Jumat, 29 November 2019

Selamat Ulang Tahun, Karin Novilda

Kayiiiiin, Kayin. Senang melihatmu kembali ceria.
@noffret


Kapan pertama kali saya mengenalnya? Mungkin sama seperti orang-orang lain, ketika dia menangis karena putus dengan pacarnya, dan video yang merekam kisah itu viral. Seperti orang-orang lain, saya pun menonton video itu di YouTube, dan saat itulah saya pertama kali mengenal Karin Novilda; perempuan belasan tahun yang kelak akan sangat fenomenal di Indonesia, dengan nama Awkarin.

Mungkin video itu akan berlalu begitu saja dari ingatan, kalau saja tidak ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Ketika menyaksikan Karin menangis di video, saya tahu tangisan itu terjadi secara alami, atau secara spontan. Dan dalam spontanitas itu, bersama tangisnya yang pilu, Karin mengatakan beberapa hal yang kelak sangat membekas dalam memori saya.

“Dia perempuan yang baik,” batin saya waktu itu.

Impresi itu pula yang kemudian membuat saya penasaran ingin melihat video-videonya yang lain, yang mudah ditemukan di YouTube. Saya menemukan beberapa video yang membuat saya tersenyum sendiri selama menonton—itu video-video yang dibuat jauh-jauh hari sebelum Karin terkenal seperti sekarang.

Ada video saat dia menunggu kedatangan pacarnya—lalu dia iseng joget-joget di kamar—dan membuat saya cekikikan, ada pula video saat dia bermobil bersama beberapa temannya, dan berteriak, “Kuontoooool!” Benar-benar khas perempuan belasan tahun.

Ketertarikan saya menonton video-video Awkarin, karena video-video itu mampu membuat saya tersenyum dan terhibur. Mungkin sama seperti orang-orang lain yang menggemari video Awkarin di YouTube. Saya selalu senang saat melihat Awkarin tertawa. Menikmati celotehnya, mendengar tawanya yang lepas, seperti terapi bagi pikiran saya agar rileks sejenak.

Jadi, saya pun senang menonton video-video Awkarin di YouTube. Belakangan, seiring waktu, saya menyadari bahwa saya telah menyaksikan metamorfosis seorang gadis remaja yang nangis-nangis karena putus dengan pacarnya sekian tahun lalu, menjadi sosok perempuan yang kuat dan berpengaruh.

Seiring sosok dan namanya kian populer, Awkarin terus bersinggungan dengan kontroversi. Dari penampilannya yang dinilai “tidak sesuai budaya ketimuran”, gaya hidupnya yang dianggap “terlalu bebas”, sampai proklamasinya yang terang-terangan, “Kalian semua suci, aku penuh dosa.” Persekutuannya dengan Young Lex, waktu itu, seperti menguatkan image-nya yang “bad”.

Seiring dengan itu, saya membaca dan menonton wawancara-wawancara Karin dengan berbagai media, dan saya mendapati dia sangat cerdas. Dia bukan perempuan tolol yang tidak tahu apa yang dilakukannya—dia tahu. Dia tahu apa yang dilakukannya, dan dia memang sengaja melakukannya!

Lalu, suatu hari, Awkarin kembali bermetamorfosis, meninggalkan dirinya yang lama (yang dianggap buruk), menjadi dirinya yang baru (yang lebih baik). Dan dia benar-benar melakukannya. Bersama tim Sekolah Relawan, dia mendatangi lokasi bencana di Palu, mengumpulkan sumbangan lewat KitaBisa, membawakan bantuan, dan menghasilkan video yang mampu menyentuh dan mempengaruhi nurani penontonnya.

Saya ingin mengakui, bahwa dalam video itulah saya menyaksikan sosok Awkarin yang tercantik—jauh lebih cantik dibanding penampilannya di foto/video lain. Sejak itu pula, Awkarin tidak hanya menjadi selebgram dan seleb YouTube, tapi juga aktivis sosial dan kemanusiaan.

Lalu segalanya seperti berlangsung dengan cepat. Awkarin seperti ada di mana-mana, tidak hanya di dunia maya, tapi juga di dunia nyata. Dia ada di catwalk, di lokasi bencana, menyanyi di panggung, berbicara di hadapan mahasiswa di kampus, di tengah para penggemarnya, juga ada di tengah lautan manusia saat demonstrasi tempo hari. Dia selebritas media sosial, influencer, penyanyi, pengusaha, CEO, aktivis sosial, sebut lainnya.

Yang paling mengagumkan dari semua itu, dia membangun semuanya semata-mata dengan personalitasnya. Awkarin sangat terkenal bukan karena main film yang disutradarai orang lain, bukan karena menjadi bintang iklan yang diproduseri orang lain, bukan karena melakukan hal-hal yang digerakkan atau dikendalikan orang lain. Dia meraih popularitas dan kesuksesan, dengan dan melalui dirinya sendiri.

Bagi saya, itu yang membedakan Awkarin dengan kebanyakan selebritas lain, khususnya di Indonesia. Dan untuk ukuran perempuan berusia 20 tahun, dia telah membangun pengaruh yang sangat besar, sekaligus melakukan pencapaian yang sulit ditandingi orang lain. Karenanya, kalau sewaktu-waktu dia kadang nakal dan arogan, saya pikir itu manusiawi—kita tidak bisa mengharapkan perempuan 20 tahun selalu bersikap seperti nabi.

Hal lain yang membuat saya makin tertarik pada Awkarin, dia satu-satunya wanita di Indonesia yang tampil percaya diri dengan bikini, sekaligus mampu tampil elegan saat berjilbab! Dan tidak ada orang yang meributkannya!

Karena itulah, saya tiba pada satu kesimpulan penting, “Aku jatuh cinta pada perempuan ini!”

Dan bagaimana tidak? Awkarin adalah perempuan yang lengkap, dengan kecantikan, kecerdasan, pesona, bahkan dengan kenakalan sekaligus kembakyuan—kalau boleh disebut begitu. Bahkan mendengar suaranya yang serak-serak lembut saja, saya sudah senang.

Tetapi, tentu saja, saya cukup tahu diri terkait hal-hal semacam itu. Karenanya, kalau mungkin di antara kalian ada yang mengira saya berharap menjadi pacar Awkarin, kalian keliru! Saya tidak punya keinginan menjadi pacar Awkarin! Bahkan umpama Awkarin bersedia menjadi pacar saya, tetap saja saya tidak akan bersedia. Saya akan menyarankan kepadanya agar mencari laki-laki lain yang lebih baik—dia layak mendapatkannya.

Bagi saya, jatuh cinta kepadanya sudah cukup, dan saya tidak mengharap apa pun, selain—tentu saja—berharap dia mendapat yang terbaik.

Karenanya, hari ini, saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Bersama doa dan harapan yang baik untuknya. Semoga panjang umur, dan selalu dikaruniai kesehatan, agar bisa melakukan hal-hal baik yang ingin dilakukan, agar bisa mencapai impian-impian baik yang diinginkan.

Selamat ulang tahun, Karin Novilda.

Tandasnya

Oh... tandasnya.

Minggu, 24 November 2019

Lelaki Tua dan Bocah

Ada orang tua berjiwa muda,
aku orang muda berjiwa bocah.
@noffret


Seharusnya saya tidur lebih lama, tapi pagi itu telah terbangun, ketika matahari baru saja terbit. Usai mandi dan melakukan beberapa hal yang perlu dilakukan, saya menuju tempat sarapan. Waktu itu pukul 8.00 pagi, dan saya punya janji dengan seseorang pukul 11.00. Artinya ada tiga jam yang kosong menuju waktu pertemuan.

Usai sarapan, saya mendekati seorang pelayan, dan berkata, “Saya ada janji pukul sebelas, dan saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk menunggu waktu pertemuan. Anda bisa menyarankan tempat yang bagus untuk saya kunjungi?”

Dia menjawab ramah, “Sekitar dua ratus meter dari sini, ada taman yang asri. Mungkin Anda ingin menikmati pemandangan dan udara segar sambil duduk santai?”

Saya mengangguk. “Perfect!”

Berjalan kaki dengan santai, saya menuju ke taman yang dimaksud. Jalanan tidak terlalu ramai, karena waktu itu hari libur. Saya terus melangkah di trotoar, seiring toko-toko yang mulai buka.

Sesaat kemudian, saya sudah sampai di taman yang dimaksud pelayan tadi. Saya pasti tidak akan tahu di sana ada taman, kalau saja tidak diberi tahu. Tidak ada papan petunjuk apa pun di bagian gerbang, selain hanya dua pilar besar yang tampak digerogoti waktu. Tidak ada portal, tidak ada penjaga, tidak ada apa pun.

Saya melangkah masuk, dan seketika suasana perkotaan seperti lenyap. Sekitar sepuluh langkah memasuki taman, saya disambut pohon-pohon besar di kanan kiri, yang memberikan suasana asri. Semakin dalam saya masuk, saya juga mendapati tempat-tempat duduk yang tampak nyaman. Sepertinya ini taman untuk rekreasi keluarga, pikir saya.

