Rabu, 20 Mei 2020

Sejati

Jangan pernah tertipu oleh label harga. 
Harga yang sejati tak pernah terlihat. 


Firdan mestinya menikah, setelah lebaran tahun ini. Namun rencana itu bisa jadi batal, atau diundur, karena ada wabah corona. Dia maupun calon istrinya saat ini masih menunggu perkembangan. Keluarga Firdan dan keluarga calon istrinya juga sudah membicarakan kemungkinan mundurnya rencana pernikahan putra-putri mereka, dan sama-sama berharap wabah corona segera berlalu.

Saat kami bercakap-cakap, saya bertanya pada Firdan, “Bagaimana kamu bisa mantap akan menikah dengan wanita ini—calon istrimu?”

Firdan tersenyum. “Karena aku tahu cinta yang kurasakan, sebagaimana cintanya kepadaku, adalah cinta sejati,” jawabnya.

“Dan bagaimana kamu tahu itu cinta sejati?”

“Sederhana saja,” sahut Firdan, “saat seseorang mencintaimu, semata karena jatuh cinta kepadamu.”

Kisah Firdan ini menarik—bukan cuma pertemuannya dengan wanita yang akan dinikahinya, tapi juga kisah kehidupannya.

Firdan berasal dari keluarga kelas menengah. Orang tuanya punya usaha yang memungkinkan mereka menikmati kehidupan relatif tenang dan mapan. Belakangan, Firdan juga membangun usaha sendiri, yang membuatnya sukses. Skala usahanya bahkan lebih besar dibanding orang tuanya. Karenanya, dia membangun rumah mewah, dan mengendarai mobil mahal, khas anak muda kaya-raya.

Suatu hari, usaha orang tua Firdan bangkrut, akibat manajemen yang buruk. Kondisi tersebut berdampak pada ayah Firdan, yang lalu jatuh sakit. Singkat cerita, hal itu menjadikan usaha orang tua Firdan benar-benar mandeg.

Kenyataan itu memberi pelajaran penting kepada Firdan mengenai manajemen keuangan, sekaligus gaya hidup. Orang tua Firdan tipe tradisional yang menjalani hidup dengan filosofi “jalani saja, seperti air mengalir”. Kasarnya, menjalani hidup tanpa persiapan atau antisipasi jika hal buruk terjadi. Dalam contoh mudah, mereka tidak punya asuransi, atau persiapan khusus jika sewaktu-waktu butuh biaya besar dan mendadak. Akibatnya, ketika hal buruk terjadi, mereka kalang kabut.

Bertahun lalu, ketika menunggui ayahnya terbaring di rumah sakit, Firdan merenung sendirian. Kebangkrutan usaha orang tuanya, dan ayahnya yang kemudian jatuh sakit, adalah hantaman keras, yang tak pernah dipikirkannya. Untung, waktu itu, Firdan sudah punya usaha sendiri, sehingga bisa ikut menopang ekonomi keluarganya. Firdan pula yang kemudian membiayai kuliah adik-adiknya.

Belakangan, peristiwa itu memotivasi Firdan untuk belajar manajemen keuangan, persiapan menghadapi hal buruk yang mungkin terjadi, sampai ia menemukan kesadaran yang tak terduga. Dari buku-buku manajemen yang ia baca, hal penting yang mengubah kehidupan sekaligus gaya hidupnya adalah pelajaran tentang “aset dan liabilitas”.

Segala yang kita miliki dalam hidup—dari rumah, kendaraan, pakaian, gadget, sampai segala macam—pasti terbagi dalam dua hal itu; aset atau liabilitas. Jika suatu barang bukan aset, ia pasti liabilitas. Aset memberikan keuntungan, langsung maupun tak langsung, sementara liabilitas adalah beban. Aset adalah hal-hal yang kita miliki karena kebutuhan. Sementara liabilitas adalah hal-hal yang kita miliki karena keinginan; biasanya keinginan untuk pamer.

Ini adalah pelajaran penting yang dikuasai orang-orang kaya, tapi tidak dipahami orang-orang miskin dan kelas menengah! Ini pula yang menjadikan orang kaya terus bertambah kaya, sementara orang miskin dan kelas menengah hanya berputar dalam lingkaran yang tak pernah usai.

Firdan tercengang ketika pertama kali mendapati pengetahuan soal ini, dan mulai memahami kenapa orang tuanya bisa bangkrut nyaris seketika. Kenyataan serupa sebenarnya juga terjadi pada jutaan kelas menengah lain, yang sama-sama tidak memahami perbedaan antara aset dan liabilitas.

Lalu Firdan memikirkan rumahnya yang mewah, dan mobilnya yang mahal, serta aneka hal lain yang dimilikinya. Ia menimbang dan memutuskan, apakah rumah, mobil, serta aneka hal lain itu aset baginya... atau cuma liabilitas?

Ia hidup sendirian, dan sebenarnya tinggal di rumah sederhana tidak masalah baginya. Ia juga jarang bepergian, dan kalau pun naik motor sama sekali bukan masalah untuknya.

Dia lalu menyimpulkan, rumah dan mobil miliknya sebenarnya liabilitas, bukan aset. Rumah dan mobil itu hanya menjadi beban, tapi tidak memberi keuntungan riil. Rumah mewah membutuhkan perawatan yang mahal, pajak yang mahal, sebagaimana perawatan dan pajak mobilnya yang sama-sama mahal. Biaya yang ia keluarkan untuk rumah dan mobil tidak menghasilkan manfaat yang sama besar—selain sekadar prestise, tentu saja.

Kesadaran itu mendorong Firdan melakukan tindakan drastis; ia menjual rumah dan mobilnya, lalu pindah ke rumah sederhana, dan mulai naik motor ke mana-mana. Tidak ada lagi atribut kekayaan, tidak ada lagi penampilan mewah. Berdasarkan pengakuannya sendiri, Firdan sama sekali tidak masalah menjalani hidup sederhana semacam itu, karena “pada dasarnya, aku memang orang sederhana”.

Lalu ke mana uang dari penjualan rumah dan mobilnya? Ia masukkan ke dalam investasi. Kali ini, uang itu menjadi aset baginya—bukan liabilitas—karena memberikan keuntungan riil. Tanpa rumah mewah dan mobil mahal, Firdan tidak lagi harus mengeluarkan biaya perawatan dan pajak yang mahal. Sebaliknya, ia mendapat keuntungan dari uang yang ia miliki. Itulah kekayaan sesungguhnya! Bukan yang tampak, tapi justru yang tak tampak!

