Kamis, 30 April 2026

Keahlian Manusia yang Tak Berguna

Salah satu keahlian manusia memang ngadem-ngademi diri sendiri.

Sayangnya, aku kesulitan mempelajari kemampuan itu. Mungkin karena terlalu realistis, atau mungkin pula karena (sebagian besar) hidupku begitu pahit.

Well, aku perlu mengatakan bahwa dulu aku juga pernah berusaha ngadem-ngademi diri sendiri untuk banyak hal yang kualami. Tapi belakangan aku menyadari, itu seperti membohongi diri sendiri.

Aku pernah ngadem-ngademi diri sendiri dengan mengatakan bahwa kemiskinan adalah karunia yang melecutku agar bekerja keras. Belakangan aku menyadari bahwa—meski mungkin memang karunia—kemiskinan mengandung lebih banyak kutukan mengerikan. Setidaknya, itu yang kualami

Aku juga pernah ngadem-ngademi diri sendiri dengan mengatakan bahwa uang tidak menjamin bahagia, bahwa uang tidak dibawa mati, dan lain-lain. Tapi akhirnya aku menyadari bahwa sebagian besar hidup kita ditopang oleh uang, dan aku tahu pasti bagaimana tersiksanya tanpa uang.

Belakangan, aku juga menyadari bahwa ngadem-ngademi diri sendiri tidak membawaku beranjak ke mana-mana, selain hanya membohongi diri sendiri yang bercampur mengasihani diri sendiri. Jadi, aku berkata pada diri sendiri, "Mari berhenti memainkan kebohongan konyol ini!"

Selama aku meyakini bahwa kemiskinan adalah karunia, aku tidak akan pernah keluar dari kemiskinan—wong itu karunia, kok. Dan aku tersadar bahwa menganggapnya karunia berarti aku menerima. Menerima berarti mendapatkan. Mendapatkan berarti memiliki. Karena memiliki, ia melekat.

Begitu pun kalau aku meyakini (ngadem-ngademi diri sendiri) dengan mengatakan "uang tidak menjamin bahagia" atau semacamnya, itu sama seperti menolak kemungkinan mendapatkan uang—wong tidak menjamin bahagia, kok. Ngapain dicari dan didapatkan?

Mungkin ini akan terdengar seperti kalimat motivasional yang mengawang-awang. Tapi aku meyakini bahwa siapa dirimu pertama-tama dibangun di dalam pikiranmu. 

Manusia adalah apa yang terbesar di dalam pikirannya. Bagaimana ia menatap hidup dan dirinya, (akan) seperti itulah dia.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 April 2019.

Descartes di Twitter

Kalau Descartes punya akun di Twitter, aku membayangkan ia akan menulis tweet, "Aku ngoceh, maka aku ada."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2012.

Mencemburui Sesuatu

Menyadari bahwa kita mencemburui sesuatu kadang-kadang lucu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Februari 2012.

Hari Handuk Nasional

Seharusnya kita perlu merayakan Hari Handuk Nasional. Apa jadinya kita kalau habis mandi tak ada handuk? 

Setelah dipikir-pikir, kayaknya kita juga perlu merayakan Hari Sabun Nasional. Apa jadinya nasib umat manusia kalau tak ada sabun?

Ehm, dan tisu ya tweeps. Dunia juga perlu merayakan Hari Tisu Nasional. Tisu yang lembut adalah berkat bagi anak-anak Adam.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Grafiti di Tembok

Grafiti di sebuah tembok pinggir jalan: “Yang benar menurutmu belum tentu benar menurut setan.”


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Agustus 2012.

Drama Malam

Apa yang sedang kita lakukan? Saling menyakiti diam-diam, namun tak mau terpisahkan. Demi Tuhan, apa yang sedang kita lakukan? #DramaMalam


*) Ditransksrip dari timeline @noffret, 19 September 2012.

Setidaknya

Setidaknya ada kabar baik di antara banyak kabar buruk.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Desember 2024.

Mana Lebih Baik?

