Kamis, 14 Juni 2018

Tujuh Bidadari di Ujung Pelangi

Bersama kedalaman, kebenaran adalah serangkaian tanda tanya.
Bersama kedangkalan, kebenaran hanya menjelma berhala.


Pelangi adalah sesuatu yang sebenarnya tidak ada, tapi diyakini ada. Orang bisa bersumpah demi apa pun bahwa dia telah melihat pelangi, sebagaimana kita juga tentu sering melihatnya. Kita bisa menjelaskan dengan detail bagaimana pelangi yang kita lihat, karena nyatanya kita memang melihat pelangi. Kita bisa menggambarkan warna-warni pelangi dengan begitu impresif, karena kita—sumpah demi apa pun—benar-benar melihat pelangi.

Tetapi, bagaimana pun, pelangi sebenarnya tidak ada!

Pelangi hanyalah ilusi optik yang mengecoh mata kita, sehingga kita—seolah-olah—melihat sesuatu yang berwarna-warni, yang kita sebut pelangi. Ilusi itu terjadi akibat cahaya matahari yang dibiaskan rintik air hujan. Karena itulah, pelangi tampak muncul setelah hujan atau usai gerimis. Tetapi, sebenarnya, benda yang disebut pelangi tidak ada, karena memang ilusi. Dan sesuatu disebut ilusi, karena ia tidak ada!

Yang menarik, meski tidak ada, pelangi bisa difoto. Karenanya, kepercayaan manusia atas keberadaan pelangi makin kukuh, karena bisa membuktikan dengan foto. Jika pelangi tidak ada, pikir mereka, mestinya tidak bisa difoto. Fakta bahwa pelangi bisa difoto, membuktikan pelangi memang ada. Persetan, benda apa yang bisa difoto tapi sebenarnya tidak ada?

Ya pelangi itulah jawabannya!

Meski secara hakikat tidak ada, pelangi selalu menarik, setidaknya bagi sebagian orang. Mungkin karena pelangi memiliki warna-warni menakjubkan, indah, dan cemerlang. Ia seperti lengkung langit yang dibengkokkan dengan sangat lembut, sekaligus misterius. Sebegitu misterius, hingga orang-orang tidak pernah tahu di mana ujung pelangi.

Jutaan orang melihat pelangi, tapi mereka tidak pernah melihat ujung pelangi. Mereka hanya melihat lengkungnya, warna-warninya. Selama berabad-abad, manusia bertanya-tanya, di manakah ujung pelangi? Selama berabad-abad pula, mereka tidak pernah menemukan jawabannya. Kemudian, seperti umumnya sifat manusia, mereka pun “ngadem-ngademi ati” (mendamaikan hati) dengan cara melahirkan mitos, dan legenda.

Ada banyak mitos dan legenda terkait pelangi, meski hanya sedikit yang terkenal. Di Indonesia, misalnya, ada mitos yang mengatakan bahwa di ujung pelangi ada tujuh bidadari yang sedang mandi. Di zaman kuno, anak-anak berlarian ke pinggir sungai setiap kali muncul pelangi, karena ingin menyaksikan bidadari mandi. Tapi tidak ada tujuh bidadari. Satu pun tidak. Karena ujung pelangi tak pernah terlihat.

Sementara di negara-negara Eropa, muncul mitos tentang peti emas yang tersimpan di ujung pelangi. Di zaman kuno, orang-orang pun berlarian setiap kali pelangi muncul, berharap menemukan peti-peti emas berserak di tanah berumput. Tapi tidak pernah ada. Mereka tak menemukan peti apa pun, karena bahkan ujung pelangi pun tak tampak.

Manusia menciptakan mitos, legenda, kepercayaan, untuk sesuatu yang tidak bisa mereka temukan, yang tidak bisa mereka pahami. Pada zaman kuno, tampaknya, “keberadaan” pelangi membuat pikiran mereka kacau, dan kekacauan itu memerangkap mereka dalam kebingungan memahami antara ada dan tiada.

