Selasa, 19 September 2017

Kidung Luka

Pertanyaan paling menggelisahkan di dunia: Apa sebenarnya
yang kita percaya? Cuma doktrinasi, atau benar-benar fakta?
@noffret


Sabra dan Shatila adalah nama dua kamp pengungsian Palestina, di wilayah Beirut Barat. Dua kamp itu terletak berhimpitan, sehingga biasa disebut Sabra-Shatila. Selain Sabra-Shatila, ada pula kamp pengungsi bernama Mar Elias, Bour el-Brajneh, dan beberapa yang lain. Ketika perang antara Israel dan Palestina terjadi, kamp-kamp itu menjadi tempat persembunyian para wanita dan anak-anak Palestina dari kekejaman perang. Bisa dibilang, di kamp-kamp itu tidak ada pria, apalagi yang masih muda, karena semuanya berperang melawan Israel.

Kamp-kamp pengungsian di Palestina—termasuk Sabra-Shatila—tidak terlalu luas, namun dihuni ribuan orang. Mereka tinggal di kamar-kamar sempit dan kumuh, dengan fasilitas kesehatan serta sanitasi yang sangat tidak layak. Di tempat itulah, para wanita—termasuk nenek-nenek, ibu-ibu rumah tangga, anak-anak, hingga bayi-bayi—menjalani kehidupan sambil berharap perang segera usai, agar para pria bisa kembali, agar hidup kembali damai.

Waktu itu pertengahan 1982, dan pasukan Israel menyerang wilayah Beirut dengan brutal, bahkan membabi-buta. Dunia internasional mengecam penyerangan keji itu, dan hasilnya Prancis serta Italia mengirim pasukan. Para pejuang Palestina yang ada di wilayah Beirut dievakuasi menggunakan kapal-kapal laut, di bawah pengawalan Prancis dan Italia. Seiring dengan itu, PBB menurunkan sejumlah pasukan penjaga perdamaian.

Untuk sementara waktu, Israel menghentikan serangan mereka, dan untuk sementara waktu pula suasana Beirut terasa damai. Peristiwa itu terjadi pada awal September 1982.

Di Beirut, karena suasana yang mulai damai, orang-orang mulai keluar dari tempat perlindungan, dan mereka membersihkan puing-puing bekas perang dari jalanan. Harapan hidup kembali bersinar di mata mereka. Bahkan, sesuai permintaan PBB, wanita-wanita Palestina juga menyerahkan semua senjata api yang semula mereka simpan sebagai sarana berjaga-jaga kalau diserang.

Jadi, jalan-jalan di Beirut yang semula kotor, berantakan, dan penuh puing bekas peperangan, kini mulai bersih. Anak-anak kecil mulai bermain dan berlarian, dan para ibu menggendong bayi-bayi mereka dengan wajah lebih cerah. Hidup tampaknya akan lebih baik, atau setidaknya mereka berharap begitu.

Tapi harapan itu ternyata menjadi awal petaka mengerikan.

Setelah jalan-jalan di Beirut bersih dari tumpukan karung-karung berisi pasir, bersih dari beton dan batu-batu yang semula dipasang sebagai barikade, setelah keluarga-keluarga Palestina di kamp pengungsian tidak lagi memiliki senjata, setelah bayi-bayi dapat tertawa dicandai ibu mereka... petaka yang sangat mengerikan menyergap tiba-tiba.

Suatu malam, 14 September 1982, ledakan besar mengguncang Lebanon. Sebuah bom meledak, dan calon Presiden Lebanon, Bashir Gemayel, terbunuh. Terbunuhnya Bashir Gemayel seperti intro nyanyian luka.

Esok paginya, saat hari masih gelap, udara Lebanon dipenuhi raungan pesawat tempur Israel. Pesawat-pesawat itu menjatuhkan bom-bom yang kembali mengguncang bumi, meluluhlantakkan Beirut. Tanah bergetar seperti gempa, bangunan-bangunan hancur, pohon-pohon terbakar.

Setelah serangan bom mereda, bumi kembali bergetar. Kali ini karena kedatangan ratusan tank pasukan Israel yang berkonvoi memasuki Beirut, dan mengepung kamp pengungsian Sabra-Shatila. Tank-tank itu diikuti tentara infanteri Israel dan sekutu mereka, di antaranya orang-orang Lebanon bersenjata, yang memang dekat dengan kaum Yahudi.

Pada waktu itu, sebagaimana yang disebut tadi, kamp-kamp pengungsian di sana—termasuk Sabra-Shatila—hanya dihuni kaum wanita, termasuk ibu-ibu, nenek-nenek, juga anak-anak, serta bayi-bayi. Ketika mereka mendengar gemuruh suara tank yang mendekat, para wanita pun menarik anak-anak dan menggendong bayi-bayi mereka untuk segera masuk kembali ke tempat persembunyian, dan mengunci diri di dalamnya.

Pasukan Israel, bersama tank-tank mereka, mengepung rapat Sabra-Shatila. Sebegitu rapat kepungan itu, hingga bahkan seekor kucing tak bisa lewat.

Sementara itu, di luar Sabra-Shatila, wilayah Beirut sedang dihujani bom. Pesawat-pesawat Israel menjatuhkan bom yang menghancurkan apa pun yang ada di bawah, sementara tank-tank mereka meluluhlantakkan bangunan demi bangunan yang dilewati. Selama seharian kemudian, Beirut seperti menikmati pesta kembang api, namun dalam skala raksasa, dengan bangunan-bangunan yang hancur, dengan bumi yang retak dan terbelah, dengan mayat-mayat bergelimpangan, dengan cecerah darah di mana-mana.

Tidak jauh dari kamp Sabra-Shatila, berdiri Rumah Sakit Akka, yang menjadi tempat merawat orang-orang sakit dan terluka. Ketika pasukan Israel kehabisan tempat untuk dihancurkan, mereka mendekati rumah sakit itu, dan kembali menjatuhkan bom. Orang-orang di rumah sakit berlarian ke sana kemari, mencari tempat perlindungan, termasuk berlari menuju ke arah kamp-kamp pengungsi.

Seiring dengan itu, pasukan Israel yang ada di darat mulai menyerbu ke dalam Rumah Sakit Akka, dan menembaki para perawat, dokter, juga seluruh pasien yang masih tertinggal di sana. Wanita-wanita di tempat itu diperkosa, lalu dibunuh. Sementara orang-orang yang telah keluar dari rumah sakit diburu menggunakan tank, ditembaki dengan meriam.

Itu menjadi hari yang panjang di Lebanon, dan hari paling mengerikan di Beirut.

Malam harinya, suara bom dan dentum meriam mulai reda, namun rentetan tembakan senapan masih terdengar, bahkan sepanjang malam. Langit di atas kamp Sabra-Shatila terang benderang oleh peluru-peluru suar yang ditembakkan oleh tank dan helikopter Israel. Menjelang pagi, raungan pesawat tempur kembali terdengar, disusul suara ledakan keras di sana-sini. Sejak itu, rentetan tembakan tidak pernah berhenti.

Pagi menjelang siang, pasukan Israel bergerak memasuki rumah-rumah dan gang-gang yang tersebar di Beirut, sambil menembakkan senjata seperti orang-orang mabuk. Mereka melemparkan granat dan dinamit ke pintu-pintu dan jendela-jendela rumah yang ditinggali orang-orang. Seiring dengan itu, pasukan yang semula mengepung rapat Sabra-Shatila mulai mendekati tempat persembunyian orang-orang Palestina.

Dan tragedi mengerikan itu pun dimulai.

Di kamp pengungsian, di Sabra-Shatila, pasukan Yahudi Israel dengan buas membunuh dan menyiksa orang-orang, memperkosa para wanita, meremukkan tulang-tulang bayi, membakar anak-anak, dan membunuh... membunuh... membunuh....

Sejarah mencatat, pembantaian di Sabra-Shatila menjadi genosida paling berdarah sepanjang peradaban manusia modern. Hanya dalam waktu tiga hari, sebanyak 3.297 orang Palestina—mayoritas para wanita dan anak kecil, hingga bayi-bayi—menemui ajal dengan cara mengerikan.

....
....

Sebagai manusia beradab, kita tentu bertanya-tanya, bagaimana manusia bisa melakukan kekejian semacam itu? Bagaimana manusia bisa membunuh dan menyiksa dan memperkosa orang-orang yang tak melakukan kesalahan apa pun pada mereka? Lebih spesifik, bagaimana bisa orang-orang Israel melakukan kebiadaban, kekejaman, dan kekejian tak berperikemanusiaan kepada orang-orang Palestina?

Untuk mendapat jawaban atas pertanyaan itu, kita bisa bertanya kepada Ilan Pappé, seorang Yahudi yang dijuluki “Orang Israel yang paling dibenci di Israel”.

Ilan Pappé adalah sejarawan Yahudi, yang memilih mendengarkan hati nurani daripada mendengarkan doktrin-doktrin Yahudi. Karena hati nurani pula, dia tidak takut membongkar dan mengobrak-abrik ketololan doktrin serta mitos-mitos yang dipuja kaumnya sendiri.

Ketika ditanya mengapa orang-orang Israel bisa melakukan kekejaman dan kekejian luar biasa terhadap orang-orang Palestina, Ilan Pappé menyatakan, “Ini adalah buah dari proses panjang pengajaran paham, indoktrinasi, yang dimulai sejak usia kanak-kanak—semua anak Yahudi di Israel dididik dengan cara ini. Anda tidak dapat menumbangkan sikap yang ditanamkan di sana dengan mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu menciptakan sebuah persepsi rasis tentang orang lain, yang digambarkan sebagai primitif, hampir tidak pernah ada, dan penuh kebencian. Anak-anak Yahudi diberi penjelasan sejak kecil, bahwa orang-orang di luar kaum mereka (Palestina) adalah primitif, Islam, anti-Semit, bukan sebagai orang-orang yang telah mereka rampas tanahnya.”

Jadi, kita tahu bahwa Yahudi merampas tanah milik Palestina, sehingga orang-orang Palestina melawan perampasan tersebut, dan itulah asal mula perang abadi antara Israel dan Palestina. Tapi orang-orang Yahudi tidak tahu fakta itu, karena sejak kecil mereka telah dibutakan oleh doktrinasi, bahwa mereka (orang-orang Yahudi) telah ditakdirkan untuk hidup di tanah yang dijanjikan Tuhan. Bukan mereka yang merampas, kata Yahudi, tapi mereka hanya memenuhi keinginan Tuhan. Kalau orang-orang Palestina tidak terima kenyataan itu, persetan dengan mereka!

Doktrinasi itu tertanam kuat dalam benak setiap anak Yahudi, hingga kemudian mereka tumbuh dewasa. Ayat-ayat Talmud menjadi satu-satunya “pedoman moral” bagi mereka. Yang paling utama adalah doktrinasi bahwa hanya bangsa Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang lain (di luar mereka) adalah hewan. Para orang tua Yahudi telah menanamkan doktrin itu pada anak-anak mereka.

Dan jika orang tua di rumah, guru-guru di sekolah, serta orang-orang dewasa di sekitar mereka mengatakan hal yang sama, bagaimana mungkin anak-anak itu akan punya keberanian untuk berpikir lain...?

Tidak ada bayi yang dilahirkan untuk menjadi pembenci, pembunuh, pemerkosa, atau pun menjadi manusia rasis. Orang-orang dewasalah yang membentuk mereka hingga seperti itu. Anak-anak Yahudi bisa menjadi contoh paling gamblang. Betapa doktrinasi—apa pun isinya—bisa mengubah manusia menjadi apa pun yang dikehendaki, termasuk menjadi pembunuh, pemerkosa, dan iblis keji.

Ary Syerabi, seorang mantan perwira dari Satuan Anti Teror Israel, pernah penasaran memikirkan apa yang sekiranya dipikirkan anak-anak Yahudi terhadap anak-anak sebaya mereka di Palestina. Ketika bergabung dengan London Institute for Economic Studies, dia melakukan survei terhadap 84 anak-anak Israel usia sekolah dasar, untuk menjawab rasa penasarannya.

Waktu itu, Ary Syerabi menemui anak-anak Yahudi, dan memberikan selembar kertas serta pensil, lalu mengatakan pada mereka, “Tulislah surat buat anak-anak Palestina. Nanti surat itu akan kami sampaikan pada mereka.” (Tentu saja Ary Syerabi tidak bermaksud mengirimkan surat-surat mereka.)

Anak-anak kecil Yahudi itu pun menulis surat untuk anak-anak sebaya mereka di Palestina. Mereka benar-benar percaya surat yang mereka tulis akan dikirimkan buat anak-anak Palestina. Dan bisakah kita membayangkan isinya? Anak-anak itu tidak menulis dengan pikiran polos seperti umumnya anak-anak, melainkan dengan prasangka dan kebencian, padahal mereka sama sekali tidak mengenal anak-anak Palestina yang akan mereka kirimi surat.

Salah satu anak perempuan Yahudi, berusia 8 tahun, menulis suratnya dengan kalimat ini, “Sharon (maksudnya Ariel Sharon, Perdana Menteri Israel) akan membunuh kalian dan semua penduduk kampung… dan membakar jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami, hei monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke (tempat) kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Saya mempersembahkan untukmu gambar (ini) supaya kamu tahu apa yang akan dilakukan Sharon pada kalian… ha… ha… ha...” Anak perempuan Israel itu menggambar sosok Ariel Sharon, dengan tangan menenteng kepala anak perempuan Palestina yang meneteskan darah.

Kita lihat...? Bahkan seorang anak perempuan berusia 8 tahun telah mampu berpikir keji seperti itu. Apa yang mampu mengubah seorang anak tak berdosa hingga memiliki pikiran yang sedemikian keji? Doktrinasi!

Sekali lagi, orang-orang Yahudi Israel tidak menyadari bahwa merekalah yang telah merampas tanah milik orang-orang Palestina. Sebaliknya, mereka meyakini orang-orang Palestina menempati tanah milik bangsa Yahudi, dan kini mereka berusaha mengusir orang-orang Palestina dari sana.

Dunia—dan kita semua—menyaksikan bahwa kenyataan yang terjadi tidak seperti yang diyakini orang-orang Yahudi. Tetapi dunia—dan kita semua—juga tahu, kenyataan dan fakta paling jelas sekali pun, sering kali harus tunduk di bawah tirani doktrinasi.

Menjadi Burung Dodo

Aku khawatir, di suatu hari kelak, kita semua akan menjadi burung dodo.

Jumat, 15 September 2017

Wajah Buku di Indonesia

Terkait buku, seharusnya pemerintah memberikan subsidi.
Jika tidak bisa, semua pajak terkait buku dan
royalti penulis mestinya dihilangkan.
@noffret


Ini kisah usang dari dunia buku, khususnya di Indonesia, namun saya gatal untuk menuliskannya. Lagi pula, meski usang, persoalan ini masih patut dibicarakan, dipikirkan, dan—kalau bisa—dicarikan jalan keluarnya.

Well, di sebuah pameran buku berskala besar, tanpa sengaja saya masuk ke sebuah stand, dan mendapati tumpukan buku bajakan. Sebagian buku yang dibajak adalah karya penulis Indonesia, sebagian lagi buku terjemahan.

Semula, saya tidak tahu buku-buku yang saya dapati waktu itu bajakan. Di pameran buku, seperti biasa, saya masuk dari stand ke stand sebelahnya, dan terus begitu, hingga saya benar-benar “mengkhatamkan” semua stand yang ada di area pameran. Tujuannya, tentu saja, mencari buku-buku bagus. Dalam aktivitas itulah, tanpa sengaja saya masuk ke stand yang menjajakan buku-buku bajakan.

Seperti di stand-stand lain, stand berisi buku bajakan itu sekilas tampak biasa. Layaknya pemeran buku, stand itu menyediakan aneka buku—sebagian dipajang di rak, sebagian lain ditumpuk di meja dan di lantai. Stand itu sangat ramai, orang berjubel, hingga saya makin penasaran. Saya masuk, dan mendekati buku-buku di sana. Begitu menyentuhnya, saya segera sadar itu buku-buku bajakan.

Sekilas, buku-buku bajakan itu sangat mirip yang asli (buku resmi). Dengan sampul yang persis, dengan tingkat ketebalan nyaris persis, dilengkapi shrink (plastik tipis bening) yang membungkus buku dengan cantik. Orang awam—maksudnya bukan kutu buku—kemungkinan tidak menyadari itu buku bajakan.

Karena bajakan, harga buku-buku di stand itu pun lebih murah dibanding harga buku resmi—selisihnya sekitar 40 persen. Itu, tentu saja, menarik banyak orang untuk membeli. Hitungan mudahnya, kau menghabiskan 1 juta untuk membeli buku resmi, tapi hanya perlu mengeluarkan 600 ribu jika membeli versi bajakan. Ada selisih 400 ribu. Bayangkan kalau, misalnya, kau biasa menghabiskan 10 juta rupiah setiap kali ke pameran buku. Selisihnya sampai 4 juta!

Jika diperhatikan, kualitas cetakan buku-buku bajakan—setidaknya yang saya dapati di pameran—tidak sebaik buku resmi. Sampulnya memang persis, tapi kualitas warnanya tidak secemerlang buku asli. Lembar-lembar kertas yang digunakan juga berkualitas rendah, dengan permukaan kasar. Kemudian, cetakan tulisan di lembar-lembar buku juga sangat buruk, tidak serapi dan sejernih buku asli. Yeah, namanya juga buku bajakan!

Pameran buku tentu saja ditujukan untuk para pembaca dan pencinta buku. Fakta bahwa stand yang menyediakan buku-buku bajakan ramai dikerubuti orang, menunjukkan bahwa mereka—pembeli buku—tetap memilih yang murah, meski bajakan. Dalih yang mudah, “Yang penting bisa dibaca.”

Dalam hal ini, semata-mata hanya moral yang mampu menahan saya untuk tidak membeli buku bajakan di sana. Kalau mau menuruti nafsu, saya sudah membawa pikap ke sana!

Jujur saja, di stand buku bajakan itu ada banyak buku bagus, yang membuat saya gatal ingin membeli. Ditunjang harga yang murah—hampir setengah dari harga resmi—bagaimana saya tidak tergiur? Karenanya, sekali lagi, kalau semata menuruti nafsu, saya sudah memborong semua buku yang ada di sana, dan harus mengangkutnya dengan pikap untuk membawanya ke rumah.

Tetapi, bagaimana pun, saya penulis yang menghasilkan buku. Saya tidak mungkin mencederai kenyataan itu, karena... bagaimana kira-kira perasaan saya, jika buku karya sayalah yang dibajak dan diperjualbelikan?

Orang membeli buku bajakan, karena tidak menyadari yang saya sadari. Mereka hanya ingin membaca, dan persetan dengan penulisnya! Juga persetan dengan penerbitnya! Oh, ya, dan persetan dengan pemerintah!

Orang-orang awam, khususnya yang bukan penulis, tidak tahu bagaimana beratnya menjadi penulis, juga tidak tahu bagaimana rumitnya belitan yang terjadi pada buku-buku yang mereka beli, sehingga harganya lebih mahal dibanding buku bajakan. Untuk setiap satu buku yang terpajang di rak toko, ada banyak kepentingan di dalamnya, yang meliputi kepentingan penulis, kepentingan penerbit, kepentingan toko buku, kepentingan distributor, sampai kepentingan pemerintah. Aneka kepentingan itulah yang menjadikan harga buku di Indonesia tergolong mahal.

Saat kita membeli sebuah buku resmi (bukan bajakan), uang yang kita bayarkan sebenarnya dibagi untuk pihak-pihak tadi, dengan persentase berbeda-beda. Ironisnya, yang mendapat persentase paling kecil justru penulis, pihak yang paling memungkinkan buku itu bisa ada.

Dalam harga setiap buku, ada jatah sekian persen untuk penulis, sekian persen untuk penerbit, sekian persen untuk distributor, sekian persen untuk toko buku, dan—tentu saja—sekian persen untuk pemerintah. Iya, pemerintah yang itu!

Pihak yang paling banyak mendapatkan jatah persentase dari harga buku, biasanya, distributor dan toko buku. Setidaknya, rata-rata jatah persentase mereka lebih besar dibanding yang diperoleh penerbit dan penulis. Tetapi, dua pihak itu—distributor dan toko buku—masih kalah dari jatah yang diperoleh pemerintah.

Bayangkan, pemerintah menarik pajak untuk kertas (bahan baku buku), menarik pajak usaha (dari penerbit), menarik pajak penjualan (dari pembeli), dan menarik pajak royalti (dari penulis). Omong-omong, rata-rata royalti penulis adalah 10 persen dari harga buku. Tetapi pajak yang ditarik pemerintah dari royalti penulis mencapai 15 persen! Itu piye, kalau dipikir-pikir?

Saya ulangi, rata-rata royalti yang diperoleh penulis dari buku karyanya hanya 10 persen. Tapi pemerintah menarik pajak royalti dari penulis dengan besaran 15 persen. Dalam hal ini, pemerintah bahkan memberlakukan pajak progresif—semakin besar royaltimu, semakin besar pula pajakmu. Tere Liye, misalnya, harus membayar pajak sekitar 250 juta rupiah untuk setiap 1 miliar royalti yang didapatkannya. Pantas kalau dia ngamuk-ngamuk!

Jadi, latar belakang itulah yang menjadikan harga buku di Indonesia tergolong mahal, khususnya untuk ukuran daya beli masyarakat kita. Bagaimana pun, diakui atau tidak, masih banyak orang yang “eman-eman” mengeluarkan uang untuk membeli buku. Pertama karena mereka memang bukan pencinta buku, dan kedua karena harga buku relatif mahal. Faktor pertama mungkin bisa diatasi dengan edukasi, tapi faktor kedua membutuhkan kesadaran pemerintah untuk mendukung edukasi.

Sayangnya, dalam hal ini, pemerintah tampaknya tidak sadar, atau tidak peduli. Meski menyadari minat baca—dan minat membeli buku—orang Indonesia tergolong rendah sekali, pemerintah tidak peduli. Nyatanya mereka masih aktif memungut aneka pajak untuk setiap buku yang terbit. Kalau pemerintah memang peduli, dan menginginkan minat baca orang Indonesia meningkat, mestinya mereka ikut memikirkan kebijakan yang mendukung ke arah itu. Salah satu yang mudah dilakukan, tentu saja, memangkas aneka pajak buku!

Memang, buku adalah bagian dari komoditas, dan penerbit juga bukan yayasan amal. Bagaimana pun, buku adalah bagian dari industri, dan karena itu pemerintah memungut pajak sebagaimana pada bisnis lain. Tetapi, Indonesia belum menjadi negara maju yang masyarakatnya melek literasi dan menganggap buku sebagai kebutuhan. Mungkin, jika Indonesia sudah menjadi negara maju, dan buku telah menjadi kebutuhan primer, “aturan konvensional” terkait bisnis buku bisa diterapkan layaknya negara maju.

Saya pikir, PR terbesar negeri ini sesungguhnya bukan bagaimana menarik pajak sebanyak-banyaknya dari buku yang terbit, tapi bagaimana menarik orang sebanyak-banyaknya agar membeli dan membaca buku.

Kegiatan membaca buku (dan membeli buku) belum menjadi budaya banyak orang di Indonesia, tingkat minat baca sangat rendah, penjualan buku masih memprihatinkan, nasib penulis buku juga setali tiga uang. Jika dalam kondisi semacam itu pemerintah menutup mata, dan masih tega membelit buku dengan aneka pajak, maka harapan minat baca yang tinggi hanyalah mimpi. Masyarakat akan tetap lebih memikirkan besok makan apa, daripada besok membaca buku apa.

Riset UNESCO menyebutkan, minat baca Indonesia hanya di kisaran angka 0,001. Artinya, dari 1.000 orang hanya satu yang punya minat membaca secara serius. Sekali lagi, satu banding seribu! Sementara survei Most Literated Nation in The World menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara, soal minat baca warganya. Dalam survei itu, peringkat Indonesia hanya lebih baik dari Botswana.

Melihat kondisi masyarakat Indonesia, dan rendahnya minat baca di negeri ini, mestinya pemerintah justru perlu turun tangan, ikut memikirkan bagaimana cara agar masyarakat mencintai buku, agar minat baca meningkat, agar melek literasi menjadi budaya. Idealnya, alih-alih menarik pajak, pemerintah memberi subsidi untuk buku, agar harga buku bisa ditekan serendah mungkin, agar masyarakat tidak “eman-eman” mengeluarkan uang untuk buku, agar penulis dan penerbit bisa terus produktif menghasilkan buku.

Namun, kalau memberi subsidi dianggap tidak mungkin, lakukan saja yang mungkin. Seperti menghilangkan pajak terkait buku.

Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 158/PMK.010/2015 yang dikeluarkan pada pertengahan Agustus 2015, pemerintah membebaskan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen untuk beberapa jasa hiburan. Di antaranya tontonan film, diskotik, tempat karaoke, tontonan pagelaran kesenian, tontonan kontes kecantikan, dan tontonan pagelaran busana.

Kalau pemerintah bersedia menghilangkan pajak untuk urusan hiburan—dari diskotik sampai pertunjukan fashion—kenapa pemerintah keberatan melakukan hal sama untuk buku dan literasi?

Diakui atau tidak, mahalnya harga buku di Indonesia tidak semata karena daya beli masyarakat yang rendah, tapi juga karena buku dibelit aneka pajak, dari hulu ke hilir. Dari bahan baku yang menjadi awal terbentuknya buku, sampai tetes terakhir buku berupa royalti penulis, semuanya dicekik pajak. Dengan aturan pajak seketat itu, harga buku menjadi mahal, sementara masyarakat makin enggan mengeluarkan uang untuk membeli buku. Jika yang terjadi terus menerus seperti itu, sampai kiamat pun minat baca orang Indonesia akan tetap rendah.

Terkait hal ini, ternyata yang mengeluhkan soal pajak bukan hanya penulis, tapi juga penerbit. Edi AH Iyubenu, pemilik Penerbit Diva Press, juga ngoceh panjang lebar menumpahkan kekesalannya terkait pajak, dan kalian bisa membacanya di sini: Tafsir Semena-mena Para Petugas Pajak terhadap Buku. Catatan tersebut penting dibaca, karena memberi sudut pandang lain mengenai dunia perpajakan Indonesia, khususnya terkait industri buku.

Mengingat minat baca dan minat membeli buku di Indonesia masih sangat rendah, berapa banyak sih pajak buku yang bisa ditarik pemerintah? Tidak terlalu banyak. Setidaknya, jumlahnya tidak sebanyak yang mungkin bisa ditarik pemerintah dari bisnis-bisnis lain yang murni bisnis.

Kenapa pajak dari industri buku yang tak seberapa itu tidak diikhlaskan saja, untuk mencerdaskan rakyat Indonesia? Itu jauh lebih realistis, daripada gembar-gembor agar meningkatkan minat baca, tapi tidak mau melakukan apa-apa.

Sebagai penulis, sebagai pembaca buku, dan sebagai rakyat Indonesia, hanya satu itu yang saya harapkan dari pemerintah, terkait upaya meningkatkan minat baca (dan minat membeli buku). Hapuskan pajak buku! Karena, saya pikir, itulah tugas pemerintah, sementara tugas yang lain bisa ditangani pihak lain.

