Minggu, 10 Desember 2017

Santorini, Suatu Hari

Όπως και τον άνεμο, πετούν και εξαφανίζονται, αφήνοντας
ένα σωρό από λαχτάρα. Αναρωτιέμαι πού είναι τώρα.
@noffret


Dering lembut ponsel membangunkan tidurnya, dan ia mendapati nama yang sudah tak asing. Ia menerima panggilan itu, dan berbisik, “Ya?”

Terdengar suara seseorang di ponsel, “Ada paket untukmu di Drei Löwen.”

Waktu itu ia ada di München, dan Drei Löwen adalah nama hotel dengan bangunan bergaya kuno, hanya tiga blok dari tempatnya berada. “Kau tahu di mana aku berada.”

“Tentu saja kami tahu di mana kau berada. Itulah guna satelit.”

Seusai mencuci wajah dan menikmati sarapan serta menghabiskan sebatang rokok, ia pergi ke Hotel Drei Löwen, dan mendatangi front desk.

Seorang wanita menyambut ramah, “Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya mau mengambil paket yang dititipkan ke sini.”

Wanita itu mengangguk. “Nama Anda, Sir?”

“Danis, Ma’am. Valentino Danis.”

Selama beberapa saat, wanita di front desk memeriksa tumpukan surat, juga beberapa bungkusan paket. “Ah, ini dia.” Lalu, dengan senyum profesional, ia berkata sambil mengangsurkan sebuah paket yang terbungkus rapi dalam kertas cokelat, “Mr. Valentino Danis.”

Valentino Danis menerima bungkusan itu, dan mengucap terima kasih.

Paket itu berisi beberapa dokumen untuk perjalanan ke Santorini, Yunani, dan beberapa kebutuhan yang diperlukan terkait perjalanan ke sana. Tiketnya memberitahu harus berangkat dengan pesawat pertama.

Dia mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, dan tiga jam kemudian terbang ke Santorini. Hanya ada satu urusan yang perlu ia bereskan di sana, dan hanya ada satu nama—Konstantinos Grivas.

....
....

Bandara internasional Santorini tidak terlalu ramai, saat Valentino Danis melangkah keluar dari pesawat. Bandara itu hanya menangani enam pesawat komersial, dengan landas pacu yang pendek—jauh lebih kecil dibanding bandara-bandara lain yang pernah ia singgahi. Ini kota kecil, pikirnya sambil terus melangkah.

Santorini memiliki luas 73 kilometer persegi, dengan populasi hanya belasan ribu jiwa. Meski begitu, Santorini memiliki nilai sejarah panjang, sekaligus keindahan yang seperti keluar dari lukisan. Banyak pasangan pengantin datang ke tempat itu untuk berbulan madu, dan diam-diam Valentino Danis tersenyum sendiri membayangkan ironi yang dihadapinya.

Waktu itu Santorini agak panas. Ia menengok jam di tangan, dan mendapati masih punya waktu beberapa jam ke depan sebelum bertemu Konstantinos Grivas. Ia menghentikan taksi, dan meminta diantar ke hotel terdekat.

“Sendirian, Sir?” sapa sopir taksi.

“Seperti yang Anda lihat.”

Saat kendaraan mulai melaju, sopir taksi berujar, “Pertama kali datang ke sini?”

“Yeah.”

“Anda harus melihat semua keindahan di sini. Tuhan sepertinya sedang tersenyum saat menciptakan Santorini.”

Sayang sekali aku tak bisa, pikir Valentino Danis. Ia datang ke sana hanya untuk satu tujuan, dan ia telah menghafal semua hal terkait yang harus ia lakukan. Meteorcafe—tempat pertemuan, sore hari. Konstantinos Grivas—orang yang harus ditemui, beserta ciri-cirinya. Dan apa saja yang akan mereka bicarakan. Setelah itu, ia harus segera meninggalkan tempat ini.

Taksi berhenti di depan sebuah hotel mungil yang cantik. Valentino Danis melangkah ke dalamnya, dan memutuskan untuk istirahat sebentar, sebelum melaksanakan pekerjaannya, nanti sore.

....
....

Sore di Santorini mirip bayang nostalgia yang pernah hinggap di hidupmu, yang perlahan mengabur. Melangkah sendirian, sambil menikmati pemandangan, Valentino Danis takjub menyaksikan bangunan-bangunan di sekelilingnya—perpaduan biru putih yang sangat indah—dengan hamparan bunga di sekeliling. Dia telah melihat keindahan itu di lukisan, juga di video. Tapi ketakjubannya tak juga hilang saat kini melihatnya langsung.

Meteorcafe ada di kawasan Ploiarxon, Santorini. Sebuah kafe yang luas, namun tenang juga hening, dan biasa dijadikan tempat pertemuan pribadi. Di tempat itu pula ia akan menemui Konstantinos Grivas. Ia telah diberitahu, Konstantinos Grivas akan stand by di Meteorcafe, di sebuah meja yang telah disiapkan.

