Tampilkan postingan dengan label Studitainment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Studitainment. Tampilkan semua postingan
Selasa, 01 September 2026

Film Pernikahan Terbaik

"Aku mencintaimu. Tapi yang kita lakukan adalah saling membenci, dan saling berusaha mengendalikan, dan saling menyakiti," kata si pria.

Dan si wanita menjawab, "Itulah pernikahan."

Itu dialog dalam Gone Girl, salah satu "film pernikahan" terbaik yang pernah kusaksikan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2019.

Senin, 01 Juni 2026

Sejak Kapan?

[Konteks: Ocehan ini terkait kasus pembunuhan yang pernah menggemparkan Indonesia, sekian waktu lalu.]

Ingin sekali meminjam optimisme Kurawa, dan berharap “kasus ini akan terungkap seterang-terangnya”. Tetapi, sayang, optimisme saja kadang tidak cukup. Kita akan menghadapi dinding tebal.

Bagaimana melihat dan memahami kasus yang rumit dan tak masuk akal? 

Ada cara yang sederhana. Singkirkan semua narasi, cerita, dan susunan latar yang tak masuk akal... lalu lihat dan perhatikan sisanya. 

Sambil nunggu udud habis...

Sambil nunggu udud habis, aku teringat salah satu film yang dibintangi Bruce Willis, A Good Day to Die Hard. 

John McClane (Bruce Willis) pergi ke Moskow untuk menemui putranya, Jack McClane (Jai Courtney). Mereka lalu bersua tanpa sengaja dalam sebuah petualangan gila.

Jack, sang anak, ternyata telah menjadi agen CIA, dan waktu itu sedang dalam misi penyelamatan seorang ilmuwan di sana. Jack bertemu John, ayahnya, di tengah jalan, ketika sedang kejar-kejaran mobil dengan musuh yang tidak ia pahami. Ayah dan anak itu lalu saling membantu.

Tak jauh beda dengan anaknya, John McClane bekerja sebagai polisi LAPD, tapi telah pensiun. Dan John, dengan segala pengalamannya, lebih matang dalam menghadapi masalah yang mereka hadapi. 

Sampai mereka akhirnya tiba di suatu plot twist yang benar-benar mengejutkan Jack, si anak.

Jack mendapat misi rahasia CIA untuk menyelamatkan seorang pria, dan membawanya keluar dari Rusia, karena diincar para penjahat di sana. Tetapi, ternyata, pria yang ia selamatkan itulah penjahat sesungguhnya. 

Ketika akhirnya menyadari apa yang telah terjadi, Jack ternganga.

Dalam keterkejutan, setelah memahami inti masalah yang dihadapinya, Jack berkata dengan nada tak percaya, “Jadi, semua ini soal uang?” 

Dan ayahnya menjawab, “Sejak kapan semua ini bukan soal uang?”


*) Dikutip dari timeline @noffret, 21 Juli 2022.

Jumat, 01 Mei 2026

O Menjadi A

“What doesn’t kill you, makes you stranger.” —Joker.

Hanya dengan mengubah “o” menjadi “a”, Nolan membuktikan dirinya memang genius.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Desember 2012.

Senin, 19 Januari 2026

Can't Stop Now

The Hitman's Bodyguard adalah film aksi-komedi yang benar-benar gila. Bolak-balik nonton, tetap cekikikan sendiri. Soundtrack-nya juga cakep. Ini salah satunya.

In my life there's been heartache and pain
I don't know if I can face it again
Can't stop now, I've traveled so far
To change this lonely life

—Foreigner


‏*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Januari 2019.

Jumat, 01 Agustus 2025

Menginginkan dan Kehilangan

Suka sekali nonton Wonder Woman 1984, dan melihat perjumpaan kembali Diana dengan Steve. Menyaksikan adegan mereka berdua, rasanya seperti melihat bocah dan mbakyunya. Inti ceritanya juga menggelisahkan; kau menginginkan sesuatu, kau kehilangan sesuatu.

Hidup tampaknya memang pertukaran antara keinginan dan kehilangan, karena kita tidak mungkin mendapatkan semuanya—atau bisa? Entahlah. Yang kutahu memang kita harus memilih; mendapatkan sesuatu, atau kehilangan sesuatu. Karena hidup adalah soal pilihan.

Betapa aneh hidup, kalau dipikir-pikir. Kita menginginkan sesuatu karena menyukainya, dan seiring dengan itu juga kehilangan sesuatu—entah sadar atau tidak. Dan ketika sadar, kita kembali menginginkan milik kita, dan rela kehilangan sesuatu yang kita suka. 

“Semua ada harganya,” kata Wonder Woman. Dia benar, tentu saja. 

Selasa, 10 Juni 2025

Zamani di HRC

Tempo hari di Hard Rock Cafe Singapura, Zamani bernyanyi riang, setelah bangkit dari patah hati yang nyaris membunuhnya. Dia membuktikan waktu memang menyembuhkan luka hati, dan orang bisa terlahir kembali.

Bagi yang tak tahu siapa Zamani, lihat di sini » http://bit.ly/2cCh0Mj 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 April 2019.

Selasa, 20 Mei 2025

Usia Memang Kejam

Pernah nemu klip lama film Steven Seagal di YouTube, zaman dia masih ramping, jauh banget dengan yang sekarang.

Mengingat bahwa dia aktor film action terkenal, agak mengherankan melihat dia jadi buncit kayak sekarang. Rata-rata aktor lain, yang sama-sama menua, masih tetap ramping, dengan perut yang tetap rata. Sementara Seagal sudah kesulitan berlari, akibat berat badannya. 