Semakin dalam saya masuk, suasana semakin asri. Pohon-pohon besar di sana-sini memberikan suasana adem. Di tempat parkir, tampak jejeran mobil—mungkin milik orang-orang yang datang—dan beberapa penjaga terlihat duduk-duduk santai sambil merokok. Sementara di bagian lebih dalam tampak orang-orang yang sedang asyik menikmati suasana taman. Suara-suara mereka tidak terlalu terdengar dari tempat saya berada.

Merasakan kaki mulai lelah, saya memutuskan untuk duduk di salah satu kursi yang ada di sana—sebuah kursi panjang berwarna putih yang nyaman—tidak jauh dari tempat parkir. Saya duduk dengan nyaman, merasakan adem yang sama nyaman, lalu menyulut rokok.

Selama beberapa menit, saya duduk dengan tenang, menikmati keheningan yang sangat nyaman. Angin berembus perlahan, menyejukkan, menenangkan. Setiap kota seharusnya memiliki taman seperti ini, pikir saya.

Rokok saya tinggal setengah, ketika sebuah Prius hitam memasuki lokasi parkir, dan berhenti. Sebuah keluarga turun dari mobil, dengan suasana yang jelas penuh kegembiraan. Sepertinya mereka sebuah keluarga yang utuh—orang tua, anak-anak, serta para cucu. Ada sepasang pria-wanita lanjut usia, sepasang pria-wanita yang lebih muda, serta dua anak kecil. Mungkin mereka ingin menikmati suasana taman, dan kenyataannya mereka segera menjauh dari mobil untuk memasuki kawasan taman di bagian dalam.

Tapi salah satu dari mereka melihat saya duduk sendirian di kursi, dan terdengar berkata, “Biar saya duduk-duduk di sana saja.” Lalu dia melangkah mendekati tempat saya berada.

Laki-laki itu mungkin berusia 60-an, berambut kelabu, paling tua di antara yang lain, dan dia benar-benar mendekati tempat saya duduk, melangkah dengan perlahan. Dengan senyum ramah yang menyenangkan, dia menyapa, “Sendirian?”

Saya membalas keramahannya, “Seperti yang Anda lihat.”

Dia lalu duduk di kursi samping saya, dan tampak santai. “Keluarga saya sering ke sini,” ujarnya, “dan saya sering kelelahan kalau menemani mereka.”

“Anda sepertinya memiliki keluarga yang menyenangkan.”

“Harta saya yang paling berharga,” sahutnya. “Setelah setua ini, saya tahu, merekalah yang paling penting bagi hidup saya.”

“Anda orang beruntung, kalau begitu.”

Kami pun lalu bercakap-cakap santai, dan saya mendapat kesan dia orang berpendidikan. Dia santun, tapi bisa menjelaskan maksudnya dengan baik, tanpa membosankan lawan bicara. Seiring percakapan, rokok saya makin habis, dan saya membuangnya ke tempat sampah di dekat tempat duduk kami.

“Berapa usiamu, Nak?” dia bertanya.

Saya tersenyum. “Berapa, menurut Anda?”

“Ah... tiga puluh tahun?”

“Sekitar itu.”

Dia tersenyum puas, lalu berkata, “Saya telah menjalani hidup, jauh lebih lama darimu. Usia saya sekarang enam puluh delapan tahun. Kau tahu apa yang saya miliki, yang belum kaumiliki?”

Saya menjawab perlahan, “Kebijaksanaan seorang pria tua?”

“Kau mengatakannya dengan baik.” Dia terkekeh dengan nada menyenangkan. “Saya pernah muda, seusiamu, dan pikiran saya di masa itu penuh hal-hal besar, dari membangun kehidupan pribadi sampai membangun dunia yang saya inginkan. Tetapi, seiring usia yang makin menua, semua keinginan itu sirna. Saat tubuh makin tua dan rapuh, yang saya inginkan hanya tetap sehat, dan menjalani sisa hidup dengan baik.”

“Maafkan saya. Bagaimana rasanya menjadi tua?”

“Mungkin tidak seburuk yang kaubayangkan. Tapi jelas ada banyak hal dari masa muda yang akan hilang saat usiamu menua. Kekuatan fisikmu menghilang—tulang-tulangmu, gigimu, bahkan jari-jarimu—seperti mesin tua yang kelelahan. Karena itulah, seperti yang saya katakan tadi, yang diharapkan orang tua seperti saya hanya tetap sehat, agar dapat menjalani sisa hidup dengan baik.”

“Dan Anda sepertinya mendapatkan yang Anda inginkan. Anda tampak sehat, dan Anda memiliki keluarga yang sempurna.”

Dia mengangguk. “Anak sulung saya, yang tadi mungkin kaulihat, dia seorang dokter. Begitu pula istrinya. Mereka merawat kami—istri dan saya—dengan baik, dan kami benar-benar beruntung hingga bisa menjalani kehidupan tenteram sampai setua sekarang. Karenanya, kadang saya membayangkan, bagaimana dengan orang-orang lain yang mungkin tidak seberuntung kami? Maksud saya, ada orang-orang yang tidak seberuntung keluarga kami—mereka hidup terpisah-pisah, berjauhan, dengan masalah dan kesibukan sendiri-sendiri. Saya kadang mendapati ada laki-laki setua saya yang masih harus bekerja keras. Hidup tampaknya tidak adil, eh?”

Saya mencoba tersenyum. “Hidup tampaknya tidak dibuat untuk adil.”

“Bagaimana denganmu, Nak? Sepertinya kau tidak menikah?”

“Saya belum menikah,” saya menjawab. “Ada banyak hal yang harus saya kerjakan, dan saya pikir pernikahan akan menghambat langkah saya.”

Dia tersenyum menggoda, “Membangun dunia yang lebih baik?”

“Something like that.”

Dia lalu berkata dengan serius, “Saya tidak ingin berceramah yang akan membuatmu bosan. Saya hanya bisa menyarankan, kejarlah apa pun yang ingin kau raih. Bangunlah dunia seperti yang kauinginkan. Saya pernah mengimpikan hal sama, tapi saya gagal. Mungkin kau lebih beruntung dari saya. Kau masih muda, waktumu masih banyak, dan kau punya tenaga untuk mewujudkannya. Kelak, setelah kau setua saya, semua keinginan itu akan lenyap tanpa bekas, dan kau akan lebih sering menyesali hal-hal yang tidak kaulakukan, daripada hal-hal yang kaulakukan.”

Percakapan kami terhenti sejenak, ketika seorang pria mendatangi tempat duduk kami—dia anak lelaki tua yang bercakap-cakap dengan saya.

Pria itu mungkin sedikit lebih tua dari saya. Dia berkata kepada saya dengan nada ramah yang menyenangkan, mirip ayahnya, “Terima kasih telah menemani ayah saya.”

Saya menjawab keramahannya, “Sebenarnya, ayah Anda yang telah menemani saya.”

Dia lalu berkata kepada ayahnya, menawari apakah ingin ikut ke dalam bersama keluarga yang lain, namun si ayah menolak, dan memutuskan untuk tetap bersama saya.

Kemudian dia kembali berkata pada saya, “Sepertinya ayah saya menemukan teman bercakap yang menyenangkan. Saya harap Anda tidak bosan.”

“Sebaliknya,” saya menjawab, “saya sangat menikmati.”

Dia pun berlalu, dan kembali ke tempat keluarganya yang lain.

Saya berkata pada lelaki tua di samping saya, “Benar-benar cermin Anda.”

Dia terkekeh. “Keajaiban penciptaan, eh?” ujarnya. “Dia memang benar-benar mirip saya, dan saya masih sering takjub saat menyadari bagaimana dia tersenyum, berbicara, sampai menggerakkan tangan, dengan gaya persis seperti saya.”

“Bagaimana rasanya memiliki anak seperti itu? Maksud saya, apa yang Anda rasakan menyaksikan sosok yang benar-benar mirip Anda, dengan sikap, kebiasaan, dan keramahan yang sama?”

“Tentu saja saya bangga, dan bersyukur.” Dia terdiam sesaat, lalu melanjutkan, “Orang tua cenderung membanggakan anaknya, dan bisa jadi kau akan bosan. Tapi biar saya katakan. Saya bersyukur telah berusaha menjadi pribadi yang baik, karena ternyata hal itu menurun pada anak yang saya miliki. Saat kau punya anak, kelak, kau akan mendapati anakmu tidak hanya akan mewarisi ciri fisik dan kebiasaanmu, tapi juga sifat, kepribadian, karaktermu. Kau akan melihat kebaikanmu pada sosok anakmu, sebagaimana—mungkin—kau juga akan melihat keburukanmu pada sosok anakmu.”

“Anda membuat saya khawatir punya anak.”

Dia terkekeh. “Tentu saja kau tidak seburuk yang kaubayangkan—kalau itu yang kaumaksud.”

Percakapan kami masih panjang, dan menyenangkan.

Ketika kemudian kami berpisah, saya merasa telah mengenalnya bertahun-tahun, meski saya tetap tidak tahu siapa namanya, sebagaimana dia tidak tahu siapa saya.

Pelajaran Dasar Feminisme

Ada gejala kesalahpahaman akhir-akhir ini, terkait wanita dan kemampuan memasak. Sebagian wanita kadang ngamuk kalau nemu pria yang menginginkan wanita yang bisa masak. Padahal, keinginan semacam itu adalah hak. Sama seperti wanita yang juga punya hak terkait kriteria tertentu.

