Minggu, 19 Januari 2020

Terluka Sendirian

Hanya mereka yang pernah terluka yang bisa menghayati luka.
Yang tidak pernah terluka hanya bisa bicara... banyak bicara.
@noffret


Di antara banyak musisi dan pencipta lagu produktif di Indonesia, Deddy Dores termasuk di antaranya. Sejak SD, saya telah mengenal Deddy Dores, baik sebagai penyanyi maupun pencipta lagu.

Sebagai penyanyi, Deddy Dores pernah punya grup musik bernama Lipstik. Di luar grup, dia juga menghasilkan cukup banyak album solo. Sementara sebagai pencipta lagu, dia melahirkan banyak artis yang hit karena membawakan lagu-lagu ciptaannya. Dua yang sangat populer adalah Nike Ardilla dan Nafa Urbach.

Saya menyukai lagu-lagu Deddy Dores, baik yang ia nyanyikan sendiri, maupun yang dinyanyikan orang lain. Lagu-lagunya selalu memiliki karakter khas—sesuatu yang akan langsung dikenali sebagai, “Ah, itu pasti lagu Deddy Dores!” Dari genjrengan gitar, denting piano yang dimainkan, sampai bagaimana nada lagu disusun, karakter khas Deddy Dores selalu muncul di setiap lagunya—semacam sidik jari yang hanya dia yang mampu melakukan.

Terlepas lagu-lagunya sering disebut “lagu cengeng”, saya mengagumi karakter khas yang ada pada lagu-lagu yang ia ciptakan. Apalagi, di masa lalu, lirik-lirik lagunya terasa pas dengan diri dan kehidupan saya. Jadi, saya suka Deddy Dores, bahkan sampai kini masih suka mendengarkan lagu-lagunya.

Sebagai penyanyi dan pencipta lagu yang sangat produktif, kita tentu membayangkan Deddy Dores menghasilkan banyak uang dan hidup berkelimpahan. Kenyataannya memang begitu. Sayangnya, Deddy Dores juga “suka berspekulasi”, dan kebiasaan itu menghabiskan uangnya, menggerogoti kekayaannya.

Bertahun-tahun lalu, ketika Nike Ardilla masih hidup, dia diwawancarai tabloid Nova. Nike Ardilla menceritakan sosok Deddy Dores yang dikenalnya, yang telah ia anggap sebagai kakak. Hubungan mereka sangat dekat. Sebegitu dekat, hingga Nike akan tahu kalau kebetulan Deddy Dores sedang bokek karena kehabisan uang.

Terdorong keinginan membantu, Nike biasanya meminta Deddy Dores agar menciptakan lagu baru untuknya. Pikir Nike, dengan cara itu, Deddy Dores akan mendapatkan uang.

Deddy Dores pun biasanya setuju. Ia akan menciptakan lagu baru untuk Nike Ardilla, dan lagunya hit seperti biasa, dan Deddy Dores pun mendapatkan banyak uang dari hal itu.

Sayangnya, Deddy Dores tidak mampu meninggalkan kebiasaan yang terus menghabiskan uangnya. Belakangan, ketika meninggal dunia pada 2016, Deddy Dores juga meninggalkan utang dalam jumlah besar pada keluarganya. Dan orang yang “kejatuhan masalah” itu adalah salah satu anak Deddy Dores, bernama Calvin. Dialah yang akhirnya harus montang-manting berusaha melunasi utang yang ditinggalkan ayahnya.

Sebenarnya, Calvin punya saudara—kakak dan adik—yang juga anak-anak Deddy Dores. Tapi mereka, sebagaimana penuturan Calvin, “merasa nggak tahu menahu”. Karena itulah, Calvin akhirnya seperti menanggung masalah sendirian, dan dia bekerja apa saja demi bisa melunasi utang besar yang ditinggalkan alamarhum ayahnya; dari menjadi tukang cuci motor, sampai menjadi driver ojek online.

Bagaimana dengan royalti sang ayah? Sebagai musisi yang menghasilkan banyak lagu dan album, Deddy Dores memang memiliki royalti yang masih mengalir untuk keluarganya, meski ia telah meninggal. Royalti itu dibagi untuk para ahli waris Deddy Dores. Dan karena Calvin dianggap sebagai penanggung jawab utang ayahnya, jatah royalti untuk Calvin dipotong oleh pihak label, untuk mencicil utang-utang Deddy Dores.

Terkait hal itu, Calvin menuturkan, “Saya orangnya nggak pernah mau cari ribut. Ya udah, kalau memang saya yang harus dipotong sendiri (jatah royaltinya), ya udah nggak apa-apa.”

Kehidupan Calvin saat ini adalah potret ironi. Betapa anak seorang superstar harus menghadapi kenyataan hidup pahit yang ditinggalkan ayahnya sendiri, sementara anak-anak yang lain merasa tak punya tanggung jawab serupa.

