Mister X di kantornya, dan mengakui perbuatan saya. Dengan jelas dan gamblang, saya menyatakan kepada Mister X, bahwa kesamaan makalah itu terjadi karena kesalahan saya, bukan kesalahan Amil. Bahwa kelompok sayalah yang menjiplak makalah Amil, dan bukan sebaliknya. Sebagai bentuk tanggung jawab, saya bersama kelompok bersedia membuat makalah baru sebagai pengganti makalah yang tadi kami presentasikan.

Waktu itu, Mister X menanggapi pengakuan saya dengan sikap positif, dan sikapnya baik-baik saja—sama sekali tidak marah. Ketika saya bilang akan membuat makalah pengganti, dia hanya menjawab, “Ya, tidak apa-apa.” Sudah, hanya itu. Setelah selesai, saya pun pergi. Dua hari kemudian, saya menyerahkan makalah baru, yang benar-benar saya tulis sendiri, dan menyerahkannya kepada Mister X.

Apakah masalah selesai? Tidak—belum!

Meski saya sudah mengaku bahwa sayalah yang salah, bahwa sayalah yang menjiplak makalah milik Amil, dan saya sudah membuat makalah pengganti, Mister X tetap berkeyakinan bahwa kelompok Amil yang menjiplak makalah kelompok saya! Mister X tetap mewajibkan kelompok Amil untuk membuat makalah baru sebagai pengganti makalah yang tadi.

Amil mencoba bertanya pada Mister X, “Hoeda kan sudah mengakui kalau dialah yang menjiplak makalah kami, bukan kami yang menjiplak makalahnya. Dia juga sudah membuat makalah pengganti, karena makalah sebelumnya itu milik kami. Kenapa kami masih harus membuat makalah lagi?”

Dan apa jawab Mister X? Inilah yang dikatakan Amil kepada saya, ketika dia mencoba protes. Waktu itu, dengan nada marah, Mister X berkata, “Saya tidak percaya Hoeda melakukan itu! Saya lebih percaya kalian yang menjiplak makalahnya, dan bukan dia yang menjiplak makalah kalian!”

Ketika Amil menceritakan hal itu, jujur saja, saya tidak bisa menahan tawa. Betapa kesan yang telanjur melekat di benak orang lain rupanya memang sulit dilepaskan, meski kita telah mengakui kesalahan yang telah kita lakukan.

Akhirnya, sebagai penebusan dosa kepada Amil, saya pun menjanjikan untuk membuatkan makalah untuknya, yang benar-benar berbeda dengan makalah yang saya serahkan ke Mister X. Setelah makalah itu selesai, saya serahkan ke Amil, lalu Amil menyerahkan makalah itu ke Mister X. Baru setelah itu, kasus tersebut benar-benar dianggap selesai.

Setiap kali teringat kisah itu, saya menyadari bahwa siapa kita sering kali tergantung pada image atau kesan yang ditangkap orang lain terhadap diri kita. Yang menjadi masalah di sini, kadang kesan yang ditangkap orang lain menyangkut diri kita belum tentu tepat. Kalau pun tepat, selalu ada kemungkinan aksidental, sebagaimana yang terjadi pada kasus saya dan Mister X tadi.

Bisa jadi, kita memiliki kesan Si A sangat pintar. Itu tidak berarti bahwa Si A pasti selalu benar dan tahu segala-galanya. Di suatu waktu, bisa jadi Si A benar-benar tidak tahu sesuatu, dan dia mencoba bertanya pada kita. Ketika itu terjadi, sikap terbaik tentu menjawab atau menjelaskan, kalau kita memang tahu jawaban atas persoalan yang ditanyakannya.

Sebaliknya, bisa jadi kita memiliki kesan Si B orang bodoh. Itu pun tidak berarti bahwa Si B pasti salah dan bodoh dalam segala hal. Di suatu bidang atau topik tertentu, bisa jadi Si B benar-benar menguasai dan memahami, dan mencoba menjelaskan kepada kita. Ketika itu terjadi, sikap terbaik tentu mendengarkan penjelasannya, dan bukan buru-buru memvonisnya.

Kesan pertama begitu menggoda, kata iklan legendaris. Yang menjadi masalah, kita tidak pernah tahu apakah kesan kita terhadap orang lain memang benar atau tidak. Lebih dari itu, kadang ada orang yang sengaja menciptakan dan membangun kesan tentang dirinya, yang sebenarnya jauh berbeda dengan jati dirinya.

Noffret’s Note: Agama

Ada temanku yang atheis, karena, “Aku muak melihat orang-orang yang sok suka menyebut Tuhan, tapi kelakuan mereka lebih hina dari binatang.”
—Twitter, 25 Agustus 2016

Agama kadang penuh ironi. Digunakan segelintir orang untuk menutupi kebobrokannya sendiri. Misalnya keluarga Sultan Brunei.
—Twitter, 25 Agustus 2016

Brunei Darussalam menerapkan syariat Islam. Padahal, keluarga Sultan Brunei suka... silakan googling (siapa tahu ketemu, biar bisa tahu).
—Twitter, 25 Agustus 2016

Penerapan syariat Islam di Brunei itu ironi, karena orang yang menggagas (yakni Sang Sultan) tidak bisa disebut islami, bahkan... well.
—Twitter, 25 Agustus 2016

Ketika “ketidakberesan” keluarga Sultan Brunei dibahas, terkait syariat Islam yang mereka terapkan, mereka berdalih dengan apologi. Konyol.
—Twitter, 25 Agustus 2016

Keluarga Sultan Brunei menjalani gaya hidup yang tak jauh beda dengan keluarga Kennedy di AS. Tapi mereka butuh topeng untuk menutupi.
—Twitter, 25 Agustus 2016

Yang kayak gitu bukan cuma Brunei. Dokumen Wikileaks membocorkan bahwa Saudi, Qatar, dan Mesir, adalah sekutu AS dan Israel. Islami apaan?
—Twitter, 25 Agustus 2016

Tetangga kita, Malaysia, konon negara yang islami. Padahal, gaya hidup anak-anak muda di sana jauh lebih parah dibanding anak-anak Jakarta!
—Twitter, 25 Agustus 2016

Di Indonesia, Aceh menerapkan syariat Islam. Hasilnya? Aceh menduduki peringkat pertama sebagai tempat paling rawan dalam pelecehan seksual.
—Twitter, 25 Agustus 2016

Latar belakang semacam itulah, yang menjadikan banyak orang muak terhadap agama, karena terlalu sering disalahgunakan dan dimanipulasi.
—Twitter, 25 Agustus 2016

Dulu, ada orang yang sering menceramahiku seolah-olah dia paling alim sedunia. Belakangan terungkap, dia suka nonton bokep. Kan, bangsat!
—Twitter, 25 Agustus 2016

Dulu, ada orang yang hobi ngoceh soal agama. Dikit-dikit agama, dikit-dikit agama. Belakangan ketahuan, dia tidak tahu apa-apa soal agama.
—Twitter, 25 Agustus 2016

Terkait agama, aku punya semacam rumus baku: Semakin orang tidak tahu apa-apa soal agama, semakin rajin dia ngoceh dan ngemeng soal agama.
—Twitter, 25 Agustus 2016

Sebenarnya, aku bahkan telah sampai pada tahap “tidak percaya” pada orang yang hobi ngoceh agama, karena paham kualitas orang semacam itu.
—Twitter, 25 Agustus 2016

Orang-orang paling alim dan paling memahami agama, setidaknya yang kukenal, adalah orang-orang yang justru paling jarang ngoceh soal agama.
—Twitter, 25 Agustus 2016

Hal-hal paling mulia di dunia menjadi sampah yang hina, gara-gara ada di tangan segelintir keparat idiot yang merasa paling benar di dunia.
—Twitter, 25 Agustus 2016

Agama adalah kesunyian masing-masing. Karena itulah aku tak pernah paham dengan TOA dan orang-orang yang hobi ngemeng agama dengan bising.
—Twitter, 25 Agustus 2016

“Agama adalah candu,” kata Karl Marx.
Bagi sebagian orang, mungkin memang begitu.
—Twitter, 25 Agustus 2016


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Noffret’s Note: Trump

Jika Trump berhasil menjadi presiden AS, kemungkinan besar
Perang Dunia III benar-benar akan terjadi tak lama lagi.
—Twitter, 11 Mei 2016

Meski dampaknya mungkin akan mengerikan, tapi kemungkinan besar
Trump akan berhasil menjadi presiden AS.
—Twitter, 11 Mei 2016


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Jumat, 23 September 2016

Nasi Goreng dan Nasionalisme

Memasuki waktu Indonesia bagian mendatangi
warung nasi harapan terakhir umat manusia di dunia.
@noffret 


Gara-gara nasi goreng, semangat nasionalisme (beberapa) orang Indonesia bangkit. Asal mulanya cuma foto nasi goreng yang diunggah Rio Ferdinand di sosial media. Mantan pemain sepak bola terkenal asal Inggris itu berada di Singapura, untuk menonton pertandingan balap Formula 1. Dia menggunggah foto selfie dengan nasi goreng, dan menulis, “Nasi goreng lunch... Keep it local in #Singapore.”

Gara-gara hal tersebut, orang-orang Indonesia—khususnya para pengguna sosial media—melakukan “unjuk rasa nasionalisme”, dengan memberitahu Rio Ferdinand bahwa nasi goreng adalah masakan Indonesia. Tampaknya, orang-orang Indonesia tak terima jika masakan yang sangat akrab dengan lidah mereka dianggap milik negara lain.

Sebegitu agresif orang-orang Indonesia melakukan protes, sampai ada beberapa orang yang jengah, dan menulis komentar balik, “Orang-orang Indonesia ini suka mengklaim tiap makanan berasal dari negara mereka.”

Akibat polemik yang memanas, Rio Ferdinand mencoba meredakan suasana dengan meminta agar semua pihak lebih santai dalam menanggapi hal itu, dan menyatakan bahwa yang ia maksud adalah nasi goreng sebagai masakan lokal khas Asia Tenggara.

Kalau dipikir-pikir, kasus ini lucu, sebenarnya.

Jika mempelajari sejarah, kita akan diberitahu bahwa nasi goreng adalah masakan yang berasal dari Cina—bukan dari Indonesia, juga bukan dari Singapura. Karenanya, jika ada pihak yang paling berhak untuk melakukan protes dalam hal ini, seharusnya orang Cina.

Nasi goreng telah dibuat bangsa Cina, setidaknya sejak 4.000 tahun sebelum Masehi. Sekali lagi, empat ribu tahun sebelum Masehi! Itu zaman ketika Brama Kumbara atau Gadjah Mada belum lahir! (Iya, saya paham, Brama Kumbara cuma tokoh fiksi. Tapi apa kalian pikir Gadjah Mada juga bukan tokoh fiksi?)

Balik ke nasi goreng.

Ada cukup banyak versi mengenai asal usul nasi goreng. Tetapi, yang jelas, semua versi merujuk dan menegaskan bahwa masakan itu berasal dari Cina. Salah satu versi menyebutkan bahwa orang-orang Cina sejak zaman dulu tidak suka makanan (nasi) yang dingin. Karenanya, mereka pun lalu mengolah nasi yang sudah dingin agar kembali hangat, dan menggoreng nasi—plus menambahi aneka bumbu—melahirkan sejarah nasi goreng.