Kalau seorang pria menyatakan bahwa dia ingin punya pasangan wanita yang bisa masak, itu hak dia, dan tentu saja tidak salah. Yang salah adalah jika pria menyatakan bahwa SEMUA WANITA harus bisa masak.

Kriteria pasangan adalah hak individu, dan itu dimiliki pria maupun wanita.

Sama saja, ada wanita menginginkan pasangan pria yang sudah punya rumah, misalnya. Ya tidak apa-apa, wong itu hak dia. Menjadi masalah kalau si wanita berpikir bahwa SEMUA PRIA harus punya rumah.

Sebagaimana kriteria bisa berbeda, kemampuan orang per orang juga bisa berbeda.

Kesalahpahaman serupa kadang tidak hanya terjadi antara pria dan wanita, tapi juga wanita dengan wanita.

Sebagian wanita, berdalih kesetaraan, menginginkan SEMUA WANITA harus aktif bekerja di luar rumah, dan menyalahkan wanita yang memilih aktif jadi ibu rumah tangga di rumah.

Semangat feminisme adalah KESETARAAN, dan kesetaraan memungkinkan setiap orang punya PILIHAN. Karena pilihan, tentu setiap orang bisa berbeda, termasuk pilihan wanita dalam menjalani kehidupan mereka. Ada yang memilih aktif di luar rumah, ada pula yang memilih aktif di rumah.

Feminisme tidak bermaksud agar SEMUA WANITA aktif bekerja di luar rumah. Esensi feminisme adalah memungkinkan wanita punya hak dan pilihan yang SETARA dengan pria. Sekali lagi, karena namanya pilihan, tentu setiap orang (dalam hal ini wanita) bisa berbeda, dan itu bukan masalah.

Sungguh lucu kalau ada wanita, berdalih feminisme, menyalahkan wanita lain yang menjadi ibu rumah tangga dan aktif di rumah.

Kalau seorang wanita memang MEMILIH untuk aktif di rumah, dan dia SADAR DENGAN PILIHAN YANG DIAMBILNYA, itu hak dia, dan itulah semangat feminisme.

Mengharapkan semua wanita harus punya pilihan yang sama itu mustahil. Sama mustahilnya mengharapkan semua pria harus punya pilihan yang sama. Kenyataannya, semua orang pasti berbeda, termasuk dalam pilihan-pilihan hidupnya.

Dan inti masalah kita bukan pilihan, tapi kesadaran.

Setiap orang berhak memilih yang terbaik bagi diri dan hidupnya. Selama dia menyadari pilihannya, serta bertanggung jawab atas pilihan yang diambilnya, bahkan iblis di neraka tidak punya hak meributkan pilihannya.

Hidup adalah soal pilihan, dan itu pula yang diusung feminisme.

Dulu, wanita menghadapi banyak "harus". Harus gini, harus gitu—hal-hal yang belum tentu dia inginkan. Feminisme ada untuk menghilangkan "harus-harus" itu, dan memberi ruang serta keleluasaan bagi wanita, agar mereka juga punya hak dan pilihan sebagaimana yang dimiliki pria.

Jadi, feminisme tidak dimaksudkan agar wanita lebih tinggi dari pria, atau wanita harus meninggalkan hal-hal yang dulu lekat dengan wanita (seperti memasak dan semacamnya). Feminisme hanya ingin menyadarkan wanita bahwa mereka sebenarnya punya hak/pilihan yang SETARA dengan pria.

So, kalau ada wanita hobi masak, dan bermimpi jadi ibu rumah tangga yang saban hari menyiapkan masakan bagi keluarganya, ya ITU HAK DIA, dan kita patut menghormati pilihannya.

Feminisme bukan berarti semua wanita harus meninggalkan aktivitas memasak. Mosok ngene wae ora paham?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 31 Maret 2018.

Jualan Selangkangan Bertopeng Agama

Tampaknya, jualan yang paling mudah laku memang jualan selangkangan. Sebagian menjualnya dalam isu perkawinan, sebagian lagi menjualnya dalam isu poligami. Sama-sama sesat dan merusak, karena mengeksploitasi selangkangan untuk mencari keuntungan, tapi menggunakan topeng agama.

Yang jualan selangkangan dengan isu pernikahan, berkoar-koar, "Menikah adalah ibadah." Padahal, mereka cuma ingin bilang, "Gue tahu elu ingin ngeseks. Nih, gue jualan cara mudah ngeseks tanpa disalahkan, karena ibadah." Maka mereka pun terkenal, dan "dagangan" mereka laris.

Sama saja, yang jualan selangkangan dengan isu poligami, berkoar-koar, "Poligami adalah sunah nabi." Padahal, mereka sebelas dua belas dengan yang jualan selangkangan dengan isu pernikahan. Sama-sama jualan, sama-sama ingin terkenal, sama-sama ingin keuntungan dari jualan mereka.

Yang jualan selangkangan dengan isu pernikahan maupun poligami itu sama-sama merusak. Pernikahan berimplikasi pada anak-anak yang mereka lahirkan, sementara poligami berimplikasi pada kemungkinan terjadinya eksploitasi. Ngurus diri sendiri saja belum tentu bener, ngurus 4 istri.

Daripada menyuruh-nyuruh orang lain cepat menikah, jauh lebih baik memberitahu konsekuensi menikah yang berat, yang jarang diketahui orang yang belum menikah. Begitu pula dengan poligami. Menunjukkan konsekuensi atas sesuatu jauh lebih baik, sebelum menyuruh melakukan sesuatu.

Jika bumi makin rusak karena populasi yang semakin padat, dan jika kehidupan manusia makin buruk hingga setaraf binatang karena harus sikut-sikutan demi bisa makan... maka orang pertama yang patut disalahkan adalah mereka yang jualan selangkangan dengan isu pernikahan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Juli 2018.

Macet Gila di São Paulo

Munculnya helikopter sebagai sarana transportasi baru di Jakarta mungkin terkesan hebat. Tapi sebenarnya juga mengkhawatirkan. Karena bisa jadi Jakarta akan jauh lebih buruk dibanding sekarang, baik dalam kemacetan maupun kekacauan. Kisah ini persis São Paulo di Brasil.

Yang pernah ke São Paulo tentu tahu bagaimana kacaunya kota itu. Kekacauan tidak hanya terjadi di jalan darat, tapi juga di udara. Di darat, kemacetan terjadi sangat parah. Di udara, helikopter memenuhi langit. Dan itu terjadi setiap hari. Awal mulanya persis seperti Jakarta.

São Paulo terkenal sebagai kota terbesar, termaju, dan paling modern di Brasil. Tapi São Paulo juga terkenal sebagai Kota Paling Umbrus di Dunia. Bayangkan kekacauan sepuluh Jakarta digabung jadi satu, dan itulah São Paulo. Macet parah sepanjang 150 KM adalah hal biasa di sana.

Mengapa São Paulo bisa sedemikian kacau? Tata kota yang buruk. Orang-orang kaya dibawa ke pusat kota, orang-orang miskin dan menengah dipinggirkan. Padahal, kalangan miskin dan menengah bekerja di pusat kota. Hasilnya, setiap pagi dan sore adalah kemacetan parah. Persis Jakarta.

Saat ini, São Paulo memiliki armada pesawat helikopter terbanyak per kapita. Hebat, huh? Tidak! Karena bahkan di udara pun, helikopter-helikopter itu terjebak macet, persis di jalan darat! Kehebatan macam apa yang membuat orang ditikam stres setiap hari, dan tak bisa apa-apa?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Des 2017

Pungkasnya

Oh... pungkasnya.

Jumat, 15 November 2019

Sepuluh Tahun Ngeblog

Tempat berekspresi paling ideal di dunia maya memang blog.
Bebas ngoceh apa pun, sepanjang apa pun, segila apa pun.
@noffret


Sepuluh tahun yang lalu, pada 15 November 2009, saya menulis catatan pertama di blog ini. Dan sekarang, tepat sepuluh tahun kemudian, saya masih menulis di sini. Tidak ada yang berubah, selain bahwa saya masih terus menulis. Entah sampai kapan.

Pada era 2000-an, dunia blogging di Indonesia begitu semarak. Hampir semua orang yang kenal internet pada masa itu punya blog. Bukan hanya satu—sebagian mereka bahkan ada yang punya beberapa blog sekaligus. Waktu itu, para blogger tidak hanya aktif menulis di blog, tapi juga saling berinteraksi dengan para blogger lain. Pada masa itu, lahir para seleb blog.

Sebegitu populer blogging di masa itu, sampai ada buku berjudul—saya kutip seutuhnya—“Hari Gini Belum Ngeblog? Ke Mana Aja Lo?”

Di masa-masa itu pula, saya menjalin pertemanan dengan cukup banyak blogger yang waktu itu aktif ngeblog. Belakangan, ketika satu per satu mereka menghilang, saya merasa kehilangan.

Di antara teman blogger yang sampai kini tetap menjalin pertemanan dengan saya adalah Iskandar—dia termasuk blogger seangkatan saya—dan sampai sekarang kami sering berinteraksi lewat japri, membicarakan berbagai hal, dan saya banyak belajar darinya. Seperti saya, Iskandar masih eksis ngeblog sampai sekarang, dan kalian bisa mengunjungi blog Iskandar di sini.