Kalau kita lihat film-film Seagal yang sekarang, semua adegan dia saat berlari—misal saat mengejar penjahat—akan dipotong (dihilangkan). Pernah ada satu film yang sempat memperlihatkan dia berlari, dan tampak jelas kalau Seagal kini kesulitan berlari akibat berat badan.

Usia memang kejam, kalau dipikir-pikir. Ia “merusak” wujud kita... perlahan-lahan... sebegitu perlahan, hingga kita sering tidak menyadari. Bahkan Steven Seagal, sang master beladiri—yang bisa menjatuhkan lawan tarung hanya dalam sedetik—juga akhirnya kalah oleh usia.  

Sabtu, 01 Februari 2025

Konsistensi Tingkat Wali

Deddy Dores adalah musisi yang sangat istiqamah. Meski referensi musiknya sangat luas, dia tetap menggunakan melodi yang sama untuk lagu-lagu yang diciptakannya, hingga nada yang terdengar identik dengannya. Konsistensi tingkat wali.

Ahmad Dhani terkenal sebagai musisi hebat. Begitu pula Iwan Fals, Ariel, dan musisi-musisi top lain. Tapi kalau mereka menciptakan lagu dan dinyanyikan orang lain, belum tentu kita tahu itu lagu ciptaan mereka. Karena masing-masing lagu memiliki nada/melodi yang berbeda.

Dalam hal itu, Deddy Dores lebih “unggul”. Jika dia menciptakan lagu, dan dinyanyikan sendiri atau orang lain, rata-rata penggemar musik akan tahu, “Itu pasti lagu Deddy Dores!” Karena dia selalu menggunakan nada yang sama, melodi yang sama, komposisi musik yang sama.

Meski lagu-lagunya dianggap “cengeng”, tapi kita tidak bisa menyangkal dia seorang genius. Karena mungkin hanya Deddy Dores satu-satunya musisi di Indonesia yang mampu menghasilkan lebih dari seribu lagu dengan menggunakan nada yang sama, dan lagu-lagunya selalu laris!

Minggu, 01 Desember 2024

Lagi Kaget

Lagi kaget. Film terbaru Russell Crowe, The Exorcism, ratingnya cuma 4,4. Film terbaru Aaron Eckhart, Chief of Station, ratingnya cuma 4,7. Gara-gara rating serendah itu, aku gak nonton, padahal mereka dua aktor favoritku. Rating 5 aja udah sangat minimal untuk ukuran mereka.

Sepertinya mereka mengikuti “jejak” Bruce Willis. Makin berumur, kualitas filmnya makin turun. Begitu pula Van Damme, yang filmya makin “lucu”. Dan sebelum mereka ada Steven Seagal. Kayaknya, yang kualitas filmnya masih terjaga seiring usia aktor makin tua hanyalah Liam Neeson. Separah apapun, ratingnya masih 5 ke atas.

Minggu, 10 November 2024

Tuntutan Skenario

Dalam film Romeo and Juliet, Claire Danes dan Leonardo DiCaprio (dua pemeran utamanya) tidak akur di lokasi syuting. Mereka hanya bersama dan bercakap-cakap [bahkan tampak mesra] selama proses syuting, karena tuntutan skenario, dan setelah itu saling menghindari. 

Lucy Liu dan Bill Murray terlibat syuting bersama dalam film Charlie's Angels, dan mereka saling tidak menyukai, bahkan sampai tahap bermusuhan. Belakangan, Bill Murray bahkan sangat senang ketika dia digantikan Bernie Mac di film kedua... demi tidak bertemu Lucy Liu.

Serial X-Files, yang sangat terkenal, dibintangi dua sosok yang pasti telah dihafal para penontonnya; Gillian Anderson dan David Duchovny. Di film, mereka tampak akrab dan baik-baik saja, tapi sebenarnya saling membenci. Di luar urusan syuting, mereka saling menghindari.

Anthony Daniels dan Kenny Baker terlibat dalam syuting Star Wars: A New Hope, tapi keduanya saling menghindari. Saat break syuting, mereka saling menjauh, dan tidak pernah terlihat saling menyapa, apalagi lebih dari itu. Permusuhan mereka bahkan populer di Hollywood.

Akhirnya, dalam waralaba Fast & Furious, Vin Diesel dan Dwayne Johnson juga saling tidak menyukai. Ini penjelasan selengkapnya: Mungkinkah Ada Orang Tak Disukai Justru karena Baik?

Sabtu, 01 Juni 2024

Pencipta dan Ciptaannya

Dalam Avengers: Age of Ultron, Tony Stark menciptakan Ultron yang ia pikir akan dapat digunakannya untuk melindungi dunia dari [kemungkinan] kehancuran. Itu ide radikal dalam ilmu pengetahuan, dan teman-temannya menentang, karena sangat riskan juga terlalu berbahaya.

Tapi Tony Stark tidak peduli, dan Ultron akhirnya benar-benar terwujud. Seperti yang dikhawatirkan bocah-bocah Avengers, Ultron terlalu berbahaya, dan akhirnya bahaya itu benar-benar datang. Ultron mengkloning diri serta pikirannya, lalu menjelma jadi pasukan robot mematikan.

Ironis, bagaimana entitas robot yang diciptakan berbalik menyerang penciptanya, dan sang pencipta harus berdarah-darah dalam upaya menundukkannya. Satu negara, Sokovia, rusak parah akibat peperangan brutal Tony Stark bersama Avengers, melawan ambisi Ultron dan pasukannya. 

Yang lebih ironis, Avengers tidak mampu mengalahkan Ultron, sampai akhirnya menciptakan entitas lain dengan unsur berbeda—Vision. 

Tanpa bantuan Vision, mungkinkah Avengers mampu mengalahkan Ultron? Sepertinya tidak, karena nyatanya Visionlah yang “mengakhiri segalanya”.

Senin, 20 Mei 2024

Merindukan Spider-Man yang Dulu

Ini mungkin pendapat tidak populer (unpopular opinion) terkait Spider-Man. Aku nyaman melihat Spider-Man diperankan Tobey Maguire. Aku juga nyaman melihat Spider-Man diperankan Andrew Garfield. Tapi aku tidak nyaman melihat Spider-Man diperankan Tom Holland.

Spider-Man sudah terkenal sebagai “superhero paling manusiawi”. Dia hidup sederhana, dengan penampilan bersahaja, terkesan introver, sering canggung saat berinteraksi dengan orang asing—termasuk dengan wanita yang dicintainya—ciri-ciri umum sebagian besar kita; orang biasa.

Itulah sesuatu yang dimiliki Spider-Man, yang tidak dimiliki rata-rata superhero lain, sehingga dia lekat dengan sebutan “superhero paling manusiawi”. Dia tak punya orang tua, tinggal bersama paman-bibinya yang relatif miskin, suka belajar, dan berusaha hidup normal seperti orang lain.

Saat diperankan Tobey Maguire atau Andrew Garfield, Spider-Man memiliki karakter aslinya semacam itu, dan sosoknya mampu menyentuh hati terdalam kita. Peter Parker, di balik jubah Spider-Man, seperti memberi tahu kita, “Aku sepertimu, hidup kita sama, dan kamu juga bisa sepertiku.”

Spider-Man—yang diperankan Tobey Maguire atau Andrew Garfield—menghangatkan hati kita, menarik jiwa kanak-kanak dalam diri kita untuk kuat, optimis, dan tetap menjadi orang baik meski hidup sederhana. Dia pahlawan dalam arti sesungguhnya, hingga jutaan orang mencintainya.

Tapi semua kesan itu lenyap ketika Spider-Man diperankan Tom Holland—atau, setidaknya, aku merasa begitu. Sebagai penggemar Spider-Man, aku merasa tidak mengenali Peter Parker yang diperankan dia, aku merasa asing dengan Spider-Man yang diperankan dia. Semuanya berbeda.

Semua perbedaan itu, bisa jadi, karena Spider-Man versi Tom Holland telah diplot sejak awal untuk bergabung dengan semesta Avengers. Akibatnya, Spider-Man harus “disesuaikan” dengan para superhero lain di Avengers, meski untuk itu sama artinya membuang ciri-ciri dan kepribadian asli sang superhero. 

Spider-Man versi asli adalah Spider-Man penyendiri.

Itu ciri penting yang hilang dari tokoh Spider-Man, ketika diperankan Tom Holland—superhero yang soliter, berubah jadi superhero dalam kawanan. Hal itu masih “diperparah” dengan sentuhan magis Tony Stark, yang menjadikan Spider-Man nyaris tak terkalahkan. How ironic! 

Hanya Spider-Man versi Tom Holland yang memiliki kekuatan ajaib dari kostum yang dikenakannya, karena kostum itu dirancang Tony Stark. Dengan kostum yang “ajaib”—penuh senjata tersembunyi—Spider-Man jadi semacam Iron Man. Dia tidak lagi memiliki sisi manusiawi.

Padahal, yang menjadikan kita merasa dekat dengan Spider-Man, karena dia begitu manusiawi. Meski sangat kuat karena memiliki kekuatan super, dia tetap bisa jatuh, terluka, dan butuh pertolongan orang lain. Semua “keindahan manusiawi” itu lenyap saat diperankan Tom Holland.

Dalam Spider-Man versi Tobey Maguire, jutaan orang menangis saat melihat dia pingsan setelah berusaha menghentikan kereta api yang melaju tak terkendali. Lalu tangan-tangan orang lain berusaha memeganginya, agar dia tak terjatuh, lalu menggotongnya, menunggu dia sadar dari pingsannya.

Dalam Spider-Man versi Andrew Garfield, sekali lagi jutaan orang menangis saat melihatnya terjatuh saat berusaha naik gedung tinggi, karena kakinya terluka. Lalu dia berlari terpincang-pincang, di atas puncak gedung, dan kembali terjatuh... lalu tangan-tangan orang lain menolongnya.

Sayangnya, adegan-adegan ajaib yang manusiawi semacam itu tak ada lagi dalam Spider-Man versi Tom Holland. Dengan kostum ajaib buatan Tony Stark, Spider-Man versi Tom Holland sudah terlalu kuat, hingga tak mungkin kalah, tak mungkin terluka, dan tak butuh pertolongan orang lain.

Aku merindukan Spider-Man yang dulu, yang “mirip denganku”.

Sabtu, 20 April 2024

Infinity Stones dan Utopia

Kerusakan bumi, polusi udara, rusaknya habitat, aneka wabah, sempitnya lapangan kerja, kelaparan, pengangguran, kebodohan, kehidupan yang makin berat—intinya semua masalah di dunia—bisa diselesaikan dengan sederhana.

Kumpulkan Infinity Stones, dan lakukan yang harus kaulakukan.

Infinity Stones terdiri dari enam elemen, yaitu Ruang (Space), Realitas (Reality), Kekuatan (Power), Jiwa (Soul), Pikiran (Mind), dan Waktu (Time).

Saat enam batu dengan kekuatan masing-masing itu dikumpulkan, keajaiban terjadi. Bagaimana kalau batu-batu itu kumpulan manusia?

Apa yang sekiranya akan terjadi jika ada sekumpulan manusia yang memiliki kemampuan luar biasa seperti Infinity Stones—kau bisa membayangkan analogi kekuatan mereka masing-masing—dan berpikir seperti Thanos?

