Jumat, 31 Juli 2026

Gara-gara Omongan Pacar

Ini kisah konyol yang sebenarnya membuat saya malu sendiri. Tetapi saya telanjur jengkel gara-gara kisah konyol ini, hingga memutuskan untuk menuliskannya di sini sebagai semacam klarifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat. Semua nama yang saya sebut dalam catatan ini telah disamarkan, namun alur peristiwanya sesuai yang benar-benar terjadi.

Kisah konyol ini dimulai dengan sebuah e-mail dari seorang perempuan. Sebut saja namanya Dewi. Di antara banyak e-mail lain yang biasa saya terima, Dewi hanyalah satu di antara sekian banyak orang di inbox e-mail. Artinya, saya tidak punya perhatian khusus kepadanya. Sebenarnya, saya bahkan tidak peduli siapa dia. Saya membalas e-mailnya secara relevan sebagaimana saya membalas e-mail orang-orang lain. 

Dewi berulang kali mengirim e-mail. Tidak semua e-mailnya saya balas. Lalu dia mengirim undangan agar saya bergabung dengannya di Facebook. Undangan itu pun saya abaikan. Sudah lama sekali saya kehilangan minat bermain Facebook. Kenyataannya, yang mengirim undangan semacam itu bukan hanya Dewi, dan semuanya saya abaikan.

Tetapi Dewi rupanya tidak pantang menyerah. Dia terus menerus mengirimkan undangan yang sama. Karena penasaran, saya pun mencoba mengecek akun Dewi di Facebook, untuk tahu lebih lanjut siapa sebenarnya perempuan itu. 

Di akun Facebook-nya, terdapat identitas cukup lengkap mengenai Dewi, termasuk artis idola sampai buku favorit. Yang menarik perhatian saya, ternyata Dewi berteman dengan Nabil. Si Nabil ini teman saya di dunia nyata. 

Lagi-lagi karena penasaran, saya mengontak Nabil, dan bertanya kepadanya, siapa Dewi. Di luar dugaan, ternyata Dewi adalah pacar Nabil.

Dan, sejak itu, hubungan saya dengan Nabil mulai renggang. Nabil menjauh dari saya.

Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang terjadi, hingga menyebabkan Nabil menjauhi saya. Kenyataannya kami memang tak pernah bertemu sejak itu, hingga dia maupun saya tidak bisa saling menjelaskan apa pun. Tetapi bahwa kenyataan itu terjadi setelah saya menanyakan Dewi kepadanya, mau tak mau membuat saya berpikir. 

Jika saya membayangkan apa yang telah terjadi, kira-kira seperti inilah bayangan saya mengenai apa yang terjadi....

Setelah saya bertanya pada Nabil tentang Dewi, yang ternyata pacarnya, Nabil pun meneruskan percakapan kami pada Dewi. Dia tentu penasaran, kenapa saya tiba-tiba bertanya tentang pacarnya. Bisa jadi, karena merasa “tertangkap basah”, Dewi mengarang cerita yang melenceng dari kisah sebenarnya, yang kemudian menyebabkan Nabil menjauhi saya. 

Dalam kisah sebenarnya, Dewi berulang kali mengirim e-mail kepada saya, hingga saya penasaran dan melacak dirinya. Tetapi, dalam kisah Dewi pada Nabil, tidak menutup kemungkinan dia menceritakan kisah yang berbeda. Sebagai pacar, Nabil tentu akan mempercayai cerita pacarnya. Tanpa klarifikasi kepada saya, bisa jadi dia diam-diam memendam kekesalan, hingga memutuskan menjauhi saya.

Kisah konyol itu memberi saya pelajaran mengenai pentingnya klarifikasi, agar tidak dikuasai prasangka. Kalau pacar kita menceritakan sesuatu menyangkut orang lain, silakan percaya kepadanya. Tapi jangan menutup diri untuk melakukan klarifikasi. 

Omong-omong soal klarifikasi, sekarang saya ingin menceritakan kisah seorang teman. Kisah ini mirip dengan yang saya alami, namun kadarnya lebih parah.

Safik, teman saya, berteman dengan Ale. Ale punya pacar bernama Ervin. Baik Ale maupun Ervin akrab dengan Safik. Mereka juga akrab dengan saya. Kami biasa ngumpul dan bercanda sebagaimana layaknya teman.

Suatu hari, ada acara kumpul-kumpul di suatu tempat. Ada banyak orang yang datang waktu itu, termasuk Safik, Ale, Ervin, dan saya. Malam hari, seusai acara rampung, saya duduk di depan komputer, browsing internet. Lalu muncul Safik, disusul Ervin. Kami bercakap-cakap di depan komputer, sambil saya terus memindai laman-laman internet. 

