Tampilkan postingan dengan label Cinta dan Lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta dan Lainnya. Tampilkan semua postingan
Jumat, 31 Juli 2026

Gara-gara Omongan Pacar

Ini kisah konyol yang sebenarnya membuat saya malu sendiri. Tetapi saya telanjur jengkel gara-gara kisah konyol ini, hingga memutuskan untuk menuliskannya di sini sebagai semacam klarifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat. Semua nama yang saya sebut dalam catatan ini telah disamarkan, namun alur peristiwanya sesuai yang benar-benar terjadi.

Kisah konyol ini dimulai dengan sebuah e-mail dari seorang perempuan. Sebut saja namanya Dewi. Di antara banyak e-mail lain yang biasa saya terima, Dewi hanyalah satu di antara sekian banyak orang di inbox e-mail. Artinya, saya tidak punya perhatian khusus kepadanya. Sebenarnya, saya bahkan tidak peduli siapa dia. Saya membalas e-mailnya secara relevan sebagaimana saya membalas e-mail orang-orang lain. 

Dewi berulang kali mengirim e-mail. Tidak semua e-mailnya saya balas. Lalu dia mengirim undangan agar saya bergabung dengannya di Facebook. Undangan itu pun saya abaikan. Sudah lama sekali saya kehilangan minat bermain Facebook. Kenyataannya, yang mengirim undangan semacam itu bukan hanya Dewi, dan semuanya saya abaikan.

Tetapi Dewi rupanya tidak pantang menyerah. Dia terus menerus mengirimkan undangan yang sama. Karena penasaran, saya pun mencoba mengecek akun Dewi di Facebook, untuk tahu lebih lanjut siapa sebenarnya perempuan itu. 

Di akun Facebook-nya, terdapat identitas cukup lengkap mengenai Dewi, termasuk artis idola sampai buku favorit. Yang menarik perhatian saya, ternyata Dewi berteman dengan Nabil. Si Nabil ini teman saya di dunia nyata. 

Lagi-lagi karena penasaran, saya mengontak Nabil, dan bertanya kepadanya, siapa Dewi. Di luar dugaan, ternyata Dewi adalah pacar Nabil.

Dan, sejak itu, hubungan saya dengan Nabil mulai renggang. Nabil menjauh dari saya.

Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang terjadi, hingga menyebabkan Nabil menjauhi saya. Kenyataannya kami memang tak pernah bertemu sejak itu, hingga dia maupun saya tidak bisa saling menjelaskan apa pun. Tetapi bahwa kenyataan itu terjadi setelah saya menanyakan Dewi kepadanya, mau tak mau membuat saya berpikir. 

Jika saya membayangkan apa yang telah terjadi, kira-kira seperti inilah bayangan saya mengenai apa yang terjadi....

Setelah saya bertanya pada Nabil tentang Dewi, yang ternyata pacarnya, Nabil pun meneruskan percakapan kami pada Dewi. Dia tentu penasaran, kenapa saya tiba-tiba bertanya tentang pacarnya. Bisa jadi, karena merasa “tertangkap basah”, Dewi mengarang cerita yang melenceng dari kisah sebenarnya, yang kemudian menyebabkan Nabil menjauhi saya. 

Dalam kisah sebenarnya, Dewi berulang kali mengirim e-mail kepada saya, hingga saya penasaran dan melacak dirinya. Tetapi, dalam kisah Dewi pada Nabil, tidak menutup kemungkinan dia menceritakan kisah yang berbeda. Sebagai pacar, Nabil tentu akan mempercayai cerita pacarnya. Tanpa klarifikasi kepada saya, bisa jadi dia diam-diam memendam kekesalan, hingga memutuskan menjauhi saya.

Kisah konyol itu memberi saya pelajaran mengenai pentingnya klarifikasi, agar tidak dikuasai prasangka. Kalau pacar kita menceritakan sesuatu menyangkut orang lain, silakan percaya kepadanya. Tapi jangan menutup diri untuk melakukan klarifikasi. 

Omong-omong soal klarifikasi, sekarang saya ingin menceritakan kisah seorang teman. Kisah ini mirip dengan yang saya alami, namun kadarnya lebih parah.