Benar sekali, bahkan Avengers yang kuat pun tidak mampu mengatasi.

Tapi Thanos tak boleh menang dan Avengers tak boleh kalah, tentu saja, karena itu akan melukai keyakinanmu. Jadi, agar hatimu adem dan kau tetap punya harapan, kau diberi janji bahwa kelak Thanos akan kalah setelah Satria Piningit... maaf, setelah Captain Marvel, datang ke bumi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Maret 2019.

Senin, 20 November 2023

Depresi di Puncak Popularitas

Dalam obrolan bersama Daniel Mananta, Atta Halilintar mengaku diam-diam tertekan berada di puncak popularitasnya. Kalau bisa, dia berkata, dia ingin kembali ke hidupnya yang dulu. "Gua pengin kembali ke gua yang dulu, bisa kerja, dapat duit, senang, udah. Nggak gini-gini banget."

Yang membuat Atta tertekan, berdasarkan pengakuannya pada Daniel Mananta, karena ada banyak hal yang sebenarnya tidak dia sukai, bahkan membuatnya tertekan, akibat popularitas. Dari kehidupannya yang terus disorot, sampai munculnya aneka kasus yang tiba-tiba berdatangan.

Atta Halilintar, yang disebut “YouTuber Nomor 1” dengan “penghasilan terbanyak di Asia”, yang bisa mengganti cat Lamborghini semudah mengganti cat kuku, diam-diam tertekan karena popularitas. 

Kedengarannya agak “menakjubkan”, ya?

Popularitas itu paradoks; dan ini sesuatu yang tidak dipahami kebanyakan orang. Rata-rata kita—sebenarnya bukan “kita”, tapi “kalian”, karena saya tidak termasuk—berharap populer, dan karena itu berupaya dengan segala cara agar mendapat popularitas. Dan di situlah awal masalahnya.

Popularitas itu menyenangkan, hanya saat seseorang berada di AMBANG BATAS SEBELUM PUNCAK. Begitu seseorang sampai di puncak popularitas, ia akan terbunuh perlahan-lahan. Sejarah sudah membuktikan berkali-kali.

Marilyn Monroe depresi ketika di puncak popularitas, saat dia diam-diam sering menangis di bathtub, sendirian, dan berpikir tak punya seorang pun teman. Kita tahu bagaimana kisah lanjutannya. Begitu pula Kurt Cobain, Janis Joplin, atau artis-artis K-Pop, daftarnya panjang.

Popularitas itu seperti candu. Mula-mula, kita mencicipi. Terasa enak, dosisnya mulai tambah. Kita ingin terus, terus, dan terus, meniti tangga popularitas. Semakin besar popularitas, fly yang terjadi makin menyenangkan. Dan kita pun mulai berambisi tiba di puncak popularitas.

Masalah pun dimulai. Ketika orang belum sampai di puncak popularitas, ia akan terus mengejar. Dan begitu sampai di puncak, kejenuhan bahkan depresi dan putus asa mulai menjalar... meski mungkin pelakunya menyimpan diam-diam. Jika tidak percaya, sila tanya Atta Halilintar.

Mengapa popularitas bisa menimbulkan masalah pada pemiliknya? Bagi saya sederhana saja; karena popularitas adalah kondisi yang menempatkan seseorang pada ketergantungan penilaian orang-orang di luar dirinya. Siapa pun akan tertekan jika ditempatkan di posisi semacam itu.

Mari gunakan analogi sederhana. Jika hidupmu tergantung pada penilaian 10 orang di sekelilingmu, kamu mulai tidak nyaman. Jika hidupmu disorot 100 orang di sekelilingmu, kamu mulai tertekan. Sekarang gandakan angka itu menjadi 1.000, 100.000, 1.000.000... dan seterusnya. 

Ini permainan sederhana. Kita tempatkan seseorang di tengah-tengah sorotan. Semakin banyak yang menyorot, dia akan semakin tidak nyaman. Dan itulah popularitas. Sebagai “ganti rugi” atas ketidaknyamanan itu, dia mendapat banyak uang. 

Sudah paham logika dan cara permainannya?

Jangan salah paham, saya tidak bermaksud mengatakan popularitas itu buruk. Yang saya maksudkan, popularitas memiliki konsekuensi, salah satunya adalah ketidaknyamanan, karena hilangnya privasi. “Itu nggak nyamannya. Orang tahu sampai ke celana gua,” kata Atta Halilintar. 

Menjadi populer (mengejar popularitas) atau menjadi orang biasa yang tidak populer, adalah soal pilihan, dengan konsekuensi masing-masing. Punya popularitas memungkinkan orang mendapat aneka privilese dan penghasilan besar, misalnya, tapi juga disorot banyak orang.

Sementara tidak punya popularitas memungkinkan orang menikmati kehidupan bebas dan leluasa, karena memang tidak populer dan tidak dikenali di mana-mana. Mungkin nyaman, tapi mungkin pula—dan biasanya—penghasilannya tidak sebesar orang-orang yang memiliki popularitas.

Paling enak, tentu saja, menjadi orang biasa yang bebas keluyuran ke mana pun tanpa dikenali orang-orang... tapi punya penghasilan sebesar orang-orang terkenal. Bagaimana caranya? Yo mbuh, saya tidak tahu.

