Saya selalu merasa aneh ketika mendengar seseorang berkata, "Keadaannya memang memaksa saya jadi seperti ini."
Kalimat itu terdengar masuk akal. Dunia memang sering tidak adil. Orang bisa dikhianati, diperlakukan curang, kehilangan pekerjaan, menjadi korban keputusan yang sama sekali tidak mereka buat. Semua itu nyata. Yang membuat saya berhenti justru bagian setelahnya. Mengapa kekacauan di luar tiba-tiba diberi hak untuk menentukan karakter seseorang?
Mungkin kita terlalu sering membayangkan diri sebagai produk lingkungan. Ketika keadaan baik, kita merasa mudah bersikap baik. Ketika keadaan memburuk, keburukan kita dianggap reaksi yang wajar. Kemarahan memperoleh pembenaran. Ketidakjujuran berubah menjadi strategi bertahan hidup. Kekejaman diberi nama balasan yang pantas. Seolah-olah karakter hanyalah pantulan otomatis dari situasi yang sedang berlangsung.
Cara berpikir seperti itu diam-diam sangat memanjakan ego. Seluruh kesalahan dipindahkan ke luar diri. Politik yang kacau. Atasan yang buruk. Pasar yang lesu. Masa kecil. Pendidikan. Lingkungan. Daftarnya tidak pernah habis. Kita sibuk mencari siapa yang harus bertanggung jawab atas keadaan, lalu lupa bertanya siapa yang bertanggung jawab atas respons kita.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua orang memiliki peluang yang sama. Itu jelas tidak benar. Saya juga tidak sedang mengajak menerima ketidakadilan dengan pasrah. Yang saya tolak adalah kebiasaan menyerahkan kemudi batin kepada sesuatu yang memang sejak awal tidak pernah bisa kita atur. Dunia berubah menjadi semacam diktator yang setiap hari memberi izin kepada kita untuk berlaku buruk.
Aneh. Tidak seorang pun mau hidup di bawah pemerintahan tiran. Namun begitu berhadapan dengan kenyataan yang mengecewakan, kita sering membangun seorang tiran di dalam kepala sendiri. Namanya "keadaan". Apa pun yang diperintahkannya langsung kita patuhi. Hari ini marah karena ekonomi. Besok sinis karena politik. Lusa curang karena semua orang juga curang. Sedikit demi sedikit, karakter berubah menjadi wilayah jajahan.
Para insinyur yang merancang menara sangat tinggi tidak pernah bernegosiasi dengan gempa bumi. Mereka juga tidak berharap angin topan tiba-tiba berubah sopan. Semua itu berada di luar kekuasaan mereka. Yang mereka ubah justru isi menaranya sendiri. Di dekat puncak dipasang sebuah bola baja raksasa yang digantung bebas. Ketika bangunan terdorong ke satu arah oleh guncangan, massa itu bergerak ke arah berlawanan. Energi benturan tidak dihapus. Energi itu diserap dan diredam. Menara tetap berdiri bukan karena berhasil mengendalikan bumi, tetapi karena memiliki pusat yang tidak bereaksi secara membabi buta terhadap setiap guncangan.
Saya sering merasa manusia justru melakukan kebalikannya. Kita menghabiskan tenaga untuk memaksa dunia berubah sesuai keinginan, sementara hampir tidak pernah membangun pusat penyeimbang di dalam diri sendiri. Akibatnya setiap berita buruk langsung mengubah suasana hati, setiap komentar tajam mengubah cara berbicara, setiap perlakuan kasar melahirkan alasan baru untuk ikut menjadi kasar. Reaksi kita murah sekali. Siapa pun bisa membelinya.
Mungkin kedewasaan bukan kemampuan menguasai keadaan. Itu terlalu sering dijadikan ukuran yang keliru. Kedewasaan mulai tampak ketika keadaan kehilangan hak untuk menentukan siapa kita hari itu.
Tidak semua kemenangan terdengar keras. Sebagian hanya terlihat dari kenyataan bahwa dunia gagal mengubah seseorang jadi lebih buruk.

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact