Sabtu, 20 Juni 2020

Ditolak Tanpa Patah Hati

Kalau kamu menyatakan cinta dan ditolak, ada dua kemungkinan. 
Kamu tidak pantas untuknya, atau dia tidak pantas untukmu. Tertawakan saja.


Rata-rata pria pernah ditolak saat menyatakan cinta kepada wanita, dan patah hati karenanya. Saya pun pernah—dulu, zaman masih remaja. Saya tidak menyesalinya, karena saya anggap sebagai pengalaman berharga. Sekarang, kalau mengingat kejadian itu, saya malah senyum-senyum sendiri.

Seperti umumnya remaja lain, saya juga pernah mengenal cinta monyet, mengenal perasaan jatuh cinta pada seseorang, dan mengenal patah hati. Kalau mengingat masa-masa itu, rasanya benar-benar konyol. Saya mikirnya, “Kok bisa dulu aku kayak gitu?” Tapi, yeah... namanya juga remaja.

Ketika tumbuh dewasa, ada banyak perubahan di dalam diri kita. Bukan hanya perubahan fisik, tapi juga perubahan nalar, perubahan cara berpikir, yang semuanya tentu semakin dewasa seiring usia. Meski begitu, kadang ada hal-hal tertentu yang sulit berubah. Misalnya sifat-sifat tertentu.

Saya, misalnya, dari dulu tetap kikuk kalau mau pedekate pada seseorang. Boro-boro pedekate, wong mau menyapa orang lain yang tidak kenal saja, saya sering kebingungan.

Di Twitter, misalnya, kadang saya ingin menyapa seseorang, atau menanyakan sesuatu kepadanya—terkait tweet yang dia tulis—tapi sering ragu-ragu. Saya mikirnya, “Bagaimana kalau dia nanti terganggu? Bagaimana kalau dia jadi tidak nyaman? Bagaimana kalau sapaanku membuatnya tak berkenan?”

Jadi, alih-alih menyapa atau menanyakan sesuatu seperti yang saya bayangkan, pada akhirnya saya memilih diam saja. Kalau pun saya masih penasaran terkait sesuatu—hal yang ingin saya tanyakan kepadanya—saya beralih ke Google dan berusaha mencari jawabannya sendiri. Bagi saya, itu lebih baik, daripada mengganggu orang lain.

Perasaan semacam itu saya rasakan, tak peduli ketika saya ingin menyapa wanita atau sesama pria. Karenanya pula, kalau akhirnya saya benar-benar menyapa seseorang, biasanya karena saya sudah yakin dia orang ramah. Jika saya tidak yakin dia orang ramah—atau saya tidak yakin dia akan merespons dengan baik—mending saya diam.

Dengan “kondisi” semacam itu, bayangkan bagaimana repotnya saya ketika ingin pedekate pada seseorang. Wong sekadar menyapa sesama pria saja saya sering kebingungan, apalagi pedekate pada wanita?

Tetapi, diam-diam, kondisi itu ternyata juga menjadi semacam “berkat” bagi saya, hingga tidak sampai patah hati ketika ditolak.

Ketika membuka percakapan dengan seseorang yang masih asing—percakapan biasa, bukan pedekate—saya harus menyiapkan diri dulu sampai lama. Ketika sapaan saya direspons dengan baik, dan saya merasa nyaman, saya bisa melanjutkan, dan—seiring percakapan yang mengalir dari waktu ke waktu—bisa jadi kami kemudian merasa saling kenal, hingga berteman, karena adanya kenyamanan.

Sebaliknya, ketika sapaan saya direspons dengan negatif/tidak baik, atau tidak direspons sama sekali, saya pun berhenti. Karena saya akan berpikir, “Mungkin aku telah mengganggunya.”

Respons yang tidak baik akan membuat saya tidak nyaman. Dan kalau saya tidak nyaman, saya tidak akan melanjutkan apa pun. Sekali lagi, itu interaksi biasa dengan orang lain—bukan pedekate.

Ketika ingin pedekate pada seseorang, saya harus menyiapkan diri dan memikirkannya sampai lama, mencari cara yang tepat untuk membuka percakapan dengannya, berharap dia tertarik merespons saya. Itu sesuatu yang melelahkan, jujur saja. Dan ketika saya benar-benar membuka percakapan dengannya, sikapnya akan sangat menentukan langkah selanjutnya.

Kalau wanita yang saya dekati menunjukkan respons yang baik, dan membuat saya nyaman, saya akan melanjutkan. Tapi kalau responsnya tidak baik, atau malah tidak ada respons sama sekali, saya pun berhenti saat itu juga. Simpel, sederhana, dan tidak ada yang terganggu.

Ketika pedekate pada seseorang dan dia menunjukkan sikap yang negatif—respons yang tidak baik—saya akan mengartikannya sebagai penolakan. Karena dia menunjukkan sikap menolak, saya pun tahu diri, dan berhenti mendekatinya. Sekali lagi, simpel, sederhana, dan tidak ada yang terganggu.

Dengan cara semacam itulah, saya mampu menghadapi penolakan tanpa patah hati, meski istilah “penolakan” di sini mungkin kurang tepat. Intinya, saya akan menganggap sikap atau respons yang negatif sebagai “penolakan”. Dan sikap terbaik menghadapi penolakan, menurut saya, adalah berhenti.

Setelah dewasa, saya menyadari kenyataan itu, bahwa sia-sia mendekati orang yang tidak tertarik kepada kita, sama sia-sia jatuh cinta kepada orang yang tidak jatuh cinta kepada kita. Karenanya, sebelum ada yang terganggu apalagi tersakiti, langkah terbaik adalah berhenti.

Bagaimana kalau si wanita menunjukkan sikap/respons menolak, padahal itu cuma cara dia “jinak-jinak merpati” dan berharap agar saya terus mendekatinya?

Oh, itu masalah dia—bukan masalah saya.

Intinya, saya akan menggunakan sikapmu untuk menentukan langkah selanjutnya. Sikapmu baik, saya akan meneruskan. Sikapmu tidak baik, saya akan berhenti. Sekali lagi, simpel, sederhana, dan tidak banyak drama. Karenanya, sikap “jinak-jinak keparat”—atau apa pun namanya—tidak berlaku bagi saya. Entah dengan cowok lain.

Prinsip saya sederhana saja, “Aku tertarik kepadamu. Kalau kau juga tertarik kepadaku, mari buat segalanya lebih mudah.”

Hidup sudah banyak masalah. Kalau cinta—sesuatu yang seharusnya membahagiakan—justru tampak seperti masalah, saya tidak tertarik.

Itulah yang saya pikirkan ketika menghadapi sikap tidak baik, respons yang negatif, atau hal lain semacamnya; tidak tertarik. Dan ketertarikan saya benar-benar akan lenyap.

(Wong saya mau menyapa seseorang saja sudah sangat kerepotan. Berusaha memberanikan diri untuk membuka percakapan saja rasanya sangat melelahkan. Kalau kemudian responsnya tidak menyenangkan, saya pikir eman-eman waktu, usaha, dan energi yang dikeluarkan. Mending melakukan hal-hal lain yang lebih bermanfaat).

Itulah kunci penting yang mampu membuat saya tidak patah hati ketika menghadapi penolakan, bahkan umpama ditolak seribu kali!

Saya bukan lagi remaja-budak-hormon yang menggebu-gebu saat mendekati seseorang, yang sudi menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan seseorang, yang rela dan bersedia melakukan apa pun demi cinta pada seseorang... meski akhirnya ditolak. Mohon maaf, saya bukan lagi remaja tolol semacam itu.

Seperti yang sering dikatakan anak Twitter, “Jatuh cinta adalah usaha dua orang. Kalau usaha satu orang, namanya wiraswasta.”

Kini, setelah dewasa, dan jatuh cinta pada seseorang, saya hanya mencintai sewajarnya. Ketika orang yang membuat saya tertarik menunjukkan ketertarikan serupa, saya tentu akan bahagia, dan melanjutkan langkah menuju kepadanya. Sebaliknya, ketika orang yang membuat saya tertarik menunjukkan sikap sebaliknya, saya pun berhenti.

Mudah, simpel, sederhana, dan tidak ada yang terganggu.

Jadi, buat cowok-cowok yang mungkin sering patah hati karena ditolak seseorang yang membuat jatuh cinta, dan tidak ingin patah hati lagi, saya bisa menyarankan hal ini; jatuh cintalah sewajarnya, dan segera berhenti sebelum terluka.

Tidak usah menggebu-gebu, tidak perlu menganggap dia segalanya, apalagi sampai berpikir kau tidak bisa hidup tanpanya. Kau bisa hidup tanpanya, dan kau bisa pegang kata-kata saya.

Tetapi, tentu saja, ini cuma saran. Namanya saran, kau boleh menerima, juga boleh menolak. Kalau kau menerima, tidak ada untungnya bagi saya. Dan kalau pun kau menolak, juga tidak ada ruginya bagi saya. Karena dunia dan seisinya, termasuk cinta, sebenarnya biasa saja.

Kejarlah Daku, Persetan Denganmu!

Cewek merasa "ingin berharga" dengan cara sok jual mahal, dengan harapan cowok akan mengejar-ngejarnya. Pola pikir semacam itu justru menunjukkan bahwa si cewek punya penilaian diri yang rendah—khas cewek ABG yang nalarnya belum utuh dan masih "nyah-nyih" tidak jelas!

Aku bisa memaklumi kalau hal semacam itu dilakukan cewek ABG, karena sering kali nalar mereka memang belum utuh—dan itulah kenapa aku tidak berminat pada cewek ABG. Tapi jika wanita dewasa masih berperilaku semacam itu, well... itu masalah yang serius (bagi dirinya sendiri).

Apa yang diperhatikan pria (dewasa) ketika mendekati wanita (dewasa)? Hanya satu: Respons!

Kalau aku mendekati seorang wanita dan responsnya positif (ramah, menyenangkan, komunikatif), aku akan meneruskan langkah, karena merasa nyaman, dan juga yakin kalau dia sama nyaman.

Tapi kalau aku mendekati wanita dan responsnya negatif, aku akan berhenti. Pertama karena aku merasa tidak nyaman, dan kedua karena aku berpikir respons negatif yang ia tunjukkan sebagai tanda bahwa dia juga tidak nyaman. Tak ada hal menyenangkan yang diawali rasa tidak nyaman.

Karenanya, konsep "kejarlah aku, jangan berhenti, agar aku merasa dihargai" tidak akan berlaku, khususnya bagiku. Kalau responsmu negatif, aku akan berhenti, dan persetan denganmu! Kalau kau menyesali yang telah kaulakukan, kau boleh pergi ke neraka... bersama ketololanmu.

"Tapi nanti kalau aku jadian sama orang lain, gimana? Tidak takut nyesal?"

Oh, tak perlu khawatir, kau tidak sepenting itu. Respons negatif dan sikap buruk yang kautunjukkan sudah cukup menjelaskan seperti apa dirimu.

Terkait orang lain, aturan hidupku sederhana: Aku akan memperlakukanmu, tepat sama seperti caramu memperlakukanku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 November 2019.

Bajingan-Bajingan Paling Mempesona

Luka kita dapat mengingatkan pada masa lalu yang nyata. —Hannibal Lecter

Yang menarik dari kisah Hannibal Lecter, ia antagonis yang menjadi tokoh utama. Karenanya, kisah-kisahnya bukan tentang kepahlawanan ala superhero atau tokoh hebat yang menginspirasi kebaikan, tapi tentang perjalanan luka seseorang yang menjadikannya sosok mengerikan.

Hannibal Lecter mungkin tidak akan menarik, andai dia antagonis biasa dengan kemampuan rata-rata dan menjalani hidup mbah-mbuh. Yang membuatnya menarik, bahkan mempesona, dia sosok antagonis yang... well, akademis—kalau boleh disebut begitu.

Dia memiliki kecerdasan di atas rata-rata, bahkan genius, dengan penampilan dan tutur kata menawan, serta selera pribadi yang mewah. Semua itu, bercampur dengan luka dan trauma yang dialaminya, menjadikannya sosok yang sangat berbahaya. Cerdas sekaligus kejam luar biasa.

Aku mengimpikan bisa menulis novel tentang sosok semacam itu. Sang tokoh utama bukan protagonis hebat yang menginspirasi kebaikan, tapi justru sang antagonis yang—meski cerdas dan menawan—menjalani hidup penuh luka, trauma, hingga menjadi sosok mengerikan... sekaligus mempesona.

Omong-omong soal Hannibal, aku jadi ingat tokoh-tokoh antagonis dalam novel-novel Dan Brown. Tokoh-tokoh antagonis dalam novel-novel Dan Brown juga selalu mempesona, bahkan sebenarnya merekalah yang menjadi tokoh utama, bukan Robert Langdon. Fungsi Langdon hanya narator.