Lagi mikir. Mana lebih baik, ya? Didekati orang yang dibenci, atau dijauhi orang yang dicintai?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Andai Dipisah

Andai dipisah laut dan pantai, tak akan goyah gelora cinta. Andai dipisah api dan bara, tak akan pudar sinaran cinta. #nyanyi


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Seini

“Aku seini.”

“Sama.”

Kata Orang

Kata orang, semuanya berawal dari mimpi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Handuk yang Lembut

Dunia ini pasti tidak lengkap jika tak ada handuk tebal yang lembut. Terpujilah orang-orang yang membuat handuk. Khususnya yang lembut.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Rabu, 29 April 2026

Glorifikasi Seks yang Terlalu Ndakik-ndakik

Nyeruput cokelat hangat, udud, dan kepikiran untuk melanjutkan ocehan ini. Mumpung TL sudah mulai sepi.


Dalam film Wonder Woman, Diana Prince berkata kepada Steve Trevor, “Aku telah membaca 12 jilid Clio tentang Risalah Kenikmatan Ragawi. ... Kesimpulannya adalah pria sangat penting untuk berkembang biak. Tapi untuk kenikmatan seks, pria tidak diperlukan.”

Jika kita melepaskan segala macam glorifikasi yang ndakik-ndakik terkait seks, sebagaimana yang mungkin sering kita dengar, kata-kata Diana Prince itu merupakan kesimpulan paling jujur sekaligus paling ilmiah terkait aktivitas seks; dengan diri sendiri, atau dengan orang lain.

Bahwa wanita, sebagaimana pria, sebenarnya bisa menikmati seks tanpa melibatkan orang lain—lebih spesifik; lawan jenis. Tapi Homo sapiens adalah budak evolusi, dan evolusi ingin kita berkembang biak. Karenanya, kita diiming-imingi untuk berpasangan, dengan aneka glorifikasi.

Evolusi ingin kita berpasangan—sebenarnya bukan untuk menikmati seks, melainkan untuk bereproduksi dan berkembang biak! Agar tujuan itu tercapai, evolusi menggunakan taktik licik berupa iming-iming kenikmatan seks melalui (ber)pasangan. Dan kita terkecoh, hingga sangat ngebet.

Padahal, sebagaimana kata-kata Diana Prince, “... untuk kenikmatan seks, pria tidak diperlukan.” Karena wanita sebenarnya bisa merasakan kenikmatan seks tanpa melibatkan pria, sebagaimana pria bisa merasakan kenikmatan seks tanpa melibatkan wanita. Dan itu ilmiah, tentu saja.

Selama bertahun-tahun, aku membaca ratusan riset Kinsey Institute terkait penelitian-penelitian mereka dalam aktivitas seksual manusia, dari yang paling sederhana dan primitif sampai yang paling rumit. Dan tumpukan riset itu, jika disimpulkan, membenarkan ucapan Diana Prince.

Selama bertahun-tahun pula, aku membaca ribuan artikel dan konsultasi seks di koran, majalah, buku, internet, sejak SMP sampai dewasa sekarang. Dari ribuan artikel dan konsultasi seks itu, aku disadarkan bahwa “glorifikasi kenikmatan seks dengan pasangan hanyalah omong kosong.”

Ketika sepasang manusia melakukan hubungan seks secara konsensual, tentu mereka merasakan kenikmatan. Tapi kenikmatan dari aktivitas itu sebenarnya tidak “sendakik-ndakik yang diglorifikasikan”. Karenanya, seperti yang kuocehkan di sini, itu cuma B aja.


Bahkan, dalam kadar tertentu, kenikmatan seks yang didapatkan wanita lebih besar daripada kenikmatan seks yang didapatkan pria, ketika aktivitas seks dilakukan secara berpasangan. Karena kenikmatan pria cuma sebatas sensasi dan ejakulasi, sementara wanita mendapatkan lebih.

