Minggu, 20 Desember 2020

Sejarah Ringkas Dunia dan Umat Manusia

Aku lahir dari kematian. 
Aku ada untuk memercik api kebangkitan seorang manusia, 
untuk memutar roda peradaban. Dan ketika hutan mulai rimbun 
hingga memerlukan pembersihan untuk tumbuh, 
aku ada di sana untuk membakarnya.


Apakah manusia dilahirkan untuk bekerja? Jawabannya tentu tidak! Secara alami, atau kita bisa menyebutnya secara biologi, manusia lahir untuk bersenang-senang dan menikmati kehidupan. Dua hal yang paling penting, sekali lagi secara biologi, adalah kawin dan beranak-pinak.

Ratusan ribu tahun lalu, manusia bisa menikmati kehidupan semacam itu—hanya kawin dan beranak-pinak—sesuai kodratnya sebagai makhluk biologis. Di sela-sela aktivitas kawin dan mengurusi anak, mereka bercocok tanam, memelihara hewan, dan menjalin persahabatan.

Manusia zaman dulu bisa menikmati kehidupan tenang tanpa kerja keras, karena dunia masa lalu memang memungkinkan mereka untuk begitu. Tanah-tanah masih subur dan luas, populasi bumi masih minim, kekerabatan antarmanusia masih rekat, dan uang belum jadi hal penting.

Di masa itu, manusia tidak butuh kerja, apalagi kerja keras—karena buat apa? Kerja bertujuan untuk mendapat uang, dan uang digunakan membeli hal-hal untuk melanjutkan hidup. Di masa itu, manusia bisa menikmati kehidupan tenteram tanpa uang, jadi tidak perlu kerja.

Lalu kehidupan terus berkembang, populasi semakin banyak, tanah-tanah kian menyempit. Hasil bumi yang semula berlimpah, perlahan-lahan surut, makanan mulai sukar diperoleh. Puncaknya, lahir era industri yang mengubah sistem pertanian, manufaktur, transportasi, dan lain-lain.

Era industri memulai zaman baru, era ketika manusia tidak bisa lagi leyeh-leyeh dan rebahan seperti semula, karena kini mereka harus bekerja untuk menghasilkan uang. Karena uang, sejak zaman itu, memiliki nilai tinggi, sebab memungkinkan mereka melanjutkan hidup.

Era industri bukan hanya mengubah wajah dunia, tapi juga mengubah manusia. Dunia yang semula damai, tenang, dan tenteram, berubah hiruk-pikuk dan penuh kesibukan. Manusia yang semula asyik kawin dan beranak-pinak, kini harus meluangkan waktu untuk bekerja demi uang.

Dan era industri terus berevolusi, seperti manusia yang menggerakkannya. Salah satu evolusi penting yang lahir dari era industri adalah sistem kapitalisme. Sistem ini mengubah pedang dan penundukan wilayah dengan kekerasan, menjadi mata uang dan jerat utang berbunga.

Sebelum era industri, sebagian manusia menjadi budak yang diperjualbelikan. Setelah era industri, sebagian manusia adalah sekrup-sekrup yang membantu menggerakkan perdagangan. Setelah lahir sistem kapitalisme, sebagian manusia adalah sapi perah yang diperas untuk keuntungan.

Kapitalisme adalah sistem yang cerdik sekaligus licik. Sistem ini memungkinkan sebagian orang mendapatkan sangat banyak, sekaligus menjadikan sebagian lain hanya mendapat sedikit. Karenanya, dalam kapitalisme, pemodal selalu menang, karena uang telah menjadi tuhan.

Sejak era kapitalisme itulah, manusia berubah menjadi makhluk pekerja, dalam arti harfiah—berangkat pagi, pulang petang, memeras keringat, banting tulang—demi mendapat uang yang merupakan sarana menikmati kehidupan, yang, menurut Sigmund Freud, demi libido.

Manusia sekian ribu tahun lalu, dan manusia yang hidup saat ini, sebenarnya jenis manusia yang sama, yang ingin terus menikmati kesenangan dan bereproduksi. Bedanya, manusia di zaman sekarang terjebak oleh “kebodohan” manusia di zaman ribuan tahun lalu.

Yang merusak kehidupan manusia saat ini, hingga melemparkan banyak orang ke posisi sangat rendah, adalah sistem kapitalisme. Sistem ini tidak hanya membangun dan meruntuhkan negara-negara di dunia, tapi juga menggerogoti moral, sistem nilai, dan akal sehat manusia. 

Dan sistem kapitalisme bisa berjaya, bahkan jadi penguasa, karena adanya era industri. Sementara era industri bisa ada, bahkan menguasai manusia, karena tingginya populasi. Andai populasi manusia tetap rendah, era industri tidak akan laku, dan kapitalisme bisa pergi ke neraka.

Karena itulah, seperti yang disebut tadi, manusia di zaman sekarang terjebak oleh “kebodohan” manusia di zaman ribuan tahun lalu. Mereka, nenek moyang kita, tidak mikir bahwa kalau mereka terus beranak-pinak tanpa terkendali, keberadaan manusia akan serupa hama di bumi.

Omong-omong soal hama. Kita mungkin menganggap belalang sebagai hewan yang lucu, dan bisa jadi kita senang bermain-main dengannya. Jika hanya satu atau dua—atau setidaknya sepuluh—mungkin belalang masih tampak lucu. Tapi bagaimana dengan ratusan juta belalang?

Tempo hari, Afrika Timur diserang ratusan juta belalang—kalian bisa mencari beritanya lewat Google—dan “hewan yang lucu” itu seketika berubah menjadi hama mengerikan yang menghancurkan pertanian, yang mestinya bisa menghidupi 35.000 orang. Itu benar-benar wabah!

Secara biologi, makhluk hidup mana pun akan menjadi hama, jika jumlahnya tak terkendali, dan keberadaannya merusak bumi. Belalang dalam jumlah terkendali adalah populasi. Tapi belalang yang jumlahnya tak terkendali, apalagi merusak, adalah hama. Begitu pun manusia.

Kita telah mendapat kutukan itu, gara-gara manusia zaman kuno tidak mau mikir untuk mengendalikan populasi sejak dini. Mereka terlena oleh aktivitas kawin, leyeh-leyeh, beranak-pinak, kawin lagi, leyeh-leyeh lagi, dan beranak-pinak lagi, dan begitu seterusnya, lalu populasi meledak.

Dampak populasi yang tak terkendali adalah menyempitnya tanah-tanah yang diubah jadi tempat hunian, rusaknya alam karena dieksploitasi habis-habisan, serta berjayanya sistem industri dan kapitalisme yang kini menjerat kita semua dalam kerja keras nyaris tanpa usai, demi uang.

Miliaran orang menjadi pekerja keras, mungkin termasuk kita di antaranya, karena memang dikutuk untuk melakukannya. Kita bukan makhluk pekerja, tapi sistem yang berlaku dalam kehidupan kita sekarang mewajibkan siapa pun untuk bekerja, demi uang untuk melanjutkan hidup.

Jadi, orang-orang yang senang kerja keras bisa jadi karena memang tidak punya pilihan lain. Karena jika tidak bekerja, mereka tidak mendapat uang. Dan kalau tidak mendapat uang, mereka akan kesulitan melanjutkan hidup. Bagi mereka, bekerja keras adalah satu-satunya pilihan.

Kalau kau bisa mendapat uang dan melanjutkan hidup dengan nyaman sambil leyeh-leyeh dan bermalas-malasan, itu privilese! Karena tidak semua orang bisa seperti itu. Terlepas kau benar-benar punya privilese atau dasarnya memang cuma malas kerja, itu urusanmu.

Kenyataannya, kita semua telah terjebak. Terjebak dalam over-populasi, terjebak dalam mesin-mesin industri, terjebak dalam sistem kapitalisme. Akui saja, kita tidak berdaya berhadapan dengan semua itu, dan pilihannya cuma dua; mengikuti sistem, atau berupaya meruntuhkannya.

Mengikuti sistem mungkin terdengar cemen bagi sebagian orang, karena isinya kerja keras, dan aneka hal yang mungkin terdengar seperti omong kosong sekaligus melelahkan, bahkan ketika baru mendengarnya. Jelas tidak cocok bagi orang yang merasa dirinya Che Guevara.

Sementara pilihan kedua, jika kita memang tidak ingin mengikuti sistem, adalah meruntuhkan sistem yang telah ada; sistem industri dan kapitalisme. Sejujurnya, itu bukan urusan yang mudah, karena kita membutuhkan Infinity Stones—atau kekuatan yang setara dengan itu.

Untuk bisa meruntuhkan sistem kapitalisme, kita harus meruntuhkan sistem industri, karena kapitalisme adalah anak emas sistem industri. Tanpa sistem industri, sistem kapitalisme akan rapuh. Jika sistem industri telah diruntuhkan, kapitalisme juga akan bisa dilenyapkan.

Tetapi... untuk bisa meruntuhkan sistem industri, kita harus memulai dari akarnya, yakni over-populasi. Fakta tak terbantahkan; sistem industri dan kapitalisme bisa berjaya, karena adanya over-populasi. Selama populasi manusia tak terkendali, industri dan kapitalisme akan tetap mencengkeram.

Karena itulah, seperti tadi disebutkan, untuk bisa meruntuhkan sistem industri dan kapitalisme, kita membutuhkan Infinity Stones, karena kita harus memulainya dengan meruntuhkan over-populasi terlebih dulu. Lenyapkan separo populasi, baru kita ngomong soal meruntuhkan kapitalisme.

Tapi itu tidak mungkin, karena akan... well, tidak beradab. Kita tidak mungkin memusnahkan sesama manusia, apa pun alasannya. Karenanya, yang bisa kita lakukan—dan yang mestinya kita lakukan—adalah menyampaikan kesadaran tentang hal ini pada sesama, dan bukan malah memprovokasi mereka cepat kawin dan beranak-pinak.

Saat ini, jika kita memang ingin meruntuhkan sistem yang telah mencengkeram peradaban—yakni sistem industri dan kapitalisme—satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah “mengerem” laju reproduksi, dan itu artinya menyebarkan kesadaran bahwa “menikah tidak menjamin kebahagiaan, dan punya anak tidak menjamin rezeki lancar”—karena nyatanya memang begitu. Penyebaran kesadaran ini akan berhadapan dengan doktrin usang tapi terkenal... dan itulah tugas siapa pun yang ingin meruntuhkan peradaban.

Akar masalah bumi, dan dunia seisinya—beserta sistem-sistem di dalamnya—adalah populasi manusia yang tak terkendali. Tanpa kesadaran penting ini, semua wacana menumbangkan kapitalisme hanyalah omong kosong, dan aksi meruntuhkan kediktatoran industri bisa dibilang sia-sia. Industri hanyalah batang pohon, dan kapitalisme hanyalah ranting yang tumbuh di sisi-sisinya. Tapi akar dari semuanya adalah over-populasi. 

Bumi akan menjadi surga bagi manusia, jika populasi terkendali. Semua kenikmatan hidup yang kita kenal akan dapat diraih. Karena tanah-tanah subur begitu luas, lautan jernih tanpa sampah, udara murni tanpa polusi, dan tidak ada sistem-sistem yang mencekik serta membelenggu.

Sebaliknya, bumi akan menjadi neraka—dan sekarang kita mengalaminya—ketika populasi tak terkendali, dan mengubah manusia menjadi hama. Tanah-tanah menyempit dan tandus, alam dieksploitasi habis-habisan, polusi mencemari, bumi kian tak ramah, dan bencana datang silih berganti.

“Manusia adalah pemimpin di muka bumi”—itu benar, selama populasinya terkendali. Jika populasi liar tak terkendali, manusia adalah hama di muka bumi, karena manusialah yang merusak dan memperkosa alam, menghancurkan tempat tinggalnya sendiri.

Sekarang kita mulai memahami kenapa ada orang seperti Thanos, yang rela melakukan dan mengorbankan apa pun demi mengumpulkan Infinity Stones. Bumi membutuhkan Thanos. Sayangnya, jika Thanos benar-benar tiba, kita mungkin akan keliru mengenalinya.

Misi: Meruntuhkan Peradaban

 Apa tujuan hidup lo?
@VICE_ID

Meruntuhkan peradaban.
@noffret


Saat orang mendengar istilah "revolusi", yang terbayang dalam pikiran biasanya perang, pertempuran, atau setidaknya demo dan unjuk rasa besar-besaran untuk menumbangkan status quo—apa pun wujudnya. Padahal tidak mesti begitu. Gandhi sudah menunjukkannya. Dia hanya diam.

Tapi kita tidak hidup di zaman Gandhi yang menghadapi penjajahan fisik, dan kita juga bukan Gandhi. Status quo yang kita hadapi saat ini adalah tumpukan doktrin usang yang sebenarnya merusak manusia, bumi, peradaban, dan seisinya, tapi terus dilembagakan... dan terus merusak.

Apa penyebab munculnya virus corona saat ini? Hampir semua ilmuwan di dunia sepakat asalnya dari kelelawar, yang kemudian menulari manusia. Tapi masalahnya tidak sesederhana itu, dan siapa pun mestinya tahu! Penyebab virus corona saat ini adalah karena bumi sudah terlalu sesak!

