Rabu, 30 September 2026

Tata Bahasa

Omong-omong soal berita VICE...

Sambil nunggu udud habis.

Salah satu “kesalahan populer” yang telah menjelma sebagai kesalahan massal di kalangan media di Indonesia adalah penulisan “berhasil di—”. 

Secara tata bahasa, itu sebenarnya salah, karena kata “berhasil” tidak bisa diikuti “di—”. Ivan lanin pasti akan sepakat denganku.

“Berhasil ditemukan”, “berhasil ditangkap”, “berhasil dilepaskan”, “berhasil dicintai”, “berhasil disepakati”, dan varian serupa lainnya, semua itu contoh salah. 

Setiap kali kita menulis “berhasil”, kata itu harus diikuti kata aktif (“me—”). Sementara “di—” adalah kata pasif.

Contoh, judul berita yang ku-retweet tadi. JASAD MENDIANG ERIL BERHASIL DITEMUKAN DI PINTU AIR ENGEHALDE SWISS.

Bisa diubah jadi JASAD MENDIANG ERIL AKHIRNYA DITEMUKAN DI PINTU AIR ENGEHALDE SWISS. 

Atau singkat saja, JASAD MENDIANG ERIL DITEMUKAN DI PINTU AIR ENGEHALDE SWISS.

Ada sebagian orang yang menyatakan, “Tata bahasa tidak penting, yang penting orang paham apa yang dimaksud dalam tulisan.” 

Itu benar, jika di luar penulisan profesional. Orang ngoceh di Twitter, misalnya. Bebas! Mau menulis dengan gaya apa pun, terserah, asal kamu nyaman.

Tapi menulis berita, menulis buku, menulis artikel ilmiah, itu bagian dari menulis profesional. Karena itulah, dalam penulisan profesional ada editor dan proofreader. Editor membantu agar tulisan enak dibaca, proofreader membantu agar tulisan sesuai tata bahasa yang benar.

Seorang penulis bisa saja tidak menguasai tata bahasa [Indonesia] yang baik dan benar, dan dia tetap bisa menerbitkan buku secara profesional, melalui penerbit besar. Bisa saja, mungkin karena dia memiliki ide atau pengetahuan luar biasa, yang tidak dimiliki orang-orang lain.

Tapi kalau kita penulis rata-rata—termasuk aku, tentu saja—menguasai tata bahasa yang baik dan benar adalah kebutuhan. Namanya penulis rata-rata, ide kita juga mungkin medioker. Kalau ide sudah medioker, lalu penulisannya penuh kesalahan, ejaannya kacau, lalu di mana istimewanya?

Kadang-kadang, bahkan sering kali, ide atau pengetahuan yang biasa-biasa saja justru bisa dinikmati banyak orang karena penulisannya baik, rapi, dan benar. 

Sebaliknya, ide atau pengetahuan penting bisa jadi sulit dipahami orang-orang, karena penulisannya kacau dan berantakan.

Fungsi tata bahasa, sebagaimana namanya, adalah menata dan merapikan tulisan, agar bisa dinikmati orang-orang secara luas, dari pelbagai kalangan. 

Jadi, jika kita ingin “orang-orang bisa memahami tulisan kita”, tata bahasa justru penting. Ia bukan sekadar baku atau tak baku.

Lebih dari itu, tulisan juga bagian dari seni. Dengan tata bahasa dan rangkaian kalimat yang disusun dengan tepat, kita bisa membuat tulisan yang tidak hanya baik dan benar secara tata bahasa, tapi juga estetis. Itu yang membedakan satu penulis dengan penulis yang lain.

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, masih panjang sekali, dan mungkin butuh 749 semester untuk menyelesaikannya. Tapi ududku habis.


*) Dikutip dari timeline @noffret, 9 Juni 2022.

 
;