Minggu, 20 Februari 2022

Armageddon

Baca dan perhatikan berita di bawah ini, dan ingatlah sampai,
setidaknya, satu tahun yang akan datang. Ingatan memberikan
pelajaran, tapi Homo sapiens adalah makhluk pelupa.
@noffret

Satgas berharap, temuan kasus positif Covid-19
yang disebabkanvarian baru virus corona sebaiknya 
tidak disikapi dengan ketakutan yang berlebihan.
@kompascom


Dan omong-omong soal Covid-19 yang tak juga selesai ini...

Terlepas dari petaka yang telah ditimbulkannya, Covid-19 adalah virus yang ajaib, khususnya jika dilihat dari sudut pandang sains. Ia mampu bermutasi dengan sangat cerdik sekaligus cepat, dari waktu ke waktu, dari satu orang ke orang lain, dan menghasilkan efek yang berbeda-beda.

Jika kita mengingat kembali saat pertama kali Covid-19 muncul—dalam arti dikenal dunia—dampak yang diakibatkannya bisa dibilang biasa saja. Sebegitu biasa, sampai menkes waktu itu—Terawan—terkesan menggampangkan. Bagaimana pun, dia dokter, jadi dia “tahu apa yang dihadapinya”.

Sayangnya, Terawan—sebagaimana umumnya orang-orang lain di masa itu—hanya melihat apa yang terlihat. Ketika Covid-19 menyerang seseorang, waktu itu, dampaknya memang “biasa saja”. Setelah dirawat dengan baik, pasien pun sembuh, dan sehat kembali seperti sediakala. Tapi benarkah?

Sejak awal, aku tidak percaya kalau Covid-19 cuma “gitu-gitu aja”. Karena itulah, setahun yang lalu, Maret 2020, aku menulis ocehan ini.

Kau tertular corona, masuk rumah sakit dan diisolasi sambil memperkuat imunitas tubuh, lalu corona hilang sendiri? Kalau masih mengira atau berpikir seperti itu, kau perlu belajar lebih banyak! Tanpa bermaksud menakuti, wabah ini tidak seringan yang mungkin dipikir orang-orang.

Kalau “sekadar” tertular Covid-19, jujur saja, aku tidak terlalu khawatir. Itu mirip kita tertular flu—biasa saja. Yang kukhawatirkan adalah dampaknya. Sialnya, dampak itu tidak langsung terlihat.

Yang paling kurisaukan sebenarnya bukan tertularnya, tapi dampak yang ditimbulkannya. Tertular corona mungkin tidak menimbulkan kesakitan (secara fisik), tapi bagaimana dengan dampak yang ditimbulkannya? Tidak tahu soal ini, membuktikan bahwa kita perlu belajar lebih banyak.

Dampak tertular Covid-19 itu tersembunyi, diam-diam, sementara pasien yang sembuh merasa sehat kembali. Sekian waktu kemudian—dan ini bisa sangat lama—si pasien mulai merasakan dampak akibat tertular virus keparat itu. Tanyakan pada orang pertama yang tertular, dan kita akan tahu!

Orang pertama di Indonesia yang tertular Covid-19 adalah Sita Tyasutami (pasien 01), Maria Darmaningsih (pasien 02), dan Ratri Anindyajati (pasien 03). Ketika tertular, mereka “biasa saja”, dalam arti tidak tampak seperti kena penyakit berat, apalagi mereka menjalani hidup sehat.

Mereka bertiga lalu dinyatakan sembuh, dengan terapi yang juga “biasa saja”—makanan bergizi, asupan suplemen, cukup istirahat, etc—ingat, waktu itu belum ada vaksin! Intinya, mereka bertiga sembuh. Bahkan Menkes Terawan, waktu itu, merayakan kesehatan mereka dengan seremoni.

Dan apakah mereka tetap sehat seperti sediakala? Pada mulanya, iya. Lalu waktu-waktu berlalu, dan mereka merasa baik-baik saja. Satu tahun kemudian, dampak tersembunyi itu mulai menampakkan diri. Satu tahun setelah mereka sembuh, media menghubungi mereka, dan inilah yang terjadi.

Pasien 01 dihubungi lewat telepon, dan dia mengatakan (verbatim), “Selama sampai bulan Desember itu [artinya setahun sejak terkena Covid-19], aku nggak ada kenapa-kenapa, normal aja kesehatanku. Nah, Januari 2021 ini mulai lemas dan sakit-sakitan lagi, sampai berminggu-minggu.”

Ia melanjutkan, “Terus kalau ngomong banyak kayak sekarang, teleponan gitu, aku juga ngos-ngosan. Jadi staminaku tidak kayak dulu lagi.” 

Yang perlu diperhatikan di sini, Pasien 01, 02, dan 03, adalah orang-orang dari kalangan menengah atas yang menjalani gaya hidup sehat.

Tetapi bahkan menjalani gaya hidup sehat pun, mereka masih tetap terkena dampak latennya. 

Sebenarnya, ada dampak lain yang terjadi pada mereka, tapi tak perlu kutuliskan di sini, karena bisa panjang sekali—kalian bisa searching sendiri kalau penasaran, karena banyak beritanya.

Intinya, yang ingin kukatakan, Covid-19 mirip Kuda Troya—menyimpan bahaya di balik sesuatu yang tampak biasa-biasa saja. Dan kenyataan itu akhirnya terbukti seiring penelitian demi penelitian mengungkapkannya. Tanpa bermaksud menakut-nakuti, dampak Covid-19 bisa mengerikan.

Hal mengerikan pertama adalah kerusakan paru-paru. Agar aku tidak dituduh menakut-nakuti, sila cari sendiri. Hal mengerikan kedua dan seterusnya... well, sebaiknya kalian juga cari sendiri. Dan akhirnya, inilah dampak “terakhir”—armageddon—Covid-19 bisa menyebabkan impotensi.

Dr. Ranjith Ramasamy, direktur program urologi reproduktif, menuliskan penelitian itu di World Journal of Men's Health, dengan judul “Endothelial Dysfunction Can Cause Erectile Dysfunction: Histopathological, Immunohistochemical, and Ultrastructural Study of the Human Penis”.

Apakah "dampak terakhir" itu mengingatkan kita pada sesuatu?

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, masih panjang sekali, dan mungkin baru selesai beberapa hari sebelum kiamat. Tapi ududku sudah habis. Jadi cukup sampai di sini, dan ingatlah selalu untuk hati-hati.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Mei 2021.

Bank Tutup karena Pandemi

Tadi ke bank kok tutup. Apa libur karena ada peringatan Hari Perempuan Internasional? Baru tahu.

Ooh, ternyata karena pandemi. Kantor cabang bank buka-tutup sesuai jadwal dari kantor pusat, bukan sesuai jadwal harian biasa.

Satu lagi kerusakan yang ditimbulkan pandemi covid.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Maret 2021.

Ironi Pandemi

Dulu, setiap malam, aku selalu keluar rumah untuk cari makan. Tapi sejak Idul Fitri kemarin, seiring pandemi makin mengkhawatirkan, aku tak pernah lagi keluar rumah, sampai sekarang. Alasannya sederhana; tempat-tempat makan yang biasa kudatangi selalu ramai di malam hari.

Ketika makan, kita pasti melepas masker, sementara kita sering harus berdekatan dengan orang lain. Itu sangat riskan, setidaknya menurutku. Jadi, sejak Idul Fitri kemarin, aku tak pernah lagi makan malam di luar—entah akan sampai kapan. Bagaimana pun, kesehatan lebih penting.

Sayangnya, dalam waktu dekat ini, aku harus bepergian, terkait urusan pekerjaan... dan aku tersenyum sendiri, memikirkan betapa ironisnya semua ini. Karena pandemi, aku harus berdiam di rumah. Dan karena pandemi pula, aku harus keluar, ke tempat jauh... entah akan sampai kapan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Juli 2021.

Agustus di Masa Pandemi

Saat malam 17 atau 18 Agustus, biasanya banyak masyarakat yang mengadakan acara kumpul-kumpul/keramaian, seperti pengajian atau tahlil massal, di kampung-kampung. Karena ini sedang pandemi, apakah acara-acara itu masih akan diizinkan, ya?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2020.

Kebanyakan Gimmick

Slogan "kerja, kerja, kerja", itu bagus. Sayangnya, yang terjadi cuma "gimmick, gimmick, gimmick".

Kebanyakan gimmick itu merusak kepercayaan. Orang tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang cuma ngibul. Karena kerja tak seberapa, tapi terlalu banyak gaya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 Maret 2020.

Kamis, 10 Februari 2022

Binary Option Lebih Merusak dari Judi

Secara hukum, binary option sebenarnya ilegal di Indonesia.
Bappebti tidak memberi izin pada binary option di Indonesia.
Konsekuensinya, para pemain binary option tidak memiliki
perlindungan hukum yang jelas, jika sewaktu-waktu 
“jungkir balik”—seperti sekarang, misalnya.


Binary Option sedang trending, akhir-akhir ini, setelah ada orang-orang yang mengaku kecewa, merasa tertipu, dan lain-lain, seiring ada pula orang-orang yang mulai mengungkap ketidakberesan praktik Binary Option. (Agar saya tidak ribet mengetiknya, selanjutnya kita sebut saja BO untuk menyingkat Binary Option).

Secara pribadi, saya juga tertarik pada trading dan investasi, dan masih dalam tahap belajar. Karena suka belajar, saya pun mempelajari apa itu saham, apa itu reksadana, apa itu deposito, apa itu trading kripto, hingga apa itu Binary Option alias BO. Saya juga mempelajari bagaimana cara mainnya, seberapa banyak—atau sedikit—potensi keuntungan dan kerugiannya, dan lain-lain.

Dalam proses pembelajaran itu, saya tertarik pada BO. Bukan tertarik ingin ikutan, tapi tertarik pada modus yang mereka lakukan.

Beberapa tahun lalu, kita pasti ingat iklan yang sering muncul di YouTube, yang menampilkan seorang pria berkata, “Jutaan orang tidak menyadari... bla-bla-bla.” Pria itu menampilkan dirinya sebagai orang sukses yang berhasil kaya-raya dari “trading” yang dilakukannya. Tujuan iklan itu tentu saja menggiring audiens untuk mengikuti jejak si pria; melakukan trading di platform yang diiklankan.

Belakangan terungkap kalau pria yang ngemeng “jutaan orang tidak menyadari...” itu sama sekali tidak kaya. Dia ternyata tinggal di kos, dan penghasilannya juga tidak seberapa—jauh dari kata sukses secara finansial.

Setelah hal itu terungkap, video “jutaan orang tidak menyadari...” jadi tampak seperti lelucon konyol. Artinya, modus melalui iklan itu telah gagal.

Mungkin, dari kegagalan tersebut, “bandar trading” yang bikin iklan tadi terpikir untuk mengiklankan bisnisnya lewat cara lain. Dan selanjutnya adalah kehebohan yang terjadi di Indonesia.

Jadi, apa dan bagaimana BO itu, dan kenapa belakangan jadi masalah yang tampaknya belum akan selesai? 

Berdasarkan yang saya pelajari, dan tolong ralat kalau saya keliru, Binary Option atau BO adalah “praktik tebak-tebakan menggunakan grafik”—jika sekilas lihat, itu mirip grafik saham dan semacamnya.  

Kalau kita main BO, kita berhadapan dengan grafik itu, dan diberi waktu untuk menebak; apakah titik pada grafik akan turun atau naik, dalam beberapa menit ke depan. Seiring dengan itu, kita pasang sejumlah uang untuk dipertaruhkan. Jika tebakan kita benar, jumlah uang yang kita pasang tadi akan mendapat tambahan 80 persen. Sebaliknya, jika tebakan kita keliru, uang yang kita pasang akan hilang.

Contoh: Saya main BO, dan memasukkan uang sejumlah Rp1 juta. Saya lalu menebak grafik di platform tempat saya main, apakah akan turun atau naik dalam beberapa menit ke depan. Jika tebakan saya benar, saya dapat keuntungan Rp800 ribu, dan modal saya kembali (Rp1 juta + Rp800 ribu = Rp1,8 juta). Tetapi, kalau tebakan saya keliru, uang saya yang Rp1 juta tadi hilang. 

Apakah BO bisa dianalisis? Itu pertanyaan saya sejak bertahun lalu, ketika baru mengenal permainan tersebut. Dan, sejujurnya, saya benar-benar tidak bisa menganalisisnya—jika memang BO bisa dianalisis! 

Jangankan saya, yang bisa dibilang masih awam soal trading, bahkan orang-orang yang telah disebut pakar trading saja bingung bagaimana menganalisisnya! Karenanya, kebanyakan pakar trading menyebut BO sebagai judi, karena memang tidak bisa dianalisis, dan murni mengandalkan untung-untungan (tebakan).

Yang jadi masalah, BO menyebut diri sebagai trading. Akibatnya, orang-orang awam—yang terpengaruh influencer—mengira dirinya sedang melakukan praktik trading, meski sebenarnya sedang bermain judi! Inilah asal usul kenapa banyak pakar trading murka pada BO. Karena merusak nama baik trading!

Secara harfiah, trading itu kan artinya dagang. Kalau kita melakukan trading, artinya kita melakukan praktik perdagangan. Trading saham, artinya berdagang saham, dan saham itulah yang diperjualbelikan. Trading valas, artinya berdagang valas, dan valas itulah yang diperdagangkan. Begitu pula trading kripto, artinya berdagang mata uang kripto, dan mata uang itulah yang diperjualbelikan. Kalau Binary Option... apa yang diperdagangkan?

Dengan tidak ada apa pun yang diperdagangkan, dan tidak ada apa pun yang bisa dianalisis, para pakar akhirnya sepakat bahwa BO sebenarnya judi! Fakta bahwa BO tidak pernah mendapat legalitas hukum di Indonesia makin mengukuhkan hal itu. 

Sampai di sini, saya berpikir bahwa BO bahkan lebih rusak—sekaligus merusak—dibanding judi! 

Mari bandingkan BO dengan, misalnya, judi togel.  

Di BO, seperti yang telah dijelaskan tadi, kita hanya mendapat 80 persen dari uang modal, jika tebakan kita benar. Tetapi, uang kita hilang semuanya (100 persen), jika tebakan kita keliru. Dalam contoh tadi, uang Rp1 juta hanya mendapat keuntungan Rp800 ribu (total yang diterima: Rp1,8 juta). Sementara kalau kalah, uang Rp1 juta itu hilang. Dari sini saja, secara matematis, permainan ini tidak akan bisa dimenangkan!

Sekarang lihat, misalnya, permainan colok bebas dalam togel. Dalam colok bebas, pemain mendapatkan 150 persen dari modal yang digunakan. Jika kita memasang Rp1 juta dalam colok bebas, dan tebakan kita benar, kita mendapat keuntungan Rp1,5 juta, plus modal (Rp1,5 juta + Rp1 juta = total Rp2,5 juta). Cara main colok bebas mirip dengan BO, kali ini tebak-tebakan angka.

Dari ilustrasi itu saja, saya menilai colok bebas ala togel lebih “fair” dibanding BO, karena jumlah kemenangan yang diperoleh lebih masuk akal. Wong sama-sama tidak ada apa pun yang diperdagangkan!

Ada influencer yang memberi nasihat, seperti ini, “Kalau kamu main Binary Option, dan tebakanmu salah, coba tebak lagi dengan melipatgandakan uang modalmu. Nanti uangmu akan kembali, plus sejumlah uang hasil kemenangan.”

Maksud dia begini. Jika kita main BO, dan menebak grafik akan turun, misalnya, dan tebakan kita ternyata keliru, kita bisa menebak hal yang sama (grafik akan turun), dengan melipatgandakan uang yang kita pasang. Jika tadi kita pasang Rp1 juta, misalnya, kita bisa menaikkannya jadi Rp2 juta. Bagaimana kalau tebakan kita keliru lagi? Ya lipat gandakan lagi, jadi Rp4 juta. Tebak lagi. Keliru lagi? Lipat gandakan lagi, jadi Rp8 juta. Dan begitu seterusnya.

Menurut logika “pakar BO”, cara itu akan membuatmu menang, sekaligus mengembalikan modalmu. Karena, secara logika, masak iya tebakanmu akan keliru terus menerus? Pada satu titik tertentu, tebakanmu pasti akan benar. Dan ketika tebakanmu benar, semua uangmu akan kembali, plus sejumlah uang kemenangan.

Sekilas, penjelasan itu masuk akal... tapi menyimpan cacat logika, sekaligus menabrak hukum matematika!

Agar uraian ini lebih mudah dipahami, mari gunakan simulasi.

Andaikan saja kita memasang Rp1 juta pada BO, dan menebak “turun” pada grafik. Tebakan kita keliru. Artinya kita rugi Rp1 juta. Mengikuti nasihat influencer, kita lipat gandakan uang kita, jadi Rp2 juta. Kita menebak “turun” lagi. Ternyata keliru lagi. Artinya, kita sudah rugi Rp3 juta. Kita main lagi, dan melipatgandakan lagi, jadi Rp4 juta. Kita menebak “turun” lagi, dan ternyata salah lagi. Sampai di sini, kerugian kita mencapai Rp7 juta (Rp1 juta + Rp2 juta + Rp4 juta).

Masih belum puas, kita mencoba lagi, dan melipatgandakan modal lagi, kali ini jadi Rp8 juta. Kita menebak “turun” lagi, dan keliru lagi. Total kerugian Rp15 juta (Rp7 juta + Rp8 juta). Karena penasaran, kita mungkin jadi berpikir, “Ah, kali ini pasti tebakanku benar!” Kita pun lalu main lagi, dengan modal yang dilipatgandakan lagi dari modal tadi, kali ini Rp16 juta. Kita menebak “turun” seperti sejak awal, dan... kali ini tebakan kita benar!