Setelah memulai kehidupan sederhana, Firdan tetap melanjutkan usahanya seperti biasa. Dia terus mengumpulkan keuntungan. Tapi kali ini tidak lagi ia gunakan untuk bermewah-mewah atau memanjakan keinginan hedon ala anak muda. Sebaliknya, ia masukkan keuntungan usahanya ke dalam investasi. “Hidupku masih panjang,” katanya, “dan aku tidak tahu apa yang ada di depan. Yang bisa kulakukan sekarang adalah persiapan.”

Sejak itu, Firdan yang lama seperti berganti dengan Firdan yang baru. Tidak lagi glamor dan mewah, tapi sederhana dan bersahaja. Ponsel yang biasa ia gunakan juga tergolong biasa, bukan ponsel mahal ala anak kekinian.

“Yang penting bisa memenuhi kebutuhanku,” ujarnya. Dan itu pula yang menjadi filosofinya kemudian. Ia sudah bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Dari luar, Firdan tampak seperti orang biasa yang sederhana, dengan usaha sederhana, biasa berpenampilan dan menjalani hidup sederhana, tapi aslinya sangat kaya. Sekali lagi, itulah kekayaan sesungguhnya—bukan hal-hal yang tampak, tapi justru yang tak tampak.

Secara pribadi, Firdan benar-benar menikmati kehidupannya sekarang, yang sederhana dan bersahaja, seperti umumnya orang-orang. Tetapi, ternyata, perubahan drastis itu menghadapkan Firdan pada hal-hal yang sama sekali tidak pernah ia duga.

“Sejak itu, jumlah kawanku berkurang drastis,” ujarnya dulu, saat menceritakan. “Sepertinya mereka mengira aku bangkrut, atau jatuh miskin.”

Lebih lanjut, ia mengatakan, “Semula aku tidak paham. Tapi perlahan namun pasti, aku makin menyadari kalau mereka memang menjauh dariku. Teman-teman yang biasa asyik, tiba-tiba berubah, dan mulai sulit diajak ketemuan atau kumpul-kumpul seperti sebelumnya. Beberapa teman yang semula rajin kirim SMS, tiba-tiba tidak lagi, bahkan SMS-ku sering tidak dibalas. Mereka yang semula sikapnya sangat baik, tiba-tiba tampak merendahkanku.”

Kemudian, dengan nada sedih, Firdan menyatakan, “Sepertinya, gaya hidupku yang sekarang tidak cocok bagi mereka.”

Waktu itu, saya mencoba membesarkan hatinya, “Setidaknya, sekarang, kamu tahu mana teman yang sejati, dan mana yang bukan.”

Waktu-waktu berlalu, dan Firdan konsisten menjalani kehidupannya yang bersahaja, bahkan menikmatinya. Ia mendapat teman-teman baru, kenalan baru, dan menjalani persahabatan baru. Bahkan, belakangan, seorang perempuan yang membuatnya jatuh cinta.

“Dia tidak tahu siapa aku sebenarnya,” ujar Firdan menceritakan perempuan itu. “Dia hanya tahu aku orang sederhana, dengan usaha ala kadarnya, dengan penghasilan yang tak seberapa. Aku jatuh cinta kepadanya, dan dia mau menerimaku. Kalau kamu menempati posisiku, kamu akan tahu bahwa perempuan itu benar-benar tulus mencintaimu.”

Saya memahami maksud Firdan sepenuhnya.

“Karena itulah, aku mantap ingin menikahinya, karena meyakini telah menemukan cinta sejati,” ujar Firdan, “seseorang yang mencintaimu, ketika kamu bukan siapa-siapa.”

Berbuka dengan Putih-putih

Barusan berbuka dengan putih-puttiiiiiih. Apppeeeuuhh...? Maksudnya berbuka dengan bakpau.

Berbuka dengan putih-putih membuatku mikir. Banyak orang di kampung-kampung—termasuk orang tuaku—yang kurang mendapat informasi mengenai virus corona. Dan tak lama lagi mereka akan menghadapi lebaran atau Idul Fitri, dan akan terjadi interaksi dalam skala besar di mana-mana.

Mereka akan salat Id di masjid-masjid yang melibatkan ribuan orang, mereka juga akan "bersilaturrahmi" seperti umumnya saat lebaran, dan bertemu banyak orang yang berasal dari mana pun. Si A akan bertemu dengan Si B, dan Si B telah bertemu dengan Si C, dan begitu seterusnya.

Si A mungkin tidak pernah bertemu dengan Si Z (yang bisa jadi terinfeksi corona). Tetapi, melalui perantaraan "silaturrahmi", bisa saja Si A tertular Si Z. Sementara mereka—orang-orang kampung, termasuk orang tuaku—tidak pernah menyadari kenyataan/kemungkinan semacam itu.

Well, sebenarnya aku sudah bertekad untuk "puasa ngoceh" selama Ramadan ini. Tapi yang kupikirkan saat ini sepertinya harus kuocehkan sekarang. Jadi, sambil menunggu bakpau di piring habis, sepertinya aku harus ngoceh.

Ngoceh sambil menikmati putih-putiiiiiiiihh. Appeeuuuuuh...

Sekitar 1 bulan sebelum Ramadan, adikku pulang—itu masa ketika Jakarta tengah genting dihantam corona. Aku menjemputnya ke stasiun, dan langsung membawanya ke rumahnya sendiri. Aku minta dia mengkarantina-diri sampai setengah bulan ke depan. Semua kebutuhannya sudah kusiapkan.

Adikku setuju—dia juga menyadari pentingnya melakukan karantina-diri. Sejak itu dia tinggal di rumahnya sendiri. Tapi aku masih punya tugas penting; memastikan orang tuaku tidak menemuinya. Jadi, aku berusaha menjelaskan bahwa adikku perlu karantina-diri, dan jangan ditemui dulu.

Tugas yang mungkin terdengar mudah itu nyatanya sangat berat. Aku harus melakukan "presentasi" berjam-jam—menggunakan bahasa awam—agar ibuku memahami kenapa adikku harus melakukan karantina diri, dan kenapa dia belum boleh ditemui. Kami bahkan hampir bertengkar gara-gara itu.

