Rabu, 30 September 2026

Memilih Sendirian

Dulu, zaman kuliah sampai tidak lagi kuliah, saya sering gabung dengan aksi-aksi sosial, mengadvokasi kasus-kasus tertentu, khususnya yang terkait kalangan bawah versus pemerintah. Itu kerja sosial, dalam arti tidak ada bayarannya, dan selama waktu-waktu itu tidak ada masalah. 

Lalu ada suatu kasus yang membuat saya, secara pribadi, merasa dilema. Di satu sisi, kasus itu membutuhkan bantuan advokasi kami, untuk mediasi dengan pemkot. Tetapi, di sisi lain, saya tidak nyaman melakukannya, karena sebenarnya saya justru mendukung aturan pemerintah waktu itu. 

Ada suatu fenomena yang mengganggu secara sosial, dan pemkot ingin menertibkannya. Saya setuju dengan aturan itu. Tetapi, karena alasan solidaritas, saya tetap bersama teman-teman, dan mengadvokasi kasus itu, sampai akhirnya memenangkan kepentingan masyarakat.

Masyarakat menang, pemerintah mengalah, dan tugas kami—saya serta teman-teman—dianggap sukses. Tapi nurani saya tidak nyaman. Sekali lagi, itu kerja sosial, bukan kerja profesional, dalam arti; sebenarnya saya punya kebebasan untuk memilih, andai tidak ada solidaritas pada teman. 

Pola pikir rata-rata aktivis biasanya memihak masyarakat bawah, dan, di waktu bersamaan, harus kontra dengan pemerintah. Dalam hal itu, sikap saya pribadi adalah memihak kebenaran, terlepas pihak mana. Jika peraturan pemerintah yang benar, ya harus diterima, tidak perlu dilawan. 

Sejak peristiwa itu, akhirnya saya memilih “sendirian”, agar tidak lagi terperangkap dalam “solidaritas semu”. Sendirian membuat saya lebih leluasa untuk menentukan langkah saya sendiri, dan memastikan semua yang saya suarakan atau saya lakukan adalah suara hati dan pikiran saya sendiri.  

 
;