Calvin dan saudara-saudaranya diikat oleh ikatan darah yang sama, karena berasal dari ayah yang sama. Dan ketika ayah mereka meninggal dengan sejumlah utang... tanggung jawab akan dibagi rata.

Dalam bayangan ideal kita, mungkin begitu. Sayangnya, tempat kita tinggal saat ini bukan dunia ideal seperti yang mungkin kita pikirkan.

Seperti yang dialami Calvin, yang sampai kini harus berusaha dan bekerja keras demi melunasi utang yang ditinggalkan ayahnya. Dia sudah mencoba menghubungi saudara-saudaranya, terkait utang yang ditinggalkan ayah mereka. Tetapi mereka hanya mengatakan, “Ya gue enggak tahu Papa utang apa, yang tahu elo.”

Kenyataannya, manusia memang tidak sama. Ada yang menganggap masalah sebagai masalah, dan ada yang menganggap masalah sebagai bukan masalah.

Sebagian orang, entah bagaimana, bisa hidup santai meski sebenarnya sedang menghadapi banyak masalah yang mestinya harus ia selesaikan. Misal punya utang cukup besar. Meski jelas utangnya menumpuk dan harus segera dibayar, entah bagaimana mereka bisa santai dan tampak tidak peduli. Seolah-olah utang itu bukan masalah. Sebegitu santai, hingga mereka masih enjoy jalan-jalan ke luar negeri, memosting foto-fotonya di Instagram, dan seolah lupa sedang banyak utang.

Sebagian orang lain adalah kebalikannya. Punya utang sedikit saja, mereka tidak bisa tidur, dan terus berpikir bagaimana melunasi utang secepatnya. Bahkan jika itu bukan utangnya sendiri, tapi utang ayahnya, dia tetap memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan. Karena, kalau dia tidak menyelesaikannya, tidak akan ada yang menyelesaikan. Seperti Calvin, misalnya.

Seperti umumnya orang lain, kita mungkin bisa ngemeng, “Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan.”

Ngemeng begitu memang mudah, karena kita tidak menempati posisi Calvin, dan tidak menghadapi masalah yang dihadapinya. Lebih dari itu, omongan semacam itu sebenarnya tidak membantu apa-apa, selain hanya membuat yang bersangkutan merasa sendirian.

Kalau kita mendatangi Calvin sekarang, dan mengatakan kepadanya, “sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan”, kira-kira apa manfaatnya bagi dia? Apakah ucapan itu membesarkan hatinya? Tidak! Apakah ucapan itu meringankan bebannya? Juga tidak! Yang ada, Calvin justru akan merasa sendirian, karena orang lain tidak ada yang peduli kepadanya, selain hanya mengatakan dengan enteng agar dia tidak usah terlalu memikirkan masalahnya.

Kita bisa enak mengatakan “sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan”, karena kita tidak menghadapi dan menganggung masalah yang menimpanya.

Dia yang menanggung utang almarhum ayahnya—bukan kita. Dia yang montang-manting kerja apa saja demi bertanggung jawab atas utang ayahnya—bukan kita. Dia yang saban hari stres memikirkan cara melunasi utang besar itu—bukan kita! Kok enak sekali ngomong pada orang yang sedang dirundung masalah, “Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan.”

Ada baiknya kita mengingat; jika sewaktu-waktu ada teman curhat tentang masalahnya, tahanlah mulut untuk tidak mengatakan omongan semacam itu. Jika memang tidak bisa membantu masalahnya, jauh lebih baik diam saja, dan dengarkan curhatnya dengan baik. Kita tidak menempati posisinya, dan kita juga tidak menghadapi masalahnya. Karenanya, kita tidak merasakan beban yang dirasakannya. Tidak usah sok tahu dengan mengatakan, “Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan.”

Setiap orang menghadapi masalah dalam kehidupan masing-masing—besar maupun kecil. Jika kita memang tidak bisa membantu meringankan masalah mereka, jangan menambah berat masalah dengan mengatakan, “Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan.”

Kalimat semacam itu sama sekali tidak membantu atau meringankan, tapi justru menjadikan mereka merasa sendirian.

Noffret’s Note: Consent

Terus terang aku iri pada cowok yang pedenya luar biasa, hingga bisa modusin banyak cewek sekaligus. Wong aku mau nyapa satu cewek saja bingungnya luar biasa.

"Consent itu penting," kata orang-orang. Yang tidak mereka pikirkan, mungkin, consent tidak hanya dari pria ke wanita, tapi juga sebaliknya. Pria harus yakin bahwa pertemuannya dengan wanita sebagai apa, sehingga terhindar dari risiko, sebagaimana wanita menghindari risiko.

Dalam hubungan pria-wanita, secara tak sadar kita menempatkan wanita sebagai sub-ordinat. Akibatnya, ketika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, pria menjadi pihak yang disalahkan. Di situlah perlunya consent, dari pria maupun wanita, agar tidak ada yang merasa dirinya korban.