Ibuku, seperti umumnya ibu-ibu lain, nonton teve seharian, bahkan sampai malam. Tapi dia tidak tahu virus corona! Dan kalau pun tahu—berdasarkan ocehan penyiar teve yang mungkin didengarnya—dia tidak memahami bahwa virus itu bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anaknya!

Bisa memahami yang kurisaukan?

Ada banyak orang seperti ibuku—orang-orang kampung sederhana, yang kurang mampu memahami/mencerna informasi, dan bisa jadi mereka berpikir bahwa "semua hal buruk (termasuk virus corona) hanya terjadi pada orang-orang yang jauh di luar sana".

Dan tak lama lagi, saat lebaran tiba, orang-orang kampung sederhana itu akan bertemu dengan banyak orang lain, dari mana saja, atas alasan "silaturrahmi". Si A akan bertemu Si B, dan Si B ketemu Si C, dan begitu seterusnya, sampai Si Z. Dari A sampai Z, segala hal bisa terjadi.

Itulah kenapa, setengah bulan yang lalu, aku menulis tweet ini; bahwa yang perlu dilarang sebenarnya bukan hanya mudik, tapi juga lainnya—hal-hal yang terkait kumpul-kumpul ala lebaran. Tapi kalau pun ada larangan, siapa juga yang menjamin semua akan taat?

Yang perlu dilarang sebenarnya bukan cuma mudik, tapi semuanya.

Jadi, sejujurnya, aku merisaukan apa yang akan terjadi, tak lama lagi. Saat lebaran akhirnya tiba, ketika orang-orang saling berkumpul di mana-mana, dan memaksa diri untuk bertemu dengan alasan "silaturrahmi". Aku khawatir sesuatu yang besar—yang tidak kita inginkan—akan terjadi.

Footnote:*

Aku sengaja menggunakan tanda kutip untuk istilah "silaturrahmi", karena istilah itu—sebagaimana banyak istilah lain seputar lebaran—telah mengalami kekeliruan bahkan penyimpangan dari makna sebenarnya. (Sila tanya ulama yang berkompeten).

*Ngoceh wae ono footnote.

Endnote:

Adikku baik-baik saja, btw. Dia sehat dan tidak kurang suatu apa (istilah Orde Baru untuk menyebut "tanpa masalah").

Dan sekarang aku akan melanjutkan menikmati putih-puttiiiiiihhh... apppeeeeeeeuuuh...


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Mei 2020.

Kent Adalah Nama Tempat

Kent adalah nama tempat. Yang masih kupikirkan adalah menempatkannya di tempat yang tepat.

Video Setan

Ribut-ribut soal video "lelang" untuk 17 Agustus kemarin, aku jadi ingat "video setan" yang bermunculan di medsos, khususnya di Twitter, saat menjelang pemilu pilpres tempo hari. Kalian mungkin juga masih ingat. Sejak melihatnya, aku tidak nyaman dengan video-video itu.

Bagi yang mungkin lupa atau tidak tahu, "video setan" yang kumaksud adalah video terkait pilpres waktu itu, yang melibatkan tokoh setan, dengan pesan yang sekilas menyeru "perdamaian", tapi sebenarnya kampanye terselubung. Kalau kita cukup peka, pasti akan menyadari pesannya.

Dalam video-video itu, sosok setan—semacam pocong dan semacamnya—diubah menjadi sosok lucu, konyol, dan "bersahabat". Secara keseluruhan, video-video itu dibuat untuk segmen yang tertarget; gEneRa5i m1lL3niAl, rEm4ja kEK1nIan, dan... tentu saja, pemilih (pilpres) pemula!

Jika ditelusuri, video-video itu bermula dari akun-akun buzzer, atau akun-akun yang memiliki banyak follower. Kebanyakan orang mengira video-video itu dibuat orang-orang iseng, yang lalu disebar tanpa maksud terselubung, selain hanya untuk hiburan. Sayangnya, tidak begitu!

Sampai di sini, aku ingin ngomong sesuatu secara ngablak, tapi gak enak.

Intinya, video "lelang 17 Agustus" kemarin menggunakan modus yang sama dengan video-video setan terdahulu. Tampak "biasa", tapi sebenarnya tidak "sebiasa" yang mungkin kita lihat—kalau kau paham maksudku.

....
....

Kalau hari ini ada 50 orang berkumpul, dan setengah tahun kemudian 50 orang itu melakukan hal yang sama sendiri-sendiri, orang-orang lain mungkin tidak akan melihat kaitannya, karena ada selisih waktu setengah tahun, dan mereka mungkin sudah lupa. Sayangnya, aku tak pernah lupa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Agustus 2019.

Pengangguran (Sok) Sibuk

Ooo... pengangguran sibuk.

Pria tua yang sudah impoten—dan tidak punya apa pun yang bisa dibanggakan—biasanya memang begitu. Sok sibuk melakukan apa pun demi bisa merasa penting. Cian.

Minggu, 10 Mei 2020

Ge-Er

Ada temanku yang dulu pernah ge-er,
mengira Titi Kamal jatuh cinta kepadanya. 
Ternyata dia keliru. Lalu membenci Titi Kamal. Sangat lucu!


Istilah GR (ge-er) dulu pernah populer, yang, kalau tak keliru, merupakan singkatan "gede rasa" atau “gede rumangsa”. Saya tidak yakin bagaimana menerjemahkan istilah itu ke bahasa Indonesia yang tepat. Mungkin “terlalu percaya diri” cukup mendekati istilah tersebut, atau dalam istilah Inggris, “over-confidence”.

Orang menyapa dengan ramah, dikira naksir. Orang mengajak bercanda, dikira mau pedekate. Itu sedikit contoh ge-er atau “mengira sesuatu melebihi kenyataan yang dihadapi”. 

Karena bisa jadi, orang yang menyapa ramah memang semata-mata bermaksud menyapa, tanpa perasaan naksir seperti yang disangka. Misal karena dia memang orang ramah, yang biasa ramah kepada siapa pun.

Orang yang mengajak bercanda juga bisa jadi semata ingin bercanda, mungkin karena mengira kita orang yang asyik, sehingga bisa diajak tertawa bersama. Tidak ada harapan lain semisal ingin pedekate.