Versi yang lebih lengkap, terkait dengan kebiasaan para kaisar Cina zaman kuno. Kaisar Cina zaman kuno—seperti umumnya orang kaya-raya zaman sekarang—suka jor-joran. Setiap kali akan makan pagi, makan siang, atau makan malam, mereka meminta para koki istana untuk membuat makanan dan hidangan dalam jumlah banyak. Mereka ingin meja makan dihiasi nasi yang menggunung, dan aneka masakan yang lengkap.

Karena kebiasaan itu, setiap pagi, setiap siang, dan setiap malam, ada sekian banyak nasi sisa karena tidak termakan keluarga kaisar. Berdasarkan perintah istana, semua nasi dan hidangan sisa harus dibuang. Untuk setiap kali acara makan, semua nasi dan masakan harus dibuat kembali sebagai nasi dan masakan baru, agar benar-benar segar.

Kenyataan itu menjadikan sekian banyak nasi dan aneka masakan terbuang setiap hari secara sia-sia. Tentu saja tidak masalah bagi sang kaisar, wong dia orang kaya! Tapi tidak semua orang sekaya Kaisar Cina! Di luar istana, ada banyak orang yang menjalani hidup sederhana, termasuk dalam urusan makan.

Sampai suatu hari, ada seorang koki yang berpikir kreatif. Sisa nasi dari istana—yang jumlahnya melimpah setiap hari—diolah kembali, agar bisa dimakan secara layak. Butuh waktu lama untuk menemukan formula yang tepat dalam mengolah nasi tersebut, agar bisa disukai orang-orang. Mula-mula, nasi itu dibakar, agar panas. Tapi hasilnya tidak enak. Dipanggang, juga tidak enak. Direbus, tetap tidak enak. Bahkan ketika digoreng pun tetap tidak enak.

Setelah sangat lama berusaha mengolah nasi agar enak, akhirnya ditemukan formula yang waktu itu dianggap paling tepat, karena menghasilkan rasa paling enak. Yaitu digoreng, dengan ditambah kecap. Hasilnya, nasi yang semula putih berubah warna lebih gelap. Rasanya mulai sedikit enak. Seiring dengan itu, beberapa bumbu lain ditambahkan, termasuk cabai, tomat, bawang, dan selanjutnya adalah sejarah.

Itulah awal mula lahirnya nasi goreng... empat ribu tahun sebelum Masehi.

Setelah nasi itu digoreng, orang-orang menyukai, karena rasanya enak. Apalagi setelah mereka mengombinasikannya dengan telur ceplok. Sejak itu, koki istana selalu mengolah nasi sisa dari istana untuk digoreng, lalu dibagi-bagikan kepada para penjaga dan rakyat di sekeliling istana. Sang Kaisar senang, karena selalu makan enak. Koki istana senang, karena sekarang tidak ada nasi yang terbuang. Rakyat juga senang karena sering makan enak.

Berabad-abad kemudian, nasi goreng masih ada, masih dibuat, masih dinikmati, bahkan dikembangkan, hingga rasanya semakin enak, dan semakin banyak yang suka. Lama-lama, nasi goreng bahkan identik dengan orang-orang Cina di masa lalu. Karena orang-orang Cina merantau ke hampir seluruh belahan bumi, nasi goreng pun mengikuti. Karenanya, ketika orang Cina masuk ke Indonesia, negeri ini pun mulai mengenal nasi goreng. Oleh orang Indonesia, sajian nasi goreng ditambah sesuatu yang menjadikannya makin renyah. Yaitu kerupuk.

Oh, well, kerupuk adalah karunia alam semesta. Dan apalah arti makan nasi goreng tanpa kerupuk? Jadi, jasa orang Indonesia terkait nasi goreng—kalau memang itu bisa disebut jasa—hanya sebatas kerupuk.

Sejarah tentang masuknya nasi goreng ke Indonesia, tidak jauh beda dengan sejarah masuknya soto (yang nama aslinya caudo) ke Indonesia. Sama-sama dibawa dan diperkenalkan orang Cina yang masuk ke negeri ini. Dan sama seperti soto, nasi goreng juga beradaptasi dengan tempat ia masuk. Ke Indonesia, nasi goreng beradaptasi dengan lidah orang Indonesia. Begitu pula saat masuk ke negara lain.

Percaya atau tidak, di Singapura memang ada nasi goreng khas Singapura. Bocah-bocah Indonesia yang biasa sarapan nasi goreng ke sana, menyebutnya “nasi goreng Singapuh” (pakai “h”, sesuai logat mereka). Di Singapura, nasi goreng dibumbui kare kuning, berbeda dengan nasi goreng khas Indonesia. Sementara di Thailand, ada nasi goreng Pattaya, yang merupakan nasi goreng khas Thailand, yang biasa disajikan dengan terbungkus telur dadar.

Jadi, kalau ada orang mengatakan sedang makan nasi goreng khas Singapura, dan dia memang benar-benar ada di Singapura, sepertinya tidak ada yang salah. Beda kasus kalau misalnya orang mengunggah foto selfie makan nasi goreng di Glodok, tapi menulis tweet, “Nasi goreng Singapura panas banget!”

Lagi pula, terkait Rio Ferdinand, sebenarnya kita sulit mengklaim nasi goreng sebagai masakan khas Indonesia, wong nyatanya itu berasal dari Cina. Kalau mau mengklaim sesuatu terkait nasi goreng, paling kita hanya bisa mengklaim kerupuknya. Itu pun kalau Rio Ferdinand makan nasi goreng dengan kerupuk. Tapi masak iya kita mau repot-repot mengklaim kerupuk?

Oh, well, urusan nasi goreng Rio Ferdinand mungkin bukan urusan penting, namun setidaknya hal itu mengingatkan kita kembali pada nasionalisme. Sesuatu yang kerap tercerabut dari diri kita tanpa disadari adalah nasionalisme. Kita mungkin terlalu sibuk mengutuk negeri sendiri, sehingga tidak lagi menyisakan secuil ingatan—apalagi kebanggaan—pada tanah air sendiri. Dan nasionalisme itu, kebanggaan itu, baru terlahir setelah sesuatu yang kita pikir milik kita dianggap milik bangsa lain.

Seperti nasi goreng. Atau wayang. Atau tarian. Sebut apa pun.

Kita sering kali baru meributkan milik kita, kekayaan kita, kebudayaan kita, ketika hal-hal itu diklaim atau setidaknya dianggap bukan milik kita. Kita marah, nasionalisme kita bangkit, dan kita menuntut agar hak itu dikembalikan, agar kembali kepada kita, kembali milik kita. Dan apa yang kita lakukan setelah itu? Tidak ada. Atau, setidaknya, saya tidak tahu.

Pagelaran wayang tetap menjadi tontonan yang terpinggirkan, tarian tradisional tetap menjadi hal asing, kebudayaan asli Indonesia tetap tak dikenali, sementara begitu banyak kekayaan yang kita miliki tak penah diketahui. Kita tidak peduli. Oh, well, tak pernah peduli. Kita baru peduli, dan marah, bahkan mengamuk, ketika hal-hal yang tidak kita pedulikan itu diklaim bukan milik kita.

Jadi kita punya banyak hal, tapi tidak mau merawat. Ketika ada orang lain yang ingin merawat, kita tidak rela. Jadi, apa sebenarnya yang kita inginkan...?

“Jangan pernah melupakan sejarah,” kata Bung Karno. Karena sejarah adalah akar, tempat kita seharusnya berpijak. Mengetahui sejarah artinya memahami keberadaan kita, mengetahui hal-hal yang kita miliki serta hal-hal yang bukan milik kita. Karena mengklaim sesuatu yang bukan milik kita, sama konyol dengan menganggap kita tak punya apa-apa padahal sangat kaya.

Seorang Bocah Curhat pada Termos

Di dapur yang sunyi, seorang bocah curhat pada termos, “Aku tuh sering kangeeeeen banget sama mbakyuku. Tapi nggak tahu gimana ngomongnya. Jadi, tiap hari, tiap malam, aku kangeeeen terus, sampai sering nggak bisa tidur. Tapi tiap mau ngomong, aku bingung, nggak tahu gimana ngomongnya. Juga, kalau diingat-ingat, ternyata aku nggak punya mbakyu. Aku kudu piye, ya?”

Termos yang diajaknya bicara hanya diam, karena dia termos.

Tapi si bocah tampaknya lega, karena setidaknya dia bisa curhat.

Mengapa Superhero Memakai Kostum?

Agar beda dengan yang bukan superhero.

Senin, 19 September 2016

Kisah Lama Bersemi Kembali

Jauh dan dekat hanya sebatas kata,
pertemuan dan perpisahan hanya kisah selintas.
Hidup, kadang-kadang, hanya selembar bab novel.
@noffret


Tiga hari setelah Idul Adha kemarin, saya makan malam sendirian di suatu tempat. Sendirian pula, saya menikmati makanan seperti biasa, lalu duduk tenang sambil mengisap rokok seperti biasa. Sudah berkali-kali saya makan malam di tempat itu, hingga sangat familier dengan suasana di sana—tenang, tidak ramai, dan makanannya enak. Tapi rupanya ada sesuatu yang terjadi malam itu.

Saat sedang melangkah ke kasir untuk membayar, saya berpapasan dengan tiga wanita. Sepertinya mereka terdiri dari ibu dan dua anak perempuannya—satu terlihat lebih dewasa, tapi wajah mereka mirip, jadi mungkin kakak beradik. Mereka baru saja membayar, dan tampak akan keluar. Salah satu perempuan, yang lebih muda—si adik—menatap saya dengan jelas, dengan senyum yang tertahan. Sebegitu jelas tatapan dan senyum itu, hingga saya salah tingkah.

Tapi saya tidak tahu siapa dia, tidak mengenali perempuan itu.

Saya sampai di kasir, dan membayar. Sambil menunggu kasir menghitung, saya sempat menengok ke arah tiga wanita tadi. Perempuan tadi, yang menatap saya, juga rupanya sedang menengok ke arah saya. Sekarang saya mulai memahami arti tatapannya. Itu tatapan orang yang ditujukan untuk seseorang yang dikenalnya. Sesaat kemudian, mereka sampai di pintu keluar, dan menghilang.

Tiba-tiba, memori saya berpacu dengan cepat, dan seketika saya mengenali perempuan tadi. “Ya, Tuhan,” pikir saya dengan jantung mencelos. “Itu Emma!”

....
....

Emma (bukan nama sebenarnya) adalah teman zaman SMA. Pada waktu kelas 1, kami ada di kelas berbeda. Meski begitu, kami saling kenal, dalam arti tahu nama masing-masing. Kelas 1 waktu itu ada di lantai 2. Jika saya akan turun, misalnya saat jam istirahat, saya harus melewati depan kelas Emma. Sering, saat itu, Emma berdiri di depan kelas. Saat saya melangkah melewati kelasnya, dia menatap dan tampak ingin tersenyum.

Tetapi, entah kenapa, saya selalu malu setiap kali bertemu dengannya. Jadi, saat melewati Emma di depan kelasnya, saya hanya menunduk, karena tak berani melihatnya. Antara perasaan malu dan salah tingkah, dan tidak tahu harus berbuat apa jika kami sampai bertatap muka.

Saat kami naik kelas 2, terjadi perpindahan kelas karena adanya jurusan—Sosial dan Biologi. Kebetulan, Emma dan saya satu kelas. Kali ini kami menempati deretan kelas di lantai bawah. Selama di kelas 2, meski satu kelas, kami sangat jarang berkomunikasi, bahkan nyaris tidak pernah.