Bebaskan penerbit dari pajak, bebaskan penulis dari pajak, bebaskan penjualan buku dari pajak. Cukup itu saja, saya pikir harga buku bisa turun drastis, sementara jumlah buku yang terbit akan naik drastis. Persoalan bagaimana meningkatkan minat baca, biarlah diusung bareng-bareng penerbit, penulis, dan pihak lain, toh mereka juga punya kepentingan agar orang-orang membeli dan membaca buku. Pemerintah tidak usah pusing!

Jadi, sekali lagi, cukup hilangkan pajak sialan yang memberatkan itu, dan biarkan kami—rakyat Indonesia—mencintai buku!

Noffret’s Note: Lincoln

Sudah bertahun lalu menonton "Abraham Lincoln: Vampire Hunter". Setiap kali menontonnya lagi, ketakjubkanku tak pernah hilang.

Bagian-bagian kisah (bahkan kalimat-kalimat) dalam "Abraham Lincoln: Vampire Hunter" benar-benar sesuai kisah asli. Itu sangat mengagumkan.

"Kau tak bisa menyelamatkan dunia sekaligus orang yang kausayangi. Kau harus menentukan pilihan." —Henry Sturges kepada Abraham Lincoln.

"Aku tak akan mundur dari apa yang benar, hanya karena itu sulit." —Mary Todd Lincoln

Novel maupun film "Abraham Lincoln: Vampire Hunter" adalah cerita yang seru sekaligus indah. Dan Mary Todd adalah mbakyu.

"Orang yang biasa saja adalah yang terbaik di dunia. Karena itulah Tuhan menciptakan banyak orang seperti mereka." Kalimat Mary ini otentik.

Cerita vampir dalam "Abraham Lincoln: Vampire Hunter" jauh lebih indah dan masuk akal bagiku, dibanding, misalnya, dalam Twilight.

Membayangkan Lincoln menjadi pemburu vampir terdengar absurd. Tapi saat diceritakan Seth Grahame-Smith, hasilnya realistis.

Seth Grahame-Smith, pengarang "Abraham Lincoln: Vampire Hunter", benar-benar genius menggabungkan sejarah otentik dan imajinasi gila.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Juli 2017.

Minggu, 10 September 2017

Puncak Kenikmatan

Salah satu kenikmatan hidup adalah menikmati makanan
yang benar-benar kita suka. Kebalikannya adalah siksa.
@noffret


Di mana-mana ada restoran atau rumah makan mewah, yang biasa didatangi kalangan atas, termasuk para selebritas. Di dekat tempat tinggal saya juga ada rumah makan semacam itu, bahkan pernah menjadi langganan saya untuk makan malam. Tidak perlu saya sebutkan namanya. Yang jelas, rumah makan itu menyediakan masakan Indonesia, dan karena itu pula saya cocok makan di sana.

Ada banyak menu yang disediakan rumah makan tersebut, dan nyaris semuanya saya suka. Karena ditujukan untuk kalangan atas, harga makanan di sana pun tergolong mahal. Satu kali makan di sana menghabiskan biaya yang setara dengan uang jajan saya satu bulan di SMA. Karenanya, meski telah mengetahui rumah makan itu sejak SMA, dulu saya tidak pernah berani masuk ke sana.

Kini, setelah punya cukup uang untuk makan enak, saya mulai masuk ke sana. Belakangan, karena cocok dengan masakannya, saya sering ke sana untuk makan malam. Bahkan, ada periode ketika saya setiap malam makan di sana, karena penasaran dengan semua menu yang disediakan. Jadi, malam ini saya makan nasi tomat, besok menikmati sate, dan begitu seterusnya, sampai semua yang ada di buku menu telah saya coba.

Selain makanannya sangat enak, rumah makan itu juga sangat nyaman. Luas, bersih, dan hening. Biasanya, saya duduk sendirian di satu meja, lalu menikmati makanan yang saya pesan. Apa pun yang saya makan, semuanya enak, dan selalu pas dengan selera saya. Oh, well, bahkan tehnya pun enak! Seusai makan, sambil menikmati kenyang yang begitu nikmat, saya menyulut rokok, menikmati keheningan di sana, dan berpikir betapa hidup ini indah.

Mungkin sekitar tiga tahun saya menjadi pelanggan rumah makan tersebut, setiap malam datang ke sana, menikmati makan malam yang sangat nikmat terus menerus. Semula, saya pikir, kenikmatan itu akan berlangsung selamanya. Maksud saya, semua makanan enak yang setiap malam saya nikmati itu akan terus enak, hingga saya akan terus makan di sana. Ternyata tidak. Pada satu titik tertentu—dan ini sungguh mengejutkan—saya bosan makan di sana.

Mungkin terdengar berlebihan, bahwa sekian tahun lalu—saat masih remaja—saya tidak berani masuk rumah makan tersebut, karena ketiadaan uang. Sekarang, saya bisa makan di sana setiap malam, dan sekarang sudah bosan! Karenanya, itu mengejutkan, bahkan bagi diri saya sendiri.

Saya benar-benar terkejut ketika mulai menyadari tidak lagi berminat makan di sana. Bukan karena kekurangan uang, tapi karena kehilangan selera. Semua yang semula sangat nikmat, kini terasa biasa saja. Menu makanan yang semula mampu menerbitkan liur, kini terasa hambar. Yang semula sangat nikmat di lidah, hingga saya menggilai, kini terasa biasa. Puncaknya, saya tidak lagi datang ke sana.

Setelah bosan makan di tempat itu, apakah saya mencari tempat makan yang lebih mewah dan lebih mahal? Tidak! Rumah makan yang saya ceritakan itu paling mahal yang bisa saya temukan. Jadi, saya akan kesulitan jika ingin mencari yang lebih mewah lagi. Karenanya, ketika akhirnya bosan makan di sana, saya mencari makan di warung kaki lima!

Sebenarnya, saya tidak peduli makan di tempat mewah atau di kaki lima. Saya bisa makan di mana pun—asal nasinya cocok. Yaitu nasi yang ditanak secara tradisional (bukan dibuat menggunakan rice cooker), dan butir-butir nasinya saling terpisah serta tidak lengket. Asal nasinya memenuhi standar itu, saya bisa makan di mana pun, dengan lauk apa pun.

Meski persyaratan yang saya ajukan bisa dibilang sederhana, tapi mencari nasi yang memenuhi kualifikasi itu bisa dibilang sangat sulit. Ada banyak warung makan—dari kaki lima sampai bintang lima—yang menyediakan nasi “tidak akademis”, yaitu nasi yang menggumpal, serta lengket di tangan. Saya tidak bisa makan nasi semacam itu, tak peduli seenak dan semewah apa pun lauknya.

Karena latar belakang itu pula, saya agak kesulitan menemukan tempat makan yang cocok. Sering kali, nasi yang disuguhkan tidak memenuhi “standar akademis”, sehingga saya tidak doyan. Saya bahkan pernah tanpa sengaja masuk warung makan yang menyediakan soto, bersama bocah ini, ketika suatu malam kami sedang bersama. Nasi dan soto disuguhkan dalam wadah tersendiri. Ketika melihat nasinya—yang tampak menggumpal—saya mengernyit, dan berkata, “Itu nasi apa lem Glukol?”

Dia cekikikan. Tapi tetap bisa menikmati makanannya—nasi yang mirip lem Glukol itu. Sementara saya hanya menghabiskan soto di mangkuk, dan tidak sedikit pun menyentuh nasi.

Jadi, dalam urusan makan, saya sering kelayapan untuk menemukan tempat yang cocok—yang menyediakan nasi dengan “standar akademis”, sesuai selera saya—dan biasanya menjadi pelanggan di sana, ketika merasa cocok. Dalam upaya pencarian itulah, saya pernah menjadi pelanggan di beberapa rumah makan, di beberapa restoran, di beberapa warung kali lima, di beberapa angkringan, dan semuanya mencapai titik yang sama.

Bosan.

Tak peduli ke mana pun saya mencari, ujungnya adalah bosan. Tak peduli semula sangat menggilai, hasil akhirnya tetap kebosanan. Tak peduli seenak dan senikmat apa pun awalnya, rasa bosan selalu menjadi penutup.

Rasa bosan, bagi saya, adalah puncak kenikmatan—ketika kita tidak bisa lagi menggapai puncak yang lebih tinggi, karena nyatanya kita sudah sampai di puncak. Ironisnya, yang ada di puncak justru rasa bosan. Kenikmatan yang paling nikmat sekali pun, tetap sampai di sana. Di puncak. Pada kebosanan.

Makanan mewah, yang semula membuat kita bahagia saat menikmati, akhirnya sampai pada bosan. Masakan paling lezat, yang membuat kita mendadak lapar setiap kali melihat, akhirnya sampai pada bosan. Bahkan menu paling enak, yang semula kita puji setinggi langit, akhirnya tetap sampai pada bosan. Ketika kenikmatan telah tiba di puncak, kebosanan menunggu.

Kenyataannya memang tak ada yang abadi di dunia fana, termasuk kenikmatan makanan. Semuanya temporer—hanya menunggu waktu untuk sampai pada titik ketika kita tak lagi bisa mengelak dari rasa bosan. Lalu yang nikmat terasa hambar, yang istimewa terasa biasa.

Untung, dalam hal ini, kebosanan yang saya alami sekadar makanan. Namanya makanan, kita tentu boleh gonta-ganti seenaknya, dan tidak ada yang melarang. Asal merasa cocok, kita bisa menikmati suatu makanan sampai beberapa lama, lalu mencari makanan lain ketika mulai bosan. Begitu pula yang kadang saya lakukan.

Seperti rumah makan mewah yang pernah menjadi tempat saya makan setiap malam. Setelah sangat lama tidak datang ke sana, kadang timbul rasa kangen untuk kembali menikmati makanan di sana. Lalu saya pun datang dan kembali makan di sana. Tentu saja makanan itu masih memiliki kenikmatan yang sama, seperti yang dulu saya kenali pertama kali. Namun, kali ini, saya merasakannya biasa saja. Meski begitu, setidaknya, saya masih bergairah menyantap, karena sudah lama tidak makan di sana.

Lalu, di hari lain, saya mengunjungi tempat makan lain yang pernah menjadi langganan serupa. Mengenali kenikmatan yang dulu pernah memikat saya, mengunyahnya kembali, dan begitu seterusnya. Sekadar urusan makan, saya punya hak dan kebebasan untuk pindah-pindah makan di mana pun, dan tidak ada yang melarang.

Dalam hal itu, bagaimana pun, saya patut bersyukur, karena tidak ada aturan yang mewajibkan setiap orang harus setia pada satu rumah makan. Pasti akan sangat menyiksa kalau setiap orang harus terikat pada satu rumah makan—seumur hidup—dan tidak boleh makan di tempat lain, tak peduli bosan dan muak sekali pun. Pasti akan menyengsarakan kalau kita harus mengunyah makanan sama, dengan rasa yang makin lama makin hambar, dan kita sudah sampai pada rasa bosan, tapi setiap saat harus memakan hal yang sama.

Memikirkan kenyataan itu, kadang saya merasa getir sendiri. Orang-orang mencari dan memburu kenikmatan, bersedia melakukan apa pun demi kenikmatan, padahal yang ada di puncak kenikmatan justru rasa bosan. Setelah itu terjadi, semua kisah selesai. Apa yang bisa diceritakan dari kebosanan?

Sesal di Kesunyian

Aku tidak mau menjadi raja sehari hanya untuk menjadi budak seumur hidup.
Bukan karena keangkuhan, tapi karena pilihan.
@noffret


Seorang lelaki menggali tanah hingga sangat dalam. Tangannya bergerak, seiring cangkul menghantam dan mengeduk tanah—entah apa yang ia cari. Keringatnya bercucuran, sementara tenaganya tampak terkuras. Meski telah sangat kepayahan, dia tidak juga istirahat, hingga aku berpikir dia akan terus menggali sampai mati.

Di bibir lubang tanah yang digalinya, aku bertanya, “Apa yang Anda lakukan?”

Lelaki itu menghentikan kegiatannya, menatap ke arahku, lalu menyeka keringat di wajahnya yang seperti butiran jagung. Dengan suara lelah, dia menjawab, “Aku sedang menjalani tiga puluh tahun kesengsaraan, untuk menebus tiga puluh menit kenikmatan.”

Lalu dia melanjutkan pekerjaannya—menggali, menggali, menggali—meski aku tak tahu apa yang ia cari. Mungkin, ia pun tak tahu apa sesungguhnya yang ia cari. Dan ia akan terus menggali sampai kelelahan, sampai kepayahan, sampai ajal datang.

Sambil menatapnya, aku berpikir, “Orang-orang mengimpikan menjadi raja sehari, hanya untuk menjadi budak seumur hidup. Tertawa sesaat dalam kenikmatan, untuk menyesal bertahun-tahun di kesunyian. Alangkah malang manusia....”

Bocah Stres Ngomong Jiwa

Ooh, bocah stres ngomong jiwa.

Oh, oh.

Selasa, 05 September 2017

Pusing Mikir Salamah

Kitaro mungkin wali.
@noffret


Pada 7 April 2011, Kitaro konser di Plenary Hall, JCC, Senayan. Sejak pertama kali mendengar Kitaro akan konser di Jakarta, saya sudah siap-siap untuk menonton. Tidak setiap saat Kitaro konser di Indonesia, jadi saya pun bergairah sekali waktu itu.

Tetapi, sayang sekali, dua hari sebelum hari H, saya meriang parah. Pada 7 April, saat Kitaro benar-benar datang ke Jakarta dan konser di JCC, saya terkapar di tempat tidur. Tak perlu dikatakan, nyeselnya sampai ke tulang sumsum.

Sampai berhari-hari sejak itu, saya tetap sedih dan menyesal, meski kondisi fisik mulai membaik. Ketika saya akhirnya kembali sehat, Kitaro sudah kembali ke Jepang—atau ke Amerika.