Safik, teman saya, berteman dengan Ale. Ale punya pacar bernama Ervin. Baik Ale maupun Ervin akrab dengan Safik. Mereka juga akrab dengan saya. Kami biasa ngumpul dan bercanda sebagaimana layaknya teman.

Suatu hari, ada acara kumpul-kumpul di suatu tempat. Ada banyak orang yang datang waktu itu, termasuk Safik, Ale, Ervin, dan saya. Malam hari, seusai acara rampung, saya duduk di depan komputer, browsing internet. Lalu muncul Safik, disusul Ervin. Kami bercakap-cakap di depan komputer, sambil saya terus memindai laman-laman internet. 

Di suatu laman, kebetulan ada gambar kartun yang lucu; wanita gemuk yang lagi pegang sapu. Safik meledek Ervin, menyatakan kartun itu mirip Ervin. Ervin paham itu cuma olok-olok yang ditujukan sebagai candaan, dan kami pun tertawa bersama waktu itu. Saya tahu betul, Ervin sama sekali tidak marah, karena memahami itu cuma gurauan antarteman. Kenyataannya kami semua—termasuk Safik dan Ervin—telah akrab berteman.

Pagi harinya, usai bangun tidur, saya duduk-duduk bersama Ale sambil menikmati teh hangat. Di luar dugaan, kami mendapati Ervin baru datang bersama Rudi, cowok yang juga teman kami. Ale maupun saya tidak tahu dari mana Ervin dan Rudi waktu itu. Tapi saya hanya berpikir positif, mungkin Ervin baru saja sarapan dengan Rudi, karena Ale masih tidur.

Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Yang jelas, siang harinya, Ale marah-marah pada Safik. Pasalnya, menurut Ale, Safik telah menghina pacarnya, dengan menyamakan Ervin seperti kartun jelek di internet. Safik kebingungan. Seingatnya, masalah kartun itu hanya olok-olok yang dimaksudkan sebagai gurauan, dan Ervin sama sekali tidak marah. Kenapa sekarang Ale marah-marah soal itu?

Safik menyatakan, “Biar kujelaskan apa yang terjadi...”

Tapi Ale sudah meradang. “Jelaskan sendiri pada pacarku! Dia sedang menangis gara-gara ulahmu semalam!”

Bisakah kita melihat apa yang telah terjadi?

Semalam, saya menjadi saksi peristiwa soal kartun yang sekarang dipermasalahkan Ale. Semalam, saya tahu betul bahwa urusan kartun yang disebut mirip Ervin hanyalah gurauan, dan Safik maupun Ervin paham itu cuma gurauan. Saya bahkan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa Ervin tertawa-tawa karena gurauan itu, dan sama sekali tidak marah. Tetapi, sekarang, Ale menyatakan Ervin sedang menangis karena disamakan seperti kartun oleh Safik.

Sekali lagi, bisakah kita melihat apa yang telah terjadi?

Tanpa bermaksud membela siapa pun, saya bisa membayangkan apa yang telah terjadi. Ketika Ervin kepergok Ale baru pulang bersama Rudi, Ervin mungkin merasa bersalah. Sebagai pacar, Ale mungkin bertanya pada Ervin, dari mana dia dengan Rudi. 

Entah apa yang dinyatakannya kepada Ale, yang jelas Ervin kemudian “memanipulasi” kisah antara dirinya dan Safik soal kartun semalam, dengan tujuan “membelokkan” kemarahan Ale. Hasilnya, alih-alih marah kepada pacarnya, Ale berbalik marah kepada Safik—tepat seperti yang diharapkan Ervin.

Salah satu keahlian perempuan adalah memanipulasi pacarnya. Dan laki-laki biasanya mudah teperdaya oleh pacarnya, apalagi jika didramatisir air mata. 

Karenanya, jika cewekmu menceritakan apa saja yang terkait orang lain, percayalah kepadanya. Tapi jangan berhenti di situ. Lakukan klarifikasi pada orang terkait, agar tidak menimbulkan masalah. Karena, jika kita semata hanya percaya tuturan pacar namun tidak mau melakukan klarifikasi, kita hanya separuh benar. Dan separuh benar tentu bukan kebenaran. 

