Rabu, 30 September 2026

Tata Bahasa

Omong-omong soal berita VICE...

Sambil nunggu udud habis.

Salah satu “kesalahan populer” yang telah menjelma sebagai kesalahan massal di kalangan media di Indonesia adalah penulisan “berhasil di—”. 

Secara tata bahasa, itu sebenarnya salah, karena kata “berhasil” tidak bisa diikuti “di—”. Ivan lanin pasti akan sepakat denganku.

“Berhasil ditemukan”, “berhasil ditangkap”, “berhasil dilepaskan”, “berhasil dicintai”, “berhasil disepakati”, dan varian serupa lainnya, semua itu contoh salah. 

Setiap kali kita menulis “berhasil”, kata itu harus diikuti kata aktif (“me—”). Sementara “di—” adalah kata pasif.

Contoh, judul berita yang ku-retweet tadi. JASAD MENDIANG ERIL BERHASIL DITEMUKAN DI PINTU AIR ENGEHALDE SWISS.

Bisa diubah jadi JASAD MENDIANG ERIL AKHIRNYA DITEMUKAN DI PINTU AIR ENGEHALDE SWISS. 

Atau singkat saja, JASAD MENDIANG ERIL DITEMUKAN DI PINTU AIR ENGEHALDE SWISS.

Ada sebagian orang yang menyatakan, “Tata bahasa tidak penting, yang penting orang paham apa yang dimaksud dalam tulisan.” 

Itu benar, jika di luar penulisan profesional. Orang ngoceh di Twitter, misalnya. Bebas! Mau menulis dengan gaya apa pun, terserah, asal kamu nyaman.

Tapi menulis berita, menulis buku, menulis artikel ilmiah, itu bagian dari menulis profesional. Karena itulah, dalam penulisan profesional ada editor dan proofreader. Editor membantu agar tulisan enak dibaca, proofreader membantu agar tulisan sesuai tata bahasa yang benar.

Seorang penulis bisa saja tidak menguasai tata bahasa [Indonesia] yang baik dan benar, dan dia tetap bisa menerbitkan buku secara profesional, melalui penerbit besar. Bisa saja, mungkin karena dia memiliki ide atau pengetahuan luar biasa, yang tidak dimiliki orang-orang lain.

Tapi kalau kita penulis rata-rata—termasuk aku, tentu saja—menguasai tata bahasa yang baik dan benar adalah kebutuhan. Namanya penulis rata-rata, ide kita juga mungkin medioker. Kalau ide sudah medioker, lalu penulisannya penuh kesalahan, ejaannya kacau, lalu di mana istimewanya?

Kadang-kadang, bahkan sering kali, ide atau pengetahuan yang biasa-biasa saja justru bisa dinikmati banyak orang karena penulisannya baik, rapi, dan benar. 

Sebaliknya, ide atau pengetahuan penting bisa jadi sulit dipahami orang-orang, karena penulisannya kacau dan berantakan.

Fungsi tata bahasa, sebagaimana namanya, adalah menata dan merapikan tulisan, agar bisa dinikmati orang-orang secara luas, dari pelbagai kalangan. 

Jadi, jika kita ingin “orang-orang bisa memahami tulisan kita”, tata bahasa justru penting. Ia bukan sekadar baku atau tak baku.

Lebih dari itu, tulisan juga bagian dari seni. Dengan tata bahasa dan rangkaian kalimat yang disusun dengan tepat, kita bisa membuat tulisan yang tidak hanya baik dan benar secara tata bahasa, tapi juga estetis. Itu yang membedakan satu penulis dengan penulis yang lain.

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, masih panjang sekali, dan mungkin butuh 749 semester untuk menyelesaikannya. Tapi ududku habis.


*) Dikutip dari timeline @noffret, 9 Juni 2022.

Memilih Sendirian

Dulu, zaman kuliah sampai tidak lagi kuliah, saya sering gabung dengan aksi-aksi sosial, mengadvokasi kasus-kasus tertentu, khususnya yang terkait kalangan bawah versus pemerintah. Itu kerja sosial, dalam arti tidak ada bayarannya, dan selama waktu-waktu itu tidak ada masalah. 

Lalu ada suatu kasus yang membuat saya, secara pribadi, merasa dilema. Di satu sisi, kasus itu membutuhkan bantuan advokasi kami, untuk mediasi dengan pemkot. Tetapi, di sisi lain, saya tidak nyaman melakukannya, karena sebenarnya saya justru mendukung aturan pemerintah waktu itu. 

Ada suatu fenomena yang mengganggu secara sosial, dan pemkot ingin menertibkannya. Saya setuju dengan aturan itu. Tetapi, karena alasan solidaritas, saya tetap bersama teman-teman, dan mengadvokasi kasus itu, sampai akhirnya memenangkan kepentingan masyarakat.