Tapi kita selalu punya kemampuan untuk “merasa”, untuk ge-er, untuk mengira sesuatu melebihi kenyataan yang terjadi. Dan seperti kemampuan lain, kemampuan untuk ge-er itu bisa digunakan atau tidak digunakan. Karena tidak semua “kemampuan” pasti baik atau mendatangkan hal baik. Begitu pun kemampuan untuk ge-er. Ada banyak waktu dan kesempatan ketika kemampuan satu itu sebaiknya tidak usah digunakan.

Urusan ge-er sebenarnya tidak sebatas pada urusan cinta-cintaan seperti yang dicontohkan tadi. Dalam kehidupan luas, selalu ada kesempatan ketika kita bisa “merasa” atau ge-er, dan ternyata keliru. Karenanya, dalam hal ini, saya kadang mikir—yang saya tujukan untuk diri sendiri—bahwa “kurang percaya diri” bisa jadi lebih baik daripada “terlalu percaya diri”.

Ketika orang merasa kurang percaya diri, dia akan lebih berhati-hati dalam bicara maupun dalam bersikap. Lebih khusus, dia juga akan lebih berhati-hati dalam “merasa”. Orang yang kurang percaya diri biasanya jarang ge-er. Ya karena nyatanya memang kurang percaya diri. 

Sebaliknya, orang yang terlalu percaya diri memiliki sikap dan cara pikir berbeda. Ketika orang terlalu percaya diri, kadang-kadang dia kehilangan kontrol. Karena terlalu percaya diri, dia jadi kurang hati-hati dengan sikap atau ucapannya. Ya namanya juga terlalu percaya diri. Dan orang-orang semacam ini pula yang kadang tergelincir pada perasaan ge-er.

Yang baik dan sehat tentu saja “percaya diri”—tidak kurang, tidak lebih. 

Omong-omong soal ge-er. Apakah ge-er itu baik, atau tidak baik? Sebenarnya, ge-er baik-baik saja, asal dipendam sendiri. Misal, saya ge-er dan berpikir kalau Si A naksir saya. Sampai di situ, sebenarnya tidak masalah, wong itu cuma perasaan subjektif saya, yang saya simpan sendiri.

Masalah mulai terjadi, ketika saya mengganggu Si A, atau membuatnya tidak nyaman, hanya karena saya ge-er dan berpikir dia naksir saya. Atau, saya koar-koar ke orang-orang, bahwa Si A naksir saya. Pada tahap semacam inilah perasaan ge-er menjadi masalah, karena sudah menyangkut ke orang lain, yang, sebenarnya, belum tentu seperti yang kita pikirkan.

Seperti saya yang ge-er kalau Si A naksir saya. Apakah memang benar Si A naksir saya? Belum tentu, karena bisa jadi Si A malah tidak kenal saya sama sekali. Dan kalau pun kenal, tidak ada jaminan kalau Si A benar-benar naksir saya. Wong itu cuma perasaan ge-er saya sendiri. Saya cuma “merasa”.

Seperti yang disebut tadi, urusan ge-er ini tidak sebatas naksir-naksiran atau cinta-cintaan. Dalam kehidupan kita sehari-hari, ada banyak kesempatan yang memungkinkan kita ge-er, dan ternyata salah sangka. Agar uraian ini lebih mudah dipahami, mari gunakan contoh nyata yang menunjukkan bagaimana kemampuan “merasa” ini bisa bermasalah.

Pada Oktober 2019, saya menulis catatan berjudul Percakapan di Dapur. Catatan itu sebenarnya cuma berisi percakapan saya dengan seorang teman, di dapur rumahnya. Namanya percakapan dengan teman, kami pun ngobrol ngalor ngidul, membahas apa saja, sambil sesekali cekikikan. Dalam percakapan itu, saya juga sempat menyatakan bahwa kontrak kerja saya akan berakhir, dan saya tidak bermaksud memperpanjang lagi.

Hal itu murni bagian dari percakapan, yang saya utarakan ke teman saya tanpa maksud apa pun. Karena nyatanya waktu itu memang kontrak kerja saya dengan suatu institusi akan berakhir, dan saya memang tidak akan memperpanjang lagi. (Waktu itu, sebenarnya, saya berencana untuk fokus mengembangkan situs Belajar Sampai Mati, dan ingin mencurahkan semua waktu saya untuk situs itu).

Namun, ternyata, isi percakapan yang ngalor-ngidul itu diartikan berbeda oleh orang lain. Rupanya, ada orang yang “merasa” bahwa catatan itu ditujukan untuknya. Beberapa hari setelah catatan itu muncul di blog, ada seseorang menghubungi saya. Kita sebut saja Mister X. Dia mengatakan, “Aku harus minta maaf, posisi kerja di tempatku sudah ditempati orang lain.”

Dengan kaget campur bingung, saya bertanya apa maksudnya. Mister X tampak canggung, lalu menjelaskan, “Uhm... aku mengira, kamu meninggalkan pekerjaanmu di tempat lama karena ingin bekerja di tempatku.” (Dia membaca catatan yang saya unggah di blog, dan mengira catatan itu bermaksud begitu).

Sepertinya saya perlu menjelaskan sesuatu terkait kesalahpahaman ini. Beberapa waktu sebelumnya, saya dan Mister X memang sempat berhubungan, terkait startup yang didirikannya. Waktu itu, kami bercakap-cakap terkait startup tersebut, dan Mister X minta pertimbangan saya untuk hal-hal tertentu. Saya pun menanggapinya secara baik, secara positif. (Hal inilah yang belakangan membuatnya mengira bahwa saya ingin bekerja di tempatnya).

Akhirnya, saya jadi ikut canggung, dan menjelaskan bahwa saya tidak punya maksud atau rencana bekerja di tempatnya, bahwa saya tidak memperpanjang kontrak kerja karena ingin fokus mengembangkan situs Belajar Sampai Mati

Kejadian itu membuat kami sama-sama canggung, tapi untunglah Mister X ini orang baik yang ramah, dan hubungan kami juga baik-baik saja sampai sekarang. 