Selain Iskandar, dulu saya juga sering ngobrol lewat japri dengan blogger lain, bernama Yus Yulianto. Sayang, dia kemudian menghilang dari blogsphere, dan saya benar-benar kangen ngobrol dengannya seperti dulu.

Well, gegap gempita blogging di masa itu perlahan-lahan mengalami masa surut. Satu per satu dari mereka menghilang, dan blognya tidak lagi aktif. Sebagian ada yang menghilang tiba-tiba, sebagian lain menghilang perlahan-lahan. Jumlah blogger aktif di Indonesia, yang semula mungkin ribuan, kini bisa dihitung jari.

Ada beragam alasan kenapa orang-orang yang dulu aktif ngeblog kini menghilang. Ada yang karena menikah, dan mungkin waktunya makin sempit untuk menulis blog. Ada yang makin sibuk di dunia nyata, hingga tidak sempat lagi menulis di blog. Ada yang bosan, ada pula yang kehilangan motivasi, dan lain-lain. Sementara yang aktif sampai kini pun sebagian besar mengubah haluan—dari blog personal menjadi blog komersial.

Dinamika, perubahan, memang bisa terjadi di mana saja, dan itu hal biasa, termasuk dalam aktivitas blogging.

Sebagian orang mungkin heran mendapati saya mampu konsisten menulis di blog hingga sepuluh tahun, dan bertanya-tanya apa motivasi yang menggerakkan saya.

Jawabannya, bisa jadi, justru tidak ada motivasi!

Kalau saya bertanya pada diri sendiri, kenapa mampu konsisten melakukan sesuatu yang sama terus menerus—menulis di blog—selama sepuluh tahun, saya tahu bahwa yang menggerakkan saya hanya cinta. Saya hanya melakukan sesuatu yang saya cintai. Menulis. Jadi saya melakukannya. Dan terus melakukannya.

Menulis di buku diary telah menjadi aktivitas saya sejak SMP. Saya senang menuliskan kegiatan harian saya, meski yang remeh-temeh sekali pun. Saya menikmati saat bercerita pada diary mengenai kegiatan saya, atau apa yang saya pikirkan, yang saya cemaskan, atau yang membuat saya bahagia.

Saat menulis di buku diary di masa-masa itu, saya tidak punya motivasi apa pun, selain hanya ingin melakukannya! Namanya diary pribadi, tentu hanya untuk dibaca sendiri. Dan itu membuat saya senang.

Pada waktu saya SMA, ada stasiun radio lokal yang punya acara bernama Pink Diary. Acara itu dimulai pukul 21.00 sampai 22.00. Sebagaimana namanya, Pink Diary adalah acara membacakan catatan-catatan diary yang dikirim oleh para pendengar. Itu salah satu acara radio yang sangat digemari, khususnya di kota saya.

Setiap pukul 21.00, ribuan remaja di kota saya akan khusyuk mendengarkan Pink Diary, terhanyut oleh kisah-kisah yang dibacakan penyiarnya. Saya termasuk salah satu pendengar yang ikut menikmati acara itu.

Acara itu dipandu dua penyiar, laki-laki dan perempuan. Setiap malam, ada empat catatan diary yang dibacakan, yang dikirim para pendengar laki-laki dan perempuan. Catatan diary perempuan dibacakan penyiar perempuan, dan catatan diary laki-laki dibacakan penyiar laki-laki. Setiap satu catatan diary yang dibacakan, ada satu lagu khusus yang akan diputar, sesuai keinginan/permintaan si pengirim catatan diary.

Karena sangat menikmati acara itu, saya terpikir untuk ikut mengirimkan catatan diary ke stasiun radio tersebut. Saya pun mulai menulisnya. Berbeda dengan kebanyakan diary yang sering dibacakan—yang isinya seputar cinta-cintaan—saya menulis catatan-catatan seputar kehidupan, dan berbagai realitas sosial yang saya alami.

Waktu mengirim tulisan ke radio itu, saya menggunakan nama Hoeda Manis, dengan tujuan agar teman-teman saya di sekolah tahu kalau tulisan itu dikirim oleh saya. Omong-omong, nama Hoeda Manis sebenarnya bukan saya yang menciptakan. Nama itu diciptakan oleh teman saya di SMA, bernama Rini Amalia (kalau Rini mungkin membaca catatan ini, saya ingin dia tahu bahwa saya sangat merindukannya).

Di SMA, orang satu sekolahan lebih tahu nama Hoeda Manis daripada nama asli saya. Itulah kenapa, saya memakai nama itu saat mengirim catatan diary ke stasiun radio tadi. Itu semacam “colekan” pada teman-teman sekolah, yang memberi tahu mereka bahwa saya mengirim catatan diary ke acara tersebut.

Belakangan, saya menyadari, itu “kesalahan yang fatal”.

Ketika catatan-catatan saya mulai dibacakan di acara radio itu, “kegemparan” tidak hanya terjadi di kalangan teman-teman sekolah, tapi secara luas.

Di SMA, saya termasuk murid populer. Karenanya, ketika nama saya muncul di acara Pink Diary, bocah-bocah satu sekolah pun langsung ramai membicarakan—mereka semua penggemar acara itu. Dan mereka meminta agar saya terus mengirim catatan-catatan lain. Saya senang-senang saja melakukannya.

Yang tidak saya duga, “kegemparan” itu ternyata tidak hanya terjadi di sekolah saya, tapi juga di tempat-tempat lain secara luas. Sejak itu, tiba-tiba, semua orang seperti penasaran dengan Hoeda Manis—sesuatu yang tak pernah saya perkirakan sebelumnya!

Bagaimana saya tahu?

Jawabannya mudah. Sejak itu, setiap hari, nama saya muncul di radio, dari pagi sampai pagi lagi, mendapat salam dari banyak orang yang tidak saya kenal, dan menciptakan histeria seisi kota! Mereka ingin ketemu, mereka ingin melihat saya, mereka ingin berbicara langsung dengan saya... dan saya benar-benar kebingungan.

Well, itu cerita lampau, tentang kecintaan saya menulis diary—dari catatan di buku yang saya baca sendiri, sampai catatan yang dikirim ke radio dan dinikmati ribuan orang. Ketika kemudian internet dapat diakses dengan mudah dan lahir blog sebagai “diary online”, saya pun melihat keasyikan yang sejak dulu saya kenali. Maka saya pun menulis di blog.

Blog ini adalah upaya saya melanggengkan kebiasaan menulis diary. Karena medianya berubah, cara saya menulisnya pun ikut berubah. Saat menulis di buku diary yang akan saya baca sendiri, saya menulis seenaknya, tanpa aturan, dan suka-suka. Wong hanya akan saya baca sendiri!

Ketika menulis diary untuk dibacakan di radio, saya pun mengusahakan agar tulisan saya enak saat dibacakan, dan asyik saat didengarkan.

Kini, ketika menulis diary di blog, yang artinya bisa ditemukan siapa pun, saya mengusahakan agar catatan-catatan saya tidak hanya enak dibaca, tapi juga—setidaknya—memberi manfaat pada orang yang membacanya, meski mungkin tak seberapa. Meski juga, di banyak halaman, saya masih suka menulis seenaknya.

Cara melakukan sesuatu bisa berubah, tapi latar belakang melakukan sesuatu tak pernah berubah. Cinta. Saya mencintai yang saya lakukan, dan karena itulah saya terus melakukan... sampai sekarang.

Kini, sepuluh tahun telah lewat, dan blog ini tetap memakai subdomain blogspot, dan saya tidak punya niat untuk mengubahnya ke nama domain pribadi. Karena saya sudah menganggap blog ini sebagai catatan diary kehidupan saya, dan berharap catatan-catatan yang terkumpul di blog ini tetap abadi, dapat terus ada di dunia, meski kelak saya sudah mati. Saat itu terjadi, saya tentu tidak bisa menulis lagi.

Berabad-abad dari sekarang, mungkin, orang akan tetap menemukan catatan-catatan di blog ini, dan mereka akan membacanya sebagaimana yang kalian lakukan pada saat ini.

Dan ketika itu terjadi, mungkin saya akan tersenyum di alam kubur, karena menyadari telah meninggalkan sesuatu untuk dunia... meski tak seberapa.

Setidaknya

Setidaknya aku tahu.

Setidaknya ada waktu.

Setidaknya aku belajar sesuatu.

Urusan Selangkangan di Hyderabad

Di bandara Hyderabad, India, ada fenomena yang populer bagi sebagian kalangan. Di bandara itu, sebagaimana umumnya di bandara lain, ada beberapa pria yang tampak menunggu seseorang, lalu mereka memperhatikan dan mendekati orang-orang yang turun dari pesawat.

Para pria yang menunggu di bandara, dan para pria yang mereka temui setelah turun dari pesawat, semuanya memiliki penampilan khas serupa—semoga kalian paham yang saya maksud. Orang-orang lain pasti mengira para pria yang bertemu di bandara itu famili, padahal bukan. (Jika masih bingung dengan yang saya maksudkan, lihatlah fenomena yang terjadi di Puncak, Bogor).

Para pria yang “menjemput” dan para pria yang “dijemput” sering kali tidak saling kenal—kecuali jika pria yang “dijemput” pernah datang ke India sebelumnya. Dan pertemuan mereka di sana bukan untuk melepas kangen atau semacamnya, tapi untuk transaksi perkawinan!