Di masa lalu, ketika pengetahuan belum semaju sekarang, mereka tentu belum memahami bahwa pelangi hanyalah ilusi optik yang menipu mata. Jadi, mereka pun meyakini pelangi benar-benar ada. Tetapi karena mereka tidak bisa memahami di mana ujungnya, mereka pun menciptakan mitos dan legenda, agar hati tenteram dan membayangkan keindahan. Tentang bidadari, atau peti-peti emas.

Mereka tahu tidak akan menemukan keindahan itu. Tapi mereka senang karena bisa mendamaikan hati yang gersang oleh ketidaktahuan atas sesuatu yang tidak mereka pahami. Karena pengetahuan manusia terbatas, dengan usia terbatas, dan mereka tidak bisa memahami semua hal di semesta yang amat luas.

Beribu tahun lalu, seorang lelaki bernama Ibrahim juga terperangkap dalam kebingungan semacam itu. Bukan karena pelangi, tapi karena memikirkan sesuatu yang lain, yang tidak ia pahami.

“Aku tidak mungkin ada tanpa pencipta,” pikir Ibrahim. Maka, dia pun berupaya menemukan siapa penciptanya. Karena belum mengenal konsep Tuhan, Ibrahim pun melayangkan pandangan ke alam sekitar, menatap hamparan bumi, memandang luasnya langit.

Pada masa itu, manusia-manusia yang hidup sezaman dengan Ibrahim juga memikirkan hal yang sama. Mereka bertanya-tanya siapakah pencipta mereka. Karena tidak juga menemukan jawab, mereka pun menciptakan patung, memahat berhala, yang kemudian mereka sembah sebagai tuhan. Mereka mungkin menyadari berhala-berhala itu tidak mampu menciptakan mereka. Tetapi, setidaknya, keberadaan berhala yang mereka sembah mampu mendamaikan hati mereka.

“Kalau kau tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaanmu sendiri, maka buatlah jawaban apa pun, dan anggaplah itu jawabannya.” Selama beribu-ribu tahun, disadari atau tidak, manusia hidup dengan konsep semacam itu.

Ibrahim tidak bisa menerima konsep semacam itu, meski ayahnya sendiri pembuat patung dan perajin berhala. Ibrahim merasa tidak mampu membohongi diri sendiri dengan percaya bahwa dia diciptakan oleh patung, sehingga dia juga keberatan jika harus menyembah berhala.

Akhirnya, ketika menatap langit dan menyaksikan hamparan bintang, Ibrahim terpesona, dan membayangkan bahwa dia diciptakan oleh bintang. “Mungkin itulah yang disebut tuhan,” pikir Ibrahim.

Sesaat, dia hampir percaya bahwa bintang-bintang di langit itulah yang menciptakannya, sehingga patut disembah. Tapi kemudian ia menyaksikan rembulan, dan berpikir, “Rembulan hanya sendirian di langit, tapi ia memiliki sinar yang lebih terang dibanding jutaan bintang. Mungkin rembulan yang layak disebut tuhan.”

Sampai lama, Ibrahim memandangi rembulan di langit, dan makin percaya bahwa itulah tuhan. Karena rembulan lebih besar, memiliki sinar lebih terang, dan sinarnya tak meredup. Ibrahim pun bisa tidur dengan tenang, karena merasa telah menemukan tuhan.

Keesokan hari, saat bangun tidur, Ibrahim kembali menatap langit, dan kehilangan tuhan yang semalam ia temukan. Rembulan yang semalam bersinar cemerlang kini hilang, berganti sinar matahari yang begitu terang. Ibrahim mulai ragu. “Jika rembulan memang tuhan,” pikirnya, “mestinya ia tidak hilang.”

Lalu Ibrahim menatap matahari, dan merasakan matanya silau oleh sinar terang. “Mungkin inilah yang disebut tuhan,” simpul Ibrahim. “Ia memiliki sinar terang yang bahkan mampu membuatku silau.”

