Omong-omong soal anak kuntilanak...
Sambil nunggu udud habis.
Berita konyol soal "anak kuntilanak" ini mengingatkanku pada kasus serupa, pada era 2000-an.
Waktu itu, ada seorang pria bernama Tebo, yang memiliki kelainan tubuh, sehingga kulit di tubuhnya ditumbuhi bercak-bercak hitam berambut. Sekilas, penampilan Tebo tampak "menyeramkan".
Tapi sebenarnya dia orang biasa, dalam arti anak manusia seperti umumnya, hanya saja kebetulan memiliki kelainan pada kulit. Andai Tebo anak orang kaya, dia tentu sudah dibawa berobat ke dokter untuk mengatasi masalah kulitnya. Tapi dia anak orang miskin yang tinggal di kampung.
Sosok Tebo mulai dikenal publik secara luas, ketika seorang paranormal mengklaim* bahwa "Tebo anak genderuwo, dan Nyi Roro Kidul menitipkan Tebo kepada paranormal tersebut untuk dirawat."
Media memuat beritanya.
*Dia mengadakan semacam jumpa pers, waktu itu.
Paranormal itu menyatakan bahwa dia menemukan Tebo ketika Tebo masih anak-anak. (Waktu berita mengenai Tebo heboh di Indonesia, usia Tebo sekitar 30-an).
Meski telah bertahun-tahun lalu, rekaman di memoriku masih dapat mengingat pernyataan paranormal itu. Dan inilah katanya...
Inilah kalimat yang ia katakan waktu itu, "Saya menemukan dia (Tebo) saat sedang merangkak di pinggir pantai Laut Selatan."
Para jurnalis waktu itu bertanya soal penemuan tersebut, dan si paranormal menyatakan, "Nyi Roro Kidul menitipkan anak itu kepada saya."
Terdengar konyol?
Meski mungkin terdengar konyol, nyatanya media-media waktu itu memuat berita tersebut, dan "Tebo anak genderuwo" seketika bikin heboh di Indonesia.
Sekadar catatan, di masa itu ada cukup banyak media cetak (tabloid maupun majalah) yang membahas hal-hal klenik dan masalah gaib.
Sosok Tebo (pose andalannya sedang duduk telanjang dada dan memamerkan "tompel-tompel hitamnya") bahkan menghiasi sampul aneka majalah dan tabloid, waktu itu.
Sekali lagi, meski mungkin ini terdengar konyol, ada banyak orang yang percaya kalau Tebo benar-benar anak genderuwo!
Urusan ini, meski mungkin terdengar sepele, tapi sebenarnya rumit, karena ada aneka kepentingan di dalamnya yang saling membelit.
Sori, sebelumnya aku mengira ocehan ini bakalan singkat saja, tapi sepertinya bakal panjang, karena aku harus mengungkapkan bagian penting ini.
Ketika berita Tebo heboh di Indonesia, sebenarnya telah tampak kejanggalan yang sangat nyata. Yaitu usia Tebo (ketika berita itu heboh) dan usia si paranormal yang mengklaim menemukan Tebo ketika masih anak-anak. ("Saya menemukannya saat dia sedang merangkak di pinggir pantai.")
Ketika berita itu heboh, usia Tebo sekitar 30-an. Sementara usia si paranormal sekitar 40-an. Bagaimana dia bisa "menemukannya saat dia (Tebo) merangkak di pinggir pantai"?
Orang yang cukup kritis pasti melihat kejanggalan itu. Tapi urusan ini sangat rumit, dan saling membelit.
Sekarang kita masuk ke inti persoalan, dan kenapa urusan yang sepele ini bisa sangat rumit.
Beberapa jurnalis—yang tidak terjebak dalam konflik kepentingan terkait Tebo—melakukan investigasi, untuk mengungkap siapa Tebo sebenarnya. (Waktu itu latar belakang Tebo masih gelap).
Investigasi itu juga tidak bisa dibilang mudah, karena si paranormal "menyembunyikan" Tebo, sekaligus meminta semua orang yang mengenal Tebo agar tutup mulut, termasuk kedua orang tua Tebo.
Jadi para jurnalis waktu itu seperti menghadapi tembok-keparat yang tidak tertembus.
Investigasi waktu itu berhasil menemukan alamat Tebo, siapa orang tuanya, keluarga dan saudaranya, tapi semuanya tutup mulut!
Singkat cerita, agar ocehan ini tidak bertele-tele, belakangan para jurnalis akhirnya bisa mengorek keterangan sebenar-benarnya dari mulut Tebo sendiri!
Dan inilah yang dikatakan Tebo waktu itu, "Saya diminta Pak X (paranormal) agar mengaku anak genderuwo. ... Saya mengiyakan permintaan itu, karena Pak X membiayai hidup saya dan orang tua saya."
Jadi, si paranormal menemukan Tebo setelah Tebo dewasa, dan "tampak menyeramkan".
Tebo mengikuti permintaan si paranormal, mengaku sebagai anak genderuwo, dan, sebagai timbali balik, si paranormal membiayai kebutuhan hidup Tebo serta orang tuanya. Itulah kenapa orang tua dan keluarga Tebo memilih tutup mulut pada jurnalis, seperti yang diminta si paranormal.
Lalu apa keuntungan yang didapat si paranormal dari hal itu? Jawabannya sederhana; popularitas! (Kalau menggunakan istilah sekarang; jadi viral!)
Menggunakan popularitasnya, ditambah iklan komersial di banyak media, si paranormal bisa "memanen" hasil; pasien yang berdatangan.
Dan dari situlah konflik kepentingan dimulai.
Tebo dan keluarganya "terikat" pada si paranormal, karena si paranormal membiayai kehidupan mereka. Media-media waktu itu tidak bisa frontal mengungkap kebohongan kasus tersebut, karena ada gelontoran uang iklan dari si paranormal.
Semuanya saling membutuhkan. Tebo dan keluarganya butuh si paranormal. Si paranormal butuh menjaga popularitasnya melalui iklan media, agar dapat pasien. Dan media butuh mendapat pemasukan dari iklan.
Akhirnya, siapa yang jadi korban? Masyarakat luas yang menelan kebohongan itu!
Ocehan ini, kalau kulanjutkan, bisa panjang sekali, tapi ududku habis.
Sekadar penutup, gara-gara kasus Tebo pula, beberapa jurnalis akhirnya mengungkap praktik-praktik kebohongan paranormal lain, termasuk orang yang mengaku "Raja Santet" waktu itu, dan satu per satu terungkap.
Yang paling biadab dari praktik-praktik kebohongan itu adalah seorang pria yang ngaku "orang pintar" dan telah berhasil membodohi ribuan orang miskin, berkat iklan di banyak media. Dia bisa beli BMW dari praktik pembohongan/pembodohannya, sementara korban-korbannya makin miskin.
Oh, bukan hanya membeli BMW (yang tergolong sangat "mahal" untuk ukuran waktu itu), dia bahkan bisa membangun rumah mewah dan bergaya hidup jetset, dengan membohongi orang-orang miskin yang menelan mentah-mentah kebohongannya.
*) Dikutip dari timeline @noffret, 16 Oktober 2022.

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact