Jumat, 16 Juni 2017

Dari Hati ke Hati

Terlalu banyak masalah manusia dan bencana di dunia
akibat banyak anak dilahirkan tanpa kesadaran dan kearifan orang tua.
@noffret


Saya punya sepupu perempuan, yang kerap menjadi teman berbincang dan berkeluh kesah. Secara usia, dia lebih tua dari saya. Namun, berdasarkan hubungan darah, dia adik sepupu saya, karena ibunya adalah adik ibu saya. Untuk memudahkan cerita, mari sebut sepupu saya dengan nama Agnes.

Agnes dan saya telah akrab sejak kecil. Sama seperti saya, Agnes juga anak pertama. Dia punya tiga adik, namun semua adiknya telah hidup sendiri-sendiri, di tempat yang saling berjauhan. Jadi, meski saya juga akrab dengan adik-adik Agnes, namun kami jarang ketemu. Saat ini, hanya Agnes yang masih tinggal cukup dekat (satu kota) dengan saya, sehingga kami bisa bertemu sewaktu-waktu.

Agnes telah menikah, dan punya anak. Saya juga akrab dengan suami Agnes. Jika mereka—Agnes dan suaminya—punya masalah, kadang mereka datang kepada saya. Begitu pun sebaliknya. Kami saudara sepupu yang saling mengasihi.

Kedekatan saya dengan Agnes bisa dibilang melebihi kedekatan saya dengan para sepupu lain. Pasalnya, seperti yang dibilang tadi, saya dan Agnes telah akrab sejak kecil. Dulu, waktu kami masih kanak-kanak, ibu Agnes dan ibu saya kerap saling mengunjungi, hingga anak-anak mereka (Agnes, saya, dan adik-adik kami) saling mengenal, saling akrab, dan saling membangun kedekatan layaknya saudara.

Kedekatan saya dengan Agnes bahkan terus terjalin saat kami beranjak remaja. Pada masa SMA, saya kadang mengunjungi Agnes ke rumahnya, atau dia mengunjungi saya, lalu kami bermain atau mengobrol berdua. “Kecocokan” itu, tampaknya, karena dilatari kenyataan kami sama-sama “kambing hitam keluarga”.

Kami sama-sama anak sulung, dan kami sama-sama sering menjadi sasaran kesalahan atas apa pun yang terjadi di keluarga kami. Di mata orang tua saya, saya tidak pernah benar. Di mana orang tua Agnes, Agnes tidak pernah benar. Intinya, apa pun yang buruk, salah, keliru, selalu ditimpakan kepada kami, bahkan meski kami tidak terkait sama sekali dengan kesalahan yang ditimpakan.

Jadi, kalau orang tua kami butuh kambing hitam untuk disalahkan atas apa pun, kami pasti menjadi korban. Agnes dan saya tumbuh besar bersama kemarahan demi kemarahan orang tua, serta kesalahan apa pun yang mereka timpakan kapan saja.

(Kelak, ketika kami sama-sama tumbuh dewasa, perlakuan orang tua kami yang buruk ikut membentuk kepribadian kami selanjutnya. Agnes tumbuh menjadi pemberontak, sementara saya tumbuh menjadi introver.)

“Pemberontakan” Agnes terjadi bertahun lalu, ketika dia menjalin hubungan dengan seorang cowok yang tidak disukai orang tuanya. Itu terjadi setelah kami sama-sama lulus SMA. Sebelumnya, sebagaimana cewek remaja lain, Agnes sempat pacaran dengan beberapa cowok, tapi putus. Sampai kemudian bertemu dengan cowok terakhir, yang kebetulan tidak disukai orang tua Agnes.

Karena orang tuanya melarang, Agnes tidak bisa bebas bertemu cowok yang menjadi pacarnya. Jadi, mereka pun backstreet. Pada waktu-waktu itu, Agnes sering “memanfaatkan” saya, agar bisa ketemuan dengan sang pacar. Caranya mudah. Saya datang ke rumah Agnes seperti biasa, lalu berdalih mengajak Agnes keluar. Karena saya yang mengajak, orang tua Agnes tidak curiga. Lalu kami pergi ke tempat cowok Agnes menunggu. Lalu mereka ketemuan, sementara saya bengong.

