Sabtu, 22 April 2017

Dian Sastro dan Ironi Manusia

Sekarang aku tahu mengapa Tarzan betah hidup di hutan.
Dia bisa membebaskan diri dari kebrengsekan sistem
untuk sama dengan orang-orang.
@noffret


Dian Sastro dihinggapi masalah kurang mengenakkan, gara-gara terlihat menepiskan penggemar yang ingin berfoto bersama. Ekspresinya yang tampak bergidik—atau kegelian—menjadikan banyak orang menghujatnya, meski kita juga tidak tahu ekspresi atau gerakan apa sebenarnya yang dilakukan Dian Sastro kala itu. Yang jelas, orang-orang tidak suka dengan sikap Dian Sastro yang tampak tidak ramah.

Terkait hal itu, Dian Sastro sudah berusaha memberi jawaban dan penjelasan mengenai latar belakang sikapnya, dan mestinya kita maklum. Karena, bagaimana pun, Dian toh manusia biasa. Bahwa dia seorang artis, itu tidak mengubah fakta dia tetap manusia. Yang kadang lelah, kadang stres, kadang bingung, kadang jengkel, dan kadang lupa bersikap manis. Sama seperti kita.

Dian Sastro sebenarnya bukan artis pertama yang “ketahuan” sebagai manusia biasa. Bertahun lalu, ada artis lain yang juga membuat kecewa banyak orang, ketika dia “ketahuan ternyata manusia biasa”. Artis yang saya maksud ini seorang wanita berjilbab, dan mengesankan seorang muslimah yang manis. Lalu, suatu hari, dia ketahuan merokok.

Hanya merokok, tapi orang-orang langsung geger.

Belakangan, si artis menjelaskan bahwa fotonya yang beredar—yang memperlihatkan dia memegang rokok—hanya kebetulan, dan bahwa dia bukan perokok. Sebenarnya, saya pribadi tidak peduli dia perokok atau bukan, karena nyatanya saya juga perokok. Selain itu, saya juga sering mendapati wanita yang merokok. Jadi, bagi saya, itu hal biasa, dan tidak penting.

Tetapi, tentu saja, tidak semua orang bisa seterbuka itu menghadapi orang lain. Lebih banyak orang yang ingin orang lain sesuai keinginan mereka, atau—setidaknya—sesuai bayangan mereka. Hal semacam itu lumrah terjadi pada artis, orang terkenal, selebritas, atau figur publik. Kita ingin tokoh idola kita, atau artis kesayangan kita, benar-benar tepat dan sesuai seperti yang kita inginkan atau kita bayangkan, sembari lupa bahwa mereka manusia biasa.

Artis yang tampak manis di film, kita harapkan benar-benar manis di luar film. Artis yang tampak alim di sinetron, kita harapkan benar-benar alim di kehidupan nyata. Padahal, ketika tampil di film atau sinetron, mereka sedang berakting. Namanya akting, tentu tidak harus sesuai kepribadian asli. Sebagaimana artis pemeran psikopat tidak berarti dia benar-benar psikopat.

Tetapi kita sulit menerima kenyataan. Kita ingin artis-artis itu sesuai bayangan kita, sesuai keinginan dan khayalan kita, pendeknya sesuai dengan citra yang ditampilkan si artis di mata kita. Sempurna, tanpa cacat, paripurna.

Gejala semacam itu pula yang lalu memunculkan sosok-sosok persona di sekitar kita, dengan harapan bisa merepresentasikan keinginan dan khayalan banyak orang. Maka muncullah sosok-sosok artis lain, di media lain, dengan gaya lain. Sebagian dari mereka dikenal dengan sebutan selebtwit, selebgram, selebblog, atau seleb-seleb lain. Tujuan mereka sama—berupaya merepresentasikan khayalan banyak orang tentang sosok yang asyik, menarik, gaul, pintar, lucu, kekinian, dan lain-lain, sebagaimana yang diharapkan banyak orang.

Lama-lama, kecenderungan semacam itu juga dilakukan orang-orang lain. Persis seperti idolatry yang menulari orang-orang lain atau pengikut untuk berperilaku sama. Itu gejala umum yang saat ini bahkan menghinggapi banyak orang, khususnya di dunia maya, khususnya lagi di media sosial. Saat ini, media sosial sebenarnya tidak berisi manusia, melainkan hanya berisi barisan persona. Masing-masing orang mengenakan topengnya.