Kita menang—benar? Dan kita akan mendapat sejumlah uang kemenangan—benar? 

Sekarang perhatikan jumlah terakhir uang yang kita pertaruhkan: Rp16 juta. Jumlah kemenangan di Binary Option adalah 80 persen dari modal yang dipertaruhkan. Dan 80 persen dari Rp16.000.000 adalah Rp12.800.000. Itulah jumlah yang kita peroleh sebagai kemenangan!

Sekarang ingat berapa jumlah kerugian kita karena menggunakan skema tadi. Ingat? Kerugian kita mencapai Rp15 juta! Jadi, meski akhirnya kita mendapat kemenangan, pada dasarnya kita tetap menderita kerugian! Karenanya, seperti yang saya katakan tadi, permainan ini tidak akan bisa dimenangkan! Bahkan judi togel masih lebih “berperikemanusiaan” dibanding BO.

Kalau menggunakan skema tadi, dan kita menerapkannya pada colok bebas di togel, hasilnya akan selaras dengan hukum matematika, dalam arti kapan pun waktunya kita pasti akan menang, dan benar-benar mendapat sejumlah uang kemenangan, plus seluruh kerugian akan tertutup! Itu benar-benar kemenangan! Karena colok bebas memberi kemenangan 150 persen dari modal! Akuntan mana pun akan setuju dengan yang saya katakan.

Coba saja tebak angka 4, misalnya, dan terus lipat gandakan uang taruhan sampai angka 4 muncul. Ketika akhirnya angka 4 muncul, semua uang modalmu akan kembali, seluruh kerugian akan tertutup, plus sejumlah uang kemenangan! Itu benar-benar kemenangan, bukan tampak menang tapi sebenarnya menanggung kerugian!

(Disclaimer: Meski hitung-hitungan ini memungkinkanmu untuk memenangkan togel, tapi saya tidak menyarankan apalagi memintamu mempraktikkannya. Saya hanya menunjukkan kalau togel lebih “ilmiah”, dibanding Binary Option).

Yang jadi masalah, sekali lagi, BO menyamarkan dirinya sebagai “trading”, sementara togel sudah terkenal sebagai judi. Akibatnya, orang tidak merasa bersalah ketika main BO. Dalam hal ini, Dokter Tirta punya ungkapan bagus, “Pemain judi togel punya harga diri yang lebih jelas daripada pemain Binary Option!”

Kalau orang main judi togel, judi klutuk, judi uter-uter, atau bahkan judi sabung ayam, mereka sadar itu judi! Ketika uang mereka bablas, hilang, habis karena kalah, mereka tidak ngamuk, karena sedari awal sudah sadar itu judi. Namanya judi, bisa kalah dan bisa menang. Selesai.

Tapi ketika main BO, orang berpikir mereka sedang melakukan trading. Namanya trading—berdagang—tentu ada kalanya untung, dan ada kalanya rugi. Kalau kemudian berdagang kok rugiiiiiiii terus, ya mereka ngamuk! Karena tidak masuk akal, dan karena pada akhirnya merasa tertipu!

Itulah yang terjadi sekarang. Orang-orang yang tempo hari main BO itu akhirnya sadar kalau mereka sebenarnya tidak melakukan trading, tapi bermain judi. Mereka marah karena uang habis, dan merasa dikibuli. Andai sejak awal mereka diberi tahu bahwa itu judi, mungkin mereka tidak akan semarah sekarang, karena sedari awal sudah tahu risikonya. 

Jadi, sekarang kita paham kenapa BAPPEBTI tidak melegalkan BO di Indonesia. Kalau sampai Binary Option dilegalkan di Indonesia, judi togel juga harus dilegalkan. Karena, kalau mau ngemeng rusak-rusakan, BO lebih merusak dari judi togel. Kalau togel sudah jelas judi, sementara BO menyebut dirinya trading. Padahal, kalau mau blak-blakan, judi togel “masih lebih baik” daripada BO.

Daripada BO yang jelas-jelas merugikan, mending BO yang itu...

BO apppeeeeeuuuuhhh...

Gofood, Suatu Pagi

Dulu ada yang sering mengingatkan di Twitter, agar kita tidak pelit ngasih bintang 5 ke driver ojol, karena itu sangat penting bagi mereka. Tadinya aku gak paham-paham amat soal itu, sampai kemarin muncul berita viral soal ojol yang di-suspend gara-gara bintang 1 dari customer.