Masyarakat menang, pemerintah mengalah, dan tugas kami—saya serta teman-teman—dianggap sukses. Tapi nurani saya tidak nyaman. Sekali lagi, itu kerja sosial, bukan kerja profesional, dalam arti; sebenarnya saya punya kebebasan untuk memilih, andai tidak ada solidaritas pada teman. 

Pola pikir rata-rata aktivis biasanya memihak masyarakat bawah, dan, di waktu bersamaan, harus kontra dengan pemerintah. Dalam hal itu, sikap saya pribadi adalah memihak kebenaran, terlepas pihak mana. Jika peraturan pemerintah yang benar, ya harus diterima, tidak perlu dilawan. 

Sejak peristiwa itu, akhirnya saya memilih “sendirian”, agar tidak lagi terperangkap dalam “solidaritas semu”. Sendirian membuat saya lebih leluasa untuk menentukan langkah saya sendiri, dan memastikan semua yang saya suarakan atau saya lakukan adalah suara hati dan pikiran saya sendiri.  

Keluar dari Tempurung

Sepanjang sejarah peradaban manusia, ada sekitar 4.000 agama yang pernah lahir, dianut, dan dianggap sebagai jalan kebenaran di dunia. Seiring dengan itu, ada sekitar 5.000 tuhan yang pernah dikenal dan disembah manusia... hingga satu per satu dari mereka kemudian ditinggalkan.

Itu fakta yang mencengangkan, andai kita mau keluar dari "tempurung" yang kita bangun sendiri. Jumlah agama tidak cuma segelintir seperti yang kita kenal, dan jumlah Tuhan juga tidak sebatas yang kita dengar. Ada ribuan agama, ribuan kepercayaan, dan ribuan Tuhan di luar sana.

Kenyataan itu mengandung implikasi yang sangat rumit sekaligus mencengangkan bagi siapa pun yang mau berpikir, termasuk sekelompok tukang batu yang membawa mistar dan jangka.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Oktober 2024.

Kabar Buruk

Yang mengherankan, kita sepertinya kecanduan kabar buruk.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Agustus 2012.

Kepekaan

Ada yang bilang, beberapa orang dilahirkan dengan kepekaan yang keterlaluan. Sepertinya aku termasuk. #barusadar


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Lagi Sedih

"Kamu lagi sedih, ya?" | "Nggak, kok." | Berarti lagi sedih.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Ngeri Sendiri

Kadang-kadang ngeri sendiri kalau membaca kembali yang pernah kutulis.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Di Telepon

Seseorang berkata di telepon, "Aku lagi nggak ingin nilpon!" 

Tapi dia ngobrol di telepon sampai berjam-jam.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Kurang Lebih

Tak ada yang bisa mengurangi kekurangan atau melebihi kelebihan. Ya, kurang lebih seperti itu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2012.

Sulit Dibuktikan

Masalah kebanyakan kita adalah menuntut bukti sebelum percaya. Sayangnya, kadang-kadang, beberapa hal sulit dibuktikan secara kasatmata.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Agustus 2012.

Selesai

"Ayo kita bikin definisi sendiri, dan yakini." | Dan cerita pun selesai.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Juli 2012.

Paling Indah

"Apa yang paling indah di dunia ini?" | "Bulan." | "Kenapa?" | "Tanyakan saja pada si Pungguk."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Juli 2012.

Selasa, 29 September 2026

Ngelinting Mbako, Memikirkan Hidup

Saban tahun, harga rokok terus naik karena cukai terus naik. Alasan cukai terus naik karena pemerintah “ingin menurunkan prevalensi merokok, menyejahterakan petani tembakau, meningkatkan penerimaan negara”, dan hal-hal yang terdengar seperti omong kosong lainnya. Intinya, gara-gara cukai terus [di]naik[kan], harga rokok kian mahal. 

Sebenarnya, yang tertekan akibat cukai terus naik bukan hanya perokok atau pembeli rokok, tapi juga produsen rokok. Di sebuah video, saya pernah melihat seorang bos perusahaan rokok mengatakan, kira-kira seperti ini, “Untuk bisa mendapat keuntungan dari bisnis rokok, jumlah yang terjual harus miliaran batang. Kalau yang terjual cuma jutaan apalagi cuma ribuan batang, kita sulit untung, karena modal sudah habis untuk membayar cukai.” 

Dan hal semacam itu akan terus berlangsung tahun demi tahun. Artinya, ketika cukai dinaikkan, perusahaan rokok akan terus berusaha meningkatkan penjualan, agar mereka tetap mendapat keuntungan, dan begitu seterusnya, mungkin sampai kiamat. Kenaikan cukai dan jumlah perokok [atau tingginya penjualan rokok] jadi seperti lingkaran setan.