Rabu, 01 Maret 2023

OnlyFans dan Krisis Mbakyu

Manajemen OnlyFans mengklaim semua konten seksual
tidak lagi bisa tayang mulai Oktober 2021.
Tapi, kabarnya foto telanjang masih boleh diunggah.
—@VICE_ID

OnlyFans melarang konten seksual, itu mungkin mirip
Twitter melarang kita ngoceh. Lhah, mau ngapain kita di sini?
—@noffret


Ah, ya, OnlyFans sebenarnya masih mengizinkan konten seksual, tapi—berdasarkan yang kubaca di VICE tadi—tidak boleh eksplisit. Kasarnya, pengguna masih boleh mengunggah foto telanjang, tapi tidak boleh mengunggah konten ngewe. Kira-kira begitu, lah.

*Udud tinggal setengah*

Omong-omong soal OnlyFans, aku jadi ingat The Connel Twins. Dulu, ketika nama mereka ramai disebut-sebut di Indonesia, karena foto-foto yang bocor, aku sempat bingung dan bertanya-tanya, “Siapa itu The Connel Twins?” 

Waktu itu aku benar-benar tidak tahu siapa mereka.

Kalau ada kabar tentang “foto bocor”, kita pasti mikirnya yang “enggak-enggak”, kan? Begitu pun aku, waktu itu. Jadi, dengan penasaran—bercampur “ekspektasi tinggi”—aku pun googling untuk tahu siapa mereka, dan hasilnya... aku tidak tertarik melihat “foto-foto bocor” mereka!

Mohon maaf sebelumnya. Di mataku, dua cewek The Connel Twins itu masih anak-anak, dan—mohon maaf sekali lagi—aku tidak punya ketertarikan [seksual] pada anak-anak! Bahkan umpama diberi akses untuk melihat foto-foto mereka di OnlyFans, aku tidak akan tertarik melihat!

Aku tidak tahu berapa usia The Connel Twins, dan terus terang aku tidak tertarik untuk tahu berapa umur dua cewek itu. Yang jelas, mereka masih terlihat sebagai anak-anak di mataku. Dari wajahnya, gaya penampilannya, cara berbicaranya, semuanya masih tampak seperti anak-anak.

Jadi, aku berpikir, kenapa anak-anak itu diizinkan mengunggah foto-foto telanjang mereka di OnlyFans? Lebih penting lagi, kenapa sepertinya banyak orang yang senang melihat foto telanjang mereka? 

Sebagai bocah, aku khawatir dunia sedang mengalami krisis mbakyu. Apppeeuu...


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Agustus 2021.

Semoga Klaus Meine Masuk Surga

Seharian tadi, di sela-sela kerja, aku terus menikmati musik yang indah ini, dan tak usai terpesona pada suara Klaus Meine yang magis.


Dalam bayanganku sebagai bocah, Klaus Meine adalah orang yang apabila berdoa, doanya akan terkabul. Karena suaranya mampu menggetarkan kisi-kisi langit, meretakkan rembulan, dan meruntuhkan bintang-bintang. 

Semoga Klaus Meine masuk surga.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 September 2021.

Kamis, 10 Maret 2022

Jerinx SID dan Dialektika

Membaca ini, rasanya seperti antiklimaks—
tapi tidak apa-apa, toh manusia selalu bisa berubah,
dalam sikap maupun cara berpikir.

Jerinx SID bersedia untuk disuntik vaksin corona.
#kumparanNews —@kumparan


Omong-omong soal Jerinx, kadang aku berpikir. Dia sebenarnya punya semua hal yang dibutuhkan untuk hidup tenang, tenteram, dan bahagia. Dia tinggal di Bali yang indah. Dia punya usaha yang memungkinkan hidup berkelimpahan, dan punya istri cantik sekaligus sabar. Kurang apa lagi?

Andai aku menempati posisi Jerinx—tinggal di Bali, hidup tanpa kekurangan, hubungan dengan orang tua dan keluarga baik-baik saja, dan punya istri yang cantik sekaligus sabar—mungkin kegiatanku saban hari cuma sibuk kerja dan udud. Bodo amat dengan pandemi, persetan dengan dunia!

Tapi manusia tampaknya memang tak bisa diukur hanya dari permukaan. Selalu ada kedalaman yang tidak kita tahu. Dan cara orang mengejar kebahagiaan serta meraih kepuasan hidup juga berbeda-beda. Yang bahagia bagi kita, bisa jadi biasa saja bagi orang lain, atau sebaliknya.

Bagi Jerinx, mungkin, meraih kebahagiaan dan kepuasan hidup adalah dengan menyampaikan apa yang dia pikir benar—meski, dalam taraf tertentu, keyakinannya belum tentu benar. Intinya, dunia harus mendengarkan yang dia katakan. Soal itu benar atau tidak, bisa diurus belakangan.

Dan sebenarnya itu bukan masalah, toh yang punya sikap semacam itu bukan cuma Jerinx. Ada jutaan orang lain yang punya sikap dan pikiran semacam itu. 

Demokrasi memberi kebebasan untuk berpikir dan berbicara. Agar aturan itu benar-benar fair, harus ada sikap kritis. Itu saja.

Yang diocehkan Jerinx dari dulu—dari urusan WHO, konspirasi global, sampai endorse Covid—sebenarnya tidak masalah, andai dihadapi dengan sikap/pikiran kritis. Ocehan Jerinx tinggal ditanggapi dengan ocehan yang bertanggung jawab, hingga semua pihak melihat mana yang benar.

Menurutku, yang menjadikan ocehan Jerinx dianggap bermasalah, karena tiadanya sikap kritis, khususnya dari audiens yang menyimak ocehannya. Ending-nya jadi tidak enak. Jerinx ditangkap hanya karena ngoceh. Itu sebenarnya ironis, khususnya ketika terjadi di negara demokrasi.