Nah, tadi pagi, di tempatku hujan lumayan gede. Biasanya aku sarapan roti yang sudah tersedia di rumah. Tapi mungkin karena efek hujan, perutku jadi lapar banget, dan ingin sarapan nasi, yang lebih mengenyangkan. Karena malas keluar gara-gara hujan, akhirnya pesan Gofood.

Di Gofood, dapat satu driver, hingga muncul keterangan, “Makanan akan sampai dalam 11 menit.” Aku pun menunggu dengan sabar, sampai 11 menit... 15 menit... 20 menit... 30 menit... 1 jam... dan makanan yang kutunggu belum juga datang. Tidak ada kabar apapun dari driver.

Hujan masih turun di luar, dan aku masih menunggu kedatangan driver yang akan membawakan pesananku. Perut makin kelaparan. Sampai 1,5 jam, driver yang kutunggu belum juga datang. Satu setengah jam! Itu penantian paling lama dalam sejarah hubunganku dengan Gofood.

Satu setengah jam lebih sedikit, driver Gofood akhirnya datang juga. Waktu membuka pintu, di depan rumah tampak seorang pria berjaket hijau ditutupi jas hujan, agak menggigil, dengan membawa bungkusan dus makanan dalam plastik. 

“Saya minta maaf,” ujarnya agak bingung.

Dia melanjutkan dengan pelan, “Saya minta maaf, karena sangat terlambat. Tadi, saya harus ngantar anak ke sekolah, karena hujan. Saya nggak nyangka bakal terlambat sampai lama. Saya salah, dan saya minta maaf. Saya nggak akan menyalahkan Mas-nya, kalau memarahi saya.”

Menatap pria itu, yang mengakui kesalahannya dan tulus meminta maaf, aku akhirnya tersenyum, dan berkata dengan ramah, “Nggak apa-apa, Pak.” 

Dia menyerahkan bungkusan makanan, lalu pamit. Aku masuk rumah, dan memberinya bintang 5. Semoga dia baik-baik saja.

Trump Tidak Turun dari Langit

Omong-omong soal banjir, aku jadi teringat Donald Trump. Orang-orang menganggap Trump sebagai sebab, aku lebih memandangnya sebagai akibat. Dia tidak datang sekonyong-konyong, tapi muncul sebagai konsekuensi. Meletakkan Trump dalam posisi ini akan mengubah cara kita melihatnya.

Menganggap banjir—atau berbagai bencana lain—sebagai cobaan Tuhan, seperti menyatakan bahwa banjir itu datang sekonyong-konyong. Tapi menilai banjir sebagai konsekuensi akibat kerusakan lingkungan akan membuat kita introspeksi untuk melihat sikap dan perbuatan kita terhadap alam.

Chomsky menyebut Trump sebagai "penjahat terbesar sepanjang sejarah"—terdengar lebay, tapi mungkin dia benar, seperti biasa. Pertanyaannya, apakah "monster" itu sebab yang datang sekonyong-konyong, ataukah konsekuensi atas rusaknya sistem kemanusiaan... atau, spesifik, demokrasi?

Trump tidak akan [pernah] jadi Presiden AS, kalau sistemnya tidak memungkinkannya jadi Presiden AS... atau presiden negara mana pun. Satu-satunya sebab Trump jadi Presiden AS, karena sistemnya memungkinkan. Jadi, bagaimana bisa sistem meloloskan sesosok "monster" untuk memimpin?

Trump adalah bencana. Memfokuskan pandangan pada Trump akan melenakan kita untuk melihat sistem [rusak] yang melahirkannya. Ini seperti kita memfokuskan pandangan pada banjir—atau bencana lainnya—sambil lupa bagaimana bencana-bencana itu bisa muncul dan berdampak pada manusia.

Oh, ya, sesuatu disebut "bencana", jika ia berdampak pada manusia. Banjir, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, sampai pandemi, semua itu disebut bencana jika berdampak pada manusia. Jika tidak berdampak pada manusia, kita biasanya tidak menyebut itu bencana.

Gunung meletus mungkin sesuatu yang alami. Kita tidak punya kuasa untuk mencegah apalagi menghentikannya. Karena letusan gunung itu berdampak pada manusia, kita pun menyebutnya bencana. Atau cobaan Tuhan. Tapi bagaimana jika letusan gunung terjadi di planet lain—Mars, misalnya?

Kalau belum tahu, di Mars juga ada gunung berapi, namanya Olympus Mons. Ia bahkan gunung berapi terbesar di tata surya. Andai gunung ini meletus, apakah kita akan tetap menganggapnya bencana atau cobaan Tuhan... atau sekadar fenomena alam semesta? Jawabannya tentu yang kedua.