Saya tidak tahu bagaimana hitung-hitungan bisnis perusahaan rokok, karena saya sebatas penikmat rokok. Dan sebagai perokok, saya mengamati suatu pola yang selalu sama, dari tahun ke tahun. Ketika cukai naik, harga rokok dengan merek terkenal akan naik. Merek terkenal yang saya maksud adalah merek-merek rokok yang sudah dikenal masyarakat luas selama bertahun-tahun. Misalnya Djarum, Dji Sam Soe, Marlboro, dan semacamnya. Harga rokok dengan merek-merek itu biasanya terus naik saban tahun akibat cukai yang terus naik.

Ketika harga rokok dengan merek-merek terkenal itu naik, dan artinya jadi lebih mahal dari harga sebelumnya, selalu muncul rokok-rokok baru dengan merek-merek “aneh”, dengan harga yang jauh lebih murah; bisa setengah dari harga rokok dengan merek terkenal. 

Sekadar cerita. Dulu ada rokok dengan kemasan mirip Dji Sam Soe, namanya Syamsu Bersinar. Harganya seperempat dari harga Dji Sam Soe. Entah sekarang masih ada atau tidak, saya tidak tahu. Lalu ada rokok dengan kemasan seperti Djarum 76, dan lain-lain. Rokok-rokok yang tampaknya sengaja dibuat mirip itu menggunakan merek-merek “aneh”, dan harganya jauh lebih murah. Ketika harga rokok dengan merek-merek terkenal naik dan jadi mahal, rokok dengan merek-merek aneh kerap kali jadi pilihan, hingga laris di pasar.

Seperti yang disebut tadi, saya mengamati pola yang sama setiap kali harga rokok naik. Mula-mula, rokok dengan merek-merek aneh akan membanjiri pasar, dan kompetisi akan terjadi. Seiring waktu, sebagian rokok baru itu akan menghilang, mungkin karena tidak laku atau karena sebab lain, hingga tersisa segelintir merek rokok baru di pasar. Perlahan-lahan, rokok baru itu akan dikenal dan diandalkan sebagian perokok, karena harganya relatif murah. Tapi rokok yang murah itu juga kena cukai, sehingga harganya juga akan naik seiring kenaikan cukai. Akibatnya, rokok-rokok itu pun akan dianggap mahal oleh sebagian perokok.

Ketika sampai di titik itu, banyak perokok yang akhirnya memilih alternatif terakhir; bikin rokok sendiri, alias melinting tembakau!

Ada banyak toko yang menyediakan tembakau aneka rasa, lengkap dengan papir (kertas khusus untuk melinting tembakau), juga lem dan alat melinting. Banyak perokok yang memilih alternatif itu karena dinilai lebih murah, meski juga lebih repot, karena harus melinting tembakau sendiri. 

Aktivitas melinting tembakau itu pula yang saya dapati ketika dolan ke tempat Ardi, tempo hari. Siang itu cukup panas, tapi halaman rumah Ardi selalu adem seperti biasa, dengan silir-silir angin dari pohon besar di halaman. Ardi sedang duduk bersama Ripin di teras rumah, dan mereka lagi asyik ngelinting mbako (melinting tembakau) sambil leyeh-leyeh.

Sambil tersenyum, saya melangkah ke tempat mereka, dan berkata, “Kalian kayak bocah-bocah miliuner kripto yang nggak perlu kerja, cukup leyeh-leyeh sambil ngelinting mbako, karena udah kebanyakan duit!”

Ardi dan Ripin tertawa ngakak. 

“Andai benar kayak gitu, ya,” sahut Ardi kemudian.

Saya duduk bersama mereka di teras rumah, dan Ardi menyodorkan wadah tembakau. “Ini mbako rasa Dji Sam Soe,” kata Ardi.

Saya pun mengambil papir, melinting tembakau, menyulutnya, lalu mulai mengisapnya dengan penuh penghayatan. Setelah itu nyengir, “Nggak ada rasa Dji Sam Soe-nya!”

Ardi dan Ripin ngikik. 

Ripin berkata, “Kalau bener rasanya kayak Dji Sam Soe asli, pabrik rokok itu bakal bangkrut!”

Tembakau yang dijual di toko-toko tembakau memang menyediakan aneka rasa. Ada tembakau rasa rokok Djarum, Dji Sam Soe, Surya, dan lain-lain. Tapi tentu saja rasanya tidak sama seperti rokok-rokok yang ditiru. Meski begitu, para penikmat tembakau tidak peduli, karena intinya mereka tetap dapat menikmati udud dengan biaya murah. Seperti Ardi dan Ripin, misalnya.

Ardi dan Ripin sudah cukup lama berpindah dari rokok bungkusan ke rokok lintingan. Karenanya, sambil menikmati udud, mereka biasanya juga asyik ngelinting mbako. 

Saat duduk bersama mereka, saya tanpa sengaja mendapati lembaran brosur mirip undangan. Waktu saya baca, isinya undangan workshop tentang usaha tenun, dan diadakan di Pemalang. Waktu acaranya adalah hari itu.

“Kalian nggak ikut acara ini?” tanya saya pada Ardi dan Ripin.

