Senin, 25 Juni 2018

Bisik-bisik Tetangga

Perilaku suka bertanya "kapan kawin?" atau menyuruh orang lain 
cepat menikah, itu serupa perilaku orang yang suka bergunjing. Tampak tidak 
ada untungnya. Tetapi, bagi si pelaku, hal itu memberi "keuntungan". Yaitu 
membuat mereka merasa lebih baik dari orang lain. Sinting, memang.


Tantangan hidup manusia, salah satunya, adalah menghadapi cocot orang lain, khususnya orang-orang di sekitar. Kau melakukan apa pun, selalu ada cocot nganggur yang akan berkomentar. Sebaliknya, kau tidak melakukan apa pun, juga selalu ada cocot nganggur yang akan ngomongin. Jadi, kau melakukan atau tidak melakukan, kau tetap berhadapan dengan cocot nganggur.

Urusan cocot nganggur ini makin parah, kalau kebetulan kau tinggal di lingkungan masyarakat yang memang suka usil. Sial bagi umat manusia, yang disebut “masyarakat” memang “suka usil”. Karenanya, Soe Hok Gie benar, bahwa “takdir terbaik adalah tidak dilahirkan”. Dan saya ingin menyambung, “hidup menjadi manusia adalah masalah terbesar.”

Kalau kau sudah cukup umur, tapi belum menikah, masyarakat akan nyocot, “Kapan kawin?” Kalau kau sudah kawin, masyarakat masih nyocot, “Kapan punya anak?” Bahkan kau sudah punya anak, masyarakat belum menutup cocot mereka, dan kini bertanya, “Kapan nambah anak?” Giliran kau punya banyak anak, mereka mencibir kau doyan ngeseks, sampai banyak anak. Dasar cocot nganggur!

Urusan cocot nganggur ini sebenarnya masalah klasik masyarakat, khususnya masyarakat yang—meminjam istilah Sujiwo Tejo—ber-IQ melati. Karenanya, ada ungkapan terkenal, “Orang besar membicarakan ide, orang kecil membicarakan orang.”

Ungkapan itu benar. Orang yang paling suka ngomongin orang (dalam hal ini ngomongin keburukan, dan tentu secara diam-diam) umumnya memang orang kecil. Maksud “orang kecil” di sini ya kecil otaknya, kecil hatinya, juga kecil kantongnya. Kapan pun mengobrol dengan mereka, yang dibicarakan pasti itu ke itu—hal-hal membosankan yang seharusnya tidak dibicarakan—semisal kekurangan orang, rumah tangga orang lain, dan semacamnya.

Sebaliknya, orang besar membicarakan ide. “Orang besar” yang dimaksud di sini, ya besar pikirannya, besar hatinya, juga—biasanya—besar kantongnya. Mereka justru malas ngomongin orang, karena sadar tidak ada manfaatnya. Hanya buang-buang waktu, pikiran, energi. Daripada ngurusan hidup orang lain, mereka lebih suka memikirkan hal-hal yang lebih bermanfaat, yang memberi kontribusi positif bagi hidup mereka.

Sekarang kita paham, kenapa orang tolol makin tolol, dan yang pintar makin pintar. Karena yang tolol sudah merasa pintar. Jadi, alih-alih belajar dan memperbaiki diri, mereka lebih suka ngurusin orang lain, dan mengomentari apa saja yang dilakukan atau yang terjadi pada orang lain. Namanya juga orang tolol!

Terkait hal ini, ada teman saya yang sempat mengalami dilema. Ketika mendengar kisah ini pertama kali, saya merasa pusing sambil ingin ngakak.

Ceritanya, Rino menikah dengan Fetty. Sebelum menikah, Rino sudah bertekad untuk mapan terlebih dulu, dalam arti dia harus sudah punya rumah sendiri, punya penghasilan yang cukup, dan—kalau bisa—juga punya tabungan yang bisa digunakan untuk keperluan darurat. Karena dia pekerja keras yang tekun, impian itu pun terwujud. Dia punya usaha yang memberinya penghidupan layak. Sebelum menikah, dia pun sudah punya hal-hal yang diinginkan. Jadi, dia lalu mantap untuk menikah.

Rino menikah tiga tahun yang lalu, dengan perempuan bernama Fetty. Karena Rino telah punya rumah sendiri, mereka pun segera tinggal di rumah Rino seusai menikah, dan mulai menjalani kehidupan sebagai suami istri. Bisa dibilang, kehidupan mereka baik-baik saja. Rino seorang suami yang bertanggung jawab, dan Fetty juga wanita yang baik.

Sebelumnya, Fetty bekerja sebagai pramuniaga di sebuah swalayan. Seusai menikah, Rino meminta istrinya agar tidak usah lagi bekerja. Sebagai pria yang baik, Rino memahami bahwa tugas istri di rumah sudah cukup berat—memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan tetek bengek lain. Dia tidak tega jika membiarkan istrinya masih harus bekerja di luar rumah. Lebih dari itu, Rino memiliki penghasilan yang mampu menghidupi mereka secara layak, tanpa istrinya ikut bekerja.

Karena nyatanya penghidupan mereka berkecukupan, Fetty pun menuruti keinginan Rino, dan berhenti dari pekerjaannya. Sejak itu, dia murni menjadi ibu rumah tangga yang tinggal di rumah. Kehidupan mereka baik-baik saja, seperti sebelumnya. Rino tetap rajin bekerja seperti biasa. Sementara istrinya, juga tetap menjadi wanita baik seperti sebelumnya. Bahkan, karena kini tidak lagi bekerja di luar, Fetty jadi punya waktu lebih banyak untuk merawat diri, sehingga tampil lebih cantik.

Sekitar setahun setelah menikah, pasangan Rino-Fetty memiliki anak. Mereka memang menginginkan anak, dan kelahiran sang anak disambut gembira. Setahun kemudian, lahir anak kedua. Lagi-lagi, mereka menyambut gembira.

Karena keberadaan anak, tugas Fetty pun tentu semakin banyak. Selain memasak dan sebagainya, ia sekarang juga harus kerepotan mengurusi anak. Dulu, ketika masih punya satu anak, kerepotan itu mungkin bisa dibilang “biasa saja”. Tapi setelah punya dua anak—dan keduanya masih kecil—kerepotan yang dialami Fetty jadi tampak mencolok.

Melihat hal itu, Rino punya niat mempekerjakan asisten rumah tangga, untuk meringankan beban istrinya. Maksud Rino, biarlah Fetty hanya fokus mengurusi anak, sementara tugas lain—dari memasak sampai bersih-bersih rumah—dikerjakan asisten rumah tangga. Tetapi, ketika niat itu ia sampaikan pada istrinya, Fetty spontan menolak dan melarang.

“Aku tidak tega melihatmu terlalu kerepotan,” ujar Rino dengan sayang.

“Aku tidak enak,” jawab Fetty. Kemudian, Fetty menyatakan, kira-kira seperti ini, “Dulu, sebelum punya anak, aku hanya tinggal di rumah tanpa bekerja (mencari nafkah). Aku tidak enak mendengar omongan tetangga. Mereka (wanita-wanita tetangga) bekerja, sementara aku hanya tinggal di rumah. Sekarang, kamu mau mempekerjakan asisten rumah tangga untuk membantuku di rumah. Apa kata tetangga? Tidak bekerja saja, aku sudah diomongin macam-macam. Sekarang, sudah tidak bekerja, masih dibantu asisten rumah tangga. Aku benar-benar tidak enak.”

Ketika Rino menceritakan kisah itu—termasuk percakapannya dengan sang istri—terus terang saya geleng-geleng kepala. Bagi saya, itu tidak masuk akal! Ternyata, sampai segitunya masyarakat mengurusi dan mengomentari rumah tangga orang lain.

Jadi, kalau istrimu bekerja, masyarakat akan nyocot, “Wanita macam apa yang masih mementingkan karier, padahal sudah menikah dan punya anak-anak?” Sebaliknya, kalau istrimu tidak bekerja, dan tampak damai di rumah, masyarakat juga akan nyocot, “Enak ya, jadi dia. Tinggal ngangkang doang.”

Masalah masyarakat adalah terlalu banyak cocot nganggur. Sebegitu nganggur, sampai apa pun dikomentari, dibisik-bisikkan, dibahas, dan disimposiumkan. Karena simposium kelas cocot nganggur, simposiumnya pun bisa di mana saja. Biasanya di depan rumah tetangga.

Kalian tahulah, bagaimana ekspresi wanita-wanita yang sedang membahas rumah tangga orang lain—mukanya serius, kayak sedang membahas rumus fisika. Padahal cuma mau ngemeng, “Enak bingit jadi dia. Tinggal ngangkang doang.”

Urusan “membahas rumah tangga” orang lain, sebenarnya tidak hanya monopoli wanita. Kaum pria—bapak-bapak pengangguran yang cocotnya sama-sama nganggur—juga kadang punya hobi sama. Biasanya, mereka kongkow sama tetangga, lalu berbicara dengan ekspresi layaknya filsuf bijak, yang membahas filsafat kehidupan atau eksistensi Tuhan. Padahal yang diomongin cuma rumah tangga orang.

Mengapa ada sebagian—untuk tidak menyebut semua—masyarakat suka membahas orang lain, atau membicarakan rumah tangga orang lain?

Dalam perspektif saya, kecenderungan semacam itu tumbuh karena dua hal. Pertama, karena memang menganggur, atau kurang kesibukan. Dan kedua, karena mereka “orang kecil”. Ingat, orang kecil suka membicarakan (kekurangan) orang, karena dengan cara itu mereka merasa besar.

Latar belakang itulah, yang menjadikan apa pun yang kita lakukan selalu mendapat komentar mereka. Kau melakukan hal baik, mereka akan mencari keburukannya. Apalagi kau melakukan sesuatu yang buruk. Bahkan kau tidak melakukan apa pun, mereka akan mencari-cari, mengorek-ngorek, untuk tetap bisa membicarakanmu.

Karena itu pula, ada sebagian masyarakat yang selalu berupaya ngumpul dengan tetangga atau orang-orang lain, dengan tujuan agar mereka tidak diomongin. Itu sudah jadi “budaya” masyarakat di mana-mana, khususnya masyarakat yang—sekali lagi, meminjam istilah Sujiwo Tejo—ber-IQ melati.

Orang-orang ber-IQ melati itu tahu, kalau kau menjauh atau tidak mau berkumpul dengan masyarakatmu, atau—dengan kata lain—beda dengan mereka, masyarakat akan membicarakanmu. Jadi, sebisa mungkin, mereka akan selalu ngumpul bersama masyarakat, berusaha tidak berbeda dengan masyarakat, agar sebisa mungkin tidak sampai menjadi bahan omongan.

So, karena masyarakat menikah, kau juga harus menikah—kalau bisa sebelum mapan, karena begitulah yang umum terjadi di masyarakat. Meski hidupmu masih keblangsak, yang penting kawin! Tidak apa-apa, karena masyarakat juga menjalani hidup seperti itu. Agar kau sama dengan mereka, maka segeralah kawin, dan persetan dengan hari esok!

Begitu pula, karena istri-istri tetangga bekerja mencari nafkah, istrimu juga harus bekerja mencari nafkah. Karena kalau tidak, penghasilanmu tidak akan cukup untuk menghidupi keluarga. Itulah kenapa, kau harus buru-buru kawin sebelum mapan! Kalau kau menunggu mapan dulu sebelum menikah, nanti kau akan beda dengan masyarakat, dan mereka akan menggunjingmu.

Karena pasangan-pasangan di lingkunganmu punya anak, kau dan pasanganmu juga harus punya anak. Tak peduli hidup kalian masih kembang-kempis. Tak peduli kau mampu atau tidak menghidupi anak secara layak. Yang penting punya anak, sialan!

Karena, kalau kau dan pasanganmu adem ayem tanpa anak, mereka—maksud saya masyarakatmu yang cocotnya nganggur itu—akan ngemeng macam-macam. Bisa jadi kau akan dituduh impoten, atau istrimu akan dituduh mandul. Padahal, alasan masyarakat ngomong seperti itu sepele, karena iri melihat kalian bisa leha-leha, sementara mereka harus ribet ngurusin anak!

Tapi tidak apa-apa, yang penting kau sama dengan masyarakat, tidak berbeda dengan mereka. Karena masyarakatmu hidup keblangsak, kau dan pasanganmu juga harus sama keblangsak. Karena masyarakatmu masuk lubang biawak, kau juga harus masuk lubang biawak.

Dan jangan lupa, karena masyarakatmu suka menyindir dan meledek lajang yang belum kawin, kau juga harus melakukan hal sama. Meski perkawinanmu keblangsak, pura-puralah bahagia. Dan kapan pun kau bertemu orang yang belum kawin, sindir-sindirlah dan provokasilah agar cepat kawin sepertimu. Agar apa?

Oh, well, jawabannya sepele. Agar sama keblangsak sepertimu.

Penipuan Terbesar di Dunia

Penipuan itu terjadi di depan mata kita—sewaktu-waktu—dan kita sering kali ikut terlibat di dalamnya, berpura-pura seolah itu tidak terjadi. Kita tahu itu penipuan, tapi kita pura-pura tak tahu, begitu pula orang lain, dan orang yang sedang menjadi korban penipuan.

Penipuan itu terus berlangsung dari waktu ke waktu, semakin banyak korban yang tertipu. Dan semua orang tetap pura-pura tak tahu. Beberapa korban kadang menyadari telah tertipu, tetapi kebanyakan mereka malu mengakui. Alih-alih mengakui dan memberitahu orang lain agar tidak ikut tertipu, mereka justru berusaha agar orang-orang lain tertipu seperti mereka. 

Maka gaya hidup baru pun dimulai. Orang-orang yang telah menjadi korban penipuan berusaha menarik orang-orang lain agar tertipu seperti mereka. Bukannya memberitahu orang lain atas jebakan tipuan yang telah memerangkap mereka, orang-orang itu justru berusaha menipu orang-orang lain tentang kondisinya.

Seiring waktu, penipuan itu pun menjadi kebudayaan, dan diwariskan turun temurun. Kita adalah anak-anak hasil tipuan yang memerangkap orang-orang dari masa lalu. Dan, bisa jadi, kita pun akan terus melanjutkan perjalanan penipuan itu, dan mewariskannya kepada anak-anak kita.

....
....

Kadang-kadang aku ngeri menjadi manusia.

Mohon Bersabar, Ini Ujian

Ujian ndasmu.

Rabu, 20 Juni 2018

Tembang Kampung Halaman

Aku tidak tahu bagaimana pikiran atau perasaan orang-orang 
yang mudik, sampai mau susah payah. Yang jelas, 
aku heran mereka mau melakukannya.


Setiap manusia menghadapi kehidupan. Namun, cara kita menghadapi hidup tampaknya tidak semata tergantung pada hidup yang kita hadapi, melainkan juga pada diri kita sendiri. Lebih spesifik, pada isi pikiran dan kepribadian kita. Saya mulai memahami kenyataan ini, saat lebaran dan bertemu para famili.

Ada famili saya yang bekerja di Bandung sejak lulus STM. Karena hidup di Bandung hingga puluhan tahun, bisa dibilang dia sudah menjadi orang Bandung. Dia berangkat kerja ke Bandung saat masih lajang, dan kini sudah punya istri serta dua anak. Dia punya rumah di Bandung, anak-anaknya bersekolah di Bandung, dan istrinya juga orang Bandung.

Setiap tahun, famili saya selalu pulang ke Pekalongan, saat lebaran tiba. Orang tuanya memang tinggal di Pekalongan, begitu pula adik-adiknya. Jadi, selama puluhan tahun, dia selalu pulang saat lebaran, meninggalkan Bandung yang telah menjadi tempat tinggalnya kini. Kadang dia mudik bersama istri dan anak-anaknya; kadang pula hanya bersama anak, karena si istri memilih tinggal di Bandung. Yang jelas, famili saya selalu mudik tiap lebaran tiba.

Bahkan setelah orang tuanya meninggal, famili saya tetap mudik tiap lebaran, pulang ke rumah orang tua, yang kini ditinggali adiknya.

Pas ketemu saat lebaran, saya sempat menanyakan hal itu, dengan cara bertanya bagaimana suasana lebaran di Bandung yang menjadi tempat tinggalnya.

Famili saya bercerita, di Bandung tidak ada acara silaturrahmi seperti di Pekalongan; tidak ada tetangga yang mengunjungi tetangganya, atau saudara yang mengunjungi sanak saudaranya. Di Bandung, katanya, orang-orang hanya bersalaman usai salat Ied, dan setelah itu tidak ada apa-apa. Orang-orang di sana akan sibuk dengan kegiatan keluarga masing-masing, tapi yang jelas tidak ada acara kunjung mengunjungi dari satu rumah ke rumah seperti yang biasa ia temui di Pekalongan.

“Karena itulah, aku selalu mudik tiap lebaran,” kata famili saya. “Karena aku ingin menikmati suasana lebaran seperti di sini, bertemu dan beramah-tamah dengan tetangga, famili, sanak saudara, merekatkan ikatan kemanusiaan satu dengan yang lain.”

(Catatan: Saya tidak tahu pasti suasana lebaran di Bandung, dan bisa jadi cerita famili saya tidak mencakup semua tempat di Bandung, namun khusus untuk tempat tinggalnya, yang mungkin dihuni kaum pendatang.)

Famili saya bahkan bercerita. Pernah, di suatu lebaran, dia tidak mudik, karena waktu itu istrinya sedang hamil besar. Pada waktu itu, famili saya mencoba mengunjungi tetangga-tetangganya, dengan maksud untuk bersilaturrahmi seperti yang biasa ia lakukan di kampung halaman. Uniknya, tetangga-tetangga di sana justru kaget dan bingung. Ketika famili saya mengajak mereka bersalaman, tetangga-tetangganya menyatakan, “Tadi (di masjid), kan udah?”

Ada juga cerita ketika beberapa tetangga datang ke rumah famili saya, pas lebaran. Bukan untuk bersilaturrahmi, tapi semata-mata memang ingin dolan, karena sedang libur panjang. Waktu itu, karena membawa adat dari kampung halaman, famili saya menyediakan aneka jajan di meja ruang tamu, untuk menyambut lebaran dan tamu-tamu yang mungkin datang. Para tetangga heran melihat hal itu, dan menanyakan kenapa di meja ada banyak jajan.

Setelah menceritakan semua itu, famili saya berkata, “Tidak ada suasana lebaran yang lebih hangat selain lebaran di kampung halaman. Di sini, aku bisa kembali menikmati suasana lebaran yang kunikmati sejak kecil. Berkunjung ke tetangga, dan mendapat kunjungan mereka, melepas kangen dengan teman-teman dekat, mengakrabkan kembali hubungan dengan saudara dan sanak famili. Kamu akan tahu betapa penting semua itu, jika hidup jauh dari kampung halaman.”