Dalam suatu hubungan, pria maupun wanita tidak ingin tertipu. Pria tidak ingin dijebak, dan wanita tidak ingin dikibuli. Karena itulah perlu adanya consent sejak awal, agar masing-masing menyadari hubungan secara bertanggung jawab. Karena itu pula, consent harus dari dua pihak.

Contoh consent dalam draft kasar » http://bit.ly/2e9Wxha

Bayangkan kita bertemu dan saling kenal di dunia maya, dan saling tertarik, atau bahkan saling jatuh cinta. Apakah aku akan menemuimu? Tidak, sebelum ada consent! Karena, bisa jadi, saat bertemu di dunia nyata, kau kecewa melihatku... atau sebaliknya. Itulah pentingnya consent.

Sejujurnya, aku lebih nyaman berinteraksi dan menemui sesama pria yang kukenal di dunia maya, daripada wanita. Ketika berinteraksi dengan sesama pria, hingga saling bertemu di dunia nyata, kami sama-sama sadar hanya ingin berteman. Tapi wanita... urusannya lebih membingungkan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Desember 2017.

Cinta adalah Rangkaian Proses

Terus terang, aku heran jika ada pria dan wanita yang hanya saling kenal di dunia maya, dan saling jatuh cinta, lalu bertemu dengan perasaan sama-sama menjadi kekasih. Tentu saja itu hak mereka, tapi aku sulit melakukan yang mereka lakukan. Karena tidak adanya "proses nyata".

Cinta, dalam pikiranku, adalah "rangkaian proses". Dunia maya hanya berfungsi sebagai "saringan" untuk menemukan seseorang yang menarik kita. Tapi cinta (menurutku) harus terjadi di dunia nyata, melalui proses kebersamaan, saat dua orang berinteraksi secara nyata, di dunia nyata.

Cinta datang dari KEBERSAMAAN, bukan berasal dari KEBIASAAN. Inilah yang dikacaukan dunia maya. Hanya karena BIASA membaca blog seseorang, atau BIASA memandangi foto-foto seseorang di Instagram, kita mengartikannya cinta. Tidak, itu sekadar kesenangan atau kekaguman, bukan cinta.

Ada hal penting di dunia nyata, yang tidak bisa digantikan dunia maya. Yaitu, dunia maya bisa menciptakan KEBIASAAN, tapi tidak bisa menggantikan KEBERSAMAAN. Hanya dunia nyata yang memungkinkan dua orang menjalani KEBERSAMAAN... dan dari situlah kita bisa berharap cinta datang.

Dalam pikiranku yang mungkin naif, dunia maya hanya untuk mengekspresikan diri, mencari informasi, membaca berita, menikmati humor di timeline, mengenal dan berinteraksi dengan orang-orang lain, atau untuk membeli barang di marketplace. Bukan untuk mencari dan mendapatkan pacar.

Aku memang mengenal beberapa orang yang menjalin hubungan hingga menikah, dan keduanya aktif di dunia maya. Tapi mereka sebelumnya sudah kenal di dunia nyata. Atau, mereka kenal di dunia maya, lalu menjalin kebersamaan di dunia nyata. Tidak tiba-tiba jatuh cinta di dunia maya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Desember 2017.

Tanya-Jawab yang Sangat Mencerahkan Pikiran

"Bagaimanakah anak yang sehat dan baik itu?"

"Anak yang sehat adalah anak yang tidak sakit, dan anak yang baik adalah anak yang berbuat baik."

Benar-benar tanya-jawab yang sangat mencerahkan pikiran, dan membuatku merasa menemukan tujuan hidup yang bermakna.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Mei 2019.

Tepuk Tangan

Oh... tepuk tangan.

Jumat, 10 Januari 2020

Ujian Cinta Terbesar

“Jika cinta adalah jawaban,” kata Lily Tomlin, “bisakah kau memberiku pertanyaan?”

Ya, Lily. Bisakah kau menjawab bahwa orang menikah pasti bahagia selama-lamanya, sebagaimana akhir kisah ala Cinderella?

“Aku bicara soal cinta,” jawab Lily, “bukan pernikahan.”

Jutaan orang membayangkan pernikahan begitu indah, karena mengira sebagai sorga cinta. Berpikir bahwa segala hal bisa diselesaikan dengan menikah. Dengan sinis, Ellen Key mengingatkan, “Cinta adalah kegiatan moral tanpa pernikahan. Tapi pernikahan adalah kegiatan moral tanpa cinta.”

“Sangat tak masuk akal,” kata Bernard Shaw. “Kita menyatukan dua orang yang sedang mabuk asmara, yang sedang saling cinta dengan menggebu—dalam pengaruh nafsu yang paling gila dan sementara—dan meminta mereka untuk bersumpah agar bersama sampai ajal menjemput.”

