Rabu, 26 April 2017

Lolong Serigala pada Rembulan

“The little boy was already dead... in the snow. His heart was
already dead. He cannot be described now, except as a monster.”
Quote from Hannibal Rising

“Di balik tubuh dewasa saya, ada anak kecil terluka yang tak pernah 
berhenti menangis. Di balik kehidupan saya yang tampak normal dan biasa, ada
jiwa yang berdarah, hati yang bernanah... sebuah luka yang terus menganga.”
Quote dari Korban Broken Home


Ibu saya menggemari ceramah Mamah Dedeh. Kita tahu, Mamah Dedeh berceramah dengan gaya seorang wanita yang berbicara kepada sesama wanita. Topik ceramahnya pun sering kali membahas kehidupan wanita, kehidupan ibu, masalah keluarga, urusan dengan suami, mendidik anak, dan semacamnya. Karenanya pula, jamaah Mamah Dedeh juga kebanyakan wanita, termasuk ibu saya.

Daya tarik Mamah Dedeh adalah kemampuannya dalam mengangkat topik-topik sederhana—dalam kehidupan sehari-hari, yang lekat dengan kehidupan wanita—lalu dibahas dengan baik dan bijak, serta mencerahkan, khususnya bagi kaum wanita.

Tentang mendidik anak, misalnya. Mamah Dedeh tidak menyodorkan teori-teori rumit yang sulit dipahami orang awam. Sebaliknya, Mamah Dedeh menjelaskan topik mendidik anak dengan uraian yang mudah dipahami, dengan contoh-contoh sederhana, sehingga jamaahnya bisa langsung mengerti.

Selama menyimak ceramah-ceramah Mamah Dedeh, ibu saya seperti mendapat pencerahan, dan dia mulai introspeksi. Sejak itu pula, dia mulai menyadari bahwa cara dia mendidik anak-anaknya—termasuk saya—ternyata sangat keliru, bahkan sangat salah! Karena itu, selama ini, ibu saya diam-diam menyesal karena telah mendidik serta membesarkan anak-anaknya dengan cara yang ia anggap benar, tapi ternyata sama sekali tidak benar.

Saya tahu kenyataan itu, karena ibu saya mengatakan dan mengakuinya sendiri.

Suatu hari, kami berkunjung ke rumah adik saya yang telah berkeluarga. Ceritanya, adik saya waktu itu punya hajatan, dan ibu, beberapa famili, serta saya, datang ke sana. Di mobil, dalam perjalanan pulang, ibu saya bercerita pada famili, bahwa dia kerap menasihati adik saya tentang cara mendidik anaknya (adik perempuan saya telah punya satu anak laki-laki).

Adik perempuan saya mendidik anaknya, persis seperti ibu kami dulu mendidik anak-anaknya (saya dan adik-adik). Selama ini, saya diam-diam menyaksikan dan menyadari hal itu. Saat melihat adik saya berinteraksi dengan anaknya, saya seperti melihat ibu dulu ketika berinteraksi dengan saya. Tetapi, selama ini, saya hanya diam. Bagaimana pun, itu anak adik saya—bukan anak saya. Jadi, meski sebenarnya tidak setuju dengan cara dia mendidik anaknya, saya merasa tidak punya hak untuk bersuara.

Rupanya, ibu juga menyadari hal itu. Dia melihat cara adik saya mendidik anaknya, serupa seperti dulu cara ibu mendidik kami (anak-anaknya). Ibu pun menasihati adik saya agar tidak mendidik anaknya dengan cara seperti itu. Karena itu cara mendidik yang—ternyata—salah.

Tetapi, meski telah dinasihati, adik saya sepertinya sulit mengubah cara dalam mendidik anaknya. Bagaimana pun, seperti kata peribahasa, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Dalam percakapan di mobil waktu itu, saya pun berkata pada ibu, bahwa cara adik saya mendidik anaknya, adalah hasil “cetakan” yang telah dibuat ibu kepadanya dulu. Bagaimana seorang ibu mendidik anaknya, maka seperti itu pula cara si anak akan mendidik anaknya kelak. Karena, sekali lagi, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dan lingkaran setan selalu dimulai dari kebodohan.

Saya tidak menyalahkan adik saya, sebagaimana saya juga tidak menyalahkan ibu saya. Tetapi, sekarang, saya ingin mengakui kenyataan mengerikan ini. Bahwa saya, sampai saat ini, masih memendam amarah dan luka—amarah dan luka—akibat cara ibu saya yang salah dalam mendidik dan membesarkan. Dan mungkin amarah serta luka di dalam diri saya akan terus terbawa hingga kematian kelak. Karena begitu dalam luka yang telah tergurat....

....
....

Sedari kecil, setidaknya saat SMP, saya sudah mulai menyadari bahwa perlakuan orang tua saya kepada kami (anak-anaknya) bukanlah perlakuan yang benar, bukan cara mendidik yang benar, bukan cara membesarkan anak yang benar. Tetapi, saya bisa apa...? Saya masih kecil, sementara mereka orang tua saya. Dan orang tua mana pun selalu memiliki kecenderungan merasa benar, khususnya di depan anak-anaknya.

Mana mungkin saya berkata pada orang tua saya, “Hei, cara kalian mendidik kami sama sekali tidak benar!”

Bahkan kalau pun saya mengatakan hal itu, apakah mungkin orang tua saya akan mendengarkan? Jawabannya jelas, tidak! Mereka orang tua kami, mereka merasa memiliki hak atas kami, dan mereka meyakini cara mendidik serta membesarkan yang mereka terapkan kepada kami—anak-anaknya—pasti benar. Karena seperti itulah kebanyakan orang tua berpikir.

Jadi, sedari kecil, saya menghadapi perlakuan yang sangat tidak menyenangkan sekaligus salah dari orang tua. Saya anak paling besar. Karenanya, sayalah yang paling menanggung akibat didikan yang salah, yang diterapkan dalam membesarkan saya dan adik-adik. Tidak perlu saya jelaskan secara gamblang bagaimana cara mereka membesarkan kami. Yang jelas, ketika tumbuh dewasa, sayalah yang paling menanggung “kerusakan” akibat perlakuan salah mereka.

Sebagai manusia, ayah dan ibu saya mungkin orang baik. Tetapi, sebagai anak, saya tahu mereka bukan orang tua yang baik. Dalam arti, mereka mendidik dan membesarkan kami—anak-anaknya—dengan cara yang salah, bahkan sangat salah, tapi merasa benar, dan terus melakukannya sampai kami besar. Akibatnya, didikan serta cara membesarkan yang salah itu kemudian—diam-diam—justru menciptakan efek kerusakan.

Ironisnya, ibu saya baru menyadari kenyataan itu sekarang, ketika anak-anaknya telah besar dan dewasa. Ayah saya bahkan mungkin tidak sempat menyadari kesalahannya dalam mendidik kami, karena dia telah meninggal bertahun lalu. Ibu pun baru menyadari kesalahannya yang fatal dalam mendidik kami, setelah dia rajin menyimak ceramah Mamah Dedeh. Kalau saja dia tidak menyimak ceramah Mamah Dedeh, bisa jadi ibu tidak akan menyadari kesalahannya, bahkan kelak sampai mati.

Jadi, sekarang ibu saya sudah menyadari kesalahannya. Tetapi, sayang seribu sayang, kesalahan yang telah ia lakukan bertahun-tahun lalu telah menciptakan kerusakan yang amat parah dalam diri dan mental saya. Kini, saat telah dewasa, saya menyadari tidak utuh sebagai manusia—ada bagian dalam batin saya yang terluka sedemikian parah, hingga mungkin tidak akan pernah sembuh, bahkan sampai akhir hayat kelak.

Itulah luka... luka yang sering saya sebut-sebut... luka yang kadang membuat saya begitu rapuh... luka yang membuat saya sedemikian marah dan murka... luka yang diguratkan oleh orang tua saya sendiri.

Bertahun-tahun lalu, saat saya masih SMP, dan terdampar di jalanan karena kehidupan yang amat miskin, kadang-kadang saya duduk sendirian di tengah malam, di alun-alun yang sepi, lalu menangis... dan berpikir, “Aku tidak minta dilahirkan ke dunia ini. Tapi aku dilahirkan hanya untuk menanggung luka dan penderitaan... luka dan kesengsaraan... luka dan kepahitan... luka dan amarah...”

Dan kata-kata itu bagai mantra yang terus terulang dalam batin saya, karena seperti itulah kehidupan yang saya jalani, hari demi hari, saat saya seharusnya tumbuh ceria seperti anak-anak yang lain, tapi justru dilukai... dilukai... dan dilukai.

Menjalani kehidupan waktu itu, saya membayangkan diri saya adalah serigala yang melolong pada rembulan setiap malam, mencari jawab atas pertanyaan yang tak pernah terjawab, meneriakkan luka yang tak pernah usai.

Dan luka yang tak pernah usai itu, menjadikan saya begitu peka dan sensitif. Sebagai pribadi, saya menyadari ada luka yang menganga mengerikan di dalam batin saya—sebentuk luka yang amat perih. Karenanya, begitu tersentuh sedikit saja, luka itu menciptakan sakit luar biasa, yang membuat saya ingin menjerit.

Bahkan kini, saat dewasa, saya kadang masih menangis sendirian, saat tiba-tiba luka di dalam batin saya terasa perih, saat memori dari masa lalu menyeruak ke dalam pikiran, dan saya merasa begitu marah sekaligus pedih. Marah atas perlakuan orang tua saya sendiri di masa lalu, dan pedih merasakan kerusakan yang saya alami.

Karena itu pula, di dunia nyata maupun di dunia maya, saya sulit didekati siapa pun—kecuali orang yang benar-benar saya percaya—karena saya selalu takut dilukai. Di sisi lain, saya selalu tak bisa menahan amarah setiap kali orang melukai saya, dan luka yang ditimbulkannya akan memunculkan monster tersembunyi di dalam diri saya. Sudah terlalu banyak luka yang tergurat dalam batin, dan—demi iblis di neraka—saya tidak ingin menambahinya.

Selama bertahun-tahun, tanpa diketahui siapa pun, saya terus berusaha mengobati luka-luka di dalam batin saya, amarah di jiwa saya, demi bisa hidup normal. Selama bertahun-tahun, setiap hari, saya mengonsumsi berbutir-butir pil sakit kepala setiap kali “monster” di dalam diri saya mendesak ingin keluar.

“Sakit kepala” sebenarnya eufemisme yang sengaja saya gunakan untuk menutupi kondisi yang saya rasakan, yakni amarah mengerikan akibat luka yang tak juga sembuh. Pil yang saya konsumsi setiap hari memang ditujukan untuk meredakan sakit kepala. Tetapi, sebenarnya, saya mengincar suatu zat di dalamnya, yang ditujukan untuk meredakan ketegangan, agar perasaan saya kembali nyaman.

Apakah ibu saya tahu semua ini? Tidak, karena dia tak pernah bertanya!

Selama ini, dia mungkin mengira cara mendidiknya yang salah bertahun-tahun lalu dapat dianggap “baik-baik saja”, toh dia mendapati saya tumbuh seperti manusia umumnya. Tetapi, tanpa disadarinya, cara dia mendidik saya yang salah bertahun-tahun lalu tidak hanya menciptakan sesosok manusia... tapi juga sesosok monster yang tak terlihat. Cara dia membesarkan saya telah menciptakan kerusakan permanen di diri saya... sebentuk kerusakan yang mungkin akan terbawa sampai ke surga... atau neraka.

....
....

Adik lelaki saya saat ini bekerja sebagai akuntan. Kita tahu, pekerjaan sebagai akuntan adalah bekerja mengurus angka-angka akuntansi. Untuk mendapat pekerjaan tersebut, adik saya harus kuliah bertahun-tahun, termasuk kuliah di STAN.

Hanya untuk mengurus angka-angka saja, orang harus belajar dan kuliah selama bertahun-tahun, hingga di perguruan tinggi yang sangat terpercaya. Mengapa? Karena mengurus angka-angka akuntansi membutuhkan pengetahuan, kemampuan, sekaligus kecermatan.

Sekarang bayangkan, jika untuk mengurus angka-angka yang disebut akuntansi saja membutuhkan proses pembelajaran dan kuliah bertahun-tahun, apalagi mengurus anak-anak yang akan tumbuh menjadi manusia...?

Ironisnya, amat sangat... sangat sedikit orang yang memahami kenyataan penting itu.

Untuk menjadi akuntan dan mengurus akuntansi, orang perlu belajar bertahun-tahun. Untuk menjadi pengacara dan mengurus hukum, orang perlu belajar bertahun-tahun. Untuk menjadi dokter dan mengurus kesehatan, orang perlu belajar bertahun-tahun. Untuk menjadi guru dan mendidik murid di sekolah, orang perlu belajar bertahun-tahun. Tapi untuk menjadi orang tua dan membesarkan anak-anak... mereka sama sekali tidak belajar!