Penyesalan akibat peristiwa itu lama membekas di benak saya. Kitaro adalah segelintir musisi yang saya puja, sejak ABG sampai dewasa kini. Mendengarkan musiknya lewat CD saja, bisa membuat saya eargasme. Karenanya, batal nonton konsernya benar-benar membuat saya sedih setengah mati.

Well, sekitar dua bulan setelah Kitaro konser di Jakarta, ada teman yang mengabari kalau konser itu direkam dan diedarkan dalam bentuk VCD. Mendengar kabar itu, saya langsung pergi ke toko musik, untuk mencari VCD konser Kitaro. Pikir saya, biarlah tidak menonton konsernya, asal bisa melihat rekamannya.

Saya datang ke sebuah toko musik yang menyediakan CD dan VCD. Ketika saya masuk ke sana, si penjual sedang melayani seorang pembeli yang sepertinya sedang mencari CD lagu dangdut. Waktu itu, musik yang sedang dicoba/disetel adalah lagu dangdut Caca Handika, berjudul Undangan Palsu.

Karena yang melayani di toko cuma satu orang, saya pun berdiri di sana, menunggu, sambil melihat-lihat. Sambil menunggu, mau tak mau saya ikut mendengar lagu yang sedang disetel—Undangan Palsu-nya Caca Handika. Mungkin karena lagunya enak, liriknya “terjebak” di telinga saya, dan tak mau keluar. Berikut ini lirik lengkap lagu tersebut.

Kalau saja aku tahu
Salamah itu namamu
Tak mungkin aku hadiri
Pesta perkawinan ini

Engkau kirimkan surat undangan
Kau tulis nama palsu belaka
Semula aku tiada percaya
Dirimu tega khianat cinta

Kado yang kubawa ini
Tak kuasa aku berikan
Karena aku kecewa
Engkau binasakan cinta

Mengapa tega kau mengundangku
Atau kau sengaja menyakitiku
Sungguh hatimu tiada peduli
Kau anggap diriku tak punya hati


Berjuta sesal dalam hatiku
Mengenang nama dan cinta palsu


Setelah lirik itu terjebak masuk ke memori, saya sulit melupakan. Ada istilah ilmiah untuk menyebut fenomena semacam itu, yakni earworms. Earworms adalah kondisi ketika sebuah lagu terjebak masuk ke kepala seseorang, hingga mengisi suatu celah di dalam otak. Itulah yang saya alami.

Ketika lagu tersebut diputar di sana—di toko musik yang saya datangi—lagu itu masuk ke kepala saya, hingga saya sulit lupa. Susahnya, lagu itu bahkan menghantui saya sangat lama. Sebenarnya, bahkan sampai hari ini, hingga saya terpaksa menulis catatan ini.

Yang menjadikan saya sulit melupakan lagu itu, karena tampaknya ada yang sangat janggal pada lagu tersebut. Ada sesuatu yang tidak match, dan membingungkan, hingga saya terus memikirkannya. Perhatikan dua bait lagu ini.

Kalau saja aku tahu
Salamah itu namamu
Tak mungkin aku hadiri
Pesta perkawinan ini

Engkau kirimkan surat undangan
Kau tulis nama palsu belaka
Semula aku tiada percaya
Dirimu tega khianat cinta


Apakah lirik itu terdengar baik-baik saja? Memang. Tapi ada masalah yang sangat membingungkan dari lirik-lirik lagu tersebut.

Kalau saya tidak salah tangkap, lagu itu menceritakan Caca Handika (si penyanyi) mendapat undangan perkawinan dari seorang wanita. Di undangan, tertulis bahwa si mempelai wanita bernama Salamah. Lalu Caca Handika mendatangi undangan itu, dan menyadari bahwa ternyata Salamah adalah wanita yang dikenal Caca Handika dengan nama lain.

Ada kemungkinan, sebelumnya Caca Handika telah berkenalan dengan seorang wanita (dengan nama lain), lalu mereka menjalin cinta. Suatu hari, tiba-tiba, si wanita menikah dengan lelaki lain, dan dia mengirimkan undangan perkawinan pada Caca Handika. Di dalam undangan, tertulis nama asli si wanita, yaitu Salamah.

Tanpa prasangka, Caca Handika datang ke resepsi perkawinan, dan menyadari bahwa Salamah adalah wanita yang semula menjalin cinta dengannya. Karena itulah Caca Handika menyesal, sebagaimana tampak dalam lirik berikut, “Kalau saja aku tahu, Salamah itu namamu. Tak mungkin aku hadiri pesta perkawinan ini.”

Pertanyaannya, mengapa Caca Handika mendatangi pesta perkawinan tersebut?

Maksud saya begini. Ketika Caca Handika mendapatkan undangan perkawinan, dan di dalamnya terdapat nama Salamah sebagai mempelai wanita, tentunya Caca Handika tidak mengenali nama itu, kan? Kenapa dia tidak heran atau bertanya-tanya siapakah Salamah yang tertulis dalam undangan?

Pertanyaan itu patut diajukan, karena Caca Handika tampaknya sangat pede saat mendatangi pesta perkawinan, hingga menyiapkan kado untuk si pengantin. Hal itu diterangkan di bagian lirik berikut, “Kado yang kubawa ini, tak kuasa aku berikan. Karena aku kecewa, engkau binasakan cinta.”

Jadi—sekali lagi, kalau saya tidak salah tangkap—suatu hari Caca Handika mendapat undangan resepsi perkawinan, dari seorang wanita bernama Salamah. Caca Handika tidak tahu siapa Salamah. Tapi dia mendatangi pesta perkawinan itu, dan menyiapkan kado untuk Salamah, si mempelai wanita. Dari kenyataan itu, kita bisa menarik dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, Caca Handika mungkin berpikir, bahwa Salamah adalah temannya di masa lalu (misal kawan SD), yang mungkin telah terlupa dari ingatannya. Lalu Salamah si kawan SD ini menikah, dan mengundang Caca Handika. Jadi, sebagai kawan lama, Caca Handika pun mendatangi pesta perkawinan Salamah, sembari tak lupa menyiapkan kado. Setelah sampai di sana, eh... ternyata Salamah adalah wanita yang tempo hari menjalin cinta dengannya.

Kemungkinan kedua, Caca Handika sama sekali tidak tahu siapa Salamah. Jadi, ketika mendapatkan undangan pesta perkawinan yang di dalamnya terdapat nama Salamah, Caca Handika benar-benar blank, tidak tahu siapa Salamah. Tapi dia tetap datang ke acara perkawinan itu, bahkan menyiapkan kado untuk Salamah. Dalam hal ini, kita bisa mengasumsikan Caca Handika adalah lelaki saleh nan baik hati, yang tetap mendatangi undangan meski tidak mengenal si pengundang.

Dua kemungkinan itu tampaknya match untuk menjadi latar belakang kedatangan Caca Handika ke pesta perkawinan Salamah, yang ternyata adalah pacarnya sendiri. Tetapi, persoalan ini pun belum selesai. Karena, pada bait kedua lagu Undangan Palsu, terdapat kalimat berikut:

Engkau kirimkan surat undangan
Kau tulis nama palsu belaka
Semula aku tiada percaya
Dirimu tega khianat cinta


Perhatikan kalimat ini, “Engkau kirimkan surat undangan, kau tulis nama palsu belaka.”

Jadi, sebenarnya, Salamah itu nama asli atau nama palsu? Jika Salamah adalah nama asli, kenapa Caca Handika mengatakan, “Kau tulis nama palsu belaka”? Sebaliknya, kalau Salamah adalah nama palsu, kenapa nama itu bisa tertulis di undangan perkawinan? Di atas semua itu, sebenarnya nama yang mana yang dikenali Caca Handika terkait wanita tersebut? Salamah, atau nama lain?

Sejak tahun 2011 sampai sekarang, saya terus pusing memikirkan hal tersebut, dan tetap belum mampu menemukan jawaban yang masuk akal. Sepertinya saya layak mendapat Nobel untuk kerja keras pemikiran ini.

Well, saya mau cerita Kitaro, tapi malah melantur ke Salamah. Balik lagi ke topik awal, soal Kitaro. Urusan Salamah sepertinya terlalu berat bagi otak saya yang cetek ini. Semoga saja Stephen Hawking menemukan kasus ini, dan menyadari dia harus ikut memikirkannya.

Setelah menunggu cukup lama di toko musik, dan setelah si pembeli CD Caca Handika tadi menyelesaikan transaksi pembelian, saya pun bertanya pada si penjual di toko, “Ada VCD Kitaro?”

Si penjual memandangi saya dengan tatapan bingung. “Apa, Mas?”

“Kitaro,” ulang saya. “Saya lagi nyari VCD konser Kitaro. Ada?”

Masih dengan muka bingung, si penjual bertanya, “Uhm... Kitaro itu apa?”

Saya mimisan.

Dilema

Aku mencintai wanita dewasa yang tidak menikah. Cintaku kepadanya membuatku ingin menikahinya.

Tetapi, jika dia mau menikah denganku, artinya dia bukan lagi wanita dewasa yang tidak menikah.

Karena dia menikah—meskipun menikah denganku—aku khawatir tidak mencintainya lagi, karena aku mencintai wanita dewasa yang tidak menikah.

Kebenaran yang Diyakini sebagai Hoax

Air menjadi bensin.

Jumat, 01 September 2017

Cermin Buram

Kalau kita bercermin dan bayangan kita tampak buruk,
ada dua kemungkinan. Cermin itu sudah kusam,
atau diri kitalah yang memang kusam.
@noffret


Bayangkan selama bertahun-tahun kita tidak pernah bercermin, sehingga lupa seperti apa rupa atau wajah kita. Yang jelas, terakhir kali bercermin, wajah kita baik-baik saja, dan kita puas dengan bayangan dalam cermin. Kita merasa cakep, baik-baik saja, dan kita menjadikan hal itu sebagai kesan pada diri sendiri. Jadi, ketika bertahun-tahun kemudian tidak pernah lagi bercermin, kita yakin memang cakep dan baik-baik saja.

Padahal, selama bertahun-tahun, tentu ada perubahan yang terjadi, termasuk di wajah kita. Yang pria, misal, bulu-bulu wajah mungkin sudah lebat. Sementara yang wanita, kulit wajah bisa jadi kusam atau berjerawat. Atau perubahan-perubahan lain. Namun, karena tidak pernah bercermin, kita tidak tahu. Mungkin sesekali kita meraba wajah, dan mendapati ada hal-hal yang sebelumnya tidak ada, tapi kita merasa nyaman. Karena tidak pernah bercermin, dan karena kita menganggap diri baik-baik saja.

Jika selama lima tahun, misal, kita tidak pernah bercermin sama sekali, lalu bercermin di suatu hari, kira-kira apa yang mungkin kita alami? Kemungkinan besar terkejut. Karena mendapati wajah kita ternyata masih sama seperti lima tahun lalu, atau sebaliknya—mendapati wajah kita sudah jauh berubah dari lima tahun lalu. Apa pun hasilnya, terkejut kemungkinan menjadi reaksi paling umum untuk orang yang bertahun-tahun tidak bercermin.

Cermin hanyalah satu sarana untuk melihat seperti apa kita sesungguhnya, meski dalam hal ini hanya sebatas fisik. Melalui cermin, kita bisa melihat secara utuh seperti apa rupa kita. Melalui cermin yang lebih besar, kita bahkan bisa melihat secara utuh seperti apa tubuh kita, pantas atau tidak pakaian yang kita kenakan, dan lain-lain. Pendeknya, melalui cermin, kita bisa berusaha mengenali diri sendiri, melihat kelebihan dan kekurangan yang mungkin kita miliki.

Tapi cermin hanya satu sarana. Dan, kadang-kadang, bisa menipu.

Di rumah saya ada cermin berukuran sedang, yang memungkinkan saya berkaca saat menyisir rambut. Entah kenapa, saya merasa cakep setiap kali bercermin di situ. Mungkin karena saya memang cakep. Atau mungkin pula karena cermin di rumah jarang dibersihkan, sehingga tidak bisa merefleksikan rupa saya seutuhnya. Dan dalam keburaman cermin, saya menilai diri saya cakep. Bayangan itu pula yang saya percaya, sebagai kesan terhadap diri sendiri.

Suatu hari, saat belanja baju di swalayan, dan harus mencoba di kamar pas, saya berdiri di depan cermin, dan agak terkejut mendapati rupa saya seutuhnya. Cermin di kamar pas sangat bersih, tidak buram seperti di rumah saya. Dan melalui cermin yang bersih itu, saya bisa melihat diri seutuhnya, dan mendapati ternyata saya tidak secakep yang selama ini saya bayangkan.

Melalui cermin bersih di kamar pas, saya bisa melihat kulit wajah saya tidak semulus yang saya yakini, mata saya tidak seindah yang saya yakini, bibir saya tidak semerah yang saya yakini, pendeknya banyak hal yang berbeda dari yang selama ini saya yakini. Cermin buram di rumah telah menipu tanpa saya sadari, dan cermin bersih di kamar pas swalayan menghadapkan saya pada kenyataan.

Tetapi, sekali lagi, cermin hanya satu hal, atau satu sarana, untuk berkaca, untuk belajar objektif menilai diri sendiri. Kemampuan cermin dalam hal itu juga terbatas, karena hanya memungkinkan kita untuk menilai hal-hal yang bersifat fisik. Cermin tidak bisa menilai baik atau buruknya sifat kita, kebiasaan kita, gaya hidup kita, bahkan hati dan keyakinan-keyakinan kita. Untuk bisa menilai hal-hal di luar fisik, kita membutuhkan “cermin” yang lebih luas.

Suatu waktu, saya punya keperluan di luar kota. Kebetulan, di kota tersebut ada teman yang tinggal di sana. Jadi, ketika tahu saya akan datang ke kotanya, dia meminta agar saya menginap di rumahnya. Saya tidak punya alasan menolak, jadi saya pun menuruti permintaannya, dan selama tiga hari menginap di rumahnya. Tiga hari itu, kelak, menjadi cermin yang sangat mengejutkan.

Rumah teman saya sangat steril, dalam arti bersih dan sehat mirip rumah sakit. Saya nyaris tidak bisa menemukan secuil debu pun di lantai rumahnya yang luas. Ada empat pekerja yang tiap hari di sana—satu sekuriti, satu tukang kebun, satu juru masak, dan satu lagi bertugas memastikan rumah dalam keadaan selalu bersih.

Bersama empat pekerja yang tiap hari di rumahnya, teman saya tinggal bersama istri dan satu orang anak. Teman saya tidak merokok, dan hal itu tampaknya ikut menjadikan rumahnya sangat bersih, sekaligus sehat. Tidak ada debu, tidak ada abu rokok, juga tidak ada asbak. Hal terakhir cukup merepotkan saya selama tinggal di sana, karena bagaimana pun saya butuh asbak agar dapat merokok dengan nyaman.

Selama tinggal di rumah teman, saya menempati kamar di lantai atas. Ketika masuk kamar itu pertama kali, suasana kamar serupa dengan suasana ruangan lain di sana—bersih, steril, mirip rumah sakit. Di kamar itu pula, selama tiga hari, saya banyak menghabiskan waktu—menulis, membaca buku, termasuk merokok.

Mula-mula, saya merasa segalanya berjalan baik-baik saja, tidak ada keanehan atau hal-hal yang menarik perhatian. Tetapi, memasuki hari ketiga, saya mulai menyadari bahwa di kamar yang saya tempati muncul aroma tidak sedap. Kamar itu masih bersih, seperti semula, tapi muncul bau menyengat. Tanpa diberitahu siapa pun, saya tahu aroma tidak sedap itu berasal dari asap rokok saya yang selama itu mengepul di sana.

Kenyataan itu menampar kesadaran saya dengan keras.

Selama bertahun-tahun, saya tinggal di rumah sendiri, merokok setiap hari, dan tidak pernah menyadari bahwa aktivitas itu memunculkan aroma tidak sedap. Asap rokok yang terus mengepul, tanpa sempat saya lihat, mungkin menempel di langit-langit rumah, di dinding-dinding, di berbagai perabotan, dan lain-lain. Tetapi, selama bertahun-tahun, saya tidak pernah menyadari keberadaan aroma yang mungkin tidak sedap, karena terbiasa.

Saya terlalu terbiasa dengan rumah saya sendiri, beraktivitas setiap saat di dalamnya, merokok di mana saja saya ingin, dan tidak pernah sedetik pun menyadari keberadaan aroma tidak sedap yang mungkin ditimbulkan aktivitas merokok yang saya lakukan. Itu mengerikan, kalau dipikir-pikir, betapa sesuatu yang mungkin buruk sekali pun bisa jadi tidak kita sadari, jika kita telah terbiasa dengannya.

Selama ini, saya sering heran dengan orang-orang yang tampak “terlalu sensitif” dengan asap rokok atau bau rokok. Berdekatan dengan orang merokok saja, mereka tampak tidak nyaman. Terkena sedikit asap rokok saja, mereka sudah ribut. Selama itu, saya tidak pernah memahami apa yang mereka rasakan sesungguhnya, terkait rokok dan asap yang terpapar pada mereka. Bagaimana pun, saya perokok, dan kondisi itu menjadikan saya menilai rokok “baik-baik saja”. Karenanya, saya heran ketika melihat ada orang yang tampak terganggu hanya oleh sedikit asap.

Ketika saya mendapati munculnya aroma tidak sedap di kamar yang saya tinggali di rumah teman, saya pun akhirnya menyadari... bahwa itulah kenyataannya. Kenyataaan yang sebelumnya tidak pernah saya sadari.

Sebelum saya masuk rumah teman untuk menginap di sana, rumah itu sangat bersih sekaligus steril. Tidak ada orang merokok di sana, sehingga bau rokok—seperti apa pun—juga tidak ada. Ketika saya masuk ke sana, dan merokok, dampak yang timbul segera terasa. Khususnya pada kamar yang saya tempati selama tiga hari. Kamar yang semula bersih dan segar mulai memunculkan aroma tak sedap.

Kenyataan itu tentu berbeda dengan rumah saya sendiri. Di rumah, saya merokok setiap saat, di ruang mana pun, di bagian mana pun. Akibatnya, aroma tidak sedap yang mungkin muncul tidak tercium. Atau mungkin tidak tercium oleh hidung saya, karena sudah terlalu biasa ada di dalamnya. Bagaimana pun, kebiasaan menumpulkan indra kita.

Munculnya aroma tidak sedap yang saya dapati di rumah teman, akhirnya menjadi cermin bagi saya untuk berkaca, bahwa yang saya lakukan selama ini—khususnya merokok—ternyata tidak “baik-baik saja” sebagaimana yang saya pikirkan dan saya yakini. Bagaimana pun, aktivitas itu menimbulkan dampak, salah satunya aroma tidak sedap, yang meski mungkin tidak saya sadari, tapi disadari orang lain.

Ketika pamit dari rumah teman, saya pun meminta maaf atas munculnya bau tak sedap dari aktivitas merokok yang saya lakukan di sana. Teman saya hanya tertawa, tapi saya yakin pekerja di rumahnya harus bekerja keras untuk menghilangkan “jejak” yang telah saya tinggalkan di sana. Sejujurnya saya sangat tidak enak atas hal itu.

Sejak itu pula, saya pun makin hati-hati setiap kali akan merokok, khususnya kalau di dekat saya ada orang lain, yang bisa jadi tidak merokok atau sensitif dengan aroma rokok. Bagaimana pun, yang saya anggap “biasa”, bisa jadi “tidak biasa” bagi orang lain, dan bisa pula mengganggu kenyamanan mereka. Kita mungkin terbiasa karena memang biasa melakukan, tapi orang lain belum tentu sama.

Kita membutuhkan cermin untuk berkaca, untuk menilai diri, dan kemampuan kita dalam hal itu ditentukan oleh cermin yang jernih, sekaligus kesadaran untuk mau mengakui apa yang kita lihat di cermin. Karena bayangan buruk yang mungkin kita dapati bukan salah cermin, tapi karena kita jarang bercermin... atau selama ini cermin yang kita gunakan sudah terlalu buram.

Jatuh Cinta pada Perempuan yang Ternyata Sudah Punya Pacar

Pertanyaan:

Saya jatuh cinta pada seorang perempuan, teman sekampus. Sejak pertama kali melihat, saya langsung tertarik kepadanya. Namun, sebelum sempat pedekate, saya kemudian tahu ternyata dia sudah punya pacar. Jadi, saya tidak mungkin melanjutkan rencana pedekate. Apa yang harus saya lakukan?

Jawaban:

Yang harus kaulakukan, my friend, adalah bersyukur. Bersyukur karena dia telah punya pacar, dan bersyukur karena rencanamu tidak dilanjutkan. Sepuluh tahun yang akan datang, kau akan memahami yang saya katakan hari ini. Jika belum paham, mungkin dua puluh tahun yang akan datang.

Sabtu, 26 Agustus 2017

Bahasa Cinta

Rasanya kok aneh kalau kami ada di Indonesia,
dan masing-masing bisa berbahasa Indonesia, tapi
berkomunikasi memakai bahasa Inggris.
@noffret


Sebulan sekali, saya datang ke tempat kulakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Sebenarnya, karena hidup sendiri, barang-barang yang saya butuhkan tidak macam-macam—khas kebutuhan orang yang hidup sendiri. Paling-paling berkisar seputar rokok, gula, teh, dan kopi. Tapi karena malas sering keluar rumah hanya untuk beli rokok dan tetek bengek kebutuhan lain, saya pun membeli sekaligus untuk kebutuhan sebulan.

Di tempat kulakan, kadang ada seorang perempuan Tionghoa yang usianya mungkin sebaya dengan saya. Saya tidak tahu namanya, dan dia kadang ada di sana, juga kadang tidak. Mungkin, perempuan itu anggota keluarga si pemilik tempat kulakan—saya tidak tahu pasti. Yang jelas, kalau pas ada di sana, perempuan itu ikut melayani pembeli. Beberapa kali dia juga melayani saya saat datang ke sana.

Suatu hari, saya melihat perempuan Tionghoa tadi melayani ibu-ibu yang berbelanja cukup banyak—mungkin untuk kulakan di warung. Mereka bercakap-cakap, dan tanpa sadar saya memperhatikan mereka. Pasalnya, mereka bercakap-cakap menggunakan bahasa Jawa halus. Ibu-ibu yang berbelanja, maupun perempuan Tionghoa yang melayani, sama-sama menggunakan bahasa Jawa halus.

Saya terpesona.

Bagi yang mungkin belum tahu, ada semacam kasta atau tingkatan dalam bahasa Jawa. Dua di antaranya adalah bahasa Jawa biasa (disebut ngoko), dan bahasa Jawa halus (disebut kromo). Rata-rata orang Jawa bisa berbahasa Jawa, tapi umumnya ngoko (bahasa Jawa biasa). Tidak semua orang Jawa—khususnya yang masih muda atau tinggal di perkotaan—bisa berbahasa Jawa halus. Saya termasuk di antaranya.

Meski tinggal di lingkungan Jawa dan biasa menggunakan bahasa Jawa, saya tidak/belum mampu berbahasa Jawa halus. Ada banyak sekali istilah Jawa halus yang tidak saya tahu, sehingga sering kesulitan jika diminta berbicara menggunakan bahasa Jawa halus. Untuk hal-hal umum mungkin saya tahu, tapi jauh lebih banyak yang tidak/belum saya tahu.

Agar uraian ini tidak membingungkan (khususnya bagi yang tidak berbahasa Jawa), mari gunakan contoh.

“Nasi”, misalnya, dalam bahasa Jawa disebut “sego”. Memang benar, sego adalah bahasa Jawa untuk nasi. Tapi itu bahasa Jawa ngoko. Sementara bahasa Jawa halus untuk nasi adalah “sekul”.

“Makan”, dalam bahasa Jawa disebut “mangan”. Lagi-lagi, itu bahasa Jawa ngoko. Bahasa Jawa halus menyebut “makan” dengan istilah “dahar”.

Karenanya, kalimat “saya makan di rumah” bisa diterjemahkan ke dua bahasa yang sama-sama Jawa. Jika diterjemahkan ke bahasa Jawa ngoko, “aku mangan nang omah.” Sedangkan jika diterjemahkan ke bahasa Jawa halus, “kulo dahar ten griyo.”

Seperti yang disebut tadi, saya kerap kesulitan saat harus berbahasa Jawa halus, karena kurang menguasai. Padahal, dalam adab di masyarakat Jawa, kita harus berbicara menggunakan bahasa Jawa halus kepada orang yang lebih tua, atau kepada orang yang kita hormati. Dalam hal itu, saya terkendala keterbatasan kosakata Jawa halus yang saya kuasai.

Karenanya, saya terpesona melihat perempuan Tionghoa bisa bercakap-cakap menggunakan bahasa Jawa halus, saat melayani ibu-ibu yang berbelanja di tempat kulakan. Perempuan Tionghoa itu berbicara menggunakan bahasa Jawa halus dengan kefasihan sekaligus keluwesan seperti perempuan Jawa sejati.

Menyaksikan kenyataan itu, saya merasa ironis sekaligus malu pada diri sendiri. Kita—atau setidaknya saya—giat belajar bahasa asing, dari bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahasa Jepang, sampai bahasa Swahili. Tetapi, seiring dengan itu, kita—khususnya saya—lupa untuk juga belajar bahasa daerah sendiri. Ngomong Inggris fasih, tapi ngomong bahasa daerah sendiri malah gagu.

Nah, ketika perempuan Tionghoa tadi selesai melayani, dan ibu-ibu yang dilayani juga sudah pergi, saya mendekatinya, dan memberanikan diri bertanya (dalam bahasa Indonesia), “Ci, kalau boleh tahu, di mana belajar bahasa Jawa halus?”

Dia tersenyum, dan menjawab, “Saya lahir di sini, dan lingkungan saya juga orang Jawa. Karena tiap hari berinteraksi dengan mereka, lama-lama ngerti, lah.”

Saya manggut-manggut, tapi sebenarnya masih bingung. Wong saya juga tinggal di lingkungan Jawa, tapi tetap tidak ngerti bahasa Jawa halus. Ketika saya utarakan hal itu, dia menjelaskan, “Kuncinya sih sering-sering mendengarkan, saat mereka bercakap-cakap. Nanti lama-lama kita paham sendiri.”

Saya pun mengingat sarannya. Sejak itu, setiap kali berada di tempat mana pun, dan terdapat orang-orang sedang bercakap—mempercakapkan hal-hal keseharian—misal di warung nasi, di toko, atau di mana pun, dan mereka menggunakan bahasa Jawa halus, saya diam-diam mendengarkan, dengan maksud memahami apa yang mereka percakapkan, hingga saya bisa mengerti maknanya.

Ternyata, saran itu memang manjur. Perlahan namun pasti, kosakata Jawa halus yang saya tahu makin banyak, meski kadang masih bingung saat harus menggunakan dalam ucapan. Itu seperti saat kita belajar bahasa Inggris, atau bahasa asing lain. Mula-mula, kita tahu makna suatu kata, tapi masih bingung saat harus menyusun kalimat menggunakan kata tersebut. Istilah kerennya, kita ngerti vocabulary, tapi belum bisa conversation. Bah!

Dengan kesabaran seorang bocah, saya terus belajar dengan cara rajin mendengarkan saat kebetulan mendapati orang bercakap-cakap menggunakan bahasa Jawa halus. Setelah itu, saya mencoba mempraktikkan yang saya mampu. Mula-mula memang kaku, dan kemampuan saya juga masih terbatas. Tetapi, lama-lama, seperti proses pembelajaran lain, kemampuan saya makin baik. “Rekor” saya untuk hal ini terjadi saat jajan batagor. Saya mampu bercakap-cakap dengan penjual batagor menggunakan bahasa Jawa halus, sampai sekitar 3 menit!

Meski mungkin terdengar konyol, tapi saya senang. Karena, sebelumnya, saya benar-benar tidak mampu. Keberhasilan ngomong Jawa halus selama 3 menit itu pun makin memotivasi saya untuk terus belajar.

Mungkin akan lebih mudah kalau saja ada tempat kursus bahasa Jawa halus, sehingga saya bisa mendaftar ke sana, dan—sim salabim—tiga bulan kemudian saya bisa cas-cis-cus dengan bahasa Jawa halus. Tapi sepertinya tidak ada tempat kursus semacam itu, meski tempat kursus bahasa Inggris dan bahasa asing lain bisa ditemukan di mana pun. Akibatnya, satu-satunya cara bagi saya untuk menguasai bahasa Jawa halus hanya melalui otodidak; mendengarkan orang bercakap-cakap dengan bahasa itu, dan berusaha menyerap maknanya.

Ada manfaat lain yang saya dapatkan dari kebiasaan baru itu—kesenangan mendengarkan orang bercakap-cakap dalam bahasa daerah. Meski semula saya hanya bermaksud belajar bahasa Jawa halus, lama-lama saya juga senang saat mendengarkan orang bercakap-cakap menggunakan bahasa daerah lain. Tanpa saya sadari, ada semacam cinta yang tumbuh perlahan-lahan di hati saya terhadap bahasa daerah.

Di warung sate Madura, misal, penjualnya kadang sepasang suami istri, dan mereka bercakap-cakap menggunakan bahasa Madura. Saya senang mendengarkan mereka bercakap-cakap, meski tidak tahu artinya blas. Entah mereka ngomong apa dan entah artinya apa, saya senang mendengarkan. Meski sama sekali tidak paham yang mereka omongkan.

Di warung Padang juga sama. Kadang penjualnya bercakap-cakap dengan anggota keluarganya, menggunakan bahasa Padang. Saya senang mendengarkan mereka berbicara, menikmati logat dan dialek mereka, meski sama sekali tidak paham mereka bicara apa. Sebenarnya, saya bahkan tidak tahu mereka bicara menggunakan bahasa Padang atau bahasa apa. Pokoknya bukan bahasa Jawa.

Begitu pula saat mendapati orang bercakap-cakap menggunakan bahasa Sunda, saya juga senang mendengarkan, meski kadang tidak tahu arti percakapan mereka. Tidak hanya dalam percakapan, saya bahkan senang membaca sesuatu dalam bahasa Sunda, meski kadang tidak tahu arti yang saya baca. Pokoknya senang. Entah kenapa.

Dalam proses semacam itu, saya seperti belajar bahasa daerah, atau—lebih tepat—belajar mencintai bahasa daerah. Itu sesuatu yang sebelumnya tidak saya kenali. Bahwa negeri ini memiliki begitu banyak bahasa yang berbeda, dengan logat serta dialek yang unik, dan masing-masing memiliki daya tarik sendiri. Bahkan sama-sama di Jawa saja, logat orang Semarang dengan orang Tegal jauh berbeda, meski mereka sama-sama ngomong Jawa.

Tak kenal maka tak sayang, kata pepatah. Mungkin memang benar. Terkait bahasa daerah, kita mungkin tidak (terlalu) mengenali, sehingga kurang bisa melihat daya tariknya. Seperti yang saya alami dulu. Seperti umumnya bocah (yang berusaha) gaul, saya giat belajar bahasa asing, bahkan bela-belain belajar bahasa Jepang, demi bisa memahami percakapan di film JAV. Tapi saya lupa untuk juga belajar bahasa daerah, hingga tidak bisa berbahasa daerah saya sendiri. Itu, kalau dipikir-pikir, seperti kacang lupa kulit. Saya tercerabut dari akar, hingga lupa asal.

Susahnya, mencari tempat kursus bahasa asing sangat mudah, tapi kursus bahasa daerah sepertinya tidak ada. Akibatnya, kita lebih mudah belajar bahasa asing, daripada belajar bahasa daerah. Karenanya pula, bisa jadi di antara kita ada yang fasih berbicara dalam selusin bahasa asing, tapi sama sekali tidak bisa berbahasa daerah sendiri. Jika hal semacam itu terus terjadi, tidak menutup kemungkinan satu per satu bahasa daerah akan punah.

Di Meksiko, misalnya, ada bahasa daerah bernama Ayapaneco. Saat ini, bahasa Ayapaneco dianggap bahasa paling langka di dunia, karena hanya dikuasai dua orang. Langka atau sedikitnya orang yang menguasai bahasa itu karena memang jarang yang menggunakan, khususnya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, perlahan namun pasti, orang-orang yang menguasai bahasa Ayapaneco makin sedikit, hingga tinggal dua orang.

Dua orang yang menguasai bahasa Ayapaneco adalah Isidro Velazquez (69 tahun) dan Manuel Segovia (75 tahun). Dua pria itu bertetangga—jarak rumah mereka sekitar 500 meter. Tetapi, karena perselisihan pribadi, dua pria itu tidak saling berbicara. Akibatnya, bisa dibilang, saat ini sudah tidak ada satu orang pun yang berbicara menggunakan bahasa Ayapaneco.

Jika bahasa daerah di luar sana ada yang punah, selalu ada kemungkinan hal serupa terjadi di tempat kita.

Bocah yang Gemes Sama Mbakyunya

Seorang bocah memeluk dan menguyel-uyel guling dengan gemes, sambil menciumi guling dalam dekapannya.

Karena penasaran, saya pun bertanya, “Kamu ngapain? Kok guling diuyel-uyel gitu?”

Dengan malu-malu, bocah itu menjawab, “Aku tuh gemeeeesssh banget sama mbakyuku. Jadi, tiap ingat dia, aku jadi gemeeeeeesssshh terus.” Lalu dia kembali menguyel-uyel dan menciumi guling dalam dekapannya.

....
....

Saya ingin sekali menjadi bocah itu.
 
Senin, 21 Agustus 2017

Perjalanan dari Masa Lalu

Orang-orang yang mencintai pekerjaannya
tidak menunggu hari libur. Bagi mereka, keasyikan bekerja
jauh lebih menyenangkan daripada liburan.
@noffret


Selepas SMA, saya bekerja di sebuah pabrik batik. Pekerjaan saya di tempat itu adalah menggambar di atas kain sutra. Istilah “menggambar” mungkin kurang tepat, karena yang saya—dan pekerja lain—lakukan adalah “memindahkan gambar dari kertas ke kain”.

Agar kalian bisa membayangkan yang saya maksud, biar saya jelaskan agak detail.

Kain dan baju sutra, untuk pria maupun wanita—yang mungkin kalian kenal, dan dipakai banyak orang—harus melewati proses pembuatan yang rumit, dan melibatkan banyak orang/pekerja.

Pekerja pertama yang terlibat dalam pembuatan batik sutra adalah desainer, yaitu orang yang merancang desain batik. Biasanya, dia akan membuat gambar desain di atas kertas berukuran besar. Di atas kertas itu, dia merancang gambar yang kelak digunakan untuk kain panjang, baju pria, selendang, dan lain-lain.

Setelah pembuatan desain selesai, kertas bergambar desain batik itu diserahkan kepada pekerja lain, yang disebut “tukang sungging”. Saya termasuk dalam pekerja ini, yaitu memindahkan gambar batik dari kertas ke kain sutra. Dalam industri batik, proses pemindahan gambar itu disebut “nyungging”. Karena proses pemindahan gambar (dari kertas ke kain) membutuhkan waktu lama, para pekerja menyiasati dengan menumpuk lima kain sekaligus.

Untuk melakukan pekerjaan yang terdengar rumit itu, mula-mula saya—dan pekerja lain—harus menyiapkan kain-kain sutra yang akan digambar. Masing-masing kain yang putih bersih itu rata-rata berukuran 2,5 meter. Kami bentangkan satu per satu kain sutra di atas tripleks yang rata, lalu melekatkannya dengan paku payung di bagian pinggir. Kain yang dibentangkan itu harus benar-benar terbentang rata—tidak boleh ada yang terlipat sedikit pun.

Setelah satu kain selesai dipasang di atas tripleks, kami menata kertas karbon di atasnya, hingga seluruh bagian kain tertutup kertas karbon. Untuk hal itu, tentu dibutuhkan banyak kertas karbon, karena rata-rata kertas karbon hanya seukuran HVS (biasanya satu pack kertas karbon untuk satu kain).

Setelah kain pertama tertutup kertas karbon sepenuhnya, kain kedua dipasangkan di atasnya. Sekali lagi, selembar kain sutra dibentangkan di atas tripleks, menutupi kain pertama yang telah tertutup kertas karbon. Lagi-lagi, kain itu harus terbentang sempurna, dan kami melekatkan bagian pinggirnya dengan paku-paku payung. Lalu kertas karbon kembali ditata menutupi. Setelah itu, kain ketiga ditumpuk di atasnya, hingga kain keempat.

Kain kelima, atau kain terakhir, diletakkan di atas empat kain sutra di bawahnya. Kali ini, di bawah kain kelima, tidak ada kertas karbon. Sebagai gantinya, kami masukkan kertas desain batik ke bawahnya, dan mulailah pekerjaan kami. Yaitu memindahkan gambar di kertas ke kain sutra.

Di bawah kain sutra yang dibentangkan rata, gambar yang ada di kertas desain tampak jelas. Khususnya bagi orang yang matanya normal (tidak minus), dan pencahayaan yang tersedia juga tepat.

Gambar itulah yang kemudian kami ikuti, menggunakan polpen, hingga di atas kain tercetak gambar yang sesuai atau serupa dengan yang ada di kertas desain. Meski mungkin terdengar mudah, pekerjaan itu membutuhkan kesabaran. Seperti yang dibilang tadi, proses itu butuh waktu lama. Untuk menyelesaikan satu kain saja, kami butuh waktu setidaknya setengah hari. Karena itulah kami menyiasati dengan karbon, agar kain yang selesai digambar bisa banyak sekaligus.

Kemudian, pekerjaan itu juga membutuhkan keluwesan, khususnya keluwesan tangan dan jari-jari. Meski yang kami lakukan hanya menjiplak—mengikuti gambar yang ada di kertas desain—kami harus menjiplak setepat mungkin. Karena gambar batik, yang ada di kertas desain pun umumnya gambar bunga, burung, daun-daun, dan semacamnya. Kami harus mengikuti gambar-gambar itu dengan baik, setepat mungkin, hingga terlihat luwes. Itu penting, karena gambar kamilah yang kelak akan diikuti para tukang batik. Jika gambar kami ancur, hasil akhirnya nanti juga akan ancur.

Pada bagian itulah, banyak orang yang gagal. Kadang ada orang dari bagian lain yang mencoba pekerjaan kami, karena mungkin mengira mudah. Tapi karena tidak luwes, gambar yang dihasilkan tampak kaku. Karenanya, bisa dibilang, menjalani pekerjaan kami membutuhkan bakat seni, dan jari-jari yang luwes.

Nah, setelah kain selesai digambar, proses selanjutnya adalah dibatik. Ada banyak pekerja yang menangani bagian itu—kebanyakan para wanita dari berbagai usia—dan jumlahnya banyak sekali. Para tukang batik itu membatik mengikuti gambar yang tadi kami kerjakan di kain. Jika kami menggunakan polpen, mereka menggunakan canting dan malam (lilin khusus untuk membatik).

Proses membatik menggunakan canting lebih lama lagi. Satu orang biasanya baru selesai membatik satu kain setelah beberapa hari. Selesai dibatik, proses selanjutnya masih panjang, dari satu pekerja ke pekerja lain, hingga akhirnya benar-benar menjadi kain batik sebagaimana yang kalian kenal. Itulah yang kemudian disebut “batik tulis”, dalam arti “batik yang benar-benar dibuat menggunakan tangan”. Satu lembar batik jenis itu membutuhkan proses pembuatan yang panjang, dan melibatkan banyak pekerja.

Tempat kerja saya waktu itu lumayan besar, dengan banyak pekerja. Karena tuntutan pekerjaan, kami sering lembur, demi bisa menghasilkan banyak kain yang akan dibatik. Pasalnya, jumlah pekerja seperti kami sangat sedikit—waktu itu hanya tiga orang—sementara tukang batik jumlahnya ratusan. Karenanya, agar para tukang batik terus mendapatkan kain baru untuk dibatik, kami harus bekerja keras, menghasilkan sebanyak mungkin kain yang siap dibatik.

Jam kerja kami dimulai pukul 08.00 pagi, dan selesai pukul 16.00 sore. Kalau tidak lembur, kami bisa pulang. Kalau lembur, kami tentu tidak pulang. Seusai jam kerja, biasanya kami beli siomay yang suka mangkal di depan pabrik. Setelah menikmati sepiring siomay, dengan segelas teh hangat, dan menghabiskan sebatang rokok, kami pun siap bekerja lembur sampai larut malam nanti.

Rata-rata, setiap kami lembur, pekerjaan dimulai jam lima sore, dan baru selesai jam dua dini hari. Dalam keadaan tertentu—misal desain gambar sangat rumit—kami baru selesai kerja jam tiga pagi. Mungkin terdengar “keras”, dan kenyataannya memang begitu. Kami bekerja sangat keras waktu itu.