“Nggak ada duitnya,” jawab Ardi.

Ripin menyahut, “Kami nggak butuh wokshop kayak gitu, sih. Yang kami butuhkan kerja jelas, dengan bayaran jelas. Lagian acara itu di Pemalang, butuh bensin untuk ke sana. Belum lagi biaya workshop-nya lumayan mahal.”

Saya mengangguk. Saat orang tidak punya pekerjaan, yang mereka butuhkan memang kerja yang memberi penghasilan. Sementara acara workshop seperti di brosur itu mungkin lebih tepat untuk orang yang sudah punya pekerjaan tetap, sehingga ada biaya untuk mengikuti workshop. Tanpa penghasilan, bisa dibilang orang akan stuck, tidak bisa ke mana-mana, karena tidak ada biaya.

Orang mungkin bisa mengatakan, “Ikut workshop bisa membangun network. Dengan adanya network, terbuka kemungkinan peluang, dan dari situ bisa mendapat pekerjaan.”

Pernyataan itu memang benar. Secara teoritis, mengikuti workshop—atau acara-acara semacamnya—memang memungkinkan membangun network dengan banyak orang. Dari adanya network, akan terbuka kemungkinan peluang, termasuk peluang pekerjaan. Masalahnya, bagaimana kalau kamu sama sekali tidak punya uang untuk sekadar membayar biaya workshop? 

Boro-boro mikir workshop yang biayanya relatif mahal, wong mikir hidup sehari-hari saja sudah susah! Makanya tadi saya bilang, workshop semacam itu mungkin lebih tepat untuk orang yang sudah punya penghasilan tetap, dan ingin mendapat peluang baru. Artinya, mereka sudah punya modal, khususnya modal untuk membayar biaya workshop! 

Orang yang terbiasa sibuk kerja sering kali tidak ingat bahwa di dunia ini ada banyak orang lain yang masih menganggur, yang satu-satunya harapan mereka adalah mendapat pekerjaan. Dan orang yang tak pernah kehabisan uang sering kali tidak tahu kalau di dunia ini banyak orang lain yang kerap tidak punya uang sama sekali, sehingga, boro-boro mikir workshop, bahkan untuk makan saja mereka bingung!

Saya mengisap rokok, lalu berkata, “Tadi, dalam perjalanan ke sini, aku sempat kejebak macet. Kirain ada kecelakaan, ternyata ada pencuri ketangkap. Dia mencuri sekantong beras di warung, dan ketahuan. Orangnya mungkin seumuran kita. Katanya dia perlu ngasih makan anak-anaknya di rumah.”

“Kasus kayak gitu tuh bikin kita serbasalah, ya,” ujar Ardi. “Kita benci aksi pencurian yang dia lakukan, tapi juga kasihan karena dia mencuri akibat butuh makan.”

Saya mengangguk.

“Kita yang nggak punya istri dan anak aja bingung kalau nggak ada duit,” sahut Ripin, “apalagi yang punya istri dan anak-anak.”

Ardi menyulut rokok yang baru ia linting, lalu berkata, “Aku jadi ingat kasus yang menimpa sepupuku, namanya Gufron. Suatu hari ada teman lama yang datang, dan Gufron menyambut dengan baik—namanya juga teman. Si teman itu datang dengan jalan kaki, katanya motornya lagi di bengkel karena mogok di jalan. Mereka pun ngobrol sampai lama, dan teman Gufron tadi kemudian pinjam motor Gufron, katanya buat ngecek motornya yang di bengkel. Karena percaya, Gufron meminjamkan motornya, dan sejak itu si teman nggak kembali.”

“Lhah, terus gimana?” tanya saya.

“Besoknya, Gufron mendatangi rumah si teman yang bawa motornya itu,” jawab Ardi. “Gebleknya, ternyata motor Gufron udah digadaikan ke orang lain.” 

“Waduh!” seru Ripin.

Ardi melanjutkan, “Temannya Gufron itu bilang kalau dia udah lama nggak kerja, dan butuh biaya buat ngasih makan keluarganya. Barang-barang di rumahnya udah habis buat makan. Dia terpaksa menggadaikan motor Gufron karena butuh uang. Di sisi lain, Gufron juga butuh motor itu buat kerja. Kalau nggak ada motor, dia nggak bisa kerja.” [Gufron bekerja sebagai sales yang memasok barang-barang kebutuhan sehari-hari di warung-warung perkampungan.]

Ardi mengisap rokoknya, lalu meneruskan, “Gufron butuh motornya buat kerja, tapi motor itu digadaikan temannya. Dia bisa aja lapor polisi, tapi menurutnya akan bikin dia makin repot. Gufron menuntut temannya buat mengembalikan motor, tapi temannya udah pasrah. Si teman ini bahkan bilang terang-terangan kalau sebagian uang hasil gadai motor udah ia gunakan buat beli beras dan aneka kebutuhan, dan cuma sisa beberapa ratus ribu. Akhirnya Gufron meminta sisa uang itu, karena dia juga butuh ngasih makan keluarganya.”

