Rabu, 01 April 2020

Selera

Perbedaan yang sulit dijembatani mungkin perbedaan selera humor, 
karena itu jenis perbedaan yang (sering kali) sulit dijelaskan.


Segala hal terkait manusia mungkin bisa dikomunikasikan atau bahkan dinegosiasikan, kecuali satu; selera. Kalau sudah menyangkut selera, semua teori runtuh, penjelasan panjang lebar tiada guna, mengkomunikasikannya juga percuma. Berdebat soal selera adalah hal paling sia-sia di dunia.

Secara objektif, mungkin memang ada selera bagus dan selera buruk—seperti umumnya hal lain di dunia. Tapi selera sering kali tidak menerima objektivitas, karena ia memang sangat subjektif. Yang umum terjadi hanyalah “perkembangan selera” untuk lebih baik.

Jika kita terus bertumbuh, biasanya selera kita juga bertumbuh—atau dengan kata lain, berubah—hingga lebih baik, dan lebih baik lagi. Tapi juga tidak pasti begitu. Karena ada sebagian kita yang diri dan hidupnya terus berkembang, tapi seleranya mentok gitu-gitu aja.

Selera film, misalnya. Orang yang selera filmnya action, sampai mati pun biasanya tetap suka action, dan malas kalau diajak nonton drama atau film-film non-action. Tak peduli dia makin pintar, makin kaya, makin berwawasan, atau bahkan makin bijaksana, selera filmnya ya tetap itu-itu juga.

Tapi tidak apa-apa, namanya juga selera. Subjektif, dan kadang tidak ilmiah juga tidak akademis. Film yang bagi kita “ora mashok blas”, bisa jadi “sangat bagus” bagi yang suka, karena sesuai seleranya. Sebaliknya, film yang kita anggap “masterpiece”, bisa jadi cuma film “wuopppoooo” bagi yang tak suka, karena tidak sesuai seleranya.

Sampai sekarang, misalnya, saya sama sekali belum nonton—dan mungkin tidak akan pernah nonton—Parasite, film yang dipuji banyak orang di dunia, bahkan dapat Oscar. Secara objektif, Parasite jelas film bagus, dengan bukti banyaknya ulasan positif dan penghargaan. Tapi saya tak berminat nonton, karena memang tak berselera.

Begitu pula film-film macam Hereditary, Us, atau Midsommar—sial, saya menonton ketiganya. Banyak orang bersepakat bahwa film-film itu bagus, bahkan masterpiece, sebagian mereka sampai menulis ulasan ndakik-ndakik yang sanggup membuat bidadari menangis.

Tapi bagi saya, tiga film itu mung wuoopppoooo!

Apa yang salah? Tidak ada!

Masalahnya di sini pasti terkait selera, yang, sekali lagi, subjektif.

Karena subjektivitas itu pula, sungguh sia-sia kalau orang berusaha meyakinkan saya bahwa film-film itu bagus. Sama sia-sia kalau saya berusaha meyakinkan mereka bahwa film-film itu buruk. Wong namanya selera. Satu-satunya hal yang sulit dikomunikasikan—apalagi dipaksakan—adalah selera.

Saya pernah mendengarkan musik orkestranya Yanni di ponsel, lewat earphone, dan sangat menikmati musik itu sampai memejamkan mata penuh nikmat.

Melihat itu, seorang teman penasaran, ingin tahu musik apa yang sedang saya dengar. Waktu earphone pindah ke telinganya, dan dia mulai mendengarkan, komentarnya sangat tak terduga, “Iki musik wuopppooooo? Ora ono lagune!”

Teman saya ini biasa naik BMW, jadi jelas dia kaya-raya. Fakta bahwa dia tidak mengenal Yanni, mungkin mengejutkan. Lebih mengejutkan lagi saat saya tahu musik-musik apa yang ada di playlist mobilnya. Dangdut koplo semua! Tapi karena didengar di BMW, ya asyik-asyik saja.

Memahami selera—yang sangat subjektif—ini penting, khususnya saat menghadapi penolakan dari orang yang kita taksir/dekati. Saat seseorang menolak kita, bisa jadi bukan karena kita buruk atau kurang sesuatu, tapi semata-mata karena selera—kita bukan selera dia.

Sekali lagi, ini bukan karena kita buruk atau kurang sesuatu. Ilustrasinya mungkin mirip film Parasite yang dipuji banyak orang dan telah dikukuhkan sebagai film bagus, tapi nyatanya tidak semua orang ingin menontonnya. Kalau saya tidak ingin nonton Parasite, bukan karena film itu buruk. Tapi semata karena memang bukan selera saya.

Tanpa pemahaman seperti itu, penolakan bisa membuat kita down, hingga stres sampai lama. Sebaliknya, memahami soal selera akan membantu kita tetap “biasa saja” setelah ditolak seseorang. Wong namanya selera, kita tidak bisa memaksakan. Jadi biasa saja. Wajar.

Karenanya pula, tak perlu repot-repot berusaha meyakinkan seseorang agar menerima kita. Karena kalau dasarnya sudah bukan selera, mau kita repot seperti apa pun juga biasanya sia-sia. Jauh lebih baik, dan lebih sehat, mencari orang lain yang seleranya sesuai kita.

Cinta sering kali tidak memandang rupa atau semacamnya—tapi selera. Karenanya, bagi seseorang, pasangannya pasti sempurna, dan dia pasti akan ngamuk kalau kita mencoba menyebut kekurangan pasangannya. Tidak ilmiah, memang, tapi begitulah cinta—atau selera. Sangat subjektif.

Dalam tahap tertentu, selera bukan saja subjektif, tapi juga membingungkan.

Misalnya begini. Kita naksir cewek, menyatakan cinta kepadanya, dan ditolak. Oke, kita pun berpikir, “Mungkin aku bukan seleranya.”

Belakangan, ketika cewek itu punya pacar, si pacar benar-benar mirip kita. Dari rupa, penampilan, sampai latar belakang dan pekerjaannya. Itu piye, kalau dipikir-pikir?

Andai si cewek punya pacar yang jelas berbeda dengan kita, mungkin kita tidak akan heran dengan penolakannya. Namanya juga selera. Tapi bahwa pacar cewek itu benar-benar mirip kita, kenyataan itu jelas membingungkan. Kira-kira apa latar belakang alasan cewek itu menolak kita, tapi menerima cowok lain yang benar-benar mirip kita?

Sebaiknya tidak usah dipikirkan, karena tak ada gunanya. Semakin dipikirkan, malah akan menyakiti diri sendiri.

Terkait selera dalam memilih pasangan, posisi cowok memang sering rentan, karena tak punya pilihan, selain menerima keputusan. Kita naksir cewek, menyatakan cinta kepadanya, keputusan finalnya ada pada si cewek. Entah dia menerima atau menolak, kita tidak bisa mengganggu gugat, meski sering kali keputusannya tergantung selera dan sangat subjektif.

Karenanya, cowok sering kali tak bisa menanyakan apa alasan penolakan si cewek. Dan kalau pun si cowok mempertanyakan alasan penolakan itu, si cewek bisa saja mengarang bebas, dan jawabannya tak membuat kita puas.

Well, setelah menyadari kenyataan itu, bahwa penerimaan maupun penolakan adalah sesuatu yang hanya bersifat selera dan sangat subjektif, saya pun tak terpengaruh lagi pada penerimaan atau penolakan. Orang mau menerima atau menolak saya, itu urusan mereka. Urusan saya hanya menjalani dan menikmati hal-hal yang sesuai selera saya.

Kalau orang lain boleh punya selera, kenapa kita tidak boleh punya selera sendiri?

Dulu, sebelum memahami konsep ini, saya sering down atau patah hati kalau menerima penolakan—dalam kasus apa pun. Setelah memahami konsep ini, penolakan hanya membuat saya tertawa. Saya tidak akan memaksakan selera saya pada siapa pun. Dan sebaliknya.

Kalau dangdut koplo adalah musik kesukaanmu, ya silakan—itu hak yang dijamin konstitusi, dan mencerca seleramu bisa termasuk pelanggaran HAM. Tapi bukan berarti saya harus mengikuti seleramu, dan ikut-ikutan menikmati dangdut koplo. Saya punya selera sendiri. 

Kata Mutiara Bocah

“Di dunia ini tidak ada yang mengalahkan mbakyuku.”

Noffret’s Note: Kesingsal

Gara-gara flashdisk yang hilang, aku jadi ingat sesuatu.

Orang Jawa punya istilah yang mungkin belum ada padanannya dalam bahasa apa pun; kesingsal. Jika diartikan, “kesingsal” adalah suatu kondisi kehilangan, tapi kita yakin sebenarnya tidak kehilangan. Aku tidak tahu apa padanan kata “kesingsal” dalam bahasa Indonesia.

Kalau orang Jawa kehilangan suatu barang di rumah, misalnya, mereka tidak mengatakan “hilang”, tapi “kesingsal”. Bahwa suatu barang telah hilang—tidak mereka temukan—tapi mereka yakin barang itu sebenarnya tidak hilang, hanya belum mereka temukan.

Saat ini, misalnya, aku kehilangan flashdisk di rumah, yang biasa aku pakai untuk memindahkan data dari satu komputer ke komputer lain. Flashdisk itu tidak ada, tidak/belum kutemukan, tapi aku tahu flashdisk itu sebenarnya tidak hilang, dan hanya kesingsal.

Tempo hari, waktu rumah direnovasi, barang-barang dipindah semua—termasuk flashdisk dan perintilannya. Waktu selesai renovasi, barang-barang dikembalikan, tapi tempatnya sudah berbeda, dan sekarang aku benar-benar tidak ingat di mana meletakkan flashdisk!

Jadi, flashdisk itu hilang di rumah, dan tidak bisa kutemukan. Tapi sebenarnya bukan hilang, hanya kesingsal. Suatu saat, kapan pun, aku yakin akan menemukannya kembali, entah sengaja atau tidak. Bisa jadi, ia ada di balik tumpukan buku, atau terselip di antara barang lain.

Kesingsal adalah kondisi kehilangan sesuatu, namun di saat sama memberi kita optimisme untuk menemukannya kembali—entah kapan, entah bagaimana. Selain kesingsal flashdisk, aku juga sebenarnya kesingsal hal lain, yakni senyum dan tawa ceria yang pernah kumiliki.

Dulu, aku pernah punya senyum dan tawa ceria, yang selalu kubawa ke mana pun berada. Namun hidup menimpakan beban dan banyak masalah, hingga senyum dan tawaku kesingsal di antara tumpukan masalah yang ada, dan kini aku kehilangan keduanya.

Tapi aku yakin, senyum dan tawaku tidak hilang, hanya kesingsal. Suatu saat, mungkin aku akan menemukannya kembali, atau bisa jadi ada orang lain yang menemukan dan mengembalikannya kepadaku—bisa teman-teman baru, atau... well, kehidupan baru.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Oktober 2019.

Delusi Agama

"Belajar agama dulu yang bener..." adalah kalimat yang sering—bahkan hampir selalu—diucapkan orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa soal agamanya.

Orang yang benar-benar tahu soal agama tidak akan "mengatakan"—ia akan langsung menunjukkan.

Di Twitter ini, ada orang-orang yang sungguh tahu ajaran agamanya. Ketika ada yang berbeda pendapat dengannya, mereka tidak mengatakan "belajar agama dulu yang bener" dan semacamnya, tapi langsung memberikan penjelasan yang bisa dipahami, bahkan bisa diverifikasi.

Itulah perbedaan antara orang yang benar-benar berilmu dengan orang yang hanya sok berilmu. Terkait agama, ada banyak orang mengidap "kelainan" semacam itu—tidak tahu apa-apa soal agama, tapi bertingkah seolah paling tahu agama, lalu sok mbacot, "Belajar agama dulu yang bener..."

Kalimat berbau nasihat "belajar agama dulu yang bener..." adalah ucapan yang sebenarnya merendahkan orang lain. Kalimat itu menempatkan si pengucap di posisi lebih tinggi—karena seolah dia tahu agama—sementara orang yang diberi ucapan itu ada di posisi bawahnya.

Oh, well, agama.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Agustus 2019.

Merugikan Pelanggan

Ooh... merugikan pelanggan.

Sudah bosok, masih merugikan pelanggan.

Jumat, 20 Maret 2020

Membeli Pecel Bersama Mbakyu

Kabar panas di dunia mbakyu: Harga pecel naik seribu.


Saya suka pecel—well, siapa yang tidak? Karenanya, sewaktu-waktu, saya mendatangi warung pecel, membeli seporsi, plus hal lain—misal peyek kacang atau emping—dan menikmatinya di rumah. Menikmati pecel adalah salah satu hal yang membuat saya bersyukur hidup di planet ini. Saya tidak yakin di Mars atau di Merkurius ada penjual pecel.

