Jumat, 20 November 2020

Media Online Paling Memuakkan

Sambil nunggu udud habis, aku mau melanjutkan ocehan kemarin dan kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi.

Seperti yang kukatakan di sini, ada “konspirasi tolol” yang diam-diam terjadi di Twitter, sejak lama, melibatkan banyak orang, laki-laki dan perempuan, dan mereka semua terhubung satu pihak yang sama, yang memberi brief ke mereka, dengan tujuan yang sama. 



Bagaimana dan dari mana urusan tolol ini bermula? Asalnya dari sebuah media online, yang kebetulan menarik perhatianku—sekian waktu lalu. Sebut saja media X. Waktu itu aku tertarik, karena X adalah media online baru yang unik, dan aku mengatakannya terus terang pada mereka.

Karena ketertarikan itu pula, aku mencoba mengirim naskah ke mereka. Satu-satunya alasan aku mengirim naskah ke mereka cuma karena KETERTARIKAN. Honor? Untuk ukuran media lokal, paling berapa, sih? Tidak seberapa! Popularitas? Aku tidak butuh! Aku hanya tertarik, itu saja.

Naskah kirimanku ternyata ditolak. Tidak apa-apa. Bagiku, sebagai penulis, itu hal biasa. Bahkan aku masih mencoba mengirim beberapa naskah lain, yang semuanya tetap ditolak—mungkin karena tulisanku dianggap terlalu berat, dan tidak sesuai dengan segmen pembaca mereka.

Sekali lagi, aku menganggap semua penolakan itu sebagai hal biasa, dan sama sekali tidak kecewa apalagi sakit hati. Sebagai penulis, aku sadar betul bahwa risiko menjadi penulis adalah ditolak. Jadi, penolakan naskah sama sekali tidak ada artinya bagiku. Itu sangat, sangat biasa.

Sebenarnya, aku masih akan mencoba menulis dan mengirim naskah lagi untuk media X tadi. Tetapi, kebetulan ada banyak urusan mendesak yang harus kukerjakan, dan tak bisa ditunda. Akhirnya, rencana menulis untuk media online X pun tertunda, sampai cukup lama.

Ketika urusan yang mendesak sudah mulai rampung, muncul masalah lain. Blogger mengirim pengumuman yang membuatku terguncang, yaitu perubahan dasbor. Perubahan dasbor ini sangat merisaukanku, karena dampaknya luar biasa. 

Sila baca: Blogger Bikin Pusing » https://bit.ly/305S9qI

Aku punya situs Belajar Sampai Mati, yang masih butuh penambahan gambar untuk ribuan artikelnya. Urusan penambahan gambar ini akan sangat rumit jika dilakukan menggunakan dasbor baru. Karenanya, sejak pengumuman dari Blogger tadi, aku benar-benar risau.

Sejak itu pula, aku berpacu dengan waktu, memasukkan gambar pada ribuan artikel di BSM, selama dasbor lama masih bisa digunakan. Gara-gara ini pula, aku sampai meninggalkan urusan pekerjaan, siang malam hanya ngurus BSM. Selengkapnya, baca di sini. » https://bit.ly/305S9qI

Ketika aku sedang suntuk dan stres mengerjakan hal-hal itulah, media X mulai mengganggu. Mungkin mereka nunggu aku kirim naskah lagi, tapi tidak juga kirim naskah. Lalu mereka menuduhku kecewa, sakit hati, egois, dan semacamnya, melalui sarana ala nomention. Inilah asal usulnya.

Bayangkan posisimu di tempatku. Aku sedang stres, banyak urusan, berpacu dengan waktu penggantian dasbor Blogger, siang malam mengunggah gambar untuk ribuan artikel, hingga meninggalkan urusan pekerjaan yang jadi sumber nafkahku. Aku tidak sempat melakukan hal lain, waktu itu.

Dan dalam kondisi semacam itu, media online X terus menerus mengirim pesan ala nomention yang menuduhku kecewa, sakit hati, egois, dan lain-lain, nyaris tanpa henti, hanya karena aku tidak juga mengirim naskah baru ke mereka. Padahal masalahnya sepele; aku sedang sangat sibuk!

Andai mereka menghubungiku baik-baik, dan menanyakan kenapa aku tidak kirim naskah baru, dengan senang hati aku akan menjelaskan. Bahwa aku sedang banyak urusan/kesibukan, dan saat itu sedang suntuk mengurusi situs "Belajar Sampai Mati" yang sampai membuatku tidak bisa kerja.

Tetapi, alih-alih menggunakan cara yang baik dan profesional semacam itu, media X justru hanya terus menerus mengirim pesan ala nomention, menuduhku sakit hati dan kecewa karena ditolak. Kalau aku kemudian jengkel karena hal itu, bahkan iblis di neraka akan dapat memaklumi.