Demi Tuhan, apa yang lebih mengerikan dari itu...?

Ada jutaan—oh, well, miliaran—orang yang begitu pede melahirkan anak-anak, lalu membesarkan dan mendidik anak-anaknya, padahal mereka tidak memiliki pengetahuan memadai, tidak memiliki pemahaman yang mumpuni, pendeknya tidak memiliki kompetensi dalam mendidik dan membesarkan anak. Maka anak-anak itu pun tumbuh di bawah didikan yang keliru, di bawah asuhan yang keliru, dengan cara membesarkan yang keliru.

Seperti yang saya alami. Seperti yang dilakukan orang tua saya kepada anak-anaknya.

Bisa dibilang, orang tua saya—dan miliaran orang tua lain di dunia—memiliki anak-anak bukan dengan kesadaran dan pengetahuan, melainkan sebagai hasil eksperimen mengerikan.

Mereka tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang mendidik dan membesarkan anak, melainkan hanya bermodal keyakinan bahwa mereka bisa melakukan. Apa yang lebih mengerikan dari itu? Ini urusan membesarkan manusia, bukan urusan angka-angka keparat di layar komputer! Tapi mereka melakukan tanpa belajar dan tanpa pengetahuan, melainkan hanya bermodal nekad!

Sekali lagi, saya tidak menyalahkan orang tua saya. Karena, bagaimana pun, orang tua saya adalah hasil didikan orang tuanya. Meski saya tidak melihat bagaimana mereka dulu saat masih kecil, tapi saya yakin cara mereka dididik orang tuanya sama persis seperti cara mereka mendidik saya. Sebuah lingkaran setan yang diawali dari kesalahan yang dianggap benar. Cara mendidik dan membesarkan yang sebenarnya keliru, tapi diyakini benar.

Mungkin saya patut bersyukur, karena setidaknya ibu kini menyadari kesalahannya, mengakui bahwa cara mendidik dan membesarkan anak yang dulu dilakukannya adalah kesalahan, dan sekarang dia menyesal.

Tetapi, seperti yang sering dikatakan orang, penyesalan selalu datang di belakang. Dan penyesalan itu, sayangnya, telah menciptakan begitu banyak kerusakan. Saya tahu betul hal itu. Karena sayalah korbannya, sayalah yang menanggung kerusakan terbesar. Dan kini, setiap malam, saya masih kerap membayangkan diri sebagai serigala yang kesakitan, melolong sendirian di tengah kegelapan... pada hening rembulan.

Kepada Calon Pacarku

Kepada calon pacarku yang entah di mana, yang entah ada atau tak ada.

Aku menulis catatan ini untukmu, karena aku tak tahu bagaimana mengatakannya langsung kepadamu. Aku menulis catatan ini, agar kau tahu siapa aku, sebelum (mungkin) memutuskan untuk menjadi pacarku. Aku menulis catatan ini kepadamu, sebagai bentuk kejujuranku, sebelum kau melangkah lebih jauh.

Aku tidak tahu kapan atau di mana kita akan bertemu. Mungkin aku akan menemukanmu di dunia nyata, entah bagaimana caranya. Atau mungkin pula kita bertemu di dunia maya, entah bagaimana jalannya. Yang jelas, jika sewaktu-waktu kita kelak bertemu, dan mungkin saling jatuh cinta, aku berharap kau menemukan catatan ini, dan membacanya.

Jika kelak kita bertemu di dunia nyata, jangan tertipu oleh wujudku yang tampak dewasa. Meski mungkin aku tampak tak berbeda dengan kebanyakan lelaki lain, aku ingin kau tahu bahwa aku berbeda dengan mereka. Bukan lebih baik dari mereka, tapi mungkin lebih buruk.

Aku tidak sedewasa yang mungkin kaulihat. Sebenarnya, aku hanya sesosok bocah—sering kebingungan, ketakutan, dan terlalu takut dilukai. Aku adalah bocah yang terkurung dalam sosok dewasa, anak kecil yang kadang menangis saat terluka.

Karenanya, ingatlah selalu kenyataan itu, bahwa aku hanya sesosok bocah. Cara terbaik menghadapiku adalah membayangkan dirimu menghadapi seorang bocah. Kalau kau menantangku, aku akan balik menantangmu. Kalau kau mencoba membuatku terluka, aku akan bilang persetan denganmu, dan kau boleh pergi ke neraka. Tetapi, kalau kau bersikap baik kepadaku, aku akan datang kepadamu. Kalau kau bersikap manis kepadaku, aku akan ada dalam pelukanmu.

Jadilah mbakyu—oh, well, jadilah seorang mbakyu. Karena hanya dengan cara itu kau bisa memiliki aku, sepenuhnya diriku.

Jika kelak kau menemukanku di dunia maya, dan mungkin mengenalku lewat blog ini, jangan terkecoh oleh tulisan-tulisanku. Meski mungkin tulisanku kauanggap dewasa atau bahkan bijaksana, aku tidak sedewasa yang mungkin kaupikirkan. Tulisan-tulisanku di blog ini sebenarnya refleksi kehidupanku yang penuh luka dan amarah, sebentuk upaya dalam menjaga kewarasanku sebagai manusia.

Aku tidak sebaik yang mungkin kaupikirkan. Juga tidak sepintar atau sebijaksana yang mungkin kaubayangkan. Aku hanyalah sesosok bocah terluka, yang mencoba menghibur diri dengan menulis, untuk mengeluarkan amarah, meredakan tangis, berusaha menyembuhkan luka melalui kata-kata. Di blog ini.

Karenanya, kalau kemudian kita saling berinteraksi di dunia maya, ingatlah selalu kenyataan itu, bahwa aku hanya sesosok bocah. Cara terbaik menghadapiku adalah membayangkan dirimu menghadapi seorang bocah. Lebih spesifik, seorang bocah terluka, yang kebingungan, dan kesepian.

Kalau kau mencoba menggunakan kode-kode tertentu, aku belum tentu paham. Kalau kau berharap aku agresif mendekatimu, kau hanya akan mengecewakan diri sendiri, karena aku tidak tahu caranya. Kalau kau ingin aku melakukan sesuatu, kau harus mengatakannya dengan kata-kata, secara jelas, langsung kepadaku, sebagaimana kau menghadapi seorang bocah.

Ingatlah selalu, aku hanya seorang bocah.

Dan jangan pernah menantangku, atau mencoba melukaiku. Karena itu akan menjadi kesalahan terbesarmu. Tak peduli secinta apa pun aku kepadamu, aku lebih memilih menyelamatkan batinku agar tak terluka, dan kau boleh pergi ke neraka.

Jadilah mbakyu—oh, well, jadilah seorang mbakyu. Hadapi aku, si bocah bodoh ini, dengan sikap seorang mbakyu. Karena hanya itu satu-satunya cara agar kita dapat bertemu.

....
....

Kepada calon pacarku yang entah di mana, yang entah ada atau tak ada.

Lelaki-lelaki lain mungkin akan berkata kepadamu, atau berusaha menunjukkan kepadamu, bahwa mereka sosok sempurna. Tetapi, sekarang, aku ingin mengatakan kepadamu, secara jujur, bahwa aku jauh dari sempurna. Bahwa aku memiliki banyak kekurangan, dan pengalaman buruk, dan masa kecil yang suram, yang kini menyisakan jiwa penuh luka.

Aku ingin kau tahu kenyataan itu, agar kau bisa memilih. Memilih untuk tetap menjadi pacarku, atau memilih untuk mencari yang lebih baik dari aku, dan itu hakmu. Aku tidak ingin membohongimu tentang siapa aku. Aku hanya seorang bocah. Yang kesepian, dan penuh luka.

Dan kalau kau memutuskan untuk menjadi pacarku, ingatlah selalu kenyataan itu. Ingatlah selalu bahwa lelaki yang menjadi pacarmu ini bukan siapa-siapa, selain hanya bocah kesepian yang terluka. Karenanya, berikan kasihmu, dan selamatkan aku dari kesepian jiwaku. Bantulah aku menyembuhkan dan menutup luka-luka, yang bertahun-tahun terus menganga.

Dan sebagai balasannya, kau memiliki cintaku. Sepenuhnya cintaku.

Tak Minta Dilahirkan

Ada ajaran “Hormatilah orang tuamu”, tapi tidak ada ajaran “Hormatilah anak-anakmu”. Tidak adil, dan sangat timpang.

Semua ajaran terkait relasi orang tua dan anak seolah menggeneralisir semua orang tua pasti baik dan benar. Padahal tidak selamanya begitu.

Doktrin yang kerap diberikan pada anak, “Orang tua telah melahirkan dan membesarkan anak.” Pertanyaannya, siapa yang meminta dilahirkan?

Orang tua menuntut anak-anaknya “berbakti” seolah si anak yang minta dilahirkan. Padahal anak-anak lahir karena kehendak orang tua.

Jika dipikirkan mendalam, ajaran “berbakti” dalam relasi orang tua dan anak kerap mempersepsikan orang tua pasti benar dan anak pasti salah.

Jika direnungkan, semua ajaran terkait relasi orang tua dan anak seolah menempatkan orang tua sebagai manusia, dan anak sebagai sub-manusia.

Banyak orang tua yang melakukan sesuatu pada anaknya, dan mereka yakin itu benar, padahal salah. Di mana letak hak anak sebagai manusia?

Banyak orang tua berpikir dirinya pasti benar, dan anak pasti salah. Kecenderungan itu terjadi karena adanya doktrin “berbakti” yang salah.

Untuk memiliki dan memelihara anjing, orang perlu belajar memelihara yang benar. Tapi untuk memiliki anak, ironisnya, mereka tidak belajar.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Maret 2017.

Sabtu, 22 April 2017

Dian Sastro dan Ironi Manusia

Sekarang aku tahu mengapa Tarzan betah hidup di hutan.
Dia bisa membebaskan diri dari kebrengsekan sistem
untuk sama dengan orang-orang.
@noffret


Dian Sastro dihinggapi masalah kurang mengenakkan, gara-gara terlihat menepiskan penggemar yang ingin berfoto bersama. Ekspresinya yang tampak bergidik—atau kegelian—menjadikan banyak orang menghujatnya, meski kita juga tidak tahu ekspresi atau gerakan apa sebenarnya yang dilakukan Dian Sastro kala itu. Yang jelas, orang-orang tidak suka dengan sikap Dian Sastro yang tampak tidak ramah.

Terkait hal itu, Dian Sastro sudah berusaha memberi jawaban dan penjelasan mengenai latar belakang sikapnya, dan mestinya kita maklum. Karena, bagaimana pun, Dian toh manusia biasa. Bahwa dia seorang artis, itu tidak mengubah fakta dia tetap manusia. Yang kadang lelah, kadang stres, kadang bingung, kadang jengkel, dan kadang lupa bersikap manis. Sama seperti kita.

Dian Sastro sebenarnya bukan artis pertama yang “ketahuan” sebagai manusia biasa. Bertahun lalu, ada artis lain yang juga membuat kecewa banyak orang, ketika dia “ketahuan ternyata manusia biasa”. Artis yang saya maksud ini seorang wanita berjilbab, dan mengesankan seorang muslimah yang manis. Lalu, suatu hari, dia ketahuan merokok.

Hanya merokok, tapi orang-orang langsung geger.

Belakangan, si artis menjelaskan bahwa fotonya yang beredar—yang memperlihatkan dia memegang rokok—hanya kebetulan, dan bahwa dia bukan perokok. Sebenarnya, saya pribadi tidak peduli dia perokok atau bukan, karena nyatanya saya juga perokok. Selain itu, saya juga sering mendapati wanita yang merokok. Jadi, bagi saya, itu hal biasa, dan tidak penting.

Tetapi, tentu saja, tidak semua orang bisa seterbuka itu menghadapi orang lain. Lebih banyak orang yang ingin orang lain sesuai keinginan mereka, atau—setidaknya—sesuai bayangan mereka. Hal semacam itu lumrah terjadi pada artis, orang terkenal, selebritas, atau figur publik. Kita ingin tokoh idola kita, atau artis kesayangan kita, benar-benar tepat dan sesuai seperti yang kita inginkan atau kita bayangkan, sembari lupa bahwa mereka manusia biasa.

Artis yang tampak manis di film, kita harapkan benar-benar manis di luar film. Artis yang tampak alim di sinetron, kita harapkan benar-benar alim di kehidupan nyata. Padahal, ketika tampil di film atau sinetron, mereka sedang berakting. Namanya akting, tentu tidak harus sesuai kepribadian asli. Sebagaimana artis pemeran psikopat tidak berarti dia benar-benar psikopat.

Tetapi kita sulit menerima kenyataan. Kita ingin artis-artis itu sesuai bayangan kita, sesuai keinginan dan khayalan kita, pendeknya sesuai dengan citra yang ditampilkan si artis di mata kita. Sempurna, tanpa cacat, paripurna.