Kenyataan ini bisa dilihat dari fakta sederhana yang tak bisa dibantah; alat kelamin pria berada di luar, sementara alat kelamin wanita berada di dalam. Sebanyak apa pun syaraf kenikmatan pada organ kelamin pria, ia ada di luar—tingkat kepekaannya tetap kalah dibanding di dalam.

Jadi, aku percaya bahwa secara ilmiah, ketika hubungan seks—secara konsensual—terjadi, wanita mendapat kenikmatan lebih banyak dibanding pria. Dari orgasme vaginal, orgasme clitoral, sampai multiorgasme, dan lain-lain. Dan pria? Cuma sensasi (khayal-visual) dan ejakulasi!

Semua playboy terkenal di dunia tahu kenyataan itu, dari Giacomo Casanova sampai Hugh Hefner, hingga mereka bisa menyimpulkan “semua wanita sama saja”—dan kau paham apa artinya. Karena yang berbeda cuma sensasi; khayalan tolol dan ndakik-ndakik yang ada di otak pria.

Mungkin ada yang berpikir, "Kalau memang wanita mendapat lebih banyak kenikmatan seks daripada pria, lalu kenapa justru pria yang tampaknya paling ngebet ngewe dibanding wanita?"

Jawabannya sangat sederhana, yakni karena testis di tubuh pria terus menerus memproduksi sperma!

Tubuh pria memproduksi sperma tanpa henti, dan tubuh pria juga memaksa agar sperma itu segera dikeluarkan kapan saja, agar tubuh bisa terus memproduksi sperma baru. Dorongan itulah yang menjadikan pria kemudian sangat ngebet ngewe, padahal tujuannya cuma melepaskan sperma.

Otak pria ditipu oleh fantasi dan khayalannya sendiri, membayangkan bahwa seks dengan pasangan begitu indah dan nikmat dan bla-bla-bla, padahal intinya cuma ingin melepaskan sperma. Begitu sperma dilepaskan, semua fantasinya lenyap. Buktinya, mereka langsung terlelap!

Sebenarnya, wanita juga memiliki hasrat seks sebesar pria. Tapi secara alami—atau kita bisa menyebutnya; secara biologis—wanita tahu bahwa pria “lebih menginginkan seks” karena tubuhnya terus memproduksi sperma. Karenanya, pria bersedia "mengejar-ngejar", dan wanita memahami itu.

Jangankan manusia, bahkan binatang pun tahu hal itu. Hewan-hewan betina tahu kalau hewan-hewan jantan bersedia melakukan apa pun demi bisa ngeseks. Badak jantan, misalnya, bersedia mengikuti badak betina sampai lama sekali untuk pedekate, demi diizinkan ngeseks dengannya.

Burung bower (bowerbird) jantan menghabiskan banyak waktu dan tenaga demi membangun sarang indah, dengan aneka pernak-pernik kemilau, demi menarik perhatian bowerbird betina yang matere. Intinya sama saja, untuk ngeseks, berkembang biak, beranak pinak—sesuai tuntutan evolusi.

Contoh-contoh lain masih banyak sekali, merentang dari hewan-hewan kecil semacam kutu atau cacing, sampai yang besar seperti kuda nil atau paus. Intinya, terkait urusan seks, mereka tak jauh beda dengan manusia. Bedanya, manusia mengglorifikasi aktivitas itu secara berlebihan.

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, bisa panjang sekali, dan mungkin akan selesai tahun 2918. Intinya, sekarang, aku sama sekali tak percaya dengan segala macam glorifikasi ndakik-ndakik terkait [kenikmatan] hubungan seks. Karena, secara ilmiah, itu cuma B aja.


Kesadaran itulah yang menjadikanku tidak pernah—dan tidak akan pernah—melakukan modus-modus tolol dengan wanita mana pun demi tujuan ngewe. Aku tidak sudi ditipu dan dikibuli fantasiku sendiri. Wong paling cuma B aja, tapi harus buang waktu dan energi untuk modus segala macam.