Robert Langdon tidak akan ada, tanpa tokoh-tokoh antagonis yang muncul dalam hidupnya. Dalam hal itu, Dan Brown agak "licik", karena dia tidak hanya menjadikan Langdon sebagai narator yang menyeret pembaca ke dalam kisahnya, tapi juga difungsikan sebagai semacam kompas moral.

Edmond Kirsch dalam novel Origin, misalnya, adalah tokoh yang mempesona. Dia semacam perpaduan Elon Musk dan Richard Dawkins. Genius dalam bidang teknologi, kaya-raya, sekaligus memiliki pemikiran yang mengerikan... atau mungkin harus kukatakan, "mampu mengguncang umat manusia".

Begitu pula Bertrand Zobrist dalam novel Inferno. Sebelas dua belas dengan Edmond Kirsch—muda, genius, kaya-raya, dan memiliki visi yang mampu mengubah dunia, atau bahkan meruntuhkan peradaban manusia. Aku suka dua bocah itu!

Dan Robert Langdon? Nothing, dia cuma narator.

Di situlah "kelicikan" Dan Brown. Dia sengaja menempatkan tokoh-tokoh hebat yang visionaris itu sebagai antagonis. Sama seperti film Hollywood—tokoh-tokoh hebat diplot sebagai bajingan. Dari Soloman Lane, Kurt Hendricks, Magneto, Thanos, sampai... ya, tentu saja, En Sabah Nur.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 November 2019.

Noffret’s Note: 3 Jam

3 jam lalu, karena ngantuk, buru-buru mematikan laptop, dan langsung shut down meski ada program yang masih terbuka.

3 jam kemudian, terbangun dari tidur, dan menyalakan laptop. Sempat panik karena laptop terkunci, tidak bisa diakses.

Ketertaturan memang hukum surga pertama.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 Agustus 2019.

Belum Capek, Su?

Belum capek, Su? Ya lanjut, kalau gitu. Sering buka komputer atau laptop biar kelihatan sibuk seperti orang penting gitu, ya?

Gak apa-apa. Pria tua yang sudah impoten memang perlu dimaklumi. Kasihan.

Rabu, 10 Juni 2020

Jalan Pagi

Tadi malam:
Bocah 1: Besok pagi, olah raga bareng, yuk.
Bocah 2: Oke.

Pagi ini:
Bocah 2: *Nilpon* Jadi mau olah raga bareng?
Bocah 1: *Suara ngantuk* Uhm... dinginnya kok gini amat, ya? 
Kayaknya lebih enak tidur lagi aja.

Bah!

Pagi hari, kalau pas lagi rajin, saya pergi ke alun-alun untuk berolah raga. Ringan saja olah raganya, yaitu berjalan cepat mengelilingi alun-alun. Berapa kali? Tak terhitung, pokoknya sampai tubuh berkeringat, dan saya merasa lelah hingga tak mampu melanjutkan.

Dulu, saat memulai olah raga, saya hanya berjalan santai mengelilingi alun-alun. Hanya jalan santai, seperti saat kita jalan-jalan di swalayan. Sampai lama saya melakukan aktivitas jalan santai seperti itu, dan setiap pagi saya bisa mengelilingi alun-alun berkali-kali, tanpa berkeringat sama sekali. Wong tidak mengeluarkan tenaga! Tapi saya menikmatinya.

Saya menikmati aktivitas jalan santai itu, karena suasananya memang menyenangkan, sekaligus menenangkan. Hari masih sangat pagi, udara masih bersih, lalu lintas di sekeliling alun-alun belum ramai, hingga minim polusi. Saya pikir, itu sarana mendapatkan oksigen yang “layak hirup”.

Belakangan, saya meningkatkan aktivitas itu dengan berjalan cepat. Jika semula hanya berjalan pelan, sekarang saya berjalan cepat seperti mau melabrak orang—kira-kira begitulah. Berbeda dengan jalan santai, jalan cepat membutuhkan energi. Artinya, saya harus mengeluarkan tenaga untuk berjalan cepat mengelilingi alun-alun sampai berkali-kali. Karena mengeluarkan energi, tubuh saya pun berkeringat.

Dalam aktivitas jalan cepat, saya membutuhkan proses, dan pelan-pelan saya menyadari peningkatan yang terjadi. Mula-mula, saya hanya mampu berjalan cepat mengelilingi alun-alun sepuluh kali, lalu kelelahan dan berkeringat, dan merasa sudah tak mampu lagi melanjutkan. Setelah itu, saya akan duduk-duduk di kursi yang banyak tersedia di alun-alun, dan menenangkan napas.

Perlahan-lahan, saya mampu meningkatkan kemampuan. Beberapa waktu setelah itu, saya bisa berjalan cepat mengelilingi alun-alun sampai sebelas kali, lalu dua belas kali, tiga belas kali, empat belas kali, lima belas kali, dan seterusnya. Biasanya, saya baru berhenti setelah napas ngos-ngosan, wajah penuh keringat, dan terduduk di kursi sambil merasa tak mampu melanjutkan lagi. Lelah, berkeringat, tapi rasanya nikmat sekali.

Saya biasa menikmati aktivitas itu sendirian, atau bersama Adit, seorang teman. Biasanya kami ketemu di sana, lalu olahraga bersama. Saat sama-sama kelelahan setelah berjalan cepat mengelilingi alun-alun, kami biasanya duduk di kursi sambil mengatur napas kembali.

Setelah energi mulai pulih, kami akan melanjutkan olah raga, sampai nanti kelelahan lagi. Kami sama-sama menikmati sensasi menyenangkan saat tubuh berkeringat, karena energi yang terkuras. Aktivitas semacam itu kami lakukan hampir setiap hari.

Tempo hari, seperti biasa, saya berangkat ke alun-alun untuk olah raga. Seperti biasa pula, Adit juga muncul, lalu kami melangkah cepat bersama, mengelilingi alun-alun. Memasuki putaran kelima, kami mendapati sepasang pria wanita—mungkin suami istri—yang tampak berjalan santai mengelilingi alun-alun. Mereka berjalan perlahan, seperti yang dulu pernah saya lakukan.

Karena saya dan Adit berjalan cepat, kami pun bisa mengelilingi alun-alun dua hingga tiga kali, sementara pasangan suami istri tadi baru mengelilingi alun-alun satu kali. Ketika saya dan Adit mulai berkeringat, pasangan suami istri itu masih tampak santai. Akhirnya, setelah sepuluh kali lebih memutari alun-alun, dan Adit maupun saya mulai kelelahan, pasangan suami istri tadi masih tampak enjoy meneruskan langkah mengelilingi alun-alun.