Tapi bencana, dalam konteks planet kita, tidak hanya gunung meletus atau gempa yang sama-sama fenomena alami, tapi juga banjir, tanah longsor, aneka polusi, pandemi, sampai sosok pemimpin yang disebut "monster"... yang nyaris semuanya merupakan konsekuensi ulah kita sendiri.

Donald Trump bukan fenomena alami semisal gempa atau gunung meletus. Ia hasil kekacauan sistem yang serupa kerusakan alam, yang lalu melahirkan banjir, aneka polusi, atau pemanasan global. Karena Trump tidak turun dari langit, ia dilahirkan oleh sistem yang diciptakan manusia.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Januari 2021.

Subuh

Subuh adalah saat malam menjauh, dan pagi mengutuh. Saat nyanyian hidup mulai membangunkan tubuh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Agar Tetap Utuh

Temanku bilang, "Sebaiknya kita lihat saja dari jauh, agar bayangannya tetap utuh." | Aku sepakat dengannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Selasa, 01 Februari 2022

Covid 19, dari Sudut Pandang Lain

Mumpung selo, dan sambil nunggu udud habis, aku jadi kepikiran untuk melanjutkan ocehan tempo hari, tentang Covid-19, dengan sudut pandang lain.

Dulu, ketika virus Covid-19 mulai mengamuk di Amerika, dan korban-korban berjatuhan, Donald Trump—presiden AS waktu itu—menuduh kalau virus tersebut hasil ciptaan manusia di laboratorium. Tapi tidak ada yang percaya, tentu saja, karena Trump dinilai agak “sinting”.

Bisa jadi, ocehan Trump waktu itu—soal virus diciptakan di laboratorium—hanyalah efek kemarahannya akibat kerugian besar yang diderita AS gara-gara Covid-19, dari kerugian kesehatan, ekonomi, sampai sosial. Artinya, ocehan Trump waktu itu kemungkinan tidak berdasar bukti valid.

Karena latar itu pula, media-media internasional waktu itu diminta “mengerem”, agar tuduhan Trump tidak mengalir liar. Hasilnya, efek tuduhan Trump hanya bergema di media sosial, yang belakangan bahkan dibungkam oleh pihak penyedia platform karena dinilai “hoax” dan meresahkan.

Ada semacam orkestrasi, waktu itu, bahwa apapun statemen dari siapa pun yang mengarah tuduhan “Covid-19 direkayasa manusia atau dihasilkan laboratorium” harus diabaikan. Bahkan Facebook ikut dalam orkestrasi itu terang-terangan, dan kalian mungkin sudah membuktikan sendiri.

Di masa-masa itu, tiap kali ada orang (pengguna Facebook) yang menulis postingan tentang “kemungkinan Covid-19 dibuat manusia” akan dihapus oleh sistem Facebook. Praktis, di waktu-waktu itu, media yang menulis topik tersebut biasanya [dan dinilai] media abal-abal.

Tapi sekarang sesuatu telah terjadi... media-media internasional sekarang dibebaskan—dalam arti sebenarnya—untuk menulis kemungkinan itu, bahwa Covid-19 hasil rekayasa manusia. Artinya, para investigator kali ini punya “kebebasan mutlak” untuk mengorek/mengungkap apa pun.

Tempo hari, pada Rabu, 26 Mei, Facebook bahkan ikut mengubah kebijakannya; mereka tidak lagi menghapus postingan yang berisi hal itu. Mark Zuckerberg sendiri yang mengatakan, bahwa “kami tidak akan lagi melarang postingan yang menunjukkan Covid-19 adalah buatan manusia.”

Semua perubahan itu berawal dari Joe Biden, Presiden AS, yang telah menunjukkan sikapnya, bahwa “memang ada kemungkinan Covid-19 hasil buatan manusia”, dan dia meminta “penyelidikan lebih lanjut” untuk benar-benar tahu asal usul pandemi yang telah merusak negaranya [dan dunia].

Meski Covid-19 terkait dengan kesehatan, investigasi tentang hal itu jauh lebih rumit dari yang mungkin kita bayangkan. Orang-orang yang masuk dalam urusan ini tidak hanya melakukan investigasi terkait asal usul virus itu muncul, tapi sampai melibatkan satelit untuk identifikasi.

Ilustrasi mudahnya, kita harus tahu “siapa sedang ada di mana” di waktu-waktu tertentu, dan “sedang melakukan apa”—terkait kemunculan virus tersebut, hingga menulari Si A dan seterusnya. Dengan biaya berskala raksasa, investigasi semacam itu akan menemukan “apa yang dicari”.