Di suatu laman, kebetulan ada gambar kartun yang lucu; wanita gemuk yang lagi pegang sapu. Safik meledek Ervin, menyatakan kartun itu mirip Ervin. Ervin paham itu cuma olok-olok yang ditujukan sebagai candaan, dan kami pun tertawa bersama waktu itu. Saya tahu betul, Ervin sama sekali tidak marah, karena memahami itu cuma gurauan antarteman. Kenyataannya kami semua—termasuk Safik dan Ervin—telah akrab berteman.

Pagi harinya, usai bangun tidur, saya duduk-duduk bersama Ale sambil menikmati teh hangat. Di luar dugaan, kami mendapati Ervin baru datang bersama Rudi, cowok yang juga teman kami. Ale maupun saya tidak tahu dari mana Ervin dan Rudi waktu itu. Tapi saya hanya berpikir positif, mungkin Ervin baru saja sarapan dengan Rudi, karena Ale masih tidur.

Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Yang jelas, siang harinya, Ale marah-marah pada Safik. Pasalnya, menurut Ale, Safik telah menghina pacarnya, dengan menyamakan Ervin seperti kartun jelek di internet. Safik kebingungan. Seingatnya, masalah kartun itu hanya olok-olok yang dimaksudkan sebagai gurauan, dan Ervin sama sekali tidak marah. Kenapa sekarang Ale marah-marah soal itu?

Safik menyatakan, “Biar kujelaskan apa yang terjadi...”

Tapi Ale sudah meradang. “Jelaskan sendiri pada pacarku! Dia sedang menangis gara-gara ulahmu semalam!”

Bisakah kita melihat apa yang telah terjadi?

Semalam, saya menjadi saksi peristiwa soal kartun yang sekarang dipermasalahkan Ale. Semalam, saya tahu betul bahwa urusan kartun yang disebut mirip Ervin hanyalah gurauan, dan Safik maupun Ervin paham itu cuma gurauan. Saya bahkan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa Ervin tertawa-tawa karena gurauan itu, dan sama sekali tidak marah. Tetapi, sekarang, Ale menyatakan Ervin sedang menangis karena disamakan seperti kartun oleh Safik.

Sekali lagi, bisakah kita melihat apa yang telah terjadi?

Tanpa bermaksud membela siapa pun, saya bisa membayangkan apa yang telah terjadi. Ketika Ervin kepergok Ale baru pulang bersama Rudi, Ervin mungkin merasa bersalah. Sebagai pacar, Ale mungkin bertanya pada Ervin, dari mana dia dengan Rudi. 

Entah apa yang dinyatakannya kepada Ale, yang jelas Ervin kemudian “memanipulasi” kisah antara dirinya dan Safik soal kartun semalam, dengan tujuan “membelokkan” kemarahan Ale. Hasilnya, alih-alih marah kepada pacarnya, Ale berbalik marah kepada Safik—tepat seperti yang diharapkan Ervin.

Salah satu keahlian perempuan adalah memanipulasi pacarnya. Dan laki-laki biasanya mudah teperdaya oleh pacarnya, apalagi jika didramatisir air mata. 

Karenanya, jika cewekmu menceritakan apa saja yang terkait orang lain, percayalah kepadanya. Tapi jangan berhenti di situ. Lakukan klarifikasi pada orang terkait, agar tidak menimbulkan masalah. Karena, jika kita semata hanya percaya tuturan pacar namun tidak mau melakukan klarifikasi, kita hanya separuh benar. Dan separuh benar tentu bukan kebenaran. 

Sampai sekarang, hubungan Safik dengan Ale tidak sebaik dulu. Padahal sebelumnya mereka berteman akrab tanpa masalah. Bagaimana pun, Safik mengakui, dia masih jengkel kepada Ale, karena disalahkan untuk sesuatu yang ia pikir bukan kesalahannya. Safik juga mengakui masih membenci Ervin, karena dia menilai Ervin telah memanipulasi dirinya.

Hanya karena tuturan pacar secara sepihak, hubungan pertemanan bertahun-tahun yang semula baik dan menyenangkan bisa rusak dan terpecah. 

Ingin Kaya tapi Belum Tentu Ingin Bekerja

Jack Ma mengusulkan agar para karyawannya bekerja 12 jam setiap hari. Seperti yang sudah diduga banyak orang, usul itu langsung diprotes bahkan ditolak mentah-mentah. Karena kebanyakan orang memang ingin kaya, tapi belum tentu ingin kerja.

Kalau kau mencari cowok gaul yang suka nongkrong, eksis di Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, dan bertingkah sok kaya, aku mundur.

Tapi kalau kau mencari cowok biasa yang rajin belajar dan giat bekerja, dan menjalani hidup bersahaja tanpa peduli apa kata dunia, aku maju.

Rata-rata lowongan kerja ngasih syarat "penampilan rapi", "bisa berkomunikasi dengan baik", dan semacamnya. Tapi sepertinya belum ada yang mensyaratkan "mampu bekerja 12 jam setiap hari".