Seperti biasa, kami akan beristirahat sebentar, duduk-duduk di kursi, sambil mengatur napas dan memulihkan energi. Waktu itu Adit maupun saya sama-sama berkeringat, juga sama-sama senang, karena merasakan sensasi menyenangkan yang biasa muncul saat tubuh berkeringat.

Ketika kami masih duduk di kursi, pasangan suami istri tadi lewat di depan kami. Di luar dugaan, si pria atau si suami berkata pada kami, “Saya tadi bilang ke istri saya, kalian pasti akan cepat lelah karena berjalan dengan sangat bernafsu. Sekarang terbukti. Saya belum capek sama sekali, tapi kalian sudah kelelahan dan berkeringat. Makanya santai saja, tidak usah terlalu nafsu!”

Saya dan Adit cuma diam, saling berpandangan dengan bingung, sementara pasangan suami istri tadi terus melanjutkan jalan santai. Lalu saya melepas senyum, seperti orang yang dongkol campur merasa geli. Adit paham ekspresi saya, dan dia ikut nyengir.

Pria tadi mungkin mengira kami “para pemula” yang baru menapakkan kaki di alun-alun, dan dia mungkin merasa lebih tahu. Padahal kami sudah biasa melakukan yang kami lakukan, dan kami tahu apa yang sedang kami lakukan. Kami memang sengaja berjalan sangat cepat—atau bernafsu, sesuai istilahnya—bukan karena tidak tahu hal itu akan membuat kami kelelahan, tapi justru karena kami tahu!

Jauh sebelum dia dan istrinya berjalan santai di alun-alun—kami baru mendapati dia satu kali itu—saya maupun Adit sudah lama melakukan yang dia lakukan. Berjalan santai mengelilingi alun-alun sampai puluhan kali, dan kami tidak berkeringat sama sekali! Berjalan santai terlalu ringan bagi kami, karena sama sekali tidak mengeluarkan energi. Meminjam istilah Captain America, “Aku bisa melakukan ini seharian!”

Karena kesadaran itu, kami meningkatkan yang kami lakukan. Dari berjalan santai jadi berjalan cepat, setara dengan aktivitas lari. Agar energi keluar, kalori terbakar, dan tubuh berkeringat. Aktivitas jalan cepat atau lari tentu membuat kami cepat lelah dan berkeringat, karena memang mengerahkan energi, tapi justru itu yang kami tuju! Dan saat kami tersengal-sengal di kursi alun-alun, kami bukan hanya kelelahan, tapi juga merasakan kesenangan dari yang kami lakukan.

Sayangnya, Adit maupun saya tidak bisa menjelaskan uraian itu kepadanya, karena dia tidak bertanya dan tidak meminta penjelasan. Sebenarnya, dia memang tidak bermaksud bertanya atau pun meminta penjelasan—dia hanya ingin menyampaikan opininya tentang orang lain, yang ia pikir pasti benar, meski ternyata tidak benar. Mirip sebagian kita.

Orang kadang—bahkan sering kali—terlalu mudah menarik kesimpulan dari asumsi yang mereka buat sendiri, lalu menggunakannya untuk menilai orang lain. Seperti lelaki tadi. Dia pasti mengukur kami menggunakan dirinya sendiri, mengira kami dengan skala pikirannya sendiri, dan menyimpulkan kami berdasarkan pengalamannya sendiri.

Tapi lelaki tadi masih layak dipuji, karena setidaknya dia mengatakan langsung isi pikirannya kepada kami. Dan karena dia tidak meminta penjelasan, saya maupun Adit tidak merasa perlu memberi penjelasan. Setidaknya kami tahu isi pikirannya—yang keliru. Dan kami sama-sama nyengir karena merasa lucu.

Noffret’s Note: Kehilangan

Hari ini aku kehilangan salah satu guru yang kuhormati, dosenku di kampus dulu. Aku biasa memanggilnya Pak Musofa, dan dulu kami sering mengobrol sambil udud, sampai larut malam. Tadi pagi dia meninggal, dan aku merasa sangat kehilangan.

Namanya Musofa Basyar. Dia masih muda, sangat cerdas, dan menggeluti bidang hermeneutika. Dia juga sangat dekat dengan para mahasiswa, dan senang menikmati diskusi serta mengobrol bersama kami. Di acara diskusi-diskusi itulah, aku mulai dekat dan akrab dengannya.

Sebenarnya, dia tidak mengajarku di kampus, karena tidak ada mata kuliah yang diampunya di fakultasku. Kedekatan kami terbina di luar kampus, khususnya di MSC (Moslem Student Center), tempat yang menjadi semacam "kawah candradimuka" para mahasiswa yang memang senang belajar.

Di MSC, ada banyak malam yang kami lalui dengan diskusi, mengobrol, tertawa, dan menikmati udud. Aku menghormatinya sebagai guru, sekaligus mengaguminya sebagai teman diskusi yang mencerdaskan. Dia senang berdiskusi dengan para mahasiswa, yang menjadikan kami dekat dengannya.

Kemarin malam dia memimpin diskusi sampai larut, dan pagi tadi dia pingsan. Sempat tersadar kembali, dan dibawa ke rumah sakit dalam keadaan sadar, bahkan bisa berjalan kaki ke IGD, tapi beberapa saat kemudian meninggal. Kematian yang mudah dan indah untuk seorang pembelajar.

Selamat jalan, Pak. Semoga kelak kita bisa kembali belajar bersama seperti dulu, berdiskusi seperti dulu, dan mengobrolkan banyak hal, dan bercanda, dan tertawa, dan menikmati udud...


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Desember 2019.

Mengucapkan Selamat Kepada Batu Bata

Dengan antusias, aku berkata “selamat!” kepada pecahan batu-bata.

Pecahan batu bata diam saja, karena ia pecahan batu bata.

Tapi aku bahagia.

Karena bahagia kadang tak butuh alasan masuk akal.

Noffret’s Note: Konsep

Kenapa konsep ‘keren’ ada?
—@VICE_ID

Sejak pertama kali mampu berpikir, Homo sapiens tergila-gila pada sistem nilai, dan khalayak umum—aku benci menyebut istilah ini—menggilai konsep-konsep.
—@noffret


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Juni 2018.

