Selasa, 23 Januari 2024

Sampah Plastik dan Pemanasan Global

Kecurigaanku soal sampah plastik ini akhirnya terjawab, tepat seperti yang kuperkirakan. Modusnya sama seperti isu pemanasan global; melempar isu besar, dan menempatkan pihak lain (dalam hal ini negara berkembang) di bawah tudingan.

Banyak orang yang masih "gelagapan" dalam menghadapi "umpan" lemparan isu-isu global, termasuk isu sampah plastik yang saat ini mengemuka. Tanpa bermaksud mengajari, mari kita lihat bagaimana "permainan berbiaya besar" ini dimainkan dan menipu orang sedunia.

Mayoritas orang pasti akan langsung mengajukan berita mengenai tumpukan kantong plastik di perut hiu mati, atau video yang merekam hidung kura-kura kemasukan sedotan.

Kita mulai dari pertanyaan sederhana: Kenapa sedotan dan kantong plastik menjadi isu krusial akhir-akhir ini?

Dan itulah yang mereka inginkan! Mereka ingin kita semua mendukung kampanye "remeh-temeh" soal sedotan dan kantong plastik itu, karena ada hiu mati dengan perut penuh plastik, dan ada kura-kura berdarah karena hidungnya kemasukan sedotan. Sangat wajar!

Yang jadi masalah adalah... siapakah sebenarnya yang melakukan kesalahan terbesar? Benar sekali, si pelempar isu!

Sudah melihat bagaimana permainan ini dijalankan? Lemparkan isu, buat dokumentasinya, sodorkan pada dunia, dan biarkan mereka kalang kabut karena merasa bersalah!

Modus ini benar-benar persis dengan isu pemanasan global. Negara-negara maju sadar mereka telah mencemari bumi dengan sangat parah. Karenanya, sebelum dunia menyadari, mereka gembar-gembor duluan sembari menuding pihak lain, sambil pura-pura tak melihat kesalahannya sendiri.

Muara dari semua ini (isu pemanasan global sampai isu sampah plastik) sebenarnya tidak hanya menuding negara-negara berkembang sebagai biang masalah, tapi juga menciptakan ketergantungan negara-negara berkembang terhadap negara-negara maju. Ini sebenarnya persoalan bisnis!

Yang menjadikan isu-isu ini tampak-gawat-seolah-besok-akan-kiamat, karena orang-orang awam—seperti biasa—hanya melihat lewat permukaan, tanpa mau menyelami APA YANG SEBENARNYA TERJADI. 

Omong-omong, dokumen soal isu pemanasan global saja tebalnya lebih dari 10 ribu halaman!

Kalau kita mau tekun membaca dan mempelajari lembar-lembar dokumen itu hingga paham apa yang sebenarnya terjadi, kita pun akan sadar sedang dikibuli. Tapi orang-awam-keparat mana yang mau membaca dokumen setebal 10 ribu halaman? Mereka lebih suka ngoceh sambil sok pintar!

Ocehan ini pun sebenarnya baru menyentuh permukaan—namanya juga ocehan. Kalau mau diuraikan secara mendalam sampai detail, mungkin sampai lebaran mendatang belum juga selesai, karena panjang sekali.

Intinya, isu-isu global perlu dipahami secara global, dengan kaca pembesar.

Oh, ya, tentu saja kita perlu peduli kelestarian bumi, dan perlu memperbaiki perilaku terkait penggunaan plastik serta sampahnya. Tapi jangan bermimpi bahwa dengan itu saja masalah ini akan selesai. Karena itu seperti mengepel lantai akibat genteng bocor. Masalahnya di genteng!

Menyadari untuk melestarikan bumi, termasuk memperhatikan sampah plastik kita, itu upaya kita mengepel lantai akibat genteng bocor. Perlu dilakukan, tapi genteng yang bocor juga perlu diperbaiki—itulah inti masalahnya!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 April.

Pesona yang Mematikan

Fakta Socrates yang [mungkin] masih jarang diketahui; dia suka nyangkruk di kompleks prostitusi.

Di zaman Yunani kuno, prostitusi sudah ada, dan wanita pelakunya disebut hetaera. Socrates suka nyangkruk dengan hetaera, khususnya yang bernama Aspasia.

Aspasia tidak hanya cantik, tapi juga cerdas dan mampu berbicara secara memukau. Sebegitu memukau wanita ini, sampai para filsuf—yang salah satunya Socrates—suka ngobrol dengannya. Bahkan dua negawaran di masa itu, Pericles dan Lysicles, senang mendengarkan Aspasia berbicara.

Jika filsuf semacam Socrates dan para negarawan terkemuka saja senang mendengarkan Aspasia berbicara, apalagi orang-orang kebanyakan? Karenanya, di masa itu, kediaman Aspasia menjadi tempat berkumpulnya para intelektual Yunani—mereka biasa berdiskusi berhari-hari, bermalam-malam.

Menurut Plutarch (sejarawan Yunani), beberapa ajaran Socrates bahkan merupakan hasil diskusi panjangnya dengan Aspasia, sang hetaera. Sementara Aristophanes, dalam The Acharnians, menyebut Aspasia sebagai dalang di balik terjadinya Perang Peloponnesian yang menjatuhkan Pericles.

Wanita cantik memang berbahaya, dari dulu sampai sekarang. Dan wanita cantik yang cerdas adalah pesona yang mematikan—terlepas bagaimana kau mengartikannya. Apalagi wanita cantik yang cerdas dan emesssshhhh. Appeeeeuuhh...

*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Mei 2019.

Tantangan Terbesar

Tantangan hidup terbesar bukan kegagalan, perang, atau bencana. Tapi mencintai orang yang sama tanpa henti, setiap hari, sampai mati.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 April 2012.

Panggilan Tak Berjawab

Panggilan yang tak berjawab kadang bukan karena tidak dijawab, tapi mungkin karena datang di waktu yang tidak tepat.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 April 2012.

Ini Hari Apa?

Ini tuh sebenarnya hari apa, dan jam berapa ya? Feeling-ku bilang ini hari Selasa jam 5 sore. Tapi di HP kok hari Senin jam 4 sore.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 April 2012.

Provider Internet Tidak Ada yang Beres

Kayaknya memang semua provider internet di negeri ini tidak ada yang beres. Mungkin itu pula salah satu alasan kenapa diciptakan neraka.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 April 2012.

Tampilan Twitter

Tampilan Twitter kayaknya bakal berubah lagi nih.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 April 2012.

Kadang-kadang Kangen

Kadang-kadang kangen membaca tweet-tweet rayuan yang bikin tersenyum, atau tweet-tweet posesif yang bikin cekikikan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 April 2012.

Menjadi Introver Itu Berat

Terlepas dari segala kelebihan yang mungkin dimiliki introver, aku ingin mengakui bahwa menjadi introver itu lebih terasa seperti kutukan daripada berkat. Karena menjadi introver artinya kamu akan sering disalahpahami orang-orang lain. Menjadi introver itu berat!

Kita pasti sering mendengar ungkapan “manusia adalah makhluk sosial”. Ungkapan itu berasal dari fakta bahwa rata-rata atau mayoritas orang adalah ekstrover yang memang suka bersosialisasi. Karenanya pula, rata-rata orang tidak betah [bahkan kadang takut] sendirian.

Sayangnya, di sisi lain, orang introver kebalikan dari itu; mereka justru lebih suka sendirian.

Kat Kat

Ooh... kat kat.

Rabu, 10 Januari 2024

Kesalahan Konyol Komunikasi

Dulu, di kota saya ada kafe bernama BSP, yang menyatu dengan stasiun radio dengan nama sama. BSP adalah kafe dengan konsep semi-outdoor, jadi tidak ada ruangan tertutup. Kalau kamu masuk ke sana, semua orang bisa melihatmu. 

Semua makanan di tempat itu sangat enak!

Kafe itu biasa ramai kalau malam hari, sementara kalau siang relatif sepi. Suasana yang tenang, plus angin semilir, juga makanan yang enak dan Wifi kencang, membuat saya sering ke sana, saat siang hari. Sendirian, dengan bawa laptop, saya bisa di sana sampai berjam-jam.

Suatu siang, saat saya sedang di BSP, seorang teman—bernama Heri—menelepon, dan mengatakan, “Ada temanku, perempuan, yang lagi bikin skripsi, dan ingin minta tolong sesuatu.” Intinya, perempuan itu mau tanya-tanya sesuatu terkait topik skripsinya, yang tidak ia pahami. 

Dengan itikad baik, saya merespons, “Kebetulan aku lagi di Kafe BSP. Gimana kalau dia ke sini aja?” 

Heri bilang akan memberitahukan ke teman perempuannya, agar menemui saya di BSP. Saya pun menunggu, sampai sore, tapi dia tidak datang. Sampai kemudian saya pulang.

Di rumah, saya menelepon Heri, memberitahu kalau saya sudah menunggu temannya setengah harian di BSP, tapi tidak datang. 

Heri menceritakan, dia sudah ngasih tahu temannya agar ke BSP, tapi perempuan itu malah bilang, “Kok ngeri, ya. Belum kenal udah ngajak ketemuan di kafe.”

Saya kaget dengan penjelasan Heri. Konteksnya, saya lagi di BSP, karena hampir saban siang memang di sana. Saya tidak kenal perempuan itu, dan saya bersedia membantunya karena ada perantara Heri, yang merupakan teman saya. Jadi apa salahnya kalau saya meminta dia ke BSP?

Padahal, kalau dia benar-benar datang ke BSP, saya tidak akan minta dia membayari makanan saya! Dan seperti saya bilang tadi, BSP adalah kafe terbuka, tidak ada satu pun ruangan tertutup—kamu ada ke sana, semua orang akan bisa melihatmu. 

Heri memberikan nomor ponsel perempuan itu, tapi saya tidak pernah tertarik mengontaknya—ya buat apa? Kenal juga tidak! Anehnya, perempuan itu lalu sering missed-call atau ngirim SMS kosong ke ponsel saya (di zaman itu belum ada WhatsApp atau semacamnya).

Saya tidak pernah mempedulikan sedikit pun, sampai kemudian mungkin dia bosan/capek sendiri. Hingga sekarang, saya tidak pernah ketemu dan tidak pernah kenal perempuan itu. Dan sejujurnya, saya juga tidak tertarik ingin kenal atau ketemu. Wong tahu siapa dia saja tidak!

Setiap kali teringat kisah lama itu, kadang saya bingung sendiri. Seseorang, yang tidak kamu kenal, ingin minta tolong ke kamu. Dan kamu bersedia menolongnya, semata karena ada perantara seorang teman yang kamu kenal. Tetapi, itikad baikmu malah dipersepsikan secara buruk. 

Jadi, apa sebenarnya yang diinginkan perempuan tadi? Dia mau minta tolong ke saya—orang yang tidak mengenalnya—dan dia ingin saya yang menemuinya, di tempat yang dia inginkan, di waktu yang dia tentukan. Saya yang harus proaktif, padahal dia yang butuh, dan saya tidak kenal dia!

Dan ketika saya tidak juga menghubungi atau menemuinya, apa yang kemudian dia lakukan? Dia “main drama” dengan sering missed-call atau mengirim SMS kosong ke ponsel saya. Mungkin memang ada orang kurang kerjaan yang mau merespons hal konyol kayak gitu, tapi jelas bukan saya!

Ini adalah kesalahan konyol komunikasi, terlepas kamu laki-laki atau perempuan. Selama kamu masih menggunakan cara semacam itu, sesuatu yang disebut “komunikasi” tidak akan terjadi, bahkan akan rusak! Cara komunikasi semacam itu juga sangat kekanak-kanakan.

Komunikasi adalah aktivitas dua arah, dan aktivitas dua arah itu dimulai oleh pihak yang berkepentingan. Kalau saya ingin kenal atau punya kepentingan dengan seseorang, saya akan menghubunginya, bukan menunggu dia menghubungi saya, atau “main drama” dengan mancing-mancing dia agar menghubungi saya. 

Sebagai orang yang suka to the point dan menyukai pembicaraan yang jelas, saya benar-benar ilfil dengan orang yang menggunakan cara mancing-mancing atau menggunakan kode untuk berkomunikasi. Bahkan umpama semula tertarik kepadanya, saya akan kehilangan minat jika dia menggunakan cara komunikasi yang tidak sehat semacam itu. Wong tinggal ngomong saja harus mutar-mutar pakai kode dan drama macam-macam.

Finally. Saat saya menulis catatan ini, Kafe BSP dan stasiun radio BSP sudah tidak ada. Saya salah satu orang yang kehilangan. Meski begitu, saya akan selalu mengingat pelajaran dari peristiwa yang saya dapat di sana, tentang pentingnya cara berkomunikasi yang benar. 

Memilih Menjadi Bocah

Para ilmuwan menyatakan, alam raya dan seisinya terbentuk karena hukum-hukum fisika. Aku tidak berani membantah, karena nyatanya memang benar. Tetapi, sebagai bocah, aku bertanya-tanya, apa atau siapakah yang menciptakan hukum fisika, hingga terbentuk alam raya dan seisinya?

Atau, mari ubah pertanyaannya dengan kalimat lebih netral; bagaimana hukum fisika bisa tercipta, hingga terbentuk alam raya?

Para ilmuwan menyatakan, makhluk hidup—termasuk manusia—tercipta dan berkembang karena evolusi. Aku tidak berani membantah, karena nyatanya memang begitu. Tetapi, sebagai bocah, aku bertanya-tanya, apa atau siapakah yang menciptakan evolusi, hingga muncul makhluk hidup?

Atau, mari ubah pertanyaannya dengan kalimat lebih netral; bagaimana evolusi bisa terjadi, hingga tercipta kehidupan?

Meyakini sesuatu dengan keyakinan bulat-bulat tentu sangat mudah, dan itulah kenapa miliaran orang melakukannya. Tapi memahami dan meyakini sesuatu berdasarkan pembelajaran dan pencarian dan kegelisahan... itu tidak mudah, dan karena itulah aku memilih menjadi bocah.

Realitas Kehidupan Manusia

Pilihan kebanyakan orang (dalam hal-hal sepele sampai penting) sering kali bukan berdasarkan kesadaran atau pilihan pribadi, melainkan karena pengaruh lingkungan, situasi, kondisi, dan—jangan lupakan—doktrinasi. 

Dalam hal makan, misalnya, saya sangat suka makan sayur. Itu tentu bagus, dan siapa pun setuju. Tapi faktanya, saat ini, sudah berbulan-bulan saya tidak pernah makan sayur! Kok bisa? Karena tempat-tempat makan langganan, termasuk Go/Grabfood, tidak menyediakan sayur!