Tapi membeli pecel, setidaknya bagi saya, adalah urusan yang complicated.

Tidak jauh dari rumah saya, ada warung pecel. Penjualnya seorang wanita berusia 60-an. Warungnya semi permanen di pinggir jalan, dan di sana ada pecel, rujak, sayur lodeh, mi, dan aneka makanan tradisional yang biasa ada di warung pecel. Warung pecel ini kesohor karena menyediakan pecel yang—konon, menurut banyak orang—sangat enak. Seperti umumnya warung semacam itu, yang datang ke sana adalah para wanita, dari para gadis sampai ibu-ibu.

Karena kenyataan itu, saya tidak pede mendatangi warung pecel tersebut, hingga bertahun-tahun. Masalahnya itu tadi, tidak ada laki-laki yang datang ke warung pecel! Tiap kali saya melewati warung itu, pasti di sana sedang penuh wanita. Tidak ada laki-laki satu pun!

Gara-gara kenyataan itu, saya kadang mengangankan punya mbakyu, biar tidak menghadapi masalah kalau ingin menikmati pecel. Kalau punya mbakyu, saya tinggal mengajak, “Mbakyuuuu, ayo kita beli pecel, habis itu kita pecel-peceeeeeel... appeeeuuuhh!”

Lalu saya mengantarkannya ke warung pecel. Di sana, dia yang masuk warung dan membeli pecel, sementara saya menunggu di luar. Habis itu, kami bawa pulang pecel, dan menikmatinya di rumah. Well, kedengarannya seperti orang normal—sepasang bocah dan mbakyu yang membeli pecel.

Yang jadi masalah, saya tidak punya mbakyu. Karenanya, selama bertahun-tahun, saya hanya bisa menahan hasrat ingin membeli dan menikmati pecel, tapi hasrat itu tidak juga kesampaian.

Lalu tiba hari penuh keajaiban. Sebelumnya, saya sempat bersumpah pada diri sendiri; jika warung pecel itu kebetulan sepi pas saya lewat, saya akan mampir untuk membeli pecel. Dan hari itu akhirnya datang.

Suatu siang, saat melaju pulang, saya menengok warung pecel itu, dan kelihatan sepi. Saya pun memberanikan diri, dan mendatangi warung tersebut, lalu membeli seporsi pecel. Dibungkus, tentu saja, karena saya ingin segera kabur dari warung itu sebelum para wanita berdatangan ke sana seperti biasa.

Ketika sampai di rumah, dengan penuh hasrat yang dibakar penasaran, saya pun mulai menikmati pecel. Ternyata memang benar, kenikmatan pecel di warung itu bukan mitos! Usai menghabiskan seporsi pecel, siang itu, saya langsung merasa kecanduan.

Beberapa hari kemudian, saya kembali lewat di depan warung pecel, berharap warung sepi seperti kemarin. Tapi dasar warung terkenal, selalu ada pembeli yang datang, dan yang datang ke sana pasti wanita. Kenyataan itu membuat saya tersiksa. Di satu sisi, saya ingin kembali menikmati pecel. Di sisi lain, saya tidak pede memasuki warung pecel yang dijubeli para wanita.

Selama waktu-waktu itu, setiap kali lewat warung pecel, saya akan menengok. Kalau sepi, saya akan berhenti. Untungnya, seramai apa pun, warung pecel itu kadang sepi juga. Jadi, saya pun bisa mampir ke sana, untuk membeli pecel.

Kadang-kadang, selagi pecel sedang dibuat, dan saya masih duduk di sana, datang dua atau tiga wanita, dan saya pun salah tingkah. Wanita-wanita itu kadang memandangi saya, seolah saya salah masuk—inilah yang sedari awal membuat saya tidak pede masuk warung pecel. Karena di sana seolah ada diskriminasi gender, dan yang terdiskriminasi adalah kaum pria! Seolah, warung pecel di pinggir jalan hanya untuk kaum wanita! Oh, well, di mana kesetaraan gender? Di mana Komnas HAM? Di mana negara? Di mana Tunggal Pawestri?

Tetapi, gara-gara itu pula, keberanian—atau kendablegan—saya akhirnya tumbuh perlahan-lahan. Jika sebelumnya saya selalu waswas tiap kali akan masuk warung pecel—karena khawatir ke-gap pembeli wanita yang datang—perlahan-lahan waswas dan khawatir itu berkurang. Seiring dengan itu, saya makin pede masuk warung pecel, khususnya kalau pembeli di sana hanya satu dua.

So, itulah awal kebiasaan saya menikmati pecel. Kini, kapan pun saya ingin pecel, saya akan datang ke warung pecel, meski tetap berharap di sana tidak sedang banyak pembeli.

Warung pecel sebenarnya hanya satu kasus. Ada tempat-tempat lain yang juga ingin saya datangi, tapi saya tidak pede mendatanginya sendiri. Di antaranya penjual jajan tradisional di pagi hari.

Tidak jauh dari tempat saya tinggal, ada penjual jajan tradisional untuk keperluan sarapan. Dari lumpia, onde-onde, kue lapis, dan lain-lain. Seperti umumnya warung semacam itu, penjualnya seorang wanita, dan yang datang ke sana juga para wanita—ibu-ibu yang membeli sarapan untuk keluarganya. Tiap pagi, warung itu pasti dijejali banyak orang yang semuanya wanita.

Selama ini, saya memendam hasrat ingin membeli jajan di sana, tapi tak pernah kesampaian. Sampai sekarang, saya belum pernah berani datang ke tempat jajan itu. Karenanya pula, saya kadang mengangankan punya mbakyu, biar urusan membeli jajan lebih mudah. Kalau punya mbakyu, saya tentu bisa meminta, “Mbakyuuuu, ayo kita beli jajan biar emmeeesssshhhh... appeeuuuuh!”

Selain warung jajan, ada tempat lain yang juga ingin saya datangi, tapi saya tidak pernah punya keberanian. Yaitu tempat penjual jagung bakar.

Dari sore sampai malam hari, ada seorang wanita yang menjual jagung bakar di pinggir jalan.

Saya sangat suka jagung bakar, dan ingin sekali mendatangi tempat jagung bakar itu, membeli sebanyak yang saya ingin. Tetapi saya tidak pernah pede. Pasalnya, yang membeli jagung bakar di tempat itu para wanita dan anak-anak. Tidak pernah satu kali pun saya mendapati ada laki-laki dewasa yang membeli jagung bakar di sana.

Ini mungkin persoalan yang bukan persoalan bagi orang lain. Bagi orang lain, khususnya bagi laki-laki lain, mendatangi warung atau tempat jualan apa pun mungkin bukan persoalan, tak peduli para pembeli di sana para wanita atau ada laki-lakinya.

Tapi saya tidak punya ke-pede-an semacam itu. Karena, di lingkungan tempat saya tinggal, ada semacam konstruksi sosial yang menempatkan mana warung yang bisa dimasuki pria maupun wanita, dan mana warung yang hanya dimasuki wanita—di sisi lain, juga ada warung yang hanya dimasuki laki-laki.

Dalam hal ini, memang tidak ada kewajiban, dan warung mana pun tentu membebaskan semua orang—pria maupun wanita—untuk datang. Tapi konstruksi sosial seperti telah mengatur kami. Kalau kau laki-laki, dan mendatangi tempat penjual sarapan—seperti warung jajan tradisional yang saya ceritakan tadi—kau akan dipandang aneh oleh orang-orang lain. Karena warung sarapan, khususnya di tempat tinggal saya, telah dikonstruksi hanya untuk wanita!

Begitu pula warung pecel, hingga warung jagung bakar yang saya ceritakan tadi. Meski tidak ada tulisan “HANYA UNTUK WANITA” tertempel di sana, tapi konstruksi sosial—di lingkungan tempat saya tinggal—seolah telah memasang papan pengumuman semacam itu, dan kami mematuhinya. Karenanya, jika saya nekat mendatangi tempat-tempat itu—sendirian, sebagai laki-laki—peristiwa itu akan dianggap anomali. Karena itulah orang-orang di sana memandangi saya.

Isu kesetaraan gender mungkin seksi ketika menjadi teori, tapi meruntuhkan konstruksi sosial yang telah mapan adalah persoalan lain.

Warung sarapan dan semacamnya identik dengan kaum wanita, karena hal itu dikonstruksi selama bertahun-tahun oleh—well, siapa lagi? Bahwa membeli sarapan adalah tugas wanita. Bahwa membeli cemilan adalah tugas wanita. Bahwa membeli makanan kesukaan semacam pecel adalah tugas wanita.

Di dalam kultur patriarki yang selama ini kita jalani, kita pasti lebih sering menyaksikan ibu-ibu membeli pecel, meski suami mereka juga sama menggemari pecel. Sama halnya, kita pasti lebih sering menyaksikan para wanita berjubel di tempat penjual sarapan, meski suami mereka sama-sama sarapan.

Tidak ada hukum negara atau hukum agama yang mengatur persoalan ini. Tidak ada undang-undang yang mewajibkan wanita yang membeli sarapan untuk keluarganya, pun tidak ada aturan agama yang melarang pria masuk warung pecel. Tapi kita seperti punya aturan tersendiri yang kita patuhi, dan aturan itu dibuat oleh konstruksi sosial. Dan konstruksi sosial, kita tahu, hanyalah hasil kesepakatan. Pertanyaannya, hasil kesepakatan siapa?

Kita dipaksa mematuhi sesuatu yang dibuat sebagai hasil kesepakatan segerombolan orang, entah siapa, di masa lalu. Padahal masa lalu selalu berbeda dengan masa sekarang, termasuk orang-orangnya. Memaksakan pola pikir masa lalu untuk diterapkan di masa sekarang tentu bisa menimbulkan masalah, karena kehidupan di masa lalu jelas berbeda dengan kehidupan di masa sekarang. Tapi berapa banyak yang mau menyadari kenyataan itu?

Jadi, omong-omong, bagaimana solusinya?

Solusinya ya punya mbakyu! Mosok ngene wae ora paham?

Apalagi Kalau Bukan

Ya, kita sama-sama tahu, apalagi kalau bukan.

Menyesal Dilahirkan

Pertanyaan sederhana yang sering kupikirkan sampai sekarang; jika seorang anak—seorang manusia—menyesali kelahirannya, kepada siapa dia harus mengajukan protes? Kepada siapa dia harus mengatakan bahwa dia menyesal telah dilahirkan?

Jangan mengatakan bahwa tidak ada manusia yang menyesal dilahirkan, karena faktanya sangat banyak anak terluka di bawah langit yang tak usai menangisi kelahirannya sendiri—kelahiran yang ia sesali sampai mati.

Apakah orang-orang tua yang punya anak pernah memikirkan kenyataan itu? Apakah mereka pernah membayangkan bahwa anak-anak mereka menyesali kelahirannya, dan diam-diam mengutuk orang tua yang telah melahirkannya?

Tentu banyak anak yang bahagia dengan hidupnya, mensyukuri kelahirannya, dan sangat mencintai orang tuanya. Mungkin kau termasuk di antara mereka—dan kau orang beruntung. Sayangnya, tidak semua anak seberuntung dirimu.

“Kau harus berbakti pada orang tua, karena merekalah yang melahirkanmu.”

Doktrin itu menggeneralisasi semua orang tua pasti baik, dan si anak pasti menjalani kehidupan yang sama baik. Faktanya, realitas kehidupan setiap orang tidak bisa digeneralisasi.

"Tidak ada orang tua yang bermaksud jahat kepada anaknya."

"Tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya."

Really? Lalu ayah yang memperkosa putrinya sendiri itu apa namanya, bastard? Ibu yang melacurkan anaknya sendiri itu apa namanya, bangsat?

Ada orang tua yang baik—itu pasti. Adakah orang tua yang buruk? Banyak! Dan yang buruk dari orang tua yang buruk adalah... mereka tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya sangat buruk!

Kalau kau tidak tahu apa-apa soal motor dan tidak pernah belajar naik motor, tapi nekat naik motor... kau pasti akan menjadi pengendara motor yang sangat buruk. Begitu pun kalau kau punya anak dengan cara yang sama. Ironisnya, begitulah cara kebanyakan orang punya anak!

Ada anak-anak yang dilahirkan hanya untuk ditimbuni beban demi beban tanpa henti, masalah demi masalah tanpa usai, sampai orang tuanya mati. Bahkan ketika mereka mati, beban dan masalah yang ditinggalkan masih menggunung, dan si anak yang susah payah membenahinya.