Mari sepakati bahwa virus corona berasal dari kelelawar. Apakah kelelawar menginvasi manusia? Tidak, mereka memiliki habitatnya sendiri. Tapi manusia terus merangsek dan merusak habitat mereka, akibat populasi terus bertambah, hingga hidup kita dengan mereka tak lagi punya batas.

Bukan kelelawar yang mendekati apalagi menyerang kita, tapi kita—Homo sapiens yang sok bijak ini—yang terus mendekati mereka dengan merusak habitatnya. Ketika jarak diretas, sesuatu yang ada pada mereka (mis. virus) mudah berpindah tempat... dan pandemi sekarang inilah akibatnya.

Pandemi yang diakibatkan virus dari hewan yang menulari manusia hanyalah satu di antara setumpuk kerusakan lain yang diakibatkan ledakan populasi manusia. Tapi aku tidak mungkin menulis daftarnya di sini, karena bisa jadi baru akan selesai tahun 8744, dan ududku tidak akan cukup!

Intinya, segala masalah yang terjadi di muka bumi, jika dirunut ke asalnya, hampir selalu disebabkan oleh populasi manusia. Sebut apa saja masalah bumi, dan akar masalahnya manusia. Polusi, kerusakan alam, pemanasan global, bahkan kapitalisme, akar masalahnya ledakan populasi.

Pertanyaannya, tentu saja, bagaimana bisa terjadi ledakan populasi? Secara ilmiah, jawabannya sederhana; karena evolusi menuntut begitu. Ironisnya, pihak yang paling kuat menentang evolusi justru menjadi penyokong paling kuat tujuan evolusi. "Menikah akan membuatmu bla-bla-bla."

Ledakan populasi memang sulit dihindari, karena banyak kepentingan di dalamnya. Evolusi punya kepentingan (untuk melakukan seleksi alam), agama punya kepentingan (untuk menambah jumlah pengikut), dan kapitalisme punya kepentingan (untuk meluaskan pasar sekaligus menurunkan upah).

Dan itulah peradaban kita saat ini; terjepit di antara tuntutan evolusi (ingin kawin), dihadapkan pada "ajaran agama" (menikah akan membuatmu bahagia dan lancar rezeki), kemudian terjebak dalam perangkap kapitalisme (kerja pagi pulang malam, hanya demi bisa makan). Menyedihkan?

Orang-Orang Tercerahkan sejak zaman dulu bertanya-tanya, untuk itukah kita hidup? Semenyedihkan itukah takdir manusia? Dan setiap kali mereka mencoba mengingatkan sesamanya, tidak ada yang mau mendengarkan, karena Homo sapiens, yang bijak ini, sebenarnya tidak bijak-bijak amat.

Latar semacam itulah yang menjadikan Thanos murka hingga mengumpulkan Infinity Stones, sementara Kurt Hendricks dan Solomon Lane ingin meledakkan nuklir. Tapi kita tentu tidak bisa melakukan yang mereka lakukan, karena kita hidup di dunia yang beradab dan berperikemanusiaan.

Jadi, bagaimana solusi meruntuhkan peradaban yang gila ini, tanpa harus repot mengumpulkan Infinity Stones dan tanpa harus meledakkan nuklir? Aku telah memikirkan pertanyaan itu selama ribuan tahun, dan karena itulah jawabanku untuk pertanyaanmu: Meruntuhkan peradaban.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 September 2020.

Merindukan Gus Dur

Di masa penuh ketidakpastian politik dan sosial seperti sekarang, aku benar-benar merindukan sosok pemimpin dan negarawan seperti Gus Dur, yang kepadanya dapat kuletakkan seluruh kepercayaanku, tanpa ragu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 Mei 2020.

New Normal Pecah Ndase

Tadi, pas di rumah famili, ada orang ngobrol sama tetangganya, membicarakan New Normal. Salah satunya berkata, "Urip normal wae aku wis pusing, opo maneh new normal. Pecah ndasku!"


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Mei 2020.

Noffret’s Note: Larangan Mudik

Setelah ratusan ribu atau bahkan jutaan orang mudik, larangan mudik baru keluar. Ajaib, kalau dipikir-pikir.

Yang perlu dilarang sebenarnya bukan cuma mudik, tapi semuanya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21-22 April 2020.

Jumat, 11 Desember 2020

Seks dan Perkawinan Itu B Aja

 Seks dan perkawinan itu biasa saja.
Cuma glorifikasinya yang luar biasa.


Hidup dan segala glorifikasinya, meminjam istilah anak sekarang, "B aja".

Yang menjadikan Homo sapiens mampu bertahan dan beradaptasi, sementara makhluk-makhluk lain punah, karena Homo sapiens bisa bercerita. Kemampuan bercerita memungkinkan mereka membangun fantasi, bahkan glorifikasi. Dan pada satu titik, glorifikasi itu terlalu ndakik-ndakik.

Dalam contoh yang mudah, kita bisa melihat aktivitas seks. Sebenarnya, aktivitas seks hanyalah peristiwa alami di antara makhluk hidup—sama sekali tidak istimewa. Yang menjadikannya istimewa, karena ia diglorifikasi sedemikian rupa, meski mungkin tujuannya baik.

Makhluk hidup, khususnya manusia, membutuhkan seks untuk berkembang biak. Evolusi mengiming-imingi bahwa "seks itu nikmat". Sementara Homo sapiens melembagakan aktivitas seks dengan perkawinan. Agar semua pihak patuh dengan aturan itu, fantasi dan glorifikasi diciptakan.

Karenanya, kita lebih sering mendengar "perkawinan itu indah" daripada sebaliknya—meski mungkin realitasnya berkebalikan—karena slogan-slogan semacam itu dibutuhkan Homo sapiens agar kita patuh, dan bersedia menikah, demi bisa beraktivitas seks secara legal. Padahal ya B aja.

Maksudku, perkawinan tidak—atau belum tentu—seindah yang diglorifikasikan. Begitu pula seks, yang menjadikan banyak orang ngebet kawin, belum tentu senikmat (atau mungkin harus kukatakan; sedahsyat) yang mungkin kita khayalkan. Karena semua glorifikasi itu nyatanya memang B aja.

Bertahun lalu, seorang cowok remaja di Manhattan kepergok ngintip perempuan yang sedang mandi. Oleh tetangganya (yang menurutnya bijak), cowok ABG itu diajak ke klub malam di pinggir kota untuk "memuaskan rasa ingin tahunya". Peristiwa itu mengubahnya secara total hingga dewasa.

Bertahun-tahun kemudian, ketika dewasa, dia menceritakan peristiwa itu, dan dengan jujur mengatakan, "Ternyata, seks tidak seindah dan senikmat yang kubayangkan. Aku sampai terkejut, ketika mendapati sesuatu yang diglorifikasi sedemikian rupa, ternyata biasa saja."

Aku percaya.

Dan dia tidak berhenti di situ. Di kampusnya (dia kuliah di sebuah kampus tua terkenal di Manhattan), dia melakukan riset terkait pengalaman seks teman-temannya (semuanya pria). Riset itu untuk menjawab pertanyaan sederhana; apakah pengalaman dia juga dialami para pria lainnya?

Ada 500-an mahasiswa yang menjadi responden penelitian itu, dengan setumpuk pertanyaan serupa, yang semuanya memberi jawaban secara anonim. Hasilnya mungkin mencengangkan. Rata-rata mereka sama; menganggap seks "tidak senikmat yang kubayangkan". 

Apa kabar para pria sedunia?

Saat menjawab pertanyaan dalam lembar riset, "Apa yang kaupikirkan dan kaurasakan ketika pertama kali ML?", rata-rata mereka menjawab, "Kok cuma gini?", "Kok biasa-biasa saja?", "Apakah aku keliru? Kenapa rasanya cuma begini?", dan, "What the hell, sepertinya aku tertipu!"

Kenyataannya, seks—khususnya dalam kepala pria—adalah campuran antara fantasi dan sensasi. Dua hal itu pula yang menjadikan mereka terus terobsesi. Selebihnya... B aja. Karena "B aja" itu pula, seks lalu diglorifikasi sedemikian rupa, hingga mereka bersedia melembagakannya.

Kalau kita nonton bokep, kita pasti melihat bahwa si wanita tampak sangat "ekspresif" dengan segala desah dan rintih, sementara si pria kelihatan biasa saja. Kenapa? Jawabannya panjang, tapi salah satunya karena... memang si wanita yang merasakan kenikmatan. Si pria? B aja.

Saat aktivitas seks berlangsung, sejak foreplay sampai intercourse, si wanita merasakan kenikmatan, dalam arti sesungguhnya. Sementara yang dirasakan pria hanya fantasi dan sensasi—bukan kenikmatan. Terkait seks, kenikmatan pria baru terjadi saat ejakulasi. Selebihnya, B aja.

Jika ingin membuktikan ocehan ini, sila tanyakan pada teman-teman pria yang telah menikah—yang tentu melakukan aktivitas seks secara rutin—dan minta mereka menjawab secara jujur. Karena itulah, aktivitas seks dalam pernikahan disebut "nafkah batin", karena itu "hak si wanita".

Jika didefinisikan, nafkah batin adalah "kewajiban suami untuk memberikan kenikmatan seksual pada istri". Dan dalam hal itu, aturannya—meminjam istilah di akad nikah—“muasyarah bil ma'ruf”. Maksudnya ya dengan foreplay dan sebagainya, yang semua kenikmatannya UNTUK si wanita.

Jadi, dalam perspektifku sebagai bocah, ada paradoks yang aneh terkait urusan ini, yang sekali lagi membuktikan betapa licinnya evolusi. Pria terobsesi pada seks dan pada wanita, dengan segala fantasi dan glorifikasi, padahal yang paling menikmati aktivitas itu justru si wanita.

Wanita merasakan kenikmatan—dalam arti sesungguhnya—sejak foreplay sampai afterplay, masih ditambah dengan multiorgasme bahkan squirt. Sementara pria? Multiorgasme pria itu cuma wacana, dan kenikmatan pria cuma sebatas ejakulasi, plus tipu-tipu fantasi di kepala. Intinya B aja.

Jadi, apa kesimpulan ocehan mbuh ini? Kesimpulannya ya B aja. Bahwa semua glorifikasi yang biasa kita dengar, khususnya terkait seks dan perkawinan, sebenarnya B aja. Dan kelak, kapan pun waktunya, saat telah membuktikan, kau akan menyadari bahwa semua fantasimu ternyata B aja.

Ironis, kalau dipikir-pikir. Kita dibuai oleh fantasi, didikte oleh glorifikasi, hanya untuk menyadari bahwa semuanya B aja. Oh, well, bahkan aku yang telah menyadari semua ini B aja, ya masih terobsesi. Terobsesi apppeeeuuuuh...*

*Padahal ya aku sadar, appeeeeuuh itu B aja.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Januari 2020.

Bocah Menjelang Tidur

Menjelang tidur, seorang bocah mendekap gulingnya, dan berbisik, “Aku kangen banget sama mbakyuku.”

Guling menyahut, “Mbakyumu siapa?"

“Lahatia!”

Omnibus Law dan Dilema Buruh

Ada usul yang terdengar bagus; bagaimana kalau 3 juta (saja) buruh mogok, tenang di rumah, tidak usah masuk kerja?

Mungkin mengingatkan kita pada ahimsa-nya Gandhi. Dan secara teoritis, 3 juta buruh yang tidak masuk kerja bisa menghasilkan efek yang mengerikan bagi industri.

Jika 3 juta buruh benar-benar mogok kerja 30 hari, misalnya, industri akan berdarah-darah, khususnya industri padat karya. Dan polisi atau siapa pun tidak bisa melarang, wong mereka tidak melakukan aksi apa pun, cuma diam di rumah.

Tetapi, sayangnya, usul itu sulit dilakukan.

Mungkin industri memang akan kalang kabut jika 3 juta buruh benar-benar mogok kerja selama 30 hari. Tapi para buruh yang melakukan mogok kerja itu juga akan kalang kabut, karena tidak mendapat penghasilan. Karena menjadi buruh/karyawan artinya, "kerja 1 hari untuk hidup 1 hari".

Posisi tawar buruh, dalam hal ini, juga rendah. Kalau benar 3 juta buruh mogok kerja hingga menyebabkan industri kalang kabut, selalu ada kemungkinan jutaan (calon) buruh lain yang akan menggantikan. Karena faktanya tenaga kerja jauh lebih banyak dibanding lapangan kerja.

Dan, sebenarnya, menurutku, itulah akar masalahnya; jumlah tenaga kerja jauh lebih banyak, tidak imbang dengan lapangan kerja yang tersedia. Dalam kondisi semacam itu, mengharapkan keadilan nyaris mirip utopia, wong ketidakadilan (ketidakseimbangan) sudah tertanam dalam masalah.

Selama jumlah tenaga kerja jauh lebih banyak atau tidak imbang dengan lapangan kerja yang tersedia, selama itu pula posisi tawar buruh akan rendah, sekaligus rentan eksploitasi, dan kenyataan saat ini sudah menjadi bukti. Omnibus law bisa ada, karena kita tidak hidup di Narnia.