Selain famili yang sekarang tinggal di Bandung, ada famili lain yang sekarang hidup di Jakarta. Dia juga telah bekerja di Jakarta sejak masih lajang, sementara sekarang sudah beristri dan punya dua anak. Dulu, saya kadang datang ke tempat tinggalnya, di kawasan Kebon Jeruk, dan daerah itu memang banyak dihuni pendatang.

Famili saya ini juga selalu mudik tiap lebaran, meski dia mengaku urusan mudik bisa sangat merepotkan. Anak-anaknya masih kecil. Perjalanan dari Jakarta ke Pekalongan bersama dua balita, bisa menjadi perjalanan yang merepotkan. Tetapi, seperti yang disebut tadi, dia selalu pulang, mudik ke kampung halaman. Bahkan kini, setelah orang tuanya meninggal, dia tetap mudik, demi bertemu kakak dan adiknya.

Bertahun lalu, dia bercerita, pernah satu kali dia tidak mudik. Waktu itu dia belum menikah, jadi tinggal sendirian di rumah. Alasannya tidak mudik waktu itu karena pekerjaan penting dan mendesak, yang tidak bisa ditinggal. Jadi, ketika lebaran datang, dia memilih tetap di Jakarta, agar pekerjaannya beres.

Dia menceritakan, “Sehari sebelum lebaran, tempat tinggalku sudah sepi. Para tetangga sudah mudik. Waktu itu, aku menjalani hari seperti biasa, menyibukkan diri dengan kerja. Malam harinya, saat takbir mulai terdengar dari masjid, aku merasa... begitu kesepian. Tiba-tiba, aku sangat merindukan kampung halaman, merindukan orang tua, merindukan kakak dan adik, merindukan lebaran di rumah... dan aku tidak bisa menahan tangisku yang runtuh tiba-tiba.”

Semalaman dia menangis, menikmati lebaran sendirian di rumahnya yang sepi, membayangkan suasana berlebaran di kampung halaman.

“Saat itu aku tahu, bagaimana rasanya sendirian, dan kesepian,” ujarnya. “Di waktu-waktu lain, sendirian mungkin bukan masalah. Aku bahkan jarang merasa kesepian, karena terus sibuk bekerja. Tapi sendirian di malam lebaran, di tempat yang jauh dari kampung halaman, bisa membuatmu merasa begitu sepi.”

Karena itu pula, dia selalu mudik, pulang ke kampung halaman setiap lebaran tiba. Semua kerepotan dan lelah yang mengiringi perjalanan pulang, baginya, tidak ada apa-apanya dibanding kesenangan bertemu keluarga, kegembiraan berjumpa dengan sanak saudara, dan kebahagiaan dalam lebaran yang meriah.

Selain dua famili yang saya ceritakan di atas, sebenarnya ada beberapa famili lain, yang juga tinggal di luar kota. Mereka juga selalu mudik tiap lebaran, pulang ke kampung halaman. Rata-rata, mereka sama menceritakan bahwa lebaran di luar kota berbeda dengan lebaran di kampung halaman. Tidak ada kemeriahan antartetangga, tidak ada acara saling mengunjungi, dan semacamnya.

Bahkan adik saya sendiri, yang juga tinggal di luar kota, selalu pulang ke rumah orang tua saat lebaran tiba. Bagi adik saya, berlebaran di rumah jauh lebih menyenangkan daripada berlebaran di tempat tinggalnya.

Berbeda dengan mereka, saya juga punya kisah tersendiri terkait lebaran.

Adik nenek saya—dari pihak ibu—tinggal di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sejak dulu, saya akrab dengan mereka (nenek dan kakek), dan sudah berkali-kali mengunjungi mereka—kadang tinggal di sana sampai beberapa hari—hingga saya saling kenal dengan para tetangga di sana, yang rata-rata ramah.

Bertahun lalu, kakek dan nenek menawari agar saya tinggal di rumahnya saat lebaran. Saya bersedia. Maka, beberapa hari sebelum lebaran, saya tinggal di rumah mereka. Sampai beberapa hari setelah lebaran, saya masih tinggal di sana.

Ketika lebaran datang, saya benar-benar menikmati suasana di rumah nenek. Waktu itu memang terdengar suara takbir dari masjid dan musala, sebagaimana di tempat lain. Tetapi, saya merasakan suasana yang lebih syahdu. Saya masih ingat, waktu itu, duduk sendirian di teras rumah, mendengar suara takbir yang bersahutan, dan saya merasakan suasana lebaran yang begitu menenteramkan.

Di tempat tinggal nenek, tidak ada acara tetangga yang saling mengunjungi. Tidak ada keramaian atau kemeriahan seperti di tempat orang tua saya. Karenanya, meski seharian tinggal di rumah, saya merasa “damai”, karena tidak harus bersalaman atau berbasa-basi dengan siapa pun. Di rumah nenek juga ada berbagai makanan dan jajan yang bisa dinikmati, sebagai bentuk perayaan lebaran. Tapi hanya itu.

Karenanya, waktu itu, saya begitu damai saat duduk di teras rumah, menikmati teh dan udud sendirian, dan menatap suasana depan rumah yang biasa-biasa saja. Para tetangga menjalankan aktivitas seperti biasa, anak-anak bermain seperti biasa, orang-orang menikmati kehidupan seperti biasa. Begitu indah... dan mendamaikan. Itu, jujur saja, lebaran terbaik yang pernah saya nikmati.

Karena itu pula, saya bertanya-tanya pada para famili yang tinggal di luar kota, kenapa mereka harus susah-payah pulang saat lebaran, dan kalian sudah mengetahui jawaban mereka, sebagaimana yang tadi saya tuliskan.

Setiap kita menghadapi lebaran. Namun, cara kita menghadapi datangnya lebaran tampaknya tidak semata tergantung pada lebaran itu sendiri, melainkan juga pada diri kita sendiri. Lebih spesifik, pada isi pikiran dan kepribadian kita. Ada yang menyukai lebaran seperti di kampung halaman, yang ramai dan meriah, yang penuh sukacita bersama tetangga, saudara, dan sanak famili. Namun, ada pula yang lebih suka menikmati lebaran dalam hening, seperti yang saya alami.

Mudik, pada akhirnya, bukan sekadar pulang ke kampung halaman, tapi juga kesempatan untuk mendengar nyanyian yang paling kita rindukan. Sebagian kita mendengar nyanyian indah bersama banyak orang, sebagian lain mendengar nyanyian indah di keheningan.

Menjadi Bocah

Tiap melihat motor mini, aku ingin punya anak kecil.

Tiap melihat anak kecil, aku ingin punya mbakyu.

Tiap melihat mbakyu, aku ingin menjadi bocah.

Tiap menjadi bocah, aku ingin punya motor mini.

Kesadaran Baru

Bagi yang tidak menganggapnya masalah, bukan masalah.

Kamis, 14 Juni 2018

Tujuh Bidadari di Ujung Pelangi

Bersama kedalaman, kebenaran adalah serangkaian tanda tanya.
Bersama kedangkalan, kebenaran hanya menjelma berhala.


Pelangi adalah sesuatu yang sebenarnya tidak ada, tapi diyakini ada. Orang bisa bersumpah demi apa pun bahwa dia telah melihat pelangi, sebagaimana kita juga tentu sering melihatnya. Kita bisa menjelaskan dengan detail bagaimana pelangi yang kita lihat, karena nyatanya kita memang melihat pelangi. Kita bisa menggambarkan warna-warni pelangi dengan begitu impresif, karena kita—sumpah demi apa pun—benar-benar melihat pelangi.

Tetapi, bagaimana pun, pelangi sebenarnya tidak ada!

Pelangi hanyalah ilusi optik yang mengecoh mata kita, sehingga kita—seolah-olah—melihat sesuatu yang berwarna-warni, yang kita sebut pelangi. Ilusi itu terjadi akibat cahaya matahari yang dibiaskan rintik air hujan. Karena itulah, pelangi tampak muncul setelah hujan atau usai gerimis. Tetapi, sebenarnya, benda yang disebut pelangi tidak ada, karena memang ilusi. Dan sesuatu disebut ilusi, karena ia tidak ada!

Yang menarik, meski tidak ada, pelangi bisa difoto. Karenanya, kepercayaan manusia atas keberadaan pelangi makin kukuh, karena bisa membuktikan dengan foto. Jika pelangi tidak ada, pikir mereka, mestinya tidak bisa difoto. Fakta bahwa pelangi bisa difoto, membuktikan pelangi memang ada. Persetan, benda apa yang bisa difoto tapi sebenarnya tidak ada?

Ya pelangi itulah jawabannya!

Meski secara hakikat tidak ada, pelangi selalu menarik, setidaknya bagi sebagian orang. Mungkin karena pelangi memiliki warna-warni menakjubkan, indah, dan cemerlang. Ia seperti lengkung langit yang dibengkokkan dengan sangat lembut, sekaligus misterius. Sebegitu misterius, hingga orang-orang tidak pernah tahu di mana ujung pelangi.

Jutaan orang melihat pelangi, tapi mereka tidak pernah melihat ujung pelangi. Mereka hanya melihat lengkungnya, warna-warninya. Selama berabad-abad, manusia bertanya-tanya, di manakah ujung pelangi? Selama berabad-abad pula, mereka tidak pernah menemukan jawabannya. Kemudian, seperti umumnya sifat manusia, mereka pun “ngadem-ngademi ati” (mendamaikan hati) dengan cara melahirkan mitos, dan legenda.