Orang bisa sangat menyukai sesuatu, dengan kata lain memiliki pilihan hidup sendiri, tapi tidak bisa melakukannya, karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan ia melakukannya. Apakah ini terdengar menyedihkan? Menurut saya, ya. Dan inilah realitas kehidupan manusia.

Lihat Bocah Kecil

Kalau lihat bocah kecil lucu dan menggemaskan, kadang aku terpikir ingin punya anak. Sayang, bocah-bocah lucu dan menggemaskan itu lalu tumbuh dewasa, dan biasanya mereka jadi orang-orang membosankan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Mei 2019.

Orang-orang Keblangsak

Apakah Sandra Dewi suka menyuruh-nyuruh orang lain cepat menikah? TIDAK.

Apakah Sandra Dewi hobi memprovokasi orang lain agar cepat kawin dengan iming-iming bahagia dan lancar rezeki? TIDAK.

Apakah Sandra Dewi senang mencibir dan mengolok-olok jomblo? JUGA TIDAK.

Kenapa?

Jawabannya sederhana, KARENA DIA MENIKMATI KEHIDUPAN PERKAWINAN BAHAGIA.

Kalau orang menjalani kehidupan bahagia, dia akan sibuk menikmati kebahagiaannya. Sebaliknya, kalau orang hidup keblangsak, dia akan sibuk ngerusuhi hidup orang lain, misal dengan pertanyaan, "kapan kawin?"

Sandra Dewi hanya contoh. Di lingkungan kita juga ada orang-orang yang menikmati kehidupan dan perkawinan bahagia, dan mereka sibuk menikmati hidupnya sendiri, juga santai saja melihat kita tidak/belum menikah. 

Tapi yang hidup keblangsak... doyan menyinyiri kehidupan kita.

Kehidupan ini begitu sederhana, dan kita sebenarnya bisa menjalaninya dengan tenang serta nyaman. Yang menjadikan kehidupan ini terasa berat, karena ada orang-orang keblangsak di sekitar kita, yang terus menerus nyinyir dan berusaha memprovokasi agar kita semua sama keblangsak!

Sudah keblangsak, bukannya membenahi kehidupan diri sendiri agar lebih baik, malah ngerusuhi hidup orang lain agar sama-sama keblangsak. Itu pun masih membual "bahagia dan lancar rezeki". Benar-benar sesat sekaligus menyesatkan, bejat sebejat-bejatnya, palang pintu neraka!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Mei 2019.

Mengejar Love

Konon, banyak pengguna Instagram yang mentalnya sampai terganggu karena mengejar "Love" sebanyak-banyaknya, dan Instagram kini terpikir untuk menghilangkan fitur tersebut demi kenyamanan bersama.

Aku benar-benar tidak paham dengan hal-hal semacam itu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Mei 2019.

Senin yang Mendung

Senin yang mendung, dan biasa-biasa saja.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 April 2019.

Mungkin Kamu Suka

Mungkin karena cuaca yang gak karuan—kadang panas banget, kadang hujan deras—badan saya semremeng (antara sehat dan mau meriang). Jadi malas mau ngapa-ngapain, hingga akhirnya mengisi hari dengan nonton film.

Well, ada film yang menurut saya sangat bagus, tapi entah kenapa tidak terkenal. Judulnya “Bus 657” (kadang pula dijuduli “Heist”). Dirilis pada 2015, film ini dibintangi Robert De Niro, Jeffrey Dean Morgan, Gina Carano, dan Dave Bautista. Film drama yang jauh dari kesan drama.

So, kalau kamu lagi bosan—atau juga lagi meriang—dan ingin nonton film tapi bingung mau nonton apa, coba tonton film ini. Mungkin kamu akan suka, seperti saya.

Ketika

Ketika massa mengatur, manusia diperintah oleh ketidaktahuan; ketika doktrin mengatur, manusia diperintah oleh takhayul; dan ketika negara mengatur, manusia diperintah oleh rasa takut. —Manly P. Hall


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Mei 2019.

Malam Tahun Baru

Malam tahun baru ke mana? 

Gak ke mana-mana, di rumah aja.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Desember 2018.

Tertib

Oooh... tertib.

Senin, 01 Januari 2024

Percakapan Usai Makan Malam

Makan malam telah selesai, piring-piring telah kosong, dan saya duduk menyandarkan punggung ke sandaran kursi, dengan sebatang rokok di tangan. Orang di depan saya melakukan hal yang sama. Lamat-lamat suara instrumentalia terdengar menenangkan.

Tempat itu relatif ramai, karena malam Minggu, dan meja-meja di sana hampir penuh. Tapi suasananya sangat tenang, jauh dari kebisingan, karena orang-orang khusyuk menikmati makanannya, atau bercakap-cakap dengan suara pelan. Biasanya, saya di sana sendirian, tapi kali ini bersama seseorang. Dia telah menunggu saya di tempat parkir, dan sekarang kami duduk semeja.

Setelah bercakap-cakap beberapa saat, dia mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan foto seseorang di layar, lalu berkata, “Aku penasaran dengan orang ini. Bagaimana asal usulnya, sampai seperti sekarang?”