Belakangan, cowok yang menjadi pacar itulah yang sekarang menjadi suami Agnes. Karenanya, suami Agnes juga akrab dengan saya, plus merasa “berutang budi” karena dulu saya ikut membantu hubungan mereka, sampai akhirnya bisa menikah dan berkeluarga.

Seperti yang dibilang di atas, saya kerap datang menemui Agnes saat ingin berkeluh kesah, sebagaimana Agnes atau suaminya juga kadang datang kepada saya saat ada masalah. Di antara sepupu-sepupu yang lain, bisa dibilang saya paling dekat dengan Agnes.

Karena kedekatan pula, Agnes sangat terbuka kepada saya, sebagaimana saya terbuka kepadanya. Di awal-awal pernikahan dulu, bisa dibilang Agnes menghadapi kehidupan yang suram—orang tua tidak merestui, suami kadang tidak bekerja, keluarga kacau, dan aneka masalah lain—dan saya juga mengetahui kenyataan itu secara langsung, karena memang dekat dengannya. Dalam hal itu, Agnes sangat bersyukur karena memiliki mertua yang sangat baik.

Berbeda dengan kebanyakan menantu yang sering “tidak cocok” dengan mertua, Agnes justru sangat mengasihi mertuanya, sebagaimana sang mertua juga sangat mengasihi Agnes. Itu benar-benar karunia bagi Agnes, mengingat orang tua kandungnya bisa dibilang “tidak merestui” perkawinannya.

Mertua Agnes adalah pasangan suami istri dengan kesabaran dan kearifan yang bisa dibilang nyaris tak terbatas. Saya juga tahu kenyataan itu, sehingga mempercayai penuturan Agnes saat menceritakan mertuanya dengan penuh syukur. Selain berasal dari keluarga berkecukupan, mertua Agnes juga orang-orang berpendidikan. Mereka orang tua yang benar-benar bertanggung jawab pada setiap anak yang dilahirkan, bahkan ikut memikirkan menantu mereka sebagaimana mereka memikirkan anak kandung sendiri.

Suami Agnes adalah anak bungsu dalam keluarga. Kakak-kakaknya juga telah menikah, dan masing-masing telah menjalani kehidupan yang baik. Orang tua mereka benar-benar memastikan masing-masing anak—beserta pasangan—hidup secara layak dan tidak berkekurangan. Seperti yang dilakukan terhadap Agnes. Meski Agnes adalah menantu, mereka memperlakukan Agnes seperti anak kandung sendiri, dengan cinta dan kasih, bahkan dengan persiapan untuk masa depan—memastikan anak-anak mereka dan pasangan hidup layak.

Bisa dibilang, mertua Agnes adalah “orang tua sejati”—mereka hidup sederhana, namun berpendidikan, sehingga dapat mengatur kehidupan keluarga dengan baik, serta memberikan cinta yang layak untuk anak-anak.

Well, Agnes sempat membicarakan mertuanya, karena awalnya kami membicarakan orang tua kami masing-masing. Malam itu, saya datang ke rumah Agnes, bermaksud menemui suaminya. Tapi suami Agnes rupanya sedang keluar. Jadi, saya pun mengobrol dengan Agnes, sambil menunggu suaminya pulang. Pada waktu itulah—karena suatu hal—kami membicarakan orang tua masing-masing.

Selain lebih dewasa dari saya, Agnes juga lebih tahu sejarah keluarga kami, jauh lebih banyak dari yang saya tahu. Dia memperoleh banyak cerita tentang keluarga kami dari tuturan ibunya sendiri, juga dari tetangga dan para famili. Dari Agnes pula, saya tahu kalau ternyata orang tua kami berasal dari keluarga kaya-raya. Kenyataan itu kemudian membuka obrolan yang sangat panjang, dari hati ke hati, di antara kami.

