Jumat, 15 November 2019

Urusan Selangkangan di Hyderabad

Di bandara Hyderabad, India, ada fenomena yang populer bagi sebagian kalangan. Di bandara itu, sebagaimana umumnya di bandara lain, ada beberapa pria yang tampak menunggu seseorang, lalu mereka memperhatikan dan mendekati orang-orang yang turun dari pesawat.

Para pria yang menunggu di bandara, dan para pria yang mereka temui setelah turun dari pesawat, semuanya memiliki penampilan khas serupa—semoga kalian paham yang saya maksud. Orang-orang lain pasti mengira para pria yang bertemu di bandara itu famili, padahal bukan. (Jika masih bingung dengan yang saya maksudkan, lihatlah fenomena yang terjadi di Puncak, Bogor).

Para pria yang “menjemput” dan para pria yang “dijemput” sering kali tidak saling kenal—kecuali jika pria yang “dijemput” pernah datang ke India sebelumnya. Dan pertemuan mereka di sana bukan untuk melepas kangen atau semacamnya, tapi untuk transaksi perkawinan!

Jadi, para pria yang “menjemput” itu semacam calo yang menawarkan gadis-gadis India untuk dikawini oleh para pria yang “dijemput”. Jika transaksi deal, si calo akan mempertemukan kliennya dengan si gadis, dan mereka pun lalu menikah secara agama, dengan sejumlah mahar.

Dalam perkawinan itu, si gadis dapat mahar atau maskawin (yang biasanya relatif besar), sementara si calo dapat komisi. Dan si klien? Oh, well, tentu saja kita tahu jawabannya. (Si klien ini rata-rata pria tua yang kaya, dan mereka sudah punya anak istri di negaranya sendiri).

Lalu sampai kapan perkawinan mereka? Tergantung si klien—bisa beberapa hari sampai seminggu. Intinya, jika si klien akan balik ke negaranya, perkawinan pun selesai, dengan talak. Fenomena semacam ini marak di India juga di Pakistan, dan seperti gunung es.

Yang lebih “asoy”, praktik perkawinan mereka tidak cukup “satu lawan satu”. Kalau mau, si klien bisa mengawini dua, tiga, atau empat gadis sekaligus dalam satu waktu, dan lalu menceraikannya dalam satu waktu pula. Asal ada mahar yang cukup, semua bisa diatur si calo.

Di India, ada banyak keluarga miskin yang merelakan anak gadisnya “dijual” dengan dalih perkawinan, dan mahar yang didapat bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki rumah, atau setidaknya menyambung hidup. Sementara para calo hidup mewah dari komisi yang didapat.

Yang miris di sini, para gadis yang dikawinkan itu kebanyakan tidak tahu bahwa mereka menjadi korban perdagangan manusia. Usia mereka masih belasan, pendidikan sangat rendah, dan para gadis tetangganya juga melakukan hal serupa.

Kasus ini bahkan pernah terkuak, gara-gara “kepolosan” para gadis itu. Pada 2004, ada gadis belasan tahun yang dinikahi pria tua—sebut saja si bandot. Mereka kawin beberapa hari, lalu cerai. Si gadis berpikir bahwa yang ia lakukan adalah hal benar, dan dia pun baik-baik saja.

Beberapa waktu kemudian, si gadis mendapati si bandot mengawini gadis tetangganya, dan dia mungkin cemburu. Dengan kenaifannya sebagai gadis belasan tahun, dia melaporkan hal itu ke polisi... dan kasus “jual beli perempuan berdalih perkawinan” itu pun terbongkar.

Tapi bukan berarti kasus itu lalu hilang. Karena selalu ada bandot tua yang ingin meniduri gadis belasan tahun, selalu ada calo-calo rakus, dan selalu ada gadis-gadis yang dibelit kemiskinan dan kebodohan, hingga bisa dimanipulasi dengan dalih perkawinan.

Well, saya teringat pada kasus di India, karena fenomena serupa juga terjadi di Indonesia, meski dalam versi berbeda. Di Indonesia, yang marak terjadi adalah “kampanye perkawinan”, “seminar mendapat 4 istri”, dan semacamnya. Modusnya sama, cuma caranya berbeda.

Dalam fenomena semacam itu, siapakah yang paling diuntungkan? Tentu saja si calo—mereka yang gembar-gembor indahnya perkawinan, dan semacamnya, dan semacamnya. Terlepas perkawinanmu ternyata keblangsak dan kau menyesal, itu bukan urusan mereka.

Selangkangan memang selalu laku dijual, terlepas kau menjajakannya di etalase atau di pinggir jalan, terlepas kau membungkusnya dengan istilah vulgar atau dengan istilah ndakik-ndakik. Rumusnya sama: Hs = S + E (Homo sapiens = Selangkangan + Evolusi).

 
;