Sok Sibuk Terus

Wah, si tua impoten kayaknya sibuk terus, nih. Pagi siang sore malam, buka laptop dan sok sibuk. Intinya biar lupa sama kondisi impoten yang kini diderita. Begitu ya, Su? Hahaha, ciyan.

Senin, 01 Juni 2020

Idul Fitri dan Kekacauan Makna Silaturahmi

Seseorang pernah berkata, "Mari kita tunda semuanya sampai lebaran. 
Termasuk maaf-maafan." | Dia meninggal tadi siang.


Gara-gara lebaran, hubungan persaudaraan rusak. Ini ironis, jika kita mengingat bahwa lebaran—konon, katanya—adalah waktu untuk mempererat tali persaudaraan, yang disebut silaturahmi. Tapi itulah realitas yang saya hadapi, bahwa alih-alih memperindah hubungan antarsaudara, lebaran justru merusaknya. Dan ini, saya pikir, berasal dari kekacauan banyak orang dalam memahami makna lebaran, wabilkhusus Idul Fitri.

Ibu saya memiliki kakak dan adik yang sama-sama perempuan. Kita sebut saja X dan Z.

Kakak ibu saya, yakni X, memiliki anak-anak, yang sebagian tinggal sekota, sebagian lain tinggal di luar kota. Ada tiga anak X yang tinggal sekota, sebut saja A, B, dan C. Rumah tiga orang itu bersisian (berdekatan), di satu kompleks. Mereka adalah kakak-kakak sepupu saya, dan mereka semua sudah berumah tangga.

Sementara adik ibu saya, yakni Z, juga memiliki anak-anak, yang tempat tinggalnya terpencar-pencar. Salah satu anak Z adalah [sebut saja namanya] Agnes. Rumah Agnes dan rumah orang tuanya cukup dekat. Dan rumah mereka juga relatif dekat dengan rumah saya. Agnes, dan adik-adiknya, adalah adik sepupu saya.

Hubungan kami semua baik-baik saja, layaknya sanak saudara. Tetapi, setiap kali lebaran datang, muncul “ketegangan” antara Agnes dengan anak-anak X (kakak-kakak sepupunya). Masalahnya, menurut saya, sangat sepele. Tapi ternyata tidak bagi mereka.

Jadi, setiap kali lebaran datang, anak-anak X (yaitu A, B, dan C serta keluarga masing-masing) bersilaturahmi ke rumah saudara-saudara, termasuk ke rumah orang tua saya dan ke rumah orang tua Agnes. Mereka biasa datang bersama-sama atau berombongan.

Ketika rombongan keluarga A, B, dan C datang ke rumah orang tua Agnes, biasanya di situ juga ada Agnes (namanya anak, biasanya ngumpul di rumah orang tua pas lebaran). Jadi, para saudara sepupu itu pun saling bertemu, dan saling “berminal aidin walfaizin” seperti layaknya orang lain di hari raya Idul Fitri.

Mungkin, karena berpikir sudah ketemu Agnes di rumah orang tuanya, rombongan A, B, dan C menganggap pertemuan itu sudah cukup. Mereka mungkin berpikir tidak perlu mampir ke rumah Agnes—yang rumahnya relatif dekat—toh sudah ketemu di rumah orang tuanya. Yang penting kan sudah ketemu, sudah bersalaman, dan sudah maaf-maafan. Mungkin begitu pikir mereka.

Tetapi, rupanya, diam-diam Agnes jengkel. Karena rombongan kakak sepupunya tidak pernah mampir ke rumahnya.

Saya tahu kenyataan itu, ketika kami—Agnes dan saya—bercakap-cakap. Selama ini, setahu saya, Agnes tidak pernah mengunjungi kakak-kakak sepupunya saat lebaran. Ketika saya tanyakan itu, Agnes menjawab dengan jengkel, “Mereka juga tidak pernah ke rumahku!”

Agnes mungkin lupa, bahwa ketika kakak-kakak sepupu kami datang ke rumah orang tuanya pas lebaran, mereka sebenarnya melewati depan rumah saya. Itu pasti, karena posisi rumah saya berdekatan dengan jalan raya. Beberapa meter dari rumah saya, terletak rumah orang tua Agnes. Lalu, sekitar seratus meter setelah itu, baru rumah Agnes.

Jadi, setiap kali lebaran tiba, dan rombongan kakak-kakak sepupu kami mendatangi rumah orang tua Agnes, mereka pasti melewati rumah saya. Sekali lagi, itu pasti! Dan apakah mereka datang ke rumah saya? Tidak! Dan apakah saya marah? Juga tidak! Bagi saya, itu hal sepele, dan bodo amat!

Tapi Agnes rupanya tidak berpikir seperti itu. Menurutnya, kakak-kakak sepupu kami seharusnya mampir ke rumahnya, setelah mengunjungi rumah orang tuanya. Fakta bahwa mereka tidak pernah mendatangi rumah Agnes saat lebaran, itu membuat Agnes “sakit hati”.

Sekarang kita mengunjungi kakak-kakak sepupu saya.

Setiap kali lebaran datang, saya bersama ibu dan adik-adik mengunjungi rumah kakak-kakak sepupu saya, yaitu A, B, dan C. Seperti yang disebut tadi, rumah mereka berdekatan. Saat kami (saya, ibu, dan adik-adik) berkunjung ke rumah A, biasanya B dan C ikut ngumpul di rumah A. Artinya, kami semua sudah ketemu di rumah A.

Tetapi, meski begitu, ibu saya tetap mengajak kami, anak-anaknya, untuk mengunjungi rumah B dan C. Kadang saya merasa konyol dengan hal ini, karena berpikir, “Wong tadi sudah ketemu semua di rumah A, kenapa masih harus mengunjungi rumah B dan C?” Tapi karena ibu saya ingin begitu, saya manut saja.

A adalah anak tertua di antara kakak-kakak sepupu saya. Suatu waktu, saya pernah membicarakan keresahan hati Agnes kepadanya, bahwa Agnes merasa “sakit hati” karena tidak pernah dikunjungi setiap kali lebaran. Waktu itu saya bermaksud agar A serta adik-adiknya juga mengujungi Agnes saat lebaran—bukan hanya mengunjungi orang tua Agnes. “Toh rumah mereka berdekatan,” kata saya waktu itu.

Mendengar tuturan saya, A menjawab dengan blak-blakan bahwa mereka (A dan adik-adiknya) memang tidak mengunjungi rumah Agnes, karena Agnes juga tidak pernah berkunjung ke rumah A, B, dan C saat lebaran.