Saya melihat foto di layar ponsel, dan segera mengenali sosoknya. Setelah mengisap rokok sesaat, saya berkata, “Sekitar lima tahun yang lalu, dia masuk ke sebuah kampus, tapi tidak ada yang mengenalinya. Waktu itu, di kampus sedang ada keramaian entah apa, dan dia datang ke sana. Dia bukan siapa-siapa, dan tidak ada orang yang kenal, tidak ada yang tertarik. Itu pertama kali aku melihatnya.”

“Jadi, bagaimana dia bisa sampai seperti sekarang?”

Saya tersenyum. “Kita bisa mengatakan itu hasil kerja keras, doa yang dikabulkan, keberuntungan tak disangka—anything. Tapi ceritanya jauh lebih sederhana. Dia ditemukan orang yang tepat.” Saya membuka ponsel, mencari foto seseorang, lalu menunjukkan layar kepadanya. “Orang inilah yang membawa dia ke tempatnya sekarang. Dan ini tak terbantah, karena kedua pihak saling mengakui kenyataan itu, meski kebanyakan orang mungkin tidak tahu. Mereka saling membutuhkan, dan simbiosis mutualisme terjadi.”

Dia mengisap rokoknya, lalu kami membicarakan banyak hal terkait orang yang ditanyakannya. Selalu ada fakta di balik peristiwa. Dan semakin besar peristiwa, sering kali faktanya makin tak terduga. 

Ketika seorang pelayan melangkah lewat di dekat kami, dia menghentikan, dan minta minuman baru serta kudapan. Saya meminta hal yang sama. Percakapan kami masih akan panjang.

Pelayan mencatat pesanan, kemudian berlalu.

Dia kembali membuka ponselnya, lalu memperlihatkan sebuah gambar di layar. “Aku mendengar kalau kamu menganggap ini rekayasa.”

Saya melihat layar ponselnya, mengangguk, dan menggumam, “That’s embarrassing.”

“Ceritakan,” pintanya.

Saya pun menceritakan, “Itu sebenarnya produk gagal. Pembuatnya mengirimkan itu pada dua pihak yang berbeda, dan keduanya menolak. Karena memang buruk. Tapi dia terlalu percaya diri, dan yakin itu mahakarya. Dia lalu mengirimkan ke pihak ketiga, yang waktu itu di ambang kebangkrutan, dan produk itu pun dibuat, dengan harapan dapat menyelamatkan perusahaan dari bangkrut total. So, produk itu pun muncul di pasar. Tapi itu produk gagal, dengan kualitas buruk. Sampai di sini, sebenarnya kita bisa meramalkan apa yang terjadi; produk itu tidak akan laku. Tapi pembuatnya—si keparat yang terlalu percaya diri—melakukan sesuatu yang tak terpikirkan siapa pun.”

Saya mengisap rokok sesaat, lalu melanjutkan, “Dia membanjiri forum-forum di internet—yang waktu itu masih sangat ramai—dengan tulisan-tulisan ala testimoni terkait produk tadi. Di waktu-waktu itu, pelan namun pasti, semua orang di berbagai forum mulai mengenal produk itu, dan ikut membicarakannya karena penasaran.”

Saya membuka ponsel, mencari sesuatu, lalu meletakkannya di meja. Di layar ponsel terlihat halaman forum yang berisi tulisan ala testimoni, dan saya berkata, “Ini hanya beberapa contoh yang masih bisa terlacak sampai sekarang. Ada banyak forum yang sekarang sudah tutup, sehingga tulisan-tulisan di masa itu sudah tak terlacak. Tapi coba lihat yang ini... dan ini... dan ini... dan ini...”

Dia membaca tulisan-tulisan di beberapa forum yang saya tunjukkan, mengangguk-angguk, lalu berkata, “Jadi, dari sini hype mulai terjadi?”

“Hype-nya mungkin dari situ,” sahut saya, “tapi booming-nya dimulai dari sini.” Saya membuka YouTube, dan memperlihatkan rekaman video acara televisi yang sangat terkenal. “Dia mengirim surat ke acara ini—seolah-olah dikirim orang lain—membicarakan produk tadi, dengan segala uraian yang bombastis. Surat itu dikirimkan seseorang dengan nama dan alamat yang jelas di amplopnya.”

“Wait,” dia berkata, “maksudmu, surat itu dikirim dalam bentuk kertas dan amplop? Bukan e-mail?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Ada beberapa kemungkinan. Dia bisa saja tidak tahu alamat email yang harus dituju. Nyatanya, host acara televisi itu memang tidak mempublikasikan alamat e-mailnya, khususnya di masa itu. Jika dia menulis e-mail dan mengirimkannya ke alamat e-mail stasiun televisi yang menayangkan acara itu, tidak ada jaminan e-mail-nya akan dianggap serius, dan tidak ada jaminan e-mail itu akan disampaikan pada orang yang dituju. Jadi, dia sengaja mengirim surat lewat pos, karena ingin memastikan pesannya benar-benar sampai pada orang yang dituju—host acara televisi tadi.”