Memasuki pintu Meteorcafe, Valentino Danis berhenti sejenak, mengedarkan pandangan ke ruangan kafe yang luas. Ada cukup banyak orang di sana—sebagian berpasangan, sebagian lain sendirian—dan ia mendapati seorang lelaki tua sedang duduk sendirian, dekat dinding, dengan segelas minuman di meja. Ia tahu, lelaki itulah yang harus ditemuinya. Jadi, dia pun melangkah mendekati meja si lelaki.

“Mr. Konstantinos Grivas?” sapa Valentino Danis.

Konstantinos Grivas menatap sosok di depannya, dan tampak ragu. “Ya?”

“Sir. Saya Valentino Danis, orang yang dijanjikan menemui Anda di sini.”

“Saya tidak diberitahu kalau Anda... masih muda.”

“Saya harap Anda tidak keberatan.”

Mereka duduk berhadapan. Seorang pelayan datang, dan menanyakan apa yang bisa dibawakannya.

“Saya diberitahu teh di sini sangat enak,” ujar Valentino Danis pada si pelayan. “Anda tidak keberatan membawakannya?”

Si pelayan mengangguk dengan anggun. “Dengan senang hati, Sir.”

Beberapa saat setelah menyesap teh, Valentino Danis menatap Konstantinos Grivas, dan berkata, “So, Mr. Grivas. Saya sudah di sini sekarang, dan siap mendengarkan Anda berbicara.”

Konstantinos Grivas berusia 60-an, berkepala bulat, dengan rambut yang mulai menipis, dan berhidung bengkok khas Yunani. Ia menyesap minumannya sesaat, kemudian berkata perlahan-lahan, “Jika saya sudah menyampaikan semua yang saya tahu, Mr. Danis, apa yang akan Anda lakukan?”

Valentino Danis menjawab, “Saya akan menuliskan semua penjelasan Anda dalam sebuah dokumen, yang akan menjadi dasar bagi tempat saya bekerja untuk melakukan investigasi. Keterangan Anda akan menjadi pijakan kami untuk mulai bekerja, sehingga kami tahu siapa yang harus ditemui, apa yang harus digali, dan semacam itu.”

Konstantinos Grivas menatap lawan bicaranya, dan berbisik, “Apakah nama saya akan disebut?”

“Itu tergantung keinginan Anda. Jika Anda ingin nama Anda disebut, kami akan menyebut nama Anda. Jika tidak, kami juga tidak akan menyebut nama Anda.”

“Saya tidak ingin nama saya muncul di koran mana pun.”

“Kalau begitu, Anda bisa yakin tak akan menemukan nama Anda di koran mana pun.”

Mereka terdiam sesaat, menyesap minuman masing-masing, lalu Valentino Danis berkata perlahan, “Bisa kita mulai?”

Konstantinos Grivas mengangguk, meski tampak ragu. “Anda tidak menyiapkan alat tulis, atau perekam?”

Valentino Danis tersenyum. “Mr. Grivas, alasan mengapa saya yang dikirim menemui Anda, karena saya bisa mengingat apa pun yang Anda katakan, tanpa harus menulis apa pun, dan tanpa ada rekaman apa pun. Anda bisa berbicara sepanjang yang Anda mau, dan saya akan mengingat semuanya. Jika saya keluar dari tempat ini dan seseorang menembak kepala saya, tidak akan ada barang bukti apa pun yang bisa diambil dari saya. Apakah ini terdengar sempurna bagi Anda?”

Sekarang Konstantinos Grivas tampak puas. “I see,” ujarnya perlahan.

Setelah itu, percakapan dimulai. Konstantinos Grivas memaparkan banyak hal, fakta-fakta yang ingin ia ungkapkan pada dunia. Valentino Danis mendengarkan, sesekali menanyakan sesuatu untuk memperjelas keterangan, dan Konstantinos Grivas menjelaskan. Empat jam mereka berbicara secara intens, sampai kemudian Konstantinos Grivas menyatakan telah mengungkapkan semua yang ingin ia katakan.

Valentino Danis mengangguk, memahami lonceng perpisahan telah dibunyikan.

Sesaat sebelum mereka berpisah, Konstantinos Grivas berkata, “Mr. Danis...”

Valentino Danis, yang telah berdiri, menyahut, “Sir?”

“Stay alive,” bisik Konstantinos Grivas.

“I will.”

....
....

Seharusnya, dia segera meninggalkan Santorini, begitu tugasnya selesai. Itu telah menjadi standar operasional prosedur yang selalu diingatnya—“kau masuk, lakukan tugasmu, dan segera keluar.” Informasi yang ada di kepalanya harus diselamatkan secepat mungkin, untuk segera ditindaklanjuti. Tetapi, kali ini, Valentino Danis seperti lupa standar itu. Keindahan Santorini begitu menggoda, dan ia ingin berlama-lama.

Malam itu, saat melangkah di kawasan Ploiarxon, dia seperti ingin berjalan sepelan mungkin, agar pemandangan indah di sekelilingnya tak segera usai. Ploiarxon malam hari begitu eksotik—lampu-lampu jalan menyala, taman indah di mana-mana, sementara pasangan-pasangan yang sedang mabuk cinta tampak bergandeng mesra. Aku seperti “tersesat”, pikirnya.

