Rabu, 20 Januari 2021

Jessica

Semoga Tuhan melindungimu, Jessica. 
Dan semoga kebenaran membebaskanmu.


Takdir kadang sangat tak terduga, seperti klimaks yang tiba-tiba. Seperti takdir yang terjadi lima tahun lalu, yang belakangan melemparkan Jessica Kumala Wongso ke balik dinding penjara.

Lima tahun yang lalu, pada 6 Januari 2016, Jessica janjian dengan dua temannya, untuk bertemu di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Dua teman itu adalah Wayan Mirna Salihin dan Hanny Boon Juwita. 

Jessica tiba lebih dulu di kafe, dan dia memesan tiga minuman—untuk dirinya sendiri, dan untuk dua temannya. Tiga minuman yang dipesan Jessica waktu itu adalah dua koktail untuk dirinya dan Hanny, serta kopi vietnam untuk Mirna.

Sesaat setelah itu, dua teman Jessica datang, dan mereka duduk di satu meja. Mirna meminum kopi vietnam yang telah dipesankan untuknya, dan, tak lama kemudian, dia tak sadarkan diri. Mirna lalu meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. 

Terkait peristiwa itu, polisi turun tangan—mereka memeriksa kafe, para pegawai, CCTV, juga memeriksa Jessica, Hani, dan keluarga Mirna. Singkat cerita, Jessica ditetapkan sebagai tersangka. Peristiwa itu terjadi pada 29 Januari 2016, dan dasar persangkaan adalah menaruh racun sianida dalam kopi yang diminum Mirna.

Pada 15 Juni 2016, sidang pertama untuk kasus itu digelar. Belakangan, butuh 32 kali persidangan, sampai akhirnya majelis hakim memutuskan Jessica bersalah, dan menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara. Peristiwa itu terjadi pada 27 Oktober 2016.

Sebelumnya, di persidangan ke-28, yang terjadi pada 13 September 2016, Jessica membacakan pledoi (nota pembelaan) di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Sambil berurai air mata, dia menyatakan tidak melakukan perbuatan yang dituduhkan, bahwa dia tidak membunuh Mirna, bahkan punya niat saja tidak.

Tapi pledoi dan air mata Jessica tidak mengubah keputusan majelis hakim yang tetap memutuskan dia bersalah, serta menjatuhkan hukuman yang sampai saat ini masih dijalaninya.

Berikut ini transkrip lengkap nota pembelaan Jessica yang ia bacakan pada 13 September 2016 silam (saya transkrip seutuhnya, dengan sedikit perbaikan dan penambahan tanda baca di sana-sini, agar lebih nyaman dibaca, tanpa ada sedikit pun perubahan substansi).

Saya ada di sini, karena dituduh meracuni teman saya, Mirna. Saya tidak menyangka kalau pertemuan di tanggal 6 Januari tersebut adalah saat terakhir saya bertemu Mirna, apalagi saya dituduh membunuhnya. Namun saya sadar, tidak ada yang luput dari kehendak Tuhan yang Maha Esa. Dan selama ini saya diberi kekuatan yang sangat luar biasa untuk menghadapi cobaan ini.

Mirna adalah teman yang baik, karena memiliki sifat yang ramah, baik hati, dan jujur dengan teman-temannya. Selain itu, dia juga sangat humoris, kreatif, dan pandai. 

Walau kita jarang bertemu karena tinggal di negara yang berbeda, tetap sangat mudah untuk menghabiskan waktu berjam-jam bercanda dan mengobrol pada saat bertemu. 

Tidak pernah terlintas di pikiran saya bahwa Mirna datang dari keluarga yang siap menekan dan mengintimidasi siapapun yang mereka percaya telah berbuat hal yang buruk, walau tanpa penjelasan yang pasti. 

Itu membuat saya berpikir, apakah mereka menjadi jahat karena kehilangan Mirna? Bagaimanapun juga, saya tidak membunuh Mirna. Jadi seharusnya tidak ada alasan untuk memperlakukan saya seperti sampah. Saya mengerti kesedihan mereka, dan saya pun merasa sangat kehilangan. Tapi saya pun dituduh membunuh, yang saya tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan itu dengan kata-kata. 

Sebelum kejadian, saya tidak mendapatkan firasat apapun yang menunjukkan kalau hari itu akan mengubah hidup banyak orang. Semua hal yang saya lakukan dan tidak saya lakukan dibesar-besarkan, seluruh rakyat Indonesia menghakimi saya. Semua tuduhan kejam, berdasarkan tuduhan yang saya tidak mengerti. Tapi membuat semua orang percaya kalau saya seorang pembunuh. 

Keluarga saya dipojokkan, dan kami dibuat sangat menderita. Yang Mulia, sulit untuk menjelaskan apa yang benar-benar saya rasakan atas kejadian ini. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Apa benar ini gara-gara kopi? Tapi satu hal yang saya tahu dan yakini, saya tidak menaruh racun dalam kopi yang diminum Mirna. 

Seringkali saya berpikir, apa ada hal yang bisa saya lakukan lebih baik di hari itu untuk mengubah semuanya? Pikiran ini membuat saya sangat sedih dan tertekan. Dalam waktu yang cukup lama, saya tidak bisa berupaya untuk membela diri. Walaupun kenyataan hidup saya sangat mengerikan, tapi saya yakin Tuhan mendengar doa saya, karena ini doa orang benar yang tertindas. 

Pada hari kematian Mirna, mimpi buruk saya dan keluarga saya dimulai. Sejak di rumah duka, saya sudah dituduh menaruh sesuatu di kopi Mirna, lalu polisi tanpa seragam dan identitas mulai berdatangan ke rumah. Bahkan keluarga sekitar terganggu. Wartawan mulai datang ke rumah, dan akhirnya saya tampil di media dan dicemooh. 

Setelah itu saya ditangkap di hotel, dimana saya dituduh lagi mencoba untuk kabur, padahal waktu itu kami hanya mencari ketenangan dan kenyamanan yang tidak bisa didapatkan di rumah lagi. Untuk keluar membeli makan saja sulit. Mulai hari penangkapan, tekanan dari polisi semakin terlihat. Mereka terus menerus menyuruh saya untuk mengaku dengan rekaman CCTV sebagai senjata.

Yang Mulia, tidak peduli seberapa berat, sedih, tertekan dan hancur, apapun dan siapapun tidak akan bisa membuat saya mengakui perbuatan yang tidak saya lakukan, dan tidak mungkin akan saya lakukan. 

Saya ditempatkan di satu sel yang ukurannya tidak lebih 1,5 x 2,5 meter. Saya diperingatkan, tahanan lain akan melakukan hal yang tidak baik terhadap saya. Tidak ada satu barang pun yang saya miliki, dan tidak boleh dikunjungi keluarga sampai lima hari ke depan. Satu-satunya benda yang ada di sana adalah sepotong pakaian kotor di lantai. Sewaktu saya berbaring di sana, saya menangis, dan bertanya apa yang sudah saya lakukan, sehingga saya diperlakukam seperti ini. 

Saya mencoba mencari orang lain, karena saya sangat takut berada di sana. Saya tidak berani membayangkan bagaimana perasaan orang tua saya. Lalu saya coba mengintip dari satu-satunya celah, untuk berkomunikasi, yaitu lubang kecil di pintu besi. Tapi tidak ada seorang pun di sana. 

Pada malam berikutnya, direktur pimpinan umum yang menjabat saat itu, datang ke sel saya, dan mengajak ke satu ruangan. Dengan disaksikan penjaga dari luar ruangan, dia mulai berbicara dengan bahasa Inggris, bahwa dia merendahkan harga dirinya untuk datang ke tahanan. Lalu dia meminta saya mengakui tuduhan yang diberikan kepada saya, dengan dalih sudah memeriksa rekaman CCTV. Pada intinya, dia mau mengatakan, kalau saya mau mengakui maka saya akan divonis tujuh tahun, bukan hukuman mati atau seumur hidup. 

Lalu saya kembali ke sel. Di sana saya berharap untuk bangun dari mimpi buruk ini, dan berpikir kenapa mereka sangat yakin kalau saya menaruh racun di kopi tersebut. Saya benar-benar tidak mengerti apa maksud semua ini. 

Yang Mulia, salah satu pengalaman yang terberat adalah waktu rekonstruksi di Grand Indonesia. Setibanya di sana, saya melihat banyak sekali polisi, baik di luar ataupun di dalam gedung. Apapun tujuan mereka, itu sudah berhasil mengintimidasi. 

Dengan memakai baju tahanan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan, saya mendapatkan tatapan sinis dari semua orang, terutama pegawai Kafe Olivier. Tapi yang membuat saya hancur adalah saat melihat Arif dan Hanny dan keluarga mereka. Di balik ekspresi saya yang tenang, saya hanya ingin berteriak kepada mereka kalau saya tidak membunuh Mirna.

Mohon tolong saya, saya sangat menderita. Namun pada saat itu saya hanya bisa menerima perlakuan dan perasaan mereka, dan berdoa semoga Tuhan memberikan jalan keluar. 

Tidak selesai itu saja, setelah itu saya harus berjalan menuju toko sabun. Di sore hari pada hari Minggu, saya harus melewati pengunjung yang menghujat saya pembunuh berdarah dingin, dan mengambil foto. Sampai sekarang saya tidak tahu harus bagaimana menghadapi semua itu. 

Saat itu saya kembali ke sel dan mengeluarkan semua air mata yang tertahan seharian. Saya tidak mau mempedulikan situasi sel yang sangat tidak nyaman, karena hal ini. Selama masih secara rutin diperiksa di Polda dan di RSCM, walau berat saya tetap mengikuti, dan berharap cepat selesai, dan bisa pulang. 

Bagaimanapun stresnya, saya tetap menghormati proses pemeriksaan sesuai prosedur. Semua tuduhan yang berdatangan dari orang-orang yang tidak dikenal dan orang-orang yang dulu saya sayangi, membuat saya merasa tidak ada lagi yang tersisa dalam diri saya. Namun saya yakin semua akan baik-baik saja. 

Setelah empat hari dikurung sendiri, saya dipindahkan ke Pondok Bambu. Pertama-tama saya sangat takut, karena begitu banyak orang di sana membuat saya sangat khawatir akan peringatan polisi pada saat saya ditahan. 

Setelah keluar dari isolasi di Polda, saya perlahan mulai bisa memepersiapkan diri untuk bisa menghadiri proses sidang yang menyeramkan ini. Menyeramkan, karena tujuan dari persidangan ini adalah untuk mengadili saya sebagai pembunuh. 

Padahal saya tidak melakukan itu. Bahkan saat proses persidangan berlangsung, kehidupan saya pribadi yang tidak ada kaitannya dengan kasus ini dibahas dan menjadi konsumsi publik. Banyak orang yang, dengan sengaja maupun tidak sengaja, menindas dan menekan saya. 

Saya tetap bersyukur karena masih ada orang di sekitar saya, yang saya kenal secara pribadi maupun tidak, dengan tulus memberikan dukungan, dan percaya kalau saya tidak bersalah. Dengan dukungan tersebut, saya bisa bersikap tegar dan tersenyum. 