Satu-satunya percakapan yang masih saya ingat adalah saat ada seorang guru yang tidak berangkat, dan saya duduk-duduk di depan kelas. Emma dan seorang teman tampak datang dari ruang guru. Seperti biasa, saat melihat saya, dia menatap, dengan wajah seperti ingin tersenyum. Waktu itu, saya memberanikan diri bertanya kepadanya, “Gurunya tidak masuk?”

“Iya.” Dia menjawab, sambil tersenyum. Kali ini benar-benar tersenyum. Itu senyuman utuh—bukan senyuman yang ditahan—yang saya saksikan pertama kali.

Itu juga percakapan pertama, dan mungkin terakhir, yang pernah terjadi antara saya dengan Emma. Sejak itu, saya tidak pernah lagi memiliki kesempatan maupun keberanian untuk mengajaknya berbicara. Tetapi, senyumnya hari itu, menjadi senyuman yang membayangi saya bertahun-tahun.

Di kelas, ada empat deret bangku. Saya duduk di deret satu, di bangku nomor dua dari depan, dekat dinding. Emma duduk di deret empat, di bangku nomor tiga dari belakang, juga dekat dinding. Saat guru di kelas sedang menulis di papan tulis, kadang saya menyandarkan tubuh ke dinding, dan tanpa sengaja menatap ke arah Emma. Di waktu bersamaan, entah kenapa, Emma juga sedang menyandarkan tubuh ke dinding, dan sedang menatap ke arah saya. Lalu kami saling menahan senyum.

Setelah itu, biasanya saya kembali menghadap ke depan, sambil merasa malu.

Perasaan seperti itu, jujur saja, hanya saya rasakan terhadap Emma. Selama di SMA, saya akrab dengan banyak teman perempuan, baik yang sekelas maupun dari kelas lain, dan kami bisa bercakap-cakap asyik, saling canda, dan tertawa-tawa. Tapi entah kenapa, saya selalu dihinggapi perasaan malu dan salah tingkah jika ingin melakukan hal yang sama dengan Emma. Karenanya, seperti yang dibilang tadi, kami nyaris tidak pernah berkomunikasi, meski satu kelas.

Kadang-kadang, saat saya sedang asyik mengobrol dengan cewek-cewek lain di sekolah pas jam istirahat, Emma berdiri di pintu kelas, sendirian, dan menatap ke arah saya. Biasanya pula, saya pun salah tingkah, dan menghentikan obrolan dengan cewek-cewek lain. Tapi bukannya mendekati Emma, saya malah pergi ke belakang, dan bergabung dengan murid-murid cowok yang sedang merokok.

Kejadian “aneh” seperti itu terjadi berkali-kali, hingga rasanya Emma maupun saya sama-sama memahami. Bahwa kami dua orang yang aneh. Satu kelas, tapi tidak pernah berkomunikasi. Saling kenal, tapi saling merasa malu. Dan “drama yang aneh” itu bahkan terus berlanjut saat kami naik kelas 3. Seperti di kelas 2, kami kembali sekelas. Tetapi, yang ajaib, kami tetap tidak pernah berkomunikasi sedikit pun!

Padahal, tidak ada apa-apa di antara kami. Artinya, kami tidak pernah punya masalah apa pun. Saya juga mengenal Emma sebagai sosok yang kalem, agak pendiam, dengan kecantikan dan kelembutan yang mampu membuat cowok salah tingkah. Mungkin, faktor itulah yang menjadikan saya sering malu dan salah tingkah saat berhadapan dengannya.

Selama waktu-waktu itu pula, Emma tidak pernah berani mendekati saya, meski dia bisa terlihat wajar saat bersama cowok-cowok lain. Saat berinteraksi dengan teman-teman sekelas, cowok maupun cewek, Emma tampak biasa-biasa saja, seperti umumnya murid perempuan lain. Tapi sikapnya kepada saya benar-benar persis seperti sikap saya kepadanya. Sama-sama malu, dan tidak tahu harus ngomong apa.

Waktu itu, saya tidak berpikir macam-macam terhadap Emma, karena saya sedang jatuh cinta pada perempuan lain, seorang adik kelas, bernama Nadia, yang pernah saya ceritakan di sini. Jadi, selama waktu-waktu itu, saya tidak sempat berpikir apakah saya jatuh cinta kepada Emma, atau apakah Emma jatuh cinta kepada saya. Yang saya tahu, waktu itu, saya hanya jatuh cinta kepada Nadia.

Suatu hari, sekolah kami mengadakan pentas seni, pas hari libur. Jadi, kami berdatangan ke acara itu memakai pakaian biasa (bukan seragam sekolah). Saya pun datang bersama teman-teman di luar sekolah, karena acara itu memang untuk umum. Di hari itulah, saya pertama kali melihat Emma dalam wujud aslinya—bukan murid perempuan berseragam sekolah, tapi sosok perempuan jelita yang sangat mempesona.

Karena takjub melihatnya, tanpa sadar saya memandanginya. Dan, seperti biasa, dia menatap ke arah saya. Dan tersenyum. Itu senyumnya yang paling mekar yang pernah saya saksikan, dan saya cukup lama menatapnya.

Tetapi, saat kami masuk sekolah seperti biasa, sikap kami kembali seperti semula. Kaku, saling malu, dan salah tingkah.

Lalu masa kelulusan tiba. Sampai kami kemudian lulus SMA, bisa dibilang saya belum pernah berkomunikasi dengan Emma, kecuali satu kali, yaitu saat menanyakan guru yang tidak masuk kepadanya. Saya tidak tahu bagaimana kabar Emma selanjutnya setelah itu, karena praktis kami benar-benar berpisah. Saya tidak pernah lagi melihatnya. Lebih dari itu, setelah lulus SMA, saya bahkan tidak punya waktu untuk teringat kepadanya.

Empat tahun kemudian, saya kuliah di sebuah kampus. Satu-satunya motivasi saya masuk kampus itu cuma untuk menemui Nadia, perempuan yang membuat saya jatuh cinta. Tetapi, saat saya mulai kuliah di sana, Nadia lulus. Dia tinggal menyelesaikan skripsi, dan tak lama kemudian wisuda. Jadi, bisa dibilang kuliah saya waktu itu sia-sia. Meski begitu, saya menyelesaikan semua mata kuliah di sana, lalu drop out sebelum wisuda.

Selama kuliah itu, saya berteman akrab dengan banyak orang, cowok maupun cewek. Salah satu teman cewek yang dekat dengan saya bernama Diah. Seperti teman-teman dekat yang lain, Diah tahu bahwa tujuan saya kuliah cuma untuk menemui Nadia. Diah juga tahu bahwa kisah cinta saya berakhir sad ending. Sebenarnya, saya bahkan banyak curhat ke Diah mengenai Nadia.

Suatu hari, saat kami semester enam, Diah berkata kepada saya, “Mungkin ini terlambat. Tapi aku baru ingat, kamu dapat salam dari Emma.”

“Emma siapa?” tanya saya waktu itu.

Lalu Diah bercerita. Saat semester awal di kampus, Diah kursus bahasa asing di sebuah tempat, dan di sana dia bertemu dengan perempuan bernama Emma. Mereka bercakap-cakap, dan Emma bertanya Diah kuliah di mana. Saat Diah menyebutkan nama kampus kami, Emma seketika menyahut, “Aku punya teman SMA yang juga kuliah di tempatmu. Namanya Hoeda. Kamu kenal?”

Waktu itu, Diah langsung menyahut, “Bukan kenal lagi. Dia teman dekatku!”

Lalu Emma menitip salam untuk saya.

Berdasarkan penuturan Diah, saya pun langsung tahu bahwa Emma yang dimaksud adalah Emma yang “itu”—teman dari SMA, sosok yang entah kenapa selalu membuat saya salah tingkah. Rupanya, Emma tahu saya kuliah di kampus itu, meski saya tidak tahu bagaimana dia mengetahuinya.

Saya pun bertanya kepada Diah, “Jadi, Emma nitip salam, waktu kita masih semester satu?”

Diah mengangguk.

Saya langsung mencak-mencak. “Kenapa kamu baru bilang sekarang? Itu tiga tahun yang lalu!”

“Uh... terus terang aku bingung,” sahut Diah. “Waktu itu, kamu sedang jatuh cinta setengah mati pada Nadia. Jadi, aku ragu-ragu mau menyampaikan salam Emma ke kamu. Lagi pula, kupikir, Emma cuma teman biasa. Jadi... yah, aku memutuskan untuk diam saja, dan baru sekarang aku ingat kalau dulu Emma nitip salam ke kamu. Sori, aku benar-benar lupa, dan baru ingat sekarang.”

Ketika saya bertanya apakah Diah masih bertemu Emma, jawabannya tidak. Diah dan Emma hanya mengikuti kursus selama setengah tahun, dan setelah itu mereka berpisah. Jadi, Diah tidak tahu lagi di mana Emma sekarang, atau bagaimana kabarnya.

Dan tahun-tahun terus berlalu.

Sampai kemudian, tempo hari, tanpa sengaja saya melihat Emma di rumah makan, seusai makan malam. Dia bersama ibu dan kakaknya. Dia masih seperti dulu, lembut dan indah, meski tampak jauh lebih dewasa. Seharusnya saya langsung mengenalinya, atau seharusnya dia menyapa kalau memang mengenali saya. Tapi dia masih seperti dulu. Hanya menatap, dan tersenyum.

....
....

Saat selesai membayar di kasir, saya berlari keluar rumah makan. Tapi di luar tampak sepi. Tidak ada siapa pun yang saya kenal.

Tidak ada Emma.

Jangan-jangan Kita Semua Belimbing Wuluh

Kalau teman saya yang ini berpikir kita sebenarnya iguana, ada teman saya lainnya yang berpikir bahwa kita sebenarnya belimbing wuluh.

Saya bertanya, “Kenapa kamu berpikir kita sebenarnya belimbing wuluh?”

“Aku hanya khawatir,” jawabnya. “Aku hanya khawatir, jangan-jangan kita semua sebenarnya belimbing wuluh.”

“Uh, iya...” sahut saya bingung. “Maksudku, kenapa kamu khawatir kita sebenarnya belimbing wuluh? Kenapa tidak objek lain yang... well, yang mungkin terdengar lebih keren dibanding belimbing wuluh?

“Misalnya?” Dia menatap saya.

“Aku tidak tahu,” saya menjawab jujur. “Yeah, maksudku, kenapa kamu tidak membayangkan kita sebenarnya superhero atau semacamnya, tapi malah membayangkan kita belimbing wuluh?”

“Aku kan hanya khawatir,” ujarnya dengan tenang. “Aku hanya khawatir, jangan-jangan kita semua sebenarnya belimbing wuluh.”

....
....

Sejak itu, setiap kali bercermin, saya memastikan diri bahwa saya bukan belimbing wuluh. Tetapi, diam-diam, saya khawatir jangan-jangan kita semua memang belimbing wuluh.

Sendok Bisa Di Mana saja

Ya, sendok bisa di mana saja.

Selasa, 13 September 2016

Takdir Cinta

tiada beza malam atau pun siang
payah lena ku menjelma
semenjak kau tiada
tak menentu fikiranku

tiada lain yang teringat
hanya kenangan denganmu
bertahun kita menciptanya
retak hanya sekelip mata

Slam, Malamku Kesiangan


Di Malaysia, ada kisah cinta yang tragis, melibatkan orang-orang terkenal, meski mungkin jarang terdengar, khususnya di Indonesia. Tetapi orang-orang yang terlibat dalam kisah ini semuanya terkenal, dan dikenal publik Indonesia, bahkan Asia. Sebenarnya, ini kisah lama, tapi saya tak pernah mampu melupakan, dan terus gatal ingin menuliskannya. Ini kisah tentang Siti Nurhaliza, dan cinta tersembunyi yang selalu menyala.