Gejala semacam itu pula yang lalu memunculkan sosok-sosok persona di sekitar kita, dengan harapan bisa merepresentasikan keinginan dan khayalan banyak orang. Maka muncullah sosok-sosok artis lain, di media lain, dengan gaya lain. Sebagian dari mereka dikenal dengan sebutan selebtwit, selebgram, selebblog, atau seleb-seleb lain. Tujuan mereka sama—berupaya merepresentasikan khayalan banyak orang tentang sosok yang asyik, menarik, gaul, pintar, lucu, kekinian, dan lain-lain, sebagaimana yang diharapkan banyak orang.

Lama-lama, kecenderungan semacam itu juga dilakukan orang-orang lain. Persis seperti idolatry yang menulari orang-orang lain atau pengikut untuk berperilaku sama. Itu gejala umum yang saat ini bahkan menghinggapi banyak orang, khususnya di dunia maya, khususnya lagi di media sosial. Saat ini, media sosial sebenarnya tidak berisi manusia, melainkan hanya berisi barisan persona. Masing-masing orang mengenakan topengnya.

Di Instagram, orang-orang berusaha menampilkan foto-foto terbaik dan terindah, dengan harapan para pemirsa terpukau dan terpesona. Di Twitter, orang-orang berusaha menampilkan tweet-tweet paling unik atau paling bijak, dengan harapan follower melakukan retweet sembari menganggapnya mulia. Di blog, orang-orang berusaha menulis sekeren mungkin, dengan harapan para pembaca menganggapnya pintar dan intelek, lalu memujanya.

Semuanya sama. Persona. Topeng. Yang belum tentu sesuai aslinya.

Jika dipikir, yang kita lakukan dengan segala persona di media sosial sebenarnya tidak jauh beda dengan Dian Sastro atau artis lain. Kita sedang berusaha menampilkan akting terbaik, agar orang-orang terkesan. Dan kita mungkin tidak sempat memikirkan bagaimana pendapat orang jika sewaktu-waktu mendapati diri kita yang asli, yang ternyata tidak sesuai khayalan atau harapan mereka.

Mungkin terdengar pahit, tapi kenyataannya sebagian besar kita—untuk tidak menyebut semua—memang memerankan akting masing-masing, dengan persona dan topeng yang kita pilih. Kita ingin dianggap keren, gaul, indah, pintar, kekinian, dan lain-lain, meski mungkin tidak sesuai kehidupan nyata yang kita jalani. Kita ingin orang-orang terkesan pada kita, meski untuk itu harus melakukan hal-hal yang “mengerikan”. Misal sampai terjerat utang demi bisa tampak keren dan kekinian.

Belum lama, Sarah Sechan mengundurkan diri dari media sosial, karena ingin lebih fokus pada dunia nyata, kehidupannya yang asli. Sarah Sechan hanya contoh. Selain dia, ada banyak selebritas lain—juga orang-orang biasa—yang sama mengundurkan diri dari dunia maya dan media sosial, karena “lelah menjadi orang lain”.

Lelah menjadi orang lain. Itu kalimat yang sangat pahit. Dan berusaha menjadi orang lain memang pekerjaan yang sangat melelahkan. Tetapi, well, itulah persona. Ketika kita berusaha melepaskan diri yang asli, dan berusaha menampilkan sosok lain demi memenuhi harapan orang-orang lain. Kita ingin disukai, ingin membuat orang lain terkesan, atau—setidaknya—kita ingin sama dengan orang lain.

Gaya hidup semacam itu—ingin sama dengan orang lain, dan tak ingin tampak berbeda—tidak hanya terjadi di dunia nyata, tapi di dunia maya.

Di lingkungan tempat tinggal, kita berusaha sama dengan para tetangga, berusaha menjalani kebiasaan dan gaya hidup yang tak berbeda. Kita sangat tertekan jika sudah dewasa, tapi belum juga menemukan pasangan. Kenapa? Bukan karena takut tidak memiliki pasangan, tapi karena takut dianggap berbeda. Begitu pun yang sudah berpasangan, ingin segera punya anak. Kenapa? Bukan semata karena ingin memiliki keturunan, tapi juga karena tidak ingin dianggap berbeda. Ketakutan berbeda dengan orang lain, itulah ketakutan terbesar manusia!

Kita sangat takut berbeda dengan orang lain, karena kenyataannya orang-orang dan masyarakat menginginkan semua orang sama. Dan mereka akan melakukan apa pun, dengan segala cara, demi bisa membuat kita sama seperti mereka. Karena mereka menikah, mereka ingin kita juga menikah. Karena mereka punya anak, mereka ingin kita juga punya anak. Karena mereka masuk lubang biawak, mereka juga ingin kita masuk lubang biawak.

Dalam tekanan yang begitu besar untuk bisa sama dengan orang lain, dengan umumnya masyarakat, siapa yang mampu bertahan? Sangat sedikit. Karena memilih berbeda dengan masyarakat sama artinya bunuh diri. Dan itulah asal usul lahirnya persona, yang malih rupa menjadi kemunafikan sosial. Kita ingin sama dengan orang lain, ingin sesuai harapan bahkan khayalan orang-orang. Karena kita takut dianggap berbeda.

Begitu pula yang terjadi di dunia maya, di media sosial, ketika berinteraksi dengan orang-orang lain. Kita ingin sama dengan mereka, ingin tidak dianggap berbeda, bahkan ingin membuat mereka terkesan. Maka kita pun pura-pura ramah, meski sebenarnya pemarah. Pura-pura bahagia, meski sebenarnya menderita. Pura-pura tertawa, padahal menangis. Pura-pura alim, padahal keparat.

Kehidupan, dan interaksi dengan orang-orang lain, mengharuskan kita untuk menutupi diri kita yang asli, dan menggantinya dengan diri yang umum—sosok yang bisa diterima, disukai, dan tak berbeda. Maka jadilah kita sosok-sosok munafik yang bisa mengatakan, “Aku suka sekali dengan gaunmu,” sambil diam-diam dalam hati mengutuk, “Bangsat, lu!”

Oscar Wilde, penulis, penyair, dan dramawan asal Irlandia, memiliki kalimat yang terkenal, “Jadilah dirimu sendiri, pribadi orang lain sudah ada yang memiliki.”

Kalimat itu tidak hanya terkenal, tapi juga memakan tumbal—diri Oscar Wilde, sang pengucap. Sebagaimana orang lain, Wilde juga ingin sama dengan masyarakat, dengan kebanyakan orang. Maka dia pun menikah dengan seorang wanita, lalu membangun keluarga, demi tidak berbeda dengan masyarakatnya. Tetapi, belakangan, Wilde menyadari, bukan itu sebenarnya yang ia inginkan. Pernikahan yang ia jalani bukan memberi kedamaian, tapi membuat jiwanya merana.

Pada titik nadir itu, Wilde harus memilih; antara mengikuti diri dan hatinya sendiri, atau memilih sama dengan masyarakat. Jika ia memilih sama dengan masyarakat, dia hanya perlu pura-pura bahagia dalam perkawinan, dan hidup akan baik-baik saja—khas keparat-keparat munafik Zaman Victoria. Tetapi, akhirnya, Wilde memilih mengikuti hatinya. Dan ketika itu yang dia pilih, masyarakat mencercanya habis-habisan, karena Wilde dianggap berbeda. 

Ironi dan dilema manusia diawali dari itu, dan berakhir di situ—keinginan untuk sama dengan orang lain, dan ketidakmampuan untuk menjadi diri sendiri. Kita ketakutan menjadi diri sendiri, yang asli, karena takut dianggap berbeda, karena khawatir dianggap tak sama dengan masyarakat. Ketakutan itu pula yang lalu menutupi kesejatian pribadi kita, dan menggantinya dengan topeng demi bisa sama, seragam, tak berbeda. Kita lebih suka menangis diam-diam demi bisa sama dengan kebanyakan orang, daripada benar-benar bahagia karena berbeda.

Jadi, tak peduli di Era Victoria atau era kekinian, kita tetap hidup di zaman ketika perbedaan dianggap kesalahan, dan keberagaman dianggap ancaman. Sedikit saja kau menunjukkan perbedaan, orang-orang akan langsung menyadari. Sedikit saja kau berbeda dengan kebanyakan orang, mereka akan langsung menghakimi.

Tentu saja masyarakat kekinian adalah masyarakat beradab, bukan masyarakat barbar. Jadi, meski mereka menggunakan hukum tirani demi membuat orang-orang selalu sama dan seragam, mereka juga tidak malu untuk sesekali mengutip kalimat terkenal Oscar Wilde, “Jadilah dirimu sendiri!”

Oh, well, jadilah dirimu sendiri, kata mereka. Dan ketika kau mulai menjadi diri sendiri, mereka tak terima, dan membencimu. Jadi, ambillah topengmu, pasang senyum palsumu, serta tunjukkan pribadi pura-puramu. Karena hanya dengan cara itu, kau bisa tetap hidup damai di tengah orang-orang palsu.

Kalau dipikir-pikir, semua ini benar-benar asshole... dan asu!

Saya Ini

Oooootok otok otok otok otooooook....

Dajjal Akhir Zaman

Tidak semua orang pintar pasti baik. Ada orang-orang pintar yang justru berusaha membuat orang-orang bodoh semakin bodoh... dan bodoh.
—Twitter, 22 Januari 2017

Tidak ada yang lebih memuakkan (dan menjijikkan) di dunia, selain orang yang selalu merasa paling benar, lalu berbuat sewenang-wenang.
—Twitter, 22 Januari 2017

Dajjal akhir zaman, katanya, menyuguhkan surga yang tampak seperti neraka, dan neraka yang tampak seperti surga. Dan orang-orang tersesat.
—Twitter, 25 Januari 2017

Ada yang penampilannya sok alim dan sok suci, belakangan ketahuan korupsi dan bejat. Tapi orang-orang masih senang ditipu... dan ditipu.
—Twitter, 26 Januari 2017

Cara mudah menipu orang Indonesia: Bersikaplah sok alim dan sok suci. Sebut-sebutlah agama dan semacamnya. Lalu jadilah bangsat diam-diam.
—Twitter, 26 Januari 2017


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Rabu, 19 April 2017

Nenek-Nenek di Korea

Orang tua menuntut anak-anaknya “berbakti”
seolah si anak yang minta dilahirkan.
Padahal anak-anak lahir karena kehendak orang tua.
@noffret


Di tengah hiruk-pikuk dan gemerlap Seoul, Korea Selatan, ada fakta miris yang tersembunyi, dan menyedihkan. Yaitu keberadaan nenek-nenek (wanita berusia lanjut, antara 60-70-an) yang menjadi pekerja seks komersial. Para wanita lanjut usia itu menutupi praktik prostitusi yang mereka jalani dengan menjual bacchus (minuman dalam botol kecil, yang biasa ditujukan untuk meningkatkan energi kaum pria—mirip jamu di Indonesia).

Memang tidak semua wanita penjual bacchus juga berprofesi sebagai pekerja seks. Tetapi banyak dari mereka yang memang nyambi sebagai pekerja seks, dan bisa dibilang sudah rahasia umum sebagian masyarakat di sana. Dan siapa konsumennya? Siapa pun. Dari laki-laki iseng sampai kakek-kakek.

Praktik perdagangan seks terselubung itu berada di Jongmyo Park, sebuah taman yang merupakan jantung Kota Seoul, Korea Selatan. Di tempat itu, banyak lelaki setengah baya hingga usia lanjut, yang menikmati waktu dengan bermain catur dan bergosip dengan teman-teman sebaya. Di tempat itu pula, nenek-nenek penjual bacchus berada, dan—sebagian dari mereka—menyediakan layanan seks.

Wanita-wanita yang berjualan bacchus memang dapat ditemukan di banyak tempat di Korea Selatan, khususnya di Seoul. Misal di dekat stasiun bawah tanah, atau di tempat-tempat keramaian lain. Mereka yang berjualan di tempat-tempat selain di Jongmyo Park memang umumnya murni berjualan bacchus. Tetapi mereka yang berjualan bacchus di Jongmyo Park, sebagian besar—untuk tidak menyebut semuanya—nyambi sebagai pekerja seks. Karena di taman itulah banyak laki-laki iseng menikmati waktu senggang.

Kita mungkin bertanya-tanya, kenapa nenek-nenek atau wanita-wanita lanjut usia di sana sampai melakukan hal semacam itu—menjadi pekerja seks? Apa motivasinya?

Jawabannya simpel; bertahan hidup!

Wanita-wanita lanjut usia itu—nenek-nenek yang menjadi pekerja seks di sana—butuh makan untuk bertahan hidup. Karena penghasilan dari jualan bacchus tidak cukup untuk makan, atau bahkan kurang laku akibat ketatnya persaingan, mereka pun terpaksa menjadi pekerja seks, demi mendapat uang, demi bisa makan.

Apakah nenek-nenek itu tidak punya keluarga? Apakah wanita-wanita lanjut usia itu tidak punya anak yang merawat mereka?