Kalau Yang Mulia dapat berhenti sejenak, membayangkan Yang Mulia berada di posisi saya, Yang Mulia akan bisa mengerti kenapa saya bertanya-tanya apa yang terjadi dan mengapa semua ini sangat membingungkan, bagaimana bisa orang berbuat jahat seperti ini terhadap saya. Karena pengalaman ini, hidup saya tidak akan kembali seperti semula. 

Namun saya tidak menyesal telah mengenal Mirna. Dia akan selamanya hidup di hati saya sebagai teman yang baik, dan dia tahu kalau saya tidak mungkin meracuni orang. Saya memohon Yang Mulia bisa dengan bijak menilai karakter saya. 

Bukan berdasarkan kebohongan. Walaupun sisi baik saya selalu diabaikan di persidangan ini, saya tetap berharap agar Yang Mulia bisa menilai dengan hati yang arif dan bijak dalam menilai karakter saya yang sesungguhnya. 

Saya bersumpah kalau saya bukan seorang pembunuh. Saya berada di sini dengan tegar dan kuat adalah bukti yang mutlak kalau Tuhan bersama kita semua. Terima kasih Yang Mulia sudah mendengarkan saya.

Wong Ora Nduwe

Aku suka menyebut diriku “wong ora nduwe”.

Ora nduwe appeeeeuuuuhhh?

Ora nduwe mbakyu.

....
....

Appeu.

Teman dan Pertemanan

Nemu ini, dan baru tahu, ternyata Fadli Zon dan Fahri Hamzah telah berteman sejak masih bocah. Terlepas dari urusan politik, selalu salut pada orang-orang yang mampu melanggengkan pertemanan hingga puluhan tahun.

Teman dan Pertemanan

Omong-omong soal pertemanan. Ada suatu masa ketika aku punya pikiran seperti kebanyakan orang; milikilah teman sebanyak-banyaknya. Ada banyak hal positif—yang belakangan nyaris terdengar seperti doktrinasi—mengenai pentingnya memiliki banyak teman. Dan itulah yang kulakukan.

Aku pernah punya banyak teman, dari teman jauh sampai teman dekat. Ironisnya, teman-teman yang dekat ini belakangan justru menimbulkan masalah. Pengkhianatan, menikam dari belakang, dan meninggalkan luka amat dalam; sesuatu yang kusesali karena pernah mengenal mereka.

“Yang tidak membunuhmu akan menguatkanmu.” Mungkin benar. Sejak itu aku menyadari tidak bisa mengandalkan teman atau siapa pun, selain diriku sendiri. Dan perasaan serta keyakinan itu menguatkanku. Aku tak peduli lagi dengan pertemanan, toh mereka menghilang saat dibutuhkan.

Sejak itu dan seterusnya, bahkan hingga saat ini, aku benar-benar tak tertarik dengan pertemanan, karena sudah terlalu trauma, dan terluka. Kini, aku hanya memiliki segelintir teman, yang jumlahnya bisa dihitung jari. Tapi kami benar-benar saling percaya, dan itu sudah cukup.

Tentu saja ada banyak orang yang kukenal dan mengenalku, khususnya di dunia nyata, tapi aku menganggap mereka hanya “sebatas kenal”, bukan teman. Aku lebih memilih tetap menjaga jarak. Bagiku, itu lebih aman, daripada membiarkan mereka “masuk” dan kemudian menimbulkan luka.

Mungkin aku tak beruntung dalam urusan pertemanan, dan yang kualami belum tentu sama dengan semua orang. Yang jelas, aku telah mendapat pelajaran pahit dari pertemanan, dan aku telah trauma, dan terlalu terluka. Sebenarnya, aku bahkan nyaris kehilangan kepercayaan pada siapa pun.

Dulu aku percaya ketulusan, sampai kemudian ketulusanku cuma dimanfaatkan. Dulu aku percaya pertemanan, sampai kemudian pertemanan membuahkan pengkhianatan. Trauma serta luka itulah yang lalu membuatku lebih menikmati kesendirian... dan tak peduli lagi dengan urusan pertemanan.

Teman dan Pertemanan

Seorang mbakyu berkata, “Kenangan itu seperti pisau tajam, Hannibal. Selama kau mengingatnya, selama itu pula kau akan terluka.” 

Mungkin benar. Yang jadi masalah, Hannibal Lecter tak pernah lupa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Oktober 2020.

Syahrini adalah Mbakyu

Baru tahu. Ternyata usia Reino Barack lebih muda dibanding Syahrini. Mungkin Syahrini adalah mbakyu. Apppeeeuuuhh...

Rey Utami cerita, alasan kenapa Reino memilih Syahrini. Karena, bahkan ketika sedang marah, suara Syahrini tetap lembut. 

Subhanallah... sepertinya Syahrini memang seorang mbakyu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Juni 2020.

Noffret’s Note: Konservatisme

Dulu, aku berpikir konservatisme akan pudar seiring berlalunya generasi tua. Ternyata konservatisme beregenerasi, bahkan berevolusi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 April 2020.

Minggu, 10 Januari 2021

Orang Insecure dan Teori Goblok

Mumpung selo, dan sambil nunggu udud habis.

Bayangkan ilustrasi tolol ini. 

Aku sangat ingin kenal dan berteman dengan Young Lex, misalnya—atau siapa pun, sebut saja. Tetapi, aku tidak pede menyapa Young Lex. Karena insecure, aku lalu berpikir, “Seharusnya Young Lex yang mengajakku berteman.”