Lha piye iki, pikir saya mendengar jawaban itu.

Jadi, Agnes jengkel karena A, B, dan C tidak pernah mengunjungi rumahnya setiap lebaran. Sementara A, B, dan C juga jengkel karena Agnes tidak pernah mengunjungi mereka setiap lebaran.

Lalu saya iseng tanya, kenapa mereka juga tidak pernah berkunjung ke rumah saya pas lebaran, padahal mereka melewati rumah saya saat akan mengunjungi rumah orang tua Agnes?

A menjawab, “Kami selalu mampir ke rumahmu! Tapi pintu rumahmu selalu tutup, dan tidak ada suara apa pun. Diketuk-ketuk, tetap saja sepi. Kami paham, kamu pasti tidur!”

Jawaban itu bisa jadi memang benar. Karena nyatanya saya selalu tidur setiap lebaran datang!

Balik ke Agnes dan sepupu-sepupu kami. Jadi, itulah lebaran yang saya hadapi. Bagi saya agak ironis. Karena lebaran konon menjadi sarana mempererat tali silaturahmi, tapi yang terjadi justru menimbulkan ketegangan antarfamili.

Secara pribadi, saya tidak peduli orang (famili/saudara) mau datang ke rumah saya pas lebaran atau tidak, karena bagi saya tidak penting. Yang penting adalah kesadaran bahwa kami (masih) terhubung oleh tali persaudaraan, karena terikat oleh hubungan darah. Itulah inti silaturahmi, yakni “mempertautkan orang-orang yang berasal dari satu rahim/garis keturunan yang sama, agar tidak saling tercerai-berai”.

Kesadaran semacam itulah yang, seharusnya, menjadikan kami saling merasa dekat, meski—dalam contoh ini—tidak bertemu di hari lebaran.

Tapi hal mendasar semacam itu tampaknya sulit dipahami orang-orang lain, khususnya para famili dan saudara saya, karena mereka menganggap bahwa saling mengunjungi di hari lebaran adalah bukti nyata bahwa kami bersaudara. Akibatnya, “Kalau kamu tidak mengunjungiku pas lebaran, kamu sudah tidak menganggapku saudaramu.”

Inilah akar kegelisahan saya, hingga menggugat budaya lebaran di Indonesia, sebagaimana yang saya tulis dalam beberapa catatan berikut ini:

Lebaran di Indonesia, dalam perspektif saya, adalah hasil kekacauan pikiran yang menghasilkan setumpuk kekacauan lain. Dalam contoh sederhana adalah yang terjadi pada saudara-saudara sepupu saya. Mereka telah terdoktrin bahwa Idul Fitri adalah waktu untuk “bersilaturahmi dan bermaaf-maafan”, khususnya di antara saudara. Akibatnya, ketika itu tidak terjadi, mereka merasa persaudaraan mereka lepas.

Ini ironis, dan menyedihkan, khususnya jika kita menyadari bahwa Idul Fitri sebenarnya tidak dimaksudkan untuk itu!

Idul Fitri, sebagaimana asal istilah tersebut, adalah “hari raya makanan” (berasal dari kata Ied yang artinya “hari raya” dan Fithr yang artinya “makan/makanan”). Idul Fitri dimaksudkan sebagai hari raya—untuk bebas menikmati makan dan minum—setelah sebulan berpuasa. Itulah makna Idul Fitri, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan maaf-maafan atau silaturahmi.

Sayangnya, ada kekeliruan di Indonesia terkait pemaknaan Idul Fitri, yang sekarang menimbulkan kekacauan massal. Di Indonesia, Idul Fitri diartikan “kembali suci”. Saya benar-benar tidak paham bagaimana pelajaran shorof dasar terkait istilah Idul Fitri bisa disalahpahami sedemikian kacau seperti ini.

Sebagian orang meyakini Idul Fitri sebagai “kembali suci”, karena mengartikan akar kata (bahasa Arab) secara keliru. Ied dalam Idul Fitri diartikan “kembali”—dikira berasal dari kata “ya’udu”.

Dalam bahasa Arab, “ya’udu” memang artinya “kembali”. Tapi itu bukan akar kata “Ied” dalam Idul Fitri! Dalam ilmu shorof, “kembali” berasal dari kata “’ada – ya’udu – ‘audatan”. Karenanya, “orang yang kembali” tidak disebut “Ied”, melainkan “Audah”. Sekilas memang terdengar mirip, tapi artinya jauh berbeda!

Sementara “Ied” dalam “Idul Fitri” artinya “Hari Raya”. Jika dijamakkan, menjadi “A’yad”. Silakan buka kamus Bahasa Arab jika ingin memastikan! Karenanya, dalam bahasa Arab, Hari Natal disebut “Iedul Milad” (Hari Kelahiran), sementara Hari Kemerdekaan disebut “Iedul Wathan”. Begitu pun, Hari Raya Kurban disebut “Iedul Adha”. Karena “Ied”, nyatanya, berarti “Hari Raya”—bukan “Kembali”.

Omong-omong. Kalau “Ied” diartikan “Kembali”, lalu bagaimana kita mengartikan “Idul Adha”?

Kekacauan berikutnya adalah kata “Fitri” pada “Idul Fitri”. Sebagian orang mengira “fitri” di situ artinya “suci”, padahal bukan! “Fitri” dalam “Idul Fitri” berasal dari kata “Fithr” (tanpa ta’ marbutoh), yang artinya “makan/makanan”. Kata dasar “fithr” inilah yang membentuk kata “fathur” (makan pagi), atau “ifthar” (buka puasa).

Sayangnya, sebagian orang mengira “Fitri” dalam “Idul Fitri” berasal dari kata “Fitrah” (menggunakan ta’ marbutoh). Dalam bahasa Arab, “Fitrah” artinya memang “Suci/Kesucian”, tapi itu bukan asal kata Idul Fitri!

Jadi, mengartikan “Idul Fitri” sebagai “kembali suci” adalah otak-atik-gatuk ala teori konspirasi. Makin terdengar benar, ketika otak-atik-gatuk itu ditambahi kalimat seperti ini: “Sebulan lamanya kita berpuasa, menahan haus, lapar, dan nafsu. Kini, kita merayakan hari raya Idul Fitri, yang artinya kembali suci. Untuk melengkapi kesucian kita saat ini, mari isi lebaran dengan maaf-maafan pada sesama, agar hilang semua salah dan dosa kita, seperti bayi baru lahir.”