Pertanyaan menarik. Jadi, mari kita uraikan nasib mereka, agar menemukan jawaban atas pertanyaan itu.

Nenek-nenek di Korea, wanita-wanita lanjut usia di sana, juga punya keluarga, punya anak-anak. Dulu, mereka menikah dan memiliki suami, lalu punya anak-anak. Seperti kebanyakan orang lain, mereka pun memiliki anak karena berharap kelak anak-anak akan merawat mereka ketika berusia lanjut. Itu “keyakinan” yang telah diwarisi bertahun-tahun, kan?

Kita merawat orang tua ketika mereka berusia lanjut, karena kita—juga orang tua kita—berpikir bahwa memang seperti itulah yang seharusnya terjadi. Anak harus merawat orang tua yang telah lanjut usia, sebagaimana dulu orang tua merawat kita saat masih bayi dan tak berdaya. Jadi, sebagai bakti pada orang tua, kita merawat mereka.

Ketika kita menikah, dan memiliki anak-anak, kita pun berharap anak-anak kelak juga akan merawat kita, saat lanjut usia dan tak berdaya. Sekali lagi, itu kepercayaan—atau kebudayaan—yang telah diwariskan turun temurun, kan? Kita berharap anak-anak merawat kita ketika menua, sebagaimana kita juga merawat orang tua ketika mereka lanjut usia.

Begitu pula nenek-nenek di Seoul, Korea—wanita-wanita penjual bacchus yang nyambi jadi pekerja seks—sebagaimana yang saya ceritakan. Mereka, sebagaimana kebanyakan orang, juga berpikir seperti itu. Dulu, mungkin mereka merawat orang tua yang telah lanjut usia, sebagai bakti anak terhadap orang tua. Lalu, ketika menikah, mereka pun punya anak-anak, dengan harapan anak-anak akan merawat mereka ketika lanjut usia.

Tapi ada satu masalah di sini, yang mungkin tidak sempat terpikir oleh kebanyakan orang. Yaitu zaman yang telah jauh berubah!

Di masa lalu, keberadaan anak dengan orang tua bisa dibilang masih dekat. Artinya, ketika seorang anak menikah dan membangun keluarga sendiri, kemungkinan besar mereka masih berdekatan dengan orang tua. Bisa tinggal serumah, atau setidaknya satu kampung, atau satu kota. Karena di masa lalu belum ada globalisasi. Orang di Kota A bisa mudah mendapat kerja di Kota A, sehingga tetap bisa tinggal bersama orang tua di Kota A.

Ketika orang tua mulai lanjut usia, anak-anak pun bisa mudah menemui dan merawat, atau bahkan tinggal bersama, karena kondisi di masa lalu memang memungkinkan untuk itu.

Kemudian, di masa lalu, kondisi kehidupan belum sekeras sekarang, dan persaingan belum seketat sekarang. Kalau kita hidup sekian puluh tahun lalu, dan bekerja di sebuah pabrik, lalu suatu hari tiba-tiba minta izin untuk tidak masuk kerja, atasan kita tidak akan meributkan, karena menganggap hal semacam itu wajar dan biasa, serta manusiawi. Tetapi, kini, hal semacam itu sudah tidak semudah dulu.

Di masa sekarang, anak-anak umumnya tinggal di kota berbeda, sehingga berjauhan dengan orang tua. Di Indonesia, misal, orang tua bisa tinggal di Yogya, sementara anak bekerja di Medan. Itu jarak yang sangat jauh. Ketika orang tua membutuhkan kehadiran anak sewaktu-waktu, mungkinkah si anak bisa langsung datang menemui? Mungkin saja, tapi tetap membutuhkan waktu cukup lama, karena jarak yang sangat jauh. Belum lagi jika urusan di tempat kerja si anak cukup rumit, sehingga tidak bisa sewaktu-waktu minta izin cuti.

Kenyataan semacam itulah yang terjadi pada nenek-nenek di Korea. Dulu, ketika mereka menikah dan punya anak-anak, mereka berpikir kelak anak-anak itu akan merawat mereka ketika mulai menua dan tak berdaya, sebagaimana mereka dulu merawat orang tua. Tetapi, seperti yang disebut tadi, zaman sudah berubah. Ketika suami mereka meninggal, nenek-nenek itu mendapati diri mereka sebatangkara, karena anak-anak tinggal di tempat sangat jauh, juga telah memiliki keluarga sendiri.

Di masa kini, ketika globalisasi terjadi di hampir semua sudut bumi, keluarga-keluarga terpencar di berbagai tempat yang kadang berjauhan. Orang tua tinggal di Kota A, anak pertama di Kota B, anak kedua di Kota C, dan seterusnya.

Selain itu, masing-masing anak juga telah menikah dan memiliki keluarga sendiri, dengan anak-anak, dengan berbagai kesibukan dan problematika yang mereka hadapi. Dengan jarak yang berjauhan, serta berbagai masalah rumah tangga yang mereka hadapi, munginkah anak-anak masih dapat mengurus dan merawat orang tua secara paripurna, sebagaimana di zaman dulu?

Kenyataan semacam itu jarang dipikirkan banyak orang di zaman sekarang. Akibatnya, mereka hidup di zaman sekarang, tapi menggunakan pola pikir zaman dulu. Padahal, perubahan zaman selalu menuntut perubahan cara berpikir. Karena pola pikir yang sekian tahun lalu mungkin benar atau bahkan hebat, bisa jadi saat ini sudah ketinggalan zaman dan tidak lagi relevan. Contoh mudahnya seperti yang dialami nenek-nenek di Korea.

Di masa lalu, ketika nenek-nenek itu masih muda, mereka mungkin bisa memberi perhatian atau bahkan merawat orang tua yang mulai menua, meski mereka sendiri juga telah berkeluarga. Di masa lalu, tempat tinggal mereka dengan orang tua mungkin berdekatan, atau tidak terlalu jauh. Selain itu, kehidupan mereka di masa lalu juga relatif lebih sederhana, dengan tantangan lebih sederhana, sehingga mereka bisa meluangkan waktu lebih mudah.

Tetapi, kemudian, ketika mereka memiliki anak-anak sendiri—dan anak-anak itu telah tumbuh dewasa serta berkeluarga—zaman telah jauh berubah. Tempat tinggal berjauhan, kehidupan semakin rumit, tantangan hidup semakin berat, hingga anak-anak itu pun mungkin lupa untuk merawat orang tua, karena sudah sangat sibuk mengurus rumah tangga sendiri.

Karenanya, memiliki anak-anak dengan harapan mereka akan merawat orang tua ketika telah menua dan tak berdaya, mungkin relevan diterapkan pada sekian dekade yang lalu. Tetapi pola pikir semacam itu mungkin tidak lagi relevan jika diterapkan untuk masa sekarang. Karena zaman sudah berubah, dunia sudah berubah, dan tantangan yang dihadapi juga telah jauh berubah. Kenyataan itu, sayangnya, tidak sempat terpikir oleh wanita-wanita di Korea, yang kini telah menjadi nenek-nenek.

Tentu saja—atau mungkin—mereka orang-orang baik yang menjalani hidup dengan baik, menikah, berkeluarga, dan memiliki anak-anak. Karena dulu mereka merawat orang tua ketika menua, mereka pun berharap anak-anak mereka juga melakukan hal yang sama. Sayangnya, sekali lagi, zaman sudah berubah. Anak-anak mereka kini terpencar berjauhan, dengan keluarga masing-masing, dengan kesibukan dan masalah sendiri-sendiri, sehingga tidak sempat mendatangi apalagi mengurus orang tua.

Sementara nenek-nenek itu tetap membutuhkan biaya untuk hidup. Jadi, dengan segala lemah dan renta yang menggerogoti tubuh, mereka pun mencoba jualan bacchus untuk bertahan hidup. Sayang, jualan bacchus tidak mampu menutupi kebutuhan sehari-hari. Rata-rata, penghasilan penjual bacchus di Korea hanya sekitar 5.000 won (Rp70 ribu) per hari, sementara biaya makan sehari-hari jauh di atas itu. Apa lagi pilihan yang tersisa?

Mereka yang ada di Jongmyo Park, itulah jawabannya.

Karenanya, kelak, jika saya menikah dan bermaksud memiliki anak, saya akan berpikir terlebih dulu. Apa tujuan dan motivasi saya memiliki anak? Jika tujuan saya karena berharap anak-anak kelak akan merawat saya ketika tua dan tak berdaya, sepertinya saya perlu mengingat nenek-nenek di Korea.

Noffret’s Note: Pilkada

Sumpah, aku butuh waktu sampai 3 menit untuk memahami dan membaca ulang kalimat dalam foto di bawah ini, dan tetap juga tidak paham.
 
Noffret’s Note: Pilkada 

“Beda pilihan bukan jadi alasan tidak membuat kita saling bermusuhan.” Jika dipikirkan, kalimat itu justru ngajak bermusuhan. Iki piye?

“Beda pilihan bukan jadi alasan tidak membuat kita saling bermusuhan.” Mungkin lebih tepat, “Beda pilihan bukan alasan bermusuhan.”

Mungkin Pilkada akan lebih damai, kalau masing-masing calon berkampanye, “Sebaiknya jangan memilih saya. Pilih yang lain saja.”

Percakapan Bocah di Pilkada:
“Ahok sama Anies, kira-kira siapa yang menang?”
“Yang menang pasti mbakyuku! Ora ono sing ngalahke mbakyuku!”

Semoga setelah urusan Pilkada selesai, timeline kembali damai seperti semula. Bosan lihat orang di Twitter beranteeeeem terus.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17-19 April 2017.

Ingin Menjadi Orang Kuno

Kemudian, suatu hari, aku tahu yang paling kuinginkan. Aku ingin menjadi orang kuno.

Oh, oh.

Aku ingin menjadi orang kuno!

Sabtu, 15 April 2017

Beberapa Orang Mempertanyakan Kewarasan Saya

Jika aku tertarik kepada seseorang,
dan dia memberiku jaminan bahwa kami bisa bertemu
tanpa ada tendensi ikatan, aku akan menemuinya.
@noffret


Rupanya ada orang-orang yang penasaran, mengapa saya begitu kukuh menolak ajakan ketemuan, khususnya dari cewek-cewek yang mengenal saya di dunia maya. Berikut ini salah satu e-mail yang mempertanyakan hal tersebut. (E-mail berikut ditulis dalam bahasa Inggris, namun saya terjemahkan ke bahasa Indonesia, dan saya kutip pada poin terpenting):

“Kalau saya menempati posisimu, mendapat ajakan ketemuan dengan cewek-cewek, saya pasti tidak akan berpikir dua kali untuk menemui mereka. Saya pikir, itu pula yang ada di benak kebanyakan lelaki lain. Jadi, saya penasaran, dan ingin tahu, kenapa kamu bisa menolak permintaan mereka. Kamu waras?”

Oh, well, tentu saja saya waras. Karena waras pula, saya bisa berpikir secara waras, sehingga menolak ajakan mereka!

Meski pertanyaan di atas mungkin simpel, namun jawabannya cukup panjang. Untuk menjawab pertanyaan itu—hingga kalian bisa memahami sikap yang saya ambil—saya harus menguraikan banyak hal, menyangkut motivasi saya menulis di blog, sampai prinsip hidup yang saya anut.

Mari kita mulai dari awal.

Orang-orang di dunia maya mengenal saya, kemungkinan besar dari tulisan-tulisan di blog. Seperti yang sering saya nyatakan, saya menulis di blog untuk menuangkan kegelisahan pikiran, untuk memuntahkan banyak hal yang mengganjal dalam benak, ke dalam tulisan. Jadi, motivasi besar saya ngeblog hanya untuk menulis. Bukan agar terkenal, apalagi berharap dapat pacar.

Terkait aktivitas menulis di blog, sebenarnya saya tidak peduli ada yang membaca atau tidak. Fakta bahwa ada orang-orang yang membaca blog ini, saya hanya berharap semoga yang mereka baca di sini dapat memberi kebaikan. Saya tidak mengharapkan lebih dari itu. Karenanya, pernah saya katakan di sini, silakan baca tulisan-tulisan saya, tapi jangan mengganggu saya!

Kalau kemudian ada orang-orang—khususnya perempuan—yang tertarik kepada saya, hingga mengajak ketemuan, bahkan terang-terangan ingin menjadi pacar, sejujurnya itu di luar yang saya harapkan.

Sekarang kita masuk pada persoalan inti. Mengapa saya—sebagai lelaki—sama sekali tidak tertarik pada tawaran atau ajakan ketemuan para perempuan yang tertarik kepada saya?

Tentu ada banyak lelaki di luar sana, yang sangat ingin menempati posisi saya—cuma nulis-nulis di blog, tidak perlu caper atau pamer apa pun, lalu cewek-cewek ngajak ketemuan, bahkan ngajak jadian. Jujur saja, kalian yang lelaki pasti ingin! Dan tidak menutup kemungkinan, kalian—para lelaki—akan bersuka cita menerima tawaran semacam itu, dan—bisa jadi—ada banyak perempuan yang kalian temui dengan asoy.