Dia mengangguk-angguk, dan berkata perlahan, “I see... aku paham maksudnya. Jika kita mendapat surat berbentuk amplop dengan nama seseorang tertulis di amplopnya, kita pasti akan menyerahkan surat itu kepadanya, kan?”

“Tepat seperti itu!” 

“Lanjutkan.”

Pelayan datang membawakan dua minuman dan dua piring berisi kudapan. Setelah mempersilakan dengan sopan, dia kemudian berlalu.

Saya menyesap minuman di gelas, mengisap rokok, lalu berkata, “Surat itu, seperti yang kita perkirakan, sampai ke tangan host acara televisi tadi. Membaca isinya, host itu mungkin penasaran, lalu mencari beberapa orang—tiga wanita, waktu itu—yang tahu produk tadi. Tiga wanita itu diundang ke acara tersebut, mereka membicarakan produk itu bersama sang host, dan itu benar-benar iklan gratis selama satu jam yang luar biasa.”

Dia berkata, “Dan setelah itu, produk tadi booming?”

“Ya,” saya mengangguk. “Sejak itu ratusan ribu produk terjual, bahkan orang-orang yang awam tentang produk itu ikut-ikutan beli gara-gara hype yang terjadi. Di masa itu, di mana pun, orang-orang asyik membicarakannya, padahal mereka tidak pernah bersentuhan dengan produk semacam itu sebelumnya. Tiba-tiba, semua orang seperti ‘ahli’ terkait produk itu.”

Dia mengunyah kudapan di piringnya, menyesap minuman, lalu bertanya, “Jadi, bagaimana kamu sampai terpikir semua itu hasil rekayasa?”

“Karena sejak awal aku tahu itu produk gagal.” Setelah terdiam sesaat, saya berbicara panjang lebar tentang produk itu. Kemudian, “Pada amplop yang dikirim ke host acara televisi tadi, terdapat nama dan alamat si pengirim—itulah yang menjadikan surat itu tampak ‘nyata’. So, aku melacak alamat itu. Hasilnya, tidak ada nama dan alamat seperti yang tertulis di amplop!”

“Jadi pengirim surat itu memang fiktif?”

“Sejak awal aku sudah tahu surat itu memang fiktif. Jadi, aku sama sekali tidak terkejut ketika mendapati kenyataan nama dan alamat di amplop itu benar-benar tidak ada.”

Selama sesaat, kami menikmati kudapan di piring sampai tandas, lalu menyesap minuman. Setelah itu, kami menyalakan rokok baru, dan berbicara panjang lebar tentang produk tadi. Setelah puas mendengar penjelasan yang ingin diketahuinya, dia berkata, “Kenapa kamu tidak pernah mengungkapkan semua ini ke publik?”

Saya berkata dengan berat, “Ada banyak kebenaran yang sebaiknya kamu simpan sendiri, karena orang-orang tidak akan percaya kalau kamu mengatakannya pada mereka.”

Sekali lagi kami tenggelam dalam percakapan yang intens, dengan minuman yang makin berkurang dan asap rokok yang tak henti mengepul.

Setelah topik percakapan soal itu usai, kami beralih ke topik lain. Kali ini dia berkata, “Kemarin aku ketemu Amri dan teman-temannya, dan kami membicarakan proyek yang mereka tangani. Amri bercerita, kamu membantu mereka, tapi sepertinya ogah-ogahan. Kenapa, kalau boleh tahu? Siapa tahu aku bisa menyampaikannya ke Amri, karena dia sangat ingin kamu membantunya.”

“Tidak ada kesepakatan yang jelas,” saya menjawab. “Ketika aku membantu mereka, aku hanya berpikir semata-mata membantu teman. Sebenarnya, aku bukan ogah-ogahan membantu, tapi tidak tahu apa sebenarnya yang harus kulakukan untuk membantu mereka, karena memang tidak ada intruksi yang jelas. Karena sifatnya hanya membantu, aku juga tidak berani berinisiatif macam-macam, karena tidak enak kalau dianggap melangkahi atau melancangi. Jadi, selama membantu mereka, aku hanya sekadar membantu, dan tidak berani menyampaikan pendapat apapun, karena kupikir itu bukan kapasitasku untuk melakukannya.”

Saya mengisap rokok, lalu melanjutkan, “Beda soal kalau misal ada kesepakatan yang jelas terkait proyek itu, dan Amri menjelaskan apa tugasku, dan apa yang harus kulakukan. Dengan deskripsi yang jelas semacam itu, aku jadi paham bagaimana posisiku, sehingga tidak ragu-ragu kalau mau berinisiatif apapun, karena menyadari memang punya kapasitas untuk melakukannya.”

Dia mengangguk. “Jadi, apa yang harus kukatakan pada Amri?”

“Sederhana. Beri aku kesepakatan yang jelas, dengan job description yang jelas, agar aku tahu apa yang harus kulakukan.”