Ada banyak mitos dan legenda terkait pelangi, meski hanya sedikit yang terkenal. Di Indonesia, misalnya, ada mitos yang mengatakan bahwa di ujung pelangi ada tujuh bidadari yang sedang mandi. Di zaman kuno, anak-anak berlarian ke pinggir sungai setiap kali muncul pelangi, karena ingin menyaksikan bidadari mandi. Tapi tidak ada tujuh bidadari. Satu pun tidak. Karena ujung pelangi tak pernah terlihat.

Sementara di negara-negara Eropa, muncul mitos tentang peti emas yang tersimpan di ujung pelangi. Di zaman kuno, orang-orang pun berlarian setiap kali pelangi muncul, berharap menemukan peti-peti emas berserak di tanah berumput. Tapi tidak pernah ada. Mereka tak menemukan peti apa pun, karena bahkan ujung pelangi pun tak tampak.

Manusia menciptakan mitos, legenda, kepercayaan, untuk sesuatu yang tidak bisa mereka temukan, yang tidak bisa mereka pahami. Pada zaman kuno, tampaknya, “keberadaan” pelangi membuat pikiran mereka kacau, dan kekacauan itu memerangkap mereka dalam kebingungan memahami antara ada dan tiada.

Di masa lalu, ketika pengetahuan belum semaju sekarang, mereka tentu belum memahami bahwa pelangi hanyalah ilusi optik yang menipu mata. Jadi, mereka pun meyakini pelangi benar-benar ada. Tetapi karena mereka tidak bisa memahami di mana ujungnya, mereka pun menciptakan mitos dan legenda, agar hati tenteram dan membayangkan keindahan. Tentang bidadari, atau peti-peti emas.

Mereka tahu tidak akan menemukan keindahan itu. Tapi mereka senang karena bisa mendamaikan hati yang gersang oleh ketidaktahuan atas sesuatu yang tidak mereka pahami. Karena pengetahuan manusia terbatas, dengan usia terbatas, dan mereka tidak bisa memahami semua hal di semesta yang amat luas.

Beribu tahun lalu, seorang lelaki bernama Ibrahim juga terperangkap dalam kebingungan semacam itu. Bukan karena pelangi, tapi karena memikirkan sesuatu yang lain, yang tidak ia pahami.

“Aku tidak mungkin ada tanpa pencipta,” pikir Ibrahim. Maka, dia pun berupaya menemukan siapa penciptanya. Karena belum mengenal konsep Tuhan, Ibrahim pun melayangkan pandangan ke alam sekitar, menatap hamparan bumi, memandang luasnya langit.

Pada masa itu, manusia-manusia yang hidup sezaman dengan Ibrahim juga memikirkan hal yang sama. Mereka bertanya-tanya siapakah pencipta mereka. Karena tidak juga menemukan jawab, mereka pun menciptakan patung, memahat berhala, yang kemudian mereka sembah sebagai tuhan. Mereka mungkin menyadari berhala-berhala itu tidak mampu menciptakan mereka. Tetapi, setidaknya, keberadaan berhala yang mereka sembah mampu mendamaikan hati mereka.

“Kalau kau tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaanmu sendiri, maka buatlah jawaban apa pun, dan anggaplah itu jawabannya.” Selama beribu-ribu tahun, disadari atau tidak, manusia hidup dengan konsep semacam itu.

Ibrahim tidak bisa menerima konsep semacam itu, meski ayahnya sendiri pembuat patung dan perajin berhala. Ibrahim merasa tidak mampu membohongi diri sendiri dengan percaya bahwa dia diciptakan oleh patung, sehingga dia juga keberatan jika harus menyembah berhala.

Akhirnya, ketika menatap langit dan menyaksikan hamparan bintang, Ibrahim terpesona, dan membayangkan bahwa dia diciptakan oleh bintang. “Mungkin itulah yang disebut tuhan,” pikir Ibrahim.

Sesaat, dia hampir percaya bahwa bintang-bintang di langit itulah yang menciptakannya, sehingga patut disembah. Tapi kemudian ia menyaksikan rembulan, dan berpikir, “Rembulan hanya sendirian di langit, tapi ia memiliki sinar yang lebih terang dibanding jutaan bintang. Mungkin rembulan yang layak disebut tuhan.”

Sampai lama, Ibrahim memandangi rembulan di langit, dan makin percaya bahwa itulah tuhan. Karena rembulan lebih besar, memiliki sinar lebih terang, dan sinarnya tak meredup. Ibrahim pun bisa tidur dengan tenang, karena merasa telah menemukan tuhan.

Keesokan hari, saat bangun tidur, Ibrahim kembali menatap langit, dan kehilangan tuhan yang semalam ia temukan. Rembulan yang semalam bersinar cemerlang kini hilang, berganti sinar matahari yang begitu terang. Ibrahim mulai ragu. “Jika rembulan memang tuhan,” pikirnya, “mestinya ia tidak hilang.”

Lalu Ibrahim menatap matahari, dan merasakan matanya silau oleh sinar terang. “Mungkin inilah yang disebut tuhan,” simpul Ibrahim. “Ia memiliki sinar terang yang bahkan mampu membuatku silau.”

Sekali lagi Ibrahim menemukan tuhannya, penciptanya, dan sesaat merasakan hidupnya tenang, batinnya tenteram, karena telah menemukan jawaban atas pertanyaan yang tak terjawab. Selama seharian, Ibrahim meyakini bahwa matahari adalah tuhan, entitas yang layak disembah, karena memiliki sinar terang. Tapi kemudian senja menjelang, dan matahari hilang. Untuk kesekian kali, Ibrahim merasa kehilangan tuhan.

Butuh proses dan waktu lama bagi Ibrahim untuk mengenali dan menemukan tuhan, dari satu tanya ke tanya lain, dari satu kepercayaan ke kepercayaan lain, dari satu kehilangan ke kehilangan lain. Dalam hal itu, Ibrahim beruntung karena ditakdirkan menjadi Nabi, hingga berhasil menemukan Tuhan yang sebenarnya.

Perjalanan panjang Ibrahim adalah perjalanan sama yang dialami umat manusia di zaman-zaman lain, yang hidup sebelumnya. Proses mencari dan menemukan, keyakinan yang berakhir kehilangan. Selama ribuan tahun, manusia yang belum genap akalnya pernah menyembah pohon-pohon besar, batu-batu besar, gelegar halilintar, bahkan ombak di lautan.

Orang-orang di zaman itu tidak memahami apa yang mereka lakukan, tapi belakangan manusia di zaman yang lebih modern merumuskan konsep animisme dan dinamisme. Orang-orang di zaman kita merumuskan konsep untuk sesuatu di masa lalu, yang sama sekali tidak dipahami orang-orang yang melakukannya. 

Orang-orang Yunani kuno tampaknya lebih kreatif, karena mereka tidak hanya menyembah batu besar atau gelegar halilintar, tapi menciptakan sosok-sosok yang lebih “meyakinkan”. Maka muncullah Zeus, Hades, Hera, Hermes, Poseidon, sampai Apollo. Yang menakjubkan, orang-orang di zaman itu bisa menjelaskan peran masing-masing sosok khayalan itu dengan detail dan meyakinkan, seolah mereka benar-benar mengenalnya, seolah sosok-sosok itu benar-benar ada.

Berabad-abad kemudian, sosok-sosok agung di masa Yunani kuno hanya disebut mitos. Seiring kesadaran manusia, tokoh-tokoh itu tidak lagi disembah, dan menjadi sekadar legenda. Dari zaman ke zaman, manusia—di Yunani maupun di luar Yunani—makin menyadari bahwa Zeus sebenarnya tidak ada, begitu pula konco-konconya, sesakti apa pun mereka digambarkan dan diyakini.

Seperti emas atau tujuh bidadari yang mandi di ujung pelangi. Sekian abad yang lalu, manusia benar-benar percaya bahwa itu kenyataan.

Kepercayaan mereka dilandasi bukan karena mereka telah membuktikannya, tetapi justru karena mereka tidak mampu membuktikannya. Mereka belum mengenal konsep ilusi, sebagaimana orang-orang kuno belum mengenal konsep animisme. Mereka hanya yakin, dan keyakinan itu makin menguat justru karena tidak pernah bisa membuktikan.

Manusia bisa meyakini apa pun karena dua hal. Pertama karena bisa membuktikan, dan kedua karena tidak bisa membuktikan. Bisa membuktikan atau tidak bisa membuktikan, manusia bisa diarahkan, dibentuk, dan dipengaruhi, untuk meyakini apa pun, bahkan yang paling absurd sekali pun. Seperti emas dan bidadari di ujung pelangi.

Tetapi, kini, kita telah menyadari bahwa pelangi hanyalah ilusi yang sebenarnya tidak ada, begitu pula ujungnya. Karenanya, mencari ujung pelangi adalah pekerjaan sia-sia, karena mencari sesuatu yang tidak ada. Jika mencari ujungnya saja tidak mungkin dilakukan, apalagi menemukan emas dan bidadari di dalamnya.

Ngopi dan Udud dengan Mata Kriyep-kriyep

Salah satu kesenangan kecil saya dalam hidup adalah menikmati kopi dan udud, dengan mata yang masih kriyep-kriyep.

Jadi, saya bangun tidur, tanpa cuci muka atau apa pun, langsung ke dapur, dan bikin kopi. Setelah itu, duduk menyeruput kopi dengan muka yang masih berantakan, dengan mata yang masih kriyep-kriyep. Setelah menyeruput kopi dan merasakan kehangatan merasuki tubuh, saya menyulut udud, dan menikmatinya. Dengan mata yang masih kriyep-kriyep.

Ketika melakukan aktivitas itu, saya merasa sedang melawan tatanan dunia, memberontak kebekuan hidup manusia, dan menertawakan aturan-aturan tentang “bagaimana seharusnya menjalani hidup”.

Menyeruput kopi dan udud dengan mata kriyep-kriyep, setidaknya bagi saya, adalah upaya kecil menikmati kebebasan dan kemerdekaan—sesuatu yang ironisnya tidak dimiliki kebanyakan manusia.

‏Tertinggal

Ooh... tertinggal.

Minggu, 10 Juni 2018

Yang Indah dan Buruk Selama Ramadan

Rindu hari biasa, yang tenang, damai, dan hening, seperti biasa.


Ramadan adalah bulan baik. Kita semua, khususnya yang muslim, sepakat dengan hal itu. Bagaimana tidak baik? Selama Ramadan, satu bulan penuh, kita diminta untuk berpuasa. Berbeda dengan ibadah lain, puasa adalah ibadah yang tidak bisa—atau setidaknya sulit—dipamer-pamerkan. Karenanya, ibadah yang paling mungkin dilakukan dengan ikhlas adalah puasa. Karena hanya Tuhan dan pelakunya yang tahu.

Setelah seharian berpuasa, malam hari juga ada kegiatan sebulan penuh berupa salat tarawih. Karenanya, siang malam, selama Ramadan, umat muslim terus beribadah. Di sela-sela ibadah penting itu, banyak pula orang yang menjalankan ibadah lain, semisal rajin membaca kitab suci, hingga khatam sekali atau bahkan beberapa kali dalam sebulan. Banyak pula yang salat malam sendirian, dan lain-lain. Semuanya adalah hal baik.

Selama Ramadan pula, banyak orang baik muncul di mana-mana, yang memberi dan membagi-bagikan takjil untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan, agar mereka—yang berpuasa—bisa berbuka saat magrib tiba.

Sejujurnya, hati saya selalu tersentuh setiap kali menyaksikan pemandangan itu. Orang-orang yang tidak kita kenal, membagi-bagikan makanan dan minuman pada orang-orang yang tidak mereka kenal, dan mereka memberikan kebaikan itu sambil tersenyum. Mereka tidak mengharapkan apa pun, selain murni ingin membantu orang-orang lain yang berpuasa agar bisa berbuka. Itu pemandangan indah yang hanya mungkin kita temui di bulan Ramadan.

Kemudian, saat Ramadan hampir berakhir—atau menjelang datangnya lebaran—orang-orang kaya mulai menghitung dan menyisihkan harta untuk berzakat pada orang-orang sekitar. Semakin kaya, semakin banyak yang bisa dibagikan. Itu pun hal baik yang bisa kita temukan selama Ramadan. Bulan Ramadan tidak hanya menjadi kesempatan untuk makin rajin beribadah, tapi juga kesempatan untuk berbagi.

Dan daftar kebaikan selama Ramadan bisa ditambah dan ditambah lagi, karena memang begitu banyak.

Sayangnya, selama Ramadan, juga ada hal-hal yang bisa dibilang buruk. Sederet keburukan yang, ironisnya, juga hanya muncul selama Ramadan. Setidaknya, saya menemukan beberapa keburukan tersebut.

Pertama, kebisingan yang makin parah.

Bagi sebagian orang, Ramadan tampaknya juga menjadi kesempatan untuk mengumbar kebisingan sedemikian parah. Dari menjelang subuh, sampai siang, sampai sore, sampai malam, sampai dini hari, sampai subuh lagi, kebisingan nyaris tak berhenti. TOA di masing-masing musala dan masjid seperti berlomba menjadi yang terkeras. Dan terbising.

Di lingkungan tempat saya tinggal, kira-kira seperti ini ilustrasi kebisingan yang terjadi: Menjelang subuh, atau sekitar usai makan sahur, muncul suara TOA dari masjid yang menyuarakan orang berselawat, sampai tiba azan subuh. Setelah salat subuh usai, muncul suara TOA kembali, kali ini suara pengajian. Sampai satu-dua jam suara TOA bergema di lingkungan tempat saya tinggal, dan hal itu terus berlangsung setiap hari.

Usai pengajian tadi, lingkungan mulai tenang, tanpa suara. Biasanya, orang-orang mulai berangkat kerja. Tengah hari, saat dhuhur, kebisingan kembali melanda. Usai dhuhur, kebisingan belum berhenti, karena TOA sekali lagi menyuarakan apa saja, dari suara orang berselawat sampai pengajian. Lalu hal sama terulang pada waktu asar. Sampai magrib tiba.

Usai magrib, suasana tenang sejenak, lalu muncul isya, dan salat tarawih dimulai. Selesai tarawih, orang-orang biasanya membaca Alquran sampai tengah malam, tentu juga dikeraskan TOA. Dan itu berlangsung setiap malam, sebulan penuh.

Semua suara yang saya sebutkan di atas bukan hanya berasal dari satu sumber, tapi dari beberapa sumber sekaligus. Jadi, kadang suara TOA dari masjid “bersaing” dengan suara-suara TOA dari musala-musala di sekitar. Akibatnya, yang terdengar adalah perang kebisingan yang sahut menyahut. Dan itu, tentu saja, berlangsung sebulan penuh selama Ramadan.

Kalau kalian pergi ke Mekkah atau ke negara-negara berbahasa Arab—entah untuk berhaji, umrah, atau urusan lain—coba perhatikan orang-orang di sana, saat membaca Alquran. Orang-orang di negara berbahasa Arab umumnya membaca Alquran dengan suara lirih, atau bahkan dalam keheningan tanpa suara. Kenapa? Karena mereka tahu apa yang dibaca!

Ketika membaca Alquran, mereka tahu arti ayat-ayat yang mereka baca, jadi mereka pun membaca dengan kekhusyukan. Berbeda dengan kita, orang Indonesia umumnya, yang membaca Alquran sekadar membaca. Kita tidak tahu apa arti ayat yang kita baca. Dan seperti orang tidak tahu umumnya, kita pun membaca Alquran dengan suara keras, bahkan sampai dikeraskan TOA.

Pengetahuan selalu memeluk hening. Ketidaktahuan berteriak dalam bising.

Masih ingat zaman kita SD dulu, ketika baru bisa membaca aksara? Kita sangat senang membaca dengan suara keras, meski yang dibaca sekadar IBU BUDI PERGI KE PASAR, dan cara kita membaca juga terdengar menggelikan. Tapi kita senang melakukannya. Kenapa? Karena kita sebenarnya tidak tahu apa yang kita baca!

Setelah dewasa, apakah kita masih melakukan ketololan semacam itu? Tentu saja tidak! Ketika membaca novel, misalnya, dan kita tenggelam dalam kisah di dalamnya, kita membaca dalam hati, tanpa usaha mengeraskan bacaan kita. Kenapa? Karena kita benar-benar tahu apa yang sedang kita baca! Hal sama terjadi pada orang-orang di negara berbahasa Arab. Ketika membaca Alquran, mereka tahu apa yang sedang mereka baca, dan mereka pun khusyuk serta “tenggelam” saat membaca.

Kesadaran memeluk hening, kenaifan berteriak bising.

Begitu pula dengan pengajian di masjid, atau di musala. Kenapa kita tidak melirihkan suara, hingga hanya didengar orang-orang yang datang? Bukankah itu lebih khusyuk, sebagaimana mestinya orang belajar? Kenapa pengajian—yang merupakan aktivitas belajar—harus dikeraskan TOA, hingga kebisingan menjalar ke mana-mana? Tidak semua orang nyaman dengan kebisingan. Dan pengajian atau bukan pengajian, kebisingan tetap kebisingan.

Itu “keburukan” pertama selama Ramadan, yaitu kebisingan tanpa henti, dari TOA yang saling bersahutan, dan nyaris tak pernah usai.

Keburukan kedua, petasan.

Demi segala demi, saya benar-benar tidak paham dengan petasan. Setiap kali Ramadan datang, setiap kali pula petasan muncul. Memang, pelarangan petasan akhir-akhir ini menjadikan petasan banyak berkurang, tapi bukan berarti tidak ada. Selalu ada orang-orang kurang kerjaan yang entah bagaimana caranya bisa memiliki petasan, lalu menyulutnya, dan menambah kebisingan.

Suara TOA dan ledakan petasan adalah kombinasi yang menjadikan Ramadan serupa pasar malam.

Yang ketiga, anak-anak bermain di jalanan.

Entah bagaimana dengan daerahmu, tapi di daerah saya selalu ada “fenomena” yang selalu muncul setiap kali Ramadan. Yaitu anak-anak kecil yang bermain di tengah jalan raya. Biasanya, mereka main bola di tengah jalan, ketika lalu lintas sepi, sejak dini hari. Jadi, kalau saya kebetulan keluar rumah pukul 01.00 ke atas—biasanya untuk mencari makan—hampir bisa dipastikan akan melihat anak-anak itu.

Keberadaan anak-anak bermain bola di jalan raya tidak hanya terjadi di satu lokasi. Tapi di banyak lokasi. Di mana pun ada jalan raya yang relatif sepi, hampir bisa dipastikan di situ ada anak-anak kecil bermain bola. Mereka biasanya membuat gawang dari tumpukan sandal, lalu menjadikan jalan raya sebagai lapangan. Ketika ada kendaraan lewat, mereka pun menghentikan permainan. Tetapi... KENAPA MEREKA HARUS BERMAIN BOLA DI JALAN RAYA?

Kenapa mereka tidak bermain di jalanan kampung yang lebih aman? Atau di lapangan sekalian? Di sekitar tempat tinggal saya, misal, ada lapangan yang sangat luas, yang bisa digunakan untuk apa pun, termasuk untuk bermain bola. Tetapi, anak-anak kecil itu bukan bermain di lapangan yang jelas-jelas aman dan lapang, mereka malah bermain bola di jalan raya! Ke mana orang tua anak-anak itu?

Dulu, zaman petasan masih sering digunakan, anak-anak itu tidak hanya bermain bola, tapi juga bermain petasan. Tampaknya, mereka senang mengerjai orang-orang yang lewat dengan ledakan petasan.

Beberapa tahun lalu, saya pernah berkendara sendirian, dan mendapati sesuatu yang mencengangkan. Sekitar sepuluh meter di depan saya, ada orang naik motor sendirian, melewati kumpulan anak kecil yang bermain di jalanan. Orang itu melaju perlahan-lahan, karena di situ banyak anak kecil. Lalu muncul suara ledakan mengejutkan, diringi hujan kertas seperti busa yang menyembur dari botol soda. Orang tadi terkejut setengah mati, tubuh dan motornya diselimuti cuilan kertas, sementara anak-anak di sekitarnya tertawa-tawa seperti orang gila.

Saya tidak tahu petasan keparat apa yang digunakan anak-anak itu, yang jelas ledakan dan hujan kertas tadi menguarkan aroma petasan. Dan, hell, ke mana orang tua anak-anak itu?

Di tempat lain, saya juga pernah menyaksikan pemandangan yang tak kalah mengerikan. Beberapa anak tertabrak sekaligus oleh sebuah mobil yang sedang melaju. Berdasarkan penjelasan dari orang-orang yang berkerumun, mobil itu berbelok ke jalan raya—tempat anak-anak bermain bola di tengah jalan—dan mengira jalan raya itu sepi, karena memang dini hari. Karenanya, si pengendara pun menjalankan mobil agak cepat, dan anak-anak di sana tidak sempat menyingkir ketika mobil itu tiba.

Yang saya saksikan, ada empat enak terbaring di trotoar dengan kondisi seperti umumnya orang habis tabrakan. Sementara anak-anak lain—teman-teman si korban—tampak linglung. Salah siapa, kalau sudah seperti itu?

Itu keburukan ketiga yang selalu muncul di kala Ramadan, yaitu anak-anak yang bermain di tengah jalan raya. Apa guru-guru mereka mengajarkan bahwa bermain di tengah jalan termasuk ibadah di bulan Ramadan? Saya yakin tidak! Jadi, dari mana mereka belajar kebiasaan buruk itu—bermain di tengah jalan raya selama Ramadan?

Keburukan keempat, macet di mana-mana!

Untuk poin keempat, sepertinya tidak perlu saya bahas penjang lebar, karena kalian pun tentu mengalami. Setiap kali Ramadan datang, apalagi menjelang datangnya lebaran, macet akan terjadi di mana pun. Kendaraan mengular di mana-mana, jalan raya menjadi tempat yang sangat tidak menyenangkan. Dibutuhkan kesabaran seorang nabi untuk bisa merayap di jalan raya tanpa misuh-misuh.

Kemacetan tidak hanya terjadi di jalan raya, kau tahu. Lalu lintas internet juga semakin padat berkali-kali lipat setiap kali Ramadan tiba, dan itulah kenapa sinyal internet kita sering down ketika Ramadan.

Keburukan kelima—dan semoga yang terakhir—harga-harga naik!

Tempo hari, saat mengganti oli di tempat langganan, si mekanik menyebutkan harga yang lebih mahal untuk oli yang biasa saya pakai. Saya tanya, “Kok naik, harganya?”

“Iya, Mas,” sahut si mekanik, “Maklumlah, Ramadan.”

Istilah itu—“maklumlah, Ramadan”—kelak akan berlanjut menjadi “maklumlah, lebaran.” Kalian pasti sudah familier dengan ungkapan semacam itu, kan? Ramadan dan lebaran tampaknya menjadi kesempatan bagi orang-orang untuk menaikkan harga-harga barang, dari oli mesin sampai mesin jahit sampai mesin pembuat kopi!

Yang menjengkelkan, harga-harga yang naik itu tidak kembali turun ketika Ramadan dan lebaran sudah usai, padahal mereka menaikkan harga dengan dalih Ramadan dan lebaran.

Saya pernah berlangganan capcay di tempat ini, sampai bertahun-tahun. Ketika pertama kali membeli capcay di sana, satu porsi hanya Rp7.000. Setiap tahun, saat lebaran, harga itu naik, kadang Rp1.000, kadang pula lebih. Setiap tahun begitu. Setiap kali pula, kalau ditanya, si penjual capcay menjawab, “Maklumlah, lebaran.”

Tapi meski lebaran sudah lama hilang, harga capcay tidak pernah turun. Saat ini, harga capcay di sana sudah menyentuh Rp21.000, dan tahun ini mungkin akan naik lagi dengan alasan, “Maklumlah, lebaran.”

Hal semacam itu, tentu saja, tidak hanya terjadi pada capcay. Tapi juga pada barang-barang lain, pada makanan-makanan lain, pada banyak kebutuhan hidup kita.

Tidak ada perayaan lain di Indonesia yang menciptakan inflasi sedemikian gila, seperti yang terjadi pada saat lebaran. Dan inflasi, meminjam istilah para bankir, adalah “perampokan paling jahat, paling besar, tapi pelakunya tak pernah bisa ditangkap”.

Dan ketika hal semacam itu terjadi, yang paling menjadi korban adalah kaum dhuafa, orang-orang lemah yang tak pernah mampu mengikuti laju inflasi. Mereka menjadi pihak paling tertindas saat lebaran datang, ketika harga-harga naik, ketika inflasi makin mencekik, sementara kehidupan makin kembang kempis. Mereka dibuat senang sejenak dengan memiliki uang banyak, sehingga bisa membeli apa pun selama lebaran, sampai kemudian realitas seusai lebaran menjerat mereka bagai tali gantungan.

Ramadan datang sebagai bulan penuh keberkahan ibadah, tetapi juga menjadi moment yang menghadirkan aneka masalah. Lebaran datang sebagai hari kemenangan, tapi di saat sama juga melahirkan penindasan.

Ndongeng Uysrik

Suatu malam, saya berkata pada seorang bocah, “Aku ingin ndongeng.”

“Ndongeng apa?” dia bertanya.

“Ndongeng usyrik.”

“Ndongeng... apa?”

“Usyrik.”

“Usyrik?”

“Yeah... usyrik. Kau mau mendengarkan?”

“Aku mendengarkan.”

Lalu saya mulai ndongeng usyrik.

Semalam suntuk saya ndongeng usyrik.

Sampai subuh, kami tidak tahu apa itu usyrik.

Abad Apus-Apus

Sering aku berpikir, kita hidup di abad apus-apus.

Rabu, 06 Juni 2018

Masalah Sepele yang Sulit Saya Pahami

Kita di Indonesia sedang dalam tahap pembelajaran mengenai pentingnya data pribadi. Sedang “dalam tahap pembelajaran”, karena nyatanya memang baru-baru ini saja kita menyadari pentingnya menjaga data pribadi. Sebelumnya, kita masih asing dengan isu penting data pribadi, dan seenaknya mengumbar data pribadi yang kita miliki.

Yang disebut data pribadi sebenarnya masih simpang siur, karena belum ada definisi baku atau pasti. Namun, kita bisa menyebut bahwa yang termasuk dalam data pribadi di antaranya adalah nomor KTP dan nomor kartu identitas lain, nomor ponsel dan nomor kepemilikan lain, hingga alamat rumah. Itu bagian data pribadi, yang biasanya hanya kita berikan/gunakan untuk hal-hal penting yang relevan.

Terkait hal itu, ada masalah yang mungkin sepele, tapi saya kebingungan memahami.

Ceritanya, saya mendaftar ke sebuah toko online, untuk membeli suatu barang di sana. Untuk memudahkan cerita, mari kita sebut Toko Online X. Dalam proses pendaftaran, saya hanya diminta menyebutkan nama, alamat e-mail, dan nomor ponsel. Saya pun mengisi formulir dengan benar.

Setelah mengisi form pendaftaran, dan bisa mulai login ke Toko Online X, saya pun membeli barang yang saya tuju. Saya masukkan barang itu ke keranjang belanja, lalu check out untuk melakukan pembayaran. Nah, dalam hal itu, sesuatu yang “mencengangkan” terjadi.

Ketika membeli barang di toko online, kita biasanya diminta memilih kurir mana yang akan kita gunakan untuk mengirimkan barang yang kita beli, juga alamat rumah kita untuk mengirimkan barang tersebut. Dalam hal ini, Toko Online X secara otomatis bisa tahu alamat lengkap saya, padahal saya tidak/belum memberitahukannya!

Perhatikan uraian di atas. Ketika mengisi formulir pendaftaran, saya hanya diminta mengisikan nama, alamat e-mail, dan nomor ponsel. Tidak ada bagian isian yang mengharuskan saya menuliskan alamat rumah atau alamat pengiriman barang. Artinya, saya tidak/belum menyebutkan di mana alamat saya. Lalu dari mana toko online itu bisa langsung tahu alamat saya secara lengkap dan akurat, dan menyuguhkan alamat itu saat saya akan check out?