Dua orang yang waktu itu bekerja bersama saya, rata-rata seusia—kami sama-sama lulusan SMA. Kami dipertemukan nasib yang sama, dan bertemu di pabrik yang sama. Kebetulan, kami sama-sama suka kerja keras. Jadi, kami suka bekerja lembur, meski harus pulang jam tiga pagi.

Selama waktu-waktu itu, saya hanya tidur sebentar. Pulang dari pabrik, seusai kerja lembur, biasanya saya sudah sangat lelah, dan langsung tertidur begitu sampai rumah. Dua atau tiga jam kemudian, orang tua sudah membangunkan (waktu itu saya masih tinggal di rumah orang tua.) Setelah mandi, sarapan, dan melakukan aktivitas lain yang perlu, saya berangkat kerja, lalu pulang jam tiga dini hari... dan begitu seterusnya.

Itulah hari-hari yang saya lewati, ketika lulus SMA, ketika teman-teman saya mulai menikmati kuliah di kampus entah di mana. Saya tidak punya waktu untuk menonton teve, bermain, keluyuran, apalagi nongkrong tidak jelas. Satu-satunya hiburan yang saya nikmati waktu itu hanya menonton film di bioskop murah, seperti yang pernah saya ceritakan di sini.

Masa-masa itu memang sangat berat, khususnya bagi bocah seusia saya. Saya masih remaja waktu itu, dan harus bekerja 18 jam setiap hari (dari jam 8 pagi sampai jam 3 dini hari), dan hanya tidur 2-3 jam. Siapa pun akan sepakat itu benar-benar berat.

Tetapi, belakangan, saya menyadari... masa-masa berat itulah yang membentuk diri saya selanjutnya, khususnya dalam ketahanan bekerja. Bertahun-tahun kemudian, ketika saya bekerja di rumah sendiri dan tidak ada majikan mana pun yang mengawasi, saya mampu bekerja sehari semalam tanpa henti, dan bisa terus menikmati! Alih-alih tersiksa saat bekerja, saya justru ingin terus bekerja, tak ingin berhenti. Kalian boleh menyebutnya “gila kerja”, tapi saya menyebutnya “mencintai kerja”.

Dalam bayangan saya, itu seperti kau masuk ke gym, dan berlatih membentuk otot tubuhmu. Kau mengambil barbel atau apa pun di sana untuk berlatih, untuk menghancurkan lemak-lemak yang menggumpal di tubuh. Mula-mula, mengangkat barbel dan menjalani latihan akan terasa berat luar biasa, apalagi jika ada instruktur kejam yang mengawasi. Kau akan berlatih sambil misuh-misuh, berkeringat sambil misuh-misuh, kelelahan sambil misuh-misuh. Dan proses yang amat berat itu akan terasa sampai berhari-hari, bahkan bisa jadi berminggu-minggu.

Tetapi, seiring dengan itu, tubuhmu mulai terbiasa. Barbel keparat yang semula terasa sangat berat, kini terasa enteng. Aktivitas misuh-misuhmu mulai berkurang, dan terus berkurang, sampai perlahan—namun pasti—kau mulai menikmati kegiatanmu. Apalagi, seiring latihan yang kaujalani, lemak-lemak tubuhmu terus berkurang, dan kau merasa lebih nyaman. Lenganmu mulai berotot, perutmu mulai rata, dan kau makin giat berlatih. Sesuatu yang semula kaubenci karena sangat berat, kini justru kaunikmati. Pada akhirnya, kau ingin terus berlatih, terus datang ke gym, karena itu menyenangkan.

Kira-kira seperti itulah yang terjadi pada saya. Di awal bekerja keras dulu, saya tentu merasa tersiksa. Bagaimana pun, seperti remaja lain umumnya, saya juga ingin nongkrong bareng teman-teman, ingin asyik keluyuran, bahkan ingin pacaran. Tapi kondisi yang saya hadapi tidak memungkinkan. Jelas, saya membenci yang dulu saya hadapi.

Tetapi, seperti yang dibilang tadi, belakangan saya menyadari, masa-masa berat itu justru membentuk saya untuk memiliki ketahanan luar biasa, khususnya dalam bekerja. Selama menjalani masa-masa itu, saya seperti dipaksa untuk mencintai pekerjaan yang saya hadapi, dan itulah yang kemudian saya lakukan. Meski mula-mula terasa berat, lama-lama saya mencintai yang saya lakukan.

Sekitar satu tahun saya bekerja di pabrik yang saya ceritakan tadi, lalu pindah ke tempat lain. Seperti di tempat kerja yang pertama, saya kembali bekerja gila-gilaan, dari pagi sampai pagi lagi. Kali ini rasanya tidak terlalu berat, karena sudah terbiasa melakukan. Lebih dari itu, saya juga senang, karena dengan kerja gila-gilaan seperti itulah saya bisa menabung, dan mengumpulkan uang.

Well, masa-masa itu telah jauh di masa lalu. Tapi bekasnya masih ada hingga sekarang, dan masih saya nikmati. Yaitu keasyikan dalam bekerja, daya tahan bekerja tanpa henti, dan kemampuan untuk tidak malas-malasan. Itu sesuatu yang sangat berharga, setidaknya bagi saya.

Sekarang, saya bekerja di rumah sendiri, mengerjakan sesuatu yang benar-benar saya cintai, dan... ya, saya selalu senang melakukannya. Meski sendirian dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, saya tidak pernah kesepian. Karena pekerjaan telah menjadi teman terbaik, dan dalam bekerjalah saya bisa melenakan beban pikiran, meninggalkan kehidupan yang makin semrawut, sekaligus melupakan depresi yang sering saya rasakan.

Mencintai dan menikmati pekerjaan, bagi saya, adalah cara menghargai kehidupan.

Poligami

Seorang lelaki berceramah, “Menikahlah, karena menikah akan membuatmu bahagia, dan melancarkan rezeki. Tidak perlu khawatir...”

Saya hanya diam, dan sok manggut-manggut.

Berbulan-bulan kemudian, kami kembali ketemu, dan kembali bercakap-cakap. Di sela percakapan, saya berkata kepadanya, “Kenapa kau tidak berpoligami?”

Dia tertawa sumbang. Lalu menjawab, “Punya istri satu, dan menghidupi dua anak saja, berat dan repotnya luar biasa, apalagi poligami?”

Saya tersenyum. “Lhooh... katanya menikah akan membuatmu bahagia, dan melancarkan rezeki? Kalau menikah dengan satu istri saja sudah membuatmu bahagia dan lancar rezeki, mestinya poligami akan melipatgandakan kebahagiaan dan rezekimu. Tidak perlu khawatir...”

YTMBBJTBTJSJCDTG

Begitu.

Rabu, 16 Agustus 2017

Legenda di Kampung Saya

Bagiku, merdeka adalah belajar dengan baik,
bekerja dengan baik, dan menjalani hidup dengan baik,
tanpa dipaksa atau diperintah siapa pun.
@noffret


Perayaan menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus, sepertinya telah banyak berubah. Setidaknya, yang saya lihat di masa sekarang jauh berbeda dengan yang saya lihat di masa kecil dulu. Entah perubahan ini hanya terjadi di tempat tinggal saya, atau juga terjadi di tempat-tempat lain.

Dulu, waktu saya masih kecil, perayaan Agustusan sangat meriah. Setiap depan gang atau kampung, di masa itu, dihias aneka pertunjukan—bukan hanya sekadar gapura yang dicat seperti sekarang. “Pertunjukan” yang ada di depan kampung itu berupa panggung yang diisi orang-orangan (seperti maneken) yang bisa bergerak-gerak statis, namun menarik ditonton, yang merupakan hasil kreativitas warga setempat. Orang-orang, di tempat saya tinggal, menyebutnya “seketeng”.

Ada kalanya, “orang-orangan” di atas panggung itu diganti orang beneran (benar-benar orang hidup), tapi dirias dan bergerak-gerak statis mirip orang-orangan. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa capeknya mereka yang berperan sebagai orang-orangan di atas panggung, karena harus bergerak-gerak statis terus menerus, dari usai isya sampai tengah malam.

Pertunjukan-pertunjukan di depan gang atau kampung itu digelar serentak pada malam 17 Agustus. Jadi, setiap malam 17 Agustus, jalan raya di mana pun akan penuh sesak oleh ribuan orang yang saling berdesakan untuk melihat aneka pertunjukan, yang dipertontonkan di panggung-panggung depan kampung. Seisi kota benar-benar meriah oleh aneka pertunjukan yang digelar di mana-mana.

Saya menyaksikan peristiwa itu ketika masih kecil, waktu awal SD. Setelah itu, aneka pertunjukan dan keramaian menyambut 17 Agustus perlahan-lahan pudar. Makin tahun, makin sedikit tempat yang membuat pertunjukan di depan kampung, dan semakin surut pula orang-orang yang menonton. Puncaknya, pagelaran meriah itu benar-benar hilang. Sejak itu pula, setiap 17 Agustus, kampung-kampung hanya mengecat atau memperbarui gapura.

Selain aneka pertunjukan di depan kampung, di masa lalu juga ada “karnaval tujuh belasan”, yaitu karnaval akbar yang—kalau tak salah ingat—diadakan setiap 18 Agustus.

Jadi, di waktu saya kecil dulu, setiap 18 Agustus nyaris semua warga kota akan berdatangan ke jalan-jalan utama, tempat karnaval akan berlangsung. Para peserta karnaval berasal dari sekolah-sekolah—TK hingga Perguruan Tinggi—organisasi-organisasi pemerintah maupun swasta, sampai masing-masing kelurahan dan kecamatan.

Masing-masing sekolah, masing-masing organisasi/institusi, maupun masing-masing kelurahan/kecamatan, mempertunjukkan aneka tontonan menarik—meski ada pula yang biasa-biasa saja. Karnaval itu dimulai habis dhuhur (sekitar pukul 13.00 siang), dan selesai menjelang maghrib. Peserta karnaval jumlahnya ribuan, sementara yang menonton jauh lebih banyak. Jadi, siang sampai sore, jalan-jalan utama seperti lautan manusia.

Biasanya, dan hampir bisa dipastikan, karnaval yang panjangnya luar biasa itu diawali oleh pasukan drumband Al-Irsyad. Bagi yang mungkin belum tahu, drumband Al-Irsyad disebut-sebut sebagai pasukan drumband terbaik di Indonesia. Kenyataannya, atraksi drumband mereka benar-benar memukau.

Jadi, ketika dari kejauhan sudah terdengar suara drumband mereka, ribuan orang yang berdiri di pinggir-pinggir jalan pun serentak bersiap menyambut kedatangan karnaval.

Atraksi drumband Al-Irsyad, yang merupakan front terdepan karnaval, biasanya mempertontonkan kehebatan mereka di jalanan, dan orang-orang terpukau. Kumpulan orang berseragam khas dengan aneka alat musik itu sangat tahu bagaimana menyuguhkan atraksi musik drumband yang indah sekaligus mewah, dan semua orang ingin melihat mereka.

Setelah pasukan drumband Al-Irsyad berlalu, di belakangnya ada ratusan rombongan karnaval lain—dari sekolah-sekolah, dari organisasi-organisasi, dari perusahaan-perusahaan, sampai rombongan karnaval dari kampung-kampung yang mewakili kelurahan atau kecamatan. Dalam hal itu, salah satu peserta karnaval yang juga ditunggu banyak orang adalah pasukan “drumband” anak-anak, yang dipimpin seorang lelaki hebat bernama Abdul Matin.

Abdul Matin adalah tokoh legenda di kampung saya. Ketika saya masih kecil dulu, Pak Abdul Matin sudah tergolong sepuh, dan anak-anak—juga orang-orang di kampung kami—biasa memanggil lelaki itu dengan sebutan Pak Dul atau Pak Dul Matin. Yang menjadikan Pak Dul Matin terkenal, bahkan menjadi legenda, karena dia memiliki semangat yang tidak dimiliki kebanyakan orang.

Setiap menjelang Agustusan, Pak Dul Matin mengumpulkan anak-anak kecil di kampung kami, untuk dibentuk menjadi “pasukan drumband”. Ada banyak sekali anak-anak yang tertarik ikut, dan mereka dilatih Pak Dul Matin untuk menyuguhkan atraksi drumband yang menarik.

Yang menarik dari pasukan drumband anak-anak itu bukan drumband-nya, melainkan semangatnya. Semangat dari seorang lelaki tua yang berusaha menularkan semangat di jiwanya kepada anak-anak.

Jadi, berbeda dengan pasukan drumband Al-Irsyad yang mewah dan megah, pasukan drumband Pak Dul Matin sangat sederhana. Pasukan drumband itu tidak dijalankan orang-orang dewasa, melainkan anak-anak. “Alat musik” yang dijadikan instrumen drumband bukan alat-alat mahal dan besar, melainkan kaleng biskuit Kong Guan kotak, yang diikat tali rafia. Sementara alat pemukulnya menggunakan bilah kayu yang berasal dari potongan bambu.

Ada sekitar 20-30-an anak yang biasanya menjadi pasukan drumband Pak Dul Matin, dan mereka berlatih sungguh-sungguh setiap menjelang Agustusan. Dalam pasukan drumband istimewa itu, Pak Dul Matin menjadi mayoret. Tetapi, berbeda dengan mayoret drumband Al-Irsyad yang memegang tongkat mengilap dan mewah, Pak Dul Matin memegang tongkat kayu.

Yang menakjubkan, anak-anak kecil itu—dengan instrumen musik yang sangat sederhana—mampu menghasilkan tetabuhan drumband yang serempak sekaligus enak didengar, seiring dan seirama Pak Dul Matin menggerakkan tongkat kayunya.

Dan pasukan drumband yang mungkin hanya satu-satunya di dunia itu memukau ribuan orang setiap tahun, dalam karnaval Agustusan. Pasukan drumband Pak Dul Matin jelas tidak akan mampu mengalahkan pasukan drumband Al-Irsyad, yang disebut sebagai drumband terbaik di Indonesia. Tetapi... pasukan drumband Al-Irsyad juga tidak akan mampu mengalahkan pasukan drumband Pak Dul Matin, tak peduli sekeras apa pun mereka mencoba.