Kalau ada yang begitu, mungkin aku akan tergoda melamar, siapa tahu gajinya memang besar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 April 2019.

Kenangan, Pelajaran, dan Keperluan

Cinta pertama adalah kenangan, cinta kedua adalah pelajaran, dan cinta yang seterusnya adalah keperluan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 September 2012.

Di Balik Lelaki Hebat

Di balik lelaki hebat ada perempuan hebat. Sepertinya, begitu pula di balik setiap lelaki gagal.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Agustus 2012.

Mengisahkan dan Mengutuk

Kita mengisahkan dongeng Angin dan Matahari. Tetapi, di saat sama, kita mengutuk matahari dan menyalakan kipas angin.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Efeknya Seperti Gempa

Bencana adalah ketika kau mendonlut something sebesar empat giga, tapi terhapus dan hilang tanpa sengaja. Percayalah, efeknya seperti gempa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Agustus 2012.

Duka Mendalam

Ini sangat menyedihkan.

Dari kemarin, status WhatsApp teman-teman di ponselku berisi banjir dan longsor. Bencana ini terjadi di wilayah kabupaten, jadi yang paling terdampak adalah yang tinggal di kabupaten. Di Petungkriyono, lokasi bencana, ada beberapa orang yang tewas, dan berbagai kerusakan terjadi.

Menurut teman-teman yang tinggal di sana, hujan deras turun tanpa henti, dan hal itu menyebabkan longsor sekaligus banjir. Sementara Petungkriyono adalah dataran tinggi, sehingga terjadi banjir bandang yang mengalir ke mana-mana, ke daerah-dearah lain yang relatif jauh dari sana.

Kedungwuni dan Wonopringgo, misalnya, adalah dua kecamatan yang relatif jauh dari Petungkriyono, tapi ikut terdampak banjir. Di dua tempat itu ada cukup banyak pengusaha batik dan penjual konveksi di marketplace. Membaca status-status mereka di WhatsApp, rasanya bikin mau nangis.

Ada teman yang rumahnya kebanjiran, dan air merendam tumpukan kain batik yang masih dalam proses pengerjaan maupun yang sudah jadi.

Ada pula teman yang sudah menyiapkan ratusan paket yang siap dikirim ke ekspedisi, dan ratusan paket itu terendam banjir yang datang tiba-tiba.

Belasan orang meninggal, entah berapa yang terluka, rumah-rumah hancur, jembatan ambrol, mobil-mobil terguling, ternak mati, banjir mengalir ke sembilan kecamatan, merendam ratusan rumah, dan mengakibatkan kerugian yang entah berapa besar.

Duka mendalam untuk korban bencana.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Januari 2025.

Membuatku Heran

Kupikir aku orang yang tak mudah heran. Tapi menemukan orang berkata, "Tak ada yang lebih sempurna dariku!" benar-benar membuatku heran.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Paling Jujur di Dunia

Kata-kata paling jujur di dunia adalah kata-kata Bullseye dalam film DareDevil. "Setan itu milikku!"


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Sebenarnya

Sebagian orang merasa menjadi wakil Tuhan. Sebagian lagi merasa wakil setan. Sebenarnya, mereka hanya mewakili egonya sendiri.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Agustus 2012.

Berpikir Tuhan

Kadang-kadang aku berpikir Tuhan tidak ada, tapi kemudian Tuhan menertawakanku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Agustus 2012.

Kamis, 30 Juli 2026

Hantu dan Orang-orang Awam

Jika kita perhatikan, hantu/setan Indonesia dan hantu-hantu Amerika/Eropa memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Setidaknya, hal itu tergambar dalam banyak film bertema hantu/setan.

Hantu/setan barat umumnya bertarung dengan manusia, dan memiliki ambisi menguasai dunia. Sementara hantu/setan Indonesia, biasanya cuma nakut-nakutin orang.

Apa makna yang bisa diambil dari kenyataan itu? Bagi saya sederhana. Bahwa hantu—sebagaimana banyak hal lain—adalah hasil konstruksi budaya, olah pikir masyarakat, yang mencerminkan kultur tempat hantu-hantu itu diciptakan. Orang barat yang ambisius menciptakan setan yang ambisius, orang Indonesia yang “apa adanya” menciptakan setan serupa.

Encyclopedia Britannica (edisi 2003) mengulas Nyi Roro Kidul dalam perspektif semacam itu, bahwa sosok gaib itu sebenarnya diciptakan raja-raja Jawa untuk menakut-nakuti rakyat.

Sementara Pramoedya Ananta Toer, dalam “Anak Semua Bangsa”, menyatakan, “Nyai Roro Kidul adalah kreasi Jawa yang gemilang untuk mempertahankan kepentingan Raja-Raja Pribumi Jawa.”