Jadi, para pria yang “menjemput” itu semacam calo yang menawarkan gadis-gadis India untuk dikawini oleh para pria yang “dijemput”. Jika transaksi deal, si calo akan mempertemukan kliennya dengan si gadis, dan mereka pun lalu menikah secara agama, dengan sejumlah mahar.

Dalam perkawinan itu, si gadis dapat mahar atau maskawin (yang biasanya relatif besar), sementara si calo dapat komisi. Dan si klien? Oh, well, tentu saja kita tahu jawabannya. (Si klien ini rata-rata pria tua yang kaya, dan mereka sudah punya anak istri di negaranya sendiri).

Lalu sampai kapan perkawinan mereka? Tergantung si klien—bisa beberapa hari sampai seminggu. Intinya, jika si klien akan balik ke negaranya, perkawinan pun selesai, dengan talak. Fenomena semacam ini marak di India juga di Pakistan, dan seperti gunung es.

Yang lebih “asoy”, praktik perkawinan mereka tidak cukup “satu lawan satu”. Kalau mau, si klien bisa mengawini dua, tiga, atau empat gadis sekaligus dalam satu waktu, dan lalu menceraikannya dalam satu waktu pula. Asal ada mahar yang cukup, semua bisa diatur si calo.

Di India, ada banyak keluarga miskin yang merelakan anak gadisnya “dijual” dengan dalih perkawinan, dan mahar yang didapat bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki rumah, atau setidaknya menyambung hidup. Sementara para calo hidup mewah dari komisi yang didapat.

Yang miris di sini, para gadis yang dikawinkan itu kebanyakan tidak tahu bahwa mereka menjadi korban perdagangan manusia. Usia mereka masih belasan, pendidikan sangat rendah, dan para gadis tetangganya juga melakukan hal serupa.

Kasus ini bahkan pernah terkuak, gara-gara “kepolosan” para gadis itu. Pada 2004, ada gadis belasan tahun yang dinikahi pria tua—sebut saja si bandot. Mereka kawin beberapa hari, lalu cerai. Si gadis berpikir bahwa yang ia lakukan adalah hal benar, dan dia pun baik-baik saja.

Beberapa waktu kemudian, si gadis mendapati si bandot mengawini gadis tetangganya, dan dia mungkin cemburu. Dengan kenaifannya sebagai gadis belasan tahun, dia melaporkan hal itu ke polisi... dan kasus “jual beli perempuan berdalih perkawinan” itu pun terbongkar.

Tapi bukan berarti kasus itu lalu hilang. Karena selalu ada bandot tua yang ingin meniduri gadis belasan tahun, selalu ada calo-calo rakus, dan selalu ada gadis-gadis yang dibelit kemiskinan dan kebodohan, hingga bisa dimanipulasi dengan dalih perkawinan.

Well, saya teringat pada kasus di India, karena fenomena serupa juga terjadi di Indonesia, meski dalam versi berbeda. Di Indonesia, yang marak terjadi adalah “kampanye perkawinan”, “seminar mendapat 4 istri”, dan semacamnya. Modusnya sama, cuma caranya berbeda.

Dalam fenomena semacam itu, siapakah yang paling diuntungkan? Tentu saja si calo—mereka yang gembar-gembor indahnya perkawinan, dan semacamnya, dan semacamnya. Terlepas perkawinanmu ternyata keblangsak dan kau menyesal, itu bukan urusan mereka.

Selangkangan memang selalu laku dijual, terlepas kau menjajakannya di etalase atau di pinggir jalan, terlepas kau membungkusnya dengan istilah vulgar atau dengan istilah ndakik-ndakik. Rumusnya sama: Hs = S + E (Homo sapiens = Selangkangan + Evolusi).

Imbuhnya

Oh... imbuhnya.

Kamis, 07 November 2019

Tak Terlihat, tapi Mengubah Kehidupan

Punya perut rata itu butuh latihan.
Termasuk latihan menahan (ke)lapar(an).
@noffret


Bayangkan kita punya berat badan 50 kg, yang membuat kita merasa ideal—tidak kurus, juga tidak gemuk. Suatu hari, saat bangun tidur, tiba-tiba kita mendapati tubuh kita sangat gemuk. Kita pun langsung menuju ke timbangan, dan mendapati berat badan telah naik menjadi 100 kg. Apa kira-kira yang akan menjadi reaksi kita?

Mungkin bingung. Atau terkejut. Atau bahkan panik.

Karena penambahan berat badan itu terjadi tiba-tiba—dari 50 kg menjadi 100 kg dalam semalam—alarm dalam diri kita pun berdering sangat keras, dan kita panik, ketakutan, bertanya-tanya, “Bagaimana ini bisa terjadi?”

Manusia tidak terbiasa dengan sesuatu yang tiba-tiba, dan, kenyataannya, kehidupan memang tidak berjalan secara tiba-tiba.

Bagaimana cara berat badan kita naik? Tidak tiba-tiba, tapi perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit. Sebegitu perlahan dan sedikit penambahan berat badan yang terjadi, kita tidak merasakannya, dan terlena. Setelah waktu berjalan lama, dan kita terbiasa dengan perubahan yang terjadi pada tubuh kita, suatu hari kita menimbang berat badan dan mendapati telah ada tambahan berat sekian puluh kilo.

Kita tidak panik, dan tidak bertanya-tanya bagaimana penambahan berat badan itu terjadi. Karena prosesnya perlahan. Sehari demi sehari. Lalu hari berubah menjadi minggu, lalu bulan, dan tumpukan lemak tumbuh sedikit demi sedikit. Kita tidak sadar ketika semua itu—pengumpulan lemak di tubuh—terjadi, karena prosesnya memang tidak tiba-tiba. Dan ketika mulai sadar, penambahan berat badan sekian puluh kilo sudah terjadi.

Sama seperti penambahan berat badan yang berlangsung perlahan-lahan dan membutuhkan waktu lama, upaya kita untuk menurunkan berat badan juga tidak bisa instan. Kita butuh waktu yang juga lama untuk bisa mengembalikan berat badan seperti semula—bahkan kadang lebih lama dan lebih sulit. Menumpuk lemak di tubuh itu mudah, tapi menghilangkannya butuh kerja keras dan kesabaran.

Sering kali, kehidupan kita, dan hal-hal yang kita lakukan sehari-hari, juga seperti itu. Semuanya berlangsung perlahan-lahan, biasanya juga sedikit demi sedikit, sampai suatu hari kita mendapati jumlahnya sangat banyak.

Kalau punya akun di Twitter, coba sesekali perhatikan akun yang kita miliki. Di masing-masing akun Twitter, ada jumlah tweet yang telah ditulis orang per orang. Jika sudah aktif di Twitter selama beberapa tahun, jumlah tweet biasanya sudah mencapai angka di atas 10.000. Artinya, kita sudah ngoceh di Twitter—dalam apa pun bentuknya—sebanyak sepuluh ribu kali lebih!

Sepuluh ribu jelas angka yang banyak, khususnya untuk ocehan. Kita pasti kelelahan setengah mati kalau nekat ngoceh sepuluh ribu kali dalam satu waktu. Tapi sepuluh ribu ocehan itu kita lakukan perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, hari demi hari, hingga tidak terasa. Tahu-tahu, kita sudah ngoceh seribu kali. Tahu-tahu, kita sudah ngoceh sepuluh ribu kali. Dan kelak, tahu-tahu, kita sudah ngoceh seratus ribu kali.

Begitulah kehidupan kita berjalan. Tak terasa. Tahu-tahu sudah banyak. Tahu-tahu sudah besar. Kita yang kemarin masih remaja, tahu-tahu sekarang sudah dewasa. Dan kelak, tahu-tahu sudah tua. Kita mengatakan hidup berjalan sangat cepat. Padahal, yang terjadi, hidup justru berjalan lambat. Sebegitu lambat, hingga kita tidak merasakannya.

Teman saya, Safik, punya pabrik yang mempekerjakan banyak orang. Suatu hari, Safik merenovasi pabriknya. Bangunan pabrik yang lama diruntuhkan, lalu dibangun kembali hingga benar-benar baru. Hasilnya, ada tumpukan bekas bangunan yang menggunung, dari dinding-dinding pabrik yang dirobohkan. Setidaknya dibutuhkan lima truk untuk mengangkut bekas bangunan yang tak terpakai itu.

Safik menawari para pekerjanya, siapa tahu mereka membutuhkan bekas bangunan tersebut, dan dia mempersilakan siapa pun untuk mengambilnya. Beberapa pekerja tertarik dengan tawaran itu, dan mereka pun menyatakan akan membawa bekas bangunan yang kini menggunung tersebut. Reruntuhan bangunan itu bisa mereka pakai untuk meninggikan lantai rumah atau halaman rumah.

Lalu bagaimana para pekerja akan mengangkut bekas bangunan yang jumlahnya sangat banyak itu? Pakai truk? Tidak! Pakai pikap? Gerobak? Juga tidak! Mereka membawanya sekilo demi sekilo, setiap hari!