Baca: Joko Sutarto, Penjahat/Psikopat Dunia Maya

Publik Indonesia pasti mengenal Siti Nurhaliza, penyanyi wanita terkenal asal Malaysia, yang lagu-lagunya juga populer di sini. Siti Nurhaliza mulai populer di Indonesia pada era 1990-an, melalui album “Betapa Kucinta Padamu”. Semua lagu dalam album itu sangat indah. Ditunjang suara yang menawan dan tampilan menarik, Siti Nurhaliza pun seketika menjadi idola baru. Dan, bersamaan dengan itu, ada banyak lelaki yang jatuh cinta kepadanya.

Salah satu lelaki yang jatuh cinta kepada Siti Nurhaliza adalah Zamani. Sebagian orang mungkin tidak tahu siapa Zamani, meski mungkin tahu group musik Malaysia bernama Slam. Zamani adalah vokalis Slam, group musik papan atas Malaysia. Zamani bahkan menjadi salah satu penyanyi pria terbaik di Malaysia, yang suara lembutnya mampu menyihir jutaan wanita di sana.

Di Indonesia, Slam juga mulai populer pada era 1990-an, saat menyanyikan “Gerimis Mengundang”. Lagu itu sangat populer, hingga di-remix berkali-kali di Indonesia. Sejak itu, tak jauh beda dengan Siti Nurhaliza, album-album Slam terus masuk ke Indonesia—juga ke negara-negara Asia lain—dan bisa dibilang selalu sukses.

Seperti yang dibilang tadi, Zamani jatuh cinta kepada Siti Nurhaliza. Dia jatuh cinta kepada wanita itu sejak pertama kali melihat, segugus cinta yang datang tiba-tiba, tapi tak pernah mampu dilepaskannya. Zamani jatuh cinta setengah mati, tapi dia tak pernah berani mengatakan. Hingga bertahun-tahun.

Selama waktu-waktu itu, tidak ada yang tahu rahasia hati Zamani. Selama waktu-waktu itu, Siti Nurhaliza masih aktif menyanyi, dan Zamani bersama Slam masih terus konser di mana-mana. Seiring dengan itu, tidak ada orang yang tahu bahwa diam-diam Zamani memendam cinta kepada Siti Nurhaliza, bahkan Siti Nurhaliza pun tak pernah tahu kenyataan itu.

Satu-satunya orang yang tahu kenyataan itu hanya Saari Amri.

Saari Amri adalah bocah mantan pelayan toko yang menjadi sosok berpengaruh di balik dunia musik Malaysia. Dia telah mengorbitkan banyak penyanyi dan group musik, menciptakan lagu tak terhitung banyaknya, dan bisa dibilang semua lagu ciptaannya pasti populer. “Gerimis Mengundang”, yang dinyanyikan Slam, adalah lagu ciptaan Saari Amri. Bahkan, nyaris semua group musik Malaysia yang terkenal di Indonesia membawakan lagu-lagu ciptaan Saari Amri.

Tak jauh beda dengan para genius lain yang biasa bekerja di balik layar, Saari Amri jarang muncul ke hadapan publik. Selama bertahun-tahun, dia hanya aktif menciptakan lagu, mengaransemen musik, mengorbitkan banyak penyanyi, dan namanya sangat terkenal di Malaysia, tapi sosoknya jarang terlihat. Meski begitu, dia memiliki pengaruh yang sangat besar di dunia musik Malaysia, sekaligus akrab dengan banyak orang terkenal. Salah satu orang terkenal yang sangat dekat dengan Saari Amri adalah Zamani.

Bagi Zamani, Saari Amri bukan hanya sahabat, tetapi juga sosok kakak. Di mata Zamani, Saari Amri bukan hanya pencipta lagu yang hebat, tapi juga sosok bijaksana. Lebih dari itu, Zamani sangat menghormati Saari Amri, karena bisa dibilang Saari Amri yang telah menjadikan group musik Slam sangat terkenal, melalui lagu-lagu ciptaannya. Kepada Saari Amri pulalah, Zamani menceritakan rahasia hatinya. Bahwa dia jatuh cinta kepada Siti Nurhaliza.

Jadi, waktu itu, satu-satunya orang di Malaysia yang mengetahui cinta Zamani kepada Siti Nurhaliza hanya Saari Amri. Tetapi, hingga bertahun-tahun, Saari Amri juga menyimpan rapat-rapat rahasia itu.

Sebenarnya, Saari Amri juga saling kenal dengan Siti Nurhaliza. Dia bersedia menyampaikan perasaan Zamani kepada wanita itu, tapi Zamani melarang. Zamani ingin mengatakan sendiri perasaannya kepada Siti Nurhaliza, meski dia tidak tahu bagaimana caranya. Saari Amri pun memahami kepribadian Zamani yang pendiam dan tertutup, dan dia ikut menjaga rahasia itu tetap tersimpan.

Dan waktu-waktu berlalu.

Selama itu, Zamani bersama Slam masih terus aktif menyanyi dan tampil di banyak konser, menjumpai penggemar mereka di berbagai tempat di Malaysia. Selama itu, Siti Nurhaliza juga terus aktif di mana-mana, menjadi sampul majalah, diwawancara televisi, juga konser live di berbagai tempat. Selama itu, publik Malaysia tidak menyadari bahwa diam-diam sebuah cinta sedang membara, dan menyala, dan menyala....

Saari Amri, yang memahami perasaan Zamani, diam-diam menciptakan lagu-lagu indah yang dimaksudkan untuk mewakili hati Zamani kepada Siti Nurhaliza. Lagu-lagu indah itu dinyanyikan Zamani bersama group band-nya, dan dirilis dalam beberapa album. Tidak ada yang tahu lagu-lagu itu sebenarnya ditujukan untuk Siti Nurhaliza. Tetapi, bagi Zamani, itu saja sudah cukup. Ia telah menyampaikan perasaannya kepada wanita yang ia cintai, dan biarlah langit yang mendengar.

Kemudian, suatu hari, Siti Nurhaliza menikah.

Bukan dengan Zamani, tapi dengan orang lain.

Dan Zamani merasakan langit runtuh.

Perkawinan Siti Nurhaliza adalah salah satu acara yang sangat populer di Malaysia, yang dihadiri orang-orang terkenal, dari para pejabat sampai sesama artis. Daftar nama di buku undangan mirip daftar Who’s Who. Nyaris semua orang terkenal di Malaysia ikut menghadiri acara perkawinan yang meriah itu... kecuali Zamani. Bahkan sampai di situ, publik Malaysia tetap belum memahami apa yang terjadi.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi saat itu—ketika Siti Nurhaliza menikah—tetapi, yang jelas, sejak itu Zamani mulai jarang terlihat. Sejak itu pula, Slam makin jarang tampil, baik di televisi maupun di konser live. Semakin lama, Zamani makin jarang muncul, ia seperti tenggelam dan hilang.

Sementara itu, Siti Nurhaliza masih aktif menjadi penyanyi dan tetap tampil seperti sebelumnya, meski kini statusnya telah menikah. Dia tetap cantik, tetap menawan, dan tetap tak menyadari bahwa ada seorang lelaki yang selama bertahun-tahun memendam cinta kepadanya.

Dan waktu-waktu terus berlalu.

Zamani kian hilang, sosoknya semakin jarang terlihat, nama group musik Slam perlahan-lahan tak lagi terdengar. Hingga suatu hari, tepatnya Januari 2015, muncul berita yang sangat menghebohkan. Zamani ditangkap kepolisian Malaysia karena menggunakan narkoba.

Itu berita yang sangat mengejutkan semua pihak. Selama ini, Zamani dikenal sebagai sosok pendiam, cenderung pemalu, dan terkenal sebagai orang baik yang tidak suka macam-macam. Berita penangkapannya mencengangkan banyak orang, dan mereka tidak sempat bertanya mengapa Zamani sampai bersentuhan dengan narkoba. Sebagian orang menyayangkan, sebagian mencibir, sebagian lain sibuk menghakimi.

Zamani mungkin sanggup memendam perasaan cintanya diam-diam, entah sampai kapan. Selama waktu itu, dia tetap tak pernah mengungkapkan rahasia hatinya. Tetapi nyala api cinta rupanya diam-diam membakar dirinya, dan meluluhlantakkan hidupnya. Zamani ingin berlari dari dirinya sendiri. Ia ingin bersembunyi dari perasaannya sendiri, dari lukanya sendiri, dari kepedihannya sendiri. 

Tidak ada orang lain yang tahu kenyataan itu, dan hanya Saari Amri yang memahami. Selama bertahun-tahun, Saari Amri ikut menjaga rahasia itu, dan ikut memendamnya diam-diam. Tetapi, setelah melihat kehidupan Zamani yang sekarang, melihat sosoknya yang hancur oleh patah hati, Saari Amri merasa sudah saatnya rahasia diungkapkan, untuk menghentikan cibiran dan penghakiman orang-orang yang tak bisa berempati karena tak tahu.

Jadi, suatu hari—sementara Zamani masih dalam proses rehabilitasi—Saari Amri pun terpaksa muncul ke hadapan publik untuk mengungkapkan kenyataan itu, menceritakan rahasia hati Zamani, bahwa keterpurukan Zamani—hingga bersentuhan dengan narkoba—akibat kepedihan hatinya yang jatuh cinta pada Siti Nurhaliza.

Publik Malaysia gempar.

Selama berhari-hari, topik percakapan di Malaysia hanya seputar Zamani dan Siti Nurhaliza. Zamani tak bisa ditemui, karena masih dalam rehabilitasi. Tapi para wartawan bisa menemui Saari Amri, untuk mengonfirmasi kenyataan itu. Saari Amri menceritakan, “Pernah satu ketika saya bertanyakan pada dia (Zamani), mengapa dia jadi begitu. Saya nasihatkan dia supaya melupakan Siti, dan menjalani hidup dengan lebih baik. Tetapi Zamani seorang yang sangat setia.”

Lalu bagaimana dengan Siti Nurhaliza? Dia terkejut, dan menyayangkan kenapa bisa sampai seperti itu yang terjadi.

Kini, dunia telah tahu perasaan cinta Zamani kepada Siti Nurhaliza. Dan, sejak itu, kehidupan tak pernah lagi sama.

Noffret’s Note: Maya

Sejak melihat Adelia Zahra pertama kali, aku sudah curiga dia laki-laki. Ternyata memang benar. Apa kabar bocah-bocah pemuja selangkangan?
—Twitter, 25 Agustus 2016

Jangankan di dunia maya, bahkan di dunia nyata pun, yang nyata bisa dibuat maya. Menjadi “seolah-olah” adalah penyakit klasik manusia.
—Twitter, 25 Agustus 2016

Dunia maya, bagi sebagian orang, adalah tempat sempurna untuk menipu diri sendiri, dan menipu dunia, dan bersikap seolah-olah tidak begitu.
—Twitter, 25 Agustus 2016

Di Kaskus sedang ramai thread yang membahas “seleb” dunia maya, yang ternyata penipu, utang tak mau bayar, dan kasus lain yang menyedihkan.
—Twitter, 25 Agustus 2016

Di luar Kaskus, ada orang di dunia maya yang sok mengajarkan kebaikan sambil terus menipu, yang sok alim tapi memanipulasi orang lain.
—Twitter, 25 Agustus 2016


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Bayangan Bidadari

Aku sering membayangkan, bidadari di surga—kalau memang ada—mirip Natasha Romanoff. Mungkin bayanganku keliru, tapi biar saja.