Tapi mengapa saya justru tidak tertarik menemui perempuan-perempuan yang ngajak ketemuan? Ada beberapa jawaban.

Pertama, saya sangat... sangat sibuk!

Pekerjaan saya bertumpuk-tumpuk, dan terus berkejaran dengan waktu. Sekadar ilustrasi, teman-teman saya di dunia nyata harus membuat janji terlebih dulu jika ingin ketemu saya! Tanpa janji jelas, saya kesulitan menemui! Jika ingin membuktikan yang saya katakan ini, kalian bisa menanyakan langsung pada Faris. Dalam hal ini, Faris bahkan bisa menjadi contoh.

Faris adalah bocah yang sekarang kuliah di kampus tempat saya kuliah dulu. Di kampus, dia sering mendengar nama saya disebut-sebut, dan dia penasaran. Bagaimana pun, saya sudah keluar dari kampus bertahun-tahun lalu, tapi rupanya nama saya di sana masih terus “diwariskan dari generasi ke generasi”, hingga generasi Faris saat ini. Jadi, Faris penasaran dan ingin melihat saya langsung. Tapi dia tidak berani.

Sampai suatu waktu, saya menghadiri acara pernikahan Wawan (dia juga mahasiswa di kampus yang sama). Sebagaimana saya, Faris mengenal Wawan. Jadi, saat saya menghadiri acara pernikahan Wawan, saya ketemu Faris di sana. Lalu kami mengobrol. Singkat cerita, Faris ingin datang ke rumah saya, agar bisa mengobrol lebih lama. Saya tidak keberatan. Tapi dia harus membuat janji terlebih dulu. Saya tidak bisa didatangi sewaktu-waktu.

Setelah menunggu berhari-hari hingga saya punya waktu luang, akhirnya kami bisa menyepakati suatu waktu. Lalu Faris datang ke rumah saya, bersama beberapa teman lain. Kami pun mengobrol asyik sampai larut malam.

Itu sekadar ilustrasi menyangkut sedikitnya waktu yang saya miliki, sekaligus banyaknya pekerjaan yang harus saya urusi, hingga untuk bertemu dan mengobrol saja harus menetapkan janji terlebih dulu. Dan hal semacam itu tidak hanya dialami Faris. Orang-orang yang mengenal saya di dunia nyata juga tidak bisa sembarang waktu menemui saya. Mereka harus membuat janji lebih dulu. Tanpa janji, saya kesulitan menemui.

Sekarang bayangkan. Jika dengan orang-orang yang sudah jelas saya kenal di dunia nyata pun saya masih kesulitan meluangkan waktu, apalagi untuk orang-orang tidak jelas yang tidak saya kenal?

Itulah kenapa, saya tidak berminat memenuhi ajakan orang-orang di dunia maya untuk ketemuan. Karena memang tidak punya waktu. Daripada membuang-buang waktu untuk pertemuan tidak jelas dengan orang tidak jelas, saya lebih suka menggunakan waktu untuk mengurusi hal-hal yang jelas. Salah satunya adalah pekerjaan yang menumpuk. Yang saya sebut “pekerjaan” sebenarnya “hal-hal yang terkait visi saya”. Ada banyak sekali yang harus saya kerjakan, dan saya sudah kekurangan waktu!

Itu alasan pertama, kenapa saya tidak tertarik menerima ajakan pertemuan dari orang-orang—khususnya perempuan—di dunia maya. Yaitu ketiadaan waktu. Alasan kedua... well, mengapa saya harus tertarik?

Sekarang tempatkan posisimu di tempat saya. Kau menjalani kehidupan yang penuh kesibukan, hingga tidak memiliki waktu luang. Kau bekerja dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, tanpa hari libur, tanpa cuti, apalagi liburan panjang. Lalu ada orang tidak jelas mengajakmu ketemuan, dengan alasan tertarik kepadamu. Kira-kira, apa yang ada dalam pikiranmu?

Ketika mendapat ajakan pertemuan semacam itu, inilah yang ada dalam pikiran saya, “Kau tertarik kepadaku, hingga ingin bertemu denganku. Yang masih jadi masalah, kenapa kau berpikir aku tertarik menemuimu?”

Sekali lagi, saya bukan pengangguran yang punya banyak waktu untuk dibuang-buang, apalagi disia-siakan. Kalau kau ingin saya menemuimu, pikirkan terlebih dulu; kenapa saya tertarik menemuimu?

Itu alasan kedua. Sementara alasan ketiga, terkait prinsip hidup.

Dalam hidup, khususnya saat ini, saya berprinsip, “Jalanilah hidup dengan damai, dan—sebisa mungkin—jangan mencari masalah!”

Terkait ajakan pertemuan yang ditawarkan orang-orang—khususnya perempuan—di dunia maya, yang ada dalam pikiran saya adalah “masalah”. Ketika mereka mengajak ketemuan, yang saya bayangkan adalah mereka menawarkan masalah. Padahal saya tidak ingin mencari masalah.

Mungkin saya terlalu besar kepala, tetapi—berdasarkan observasi—perempuan-perempuan yang mengajak ketemuan dengan saya, karena berharap jadian. Mula-mula, mereka menawarkan pertemuan. Dari pertemuan, mereka berharap bisa melanjutkan hubungan pacaran. Itu yang tidak saya inginkan! Karena pacaran, setidaknya dalam bayangan saya saat ini, adalah masalah! Dan saya tidak ingin mencari masalah!

Ingat penjelasan di atas. Saya tidak punya waktu, karena waktu saya sudah habis untuk pekerjaan terkait visi saya. Itu pula kenapa saya menjauhi aktivitas pacaran, sebagaimana saya menjauhi malaria! Karena pacaran—menjalin hubungan dengan perempuan—akan menyita waktu, dan saya tidak punya waktu! Itulah kenapa, saya tidak tertarik menuruti ajakan ketemuan, karena menghindari masalah!

Sampai di sini, sudah paham mengapa saya tidak pernah tergoda pada ajakan perempuan mana pun? Bukan karena saya tidak waras. Sebaliknya, karena saya waras! Sebegitu waras, hingga saya sangat waspada, berhati-hati, dan berpikir panjang.

Jika kalian bertanya, apakah saya tidak ingin ketemu perempuan-perempuan itu? Sejujurnya, saya ingin. Oh, well, ada banyak perempuan menarik di luar sana yang terang-terangan ingin bertemu saya. Siapa yang tidak ingin? Tentu bohong kalau saya bilang tidak ingin!

Tetapi, meski begitu, saya mengembalikan kesadaran dan kewarasan, serta mengingat prinsip tadi, “Jalanilah hidup dengan damai, dan—sebisa mungkin—jangan membuat masalah!” Menemui perempuan-perempuan itu bisa mendatangkan masalah, jadi saya pun menahan keinginan, dan tetap tak tergoda ajakan mereka.

Mungkin, saya akan tertarik menemui perempuan yang saya kenal di dunia maya, jika—dan hanya jika—saya tertarik kepadanya, serta tertarik menemuinya, dan dia memberi janji bahwa kami bertemu tanpa tendensi ikatan apa pun. Kami hanya bertemu, menikmati waktu bersama, tanpa berharap jadian, pacaran, atau menjalin ikatan apa pun!

Karena saya memang belum ingin terikat pada hubungan semacam itu, sebab tidak punya waktu. Kalau saya menjalin hubungan—katakanlah pacaran—dengan seorang perempuan, kami hanya akan saling melukai. Saya bukan kekasih yang baik, karena tidak akan punya waktu untuknya.

Bahkan, saya telah bersumpah pada diri sendiri, saya tidak akan menjalin hubungan dengan perempuan mana pun, selama yang saya kerjakan belum selesai! Dengan kata lain, menjalin hubungan dengan perempuan hanya akan mengganggu hidup saya... dan saya benci diganggu!

Bahkan umpama sekarang jatuh cinta setengah mati pada seorang perempuan, saya akan tetap menahan diri. Saya akan tetap memfokuskan pikiran pada pekerjaan, meski untuk itu harus menahan rindu diam-diam.

Noffret’s Note: Sejarah

Dunia sedang bergerak menuju satu hal. Rencana bertahun-tahun dalam kegelapan sedang menuju puncak eksekusi dalam terang.

Saat mendengar kemungkinan buruk, orang-orang tak mau percaya. Bukan karena tak percaya, tapi karena tidak ingin hal itu benar-benar nyata.

Yang tempo hari menyebutku paranoid karena mengkhawatirkan Perang Dunia III, mana suaranya? Sekarang dunia sedang menuju ke sana.

Kehancuran bumi adalah hal mutlak, niscaya, pasti terjadi. Dan satu-satunya cara untuk menunda kenyataan itu hanya... menurunkan populasi.

Perang besar mudah diciptakan. Cukup buat dalih dan insiden, lalu seret semua pihak masuk ke dalamnya. Lihat lagi Perang Dunia I dan II.

ISIS cuma dalih, dan sekarang perang di Suriah cuma insiden. Tujuan besarnya tetap sama... menyeret semua negara ke dalam api neraka.

Berdasarkan sejarah, manusia tak pernah belajar dari sejarah.


*) Ditranskrip dari timeline‏ @noffret, 8 April 2017.

Ingin Bertemu Denganmu

“Aku ingin sekali bertemu denganmu.”

“Kau ingin bertemu denganku—tentu saja itu hakmu. Yang masih jadi masalah, kenapa aku ingin bertemu denganmu?”

Senin, 10 April 2017

Untuk Cewek Paling Tidak Tahu Malu di Dunia Maya

Ironi di dunia maya: 
Cewek yang paling malu dan tidak pede nunjukin muka, 
seringkali justru yang paling kepedean dan paling tidak tahu malu.
@noffret


Dulu, zaman SMA, saya pernah membaca cerpen di suatu majalah, yang hingga hari ini tidak bisa saya lupakan. Saya tidak ingat pasti, majalah apa yang saya baca waktu itu—entah Aneka Yess!, Anita, Ceria, Mode, atau entah apa. Tapi saya masih ingat betul isi cerpen yang saya baca waktu itu, yaitu tentang cowok yang jatuh cinta pada cewek teman sekelasnya.

Ceritanya, si cowok mengirim surat cinta pada cewek yang ia cintai. Namanya surat cinta, isinya gombal-gombalan. Si cowok—yang sedang jatuh cinta—mungkin mengira surat yang ia tulis sangat hebat atau sangat romantis atau sangat indah, penyakit khas orang yang sedang jatuh cinta. Tapi bagi orang lain yang tidak sedang jatuh cinta, isi surat itu sangat norak.

Nah, rupanya, si cewek yang mendapat surat cinta itu tidak menyukai si cowok. Dia juga menganggap surat cinta si cowok benar-benar norak. Ketika si cowok mengirim surat cinta untuk kesekian kali, si cewek mempermalukan cowok itu, dengan membacakan isi surat cinta tersebut di kelas. Si cowok pun merasa malu dan terpukul atas hal itu.

Sampai pada bagian tersebut, saya berpikir, “Kenapa si cewek harus mempermalukan si cowok seperti itu? Kalau memang dia tidak menyukai si cowok, kenapa tidak dijawab saja dengan sopan dan baik-baik?”

Pertanyaan dalam benak saya terjawab pada bagian akhir cerpen. Rupanya, si cowok sudah lama jatuh cinta pada si cewek. Sejak lama pula, si cowok terus menerus mengirim surat cinta, atau melakukan hal-hal yang sangat mengganggu si cewek. Si cewek telah menjawab bahwa dia tidak menerima cinta si cowok, dan dia menjawabnya dengan baik. Tapi rupanya si cowok sangat ndableg. Meski sudah jelas ditolak, dia terus saja mengganggu.

Hal itulah, yang kemudian membuat si cewek jengkel. Ia pun berpikir, langkah terakhir yang dapat ia lakukan untuk menghentikan ulah si cowok—yang sangat mengganggu—adalah dengan cara mempermalukannya. Maka dia pun sengaja membacakan isi surat cinta yang isinya gombal-gombalan itu di kelas, agar teman-teman mereka tahu.

Cerpen itu—sebagaimana umumnya cerita bagus—meninggalkan kesan yang sulit dilupakan pembaca, setidaknya saya tidak pernah melupakannya. Cerpen itu membuat pembaca berpikir, “Siapakah yang salah dalam kisah itu?”

Mungkin si cewek salah, karena dia mempermalukan si cowok. Tapi jangan lupa, si cowok yang memicu hal itu, karena dia terus menerus mengganggu dan mengusik kehidupan si cewek. Cinta mungkin tak pernah salah. Tapi cara orang memperlakukan perasaan cintanya kadang-kadang sangat salah.