Ada lima pekerja yang menyatakan akan mengambil reruntuhan bekas bangunan itu, dan mereka semua biasa berangkat kerja naik sepeda. Setiap hari, mereka membawa karung kecil atau tas plastik tebal ke tempat kerja. Usai kerja, mereka memasukkan reruntuhan bangunan yang menggunung di sana ke dalam karung atau tas plastik yang mereka bawa, lalu buntalan itu diikat di boncengan sepeda mereka. Jumlahnya tidak banyak, hanya sekilo atau dua kilo, dalam satu kali angkut.

Tapi mereka melakukannya setiap hari, sekilo demi sekilo, hari demi hari, dan, suatu hari, reruntuhan bangunan yang semula menggunung di depan pabrik lenyap tanpa bekas! Lima orang, dengan sepeda mereka, masing-masing telah mengangkut reruntuhan bangunan yang semula banyaknya mencapai lima truk. Artinya, masing-masing dari mereka, dengan sepeda, telah mengangkut satu truk!

Keajaiban dikerjakan melalui proses. Sedikit demi sedikit. Kadang perlahan. Tapi yang sedikit dan perlahan itu, bagaimana pun, mengubah sesuatu.

Piramida Giza dibangun bertahun-tahun, oleh ribuan orang, begitu pula Taj Mahal, Makam Terakota, Burj Khalifa, Taman Gantung Babilonia, Perpustakaan Alexandria, sampai jumlah ocehan kita di linimasa. Semuanya melewati proses, perlahan, setahap demi setahap, dari waktu ke waktu. Hingga membentuk sesuatu.

“Roma tidak dibangun dalam semalam,” kata pepatah. Begitu pula kehidupan kita, atau hal-hal besar yang kita kerjakan.

Pernah, suatu waktu ketika selo, saya iseng menghitung berapa total uang yang telah saya belanjakan untuk mengumpulkan ribuan buku yang saat ini saya miliki. Namanya orang iseng, saya telaten mengambil satu per satu buku dari rak, menuliskan judulnya di komputer, lengkap dengan harganya ketika saya beli. Jika saya tidak ingat harga pastinya, saya akan menggunakan perkiraan.

Butuh waktu berbulan-bulan untuk melakukan kerjaan iseng itu, karena saya memang melakukannya kalau pas selo. Ketika akhirnya semua buku telah terinventarisasi, saya mulai menghitung total harganya. Boleh percaya boleh tidak, total uang yang telah saya keluarkan untuk membeli ribuan buku itu bisa digunakan untuk membeli Honda Jazz seri terbaru, bahkan lebih! Nilainya sekitar Rp300 jutaan.

Ketika mendapati angka itu, saya benar-benar terkejut. Jika saya harus mengeluarkan uang Rp300 juta sekaligus untuk membeli buku dalam satu waktu, kemungkinan besar saya akan kesulitan.

Tapi nyatanya, sekarang, saya memiliki buku yang total nilainya sebesar itu. Bagaimana bisa terjadi? Karena saya melakukannya perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu, sampai bertahun-tahun. Tidak terasa, sejuta demi sejuta, setumpuk demi setumpuk, sampai akhirnya terbangun perpustakaan.

Begitulah hidup berjalan, dan begitulah kehidupan kita dibangun. Hari demi hari, waktu demi waktu, sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, sampai kita tidak merasakannya. Dan kenyataan semacam itu tidak hanya untuk hal-hal yang mungkin akan membuat kita senang, tapi juga untuk hal-hal yang mungkin membuat kita menyesal.

Seperti berat badan, misalnya. Kita tidak mengumpulkan lemak sekian puluh kilo dalam sehari, hingga perut kita membuncit tiba-tiba. Yang kita lakukan hanyalah makan tiga kali sehari, di sela-sela mengunyah kentang, melahap burger, menikmati keripik, menyesap es krim dan aneka makanan lain, sambil ketawa-ketiwi karena hidup begitu mudah sejak ada layanan pesan antar online.

Malam hari, sambil leyeh-leyeh, kita iseng buka ponsel, melihat-lihat deretan menu yang tampak menggiurkan, lalu pesan makanan, dan kita menikmatinya sambil menonton teve. Tidak terasa. Kalau pun terasa, kita senang-senang saja, wong rasanya enak. Persetan, siapa pun setuju kalau ngemil sambil nonton teve itu enak. Apalagi diakhiri dengan ndusel.

Sayangnya, kenikmatan itu bisa berbuah penyesalan. Karena, seiring kenikmatan yang kita kunyah, lemak mengumpul perlahan-lahan, dan berat badan bertambah ons demi ons. Di perut, di paha, di lengan, di leher, lalu kita sok kaget, “Kok sekarang berat badanku naik lima puluh kilo? Tidak masuk akal!”

Saat itu terjadi, kita mungkin menyesali yang telah kita lakukan, dan mengutuk kentang, burger, es krim, atau apa pun yang kita santap hari demi hari. Dan jika ingin menghilangkan tumpukan lemak dari tubuh agar ideal seperti semula, kita pun butuh upaya dan kerja keras, yang bisa jadi lebih lama dari saat kita menimbunnya.

Kita perlu mengingat semua ini, saat ingin mengerjakan sesuatu, atau sedang menuju sesuatu. Karena bangunan sebesar apa pun membutuhkan fondasi pertama, perjalanan sejauh apa pun dimulai langkah awal, dan kehidupan berjalan perlahan-lahan.

Penumpang Gelap Feminisme

Di Twitter, sudah beberapa kali saya mendapati tweet berbunyi “who cares about what man like”—atau variannya—yang hampir selalu di-retweet ribuan akun. Tweet-tweet semacam itu biasanya (bahkan selalu) ditulis wanita, dalam merespons sesuatu yang terkait pria dan wanita.

Misalnya, ada berita berjudul “7 Hal yang Disukai Pria dari Wanita”. Lalu ada wanita meng-quote tweet berita itu, dengan menambahkan tweet “who cares about what man like”. Seperti yang saya sebut tadi, tweet berbunyi “who cares” itu selalu di-retweet dan difavoritkan ribuan akun.

Kadang pula, ada orang bertanya lewat tweet, “Benarkah pria menyukai wanita yang bla-bla-bla?” Lalu ada wanita lain merespons atau meng-quote tweet itu, dengan menambahkan tweet “who cares about what man like”. Lagi-lagi, tweet “who cares” itu di-retweet ribuan akun, hingga muncul di TL saya.

Lalu masalahnya di mana? Sebenarnya sama sekali tidak masalah, asal tweet ala-ala “who cares” itu boleh digunakan siapa pun, dan tidak dinilai dengan standar yang berbeda, terlepas penulisnya wanita atau pria. Artinya, gunakan standar yang sama ketika pria yang menulisnya.

Kalau wanita boleh menulis “who cares about what man like” tanpa merasa bersalah, tolong tidak usah ngamuk—dengan berbagai alasan apa pun—kalau sewaktu-waktu ada pria menulis “who cares about what woman like” atau semacamnya. Gunakan standar yang sama!

Yang membuat saya gatal menulis catatan ini, karena ada sebagian wanita yang menggunakan standar ganda, khususnya terkait perilaku pria dan wanita. Mereka (sebagian wanita itu) merasa bebas ngoceh apa pun tentang pria, tapi pria tidak boleh melakukan hal yang sama.

Seperti pada kasus “who cares” tadi. Ketika wanita menulis semacam itu, dia—dan sebagian wanita lain—menganggapnya hebat. Terbukti tweet semacam itu hampir selalu di-retweet ribuan akun. Tapi ketika pria yang menulis hal serupa, dianggap merendahkan wanita.

Dalam perspektif saya, wanita-wanita semacam itu adalah “penumpang gelap feminisme”, yang menganggap isu feminisme dapat digunakan seenaknya untuk meninggikan diri sekaligus merendahkan yang lain. Ini pula yang menjadikan sebagian orang lain muak pada istilah feminisme.

Fenomena ini tak jauh beda dengan sebagian Yahudi yang merasa bisa sewenang-wenang pada pihak lain, dengan berdalih, “Kami dulu telah menjadi korban!” Kenyataan itu pula yang menjadikan banyak orang muak pada Yahudi, meski tidak semua Yahudi pasti begitu.

Feminisme tidak berarti meninggikan wanita untuk kemudian bebas merendahkan pria—dalam apa pun bentuknya. Feminisme adalah upaya menempatkan wanita setara dengan pria. Tapi perilaku “para penumpang gelap” menjadikan feminisme tampak salah dan bikin orang muak.

Kita berharap dihormati orang lain, tapi kita tidak menunjukkan perilaku hormat pada orang lain. Bahkan iblis di neraka pun akan menertawakan. Oh, tolong jangan mengatakan bahwa tweet ala-ala “who cares” itu hanya bercanda—karena itu sama sekali tidak lucu, dan kita pun tahu!

Saya paham, catatan ini akan memancing orang berpikir, “Kenapa kamu menganggap tweet ‘who cares’ itu secara serius? Dia hanya bercanda!”

Oh, well, kadang-kadang pria juga bercanda tentang wanita, dan apa yang biasanya terjadi? Benar, standar ganda!

Jadi wanita merasa bebas menggunakan pria sebagai objek bercanda, sementara pria tidak boleh melakukan hal yang sama, apa pun alasan atau bagaimana pun caranya. Apa namanya kalau bukan standar ganda?

Feminisme, eh? Perilaku semacam itulah yang menjadikan orang muak.