“Done. Anggap saja sudah kulakukan, dan besok kamu akan mendapat kesepakatanmu.” Setelah itu dia kembali membuka ponsel, lalu menyodorkannya ke arah saya, “Sekarang ceritakan tentang orang ini.”

Saya tersenyum. “Sepertinya obrolan kita masih akan panjang.”

Dia memanggil pelayan untuk kembali memesan minuman.

Draft Kasar Kehidupan

Ada pemulung yang bekerja sejak pagi buta, sampai matahari terbenam. Seharian penuh dia berkeliling, mencari benda apa pun yang sekiranya bisa dikilokan—rongsokan besi, ember rusak, anything—yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit di karung yang ia siapkan dari rumah. 

Keesokan harinya, saat berangkat memulung, dia membawa benda-benda rongsokan itu ke pengepul untuk dijual. Saya mengenal orang yang bekerja sebagai pemulung, dan pernah bertanya berapa pendapatannya dalam sehari. Dia menjawab jujur, “Rata-rata 30 sampai 40 ribu per hari.” 

Kadang-kadang, pas ada rezeki nomplok—misal rongsokan yang ia temukan lebih banyak—penghasilannya bisa lebih besar. Tapi rata-rata dia hanya mendapat 30 sampai 40 ribu per hari. Karenanya, ia berkata, “Kalau tidak bekerja, aku tidak bisa makan.”

Orang yang harus bekerja seharian demi mendapat 30-40 ribu per hari—seperti pemulung tadi—pasti tidak akan cocok berteman dengan orang yang punya penghasilan, misalnya, 1 juta per hari. Kenapa? Karena yang punya penghasilan 1 juta per hari cenderung lebih santai dalam hidupnya.

Orang yang punya penghasilan 1 juta per hari mungkin bisa ngoceh, “Kerja tidak usah ngoyo,” atau, “Rezeki sudah ada yang ngatur,” atau, “Hidup harus dinikmati,” bla-bla-bla. Kalimat semacam itu mungkin relevan bagi dia, tapi tidak relevan bagi si pemulung. Mereka tak akan cocok.

Kalau orang punya penghasilan 1 juta per hari, dia bisa libur kerja tiga hari dan bisa tetap hidup. Tapi orang yang punya penghasilan 30 ribu per hari, bekerja sudah bukan lagi kebutuhan atau kewajiban, tapi perjuangan mempertahankan hidup, yang mau tak mau harus dilakukan.

Latar belakang semacam itulah yang menjadikan pemulung lebih suka berteman dengan sesama pemulung, daripada berteman dengan, misalnya, bos rental mobil. Karena pemulung akan merasa lebih cocok dengan sesama pemulung—bukan dengan bos rental mobil.

Kalau pemulung berteman dengan bos rental, dia akan sering tertekan dan tidak nyaman. Ketika sedang sibuk bekerja, misalnya, bos rental ngajak nyangkruk. Bagi si bos rental, nyangkruk bukan masalah. Tapi bagi si pemulung, nyangkruk artinya menyia-nyiakan waktu yang berharga.

Ilustrasi ini adalah gambaran mudah sekaligus “draft kasar” yang membentuk kita, lingkungan sosial dan pergaulan kita, dan yang ikut menentukan orang-orang di sekeliling kita. Tidak semua baut akan cocok dengan mur, dan kalau dipaksakan dapat menimbulkan masalah.

“Yo Ndak Tahu, Kok Tanya Saya!”

Ketika seseorang yang punya kuasa—atau diserahi kuasa—ditanya mengenai hal-hal tertentu yang ada di bawah kuasa atau kendalinya, tapi menjawab “tidak tahu” atau memberikan jawaban mutar-mutar yang tidak secara langsung menjawab, perbuatan itu disebut shift the burden of proof.

Shift the burden of proof, yang secara harfiah “memindahkan beban bukti”, adalah upaya berkelit seseorang dari pertanyaan yang tidak bisa ia jawab, atau tidak mungkin ia jawab terang-terangan, karena alasan tertentu. Shift the burden of proof adalah senjata utama para politisi.

Ketika seseorang ditanya sesuatu yang mestinya bisa ia jawab dengan lugas dan jelas tapi menjawab mutar-mutar atau malah bilang “tidak tahu”, dia sedang berusaha “memindahkan beban bukti”. Sekali lagi, itu ciri khas politisi, dan itulah kenapa para politisi tampak membosankan.

Bagaimana dengan Ahok, Ganjar, atau Gus Dur? Apakah mereka tampak membosankan? Tidak, karena mereka bukan hanya politisi, tapi juga negarawan, dan inilah perbedaan esensialnya! Ketika ditanya sesuatu yang ada di bawah kuasanya, mereka menjawab lugas, jelas, bahkan frontal.

Perbedaan esensial antara politisi dan negarawan adalah; politisi “memindahkan beban bukti” dengan melempar tanggung jawab ke pihak lain, sehingga tidak berani memberi jawaban jelas atau terang-terangan. Ditanya A, misalnya, jawabannya B, C, D, atau malah menjawab mutar-mutar.