Noffret’s Note: Pajak

Jika boleh memilih antara bayar pajak pada negara atau membagikannya pada tetangga, aku akan memilih yang kedua.
—Twitter, 29 Agustus 2016

Urusan pajak itu bikin jengkel akibat birokrasi yang terlalu rumit. Bahkan mau dibayar pun, prosesnya masih dibikin sulit.
—Twitter, 29 Agustus 2016

Sebelum punya NPWP, diminta bikin NPWP. Setelah punya NPWP, masih harus laporan rutin terkait NPWP. Dibayar pun masih dipersulit.
—Twitter, 29 Agustus 2016

Yang tidak bayar pajak diancam hukuman. Yang sudah bayar tapi tidak laporan, masih diancam hukuman. Yang bayar kok malah yang susah.
—Twitter, 29 Agustus 2016

Orang bijak, katanya, taat bayar pajak. Kenyataannya, tak peduli kau bijak atau tidak, tetap saja harus bayar pajak!
—Twitter, 29 Agustus 2016

Jumlah dan aneka pajak kian banyak, tapi utang negara juga makin banyak. Hidup kian mahal, rakyat makin susah. Itu ironis, dan anakronistis.
—Twitter, 29 Agustus 2016

Rakyat bayar pajak. Pajak dipakai menggaji pejabat. Pejabat petentang-petenteng kepada rakyat. Bahkan Socrates pun pusing mikir pajak.
—Twitter, 29 Agustus 2016

Hidup adalah soal pilihan. Tapi negara menghilangkan kemungkinan itu melalui pajak. Tak peduli apa pun pilihanmu, kau tetap bayar pajak.
—Twitter, 29 Agustus 2016


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Kamis, 08 September 2016

Masuk Penjara Karena Terlambat Mengembalikan Buku

Selamat Hari Buku Nasional.
Berhentilah menjadi peminjam buku yang tak bermoral.
Sudah minjam, tidak modal, tidak dibaca, bukunya hilang.
@noffret


Di Amerika Serikat, tepatnya di Alabama, ada perpustakaan umum bernama Athens-Limestone. Seperti umumnya perpustakaan umum, siapa pun boleh meminjam buku di sana setelah mendaftar sebagai anggota. Bukti keanggotaan adalah sebuah kartu yang diterbitkan pihak perpustakaan. Dengan kartu itu, siapa pun boleh meminjam buku secara gratis. Tetapi... kalau kau terlambat mengembalikan buku pinjaman di perpustakaan tersebut, kau terancam hukuman penjara.

Ini serius. Hal itu ditegaskan oleh Paula Laurita, direktur perpustakaan Athens-Limestone, yang mengatakan bahwa pihaknya akan melaporkan siapa pun—yang terlambat mengembalikan buku—ke polisi, untuk kemudian dituntut ke pengadilan. 

Keputusan itu—melaporkan peminjam buku ke polisi—terpaksa ditempuh oleh Perpustakaan Athens-Limestone, akibat ndableg-nya para peminjam buku.

Jadi, seperti inilah mekanisme yang dijalankan oleh pihak perpustakaan dalam upaya “menyeret” para peminjam buku yang ndableg ke penjara. Mula-mula, pihak perpustakaan akan memperingatkan para peminjam buku lewat SMS atau e-mail. Jika peringatan itu diabaikan, perpustakaan akan mengirimkan surat resmi. Surat itu berisi peringatan bahwa peminjam memiliki waktu maksimal 10 hari untuk mengembalikan buku dan membayar denda. Jika surat itu tidak juga dihiraukan, maka surat perintah pengadilan akan diterbitkan, dan siapa pun yang mengabaikan surat pengadilan akan terancam hukuman penjara.

Ketika pertama kali mengetahui kenyataan itu, saya tidak bisa menahan senyum. Rupanya, tidak di Amerika tidak di Indonesia, para peminjam buku punya sifat yang sama—ndableg, dan tidak/kurang bertanggung jawab pada buku yang dipinjam. Sebegitu ndableg mereka, hingga perpustakaan di Alabama bertekad menyeret orang-orang itu ke penjara.

Mungkin, sebagian orang akan menilai sikap perpustakaan di Alabama terlalu lebay. Orang-orang bisa saja menyatakan, “Masak terlambat mengembalikan buku saja harus menghadapi tuntutan penjara?”

Tetapi, sebagai pencinta buku, saya sangat mendukung langkah itu. Sebenarnya, saya bahkan berharap ada aturan resmi yang mengatur hal tersebut, agar siapa pun bisa menuntut orang yang terlambat mengembalikan buku pinjaman. Sikap kebanyakan orang terhadap buku kadang terlalu merendahkan, menganggap buku “bukan apa-apa”, dan sudah saatnya orang-orang tak beradab semacam itu disadarkan, agar lebih tahu cara menghormati buku.

Terus terang, saya termasuk salah satu orang yang sering menjadi korban dari tindakan tak beradab para peminjam buku. Saya membeli buku dengan uang hasil keringat dan kerja keras, saya merawat dan menjaga buku dengan sepenuh jiwa raga, lalu muncul orang meminjam buku tersebut, dan lama tak dikembalikan. Gilanya, buku itu tidak dibaca, tapi ditaruh begitu saja di rumahnya. Saat saya tagih, ternyata buku itu hilang. Kalau pun tidak hilang, kondisi buku itu sudah lecek dan kumal. Itu kan bangsat!

Oh, saya tahu catatan ini dibaca teman-teman saya di dunia nyata, dan bisa jadi mereka termasuk orang yang kebetulan pernah meminjam buku ke saya. Tapi saya terpaksa menyatakan hal ini dengan jelas dan terus terang, agar masing-masing bisa saling menyadari.

Sebelum masuk inti pembahasan, kita lihat dulu macam-macam peminjam buku. Setidaknya, ada tiga jenis orang yang meminjam buku.

Pertama, orang yang senang membaca, tapi tidak punya kemampuan untuk membeli buku. Mereka adalah orang-orang terpuji, yaitu orang-orang yang memiliki kemauan belajar, meski tidak memiliki kemampuan finansial menunjang. Orang-orang semacam itu biasanya bertanggung jawab pada buku yang dipinjam, karena menyadari bahwa buku adalah jembatan menuju ilmu pengetahuan. Mereka menghormati buku, dan mencintai belajar.

Jadi, mereka pun menjaga buku dengan baik, membaca isinya sampai khatam, dan mengembalikan sebelum ditagih. Jika orang semacam itu datang kepada saya dan berkata ingin meminjam buku, saya akan berkata kepadanya, “Pilihlah buku mana pun yang ada di rumahku, dan pinjamlah sebanyak apa pun kau mau. Bahkan umpama kau datang ke rumahku tengah malam untuk meminjam buku, pintu rumahku terbuka untukmu. Kemuliaan bumi diwariskan untuk orang-orang sepertimu.”

Kedua, orang yang kadang-kadang senang membaca, dan punya kemampuan membeli buku, tapi keberatan mengeluarkan uang untuk membeli buku. Bisa dibilang banyak sekali orang semacam itu. Jadi, mereka kadang suka membaca, khususnya saat ada buku yang booming atau dibicarakan banyak orang. Tetapi, mereka menganggap buku bukan barang penting, sehingga enggan mengeluarkan uang untuk membeli buku. Daripada membeli, mereka lebih suka meminjam.

Jenis kedua ini kadang menjadi peminjam buku yang baik, kadang pula menjadi peminjam buku yang buruk. Bagaimana pun, sejatinya mereka bukan pencinta buku. Dan siapa pun yang bukan pencinta buku tidak akan tahu bagaimana cara menghormati buku. Jadi, ada kemungkinan mereka meminjam buku dan membacanya, lalu mengembalikan sebelum ditagih. Ada kemungkinan pula mereka meminjam buku, tapi tidak dibaca, dan kisah selanjutnya bisa memiliki alur berbeda.

Ketiga, orang yang sebenarnya tidak suka membaca buku, jarang atau tidak pernah membeli buku, tapi sering “gatal” saat melihat buku milik orang lain. Jadi, orang jenis ketiga ini tidak tahu apa-apa soal buku. Tapi, saat dolan ke rumah temannya, dan melihat ada buku yang sampul atau judulnya tampak menggoda, mereka pun gatal, dan meminjam. Jenis ketiga ini bisa menjadi bencana bagi para pencinta buku.

Sering kali, setelah meminjam buku, orang jenis ketiga ini tidak membacanya. Mereka hanya membawa buku itu ke rumahnya, lalu ditaruh atau digeletakkan begitu saja di mana pun, dan kadang-kadang dia lupa. Setelah itu, biasanya lamaaaaa sekali buku itu tidak ada kabarnya. Ketika ditagih, dia baru ingat, lalu mengembalikan buku yang ia pinjam. Dia belum membaca buku itu, meski waktu telah lama berlalu. Dan saat dikembalikan, kondisi buku itu telah kusam dan kumal. Masih untung cuma kusam. Kadang-kadang malah hilang.

Berdasarkan tiga jenis peminjam buku tersebut, kita pun melihat bahwa tidak semua peminjam buku pasti buruk. Ada orang-orang yang meminjam buku semata-mata karena memang ingin membaca, ingin belajar, tapi kebetulan tidak punya kemampuan untuk membeli buku. Kita perlu mendukung dan membantu orang-orang semacam itu.

Karenanya, saat orang semacam itu meminjam buku, saya sama sekali tidak keberatan. Sebaliknya, saya justru senang pada orang-orang semacam itu. Bahkan, saya ingin dia terus meminjam buku, terus membaca dan belajar, agar setidaknya ada satu lagi orang yang terbebas dari belenggu kebodohan. Tuhan dan para malaikat menjadi saksi, saya mencintai dan menghormati orang-orang semacam itu.

Tetapi... untuk jenis kedua dan ketiga, saya sering ragu-ragu. Karenanya, saat orang jenis kedua atau ketiga meminjam buku ke saya, terus terang saya agak keberatan, bahkan sangat keberatan. Berdasarkan pengalaman, saya sering mengalami “luka hati” saat berurusan dengan para peminjam buku jenis kedua dan ketiga.

Berkali-kali, orang semacam itu meminjam buku, dan—sambil menahan keberatan—saya mengizinkan. Saya sudah tahu apa yang akan terjadi dengan buku itu. Setelah mereka meminjam buku, mereka tidak membacanya. Lalu waktu-waktu berlalu. Berbulan-bulan kemudian, saya mulai gelisah, dan menagih. Kadang mereka segera mengembalikan begitu ditagih. Kadang pula tidak juga mengembalikan meski ditagih. Kadang buku yang dikembalikan sudah lusuh. Kadang pula hilang.

Orang-orang jenis kedua dan ketiga tidak memahami bagaimana perasaan seorang pencinta buku terhadap buku. Mereka menganggap buku adalah “benda biasa”, padahal pencinta buku menganggap buku adalah “benda mulia”. Karena mereka menganggap buku sebagai barang biasa, mereka pun memperlakukan buku seenaknya. Waktu meminjam, buku masih bagus. Waktu dikembalikan, buku sudah lusuh.

