Jumat, 03 Januari 2020

Catatan Awal Tahun

Resolusiku tahun depan: Tidak ada resolusi.
@noffret


Setiap awal tahun, banyak orang menyusun dan merancang resolusi, atau hal-hal yang ingin dicapai dalam satu tahun mendatang. Tentu saja itu hal bagus, karena resolusi membantu kita untuk melihat skala prioritas yang ingin kita lakukan, yang ingin kita capai. Saya juga termasuk orang yang suka bikin resolusi tiap awal tahun.

Meski banyak orang suka menyusun resolusi, sayangnya tidak banyak yang mampu mewujudkan. Saya termasuk salah satunya. Waktu bikin resolusi, rasanya kita—khususnya saya—merasa pede memasukkan aneka hal yang akan dilakukan dalam setahun mendatang. Tapi sampai akhir tahun kemudian, hanya beberapa butir resolusi yang tercapai.

Optimisme memang menyenangkan, khususnya saat menyusun resolusi di awal tahun. Sayangnya, seiring perjalanan waktu, hari demi hari, optimisme itu menguap perlahan-lahan. Memasuki pertengahan tahun, saat kita cek daftar resolusi, biasanya kita mendapati masih banyak—lebih dari separo—yang belum kita lakukan atau belum kita capai. Dan saat akhir tahun tiba, kita pun sadar waktu kita terbatas. Kalau pun kita punya waktu, energi kita yang terbatas. Kalau pun kita punya waktu dan energi, kegigihan kita terbatas.

Sulitnya mewujudkan semua resolusi dalam satu tahun bisa disebabkan beberapa hal. Pertama, bisa jadi karena resolusi kita terlalu banyak, atau terlalu berat, hingga kita kedodoran dan tidak mampu melakukan/mewujudkannya semua.

Kedua, bisa jadi karena perjalanan waktu dalam setahun ternyata tidak semulus yang kita bayangkan, hingga sebagian resolusi kita pun gagal—ini hal wajar, karena kita tidak bisa menjamin hidup kita dalam setahun ke depan pasti mulus tanpa masalah atau hambatan.

Terlepas apakah kita mampu mewujudkan resolusi atau tidak, setidaknya keberadaan resolusi membantu memberi tahu bahwa kita punya kepercayaan pada diri sendiri. Kita percaya bisa melakukan atau mewujudkan sesuatu, dan karena itulah kita punya resolusi, karena berharap bisa melakukan atau mewujudkan sesuatu.

Konon, dan saya tidak yakin ini benar atau tidak, resolusi atau impian hidup seseorang akan semakin “realistis” seiring pertambahan usia.

Ketika masih remaja, angan bisa panjang sekali, dan impian bisa tinggi sekali. Wajar saja, karena para remaja masih memiliki energi berlimpah, waktu yang tak terbatas—mereka bisa melakukan apa pun, atau setidaknya begitu.

Selain energi dan waktu yang tak terbatas, tubuh mereka juga digerojok hormon kemudaan—kalian paham yang saya maksud—dalam jumlah berlimpah. Hal itu menjadikan mereka begitu bertenaga, tapi juga naif. Kenaifan itu pula yang menjadikan mereka yakin saat menyusun impian-impian, termasuk dalam hal resolusi, yang kadang tak masuk akal—jika dilihat dari sudut pandang orang dewasa atau orang tua.

Tapi ya tidak apa-apa, namanya juga masih remaja. Kenyataannya, kebanyakan kita dulu juga begitu.

Seiring waktu, ketika usia makin bertambah, kenaifan seseorang—yang biasanya tampak saat remaja—akan terkikis perlahan-lahan, dan berganti dengan kedewasaan serta kematangan berpikir. Setidaknya, sebagian besar orang begitu.

Kematangan berpikir saat dewasa pula, yang menjadikan resolusi atau impian hidup seseorang makin “wajar”. Ini tidak bisa dilepaskan dari kenyataan yang dihadapi setiap orang dewasa.

Bagaimana pun, kehidupan orang dewasa berbeda dengan kehidupan remaja. Ketika masih remaja, energi kita nyaris tak terbatas, dan waktu yang kita miliki juga nyaris tak terbatas. Kita belum punya tanggung jawab yang besar, karena—rata-rata—dan biasanya, para remaja masih tergantung pada orang tua. Jadi, hidup seorang remaja adalah kehidupan miliknya sendiri.

Orang dewasa tentu tidak bisa lagi seperti itu. Saat dewasa, kita mulai mengenal tanggung jawab. Dari tanggung jawab pada pekerjaan, tanggung jawab sosial, hingga tanggung jawab keluarga. Bagi yang menikah, keluarga yang dimaksud tentu pasangan dan anak-anak. Sementara bagi yang lajang, keluarga yang dimaksud bisa orang tua dan kakak-adiknya.

Tumpukan tanggung jawab itu biasanya menjadikan waktu kita berkurang drastis. Kita harus membagi waktu untuk urusan kerja, untuk urusan sosial, untuk keluarga, dan menyisakan waktu untuk diri sendiri.