“Semua yang kita lakukan sebenarnya demi pemuasan libido,” kata Freud. Dan pemuasan libido, sayangnya, B aja. Belakangan, kesadaran itu pula yang membuatku lebih santai dalam menjalani hidup. Tanpa hasrat macam-macam, tanpa khayalan ndakik-ndakik, dan tak sudi melakukan modus!

Kalau kita memang sama-sama tertarik, aturanku sederhana; mari buat segalanya lebih mudah! Kalau kau ingin drama yang rumit dan berbelit-belit, dengan segala macam modus tolol yang cuma buang-buang waktu dan tenaga, mohon maaf... aku lebih suka sibuk belajar dan bekerja.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Februari 2020.

Hati yang Berdetak

Satu menit bagi benci terasa satu jam. Satu jam bagi cinta terasa satu menit. Waktu bukanlah jarum yang bergerak, tetapi hati yang berdetak.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Kutemukan Cinderella

Kutemukan Cinderella tadi siang. Berbaju putih panjang, seperti duduk di antara awan. Ehm... ada yang tahu dimana sepatunya?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Kejujuran dan Integritas

Kejujuran dan integritas merayap seperti ular. Kebohongan dan publisitas melesat seperti elang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Ngidam

Oooh, ternyata "ngidam" tuh berasal dari kata dasar "idam" >> mengidamkan, mengidam, ngidam. *Ngerasa layak dapet Nobel*


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2012.

Siomay Bandung

Seenak-enaknya siomay "khas" Bandung, masih lebih enak siomay yang ada di Bandung. #StudiEmpiris


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Agustus 2012.

Jauh Lebih Sulit

Memaafkan diri sendiri kadang-kadang jauh lebih sulit dibanding memaafkan orang lain. Pun meminta maaf pada diri sendiri.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Agustus 2012.

Inka Christie

Ternyata lagu-lagu lama Inka Christie tuh enak banget. Sekarang gimana kabarnya wanita itu, ya?

Ooh... dan ternyata Inka Christie masih lajang!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Agustus 2012.

Selera Canda

Ternyata, selera canda masing-masing orang bisa berbeda. Yang lucu bagi kita bisa sangat serius bagi orang lain. Pun sebaliknya.


*) Ditransksrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Mudah Curiga

Yang paling menjengkelkan di dunia ini adalah orang yang mudah curiga. Setulus apa pun kita berbuat, dia tetap curiga.

Orang yang mudah curiga biasanya tidak mengenal ketulusan. Karenanya, dia pun selalu curiga, karena dianggapnya orang lain sama dengannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 28 Agustus 2012.

Socrates di Twitter

Kalau Socrates aktif di Twitter, mungkin tweet-nya setiap hari cuma, "Aku tidak tahu apa-apa... Aku tidak tahu apa-apa... Aku tidak tahu..."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 September 2012.

Justru

Oh, justru.

Selasa, 28 April 2026

Anak Kuntilanak, Anak Genderuwo

Omong-omong soal anak kuntilanak...

Sambil nunggu udud habis.

Berita konyol soal "anak kuntilanak" ini mengingatkanku pada kasus serupa, pada era 2000-an.

Waktu itu, ada seorang pria bernama Tebo, yang memiliki kelainan tubuh, sehingga kulit di tubuhnya ditumbuhi bercak-bercak hitam berambut. Sekilas, penampilan Tebo tampak "menyeramkan".

Tapi sebenarnya dia orang biasa, dalam arti anak manusia seperti umumnya, hanya saja kebetulan memiliki kelainan pada kulit. Andai Tebo anak orang kaya, dia tentu sudah dibawa berobat ke dokter untuk mengatasi masalah kulitnya. Tapi dia anak orang miskin yang tinggal di kampung.

Sosok Tebo mulai dikenal publik secara luas, ketika seorang paranormal mengklaim* bahwa "Tebo anak genderuwo, dan Nyi Roro Kidul menitipkan Tebo kepada paranormal tersebut untuk dirawat."

Media memuat beritanya.

*Dia mengadakan semacam jumpa pers, waktu itu.