Di Twitter, saya pernah menulis tweet, berbunyi, “Ironi di dunia maya: Cewek yang paling malu dan tidak pede nunjukin muka, seringkali justru yang paling kepedean dan paling tidak tahu malu.” Tweet itu diikuti tweet berikutnya, berbunyi, “Doa di dunia maya: Jauhkanlah aku dari cewek-cewek yang malu dan tidak pede menunjukkan muka, tapi kepedean dan tak tahu malu dalam sikap.

Dua tweet itu sebenarnya saya tujukan untuk seseorang di dunia maya. Tapi karena saya menulisnya di Twitter, akibatnya banyak orang (cewek) yang mungkin ikut “merasa”. Sejujurnya, saya merasa bersalah atas hal itu. Karenanya, sekarang, saya ingin mengklarifikasi tweet itu untuk menjernihkan.

Ada cewek di dunia maya yang benar-benar sangat mengganggu, karena terus menerus mengusik kehidupan saya. Dia tipe cewek yang “tidak tahu malu” dalam arti sesungguhnya. Dia malu menunjukkan mukanya, tapi sikapnya benar-benar tidak tahu malu sekaligus memalukan.

Dulu, dia mengirim e-mail ke saya. Karena isinya baik, saya menjawabnya dengan baik. Lalu dia kirim e-mail lagi, lagi, dan lagi, dan isinya makin “tidak karuan”—berisi rayuan-rayuan tolol. Tidak pernah saya urusi. Tapi rupanya dia memang tidak tahu malu. Meski sudah dicueki berkali-kali, dia terus mengirim e-mail. Isinya sama, gombal-gombalan dan pernyataan cinta serta rayuan yang tak tahu malu.

Sampai di sini, kita mungkin sudah bisa mengatakan kalau cewek ini keterlaluan. Tapi ulahnya tidak berhenti di situ.

Setelah alamat e-mail-nya saya blokir, dia masuk ke Facebook. Di Facebook, dia mengirim pesan pribadi ke akun saya. Isinya juga sama, gombal-gombalan tolol. Saya pun langsung memblokir akun Facebook cewek itu. Lalu dia pindah ke blog saya, Belajar Sampai Mati.

Di blog Belajar Sampai Mati, dia mengirim aneka macam rayuan di kolom komentar. Sejak itu, saya pun memoderasi kolom komentar di blog tersebut, agar komentar-komentar berisi gombal-gombalan cewek itu tidak muncul di blog. Dan dia terus nyampah di kolom komentar blog itu tanpa henti, tanpa malu, tanpa tahu diri.

Karenanya, seperti yang dibilang tadi, dia benar-benar “cewek tidak tahu malu” dalam arti sesungguhnya. Diblokir di e-mail, dia masuk ke Facebook. Diblokir di Facebook, dia masuk ke blog. Satu-satunya tempat dia tidak berani macam-macam, hanya di Twitter. Karena dia paham, kalau dia mencoba mengganggu saya secara langsung di Twitter, orang-orang akan tahu.

Cewek ini punya akun di Google+, di Facebook, juga di Twitter. Tapi di mana pun, dia malu menunjukkan mukanya. Di Google+ dia menggunakan foto kartun. Di Twitter, dia menutupi mukanya dengan helm. Di Facebook, lagi-lagi tidak berani menunjukkan muka. Konyol? Sangat!

Tentu saja setiap orang berhak menggunakan foto/avatar apa pun di akun media sosial. Asal kau tidak mengganggu orang lain, semua sah-sah saja. Tapi kalau kau mencoba mengganggu orang lain dengan rayuan-rayuan tolol, dan mengusik ketenteraman orang lain dengan perasaan cintamu yang tolol, tunjukkan dulu mukamu. Menunjukkan muka sendiri malu, tapi kelakuan tidak tahu malu.

Cewek tidak tahu malu inilah, yang kemudian membuat saya menulis tweet tadi.

Sekarang, saya ingin blak-blakan. Cewek yang tidak tahu malu itu bernama Siti Nurhayati alas Siti Enha, dan memiliki akun di Twitter dengan username @siti_enha.

Lebih jelas, berikut ini akun-akun media sosial miliknya:

Facebook: https://web.facebook.com/siti.enha
Twitter: https://twitter.com/siti_enha

Di Twitter, sebagai antisipasi, saya telah memblokir akun cewek itu. Tapi dasar “sakit”, dia membuat akun kloningan, yang khusus digunakan untuk mem-follow akun Twitter saya. Jadi, meski akun miliknya (yang asli) telah saya blokir, dia tetap bisa memantau aktivitas saya di Twitter.

Ini penampakan akun Twitter si cewek tidak tahu malu itu. Sengaja saya capture, sebagai jaga-jaga kalau dia menghapus/menonaktifkan akun miliknya.

cewek paling tidak tahu malu di dunia maya

Klik untuk memperbesar

Nah, beberapa waktu lalu, saya menulis rangkaian tweet di Twitter, mengenai kerinduan pada dosen saya di kampus dulu, yang biasa disapa Bu Hasti. Rangkaian tweet itu telah saya transkrip di blog ini, dan kalian bisa membacanya di sini.

Ketika menulis rangkaian tweet mengenai dosen saya tersebut, saya hanya ingin menulisnya. Hubungan saya dengan Bu Hasti baik-baik saja, dan—kalau mau—saya bisa menghubunginya kapan pun, dengan berbagai media. Saya bahkan punya nomor ponselnya. Artinya, saya menulis rangkaian tweet itu bukan karena malu atau sedih atau tidak berani menghubungi Bu Hasti. Saya menulis rangkaian tweet itu, semata-mata karena ingin menulisnya!

Nah, Siti Nurhayati alias Siti Enha alias cewek tidak tahu malu di atas, melakukan perbuatan yang sangat sok tahu, yang benar-benar membuat saya malu. Dia mengirim pesan ke Bu Hasti di Facebook, dan berikut ini isinya.

cewek paling tidak tahu malu di dunia maya

Klik untuk memperbesar

Padahal dia tidak kenal saya, juga tidak kenal Bu Hasti. Tapi dia dengan sok tahu campur tak tahu malu menghubungi Bu Hasti, dan melakukan perbuatan yang membuat saya sangat malu.

Saya benar-benar tidak habis pikir dengan cewek ini. Saya sudah memintanya baik-baik, agar tidak terus mengganggu saya, tapi dia terus mengganggu. Dulu, saat dia menyatakan cinta kepada saya, sudah dengan jelas saya menolaknya. Tapi dia benar-benar tidak tahu malu, dan terus mengganggu saya di berbagai tempat.

Seperti yang dibilang tadi—diblokir di e-mail, dia merayu saya di kolom komentar blog Belajar Sampai Mati. Ketika kolom komentar di sana dimoderasi, dia masuk ke Facebook, dan mengganggu saya di Facebook. Di Twitter, dia membuat akun kloningan demi bisa stalking saya. Sekarang, dengan tidak tahu malu, dia mencampuri urusan pribadi saya, hingga saya malu dan tidak enak hati pada dosen saya sendiri. Ya Tuhan, saya ini salah apa?

Sudah berkali-kali saya menulis di blog maupun di Twitter, bahwa saya tidak berharap pacar, bahkan tidak berminat pacaran! Karena hal itu pula, saya tidak pernah mengusik cewek mana pun, bahkan saya sangat berhati-hati setiap kali akan berinteraksi dengan lawan jenis di dunia maya, karena tidak ingin menimbulkan masalah apa pun.

Tapi di dunia ini rupanya ada cewek-cewek yang “sakit” dan mengerikan, sekaligus tidak tahu malu. Jujur saja, inbox e-mail saya menjadi saksi banyaknya cewek yang pernah menyatakan cinta, bahkan terang-terangan ingin menikah dengan saya, atau bahkan mengatakan “bersedia melakukan apa pun untuk saya”, asal saya mau menemuinya. Dan Tuhan menjadi saksi, tidak ada satu pun dari semua e-mail rayuan itu yang saya urusi.

Meski begitu, saya bersyukur cewek-cewek yang mengirim e-mail itu segera berhenti mengganggu saya, begitu saya menolak rayuan mereka. Walaupun ulah mereka bisa dianggap gila, tapi setidaknya kegilaan mereka masih dapat saya maklumi. Hal itu berbeda dengan Siti Nurhayati alias Siti Enha yang saya ceritakan dalam catatan ini. Dia bukan hanya sakit, tapi benar-benar menjadi contoh nyata cewek yang tidak tahu malu! Dan, demi Tuhan, saya sudah muak dengan tingkahnya yang menjijikkan!
 
Berkali-kali merayu, dicuekin, malah menyatakan cinta. Cinta ditolak, terus saja mengirim rayuan-rayuan via e-mail. Alamat e-mail diblokir, pindah ke kolom komentar blog, dan masih mengirim rayuan-rayuan tolol yang sama. Kolom komentar blog dimoderasi, dia masuk ke Facebook, dan kembali mengganggu saya. Di Facebook diblokir, dia bikin akun kloningan di Twitter, demi bisa stalking saya. Lalu, dari hasil stalking-nya, dia menyimpulkan sendiri tweet-tweet saya, lalu dengan sok tahu menghubungi dosen saya, hingga membuat saya malu. Ya Tuhan... saya ini salah apa?

Sekali lagi, kenyataan mengerikan sekaligus memalukan seperti inilah yang membuat saya sangat... sangat berhati-hati, setiap kali ingin berinteraksi dengan lawan jenis, khususnya di dunia maya. Karena bahkan saya tidak melakukan apa pun, selalu ada cewek-cewek sakit—dan tak tahu malu—yang mengusik dan mengganggu saya.

Karena itu pula, sekarang saya sengaja menulis catatan ini secara frontal dan blak-blakan, agar bisa dijadikan sebagai pelajaran—khususnya untuk Siti Enha alias Siti Nurhayati—agar tidak seenaknya mengusik dan mengganggu orang lain, apalagi sampai mencampuri privasi dan urusan hidup orang lain, padahal tidak tahu dan tidak kenal.

Teman saja bukan, tapi sok-sokan mencampuri urusan pribadi orang lain hanya karena sok tahu. Itu perilaku yang benar-benar bangsat!

....
....

Jadi, Siti Enha atau Siti Nurhayati, atau siapa pun namamu, kesabaranku sudah habis, dan aku sudah benar-benar muak dengan perilakumu yang menjijikkan. Perilakumu sudah tidak bisa ditolerir, dan sudah saatnya perbuatanmu yang tidak tahu malu itu dihentikan.

Selama ini, aku sudah menyabar-nyabarkan diri setiap kali mendapati rayuan-rayuanmu yang tolol itu, dan—meski muak campur mau muntah—aku masih mencoba untuk diam. Tapi perbuatanmu yang mencampuri urusan pribadiku, dengan mengirimkan pesan ke dosenku, benar-benar sudah tak bisa dimaafkan. Jadi, silakan makan sikap tidak tahu malumu, dan persetan denganmu!

Tidak Ada Tulisan Lain

Sori, tidak ada tulisan lain untuk saat ini. Lagi bad mood, dan sedang sangat marah. 

Kalau kalian kecewa karena tidak mendapati tulisan lain di sini, silakan marahi cewek bangsat tidak tahu malu ini!

Asu!

Rabu, 05 April 2017

Yang Terlelap di Pangkuanku

Setiap melihat wajah anak-anak, aku melihat wajah Tuhan.
Mother Theresa


Adik perempuan saya sudah menikah, dan telah memiliki seorang anak laki-laki, bernama Rafi. Sejak dia masih sangat kecil, saya sangat menyayanginya, seperti yang dirasakan orang lain terhadap keponakan. Karena tempat tinggal kami berjauhan, saya pun tidak bisa sewaktu-waktu melihatnya. Selama itu, biasanya, saya memendam perasaan kangen, ingin melihatnya, rindu bermain-main dengannya, dan tertawa-tawa bersamanya.

Kadang-kadang pas liburan cukup panjang, adik saya pulang ke rumah orang tua, bersama suami dan anaknya. Saya pun pasti datang ke rumah orang tua, demi bisa bertemu Rafi. Biasanya, kami segera asyik bermain-main, dan saya pun meluapkan rasa kangen kepada bocah kecil itu. Saat sedang asyik bersamanya, saya bahkan lupa kerja dan lupa lainnya.

Seperti umumnya anak kecil, Rafi juga suka mainan—mobil-mobilan, robot, dan lain-lain. Jadi, setiap kali kami bertemu, saya akan mengajaknya ke swalayan, dan membelikan mainan yang diinginkannya. Itu menjadi saat-saat manis bagi saya.

Biasanya, setelah kami sampai di tempat parkir, dan mulai melangkah ke swalayan, saya akan menawari, “Gandeng apa gendong?”

Biasanya pula, Rafi akan menjawab, “Gandeng.”

Lalu dia memegang erat tangan saya, dan saya merasa tak terkalahkan. Oh, well, saat seorang anak kecil memegang tanganmu, kau akan merasa menjadi manusia paling kuat di dunia.

Saat melangkah bersama bocah kecil itu, saya merasa begitu besar. Lalu kami menuju tempat rak mainan, dan membiarkan dia memilih mainan yang diinginkan, dan saya senang melihat wajahnya yang begitu gembira.