Sekali lagi, tweet ala-ala “who cares” sama sekali tidak masalah, jika—dan hanya jika—boleh digunakan siapa pun tanpa dinilai dengan standar ganda. Sayangnya tidak. Sebagian wanita merasa berhak menyepelekan pria, sementara pria tidak boleh melakukan hal serupa.

Dan kalau pun boleh (kalau pun kita boleh saling menyepelekan dan saling merendahkan, dalam apa pun bentuknya), lalu apa guna ribut-ribut feminisme yang terus diupayakan? Balik saja ke zaman prasejarah, atau masa-masa ketika manusia masih biadab tanpa hormat.

“Respect is everything. Without respect, we’re just people. Common sitty people.” Ironisnya, kalimat penuh hormat itu diucapkan Jean Villain, bajingan yang membunuh manusia lain tanpa merasa bersalah.

Masalah kita, tampaknya, kebodohan dalam respek.

Tidak Bisa Move On

“Sembilan dari sepuluh orang yang pernah jatuh cinta kepadaku, tidak bisa move on.”

“Menakjubkan, eh?”

“Sebenarnya, itu mengerikan.”

Ini

Ooh... ini.

Jumat, 01 November 2019

Mengapa Banyak Orang Miskin Merokok?

Segelas kopi, sebatang rokok, dan setumpuk kebingungan hari ini.
Juga sedikit kegalauan di sudut hati.
@noffret


Cukai rokok akan naik tahun depan, dan sebagian orang yakin bahwa kenaikan cukai akan menurunkan jumlah perokok, karena harga rokok akan terdampak hingga ikut mahal. Dalam pikiran mereka, mungkin, harga rokok yang mahal akan membuat orang pikir-pikir untuk membeli rokok. Pola pikir semacam itu memang terdengar ilmiah, meski sebenarnya mengandung masalah.

Terkait ekonomi, setidaknya ada tiga golongan konsumen rokok. Yaitu dari golongan atas, golongan menengah, dan golongan bawah. Harga rokok yang naik—gara-gara cukai naik—bisa dibilang tidak akan terlalu banyak berpengaruh. Harga rokok yang mahal mungkin memang akan membuat segelintir orang untuk berhenti atau mengurangi rokok, tapi jumlahnya tidak akan banyak. Mengapa?

Bagi kalangan kaya, kenaikan harga rokok tidak akan memusingkan mereka, wong mereka bisa tetap membelinya dengan mudah. Orang yang bisa menghabiskan bergelas-gelas kopi mahal setiap hari tidak akan pusing dengan kenaikan harga rokok, dan mereka akan tetap udud!

Yang mungkin akan banyak pikir untuk membeli rokok—karena harganya makin mahal—adalah kalangan menengah. Namanya “menengah”, mereka tidak kaya tapi juga tidak miskin. Mereka biasanya sudah mapan bekerja, tapi juga punya kebutuhan yang luar biasa besar. Dari kebutuhan punya rumah, nyicil kendaraan, sampai kebutuhan eksis di kalangan sosial.

Bisa jadi, karena banyaknya kebutuhan tersebut, mereka akan menghilangkan atau mengurangi kebiasaan merokok, agar duit tak cepat habis. Pemerintah, dan aktivis antirokok, bisa puk-puk golongan ini.

Bagaimana dengan kalangan miskin? Kenaikan harga rokok mungkin memang akan membuat mereka pusing, karena duit sering pas-pasan. Tapi ingat, mereka kalangan paling ulet di antara semua strata ekonomi. Kalau kau terbiasa hidup dalam kekurangan dan kemiskinan, otakmu akan terus dipaksa untuk kreatif, dan hal itulah yang menjadikan banyak dari mereka terus bertahan.

Dalam menghadapi kenaikan harga rokok, gara-gara cukai yang naik, mereka pasti akan mencari cara agar bisa menyiasati. Ingat hukum ekonomi; jika ada permintaan, akan ada penawaran. Harga rokok legal (bercukai) mahal, maka rokok ilegal (tanpa cukai) akan bertebaran, meski lewat “bawah tanah”. Karena harga rokok naik, akan banyak orang kesulitan membeli rokok. Produsen rokok ilegal akan melihat itu sebagai kesempatan. Bahkan Adam Smith pun paham soal ini.

Pemerintah bisa menaikkan cukai, dan harga rokok akan semakin mahal. Tapi selalu ada upaya untuk “melawan”. Dalam kacamata orang-orang miskin, rokok ilegal adalah salah satu bentuk perlawanan. Mereka butuh merokok, dan persetan dengan cukai!

Bagaimana jika rokok ilegal benar-benar tidak ada?

Bisa jadi, pemerintah akan melakukan antisipasi dengan merazia rokok-rokok ilegal, untuk meminimalkan atau bahkan menghilangkan peredarannya. Bahkan kalau pun itu terjadi, selalu ada cara lain untuk merokok. Misalnya dengan membeli tembakau utuh, dan melinting rokok sendiri. Ingat, yang dibutuhkan orang-orang miskin hanya merokok, udud, atau apa pun sebutanmu. Dalam bahasa blak-blakan, mereka tidak peduli merek, prestise, apalagi cukai!

Sampai di sini, biasanya akan muncul suara-suara sinis, misalnya, “Sudah tahu miskin, masih juga merokok!” Ada pula yang akan mengatakan, dengan nada bijak, “Daripada uangnya dibelikan rokok, mending dipakai untuk kebutuhan yang lebih penting,” dan seterusnya, dan seterusnya.

Selama ini, tidak ada yang pernah menjawab ocehan semacam itu secara blak-blakan, atau secara frontal. Jadi, sekarang saya akan menjawabnya.

Mari kita mulai dengan pertanyaan bermasalah ini, “Kenapa banyak orang miskin yang merokok?”

Kalau kau orang miskin atau pernah miskin, pertanyaan semacam itu sebenarnya tidak patut diajukan, karena sangat kurang ajar! Orang-orang miskin menghadapi kehidupan yang amat berat, jauh lebih berat dari tumpukan teorimu. Mereka tidak hanya dibebani aneka masalah hidup yang tak pernah selesai, tapi juga dibebani kenyataan bahwa mereka kesepian—sebentuk perasaan tak berdaya menghadapi kenyataan.

Saya tahu yang saya katakan, karena saya pernah miskin, dan pernah menjalaninya bertahun-tahun.

Kalau kau kaya, kau akan mudah menemukan teman, bahkan mereka yang tampak asing di matamu akan bersikap seolah akrab denganmu. Tapi kalau kau miskin, kau akan merasa sendirian, kesepian... sulit menemukan orang untuk diajak berbagi. Karena memang tidak ada yang tertarik dengan penderitaanmu. Setiap orang punya masalahnya sendiri, dan mereka tidak peduli dengan masalahmu, kemiskinanmu, lara dan nestapamu.

Orang-orang miskin menghadapi aneka kekurangan, bukan sewaktu-waktu, tapi setiap waktu. Mereka menghadapi kesusahan bukan hanya ketika tak bekerja, tapi juga ketika giat bekerja. Karena hasil kerja mereka tidak mampu menutup semua kebutuhan yang kian hari kian mencekik.

Di tengah kondisi semacam itu, mereka membutuhkan sandaran, penopang, kehadiran orang lain yang menguatkan. Tetapi kita hidup di dunia yang mestinya sudah dimusnahkan oleh Thanos. Orang-orang di sekeliling kita punya masalah sendiri-sendiri, dan mereka tak peduli dengan masalah orang lain. Orang-orang di sekeliling kita sudah terlalu sibuk dengan kehidupan sendiri-sendiri, hingga tak punya waktu mengurusi kehidupan orang lain.

Karena itulah, ada banyak orang miskin yang merasa sendirian, dan diam-diam kesepian... meski mereka mungkin tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya kesepian. Dalam kondisi semacam itu, rokok sering kali menjadi teman yang baik. Teman yang tidak banyak bacot, tapi hanya menemani.

Bagi banyak orang miskin, aktivitas merokok bukan untuk “gagah-gagahan” atau semacamnya, tapi sebentuk upaya menguatkan diri, dan menganggap rokok sebagai teman sejati. Ketika mereka menyulut rokok, dan menikmati asapnya, mereka bisa menenangkan pikiran sejenak dari penatnya hidup, kadang sambil berusaha mencari jalan untuk berbagai masalah yang dihadapi.

Karenanya, pertanyaan “mengapa orang miskin merokok” adalah pertanyaan kurang ajar. Wong mereka merokok justru karena miskin! Karena kesepian! Karena menghadapi aneka masalah dan kekurangan! Karena hidup di dunia yang kejam!

Kalau kebetulan melihat orang miskin—atau orang yang banyak beban pikiran—sedang merokok, perhatikanlah. Mereka tampak sangat “khusyuk” saat merokok, begitu... well, tuma’ninah. Dalam arti tidak kebal-kebul asal-asalan. Karena mereka menganggap rokok sebagai teman sejati dalam kesusahan dan kesepian.

“Tapi merokok bisa mengganggu kesehatan dan bla-bla-bla.” Tolong katakan itu pada orang-orang kaya! Mereka lebih peduli kesehatan, karena mereka memiliki uang, sekaligus punya pikiran jauh ke depan!