Sejak itulah, ketertarikanku pada media online X pudar, dan aku kehilangan gairah menulis lagi untuk mereka. Ingat kembali, satu-satunya alasanku mau menulis naskah untuk mereka cuma ketertarikan. Dan sejak itu, akibat ulah mereka yang memuakkan, ketertarikanku hilang.

Mereka masih berusaha mengirim pesan-pesan melalui sarana ala nomention dan masih menuduhku kecewa/sakit hati karena ditolak, tapi aku tak peduli lagi. 

Di Twitter, aku bahkan unfollow akun mereka, sebagai upaya menunjukkan kalau aku sudah tak tertarik dan muak dengan mereka.

Lalu, dimulailah “konspirasi tolol” di Twitter. Mungkin karena sadar mereka sudah tak menarik bagiku, media X rupanya mencari cara lain. Kali ini, mereka “memanfaatkan” orang-orang tertentu di Twitter, dan diberi brief tertentu untuk menarik perhatianku. Hasilnya sama memuakkan!

Sejak itulah, aku mendapati ada orang-orang di Twitter menulis tweet-tweet tertentu, yang lalu di-retweet oleh akun-akun yang kebetulan ku-follow. Tweet-tweet hasil brief itu sangat jelas bagiku, meski mungkin orang lain tidak tahu, dan aku sengaja tidak pernah mempedulikannya.

Tidak cukup hanya itu, media X juga memantau TL-ku untuk melihat dengan siapa saja aku berinteraksi, atau tweet dari siapa saja yang ku-retweet. Lalu muncullah kasus si aktivis ini. Aku me-retweet tweet dia, dan media X langsung menghubungi si aktivis.


Juga kasus wanita ini. Aku sering me-retweet tweet dia, dan berinteraksi dengannya. Lalu media X mendekati wanita ini, dan memberi brief agar sering me-retweet/memfavoritkan tweet dari akun-akun tertentu, agar sampai di TL-ku, dengan harapan aku tertarik. 


Kasus si aktivis dan si wanita itu hanyalah dua di antara banyak kasus lain yang terjadi di Twitter selama ini. Dan selama waktu-waktu itu, aku hanya diam, karena tak ingin ribut. Tapi ulah media X, lewat orang-orang suruhannya, makin lama makin memuakkan.



Ada orang-orang di Twitter yang disuruh “menggangguku” dengan aneka cara, dari menyindir, berusaha membuatku tertarik/terkesan, menyerangku dengan cara nomention, dll. Tak cukup di Twitter, sampai ada orang di FB diminta ikutan, lalu SS tulisannya dibawa ke Twitter! WTF is that?

Jadi, akhirnya, aku pun memutuskan untuk speak up, dan terang-terangan menunjukkan bahwa aku tahu perbuatan mereka, lewat tweet ini dan tweet-tweet beberapa malam kemarin. Ulah mereka sudah sangat memuakkan, dan sudah saatnya mereka diberi tahu.


Sekarang, aku akan mengatakan ini pada media X. 

Aku sama sekali tidak marah, tidak kecewa, juga tidak sakit hati, atas penolakan naskahku dulu, dan Tuhan menjadi saksi atas kebenaran kata-kata ini. Satu-satunya alasan aku berhenti kirim naskah, karena sedang sangat sibuk!

Tapi kalian tidak menunjukkan itikad baik. Bukannya menghubungiku dan menanyakan secara baik-baik, kalian malah menuduhku macam-macam, dan itu, terus terang, membuatku muak sekaligus sakit hati. Apalagi ditambah ulah kalian yang menggangguku di Twitter melalui orang-orang lain.

Kini, aku sudah tak tertarik pada kalian, atau media kalian, atau apa pun milik kalian, dan tidak ada apa pun lagi yang bisa membuatku tertarik. Yang kalian lakukan sudah sangat... sangat memuakkan, dan terus terang aku tidak berminat mengenal apalagi berhubungan dengan kalian.

Tak ada gunanya lagi mencoba apa pun untuk menarik perhatianku. Aku tidak butuh uang kalian. Aku juga tidak butuh popularitas yang mungkin bisa kalian berikan. Satu-satunya hal yang kalian miliki, dulu, hanya ketertarikanku. Dan ketertarikan itu sekarang sudah hilang.

Dan sekarang, fellas, kalian tahu kenapa aku terus menyematkan ini di setiap ocehanku sejak beberapa malam lalu. Baca dari awal sampai akhir: 

Hal Sepele tapi Dibikin Rumit » https://bit.ly/2SIcrT1


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Oktober 2020.

 
;