Di negara [yang katanya] demokratis, mosok ngoceh wae ora oleh? Ngoceh adalah sikap pikiran, dan kebebasan berpikir adalah pilar demokrasi. Melalui kebebasan berpikir yang disikapi secara kritis—hingga muncul dialektika—manusia bisa terus berkembang, dan itulah tujuan demokrasi.

Jadi, kembali ke Jerinx, siapakah sebenarnya yang bermasalah? Jawabannya sangat panjang, dan bisa jadi ocehan ini baru selesai tahun 5788, kalau kujelaskan secara komprehensif. Tapi singkat saja, yang salah sebenarnya banyak pihak, termasuk—dan khususnya—kultur pendidikan kita.

Kultur pendidikan kita, sebagaimana yang kita tahu dan alami, mematikan sikap dan nalar kritis, karena guru menganggap pikiran kita cuma botol-botol kosong yang mereka isi dengan apa pun yang mereka inginkan... dan tidak boleh ada bantahan. Kita telah “dibunuh” sejak masih kecil.

Dengan latar semacam itu, tanpa disadari, kita asing dengan sikap dan nalar kritis, karena pikiran kita memang telah dilumpuhkan... bahkan sejak sebelum kita mulai menggunakan. Akibatnya, kita mudah percaya, mudah mengikuti, mudah didikte, mudah meyakini, meski tanpa bukti.

Mungkin Jerinx—dan orang-orang lain yang seperti dia—ingin menyadarkan kenyataan muram itu; agar kita mempertanyakan apa yang memang tidak kita tahu, mengkritisi sesuatu yang tampak remang-remang, dan memastikan kita tidak tersesat karena mengikuti arah yang keliru.

Kalau kemudian terbukti Jerinx yang salah, ya tidak apa-apa, karena begitulah dialektika. Toh dia juga mau mengakui dan menerima. Lagi pula, kebenaran di dunia ini belum jadi kebenaran, selama belum dipertanyakan, belum diuji, dan belum dibenturkan kenyataan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Agustus 2021.

Rabu, 10 Maret 2021

Film Bagus Versi Saya

Berapa miliuner yang kaukenal?
Kalian tahu Elon Musk, Bill Gates... persetan, 
kalian pasti tak mengenalku. Itulah yang kusuka.
—One, dalam 6 Underground


Saya suka nonton film action, saya juga memfavoritkan Keanu Reeves, tapi John Wick bukan film favorit saya. Sebagai film action, John Wick jelas gahar. Penampilan Keanu Reeves dalam film itu juga ciamik. Tapi bagi saya, film itu B aja. Jika saya diminta menyusun daftar 10 film action favorit, misalnya, John Wick jelas tidak masuk.

Kenapa saya tidak terkesan dengan John Wick? Karena film itu bisa dibilang tidak ada ceritanya! Kisahnya terlalu simpel, dan kisah simpel itu dibumbui adegan berantem tanpa henti. Bahkan, dalam perspektif saya—yang tentu bisa subjektif—kisah dalam John Wick terlalu lebay. Sebagai film action, akar masalah dalam kisahnya sangat sepele, tapi dampaknya terlalu brutal. Andai John Wick tidak diperankan Keanu Reeves, saya ragu film itu akan populer.

Film action yang bagus versi saya adalah film yang ada ceritanya! Lebih bagus lagi kalau kisah dalam film itu, well... visioner.

Di antara banyak film favorit saya sepanjang masa, dua di antaranya adalah The Island dan 6 Underground. Dua film itu memenuhi semua hal yang saya inginkan dari film; aksi gila-gilaan, pertarungan brutal, kebut-kebutan asoy, ledakan dan ancur-ancuran, dan—di atas segalanya—kisah yang visioner.

The Island, sebagaimana kita tahu, mengisahkan teknologi kloning futuristik yang memungkinkan orang “menciptakan” sosok dirinya yang lain, untuk “dipanen” organ tubuhnya jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Ide cerita ini, bagi saya, sangat menakjubkan sekaligus menggelisahkan.

Bayangkan kita bisa menciptakan sosok kloning diri kita—benar-benar persis kita—melalui teknologi canggih berbiaya mahal. Sosok kloning itu diciptakan lewat mesin, dan sejak “janin” didoktrin untuk meyakini hal-hal tertentu, salah satunya bahwa dia—sosok kloning kita—adalah istimewa karena menjadi bagian yang selamat dari kehancuran bumi.

Ketika sosok kloning kita mulai tumbuh besar dan dewasa, dia hidup bersama sosok-sosok kloning orang lain. Masing-masing sosok kloning itu punya nama dalam bentuk kode. 

Mereka hidup di tempat karantina yang steril, sambil terus meyakini doktrin yang dicekokkan ke memorinya. Mereka tak pernah tahu dunia luar, karena memang dilarang keluar, dengan ancaman ada “kontaminasi”. Mereka hidup teratur, mengonsumsi makanan bergizi, berolah raga rutin, pendeknya menjadi sosok yang benar-benar sehat jiwa raga.

Jika sewaktu-waktu kita mengalami sakit berat, misal jantung kita bermasalah dan butuh transplantasi, kita tinggal menghubungi penyedia jasa kloning tadi, dan meminta agar kloning diri kita di sana dibedah untuk diambil jantungnya. Hasilnya pasti sempurna, karena transplantasi itu berasal dari sosok yang benar-benar mirip kita.

Penyedia jasa kloning punya cara cerdik untuk hal itu. Sewaktu-waktu, mereka mengadakan undian, dan nama yang muncul akan “diantarkan ke Pulau”. Dalam kisah The Island, “Pulau” adalah “tempat indah tanpa kontaminasi”. Padahal, yang terjadi bukan itu. Nama yang muncul dalam undian—yang jelas tidak muncul secara acak—sebenarnya dibawa ke ruang bedah, untuk diambil organ tubuhnya, lalu dikirim pada si pemilik kloning yang membutuhkan.

Jalinan cerita itu membuat saya termenung lama seusai nonton The Island pertama kali. Saya pikir, dalam skala tertentu, itu mirip kehidupan kita.

Kita, di dunia kita, lahir untuk kemudian didoktrin dengan keyakinan-keyakinan tertentu. Kita tumbuh besar dan dewasa dengan aneka keyakinan yang dicekokkan ke kepala kita. Seiring dengan itu, kita juga menunggu “undian” untuk diantarkan ke “tempat yang indah”. Sama seperti sosok-sosok kloning dalam The Island, kita juga tidak tahu apa sebenarnya yang akan kita lihat di “tempat yang indah” itu, selain hal-hal yang dikatakan kepada kita.

Pemikiran itu sangat menggelisahkan, dan saya benar-benar salut pada penulis skenario The Island.

Jalinan cerita yang bagus itu dibumbui adegan-adegan menegangkan, aksi kejar-kejaran, tembak-tembakan, mobil bertabrakan, ledakan demi ledakan, sampai gedung yang hancur berantakan, khas Michael Bay. Benar-benar tontonan yang asoy! Itulah jenis film favorit saya! Action, tapi ada ceritanya.

Selain The Island, film favorit saya yang kedua adalah 6 Underground. Kebetulan juga disutradarai Michael Bay. Dia benar-benar pakar dalam urusan ledakan dan ancur-ancuran, dan saya selalu orgasme tiap menonton film karyanya.

6 Underground, kita tahu, mengisahkan seorang miliuner nyentrik yang ingin meruntuhkan peradaban dengan caranya sendiri. Dia menyebut dirinya “One”. Sebenarnya, dia bisa saja menggunakan uangnya untuk membiayai visinya, sebagaimana umumnya miliuner filantropis. Tapi dia akhirnya memahami bahwa uang sebanyak apa pun tidak akan mengubah dunia sebagaimana diinginkannya... kecuali dia menggunakan tangannya sendiri.

Jadi, itulah yang kemudian dia lakukan. 

Menyadari tak mungkin menjalankan misinya sendirian, One mengumpulkan lima orang lain yang memiliki skill hebat berbeda-beda, dan membentuk semacam “perkumpulan bocah”. Mereka lalu meruntuhkan peradaban dengan cara yang brutal tapi asoy. 

“Kita tidak bisa mengubah dunia,” kata One, “tapi kita bisa menjadikannya lebih baik.”

Untuk memuluskan misi mereka, masing-masing orang harus terlebih dulu memutuskan hubungannya dengan dunia. Mereka harus pura-pura mati—dalam arti harfiah—dan memiliki pemakaman, sehingga dunia menganggap mereka benar-benar telah mati. Ini mirip kisah orang-orang sakti zaman kuno, yang moksa, tiada, tapi sebenarnya masih hidup entah di mana.

Setelah itu, mereka juga harus memutuskan hubungan dengan siapa pun yang mereka kenal semasih hidup. Setelah dianggap benar-benar mati, jejak mereka akan sulit dilacak dan ditelusuri, karena riwayat mereka di dunia dianggap telah berhenti... dan dihapus. 

One, sang pemimpin, sebenarnya memiliki istri yang cantik dan seorang anak yang masih kecil. Tapi demi memuluskan misinya, dia pura-pura mati—tewas dalam kecelakaan pesawat pribadi—dan sejak itu tak pernah lagi berkomunikasi dengan istri maupun anaknya. Dua orang yang dicintainya di dunia telah menganggapnya mati... dan One, meminjam istilah para wali, hidup dalam kematian. 

Jalan hidup yang berat semacam itu jelas hanya mampu dilakukan orang yang memiliki visi, dan percaya pada visinya. Itu bukan pilihan hidup umum yang dilakukan orang-orang umum. One, Tuhan tahu, pastilah seorang bocah yang meyakini mimpi-mimpinya!

Seperti yang dikatakan One dalam monolognya, “Dunia dibungkus pita merah, tak bisa kupotong walau dengan pedang miliaran dolar. Kami tinggalkan segalanya, semua orang, agar menjadi bukan siapa-siapa.”

One dan pasukan kecilnya mengincar pemimpin negara yang otoriter, lalu menumbangkannya dengan cara yang cerdik, penuh adegan menegangkan, tembak-tembakan brutal, kejar-kejaran, pertarungan berdarah, sampai ledakan demi ledakan. Action, tapi ada ceritanya. Dan cerita dalam 6 Underground, sebagaimana kisah dalam The Island, sangat visioner.

Yang dipikirkan One dalam 6 Underground adalah hal sama yang juga dipikirkan bocah-bocah lain yang kemudian kita kenal, dari Batman hingga Spider-Man, yang menggunakan tangannya sendiri untuk membentuk dunia sebagaimana yang diinginkannya. Bedanya, One tampil tanpa topeng, karena dia, sebagaimana yang dikatakannya, “bukan siapa-siapa”. Dia tidak butuh topeng, karena dunia tidak mengenalnya.

Dalam 6 Underground, One sempat menyatakan ada “sembilan bajingan” yang ingin ia tumbangkan. Dia telah mengalahkan satu bajingan, dan semoga Netflix melanjutkan kisah One sampai seri sembilan. 

Amin, ya Allah.

Senin, 01 Februari 2021

Dari Dinda Hauw dan Rey Mbayang, Kita Tidak Belajar Apa-Apa

Sambil nunggu udud habis.

