Rabu, 05 April 2017

Yang Terlelap di Pangkuanku

Setiap melihat wajah anak-anak, aku melihat wajah Tuhan.
Mother Theresa


Adik perempuan saya sudah menikah, dan telah memiliki seorang anak laki-laki, bernama Rafi. Sejak dia masih sangat kecil, saya sangat menyayanginya, seperti yang dirasakan orang lain terhadap keponakan. Karena tempat tinggal kami berjauhan, saya pun tidak bisa sewaktu-waktu melihatnya. Selama itu, biasanya, saya memendam perasaan kangen, ingin melihatnya, rindu bermain-main dengannya, dan tertawa-tawa bersamanya.

Kadang-kadang pas liburan cukup panjang, adik saya pulang ke rumah orang tua, bersama suami dan anaknya. Saya pun pasti datang ke rumah orang tua, demi bisa bertemu Rafi. Biasanya, kami segera asyik bermain-main, dan saya pun meluapkan rasa kangen kepada bocah kecil itu. Saat sedang asyik bersamanya, saya bahkan lupa kerja dan lupa lainnya.

Seperti umumnya anak kecil, Rafi juga suka mainan—mobil-mobilan, robot, dan lain-lain. Jadi, setiap kali kami bertemu, saya akan mengajaknya ke swalayan, dan membelikan mainan yang diinginkannya. Itu menjadi saat-saat manis bagi saya.

Biasanya, setelah kami sampai di tempat parkir, dan mulai melangkah ke swalayan, saya akan menawari, “Gandeng apa gendong?”

Biasanya pula, Rafi akan menjawab, “Gandeng.”

Lalu dia memegang erat tangan saya, dan saya merasa tak terkalahkan. Oh, well, saat seorang anak kecil memegang tanganmu, kau akan merasa menjadi manusia paling kuat di dunia.

Saat melangkah bersama bocah kecil itu, saya merasa begitu besar. Lalu kami menuju tempat rak mainan, dan membiarkan dia memilih mainan yang diinginkan, dan saya senang melihat wajahnya yang begitu gembira.

Setiap kali menikmati saat-saat itu, saya membayangkan, mungkin seperti itu pulalah yang dirasakan seorang ayah ketika bersama anaknya. Meski saya tidak suka keluyuran dan jalan-jalan, saya rela melakukan demi dia. Meski kadang dia meminta digendong, saya tidak keberatan meski sebenarnya berat. Melihat wajahnya saja sudah membuat saya bahagia, dan itu membuat saya lupa pada rasa berat yang saya rasakan.

Kadang-kadang, di rumah orang tua saya, Rafi tertidur setelah capek bermain-main. Lalu saya membaringkan diri di sampingnya, melihatnya terlelap. Rasanya begitu mendamaikan, dan sekali lagi saya membayangkan mungkin seperti itulah yang dirasakan seorang ayah terhadap anaknya.

Di saat-saat seperti itu, saya pun membayangkan untuk punya anak sendiri, agar bisa terus bersama sosok yang saya cintai, agar bisa memanjakannya sepuas hati, agar bisa menikmati kebersamaan dengannya setiap hari, menikmati keriangannya yang lucu dan tawa kecilnya.

Selain Rafi, saya juga punya beberapa keponakan lain yang sama-sama masih kecil. Mereka anak-anak sepupu saya. Salah satu keponakan yang masih kecil itu bernama Tia, dia anak kakak sepupu.

Tia adalah gadis kecil yang cantik. Meski kedua orang tuanya berasal dari Jawa, tapi Tia lahir dan tumbuh di Jakarta, sehingga tidak bisa berbahasa Jawa. Kadang, itu menjadikannya lucu saat berkomunikasi dengan kakak atau adik sepupunya, yang biasa berbahasa Jawa.

Suatu hari, seorang famili kami mengadakan acara perkawinan, dan kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah saya. Famili-famili saya yang lain pun berdatangan ke tempat famili yang sedang punya hajat. Karena kebetulan rumah saya tidak terlalu jauh dari rumah famili yang punya hajat, para famili pun menggunakan rumah saya sebagai “base camp”—tempat kumpul, mandi, hingga untuk menitip barang.

Waktu itu, keponakan-keponakan saya yang masih kecil juga diajak orang tuanya masing-masing, dan mereka ditinggal di rumah saya. Tujuannya tentu agar tidak mengganggu di tempat hajatan. Jadi, bocah-bocah kecil itu pun bermain-main di rumah, dan saya “agak pusing” menyaksikan mereka. Agak pusing, karena rumah yang biasa damai dan hening tiba-tiba penuh anak-anak berceloteh dan berlarian ke sana kemari.