Bagaimana cara agar manusia tunduk pada manusia lain, yang jelas sama-sama manusia? Bagi orang zaman dulu, caranya mudah. Cukup ciptakan mitos, dan bangun “kepercayaan tertentu” yang memungkinkan seorang manusia jadi “tampak seperti bukan manusia umumnya”.

Di kalangan masyarakat terbelakang (di zaman dulu maupun sekarang), cara semacam itu benar-benar efektif, dan memungkinkan siapa pun untuk memerintah manusia lain, karena seolah-olah dia memiliki privilese (keistimewaan) yang tidak dimiliki manusia umumnya.

Kaisar Jepang, juga para kaisar lain di zaman dulu, membangun mitos tentang diri mereka yang—konon katanya—keturunan dewa, dilahirkan oleh matahari, atau hal-hal gaib lain, dan dengan cara itulah mereka menghasilkan ketundukan bahkan penyembahan dari rakyatnya.

Hal serupa terjadi di Eropa, saat masih berada di zaman kegelapan. Para bangsawan Eropa mengklaim diri mereka keturunan dewa, dan dengan mitos itu mereka berharap para kawula menundukkan kepala untuk patuh dan hormat serta menuruti apa pun yang diperintahkan.

Sementara di Indonesia, beberapa raja mengklaim memiliki hubungan dengan makhluk gaib yang dihormati sebagai “penguasai laut selatan”. Intinya sama—menciptakan privilese, yang sebenarnya tidak ada, agar tampak “seperti bukan manusia umumnya”.

Bahkan di zaman sekarang pun, cara semacam itu masih digunakan. Kim Jong Un di Korea Utara mengklaim dia—dan leluhurnya—keturunan dewa, dan rakyat Korut patuh serta takut padanya. Kenapa ia berhasil? Karena rakyat Korut terbelakang, dan terus dikondisikan untuk tetap terbelakang.

Mitos-mitos gaib semacam itu tidak hanya ampuh untuk menempatkan diri di “tempat yang tinggi”, tapi juga ampuh untuk mengendalikan orang-orang terbelakang. Di China, misalnya, ada mitos populer bahwa orang yang mati karena kecelakaan atau dibunuh akan bangkit pada hari ketujuh untuk balas dendam.

Peneliti modern yakin bahwa cerita itu dibuat oleh penguasa untuk mencegah terjadinya pembunuhan. Motivasinya memang bagus, tapi hanya relevan saat diterapkan pada masyarakat yang masih terbelakang, yang masih sangat percaya pada takhayul dan hal-hal mistis.

Sementara di Jepang, ada mitos hantu berbentuk rubah. Jika orang makan terlalu banyak atau memuja penampilan mereka—kata mitos itu—artinya mereka kerasukan rubah. Itu sebenarnya upaya pemimpin religius zaman dulu untuk mendorong orang-orang agar tidak materialistis. Mungkin terdengar meyakinkan ketika hal semacam itu diajarkan di zaman kuno, tapi bisa membuat orang tertawa kalau dikatakan di zaman sekarang.

Fazlur Rahman, mengutip Polybius, menulis, “... orang-orang awam adalah orang yang tidak punya pikiran, dan penuh dorongan-dorongan yang bertentangan dengan hukum; seperti rasa marah yang tak rasional dan kecenderungan-kecenderungan yang agresif. Tidak ada satu pun yang dapat mengendalikan mereka, kecuali rasa takut terhadap yang gaib.”

Sepertinya memang begitu.

Menjangkau Matahari

Jatuh cinta membuatmu merasa dapat menjangkau matahari. Terasa hebat, tapi juga membuatmu terbakar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Agustus 2012.

Tujuan Hidup

Barusan baca artikel di Vice tentang “resep tidur nyenyak”. Cara tidur nyenyak, menurut artikel itu—mengutip suatu penelitian—adalah “memiliki tujuan hidup”. 

Tautan artikelnya tidak perlu kumasukkan di sini, karena artikelnya (atau adaptasi/terjemahan Indonesianya) awut-awutan.

Jadi, merujuk artikel itu, kita perlu punya tujuan hidup untuk bisa tidur nyenyak. Aku punya tujuan hidup, tapi sulit tidur nyenyak. Boro-boro tidur nyenyak, yang ada malah gelisah terus, karena terbayang tujuan hidup. Karena punya tujuan hidup, aku justru tidak ingin tidur!

Mungkin ada yang ingin bertanya, "Emang, tujuan hidupmu apa?"

Tujuan hidupku sederhana: Meruntuhkan peradaban, dan mengakhiri semua omong kosong ini.

*Pantes gak bisa tidur.*

Dan setelah itu, mengutip ungkapan Thanos dalam Infinity War, “Akhirnya aku bisa beristirahat, sambil menyaksikan matahari terbit di Alam Semesta. Untuk kemudian terlelap di pangkuan Mbakyu."