Kita tentu sepakat, Omnibus law—atau aturan eksploitatif apa pun namanya—adalah sesuatu yang tragis, karena menempatkan manusia (buruh) di titik nadir. Yang belum kita sepakati, mungkin, adalah bahwa kenyataan tragis ini berawal dan berasal dari masalah yang tidak kita sadari.

Tolong maafkan jika ini mungkin terdengar tidak empatik.

Di masa sebelum Black Death menghantam Eropa, posisi buruh (khususnya penggarap lahan milik para tuan tanah) hampir mirip seperti sekarang; posisi tawar rendah, rentan eksploitasi, dengan bayaran pas-pasan untuk hidup.

Kenyataan itu berlangsung bertahun-tahun, sebagian tuan tanah bahkan bisa memecut para pekerjanya seperti budak—saking rendahnya posisi tawar mereka. Lalu Wabah Hitam melanda, menghancurleburkan peradaban, dan menewaskan nyaris separuh populasi di Eropa.

Dan era baru dimulai.

Setelah Wabah Hitam itu berlalu, seiring peradaban runtuh dan nyaris separuh umat manusia di Eropa musnah, para buruh di sana menempati posisi tertinggi yang belum pernah mereka capai sebelumnya. Kali ini, bukan mereka yang butuh tuan tanah; tapi tuan tanah yang butuh mereka.

Dalam posisi semacam itu, bukan tuan tanah yang menentukan harga buruh, tapi buruh yang menentukan harga untuk dirinya sendiri—harga yang layak, harga yang bermartabat, harga yang manusiawi.

Sayang, manusia mudah terlena, dan tak belajar dari sejarah. Omnibus law menampar kita.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Oktober 2020.

Noffret’s Note: Halu

Dari dulu aku percaya, "kurang percaya diri" masih lebih baik, daripada "over percaya diri". Setidaknya, kurang percaya diri membuat kita lebih hati-hati.

Gara-gara sesuatu sedang viral di Twitter, akhirnya aku sadar kalau orang halu memang benar-benar ada. Antara miris dan ingin tertawa.

Iseng searching dan nemu akun AskFm-nya:

"Orang kaya ya mbak? Papihnya pengusaha besar ya, pengen belajar bisnis ama papinya biar kaya juga."

"Papi gue punya sebagian saham ask-fm."

Aku benar-benar iri dengan orang yang punya kepercayaan diri setinggi itu.

Lanjutan dari AksFm halu tadi:

"tau pagan poetry ga kak?"

"Tau dong, kan gue pernah pacaran sama dia."

*) Pagan Poetry adalah lagunya Björk.

Aku jadi bayangin ngomong sama diri sendiri:

"Tahu Firebelly gak, bocah?"

"Tahu dong, aku kan pernah pacaran sama dia."

Padahal Firebelly adalah judul novel J.C. Michaels

Gara-gara twit viral tadi, sekarang aku terjebak membaca ocehan-ocehan halu di AskFm. Sebenarnya gatal ingin SS langsung tiap ocehannya, dan beberin di sini. Tapi khawatir kalau nanti jatuhnya jadi kayak bullying.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Oktober 2019.

Noffret’s Note: A New Hope

Lima tahun lalu, TIME memasang wajah Presiden Jokowi sebagai sampul, dengan headline A New Hope. Kini, lima tahun kemudian, apa pendapat TIME terhadap orang yang sama? Ada yang tahu? Ah, sama kalau begitu.

Jadi, apa maksud tweet ini? 

Waduh, mosok ngono wae gak ngerti!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 November 2019.

Selasa, 01 Desember 2020

Bisa Menelan Pil Itu Privilese

Kalau kau bisa menelan pil dengan mudah, kau patut bersyukur.
Itu kemampuan yang tidak kumiliki, meski telah berlatih bertahun-tahun.


Gastroesophageal reflux disease atau GERD adalah salah satu masalah kesehatan yang “populer”, akhir-akhir ini, karena menyerang banyak orang, lebih khusus anak-anak muda. Bisa jadi, penyakit ini sebenarnya sudah menyerang banyak orang sejak lama, namun kebanyakan kita mungkin lebih mengenalnya sebagai “asam lambung”.

GERD memang berkaitan dengan asam lambung, yaitu naiknya asam lambung di tubuh kita. Meski mungkin terdengar ringan, naiknya asam lambung bisa menimbulkan aneka keluhan, dari nyeri dada, tenggorokan panas, sesak napas, sering bersendawa, atau bahkan mungkin lebih parah dari itu. Kerusakan gigi, bahkan, salah satunya disebabkan oleh naiknya asam lambung, karena cairan asam ini mengerosi gigi serta gusi penderitanya—khususnya jika naiknya sudah sampai tenggorokan.

Saya akrab dengan GERD, karena menjadi salah satu penderitanya. Lebih dari setahun yang lalu, saya terserang penyakit ini, sudah ke dokter, sudah diberi obat, dan sudah sembuh. Saya pikir akan sehat seterusnya, dalam arti tidak akan terkena GERD lagi. Tapi ternyata saya keliru.

Sekitar dua bulan lalu, saya merasakan asam lambung sering naik. Mula-mula saya tidak mempedulikan, karena saya pikir itu cuma efek kekenyangan—karena nyatanya naiknya asam lambung memang sering terjadi tak lama setelah makan. Tetapi, lama-lama, naiknya asam lambung ini membuat saya tidak nyaman.

Berusaha menjadi bocah yang baik dan sadar kesehatan, saya pun akhirnya memutuskan ke dokter yang dulu merawat saya. Di sana, saya menyampaikan keluhan yang dirasakan, lalu organ-organ dalam tubuh saya diperiksa. 

“Organ-organ dalam Anda sehat semua,” kata dokter, “cuma lambung sedikit bermasalah.”

Dokter menulis resep obat, dan saya menebusnya ke apotek. Obatnya beda dengan yang dulu, dan saya baru tahu itu setelah menerima bungkusan obat di apotek. Kalau dulu dua jenis pil, sekarang pil dan kapsul. Modyar, pikir saya.

Saya punya masalah dengan urusan obat, karena tidak bisa menelan, apalagi jika obatnya berbentuk kapsul. Kalau pil, saya masih bisa mengunyahnya, meski harus nyengir-nyengir—campur misuh-misuh tak karuan—ketika merasakan pahit pil meledak di dalam mulut. Tapi mengunyah kapsul terdengar seperti “mission impossible”, dan saya tidak yakin Ethan Hunt sekalipun bisa melakukannya.

Yang bisa saya lakukan pada kapsul adalah membuka cangkangnya, menuang isinya ke sendok, mencampurkan sedikit teh, lalu “menyantapnya”. Setelah itu saya akan minum banyak teh manis, untuk mengusir rasa “mengerikan” yang timbul dari isi kapsul tadi.

So, itulah yang saya lakukan pada kapsul yang diresepkan tadi. Di rumah, saya buka cangkang kapsul itu hati-hati, menuang isinya ke sendok, mencampurkan sedikit teh, lalu memasukkannya ke mulut... sambil berharap rasanya seperti gula-gula. Tapi harapan saya tak terkabul. Begitu isi kapsul itu menyentuh lidah, seketika mulut seperti terbakar. Rasanya ngujubilah setan!

Buru-buru saya meminum teh hangat manis di gelas, berharap bisa mengusir rasa tidak enak di mulut akibat kapsul itu. Tapi sia-sia. Sebegitu keras rasa obat itu, sampai teh manis tidak mampu mengusir bekas rasanya dari lidah. 

Dengan panik, saya mencari aneka makanan dan jajan di rumah, berharap ada sesuatu yang bisa saya gunakan untuk mengusir rasa tidak nyaman di mulut. Nemu bungkusan keripik pedas. Akhirnya saya memakan keripik pedas itu banyak-banyak, meminum teh lagi, dan pelan-pelan rasa pahit-sialan kapsul tadi lenyap. Setelah itu udud, tentu saja, biar tidak muntah.

Sambil udud, saya tercenung. Ini baru satu kali saya mengonsumsi kapsul tadi, dan rasanya sudah menyiksa. Padahal saya harus mengonsumsi kapsul itu [dan pil yang disertakan] dua kali sehari, dan bisa jadi urusan konsumsi obat ini akan cukup lama, sampai masalah GERD saya teratasi. 

Urusan pil bisa saya atasi dengan mudah, karena bisa mengunyahnya langsung, dan lenyap begitu diguyur minum. Tapi kapsulnya... sangat tidak environmental.

Mungkin karena tubuh saya “kaget” gara-gara minum kapsul tadi, besoknya saya meriang, dan terkapar di tempat tidur. Sampai beberapa hari.

Well, setiap orang tampaknya punya kekurangan yang khas, dan salah satu kekurangan saya yang menjengkelkan—khususnya bagi saya sendiri—adalah tidak bisa menelan obat. Terdengar sepele, tapi sangat merisaukan, khususnya saat terkena sakit dan harus minum obat. Seperti sekarang.

Orang yang bisa dan biasa menelan obat sering sesumbar kalau menelan pil/kapsul itu “mudah sekali”. Tiap kali mendengar ocehan jumawa semacam itu, saya jadi dongkol. Mudah mbahmu, pikir saya. Kalau mudah, saya pasti sudah bisa melakukannya sejak zaman Firaun!

Nyatanya, mungkin, menelan obat (pil/kapsul) memang mudah—bagi yang bisa! Wong tinggal memasukkan obat ke dalam mulut, guyur pakai air minum, dan, tara... obat itu langsung lenyap! Sudah berpindah dari mulut ke perut. Seperti sulap! Tetapi, seperti sulap pula, kemampuan itu juga hanya bagi yang bisa.

Dalam perspektif medis, ada fenomena yang disebut disfagia, yaitu kondisi kesulitan menelan, khususnya menelan obat (pil/kapsul). Kondisi ini biasanya telah muncul sejak kecil, dan nyatanya saya memang tidak bisa menelan obat sejak kecil. Sedari balita, sampai sekarang menjadi bocah, saya harus mengunyah obat apa pun yang saya konsumsi. Tabik untuk pencipta Bodrexin!

Disfagia terjadi, biasanya, karena adanya trauma atau ketakutan tertentu. Bisa karena pernah mengalami tersedak dalam proses menelan pil, atau ketakutan kalau pil/obat itu akan menimbulkan hal-hal tidak nyaman, seperti rasa pahit, dan semacamnya. Intinya, orang yang mengalami disfagia akan kesulitan menelan obat, karena otot-otot kerongkongannya otomatis akan mengencang, sehingga obat akan kesulitan masuk.

Memasukkan obat ke mulut itu kan proses oral, dan proses oral membutuhkan “kerelaan”—dalam arti; jika dipaksa, kita akan tersedak. 

Kita bisa memakan banyak hal, aneka makanan, karena kita “rela”, sehingga organ-organ tubuh kita, khususnya otot-otot kerongkongan, membuka dengan baik, hingga makanan yang kita masukkan ke mulut bisa mengalir ke dalam dan menuju pencernaan. Tapi jika kita “tidak rela” atau “tidak nyaman” saat memakan sesuatu, proses ini bisa bermasalah. Muntah adalah salah satu akibatnya.

Ini tak jauh beda dengan, well... vaginismus. Yaitu kondisi mengencangnya otot-otot vagina—sebegitu kencang, hingga tidak bisa dimasuki penis. Dan jika penis telanjur masuk, ia tidak bisa ditarik/dicabut/dikeluarkan, karena saking kencangnya otot-otot vagina mencengkeram. Fenomena ini, oleh orang awam, disebut gancet.

Dalam konteks menelan obat, orang yang mengalami disfagia sebelas dua belas dengan orang yang mengalami vaginismus. Otot-otot kerongkongan akan kejang atau mengencang, sehingga tidak bisa dimasuki obat (pil/kapsul). Dan jika obat telanjur masuk atau dimasukkan, biasanya obat itu akan terjepit atau macet di kerongkongan. Yang saya alami, saya akan tersedak atau muntah jika mencoba melakukannya.

Jadi, aneka nasihat dan tip “cara menelan obat yang baik dan benar”—sebagaimana yang sering diocehkan orang-orang di sekitar kita—itu tidak relevan-relevan amat. Orang yang tidak bisa menelan obat, karena disfagia, bukan karena terlalu idiot sehingga tidak bisa melakukannya, tapi semata-mata karena masalah tertentu pada tubuhnya.

“Caranya begini,” kata mereka, “kamu makan pisang atau roti, kunyah sampai halus. Setelah halus di mulut, masukkan pil dan tempelkan ke lidah. Lalu telan bersama makanan yang halus tadi. Mudah.”

Mudah mbahmu! 

Teori itu mungkin benar untuk orang-orang yang memang bisa menelan obat. Artinya, mereka memang bisa menelan pil/kapsul dengan baik, tapi tidak/belum tahu cara melakukannya. Sementara bagi orang-orang yang kebetulan mengalami disfagia, teori itu cuma omong kosong. Seratus kali mencoba, seratus kali gagal. Saya sudah mencobanya—tak perlu berdebat.