Di Instagram, orang-orang berusaha menampilkan foto-foto terbaik dan terindah, dengan harapan para pemirsa terpukau dan terpesona. Di Twitter, orang-orang berusaha menampilkan tweet-tweet paling unik atau paling bijak, dengan harapan follower melakukan retweet sembari menganggapnya mulia. Di blog, orang-orang berusaha menulis sekeren mungkin, dengan harapan para pembaca menganggapnya pintar dan intelek, lalu memujanya.

Semuanya sama. Persona. Topeng. Yang belum tentu sesuai aslinya.

Jika dipikir, yang kita lakukan dengan segala persona di media sosial sebenarnya tidak jauh beda dengan Dian Sastro atau artis lain. Kita sedang berusaha menampilkan akting terbaik, agar orang-orang terkesan. Dan kita mungkin tidak sempat memikirkan bagaimana pendapat orang jika sewaktu-waktu mendapati diri kita yang asli, yang ternyata tidak sesuai khayalan atau harapan mereka.

Mungkin terdengar pahit, tapi kenyataannya sebagian besar kita—untuk tidak menyebut semua—memang memerankan akting masing-masing, dengan persona dan topeng yang kita pilih. Kita ingin dianggap keren, gaul, indah, pintar, kekinian, dan lain-lain, meski mungkin tidak sesuai kehidupan nyata yang kita jalani. Kita ingin orang-orang terkesan pada kita, meski untuk itu harus melakukan hal-hal yang “mengerikan”. Misal sampai terjerat utang demi bisa tampak keren dan kekinian.

Belum lama, Sarah Sechan mengundurkan diri dari media sosial, karena ingin lebih fokus pada dunia nyata, kehidupannya yang asli. Sarah Sechan hanya contoh. Selain dia, ada banyak selebritas lain—juga orang-orang biasa—yang sama mengundurkan diri dari dunia maya dan media sosial, karena “lelah menjadi orang lain”.

Lelah menjadi orang lain. Itu kalimat yang sangat pahit. Dan berusaha menjadi orang lain memang pekerjaan yang sangat melelahkan. Tetapi, well, itulah persona. Ketika kita berusaha melepaskan diri yang asli, dan berusaha menampilkan sosok lain demi memenuhi harapan orang-orang lain. Kita ingin disukai, ingin membuat orang lain terkesan, atau—setidaknya—kita ingin sama dengan orang lain.

Gaya hidup semacam itu—ingin sama dengan orang lain, dan tak ingin tampak berbeda—tidak hanya terjadi di dunia nyata, tapi di dunia maya.

Di lingkungan tempat tinggal, kita berusaha sama dengan para tetangga, berusaha menjalani kebiasaan dan gaya hidup yang tak berbeda. Kita sangat tertekan jika sudah dewasa, tapi belum juga menemukan pasangan. Kenapa? Bukan karena takut tidak memiliki pasangan, tapi karena takut dianggap berbeda. Begitu pun yang sudah berpasangan, ingin segera punya anak. Kenapa? Bukan semata karena ingin memiliki keturunan, tapi juga karena tidak ingin dianggap berbeda. Ketakutan berbeda dengan orang lain, itulah ketakutan terbesar manusia!

Kita sangat takut berbeda dengan orang lain, karena kenyataannya orang-orang dan masyarakat menginginkan semua orang sama. Dan mereka akan melakukan apa pun, dengan segala cara, demi bisa membuat kita sama seperti mereka. Karena mereka menikah, mereka ingin kita juga menikah. Karena mereka punya anak, mereka ingin kita juga punya anak. Karena mereka masuk lubang biawak, mereka juga ingin kita masuk lubang biawak.

Dalam tekanan yang begitu besar untuk bisa sama dengan orang lain, dengan umumnya masyarakat, siapa yang mampu bertahan? Sangat sedikit. Karena memilih berbeda dengan masyarakat sama artinya bunuh diri. Dan itulah asal usul lahirnya persona, yang malih rupa menjadi kemunafikan sosial. Kita ingin sama dengan orang lain, ingin sesuai harapan bahkan khayalan orang-orang. Karena kita takut dianggap berbeda.