Itu salah satu contoh bagaimana sesuatu yang kita “rasakan”—kita kira, kita sangka, kita duga—terkait orang lain, bisa jadi keliru. Dalam hal ini, saya beruntung, karena setidaknya orang yang “keliru” semacam itu adalah Mister X, orang yang saling kenal dengan saya secara langsung, sehingga kami bisa saling mengklarifikasi secara baik-baik, hingga tidak timbul kesalahpahaman berkepanjangan.

Bayangkan, misalnya, orang yang keliru itu tidak saling kenal dengan saya. Dia, sekali lagi misalnya, mengira saya ingin bekerja di tempatnya, tapi tidak melakukan klarifikasi dengan saya, dan terus beranggapan begitu—bahwa saya ingin bekerja di tempatnya. Lalu, bisa jadi, dia mengatakan pada orang-orang lain bahwa saya ingin bekerja di tempatnya, dan bla-bla-bla.

Fenomena semacam itu, sadar atau tidak, kerap terjadi dalam kehidupan kita. Ada banyak kabar yang kita dengar, seolah-olah fakta, tapi sebenarnya hanya berasal dari seseorang yang “merasa”. 

Bahkan ketika seseorang mengatakan “I love you”, belum tentu dia memang jatuh cinta kepadamu. Karena ada orang-orang yang memang biasa “mesra” atau ekspresif kepada siapa pun saat menunjukkan kesenangannya, termasuk dalam menggunakan kata “I love you”. Tetapi, sekali lagi, artinya belum tentu jatuh cinta kepadamu atau ingin jadi pacarmu. Karena teks (dalam hal ini ucapan) selalu dilatari konteks (dalam hal ini kebiasaan atau kepribadian orang per orang).

Ini sebenarnya sebelas dua belas dengan kebiasaan misuh, misalnya. Ada orang-orang yang punya kebiasaan misuh, salah satunya untuk menunjukkan kesenangan atau kegembiraan. Ketika dia misuh di hadapan kita—misalnya, “Asu! Gimana kabarnya, Su? Senang sekali bisa melihatmu!”—tentu kita paham bahwa dia misuh bukan karena benci kita, tapi justru senang bertemu kita. Cara orang mengungkapkan sesuatu, sering kali terkait dengan kebiasaan atau kepribadiannya.

Well, untuk melengkapi cerita di atas, yang mungkin terkesan ngambang dan belum jelas, sepertinya saya perlu menambahkan sesuatu.

Semula, saya berencana fokus mencurahkan waktu untuk mengembangkan situs Belajar Sampai Mati (BSM). Dalam pikiran saya, waktu itu, saya bisa menulis puluhan artikel per hari, seperti yang saya bayangkan, agar situs tersebut cepat berkembang. Namun ternyata rencana itu harus tertunda. 

Seorang teman mengajak saya untuk mengembangkan platform yang dibuatnya, dan saya tertarik. Jadi, alih-alih mencurahkan waktu untuk mengembangkan BSM, sampai saat ini saya justru sedang fokus bersama teman saya mengembangkan platform miliknya. Sebegitu sibuk, sampai saya kehabisan waktu untuk menulis di BSM, dan hanya bisa mengunggah satu artikel per hari. (Kalau menulis di situs sendiri saja sudah kehabisan waktu, apalagi menulis di situs orang lain?)

Akhirnya, “merasa” adalah hak setiap orang, dan baik-baik saja, selama tidak terkait orang lain, atau hanya dipendam sendiri. Merasa pintar, misalnya. Ya silakan, wong itu hak setiap orang. Wong saya pun kadang merasa pintar, meski nyatanya tidak pintar-pintar amat. 

Biasa aja

Dulu, aku pernah ngobrol dengan kapolsek di kotaku, membahas kasus tertentu. Di akhir percakapan, dia mengatakan, "Ini (percakapan kita) jangan dikembangkan, ya."

Aku memahami maksudnya. Karena "mengembangkan sesuatu" adalah sifat manusia yang, anehnya, tak disadari.

Banyak orang, di luar kesadaran mereka, senang mengembangkan sesuatu. Hal-hal yang sebenarnya biasa dikembangkan hingga terkesan luar biasa. Peristiwa yang sebenarnya alami dikembangkan hingga terdengar supranatural. Karena "mengembangkan sesuatu" tampaknya memang insting manusia

Ada orang, misalnya, biasa ngetwit saban hari. Lalu suatu waktu, tiba-tiba dia tidak pernah ngetwit lagi, sampai berhari-hari. Sebenarnya, alasan dia tidak ngetwit sampai lama itu karena memang sibuk di dunia nyata. Alasan yang sangat sepele dan biasa-biasa saja. Tetapi....

Tetapi, ada orang-orang yang tampaknya tidak bisa menerima kenyataan sepele dan sederhana itu, lalu "mengembangkannya" hingga terkesan "sensasional". Menurut mereka, orang tadi tidak ngetwit sampai lama karena bla-bla-bla (silakan karang sendiri, intinya sangat "sensasional").

Kenapa orang-orang tampaknya suka mengembangkan sesuatu yang sebenarnya biasa-biasa saja agar terkesan sensasional? Jawabannya panjang, dan mungkin ocehan ini akan selesai tahun 2871 kalau kuuraikan secara detail. Padahal ocehan ini cuma buat nunggu udud habis. Well, intinya...

Intinya, kecenderungan "mengembangkan sesuatu" memang bagian insting primitif—sekali lagi, insting primitif—manusia. Homo sapiens butuh "mengembangkan sesuatu" untuk bertahan hidup. Karena sebenarnya hidup mereka biasa-biasa saja, jadi mereka mengembangkannya agar "tidak biasa".

Di masa lalu, Homo sapiens "mengembangkan sesuatu" melalui hal-hal supranatural. Di masa kini, kecenderungan semacam itu masih ada, meski mungkin terkesan modern, yaitu "mengembangkan sesuatu" melalui hal-hal sensasional. Contoh mudahnya ya itu tadi. Soal orang jarang ngetwit.

Orang biasa ngetwit, lalu tiba-tiba menghilang dan tidak ngetwit sampai lama, semata-mata karena sibuk di dunia nyata atau sedang suntuk mengurusi pekerjaannya. Alasan yang sepele, sederhana, biasa-biasa saja. Tapi ada orang yang tak bisa menerima alasan sederhana semacam itu.