Dan apa yang akan terjadi setelah “apa yang dicari” itu akhirnya benar-benar ditemukan? Jawabannya tidak terlalu mengkhawatirkan, karena bagaimana pun itu fakta yang dihasilkan proses investigasi. Yang mengkhawatirkan adalah... jika hasil akhirnya tergantung Joe Biden.

Itulah kenapa aku menulis ocehan ini.



*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Juni 2021.

Bila Pandemi Selesai

Pandemi covid-19 sebenarnya belum selesai, tapi saat ini kita mungkin mulai "terbiasa"—atau telah jenuh—dan menganggap dunia baik-baik saja. Padahal pandemi masih berlangsung, dan korban-korban masih terus berjatuhan.

Omong-omong soal pandemi Covid-19...

Mungkin terlalu dini untuk mengatakan ini. Namun kadang aku berpikir... apa yang sekiranya akan terjadi setelah semua kekacauan bumi, kerugian ekonomi, kerusakan sosial, kematian jutaan orang, dan hiruk-pikuk wabah covid-19 ini selesai? Apa yang akan terjadi pada dunia?

Setelah vaksin akhirnya ditemukan, saat orang-orang telah mendapat kekebalan, saat negara-negara mulai membenahi dampak kerusakan wabah—kerugian ekonomi, kematian jutaan orang, beban sosial, dan sekian collateral damage lainnya—apa yang sekiranya akan terjadi kemudian?

Mungkinkah semua negara akan menganggap segala kekacauan dan kerugian dan kematian itu cuma takdir, dan menerimanya dengan tabah, meski sambil berlinang air mata? Mungkinkah WHO bisa meyakinkan semua pihak bahwa semuanya terjadi karena faktor alamiah, dan PBB tetap punya kuasa?

Tentu kita berharap dunia tetap baik-baik saja, seperti sebelum ada wabah—tapi apakah memang benar begitu? Apakah memang dunia baik-baik saja, dan kemudian tampak tidak baik-baik saja setelah ada wabah... lalu kita berharap dunia akan kembali baik-baik saja?

Bayangkan Donald Trump—atau penggantinya, yang sebenarnya sama saja—dengan segala karakter Amerika. Apa yang sekiranya akan dia lakukan... setelah semua pagebluk yang menghancurleburkan negaranya selesai? Bahkan belum selesai saja, kita sudah tahu apa yang [akan] terjadi.

Yang berbahaya dari Amerika bukan cuma pengaruh dan kekuasaannya yang sangat besar, tapi juga sifat pendendamnya. Agak sulit membayangkan AS akan diam saja, sementara jutaan warganya mati dan sekarat, kehidupan sosial dan ekonominya hancur, kebanggaannya musnah digerogoti virus.

Bagaimana pula dengan negara-negara lain? Bisakah mereka legowo menerima semua yang terjadi, dan membiarkannya begitu saja, sementara investigasi terus dilakukan, fakta-fakta baru terkuak, dokumen-dokumen mulai terbuka, dan kenyataan yang terjadi diendapkan bersama agitasi?

Bahkan “cuma” WTC hancur saja, Amerika sudah murka, dan melakukan pembalasan dendam, secara brutal. Sulit membayangkan Amerika akan tetap adem ayem setelah semua pagebluk ini selesai... dan mereka mulai menghitung kerugian, lalu berpikir, “Saatnya seseorang membayar utang.”

Well... ada kemungkinan kita akan menyaksikan dunia yang terbakar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Maret 2021.

Makin ke Sini

Makin ke sini, covid-19 makin ngeri.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Februari 2021.

Nyaman dalam Kesendirian

Di TL ada banyak orang yang bingung andai harus berada di rumah tanpa ke mana-mana, sampai berhari-hari, karena virus corona. Rata-rata mereka pada mikir, "Mau ngapain coba, di rumah aja?"

Aku benar-benar ingin tertawa, dan bersyukur menjadi introver. Rumah adalah kedamaianku.

Sama saja, sering ada orang-orang yang menganggap kesendirian sebagai hal aneh. Nonton film sendiri, aneh. Makan sendiri, aneh. Jalan sendiri, aneh.

Selama ini, aku justru menikmati kesendirian, dan menjalani banyak hal dalam kesendirian. Dan aku nyaman juga baik-baik saja, btw.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Maret 2020.

WFH B Aja

WFH B aja. Wong dari dulu aku udah gitu. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Maret 2020.

 
;