Kalimat terakhir tambahan dariku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Maret 2019.

Asal Punya Duit

Bangun tidur, keluar rumah, banjiran, menuju warung Bu Solehah untuk menikmati sego megono dan teh anget.

Subhanallah... bahagia itu sederhana—asal punya duit.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Januari 2019.

Selera Humor yang Aneh

Sebagian orang stres karena ingin kurus, sebagian lagi stres karena ingin gemuk. Hidup tampaknya punya selera humor yang aneh, dan, kadang-kadang, menjengkelkan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2019.

Pantas Kurus Terus

Bocah ini sering baru merasa kelaparan setelah berhadapan dengan makanan. Pantas kurus terus.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2012.

Ingin Sekali

Ingin sekali memiliki cangkir beling, bertulisan "potluck". Lalu akan kuletakkan cangkir itu di kamarku, sementara aku damai terlelap.

  
*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Juni 2014.  

Jauh Lebih Mudah

Memang, jauh lebih mudah mencari dan mendapatkan, daripada melepas dan melupakan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Februari 2012.

Tweet Jadul Zaman DVD-ROM

Yang menjengkelkan dari DVD-ROM keluaran baru: Terlalu selektif. Cakram tergores dikit aja nggak mau muter! Sok jual mahal banget!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Februari 2012.

Gegara Harddisk Rusak

Kehilangan ratusan halaman di Word gegara harddisk rusak tuh rasanya seperti patah hati sewaktu sakit parah, lalu mendengar vonis amputasi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Februari 2012.

Lelah Pikiran

Lelah pikiran sepertinya lebih menguras tenaga daripada lelah fisik. Sudah istirahat lama pun tetap terasa lelah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Februari 2012.

Sudah Diberitahu

Sudah diberitahu malah teriak.

Antara goblok campur asu.

Rabu, 01 Juli 2026

Ilusi Nasi Uduk

Catatan ini lanjutan catatan sebelumnya (Catatan dari Tahun Baru). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya baca catatan sebelumnya terlebih dulu. 

Tyo bertanya pada Arta, “Dari mana, Ta’?”

“Nyari nasi uduk,” jawab Arta.

“Ketemu?”

“Nggak.” Arta lalu curhat, “Di Jakarta, nyari nasi uduk gampang banget. Cuma jalan kaki beberapa meter, udah nemu warung nasi uduk. Di sini, nasi uduk kayak barang langka.”

Arta bertetangga dengan Tyo, kampung mereka bersebelahan. Namun, sekitar delapan tahun terakhir Arta tinggal di Jakarta, membantu kakaknya yang punya usaha di sana. Hal itu pula yang menjadikan kami—khususnya Arta dan saya—sangat lama sekali tidak ketemu. 

“Di Jakarta,” lanjut Arta, “saban malam aku makan nasi uduk. Cuma jalan kaki dari rumah, beberapa meter udah nemu warung. Kalaupun tutup, jalan kaki lagi udah nemu warung lagi yang jualan nasi uduk. Pas balik ke sini, aku sering kangen nasi uduk, tapi kayaknya nggak ada yang jual.”

Saya jadi penasaran, “Emang kamu udah berapa lama balik ke sini?”

“Udah cukup lama, sih,” jawab Arta, “sekitar lima bulanan ini.”

Sambil menahan senyum, Tyo lalu berkata pada Arta, “Di dekat tempat kita sebenarnya ada warung nasi uduk. Tapi nasi uduk KW.”

“Di daerah mana?” tanya Arta antusias—dia sepertinya tidak menangkap istilah aneh yang disebut Tyo.

Tyo lalu menjelaskan lokasi yang dia maksud, dan Arta langsung paham. Mereka sama-sama mengenal daerahnya. 

“Warung itu dulu ramai banget,” ujar Tyo. “Orang-orang yang suka nasi uduk, termasuk aku, datang ke sana. Tapi belakangan ketahuan kalau nasi uduk di sana ternyata bukan nasi uduk.”

“Maksudnya gimana?” Arta bingung. “Kok, nasi uduk tapi bukan nasi uduk?”

Tyo seperti menahan tawa, lalu mulai menjelaskan. 

Berdasarkan penjelasan Tyo, sekian tahun lalu—sekitar dua tahun setelah Arta tinggal di Jakarta—ada warung makan yang muncul di pinggir jalan. Warung itu mirip warung Lamongan. Ada spanduk besar bergambar lele, ayam, bebek, ikan. Warung itu buka sekitar pukul 17.00 sampai cukup larut malam.

Ketika pertama kali datang ke warung itu, Tyo mengira warung Lamongan seperti biasa. Dia pesan nasi dan pecel lele di sana. Dia sama sekali tidak kepikiran nasi uduk. Tetapi, ketika mendapati nasi di piring, Tyo berpikir itu nasi uduk. Alasannya sederhana: nasi itu ditaburi bawang goreng!