Contoh-contohnya bisa diperluas pada banyak hal, tentu saja. Misal, ada seseorang yang memilih tidak menikah, semata-mata karena memang menikmati kesendirian. Tapi banyak orang sulit menerima alasan sederhana semacam itu, lalu "mengembangkan teori" macam-macam yang "sensasional".

Misal lain, ada pasangan suami istri yang memutuskan untuk tidak punya anak, semata-mata karena menyadari mereka belum tentu mampu menghidupi anak secara layak. Alasan yang sederhana. Tapi orang-orang sulit menerima alasan semacam itu, lalu "mengembangkannya" hingga macam-macam.

Homo sapiens yang hidup jutaan tahun lalu dengan yang hidup di masa sekarang, tampaknya masih membawa insting yang sama, meski mereka telah pindah dari gua ke apartemen mewah. Karena menerima kenyataan yang sederhana tampaknya terlalu sulit bahkan nyaris mustahil bagi mereka.

And then, and then, and then, sepertinya kita tidak perlu heran mengapa hidup kita juga lekat dengan berbagai glorifikasi. Karena kenyataannya kehidupan manusia sungguh biasa-biasa saja... tapi kita kesulitan menerima kenyataan itu, dan berusaha "mengembangkannya".


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Maret 2020.

Noffret’s Note: Rambo

Rambo: Last Blood dan Terminator: Dark Fate bisa jadi dua film paling penting tahun ini. Karena, bisa jadi juga, itu menjadi film terakhir Sylvester Stallone dan Arnold Schwarzenegger.

Semoga mereka selalu sehat dan panjang umur. Bagaimana pun, mereka (pernah menjadi) bocah.

Dulu, kupikir, Sylvester Stallone dan Arnold Schwarzenegger tidak akan pernah tua. Tapi nyatanya mereka sekarang menua. Aku dulu juga pernah berpikir Profesor X dan Wolverine tidak akan bisa mati, tapi nyatanya mereka mati.

Sepertinya, yang abadi hanya En Sabah Nur.

Saat menyaksikan Rambo: Last Blood, aku benar-benar menikmati saat melihat Rambo mengamuk dan menyiapkan jebakan maut yang berdarah-darah. Sadis, tapi badass—jenis film yang selalu asyik ditonton.

"Aku hanya ingin pulang," katanya, "tapi tak pernah sampai rumah."

Dalam perspektifku sebagai bocah, Rambo adalah film paling "jujur" yang dibuat Amerika.

Film-film Rambo adalah kisah tentang pembalasan dendam, bahkan yang paling brutal, dan film-film itu tidak pernah sok suci dengan menyemburkan pesan moral ala film-film Hollywood umumnya.

Ada banyak film Hollywood yang bertema pembalasan dendam, tapi di dalamnya selalu terselip pesan moral, "Pembalasan dendam tidak akan mengembalikan kebahagiaanmu," atau semacamnya. Meski si tokoh tetap melakukan pembalasan dendam.

Rambo tidak sok bermoral semacam itu.

Rambo adalah pengejawantahan murni jiwa Amerika yang menganut—sesuatu yang kusebut—Corleonisme. Bahwa "pembalasan dendam adalah makanan penutup yang lezat, bila disajikan dalam keadaan dingin".

Tepat seperti itulah Amerika, dan sejarah mereka dengan jelas mengungkapkannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 November 2019.

Giveaway Ngapusi

Sekadar saran.

Kalau menemukan akun-akun ala giveaway tidak jelas, sebaiknya laporkan ke Twitter, agar dihapus (klik laporkan > mencurigakan atau spam > memposting spam ke tren atau hashtag).

Keberadaan mereka mengacaukan bahkan merusak persepsi publik.

Kalau giveaway-nya Awkarin ya jangan dilaporkan, wong itu beneran giveaway dan bukan ala-ala! Hadeeeh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Oktober 2019.

Sudah Tua (3)

“Sudah tua, apa yang dicari?”

Sadar sudah tua, tapi menyebar trojan ke orang-orang, sambil menyebut-nyebut “pussy”.

Benar-benar menjijikkan.

Jumat, 01 Mei 2020

Memasuki Hening

Keheningan adalah rumahku. 
Mungkin sederhana, tapi bagiku serasa Surga.
@noffret


Sekitar tiga tahun lalu, saya menginap di rumah teman. Pagi hari, saya bangun tidur, dan melangkah gontai ke kamar mandi. Saat melewati ruang tengah, saya melihat teman saya—yang tentu sudah bangun lebih dulu—sedang duduk santai sambil membaca buku, dengan sebatang udud di tangan, sementara di dekatnya ada segelas kopi.

Melihat itu, langkah saya terhenti, dan menggumam, “Nikmat sekali hidupmu.”

Dia nyengir, dan menyahut, “Apalagi hidupmu.”

(Percakapan semacam itu biasa kami gunakan sebagai cara bercanda.)

Beberapa saat kemudian, saya telah duduk di depannya, dengan wajah segar, segelas teh hangat, dan sebatang udud menyala. Merasakan kehangatan teh yang baru mengalir ke tubuh, saya berkata, “Aku merindukan hal seperti itu.”

“Apa?” dia bertanya. Buku yang dibacanya telah tergeletak di meja.

Saya menjawab, “Membaca buku di pagi hari, sambil menikmati minuman hangat dan udud, dan tak peduli pada dunia. Seperti yang tadi kamu lakukan.”

Dia menatap heran, “Bukannya kamu biasa melakukan itu?”

“Akhir-akhir ini tidak.”

Waktu itu—saat percakapan ini terjadi, tiga tahun lalu—saya sedang suka “membaca” Twitter, khususnya di pagi hari. Bangun tidur, sambil menyesap teh hangat dan udud, saya membuka timeline, dan menikmati kicauan demi kicauan, mendapat kabar dan berita terbaru, dan semacamnya, dan semacamnya. Dan saya merasa senang-senang saja, karena nyatanya aktivitas itu memang menyenangkan.

Aktivitas membaca Twitter di pagi hari itu bisa berlangsung sampai lama, sampai saya merasa bosan. Yang jadi masalah, selalu ada hal baru di Twitter, jadi kemungkinan saya bosan bisa dibilang sangat kecil. Akibatnya, saya bisa berjam-jam “membaca” Twitter, tanpa tahu kapan akan “khatam”.