Sebagian orang mungkin berpikir, “Ah, Toko Online X bisa tahu alamatmu, karena alamatmu terkait dengan nomor ponsel yang kamu gunakan. Ingat, nomor ponsel sudah teregistrasi dengan KTP, dan Toko Online X bisa langsung tahu alamatmu melalui nomor ponsel yang kamu gunakan.”

Kedengarannya masuk akal. Tetapi... alamat yang ada di KTP saya adalah alamat orang tua!

Sampai saat ini, meski tidak tinggal bersama orang tua, alamat di KTP saya masih menggunakan alamat orang tua. Padahal, alamat saya dan alamat orang tua berbeda wilayah. Saya masih mempertahankan alamat orang tua di KTP, karena nama saya juga masih ada dalam Kartu Keluarga (KK) orang tua saya. Karenanya, meski nomor ponsel sekarang telah terintegrasi dengan KTP, tetap saja alamat yang tercantum dalam hal itu adalah alamat orang tua saya.

Yang mencengangkan adalah... Toko Online X bukan mengetahui alamat orang tua saya sebagaimana yang tercantum di KTP, melainkan alamat tempat tinggal saya!

Sebenarnya, alamat tempat tinggal saya akan sulit diketahui, kecuali jika saya menyebutkannya. Karena alamat itu tidak tertulis di dokumen mana pun yang saya gunakan. Di KTP, di SIM, di STNK, dan di semua dokumen lain yang melekat pada nama saya, semua menggunakan alamat orang tua saya. Satu-satunya dokumen yang memuat alamat tempat tinggal saya hanya sertifikat rumah—sesuatu yang tidak pernah saya gunakan untuk tujuan apa pun.

Jadi, dari mana Toko Online X bisa mendapatkan alamat tempat tinggal saya, padahal saya tidak pernah menyebutkannya pada mereka?

Jauh-jauh hari, sebelum mendaftar ke Toko Online X, saya sudah mendaftar di toko online lain, bahkan menjadi pelanggan mereka. Dengan toko-toko online langganan itu, tentu saja saya memberikan alamat tempat tinggal (bukan alamat orang tua) sebagai alamat untuk pengiriman barang. Jadi, kalau mereka tahu alamat tinggal saya, tentu wajar, karena mereka menanyakannya, dan saya menuliskannya.

Saat mendaftar ke toko-toko online sebelumnya, biasanya saya harus mengisi formulir yang rata-rata isiannya meliputi nama, alamat e-mail, nomor ponsel, dan alamat pengiriman. Ketika mengisi bagian “alamat pengiriman”, saya menggunakan alamat tempat tinggal saya, agar barang yang saya pesan langsung dikirim ke tempat saya tinggal, bukan ke alamat orang tua.

Berbeda halnya dengan Toko Online X. Mereka tidak pernah meminta alamat saya, selain hanya nama, alamat e-mail, dan nomor ponsel. Jadi, saya kembali penasaran pada pertanyaan tadi: Dari mana mereka bisa mengetahui alamat tempat tinggal saya, padahal saya tidak pernah menyebutkannya pada mereka?

Saya sudah mencoba menanyakan hal itu secara langsung ke Toko Online X, tapi mereka tidak menjawab.

Karena penasaran, saya mencoba menerka-nerka. Apakah mungkin Toko Online X mendapatkan alamat tempat tinggal saya dari toko online lain yang sebelumnya menjadi tempat saya biasa berbelanja?

Itu satu-satunya kemungkinan yang terlintas dalam benak saya. Karena, dari mana lagi mereka bisa mendapatkan sesuatu yang sebenarnya rahasia, jika bukan dari pihak yang mengetahuinya? Dalam hal ini, pihak yang jelas mengetahui alamat tempat tinggal saya hanyalah toko-toko online tempat saya biasa berbelanja sebelumnya.

Jika memang begitu kenyataannya, mungkinkah toko-toko online yang saling bersaing mau secara sukarela memberikan data-data pelanggannya ke toko pesaing? Jawabannya jelas; tidak! Satu-satunya alasan logis, jika hal itu terjadi, hanyalah pembelian! Ada toko-toko online yang memperjualbelikan data pelanggannya, sehingga sebuah toko online bisa langsung tahu siapa dirimu dan di mana alamat tempat tinggalmu, padahal kau baru mendaftar ke sana, dan tidak pernah menuliskan di mana tempat tinggalmu.

Terus terang, itulah yang terlintas dalam benak saya, ketika mengetahui ada toko online yang baru mengenal saya—karena saya baru mendaftar ke sana—tapi langsung bisa tahu di mana alamat tempat tinggal saya secara tepat, padahal saya belum menyebutkan/menuliskannya!

Jadi, mungkinkah data-data pelanggan di sebuah toko online diperjualbelikan, sebagaimana yang saya pikirkan? Terus terang saya tidak tahu, dan karena itulah saya bingung. Saya benar-benar bingung pada kenyataan sederhana ini: Dari mana Toko Online X bisa tahu alamat tempat tinggal saya, padahal saya tidak/belum menyebutkannya?

Ada yang bisa membantu menjelaskan bagaimana hal aneh semacam itu bisa terjadi?


Update:

Satu jam setelah catatan ini diunggah, saya mendapatkan banyak e-mail dari pembaca, yang menyatakan bahwa terjadinya hal di atas (alamat saya bisa diketahui dengan tepat, padahal saya tidak pernah menyebutkannya), karena ponsel saya terhubung dengan aplikasi semacam Gojek atau semacamnya, sehingga terlacak secara otomatis melalui GPS.

Penjelasan: Ponsel yang saya gunakan setiap hari TIDAK PERNAH TERHUBUNG INTERNET, sehingga saya tidak pernah terhubung dengan aplikasi mana pun semacam Gojek dan lain-lain, bahkan saya TIDAK PERNAH menggunakan sarana komunikasi semacam WhatsApp dan semacamnya. Ponsel saya hanya digunakan untuk bertelepon dan mengirim SMS. Nomor ponsel ini pula yang saya gunakan saat berbelanja di internet.

Lalu saya berbelanja online pakai apa? PAKAI KOMPUTER DESKTOP!

Kemudian, berdasar banyak e-mail yang saya terima, ternyata bukan hanya saya yang menghadapi "keajaiban" semacam ini. Beberapa orang juga pernah mengalami hal serupa. Mereka membeli sesuatu di toko online yang saya ceritakan di sini, dan toko online tersebut bisa langsung tahu alamat mereka secara tepat dan lengkap, padahal mereka tidak/belum menyebutkannya.

Terakhir, untuk menghindari kesalahpahaman, toko online yang saya maksud dalam catatan ini adalah dua marketplace paling populer di Indonesia. Kalian tentu tahu yang saya maksud.

Mereka Pergi ke Utara

“Ma,” ujar seorang bocah pada ibunya.

“Ya, Sayang,” sahut si ibu.

“Mereka pergi ke utara.”

Si ibu bengong.

Si bocah mengulang, “Mereka pergi ke utara, Ma! Mereka pergi ke utara!”

“Iya, iya,” sahut ibunya.

“Iya apa, Ma?”

“Iya, mereka pergi ke utara.”

“Siapa yang pergi ke utara, Ma?”

Si ibu mulai sewot. “Mana Mama tahu?”

“Lalu kenapa Mama bilang mereka pergi ke utara?”

Sambil mencoba bersabar, si ibu berkata perlahan, “Jadi, harusnya Mama gimana, Dek?”

Si bocah menjawab, “Harusnya Mama tanya aku, siapa yang pergi ke utara.”

“Uhm, baiklah. Siapa yang pergi ke utara, Dek?”

“Aku tidak tahu, Ma.”

“KENAPA KAMU TIDAK TAHU?”

“Karena aku ini bocah, Ma. Aku tidak tahu apa-apa.”

Si ibu stres.

Membahas Sesuatu

Kita semua perlu membahas sesuatu.

Itulah kebenaran yang kita tahu.

Jumat, 01 Juni 2018

Kasidah Dewi Perssik

Dewi Perssik yang akademis.


Apa yang terlintas dalam benak kita, ketika mendengar nama Dewi Perssik? Setidaknya ada beberapa hal. Mungkin sosoknya yang seksi dan bahenol, mungkin fenomena dan kontroversi terkait dirinya, mungkin penampilannya yang aduhai, mungkin pula aneka pemberitaan sensasional yang pernah kita baca terkait dirinya.

Ada banyak berita terkait Dewi Perssik, dan kebanyakan bersifat “negatif”. Artinya, yang disodorkan berita-berita itu kebanyakan hal-hal kontroversial, dari perkawinan Dewi Perssik yang gagal, pertengkarannya dengan Julia Perez yang berujung penjara, sampai penampilannya yang dinilai terlalu seksi.

“Bad news is good news”, yang menjadi kredo pemberitaan, memang kerap menjadikan hal-hal negatif atau hal-hal buruk sebagai jualan utama. Termasuk pemberitaan terkait selebritas.

Awak berita tahu bagaimana mencari cara agar berita yang mereka tulis dibaca banyak orang. Karenanya, mereka berusaha mencari sudut pandang semenarik mungkin, seheboh mugkin, sesensasional mungkin. Memberitakan Dewi Perssik rukun dengan Julia Perez mungkin tidak terlalu menarik. Sama tidak menarik memberitakan Dewi Perssik berbakti pada orang tuanya. Maka, media-media pun mengambil sudut pandang sebaliknya.