Sampai sekarang, hubungan Safik dengan Ale tidak sebaik dulu. Padahal sebelumnya mereka berteman akrab tanpa masalah. Bagaimana pun, Safik mengakui, dia masih jengkel kepada Ale, karena disalahkan untuk sesuatu yang ia pikir bukan kesalahannya. Safik juga mengakui masih membenci Ervin, karena dia menilai Ervin telah memanipulasi dirinya.

Hanya karena tuturan pacar secara sepihak, hubungan pertemanan bertahun-tahun yang semula baik dan menyenangkan bisa rusak dan terpecah. 

Kenangan, Pelajaran, dan Keperluan

Cinta pertama adalah kenangan, cinta kedua adalah pelajaran, dan cinta yang seterusnya adalah keperluan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 September 2012.

Kamis, 30 Juli 2026

Menjangkau Matahari

Jatuh cinta membuatmu merasa dapat menjangkau matahari. Terasa hebat, tapi juga membuatmu terbakar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Agustus 2012.

Senin, 01 Juni 2026

Terakhir Kali Putus Cinta

Kalo kamu patah hati karena putus cinta… kamu pingin segera jatuh cinta lagi atau nunggu luka reda dulu? —@AdjieSanPutro


Terakhir kali putus cinta, dan itu bertahun-tahun lalu, aku berpikir, “It's enough, saatnya aku fokus mengurus hidupku sendiri.” Dan aku melakukannya sampai sekarang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 November 2024.

Hati dan Logika

Jatuh cinta adalah pertarungan hati dan logika.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Februari 2018.

Sabtu, 30 Mei 2026

Terus Aku Kudu Piye?

"Kita putus!" jerit si cewek. | "Ya," sahut cowoknya kalem. | "Ya...? Gitu aja?!" | "Terus aku kudu piye? Apa aku harus bilang 'Wow', gitu?"


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 September 2012.

Selasa, 28 April 2026

Cara untuk Jatuh Cinta

Satu wanita, dua lelaki. Yang satu jelmaan vampir, satu lagi manusia serigala. Kita tak pernah kehabisan cara untuk jatuh cinta.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Agustus 2012.

Sabtu, 28 Februari 2026

Pacaran atau Nikah adalah Soal Pilihan

Pacaran atau menikah adalah soal pilihan. Tapi di Indonesia, pilihan itu dieksploitasi sedemikian rupa, hingga tidak lagi menjadi pilihan. Pacaran diubah menjadi larangan, dan menikah diubah menjadi kewajiban. Jika diperhatikan, eksploitasi itu ujung-ujungnya bisnis dan jualan.

Secara pribadi, aku tidak peduli orang mau pacaran atau tidak, mau kawin atau tidak. Ini negara demokrasi, dan pacaran juga menikah adalah soal pilihan masing-masing. Yang jadi masalah adalah ketika pilihan itu dieksploitasi, hingga seolah orang tak bisa punya pilihan lain.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 November 2018.

Maybe

Kalau kau wanita dan menunjukkan hasrat atau keinginan menikah, dan ada pria yang mendekatimu, kau bisa percaya bahwa pria itu sama frustrasinya denganmu. Jika dua orang yang sama-sama frustrasi memutuskan untuk menikah... and they happily ever after. Maybe.

Fakta tentang wanita yang jarang diketahui wanita: Ketika seorang wanita menunjukkan hasrat ingin menikah, seketika pesonanya lenyap, dan para pria akan jaga jarak, atau bahkan menjauh. Jika tidak percaya, sila buktikan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2018.

Minggu, 01 Februari 2026

Cinta Tak Terbalas

Cinta tak terbalas adalah cara alam semesta membawamu pada orang yang lebih baik.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Juli 2012.

Sabtu, 20 Desember 2025

Surat dari Kekasih

Barang kenangan memiliki daya untuk membangkitkan rasa sentimental. Karenanya, banyak orang yang sampai membuang atau membakar barang-barang kenangan terkait pacarnya, ketika putus dengan si pacar. Tujuannya agar bisa move on, melanjutkan hidup tanpa terus dibayang-bayangi si mantan. Namun, kadang-kadang, ada barang kenangan yang terselip entah di mana, lalu tanpa sengaja kita menemukannya, dan teringat kembali pada si mantan.