In the end, kalau kau dilahirkan, dan semenjak kanak-kanak sampai dewasamu belum pernah merasakan kebahagiaan, sementara orang tuamu tak henti menimpakan masalah dan beban, masih bisakah kau mengatakan bersyukur karena telah dilahirkan?

Besok, di catatan di blog, aku akan menceritakan seseorang yang sampai menjadi ateis karena menyesali kelahirannya, dan karena kebenciannya yang luar biasa terhadap orang tuanya yang sangat... sangat buruk.

....
....

Ini catatan baru. Tapi kalau tidak siap mental, sebaiknya JANGAN BACA.

Semalam Bersama Ateis » https://bit.ly/2JD3Mi5 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25-26 Mei 2019.

Noffret’s Note: #PrayForHarunRasyid

Gara-gara tagar #PrayForHarunRasyid, aku melihat video-video mengerikan (atau haruskah kusebut "tidak manusiawi"?) yang mungkin mestinya tak kulihat... dan miris sekali. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di negeri ini?

Kemarin ada perempuan yang mengingatkan agar kita "berhenti meromantisasi para petugas yang menghalau para pendemo", dan perempuan itu malah dihujat serta dicaci-maki. Sekarang aku mulai memahami mengapa sampai ada orang yang mengingatkan hal itu.

Jika kuperhatikan, sejak awal demo dan keributan (atau kerusuhan) meletus, memang tampak terjadi "romantisasi" terhadap satu pihak, sambil "menganggap tidak ada" pihak lain. Itu sangat jelas terlihat, setidaknya bagiku, dan sebagian media jelas tampak (sangat) tak berimbang.

Jika ingin membuktikan yang kukatakan, lakukan hal mudah ini: Baca dan cermati berita-berita terkait demo dan kerusuhan itu, dan lihat hasilnya. Jika membaca ratusan berita terasa berat, buka saja akun-akun Twitter media di Indonesia dan lihat TL mereka. Tidak ada objektivitas!

Sekarang aku telah melihat video-video mengerikan itu—yang dengan gamblang memaparkan kenyataan, dan jelas bukan rekayasa—dan aku pun akhirnya memahami kenapa berbagai media sosial sengaja "ditutup". Pemerintah pasti ketakutan kalau video-video brutal itu sampai bocor keluar.

Aku tidak tahu siapa Harun Rasyid, dan mungkin tidak akan pernah tahu, karena bocah itu telah mati, ketika usianya baru 15 tahun, dengan darah dan luka. Tapi aku bisa menunggu... akan seperti apa media-media di Indonesia memberitakan kematiannya.

#PrayForHarunRasyid

....
....

So, video brutal yang viral itu benar-benar terjadi, tapi narasi yang mengiringinya tidak benar (hoax), karena si korban bukan Harun Rasyid. Tapi Harun Rasyid benar-benar tewas dalam kerusuhan kemarin.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24-25 Mei 2019.

Diam-diam Curang

Ooh... diam-diam curang.

Selasa, 10 Maret 2020

Perang di Balik Booming Media Cetak Era 2000

Kalau aku diberi kesempatan untuk menentukan 
apakah kita harus memiliki pemerintahan tanpa media 
atau media tanpa pemerintahan, aku tidak akan ragu 
untuk memilih yang terakhir. 


Salah satu hal penting yang terjadi setelah Indonesia memasuki era Reformasi adalah dicabutnya SIUPP, sehingga sejak itu media cetak (koran, tabloid, majalah, dan semacamnya) bisa terbit leluasa tanpa izin ribet seperti pada masa Orde Baru. Lalu booming media cetak pun dimulai.

Media cetak, yang pada masa Orde Baru hanya segelintir dan menjadi bisnis eksklusif, tiba-tiba berubah menjadi bisnis dalam skala masif, yang—menggunakan istilah mudah—bisa dilakukan siapa pun dan di mana pun. Era Reformasi benar-benar berkah untuk media cetak di Indonesia!

Soeharto jatuh dan Orde Baru runtuh pada ’98. Segera setelah itu, media-media cetak baru lahir di Indonesia. Seiring waktu, jumlahnya makin banyak, dan mencapai booming pada akhir ’90-an atau menjelang 2000. Memasuki milenium baru, Indonesia menjadi negeri yang rajin membaca.

Sebagai perbandingan, selama 32 tahun masa Orde Baru, hanya ada 289 media cetak. Setahun setelah Reformasi, jumlahnya naik menjadi 1.687 media cetak. Artinya, dalam setahun itu ada 1.389 media cetak baru, atau 140 media cetak lahir tiap bulan, atau 5 media baru lahir setiap hari!

Di masa itu, nyaris di mana pun ada orang-orang yang membaca koran atau tabloid, dari para mahasiswa sampai abang-abang becak. Karena media cetak ada di mana-mana, dan harganya relatif murah untuk masa itu. Media-media itu pun menarik, karena mereka menulis secara apa adanya.

Di masa Orde Baru, isi media dipantau pemerintah, dan yang melanggar bisa dibredel. Akibatnya, media massa tidak bisa ngablak seenaknya. Setelah Reformasi, hal semacam itu tidak ada, dan media-media bisa ngoceh apa adanya, dan hasilnya sangat menarik bagi masyarakat zaman itu.

Karena isu terbesar saat itu adalah jatuhnya Soeharto, reformasi, suksesi, dan berbagai urusan politik terkait, media-media cetak yang waktu itu laris pun kebanyakan berisi berita politik. Di antaranya Tabloid ADIL, AKSI, BANGKIT, OPOSISI, GUGAT, dan lain-lain semacamnya.

Aku sengaja tidak menyebut nama-nama semacam KOMPAS, TEMPO, JAWA POS, dan semacamnya, karena mereka sudah eksis sejak dahulu kala (jauh sebelum reformasi). Sementara nama-nama tabloid yang kusebut itu baru muncul setelah era Reformasi—kecuali ADIL yang sudah lahir sebelumnya.

Sebagai bocah, aku senang sekali di masa-masa itu, karena melihat antusiasme luar biasa masyarakat terhadap bacaan (media cetak). Di mana-mana ada orang yang asyik membaca. Itu pemandangan luar biasa. Hampir semua orang Indonesia, tiba-tiba, jadi masyarakat yang gemar membaca.

Memasuki tahun 2000, booming media cetak mencapai puncak. Seperti booming yang lain, sesaknya bisnis media cetak waktu itu juga mengalami kejenuhan, khususnya untuk media-media politik. Lalu lahirlah media-media alternatif—sebagian mengusung tema agama, sebagian lagi urusan seks.

Di masa-masa itulah, lahir aneka tabloid dan majalah dengan tema agama, juga aneka tabloid dan majalah yang mengusung tema seks, gaya hidup, entertainment, lengkap dengan foto-foto wanita mengumbar keindahan tubuhnya. Sebagai bocah, sekali lagi, aku benar-benar cinta zaman itu!

Media-media yang mengusung tema agama waktu itu pun sangat variatif. Dari yang bertema azab kubur semacam Hidayah atau Kisah, sampai yang bertema sufi semacam Tarbawi—oh, ya, ada majalah bernama Tarbawi, kalau-kalau kalian belum tahu. Entah sekarang masih ada atau tidak.

Sementara dari kubu media “duniawi”—berisi ulasan seks, gaya hidup, entertainment, dan foto-foto hot—di antaranya Tabloid POP, MaP, LIPSTIK, HOT, X-HOT, EXOTICA, Majalah TOP, SEXY, HOKI, dll. LIBERTY gimana? Tidak usah disebut, majalah itu sudah ada sejak zaman kuno, btw!

Selain tema-tema agama dan "topik duniawi", ada pula media-media cetak yang mengusung tema misteri, yang waktu itu sama-sama laris. Dua yang paling menonjol adalah Majalah MISTIK dan Majalah MISTERI. Dari kalangan tabloid ada POSMO, dan beberapa tabloid lain yang kurang populer.

Di luar urusan politik, agama, seks, dan misteri, ada pula media-media cetak yang mengusung tema lain, misal wirausaha, di antaranya Tabloid PELUANG, Majalah DUIT, dll. Ada pula yang bertema komputer, internet, teknologi, kesehatan, dunia kampus, sains, daftarnya masih panjang.

Jadi, di masa-masa itu, Indonesia menjadi surga media cetak, dan kita bisa mendapatkan bacaan dengan topik apa pun yang diinginkan, dengan harga relatif murah. Dan ketika bisnis makin sesak, perang mulai terjadi—meski diam-diam, di balik layar, tak diketahui masyarakat umum.

Di antara media cetak yang mengusung tema politik, perang itu terjadi dengan cara adu cepat dan adu berani. Di masa-masa itulah, muncul foto-foto “mengerikan” (misal potongan kepala dengan darah menetes dari suatu kerusuhan) yang terpampang jelas di sampul dan halaman tabloid!

Masing-masing media waktu itu tampaknya berusaha sekuat tenaga menarik perhatian masyarakat, dengan cara apa pun, meski kadang harus melangkahi etika jurnalisme. Di masa sekarang, yang mereka lakukan mungkin bisa disamakan dengan clickbait yang dilakukan sebagian media online.

Sementara di kalangan media yang mengusung tema-tema misteri, perang yang terjadi adalah saling sindir. Ini lucu, kalau diingat sekarang. Majalah MISTERI, misalnya, pernah menyindir Tabloid POSMO yang mereka nilai hanya menjual sensasi, lalu POSMO balik menyindir MISTERI.

Yang paling seru adalah perang di kalangan media dengan tema agama, berhadapan dengan media yang mengusung tema seks. Salah satu “peristiwa besar” yang waktu itu terjadi, ada majalah bertema agama yang menjadikan media-media bertema seks sebagai topik utama di salah satu edisi.

Untuk keperluan itu, majalah agama bersangkutan—sebut saja Majalah X—menghubungi media-media bertema seks, untuk wawancara dan lain-lain. Sebagian media bertema seks bersikap terbuka pada mereka, sebagian lagi menutup diri. Itu benar-benar topik yang sensitif, sebenarnya.

Lalu perang meletus ketika edisi Majalah X terbit dengan topik utama “bisnis media esek-esek”. Asal usul perang itu, karena kalangan media esek-esek menilai Majalah X telah melakukan distorsi terhadap fakta-fakta yang ada, dan menggiring opini pembaca dengan cara negatif.

Ilustrasi mudahnya seperti ini; Majalah X menulis tiras Tabloid Z sejumlah 300.000 eksemplar. Padahal, tiras Tabloid Z mencapai 800.000 eksemplar. Ini sangat berdampak pada urusan iklan di Tabloid Z—dan media-media semacamnya—karena tiras akan ikut menentukan harga iklan.

Belakangan, perang itu makin “berdarah-darah”, karena dua kubu saling menyerang, dengan cara menulis di media masing-masing, dengan menyebut nama-nama media bersangkutan secara frontal dan blak-blakan. Lalu, entah berkaitan langsung atau tidak, terjadi aneka “perpecahan”.

Tabloid POP bisa dibilang sebagai media pertama yang mengusung tema “panas” setelah era Reformasi. Orang-orang di balik tabloid itu belakangan pecah, dan saling mendirikan media sendiri. Sebagian mendirikan Pop Indonesia (disebut POPI), sebagian lain mendirikan Tabloid LIPSTIK.

Belakangan, perpecahan kembali terjadi di kalangan masing-masing, lalu mereka yang pecah mendirikan media lain lagi, bernama Pop Flash. Lanjutannya masih panjang. Yang jelas, di masa itulah mulai muncul aneka hoax, yang salah satunya mengaitkan Majalah Hidayah dengan Tabloid POP.

Booming media cetak di Indonesia mulai surut, seiring memasuki tahun-tahun baru di era 2000. Ada berbagai penyebab, di antaranya suhu politik yang mulai turun, kejenuhan pasar, sampai mulai dikenalnya internet di kalangan masyarakat umum. Satu per satu media itu lalu hilang.

Dari ribuan media cetak yang lahir di era Reformasi, hanya segelintir yang mampu bertahan sampai 2010. Belakangan, segelintir yang mampu bertahan itu pun akhirnya tumbang, dan ikut hilang. Bisa dibilang, media cetak era itu yang masih eksis sampai sekarang hanya satu dua biji.

Sekali lagi, kita tidak membicarakan media cetak semacam KOMPAS, TEMPO, atau Jawa Pos, karena mereka perusahaan raksasa, dengan modal tak terbatas, dan telah eksis jauh-jauh hari sebelum era Reformasi. Masa surut media cetak di zaman itu bisa dibilang tak berpengaruh pada mereka.