Paranormal itu menyatakan bahwa dia menemukan Tebo ketika Tebo masih anak-anak. (Waktu berita mengenai Tebo heboh di Indonesia, usia Tebo sekitar 30-an).

Meski telah bertahun-tahun lalu, rekaman di memoriku masih dapat mengingat pernyataan paranormal itu. Dan inilah katanya...

Inilah kalimat yang ia katakan waktu itu, "Saya menemukan dia (Tebo) saat sedang merangkak di pinggir pantai Laut Selatan."

Para jurnalis waktu itu bertanya soal penemuan tersebut, dan si paranormal menyatakan, "Nyi Roro Kidul menitipkan anak itu kepada saya."

Terdengar konyol?

Meski mungkin terdengar konyol, nyatanya media-media waktu itu memuat berita tersebut, dan "Tebo anak genderuwo" seketika bikin heboh di Indonesia.

Sekadar catatan, di masa itu ada cukup banyak media cetak (tabloid maupun majalah) yang membahas hal-hal klenik dan masalah gaib.

Sosok Tebo (pose andalannya sedang duduk telanjang dada dan memamerkan "tompel-tompel hitamnya") bahkan menghiasi sampul aneka majalah dan tabloid, waktu itu.

Sekali lagi, meski mungkin ini terdengar konyol, ada banyak orang yang percaya kalau Tebo benar-benar anak genderuwo!

Urusan ini, meski mungkin terdengar sepele, tapi sebenarnya rumit, karena ada aneka kepentingan di dalamnya yang saling membelit.

Sori, sebelumnya aku mengira ocehan ini bakalan singkat saja, tapi sepertinya bakal panjang, karena aku harus mengungkapkan bagian penting ini.

Ketika berita Tebo heboh di Indonesia, sebenarnya telah tampak kejanggalan yang sangat nyata. Yaitu usia Tebo (ketika berita itu heboh) dan usia si paranormal yang mengklaim menemukan Tebo ketika masih anak-anak. ("Saya menemukannya saat dia sedang merangkak di pinggir pantai.")

Ketika berita itu heboh, usia Tebo sekitar 30-an. Sementara usia si paranormal sekitar 40-an. Bagaimana dia bisa "menemukannya saat dia (Tebo) merangkak di pinggir pantai"?

Orang yang cukup kritis pasti melihat kejanggalan itu. Tapi urusan ini sangat rumit, dan saling membelit.

Sekarang kita masuk ke inti persoalan, dan kenapa urusan yang sepele ini bisa sangat rumit.

Beberapa jurnalis—yang tidak terjebak dalam konflik kepentingan terkait Tebo—melakukan investigasi, untuk mengungkap siapa Tebo sebenarnya. (Waktu itu latar belakang Tebo masih gelap).

Investigasi itu juga tidak bisa dibilang mudah, karena si paranormal "menyembunyikan" Tebo, sekaligus meminta semua orang yang mengenal Tebo agar tutup mulut, termasuk kedua orang tua Tebo. 

Jadi para jurnalis waktu itu seperti menghadapi tembok-keparat yang tidak tertembus.

Investigasi waktu itu berhasil menemukan alamat Tebo, siapa orang tuanya, keluarga dan saudaranya, tapi semuanya tutup mulut!

Singkat cerita, agar ocehan ini tidak bertele-tele, belakangan para jurnalis akhirnya bisa mengorek keterangan sebenar-benarnya dari mulut Tebo sendiri!

Dan inilah yang dikatakan Tebo waktu itu, "Saya diminta Pak X (paranormal) agar mengaku anak genderuwo. ... Saya mengiyakan permintaan itu, karena Pak X membiayai hidup saya dan orang tua saya."

Jadi, si paranormal menemukan Tebo setelah Tebo dewasa, dan "tampak menyeramkan".