Meminjam buku adalah hal baik, jika didasari keinginan mulia untuk membaca dan belajar. Tetapi, jika tidak disadari keinginan mulia semacam itu, sebaiknya tidak usah gatal meminjam buku! Karena aktivitas meminjam buku tanpa hasrat belajar lebih sering mendatangkan mudarat daripada manfaat. Contohnya adalah para peminjam buku di perpustakaan umum Alabama, AS.

Di perpustakaan umum, di Amerika maupun di Indonesia, orang bebas meminjam buku secara gratis. Yang diperlukan hanya mendaftar jadi anggota, lalu punya kartu anggota, yang juga tidak dipungut biaya. Setelah itu, orang bebas meminjam buku kapan pun, yang mana pun. Masing-masing peminjaman dibatasi waktu yang rata-rata 1-2 minggu. Jika dalam batas waktu itu ternyata buku belum selesai dibaca, orang bisa memperpanjang waktu pinjaman. Sangat mudah, praktis, dan enak.

Tetapi bahkan telah diberi kemudahan dan kepraktisan semacam itu pun, orang kadang masih seenaknya. Pinjam, lalu berlagak lupa—atau benar-benar lupa—dan tidak juga mengembalikan buku yang dipinjam. Kalau mengembalikan buku saja lupa, hampir bisa dipastikan dia tidak membaca buku yang dipinjamnya. Untuk orang-orang semacam itulah, neraka diciptakan. Sudah diberi kemudahan, masih mempersulit orang yang memberi kemudahan. Dosa apa yang lebih hina dari sikap dan perilaku semacam itu?

Ada pula, orang yang suka meminjamkan kartu perpustakaan miliknya ke orang lain, misal teman atau saudara. Mungkin niatnya bagus, meski kadang hasilnya buruk. Untuk hal semacam itu, Paula Laurita, direktur perpustakaan umum di Alabama, menyatakan, “Saya ingin bertanya, apakah mereka juga akan meminjamkan kartu kredit kepada saudara mereka? Dan ketika harus bertanggung jawab untuk tagihan atas nama mereka, apa yang akan mereka lakukan?”

Masalah buku adalah masalah mental. Setidaknya, itulah kesimpulan yang saya temukan setelah memikirkan urusan ini. Mental kebanyakan orang—yang tidak mengenal buku—menilai dan menganggap buku sebagai barang tidak penting. Itulah akar persoalannya. Karena menganggap buku sebagai barang tidak penting, mereka pun memperlakukan buku seenaknya. Dan, dalam pikiran saya, itulah latar belakang diciptakannya neraka.

Kalau boleh blak-blakan, mental semacam itu adalah mental orang terbelakang, yang seharusnya hidup di zaman kegelapan. Orang-orang semacam itu tidak menyadari bahwa buku adalah benda keramat, tempat peradaban tersimpan, tempat orang-orang mulia menuliskan ilmu pengetahuan, tempat yang mengubah manusia dari zaman kegelapan menuju cahaya.

Karenanya, ketika perpustakaan di Alabama memutuskan untuk memenjarakan para peminjam buku yang seenaknya, saya sangat mendukung keputusan itu. Orang harus mulai belajar cara yang benar dalam menghadapi buku. Manusia harus mulai menyadari bahwa buku bukan barang biasa, bahwa buku adalah harta paling mulia, agar mereka tidak lagi memperlakukan buku seenaknya. Mental semacam itu harus ditanamkan pada mereka, agar terlepas dari bayang-bayang kebodohan abad kegelapan.

Tidak ada yang lebih mulia di muka bumi selain orang yang rela meneteskan keringatnya, yang ikhlas kehilangan waktu tidurnya, yang membiarkan cibiran umat manusia, demi bisa membaca buku, mencintai belajar, dan menuntut ilmu. Surga dan segala keindahannya diciptakan untuk mereka.

Dan tidak ada yang lebih hina di bawah langit selain orang yang meminjam buku tapi tidak membacanya, yang meminjam buku lalu merusakkannya, yang meminjam buku lalu menghilangkannya, yang menganggap buku adalah barang biasa. Neraka dan segala kepedihannya dinyalakan untuk mereka.

Oh, well.

Misteri Kopi Sianida

Jika kita memperhatikan (benar-benar memperhatikan), Jessica tampak sepuluh tahun lebih tua dibandingkan ketika pertama kali ia ditangkap.
—Twitter, 28 Agustus 2016

Kasus kopi sianida ini benar-benar aneh dan misterius. Motifnya tidak jelas, pelakunya tidak jelas, kronologinya kacau, semua bukti mentah.
—Twitter, 28 Agustus 2016

Aku tak pernah yakin Jessica adalah pembunuh Mirna. Mungkin polisi pun begitu. Tapi mereka terbentur kenyataan harus menemukan tersangka.
—Twitter, 28 Agustus 2016

Hingga kini, entah kenapa, aku masih berpikir bahwa Jessica hanyalah orang apes yang terjebak dalam situasi yang salah, di waktu yang salah.
—Twitter, 28 Agustus 2016

Pembunuhan terhadap orang yang dikenal tidak akan terjadi tanpa motif. Dan polisi tidak mampu menemukan motif yang jelas. Bukti juga samar.
—Twitter, 28 Agustus 2016

Tetapi memang tidak pernah ada jaminan bahwa Jessica bukan pelakunya. Bagaimana pun, ada orang-orang keji yang tampak baik dan polos.
—Twitter, 28 Agustus 2016

Mungkin diperlukan Hercule Poirot atau Sherlock Holmes untuk dapat mengungkap “Misteri Kopi Sianida” ini seterang-terangnya.
—Twitter, 28 Agustus 2016

Kenyataannya, mengikuti kasus Jessica seperti membaca kisah Agatha Christie. Beralur rumit, mengecoh, penuh jebakan, dan membingungkan.
—Twitter, 28 Agustus 2016

Bedanya, dalam kasus Jessica, tidak ada Monsiour Hercule Poirot yang akan menjelaskan kepada kita mengenai siapa pembunuhnya.
—Twitter, 28 Agustus 2016


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Burung Dodo, Memang

Saat mencuci gelas di dapur, tiba-tiba aku menyadari sesuatu.

Seusai mengeringkan tangan dengan lap, aku menyulut rokok, dan berpikir, “Burung dodo memang burung dodo.”

Twittermu TOA-mu

Sejak ada Twitter, segala hal, bahkan yang menyangkut ibadah, tampaknya harus diteriakkan dan digembar-gemborkan. #TwittermuTOAmu
—Twitter, 6 Agustus 2016

Bagi sebagian orang di masa kini, sedekah bukan sedekah dan qurban bukan qurban, jika belum menjadi trending topic. #TwittermuTOAmu
—Twitter, 6 Agustus 2016

Aku lebih menghormati orang-orang yang melakukan kebaikan dalam sunyi, daripada mereka yang pamer kebaikan demi diakui. #TwittermuTOAmu
—Twitter, 6 Agustus 2016

Bagi sebagian orang di masa kini, ibadah kepada Tuhan harus dipublikasikan, setidaknya lewat Twitter, agar orang-orang tahu. #TwittermuTOAmu
—Twitter, 6 Agustus 2016

Sejak ada sosial media, ibadah bukan lagi kegiatan sakral dan transendental, tapi sekadar sarana pamer yang artifisial. #TwittermuTOAmu
—Twitter, 6 Agustus 2016

Sebagian orang tampaknya butuh diakui sebagai orang mulia dan beragama, hingga TOA menjadi sesembahan utama. #TwittermuTOAmu
—Twitter, 6 Agustus 2016

Sebagaimana TOA di dunia nyata yang membuat bising, TOA di sosial media juga sama “bising”. Membuat perasaan tidak nyaman. #TwittermuTOAmu
—Twitter, 6 Agustus 2016

Yang bisa menggenggam TOA di dunia nyata, berkoar-koar di dunia nyata. Yang tidak bisa, menggunakan TOA di sosial media. #TwittermuTOAmu
—Twitter, 6 Agustus 2016

Masalah terbesar sebagian orang sepertinya “ingin diakui”. Jadi apa pun dilakukan, diteriakkan, demi bisa mendapat pengakuan. #TwittermuTOAmu
—Twitter, 6 Agustus 2016

Di zaman ketika tren menjadi agama baru, ibadah dan kebaikan pada sesama pun harus dibuat menjadi tren. Itu menggelikan. #TwittermuTOAmu
—Twitter, 6 Agustus 2016


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Senin, 05 September 2016

Orang Penting yang Tidak Penting

Rakyat bayar pajak. Pajak dipakai menggaji pejabat.
Pejabat petentang-petenteng kepada rakyat.
Bahkan Socrates pun pusing mikir pajak.
@noffret


Jalanan macet total. Serombongan mobil melaju cepat di tengah-tengah jalan, dengan mobil pengawal di depan dan di belakang, sementara sirine meraung-raung. Ratusan polisi tampak berdiri di berbagai tempat, mengatur lalu lintas dengan tongkat-tongkat menyala, dengan rompi hijau pupus yang terlihat terang di kegelapan malam.

Sementara mobil-mobil yang tampak penting itu menguasai seluruh jalan raya, para pengendara lain dipaksa menyingkir. Ratusan motor dan mobil berhenti di kanan kiri jalan, berdesakan bersama pengendara sepeda dan lain-lain, untuk memberi jalan bagi mobil-mobil yang tampak penting melaju di tengah jalan dengan lancar.

Saya baru keluar dari toko buku ketika kemacetan yang parah itu terjadi. Sesaat, saya bengong menyaksikan yang sedang terjadi di jalanan. Bagaimana pun, saya juga tidak akan bisa pulang sebelum rombongan orang-orang penting itu habis, hingga jalan raya bisa dipakai kembali.

Karena di dalam toko dilarang merokok, saya pun kemudian duduk di bangku yang ada di samping toko, bersama tukang parkir yang biasa ada di sana. Saya mengeluarkan bungkus rokok, mengambil sebatang, menyulutnya, dan menawari si tukang parkir. Dia mengambil sebatang, mengucap terima kasih, dan menyulut. 

“Sepertinya ada orang-orang penting, ya?” ujar saya membuka percakapan, sambil menatap rombongan mobil yang masih terus menguasai badan jalan.

Si tukang parkir mendengus. “Menurutku, mereka bukan orang-orang penting.”

Tukang parkir di depan toko adalah lelaki berusia 35-an, bertubuh agak kurus tapi berwajah keras. Rambutnya gimbal. Dia sudah biasa melihat saya, karena sering bolak-balik ke sana. Pernah, suatu siang, saya menyaksikannya telanjang dada, dan melihat hampir seluruh tubuhnya dipenuhi tato. Kini, saat duduk di sampingnya, saya mencium bau minuman keras menguar dari tubuhnya.

“Kenapa menurutmu mereka bukan orang-orang penting?” saya bertanya.

Dia menyahut, “Mereka menjadi penting, karena orang-orang tolol seperti kita menganggap mereka penting!”

“Tapi menurutmu, mereka bukan orang-orang penting?”

“Ya. Apa pentingnya mereka, coba? Mungkin mereka pejabat atau apalah. Dan apa artinya pejabat? Mereka hanya orang-orang yang kita bayar untuk mengurusi kepentingan kita. Mereka hidup dari pajak kita, mereka makan dari uang kita, mereka bahkan menjadi kaya karena keringat kita. Apa pentingnya orang-orang semacam itu? Mereka sebenarnya babu! Tapi kita semua terlalu tolol untuk menyadari kenyataan itu.”