Cara berpikir semacam itu saja sudah salah! Wong aku yang ingin kenal dan berteman dengan Young Lex, tapi justru berharap Young Lex yang mengajakku kenalan dan berteman. Ini pola pikir kacau khas orang insecure; menganggap orang lain yang harus berinisiatif.

Orang insecure punya pola pikir yang konyol; kurang percaya diri, tapi menganggap orang lain tertarik kepadanya—padahal belum tentu juga begitu. Seperti aku yang tidak pede mengajak Young Lex berteman, tapi berpikir bahkan meyakini Young Lex tertarik kepadaku. Ini Konyol!

Karena sejak awal pola pikirnya sudah salah, langkah selanjutnya pun ikut salah. Karena menunggu Young Lex tidak juga mengajakku berteman, aku lalu terpikir untuk mengganggu Young Lex. Apa manfaatnya? Yo mbuh! Namanya juga pola pikir orang insecure!

Jadi, aku lalu memantau akun Twitter Young Lex, untuk melihat akun mana saja yang ia follow, tweet dari siapa saja yang ia reply dan ia retweet. Setelah itu, aku menghubungi orang-orang itu (yang di-follow dan di-retweet Young Lex) untuk kumanfaatkan demi tujuanku.

Satu per satu orang-orang tadi kuberi brief. Ada yang kuminta me-retweet suatu akun tertentu (yang kuharap bisa membuat Young Lex tertarik), ada yang kusuruh nge-tweet dan me-retweet sesuatu, dll, yang intinya agar Young Lex tertarik, dan akhirnya akan terhubung denganku.

Tidak cukup hanya itu, aku juga menghubungi beberapa orang di Twitter agar menyerang Young Lex, menyindirnya, menulis tweet-tweet nomention hingga membuatnya terganggu dan tidak nyaman, yang semua tujuannya agar Young Lex tertarik berteman denganku. Tolol sekaligus konyol!

Cepat atau lambat, Young Lex pasti tahu. Dan ketika dia tahu bahwa sekelompok orang di Twitter “mengganggu” dirinya karena brief seseorang, apa yang mungkin muncul dalam pikirannya? Ketertarikan? Sama sekali tidak! Alih-alih tertarik, dia justru akan muak dan ingin muntah!

Siapa pun akan marah sekaligus muak jika menempati posisi Young Lex, terkait konteks ocehan ini. Wong dia tidak melakukan apa pun yang membuatku rugi atau terganggu, tapi aku terus mengusik dan mengganggunya dengan berbagai cara, hanya karena ingin berteman dengannya.

Kalau kita insecure, itu masalah kita—bukan masalah orang lain! Orang lain punya masalah mereka sendiri! 

Ingin kenal dan berteman dengan orang lain, tapi berharap orang lain yang berinisiatif gara-gara kita insecure, itu konyol! Memangnya sepenting apa kita bagi mereka?

Kenyataan tolol itulah yang dilakukan media online memuakkan ini; mereka mungkin ingin mengenalku, tapi caranya sangat memuakkan. Bukannya mendekati baik-baik, tapi malah mengganggu dan bikin tak nyaman. Dan apakah aku lalu tertarik? Sama sekali tidak!


Media online tolol ini mungkin mengira aku tertarik pada orang-orang mereka. Sekarang biar kujelaskan saja; aku sama sekali tidak punya ketertarikan personal apa pun! Jika ada ketertarikan, itu sebatas ketertarikan profesional antara penulis dengan media. Selebihnya? Nothing!

Dan setelah melihat ulah mereka yang sangat memuakkan sekaligus menjijikkan, aku benar-benar tak sudi mengenal mereka. Belum kenal saja sudah mendatangkan masalah, siapa yang tertarik berteman dengan sumber masalah semacam itu? 

Mereka boleh pergi ke neraka, dan aku tak peduli.

Footnote: 

Sebenarnya, aku malas ngoceh soal ini, tapi kemarin “pelaku utamanya” muncul di TL-ku karena di-retweet seseorang suruhannya, dan langsung kublokir. Muak banget lihatnya. Setelah mengorbankan banyak orang lain, baru dia berani muncul. Benar-benar cupu dan menyedihkan.

Endnote: 

Sedari awal, sebenarnya, aku sudah tahu apa motivasi dari semua gangguan-tolol yang muncul di Twitter. Semua kegoblokan ini berawal dari teori goblok yang disebut “mematahkan sayap superhero”. Terdengar konyol? Jelas, namanya juga teori goblok.


Teori goblok itu diciptakan orang tidak pede tapi sok pintar, dan dipraktikkan orang-orang insecure. Jadi, menurut “teori” itu, kalau kau ingin kenal dengan sosok super tapi kau merasa insecure, kau bisa “mematahkannya” terlebih dulu, sampai dia kehilangan superioritasnya.

Jadi, itulah yang terjadi. Pemimpin media online memuakkan yang kuocehkan ini menyuruh orang-orang di Twitter untuk “mematahkanku”, dan sejak itulah berbagai gangguan muncul, dengan harapan aku akan kehilangan sesuatu yang membuatnya insecure. 

Kegoblokan yang memuakkan!

Selain memuakkan, teori goblok itu sebenarnya juga bermasalah. Karena, bagaimana kalau ternyata yang ingin kaupatahkan bukan superhero, tapi, misalnya, Jack Reacher?

"You think I'm a hero? I am not a hero. And if you're smart, that scares you, because I'm in your blind spot."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Desember 2020.

Jawaban untuk Beberapa Catatan

Ada beberapa orang yang sepertinya bingung atau tidak paham dengan maksud beberapa catatan di blog ini, jadi sekarang aku akan menjelaskannya. 