Tapi ribuan media cetak yang lahir di era Reformasi kebanyakan berasal dari perusahaan-perusahaan kecil-menengah, dengan modal dan sumber daya terbatas, serta tidak memiliki fondasi sekuat KOMPAS, TEMPO, atau Jawa Pos. Ketika masa surut menghantam, mereka pun goyah dan kolaps.

Kini, kisah tentang booming media cetak di zaman itu, hingga masa surutnya, menjadi salah satu keping ingatan di memoriku, juga salah satu tonggak penting dalam hidupku. Karena, di zaman itulah aku membangun... well, kekayaan pertamaku, saat usiaku masih belasan tahun.

Jika aku ditanya, kapan merasa sangat kaya, di zaman itulah jawabannya. Di masa-masa itu, aku mampu menghasilkan puluhan juta per bulan—menjadi bocah kaya-raya—sesuatu yang bahkan melampaui mimpi-mimpi terliarku. Oh, well, aku benar-benar merindukan masa-masa itu....


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 Agustus 2019.

Voltaire, Seorang Bocah

Ribut-ribut soal WNI eks ISIS tempo hari, mengingatkanku pada Voltaire, tokoh paling berpengaruh di Era Pencerahan Prancis—bahkan bisa dibilang dialah yang menggerakkan zaman itu. Hidup Voltaire adalah pertarungan dengan dogma, perang abadi melawan doktrinasi.

Kehidupan Voltaire ditandai dua masa, yaitu Abad Kegelapan dan Abad Pencerahan. Abad Kegelapan adalah masa ketika doktrin dan dogma menguasai dan mencengkeram kehidupan manusia, sementara Abad Pencerahan adalah dimulainya era filsafat empirisme.

Filsafat empirisme menekankan pengetahuan pada realitas, dan merupakan antitesis doktrin-doktrin dari Abad Kegelapan. Ketika mulai meruntuhkan doktrin-doktrin itu, Voltaire bahkan sampai dipenjara dan diusir dari negaranya, akibat banyak orang merasa terusik dan ketakutan.

Bagi Voltaire, sumber segala kejahatan dan bencana kemanusiaan di dunia adalah agama yang terorganisir. Karenanya, Voltaire menganggap agama sebagai sesuatu yang menakutkan, bahkan menjadi antitesis kemanusiaan. Gara-gara itu, Voltaire diusir dari Prancis.

Dari Prancis, dia pindah ke Inggris, dan mengenal bocah-bocah di sana—sekaligus menyerap pemikiran dan kehidupan mereka—yang belakangan membentuknya menjadi pembelajar dengan pikiran paling frontal, sekaligus penulis paling produktif sepanjang zaman.

Berbeda dengan kebanyakan filsuf lain, Voltaire tidak mendirikan filsafat apa pun yang berbeda dengan filsuf lainnya. Tapi dia dianggap tokoh paling terkemuka di Abad Pencerahan, yang pengaruhnya lebih besar dibanding jika semua filsuf zaman itu digabung jadi satu!

Bagaimana Voltaire bisa menempati posisi semacam itu? Karena dia menulis jauh lebih banyak dari siapa pun—di zaman dulu, maupun di zaman sekarang. Sepanjang hidupnya, dia menulis 2.000-an buku dan puluhan ribu catatan. Itu pencapaian yang sulit ditandingi siapa pun.

Dalam ribuan tulisannya, Voltaire membicarakan hampir semua hal yang dipikirkan manusia di zamannya, dan—berbeda dengan kebanyakan filsuf lain yang menulis dan berbicara secara kalem dan akademis—Voltaire menulis dan ngoceh dengan bahasa lugas, tajam, bahkan frontal.

Baca lebih lanjut tentang Voltaire di sini: Siapakah Voltaire?

Omong-omong Soal Agama...

Beberapa orang yang menganggap agama sebagai sumber kebenaran sering kali menggunakan agama untuk menyampaikan nasihat. Yang barangkali tidak sempat mereka pikirkan adalah kemungkinan bahwa orang yang mereka nasihati tidak percaya agama. Itu lucu, sebenarnya, kalau bukan konyol.

Pernah ada seseorang menasihati orang lain, dengan dalil-dalil agama. Yang dinasihati hanya diam manggut-manggut, tak menjawab. Setelah dia pergi, aku bilang pada yang memberi nasihat, "Percuma memberi nasihat seperti itu. Dia orang baik, tapi agnostik, tak percaya ajaran agama."

Mungkin, sebelum berceramah menggunakan dalil agama, hal yang perlu diperhatikan terlebih dulu adalah mengetahui dan memastikan, apakah orang yang akan menerima ceramah itu percaya agama atau tidak. Agama memang benar... tapi hanya bagi pemeluknya. Itu pahit, memang, tapi benar.

Lebih penting dari itu, adalah memastikan apakah nasihat berdalil agama yang akan kita ceramahkan memang sahih dan "terverifikasi" atau tidak. Karena ada orang-orang menyemburkan nasihat agama, tanpa menyadari bahwa nasihat yang mereka sampaikan berdasarkan sumber yang meragukan.

Terkait hal itu, ada pengalaman yang sempat membuatku kecewa luar biasa. Di madrasah (SMP), kami belajar fiqih dengan satu kitab. Dalam kitab itu ada banyak hadist yang sifatnya doktrinasi. Belakangan aku tahu, 90% hadist dalam kitab itu dhaif! Aku merasa ditipu habis-habisan!

Aku tidak tahu apakah guru yang mengajar kami benar-benar tidak tahu itu hadist-hadist dhaif, atau tahu tapi pura-pura tak tahu. Yang jelas, belakangan, aku sangat kecewa, karena patah hati dan merasa dikibuli. Hadist-hadist dhaif kok diajarkan hingga mendoktrinasi otak kami!

Sebenarnya, tidak masalah menggunakan hadist-hadist dhaif sebagai bahan pelajaran. Tapi ada adab/etika tersendiri terkait hal itu. Guru harus menjelaskan/memberitahu, misal, "Isi hadist ini layak diikuti, tapi hadist ini dhaif." Tanpa pemberitahuan, itu sama saja menyesatkan.

Bahkan untuk hadist-hadist yang jelas disahihkan oleh Bukhari/Muslim pun, tidak semua bisa ditelan mentah-mentah, karena ada konteks di balik teks hadist-hadist tersebut, yang bisa jadi maksudnya jauh beda dengan yang kita pahami (yang tersurat dalam hadist). Apalagi yang dhaif.

Pelajaran penting yang kuperoleh dari kekecewaan di masa SMP itu adalah... jika ada ajaran yang terkesan "sangar" atau "sangat keras" terkait sesuatu, aku akan menelusurinya. Dan, percaya atau tidak, ajaran itu biasanya berasal dari hadist dhaif, atau sesuatu yang tidak jelas.

Sama seperti di zaman sekarang, di masa lalu juga ada orang-orang yang terlalu "keras" dalam beragama, dan (mungkin) merekalah yang kemudian melahirkan hadist-hadist dhaif atau aturan-aturan tidak jelas yang, sialnya, masuk dalam kitab fiqih yang menjadi pelajaranku di madrasah.

Jadi, sebelum sibuk menasihati orang lain dengan dalil-dalil agama, ada baiknya (dan jauh lebih baik) kita mempelajari terlebih dulu dalil-dalil yang akan kita semburkan. Karena apa pun yang kita anggap benar, tetap saja salah jika sumbernya salah dan konteks/maksudnya salah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 5 Januari 2018.

Biar Terlihat Anu

Wfsfllalsfasfasfafa uuuuuaahh... adhsnadadasdasdah, dsfahhfff, sasuuurrrrvv, hheemm... heeemmm... asdsfuhhgy, asdnxzczxky, daxvvjjarqwrwuughhh, safafhdbbfyashoohh.

Dam dam dam.

Fsllxcvxcviiixbxcbuuaaahhh, adadayy dadayvvvadsy arsasfasfashhh hem hem hem... asfasfjasjjxvcvxcvjyih asdasyc asfasfasfashy bcvewrkkfyy fafafkkkxvzxv nmllfhty, saafasvywqqwy.

Dem dem dem.

Trojan

Ooh... trojan.

Minggu, 01 Maret 2020

Tertawa Gila di Warung Ayam Goreng

Dari tadi cekikikan sendiri tanpa henti ... sambil mikir, 
"Sebenarnya apa yang aku tertawakan?" Humor kadang bisa seaneh itu.


Alasan atau penyebab kita tertawa, kadang-kadang sangat absurd bahkan gila. Setidaknya, saya sering begitu. Ada hal-hal yang mungkin sebenarnya biasa saja, tapi mampu membuat kita—khususnya saya—cekikikan tanpa hanti, bahkan kadang sampai tertawa guling-guling.

Di Twitter, pernah ada twit yang isinya relatif singkat, dan secara objektif mungkin biasa-biasa saja, tapi membuat saya dan orang-orang lain cekikikan. Twit itu cuma seperti ini: NKCTHI, Nanti Kita Cerita Tentang Hamengkubuwono I.

Ketika mendapati twit itu di timeline, saya spontan cekikikan, dan terus cekikikan tanpa henti. Sebegitu lama cekikikan, sampai saya mikir, “Sebenarnya apa yang kutertawakan?”

Tempo hari, peristiwa semacam itu kembali terjadi—saya tertawa-tawa gila, padahal inti yang membuat saya tertawa-tawa agak membingungkan, bahkan mungkin absurd.

Ceritanya, dalam beberapa waktu terakhir, saya suka makan malam dengan ayam goreng telur (daging ayam yang digoreng bersama telur), plus sambal dan lalapan. Ada warung makan terkenal yang saban malam menyediakan menu itu, dan saya pun sering ke sana.

Warung itu selalu ramai, karena sajian ayam goreng di sana memang terkenal enak. Sebegitu ramai, sampai saya kadang harus buru-buru bangkit begitu makan selesai, karena banyak orang yang sudah antre untuk menggantikan tempat duduk.

Itu membuat saya tidak nyaman. Biasanya, seusai makan, saya suka duduk dulu agak lama sambil udud, dan baru bangkit setelah udud habis. Tapi gara-gara ramainya orang di sana, saya harus cabut meski perut masih terasa sesak setelah makan.

Akhirnya saya mengalah. Saya tidak lagi menikmati makan malam di sana, tapi saya makan di rumah. Jadi, sejak itu, saban malam saya datang ke warung tadi, memesan nasi dan ayam goreng—dibungkus—lalu saya makan di rumah sambil menonton film. Ternyata lebih nikmat, karena saya bisa makan lebih santai, dan usai makan pun bisa duduk leyeh-leyeh sambil menikmati udud.

Sebagian kalian mungkin ada yang bertanya-tanya, “Kenapa tidak pesan lewat order online semisal GoFood saja?”

Pertanyaan bagus, dan saya akan senang menjawabnya.

Sehari-hari, saya sangat jarang keluar rumah, karena memang bekerja di rumah. Dan itu artinya saya tidak berinteraksi atau berkomunikasi dengan siapa pun, karena saya tinggal sendirian di rumah, tanpa ada orang lain. Sementara keperluan komunikasi dengan orang lain, khususnya terkait urusan kerja, dilakukan lewat teks atau e-mail.

Kalau mau, saya bisa tetap berada di rumah tanpa keluar sama sekali sampai berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan, karena saya bisa mendapatkan apa pun yang saya inginkan, tanpa harus keluar rumah.

Tetapi, saya sadar itu tidak baik untuk kesehatan mental saya, sebagai manusia. Karenanya, meski sebenarnya malas keluar rumah, saya tetap memaksa diri untuk melakukannya, agar saya bisa tetap menjadi manusia normal, yaitu manusia yang bertemu, berkomunikasi, berinteraksi, dan bercakap-cakap, dengan manusia lain.

Jadi, alih-alih memesan makanan lewat GoFood, saya lebih memilih keluar rumah, dan langsung mendatangi warung yang dituju, agar saya bisa bersentuhan dengan “kehidupan di luar”.

Setiap malam, usai magrib atau setelah isya, saya keluar rumah, mendatangi warung ayam yang saya ceritakan tadi, dan itu kesempatan saya untuk “masuk ke dalam kehidupan manusia normal”. Meski paling-paling saya berinteraksi dengan pelayan warung atau tukang parkir di sana, itu sudah cukup bagi saya.

Di dekat warung ayam goreng itu ada bangku panjang. Biasanya, saat di sana, saya akan duduk di bangku panjang itu, menunggu nasi dan ayam goreng pesanan saya disiapkan. Lalu pelayan warung—seorang pria berusia 25-an—membawakan bungkusan berisi nasi, ayam goreng, bungkusan sambal, dan sepotong mentimun segar. Saya membayar, dapat uang kembalian, lalu pulang.