Setiap kali menikmati saat-saat itu, saya membayangkan, mungkin seperti itu pulalah yang dirasakan seorang ayah ketika bersama anaknya. Meski saya tidak suka keluyuran dan jalan-jalan, saya rela melakukan demi dia. Meski kadang dia meminta digendong, saya tidak keberatan meski sebenarnya berat. Melihat wajahnya saja sudah membuat saya bahagia, dan itu membuat saya lupa pada rasa berat yang saya rasakan.

Kadang-kadang, di rumah orang tua saya, Rafi tertidur setelah capek bermain-main. Lalu saya membaringkan diri di sampingnya, melihatnya terlelap. Rasanya begitu mendamaikan, dan sekali lagi saya membayangkan mungkin seperti itulah yang dirasakan seorang ayah terhadap anaknya.

Di saat-saat seperti itu, saya pun membayangkan untuk punya anak sendiri, agar bisa terus bersama sosok yang saya cintai, agar bisa memanjakannya sepuas hati, agar bisa menikmati kebersamaan dengannya setiap hari, menikmati keriangannya yang lucu dan tawa kecilnya.

Selain Rafi, saya juga punya beberapa keponakan lain yang sama-sama masih kecil. Mereka anak-anak sepupu saya. Salah satu keponakan yang masih kecil itu bernama Tia, dia anak kakak sepupu.

Tia adalah gadis kecil yang cantik. Meski kedua orang tuanya berasal dari Jawa, tapi Tia lahir dan tumbuh di Jakarta, sehingga tidak bisa berbahasa Jawa. Kadang, itu menjadikannya lucu saat berkomunikasi dengan kakak atau adik sepupunya, yang biasa berbahasa Jawa.

Suatu hari, seorang famili kami mengadakan acara perkawinan, dan kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah saya. Famili-famili saya yang lain pun berdatangan ke tempat famili yang sedang punya hajat. Karena kebetulan rumah saya tidak terlalu jauh dari rumah famili yang punya hajat, para famili pun menggunakan rumah saya sebagai “base camp”—tempat kumpul, mandi, hingga untuk menitip barang.

Waktu itu, keponakan-keponakan saya yang masih kecil juga diajak orang tuanya masing-masing, dan mereka ditinggal di rumah saya. Tujuannya tentu agar tidak mengganggu di tempat hajatan. Jadi, bocah-bocah kecil itu pun bermain-main di rumah, dan saya “agak pusing” menyaksikan mereka. Agak pusing, karena rumah yang biasa damai dan hening tiba-tiba penuh anak-anak berceloteh dan berlarian ke sana kemari.

Namanya anak-anak, mereka juga suka penasaran dengan apa pun yang dilihat, yang mungkin tampak asing. Kebetulan, di rumah saya ada banyak hal yang mungkin tampak asing di mata mereka. Jadi, bocah-bocah itu tak henti-hentinya menunjuk sesuatu, dan bertanya apa ini apa itu. Dengan kesabaran tingkat dewa, saya pun berusaha melayani rasa penasaran mereka, dan menjawab sebaik-baiknya.

Malam hari, bocah-bocah itu tampak mulai kelelahan setelah bermain-main. Satu per satu mereka pergi ke rumah famili (yang punya hajat) untuk menemui ibu mereka yang ada di sana, hingga tinggal Tia yang masih di rumah saya. Wajahnya tampak mengantuk, dan dia sepertinya kelelahan.

Waktu itu, saya sedang membaca buku di sofa. Saat Tia mendekat, dan melihat wajahnya yang mengantuk, saya pun menawarinya duduk di sofa. Tia segera naik ke sofa, dan langsung membaringkan diri. Semula, saya pikir dia akan berbaring di samping saya duduk. Ternyata, Tia meletakkan kepalanya ke pangkuan saya, dan menjadikan paha saya sebagai bantal. Setelah itu, dia terlelap.

Saya tidak berkutik.

Jadi, saya pun meletakkan buku yang sedang saya baca, dan membiarkan gadis kecil itu terus terlelap di pangkuan saya. Dia tampak damai sekali dalam tidurnya.

Selama itu, saya hanya berdiam diri di sofa. Menatap wajah gadis kecil di pangkuan yang sedang terlelap, dan membayangkan mungkin seperti itulah yang dirasakan seorang ayah saat mendapati putrinya tertidur, setelah lelah bermain. Meski dia bukan anak saya, tetapi... saat melihatnya terlelap, saya merasa begitu dekat dengannya.

Saat-saat berdekatan dengan anak kecil adalah saat-saat ketika saya merasa kembali “manusiawi”. Anak-anak kecil itu begitu polos, begitu murni. Kepolosan dan kemurnian mereka mengingatkan saya pada kemurnian manusia.

Sebagai orang dewasa, saya lebih sering berinteraksi dengan orang-orang dewasa. Dan mereka, di mata saya, sering kali tidak terlihat seperti manusia. Mereka—orang-orang dewasa—penuh iri hati, keculasan, suka menggunjing, penuh pikiran kotor dan busuk, penuh nafsu dan hal-hal tersembunyi yang menjijikkan, serta hal-hal gelap lain... yang jauh beda dengan anak-anak. 

Hanya orang dewasa yang bisa memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi. Hanya orang dewasa yang bisa merendahkan orang lain demi merasa lebih baik. Hanya orang dewasa yang bisa bertingkah sok alim dan sok suci, tapi ternyata bangsat dan munafik. Hanya orang dewasa yang bisa tampak seperti teman, tapi diam-diam menusuk di belakang.

Karenanya, setiap kali melihat orang dewasa, saya apatis menjadi manusia. Orang-orang dewasa telah melukai kepercayaan saya kepada manusia. Orang-orang dewasa begitu pintar ngoceh tentang kemanusiaan, sambil pelan-pelan berubah dan tidak lagi menjadi manusia.

Anak-anak kecil mengembalikan kepercayaan saya kepada manusia. Karena, saat melihat mereka, saya menyaksikan manusia dalam arti sebenarnya. Jiwa-jiwa yang bersih, pikiran yang murni, spontanitas yang jujur, sikap yang tak dibuat-buat, dan mereka begitu jauh dari omong kosong. Oh, well, hanya orang-orang dewasa yang sangat pintar omong kosong, tanpa peduli bahwa itu sangat... sangat memuakkan.

Karenanya pula, setiap kali melihat anak-anak kecil, kadang saya berharap mereka tetap menjadi anak-anak, dan tidak tumbuh menjadi dewasa. Agar mereka tetap memiliki keceriaan dan kemurnian. Agar mereka tetap jujur dan polos. Agar mereka tidak mengenal iri hati dan kedengkian. Agar mereka tidak tahu cara memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi. Agar mereka tidak menjadi bangsat-bangsat munafik yang pintar omong kosong.

Malam itu, saat menatap Tia yang terlelap di pangkuan saya, diam-diam saya membayangkan... apa yang akan terjadi pada gadis kecil ini, sepuluh tahun mendatang? Apa yang akan terjadi padanya lima belas, dua puluh tahun, yang akan datang? Dunia macam apa yang akan dihadapinya, di masa depan kelak?

Membayangkan semua itu, diam-diam saya ingin kembali menjadi anak kecil—ketika belum tahu apa-apa, ketika masih menganggap dunia baik-baik saja, ketika masih percaya bahwa semua orang di sekeliling kita benar-benar manusia... ketika saya bisa terlelap damai di pangkuan siapa saja.

Noffret’s Note: Membosankan

“Kebosanan adalah kejahatan paling besar kedua di dunia.
Menjadi membosankan adalah kejahatan terbesar pertamanya.”
Jean Baudrillard


Setelah besar nanti, aku tidak ingin besar. Karena menjadi besar sering kali membosankan.

Anak-anak melakukan sesuatu karena memang ingin melakukan. Orang dewasa melakukan sesuatu karena ingin sama dengan orang lain.

Menjadi dewasa adalah pilihan, begitu pun menjadi membosankan. Yang jadi masalah, banyak orang menjadi dewasa (dan membosankan) tanpa sadar.

Kalau orang bertanya “kapan kawin” pada orang lainnya, dia pasti orang dewasa yang membosankan, dengan kehidupan yang sama membosankan.

Banyak orang bosan dengan hidupnya yang membosankan, lalu mencari hiburan dengan cara membuat orang lain bosan. Sungguh membosankan!

Hidup sekadar menunggu mati itu membosankan, semua orang tahu. Yang jadi masalah, tidak semua orang mau mengakui itu memang membosankan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 11 April 2016.

Dosenku Terkasih

Wanita ini dulu dosenku. Dan aku mengaguminya tidak hanya sebagai guru yang hebat, tapi juga wanita yang hebat. https://web.facebook.com/nahdia99

Kadang-kadang aku merindukannya. Membayangkan dia masih menjadi dosenku, mengajar di depan kelas, atau saat kami berbincang akrab.

Dulu, zaman kuliah, aku sering malas masuk kelas, karena kupikir membosankan. Tapi kalau dia yang mengajar, aku selalu semangat masuk kelas.

Dia tidak hanya memiliki kemampuan menjelaskan suatu topik mata kuliah dengan baik, tapi juga memiliki pesona wanita yang mengagumkan.

Aku tak pernah melupakan saat-saat indah saat dulu menjadi mahasiswanya. Duduk di tempat paling depan, hingga bisa menatapnya dengan jelas.

Aku juga senang mengingat, saat-saat kami berpapasan di lorong kampus dan saling senyum, dan bersyukur karena pernah menjadi mahasiswanya.

Tiba-tiba malam ini aku merindukannya. Merindukan saat bercakap-cakap dengannya, tertawa bersamanya. Sayang jarak kini telah begitu jauh...

I miss you, Ma’am, I miss you so much.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Oktober 2016.

Sabtu, 01 April 2017

Tirani dan Berhala

Dunia tidak punya masalah, karenanya tidak perlu diubah.
Yang punya masalah adalah manusia. Merekalah yang seharusnya berubah.
@noffret


Baim Wong galau, karena sering ditanya “kapan nikah?”. Bukan hanya galau, dia bahkan mengaku sudah bosan, karena begitu sering menerima pertanyaan itu. Dalam wawancara media di Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta Selatan (13 Maret 2017), Baim menyatakan, “(Dikasih) Pertanyaan terus, sih. Pertanyaannya, ‘kapan, kapan, kapan’. Nanyain terus, kapan.”

Untung, Baim saat ini sudah punya pacar. Dia sedang dekat dengan wanita asal Surabaya, bernama Luthya Sury. Karena itu, Baim bisa menghadapi pertanyaan “kapan kawin?” dengan cukup mudah. Setidaknya, lebih mudah dibanding umpama tidak/belum punya calon pasangan sama sekali.

Tetapi, hubungan Baim dengan Luthya Sury baru jalan enam bulan. “Kami baru deket,” ujar Baim. Tentu saja mereka, sebagaimana yang dikatakan Baim, ingin cepat-cepat menikah. Tapi menikah tentu tidak semudah membalik telapak tangan, kan? Pernikahan butuh proses, butuh persiapan, dan butuh hal-hal lain, apalagi menyangkut artis terkenal seperti Baim Wong.

Dulu, sebelum punya pacar atau calon pasangan, Baim sudah menghadapi pertanyaan “kapan kawin?” tanpa henti. Sekarang, setelah punya calon pasangan, pertanyaan serupa makin banyak berdatangan. Belum punya pacar dituntut pertanyaan “kapan”, sudah punya pacar pun masih dituntut pertanyaan “kapan”.

Dan pertanyaan “kapan” itu tampaknya tidak akan berhenti, meski kelak Baim telah menikah. Akan selalu ada “kapan” yang lain. Dari “kapan punya anak”, sampai “kapan nambah anak”. 

Kenyataan itu bahkan sudah terjadi pada Ryana Dea, artis Indonesia yang lain. Ryana Dea, yang membintangi sinetron serial “Dunia Terbalik”, menikah dengan Puadin Redi. Pernikahan mereka baru jalan lima bulan. Sekali lagi, baru jalan lima bulan!

Tetapi bahkan baru menikah lima bulan pun, Ryana Dea menceritakan, dia sudah terus menerus menghadapi pertanyaan “kapan”, kali ini “kapan punya anak”. Orang-orang di sekelilingnya bertanya apakah dia sudah hamil atau belum. Sebegitu sering menghadapi pertanyaan semacam itu, Ryana Dea sampai mengaku risih.

“Sempat risih, karena semua orang nanyain terus,” ujarnya kepada wartawan, saat acara tasyakuran sinetron “Dunia Terbalik”, di Harjamukti, Cibubur, Jaktim (13 Maret 2017).

Sebenarnya, Ryana Dea mengaku ia bersama suaminya sudah ingin punya anak. Tapi kenyataannya memang dia belum hamil. Ryana maupun Redi tidak menunda untuk punya anak. “Cuma memang belum dikasih aja sama Tuhan,” kata Ryana Dea.