Kakek kami—dari pihak ibu—adalah saudagar kaya, bahkan dianggap orang paling kaya di masyarakat pada zamannya. Sebagai ilustrasi, ketika sepeda kayuh masih dianggap barang mahal oleh mayoritas orang, kakek kami sudah punya beberapa sepeda motor. (Kisah Agnes tentang hal itu memantik memori saya yang samar-samar, kembali mengingat almarhum kakek, ketika dulu saya sempat mengenalnya saat ia masih hidup.)

Kakek kami punya tiga anak perempuan—ibu saya, ibu Agnes, dan satu lagi yang menjadi anak sulung. Kepada tiga anak perempuan tersebut, kakek kami memberikan sebidang tanah cukup luas, yang dimaksudkan untuk membangun rumah kalau mereka berkeluarga. Masing-masing anak mendapat bagian tanah dengan ukuran sama.

Ketika ibu Agnes menikah, dia dan suaminya benar-benar membangun rumah di atas tanah pemberian kakek, dan rumah itu masih berdiri sampai sekarang. Sementara ibu saya dan kakaknya—ketika menikah—membangun rumah di tempat lain bersama suami masing-masing, sehingga tanah pemberian kakek bisa dibilang telantar. Belakangan, tanah pemberian kakek itu dijual, sehingga kini menjadi milik orang lain.

Kakek kami, dengan kekayaan yang dimiliki, memberikan harta untuk anak-anaknya. Tetapi, rupanya, dia tidak membekali anak-anaknya dengan pendidikan. Kenyataannya, tiga anak perempuannya hanya mengenyam pendidikan setingkat Sekolah Dasar—khas orang kuno tradisional, yang menganggap pendidikan tidak penting bagi anak perempuan. Di masa lalu, kakek mungkin menganggap keputusannya benar, karena berpikir perempuan tidak perlu tahu pengetahuan macam-macam. Tetapi, belakangan, keputusan itu terbukti salah.

Ibu Agnes dan ibu saya—juga kakak sulung mereka—sama-sama mencerminkan kepribadian orang tua yang minim pendidikan, yang belakangan sangat dikeluhkan anak-anaknya. Yang kami keluhkan bukan kenyataan bahwa mereka kurang pendidikan. Yang kami keluhkan adalah nasib yang kemudian kami alami, serta perlakuan orang tua kepada kami (anak-anaknya) yang sangat buruk.

Hal pertama yang menjadi akibat mengerikan dari kurangnya pendidikan adalah kemiskinan yang sama-sama kami alami. Agnes maupun saya sama-sama tumbuh dalam kemiskinan. Berdasarkan latar belakang orang tua kami, kenyataan itu sungguh ironis. Betapa anak-anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarga kaya-raya, bisa jatuh miskin ketika mulai membangun keluarga sendiri.

Agnes juga menceritakan, bahwa ayah saya dulu juga kaya ketika menikah dengan ibu saya. Selain berasal dari keluarga berada (untuk ukuran zaman itu), ayah saya sudah punya usaha sendiri ketika masih lajang. Karenanya pantas kalau dia bisa menyunting putri saudagar kaya (ibu saya). Hal serupa terjadi dengan orang tua Agnes. Ayah Agnes juga sama kaya ketika menikah dengan ibu Agnes. Kesamaan dari mereka semua adalah... kurang pendidikan. Kesamaan lain, mereka jatuh miskin ketika menikah.

Terkait hal itu, perempuan yang menjadi kakak sulung ibu saya dan ibu Agnes tergolong beruntung. Dia mendapatkan suami yang berpendidikan. Lucunya, kakek kami dulu menentang pernikahan kakak sulung ibu kami, lantaran si suami dianggap miskin. Tetapi, belakangan, mereka justru bisa membangun keluarga yang sejahtera. Meski punya banyak anak, mereka dapat hidup sangat layak—jauh lebih layak dibandingkan kehidupan keluarga saya maupun keluarga Agnes.

Memang, semua fakta ini bisa saja “kebetulan”. Yang kaya ketika lajang, jatuh miskin ketika menikah. Atau yang miskin ketika lajang, justru bisa membangun kehidupan sangat baik ketika menikah. Sekali lagi, semua fakta itu bisa saja kebetulan, khususnya yang terjadi pada keluarga kami. Namun, jika saya dan Agnes mempelajari semua fakta tersebut, kami bisa menarik benang merah yang sama, yaitu pendidikan (meski pendidikan yang kami maksud dalam hal ini tidak sebatas pendidikan formal.)

Ketika saya maupun Agnes lahir, dan nalar kami mulai utuh, yang kami hadapi adalah kemiskinan, dengan sepasang orang tua yang kurang pendidikan. Kemiskinan dan kurang pendidikan (untuk tidak menyebut kebodohan) adalah kombinasi yang sangat mengerikan. Setidaknya, itulah yang sama-sama kami alami. Agnes maupun saya—yang kebetulan sama-sama anak sulung—merasa telah menjadi “korban” dalam keluarga.

Kami hidup dengan perasaan tertekan, terluka, dan hal itu bahkan terus berlangsung ketika kami dewasa. Dalam pembicaraan dari hati ke hati, malam itu, Agnes maupun saya sama-sama menyepakati satu hal, bahwa orang tua kami sama-sama egois—dalam arti tidak memikirkan nasib anak-anaknya, karena tidak memiliki pandangan jauh ke depan. Khas orang-orang kurang pendidikan.

Mereka—orang tua kami—hanya hidup untuk hari ini, dan hari esok biarlah diurus esok. Akibatnya, mereka tidak sempat memikirkan bagaimana nasib anak-anaknya jika kelak besar, tumbuh dewasa, lalu ditinggal mati mereka. Orang tua kami tidak memikirkan hal itu, karena mungkin berpikir bahwa tugas mereka hanya menikah dan melahirkan anak-anak, dan selesai. Biarlah anak-anak memikirkan nasibnya sendiri. Sekali lagi, khas orang kurang pendidikan.

Dan apa yang kemudian terjadi? Jawabannya ada dalam hati saya dan hati Agnes. Agnes maupun saya bahkan sempat berpikir bahwa kami dilahirkan ke dunia untuk menanggung masalah orang tua kami. Karena kenyataan itulah yang terjadi. Sedari kecil sampai dewasa, kami sama-sama hidup dalam perasaan tertekan karena menghadapi orang tua kami masing-masing. Bukannya mempersiapkan hal-hal baik untuk kami—anak-anaknya—mereka justru menimpakan beban demi beban, masalah demi masalah.

Saat masih kecil hingga remaja, kami menjadi tumpuan kesalahan dan kambing hitam. Saat kami tumbuh dewasa, mereka menimpakan aneka masalah dan beban.

Dalam hal itu, Agnes sedikit lebih beruntung, karena memiliki mertua penuh kasih, yang memberikan cinta dan pengertian kepadanya begitu besar, hingga Agnes benar-benar bersyukur. Bukan hanya cinta dan kasih yang tak pernah henti, mertua Agnes bahkan memikirkan dan mempersiapkan kehidupan Agnes—serta anak-anaknya yang lain—hingga kelak anak-anak itu tidak terlalu “kebingungan” ketika ditinggal mati orang tua.

“Seperti itulah seharusnya orang tua,” ujar Agnes malam itu, mengingat besarnya kasih sang mertua.

Memiliki orang tua kaya mungkin menyenangkan. Tetapi, berdasarkan pembicaraan saya dengan Agnes, memiliki orang tua berpendidikan jauh lebih baik. Mewariskan harta dan kekayaan untuk anak-anak mungkin mulia. Tetapi, mewariskan pendidikan dan mempersiapkan kehidupan anak-anak untuk jangka panjang sepertinya jauh lebih mulia. Karena orang tua mungkin hidup untuk hari ini, tapi anak-anak hidup untuk masa depan.

 
;