Setiap penulis berhak untuk mengirimkan—atau tidak mengirimkan—naskahnya ke suatu penerbit/media, apa pun alasannya. Sama halnya, penerbit/media berhak menerima atau menolak naskah yang dikirim setiap penulis, apa pun alasannya. Ini aturan yang fair.

Kalau seorang penulis mengirim naskah ke Media A, misalnya, lalu naskahnya ditolak, penulis tidak perlu repot-repot protes, karena itu hak prerogatif penerbit. Akan lebih baik kalau si penulis mengalihkan naskahnya ke media lain, yang mungkin akan lebih cocok dengan segmen atau karakter tulisannya.

Sebaliknya, kalau seorang penulis tadinya rajin mengirim naskah ke Media A, tapi kemudian berhenti mengirim naskah, Media A—sebagai penerbit—juga tidak perlu repot-repot protes atau rese, karena itu hak prerogatif penulis. Sekali lagi, ini aturan yang fair.

Bagaimana kalau misalnya seorang penulis berhenti mengirim naskah ke suatu penerbit/media, karena marah akibat ditolak? Bahkan umpama seperti itu pun, itu hak si penulis. Wong dia manusia biasa yang punya emosi. Selama si penulis tidak mengganggu penerbit, ya tidak apa-apa—marah itu sesuatu yang manusiawi. Toh dia cuma marah dan tidak mengganggu atau merugikan siapa pun.


Catatan itu membahas rezeki yang kadang datang dengan cara tak terduga, sebagaimana juga kadang hilang dengan cara tak terduga. Karenanya, dalam hal ini, aku mengambil jalan tengah, yaitu tekun bekerja, tapi juga tidak lupa untuk bersenang-senang. Rajin mengumpulkan uang, tapi juga asyik menikmatinya.

Dalam hal bersenang-senang, berkumpul bersama orang lain adalah salah satunya. Dalam hal ini, aku berkumpul dengan teman-teman yang kupercaya, sahabat-sahabat dekat—bukan dengan orang asing yang sama sekali tidak kukenal, dan belum tentu kupercaya. Sepertinya, hal semacam itu juga dilakukan semua orang.

Kalau kamu ingin berkumpul di sela-sela waktumu, kamu pasti akan memilih berkumpul dengan orang-orang terdekat, yang kamu percaya dan membuatmu nyaman, bukan dengan orang-orang asing yang jauh, yang bahkan tidak kamu kenal. 


Beberapa orang memiliki ego yang besar, dan mereka bisa dibagi menjadi dua bagian. Pertama adalah orang yang memiliki ego besar karena sombong. Contohnya adalah Sylvester Stallone yang sempat kuceritakan dalam catatan itu. Dia memiliki ego sangat besar, karena memang sombong, karena waktu itu dia menjadi magnet dengan daya tarik besar di perfilman Hollywood. Sylvester Stallone adalah jaminan film sukses, dan karena itu dia sombong, hingga punya ego sangat besar.

Sementara yang kedua adalah orang yang memiliki ego besar karena trauma akibat terlalu sering terluka. Dia sengaja menggunakan ego yang besar sebagai semacam dinding tebal agar sulit disentuh siapa pun. Bukan karena kesombongan atau keangkuhan, tapi semata karena tak ingin kembali terluka.

Karenanya, jenis kedua ini sering kali bukan orang terkenal—seperti Sylvester Stallone, misalnya—tapi justru orang biasa yang bisa jadi sama sekali tak terkenal. Kenyataannya dia punya ego yang besar bukan karena sombong atau angkuh, tapi karena tidak mudah percaya pada orang lain, akibat seringnya dilukai dan dikhianati. Dia sangat selektif memilih orang yang akan ia masukkan ke dalam hidupnya.

Orang dengan ego besar jenis pertama—semisal Sylvester Stallone—biasanya tidak mau mengakui punya ego yang besar, karena dia sebenarnya sadar itu bukan hal baik, atau bahkan aib dirinya. Karena dia punya ego besar akibat kesombongan.

Sementara orang dengan ego besar jenis kedua—yaitu yang membangun ego untuk memisahkan dirinya dari dunia—biasanya tidak malu mengakui punya ego besar, karena dia memang melakukannya bukan untuk keangkuhan atau kesombongan, melainkan untuk melindungi dirinya sendiri dari keburukan orang lain.


Ada banyak permainan yang tak mungkin dimenangkan, di antaranya judi. Contoh lainnya adalah berusaha menarik perhatian orang lain dengan cara menjengkelkan. Contoh lainnya lagi adalah berharap bisa berteman dengan seseorang, tapi malah mengganggu dan membuatnya tidak nyaman. Itu permainan yang tidak mungkin dimenangkan, dan hanya pecundang yang melakukannya.

Kalau kita ingin menarik perhatian seseorang, bagaimana cara yang terbaik? Tentu saja menunjukkan sesuatu yang membuatnya tertarik. Kalau kita ingin berteman dengan seseorang, bagaimana cara yang sehat? Tentu dengan menunjukkan kalau kita sosok yang layak dijadikan teman! Ini pola pikir yang mestinya dipahami semua orang, karena sangat sederhana.

Sayangnya, ada orang-orang tertentu yang terlalu bodoh untuk memahami hal sederhana semacam itu, di antaranya orang-orang yang bermental judi. Ketika ingin menarik perhatian orang lain, dia bukan melakukan hal baik agar orang yang dituju tertarik, tapi malah mengganggu dan bikin tidak nyaman. Ketika ingin berteman dengan orang lain, dia bukan menunjukkan sikap hangat yang membuatnya layak dijadikan teman, tapi malah menunjukkan kebusukannya sendiri yang justru menjauhkan orang darinya.  