Ketika langkahnya sampai di sebuah taman sepi yang indah, Valentino Danis tak mampu menahan diri. Dia membelok, dan masuk ke taman, lalu duduk di salah satu bangku di sana.

Angin malam begitu lembut, dan dia menikmati sendirian. Pikirannya berkabut, membayangkan perjalanan demi perjalanan yang telah ia lakukan, negara demi negara yang ia masuki, dan kemudian ia menatap diri sendiri, merasa batinnya begitu letih. “Sudah saatnya aku pulang,” renungnya. “Aku telah jauh berjalan, terlalu lama melangkah sendirian, sudah saatnya aku pulang.”

Angannya melayang pada seseorang yang ia tinggalkan begitu jauh... dan tiba-tiba ia terkenang pada percakapan dan janjinya. Sudah cukup lama mereka tak bertemu, dan sekarang dia begitu rindu.

“Aku harus pulang,” pikirnya, “dan memulai kehidupan baru sebagai orang normal. Aku memiliki kekasih, dan kami akan menikah.”

Larut malam di Santorini bisa membuatmu larut dalam khayal.

....
....

Tiga minggu kemudian, Valentino Danis duduk berhadapan dengan Jessica Hawtorn di tempat lain, di negara lain.

“Kenapa lama sekali?” tanya Jessica Hawtorn. Ia wanita berusia 37 tahun, dengan ekspresi datar, yang mengesankan tak peduli kalau besok kiamat datang.

“Sorry.” Valentino Danis mengangsurkan bungkusan cokelat cukup tebal di meja, dan berkata, “Aku sudah menuliskan semuanya di situ.”

Jessica Hawtorn menatap bungkusan dokumen di depannya, dan mengangguk. Ia memahami, dokumen itu berisi catatan mengenai pertemuan di Santorini. Kemudian, dengan nada berat, ia mengatakan, “Aku sudah menerima surat pengunduran dirimu. Kau mau menjelaskan?”

Dengan ragu, Valentino Danis menyahut, “Aku merasa... sudah saatnya berhenti, dan menjalani kehidupan biasa, seperti orang-orang lain. Tinggal di rumah, kau tahu, dan beraktivitas layaknya orang-orang normal.”

“Biar kutebak,” ujar Jessica Hawtorn, dengan ekspresi datar, “kau punya pacar?”

“Aku tidak tahu kau seorang cenayang. Tapi, ya, aku punya pacar.”

Kali ini, Jessica Hawtorn tersenyum. “Jadi, kau punya pacar, dan kalian saling jatuh cinta, berangan menjalani kehidupan seperti orang-orang normal. Dan punya anak-anak, kalau boleh kutambahkan. Tapi biar kuberitahu, itu hanya akan menjadi khayalan.”

“Bagaimana kau tahu?”

“Tidak setiap orang ditakdirkan menjalani kehidupan seperti itu. Beberapa orang, sepertimu, ditakdirkan menjalani kehidupan yang berbeda dengan orang-orang lain. Aku tahu tentang itu, karena orang-orang sebelum dirimu juga mengalami hal serupa. Mereka menemukan pacar, memutuskan untuk menjalani kehidupan sebagai orang biasa, tapi kemudian menemukan bahwa itu bukan hidup yang mereka inginkan. Dan, omong-omong, apa yang akan kaulakukan? Bekerja di kantor?”

“Mungkin aku akan bekerja di rumah.”

Jessica Hawtorn kembali tersenyum. “Kedengarannya menjanjikan. Dan kau akan menikmati kebersamaan dengan orang yang kaucintai, melahirkan anak-anak, melihat mereka tumbuh besar. Ya, well, apa yang salah dengan itu?”

“Aku seperti mendengar nada ironi.”

Sambil menatap lawan bicaranya, Jessica Hawtorn berkata perlahan-lahan, “Kau tentu berhak memutuskan hidupmu sendiri—kehidupan yang akan kaujalani. Dan aku juga tidak berhak menghalangi keinginanmu. Tetapi, aku ingin kau tahu, kau memiliki hal-hal yang kami butuhkan, dan kami pasti akan kesulitan mencari penggantimu. Tapi, bagaimana pun, kami tidak bisa menghalangi keinginanmu untuk mengundurkan diri.”

Valentino Danis bertanya sambil menahan senyum, “Kau akan datang ke pesta pernikahanku?”

Jessica Hawtorn membalas senyum tertahan itu. “Aku percaya itu tak akan terjadi.”

....
....

Beberapa orang mungkin bisa menjadi cenayang karena kebiasaan, atau karena selalu mengulang peristiwa yang sama, hingga terbiasa. Seperti Jessica Hawtorn. Dia bukan cenayang, tentu saja, tapi dia telah terbiasa mengulang hal serupa, hingga hafal di luar kepala. Termasuk tentang pernikahan yang tak akan terjadi.

Valentino Danis membuktikannya. Menjadi orang normal, tampaknya, memang bukan takdir setiap orang.

 
;