So, kalau kamu kebetulan bisa menelan obat, entah pil atau kapsul, dan bisa melakukannya dengan enjoy, kamu perlu tahu bahwa itu privilese. Tidak semua orang punya kemampuan seperti itu. Dan seperti umumnya privilese, pemiliknya sering kali tak menyadari. 

Bisa menelan pil atau kapsul itu privilese, karena tak perlu mengunyahnya, tak perlu merasakan pahitnya yang ngujubilah, tak perlu khawatir ketika sewaktu-waktu kena sakit, karena bisa enjoy minum obat. Saya tidak punya kemampuan seperti itu. Setiap kali sakit, saya harus menghadapi dua masalah sekaligus. Masalah pertama ya sakitnya itu sendiri. Sementara masalah kedua, saya harus merasakan pahitnya obat. Wong sakit saja sudah tidak enak, masih ditambah obat yang tidak enak.

Bisa menelan obat dengan mudah, itu privilese. Punya kesehatan yang selalu terjaga, itu privilese. Lebih baik lagi; bisa menelan obat dengan mudah, kesehatan selalu terjaga, dan punya duit banyak! 

Kata-Kata Beracun

Cara membuat kata-kata beracun yang sebenarnya merusak, tapi akan diterima dan dipercaya banyak orang mentah-mentah:

Karanglah apa saja maumu, sesuai keinginanmu, lalu gunakan kata-kata berbunga, dan balutlah dengan embel-embel agama. 

Andai aku seorang psikopat yang hobi menyiksa pasangan setiap saat, tapi ingin terdengar "normal", misalnya, aku akan mendoktrin orang-orang:

"Pasanganmu seorang psikopat? Tidak! Dia sosok yang dihadirkan Allah untuk menguji kesabaranmu agar derajatmu semakin tinggi."

Tentu saja bohong!

Sialnya, kebohongan semacam itulah yang selama ini dicekokkan habis-habisan ke otak kita, dan, sialnya pula, jutaan orang percaya. Jualan kata "Allah" memang selalu laku!

Kenapa jutaan orang percaya bahwa "menikah akan membuatmu bahagia dan lancar rezeki"? Karena kata-kata itu dibalut embel-embel agama! Padahal agama sebenarnya tidak mengajarkan begitu! Ada orang-orang sok pintar memelintir ayat seenaknya sendiri, lalu didoktrinkan seenaknya pula.

Lalu jutaan korban berjatuhan, jutaan wanita jadi korban KDRT, jutaan perceraian terjadi, jutaan anak sengsara dan terluka. Tapi selalu saja ada orang-orang membawa kata "Allah" sambil mendoktrin orang-orang lainnya, "Menikah akan membuatmu bahagia dan lancar rezeki."

It's sick.

Ular paling beracun, katak paling beracun, dan mayoritas hewan paling beracun, memiliki wujud yang indah. Keindahan itu, sebenarnya, bukan untuk menarik perhatian, melainkan untuk memberi tahu makhluk lain agar waspada. Hewan-hewan tahu soal ini, tapi manusia justru tertipu!

Manusia berkomunikasi dengan kata-kata. Dan kata-kata paling beracun adalah nasihat yang merusak tapi diberi embel-embel agama. 

Seperti yang dikatakan Ibnu Rusyd, "Kalau kau ingin menguasai orang-orang bodoh, bungkuslah dusta dan kebatilan dengan agama."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Agustus 2020.

Wabah di Dalam Wabah

Sambil nunggu udud habis.

Dengar-dengar, Anji dan Hadi Pranoto akan dipolisikan, terkait obrolan mereka di YouTube. Itu langkah bagus, tentu saja, agar orang tidak omong seenaknya, yang bikin kekisruhan di masyarakat luas. Yang jadi masalah... bagaimana dengan orang-orang serupa mereka sebelumnya?

Hadi Pranoto mengklaim menemukan obat Covid-19. Terlepas klaimnya bisa dibuktikan atau tidak, ada orang-orang seperti Hadi Pranoto yang juga menyatakan klaim serupa. Jika Hadi Pranoto dipolisikan, apakah hal itu juga akan berlaku surut pada orang-orang seperti dirinya?

Kita mungkin menghadapi masalah di sini. 

Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, dulu memperkenalkan Herbavid-19, yang diklaim dapat menyembuhkan Covid-19. PT Satgas Lawan Covid-19 DPR bahkan mendaftarkan Herbavid-19 ke BPOM, dan jamu itu sudah dapat nomor registrasi.

Belakangan, Herbavid-19 batal diproduksi massal, karena muncul polemik dan protes keras dari Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia. 

Kita juga tentu ingat ribut-ribut Kalung Kayu Putih (Kalung Eucalyptus) buatan Mentan, yang juga diklaim dapat “mematikan virus corona”.

Gubernur Bali, Wayan Koster, juga punya klaim sendiri terkait penyembuhan corona, yaitu terapi arak Bali. Jika ditarik ke belakang, kita tentu ingat ada orang-orang yang mengklaim “cuaca dapat membunuh virus corona”, dan “doa qunut dapat menjauhkan corona”. 

Semuanya klaim.

Jadi, kita menghadapi masalah etik di sini. Jika Hadi Pranoto—dan Anji—dipolisikan gara-gara klaim mereka, bagaimana dengan orang-orang yang menyatakan klaim tak jauh beda dengan mereka? Bagaimana pun, semua klaim orang-orang itu sama; belum bisa dibuktikan secara faktual.

Kita mungkin tidak suka Anji, sebagaimana kita mungkin pula tidak suka Jerinx, misalnya, terkait ocehan-ocehan mereka, dan sangat berharap mereka mendapat konsekuensi hukum atas ocehannya. Tapi hukum dan keadilan mestinya mengesampingkan persoalan suka atau tidak suka.

Menurutku, semua kekisruhan—misinformasi sampai lahirnya aneka ocehan berbau hoax yang meresahkan masyarakat—sebenarnya berawal dari pemerintah sendiri. 

Sejak awal, pemerintah sudah tidak tegas dalam menghadapi pandemi Covid-19, dan sekarang kita semua terkena dampaknya.

Sejak awal, pemerintah sangat terlihat gamang menghadapi pandemi, dan belakangan ketahuan mereka berusaha “ngadem-ngademi” kita semua, dengan tujuan agar kita tidak panik, dan agar ekonomi tetap lancar. Tujuan yang baik itu, sayangnya, harus dibayar dengan sangat... sangat mahal.

Munculnya klaim-klaim tanpa dasar terkait Covid-19 juga berawal dari pemerintah. Siapa yang pertama kali mengatakan cuaca bisa membunuh virus corona? Dan qunut? Sekali lagi, aku percaya tujuan mereka baik, agar kita tetap damai dan tidak panik. Tapi sekarang kita lihat akibatnya.

Karenanya, Anji sampai Jerinx—dan orang-orang seperti mereka—menurutku hanyalah ekses yang dilahirkan dari ketidaktegasan pemerintah sendiri sejak awal dalam menghadapi pandemi. Pemerintah tidak bisa tegas pada orang-orang itu, karena mereka tidak bisa tegas pada diri sendiri.

Tanpa bermaksud membela Anji atau Jerinx. Jika dua orang itu dipolisikan gara-gara ocehan mereka, artinya pemerintah—dan kita semua—sudah menggunakan standar ganda. Mereka dipersoalkan, tapi orang-orang lain seperti mereka dibiarkan. 

Oh, well, inilah wabah di dalam wabah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2020.

Noffret’s Note: Resesi

Beberapa kali aku mendapati orang ngetwit dengan nada khawatir, "Resesi sudah di depan mata."

Berdasarkan kenyataan yang sekarang terjadi, kekhawatiran itu bisa jadi benar. Efisiensi (maksudnya PHK) mulai terjadi di mana-mana.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Oktober 2019.

Noffret’s Note: Virus Corona

Virus corona, setidaknya, menunjukkan pada kita betapa indahnya hari biasa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Mei 2020.

Jumat, 20 November 2020

Media Online Paling Memuakkan

Sambil nunggu udud habis, aku mau melanjutkan ocehan kemarin dan kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi.

Seperti yang kukatakan di sini, ada “konspirasi tolol” yang diam-diam terjadi di Twitter, sejak lama, melibatkan banyak orang, laki-laki dan perempuan, dan mereka semua terhubung satu pihak yang sama, yang memberi brief ke mereka, dengan tujuan yang sama. 



Bagaimana dan dari mana urusan tolol ini bermula? Asalnya dari sebuah media online, yang kebetulan menarik perhatianku—sekian waktu lalu. Sebut saja media X. Waktu itu aku tertarik, karena X adalah media online baru yang unik, dan aku mengatakannya terus terang pada mereka.

Karena ketertarikan itu pula, aku mencoba mengirim naskah ke mereka. Satu-satunya alasan aku mengirim naskah ke mereka cuma karena KETERTARIKAN. Honor? Untuk ukuran media lokal, paling berapa, sih? Tidak seberapa! Popularitas? Aku tidak butuh! Aku hanya tertarik, itu saja.

Naskah kirimanku ternyata ditolak. Tidak apa-apa. Bagiku, sebagai penulis, itu hal biasa. Bahkan aku masih mencoba mengirim beberapa naskah lain, yang semuanya tetap ditolak—mungkin karena tulisanku dianggap terlalu berat, dan tidak sesuai dengan segmen pembaca mereka.

Sekali lagi, aku menganggap semua penolakan itu sebagai hal biasa, dan sama sekali tidak kecewa apalagi sakit hati. Sebagai penulis, aku sadar betul bahwa risiko menjadi penulis adalah ditolak. Jadi, penolakan naskah sama sekali tidak ada artinya bagiku. Itu sangat, sangat biasa.

Sebenarnya, aku masih akan mencoba menulis dan mengirim naskah lagi untuk media X tadi. Tetapi, kebetulan ada banyak urusan mendesak yang harus kukerjakan, dan tak bisa ditunda. Akhirnya, rencana menulis untuk media online X pun tertunda, sampai cukup lama.

Ketika urusan yang mendesak sudah mulai rampung, muncul masalah lain. Blogger mengirim pengumuman yang membuatku terguncang, yaitu perubahan dasbor. Perubahan dasbor ini sangat merisaukanku, karena dampaknya luar biasa. 

Sila baca: Blogger Bikin Pusing » https://bit.ly/305S9qI

Aku punya situs Belajar Sampai Mati, yang masih butuh penambahan gambar untuk ribuan artikelnya. Urusan penambahan gambar ini akan sangat rumit jika dilakukan menggunakan dasbor baru. Karenanya, sejak pengumuman dari Blogger tadi, aku benar-benar risau.

Sejak itu pula, aku berpacu dengan waktu, memasukkan gambar pada ribuan artikel di BSM, selama dasbor lama masih bisa digunakan. Gara-gara ini pula, aku sampai meninggalkan urusan pekerjaan, siang malam hanya ngurus BSM. Selengkapnya, baca di sini. » https://bit.ly/305S9qI

Ketika aku sedang suntuk dan stres mengerjakan hal-hal itulah, media X mulai mengganggu. Mungkin mereka nunggu aku kirim naskah lagi, tapi tidak juga kirim naskah. Lalu mereka menuduhku kecewa, sakit hati, egois, dan semacamnya, melalui sarana ala nomention. Inilah asal usulnya.

Bayangkan posisimu di tempatku. Aku sedang stres, banyak urusan, berpacu dengan waktu penggantian dasbor Blogger, siang malam mengunggah gambar untuk ribuan artikel, hingga meninggalkan urusan pekerjaan yang jadi sumber nafkahku. Aku tidak sempat melakukan hal lain, waktu itu.

Dan dalam kondisi semacam itu, media online X terus menerus mengirim pesan ala nomention yang menuduhku kecewa, sakit hati, egois, dan lain-lain, nyaris tanpa henti, hanya karena aku tidak juga mengirim naskah baru ke mereka. Padahal masalahnya sepele; aku sedang sangat sibuk!

Andai mereka menghubungiku baik-baik, dan menanyakan kenapa aku tidak kirim naskah baru, dengan senang hati aku akan menjelaskan. Bahwa aku sedang banyak urusan/kesibukan, dan saat itu sedang suntuk mengurusi situs "Belajar Sampai Mati" yang sampai membuatku tidak bisa kerja.

Tetapi, alih-alih menggunakan cara yang baik dan profesional semacam itu, media X justru hanya terus menerus mengirim pesan ala nomention, menuduhku sakit hati dan kecewa karena ditolak. Kalau aku kemudian jengkel karena hal itu, bahkan iblis di neraka akan dapat memaklumi.

Sejak itulah, ketertarikanku pada media online X pudar, dan aku kehilangan gairah menulis lagi untuk mereka. Ingat kembali, satu-satunya alasanku mau menulis naskah untuk mereka cuma ketertarikan. Dan sejak itu, akibat ulah mereka yang memuakkan, ketertarikanku hilang.

Mereka masih berusaha mengirim pesan-pesan melalui sarana ala nomention dan masih menuduhku kecewa/sakit hati karena ditolak, tapi aku tak peduli lagi. 

Di Twitter, aku bahkan unfollow akun mereka, sebagai upaya menunjukkan kalau aku sudah tak tertarik dan muak dengan mereka.