“Sebenarnya, aku sependapat denganmu.”

Dia tersenyum. Mengisap rokoknya sesaat, kemudian berkata serius, “Aku sering bingung setiap melihat rombongan orang-orang semacam itu. Seperti yang kubilang tadi, mereka mungkin pejabat atau apalah. Mereka kita pilih untuk mewakili kita, untuk mengurusi kepentingan kita. Untuk hal itu, kita pun membayar mereka melalui pajak yang kita serahkan pada negara. Artinya, kita membayar mereka, kan?”

“Benar.”

“Jadi, kenapa orang-orang yang kita bayar itu menjadi penting? Bagiku mereka sama sekali tidak penting! Kitalah yang penting. Kitalah yang memilih mereka, yang membayar mereka, yang menghidupi mereka. Kenapa kita malah menganggap mereka penting?”

Dia mengisap rokok, dan melanjutkan, “Aku tidak pernah menganggap pejabat atau semacamnya sebagai orang penting. Mereka yang hidup dari pajak rakyat hanyalah babu rakyat!”

Saya menyahut, “Tapi sayangnya tidak setiap orang berpikir sepertimu.”

“Itulah masalahnya,” dia mengangguk. “Terlalu banyak orang tolol yang menilai diri mereka sangat rendah. Sampai-sampai mereka menganggap babu-babu mereka begitu tinggi, begitu penting. Akibatnya seperti ini. Ketika babu-babu itu akan keluyuran, mereka harus diberi jalan, bahkan dikawal, dan kita disuruh menyingkir. Padahal kitalah yang membayari mereka, dan menghidupi mereka. Kenapa justru kita yang disuruh menyingkir?”

Dia menampakkan wajah muak, dan kembali melanjutkan, “Aku tak habis pikir dengan negeri ini. Rakyat memeras keringat untuk membiayai para wakilnya, dan para wakil yang disebut pejabat itu justru mempersulit urusan rakyat. Rakyat membelikan seragam dan senjata bagi para pembela negara, dan para pembela negara justru menggunakan seragam dan senjatanya untuk menindas rakyat. Rakyat membayari kepolisian agar tercipta keamanan, tapi para polisi justru menimbulkan ketakutan. Aku tak habis pikir dengan negeri ini. Rakyat berjibaku, bekerja keras demi orang-orang itu, kemudian orang-orang itu justru menganggap diri mereka lebih penting dari rakyat! Bah!”

Dia meludah ke tanah.

Saya mengisap rokok, dan berkata, “Masalahnya, mungkin, karena rakyat tidak sadar bahwa mereka lebih penting dari orang-orang yang mereka anggap penting itu.”

“Betul! Makanya, seperti kubilang tadi, rakyat mungkin terlalu rendah menilai diri sendiri, sehingga mereka pun menilai para wakilnya sebegitu tinggi. Kalau kita membayar dan menghidupi sekelompok orang untuk membantu kita, mereka hanyalah abdi! Mungkin mereka memang penting, tapi bagaimana pun kita tidak bisa menganggap mereka lebih penting dari kita, sebagaimana mereka seharusnya tidak menganggap lebih penting dari kita!”

Saya mengangguk, dan teringat pemandangan di Inggris. Perdana Menteri Inggris, David Cameron, sering naik trem untuk berangkat atau pulang kantor. Saat naik trem, kadang tempat duduk sudah penuh, dan si Perdana Menteri akan berdiri. Meski dia pejabat tinggi, dia tidak menunjukkan sikap bahwa dia lebih penting dari orang lain. Saat tempat duduk sudah penuh, dia tidak meminta orang lain menyingkir. Jadi, dia pun berdiri di sisi trem, biasanya sambil mengempit koran, dan orang-orang di sana menganggap itu hal biasa.

Ketika saya menceritakan hal itu pada si tukang parkir yang mengobrol dengan saya, dia menyahut, “Seperti itulah seharusnya kita memperlakukan orang-orang yang kita sebut pejabat, dan seperti itulah seharusnya para pejabat bersikap!”

“Bukan seperti mereka?” ujar saya sambil menunjuk rombongan mobil di jalan raya.

“Bukan seperti mereka!” dia menyahut. “Juga bukan seperti orang-orang yang rela disingkirkan untuk berdesak-desakan di pinggir jalan!”

“Masalahnya mungkin soal mental, ya,” ujar saya. “Mental rakyat negeri ini belum mampu menganggap pejabat sebagai abdi mereka, sehingga sikap mereka justru menghamba pada pejabat. Sebaliknya, mental pejabat negeri ini belum mampu menganggap mereka hanyalah abdi rakyat, sehingga sikap mereka justru merasa lebih penting dari rakyat.”

“Betul. Betul ucapanmu.” Dia mengangguk-angguk senang. “Jangankan pejabat yang mungkin punya jabatan tinggi, bahkan pejabat kelas rendahan saja kebanyakan sudah sangat sok! Kondisi itu tentunya terjadi karena mental yang sama-sama rusak—baik pejabatnya, maupun rakyatnya! Akibatnya, seperti inilah yang terjadi. Para pejabat mau lewat saja, jalan ditutup, dan kita harus menyingkir. Ini kan kebalik! Seharusnya, kita mau lewat, para pejabat yang menyingkir!”

Saya tersenyum. “Tapi kalau begitu, nanti tidak ada yang mau jadi pejabat?”

Dia menyahut, “Justru itulah kondisi paling ideal dalam suatu negara—ketika orang-orang tidak berambisi menjadi pejabat! Yang menjadikan negara rusak, karena para pejabat berambisi menjadi pejabat, dan mereka melakukan segala cara untuk meraihnya! Seharusnya, kita memilih orang-orang yang tidak ingin menjadi pejabat! Agar ketika mereka menjadi pejabat, mereka menerima jabatannya sebagai amanat dan tanggung jawab, bukan sebagai kesempatan mumpung jadi pejabat!”

Saya terdiam. Tukang parkir ini rupanya lebih pintar dari yang saya duga. Dan diam-diam saya teringat pada ucapan orang bijak seribu lima ratus tahun lalu, yang menyatakan, “Jika orang-orang yang tidak memiliki kemampuan memimpin dipilih menjadi pemimpin, maka rusaklah suatu kaum.”

“Jadi,” ujar saya perlahan-lahan sambil menunjuk rombongan di jalan, “mereka sama sekali tidak penting, ya?”

Si tukang parkir mengangguk. “Mereka sama sekali tidak penting!”

Filsuf dan Bocah Gila

Seorang bocah menemui filsuf, dan bertanya, “Tuan Filsuf, sebagai bocah yang masih awam tentang wanita, siapakah yang seharusnya paling saya sayangi?”

Mbakyumu, Nak,” jawab sang Filsuf.

“Selain itu, Tuan?”

Mbakyumu.”

“Selainnya lagi?”

Mbakyumu.”

“Uhm... selainnya lagi, Tuan?”

“Wanita lainnya.”

....
....

Setelah itu, si bocah sibuk menyayangi wanita lainnya.

Won Membetulkan Kabel

Won membetulkan kabel, karena dia berpikir alam semesta akan mengalami kekacauan di tingkat kosmos jika dia tidak membetulkan kabel. Karenanya, Won bangkit dari tempat duduknya, melangkah tertatih, untuk membetulkan kabel yang perlu dibetulkan—atau yang ia pikir perlu dibetulkan. Dan Won membetulkan kabel sampai dia kehabisan waktu, dan tak pernah bisa lagi membetulkan kabel.

Won harus membetulkan kabel, tapi dunia mungkin belum utuh memahaminya.

Kamis, 01 September 2016

Tangis di Surga

Aku rindu... rindu... rindu... senyumku yang dulu.
@noffret


Percakapan selintas bisa mengubah pikiran kita, peristiwa sederhana bisa mengubah hidup kita. Setidaknya, itulah yang sering saya alami. Banyak hal besar dalam hidup saya diawali oleh hal-hal kecil. Pelajaran-pelajaran besar yang pernah saya terima dalam hidup, sering kali berbentuk peristiwa-peristiwa kecil, yang biasa dan sederhana, dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti seminggu yang lalu, ketika saya bertemu seorang perempuan sederhana, dan—tanpa diketahui siapa pun—perempuan itu telah mengubah pikiran, hati, dan hidup saya.

Kisah ini diawali suatu siang, seminggu yang lalu. Hari itu, saya harus keluar rumah untuk membeli barang-barang yang saya butuhkan sehari-hari, mencakup teh, gula, kopi, rokok, dan hal-hal semacamnya. Kegiatan itu saya lakukan sebulan sekali, dan jumlah barang yang saya beli sebanyak kebutuhan dalam sebulan. Jadi, saya membeli gula untuk sebulan, membeli teh dan kopi untuk sebulan, membeli rokok untuk sebulan, begitu pula barang-barang lain.

Untuk keperluan tersebut, saya biasa mendatangi tempat perkulakan (bukan swalayan modern), yang selama ini telah menjadi langganan saya berbelanja. Setiap ke sana, saya sudah menyiapkan kertas berisi catatan barang-barang yang dibutuhkan. Jadi, sesampai di sana, saya tinggal menyerahkan kertas itu, membayar, dan pelayan akan membawakan barang-barang yang saya pesan. Karena belanja untuk satu bulan, tentu jumlah belanjaan saya cukup banyak. Biasanya pula, pelayan akan mengemas semua barang itu dalam kardus.

Meski rutin melakukannya setiap bulan, terus terang saya selalu malas setiap kali berbelanja. Pertama, karena saya harus keluar rumah. Keluar rumah artinya harus menghadapi panas, macet, asap kendaraan dan debu jalanan, serta hal-hal lain yang bisa membuat saya marah—misalnya ABG yang naik motor seenaknya. Kalau saja bisa, saya tidak ingin keluar rumah sama sekali, apalagi di siang hari.

Kedua, selama berada di tempat perkulakan, saya harus menunggu cukup lama, karena di sana juga banyak pembeli—biasanya para pedagang atau pemilik toko/warung kecil, yang sedang kulakan barang untuk dijual kembali. Tidak jarang, di sana saya kehabisan bangku, sehingga harus menunggu sambil berdiri. Itu pun masih ditambah dengan suasana ruangan yang panas. Pendeknya, kalau saja bisa, saya tidak ingin keluar rumah!

Setiap kali saya masuk rumah setelah berpanas-panas di jalan, saya merasa sedang masuk surga setelah terbakar di neraka.

Oh, mungkin ilustrasi itu terdengar berlebihan. Tapi kira-kira seperti itulah yang saya rasakan. Bagi saya, segala hal yang ada di luar rumah adalah kontradiksi dari segala hal yang ada di dalam rumah. Di luar rumah panas, macet, penuh debu, dan polusi. Di dalam rumah adem, tenang, hening, dan damai. Di luar rumah, saya tidak bebas melakukan apa pun. Di dalam rumah, saya bisa melakukan apa pun dengan mudah.

Karena itu pula, saya sengaja berbelanja sebulan sekali, agar tidak sering-sering keluar rumah hanya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Saya lebih senang berada di dalam rumah. Duduk tenang, mengerjakan hal-hal yang perlu dikerjakan, dalam suasana adem, hening, dan—kalau capek—saya bisa berbaring di sofa atau tempat tidur kapan pun. Mau minum, tinggal bikin. Mau ngemil, tinggal ambil. Mau merokok, tinggal menyulut. Mau apa pun, semuanya mudah, dan berlimpah.