Jadi, kamu penjudi, dan berharap aku mau memberitahumu cara memenangkan judi? Silakan ngimpi sampai mati! 


Setelah semua kebusukan kalian terungkap, masih berharap aku akan tertarik mengenal kalian? Silakan pergi ke neraka!

Jangan Menilai Orang dari Tweet-nya

Twitter ini memang menakjubkan. Kita bisa tahu kepribadian tersembunyi orang per orang dengan gamblang. Bukan lewat tweet atau ocehan mereka, tapi dengan melihat apa yang mereka lakukan.

Jangan buru-buru menilai kepribadian orang lewat tweet mereka, karena bisa jadi malah keliru. Tweet-tweet-ku, misalnya, mungkin terkesan pintar, padahal belum tentu aku memang begitu. Bisa jadi, di dunia nyata, aslinya aku goblog. Jangan menilai orang dari tweet-nya!

Sejak awal November kemarin, aku menghubungi banyak orang di Twitter lewat DM, untuk keperluan tertentu. Orang-orang yang kuhubungi itu ada mem-follow akunku, ada yang tidak. Ada yang aku follow akunnya, juga ada yang tidak. Itulah kenapa DM-ku terbuka sejak bulan kemarin.

Aku menghubungi mereka satu per satu, menyapa dengan sopan, menjelaskan maksudku dengan baik dan gamblang, dan mereka semua merespons pesanku dengan sama baik dan sopan.

Agar tidak timbul fitnah, mereka yang kuhubungi itu laki-laki dan perempuan, dan murni untuk urusan kerja.

Yang membuatku agak kaget, beberapa dari mereka ada yang blak-blakan menyatakan, "Aku nggak nyangka kamu ternyata seramah ini."

Mereka tentu menilaiku dari tweet-tweet yang kutulis—dingin, "galak", dan mungkin jauh dari ramah. Terbukti, menilai orang dari tweet-nya bisa keliru.

Sebaliknya, di Twitter ini ada orang-orang yang tweet-tweet-nya tampak "ramah", tapi aslinya pemarah, dingin, angkuh. Itu sangat jelas dari cara mereka merespons/membalas mention orang lain. 

Waktu ngetwit sih ramah dan tampak santai. Tapi disinggung sedikit langsung meledak.

Jadi tweet yang ditulis orang per orang itu bisa menipu—dalam arti belum tentu sesuai kepribadian asli penulisnya. Karenanya, aku lebih suka menilai kepribadian orang bukan dari kata-kata (tweet yang mereka tulis), tapi dari tindakan (apa yang mereka lakukan di Twitter).

Sejujurnya, aku mungkin bukan orang ramah—jika yang dimaksud "ramah" adalah pintar basa-basi. Aku hanya berusaha memperlakukan orang lain dengan baik dan sopan. Jika ingin membuktikan, caranya mudah. Cek saja seluruh mention-ku, atau responsku pada mention orang-orang lain.

Mungkin tweet-tweet-ku galak, atau terkesan penuh kemarahan. Tapi saat me-mention orang lain, atau merespons mention mereka, aku berusaha sopan dan seramah yang aku bisa. Sekali lagi, silakan cek jika ingin membuktikan. Toh Twitter ini tempat terbuka yang bisa dilihat siapa pun.

Jadi, sebagaimana penilaianmu bisa keliru jika hanya melihat dari tweet-tweet-ku, aku tidak akan menilai kepribadianmu dari tweet-tweet-mu. Aku akan menilaimu berdasarkan apa yang kamu lakukan, khususnya saat memperlakukan orang lain. 

Apa yang kamu lakukan, itulah dirimu.

Dan Twitter ini, sebagaimana yang tadi kusebutkan, benar-benar menakjubkan, karena bisa menunjukkan kepribadian orang per orang dengan gamblang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Desember 2020.

Google Down

Google kayaknya down. Kecuali search engine.

Gmail, Blogger, Youtube, Drive, bahkan Playstore, semuanya down. Ini ajaib, bagiku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Desember 2020.

Kata Tetangga Temanku

Tetangga temanku barusan berkata, "Urip ki ora usah neko-neko. Sing penting waras, duite akeh. (Hidup tidak perlu macam-macam. Yang penting sehat, duitnya banyak)."

Amin.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Juli 2020.

Jumat, 01 Januari 2021

Kesadaran

Kalimat pertama hanya menjadi serangkai kata.
Langkah pertama hanya menjadi awal mula. 
Tapi kesadaran dan konsistensi mengubah segalanya.


Anak Twitter, kalau ngomongin privilese, sering kali mendefinisikannya secara sempit. Padahal privilese tidak sesempit yang kita pikirkan. Bahkan sekadar memahami adanya privilese itu pun sebenarnya sudah privilese, karena ada banyak orang lain yang sama sekali tidak tahu!

Privilese itu kan artinya “hak istimewa”—sesuatu yang kita miliki, yang memungkinkan kita untuk mendapatkan/mengakses sesuatu, yang tidak dimiliki orang lain. Maknanya tentu sangat luas, tidak sebatas keluarga atau pendidikan saja. Bisa membaca catatan ini pun sudah privilese.

Bisa main Twitter dan mengakses internet itu privilese, karena ada orang-orang yang tidak bisa mendapatkannya karena beragam alasan. Misalnya karena tidak ada akses atau sumber daya/kemampuan yang memadai. 