Bagi orang-orang miskin, boro-boro mikir kesehatan, mikir bagaimana hidup besok saja kadang sudah berlebihan.

Jadi, jika cukai dinaikkan, dan harga rokok terdampak naik, korban pertama dari hal itu adalah orang-orang miskin. Pemerintah dan aktivis antirokok berharap orang-orang miskin tidak lagi merokok, tapi itu pikiran yang berbelok kejauhan. Wong yang menyebabkan orang miskin merokok justru karena kemiskinannya! Lha piye, pola pikirmu?

Jika ada survei atau penelitian ilmiah mengenai persentase orang merokok di Indonesia, saya berani bertaruh: Jumlah perokok terbesar berasal dari kalangan menengah ke bawah!

Kalau harga rokok naik, mereka akan mencari rokok ilegal yang lebih murah. Kalau rokok ilegal dihilangkan, mereka akan melinting—bikin rokok sendiri. Yang penting bisa merokok. Dan jika aktivitas melinting masih dipersulit, itu artinya pemerintah sedang mengundang bahaya. Ingatlah film Joker sebelum bikin keputusan yang berpotensi menyusahkan banyak orang!

Dalam perspektif saya, upaya terbaik untuk menurunkan jumlah perokok adalah—pertama-tama—dengan menurunkan angka kemiskinan! Ketika orang hidup sejahtera, mereka akan lebih mampu berpikir jauh ke depan. Bukan hanya berpikir bagaimana besok, tapi juga berpikir bagaimana masa depan. Dalam hal itu, bisa jadi mereka bisa berpikir lebih baik dan lebih bijak, salah satunya dengan meninggalkan aktivitas merokok.

Memaksa orang berhenti merokok, dengan cara menaikkan cukai dan harga rokok, adalah upaya mengatasi masalah tanpa mau melihat akar masalah—atau sengaja menutup mata dari masalah sebenarnya. Tentu bukan langkah yang bijak, khususnya karena akan berdampak pada jutaan orang yang hidupnya sudah susah. Meski berdalih itu upaya yang dimaksudkan baik, tapi bisa jadi justru akan menimbulkan lebih banyak masalah.

Visi Magneto

Mumpung selo dan mumpung ingat—juga mumpung sepi—aku mau melanjutkan ocehan ini » Paling Menggoda di Alam Semesta.

Dalam film X-Men, Magneto berusaha mengubah manusia (Homo sapiens, nonmutan) menjadi mutan, melalui “teknologi” yang ia ciptakan. Ketika ditanya mengapa ia ingin mengubah manusia menjadi mutan, Magneto menyatakan, “Let’s just say God works too slow.”

Kalimat Magneto dalam film itu mungkin terdengar biasa, tapi sebenarnya menyiratkan sesuatu. Perubahan manusia (evolusi) terus berlangsung, tapi prosesnya sangat lambat. Berdasarkan sejarah evolusi, kita butuh waktu jutaan tahun untuk berubah.

Di masa lalu, Homo sapiens berubah tanpa kendali dirinya, karena memang mereka tidak (belum) tahu bagaimana mengendalikannya. Tetapi, kini, manusia sudah bisa mengendalikan “perubahan” yang terjadi, karena telah menemukan kuncinya.

Apa kuncinya? DNA.

DNA manusia adalah hasil evolusi jutaan tahun, dan selama itu pula manusia belum menyadari bahwa DNA menjadi kunci penting perubahan/pertumbuhan mereka. Kini, setelah mereka menyadari, sebagian orang mulai menjadi Magneto—“anggap saja evolusi terlalu lambat”.

Sebagian ilmuwan berpikir, “Bagaimana kalau kita menyunting DNA?” Itu pikiran sederhana, tapi memiliki implikasi yang luar biasa. Ketika DNA mulai disunting dan diperbaiki, evolusi tidak lagi berjalan perlahan seperti sebelumnya, tapi melompat sedemikian jauh.

Meski mungkin terdengar futuristik, “penyuntingan DNA” sebenarnya sudah dilakukan sejak lama. Selama ini, hal itu ditujukan untuk keperluan medis, semisal mengatasi penyakit tertentu, atau memperbaiki bagian-bagian yang rusak (misal perbaikan cacat genetik).

Tapi bagaimana jika penyuntingan DNA juga dilakukan untuk hal lain? Dengan penyuntingan yang tepat pada DNA, tingkat kecerdasan pemiliknya bisa naik berkali lipat, begitu pula kekuatan dan kesehatannya. Selamat datang di dunia evolusi yang dirancang sendiri.

Jika uraian ini terdengar tidak masuk akal, kita perlu tahu bahwa hal ini sudah dan sedang terjadi. Diam-diam, jauh dari publisitas, ras manusia super sedang dirancang—dengan kemampuan, kecerdasan, dan kekuatan berkali lipat dari manusia normal.

Makalah terakhir Stephen Hawking—yang ia tulis sebelum wafat—juga membahas hal ini, dan ia mengkhawatirkannya. Sama seperti ia mengkhawatirkan AI (artificial intelligence), Hawking juga mengkhawatirkan implikasi lahirnya manusia super. Apa yang kira-kira akan mereka lakukan?

Saat dunia telah begitu akrab dengan diskriminasi, saat umat manusia makin sulit menerima orang lain hanya karena dianggap berbeda, saat yang liyan dianggap ancaman dan dijauhi dengan alasan perbedaan... selalu ada kemungkinan lahirnya Magneto.

Di mataku, Magneto bukan penjahat—ia korban diskriminasi dan ketidakmampuan manusia menerima perbedaan, kepicikan dan keterbelakangan Homo sapiens dalam menerima yang liyan. Magneto selalu ada ketika masyarakat menuntut persamaan dan mengharamkan perbedaan.

They wish to cure us. But I say to you, we are the cure! The cure for that infirm, imperfect condition called 'Homo sapiens'! They have their weapons... we have ours. We will strike with a vengeance and a fury that this world has never witnessed! —Magneto, X-Men 3


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 April 2019.

Noffret’s Note: Masalah

Pacaran = Masalah yang dibumbui cinta
Menikah = Masalah yang ditutupi sikap sok bahagia

Aku sudah kenyang (bahkan sudah muak campur mau muntah) dengan masalah. Karenanya, kalau yang kautawarkan adalah masalah (meski disebut pacaran atau menikah), aku tidak tertarik.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Maret 2019.

Seharusnya Dunia Tidak Punya Hari Libur

Aku benci hari libur! Jalanan macet di mana-mana, urusan tersendat, pekerjaan terhambat, dan aku harus membuang waktu sia-sia di jalan. Seharusnya dunia tidak punya hari libur!

....
....

Sambil nunggu perut kembali nyaman setelah makan, aku mau ngoceh melanjutkan kejengkelan tadi pagi.

Sudah bertahun-tahun aku bekerja tanpa hari libur, tanpa cuti, apalagi liburan panjang. Rata-rata, aku bekerja 14 jam setiap hari. Dan aku tidak pernah mengeluhkan pekerjaanku, atau mengimpi-impikan datangnya liburan. Kalian bisa scroll TL-ku, dan tidak akan ada hal semacam itu.

Padahal, kalau mau, aku bisa libur kapan pun, cuti kapan pun, bahkan liburan sepanjang apa pun, wong aku bekerja di rumah sendiri dan menjadi majikan bagi diriku sendiri. Tapi aku lebih senang bekerja, melakukan sesuatu yang positif dan produktif, setidaknya bagi diriku sendiri.

Orang-orang mungkin menyebutku gila kerja, tapi aku menyebutnya mencintai kerja. Orang yang gila kerja (workaholic) tidak bisa meninggalkan pekerjaan dengan nyaman—tapi aku bisa!

Aku bisa meninggalkan pekerjaanku kapan pun dengan hati nyaman, asal ada sesuatu yang lebih menarik!

Apakah aku pernah meninggalkan pekerjaanku?

Sering!

Orang-orang menghubungiku, menawari sesuatu yang sangat menarik, dan aku pun meninggalkan sarangku yang nyaman, pergi ke tempat jauh, dan melepaskan tumpukan pekerjaan dengan hati ringan. No problem, karena begitulah hidup.

Kalau kau sekadar ingin bertemu denganku, aku tidak akan punya waktu—karena waktuku sudah habis untuk bekerja! Agar aku mau meninggalkan pekerjaan serta sarangku yang nyaman, kau harus memberiku alasan masuk akal. Karena aku tidak akan membuang-buang waktu untuk kesia-siaan.

Sebagian orang mungkin ingin ngemeng, "Ah, artis anu aja mudah ditemui, kok."

AKU BUKAN ARTIS!

Aku tidak butuh popularitas atau publisitas. Aku menjalani hidup dalam kesunyian, menikmati kesendirian, dan memang tidak ingin bertemu siapa pun, apalagi yang tidak/belum kukenal.

Well, sekarang aku mau kembali bekerja, dan persetan dengan dunia.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 April 2019.

Kemiskinan

Rasanya ingin tertawa kalau ada orang ceramah soal kemiskinan di depanku, dengan bahasa sendakik-ndakik apa pun.

Kau tidak tahu apa-apa soal kemiskinan, Nak! Dan tidak usah berceramah soal kemiskinan di depanku. Aku sudah menjalani kemiskinan, bahkan sebelum kau tahu soal kemiskinan.

 
;