“Sumpah,” ujar Tyo sambil tertawa, “aku mengira itu nasi uduk!”

Waktu pertama kali makan di warung itu, Tyo merasa puas. Pecel lelenya enak, dan nasinya masih hangat. Ketika membayar, Tyo mendapati harga makanan di warung itu sama seperti di warung-warung Lamongan umumnya. Jadi, sejak itu pula, Tyo sering ke sana, untuk menikmati nasi uduk yang nikmat!

Belakangan, Aldi juga ikut terseret ke warung itu. Aldi ini juga teman nyangkruk kami. Sejak pertama kali diajak Tyo ke warung “nasi uduk” tersebut, Aldi juga merasa cocok. Jadi dia pun sering makan di warung itu—kadang sendirian, kadang bersama Tyo. Dan keduanya sama-sama berhalusinasi bahwa selama itu mereka makan nasi uduk!

Ternyata, yang mengalami hal semacam itu bukan cuma Tyo dan Aldi. Ada orang-orang lain yang datang ke sana karena sama-sama mengira warung itu menyediakan nasi uduk. Ketika sedang makan malam di sana, Tyo kadang ketemu orang yang ia kenal yang juga tinggal di daerah itu, dan mereka sama-sama mengira sedang makan nasi uduk. Keberadaan bawang goreng di atas nasi yang hangat ternyata mampu menciptakan ilusi. 

Yang “menakjubkan” dari kisah ini adalah fakta bahwa orang-orang yang makan di warung itu benar-benar percaya sedang makan nasi uduk, padahal di spanduk warung tidak ada keterangan bahwa itu warung nasi uduk. Orang-orang hanya tahu bahwa nasi uduk selalu ditaburi bawang goreng. Dan karena nasi di warung itu ditaburi bawang goreng, mereka pun menyimpulkan itu nasi uduk.

Saya perlu ngasih catatan di sini. Di kota saya maupun di daerah-daerah sekitarnya, nasi putih biasa (bukan nasi uduk) memang tidak ditaburi bawang goreng. Di warung mana pun saya makan, saya tidak pernah mendapati bawang goreng di atas nasi. Bawang goreng hanya ada pada nasi uduk. 

Ada alasan yang agak ilmiah terkait hal itu. Nasi uduk selalu ditaburi bawang goreng untuk meningkatkan aroma, memberi tekstur renyah, dan menambah kedalaman rasa gurih. Nasi uduk ditanak dengan santan yang membuat nasi jadi lebih lembut. Bawang goreng ditaburkan untuk menciptakan kontras tekstur.

Hal berbeda terjadi pada nasi biasa (bukan nasi uduk). Nasi biasa, idealnya, agak akas, dan dapat dimakan dengan lauk apa pun, termasuk dengan sayur berkuah. Karenanya, secara umum, nasi biasa tidak membutuhkan bawang goreng. 

Kembali ke cerita Tyo.

Sampai cukup lama, Tyo percaya pada ilusi bahwa warung yang sering ia datangi memang warung nasi uduk. Tidak pernah sedetik pun ia meragukan keyakinannya. Karena nyatanya makan di warung itu terasa nikmat baginya. Sambal pecel lelenya enak. Nasinya hangat, dan ada taburan bawang goreng di atasnya. Dan Tyo bukan Chef Juna, juga bukan Chef Arnold, atau chef-chef lainnya. Lidahnya awam. Taburan bawang goreng pada nasi sudah cukup menciptakan halusinasi.

Sampai suatu malam, waktu lagi makan di warung itu, Tyo ditelepon ibunya, yang memintanya datang ke rumah. Tyo lalu terpikir membawakan nasi uduk plus ayam goreng buat ibu serta adik perempuannya.

Ibu serta adik Tyo senang dengan nasi yang dibawakan Tyo, khususnya karena disebut “nasi uduk”. Tetapi baru beberapa suap, ibu Tyo murka. 

“Nasi uduk apaan?” tanya ibu Tyo. “Ini nasi biasa!” 

Tyo kaget. Dia menyatakan itu nasi uduk, buktinya ada bawang goreng di atasnya. 

Adik Tyo mengonfirmasi pernyataan ibu mereka, bahwa itu nasi biasa—bukan nasi uduk. Tyo makin bingung.

Besok malamnya, saat kembali makan di warung langganan, Tyo memberanikan diri bertanya langsung pada penjualnya, “Mbak, sebenarnya ini nasi uduk apa nasi biasa?”

Mbak-mbak penjual warung, entah kenapa, menjawab dengan wajah agak lelah. “Nasi biasa, Mas. Di spanduk, kan, nggak ada tulisan nasi uduk.” 

Penjelasan itu seperti palu yang menghantam kesadaran Tyo. Ilusinya runtuh. Ketika ibu serta adiknya mengatakan itu nasi biasa, Tyo masih cukup pede dengan keyakinannya. Tapi ketika si penjualnya sendiri yang menyatakan itu nasi biasa, Tyo tidak punya sandaran lagi untuk ilusinya.

Tyo merasa tertipu, meski ia tidak bisa menuduh si pemilik warung menipunya. Faktanya, di warung itu memang sama sekali tidak ada tulisan atau keterangan bahwa mereka menjual nasi uduk. Spanduknya hanya berisi gambar lele, ayam, bebek, dan ikan. Tidak ada tulisan “nasi uduk” atau semacamnya. Dia sendiri yang menyimpulkan nasi di warung itu nasi uduk. Dan kesimpulan itu muncul gara-gara taburan bawang goreng di atas nasi.

Ketika Tyo menyampaikan kebenaran itu ke Aldi, mereka ketawa-tawa seperti orang gila. Pengalaman “makan nasi uduk yang ternyata bukan nasi uduk” sepertinya cukup mengguncang pikiran mereka.

Sambil tertawa, Tyo mengatakan pada saya dan Arta, “Sekarang, kalau ditanya kenapa nasi uduk dikasih bawang goreng tapi nasi biasa nggak dikasih bawang goreng, aku tahu jawabannya. Buat identifikasi!” 

Kami tertawa, dan memahami itu kebenaran yang lucu.

“Tapi warung itu nggak salah, kan?” ujar Arta kemudian. “Nyatanya mereka nggak pernah mengatakan itu nasi uduk.”

“Memang,” sahut Tyo. “Masalahnya, kenapa mereka ngasih bawang goreng di atas nasi, kalau itu sebenarnya nasi biasa?”

Sambil menahan tawa, saya mengatakan, “Ya suka-suka mereka, lah. Kalau nggak suka, kamu tinggal bilang jangan kasih bawang goreng.”

“Masalahnya bukan di situ,” jawab Tyo. “Masalahnya, bawang goreng itu menciptakan ilusi kalau itu nasi uduk!”

Kami bertiga lalu tertawa-tawa, menyadari betapa absurdnya kasus itu.  

Ponsel Tyo berbunyi. Dia merogoh saku celananya, dan mendapati Aldi di layar ponsel. “Panjang umur, nih, bocah,” ujarnya. 

Tyo lalu bercakap-cakap dengan Aldi lewat video call. Di tengah percakapan, Tyo berkata, “Al, coba tebak aku lagi sama siapa.”

“Pacar barumu?” sahut Aldi di ponsel.

Tyo mengarahkan layar ponselnya ke saya dan Arta.

“Anjrit!” seru Aldi setelah melihat kami bertiga. “Kalian tahun baruan, kenapa nggak ngajak aku?”

Kami pun lalu nimbrung ke percakapan di ponsel itu, dan Aldi mengatakan, “Di rumahku masih ada setengah karung jagung sisa semalam. Kenapa kalian nggak ke sini aja, buat bakar-bakar jagung? Mumpung tahun baru!”

Tyo menatap saya dan Arta, meminta pendapat.

Saya berkata, “Tahun baru atau bukan tahun baru, jagung bakar adalah favorit.”

Kami bertiga lalu bangkit, bersiap ke rumah Aldi.

Komunikasi dan Asumsi

Percakapan gagal lebih sering disebabkan oleh asumsi daripada perbedaan pendapat. Kita mengira orang lain sudah tahu apa yang kita maksud, memahami konteks yang kita bawa, atau menangkap isyarat yang menurut kita sangat jelas. Kenyataannya, mereka tidak pernah tinggal di dalam kepala kita. Mereka hanya menerima potongan-potongan informasi yang berhasil keluar melalui kata-kata, ekspresi wajah, atau tindakan. Sisanya harus mereka tebak sendiri.

Kesalahan itu muncul hampir di semua hubungan. Atasan kesal karena bawahan “tidak peka”, padahal instruksinya terlalu umum. Pasangan kecewa karena ulang tahun dilupakan, padahal keinginannya hanya disampaikan lewat sindiran beberapa minggu sebelumnya. Seorang teman mendadak menjaga jarak karena merasa diabaikan, sementara yang lain sama sekali tidak sadar telah melakukan sesuatu yang menyinggung. Kedua orang itu membawa cerita yang berbeda, seolah-olah mereka sedang mengingat dua kejadian yang memang tidak sama.

Otak manusia punya kebiasaan aneh. Setelah memahami sesuatu, kita lupa bagaimana rasanya ketika belum memahami hal itu. Psikologi menyebutnya curse of knowledge. Pengetahuan yang sudah kita miliki membuat kita melebih-lebihkan apa yang seharusnya diketahui orang lain. Penulis menganggap tulisannya sudah jelas. Guru mengira penjelasannya sederhana. Ahli lupa bahwa istilah yang diucapkannya sehari-hari terdengar asing bagi orang yang baru belajar.