Harga paket tadi (nasi, ayam, sambal, dan lalap) Rp27.000. Setiap malam, saya membayar dengan uang pecahan Rp50.000. Uang itu sudah saya siapkan di tangan, jadi bisa langsung saya berikan kepada pelayan warung, tanpa harus membuka dompet lebih dulu.

Pelayan warung menerima uang saya, kembali ke warung untuk mengambil uang kembalian, lalu mendatangi saya kembali dan menyerahkan kembalian sebesar Rp23.000. Begitu terus setiap malam, sampai cukup lama.

Belakangan, mungkin karena tidak ingin repot bolak-balik, pelayan warung rupanya menyiapkan uang kembalian saat akan menyerahkan nasi dan ayam pesanan saya. Karena dia tentu sudah hafal kalau saya pasti akan membayar dengan uang Rp50.000.

Jadi, begitu sampai di tempat saya duduk, dia menyerahkan bungkusan nasi. Saya membayar dengan uang Rp50.000, dan dia langsung menyodorkan uang kembalian Rp23.000—tanpa harus balik ke warung dulu seperti sebelum-sebelumnya.

Ketika pertama kali mendapati hal itu, saya cekikikan, dan dia—si pelayan warung—ikut cekikikan. Jadi, selama sesaat, kami berdua cekikikan, menertawakan sesuatu yang kami lakukan. Entah kenapa, kami menganggap itu lucu, atau absurd.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, saya terus cekikikan sendiri mengingat peristiwa tadi, meski saya tetap tidak paham di mana lucunya. Bagaimana pun, peristiwa tadi tidak dimaksudkan untuk lucu-lucuan, tapi nyatanya, entah bagaimana, saya maupun pelayan warung tadi menganggapnya lucu, hingga kami sama-sama menertawakannya.

Sejak itu, peristiwa sama terus terulang. Saya datang ke warung ayam, menyampaikan pesanan, lalu duduk-duduk di bangku panjang di sana. Tak lama kemudian, pelayan warung datang membawakan pesanan saya, dan saya pun membayar dengan uang Rp50.000.

Si pelayan warung sudah menyiapkan uang kembalian, dan dia langsung memberikannya ke saya. Dan kami masih cekikikan, meski tidak segila awalnya. Bagaimana pun, hal itu sudah jadi kebiasaan, jadi kadar lucunya—kalau memang ada—sudah turun.

Setelah banyak malam kami lewati dengan kebiasaan itu, suatu malam peristiwa lain terjadi.

Malam itu, saat duduk di bangku dekat warung ayam goreng, saya menyiapkan uang untuk membayar, seperti malam-malam sebelumnya. Ketika membuka dompet, rupanya tidak ada uang pecahan Rp50.000 seperti biasa. Cuma ada lembaran-lembaran Rp100.000 dan Rp2.000. Akhirnya saya pun mengambil selembar Rp100.000, dan menyiapkannya untuk pembayaran.

Ketika pelayan warung datang sambil membawakan bungkusan, saya pun menyerahkan selembar uang kepadanya. Dia sudah akan menyerahkan uang kembalian langsung seperti biasa, tapi lalu kaget ketika mendapati uang yang saya sodorkan kali ini Rp100.000. Di luar dugaan, dia cekikikan sambil misuh dengan nada lucu, “Asuuu.”

Mendapati ekspresinya, saya seketika ngakak seperti orang gila. Peristiwa seperti tempo hari terulang. Saya tertawa untuk sesuatu yang saya tidak paham di mana lucunya. Kali ini, saya bahkan sampai guling-guling di bangku, tertawa-tawa tanpa henti.

Mungkin karena melihat saya tertawa-tawa seperti orang gila, pelayan warung ikut tertawa-tawa gila. Cukup lama kami sama-sama tertawa tanpa kendali, sampai orang-orang di sana memperhatikan kami. Belakangan, dalam perjalanan pulang, saya masih terus cekikikan sendiri.

Sejak peristiwa itu, setiap kali saya ke warung ayam goreng, si pelayan akan mendatangi saya sambil cekikikan, dan saya ikut cekikikan—mungkin karena sama-sama teringat peristiwa sebelumnya.

Dia tidak tahu siapa saya, sebagaimana saya tidak tahu siapa namanya. Tapi karena hampir tiap malam ketemu dan pernah sama-sama menertawakan sesuatu, kami merasa saling kenal, dan bersikap seperti teman akrab yang bisa saling cekikikan.

Setelah dewasa, bisa tertawa adalah kemewahan bagi saya, dan saya selalu senang setiap kali menikmatinya.

Sumber Kebahagiaan Manusia

Habis mandi, nyeruput cokelat hangat, udud, lalu ingat Aristoteles.

“Sumber kebahagiaan manusia,” kata Aristoteles, “bukan rebahan sambil malas-malasan sepanjang hari, tapi bekerja untuk sebuah tujuan yang ditetapkan.”

Aristoteles menyatakan kalimat itu, 2.300 tahun sebelum anak-anak kekinian menganggap rebahan sebagai aktivitas hebat.

Terkait “menikmati hidup”, teladanku adalah Winston Churchill. Dia pribadi komplit yang tidak hanya menjadi Perdana Menteri Inggris paling berpengaruh sepanjang sejarah, tapi juga menghasilkan banyak karya. Dan gaya hidup Churchill benar-benar “ancur”—jauh dari “sehat”.

Hampir sepanjang hidupnya, Winston Churchill hanya tidur 3-5 jam setiap hari, akibat kesibukannya yang luar biasa. Sepanjang hari, dia terus bekerja, sambil menghabiskan puluhan batang rokok, sementara malam harinya menghabiskan berbotol-botol bir.

Selain perokok berat dan doyan ngebir, Churchill juga makan apa pun tanpa pantangan, tanpa aturan diet dan tetek bengek yang bikin pusing, serta tidak pernah berolah raga! Tapi orang ini berumur panjang, dan—hampir sepanjang hidupnya—tidak pernah sakit!

Ketika orang-orang bertanya kepadanya, apa resep sehatnya hingga dapat hidup asoy sampai usia sangat tua, Churchill menjawab, “Nikmati hidupmu, cintai pekerjaanmu!”

Pekerjaan tidak akan membunuhmu—tapi stres, ya! Karena stres membuatmu—fisik maupun psikis—cepat tua.

Stres membunuh manusia, jauh lebih banyak dibanding yang dilakukan Perang Dunia, jauh lebih brutal dibanding yang dilakukan banyak wabah yang pernah menyerang umat manusia. Stres tidak membunuhmu dari luar, tapi dari dalam... menggerogotimu perlahan hingga habis.

Karenanya, aku setuju dengan Churchill, bahwa cara paling ampuh untuk menekan stres adalah dengan menikmati hidup. Dan cara paling ampuh menikmati hidup agar minim stres adalah mencintai pekerjaan! Kalau kau membenci pekerjaan, hidupmu pasti penuh stres!

Sampai di sini, selalu ada kemungkinan orang-orang yang akan ngemeng, “Tapi Churchill bukan pusat alam semesta, dan setiap orang belum tentu sama dengannya, dan bla-bla-bla.”

Oh, well, “bukan pusat alam semesta” adalah mainan baru anak Twitter.

Tentu saja Churchill bukan pusat alam semesta, hingga dia tidak bisa memaksakan cara hidupnya pada siapa pun, dan nyatanya dia memang tidak memaksa siapa pun untuk menirunya.

Tetapi... kita juga bukan pusat alam semesta! Kenapa kita yang jadi ukuran?

PS:

Kalau-kalau ada yang penasaran dan ingin bertanya, “Apakah selain udud puluhan batang setiap hari, kamu juga doyan ngebir?” Jawabannya tidak. Sebenarnya, aku tidak mengonsumsi alkohol. So, kalau kapan-kapan kita ketemuan, mending ajak aku ngeteh daripada ngebir.

“Kenapa tidak doyan ngebir?”

Ya suka-suka, laaah! Wong teman-temanku yang doyan mabuk juga tidak pernah kutanya kenapa mereka doyan mabuk, kok. Ini negara demokrasi—kamu mau ngebir, ngeteh, ngopi, atau nge-nge yang lain, bebas! Asal RKUHP tidak jadi disahkan!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 September 2019.

Betapa Liciknya Evolusi

Banyak laki-laki (dan wanita, tentu saja) yang ngebet kawin saat berusia belasan atau dua puluhan tahun, dan hasrat itu akan menurun saat usianya makin matang (sebut saja usia 40-an). Kenapa? Jawabannya sederhana, tapi menunjukkan betapa liciknya evolusi: Hormon testosteron.

Evolusi, terlepas kau percaya atau tidak, memang sengaja mendorong Homo sapiens (yaitu kita) agar cepat kawin dan bereproduksi. Karenanya, saat masih belia, tubuh kita memproduksi hormon testosteron dalam jumlah luar biasa. Tujuannya satu, agar sangat bernafsu pada lawan jenis!

Dimabuk oleh hormon, kita seperti orang tidak sadar, dan yang ada dalam pikiran kita cuma ngewe... ngewe... ngewe... dan begitu seterusnya. Itulah tujuan evolusi! Karenanya wajar, topik percakapan terbesar di antara para remaja dan anak muda sedunia adalah lawan jenis!

Tujuan evolusi adalah kau cepat kawin dan bereproduksi (beranak pinak). Dalam hal ini, Homo sapiens berhadapan dengan sistem sosial yang mengharuskan pernikahan untuk "mengesahkan aktivitas seks". Maka pecicilan kawin di usia muda pun menjadi tren. Gara-garanya cuma hormon!

Seiring bertambah usia, produksi hormon testosteron di tubuh kita akan menurun dan terus menurun. Seiring dengan itu, hasrat kita terhadap lawan jenis (dan juga seks) ikut menurun. Karena itulah, orang kadang ngemeng, "Orang yang telat nikah biasanya jadi malas nikah." Ember!

Laki-laki dikutuk seumur hidupnya untuk menghadapi masalah terkait penisnya. Saat masih belia (dengan hormon testosteron setara energi nuklir), mereka kebingungan karena penisnya mudah ereksi. Saat usianya makin matang, mereka juga kebingungan karena penisnya makin sulit ereksi.

Apa artinya itu? Bagiku sederhana, karena begitulah cara evolusi menjebak manusia! Evolusi menginginkan kita cepat kawin saat masih belia, ketika nalar dan pikiran kita belum matang, dan karena itulah tubuh kita digerojok hormon seks dalam jumlah luar biasa, agar kita kalah.

Intinya, bagi evolusi, semakin muda kau kawin dan beranak pinak, semakin bagus! Karena dengan cara itulah populasi Homo sapiens akan terus berkembang, lalu evolusi akan menerapkan hukumnya yang brutal; seleksi alam! Cro-Magnon, Neanderthal, adalah saksi peradaban atas fakta ini.

Kenyataan itu jelas "bertabrakan" dengan doktrin yang menyebut manusia sebagai makhluk mulia. Kalau memang mulia, mestinya manusia tidak kalah oleh hormon dan selangkangannya! Wong mulia kok isi pikirannya cuma ngewe, ngewe, dan ngewe, padahal masih belia. Oh, well, mulia!

Kalau mau "fair", mestinya masa belia digunakan untuk belajar, masa muda untuk sibuk bekerja dan mengembangkan diri. Setelah dewasa, seiring pikiran makin matang dan bijaksana, baru mikir kawin dan/atau punya anak. Tapi evolusi memang licik, dan tidak menginginkan begitu!

Dengan kelicikan yang luar biasa, evolusi sengaja merancang tubuh manusia agar kuat tapi tolol di saat muda, serta bijaksana tapi lemah di saat tua. Dan guyuran hormon seks di saat kita kuat dan tolol, tentu saja. Itu jelas tantangan yang sulit ditaklukkan rata-rata manusia.

Karena latar belakang seperti itulah, banyak orang yang percaya (dengan keyakinan seteguh iman) bahwa perkawinan pasti akan membuatnya bahagia. Padahal pikiran semacam itu muncul akibat dorongan (atau upaya pembenaran diri) karena hormon seks yang luar biasa pada tubuhnya.

Keyakinan semacam itu makin sulit dipatahkan, karena rata-rata agama juga mendorong agar manusia cepat menikah. Dalam hal ini, agama sebenarnya juga punya kepentingan, yaitu memperbesar jumlah pengikut (dengan asumsi kalau orang tuanya beragama A, maka anaknya akan ikut A).

Itu pula yang menjadi asal usul berbagai doktrin terkenal terkait perkawinan, seperti "menikah akan melancarkan rezeki", "setiap anak punya rezeki sendiri", dan semacamnya. Intinya ya cuma satu itu tadi; cepatlah kawin dan beranak pinak sebanyak-banyaknya, gak usah banyak mikir!