Laura Wasser adalah pengacara yang menangani kasus-kasus peceraian paling terkenal di Amerika. Dia pernah menangani perceraian Angelina Jolie, Heidi Klum, Kim Kardashian, Ryan Reynolds, Aston Kutcher, Denise Richards, Johny Depp—daftarnya masih panjang.

Selama bertahun-tahun menjadi pengacara perceraian, yang menangani kasus suami istri—dari yang paling mudah sampai yang paling rumit—Laura Wasser tahu satu hal yang tidak akan dikatakan siapa pun kepadamu, “Kalau kau percaya kepadaku, jangan pernah menikah!”

Tim Lott, jurnalis dan kolumnis koran The Guardian, bahkan meragukan ada pernikahan yang bahagia. Dia mengatakan, “Aku bahkan curiga pada pasangan-pasangan yang sampai kini masih tetap bersama. Mereka mungkin memilih bertahan karena anak, uang, atau takut kesepian—bukan cinta.”

Sebagai bocah, aku percaya cinta mampu mendatangkan kebahagiaan. Tapi pernikahan... aku meragukan. Pernikahan bukan bahan bakar yang akan terus menyalakan bara dua manusia hingga cinta terus berkobar. Faktanya, pernikahan justru mematikan cinta, sepanas apa pun.

Karena ujian terbesar cinta bukan jarak, bukan seberat apa beban yang ditanggung, tapi waktu. Orang bisa saling jatuh cinta, saling menggebu, dengan nafsu paling membara... sampai kapan? Tentu tidak akan selamanya! Cinta akan pudar, meski perlahan. Karena ujian cinta adalah waktu.

Yang menjadi masalah, perkawinan “menabrak” konsep itu. Atas nama cinta (dan agama dan negara, tentu saja), perkawinan menginginkan dua orang selalu bersama, di bawah satu atap, sampai bertahun-tahun, hingga maut memisahkan. Padahal cinta dua insan adalah perasaan yang temporer.

Kenyataan itulah yang dari dulu membuatku sulit percaya orang bisa bahagia dalam perkawinan, karena “rumusnya” jelas salah! Ini seperti mengatakan satu tambah satu sama dengan tujuh. Kita pasti tahu itu salah. Dan kalau orang memaksamu untuk percaya, kau pasti akan tertawa.

Jadi, sampai detik ini aku masih tidak percaya pernikahan akan menjamin orang pasti bahagia. Karena yang menjadikan orang bahagia atau tidak bukan hal-hal di luar diri kita—termasuk perkawinan—tetapi hal-hal yang ada di dalam diri kita. Kesadaran, adalah salah satunya.

Maksudku, kita tidak bisa sekonyong-konyong bahagia karena menikah—bahkan umpama kita menikah karena saling jatuh cinta, dengan alasan paling ndakik-ndakik sekali pun. Karena ujian cinta yang terbesar adalah waktu, sementara perkawinan tak terbatas waktu, kecuali maut.

Di dalam konsep dan kenyataan semacam itu, kita tidak akan bisa menyelamatkan perkawinan hanya dengan cinta. Ini rumus yang jelas dan pasti, hingga iblis di neraka tidak bisa membantah, dan bidadari di surga akan menganggukkan kepala.

Satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan perkawinan—hingga abadi sampai maut memisahkan—adalah kesadaran. Kesadaran bahwa cinta bisa pudar, kapan pun waktunya. Kesadaran bahwa kita harus menjaga komitmen, perlu berkompromi dengan pasangan, dan kadang harus mengalah, dan seterusnya.

“Kesadaran” itulah yang mestinya didoktrinkan kepada orang-orang, khususnya yang belum menikah, agar tahu dan sadar bahwa pernikahan tidak semudah yang mungkin mereka bayangkan. Karena jatuh cinta itu mudah, dan menikah juga mudah. Tapi kesadaran... ia tidak dimiliki semua orang.

Kesadaran—dan hanya kesadaran—yang mampu memungkinkan dua orang hidup bersama di bawah satu atap selama bertahun-tahun, bersama badai dan ujian kehidupan, sampai maut memisahkan. Karena ujian terbesar cinta adalah waktu, dan ujian terbesar perkawinan adalah kesadaran.

Jadi berhentilah ngoceh dan membual bahwa orang menikah pasti bahagia, karena itu jelas omong kosong! Perkawinan hanyalah konsep yang dilembagakan oleh manusia—ia bukan bagian dari hukum alam. Dan manusia tidak akan bisa bahagia dengan konsep buatan yang dipaksakan semacam itu.

Yang membuat manusia bahagia atau tidak bahagia bukan menikah atau tidak menikah, karena itu hal-hal yang ada di luar dirinya—sesuatu yang bahkan bisa mereka pilih. Yang menjadikan manusia bahagia adalah hal-hal di dalam dirinya, termasuk kesadaran untuk memilih.

Cinta dan perasaan lain—termasuk benci—adalah bagian dari manusia, dan manusia adalah bagian dari alam. Kita tidak bisa melembagakannya begitu saja dengan hukum-hukum yang kita buat sendiri. Kalau kau membenci Si A, misalnya, menikah dengannya tidak akan membuatmu bahagia.