Setidaknya, itulah yang saya alami tempo hari.

Tempo hari, saya bersih-bersih rumah. Sebenarnya, niat semula bukan mau bersih-bersih rumah, tapi ingin menggerakkan badan, agar otot-otot tubuh tidak kaku dan dapat berfungsi optimal kembali, setelah lama hanya berbaring karena sakit.

Seminggu di rumah sakit, saya hanya berbaring-baring. Karena ada jarum infus di tangan, saya tidak bisa bebas bergerak. Pulang dari rumah sakit, saya tinggal di rumah ortu sampai seminggu, dan saya kembali hanya berbaring-baring, karena badan lemas usai operasi. Setelah itu pulang ke rumah saya sendiri, dan masih tetap berbaring-baring, karena badan masih lemas. Waktu itu, saya hanya kuat berjalan keluar rumah untuk beli bakso yang biasa lewat. Kekuatan fisik saya seperti hilang, karena otot-otot kaku, akibat tidak ada aktivitas fisik hampir sebulan. 

Karena itulah saya terpikir untuk menggerakkan badan, melatih otot untuk bergerak kembali, meski dengan aktivitas ringan, agar tubuh kembali normal.
 
Karena badan masih lemas, aktivitas “gerak badan” yang bisa saya lakukan waktu itu baru sebatas merapikan pakaian di lemari. Baju-baju yang tadinya tidak rapi, saya tata kembali. Isi lemari yang tadinya semrawut akhirnya bisa kembali rapi, dan pakaian yang tadinya tidak pernah terpakai kini bisa saya pakai lagi.

Meski aktivitas itu sangat ringan—hanya merapikan baju-baju di lemari—tapi setidaknya badan saya mulai bergerak, otot-otot mulai bekerja, meski setelah itu saya harus kembali istirahat, berbaring-baring kembali, karena kelelahan.

Setelah urusan pakaian beres dan isi lemari telah rapi, saya menantang diri sendiri untuk melakukan aktivitas yang lebih berat, yaitu menata dan merapikan buku-buku di rumah. Itu bukan aktivitas ringan!

Saya memiliki koleksi ribuan buku, sebagian ada di rak, sebagian lagi ada dalam tumpukan kardus—karena kehabisan tempat di rak—sebagian lain lagi “pating slebar” di mana-mana. Saya mulai membereskan buku-buku itu, membersihkannya dari debu, menatanya kembali di rak. Kardus-kardus berisi buku, yang tadinya bertumpuk tidak karuan, saya pindahkan ke ruangan lain yang lebih baik. Sementara buku-buku yang “pating slebar” saya kumpulkan kembali di tempatnya. 

Butuh waktu seminggu lebih mengurusi buku-buku itu, sampai akhirnya benar-benar rapi. Capek? Sangat! Tapi saya puas, karena barang kesayangan saya—yaitu buku-buku di rumah—akhirnya dapat tertata kembali dengan rapi. Seiring dengan itu, otot-otot saya mulai lentur, badan perlahan-lahan kembali kuat (tidak mudah lelah), dan kondisi kesehatan saya terus membaik. Di titik itu, saya tidak hanya bisa melangkah keluar rumah untuk beli bakso yang lewat, tapi juga bisa pergi ke warung makan yang relatif jauh!

Setelah isi lemari dan buku-buku sudah beres, saya berkata pada diri sendiri, “Coba sekarang bersihkan rumah, dari depan sampai belakang.”

Dengan kondisi badan yang belum sehat sepenuhnya, itu benar-benar tugas berat! Karena “membersihkan rumah” artinya membereskan semua hal, dari ruang tamu, ruang tengah, kamar tidur, tempat kerja, dapur, kamar mandi, dan lain-lain, sampai membersihkan rumput di halaman!

Tapi karena keinginan menggerakkan tubuh, saya mulai melakukan hal itu, meski perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, hari demi hari, sesuai kondisi badan. Saya mulai membersihkan dan merapikan tempat tidur, lalu ruang belakang, merapikan dapur, membereskan ruang tengah, ruang tamu, dan sesekali membersihkan rumput di halaman depan serta samping rumah. Meski sedikit demi sedikit, dan perlahan-lahan. Kalau capek, saya istirahat. Meski capeknya tidak sesering sebelumnya.