Namanya anak-anak, mereka juga suka penasaran dengan apa pun yang dilihat, yang mungkin tampak asing. Kebetulan, di rumah saya ada banyak hal yang mungkin tampak asing di mata mereka. Jadi, bocah-bocah itu tak henti-hentinya menunjuk sesuatu, dan bertanya apa ini apa itu. Dengan kesabaran tingkat dewa, saya pun berusaha melayani rasa penasaran mereka, dan menjawab sebaik-baiknya.

Malam hari, bocah-bocah itu tampak mulai kelelahan setelah bermain-main. Satu per satu mereka pergi ke rumah famili (yang punya hajat) untuk menemui ibu mereka yang ada di sana, hingga tinggal Tia yang masih di rumah saya. Wajahnya tampak mengantuk, dan dia sepertinya kelelahan.

Waktu itu, saya sedang membaca buku di sofa. Saat Tia mendekat, dan melihat wajahnya yang mengantuk, saya pun menawarinya duduk di sofa. Tia segera naik ke sofa, dan langsung membaringkan diri. Semula, saya pikir dia akan berbaring di samping saya duduk. Ternyata, Tia meletakkan kepalanya ke pangkuan saya, dan menjadikan paha saya sebagai bantal. Setelah itu, dia terlelap.

Saya tidak berkutik.

Jadi, saya pun meletakkan buku yang sedang saya baca, dan membiarkan gadis kecil itu terus terlelap di pangkuan saya. Dia tampak damai sekali dalam tidurnya.

Selama itu, saya hanya berdiam diri di sofa. Menatap wajah gadis kecil di pangkuan yang sedang terlelap, dan membayangkan mungkin seperti itulah yang dirasakan seorang ayah saat mendapati putrinya tertidur, setelah lelah bermain. Meski dia bukan anak saya, tetapi... saat melihatnya terlelap, saya merasa begitu dekat dengannya.

Saat-saat berdekatan dengan anak kecil adalah saat-saat ketika saya merasa kembali “manusiawi”. Anak-anak kecil itu begitu polos, begitu murni. Kepolosan dan kemurnian mereka mengingatkan saya pada kemurnian manusia.

Sebagai orang dewasa, saya lebih sering berinteraksi dengan orang-orang dewasa. Dan mereka, di mata saya, sering kali tidak terlihat seperti manusia. Mereka—orang-orang dewasa—penuh iri hati, keculasan, suka menggunjing, penuh pikiran kotor dan busuk, penuh nafsu dan hal-hal tersembunyi yang menjijikkan, serta hal-hal gelap lain... yang jauh beda dengan anak-anak. 

Hanya orang dewasa yang bisa memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi. Hanya orang dewasa yang bisa merendahkan orang lain demi merasa lebih baik. Hanya orang dewasa yang bisa bertingkah sok alim dan sok suci, tapi ternyata bangsat dan munafik. Hanya orang dewasa yang bisa tampak seperti teman, tapi diam-diam menusuk di belakang.

Karenanya, setiap kali melihat orang dewasa, saya apatis menjadi manusia. Orang-orang dewasa telah melukai kepercayaan saya kepada manusia. Orang-orang dewasa begitu pintar ngoceh tentang kemanusiaan, sambil pelan-pelan berubah dan tidak lagi menjadi manusia.

Anak-anak kecil mengembalikan kepercayaan saya kepada manusia. Karena, saat melihat mereka, saya menyaksikan manusia dalam arti sebenarnya. Jiwa-jiwa yang bersih, pikiran yang murni, spontanitas yang jujur, sikap yang tak dibuat-buat, dan mereka begitu jauh dari omong kosong. Oh, well, hanya orang-orang dewasa yang sangat pintar omong kosong, tanpa peduli bahwa itu sangat... sangat memuakkan.

Karenanya pula, setiap kali melihat anak-anak kecil, kadang saya berharap mereka tetap menjadi anak-anak, dan tidak tumbuh menjadi dewasa. Agar mereka tetap memiliki keceriaan dan kemurnian. Agar mereka tetap jujur dan polos. Agar mereka tidak mengenal iri hati dan kedengkian. Agar mereka tidak tahu cara memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi. Agar mereka tidak menjadi bangsat-bangsat munafik yang pintar omong kosong.

Malam itu, saat menatap Tia yang terlelap di pangkuan saya, diam-diam saya membayangkan... apa yang akan terjadi pada gadis kecil ini, sepuluh tahun mendatang? Apa yang akan terjadi padanya lima belas, dua puluh tahun, yang akan datang? Dunia macam apa yang akan dihadapinya, di masa depan kelak?

Membayangkan semua itu, diam-diam saya ingin kembali menjadi anak kecil—ketika belum tahu apa-apa, ketika masih menganggap dunia baik-baik saja, ketika masih percaya bahwa semua orang di sekeliling kita benar-benar manusia... ketika saya bisa terlelap damai di pangkuan siapa saja.

 
;