Sudah melihat yang kumaksud? Bukan menikah atau tidak menikah yang membuatmu bahagia, karena nyatanya pernikahan memang tidak menjamin siapa pun pasti bahagia. Yang membuatmu bahagia adalah kesadaran—untuk memilih, termasuk memilih menikah atau tidak, dan bahagia.

Aku tidak percaya orang bahagia dalam perkawinan semata-mata karena cinta, karena itu menyalahi hukum alam. Sesuatu yang temporer (cinta) tidak akan bisa dimasukkan dalam sesuatu yang abadi (perkawinan). Tapi aku percaya, dua orang bisa bersama selamanya, karena dan dengan kesadaran.

Jika kelak aku menikah, aku ingin melakukannya bukan karena janji sorga atau doktrin yang ndakik-ndakik. Aku akan menikah karena kesadaran. Kesadaran karena telah menemukan cinta, kesadaran ingin menghabiskan hidup bersama seseorang, kesadaran untuk membangun dan menjaga komitmen bernama keluarga, kesadaran untuk memilih.

Memilih mbakyu. Appeeuuuuuh...

Noffret’s Note: Disobedience

"Apakah ada film yang sebenarnya tidak kamu sukai, tapi kamu tonton berulang-ulang?"

Ada. Disobedience. Karena senang melihat dua mbakyu di dalamnya. #Appeuuh

Dan aku baru sadar (karena barusan searching) kalau Rachel Weisz (pemeran Mbakyu Ronit Krushka) umurnya sudah 49 tahun. Sementara Rachel McAdams (pemeran Mbakyu Esti Kuperman) umurnya sudah 40 tahun.

Lalu aku ingin menjadi bocah dalam film Malena. #Appeeuuhh

Well, sepertinya aku akan "nyambung" kalau sewaktu-waktu ngobrol dengan Harry Styles.

Harry Styles dan Pesona Para Mbakyu » https://bit.ly/2sDrdgC


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Agustus 2019.

Listrik Mati, Ikan Koi Mati

Sebagian orang bertanya-tanya, "Kenapa banyak ikan koi mati gara-gara listrik mati? Apa hubungan ikan koi dengan listrik?"

Jawaban simpelnya, karena ikan-ikan koi itu kehabisan oksigen, dan karena itulah mereka mati.

Lalu apa hubungannya dengan listrik? Jawabannya agak panjang.

Untuk bertahan hidup, koi—sebagaimana ikan lain—membutuhkan oksigen. Dalam hal ini, koi termasuk ikan yang rapuh. Pada dasarnya mereka memang mudah mati, karena beragam hal, dari kolam kotor sampai kekurangan oksigen.

Karena itu, para pemelihara koi selalu menyiapkan aerator.

Apa itu aerator? Aerator adalah mesin penghasil gelembung udara yang berfungsi menggerakkan air di kolam atau akuarium, agar air terus mengandung oksigen. Kalau kalian lihat pipa kecil di kolam/akuarium yang bikin "blukutuk-blukutuk", itulah aerator! Alat itu membutuhkan listrik!

Aerator memungkinkan air terus menerus mengandung oksigen, yang menunjang kehidupan ikan di dalamnya, wabilkhusus ikan koi. Ketika listrik mati, aerator berhenti berfungsi, dan pasokan oksigen dalam air menipis, hingga ikan-ikan koi pun mati.

Tapi kenapa ikan lain tetap hidup?

Seperti yang dibilang tadi, ikan koi pada dasarnya rapuh.

Ketika air kekurangan oksigen, ikan-ikan akan naik ke permukaan air, untuk mendapat oksigen dari udara. Begitu pula koi. Saat ikan terus menerus melakukan itu, mereka akan kelelahan. Dan koi yang rapuh pun akhirnya mati.

Jadi, foto-foto ikan koi yang mati bergelimpangan karena listrik mati—sebagaimana yang bertebaran di timeline—hampir bisa dipastikan karena kelelahan, akibat berupaya mendapat oksigen dari udara, karena oksigen terlarut dalam air kian menipis dan habis. Kita berduka untuk mereka.

Karena rapuhnya ikan koi, para pemilik/pemeliharanya pun biasanya sangat memperhatikan tempat hidup koi, dari memastikan kebersihan air, makanan, sampai pasokan oksigen lewat aerator. Peristiwa mati listrik seperti kemarin adalah masalah tak terduga, yang juga tak diharapkan.

Kalau memang koi serapuh itu, hingga mudah mati, kenapa banyak orang yang memeliharanya?

Ya namanya juga hobi!

Sekadar saran untuk menyelamatkan ikan-ikan koi saat listrik mati hingga lama seperti kemarin, agar tragedi kematian massal serupa tak terulang: Siapkan ember bocor!