Kegiatan itu berlangsung hari demi hari, dan tanpa terasa menggantikan kebiasaan saya sebelumnya; membaca buku.

Dulu, sebelum kenal dan akrab dengan Twitter, saya biasa menikmati pagi hari dengan membaca buku. Jadwal rutin saya waktu itu adalah bangun tidur di pagi hari, bikin minuman hangat, lalu membaca buku sampai beberapa jam. Setelah itu bekerja, sambil melakukan berbagai aktivitas dan kegiatan sehari-hari, sampai malam. Kadang saya keluar rumah, kadang tidak. Kadang ada acara yang harus saya datangi, kadang tidak. Ya seperti orang lain umumnya.

Malam hari, ketika semua urusan “duniawi” telah selesai, saya kembali menikmati waktu dengan membaca buku—biasanya melanjutkan bacaan tadi pagi—dan terus membaca buku sampai akhirnya tertidur. Besok paginya, saya melanjutkan bacaan tadi malam... dan begitu seterusnya.

Rutinitas semacam itu lalu berubah, setelah Twitter—sang Negara Api—menyerang. Kehadiran Twitter waktu itu mengobrak-abrik rutinitas hidup saya yang sebelumnya tenteram dan damai... dan tak peduli pada dunia.

Sebelum kenal Twitter, bisa dibilang saya tidak peduli dengan apa pun yang ada di luar sana. Saya punya dunia sendiri—dunia yang sunyi, hening, dan tenteram. Waktu dan hidup saya hanya untuk bekerja dan belajar, dan saya menikmatinya. Tapi setelah kenal Twitter, saya seperti dipaksa untuk terus menerus mengetahui “apa yang terjadi” di luar sana, dan belakangan saya kesulitan untuk meninggalkan kebiasaan itu.

Sejak itulah, aktivitas membaca buku berganti membaca timeline. Tenggelam dalam ilmu pengetahuan berubah jadi tenggelam dalam hiruk pikuk berita kekinian. Dan ketika saya mulai menyadari, kesadaran itu tampaknya terlambat. Kebiasaan baru telah terbentuk, dan saya kesulitan meninggalkannya.

Butuh waktu lama bagi saya untuk melepaskan ketergantungan terhadap kebiasaan membaca Twitter, untuk mengembalikan diri dan hidup saya seperti sebelumnya. Namun, perlahan-lahan, akhirnya saya bisa mengurangi kecanduan pada Twitter, sedikit demi sedikit, seiring waktu.

Belakangan, yang terus terjadi sampai kemarin-kemarin, saya hanya membuka Twitter kalau pas selo. Misalnya, saat makan di warung dan menunggu pesanan disiapkan, saya kadang membuka Twitter. Atau saya janjian dengan seseorang di suatu tempat, dan—sambil menunggu dia datang—saya membuka Twitter. Paling-paling begitu. Jadi, aktivitas membaca Twitter tidak lagi “wajib” seperti semula, tapi hanya “sunah” atau bahkan “mubah”.

Biasanya pula, saya baru fokus membuka Twitter saat menjelang tidur di tengah malam. Sambil menyesap cokelat hangat dan menikmati udud, saya membuka Twitter dan ngoceh apa saja yang waktu itu sedang saya pikirkan—sebagai semacam “buang sampah pikiran” sebelum tidur. Karenanya, begitu cokelat hangat dan udud habis, saya pun menutup Twitter, dan tidur. (Kalian yang mengikuti akun saya di Twitter mungkin sudah hafal kebiasaan ini).

Tempo hari, jelang memasuki bulan puasa, saya kepikiran untuk juga “puasa ngoceh”, yaitu berhenti ngoceh di Twitter, menahan diri untuk tidak mengomentari apa pun. Ini semacam “peningkatan” dari upaya saya untuk melepaskan diri dari Twitter.

Karena sifatnya yang up to date, Twitter memang sarana yang tepat untuk “membuang sampah” apa pun dari pikiran. Ada kejadian apa saja, kita bisa melontarkan pendapat secara spontan, saat itu juga. Belakangan, saya menyadari, hal itulah yang menjadikan banyak orang—khususnya saya—merasa kesulitan melepaskan Twitter, karena Twitter memungkinkan siapa pun untuk ngoceh, atau—meminjam istilah psikologi—mengekspresikan diri.

Mengekspresikan diri, itu salah satu kebutuhan dasariah manusia, dan Twitter memungkinkan hal itu secara leluasa. Jadi kalau ada jutaan orang kecanduan Twitter, ya wajar. Karena jutaan orang itu merasa kebutuhan psikologisnya terpenuhi oleh Twitter. Bahkan kalau Abraham Maslow saat ini masih hidup, saya berani bertaruh dia juga akan punya akun Twitter. Karena bagi Maslow, ngoceh atau mengekspresikan diri adalah kebutuhan dasar manusia setelah makan, tidur, dan ngeseks.

“Uripmu durung sempurno nek durung ngoceh,” kata Maslow. Dan sekarang kita paham kenapa banyak orang suka memajang foto saat memegang mic.

Moment bulan puasa, saya pikir, adalah waktu yang tepat—khususnya bagi saya—untuk mulai mengurangi kecenderungan semacam itu. ‘Puasa’, istilah yang biasa kita gunakan saban Ramadan, akar katanya berasal dari bahasa Sanskerta, yakni ‘upavasa’, yang bisa diartikan ‘hidup dekat dengan’ atau ‘memasuki hening’.

Istilah itu lalu diadopsi oleh bahasa Jawa, menjadi ‘pasa’, yang artinya ‘mengekang’ atau ‘menahan’. Ini relate dengan asal kata puasa dalam bahasa Arab, ‘shama’, yang artinya ‘mencegah’ atau ‘menahan’.

Bulan puasa memaksa kita untuk menahan/mengekang makan, karena tak bisa lagi bebas makan kapan pun seperti biasa. Kadang pula menahan/mengekang tidur, karena ada tambahan aktivitas yang tidak ada di hari-hari biasa, sehingga menyita waktu tidur kita. Dalam hal ini, saya juga ingin menahan/mengekang ngoceh, yakni menahan hasrat untuk tidak mengomentari apa saja.