Dalam hidup, terus terang, saya memang sangat “memanjakan diri”, khususnya dalam hal-hal yang terkait kebutuhan sehari-hari. Saya benci merasa “kekurangan”, karena sejak kecil telah hidup serba kekurangan. Saya benci jika harus susah payah untuk mendapatkan sesuatu, karena sejak kecil telah disiksa perasaan semacam itu. Saya benci merasa susah dan kesulitan, karena sejak kecil telah dipaksa menjalani kesusahan dan kesulitan.

Lama-lama, kebiasaan “memanjakan diri” yang saya jalani menumbuhkan sifat buruk dalam diri saya, yaitu tidak sabaran dan mudah memaki. Saat menghadapi sesuatu yang tidak enak, saya cepat kehilangan kesabaran, lalu marah. Saat menghadapi hal menjengkelkan, saya mudah memaki. Padahal, dalam hidup—setidaknya dalam kehidupan sehari-hari—selalu ada hal-hal semacam itu, yang tidak enak, yang menjengkelkan. Akibatnya, saya marah dan memaki setiap hari.

Seperti keluar rumah, untuk belanja, atau untuk mencari makan. Setiap kali keluar rumah, hampir bisa dipastikan saya akan marah dan memaki, meski dalam hati. Menghadapi panas dan macet, saya marah. Melihat ABG naik motor pecicilan, saya memaki. Menemukan hal-hal tak beres sedikit, saya jengkel. Dan itu, tanpa saya sadari, perlahan-lahan menghilangkan senyum dari wajah saya.

Semua yang saya paparkan ini, sebelumnya tidak pernah saya sadari. Jadi, selama ini, saya menjalani kehidupan sebagaimana yang saya gambarkan tadi—mudah marah, mudah memaki, mudah kehilangan kesabaran, karena terbiasa menjalani kehidupan yang serba enak dan nyaman. Karena terbiasa enak dan nyaman, saya pun mudah marah oleh hal-hal yang mengganggu dan menjengkelkan, meski mungkin kecil dan sepele.

Kenyataan itu baru saya sadari seminggu yang lalu, saat berada di tempat perkulakan, untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari, sebagai bekal hidup sebulan ke depan.

Jadi, siang itu, saya duduk di salah satu bangku di sana, menunggu pelayan mengumpulkan barang-barang yang saya pesan. Seperti biasa, barang-barang itu ditumpuk di dekat saya duduk—tumpukan teh, tumpukan kopi, tumpukan rokok, dan tumpukan lain. Saya menunggu semua itu sambil merokok sendirian.

Tiba-tiba, seorang wanita mendekat ke tempat saya duduk. Usianya mungkin antara 25-30 tahun. Wanita itu membawa beberapa renteng sachet minuman bubuk, dan ia menawari saya untuk mencoba (maksudnya membeli) minuman bubuk tersebut. “Murah, Mas,” ucapnya. “Ini harganya seribu rupiah per sachet, tapi kalau di warung eceran harganya seribu dua ratus.”

Karena saya tidak biasa mengonsumsi minuman bubuk yang ditawarkannya, saya pun menjawab, “Maaf, Mbak, saya tidak biasa mengonsumsi minuman itu.”

“Kan, bisa dicoba, Mas, siapa tahu bisa laku,” sahutnya.

Selama sedetik, saya kebingungan memahami maksud ucapannya. Tetapi, sedetik kemudian, saya segera menyadari apa yang terjadi. Wanita itu memakai seragam yang bagian dadanya terdapat tulisan merek minuman bubuk yang ia tawarkan. Jadi, dia sales produk tersebut, yang sedang mencari calon pelanggan di tempat perkulakan.

Mungkin, karena melihat barang belanjaan saya yang banyak, wanita itu mengira saya sedang kulakan untuk dijual kembali di toko atau di warung, dan dia berharap saya mau membeli minuman bubuk yang ditawarkannya, untuk saya jual kembali.

Setelah menyadari kenyataan itu, saya pun berkata dengan serba salah, “Mbak, saya tidak kulakan untuk warung. Ini saya belanja untuk kebutuhan sendiri.”

Wanita itu tampak kebingungan, tapi kemudian—dengan sedikit salah tingkah—dia pergi meninggalkan saya, tanpa mengucapkan apa-apa. Setelah itu, saya melihatnya berdiri di sudut lain, masih memegangi tumpukan sachet minuman bubuk yang tadi ia tawarkan kepada saya.

Karena telah sering datang ke tempat kulakan tersebut, saya tahu wanita tadi bukan pelayan di sana. Kemungkinan besar, dia sales perusahaan minuman bubuk yang ditugaskan mencari calon pelanggan di tempat kulakan. Kenyataannya, tidak lama kemudian, dia terlihat mendekati pembeli lain di tempat itu, dan kembali menawarkan sachet minuman bubuk yang tadi ia tawarkan pada saya. Selama beberapa saat, mereka tampak bercakap-cakap, lalu sales wanita itu kembali pergi ke sudut lain, dan berdiri sendirian.

Mungkin dia telah melakukan kegiatan itu sejak pagi—sebelum saya datang ke sana—dan mungkin akan terus melakukannya sampai nanti sore, saat tempat perkulakan tutup. Bisa jadi, dia juga melakukan kegiatan itu setiap hari. Datang ke tempat perkulakan sendirian, berdiri di salah satu sudut, mencari orang yang tepat, mencoba menawarkan barang dagangannya, berharap menemukan calon pelanggan, berharap mendapatkan rezeki.

Saat barang-barang belanjaan saya telah dikemas dalam dus, saya pun membawanya keluar dari tempat perkulakan itu. Saat melangkah keluar, saya melewati wanita tadi—sedang berdiri diam, dengan tumpukan sachet minuman bubuk di tangan. Sebenarnya, saya ingin menyapa atau sekadar pamit, tapi dia menundukkan muka, dan saya bingung. Jadi, saya pun melewatinya dengan diam.

Selama perjalanan pulang, bayangan wanita itu tidak juga lepas dari pikiran saya. Bahkan saat saya sampai di rumah, dan kembali menikmati suasana adem yang hening seperti biasa, bayangan wanita tadi masih terus menari-nari dalam ingatan. Saya benar-benar tak bisa melupakannya—seragamnya, wajahnya, sikapnya, ekspresinya, bahkan ucapannya, kata demi kata.

Betapa hidup bisa mengubah manusia, pikir saya dengan getir, sendirian.

Bertahun-tahun lalu, saya menjalani kehidupan yang amat pahit, susah, didera luka, sengsara, dan penuh penderitaan. Saya tidak bangga dengan hal itu. Sebaliknya, saya kerap membenci setiap kali teringat. Karena itu pulalah, ketika kini kehidupan saya berubah, saya pun “memanjakan diri” dengan kehidupan yang saya inginkan—tenang, nyaman, berkelimpahan, tanpa kekurangan apa pun.

Kini, kehidupan saya jauh lebih menyenangkan daripada kehidupan saya sepuluh tahun lalu. Saya membangun surga untuk diri saya sendiri, dan dalam surga itu saya tidak kekurangan apa pun. Sebegitu nyaman kehidupan yang saya jalani, hingga saya lupa... di luar sana ada banyak orang yang tidak seberuntung saya. Sebegitu nyaman surga yang saya huni, hingga saya lupa... bertahun lalu saya berkubang di neraka.

Dan wanita yang saya jumpai di tempat perkulakan tadi—tanpa disadarinya—telah menyadarkan diri saya. Sosoknya adalah sosok saya bertahun lalu, yang harus mengerjakan sesuatu yang berat, sulit, namun harus dilakukan, demi bisa menyambung hidup. Sosoknya adalah sosok saya bertahun lalu, yang harus melawan diri sendiri demi mendapat secuil rezeki, demi bisa melewati hari demi hari.

Tiba-tiba saya malu pada diri sendiri. Betapa kini saya mudah marah oleh hal-hal kecil, betapa kini saya mudah memaki karena hal-hal sepele. Betapa kini saya telah berubah jauh dari saya yang dulu, betapa kini saya terlalu manja hingga tak mau menghadapi apa pun yang sedikit berat, sedikit sulit, atau sedikit menjengkelkan.

Saya lupa, bahwa dulu saya memiliki semua kemampuan itu—kemampuan untuk diam menahan kesulitan, kemampuan untuk bersabar menghadapi kesusahan, kemampuan untuk tabah menghadapi penderitaan, kemampuan untuk menyembuhkan diri setiap kali terluka. Semua kemampuan itu kini telah hilang.... Kesenangan, kemanjaan, dan keberlimpahan, telah mengubah pribadi saya menjadi sosok yang bahkan tak lagi saya kenali.

Siang itu, sendirian di rumah yang hening, tiba-tiba saya tak kuasa menahan air mata yang mengalir. Dan dalam tangis itu, diam-diam saya berdoa, semoga wanita yang saya temui di tempat perkulakan tadi—dan wanita-wanita sesamanya di bawah langit—selalu diberkati kemampuan untuk bertahan, selalu dikaruniai hati dan pikiran yang lapang, selalu dilimpahi rezeki dan kehidupan yang lebih baik.

Penelitian Sampah tentang Rokok

Piye...? Akhirnya ketahuan ya, kalau penelitian soal harga rokok 50 ribu itu cuma sampah? Dalam istilah keren, itu disebut “junk science”.
—Twitter, 24 Agustus 2016

Junk science lebih parah dari pseudo science. Pseudo science cuma “seolah-olah ilmiah”. Junk science “sama sekali tidak ilmiah”.
—Twitter, 24 Agustus 2016

Kenapa orang bikin pseudo science? Biasanya karena ketidaktahuan. Kenapa orang bikin junk science? Biasanya karena uang dan bayaran.
—Twitter, 24 Agustus 2016

Hampir semua “penelitian ilmiah” yang dipesan/didanai sponsor bisa dipastikan cuma sampah (junk science) yang sama sekali tidak ilmiah.
—Twitter, 24 Agustus 2016

Orang tidak akan mungkin menemukan hasil penelitian yang bertentangan dengan pihak yang mendanai penelitiannya. Itulah awal junk science.
—Twitter, 24 Agustus 2016

Bloomberg sudah terkenal antirokok. Siapa pun orang yang mereka danai untuk melakukan penelitian, hasilnya pasti sesuai visi Bloomberg.
—Twitter, 24 Agustus 2016

Bagaimana pun, kita sulit percaya “hasil penelitian” apa pun yang sesuai visi pihak yang mendanai penelitian, karena itu jelas sampah!
—Twitter, 24 Agustus 2016

Seorang perokok berat pun bisa jadi menghasilkan “penelitian ilmiah” soal bahaya rokok, kalau didanai/dibayar sekian juta dollar untuk itu.
—Twitter, 24 Agustus 2016

Jadi, apakah rokok memang berbahaya? Jawabannya tergantung. Tergantung siapa yang bertanya, dan tergantung berapa juta dollar bayarannya.
—Twitter, 24 Agustus 2016


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.
 

Hanya Dua Orang

Hanya dibutuhkan dua orang, Magneto dan Mystique, untuk membuat semesta X-Men mengalami kekacauan luar biasa. Aku rela menukar semua yang kumiliki saat ini, demi bisa memiliki kekuatan mereka.

Jika aku bisa memiliki kekuatan dua orang itu, aku bersumpah akan membuat dunia menjadi tempat yang tak pernah lagi sama.

 
;