Selama membersihkan dan menata kembali isi rumah, dari depan sampai belakang, saya juga memilah mana barang-barang yang harus dibuang, mana yang bisa diloakkan, dan mana yang perlu disimpan. Dalam aktivitas itulah, tanpa sengaja saya menemukan dua amplop terselip di antara barang-barang lain. Ketika saya buka dua amplop itu, isinya surat dari pacar saya dulu.  

Tubuh saya tiba-tiba membeku.

Dua surat dari pacar itu menandai dua moment penting dalam hubungan kami, bertahun lalu. Saya membuka amplop surat itu, membaca isinya, dan seketika memori saya memutar rekaman peristiwa dari masa lalu. Peristiwa-peristiwa yang indah, saat memiliki seseorang yang saya cintai dan mencintai saya... ketika saya merasa begitu berharga karena dicintai setulus hati.

Saat “melihat” rekaman peristiwa demi peristiwa dari masa lalu, yang tergambar begitu jelas dalam ingatan, saya menyadari bahwa dia kekasih terbaik yang pernah saya miliki. Dia tahu saya apa adanya, menerima saya apa adanya, mencintai saya apa adanya. Fakta bahwa kami kemudian putus, itu kesalahan saya, karena lebih mementingkan visi pribadi daripada memastikan hubungan kami. Dan setiap kali menyadari hal itu... saya kadang terpikir ingin memutar waktu.

Tahun-tahun panjang telah berlalu, dan dia kini telah memiliki kehidupan sendiri, sementara saya kadang bertanya-tanya, “Apakah aku sudah move on sepenuhnya?”

Sebenarnya, saya sudah move on, dan telah melupakan semua yang di belakang, karena sangat fokus pada masa sekarang. Tapi setiap kali “tersandung kenangan”—seperti menemukan dua surat tadi—saya seperti tersedot ke masa lalu, karena memori saya merekam setiap peristiwa dengan begitu jelas bahkan detail, apalagi terkait seseorang yang menempati ruang istimewa dalam ingatan. Dan saya tidak punya kemampuan menghapus ingatan itu, hingga masih bisa mengingat wajahnya, suara tawanya, cara bicaranya, ekspresi marah dan cemburunya.

Ketika teringat semua itu, saya kadang tertawa sendiri, kadang pula ingin mengulanginya kembali.

Saya membaca dua surat itu sambil ditikam kenangan demi kenangan... lalu memasukkan kembali dua surat itu ke dalam amplopnya, meski tidak yakin apakah harus tetap menyimpan atau membuangnya. Mungkin saya terlalu sentimentil, hingga sering merasa berat untuk membuang barang-barang terkait orang yang pernah dicintai. 

Mungkin sekarang saya akan tetap menyimpannya, sebagai pengingat bahwa saya punya hati. Dan mungkin, suatu hari kelak, saya bisa melepaskan barang-barang kenangan itu, ketika seseorang—entah siapa dan entah dimana—membuat saya jatuh cinta, sekali lagi.

....
....

Well, rumah saya yang tadinya berantakan kini lebih rapi. Rumput-rumput di sekitar rumah juga telah hilang. Lampu-lampu yang tadinya padam karena kabelnya digerogoti tikus, kini kembali menyala terang. Di atas semuanya, saya merasakan badan kembali sehat, dan itu yang terpenting.

Pilih Pacaran atau Mengejar Impian

Bagi banyak orang, mengejar cita-cita dan menjalin hubungan pacaran adalah dua hal yang tidak bisa dilakukan berbarengan, karena akan memecah fokus. Padahal kita butuh fokus untuk melakukan pencapaian. Jangankan menggapai sesuatu yang besar, bahkan sekadar menulis catatan ini saja butuh fokus!

Disadari atau tidak, kebanyakan kita sebenarnya diminta memilih; fokus pada tujuan hidup (yang artinya menjauhi hubungan pacaran), atau menjalin hubungan pacaran (tapi harus mengorbankan cita-cita). Sulit mendapatkan keduanya sekaligus.

Bagaimana solusinya? 

Jawaban mudah; solusinya adalah memilih! 