Kedengarannya sangat benar, padahal keliru total!

Esensi Idul Fitri adalah untuk merayakan makanan, dalam arti bebas makan, setelah sebulan berpuasa. Bagaimana esensi itu bisa menyimpang jauh, sampai merasa “suci seperti bayi baru lahir”?

Yang membuat saya gelisah selama ini, kenapa tidak ada ustaz/ulama yang mau terbuka mengatakan bahwa kita selama ini telah keliru mengartikan Idul Fitri?

Kenapa masyarakat luas—yang awam soal agama—tidak pernah diberi tahu kenyataan ini, bahwa Idul Fitri sebenarnya “sekadar” hari raya untuk menikmati makanan? Kenapa masyarakat dibiarkan keliru dari tahun ke tahun, hingga terus menganggap lebaran sebagai waktu untuk “menyambung tali silaturahmi dan bermaaf-maafan”?

Oh, ya, saya bisa mengira jawabannya, khususnya mengingat konteks Indonesia yang memang mengalami akulturasi antara agama dan budaya setempat. Kemungkinan besar, jawabannya akan seperti ini, “Bermaaf-maafan, khususnya di hari lebaran, itu baik. Bersilaturahmi di hari lebaran, itu baik. Jadi kenapa dipersoalkan?”

Sebenarnya, itu layak dipersoalkan!

Sekarang, agar protes saya lebih adil, mari gunakan analogi yang sebanding.

Di antara ribuan hadis, ada banyak hadis dhaif. Di antara banyak hadis dhaif, tidak semuanya buruk, karena ada banyak pula hadis dhaif yang isinya baik, sehingga boleh diajarkan atau diikuti isinya. Karenanya pula, guru/ustaz boleh mengajarkan hadis dhaif pada murid atau santrinya. Tetapi... ada etika yang wajib dipatuhi terkait hal itu!

Ketika mengajarkan suatu hadis dhaif, guru/ustaz harus jujur mengatakan bahwa itu hadis dhaif! Misalnya, “Isi hadis ini baik, dan boleh diikuti. Tetapi, ini hadis dhaif.”

Pemberitahuan seperti itu termasuk kewajiban guru terhadap murid, atau tanggung jawab moral ustaz/ulama pada umatnya. Ini tak jauh beda dengan dunia akademisi, ketika seorang ilmuwan mempresentasikan penelitiannya. Ilmu pengetahuan—termasuk pengetahuan agama—menuntut kejujuran!

Sekarang bandingkan posisi hadis dhaif dengan kekeliruan massal terkait pengertian Idul Fitri di Indonesia. Ini jenis kekeliruan massal yang bahkan diwariskan turun temurun, dari generasi ke generasi, hingga orang-orang—khususnya umat Islam—makin jauh dari esensi Idul Fitri, dan tidak paham arti hari rayanya sendiri. Apa yang lebih ironis dari itu?

Disuruh merayakan makanan (iedul fithri), malah merasa suci seperti bayi baru lahir! Sebagai bagian dari umat Islam, saya benar-benar merasa ini sangat ironis.

Karenanya, nuwun sewu, ustaz/ulama yang tahu tapi selama ini diam tanpa pernah memberitahukan kekeliruan itu, tak jauh beda dengan guru yang mengajarkan hadis dhaif tanpa memberi tahu bahwa itu hadis dhaif! Ada pengetahuan yang keliru tapi tak pernah diluruskan, ada tanggung jawab moral yang tak pernah ditunaikan, ada kewajiban “utlubul ilmu” yang cedera.

Saya sepakat bahwa bermaaf-maafan itu baik, termasuk bermaaf-maafan di hari lebaran. Tetapi, masyarakat harus disadarkan bahwa itu bukan kewajiban! Artinya, bermaaf-maafan tidak perlu menunggu datangnya lebaran. Di sisi lain, kalau ada orang yang tidak bermaaf-maafan di hari lebaran, ya tidak apa-apa—jangan dianggap aneh apalagi disalahkan. Masyarakat harus disadarkan bahwa esensi Idul Fitri adalah untuk merayakan makanan, dan bukan untuk maaf-maafan!

Sayangnya, masyarakat tidak pernah diberi tahu, hingga mereka belum juga sadar. Mereka masih menganggap bermaaf-maafan di hari lebaran adalah kewajiban. Akibatnya, mereka menunggu setahun—sampai datangnya lebaran—hanya untuk meminta maaf. Di sisi lain, mereka menganggap orang yang tidak bermaaf-maafan di hari lebaran sebagai kesalahan. Ini benar-benar mirip orang mengikuti ajaran hadis dhaif, tapi tidak pernah sadar bahwa itu hadis dhaif!

Yang bermasalah, “hadis dhaif” ini rentan menimbulkan masalah, khususnya dalam persaudaraan. Setidaknya, seperti yang dialami sepupu-sepupu saya. Mereka menganggap mengunjungi saudara di hari lebaran adalah kewajiban. Ketika tidak dikunjungi, mereka marah. Itu ironis, mengingat lebaran di Indonesia digembar-gemborkan sebagai sarana menyambung tali silaturahmi, tapi tali itu justru rentan terputus gara-gara lebaran.

Dalam perspektif saya, akan lebih mudah—dan lebih baik—jika masyarakat memahami bahwa Idul Fitri adalah hari raya untuk menikmati makanan, sesuai yang diajarkan agama, bukan untuk “bermaaf-maafan” atau “menyambung tali silaturahmi”.

Dengan memahami kenyataan itu, mereka akan “berada di tempat yang benar”—sekali lagi, sesuai yang diajarkan agama. Ketika Idul Fitri tiba, mereka tenang di rumah masing-masing, menikmati makanan, sesuai esensi Idul Fitri. Tidak ribut, juga tidak ribet.

Karena mereka sadar bahwa Idul Fitri bukan “untuk maaf-maafan”, mereka pun tidak bisa lagi menunggu datangnya lebaran hanya untuk minta maaf. Konsekuensinya, mereka akan punya tanggung jawab moral untuk segera minta maaf, kapan pun merasa bersalah. Tidak bisa lagi berdalih “nanti tunggu lebaran”, karena mereka sadar bahwa lebaran untuk menikmati makanan, bukan untuk maaf-maafan.

Begitu pula dengan silaturahmi. Esensi silaturahmi adalah menyambung tali persaudaraan, khususnya yang berasal dari “satu rahim”—garis keturunan—misalnya saya dengan para sepupu, keponakan, paman, bibi, kakek, nenek, dan seterusnya.