Saya dan Ripin terdiam mendengar cerita itu.

Sesaat kemudian, Ripin berkata, “Omong-omong soal keluarga, kita sering dengar kalau menikah akan melancarkan rezeki. Tapi kok orang-orang yang kita kenal malah mengalami kebalikannya, ya? Sampai ada yang maling beras di warung, ada yang bawa motor temannya buat digadaikan, ada juga yang ngutang nggak bayar-bayar, dan alasannya karena butuh menghidupi keluarga. Lhah, katanya menikah melancarkan rezeki?”

“Mungkin ‘rezeki’ yang dimaksud itu nggak mesti dalam bentuk uang, Pin,” ujar saya sambil tersenyum, “punya istri dan anak, kan, termasuk rezeki.”

Ripin ngikik. “Jadi, maksudmu, mereka dapat rezeki berupa istri dan anak, lalu pusing mencari rezeki berbentuk uang untuk menghidupi istri dan anaknya, gitu?”

Entah kenapa saya ikut ngikik, karena bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu. 

Ardi lalu berkata, “Rezeki juga bisa berbentuk ketenangan hati, karena punya istri dan anak-anak...”

Sekarang Ripin tertawa. “Yang bener aja, Ar! Kalau kamu punya istri dan anak-anak, dan kamu nggak ada uang buat menghidupi mereka, ketenangan kayak apa yang kamu rasakan? Wong kita yang lajang aja pusing, apalagi mereka yang punya tanggungan istri dan anak-anak?”

Ardi ikut tertawa, mungkin juga bingung bagaimana menjawab pertanyaan Ripin.

“Sepusing-pusingnya kita,” kata saya akhirnya, “setidaknya kita masih bisa ngelinting mbako sambil menikmati silir angin di sini, dan nggak ada istri yang marah-marah, juga nggak ada anak-anak yang perutnya kelaparan.”

Produktivitas yang Bertahan Lama

Pernah terpikir bahwa rasa bersalah saat beristirahat mungkin bukan tanda kita rajin, tetapi tanda bahwa kita telah menyerahkan diri pada pekerjaan?

Kalau itu terdengar berlebihan, cobalah duduk tanpa melakukan apa pun selama tiga puluh menit. Jangan membuka ponsel. Jangan membaca. Jangan merencanakan pekerjaan berikutnya. Jangan mengubah keheningan menjadi proyek baru. Rasakan apa yang muncul. Pada sebagian orang, bukan ketenangan yang datang lebih dulu, tapi kecemasan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah hidup sedang terbuang percuma hanya karena tidak ada sesuatu yang sedang diproduksi.

Reaksi itu menarik. Tubuh sebenarnya tidak sedang meminta bekerja. Pikiranlah yang panik. Selama bertahun-tahun kita diajari bahwa manusia yang baik adalah manusia yang terus menghasilkan sesuatu. Semakin padat jadwal, semakin tinggi nilainya. Kesibukan berubah jadi sertifikat moral. Orang yang selalu dapat dihubungi dianggap bertanggung jawab. Orang yang selalu memiliki waktu luang mulai dicurigai. Tanpa sadar kita membangun ukuran martabat yang aneh: eksistensi dianggap sah hanya selama grafik produktivitas terus bergerak naik.

Ukuran seperti itu akan merusak siapa pun, bahkan ketika kariernya sedang berada di puncak.

Sebuah server basis data modern sanggup memproses jutaan permintaan setiap detik. Kemampuannya terlihat hampir tanpa batas. Namun setiap operasi komputasi meninggalkan serpihan alokasi memori yang tidak lagi digunakan. Sistem membutuhkan waktu agar subsistem garbage collector dapat menyisir RAM, mengenali objek yang sudah tidak memiliki fungsi, lalu membebaskan ruang yang mereka tempati. 

Jika seluruh sumber daya dipaksa hanya untuk menjalankan instruksi baru tanpa pernah memberi kesempatan proses pembersihan itu bekerja, sampah memori akan terus menumpuk. Kecepatan pemrosesan turun sedikit demi sedikit, aplikasi mulai membeku, lalu sistem berhenti total. Server itu tidak runtuh karena kekurangan kemampuan menghitung. Ia tenggelam oleh sisa-sisa pekerjaannya sendiri. 

Saya makin sering merasa manusia modern mengalami kebocoran serupa. Kepala kita penuh oleh rapat yang sudah selesai seminggu lalu, percakapan yang terus diputar ulang, berita yang bahkan tidak akan diingat bulan depan, target yang tercapai tetapi langsung digantikan target berikutnya. 

Hampir tidak ada proses pembersihan. Semua ditumpuk karena kita takut kehilangan momentum. Lalu kita heran mengapa keputusan jadi dangkal, perhatian mudah pecah, dan pikiran terasa berat bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.