Banyak orang yang sama sekali tidak punya komputer dan ponsel, apalagi akses internet. Dan mereka menjalani kehidupan tanpa hal-hal yang kita miliki (komputer/ponsel/akses internet), juga tanpa mengetahui hal-hal yang kita dapatkan (informasi dan aneka pengetahuan).

Banyak pula orang yang memiliki ponsel dan tersambung ke internet, tapi tidak tahu bahwa internet itu luas. Mereka hanya tahu bahwa internet itu ya Facebook. Kalau mereka membuka Facebook, mereka menganggap telah mengakses internet. Ada, bahkan banyak, yang seperti itu.

Tinggal di tempat yang tenang, hening, minim kebisingan, itu privilese! Karena suasana semacam itu memungkinkan orang belajar dengan tenang, dan menjalani hidup dengan khusyuk. Itu privilese yang tidak saya miliki. Tempat tinggal saya terus bising nyaris tanpa henti.

Saya tidak menikah, karena ingin menjalani hidup di rumah sendirian, dalam ketenangan, keheningan, tanpa suara dan keributan. Tapi suara-suara dari luar—yang dikeraskan loudspeaker atau toa—terus menerus masuk ke rumah, dan saya sulit mendapat keheningan.

Jadi, kalau kamu kebetulan tinggal di tempat yang tenang, hening, minim kebisingan, itu privilese, dan terus terang saya iri dengan privilese yang kamu miliki. Kamu pasti bisa belajar dan bekerja dengan tenang, bisa membaca buku tanpa terganggu, dan bisa menjalani hidup dengan khusyuk.

Diam-diam, kita sebenarnya punya banyak privilese, kalau dipikir-pikir. Tapi karena pelangi selalu ada di atas kepala orang lain, kita pun lebih mampu—dan lebih biasa—meributkan privilese yang tampak dimiliki orang lain; daripada menikmati, menggunakan, dan mengembangkan privilese yang kita miliki.

....
....

Seseorang pernah bertanya, “mengapa orang miskin tetap miskin?”, dan saya menjawab panjang lebar—dari rusaknya sistem sampai privilese yang tidak dimiliki. 

Dia menggeleng, dan berkata, “Yang menyebabkan orang miskin tetap miskin, sebenarnya, karena tidak tahu bahwa mereka miskin.”

Pernyataan itu, jujur saja, menjungkirbalikkan semua logika di kepala saya. Sistem yang buruk atau bahkan rusak memang menciptakan kemiskinan. Ketiadaan privilese juga ikut mewariskan kemiskinan. Tapi di atas semua itu, penyebab kemiskinan adalah ketiadaan kesadaran!

Seseorang baru menyadari siapa dirinya—di mana posisinya—setelah dia tahu tentang itu. Orang bodoh baru tahu dirinya bodoh setelah dia menyadarinya. Selama dia tidak menyadari dirinya bodoh, sampai kapan pun dia tetap akan bodoh, dan sulit diajak belajar. Wong tidak sadar!

Hal serupa terjadi pada kemiskinan. Entah kita tahu atau tidak, ada banyak orang miskin yang tidak sadar mereka miskin. Biasanya, orang-orang itu tinggal di komunitas yang sama, sehingga tidak ada pembanding. Karena tidak ada pembanding, mereka tidak pernah tahu.

Orang bodoh yang tidak sadar dirinya bodoh, biasanya merasa pintar. Dan orang yang merasa pintar biasanya sulit diajak belajar. Begitu pula orang miskin yang tidak sadar dirinya miskin. Bagaimana mereka terpikir untuk berjuang dan memperbaiki nasib, misalnya, kalau merasa miskin saja tidak?

Jadi, kalau kita kebetulan termasuk miskin, dan sadar bahwa kita miskin, itu privilese! Oh, well, sadar bahwa kita miskin itu privilese, karena ada banyak orang miskin yang sama sekali tidak sadar bahwa mereka miskin. Sadar bahwa kita miskin memungkinkan kita bergerak maju.

Karena sadar bahwa kita miskin, kita jadi punya pijakan atau arah pikiran yang lebih baik, salah satunya berpikir lebih kreatif untuk meningkatkan taraf hidup. Itu sesuatu yang tidak dimiliki orang-orang miskin lain, yang sama sekali tidak sadar mereka miskin. Dengan kata lain; privilese.

So, menurut saya, sebelum ngoceh panjang lebar soal sistem dan omong ndakik-ndakik lain, ada baiknya kita bertanya, “Apakah orang-orang miskin yang konon kita perjuangkan nasibnya itu benar-benar menyadari bahwa mereka miskin, ataukah mereka justru tidak sadar bahwa mereka miskin?”

....
....

Dulu, waktu masih selo, saya pernah mati-matian mengajak orang-orang untuk belajar, tapi mereka tidak pernah mau, atau ogah-ogahan. Semula, saya berpikir cara mengajak yang saya gunakan keliru, atau tidak tepat. Tetapi, meski saya telah menggunakan aneka cara berbeda, mereka tetap tidak mau diajak belajar.

Belakangan saya menyadari bahwa mereka tidak mau diajak belajar bukan karena cara ajakan yang keliru, tapi karena mereka tidak merasa butuh belajar. Dengan kata lain, sudah merasa pintar! Kalau orang sudah merasa pintar, bahkan Dajjal sekali pun akan kesulitan mengajak mereka belajar. Wong sudah merasa pintar!

Pengalaman seperti itu, jujur saja, sudah berkali-kali saya alami, dan terus terang saya sudah kecewa, bahkan patah hati, hingga sampai taraf tidak peduli. 