Menyambung tali silaturahmi adalah proses berkelanjutan, terus menerus, karena fungsinya “menjaga ikatan”. Sayangnya, gara-gara kekeliruan memahami makna Idul Fitri, masyarakat Indonesia seenaknya sendiri. Rata-rata mereka menganggap bahwa silaturahmi hanya dilakukan setahun sekali, pas hari lebaran. Akibatnya, ketika ada sanak saudara yang tidak dikunjungi, mereka bisa marah. Sepupu saya adalah contohnya.

Akan lebih baik, jika masyarakat menyadari bahwa Idul Fitri bukan waktu untuk bersilaturahmi. Dengan kesadaran itu, mereka akan terbiasa—atau membiasakan diri—untuk saling mengunjungi saudaranya kapan pun, tanpa harus menunggu datangnya lebaran. Dan itulah esensi silaturahmi. Bukankah itu lebih baik?

....
....

Ocehan ini, kalau saya lanjutkan, bisa panjang sekali, dan mungkin baru selesai tahun 9634 Hijriah. Tapi karena saya sudah capek, saya cukupkan sampai di sini. Sebelum mengakhiri, saya ingin kembali mengingat poin-poin penting tadi.

Pertama, arti “Idul Fitri” bukan “kembali suci”, tapi “hari raya makanan”, yaitu hari raya untuk menikmati makanan, setelah sebulan berpuasa.

Kedua, lebaran atau Idul Fitri tidak dimaksudkan untuk bermaaf-maafan. Karenanya, jika ada yang ingin maaf-maafan di hari lebaran ya silakan, wong itu hak setiap orang. Tetapi, jika ada orang yang tidak bermaaf-maafan di hari lebaran, jangan disalahkan—karena nyatanya mereka memang tidak salah.

Ketiga, silaturahmi adalah upaya menjaga ikatan persaudaraan yang berasal dari satu rahim, atau satu garis keturunan, agar sanak saudara (terus) saling mengenal. Dan lebaran atau Idul Fitri bukan waktu yang diwajibkan untuk silaturahmi. Artinya, kita bisa melakukan silaturahmi kapan pun, tanpa harus menunggu datangnya lebaran.

Terakhir, selamat Idul Fitri.

Bukan Siapa-siapa

Dua hari terakhir, di TL-ku ada topik yang kayaknya belum juga selesai. Tentang seseorang yang berusaha meyakinkan sesuatu, dan tentang orang-orang yang tidak percaya.

Kadang aku bingung sendiri dengan hal-hal kayak gitu. Kalau aku ngemeng sesuatu, misalnya, dan orang-orang tidak percaya, yo wis, biar saja. Wong mereka percaya atau tidak percaya juga tidak ada untungnya bagiku.

Ya mungkin karena aku memang bukan siapa-siapa, jadi orang juga gak peduli aku ngemeng apa.

Dulu, ada slogan terkenal, "No pic, hoax".

Sejak dulu aku nungguin ada orang ngemeng gitu ke aku, dan akan kujawab, "Kenapa kamu berpikir aku berharap kamu percaya? Wong umpama seluruh dunia percaya, atau seluruh dunia tidak percaya, tidak ada pengaruhnya bagiku."

Tapi ya kembali lagi, aku bukan siapa-siapa. Sebegitu "bukan siapa-siapa", sampai orang gak berminat ngurusin ocehanku. Kalau dipikir-pikir, betapa menyenangkan menjadi bukan siapa-siapa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26-27 Oktober 2019.

Arti Sebenarnya Silaturahmi

“Bersilaturahmi dengan sesama pengguna Twitter.”

Bersilaturahmi kok dengan sesama pengguna Twitter. Itu bukan silaturahmi. Lebih tepat, mungkin, disebut “mempererat persahabatan”, atau “menjaga pertemanan”, antar-pengguna Twitter (atau antar-apa saja).

Istilah silaturahmi, sesuai makna aslinya, hanya berlaku bagi orang dengan orang-orang lain yang satu garis keturunan. Istilah itu berasal dari kata “shilah” dan “rahim”, yang arti mudahnya “hubungan kekerabatan yang berasal dari satu rahim (keturunan)”.

Karenanya, “memutus silaturahmi” ditujukan pada orang-orang yang memutus hubungan dengan orang lain, dan mereka memiliki garis darah dari satu leluhur yang sama (antarfamili atau antarsaudara). Misalnya kita putus hubungan dengan kakak, adik, sepupu, atau paman, atau bibi, dan seterusnya. Itulah yang disebut memutus silaturahmi.

Kalau kita ribut dengan tetangga, lalu saling bodo amat, itu bukan memutus silaturahmi, tapi “ribut antartetangga”.

Kalau kita tidak mau kenal lagi dengan seorang teman, misal karena dia ternyata bajingan yang diam-diam menusuk dari belakang, itu bukan memutus silaturahmi, tapi memutus hubungan pertemanan.

Akulturasi—atau apa pun namanya—antara agama dan budaya itu baik, pada hal-hal tertentu. Tapi ada kalanya juga menimbulkan kekacauan. Contohnya pada istilah silaturahmi. Istilah “silaturahmi” diadopsi oleh bahasa Indonesia, lalu artinya jauh melenceng dan berbeda dari makna aslinya, dan digunakan seenaknya sendiri.

Orang cuma kenal di Facebook, misalnya, lalu terjadi cekcok dan saling unfriend. Lalu aktivitas itu disebut “memutus tali silaturahmi”.

Bukan! Itu bukan memutus silaturahmi, tapi memutus hubungan pertemanan di Facebook. Kecuali kalau yang di-unfriend itu memang adik kandungmu, atau sepupumu, atau bibimu, atau pamanmu, dan seterusnya.

Kenal paling di medsos, kok bawa-bawa istilah silaturahmi.

Kurang Masalah

Sudah ada masalah corona, sudah ada masalah new normal, sudah ada masalah lebaran, sudah ada masalah hidup sehari-hari. Tapi masih juga nyulut petasan, demi mengejutkan orang-orang dengan bunyi ledakan.

Mereka kurang masalah atau bagaimana?

Gagal Poligami

Hahaha... gagal poligami. Pantesan sampai stresnya gak ilang-ilang gitu.

(Guys, kalian mungkin bertanya-tanya, kenapa orang gagal poligami kok marahnya sama aku? Ceritanya panjang. Ntar, kalau kita ketemu, akan kuceritakan semuanya. Seru!)

 
;