Yang sebenarnya ditakuti ternyata bukan istirahat. Yang ditakuti adalah ruang kosong.

Ruang kosong memaksa seseorang bertemu dirinya sendiri tanpa perlindungan daftar pekerjaan. Selama ini kesibukan telah menjadi obat penenang yang sangat diterima secara sosial. Tidak ada yang mempertanyakan orang yang pulang larut setiap malam. Tidak ada yang heran melihat seseorang terus membuka email saat makan bersama keluarga. Kesibukan hampir selalu memperoleh pembenaran. Padahal di baliknya kadang tersembunyi kepanikan yang sederhana: kalau saya berhenti, apa yang masih tersisa dari diri saya?

Pertanyaan itu jauh lebih mengganggu daripada tenggat waktu.

Saya kadang berpikir, sebagian besar orang tidak sedang mengejar produktivitas. Mereka sedang mengejar pembuktian diri yang tidak pernah selesai. Karena itulah istirahat terasa mengancam. Begitu pekerjaan berhenti, sumber identitas ikut berhenti. Keheningan membuka kemungkinan yang selama ini dapat ditutup oleh aktivitas: jangan-jangan semua kesibukan itu bergerak sangat cepat ke arah yang keliru.

Produktivitas yang bertahan lama tidak lahir dari kemampuan memeras setiap menit. Ia lahir dari keberanian menghentikan mesin sebelum mesin itu mengambil alih cara kita menilai diri sendiri.

Banyak yang Libur

Sepertinya hari ini banyak yang libur. Termasuk aku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Januari 2012.

Pilihan

Sekarang aku bertanya-tanya. Pilihan itu sesuatu yang kita buat... ataukah sesuatu yang kita terima?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Juli 2012.

Membahas Nama PT

Sekelompok bocah berencana mendirikan PT (Perseroan Terbatas), dan sedang memikirkan nama yang tepat untuk PT mereka.

“Enaknya mau dinamain PT apa, nih?” tanya salah satunya.

Seorang bocah usul, “Gimana kalau PT CMDS?”

Bocah lain menyahut, “CMDS itu singkatan apa?”

“Aku nggak tahu,” jawab bocah pengusul tadi. “Aku hanya berpikir CMDS terdengar keren aja.”

Lalu PT CMDS pun lahir. 

Sampai sekarang tidak ada yang tahu apa arti singkatan nama PT itu. 

Mahal

Mahal dan terlalu mahal kadang beda tipis.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Februari 2012.

Nila dan Susu

Nila setitik dan susu sebelanga itu ternyata relevan untuk banyak hal.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Februari 2012.

Tidak Enak Badan

Tidak enak badan adalah alasan bagus untuk menjadi anak manis. Tidur sore-sore.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Februari 2012.

Footnote Gemes

Keyakinan itu beda dengan pengetahuan, Mbak. Itulah kenapa perlu membuka pikiran dan terus belajar, bukan ngotot mengajukan keyakinan yang telah terbukti salah.

Footnote Gemes

Footgem*:

Sayang sekali, padahal memancarkan aura mbakyu.

*Footnote gemes. Apeu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 September 2024.

Merasa Menemukan

Tiap kali mendengar Amy Lee menyanyikan "Untitled", aku merasa menemukan yang ingin kutemukan, meski tak tahu apa yang sebenarnya kutemukan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Juli 2012.

Akhir Pekan

Akhir pekan, dan tak punya pacar. Aku bersyukur, karena bisa menggunakan akhir pekan untuk hal-hal yang lebih baik dan lebih bermanfaat.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 November 2017.

Kapi Kapi

Jangan lupa kapi kapi.

Oh, kapi kapi.

Selasa, 01 September 2026

Kuburan di Komputer

Saat bersih-bersih ruang harddisk, tanpa sengaja saya menemukan folder lama di komputer, lalu melihat isinya. Ada dokumen bernama "Final". Di sebelahnya ada "Final_Banget". Beberapa langkah kemudian muncul "Final_Fix", "Final_Rev", "Final_Terakhir", dan entah kenapa masih ada lagi "Resolusi_2025" yang dibuat dengan penuh semangat, lalu tidak pernah dibuka kembali.  

Pemandangan seperti itu hampir menjadi lelucon universal di era digital. Kita menertawakannya karena merasa akrab. Namun, jika diperhatikan lebih lama, folder itu bukan sekadar kumpulan berkas. Ia adalah museum kecil yang menyimpan jejak sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar proyek yang tertunda. Ia adalah kuburan dari rasa takut yang menyamar sebagai persiapan.

Sebagian besar proyek itu tidak mati karena kekurangan kemampuan. Banyak di antaranya berhenti sebelum benar-benar diuji. Belum pernah dipresentasikan, belum pernah dipublikasikan, belum pernah dicoba kepada siapa pun. Mereka lahir, diberi nama yang terdengar serius, lalu perlahan tenggelam di antara folder-folder lain. 