Kini, ketika saya telah sangat sibuk, kadang ada sekelompok orang menemui saya, mengatakan “kami ingin belajar”, dan saya menyambut mereka dengan terbuka. Meski sangat sibuk, saya berusaha meluangkan waktu untuk orang-orang itu, dan menyediakan waktu seminggu sekali untuk bertemu, berkumpul—di mana pun mereka ingin. Bisa di rumah saya, atau di tempat lain yang mereka suka. Intinya, saya menghargai orang-orang yang mau belajar. Dan kami lalu belajar bersama, tentang apa saja, dengan santai dan tawa ceria. Mereka tidak membayar serupiah pun, mereka hanya perlu meluangkan waktu.

Pada awalnya, mereka semua sangat antusias, seolah tahun depan akan bisa menguasai dunia. Tetapi, pada akhirnya, semua berakhir sama. Antusiasme mereka perlahan pudar, dan yang datang di acara pertemuan semakin sedikit, untuk kemudian hilang sama sekali. Apa alasannya? Sederhana; mereka lebih dikuasai kemalasan daripada mempertahankan hasrat belajar.

Untuk bisa kaya, kita butuh proses, kerja keras, dan perjalanan waktu yang tidak sebentar. Begitu pula, untuk bisa cerdas, kita butuh proses, belajar keras, dan waktu yang lama. Tapi para pemalas tidak sadar, dan ingin cepat cerdas sekaligus kaya secepat merebus mi instan!

Karena fenomena semacam itu telah terjadi berulang kali, akhirnya saya pun menyadari, bahwa bukan tugas saya—juga bukan tugasmu—untuk mencerdaskan siapa pun, itu tugas masing-masing orang pada dirinya sendiri. Setiap orang harus bertanggung jawab pada dirinya sendiri.

Kalau seseorang ingin lebih pintar, pertama-tama dia harus menundukkan kemalasannya, kebodohannya, keterbelakangannya. Selama dia masih menjadi budak kemalasan, kebodohan, dan keterbelakangannya sendiri, bahkan para malaikat di surga tidak bisa apa-apa.

Kesadaran mengenai hal ini, jujur saja, menjadikan saya “tidak peduli”, dan itulah latar kenapa saya lebih suka ngomong sendiri. 
 
Dua ribu tiga ratus sebelas tahun yang lalu, seorang bocah sok pintar menemui Socrates, dan menyatakan ingin belajar. “Saya ingin tahu semua yang Anda ketahui,” katanya dengan pongah.

Socrates membawa bocah itu ke pinggir sungai, lalu memegangi kepala si bocah, dan menenggelamkannya ke air, sampai cukup lama, sampai hampir mampus.

Setelah bocah itu megap-megap karena kehabisan napas, Socrates menarik kepalanya dari dalam air, dan berkata, “Kalau kamu punya hasrat belajar sebesar hasratmu untuk bernapas saat kepalamu tenggelam di air tadi... silakan temui aku lagi. Dan sebelum itu, persetan denganmu.”

Candu Awkarin

 Melihat tulisan Awkarin aja aku udah senang.
21 Oktober 2019


Rasanya ada yang kurang, kalau masuk Twitter dan tidak menemukan tweet Awkarin di TL-ku. Mungkin ini seperti candu—kau tahu yang kaurasakan, tapi tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.

Sebagian orang heran mengapa aku memuja Awkarin, bahkan ada yang sampai mengirim pertanyaan di BSM hanya untuk menanyakan hal itu. Entah akan kujawab atau tidak, tapi yang jelas jawabannya panjang.

Well, sebenarnya, aku telah tertarik pada Awkarin sejak bertahun lalu, ketika melihatnya nangis-nangis saat putus dengan pacarnya. Aku melihat sesuatu pada dirinya, yang mungkin tidak dilihat jutaan orang lain yang juga melihat video itu. 

Tuhan tahu, aku sangat ingin menulis mention untuk Awkarin, menyapanya. Tapi aku selalu ragu-ragu, selain sadar bahwa mention-ku belum tentu terbaca olehnya. Dan aku benci melakukan hal sia-sia.

Ya sudahlah, semoga Awkarin tidak muncul di Twitter karena memang sibuk dengan kegiatannya. Atau mungkin dia sedang istirahat karena kelelahan. Apa pun, aku hanya berharap yang terbaik untuknya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Oktober 2019.

Cinta di Twitter

Cinta, dalam banyak hal, sungguh sederhana. Misalnya melihat orang yang kamu cintai muncul di TL, dan kamu bahagia.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Juni 2020.

2021, Akhirnya

Meski mungkin terdengar klise, semoga 2021 lebih baik dari 2020. Manusia telah kecanduan harapan, jadi mari nikmati kecanduan ini, dengan terus berharap... karena, bagaimana pun, punya harapan tetap lebih baik dibanding tidak sama sekali.

2020 seperti tahun penuh badai, dan semua orang terkena dampaknya, banyak maupun sedikit. Semoga badai telah berlalu, dan kini saatnya kita mengumpulkan kembali puing-puing yang berserakan, membangun kembali hidup yang berantakan.

Gerbang

Suatu hari, aku berada di depan gerbang, untuk menemui seseorang, yang kepadanya aku ingin belajar. Di sisi kanan gerbang terdapat interkom, juga bel, dan sebuah CCTV. Tidak ada cara untuk bisa membuka gerbang angkuh itu, selain jika si pemilik yang membukanya.

Aku memencet bel di sisi kanan gerbang, dan menunggu beberapa detik. Muncul suara dari interkom, “Apakah kau punya rencana menikah?” 

Aku menjawab spontan, “Tidak.” 

“Apakah kau ingin beranak pinak?” 

Sekali lagi aku menjawab spontan, “Tidak.” 

Gerbang terbuka.

 
;