Saban tahun, harga rokok terus naik karena cukai terus naik. Alasan cukai terus naik karena pemerintah “ingin menurunkan prevalensi merokok, menyejahterakan petani tembakau, meningkatkan penerimaan negara”, dan hal-hal yang terdengar seperti omong kosong lainnya. Intinya, gara-gara cukai terus [di]naik[kan], harga rokok kian mahal.
Sebenarnya, yang tertekan akibat cukai terus naik bukan hanya perokok atau pembeli rokok, tapi juga produsen rokok. Di sebuah video, saya pernah melihat seorang bos perusahaan rokok mengatakan, kira-kira seperti ini, “Untuk bisa mendapat keuntungan dari bisnis rokok, jumlah yang terjual harus miliaran batang. Kalau yang terjual cuma jutaan apalagi cuma ribuan batang, kita sulit untung, karena modal sudah habis untuk membayar cukai.”
Dan hal semacam itu akan terus berlangsung tahun demi tahun. Artinya, ketika cukai dinaikkan, perusahaan rokok akan terus berusaha meningkatkan penjualan, agar mereka tetap mendapat keuntungan, dan begitu seterusnya, mungkin sampai kiamat. Kenaikan cukai dan jumlah perokok [atau tingginya penjualan rokok] jadi seperti lingkaran setan.
Saya tidak tahu bagaimana hitung-hitungan bisnis perusahaan rokok, karena saya sebatas penikmat rokok. Dan sebagai perokok, saya mengamati suatu pola yang selalu sama, dari tahun ke tahun. Ketika cukai naik, harga rokok dengan merek terkenal akan naik. Merek terkenal yang saya maksud adalah merek-merek rokok yang sudah dikenal masyarakat luas selama bertahun-tahun. Misalnya Djarum, Dji Sam Soe, Marlboro, dan semacamnya. Harga rokok dengan merek-merek itu biasanya terus naik saban tahun akibat cukai yang terus naik.
Ketika harga rokok dengan merek-merek terkenal itu naik, dan artinya jadi lebih mahal dari harga sebelumnya, selalu muncul rokok-rokok baru dengan merek-merek “aneh”, dengan harga yang jauh lebih murah; bisa setengah dari harga rokok dengan merek terkenal.
Sekadar cerita. Dulu ada rokok dengan kemasan mirip Dji Sam Soe, namanya Syamsu Bersinar. Harganya seperempat dari harga Dji Sam Soe. Entah sekarang masih ada atau tidak, saya tidak tahu. Lalu ada rokok dengan kemasan seperti Djarum 76, dan lain-lain. Rokok-rokok yang tampaknya sengaja dibuat mirip itu menggunakan merek-merek “aneh”, dan harganya jauh lebih murah. Ketika harga rokok dengan merek-merek terkenal naik dan jadi mahal, rokok dengan merek-merek aneh kerap kali jadi pilihan, hingga laris di pasar.
Seperti yang disebut tadi, saya mengamati pola yang sama setiap kali harga rokok naik. Mula-mula, rokok dengan merek-merek aneh akan membanjiri pasar, dan kompetisi akan terjadi. Seiring waktu, sebagian rokok baru itu akan menghilang, mungkin karena tidak laku atau karena sebab lain, hingga tersisa segelintir merek rokok baru di pasar. Perlahan-lahan, rokok baru itu akan dikenal dan diandalkan sebagian perokok, karena harganya relatif murah. Tapi rokok yang murah itu juga kena cukai, sehingga harganya juga akan naik seiring kenaikan cukai. Akibatnya, rokok-rokok itu pun akan dianggap mahal oleh sebagian perokok.
Ketika sampai di titik itu, banyak perokok yang akhirnya memilih alternatif terakhir; bikin rokok sendiri, alias melinting tembakau!
Ada banyak toko yang menyediakan tembakau aneka rasa, lengkap dengan papir (kertas khusus untuk melinting tembakau), juga lem dan alat melinting. Banyak perokok yang memilih alternatif itu karena dinilai lebih murah, meski juga lebih repot, karena harus melinting tembakau sendiri.
Aktivitas melinting tembakau itu pula yang saya dapati ketika dolan ke tempat Ardi, tempo hari. Siang itu cukup panas, tapi halaman rumah Ardi selalu adem seperti biasa, dengan silir-silir angin dari pohon besar di halaman. Ardi sedang duduk bersama Ripin di teras rumah, dan mereka lagi asyik ngelinting mbako (melinting tembakau) sambil leyeh-leyeh.