Saya pernah membantu seseorang merakit meja komputer yang baru dibeli. Saya berkata, “Bagian itu dipasang seperti biasa.” 

Dia hanya memandangi papan-papan kayu yang berserakan di lantai, kemudian bertanya bingung, “Seperti biasa bagaimana?” 

Saya melupakan sesuatu di situ. Bagi orang yang pernah apalagi terbiasa mengerjakan sesuatu, langkah berikutnya tampak mudah. Bagi orang yang baru pertama kali melakukannya, langkah berikutnya adalah tanda tanya.

Mungkin karena itulah komunikasi yang baik sering terdengar sedikit berlebihan. Orang yang benar-benar ingin dipahami rela mengulang, memperjelas, bahkan memeriksa apakah lawan bicaranya menangkap maksud yang sama. Bukan karena meremehkan kecerdasan orang lain, tetapi karena sadar setiap kepala membawa peta yang berbeda. Satu kalimat yang tampak lurus saat keluar dari mulut bisa berbelok jauh ketika tiba di telinga orang lain.

Lain kali ketika muncul keinginan berkata, “Harusnya dia mengerti,” saya ingin berhenti sebentar pada kata “harusnya”. Kata kecil itu sering menyembunyikan harapan yang tidak pernah benar-benar diucapkan.

Masih Cukup Waras

Pagi ini temanku mengabari hujan turun di tempatnya, sementara di tempatku tidak ada setetes pun gerimis. Kami bisa saja berdebat seharian, berteori ndakik-ndakik, mengajukan "kebenaran" berdasarkan yang terjadi di tempat masing-masing, tapi untung kami masih cukup waras.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Januari 2019.

Ingin Bikin Band

Di Malaysia ada band bernama PARADIGMA BARU. Aku jadi ingin pindah ke Malaysia, dan bikin band dengan nama DASAR-DASAR PRAGMATISME.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Januari 2019.

Hannibal Lecter dan Mbakyunya

Hannibal Lecter pernah punya mbakyu, yang memberi tahu, "Ingatan itu seperti pisau tajam, Hannibal. Menyimpan ingatan bisa membuatmu terluka."

Yang jadi masalah adalah... bagaimana kamu bisa melepaskan ingatan, kalau kamu bahkan tidak punya kemampuan untuk lupa?

Gajah selalu ingat, kata pepatah. Begitu pula Hannibal Lecter.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Januari 2019.

Ngobrol Buku di X

Buku dengan cover ter-cantik! —@basebuku, 13 September 2024

Gramedia Pustaka Utama (GPU) punya desainer cover bernama Eduard Iwan Mangopang. Cover-cover karyanya relatif sederhana, tapi elegan dan berkelas. Itu cover-cover yang menurutku terbaik!

Yang udah baca Murder of Roger Ackyord, tolong kasih tau dong kenapa novel Oma Christie yang satu ini kontroversial? *Tolong jangan spoiler ya! Cukup kasih hint —@basebuku, 14 September 2024

Kontroversial dalam arti; Agatha Christie "menabrak" pakem penulisan cerita detektif di novel ini, hingga pembaca yang paling berpengalaman sekalipun akan terkecoh.

Guys mau tanya, selain Murder of Roger Ackyord, buku karangan Agatha Christie yang mana lagi yang ceritanya sangat mind blowing dan di luar dugaan? —@basebuku, 15 September 2024

Coba baca The Curtain [diterjemahkan dengan judul "Tirai"]. Itu novel Agatha Christie paling "suram" karena menggali sisi-sisi tergelap manusia, sekaligus yang membedakan novel Agatha Christie dengan novel-novel detektif lainnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 September 2024.

Hidup Memang Drama

Tadi pagi menemani seorang teman menangis kehilangan ibunya. Sekarang bersiap ke resepsi perkawinan, untuk ikut bahagia. Hidup memang drama.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Januari 2012.

Komunikasi

Setiap orang mestinya menyadari kebenaran sederhana ini, bahwa satu-satunya cara berkomunikasi yang baik dan sehat dengan orang lain adalah dengan cara berkomunikasi!

Dan yang disebut komunikasi adalah menggunakan bahasa yang bisa dipahami bersama, tanpa menimbulkan salah paham. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Agustus 2021.

This is Wick

This is Wick. Yes, John Wick. —John Wick dalam John Wick

Benar-benar quote yang environmental dan moratorium.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2015.

Mbakyuisme

Personel One Direction, Harry Styles, sering dikabarkan menyukai wanita yang lebih tua darinya. —@kumparan, 15 Januari 2019.

Harry Styles mungkin bocah yang menganut paham mbakyuisme.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Januari 2019.

 
;