Akibatnya, disadari atau tidak, opini kebanyakan kita tergiring untuk menilai seseorang—dalam hal ini Dewi Perssik—secara tidak adil. Kita hanya melihat hal-hal negatif terkait dirinya, hal-hal kontroversial tentangnya, sembari menutup mata bahwa bisa jadi Dewi Perssik juga memiliki hal-hal yang layak dipuji atau bahkan diteladani.

Kita tahu, Dewi Perssik dulu menikah dengan Saiful Jamil, dan pernikahan itu berakhir perceraian. Selama menikah, Dewi Perssik mengalami keguguran dua kali, dan itu membuatnya amat sedih. Pada 2007, ketika rumah tangganya berada di ujung tanduk, Dewi Perssik mengadopsi bayi yang baru berumur dua minggu. Bayi laki-laki itu ia beri nama Felice Gabriel.

Sejak pertama kali merengkuh bayi itu dalam dekapannya, Dewi Perssik berjanji untuk membesarkan, mendidik, dan menyayangi bayi itu sebagaimana anak kandung sendiri. Dan dia benar-benar menepati janjinya.

Kehadiran Gabriel seolah menghapus kerinduan Dewi Perssik terhadap lahirnya anak, akibat keguguran dua kali. Tahun demi tahun, seiring Gabriel beranjak besar, Dewi Perssik benar-benar memperlakukannya dengan penuh kasih seperti anak kandung sendiri. Kini, Gabriel telah berusia 10 tahun, dan apa kira-kira yang diprioritaskan Dewi Perssik untuknya?

Agama, etika, dan cinta.

Mungkin agak mengherankan, orang semacam Dewi Perssik memprioritaskan pendidikan agama untuk anaknya. Tapi itulah kenyataan yang terjadi. Dan, percaya atau tidak, Dewi Perssik sebenarnya wanita religius, dalam arti bisa membaca kitab suci dengan baik, tahu menjalankan perintah agama—yang wajib maupun yang sunah—dan lain-lain, sebagaimana umumnya orang yang taat beragama. Karena latar belakang itu pula, ia pun memprioritaskan pendidikan agama untuk anaknya.

Sebagai selebritas, Dewi Perssik sering menjalani jadwal yang padat untuk menghadiri beragam acara dan kegiatan. Namun, sesibuk apa pun, dia selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Gabriel, berkomunikasi dengannya, memastikan keadaan sang anak baik-baik saja. Lebih dari itu, bagi Dewi Perssik, Gabriel adalah penyemangat hidupnya.

Salah satu upaya Dewi Perssik mengajarkan cinta kepada anaknya, dengan mengajak Gabriel menemui anak-anak yatim piatu di panti asuhan. Setiap bulan Ramadan, biasanya, Dewi Perssik menggelar acara buka bersama dengan anak-anak kurang mampu, yatim piatu, dan dalam acara itu Dewi Perssik selalu mengajak Gabriel. Acara itu tidak hanya dimaksudkan Dewi Perssik sebagai bentuk rasa syukur, tapi juga untuk mengajari anaknya tentang cinta pada sesama.

Dia mengajari anaknya tentang cinta kasih—tidak dengan nasihat atau kata-kata, tapi dengan perbuatan serta teladan.

Selain mengajak anak-anak yatim piatu berbuka bersama, Dewi Perssik juga memberi santunan pada puluhan anak yatim piatu tersebut. Belakangan, upaya mulia Dewi Perssik mendapat dukungan dari Guruh Soekarno Putra dan Haji Tommy, seorang pengusaha dari Batulicin, sehingga makin banyak anak kurang mampu serta yatim piatu yang mendapatkan santunan.

Apakah media-media pernah memberitakan hal itu? Saya tidak tahu. Kenyataannya, Dewi Perssik memang tidak mengundang media untuk meliput aktivitas mulia tersebut. Ia murni berbagi untuk sesama, sekaligus mengajari anaknya tentang cinta kasih.

Pada 2014, media-media ramai memberitakan konflik yang terjadi antara Dewi Perssik dengan Julia Perez (almarhumah). Selama peristiwa itu bergulir, media-media memberitakannya seperti meliput perang di Timur Tengah. Akhir cerita, akibat konflik yang terjadi, Dewi Perssik dijatuhi hukuman penjara tiga bulan.

Apa yang dilakukan Dewi Perssik selama berada di penjara? Ngamuk-ngamuk histeris? Menyalahkan Julia Perez sembari mengutuk keadilan? Menyuap sipir agar mendapat ruangan mewah layaknya koruptor berduit? Tidak, dia jauh lebih baik dari itu.

Ketika masuk penjara, Dewi Perssik menyadari bagaimana pun hal itu dilatari perbuatannya sendiri, dan dia mengakui kesalahannya. Setelah itu, dia berusaha berperilaku baik, mengikuti segala aturan dalam rutan, dan berusaha menjadikan keberadaannya di sana memberi manfaat bagi sesama penghuni rutan.

Di rutan, setiap malam Jum’at, Dewi Perssik mengadakan pengajian, dan mengajak sesama penghuni rutan untuk mengaji bersama-sama. Seiring dengan itu, dia meminta bantuan keluarga atau manajernya untuk membawakan kue dan jajan, serta peralatan pengajian (kitab suci, kerudung, dan lain-lain.) Tidak hanya pengajian, Dewi Perssik juga mengajari senam para wanita yang menjadi penghuni rutan, pada pagi atau siang hari. Sementara malam hari, dia mengajar kasidah.

Dewi Perssik mengajar kasidah—mungkin terdengar absurd. Tapi itulah yang terjadi. Dia tidak mengajarkan cara berjoget atau bergoyang seksi, atau mengajari cara berpenampilan yang aduhai. Dia mengajarkan kasidah! Karenanya, seperti yang disebut tadi, Dewi Perssik sebenarnya wanita religius. Dia bisa melantunkan ayat-ayat suci, sefasih dan seindah saat menyanyi.

Setelah bebas dari hukuman, Dewi Perssik benar-benar meninggalkan masalahnya, dan sama sekali tidak memendam marah apalagi dendam pada Julia Perez, sosok yang telah menjebloskannya ke rutan. Hal itu dibuktikan dari kesediaannya menjalin kembali persahabatan dengan Julia Perez, sembari berikrar bahwa masalah mereka telah selesai, dan mereka bisa kembali menjadi teman baik.

Ketika Julia Perez terbaring tak berdaya di rumah sakit akibat kanker yang menggerogoti, Dewi Perssik selalu meluangkan waktu untuk menjenguk, memberi semangat, dan menguatkan hati Julia Perez. “Kamu perempuan yang kuat,” ujar Dewi Perssik, “dan aku selalu berdoa untuk kesembuhanmu.”

Bukan hanya menjenguk, menguatkan, dan mendoakan, Dewi Perssik bahkan turut membantu meringankan biaya pengobatan Julia Perez, bersama teman-teman artis yang lain. Ingat, orang yang ia jenguk, ia doakan, dan ia bantu, adalah orang yang pernah menjebloskannya ke penjara!

Ketika akhirnya Julia Perez meninggal dunia, Dewi Perssik sangat sedih dan kehilangan. Yang lebih membuatnya sedih, ia tidak bisa ikut mengantarkan jenazah Julia Perez ke peristirahatan terakhir, karena tepat pada waktu itu sedang terikat pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Karenanya, begitu pekerjaannya selesai sore hari, Dewi Perssik segera menuju ke makam Julia Perez, dan sendirian dia membaca Yaasin di sana.

Keluarga Julia Perez menggelar acara tahlil untuk almarhumah, dan Dewi Perssik selalu datang, menghadiri acara itu. Dengan kerudung, dengan baju muslimah, dengan kitab Yaasin di tangan.

....
....

Kita kadang mudah menghakimi seseorang—khususnya artis—hanya karena penampilannya, atau karena pemberitaan-pemberitaan terkait dirinya. Padahal, artis kadang memang dituntut berpenampilan tertentu, sementara berita-berita ditulis dengan tujuan agar menarik banyak orang membaca.

Kita kadang lupa, bagaimana pun artis tetap manusia. Yang mungkin memiliki kekurangan atau bahkan keburukan, namun tak lepas dari kelebihan dan kebaikan.

Keturunan Magneto

Kalau dirunut ke leluhur saya di masa lalu, saya termasuk keturunan Magneto. Berdasarkan silsilah, saya keturunan ke-7. Karenanya, saya tergolong berdarah hijau pupus.

Bodo amat kalau Magneto cuma ada di komik.

Pokoknya saya keturunan Magneto!

Menafakuri Ramadan

Barusan makan di warung, dan mendengar beberapa orang mengeluhkan Ramadan. "Tiap kali Ramadan datang," kata salah satu dari mereka, "semua urusan kacau dan berantakan!"

Percakapan selanjutnya tak perlu kuteruskan. Setidaknya, aku tahu, tidak semua orang senang menyambut Ramadan.

Setelah mendengar percakapan mereka yang mengeluhkan Ramadan, aku jadi berpikir dan bertanya-tanya, "Apakah kita menganggap Ramadan sebagai bulan baik karena memang menemukan kebaikan selama Ramadan, ataukah karena kita dipaksa untuk percaya bahwa Ramadan adalah bulan yang baik?"

Memahami sesuatu berdasarkan realitas tentu jauh berbeda dengan memahami sesuatu berdasarkan keyakinan. Tapi berapa banyak dari kita yang mau menyadari kenyataan itu?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Mei 2018.

 
;