Jika sewaktu-waktu listrik mati sampai lama seperti kemarin, siapkan ember bocor (ember yang berlubang/dilubangi), dan letakkan di dekat kolam ikan koi (bisa disangga kursi). Isilah ember itu dengan air kolam, dan biarkan mengalir lewat lubang ember untuk masuk ke kolam kembali.

Air yang jatuh dari ember bocor ke kolam akan menciptakan gelembung udara, sehingga pasokan oksigen dalam air tetap terjaga, dan memungkinkan ikan-ikan koi untuk bertahan hidup, sambil menunggu listrik menyala lagi.

Upaya sederhana ini bisa diibaratkan memberi napas buatan.

Yang perlu diperhatikan, gunakan air dari kolam koi—bukan air dari tempat lain, agar air di kolam tetap sama. Penggunaan air dari tempat lain akan menambah volume air, dan kolam ceper bisa luber. Sementara perubahan air secara tiba-tiba akan membuat tubuh koi mengalami shock.

Tentu saja upaya memberi "napas buatan" lewat ember bocor ini bisa melelahkan, karena kita harus terus mengisi ember dengan air kolam, agar ember bisa terus mengalirkan air, dan begitu terus menerus. Tapi tidak apa-apa, daripada ikan-ikan koi kesayangan kita sekarat hingga mati.

Lagi pula, berdasar pengalaman, "aktivitas mbuh" mengisi ember bocor itu sebenarnya bisa menyenangkan, kalau kita, well... ridho melakukannya, demi menyelamatkan makhluk hidup lain. Subhanallah...

Omong-omong, daya ingat ikan paling lama hanya 2 menit! Setelah itu, mereka lupa.

Kalau kita menolong ikan, mereka tidak akan balik menolong kita. Boro-boro menolong balik, wong ingat pertolongan kita saja tidak! Di dunia ikan, mereka yang paling genius hanya bisa mengingat paling lama 2 menit (apalagi yang tergolong bodoh). Setelah itu, mereka akan blas lupa!

Tapi namanya juga ikan... kita bisa apa? Sayangnya, ada banyak manusia yang daya ingatnya setara ikan. Dikasih tahu hari hari ini, besok sudah lupa.

PS:

Duh, mestinya tadi ocehan ini dikasih judul, dilengkapi gambar ikan koi, juga diberi kutipan, ya. Nyesel!

PS 2:

"Apa iya daya ingat ikan cuma 2 menit? Lumba-lumba itu kan cerdas banget, sampai bisa ingat wajah manusia meski sudah lama?"

Duh, lumba-lumba itu bukan ikan, Mas! Mereka mamalia! Lumba-lumba, juga paus, tidak punya insang seperti ikan, dan mereka bernapas dengan paru-paru.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Agustus 2019.

Noffret’s Note: Utang

Urusan pinjaman online makin hari kayaknya makin meresahkan, ya? Tapi kok ya tetap adaaaa aja yang berutang sama mereka.

Orang pinjam uang atau berutang biasanya karena dua alasan; karena kebutuhan mendesak, atau karena ingin bersenang-senang. Yang berutang karena kebutuhan mendesak tentu bisa dimaklumi. Tapi yang berutang untuk bersenang-senang, itu yang bikin orang lain antipati.

Dalam urusan utang, aku manut nasihat Rhoma Irama:

Walau makan sederhana, walau baju sederhana, walau serba sederhana, asal sehat jiwa raga, dan juga hutang tak punya... itulah orang yang kaya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 Juli 2019.

Hon

Oh... hon.

Jumat, 03 Januari 2020

Catatan Awal Tahun

Resolusiku tahun depan: Tidak ada resolusi.
@noffret


Setiap awal tahun, banyak orang menyusun dan merancang resolusi, atau hal-hal yang ingin dicapai dalam satu tahun mendatang. Tentu saja itu hal bagus, karena resolusi membantu kita untuk melihat skala prioritas yang ingin kita lakukan, yang ingin kita capai. Saya juga termasuk orang yang suka bikin resolusi tiap awal tahun.

Meski banyak orang suka menyusun resolusi, sayangnya tidak banyak yang mampu mewujudkan. Saya termasuk salah satunya. Waktu bikin resolusi, rasanya kita—khususnya saya—merasa pede memasukkan aneka hal yang akan dilakukan dalam setahun mendatang. Tapi sampai akhir tahun kemudian, hanya beberapa butir resolusi yang tercapai.

Optimisme memang menyenangkan, khususnya saat menyusun resolusi di awal tahun. Sayangnya, seiring perjalanan waktu, hari demi hari, optimisme itu menguap perlahan-lahan. Memasuki pertengahan tahun, saat kita cek daftar resolusi, biasanya kita mendapati masih banyak—lebih dari separo—yang belum kita lakukan atau belum kita capai. Dan saat akhir tahun tiba, kita pun sadar waktu kita terbatas. Kalau pun kita punya waktu, energi kita yang terbatas. Kalau pun kita punya waktu dan energi, kegigihan kita terbatas.