Kisah Baim Wong maupun Ryana Dea hanyalah contoh kasus. Di luar mereka, ada banyak orang yang sama galau, sama bosan, sama risih, sama muak, bahkan mau muntah, karena begitu sering menghadapi pertanyaan “kapan”. Dari “kapan kawin” sampai “kapan hamil”. Yang masih lajang ditanya kapan menikah, yang sudah menikah ditanya kapan punya anak, bahkan yang sudah punya anak pun masih ditanya kapan nambah anak.

Alangkah sulit menjalani hidup sebagai manusia, kalau dipikir-pikir. Semua orang menginginkan yang lain sama, dan sepertinya tidak rela jika ada di antara mereka yang berbeda. Karena mereka menikah, maka semua orang juga harus menikah. Karena mereka memiliki anak, maka semua orang juga harus memiliki anak. Jika belum menikah, mereka akan menerormu sampai kau menikah. Jika belum punya anak, mereka akan menerormu sampai kau punya anak-anak.

Menikah dan punya anak adalah soal pilihan. Tapi masyarakat mengubah pilihan menjadi kewajiban, kewajaran, keharusan, dan bahkan kenormalan.

Padahal, setiap lajang memiliki hak untuk memilih. Memilih menikah, menunda menikah, atau bahkan tidak menikah. Begitu pula, yang sudah menikah juga punya hak untuk memilih. Memilih punya anak, memilih menunda punya anak, atau bahkan memilih untuk tidak punya anak. Bahkan, jika ini mau diteruskan, yang punya anak pun masih punya hak untuk memilih. Memilih hanya punya satu anak, memilih untuk punya dua anak, atau bahkan memilih punya banyak anak.

Hidup adalah soal pilihan, dan pilihan masing-masing orang dilatari pertimbangan yang dianggap baik oleh orang bersangkutan.

Umpamakan saja saya seorang lajang yang masih menganggur, dan hidup masih belum jelas. Sebagai orang dewasa, tentu saya bertanggung jawab pada kehidupan sendiri, dan saya pun berusaha sekuat tenaga untuk mencari dan mendapat kerja. Tetapi, takdir belum membukakan kesempatan, sehingga saya masih menganggur. Meski begitu, saya terus berusaha, semampu saya bisa, agar mendapat pekerjaan.

Karena masih menganggur, dan kehidupan belum jelas, saya pun mencoba berpikir waras, bahwa menunda pernikahan jauh lebih baik bagi saya, daripada buru-buru menikah. Sekali lagi, ini pikiran waras.

Meski secara usia sudah layak menikah, tapi saya sadar diri, bahwa saya belum memiliki kemampuan untuk itu. Daripada saya mengecewakan istri, keluarga, bahkan anak-anak saya kelak, karena tidak mampu memberi penghidupan layak, jauh lebih baik bagi saya untuk menunda pernikahan, sampai saya merasa mampu. Saya pikir, itu pilihan yang logis, waras, dan tidak menyalahi siapa pun.

Saya yang menjalani hidup saya, bukan orang lain. Jika saya menikah, dan kemudian rumah tangga saya keblangsak, sayalah (dan pasangan) yang akan menghadapi—bukan orang lain. Jadi, sekali lagi, menunda pernikahan adalah langkah yang saya pikir tepat sekaligus waras. Karena, bagaimana pun, saya tidak ingin menikah dengan modal selangkangan. Saya ingin menikah dengan tanggung jawab, dan berharap bisa membahagiakan pasangan.


Itu salah satu ilustrasi yang jelas dan gamblang, mengenai latar belakang orang menunda pernikahan (tidak buru-buru menikah, meski usia sudah layak untuk menikah). Di luar ilustrasi tersebut, masih banyak ilustrasi lain—yang nyata—di sekitar kita, mengenai latar belakang kenapa orang menunda menikah, atau tidak buru-buru menikah, meski secara usia sudah layak.

Apakah pertimbangan dalam ilustrasi di atas salah? Tentu saja tidak! Setiap orang bertanggung jawab terhadap hidupnya, keputusannya, juga pilihan-pilihannya. Jika saya menikah, sayalah yang akan bertanggung jawab, bukan orang lain. Karena saya yang bertanggung jawab, maka saya pun memikirkannya secara waras. Karena saya merasa belum mampu, maka saya lebih memilih untuk menunda menikah, daripada buru-buru menikah.

Karenanya, tidak usah meributkan orang lain yang belum menikah, karena setiap orang memiliki pertimbangan masing-masing yang mereka pikir baik untuk hidupnya, berdasarkan pemikiran yang waras. Jika yang lajang tidak meributkan orang yang sudah menikah, kenapa yang sudah menikah sangat hobi ngerusuhi kehidupan yang masih lajang?

Begitu pula soal punya anak. Setiap orang yang menikah memiliki hak untuk punya anak, menunda punya anak, atau tidak punya anak sama sekali. Itu pilihan mereka, dan merekalah yang akan menghadapi—bukan kita!

Ada pasangan yang menikah, dan segera punya anak. Biasanya, mereka memang ingin segera punya anak, dan kebetulan takdir mengabulkan keinginan mereka. Ada pula yang sudah cukup lama menikah, tapi belum juga punya anak. Bisa jadi, mereka sebenarnya sudah ingin punya anak, tapi takdir belum mengabulkan. Atau, mereka memang menunda punya anak, karena ingin menata rumah tangga dengan baik terlebih dulu, sehingga kelak bisa merawat anak dengan lebih baik. Atau, bisa jadi pula, mereka memang tidak bermaksud punya anak, dengan pertimbangan tertentu, yang mereka pikir baik.

Apakah ada yang salah dalam ilustrasi tersebut? Tentu saja tidak! Karena setiap orang—atau setiap pasangan—memiliki hak dan pilihan yang sama. Hak untuk punya anak, hak untuk menunda punya anak, atau hak untuk tidak punya anak sama sekali. Kita tidak bisa memaksa siapa pun untuk segera punya anak hanya karena telah menikah, sebagaimana kita tidak bisa memaksa siapa pun untuk tidak punya anak!

Hidup adalah soal pilihan. Yang lajang punya pilihan kapan ia akan menikah, atau pilihan untuk tidak menikah. Yang sudah menikah juga punya pilihan kapan akan punya anak, atau pilihan untuk tidak punya anak. Ini aturan yang fair—setiap orang menghadapi hidupnya masing-masing, dan mereka bertanggung jawab terhadap setiap pilihan yang diambil.

Tetapi, sayang, masyarakat belum dapat berpikir sewaras itu. Dalam pikiran mereka, setiap orang harus menikah! Dan setelah menikah, setiap pasangan harus punya anak! Jika tidak, berarti salah!

Ini kan kacau! Hak diubah menjadi kewajiban. Pilihan diubah menjadi kewajaran. Perbedaan diubah menjadi ukuran normal atau tidak normal. Apa yang lebih kacau dari sistem semacam itu?

Dalam pikiran masyarakat, setiap orang harus menikah. Dan setelah menikah, setiap pasangan harus punya anak. Padahal, menikah dan punya anak adalah dua hal yang berbeda! Orang bisa menikah tanpa punya anak, sebagaimana orang bisa punya anak tanpa menikah. Misalnya lajang yang mengadopsi anak orang lain.

Jadi, kehidupan kita sebagai manusia sebenarnya mudah, tapi dipersulit oleh sistem yang kacau dan rumit. Sistem yang gila itu bahkan telah menjelma tirani, hingga siapa pun merasa tidak mampu melawan. Ini seperti zaman animisme yang memberhalakan pohon besar karena dianggap tuhan, padahal keparat itu hanya seonggok pohon besar yang bisa hancur dan tumbang.

Kehidupan manusia—sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial—sebenarnya mudah dan sederhana. Jalanilah hidup dengan baik, dan tidak merugikan orang lain. Sudah, hanya itu! Selama kau menjalani kehidupanmu dengan baik, dengan hal-hal atau pilihan yang kauanggap baik, dan pilihanmu tidak merugikan orang lain, maka tidak ada satu orang pun yang berhak mengusik hidupmu. Sederhana—oh, well, sangat sederhana.

Orang boleh menikah, boleh menunda menikah, bahkan boleh tidak menikah sama sekali—bebas! Begitu pun, orang boleh punya anak, boleh menunda punya anak, bahkan boleh tidak punya anak sama sekali. Sekali lagi, bebas! Selama pilihan itu tidak merugikan orang lain, siapa pun berhak memilihnya. Sederhana—oh, well, sangat sederhana.

Tetapi, gaya hidup yang sederhana dan baik itu diubah dan dikacaukan oleh sistem tirani masyarakat. Menikah, yang sebenarnya pilihan, diubah menjadi kewajiban, serta ukuran untuk menilai apakah seseorang normal atau tidak. Punya anak, yang sebenarnya pilihan, diubah menjadi kewajiban, serta ukuran untuk menilai apakah seseorang wajar atau tidak. Akibatnya, yang tidak/belum menikah dianggap tidak normal, yang sudah menikah tapi tidak/belum punya anak dianggap tidak wajar.

Padahal, kenormalan dan kewajaran sebagai manusia tidak bisa semata-mata diukur apakah seseorang menikah atau tidak, apakah pasangan punya anak atau tidak. Manusia adalah makhluk kompleks, yang tidak bisa disimpulkan semata-mata dari apakah dia sama dengan kita atau tidak, apakah dia menikah atau tidak, atau apakah punya anak atau tidak.

Seperti Baim Wong, atau orang-orang lain. Baim atau siapa pun tentu punya hak untuk hidup tenteram, tanpa harus dirusuhi oleh pertanyaan membosankan terkait kapan dia akan menikah. Karena Baim, atau siapa pun, tentu punya pikiran dan pertimbangan sendiri kenapa belum menikah—sama seperti orang lain yang telah menikah. Jika Baim dinilai “berbeda” karena belum juga menikah, memang begitulah manusia. Tidak mungkin mengharapkan semua manusia sama.

Begitu pula Ryana Dea, atau orang-orang lain yang telah menikah namun belum memiliki anak. Ryana Dea atau siapa pun tentu punya hak untuk menjalani kehidupan damai, tanpa harus direcoki pertanyaan kapan punya anak. Karena Ryana Dea, atau siapa pun, tentu punya latar belakang dan pertimbangan sendiri kenapa belum punya anak—sama seperti orang lain yang telah punya anak. Jika Ryana Dea dinilai “berbeda” karena sudah menikah tapi belum juga punya anak, ya memang begitulah romantika kehidupan. Tidak mungkin mengharapkan kehidupan semua orang bisa sama.

Hidup adalah soal pilihan. Itulah yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia bisa memilih, karena memiliki akal budi dan pikiran—sesuatu yang tidak dimiliki binatang. Sama-sama punya otak, sama-sama berpikir, tapi manusia bisa berpikir jauh lebih baik—dan lebih bertanggung jawab—dibandingkan binatang. Karena manusia punya otak sekaligus kemampuan akal pikiran, sementara binatang hanya punya otak dan selangkangan!

Manusia bisa memilih, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Sementara binatang tidak bisa. Dan, omong-omong, kenyataan itulah yang menjadikan manusia lebih mulia dari binatang.

Rumus Paling Berbahaya

30 M : 30 T

(Huruf setelah angka tidak menunjuk bilangan.)

Noffret’s Note: Malam Minggu

Baru sadar kalau ini malam Minggu.
—Twitter, 8 Oktober 2015

Malam Minggu adalah saat orang-orang yang punya pacar harus melakukan
kewajiban tolol, penuh drama, sekaligus membosankan, bernama kencan.
—Twitter, 8 Oktober 2015

Keluar malam Minggu selalu menjengkelkan.
Ramai, macet, semrawut. Untung tidak punya pacar!
—Twitter, 2 April 2015

Malam Minggu, dalam keadaan stres dan sibuk seperti ini,
aku benar-benar bersyukur karena tidak punya pacar yang ngerecoki.
—Twitter, 12 Maret 2015

Jalanan macet, internet lelet, sinyal hape mbulet, sekarang terjebak
di jalan yang seret. Dunia pasti lebih baik tanpa malam Minggu.
—Twitter, 12 Mei 2015

“Malam Minggu kok malah baca buku?” | “Iya. Itulah perbedaan antara aku,
dan jutaan orang sepertimu. Omong-omong, aku senang menjadi aku.”
—Twitter, 6 Juni 2015

Malam Minggu adalah saat sempurna untuk menikmati kesendirian. Aku
bersyukur pada Tuhan untuk kebebasan dan keheningan tanpa gangguan pacar.
—Twitter, 15 Agustus 2015

Ya, aku memang tidak punya pacar, dan aku tahu ini malam Minggu. LALU KENAPA?
—Twitter, 5 Mei 2015

Malam Minggu adalah soal bagaimana kau nyaman dengan dirimu.
—Twitter, 16 Juni 2015


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

 
;