Lalu, dimulailah “konspirasi tolol” di Twitter. Mungkin karena sadar mereka sudah tak menarik bagiku, media X rupanya mencari cara lain. Kali ini, mereka “memanfaatkan” orang-orang tertentu di Twitter, dan diberi brief tertentu untuk menarik perhatianku. Hasilnya sama memuakkan!

Sejak itulah, aku mendapati ada orang-orang di Twitter menulis tweet-tweet tertentu, yang lalu di-retweet oleh akun-akun yang kebetulan ku-follow. Tweet-tweet hasil brief itu sangat jelas bagiku, meski mungkin orang lain tidak tahu, dan aku sengaja tidak pernah mempedulikannya.

Tidak cukup hanya itu, media X juga memantau TL-ku untuk melihat dengan siapa saja aku berinteraksi, atau tweet dari siapa saja yang ku-retweet. Lalu muncullah kasus si aktivis ini. Aku me-retweet tweet dia, dan media X langsung menghubungi si aktivis.


Juga kasus wanita ini. Aku sering me-retweet tweet dia, dan berinteraksi dengannya. Lalu media X mendekati wanita ini, dan memberi brief agar sering me-retweet/memfavoritkan tweet dari akun-akun tertentu, agar sampai di TL-ku, dengan harapan aku tertarik. 


Kasus si aktivis dan si wanita itu hanyalah dua di antara banyak kasus lain yang terjadi di Twitter selama ini. Dan selama waktu-waktu itu, aku hanya diam, karena tak ingin ribut. Tapi ulah media X, lewat orang-orang suruhannya, makin lama makin memuakkan.



Ada orang-orang di Twitter yang disuruh “menggangguku” dengan aneka cara, dari menyindir, berusaha membuatku tertarik/terkesan, menyerangku dengan cara nomention, dll. Tak cukup di Twitter, sampai ada orang di FB diminta ikutan, lalu SS tulisannya dibawa ke Twitter! WTF is that?

Jadi, akhirnya, aku pun memutuskan untuk speak up, dan terang-terangan menunjukkan bahwa aku tahu perbuatan mereka, lewat tweet ini dan tweet-tweet beberapa malam kemarin. Ulah mereka sudah sangat memuakkan, dan sudah saatnya mereka diberi tahu.


Sekarang, aku akan mengatakan ini pada media X. 

Aku sama sekali tidak marah, tidak kecewa, juga tidak sakit hati, atas penolakan naskahku dulu, dan Tuhan menjadi saksi atas kebenaran kata-kata ini. Satu-satunya alasan aku berhenti kirim naskah, karena sedang sangat sibuk!

Tapi kalian tidak menunjukkan itikad baik. Bukannya menghubungiku dan menanyakan secara baik-baik, kalian malah menuduhku macam-macam, dan itu, terus terang, membuatku muak sekaligus sakit hati. Apalagi ditambah ulah kalian yang menggangguku di Twitter melalui orang-orang lain.

Kini, aku sudah tak tertarik pada kalian, atau media kalian, atau apa pun milik kalian, dan tidak ada apa pun lagi yang bisa membuatku tertarik. Yang kalian lakukan sudah sangat... sangat memuakkan, dan terus terang aku tidak berminat mengenal apalagi berhubungan dengan kalian.

Tak ada gunanya lagi mencoba apa pun untuk menarik perhatianku. Aku tidak butuh uang kalian. Aku juga tidak butuh popularitas yang mungkin bisa kalian berikan. Satu-satunya hal yang kalian miliki, dulu, hanya ketertarikanku. Dan ketertarikan itu sekarang sudah hilang.

Dan sekarang, fellas, kalian tahu kenapa aku terus menyematkan ini di setiap ocehanku sejak beberapa malam lalu. Baca dari awal sampai akhir: 

Hal Sepele tapi Dibikin Rumit » https://bit.ly/2SIcrT1


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Oktober 2020.

Untuk Media Online Paling Memuakkan

Aku mencium bau yang sangat busuk, terkait media online memuakkan yang kujelaskan di sini. Karenanya, sebelum kebusukan itu benar-benar terjadi, aku perlu menyatakan beberapa hal sebagai antisipasi.

Seperti yang kujelaskan dalam ocehan panjang ini, aku sempat kirim tulisan ke media online yang belakangan ketahuan sangat memuakkan. Mereka punya aturan yang ada di situs mereka, bahwa tulisan yang tidak mendapat kabar selama 2 minggu, artinya ditolak.

Aku mengirim beberapa tulisan ke media online tersebut sudah berbulan-bulan yang lalu, dan tidak ada kabar sama sekali. Artinya, merujuk pada aturan yang mereka buat sendiri, tulisan-tulisanku dinyatakan ditolak, apa pun alasannya. Jadi, aku akan memegang keputusan itu.

Nah, sekarang aku curiga—bau busuk yang tadi kusebutkan—media online ini mencari cara untuk menerbitkan tulisan yang pernah kukirim ke mereka, dan bisa jadi mereka akan mengarang-ngarang aneka dalih dan alasan. Aku paham maksud dan tujuannya, tapi persetan dengan mereka.

Karenanya, sebelum itu terjadi, aku perlu menyatakan bahwa AKU MENCABUT SEMUA TULISAN YANG PERNAH KUKIRIM, DAN TIDAK MENGIZINKAN MEDIA ONLINE BERSANGKUTAN MENERBITKANNYA, DALAM BENTUK APA PUN, KAPAN PUN, DENGAN ALASAN APA PUN.

Setelah semua kejahatan dan kebusukan yang kalian lakukan, setelah merusak hubunganku dengan banyak orang di media sosial, masih berharap aku akan tertarik pada kalian? 

Silakan pergi ke neraka, bersama kebusukan kalian yang memuakkan!

Keping-Keping Kekonyolan

Sambil nunggu udud habis, aku mau melanjutkan ocehan ora genah dari kemarin.

Dari kemarin, orang-orang yang mengikuti akun ini mungkin bingung dan bertanya-tanya, “Apa sebenarnya yang terjadi? Kok dia ngoceh tidak jelas juntrungnya?” 

Sori kalau ada yang tidak nyaman, dan sekarang aku akan mulai menjelaskan—kalau ada yang mau menyimak, sih.

Di Twitter ini, sedang terjadi sesuatu secara diam-diam, sejak cukup lama, melibatkan banyak orang, laki-laki maupun perempuan, yang nama-namanya kemungkinan besar kalian kenal. Setidaknya, aku mengantongi sekitar selusin nama yang terlibat dalam urusan ini, dari A sampai Z.

Orang-orang itu terhubung pada satu pihak tertentu, dan “pihak tertentu” itulah yang memberi instruksi mengenai apa-apa yang perlu dilakukan di Twitter. Meski sejak lama tahu soal ini, aku memilih diam, dan pura-pura tak tahu, biar semua orang tetap damai dan baik-baik saja.

Tetapi, mungkin, “pihak tertentu” itu mengira aku tak tahu, atau sadar aku tahu tapi tak peduli. Dan tingkah orang-orang suruhannya makin menjadi-jadi. Sebenarnya, aku sudah coba memberi tanda bahwa aku tahu yang mereka lakukan, tapi sepertinya mereka tak sadar, atau tak peduli.

Karena hal ini terjadi di Twitter dan melibatkan orang-orang di Twitter, aku pun merasa perlu mengungkapkan serta menyelesaikannya di Twitter. Tweet-tweet sejak kemarin itu bagian dari upaya pengungkapan menuju penyelesaian. Terpaksa kupotong-potong, karena sangat panjang.

Jadi, anggap saja tweet-tweet tidak jelas sejak kemarin-kemarin itu keping-keping puzzle yang, pada akhirnya, akan membentuk gambaran utuh. Tunggu saja, kalian akan benar-benar tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena aku akan mengungkapkannya dengan jelas sekaligus gamblang.

Seperti yang kusebut tadi, setidaknya ada selusin orang yang terlibat dalam urusan ini, tapi aku akan mengabaikan mereka; pertama, karena mereka cuma dimanfaatkan—kalau boleh disebut begitu; dan kedua, karena yang mereka lakukan masih sopan atau tidak sampai mengganggu.

Contoh yang mereka lakukan adalah mencoba memancingku dengan tweet-tweet tertentu—biasanya di-retweet oleh seseorang yang akunnya kebetulan aku follow. Begitu aku diam saja, dan tidak memberi respons, mereka pun berhenti. Aku menghargai sikap semacam itu. 

Sekadar saran. Lain kali, kalau kalian ingin berkomunikasi denganku, jangan gunakan isyarat atau dengan cara memancing-mancing, tapi langsung saja mention akunku, dan sampaikan maksudmu dengan baik, hingga aku bisa langsung merespons, dan... bukankah begitu cara berkomunikasi?

Kalau kalian menulis tweet ala nomention atau menggunakan isyarat-isyarat tertentu, mungkin aku akan tahu—atau setidaknya paham bahwa itu ditujukan kepadaku. Tetapi, sejujurnya, aku bukan orang yang pintar membuka komunikasi, jadi aku tidak tahu bagaimana cara memulainya.

Kalau kalian memancing-mancing dengan harapan aku merespons, tapi tidak menegurku secara langsung, misal lewat mention, ya silakan tunggu sampai kiamat. Kecuali kalau kita sudah akrab, mungkin aku enjoy memulai percakapan. Tapi, maaf, aku tidak/belum kenal kalian.

Omong-omong, kalian me-mention Awkarin saja berani, tapi me-mention aku tidak berani. Lha piye kui?

Cukup untuk keping malam ini. Besok akan kulanjutkan, untuk menunjukkan keping lainnya. Kalau selo, tentu saja.

Dan, seperti biasa:

Hal Sepele tapi Dibikin Rumit » https://bit.ly/2SIcrT1


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Oktober 2020.

Noffret’s Note: Malas

Sedang malas lihat TL.

Sebenarnya sih sedang malas apa-apa aja.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 April 2020.

Hari Ini, Sepuluh Tahun yang Lalu

Hari ini, sepuluh tahun yang lalu, aku menulis catatan pertama di blog. Hari ini, genap sepuluh tahun, aku masih menulis di blog.

Sepuluh Tahun Ngeblog » https://bit.ly/2rNoeFm


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 November 2019.

Selasa, 10 November 2020

Urusan Tolol di Twitter

 Melanjutkan ocehan kemarin, sekarang aku akan membahas tweet ini.



Ketika menulis tweet tersebut, sebenarnya aku hanya menujukannya pada satu-dua orang, bukan untuk semua orang. Tapi namanya Twitter, kita ngetwit sesuatu untuk satu orang, bisa jadi ada banyak orang lain yang ikut merasa. So, sori untuk ketidaknyamanan itu.

Jadi, ceritanya, sekian waktu lalu, aku mem-follow sebuah akun, karena kupikir tweet-nya menarik. Si pemilik akun itu laki-laki, tipe aktivis, dan biasa ngetwit hal-hal berwawasan, bahkan akademis. Aku mem-follow akun dia, semata-mata karena tertarik pada tweet-nya.

Karena itu pula, aku me-retweet beberapa tweet milik dia, agar orang lain ikut membaca. 

Ternyata, sesuatu kemudian terjadi. Ada “pihak ketiga” yang menghubungi si aktivis tadi, dan memintanya agar menjalin interaksi denganku. Hal itu sangat tampak pada tweet-tweet-nya kemudian.

Sejak itu, si aktivis menulis tweet-tweet ala nomention yang dimaksudkan untuk menarik perhatianku, mungkin dengan maksud agar aku merespons, agar terjadi komunikasi atau interaksi. Finalnya jelas, “menggiringku” agar nantinya terhubung dengan si “pihak ketiga” yang mengontaknya.

Sayangnya, yang dilakukan si aktivis ini sangat tolol dan naif. Bukannya menarik perhatianku dengan cara santun, tapi justru menjengkelkan—oh, dia tipe orang yang terlalu percaya diri! Dan aku jadi tergelitik untuk mencari tahu “kenapa dia mau melakukannya”. 

*Nyulut udud dulu*

Andai dia mendekatiku secara wajar dan baik-baik, misal menyapa dengan santun dan santai, mungkin kami dapat berkomunikasi dengan menyenangkan. Sayangnya, dia justru menggunakan cara menyinggung dan menjengkelkan, jauh dari sikap berpendidikan.

*Ududku mati*

*Nyalain lagi*

Perlu kujelaskan di sini, aku mem-follow akun dia, dan dia tidak mem-follow akunku. Dia tidak mengenalku, selain tahu tentang aku dari “pihak ketiga” yang memberikan brief kepadanya. 

Akhirnya, daripada TL tidak nyaman, aku pun unfollow akun dia, dan dia boleh pergi ke neraka.

Kasus si aktivis tersebut sama dengan kasus ini. Kali ini terkait seorang wanita. 


Jadi, aku mem-follow akun wanita ini, karena dia cerdas dan sering berbagi wawasan agama yang sangat mendalam. Aku bahkan sempat berinteraksi dengannya, meski tidak sering.

Dan interaksi itu rupanya ditindaklanjuti oleh “pihak ketiga” yang sama; si wanita diberi “brief” agar melakukan sesuatu, kali ini diminta me-retweet akun-akun tertentu, dengan harapan aku tertarik. Ujung-ujungnya sama; “menggiringku” agar terhubung dengan si “pihak ketiga”.