Kita sering menyebut keadaan itu sebagai "belum siap". Istilah itu terdengar masuk akal, terkesan dewasa, bahkan terdengar bertanggung jawab. Siapa yang ingin meluncurkan sesuatu dalam keadaan setengah matang? Tidak ada yang salah dengan persiapan. Yang bermasalah adalah ketika persiapan berubah menjadi tempat persembunyian yang terasa aman.

Ada pertanyaan yang jarang diajukan kepada diri sendiri. Sebenarnya, siap menurut ukuran siapa?

Banyak orang mengira sedang mengejar kualitas. Kenyataannya, mereka sedang mengejar kemungkinan yang mustahil: sebuah momen ketika tidak ada lagi risiko terlihat bodoh. Mereka ingin hari pertama yang tampak seperti hari keseratus. Mereka berharap karya pertama terasa seperti karya seorang ahli. Mereka ingin presentasi pertama berlangsung tanpa gugup, tulisan pertama langsung dipuji, usaha pertama langsung meyakinkan semua orang. Yang sedang dicari bukan kesiapan, tapi perlindungan dari rasa malu.

Keinginan itu sangat manusiawi. Tidak ada orang yang senang dinilai buruk. Kita hidup di tengah budaya yang gemar melihat hasil akhir tanpa menyaksikan prosesnya. Ketika melihat musisi tampil memukau, kita menikmati konsernya, bukan ribuan jam latihan yang dipenuhi nada-nada sumbang. Ketika membaca buku yang terasa matang, kita tidak melihat puluhan halaman yang dibuang dan dihapus penulisnya. Ketika melihat pembicara menjelaskan sesuatu dengan tenang, kita tidak menyaksikan presentasi-presentasi awal yang berantakan.

Akibatnya, kita membandingkan hari pertama kita dengan puncak perjalanan orang lain.

Perbandingan itu menghasilkan tuntutan yang mustahil dipenuhi. Kita mulai berpikir bahwa sebelum melangkah, semua celah harus ditutup lebih dulu. Semua kemungkinan kesalahan harus dihilangkan. Semua kritik harus diantisipasi. Kita sibuk mengumpulkan pengetahuan, membeli kursus, atau menyusun rencana berkali-kali. Aktivitasnya terlihat produktif. Kesibukan itu memberi rasa nyaman karena membuat kita merasa sedang bergerak, padahal kaki belum benar-benar meninggalkan garis awal.

Saya melihat kembali folder-folder tadi. Nama file-nya berubah, tanggalnya berganti, versinya bertambah, tetapi satu hal tetap sama: proyek itu tidak pernah bertemu dunia nyata. 

Dunia nyata memang tidak ramah terhadap kesempurnaan. Dunia hanya memberi umpan balik kepada sesuatu yang benar-benar hadir. Sebuah tulisan yang belum diterbitkan tidak akan menemukan pembaca. Sebuah toko yang belum dibuka tidak akan pernah mendapat pelanggan. Sebuah gagasan yang terus disimpan tidak pernah memiliki kesempatan untuk tumbuh melalui koreksi.

Semua orang yang hari ini tampak mahir sebenarnya memiliki arsip yang jarang diperlihatkan. Ada tulisan yang buruk, presentasi yang membosankan, desain yang gagal, produk yang tidak laku, keputusan yang keliru. Arsip itu tidak dihapus dari sejarah mereka. Arsip itu justru menjadi fondasi dari kemampuan yang sekarang terlihat begitu alami. Keahlian tidak muncul setelah seseorang merasa siap. Keahlian lahir karena seseorang bersedia berkali-kali terlihat belum siap.

Itu kenyataan yang paling sulit diterima. Kita sering membayangkan keberanian sebagai keadaan ketika rasa takut menghilang. Kehidupan menunjukkan gambaran yang berbeda. Keberanian sering kali hanyalah keputusan untuk tetap membuka pintu meskipun rasa takut masih duduk di ruang tamu.

Tidak ada tanggal di kalender yang diberi tanda khusus sebagai hari ketika seseorang akhirnya resmi siap menjalani hidupnya. Tidak ada alarm yang berbunyi lalu berkata, "Sekarang kamu sudah cukup pintar. Sekarang kamu tidak akan membuat kesalahan lagi." Hidup tidak bekerja dengan cara seperti itu. Ia terus bergerak sambil mengundang kita belajar di tengah perjalanan.

Mungkin suatu hari nanti folder "Final_Banget" masih akan ada di komputer. Mungkin nama-nama aneh itu tetap membuat kita tersenyum. Namun akan jauh lebih menyenangkan jika di sampingnya ada sesuatu yang benar-benar selesai, benar-benar dikirim, benar-benar dicoba, meski hasil pertamanya jauh dari sempurna. 

Hidup tidak pernah menunggu seseorang merasa siap. Hidup hanya memberi ruang kepada mereka yang bersedia memulai sebelum keyakinannya lengkap.