Sayangnya, kehidupan kita sering kali tak semudah itu, kan? Kita ingin menggapai cita-cita dan tujuan hidup, tapi seiring dengan itu juga ingin menjalin hubungan (affection) dengan seseorang. Apes-apesnya, jatuh cinta!

Jatuh cinta itu apes bagi orang yang sedang mengejar impian atau cita-cita. Lebih apes lagi, orang yang membuatnya jatuh cinta juga jatuh cinta kepadanya. Dalam kondisi keapesan semacam itu, banyak dari kita yang “kalah”, kemudian lupa pada impian atau cita-cita, dan memilih pacaran.

Syukur-syukur kalau hubungan pacaran itu membuatnya (mereka) bahagia. Tapi bagaimana kalau tidak? 

Bertolak dari pertanyaan itu, saya memikirkan suatu hubungan yang “bukan sekadar teman, tapi juga bukan pacaran”. Artinya, menjalin hubungan, tapi tidak ada tuntutan.

Apa nama atau sebutan untuk hubungan semacam itu? Entahlah, saya tidak tahu. Jadi, saya membayangkan dua orang saling tertarik, lalu menjalin hubungan spesial—karena sama-sama butuh afeksi—tapi juga tidak mau saling terikat, karena sama-sama sibuk mengejar impian masing-masing.

Bukankah, setidaknya dalam pikiran saya, hubungan semacam itu lebih menyenangkan sekaligus membebaskan? Kita bisa tetap fokus mengejar impian, cita-cita, atau ambisi pribadi, dan seiring dengan itu juga memiliki hubungan spesial tapi tanpa drama dan tuntutan macam-macam.

Apakah di Indonesia ada hubungan semacam itu? Sekali lagi, saya tidak tahu. Tapi, saya pikir, apa salahnya kalau kita—((((kita?))))—coba?

Rabu, 10 Desember 2025

Tak Pernah Selesai

Yang membuat kisah cinta tak pernah selesai adalah... kita sering mengharapkan orang yang tak bisa dimiliki.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 September 2012.

Senin, 20 Oktober 2025

Amal Alamuddin adalah Mbakyu

Dulu, sebelum (akhirnya) menikah dengan Amal, George Clooney pernah bersumpah tidak akan pernah menikah lagi. Banyak yang paham, Clooney bersedia menikah dengan Amal bukan sekadar karena cinta, tapi juga karena kesamaan visi—sesuatu yang tidak dimiliki rata-rata wanita lain.

Selama ini, George Clooney menghabiskan uangnya untuk membiayai satelit mata-mata, yang ia tempatkan di titik-titik tertentu yang ia inginkan. Salah satunya adalah Sudan—yang belakangan membuat Omar al-Bashir, diktator Sudan, ngamuk-ngamuk tak karuan begitu tahu dimata-matai.

Apa motivasi George Clooney memata-matai Sudan? Mungkin sekadar bersenang-senang, atau bisa pula karena dendam pribadi. Omar al-Bashir telah divonis sebagai penjahat perang di Hague, dan George Clooney, sebagaimana yang diakuinya, “membencinya setengah mati.”

Kebencian Clooney sebenarnya beralasan. Omar al-Bashir membantai rakyat Sudan seenaknya, dan satelit mata-mata yang ditempatkan Clooney sebagai semacam pengingat bagi sang diktator agar dia berhenti berbuat gila. Dan dunia mengarahkan pandangan ke Sudan, karena Clooney.

“Hobi” yang dilakukan Clooney bisa jadi sulit diterima rata-rata wanita yang tentu lebih ingin uangnya digunakan untuk pelesir atau membeli barang-barang mahal. Karena itulah Clooney pernah bersumpah tidak akan menikah, sampai akhirnya bertemu Amal yang bisa memahami visinya.

Sekadar pengingat, Amal Alamuddin bukan hanya wanita mempesona, tapi juga seorang pengacara Inggris-Lebanon, yang mengkhususkan diri dalam hukum internasional dan hak asasi manusia. Dia jelas bisa memahami visi George Clooney. Dengan kata lain, Amal Alamuddin adalah mbakyu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Februari 2019.