Karena itu, begitu masuk bulan puasa kemarin, saya pun mulai menerapkan tekad itu. Saya memang kadang masih membuka Twitter, untuk tahu apa yang sedang terjadi, namun hanya sekilas-sekilas, khususnya kalau pas selo. Dan meski kadang ada hasrat ingin ngoceh seperti sebelumnya, saya benar-benar menahan diri. Perlahan-lahan, hasrat pada Twitter pun menurun.

Sejak masuk bulan puasa kemarin, saya telah mulai kembali ke kebiasaan dulu. Saat akan tidur, saya tidak lagi membuka timeline, tapi membuka buku. Bukan ngoceh di Twitter seperti sebelumnya, tapi menyetubuhi keheningan kata-kata yang saya baca. Sampai kemudian cokelat hangat saya habis, dan udud menipis, lalu saya menutup buku, dan tidur dalam damai.

Saya tidak tahu apakah saya akan mampu untuk terus begitu, atau nantinya gagal di tengah jalan karena “terlalu gatal” untuk ngoceh kembali. Tapi saya sedang berusaha. Dan, tentu saja, saya berharap usaha saya berhasil.

Lebih dari itu, saya pun menyadari, ada atau tidak ada saya di Twitter, bisa dibilang tidak ada bedanya. Jadi, saya pun ingin melakukan hal serupa; ada atau tidak ada Twitter, tidak ada bedanya bagi saya.

Kesadaran Bocah

Suatu hari, seorang bocah menemukan kesimpulan bahwa, “Dunyo iki isine mung wuoppppooooo.”

Keyakinan Tak Butuh Tanya

Ada orang-orang yang percaya bahwa jika seseorang atau sekelompok orang mabuk di suatu tempat, maka azab (bencana) akan mendatangi tempat itu. Karena itulah, orang-orang pun melarang siapa pun untuk mabuk, dengan dalih agar “kita selamat dan tidak terkena azab”.

Saya bukan pemabuk, bahkan tidak mengonsumsi alkohol. Tetapi, saya bertanya-tanya, apa kaitan antara mabuk dengan datangnya bencana? Tentu saja ada kaitannya, jika pertanyaan itu dijawab dengan perspektif agama. Agama yang mana? Tentu agama yang melarang mabuk.

Di Jakarta, pernah ada sekelompok orang yang menghancurkan toko yang disinyalir menjual alkohol/minuman keras. Alasan mereka, toko itu adalah penyebab datangnya banjir yang tempo hari melanda Jakarta dan sekitarnya.

Aksi sekelompok orang itu mungkin dianggap konyol sebagian kita, karena, “apa hubungan antara toko penjual miras dengan datangnya banjir?” Tapi mereka, yang menghancurkan toko, sangat percaya bahwa dua hal itu—toko miras dan banjir—saling berkaitan.

Ini tak jauh beda dengan orang yang tempo hari sampai menjebak dan mengorbankan seorang perempuan di hotel demi membangun pencitraan diri, lalu koar-koar bahwa “kemaksiatan akan mendatangkan tsunami”. Ya, kita seperti diberitahu bahwa 1 + 1 = 25—atau berapa pun.

Fenomena sosial semacam itu menjadikan kita menatap agama sebagai sesuatu yang ironis. Betapa agama yang mestinya bisa menjadi solusi yang baik untuk menyelesaikan masalah, tapi justru menimbulkan masalah lain ketika dipaksa digunakan seenaknya.

Bahkan kalau pun keyakinan itu benar, masih ada masalah lain; apakah semua orang memiliki agama sama, dengan keyakinan serupa, dan menyetujui cara pendekatan yang dilakukan untuk “menyelesaikan masalah”?

Sayangnya, keyakinan tidak menerima tanya.

Noffret’s Note: Khusyuk

Dalam bekerja, aku punya prinsip yang tak bisa diganggu gugat: Selama bekerja, fokuslah pada pekerjaanmu, dan jangan terdistraksi oleh apa pun.

Karena itulah aku lebih suka bekerja sendiri di rumah, untuk meminimalkan gangguan tidak penting, seperti ajakan ngobrol di sela kerja.

Kalau kita bekerja tanpa fokus, artinya kita tidak menghargai pekerjaan yang kita lakukan. Kalau kita tidak bisa menghargai pekerjaan yang dilakukan, pantas kalau kita juga tidak mendapat penghargaan layak atas sesuatu yang kita kerjakan. Tidak dipecat saja sudah bagus.

Setiap kali ingin merenovasi rumah, aku punya tukang-tukang andalan, yaitu mereka yang bisa bekerja tanpa banyak bacot, tanpa banyak ngobrol selama bekerja. Mereka menghargai pekerjaannya, dan aku pun menghargai pekerjaan mereka. Orang-orang semacam itu layak dibayar mahal.

Masalah umum manusia umum adalah ketidakmampuan khusyuk dalam hal apa pun yang mereka lakukan. Waktu kerja, pikirannya ada di rumah. Waktu di rumah, pikirannya ada di kantor. Waktu ibadah, pikirannya ada di kafe. Waktu di kafe, pikirannya ada di ponsel. Pantas mereka jadi "umum".

Hidup adalah pilihan, dan kebanyakan orang memilih untuk menjadi umum. Padahal menjadi umum artinya menjalani kehidupan tanpa makna. Dan ketika mereka menyadari hidup terasa tanpa makna, mereka menyalahkan orang lain. Padahal masalahnya pada mereka sendiri, karena memilih "umum".

"Seperti umumnya orang-orang," kata mereka—oh, well, seperti umumnya orang-orang! Dan seperti apakah umumnya orang-orang? Jawabannya sangat menggelikan, untuk tidak menyebut mengerikan!

Semoga kau mendapat petunjuk, dan Tuhan menyelamatkanmu dari menjadi bagian orang-orang umum.

Sebagai penutup "ocehan Jumat" yang katanya berkah ini, berikut adalah pelajaran paling dasar (dan seharusnya paling mudah dilakukan) untuk menjalani hidup yang khusyuk.

Hidup yang Khusyuk » https://bit.ly/2kHH9hu


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 September 2019.

Penjahat Tua

“Sudah tua, yang dicari apa?”

Sadar sudah tua, tapi kelakuan kayak anak kecil.

Apa tidak malu dengan anak-anakmu?

 
;