Jadi, kita menghadapi tantangan luar biasa besar ini; pertama, hormon seks di tubuh kita; kedua, doktrinasi dan keyakinan terkait perkawinan; dan ketiga, sistem sosial yang menganggap setiap orang harus menikah. Di bawah tekanan semacam itu, siapakah yang mampu bertahan?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 Oktober 2019.

Sperma di Kolam Renang

Sperma memang berenang untuk membuahi sel telur, hingga menghasilkan kehamilan. Tapi itu tentu di dalam rahim, dan bukan di kolam renang!

Fakta bahwa sperma berenang tidak serta merta bisa berenang di mana saja, termasuk di kolam renang. Fakta bahwa orang KPAI mengira begitu (wanita bisa hamil jika berenang di kolam yang mungkin terdapat sperma) menunjukkan setidaknya dua hal yang mengerikan.

Pertama, pengetahuan parsial alias sepotong-sepotong kenyataannya memang bisa menyesatkan, lebih khusus jika dinyatakan orang yang dianggap “punya otoritas”—dalam hal ini KPAI. Awal mula kesesatan adalah orang yang tidak tahu, tapi asal mangap seenaknya.

Kedua, fakta bahwa ada orang KPAI bisa sesat-pengetahuan (mengira wanita bisa hamil jika berenang di kolam yang mungkin terdapat sperma) membuat kita meragukan kualitas serta kemampuan nalar lembaga ini. Bagaimana bisa orang seperti itu masuk KPAI?

Pusi

Oh... pusi.

Kamis, 20 Februari 2020

Kesabaran yang Dilatih Kaset Ngodol

Generasi yang paling dimanjakan zaman 
tampaknya memang generasi yang lahir setelah internet tersedia. 
Sebagai bagian generasi '90-an, aku kadang iri pada mereka.


Anak-anak ’90-an kadang mengklaim sebagai generasi terbaik, khususnya jika dibandingkan generasi 2000-an. Saya tidak tahu klaim itu benar atau tidak. Yang saya tahu, generasi ’90-an menghadapi aneka keruwetan hidup yang tidak dihadapi oleh generasi 2000-an.

Salah satu keruwetan hidup yang dialami generasi ’90-an, adalah keruwetan kaset ngodol.

Anak-anak kekinian, yang menikmati musik secara streaming semisal lewat Spotify, mungkin tidak tahu apa itu kaset, dan tidak pernah membayangkan bahwa dulu—setidaknya era ’90-an—aktivitas menikmati musik bisa jadi sesuatu yang sangat merepotkan.

Saat ini, menikmati musik bisa dibilang sangat mudah. Cukup berlangganan musik streaming, dan kita bisa menikmati musik apa pun, kapan pun, di mana pun, secara praktis. Tapi dulu, di era ’90-an, urusan menikmati musik cukup merepotkan. Sarana untuk menikmati musik secara “eksklusif” hanya tersedia dalam bentuk kaset, yang diputar di benda purbakala bernama tape recorder.

Kaset adalah benda mungil seukuran bungkus rokok, berisi gulungan pita yang sangat tipis. Pada gulungan pita terdapat rekaman musik, yang biasanya satu album, dari seorang musisi atau grup musik. Rekaman dilakukan bolak-balik pada pita di kaset, karenanya masing-masing kaset memiliki sisi A dan sisi B. Kaset itulah yang digunakan bocah-bocah generasi ’90-an untuk menikmati musik.

Tapi kaset tidak berdiri sendiri. Untuk dapat memutar kaset dan menikmati musik di dalamnya, kita juga harus punya tape, yaitu sarana untuk memutar kaset. Harga kaset tergolong mahal, harga tape jauh lebih mahal. Punya banyak kaset tapi tidak punya tape, tidak bisa mendengarkan musik. Sebaliknya, punya tape tapi tidak punya kaset, mau nyetel apa?

Bayangkan kerumitan semacam itu dihadapi oleh semua bocah di era ’90-an, saat mereka ingin menikmati lagu-lagu terbaru atau musik dari penyanyi favorit.

Sebagai bocah generasi ’90-an, dan juga penikmat musik, saya harus berjuang—dalam arti harfiah—hanya untuk menikmati musik. Saya harus menabung sampai lama, demi bisa membeli tape, pemutar kaset. Setelah tape terbeli, saya harus kembali menabung sampai lama untuk mulai mengumpulkan kaset. Hanya untuk menikmati musik saja, prosesnya sulit dan tidak sebentar.

Karenanya, di era ’90-an, memiliki tape dan koleksi kaset rasanya sangat menyenangkan. Karena artinya kita bisa mendengarkan musik apa saja dan kapan saja, meski tidak bisa di mana saja. Pasalnya, tape memang tidak bisa dibawa-bawa seenaknya, karena harus mendapat sambungan listrik!

Biasanya, remaja yang punya tape di kamar akan sering berdiam di kamar—bisa seharian tidak keluar-keluar, karena asyik menikmati musik-musik kesayangan. Saya termasuk yang begitu. Kalau tidak ada urusan di luar rumah, saya pun asyik di kamar, seharian penuh membolak-balik kaset di tape untuk menikmati lagu-lagu yang saya suka. Rasanya sangat menyenangkan. Mungkin setara dengan generasi sekarang yang berbaring-baring damai dengan earphone di telinga, menikmati musik streaming.

Bedanya, generasi sekarang tidak mengalami fenomena menjengkelkan, yang disebut kaset ngodol.

Seperti yang disebut tadi, di dalam kaset terdapat pita rekaman berisi lagu-lagu yang kita dengarkan. Pita itu sangat tipis. Kalau kita sering menyetel kaset di tape, dan sering dibolak-balik tanpa henti, selalu ada kemungkinan pita akan kusut. Ketika itu terjadi, pita dalam kaset akan keluar dari putarannya, dan nyangkut di dalam tape. Lalu musik yang kita dengarkan seketika terhenti, dan kita harus menghadapi kenyataan bernama kaset ngodol, yaitu kaset yang pitanya ruwet tak karuan.

Ketika kaset benar-benar ngodol, kita harus mempersiapkan kesabaran setingkat nabi—atau setidaknya, saya berpikir begitu.

Pertama, kita harus sebisa mungkin menahan amarah gara-gara musik yang kita dengarkan terhenti. Ini penting, karena kita harus mengeluarkan kaset dari dalam tape, lalu menarik perlahan-lahan pita yang ngodol, dan mengusahakan agar pita kaset tidak semakin ruwet. Jika kita menariknya sambil marah, pita bisa semakin ruwet tak karuan, atau bahkan sampai terputus.

Kedua, setelah kaset dan pita yang ngodol bisa dikeluarkan dari tape, kita harus menggulung pita perlahan-lahan di dalam kaset, agar kembali seperti semula. Proses ini membutuhkan kesabaran, agar pita yang kita gulung benar-benar lurus, tidak terlipat-lipat, sehingga nantinya bisa kita setel lagi di tape. Karenanya, sambil menggulung pita di kaset, kita juga perlu meluruskan bagian-bagian pita yang tampak terlipat.

Ketiga, jika ada bagian pita yang terputus, kita harus berhati-hati menyambungnya, agar rekaman lagu di dalamnya dapat didengarkan kembali secara utuh seperti semula. Dalam hal ini, saya biasanya menggunakan selotip. Saya sambung bagian pita yang putus, dan merekatkannya dengan hari-hati ke selotip. Sekali lagi, proses melakukan hal itu membutuhkan kesabaran luar biasa. Dalam bayangan saya, itu mirip tim gegana yang sedang menjinakkan bom!

Apakah generasi sekarang menghadapi kerumitan semacam itu? Tentu saja tidak! Mereka tinggal menggunakan gadget, langganan musik streaming, dan lagu-lagu apa pun bisa didengarkan dengan mudah. Tidak perlu beli tape, tidak perlu beli kaset, dan—tentu saja—tidak perlu menghadapi kemungkinan kaset ngodol.

Karenanya, saya kadang iri pada generasi 2000-an. Mereka menghadapi kehidupan yang lebih mudah, jauh lebih mudah dibanding kehidupan yang saya jalani. Karenanya pula, ketika generasi ’90-an mengatakan mereka generasi terbaik, mungkin karena mereka harus menghadapi banyak kerumitan yang tidak dihadapi generasi sekarang. Salah satunya kerumitan kaset ngodol.

Tentu saja klaim atau penilaian itu bisa subjektif. Karena, bagaimana pun, setiap generasi tentu menghadapi tantangannya sendiri, meski dalam bentuk yang berbeda. Generasi ’90-an menghadapi tantangan kaset ngodol, generasi 2000-an bisa jadi menghadapi tantangan gadget rusak atau semacamnya.

Apa pun, tantangan mestinya menumbuhkan perjuangan, kesabaran, dan sikap pantang menyerah... seperti bocah yang berusaha sebaik mungkin mengatasi kaset ngodol, demi bisa mendengarkan lagu-lagu yang disukai.

Kini, saat dewasa, dan setelah jauh meninggalkan era ’90-an, saya menjadikan kaset ngodol sebagai bagian pelajaran untuk mengingatkan diri pada kesabaran. Setiap kali menghadapi hal-hal sulit, saya mengingatkan diri, “Ini lebih mudah daripada kaset ngodol!”

Kenyataannya, masalah-masalah hidup memang tak jauh beda dengan kaset ngodol. Sewaktu-waktu kesulitan muncul, sesuatu yang kita nikmati tiba-tiba terhenti atau mengalami kemacetan, dan kita kebingungan. Dalam hal itu, saya bersyukur karena menjadi generasi ’90-an, yang terlatih sabar dalam menghadapi kaset ngodol.

Belajar, Bekerja, dan Bermain

Habis mandi, nyeruput cokelat hangat, udud, dan terpikir untuk nyambung ocehan kemarin.

Orang-orang yang biasa bekerja 8 jam setiap hari mungkin heran pada orang yang bekerja sampai 10 jam atau bahkan 14 jam setiap hari. Keheranan itu, bisa jadi, karena, “aku yang kerja 8 jam sehari aja udah capek dan stres, apalagi kerja sampai 14 jam setiap hari!”

Ya, kebanyakan orang memang tidak menyukai apalagi menikmati pekerjaan mereka. Akibatnya, bagi mereka, pekerjaan terlihat seperti “musuh” yang harus dijauhi, dan bukan “teman baik” yang harus diakrabi. Mungkin mereka bahkan membenci pekerjaan yang dilakukan setiap hari.

Sebenarnya, semua pekerjaan mungkin memang tidak ada yang menyenangkan—setidaknya kalau dibandingkan dengan aktivitas liburan, rebahan, ngewe, atau bengong di depan teve. Artinya, mencintai pekerjaan sebenarnya bukan karena faktor kerja apa, tapi lebih ke diri kita.

Orang-orang yang mencintai dan menikmati pekerjaan sering kali bukan karena pekerjaan itu memang nikmat—persetan, memangnya pekerjaan apa yang nikmat?—tapi karena orang bersangkutan berusaha mencintai pekerjaannya, dan belajar menikmati pekerjaan yang dilakukan.

Terkait kerja, aku hanya menerapkan prinsip sederhana; bahwa dengan bekerjalah aku bisa mendapat uang, agar bisa melanjutkan kehidupan dengan baik. Karena prinsip itu pula, aku berusaha mencintai pekerjaanku—terlepas apa pun yang kukerjakan—dan belajar menikmatinya.

Orang tidak bisa mencintai pekerjaan semata-mata karena pekerjaan itu passion baginya! Tak peduli se-passion apa pun, pekerjaan tetap pekerjaan, dan bisa menjadi aktivitas penuh tekanan sekaligus membosankan! Orang hanya bisa mencintai pekerjaan, jika belajar mencintainya!

So, itulah yang kulakukan—aku berusaha mencintai yang kukerjakan, dan belajar menikmatinya. Belakangan, bekerja menjadi aktivitas paling menyenangkan bagiku—sebegitu menyenangkan, hingga aku ingin terus melakukannya. Ini tentu butuh proses, waktu, kesadaran, dan pembelajaran.

Apakah aku pernah stres karena pekerjaan? Tentu saja, ya, seperti umumnya orang bekerja. Tetapi, jika kupelajari, stres karena aktivitas kerja jauh lebih minim dibanding di luar kerja. Karena bekerja, bagiku, sangat menyenangkan! Aku justru mudah stres saat jauh dari kerja.

Bagiku, menjauh dari pekerjaan artinya masuk ke lingkungan masyarakat atau “orang-orang umum”. Dan masuk ke lingkungan masyarakat atau “orang-orang umum” artinya memungkinkanku rentan terkena paparan masalah dari luar, dan itu membuatku mudah stres.