Sekali lagi Ibrahim menemukan tuhannya, penciptanya, dan sesaat merasakan hidupnya tenang, batinnya tenteram, karena telah menemukan jawaban atas pertanyaan yang tak terjawab. Selama seharian, Ibrahim meyakini bahwa matahari adalah tuhan, entitas yang layak disembah, karena memiliki sinar terang. Tapi kemudian senja menjelang, dan matahari hilang. Untuk kesekian kali, Ibrahim merasa kehilangan tuhan.

Butuh proses dan waktu lama bagi Ibrahim untuk mengenali dan menemukan tuhan, dari satu tanya ke tanya lain, dari satu kepercayaan ke kepercayaan lain, dari satu kehilangan ke kehilangan lain. Dalam hal itu, Ibrahim beruntung karena ditakdirkan menjadi Nabi, hingga berhasil menemukan Tuhan yang sebenarnya.

Perjalanan panjang Ibrahim adalah perjalanan sama yang dialami umat manusia di zaman-zaman lain, yang hidup sebelumnya. Proses mencari dan menemukan, keyakinan yang berakhir kehilangan. Selama ribuan tahun, manusia yang belum genap akalnya pernah menyembah pohon-pohon besar, batu-batu besar, gelegar halilintar, bahkan ombak di lautan.

Orang-orang di zaman itu tidak memahami apa yang mereka lakukan, tapi belakangan manusia di zaman yang lebih modern merumuskan konsep animisme dan dinamisme. Orang-orang di zaman kita merumuskan konsep untuk sesuatu di masa lalu, yang sama sekali tidak dipahami orang-orang yang melakukannya. 

Orang-orang Yunani kuno tampaknya lebih kreatif, karena mereka tidak hanya menyembah batu besar atau gelegar halilintar, tapi menciptakan sosok-sosok yang lebih “meyakinkan”. Maka muncullah Zeus, Hades, Hera, Hermes, Poseidon, sampai Apollo. Yang menakjubkan, orang-orang di zaman itu bisa menjelaskan peran masing-masing sosok khayalan itu dengan detail dan meyakinkan, seolah mereka benar-benar mengenalnya, seolah sosok-sosok itu benar-benar ada.

Berabad-abad kemudian, sosok-sosok agung di masa Yunani kuno hanya disebut mitos. Seiring kesadaran manusia, tokoh-tokoh itu tidak lagi disembah, dan menjadi sekadar legenda. Dari zaman ke zaman, manusia—di Yunani maupun di luar Yunani—makin menyadari bahwa Zeus sebenarnya tidak ada, begitu pula konco-konconya, sesakti apa pun mereka digambarkan dan diyakini.

Seperti emas atau tujuh bidadari yang mandi di ujung pelangi. Sekian abad yang lalu, manusia benar-benar percaya bahwa itu kenyataan.

Kepercayaan mereka dilandasi bukan karena mereka telah membuktikannya, tetapi justru karena mereka tidak mampu membuktikannya. Mereka belum mengenal konsep ilusi, sebagaimana orang-orang kuno belum mengenal konsep animisme. Mereka hanya yakin, dan keyakinan itu makin menguat justru karena tidak pernah bisa membuktikan.

Manusia bisa meyakini apa pun karena dua hal. Pertama karena bisa membuktikan, dan kedua karena tidak bisa membuktikan. Bisa membuktikan atau tidak bisa membuktikan, manusia bisa diarahkan, dibentuk, dan dipengaruhi, untuk meyakini apa pun, bahkan yang paling absurd sekali pun. Seperti emas dan bidadari di ujung pelangi.

Tetapi, kini, kita telah menyadari bahwa pelangi hanyalah ilusi yang sebenarnya tidak ada, begitu pula ujungnya. Karenanya, mencari ujung pelangi adalah pekerjaan sia-sia, karena mencari sesuatu yang tidak ada. Jika mencari ujungnya saja tidak mungkin dilakukan, apalagi menemukan emas dan bidadari di dalamnya.

 
;