Sulitnya mewujudkan semua resolusi dalam satu tahun bisa disebabkan beberapa hal. Pertama, bisa jadi karena resolusi kita terlalu banyak, atau terlalu berat, hingga kita kedodoran dan tidak mampu melakukan/mewujudkannya semua.

Kedua, bisa jadi karena perjalanan waktu dalam setahun ternyata tidak semulus yang kita bayangkan, hingga sebagian resolusi kita pun gagal—ini hal wajar, karena kita tidak bisa menjamin hidup kita dalam setahun ke depan pasti mulus tanpa masalah atau hambatan.

Terlepas apakah kita mampu mewujudkan resolusi atau tidak, setidaknya keberadaan resolusi membantu memberi tahu bahwa kita punya kepercayaan pada diri sendiri. Kita percaya bisa melakukan atau mewujudkan sesuatu, dan karena itulah kita punya resolusi, karena berharap bisa melakukan atau mewujudkan sesuatu.

Konon, dan saya tidak yakin ini benar atau tidak, resolusi atau impian hidup seseorang akan semakin “realistis” seiring pertambahan usia.

Ketika masih remaja, angan bisa panjang sekali, dan impian bisa tinggi sekali. Wajar saja, karena para remaja masih memiliki energi berlimpah, waktu yang tak terbatas—mereka bisa melakukan apa pun, atau setidaknya begitu.

Selain energi dan waktu yang tak terbatas, tubuh mereka juga digerojok hormon kemudaan—kalian paham yang saya maksud—dalam jumlah berlimpah. Hal itu menjadikan mereka begitu bertenaga, tapi juga naif. Kenaifan itu pula yang menjadikan mereka yakin saat menyusun impian-impian, termasuk dalam hal resolusi, yang kadang tak masuk akal—jika dilihat dari sudut pandang orang dewasa atau orang tua.

Tapi ya tidak apa-apa, namanya juga masih remaja. Kenyataannya, kebanyakan kita dulu juga begitu.

Seiring waktu, ketika usia makin bertambah, kenaifan seseorang—yang biasanya tampak saat remaja—akan terkikis perlahan-lahan, dan berganti dengan kedewasaan serta kematangan berpikir. Setidaknya, sebagian besar orang begitu.

Kematangan berpikir saat dewasa pula, yang menjadikan resolusi atau impian hidup seseorang makin “wajar”. Ini tidak bisa dilepaskan dari kenyataan yang dihadapi setiap orang dewasa.

Bagaimana pun, kehidupan orang dewasa berbeda dengan kehidupan remaja. Ketika masih remaja, energi kita nyaris tak terbatas, dan waktu yang kita miliki juga nyaris tak terbatas. Kita belum punya tanggung jawab yang besar, karena—rata-rata—dan biasanya, para remaja masih tergantung pada orang tua. Jadi, hidup seorang remaja adalah kehidupan miliknya sendiri.

Orang dewasa tentu tidak bisa lagi seperti itu. Saat dewasa, kita mulai mengenal tanggung jawab. Dari tanggung jawab pada pekerjaan, tanggung jawab sosial, hingga tanggung jawab keluarga. Bagi yang menikah, keluarga yang dimaksud tentu pasangan dan anak-anak. Sementara bagi yang lajang, keluarga yang dimaksud bisa orang tua dan kakak-adiknya.

Tumpukan tanggung jawab itu biasanya menjadikan waktu kita berkurang drastis. Kita harus membagi waktu untuk urusan kerja, untuk urusan sosial, untuk keluarga, dan menyisakan waktu untuk diri sendiri.

Saat menghadapi tumpukan tanggung jawab dan waktu yang terbatas, mau tak mau kita akan menyesuaikan diri dengan hal itu, dan resolusi atau impian kita biasanya juga ikut menyesuaikan. Di masa remaja, bisa jadi, punya seratus resolusi dalam setahun. Di masa dewasa, bisa jadi cuma sepuluh resolusi. Atau lebih sedikit.

Masalah orang dewasa biasanya bukan hanya waktu yang terbatas, tapi juga energi yang kian terbatas. Kita yang saat ini sudah berusia 30-an, misalnya, pasti tahu atau bisa merasakan perbedaan energi yang kita miliki dibanding waktu masih remaja, atau saat berusia 20-an. Dulu kita mungkin asing dengan istilah “lelah”, karena tubuh selalu berenergi. Tapi ketika usia makin bertambah, lelah mulai terasa akrab.

Saya dan teman-teman juga mengalami hal semacam itu. Kalau kami ketemu, istilah “lelah” biasanya akan terdengar. Ada yang mengeluh, “Kenapa akhir-akhir ini aku jadi mudah lelah, ya?” Biasanya ada yang menyahut sambil cengengesan, “Ya bukan cuma kamu, sih. Orang dewasa sedunia juga mudah lelah!”