Sebagian besar stres yang kualami bukan berasal dari pekerjaan, tapi justru dari luar pekerjaan. Bisa dibilang, selama aku terus berkutat dengan pekerjaan, stresku akan sangat minim. Karena itu, pekerjaan menjadi kepompong sempurna untukku berlindung dari stresnya dunia.

Sering aku membayangkan terasing seorang diri di suatu kota mati, atau di pulau kosong tak berpenghuni, dan hanya hidup sendirian. Dan aku yakin tidak akan stres, selama memiliki akses terhadap peranti yang kubutuhkan untuk terus bekerja. Dan teh hangat, dan udud—tentu saja!

So, aku mencintai pekerjaan bukan karena pekerjaanku menyenangkan atau karena itu passion-ku, tapi karena aku berusaha mencintainya, dan belajar menikmatinya. Omong kosong kalau ada pekerjaan yang tidak akan membuat stres atau bosan. Itu pasti bukan pekerjaan!

Sebagai bocah, hanya satu hal yang kucintai di dunia ini: Bermain! Belajar, berpikir, dan bekerja, adalah “permainan” menyenangkan bagiku—sebegitu menyenangkan, hingga aku ingin terus melakukannya, dan hanya berhenti setelah lelah. Itulah kenapa aku “bermain” 14 jam setiap hari.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 September 2019.

Catatan Menjelang Tidur

Tiap habis mandi, merasakan tubuh segar, lalu nyeruput cokelat hangat dan udud, aku merasa telah menyelesaikan satu hari dengan baik.

"Kenapa kamu mandinya selalu tengah malam?"

Rata-rata, aku bekerja 14 jam setiap hari, dan jam kerjaku biasanya baru selesai tengah malam. Jadi baru bisa mandi pas tengah malam. Seperti mungkin kebanyakan orang, aku baru mandi setelah kerja selesai.

"Kenapa sampai kerja 14 jam setiap hari?"

Sederhana saja, aku menyukai dan menikmatinya! Kerja telah membantuku menjaga kewarasan, hingga aku bisa menjalani hidup dengan normal. Bekerja memungkinkan pikiranku terus sibuk, dan itu menjaga kesehatan mentalku.

Awkarin pernah menyatakan, "Normal people probably would never understand how it feels like to be afraid of your own head and thoughts."

Kira-kira seperti itulah yang kualami, hingga aku sengaja menyibukkan pikiran terus menerus, dan menenggelamkan diri pada pekerjaan.

Kebanyakan orang mungkin senang saat rebahan atau malas-malasan, dengan pikiran kosong tanpa memikirkan apa pun. Aku justru senang saat tenggelam dalam pekerjaan, dan menjauhi aktivitas semacam rebahan atau malas-malasan. Aku harus selalu memikirkan sesuatu!

Jika terpaksa harus duduk diam, aku harus melakukan sesuatu—setidaknya membaca buku. Kalau tidak ada buku, dan tidak ada apa pun yang bisa kubaca, aku harus mencari dan mendapatkan sesuatu untuk kupikirkan. Membiarkan pikiran tak terkendali rasanya mengerikan.

Jadi, bekerja seperti pelarian sempurna bagiku. Bukan hanya menjadikan hidup lebih produktif, tapi juga memungkinkanku untuk memfokuskan pikiran pada pekerjaan. Aku merasa hampa jika tidak melakukan sesuatu, dan menyesali setiap waktu yang kuhabiskan tanpa melakukan apa pun.

Menjelang tengah malam, seperti biasa, saat kerjaku usai, lalu mandi dan nyeruput cokelat hangat dan udud, aku merasa begitu puas... satu hari berlalu, dan telah kuisi dengan baik, sebaik yang aku bisa, hingga bisa tidur dengan tenang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 18 September 2019.

Noffret’s Note: Joker

Banyak orang tertarik pada Joker, bahkan mempersonifikasi diri sebagai Joker, khususnya setelah menonton film terbarunya. Dalam hal ini, sejujurnya, aku sama sekali tidak tertarik pada Joker atau tokoh lain seperti dirinya. Joker bukan jenis kepribadian yang menarik minatku.

Apa tujuan hidup Joker? Tidak ada! Joker tidak hidup untuk tujuan jelas. Sebaliknya, dia hidup untuk tanpa-tujuan! Joker tidak mengenal keteraturan atau prinsip yang... well, akademis. Karena misi hidupnya adalah menciptakan kekacauan, persis seperti yang ada dalam pikirannya.

Banyak orang menjadi superhero—atau supervillain—karena pengaruh masa lalu atau masa kecilnya. Tapi mereka semua memiliki tujuan jelas, terlepas konstruktif atau destruktif. Beda dengan Joker. Dia tidak punya tujuan, selain mengacau! Dan karena itulah, aku tidak tertarik padanya!

Batman menjadi superhero karena pengaruh masa kecil. Lalu dia membangun misi yang menjadi tujuan hidupnya—menumpas kejahatan. Dan dia melakukannya dengan prinsip keteraturan, secara metodis, dengan satu tujuan jelas! Aku jelas lebih mengagumi Batman, daripada Joker yang kacau!

Bahkan untuk ukuran sesama supervillain, aku lebih mengagumi Ra's al Ghul, meski dia juga menjadi musuh Batman. Ra's al Ghul memang punya tujuan destruktif, tapi dia memiliki misi dan perspektf yang jelas, dan dia melakukannya secara metodis, serta dengan prinsip keteraturan.

Orang-orang semacam Joker—yang menjalani hidup dengan kacau dan asal tabrak, tanpa keteraturan pikiran, tanpa perspektif yang jelas, serta tanpa misi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan akademis—tidak pernah menarik minatku, tak peduli dia dipuja-puja seperti nabi.

Sebenarnya, aku curiga bahwa kita telah meromantisasi atau bahkan mengglorifikasi sosok Joker. In fact, Joker menyedot perhatian banyak orang, setelah Heath Ledger memerankannya secara brilian (ditambah lagi dia mati setelah memerankan tokoh itu), hingga Joker jadi sangat ikonik.

Jangan-jangan, yang kita kagumi sebenarnya bukan Joker, melainkan kehebatan akting Heath Ledger. Atau jangan-jangan... ada banyak orang yang diam-diam memang seperti Joker—hidup dengan kacau dan tanpa tujuan—lalu merasa menemukan "teman" atau personifikasi yang dianggap mewakili.

Banyaknya orang yang mengagumi—atau bahkan mengglorifikasi—Joker adalah fakta yang memprihatinkan, karena secara tak langsung menjelaskan seperti apa isi pikiran dan kehidupan banyak orang di sekeliling kita. Kekacauan... tanpa tujuan... jauh dari prinsip-prinsip keteraturan.

Oh, ya, aku juga mengagumi beberapa supervillain, seperti Magneto atau En Sabah Nur (Apocalypse). Dulu, aku ingin menjadi Magneto, tapi sekarang aku hanya ingin menjadi En Sabah Nur. Karena di dunia ini tidak ada yang mengalahkan Awkarin selain En Sabah Nur.

(Ujungnya kacau).

Ingin jadi En Sabah Nur, ya Allah.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Oktober 2019.

Bosok

Oh... bosok.

Senin, 10 Februari 2020

Wajah Asli Manusia

Kita semua mengenakan topeng, karena tak sempurna. 
Sebagian orang sadar mengenakan topeng, 
sebagian lain menganggap topeng itu wajahnya.


Meski mungkin kita menyangkal, kenyataannya manusia punya sisi gelap, meski sisi itu sering kali tak tampak. Karena kita menyembunyikan, atau karena belum ada kesempatan untuk menunjukkannya. 

Kita bisa mengenali sisi gelap manusia—khususnya orang-orang terdekat—saat kita berada di posisi yang rapuh, misal dirundung masalah, menghadapi kebangkrutan, jatuh miskin, dan semacamnya. Dalam posisi semacam itu, biasanya akan tampak mana saudara dan teman sejati, serta mana yang pura-pura menjadi teman atau saudara.

Atau sebaliknya, kita bisa melihat wajah asli manusia, ketika mereka memiliki kesempatan untuk menunjukkannya. Misal menduduki jabatan tertentu, atau memegang kekuasaan, atau tiba-tiba mendapat kekayaan. Saat hal itu terjadi, kita biasanya akan melihat mana orang yang benar-benar baik, dan mana yang hanya pura-pura menjadi orang baik.

Orang sering mengatakan bahwa kekayaan atau kekuasaan bisa mengubah manusia. Sebenarnya tidak. Kekayaan atau kekuasaan justru memperkuat karakter asli manusia—orang per orang—hingga karakter asli itu akan tampak jelas.

Ketika orang baik diberi kekayaan atau kekuasaan, karakter baiknya akan semakin kuat, menonjol, dan kian tampak—dia akan menunjukkannya lewat kekayaan atau kekuasaan yang dimiliki. Karakter baik tidak bisa dirusak oleh kekayaan atau kekuasaan. Jika seseorang memang baik, dia akan tetap baik—dalam kemiskinan atau dalam kekayaan, saat lemah atau ketika memiliki daya.

Sebaliknya, kekayaan atau kekuasaan juga akan memperkuat karakter buruk manusia. Orang tidak bisa serta merta menjadi baik hanya karena mendapat kekayaan atau kekuasaan, kalau dasarnya berkarakter buruk.

Kita mungkin sering mendapati orang yang terkesan baik ketika miskin, tapi kemudian berubah jahat ketika kaya. Dalam kasus lain, ada orang yang semula tampak humanis ketika menjadi rakyat biasa, tapi berubah menjadi iblis ketika mendapat kekuasaan.

Apakah memang kekayaan dan kekuasaan itu yang mengubah mereka? Sebenarnya tidak. Kekayaan dan kekuasaan tidak bisa mengubah sifat asli manusia—ia hanya memperkuat karakter aslinya. Yang baik akan semakin tampak karakter baiknya, begitu pula yang buruk atau jahat.

Ada banyak orang yang tampak baik, semata-mata karena miskin, lemah, dan tak berdaya. Sebegitu lemah dan tak berdaya, sampai mereka tidak berani menunjukkan karakter aslinya yang sebenarnya buruk dan jahat. Karenanya, begitu mendapat secuil kekayaan atau seupil kekuasaan, karakter asli mereka pun keluar. Banyak yang begitu.

Karenanya, jika ingin tahu seperti apa sifat atau karakter asli seseorang, jangan lihat ketika dia tidak punya kesempatan atau keberanian untuk menunjukkan wujud aslinya. Lihatlah ketika dia punya daya dan kesempatan untuk menunjukkannya. Saat manusia diberi kekuasaan sekaligus kesempatan untuk melakukan apa pun yang ingin ia lakukan, kita akan tahu seperti apa sisi gelap orang per orang.

Sisi gelap dan wajah asli manusia pernah disingkap dengan cara yang sangat artistik sekaligus mengerikan, oleh Marina Abramovic, seorang seniman pertunjukan asal Yugoslavia.

Pada 1974, Marina Abramovic punya ide melakukan eksperimen seni, dengan menjadikan dirinya sebagai objek. Belakangan, eksperimen itu berubah menjadi peristiwa berbahaya, kontroversial, sekaligus menjadi penemuan psikologi paling mengerikan mengenai wajah asli manusia.

Marina menyebut eksperimen itu sebagai Ryhthm 0. Pertunjukannya sederhana. Dia berdiri di hadapan para penonton, diam tak bergerak. Di dekatnya berdiri, ada sebuah meja yang menyediakan 72 barang, termasuk parfum, bunga mawar, gunting, paku, batang logam, dan pistol yang diisi dengan satu peluru.

Dalam pertunjukan itu, Marina akan berdiri diam selama 6 jam, dan membebaskan penonton melakukan apa saja terhadap dirinya, dengan menggunakan benda-benda yang tersedia di atas meja. Dia tidak akan bergerak, apalagi memprotes, terlepas apa pun yang dilakukan penonton terhadap dirinya. Waktu itu, ada banyak penonton yang menyaksikan pertunjukannya, pria maupun wanita.

Semula, para penonton hanya diam memandangnya. Marina berdiri mematung, tak bergerak sedikit pun. Lalu ada penonton yang mencoba mendekat, dan menyentuh pipi Marina dengan lembut. Marina masih diam, tak bergerak. Penonton lain mendekat, mengambil bunga mawar di meja, lalu menyelipkannya di baju Marina. Sekali lagi, Marina hanya diam, tak bergerak.

Penonton lain lalu tergelitik melakukan hal yang lebih berani, dengan mencium Marina, atau melakukan hal lain semacamnya. Marina tetap diam.

Detik-detik berlalu. Perlahan namun pasti, sisi gelap manusia mulai muncul, dan menampakkan wajah aslinya.