Lawan Kebodohan Bukan Kecerdasan

Selama bertahun-tahun kita belajar menghubungkan pengetahuan dengan nilai diri. Anak yang bisa menjawab dipuji. Murid yang tidak tahu diminta belajar lebih giat. Di tempat kerja, orang yang dianggap ahli memperoleh kepercayaan lebih besar. Sedikit demi sedikit, pengetahuan berhenti menjadi alat memahami dunia. Ia berubah menjadi bagian dari harga diri.

Perubahan itu hampir tidak terasa. Suatu saat kita tidak lagi mempertahankan pendapat karena pendapat tersebut paling masuk akal. Kita mempertahankannya karena mundur satu langkah terasa seperti kehilangan wibawa. Pikiran mulai bekerja dengan tujuan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari apa yang benar, tetapi mencari apa yang membuat citra diri tetap utuh.

Keadaan itu menjelaskan mengapa seseorang dapat terus memegang keyakinan lama meskipun hasilnya berkali-kali terbukti keliru. Bukan karena informasi baru tidak tersedia. Dunia hari ini dipenuhi pengetahuan yang bisa diakses dalam hitungan detik. Hambatan yang sebenarnya muncul lebih awal: informasi baru harus melewati penjaga bernama "saya sudah tahu". Penjaga itu sangat jarang membuka pintu.

Rasa ingin tahu memiliki sifat yang hampir berlawanan. Ia memaksa seseorang merelakan kenyamanan menjadi orang yang merasa mengerti. Setiap pertanyaan baru mengandung pengakuan bahwa isi kepala hari ini belum cukup. Pengakuan seperti itu memang tidak menyenangkan, tetapi justru itulah yang membuat pikiran tetap lentur. Cara berpikir yang tidak pernah diganggu oleh pertanyaan akhirnya membatu. Dunia berubah, sementara isi kepala tetap menunggu kenyataan menyesuaikan diri.

Saya semakin percaya bahwa lawan kebodohan bukan kecerdasan. Lawannya adalah keyakinan bahwa proses belajar telah selesai. Sejak keyakinan itu menetap, setiap pengetahuan baru berubah status. Ia tidak lagi datang sebagai tamu yang disambut, tetapi sebagai penyusup yang harus ditolak.

Tidak ada yang tampak dramatis ketika seseorang menyadari bahwa dia belum tahu, lalu berusaha belajar, atau bertanya pada orang yang lebih tahu. Yang berubah hanya beberapa detik pengakuan, “Saya belum tahu.” 

Arah hidup seseorang sering mulai bergeser tepat pada detik yang sederhana itu.

Datang dan Pergi

Datang dan pergi, datang dan pulang. Daun jatuh tak pernah kembali kepada ranting, pun waktu yang hilang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Juli 2012.

Satu Hari Lagi

Pagi adalah kesadaran bahwa satu hari lagi datang, dan satu hari lagi hilang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Mei 2012.

Masa Lalu

Masa lalu berkirim surat untukku. Mungkin dia pikir aku masih yang dulu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 September 2012.

Hal Besar

Hal-hal besar selalu dimulai dari dalam.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Juni 2012.

Rindu Menangisi Jarak

Pada mulanya adalah cinta. Benar, pada mulanya adalah tuntutan spesies untuk melangsungkan keturunan.

Mulanya, cinta tampak indah di kejauhan. Lalu semakin indah dalam dekat. Setelah itu, rindu menangisi jarak.

Setelah selesai melukis di kanvas, si pelukis akan mengambil jarak untuk menilai. Sayangnya, cinta sering tak memberikan jarak.

Cinta adalah jarak yang diretas, paradoks paling absurd dalam logika manusia.

Dari mana datangnya cinta? Bukan dari hati. Ia datang dari otak, manipulasi yang lahir dari scotoma.

Scotoma adalah sesuatu yang kita lihat, karena kita memang ingin melihatnya.

Cinta hadir karena tertarik. Ketertarikan datang karena indah. Keindahan selalu terlihat dari jauh.

Cara ampuh menghilangkan perasaan cinta pada seseorang: Kenali dia lebih dekat.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Juli 2012.

Film Pernikahan Terbaik

"Aku mencintaimu. Tapi yang kita lakukan adalah saling membenci, dan saling berusaha mengendalikan, dan saling menyakiti," kata si pria.

Dan si wanita menjawab, "Itulah pernikahan."

Itu dialog dalam Gone Girl, salah satu "film pernikahan" terbaik yang pernah kusaksikan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2019.

La Luna

Pero sólo puedo ver la luna. RT @YoSoyCookiee Soy la luna del sol de tus ojos.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 April 2014.  

Hubungan

Semua hubungan dibangun dengan perasaan nyaman. Kenyamanan dibangun dengan percakapan menyenangkan. Percakapan adalah hasil kerja dua orang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Mei 2014.  

 
;