Begitu pula yang terjadi di dunia maya, di media sosial, ketika berinteraksi dengan orang-orang lain. Kita ingin sama dengan mereka, ingin tidak dianggap berbeda, bahkan ingin membuat mereka terkesan. Maka kita pun pura-pura ramah, meski sebenarnya pemarah. Pura-pura bahagia, meski sebenarnya menderita. Pura-pura tertawa, padahal menangis. Pura-pura alim, padahal keparat.

Kehidupan, dan interaksi dengan orang-orang lain, mengharuskan kita untuk menutupi diri kita yang asli, dan menggantinya dengan diri yang umum—sosok yang bisa diterima, disukai, dan tak berbeda. Maka jadilah kita sosok-sosok munafik yang bisa mengatakan, “Aku suka sekali dengan gaunmu,” sambil diam-diam dalam hati mengutuk, “Bangsat, lu!”

Oscar Wilde, penulis, penyair, dan dramawan asal Irlandia, memiliki kalimat yang terkenal, “Jadilah dirimu sendiri, pribadi orang lain sudah ada yang memiliki.”

Kalimat itu tidak hanya terkenal, tapi juga memakan tumbal—diri Oscar Wilde, sang pengucap. Sebagaimana orang lain, Wilde juga ingin sama dengan masyarakat, dengan kebanyakan orang. Maka dia pun menikah dengan seorang wanita, lalu membangun keluarga, demi tidak berbeda dengan masyarakatnya. Tetapi, belakangan, Wilde menyadari, bukan itu sebenarnya yang ia inginkan. Pernikahan yang ia jalani bukan memberi kedamaian, tapi membuat jiwanya merana.

Pada titik nadir itu, Wilde harus memilih; antara mengikuti diri dan hatinya sendiri, atau memilih sama dengan masyarakat. Jika ia memilih sama dengan masyarakat, dia hanya perlu pura-pura bahagia dalam perkawinan, dan hidup akan baik-baik saja—khas keparat-keparat munafik Zaman Victoria. Tetapi, akhirnya, Wilde memilih mengikuti hatinya. Dan ketika itu yang dia pilih, masyarakat mencercanya habis-habisan, karena Wilde dianggap berbeda. 

Ironi dan dilema manusia diawali dari itu, dan berakhir di situ—keinginan untuk sama dengan orang lain, dan ketidakmampuan untuk menjadi diri sendiri. Kita ketakutan menjadi diri sendiri, yang asli, karena takut dianggap berbeda, karena khawatir dianggap tak sama dengan masyarakat. Ketakutan itu pula yang lalu menutupi kesejatian pribadi kita, dan menggantinya dengan topeng demi bisa sama, seragam, tak berbeda. Kita lebih suka menangis diam-diam demi bisa sama dengan kebanyakan orang, daripada benar-benar bahagia karena berbeda.

Jadi, tak peduli di Era Victoria atau era kekinian, kita tetap hidup di zaman ketika perbedaan dianggap kesalahan, dan keberagaman dianggap ancaman. Sedikit saja kau menunjukkan perbedaan, orang-orang akan langsung menyadari. Sedikit saja kau berbeda dengan kebanyakan orang, mereka akan langsung menghakimi.

Tentu saja masyarakat kekinian adalah masyarakat beradab, bukan masyarakat barbar. Jadi, meski mereka menggunakan hukum tirani demi membuat orang-orang selalu sama dan seragam, mereka juga tidak malu untuk sesekali mengutip kalimat terkenal Oscar Wilde, “Jadilah dirimu sendiri!”

Oh, well, jadilah dirimu sendiri, kata mereka. Dan ketika kau mulai menjadi diri sendiri, mereka tak terima, dan membencimu. Jadi, ambillah topengmu, pasang senyum palsumu, serta tunjukkan pribadi pura-puramu. Karena hanya dengan cara itu, kau bisa tetap hidup damai di tengah orang-orang palsu.

Kalau dipikir-pikir, semua ini benar-benar asshole... dan asu!

 
;