Belum lama, saya ngobrol dengan seorang teman, dan dia juga mengeluhkan hal serupa. “Akhir-akhir ini, aku merasa mudah lelah,” ujarnya dengan nada khawatir. “Apakah kamu juga begitu?”

Saya menjawab, “Jika dibanding saat remaja, ya... aku juga mudah lelah.”

“Tapi kamu tampak selalu bugar.”

“Mungkin karena aku bocah,” jawab saya sambil nyengir.

Dia ikut nyengir, “Jawabane mesti ora ilmiah!”

Lalu dia mengeluhkan berat badannya yang agak berlebih, dan perutnya yang membuncit. “Mungkin aku mudah lelah, karena berat badanku yang berlebih, ya? Perutku juga jadi buncit gini. Padahal aku sudah mengurangi makan.”

Saya menyahut serius, “Saat usia kita memasuki 30, otot-otot perut kita akan mengendur—tidak sekuat semula. Karenanya, kalau tidak mengendalikan pola makan sejak dini, perut akan membuncit ketika dewasa.”

Dia seketika ngamuk, “Kenapa kamu tidak ngomong dari dulu?”

Saya tertawa. “Kalau pun aku ngomong dari dulu, apakah kamu mau mendengarkan dan percaya?”

Sayangnya, yang berubah ketika kita dewasa bukan hanya otot perut yang mengendur—hingga perut mudah membuncit—tapi juga makin lemahnya otot-otot yang lain, dan itu berdampak pada tubuh yang kian rapuh. Ayah teman-teman saya bahkan mengatakan, saat usia makin menua, tubuh seperti kehilangan energi. “Aku tidak tahu ke mana energi yang dulu pernah kumiliki,” kira-kira begitu yang mereka katakan.

Saat mereka mengatakan hal itu, saya percaya. Karena saya menyaksikan kondisi mereka. Saya percaya, dulu mereka sekuat saya, ketika masih muda, dengan energi sama besar yang sekarang saya miliki.

Di jalanan, saya mengenal mantan preman yang sekarang berusia 60-an. Dulu, zaman saya masih kecil, dia dikenal sebagai jagoan yang brutal dan tidak kenal takut. Sekarang, dia tampak seperti “orang tua biasa”. Waktu ngobrol dengan saya, dia mengatakan dengan jujur, “Aku masih punya keberanian seperti yang dulu kumiliki. Tapi aku tidak lagi memiliki kekuatan yang dulu kumiliki. Sekarang, jangankan bertarung seperti dulu, disenggol sedikit saja aku bisa jatuh.”

Kenyataan semacam itulah, yang tampaknya menjadikan orang makin realistis seiring bertambah usia. Tidak lagi naif seperti saat remaja. Tidak lagi menggebu ketika masih muda. Meski pahit, kenyataannya harapan kebanyakan kita makin sedikit, seiring bertambah tua.

Betapa mengerikannya waktu, kalau dipikir-pikir. Ia ada, tapi tak terlihat. Kita hanya bisa merabanya lewat angka-angka bernama kalender, usia, pergantian hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun-tahun yang berjalan. Tak terasa. Baru kemarin tahun baru, sekarang sudah tahun baru lagi. Yang kemarin masih ABG, sekarang sudah dewasa. Yang kemarin masih anak-anak, sekarang sudah punya anak. Nabilah, yang kemarin yang masih unyu, sekarang mulai menampakkan tanda-tanda mbakyu.

Semuanya berubah... meski saya masih seorang bocah.

Betapa mengerikannya waktu, kalau dipikir-pikir. Dan, lebih mengerikan lagi, jika kita tidak juga menyadari.

So, sudah menyusun resolusi untuk tahun ini?

Resolusi Bersama Mbakyu

Menyambut tahun baru, seorang bocah berkata dengan wajah berbinar, “Aku punya resolusi hebat tahun ini!”

“Ya?” saya tertarik. “Apa resolusimu?”

“Aku ingin minum jamu bersama mbakyu.”

Saya mengerutkan kening. “Kok aneh sekali resolusimu. Memangnya jamu apa yang ingin kamu minum bersama mbakyu?”

“Jamu kuat perkasa.”

....
....

Tiba-tiba saya ingin jadi Captain America.

Captain America adalah Bocah

Captain America adalah bocah.

Sayang, dia memilih menjadi tua.
 

Membuka Halaman Blog Sebelah

Kenapa tidak lagi membuka halaman blog sebelah? Malu, karena nama dan kejahatanmu muncul di halaman-halaman yang kamu buka?

Ayo buka lagi halaman-halaman di blog sebelah, seperti yang dulu kamu lakukan. Setiap hari kamu selalu membuka halaman-halaman di sana, kan? Ayo dibuka-buka lagi, biar kamu lebih cepat terkenal. Hahaha.

Kamu mencari masalah, dan kamu mendapatkannya.

Umbrp

Oh... umbrp.

 
;