Sambil tersenyum, saya melangkah ke tempat mereka, dan berkata, “Kalian kayak bocah-bocah miliuner kripto yang nggak perlu kerja, cukup leyeh-leyeh sambil ngelinting mbako, karena udah kebanyakan duit!”
Ardi dan Ripin tertawa ngakak.
“Andai benar kayak gitu, ya,” sahut Ardi kemudian.
Saya duduk bersama mereka di teras rumah, dan Ardi menyodorkan wadah tembakau. “Ini mbako rasa Dji Sam Soe,” kata Ardi.
Saya pun mengambil papir, melinting tembakau, menyulutnya, lalu mulai mengisapnya dengan penuh penghayatan. Setelah itu nyengir, “Nggak ada rasa Dji Sam Soe-nya!”
Ardi dan Ripin ngikik.
Ripin berkata, “Kalau bener rasanya kayak Dji Sam Soe asli, pabrik rokok itu bakal bangkrut!”
Tembakau yang dijual di toko-toko tembakau memang menyediakan aneka rasa. Ada tembakau rasa rokok Djarum, Dji Sam Soe, Surya, dan lain-lain. Tapi tentu saja rasanya tidak sama seperti rokok-rokok yang ditiru. Meski begitu, para penikmat tembakau tidak peduli, karena intinya mereka tetap dapat menikmati udud dengan biaya murah. Seperti Ardi dan Ripin, misalnya.
Ardi dan Ripin sudah cukup lama berpindah dari rokok bungkusan ke rokok lintingan. Karenanya, sambil menikmati udud, mereka biasanya juga asyik ngelinting mbako.
Saat duduk bersama mereka, saya tanpa sengaja mendapati lembaran brosur mirip undangan. Waktu saya baca, isinya undangan workshop tentang usaha tenun, dan diadakan di Pemalang. Waktu acaranya adalah hari itu.
“Kalian nggak ikut acara ini?” tanya saya pada Ardi dan Ripin.
“Nggak ada duitnya,” jawab Ardi.
Ripin menyahut, “Kami nggak butuh wokshop kayak gitu, sih. Yang kami butuhkan kerja jelas, dengan bayaran jelas. Lagian acara itu di Pemalang, butuh bensin untuk ke sana. Belum lagi biaya workshop-nya lumayan mahal.”
Saya mengangguk. Saat orang tidak punya pekerjaan, yang mereka butuhkan memang kerja yang memberi penghasilan. Sementara acara workshop seperti di brosur itu mungkin lebih tepat untuk orang yang sudah punya pekerjaan tetap, sehingga ada biaya untuk mengikuti workshop. Tanpa penghasilan, bisa dibilang orang akan stuck, tidak bisa ke mana-mana, karena tidak ada biaya.
Orang mungkin bisa mengatakan, “Ikut workshop bisa membangun network. Dengan adanya network, terbuka kemungkinan peluang, dan dari situ bisa mendapat pekerjaan.”
Pernyataan itu memang benar. Secara teoritis, mengikuti workshop—atau acara-acara semacamnya—memang memungkinkan membangun network dengan banyak orang. Dari adanya network, akan terbuka kemungkinan peluang, termasuk peluang pekerjaan. Masalahnya, bagaimana kalau kamu sama sekali tidak punya uang untuk sekadar membayar biaya workshop?
Boro-boro mikir workshop yang biayanya relatif mahal, wong mikir hidup sehari-hari saja sudah susah! Makanya tadi saya bilang, workshop semacam itu mungkin lebih tepat untuk orang yang sudah punya penghasilan tetap, dan ingin mendapat peluang baru. Artinya, mereka sudah punya modal, khususnya modal untuk membayar biaya workshop!
Orang yang terbiasa sibuk kerja sering kali tidak ingat bahwa di dunia ini ada banyak orang lain yang masih menganggur, yang satu-satunya harapan mereka adalah mendapat pekerjaan. Dan orang yang tak pernah kehabisan uang sering kali tidak tahu kalau di dunia ini banyak orang lain yang kerap tidak punya uang sama sekali, sehingga, boro-boro mikir workshop, bahkan untuk makan saja mereka bingung!
Saya mengisap rokok, lalu berkata, “Tadi, dalam perjalanan ke sini, aku sempat kejebak macet. Kirain ada kecelakaan, ternyata ada pencuri ketangkap. Dia mencuri sekantong beras di warung, dan ketahuan. Orangnya mungkin seumuran kita. Katanya dia perlu ngasih makan anak-anaknya di rumah.”
“Kasus kayak gitu tuh bikin kita serbasalah, ya,” ujar Ardi. “Kita benci aksi pencurian yang dia lakukan, tapi juga kasihan karena dia mencuri akibat butuh makan.”
Saya mengangguk.
“Kita yang nggak punya istri dan anak aja bingung kalau nggak ada duit,” sahut Ripin, “apalagi yang punya istri dan anak-anak.”
Ardi menyulut rokok yang baru ia linting, lalu berkata, “Aku jadi ingat kasus yang menimpa sepupuku, namanya Gufron. Suatu hari ada teman lama yang datang, dan Gufron menyambut dengan baik—namanya juga teman. Si teman itu datang dengan jalan kaki, katanya motornya lagi di bengkel karena mogok di jalan. Mereka pun ngobrol sampai lama, dan teman Gufron tadi kemudian pinjam motor Gufron, katanya buat ngecek motornya yang di bengkel. Karena percaya, Gufron meminjamkan motornya, dan sejak itu si teman nggak kembali.”
“Lhah, terus gimana?” tanya saya.
“Besoknya, Gufron mendatangi rumah si teman yang bawa motornya itu,” jawab Ardi. “Gebleknya, ternyata motor Gufron udah digadaikan ke orang lain.”
“Waduh!” seru Ripin.
Ardi melanjutkan, “Temannya Gufron itu bilang kalau dia udah lama nggak kerja, dan butuh biaya buat ngasih makan keluarganya. Barang-barang di rumahnya udah habis buat makan. Dia terpaksa menggadaikan motor Gufron karena butuh uang. Di sisi lain, Gufron juga butuh motor itu buat kerja. Kalau nggak ada motor, dia nggak bisa kerja.” [Gufron bekerja sebagai sales yang memasok barang-barang kebutuhan sehari-hari di warung-warung perkampungan.]
Ardi mengisap rokoknya, lalu meneruskan, “Gufron butuh motornya buat kerja, tapi motor itu digadaikan temannya. Dia bisa aja lapor polisi, tapi menurutnya akan bikin dia makin repot. Gufron menuntut temannya buat mengembalikan motor, tapi temannya udah pasrah. Si teman ini bahkan bilang terang-terangan kalau sebagian uang hasil gadai motor udah ia gunakan buat beli beras dan aneka kebutuhan, dan cuma sisa beberapa ratus ribu. Akhirnya Gufron meminta sisa uang itu, karena dia juga butuh ngasih makan keluarganya.”
Saya dan Ripin terdiam mendengar cerita itu.
Sesaat kemudian, Ripin berkata, “Omong-omong soal keluarga, kita sering dengar kalau menikah akan melancarkan rezeki. Tapi kok orang-orang yang kita kenal malah mengalami kebalikannya, ya? Sampai ada yang maling beras di warung, ada yang bawa motor temannya buat digadaikan, ada juga yang ngutang nggak bayar-bayar, dan alasannya karena butuh menghidupi keluarga. Lhah, katanya menikah melancarkan rezeki?”
“Mungkin ‘rezeki’ yang dimaksud itu nggak mesti dalam bentuk uang, Pin,” ujar saya sambil tersenyum, “punya istri dan anak, kan, termasuk rezeki.”
Ripin ngikik. “Jadi, maksudmu, mereka dapat rezeki berupa istri dan anak, lalu pusing mencari rezeki berbentuk uang untuk menghidupi istri dan anaknya, gitu?”
Entah kenapa saya ikut ngikik, karena bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu.
Ardi lalu berkata, “Rezeki juga bisa berbentuk ketenangan hati, karena punya istri dan anak-anak...”
Sekarang Ripin tertawa. “Yang bener aja, Ar! Kalau kamu punya istri dan anak-anak, dan kamu nggak ada uang buat menghidupi mereka, ketenangan kayak apa yang kamu rasakan? Wong kita yang lajang aja pusing, apalagi mereka yang punya tanggungan istri dan anak-anak?”
Ardi ikut tertawa, mungkin juga bingung bagaimana menjawab pertanyaan Ripin.
“Sepusing-pusingnya kita,” kata saya akhirnya, “setidaknya kita masih bisa ngelinting mbako sambil menikmati silir angin di sini, dan nggak ada istri yang marah-marah, juga nggak ada anak-anak yang perutnya kelaparan.”