Sementara negarawan meletakkan tanggung jawab pada diri sendiri, khususnya terkait hal-hal yang memang ada di bawah kuasa atau kendalinya. Negarawan berkata dan bersikap jujur, berintegritas, tidak melempar tanggung jawab ke pihak lain, dan itulah kenapa mereka tampak menarik.

Negara ini punya banyak politisi yang membosankan, tapi negara ini juga punya banyak negarawan yang menarik. Kita selalu tahu perbedaannya. Politisi berjarak dengan rakyat, negarawan menyatu dengan rakyat. Politisi memikirkan dirinya sendiri, negarawan memikirkan orang banyak.

Dan sekarang kita sedang dihadapkan pada pilihan penting; memilih politisi yang mementingkan dirinya sendiri hingga mengacak-acak konstitusi dan merusak demokrasi... atau memilih negarawan yang mengemban amanat rakyat dengan integritas? 

Aku pilih yang kedua.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 November 2023.

Pertukaran

Hidup kita, sering kali, merupakan pertukaran antara yang kita sukai dengan sesuatu yang lebih penting. Karena rata-rata kita tidak bisa mendapatkan semuanya. Ada hal-hal yang kita sukai, tapi terpaksa harus ditinggalkan, demi sesuatu yang lebih penting. Misalnya agar tetap hidup, dan sehat.

Sejak kena GERD, misalnya, ada banyak hal yang harus kutinggalkan, padahal semula kusukai. Di antaranya cokelat. Itu berat sekali. Dulu, di rumahku selalu ada stok batangan cokelat, juga bubuk cokelat untuk bikin minuman. Sekarang harus kutinggalkan. Kini tidak ada lagi cokelat.

Itu contoh sederhana, bagaimana kita kadang harus menukar sesuatu [yang kita sukai] demi sesuatu yang lain [yang lebih penting]. Sejujurnya aku tidak tahu apakah itu pertukaran yang adil... tapi hidup adalah soal pilihan. Aku bisa memilih, tentu saja, dan aku menjatuhkan pilihan.

Aku bisa memilih untuk terus menikmati cokelat yang kusukai, dan bermasalah dengan GERD... atau memilih berhenti mengonsumsi cokelat demi bisa melanjutkan hidup dengan nyaman dan sehat. Aku memilih yang kedua. Tidak ada cokelat, yang penting ada putih-putih. Appeuuuhh...

Putih-putih itu maksudnya air putih.

Tidak Peduli

Dari dulu, aku menunggu ada orang mengatakan “no pic, hoax” kepadaku—orang yang menganggap foto/gambar sebagai bukti kebenaran, padahal foto dan gambar pun bisa direkayasa. Sayangnya, sampai sekarang, belum pernah ada orang mengatakan kata-kata itu kepadaku.

Tetapi, jika peristiwa itu benar-benar terjadi, jika sampai ada orang mengatakan “no pic, hoax” kepadaku, aku akan mengatakan kepadanya, “Kenapa kamu berpikir aku berharap kamu percaya? Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak. Aku hanya mengatakan hal-hal yang memang harus kukatakan, dan aku tidak peduli dunia percaya atau tidak!”

Jujur Saja

Jujur saja, kalau kamu menyatakan pasanganmu luar biasa, perkawinanmu bahagia, dan keluargamu sempurna... tapi ke mana-mana kamu bertanya “kapan kawin?” pada siapa pun yang kamu temui, maka aku akan tahu bahwa pasanganmu menjengkelkan, perkawinanmu menyedihkan, keluargamu berantakan, dan batinmu sangat tertekan.

Orang-orang lain mungkin bisa tertipu, tetapi... tidak usah repot-repot menipuku.

Sepi Ngelangut

Ini TL-ku jam segini bener-bener sepi ngelangut. Apa emang udah gak ada yang melek, ya?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Oktober 2019.

Hei Jongos Sutarto, Erna Kabarnya Gimana?

Hei, Jongos Sutarto.

Erna istrimu kabarnya gimana? Apa masih kamu tawar-tawarkan ke orang lain?

Kamu menjijikkan sekali ya, Jongos. Istri sendiri kok ditawar-tawarkan ke orang lain.

....
....

Bagi yang ingin tahu siapa Jongos Sutarto, dan seperti apa orangnya, silakan DM saya di Twitter.

Xghnylidfhtvkll Jdfpsdf Sgfhirewrn Bsdasfdwe3dsf Nserwewvfg Fsasw34sdx

Lhah, kemarin ke mana saja?

Selamat Tahun Baru

Selamat merayakan tahun baru, bagi yang merayakan. Bagi yang tidak merayakan, ya tidak apa-apa. Karena merayakan atau tidak merayakan sesuatu adalah soal pilihan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Januari 2018.

Pepatah Langit

Sedikit tidak apa-apa, asal rutin. Karena pohon besar dimulai dengan biji, dan perjalanan paling jauh dimulai langkah kecil.

 
;