Saat menghadapi tumpukan tanggung jawab dan waktu yang terbatas, mau tak mau kita akan menyesuaikan diri dengan hal itu, dan resolusi atau impian kita biasanya juga ikut menyesuaikan. Di masa remaja, bisa jadi, punya seratus resolusi dalam setahun. Di masa dewasa, bisa jadi cuma sepuluh resolusi. Atau lebih sedikit.

Masalah orang dewasa biasanya bukan hanya waktu yang terbatas, tapi juga energi yang kian terbatas. Kita yang saat ini sudah berusia 30-an, misalnya, pasti tahu atau bisa merasakan perbedaan energi yang kita miliki dibanding waktu masih remaja, atau saat berusia 20-an. Dulu kita mungkin asing dengan istilah “lelah”, karena tubuh selalu berenergi. Tapi ketika usia makin bertambah, lelah mulai terasa akrab.

Saya dan teman-teman juga mengalami hal semacam itu. Kalau kami ketemu, istilah “lelah” biasanya akan terdengar. Ada yang mengeluh, “Kenapa akhir-akhir ini aku jadi mudah lelah, ya?” Biasanya ada yang menyahut sambil cengengesan, “Ya bukan cuma kamu, sih. Orang dewasa sedunia juga mudah lelah!”

Belum lama, saya ngobrol dengan seorang teman, dan dia juga mengeluhkan hal serupa. “Akhir-akhir ini, aku merasa mudah lelah,” ujarnya dengan nada khawatir. “Apakah kamu juga begitu?”

Saya menjawab, “Jika dibanding saat remaja, ya... aku juga mudah lelah.”

“Tapi kamu tampak selalu bugar.”

“Mungkin karena aku bocah,” jawab saya sambil nyengir.

Dia ikut nyengir, “Jawabane mesti ora ilmiah!”

Lalu dia mengeluhkan berat badannya yang agak berlebih, dan perutnya yang membuncit. “Mungkin aku mudah lelah, karena berat badanku yang berlebih, ya? Perutku juga jadi buncit gini. Padahal aku sudah mengurangi makan.”

Saya menyahut serius, “Saat usia kita memasuki 30, otot-otot perut kita akan mengendur—tidak sekuat semula. Karenanya, kalau tidak mengendalikan pola makan sejak dini, perut akan membuncit ketika dewasa.”

Dia seketika ngamuk, “Kenapa kamu tidak ngomong dari dulu?”

Saya tertawa. “Kalau pun aku ngomong dari dulu, apakah kamu mau mendengarkan dan percaya?”

Sayangnya, yang berubah ketika kita dewasa bukan hanya otot perut yang mengendur—hingga perut mudah membuncit—tapi juga makin lemahnya otot-otot yang lain, dan itu berdampak pada tubuh yang kian rapuh. Ayah teman-teman saya bahkan mengatakan, saat usia makin menua, tubuh seperti kehilangan energi. “Aku tidak tahu ke mana energi yang dulu pernah kumiliki,” kira-kira begitu yang mereka katakan.

Saat mereka mengatakan hal itu, saya percaya. Karena saya menyaksikan kondisi mereka. Saya percaya, dulu mereka sekuat saya, ketika masih muda, dengan energi sama besar yang sekarang saya miliki.

Di jalanan, saya mengenal mantan preman yang sekarang berusia 60-an. Dulu, zaman saya masih kecil, dia dikenal sebagai jagoan yang brutal dan tidak kenal takut. Sekarang, dia tampak seperti “orang tua biasa”. Waktu ngobrol dengan saya, dia mengatakan dengan jujur, “Aku masih punya keberanian seperti yang dulu kumiliki. Tapi aku tidak lagi memiliki kekuatan yang dulu kumiliki. Sekarang, jangankan bertarung seperti dulu, disenggol sedikit saja aku bisa jatuh.”

Kenyataan semacam itulah, yang tampaknya menjadikan orang makin realistis seiring bertambah usia. Tidak lagi naif seperti saat remaja. Tidak lagi menggebu ketika masih muda. Meski pahit, kenyataannya harapan kebanyakan kita makin sedikit, seiring bertambah tua.

Betapa mengerikannya waktu, kalau dipikir-pikir. Ia ada, tapi tak terlihat. Kita hanya bisa merabanya lewat angka-angka bernama kalender, usia, pergantian hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun-tahun yang berjalan. Tak terasa. Baru kemarin tahun baru, sekarang sudah tahun baru lagi. Yang kemarin masih ABG, sekarang sudah dewasa. Yang kemarin masih anak-anak, sekarang sudah punya anak. Nabilah, yang kemarin yang masih unyu, sekarang mulai menampakkan tanda-tanda mbakyu.

Semuanya berubah... meski saya masih seorang bocah.

Betapa mengerikannya waktu, kalau dipikir-pikir. Dan, lebih mengerikan lagi, jika kita tidak juga menyadari.

So, sudah menyusun resolusi untuk tahun ini?

 
;