Setiap kali ada artis menikah, entah mereka pacaran atau tidak, anak-anak Twitter selalu ramai, "Dari Si Anu kita bisa belajar bla-bla-bla", dan biasanya cuma menyebut hal-hal yang abstrak (berakhlak baik, agamis, tanggung jawab, berwawasan, dll).

Berakhlak baik, paham agama, bertanggung jawab, berwawasan, dan semacamnya, adalah hal-hal abstrak—bagaimana cara kita mengukurnya? Pertanyaan itu makin penting diajukan, jika kita kebetulan pro-taaruf; menjalin hubungan sekadarnya untuk kemudian menikah, tanpa pendalaman.

Untuk tahu apakah seseorang berakhlak baik, paham agama, bertanggung jawab, berwawasan, dan semacamnya, kita harus bersamanya secara intens. Itu sesuatu yang bahkan pacarnya (atau calon pasangannya) sendiri belum tentu tahu. Jadi, bagaimana kita bisa tahu, bahkan yakin, soal itu?

Setiap kali ada artis menikah, lalu orang-orang ngetwit "Dari Artis Anu kita bisa belajar bla-bla-bla", yang kutangkap hanyalah sebentuk romantisasi atau bahkan glorifikasi terkait hubungan dua manusia lawan jenis, tapi sekadar artifisial—khas remaja yang masih bau popok.

Kenyataannya, Homo sapiens memang punya kecenderungan semacam itu; senang mengkhayalkan hubungan yang indah sambil menafikan kemungkinan sebaliknya. Karenanya, saat ada artis cerai, tidak ada yang mengatakan, "Dari perceraian Artis Anu kita bisa belajar bla-bla-bla..."

Orang-orang "belajar" ketika ada artis menikah, tapi tidak belajar ketika ada artis bercerai. Padahal perkawinan dan perceraian adalah 2 hal yang seiring sejalan; orang yang menikah selalu punya kemungkinan untuk cerai. Tapi kita hanya melihat yang satu, sambil menafikan lainnya.

Jadi, inilah masalah kita. Yang remaja terbuai khayalan indah tentang sepasang manusia yang menjalin hubungan (dan model yang mereka gunakan adalah artis yang ganteng dan cantik), sementara yang sudah dewasa terbuai doktrin "menikah akan membuatmu bahagia dan lancar rezeki."

Di Twitter, ocehan ala-ala "Dari perkawinan artis anu kita bisa belajar bla-bla-bla" hampir selalu viral. Sebelas dua belas dengan ocehan ala-ala "Menikah akan membuatmu bahagia dan bla-bla-bla". 

Apa artinya itu? Khayalan dan keyakinan kita menumpulkan akal sehat dan kesadaran.

Tanpa disadari, manusia lebih sering (dan lebih senang) melihat bayangannya, atau khayalannya, atau refleksinya, dan bukan kenyataan yang jelas ada di depan matanya. Itulah kenapa mereka tetap percaya menikah akan membuat bahagia, meski tetangganya bercerai atau jadi korban KDRT.

Manusia tidak percaya pada kebenaran. Bahkan, dalam skala ekstrem, mereka tidak percaya pada kenyataan. Mereka hanya percaya pada yang ingin mereka percaya!

Kutipan klasik, "Jangan merasa (sok) kenal seseorang, sebelum tidur dengannya tiga malam."

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, mungkin baru selesai pas subuh... tahun 8735. Tapi karena ududku sudah habis, yo wis, cukup sampai di sini. 

Akhirnya, dari Dinda Hauw dan Rey Mbayang, kita (sebenarnya) tidak belajar apa-apa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 11 Juli 2020.

Minggu, 10 Mei 2020

Noffret’s Note: Rambo

Rambo: Last Blood dan Terminator: Dark Fate bisa jadi dua film paling penting tahun ini. Karena, bisa jadi juga, itu menjadi film terakhir Sylvester Stallone dan Arnold Schwarzenegger.

Semoga mereka selalu sehat dan panjang umur. Bagaimana pun, mereka (pernah menjadi) bocah.

Dulu, kupikir, Sylvester Stallone dan Arnold Schwarzenegger tidak akan pernah tua. Tapi nyatanya mereka sekarang menua. Aku dulu juga pernah berpikir Profesor X dan Wolverine tidak akan bisa mati, tapi nyatanya mereka mati.

Sepertinya, yang abadi hanya En Sabah Nur.

Saat menyaksikan Rambo: Last Blood, aku benar-benar menikmati saat melihat Rambo mengamuk dan menyiapkan jebakan maut yang berdarah-darah. Sadis, tapi badass—jenis film yang selalu asyik ditonton.

"Aku hanya ingin pulang," katanya, "tapi tak pernah sampai rumah."

Dalam perspektifku sebagai bocah, Rambo adalah film paling "jujur" yang dibuat Amerika.

Film-film Rambo adalah kisah tentang pembalasan dendam, bahkan yang paling brutal, dan film-film itu tidak pernah sok suci dengan menyemburkan pesan moral ala film-film Hollywood umumnya.

Ada banyak film Hollywood yang bertema pembalasan dendam, tapi di dalamnya selalu terselip pesan moral, "Pembalasan dendam tidak akan mengembalikan kebahagiaanmu," atau semacamnya. Meski si tokoh tetap melakukan pembalasan dendam.

Rambo tidak sok bermoral semacam itu.

Rambo adalah pengejawantahan murni jiwa Amerika yang menganut—sesuatu yang kusebut—Corleonisme. Bahwa "pembalasan dendam adalah makanan penutup yang lezat, bila disajikan dalam keadaan dingin".

Tepat seperti itulah Amerika, dan sejarah mereka dengan jelas mengungkapkannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 November 2019.

 
;