Yang disuguhkan Pak Dul Matin bersama pasukan kecilnya—yang membawa alat drumband sederhana—bukan hanya atraksi drumband mereka, melainkan semangat yang menyala-nyala. Itu tontonan yang sulit didapatkan di mana pun, sekaligus pemandangan mempesona yang mampu membuat beribu-ribu orang berdesakan di sengat panas di pinggir-pinggir jalan, demi bisa menyaksikan mereka.

Menyaksikan Pak Dul Matin memimpin anak-anak kecil dengan kaleng Kong Ghuan yang dijadikan alat drumband, adalah menyaksikan semangat dari jiwa tua yang tak kalah oleh usia, bahkan mampu menularkannya kepada anak-anak... benih yang kelak menjadi pemimpin di masa dewasa.

....
....

Kini, saat saya menulis catatan ini, Pak Dul Matin sudah lama tiada. Kematian Pak Dul Matin juga menjadi penanda tidak ada lagi drumband anak-anak dengan kaleng Kong Ghuan yang dulu pernah mempesona ribuan orang... sebuah kematian yang membuat kehilangan banyak orang.

Tetapi, sebagaimana legenda lain, nama Pak Dul Matin tetap hidup, selalu disebut-sebut setiap kali Agustus datang, karena—semasa hidupnya dulu—dia telah menunjukkan cara mengisi kemerdekaan, memanfaatkan hidup dan usia, dengan cara yang tak bisa digantikan orang lain.

Ternyata Sama

Menakjubkan, kalau dipikir-pikir, betapa hal-hal yang kita kira berbeda, ternyata sama.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Saya Suka Belajar, tapi Benci Sekolah

Kalau aku jadi Mendikbud, mungkin hal pertama
yang akan kulakukan adalah... membubarkan sekolah.
@noffret


Ribut-ribut soal full day school (FDS), membuat saya teringat pada famili di Bekasi. Anak famili saya sudah SMP, dan bersekolah sampai pukul lima sore. Kenyataan itu saya ketahui cukup lama, jauh sebelum muncul wacana FDS tempo hari. Saya tidak tahu apakah hal itu—sekolah sampai sore—hanya ada di Bekasi, atau juga ada di tempat lain.

Jadi, kalau saya tidak salah tangkap, anak famili saya masuk “kelas luar biasa”. Karenanya, berbeda dengan umumnya anak sekolah lain yang tengah hari sudah pulang, anak famili saya baru pulang sore hari.

Mendengar penjelasan itu, saya sempat nyeletuk, “Kalau aku, sih, mending nggak luar biasa, daripada harus sekolah sampai sore.”

Famili saya menjelaskan, meski sekolah seharian, anaknya menikmati—dalam arti tidak merasa tertekan apalagi tersiksa. Anak famili saya suka sekolah. Karenanya, ketika diminta bersekolah seharian, dia justru senang. Mendengar penuturan itu, saya ikut senang. “Syukurlah kalau begitu,” ujar saya. “Soalnya kasihan kalau anak harus sekolah seharian dengan perasaan tertekan.”

Mungkin anak famili saya tergolong “luar biasa”, hingga masuk “kelas luar biasa” dan menjalani sekolah seharian, dari pagi sampai sore, dan dapat menjalani dengan senang. Terus terang, saya jarang mendapati anak sekolah semacam itu. Kadang, saya bertanya pada keponakan-keponakan yang sudah bersekolah—sebagian dari mereka ada yang SD, ada juga yang SMP—apakah mereka senang bersekolah?

Rata-rata, mereka menjawab tidak. Saya menegaskan, “Kamu lebih suka berangkat sekolah, atau lebih suka libur?”

Jawaban mereka sama; lebih suka libur!

Sejujurnya, saya tidak terkejut mendapati jawaban semacam itu. Wong nyatanya saya juga begitu. Selama menjalani hari-hari sekolah, dari SD sampai SMA, saya menganggap dan merasakan sekolah adalah saat-saat membosankan, dan hari libur adalah waktu yang sangat menyenangkan. Jika ada hal menyenangkan di sekolah, itu adalah kesempatan bertemu teman-teman, bukan duduk di kelas dan mempelajari hal-hal yang tidak saya inginkan!

Jadi, terus terang, saya bosan sekolah, karena nyatanya sekolah adalah kegiatan yang sangat... sangat membosankan. Tetapi, meski nyaris mati karena bosan, saya tidak punya pilihan lain. Karena masyarakat akan menilaimu tidak beradab kalau kau tidak sekolah. Karena orang tuamu bisa marah kalau kau tidak sekolah. Karena dunia akan mencampakkanmu kalau kau tidak sekolah. Sebagai bocah yang masih berseragam sekolah, di hadapan tirani semacam itu, saya bisa apa?

Maka, saya pun menjalani nasib seperti yang dijalani jutaan anak Indonesia di mana pun—bangun pagi setiap hari, memakai seragam yang sama, lalu berangkat sekolah untuk menjalani setengah hari yang sangat membosankan. Dalam hal itu, saya bersyukur karena waktu itu belum ada menteri yang punya rencana mewajibkan anak sekolah sehari penuh. Wong sekolah setengah hari saja sudah tidak karuan rasanya, apalagi sekolah sehari penuh? Saya pikir, itu ide paling mengerikan yang pernah didengar anak sekolah.

Terkait sekolah, ada kebingungan yang sampai saat ini tidak mampu saya pahami. Kebingungan saya sederhana. Yaitu, kenapa rata-rata anak usia sekolah—setidaknya yang saya tahu—mengatakan tidak suka sekolah?

Kalau-kalau ada yang meragukan pernyataan itu, cobalah tanyakan pada adikmu, atau keponakanmu, atau anak tetanggamu, atau siapa pun, apakah mereka suka sekolah... atau tidak? Bahkan, jangan-jangan, kita semua sebenarnya sama-sama tidak suka sekolah. Dulu, kita berangkat sekolah saban hari bukan karena suka, tapi karena terpaksa.

Pertanyaannya, kenapa bisa begitu? Maksud saya, kenapa anak-anak bisa tidak menyukai sekolah?

Di masa sekarang, sekolah mungkin gratis, karena dibiayai pemerintah. (Meski kenyataannya masih ada berbagai iuran dan pungutan yang ujung-ujungnya tidak gratis.) Tetapi, di masa lalu, setidaknya di zaman ketika saya sekolah, setiap bulan saya harus bayar SPP (ampun, saya bahkan tidak ingat apa kepanjangan SPP.)

SPP, apa pun kepanjangannya, adalah iuran yang wajib dibayar setiap siswa sebulan sekali, sebagai semacam “pembayaran karena telah memberi pendidikan”. Untuk dapat membayar SPP, orang tua saya harus bekerja keras dan banting tulang. Jadi, orang tua saya mati-matian berusaha menyekolahkan saya, dan mereka rela melakukan apa pun agar saya bisa sekolah, sementara saya tersiksa setengah mati menjalaninya.

Kalau dipikir-dipikir, itu piye coba?

Kau bekerja mati-matian, peras keringat dan banting tulang, yang hasilnya ditujukan agar anakmu bisa sekolah. Padahal, anakmu sangat benci sekolah, dan terpaksa menjalani, karena itu diwajibkan untuk mereka. Sekali lagi, apakah kenyataan itu bisa diterima akal sehat? Semakin saya memikirkan, semakin saya yakin ada yang salah dalam hal ini.

Sekolah, sebagai penyelanggara pendidikan, mungkin perlu mengadakan semacam survei atau penelitian, untuk mendapatkan jawaban jujur dari murid-murid. Apakah mereka—murid-murid—senang sekolah, atau tidak? Lihat berapa banyak yang mengatakan senang, dan berapa banyak yang mengatakan sebaliknya. Bahkan kalau hasilnya imbang pun, saya akan takjub. Karena, dalam bayangan saya, kemungkinan besar akan lebih banyak yang mengatakan tidak senang daripada yang senang.

Anak-anak tidak senang sekolah, itu sudah jadi rahasia umum!

Di Twitter saja, tagar #BesokSenin sering menjadi trending topic, sebagai bentuk “kejengkelan” karena hari libur akan berakhir. Anak-anak sekolah senang ketika hari libur datang, dan malas—atau bahkan benci—ketika harus kembali bersekolah. Saya memaklumi hal itu, wong saya pun dulu begitu. Omong-omong, saya dulu bahkan sering bolos ke pantai, dan duduk sendirian di pantai jauh lebih menyenangkan daripada duduk di kelas mendengarkan hal-hal membosankan.

Jadi, apa sebenarnya yang terjadi dengan sekolah, dan dunia pendidikan kita? Mengapa anak-anak yang menjadi subjek sekolah justru membencinya? Siapakah sebenarnya yang paling berkepentingan terhadap sekolah? Anak-anak sekolah, ataukah guru-guru dan para pejabat terkait pendidikan? Akhirnya, siapakah yang paling berhak untuk menentukan sistem pendidikan yang akan dijalani anak-anak sekolah?

Selama berpuluh-puluh tahun, orang-orang tahu bahwa bersekolah adalah kegiatan membosankan. Yang saya pikirkan, selama berpuluh-puluh tahun itu, kenapa tidak ada satu orang pun yang mencoba dan berusaha melakukan inovasi sehingga sekolah bisa lebih baik, dan anak-anak sekolah lebih senang menjalani?

Satu per satu menteri pendidikan berganti, yang mereka lakukan bukan menjadikan aktivitas sekolah lebih nyaman dan menyenangkan, tapi justru sebaliknya. Sekolah di zaman saya, meski sulit dan membosankan dan menjengjelkan, sepertinya tidak ada apa-apanya dibandingkan sekolah di zaman sekarang yang jauh lebih sulit dan membosankan dan menjengkelkan. Terakhir, ide full day school atau sekolah seharian. Ya Tuhan, saya bersyukur sudah dewasa, dan tidak harus menjalaninya!

Jika memang menganggap sekolah penting dilakukan, jika kita memaksa anak-anak bersekolah dengan tujuan yang luhur, mestinya kita juga mempersiapkan perangkat dan sistem yang menyenangkan buat mereka... bukan malah sebaliknya! Memaksa anak-anak untuk melakukan sesuatu, tapi mereka tersiksa selama menjalaninya, dan kita memaksa mereka terus melakukan sampai bertahun-tahun... well, saya pikir itu sangat mengerikan.

Sejujurnya, saya suka belajar, bahkan sangat mencintai aktivitas belajar—sejak kecil, sampai dewasa kini. Ketika teman-teman sebaya asyik bermain, saya sudah senang belajar. Ketika teman-teman asyik nongkrong, saya lebih suka belajar. Pendeknya, saya sangat mencintai belajar, dan Tuhan—beserta para malaikat yang suci—menjadi saksi atas kebenaran kata-kata ini. Tetapi, bahkan saya yang sangat mencintai belajar pun, tetap benci sekolah. Itu piye, coba?

Jadi, sekolah itu sebenarnya apa? Waktu untuk belajar, atau untuk apa? Kalau memang sekolah adalah waktu untuk belajar, kenapa saya yang sangat mencintai belajar justru membencinya? Jelas, ada yang salah di sini. Ilustrasi mudahnya, kalau kau suka pizza dan diminta masuk kedai pizza untuk makan pizza sepuasnya, kau pasti akan senang. Kalau tidak senang, artinya ada yang salah.

Pernahkah Menteri Pendidikan—dari zaman dulu sampai sekarang—memikirkan hal sederhana itu? Pernahkah mereka bertanya-tanya, kenapa rata-rata murid sekolah tidak senang bersekolah? Lebih penting lagi, pernahkah mereka berusaha memikirkan cara agar sekolah lebih menyenangkan, sehingga murid-murid lebih senang menjalani? Saya meragukan hal itu. 

Satu per satu Menteri Pendidikan berganti, kurikulum demi kurikulum berubah, sistem pengajaran diperbarui, tapi hasilnya tetap sama. Anak-anak sekolah benci sekolah. Masalahnya, dalam pikiran saya, karena para menteri itu berpikir egois—menggunakan kepalanya sendiri, dan menganggap anak-anak sekolah sekadar sebagai benda yang dapat diperlakukan seenaknya.

Mungkin akan lebih baik kalau para menteri berhenti berpikir macam-macam, terkait pendidikan dan sekolah. Sebagai gantinya, cobalah tanyakan pada murid-murid sekolah, “Bagaimana sekolah yang kalian inginkan, agar kalian rajin sekolah, dan tidak ingin pulang?”

Minta mereka menyebutkan sekolah macam apa yang ingin mereka jalani, kumpulkan semua jawaban dan masukan, lalu susunlah kurikulum berdasarkan jawaban dan masukan tersebut. Itu baru aturan yang fair. Bagaimana pun, subjek terpenting di sekolah adalah murid—bukan guru atau kurikulum.

Kita bisa menyediakan sejuta guru dan kurikulum sehebat apa pun. Tapi kalau murid tidak suka, persetan dengan semuanya.

Jadi, saya pikir, itulah masalah di dunia sekolah Indonesia. Yaitu menganggap kurikulum sebagai berhala, sembari melupakan anak-anak sekolah adalah manusia. Orang-orang dewasa merancang sistem untuk anak-anak sekolah, tapi anak-anak sekolah tidak pernah didengar apalagi diminta masukannya. Menteri pendidikan berpikir apa yang terbaik baginya, tapi mungkin lupa memikirkan apa yang terbaik menurut anak sekolah. Sebentuk kekacauan yang benar-benar bermasalah.

Sampai hari ini, saya masih suka belajar. Dan sampai hari ini, saya masih benci sekolah.

 
;