Tebo mengikuti permintaan si paranormal, mengaku sebagai anak genderuwo, dan, sebagai timbali balik, si paranormal membiayai kebutuhan hidup Tebo serta orang tuanya. Itulah kenapa orang tua dan keluarga Tebo memilih tutup mulut pada jurnalis, seperti yang diminta si paranormal.

Lalu apa keuntungan yang didapat si paranormal dari hal itu? Jawabannya sederhana; popularitas! (Kalau menggunakan istilah sekarang; jadi viral!)

Menggunakan popularitasnya, ditambah iklan komersial di banyak media, si paranormal bisa "memanen" hasil; pasien yang berdatangan.

Dan dari situlah konflik kepentingan dimulai.

Tebo dan keluarganya "terikat" pada si paranormal, karena si paranormal membiayai kehidupan mereka. Media-media waktu itu tidak bisa frontal mengungkap kebohongan kasus tersebut, karena ada gelontoran uang iklan dari si paranormal.

Semuanya saling membutuhkan. Tebo dan keluarganya butuh si paranormal. Si paranormal butuh menjaga popularitasnya melalui iklan media, agar dapat pasien. Dan media butuh mendapat pemasukan dari iklan.

Akhirnya, siapa yang jadi korban? Masyarakat luas yang menelan kebohongan itu!

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, bisa panjang sekali, tapi ududku habis.

Sekadar penutup, gara-gara kasus Tebo pula, beberapa jurnalis akhirnya mengungkap praktik-praktik kebohongan paranormal lain, termasuk orang yang mengaku "Raja Santet" waktu itu, dan satu per satu terungkap.

Yang paling biadab dari praktik-praktik kebohongan itu adalah seorang pria yang ngaku "orang pintar" dan telah berhasil membodohi ribuan orang miskin, berkat iklan di banyak media. Dia bisa beli BMW dari praktik pembohongan/pembodohannya, sementara korban-korbannya makin miskin.

Oh, bukan hanya membeli BMW (yang tergolong sangat "mahal" untuk ukuran waktu itu), dia bahkan bisa membangun rumah mewah dan bergaya hidup jetset, dengan membohongi orang-orang miskin yang menelan mentah-mentah kebohongannya.


*) Dikutip dari timeline @noffret, 16 Oktober 2022.

Tak Dalam

"Air beriak tanda tak dalam," kata pepatah. Tapi air dalam gelas juga tampak tenang. Meski tak dalam.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Juli 2012.

Menyedihkan

Menyedihkan bukan saat dunia tak menatap ke arahmu. Tapi saat kau berteriak-teriak agar mereka menatapmu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Juli 2012.

Menyanyikan Luka

Hei, Langit, tolong katakan pada Bulan agar segera pulang. Ini sudah malam...

Lalu Bulan muncul. Serigala keluar dari kegelapan, dan melolong penuh kerinduan. Bintang-bintang berdansa, Malam menyanyikan luka.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Cara untuk Jatuh Cinta

Satu wanita, dua lelaki. Yang satu jelmaan vampir, satu lagi manusia serigala. Kita tak pernah kehabisan cara untuk jatuh cinta.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Bungkus Kacang Rebus

Aku suka beli kacang rebus yang dibungkus kertas. Kacangnya enak, dan kertas pembungkusnya sering berisi tulisan tak terbayangkan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Juli 2012.

Janda Makin Banyak

"Menikah akan membuatmu tenteram, bahagia, dan lancar rezeki."

Faktanya:



*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Oktober 2019.

Kelaparan

Kelaparan memicu kemarahan. #BarusanMarahKarenaLapar


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Februari 2012.

Hih.

Hih. Sumpah. Geli. Campur gimana gitu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Juli 2012.

Tidak Butuh Sayap

Kita tidak butuh sayap untuk terbang. Tetapi kita juga tidak perlu menjalani hidup dengan merangkak.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Juli 2012.

Sudahlah...

Kata-kata paling gimanaaaa gitu di dunia ini: "Sudahlah..."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

Masa Depan

Masa depan kita ditentukan oleh impian kita. Jadi, ayo tidur sekarang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Agustus 2012.

 
;