Kamu

Semua drama cinta panjang lebar dan bertele-tele di muka bumi ini sebenarnya bisa disingkat dalam satu kata, "Kamu."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 Februari 2012.

Sabtu, 20 September 2025

Awal dan Akhir

Cinta diawali dengan senyuman, tumbuh bersama ciuman, namun sering berakhir dengan tangisan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Juli 2012.

Jumat, 01 Agustus 2025

Dalam Hujan

Dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 September 2012.

Jumat, 10 Januari 2025

Preferensi Pasangan

Umumnya, orang punya preferensi pribadi terkait pasangan yang ingin dimiliki. Dari tampilan fisik sampai kebiasaan. Kalau boleh menyarankan, sebaiknya cari pasangan yang benar-benar sesuai preferensi pribadimu, dan jangan berpikir kamu akan bisa mengubahnya seiring waktu.

Misal, kalau kamu perempuan dan ingin pasangan yang tidak merokok, sebaiknya sejak awal cari pria yang memang tidak merokok. Jangan pernah berpikir kamu akan bisa mengubah dan menghentikan kebiasaan merokoknya, karena itu tidak akan terjadi, dan membuatmu makan hati.

Pria mungkin memang mau dan mampu mengubah kebiasaannya, dalam hal ini kebiasaan merokok. Tapi sering kali itu berdasar kesadaran pribadi, bukan karena dipaksa-paksa pasangannya. Jadi tidak usah bermimpi jadi “bidadari penyelamat” yang akan bisa mengubah pasanganmu.

Jumat, 20 Desember 2024

Beban Terberat Pacaran

Beban terberat pacaran—setidaknya bagiku—bukan uang, bukan kesetiaan, bukan tanggung jawab (aku punya semua itu)... tapi waktu. Aku tidak punya waktu! Sementara pacaran menuntut banyak waktu. Dari waktu nilpon, chatting, sampai ketemuan, dan lain-lain.

Cewek tuh ya—tolong maafkan kalau ini kasar—waktu belum jadian, sok jaimnya selangit. Tapi kalau sudah jadian, penginnya ketemuuuuuuuuuu terus. Bahkan sudah ketemuan lama saja, sering kali tidak cukup. Cewek masih butuh diperhatikan, ditilpon, dan lain-lain.

Karenanya, menurutku, aktivitas pacaran hanya cocok untuk orang-orang selo, yang punya banyak waktu luang, lebih bagus lagi kalau pengangguran! Orang-orang sibuk yang punya banyak kerjaan biasanya kewalahan kalau pacaran, karena sulit membagi waktu yang terbatas.

Terkait hubungan dengan perempuan, aku percaya bahwa setiap pria menghadapi dua pilihan... dan dia harus memilih! Pertama, mengejar impiannya. Atau kedua, menjalin hubungan dengan perempuan. Mungkin ada yang bisa mendapatkan keduanya, tapi itu satu banding sejuta.

Semakin tinggi impian/ambisi seorang pria, semakin sedikit waktu yang dimilikinya. Dan itu artinya, sekali lagi, dia harus memilih. And then, inilah hasilnya: Jika pria mengejar impiannya, perempuan akan mengikuti. Tapi jika pria mengejar perempuan, impiannya akan hilang.

Jadi, di sisi lain, perempuan juga menghadapi dua pilihan. Pilihan pertama, pria yang punya banyak waktu luang hingga bisa terus asyik pacaran, tapi tidak punya masa depan... atau pilihan kedua, pria yang jarang punya waktu luang untuk pacaran tapi punya masa depan.

Mungkin memang ada pria yang punya banyak waktu luang untuk pacaran, sekaligus punya masa depan gemilang. Tapi, realistis sajalah, itu satu banding sejuta! Kamu benar-benar beruntung kalau bisa seperti itu, atau punya pacar yang seperti itu... jika bukan utopia. 

Jumat, 01 November 2024

Sangat Sederhana

Kadang-kadang cinta sangat sederhana. Kau membuka akun Twitter atau FB seseorang, dan kemudian jatuh cinta kepadanya. Sesederhana itu.

Kadang-kadang hidup sangat sederhana. Kau menemukan seseorang yang tepat seperti yang kauimpikan, dan hidup berubah warna. Sesederhana itu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Mei 2014.  

 
;