Lama-lama, aktivitas retweet/favorit yang dilakukan wanita itu makin membuat TL tidak nyaman. Aku mem-follow dia karena tertarik dengan tweet-tweet-nya, tapi kini dia lebih banyak me-retweet tweet-tweet “pesanan”. Akhirnya, dengan berat hati, aku pun unfollow akunnya.

So, itulah latar belakang kenapa aku menulis tweet ini, hingga kusematkan di TL-ku. Hanya untuk orang(-orang) tadi, bukan untuk semua orang. 

Dan sekarang, karena aku telah mengklarifikasi, tweet ini tidak perlu kusematkan lagi.



Dua orang tadi, si aktivis dan si wanita, hanyalah dua di antara selusin orang lain yang terlibat dalam urusan memuakkan ini. Mereka semua melakukan aneka cara, dari yang baik dan santun sampai yang tolol dan norak, dan semuanya digerakkan oleh satu pihak yang sama.

Sekarang aku mau ngomong ke semua orang yang aku follow. 

Aku mem-follow akunmu, semata-mata karena menyukai tweet-mu. Karena setiap orang berbeda, tentu wajar kalau tweet masing-masing orang juga berbeda, dan itu bukan masalah. Jadi, tetaplah ngetwit seperti biasa.

Jika sewaktu-waktu ada “pihak ketiga” yang memintamu agar memancing interaksi/komunikasi denganku, apa pun alasannya, sebaiknya tolak saja—KECUALI KALAU KAMU DIBAYAR SANGAT BANYAK. Karena bisa jadi kamu akan menghadapi risiko yang tidak menyenangkan.

Aku bisa membedakan mana tweet dan interaksi yang tulus dari orang per orang, dan mana tweet dan interaksi yang digerakkan pihak lain. Jadi percuma kamu mencobanya. Bahkan, kalau kamu masih nekat mencoba, aku akan “menghabisimu” di sini—dan percayalah, aku tidak akan keliru!

Kalau kamu memang ingin berkomunikasi dengan orang lain—termasuk denganku—lakukanlah secara wajar dan baik-baik, sebagaimana mestinya orang normal berinteraksi. Bukan dengan cara memancing-mancing, tapi dengan keramahan yang saling membuat nyaman.

Kalau kita ingin berkomunikasi dengan seseorang, bebannya ada di pundak kita, bukan di pundak orang lain. Artinya, kitalah yang harus memulai, bukan malah mengharap orang lain memulai komunikasi. Wong kita yang ingin, tapi malah berharap orang lain yang memulai.

Semua orang, sekeras atau bahkan sebrutal apa pun, sebenarnya punya kecenderungan manusiawi yang sama; mereka senang mendapati keramahan dan itikad baik. Aku tidak mungkin marah pada orang yang menunjukkan keramahan dan itikad baik, dan orang lain pun begitu.

Akhirnya, kalau kalian bertanya-tanya siapa “pihak ketiga” yang kumaksud di ocehan ini, akan kujelaskan besok. Kalau selo, tentu saja.

Penutup, seperti biasa.

Hal Sepele tapi Dibikin Rumit » https://bit.ly/2SIcrT1


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Oktober 2020.

Ingin Menarik Perhatian, tapi Menyinggung

Ada jenis orang yang tidak kita tahu, dan kita tidak ingin tahu. Lutfi Agizal termasuk dalam kategori itu.

Caper memang hak setiap orang. Tapi cara dia salah sekaligus menjengkelkan.

Tapi Lutfi Agizal sebenarnya masih "lumayan", karena setidaknya dia tidak menyinggung orang per orang. 

Yang lebih parah, ada jenis orang yang bermaksud menarik perhatianmu, tapi caranya justru menjengkelkanmu. Itu pola pikirnya bagaimana? Bahkan iblis pun tidak akan tertarik!

Jika tujuan kita adalah berharap mendapat perhatian seseorang, tunjukkan bahwa kita memang layak mendapatkannya. Tentu dengan cara yang positif, bukan malah menyinggung perasaan orang yang kita harap memberikan perhatiannya. Anak SD pun mestinya tahu etiket semacam itu.

Di dunia ini, ada orang-orang yang tidak pernah lupa. Kita menyinggung perasaannya sepuluh tahun lalu, dan dia terus ingat sampai sekarang... meski kita lupa. Orang-orang semacam itu bahkan biasanya tidak kenal kata maaf. Kau bermasalah dengannya, kau sedang mengundang bahaya.

Pernah ada kasus seorang aktivis yang mati-matian memoles citranya selama bertahun-tahun, tapi hancur dalam semalam. Dia "berdiri di dua kaki"—terkenal doyan menyerang "produk anu" tapi ternyata diam-diam saling MoU dengan perusahaan "produk anu". Tidak ada yang tahu rahasia itu.

Mungkin rahasia kotor itu akan tersimpan selamanya, dan dunia tidak akan tahu... andai dia tidak menyinggung orang yang salah.

Ceritanya panjang. Intinya, tepat ketika si aktivis itu hampir sampai di puncak kariernya, rahasia kotornya terungkap. Sudah, gitu aja. Kisahnya tamat.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 September 2020.

Kasus Retweet Tidak Wajar

Agatha Christie menulis novel bagus berjudul The A.B.C. Murders. Mengisahkan kasus pembunuhan yang cerdik, rumit, dan aneh. Si penjahat ingin membunuh seseorang, tetapi, agar tak terlihat sebagai kasus pembunuhan tunggal, dia melakukan pembunuhan berantai, berdasarkan abjad.

Pertama, dia membunuh seseorang yang namanya berawalan A. Korban kedua punya nama berawalan B. Dan korban ketiga punya nama berawalan C. Seiring dengan itu, dia memfitnah seseorang sebagai pembunuhnya, bernama Alexander Bonaparte Cust (ABC). Benar-benar cerdik sekaligus licik.

Polisi menduga itu kasus pembunuhan berantai yang dilakukan psikopat sinting, yang tergila-gila pada abjad. Tapi Hercule Poirot, yang ikut menangani kasus itu, tahu bahwa pembunuhan tersebut sebenarnya cuma menyasar satu orang. Sementara korban-korban lainnya hanyalah “bumbu”.

Ide cerita semacam itu belakangan diadopsi sebuah film, berjudul Jack Reacher (diperankan Tom Cruise). Si penjahat melakukan penembakan pada beberapa orang secara acak di jalanan—tampak seperti kasus psikopat yang ingin memuntahkan peluru pada orang-orang tak berdosa.

Tetapi, sebenarnya, penembakan [yang tampak] acak itu hanya mengarah pada satu orang. Si penjahat sengaja membunuh beberapa orang lain, agar tujuan/motif sebenarnya tak terungkap. Alih-alih dianggap kasus pembunuhan tunggal, kasus itu akan dianggap penembakan acak.

Entah kebetulan atau tidak, di Twitter juga ada kasus semacam itu. Ada seseorang yang diminta suatu pihak untuk “me-retweet akun tertentu”, agar retweet itu sampai pada orang yang dituju. Tetapi, agar tak mudah terdeteksi, dia juga “sebaiknya me-retweet beberapa akun lain”.

Jadi, itulah yang dilakukannya. Dia me-retweet cuitan-cuitan dari satu akun yang diinstruksikan, dan “menutupinya” dengan cara me-retweet cuitan dari beberapa akun lain. Belakangan, ketika sadar fitur retweet bisa dimatikan, dia tidak lagi me-retweet, tapi memfavoritkan.

Tujuan itu memang tercapai. Cuitan-cuitan dari satu “akun tertentu” itu sampai pada timeline orang yang dituju, terlepas menggunakan retweet atau favorit. Yang mungkin tidak sempat ia (atau mereka) pikirkan, Twitter juga menyediakan fitur Unfollow, Mute, hingga Block.

PS:

Kasus retweet yang tidak wajar ini telah berlalu. Tapi aku bukan orang yang mudah melupakan sesuatu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 September 2020.

Timeline-mu adalah Milikmu

Tombol “Follow” di Twitter juga berfungsi sebagai “Unfollow”. So, kalau kamu tidak nyaman dengan tweet-ku—apa pun alasannya—jangan ragu untuk pencet tombol “Unfollow”. Timeline-mu adalah milikmu sepenuhnya, buatlah senyaman mungkin.

Karena aku pun begitu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Agustus 2020.

Pertanyaan Bersponsor

 Apa cara terbaik untuk menyelesaikan sebuah permasalahan?
@VICE_ID

Pertanyaan ini mestinya dikasih tagar #sponsor. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Oktober 2020.

Senin, 02 November 2020

Romantisasi Kemiskinan, Glorifikasi Perkawinan

Di Twitter, ocehan ala-ala "Dari perkawinan artis anu kita bisa 
belajar bla-bla-bla" hampir selalu viral. Sebelas dua belas dengan 
ocehan ala-ala "Menikah akan membuatmu bahagia dan bla-bla-bla". 

Apa artinya itu? Khayalan dan keyakinan kita 
menumpulkan akal sehat dan kesadaran.


Selalu ada hal-hal tak terduga yang muncul di timeline Twitter. Seperti suatu malam, sekian waktu lalu, saya mendapati ada tweet yang di-quote seseorang. Tweet itu berbunyi, “Meski miskin, hidup terasa tenang jika punya agama.” 

Tweet itu lalu di-quote oleh seseorang, dalam bahasa Inggris, dengan bunyi, “Berhentilah meromantisasi kemiskinan!”

Saya tertarik pada istilah itu—meromantisasi kemiskinan—karena, kalau diingat-ingat, saya juga pernah melakukannya. 

Sekian tahun lalu, saya pernah berusaha “ngadem-ngademi diri sendiri” dengan meromantisasi kemiskinan, bahkan pernah saya tulis di blog ini. Waktu menulis catatan itu, saya begitu yakin dengan yang saya pikirkan, bahwa kemiskinan itu baik, dan seterusnya, dan seterusnya. Tetapi, sekarang, saya menyadari bahwa yang saya lakukan waktu itu adalah meromantisasi kemiskinan, sebentuk upaya “ngadem-ngademi diri sendiri”.

Apakah orang miskin memang dapat menjalani kehidupan tenang jika punya agama, sebagaimana isi tweet yang dituduh meromantisasi kemiskinan di atas?

Saya tidak tahu, karena bisa jadi hal itu—dan ini terdengar klise—berpulang pada masing-masing orang. 

Yang saya tahu, orang tua saya sangat religius, dan kami—anak-anaknya—juga dibesarkan dengan sama religius. Sebagai gambaran, di rumah almarhum kakek saya dulu ada pengajian rutin tiap malam Selasa, mengkaji kitab-kitab salaf. Pengajian itu berlangsung sejak saya masih bayi sampai saya dewasa, dari bakda isya sampai tengah malam. Belakangan, pengajian itu berhenti setelah ayah saya wafat. 

Di waktu kecil dulu, saya dekat dengan ayah. Jadi, sejak kecil, saya selalu dibawa ayah dalam pengajian tersebut, dan biasanya saya tertidur di sana, sementara pengajian terus berlangsung. Seiring usia yang makin bertambah, dan nalar saya mulai jalan, saya tidak hanya ikut ayah dan “numpang tidur” di sana, tapi juga ikut menyerap pelajaran-pelajaran terkait agama yang dibahas.

Karena pengajian rutin itu berlangsung puluhan tahun, topik yang dibahas pun sangat luas dan dalam, merentang dari persoalan-persoalan umum sampai hal-hal yang sangat spesifik. Dan saya mulai menyerap semua itu, bahkan ketika masih balita, hingga saya besar dan dewasa.

Itu sekadar gambaran bagaimana religiusnya keluarga saya dalam menjalani kehidupan. Kami menjalani kehidupan beragama tidak sekadar melaksanakan hal-hal yang memang diwajibkan, tapi juga mendalami agama dengan baik. 

Dan apakah saya menjalani kehidupan damai, tenteram, bahagia, karena hidup di keluarga yang sangat dekat dengan agama—meski dalam kemiskinan?

Ini mungkin ironis, dan saya merasa pahit mengatakannya. Kenyataan yang saya hadapi sejak kecil sama sekali jauh dari kebahagiaan, apalagi ketenteraman. Yang saya hadapi sejak kecil adalah petaka, luka, dan penderitaan, yang belakangan “merusak” diri saya ketika dewasa. 

Tentu yang saya alami tidak bisa digunakan sebagai standar untuk menilai kehidupan orang lain. Karena di luar sana tentu ada orang-orang yang tenteram dan bahagia meski menjalani kemiskinan. Tetapi, karena saya mengalami dan menjalani latar belakang seperti itu, saya pun mudah sinis pada segala bentuk romantisasi, khususnya romantisasi kemiskinan dan semacamnya.

Ketika melihat film ala Keluarga Cemara, misalnya, saya merasa “dibohongi”, karena realitas kemiskinan yang saya alami tidak begitu. Kemiskinan, dalam perspektif saya, hanya indah ketika digambarkan dalam film, atau ketika diceritakan dalam novel. Dalam realitas atau kenyataan, kemiskinan adalah kondisi yang sangat mengerikan. Saya tahu betul yang saya katakan, karena saya menjalaninya, bahkan menjadi korbannya!

Tapi kita, umumnya manusia, tampaknya memang punya kecenderungan untuk meromantisasi hal-hal yang sebenarnya tidak romantis sama sekali. Karena nyatanya kita memang senang ngadem-ngademi diri sendiri. Dalam bahasa yang lugas, kita sangat ahli membohongi diri sendiri. 

Kita tentu pernah, atau bahkan sering, mendengar orang mengatakan, kira-kira seperti ini, “Kalau dipikir-pikir, gaji atau penghasilanku sebenarnya tidak akan mencukupi kebutuhan keluargaku. Tapi ndilalah ada saja rezeki yang datang, sehingga aku bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga, termasuk biaya sekolah anak-anakku.”

Pernah mendengar kalimat semacam itu? Saya yakin, kalian bahkan sering mendengarnya! Kalimat itu—atau variannya—biasanya diucapkan orang yang telah menikah dan berumah tangga, tapi kehidupannya kembang kempis, sementara anak-anaknya sudah besar dan bersekolah, dan butuh banyak biaya.

Dulu, waktu masih ingusan, saya benar-benar percaya kalimat itu. Dengan segala kenaifan, waktu itu, saya percaya bahwa dunia menyuguhkan banyak keajaiban. 

Belakangan, setelah dewasa, saya menyadari, kalimat-kalimat semacam itu hanya bentuk romantisasi, ngadem-ngademi diri sendiri. Atau, menggunakan istilah lugas, kalimat itu sebenarnya dusta! 

Orang tua saya juga dulu kerap mengatakan kalimat semacam itu, sebagaimana orang-orang lain juga sangat fasih mengatakannya. Tapi apakah kenyataannya memang semudah yang mereka katakan? 

Saya tahu betul, orang tua saya sering frustrasi menjalani kehidupan kami yang serba kekurangan, sebagaimana saya sering malu karena terus menunggak SPP di sekolah, dan tertekan karena merasa tak bisa seperti teman-teman yang lain. Keajaiban keparat apa yang melemparkan kami ke jurang nestapa semacam itu?

Karenanya, setelah dewasa, saya pun menyadari—benar-benar menyadari—bahwa ocehan semacam itu hanyalah bentuk romantisasi, ngadem-ngademi diri sendiri, karena manusia memang punya bakat luar biasa dalam membohongi diri sendiri.

Begitu pula ucapan-ucapan senada, semisal, “Tidak perlu khawatir menikah. Nanti, setelah menikah, rezeki akan datang sendiri,” dan seterusnya, dan seterusnya. Terus terang, saya ingin muntah setiap kali mendengar ocehan semacam itu. Bahwa menikah akan membuatmu kaya, bahwa punya anak-anak akan melancarkan rezeki, dan seterusnya dan seterusnya.

Kalau kau menikah dengan Nabi Sulaiman, mungkin ocehan itu benar. Atau, setidaknya, kalau kau menikah dengan ahli waris Wal-Mart! 

Orang sering mengingatkan, “Mbok yang realistis!” Menikah dan beranak-pinak tidak memberi jaminan siapa pun jadi kaya. Kalau ingin membuktikan, caranya mudah. Lihat saja sekeliling kita!

Ada anak-anak tetangga kita yang diam-diam menangis karena kemiskinan yang mereka jalani. Ada teman-teman kita yang saat ini sudah berumah tangga, yang diam-diam menyesal karena merasa tertipu. Ada saudara dan famili kita yang montang-manting menjalani kehidupan dengan lingkaran masalah tanpa ujung. Ada orang-orang di sudut dunia mana pun yang kelaparan, kebingungan mencari uang, bahkan sampai terjerat utang, meski mereka menikah dan beranak-pinak.

Silakan saja lempar angan idealismu ke puncak langit, tapi ya tetaplah memijakkan kaki pada realitas bumi. Kemiskinan mungkin tampak indah saat digambarkan dalam film atau novel, tapi ia petaka ketika benar-benar dijalani. Pernikahan mungkin tampak menyenangkan saat diocehkan atau diceritakan, tapi bisa jadi pelakunya menangis diam-diam saat sendiri.

Kita meromantisasi kemiskinan... kenapa? Jawabannya sangat gamblang, karena kemiskinan tidak romantis sama sekali! Begitu pula, kita meromantisasi pernikahan... kenapa? Jawabannya sama!

Apa pun yang diromantisasi adalah hal yang sama sekali tidak romantis. 

Saya telah menjalani kemiskinan selama belasan tahun, dan saya tahu betul apa arti kemiskinan. Jika sekarang ada orang menemui saya dan bertanya apakah kemiskinan memang seindah gambaran dalam film, saya akan menjawab, “Tidak! Kenyataannya sama sekali tidak begitu!”

Sekarang, cobalah temui teman-temanmu yang telah menikah, face to face, hanya berdua, dan tanyakan dengan serius, “Apakah perkawinan memang seindah yang dikatakan orang-orang?” Dan minta mereka menjawab secara jujur!

Saya telah menemui puluhan orang yang telah menikah, dan mengajukan pertanyaan serupa. Dan semuanya menjawab dengan jujur—kau tahu jawabannya.

Aku Menyebut Kenangan, Lalu Seseorang Terjebak

Sambil nunggu udud habis, aku mau ngasih footnote untuk ocehan ini.

Kutipan dalam tweet ini sebenarnya salah, dan sengaja kubuat salah. Petunjuknya ada pada foto yang kusematkan.

Seorang mbakyu berkata, “Kenangan itu seperti pisau tajam, Hannibal. Selama kau mengingatnya, selama itu pula kau akan terluka.” 

Mungkin benar. Yang jadi masalah, Hannibal Lecter tak pernah lupa.

Aku Menyebut Kenangan, Lalu Seseorang Terjebak

Foto dalam tweet itu adalah sosok Hannibal Lecter saat masih muda, yang kisahnya ada dalam novel/film “Hannibal Rising”. Itu adegan ketika Hannibal menjebak seseorang yang akan dihabisinya—tali tambang yang ia pegang digunakannya untuk menjerat leher korbannya.

“Mbakyu” pada tweet tersebut merujuk pada Lady Murasaki (dalam film diperankan oleh Gong Li); dia semacam “sepupu jauh” Hannibal, dan berusia lebih dewasa, dan Hannibal jatuh cinta kepadanya. Lady Murasaki itulah yang mengatakan kalimat yang kemudian kukutip di tweet.

Seperti yang kusebut tadi, kutipan itu salah, dan sengaja kubuat salah. Yang dikatakan Lady Murasaki sebenarnya “memory” (ingatan), bukan “memories” (kenangan). Setepatnya, “Ingatan itu seperti pisau tajam, Hannibal. Menyimpan ingatan bisa membuatmu terluka.”

Di Twitter, aku bahkan telah menulis kutipan itu dua kali, dan dua-duanya kutulis dengan benar, dengan menerjemahkan “memory” (ingatan). Yang pertama kutulis pada 25 Agustus 2017.

Seseorang berkata kepada Hannibal, "Ingatan itu seperti pisau tajam, Hannibal." Dia benar. Tetapi, sayang, Hannibal Lecter tak pernah lupa.

Dan yang kedua, kutulis pada 13 Januari 2019.

Hannibal Lecter pernah punya mbakyu, yang memberi tahu, "Ingatan itu seperti pisau tajam, Hannibal. Menyimpan ingatan bisa membuatmu terluka."

Yang menjadi masalah adalah... bagaimana kau bisa melepaskan ingatan, kalau kau bahkan tidak punya kemampuan untuk lupa?

Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa aku melakukan ini? Sederhana saja. Aku seorang bocah. Dan bocah senang bermain-main. 

Omong-omong, aku sangat memperhatikan detail... selain tak pernah lupa.

Ah, ya, mumpung ingat (meski aku tentu selalu mengingatnya).

Hal Sepele tapi Dibikin Rumit » https://bit.ly/2SIcrT1


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Oktober 2020.

Ingin Berteman tapi Menjengkelkan

Apa hal yang paling penting dalam suatu pertemanan?
@VICE_ID


Omong-omong soal teman, khususnya di dunia maya, aku jadi teringat pertanyaan VICE kemarin. Sambil nunggu udud habis, aku jadi ingin ngoceh.

Bagiku, pertemanan dimulai dari dua orang yang merasa saling cocok, lalu bisa berkomunikasi dengan wajar dan nyaman, tanpa tendensi apa pun. Ketika itu terjadi, khususnya di dunia maya, mereka akan saling mendekat dengan sendirinya, tanpa ada rekayasa.

Tempo hari, aku tidur habis subuh dan bangun pukul 8 pagi. Langsung ke dapur, bikin kopi, lalu udud dengan mata kriyep-kriyep. Kemudian iseng buka Twitter, dan berpikir akan mandi begitu udud habis. Tapi lalu ngobrol dengan 
@dradnaksi di DM, berjam-jam, sampai lepas zuhur.

Pertemananku dengan @dradnaksi dimulai dari blog, bertahun lalu, dan persahabatan kami terbangun perlahan, dari waktu ke waktu, hingga akhirnya sama-sama nyaman, sampai bisa ngobrol panjang berjam-jam. 

Begitulah pertemanan di dunia maya terjalin, setidaknya bagiku.

Ini sebentuk pertemanan yang tulus; dua orang saling tertarik untuk berteman, tanpa harapan apa pun selain ingin berteman. 

@dradnaksi dan aku belum pernah ketemu, dan dia tinggal di Surabaya. Jika aku ke Surabaya, apakah aku akan menemuinya? Jelas, wong kami berteman!

Meski mungkin terdengar sederhana, namun ternyata ada orang yang berharap bisa berteman dengan orang lain, tapi caranya benar-benar aneh.

Ada kisah tentang Si A yang ingin berteman dengan Si B, misalnya, tapi caranya bukan mendekati baik-baik, tapi malah melakukan hal-hal buruk.

Si A ingin berteman dengan Si B. Tapi Si A tidak pernah menunjukkan keinginan itu pada Si B. Sebaliknya, Si A menyuruh teman-temannya untuk menyerang Si B. Ada yang disuruh menyerang secara frontal, ada yang disuruh menyindir, ada yang disuruh mengganggu, dan lain-lain. Aneh?

Pertama kali aku tahu fenomena tolol ini, aku juga bingung campur tercengang. Kok bisa orang ingin berteman tapi caranya begitu? 

Dan apakah kemudian Si B tertarik pada Si A, hingga mau berteman dengannya? Kita tentu tahu jawabannya. Mending berteman dengan yang lain saja.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 11 Oktober 2020.

Ada Benarnya

duh, masih ada yang percaya persahabatan via twitter. ilusi itu bro. twitter is for bussiness, sex, cari jodoh. ngga ada temen twitter. temen itu kalaupun via twitter ya jadi temen juga didunia nyata. interaksi irlnya kenceng. ga ada itu pertemanan twitter @PresideNetizen

Ada benarnya. Teman-temanku di dunia maya juga berasal dari blog, bukan dari Twitter. Bagiku, Twitter cuma tempat nambah wawasan, update info terkini, dan ngoceh kalau pas selo. Kalau ada yang lain, ya aku anggap bonus aja.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 11 Oktober 2020.

Pura-Pura Tak Tahu

 "Duh, ternyata dia tahu! Aku kudu piye iki?"

"Tenang. Kamu tetap ngetwit seperti biasa aja, pura-pura nggak tahu/nggak paham. Kalau kamu ngilang, nanti makin ketahuan."

Mumpung ingat.

Hal Sepele tapi Dibikin Rumit » https://bit.ly/2SIcrT1


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Oktober 2020.

Selasa, 20 Oktober 2020

Ba’as

Seseorang berkata, “Hei, Ba’as, ngabruk itu apa?”

Ba’as mengambil bambu sepanjang dua meter, memeganginya hingga berdiri tegak, lalu berkata pada orang yang bertanya kepadanya, “Lihat ini.” Setelah itu, Ba’as menjatuhkan bambu hingga tergeletak di tanah. Lalu ia berkata, “Itulah ngabruk.”

Orang yang bertanya tadi tampak manggut-manggut, seperti memahami, dan puas dengan penjelasan Ba’as.

Ba’as bertanya kepadanya, “Kenapa kamu tiba-tiba bertanya tentang ngabruk?”

Agak ragu-ragu, orang itu menjawab, “Uhm... ada seseorang yang pernah menyarankan agar aku ngabruk.”

“Dan kamu melakukannya?”

“Tidak.”

....
....

Aku di sana, waktu itu, ketika Ba’as bercakap-cakap dengan orang yang bertanya soal ngabruk. Setelah orang itu pergi, Ba’as duduk di dekatku. 

Ba’as adalah orang yang kadang menikmati waktu bersamaku—bercakap-cakap ngalor ngidul, tentang apa saja, khususnya tentang kehidupan kami. Dia pria yang usianya sedikit lebih tua dariku, dan menjalani kehidupan mirip sepertiku. Sendirian. Tanpa siapa pun. Menjalani hidup dalam sunyi.

Ba’as bertanya, “Kalau kamu diminta mendeskripsikan dirimu sendiri, kira-kira apa deskripsimu?”

Aku seketika menjawab, “Bocah.”

“Bocah?”

“Ya,” aku memastikan. “Aku suka mendeskripsikan diri sebagai bocah, dan aku senang menyebut diriku sebagai bocah.”

“Kenapa kamu menyebut dirimu sebagai bocah?”

“Mungkin karena aku masih sering kekanak-kanakan. Meski secara usia bisa dibilang sudah dewasa, tapi aku tahu jiwaku masih anak-anak, dan aku kadang masih bersikap seperti anak-anak—maksudku, yeah... aku merasa kurang mampu bersikap seperti orang dewasa umumnya.”

Ba’as tersenyum. “Memangnya orang dewasa seperti apa, yang kamu sebut ‘seperti umumnya’?”

“Yeah...” aku menjawab ragu-ragu. “Orang dewasa, kita tahu, biasanya luwes saat berkomunikasi dan berinteraksi dengan siapa pun, dan mereka bisa bercakap-cakap santai layaknya orang dewasa. Aku merasa belum mampu melakukan hal semacam itu. Saat bercakap dengan orang lain, aku sering merasa kaku, bahkan kadang aku sadar betapa aku tidak nyaman melakukannya.”

“Karena itu, kamu menyebut dirimu bocah?”

Aku mengangguk. “Karena itu aku menyebut diriku bocah.”

“Tapi kamu bisa bercakap-cakap denganku secara normal. Bahkan menurutku sangat normal, seperti umumnya manusia.”

Aku tersenyum. “Aku tidak tahu, Ba’as. Mungkin karena kita memang telah akrab, hingga aku nyaman bercakap-cakap denganmu.”

Ba’as mengangguk-angguk. Dia memang selalu bisa menerima kenyataan apa pun, seolah isi dunia ini sama sekali tidak ada yang membuatnya terkejut atau heran.

Lalu aku bertanya, “Bagaimana denganmu, Ba’as? Kalau kamu diminta mendeskripsikan dirimu sendiri, kira-kira apa deskripsimu?”

Ba’as menjawab, “Aku menyebut diriku penghibu.”

“Penghibur?” aku memastikan.

“Bukan,” jawab Ba’as. Lalu dia menyatakannya dengan lebih jelas, “Penghibu.”

Berusaha mencerna jawabannya, aku bertanya, “Dan apa itu penghibu?”

“Penghibu adalah aku—maksudku, hal-hal yang kulakukan. Itulah penghibu.”

....
....

Ba’as memiliki sepetak tanah di belakang rumahnya, tidak luas, dan di sepetak tanah itulah kami duduk-duduk sambil mengobrol. 

Pada sepetak tanah itu, Ba’as menggantungkan setengah hidupnya. Dia menanam pohon pepaya di sana, juga pohon pisang, pohon cabai, pernah juga pohon semangka. Apa pun yang bisa ditanam di tanahnya, ia akan mencoba menanamnya. Dan berharap bisa mendapat penghidupan dari sana.

Sewaktu-waktu, Ba’as memanen pepaya dari pohonnya, lalu ia bawa ke pasar, untuk dijual pada pedagang buah. Di waktu lain, ia membawa setandan pisang, yang ia ikat di boncengan sepedanya, dan ia membawanya ke pasar, untuk dijual pada pedagang buah. Hasil jualan itu ia gunakan untuk makan, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, kalau memang mencukupi.

Seperti kubilang tadi, pada sepetak tanah itu Ba’as menggantungkan setengah hidupnya. Setengah yang lain, dia biasa mendapatkan penghidupan dari kerja serabutan. Kalau ada panggilan kerja di pabrik, dia akan berangkat ke pabrik. Kalau sedang tidak ada kerjaan, dia berusaha mencari kerjaan apa pun, yang menghasilkan uang. Kalau pun sama sekali tidak ada yang bisa dikerjakan, dia akan berjalan-jalan. Biasanya dengan sepedanya yang ringkih.

Menatap kehidupan Ba’as, sering kali aku takjub. Dia hidup sendirian, tanpa keluarga, tanpa pekerjaan jelas, tapi dia mampu bertahan dengan baik. Kadang-kadang dia mengeluh, tentu saja, tapi lebih sering tidak. Dia orang yang tidak banyak omong, sepertiku. Dan dia menjalani kehidupannya yang sendiri dalam sunyi. 

Kadang aku bertanya, apakah dia sudah makan? Aku juga sering menawarinya rokok, atau apa pun yang mungkin dibutuhkannya. Ba’as sangat jarang menerima tawaranku. Bukan karena segan atau tidak mau menerima, tapi karena dia memang sudah tercukupi. Dia sudah makan, jadi menolak ketika kuajak makan. Dia sudah punya rokok, jadi menolak pula ketika kutawari rokok. Begitu pun tawaran lain.

Belakangan, aku tahu bagaimana alam semesta menjaga kehidupan Ba’as dengan cara yang sangat aneh.

Setiap hari—lebih tepat setiap dini hari, menjelang subuh—Ba’as telah terbangun dari tidur, lalu mulai beraktivitas. Dia menyibukkan diri di tanahnya, mencabuti rumput yang tumbuh, atau menyirami tanah. Usai subuh, dia akan jalan-jalan santai, ke mana pun. Kadang pula menaiki sepedanya yang tampak ringkih, menggenjotnya perlahan-lahan. Dia pergi ke mana pun ia mau, melangkah sejauh apa pun ia ingin.

Dalam aktivitas “jalan-jalan” yang saban hari ia lakukan itu, keajaiban yang aneh sering terjadi. Dia sering menemukan sesuatu!

Aku baru tahu kenyataan itu, ketika suatu malam ia mendatangi rumahku, dan menunjukkan sebuah ponsel. “Aku menemukan ponsel ini di jalan,” ujar Ba’as waktu itu. “Aku tidak biasa memegang ponsel canggih seperti ini, jadi aku bingung.”

Aku menerima ponsel itu darinya, dan mencoba membuka isinya. Ponsel itu jelas milik seseorang, yang mungkin terjatuh, dan kebetulan ditemukan oleh Ba’as. Di dalamnya terdapat daftar nomor telepon, pesan masuk dan pesan keluar, beberapa games, akses ke internet dan e-mail, dan lain-lain. 

Aku berkata dengan ragu-ragu, “Pemiliknya pasti merasa kehilangan, Ba’as.”

“Aku tahu,” sahut Ba’as. “Jadi, apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu bagaimana mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya. Aku bahkan tidak tahu siapa pemiliknya.”

Aku memahami kerisauan Ba’as. Bagaimana pun, isi ponsel itu tidak menunjukkan sedikit pun keterangan siapa pemiliknya. Akhirnya, aku terpikir untuk menelepon nama orang yang ada dalam phonebook ponsel itu, untuk menanyakan siapa pemilik nomor ponsel yang sekarang ditemukan Ba’as.

Ba’as menyetujui saranku, tapi dia meminta aku yang melakukannya. Jadi, aku pun membuka rekaman panggilan, untuk melihat nomor siapa yang terakhir kali dihubungi ponsel tersebut. Setelah itu, aku melakukan panggilan.

Panggilan telepon itu diterima seorang wanita, dan aku mengatakan kepadanya bahwa aku (yang tentu maksudnya Ba’as) telah menemukan ponsel tanpa tahu siapa pemiliknya. Jadi, aku bertanya kepadanya, siapa pemilik nomor ponsel ini?

“Nomor (ponsel) ini milik Yunita,” ujar suara di ponsel. 

Aku bertanya, “Bagaimana agar aku bisa mengembalikan ponsel ini kepadanya?”

Dia menyebutkan suatu alamat. Setelah itu, aku menjelaskan pada Ba’as, bahwa pemilik ponsel itu bernama Yunita, dan memberikan alamat rumahnya.

“Aku akan mengembalikannya,” kata Ba’as.

Dan Ba’as benar-benar mengembalikannya. Menggunakan sepedanya yang ringkih, ia pergi ke alamat Yunita, mengetuk pintu rumahnya, dan mengatakan bahwa dia telah menemukan ponselnya yang mungkin terjatuh. Belakangan, Ba’as menceritakan, Yunita tampak gembira sekaligus terharu, dan dia memberikan amplop pada Ba’as. Isinya uang cukup banyak, tutur Ba’as. 

Kisah itu lalu membuka cerita lain tentang Ba’as, yang membuatku takjub. Ternyata, selama ini, Ba’as telah menemukan aneka hal, termasuk uang, di jalan-jalan yang ia lewati setiap hari. Ia pernah menemukan cincin. Jam tangan. Dompet. Ponsel. Hingga gulungan uang. Semua barang berharga itu tergeletak begitu saja di jalan. Dan, entah bagaimana, tidak ada orang lain yang melihat... selain Ba’as.

Setelah menemukan suatu barang berharga, Ba’as akan menunggu. Menurutnya, orang yang kehilangan sesuatu di suatu tempat biasanya akan sering bolak-balik untuk mencari barang tersebut, dan biasanya pula itulah yang terjadi.

Ketika menemukan cincin di Jalan A, misalnya, Ba’as akan sering duduk-duduk di sekitar Jalan A, sambil mengamati kalau-kalau ada orang yang tampak mencari-cari sesuatu. Setelah ketemu, dia mendekati orang itu, dan menanyakan apa yang ia cari. Jika benar orang itu mencari cincin, Ba’as menanyakan ciri-ciri cincin yang hilang, dan—setelah yakin—dia pun menyerahkan cincin yang telah ia temukan.

Orang itu sangat bersyukur. Dan biasanya memberikan sejumlah uang untuk Ba’as, sebagai tanda terima kasih—meski kadang pula hanya berlalu setelah menunjukkan kegembiraan.

Melalui “penemuan-penemuan” itulah, Ba’as bisa menjalani kehidupan dengan baik, karena selalu ada orang pemurah yang memberinya rezeki, setelah barangnya yang hilang dikembalikan. Sebegitu sering dan sebegitu banyak penemuan yang pernah terjadi, sampai aku berpikir “penemuan” Ba’as jauh lebih banyak dibandingkan penemuan Thomas Edison.

Yang paling aneh adalah kisah ketika Ba’as menemukan sepeda roda tiga, di suatu jalan yang sepi, usai subuh, saat hari masih gelap. Ba’as heran ketika mendapati ada sepeda roda tiga—yang biasanya dipakai anak-anak—teronggok di pinggir jalan raya, tanpa ada seorang pun. 

Ba’as berpikir. Jika ia tinggalkan sepeda roda tiga itu, bisa jadi akan ditemukan orang lain. Dan bisa jadi pula orang yang menemukan itu tidak mengembalikan pada pemiliknya. Jadi, dengan itikad baik, Ba’as mengambil sepeda roda tiga itu, lalu membawanya pulang. Waktu itu dia belum tahu bagaimana cara mengembalikan sepeda roda tiga tersebut pada pemiliknya. 

Tapi kebetulan yang aneh lalu terjadi.

Ketika Ba’as sedang makan malam di warung, dia mendengar orang bercakap-cakap mengenai suatu keluarga yang panik, karena sepeda roda tiga milik anaknya hilang entah ke mana. Dan si anak terus menerus menangis tanpa henti.

Ba’as mendengarkan diam-diam, ketika orang di sana bercerita, “Tadinya si anak naik sepeda itu, sambil dituntun mbak yang biasa menemaninya. Tapi di tengah jalan si anak rewel, dan si mbak menggendongnya. Karena sibuk menenangkan si anak yang rewel, si mbak lupa membawa sepedanya. Sekarang sepeda itu lenyap entah ke mana.”

Sambil mendengarkan, Ba’as tahu bahwa sepeda yang diceritakan itu adalah sepeda yang ia temukan. Jadi, diam-diam, dia pun memperhatikan percakapan di warung, untuk tahu di mana rumah keluarga yang kehilangan sepeda. Setelah tahu di mana alamatnya, esok paginya Ba’as mengikat sepeda roda tiga itu di boncengan sepedanya sendiri, lalu membawanya ke rumah keluarga yang kehilangan.

Ba’as ditemui si mbak yang biasa menemani anak majikannya—yang sepedanya kini dikembalikan—dan si mbak sangat berterima kasih karena Ba’as mengembalikan sepeda yang ia temukan. 

Majikannya sedang pergi, katanya, sedang berusaha menghibur anak kesayangan mereka yang kini terus rewel karena sepedanya hilang. Si mbak tidak bisa memberikan apa pun pada Ba’as, dan meminta Ba’as agar kembali lagi ke sana, agar bertemu majikan si mbak. 

Ba’as hanya mengangguk. Tapi dia tidak pernah datang kembali ke sana.

“Aku sudah senang karena bisa mengembalikan sepeda itu,” ujar Ba’as belakangan kepadaku. 

Aku mencoba menggoda, “Dan kamu tidak ingin ketemu si mbak itu lagi?”

Ba’as hanya tertawa.

....
....

“Kamu bertanya, apa itu penghibu,” ujar Ba’as, saat kami duduk dan bercakap-cakap di sepetak tanah kecil miliknya. “Itulah penghibu.”

Aku mengangguk-angguk penuh khidmat.

 
;