Seorang penonton mulai meraba dan mempermainkan tubuh Marina. Ketika Marina masih diam, yang lain ikut mengeksploitasi tubuh wanita itu. Ada yang menyentuh bagian sensitif, ada yang menggunting pakaiannya, dan lain-lain. Saat pertunjukan itu memasuki jam keempat, Marina sudah hampir telanjang, karena pakaiannya telah dicabik-cabik.

Sisi gelap orang-orang di sana kian pekat. Setelah tubuh Marina bebas terbuka karena tak ada lagi pakaian yang bisa dicabik, mereka mulai melakukan pelecehan seksual. [Belakangan, Marina menyatakan bahwa saat itu tidak sampai terjadi perkosaan, karena ada banyak penonton, dan sebagian besar penonton—khususnya para pelaku pelecehan terhadap dirinya—datang ke sana bersama pasangannya.]

Meski aksi mengerikan itu tidak sampai pada perkosaan, bukan berarti “baik-baik saja”. Sebagian penonton tampaknya tidak bisa lagi mengendalikan sisi gelapnya, dan mereka mulai menggunakan pisau untuk menggores kulit Marina. Ada yang membuat goresan namanya pada kulit wanita itu, bahkan ada yang menggoreskan pisau di dekat leher Marina, lalu mengisap darahnya.

Marina masih diam, meski dia tentu merasakan sakit, pedih, sekaligus terluka. Tapi dia sama sekali tak bergerak. Memasuki jam kelima, mata Marina berkaca-kaca, dengan sorot yang jelas menampakkan penderitaan. Tetapi, sekali lagi, dia sama sekali tak bergerak.

Dalam kondisi nyaris telanjang, dengan tubuh yang dieksploitasi dan penuh luka goresan berdarah, Marina terus berdiri diam. Sebagian penonton memotret hal tersebut, seolah Marina hanya seonggok patung atau benda mati. Mereka seperti lupa bahwa sosok yang berdiri diam di sana adalah manusia, seorang wanita, dengan napas dan nyawa, dengan hati dan pikiran, seperti diri mereka.

Memasuki jam keenam, salah satu penonton di sana—seorang wanita—mendekati Marina, dan memeluknya. [Belakangan, Marina mengakui bahwa pelukan itu “meredakan penderitaannya”.] Setelah satu wanita memeluk Marina, beberapa orang lain mulai tergerak untuk ikut peduli. Ada yang berusaha mengobati luka-luka di tubuh Marina, ada pula yang berusaha menutupi tubuh Marina yang terbuka.

Ironisnya, meski begitu, ada sebagian penonton yang sama sekali tidak peduli, bahkan berusaha menghalang-halangi. Sementara beberapa orang berusaha menolong, beberapa yang lain masih berusaha untuk melakukan kejahatan lain pada Marina. Seseorang bahkan meraih pistol di meja, dan nyaris menembakkannya ke kepala Marina.

Tampaknya, orang-orang yang terus menyakiti Marina seperti berusaha memanfaatkan kesempatan yang ada untuk berbuat sesukanya. Mungkin, pikir mereka, “Kapan lagi bisa menyakiti dan melukai orang lain tanpa konsekuensi?”

Akhirnya, ketika jam pertunjukan telah selesai—enam jam tepat—kejutan terjadi secara tak terduga. Waktu itu, Marina mulai bergerak dari diam mematungnya, dan orang-orang tampak shock. Mereka seperti lupa bahwa Marina masih manusia, dan bisa bergerak seperti mereka, seperti umumnya manusia lain.

Ketika Marina mulai bergerak, sebagian orang—yang tadi melakukan kejahatan kepadanya—tampak ketakutan, beberapa di antaranya sampai lari meninggalkan tempat pertunjukan.

Pertunjukan itu sukses, bahkan tercatat dalam sejarah, menjadi kajian penting dalam psikologi. Meski, untuk itu, Marina mengalami shock dan trauma berat. Dia bahkan sempat kesulitan mengembalikan dirinya sebagai manusia seutuh semula, setelah menjadi objek diam selama 6 jam. “Itu benar-benar horor,” ujarnya, dalam sebuah wawancara.

Eksperimen yang dilakukan Marina dengan jelas mengungkapkan sisi gelap manusia. Bahwa ketika manusia diberi kuasa atau kebebasan untuk melakukan apa pun yang diinginkan, mereka akan menunjukkan watak aslinya, menyingkapkan wajah aslinya.

Orang-orang tidak melakukan kejahatan dan melukai sesamanya, sering kali bukan karena menyadari itu buruk, tapi karena mengingat konsekuensinya. Bahkan meski ada konsekuensi pun, orang kadang masih nekad dan gelap mata. Mereka membegal orang lain, karena kebutuhan mendesak atau karena kerakusan, sebagaimana mereka yang menindas orang lain karena merasa memiliki kekuasaan.

Bayangkan apa yang sekiranya akan terjadi, kalau suatu hari pemerintah mengumumkan, “Selama enam hari ke depan, tidak ada hukum yang berlaku di negara ini. Kalian bebas melakukan apa pun, kepada siapa pun, tanpa ada konsekuensi sama sekali.” Kira-kira, apa yang akan terjadi selama enam hari itu?

Hanya ada satu kata; kekacauan.

Kekacauan yang akan benar-benar menunjukkan sisi gelap manusia, dan menyingkap wajah asli kita. Bayangkan saja apa yang terlintas dalam pikiran, andai “enam hari tanpa hukum” itu benar-benar terjadi. Dan apa pun yang ada dalam pikiran kita, itulah sisi gelap yang mungkin selama ini kita sembunyikan, kita sangkal, dan tak kita akui.

Komputer Ngadat dan Animisme

Teman saya bercerita tentang komputernya yang sering ngadat. Ketika sedang digunakan, entah untuk mengetik, menonton film, atau sedang membuka internet, tiba-tiba komputer mati sendiri. Setelah mati tiba-tiba, biasanya komputer sulit dinyalakan lagi. Meski tombol power sudah ditekan berkali-kali, komputer tetap tidak mau menyala.

“Biasanya, aku harus gebrak-gebrak dulu CPU-nya,” ujar teman saya. “Setelah itu, komputer baru nyala lagi.”

Kadang-kadang, sudah digebrak-gebrak pun, komputer belum mau menyala. Teman saya harus maki-maki atau misuh-misuh dulu, baru komputer mau menyala lagi.

Lalu dia bertanya, “Bagaimana menurutmu?”

Sambil tersenyum, saya menjawab, “Menurutku, itulah asal usul animisme.”

Dari Mana Datangnya Malas

Dari mana datangnya malas? Bukan dari lahir. Pertama-tama dari lingkungan (keluarga, tetangga, teman-teman, dll). Dari situ, terbentuklah kebiasaan. Setelah menjadi kebiasaan, malas pun menjadi mental, dan lahirlah orang malas.

Begitu pula hal-hal lain, baik atau pun buruk.

Contoh mudah, ada orang-orang yang biasa buang sampah sembarangan. Di mana pun berada, dia tetap buang sampah sembarangan, karena sudah KEBIASAAN. Dan kebiasaan adalah hasil "pembelajaran" bertahun-tahun, dari pengalaman dan lingkungan—bukan warisan gen sejak dilahirkan.

Di Mekkah, sebagian orang Indonesia (yang berhaji ke sana) menimbulkan reputasi buruk, khususnya dalam hal buang sampah sembarangan dan corat-coret (vandalisme). Itu contoh nyata betapa mental memang sulit diubah, setelah terbentuk. Bahkan dibawa ke Mekkah pun tetap sama.

Sebaliknya, warga Singapura terkenal "istimewa" di negara mana pun, karena mereka begitu tertib dan sangat beradab. Bahkan untuk meludah saja, mereka mencari toilet! Kebiasaan semacam itu sama dengan kebiasaan pemalas atau suka buang sampah sembarangan. Sama-sama hasil mental.

Kita tidak lahir dengan bakat beradab atau biadab, kitalah yang membentuknya—melalui lingkungan, pengalaman, kebiasaan, hingga terbentuk menjadi mental. Saat orang bermental baik dimasukkan ke tempat rusak, dia tetap baik (contoh mudah; tertib/taat aturan). Begitu pun sebaliknya.

Dan mental dalam konteks ini merentang dari semua sifat serta kebiasaan manusia. Kebiasaan suka ngurusin selangkangan orang lain (misal suka bertanya "kapan kawin?"), itu juga refleksi mental orang bersangkutan. Kebiasaanmu akan mengatakan dengan jelas siapa sebenarnya dirimu.

Hati-hati dengan lingkunganmu, karena ia akan membentuk kebiasaanmu. Hati-hati dengan kebiasaanmu, karena ia akan membentuk karaktermu. Hati-hati dengan karaktermu, karena ia akan membentuk mentalmu. Akhirnya, hati-hati dengan mentalmu, karena ia yang akan membentuk takdirmu.

Well, sekarang kita paham kenapa Si A bisa menjadi Si A, dan dia BENAR-BENAR TEPAT menjadi Si A, sementara Si B menjadi Si B, dan dia BENAR-BENAR TEPAT menjadi Si B. Karena mereka sendiri yang membentuk diri mereka begitu! Dan lihatlah dirimu... kau pun BISA TEPAT menjadi dirimu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Agustus 2018.

Ilusi Kebahagiaan

Tiba-tiba ingat, The Conversation pernah menerbitkan artikel yang menyatakan bahwa "manusia tidak dirancang untuk bahagia". Karena itu, pencarian atau pengejaran kebahagiaan adalah sebentuk ilusi yang tak akan pernah tercapai. Entah banyak yang setuju atau tidak dengan tesis itu.

Apakah aku percaya kebahagiaan? Sepertinya akan terdengar "terlalu revolusioner" kalau aku mengatakan "tidak". Dan, ya, aku percaya kebahagiaan—tentu saja. Meski konsep kebahagiaan yang kupercaya adalah "kebahagiaan dari moment ke moment", yang sifatnya relatif dan temporer.

Kebahagiaan dari moment ke moment yang kumaksud adalah kebahagiaan dari satu hal ke hal lain, dan begitu terus menerus, dan—kupikir—begitulah cara manusia menjalani kehidupan. Dengan hati yang berharap, dengan jiwa yang terus semangat... dari moment ke moment. Tak ada yang abadi.

Konsep "kebahagiaan abadi" mungkin terdengar menjanjikan, tapi kita tidak tinggal di surga, dan tak ada yang abadi di muka bumi. Kapan pun waktunya, cepat atau lambat, kebahagiaan—bahkan yang paling fantastis sekali pun—pasti akan berakhir. Karena begitulah dunia fana.

Bahkan, kalau dipikir-pikir, konsep "kebahagiaan abadi" itu sebenarnya tak masuk akal, karena salah satu sifat terbesar manusia adalah bosan. Dulu, misalnya, aku pernah bahagia luar biasa tiap makan nasi kebuli. Sekarang? Bosan, karena menyantapnya tiap malam, bertahun-tahun.

Atau kebanyakan dari kita, yang semula tidak punya motor, pasti bahagia sekali saat punya motor. Setelah itu? Ya biasa saja! Lalu membayangkan punya mobil. "Pasti bahagia sekali kalau punya mobil." Setelah punya mobil? Ya bahagia, sih, cuma ya akhirnya biasa-biasa saja lagi.

Tak ada yang abadi di muka bumi, begitu pun kebahagiaan. Karena itulah aku lebih percaya pada kebahagiaan dari moment ke moment, kebahagiaan dari waktu ke waktu, dari satu pencapaian ke pencapaian lain. Karena konsep semacam itu membuat kita terus tumbuh dan makin hidup.

Karenanya, slogan perkawinan terkenal, "dan mereka pun hidup bahagia selama-lamanya", sebenarnya slogan ngapusi yang jelas taik kucing! Kalau memang manusia bisa hidup bahagia selama-lamanya di dunia fana, lalu buat apa agama menjanjikan surga? Itu benar-benar slogan yang kacau!

PS:

Bagaimana pun, sebagai bocah yang sederhana, kebahagiaanku pun sebenarnya sederhana. Cukup sehat jiwa raga, tidak punya masalah berat, dan uang yang banyak! Sudah, itu saja sudah cukup!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Agustus 2019.

Laptop

Ooh... laptop.

Sabtu, 01 Februari 2020

Ngadem di Pinggir Sawah

Petani yang mencangkul sawah dengan baik, 
tukang sapu yang menyapu dengan baik, mereka eksis. 
Tapi mungkin tak terkenal.


Saya punya semacam ikatan batin dengan sawah, karena—di lubuk hati terdalam—saya ingin menjadi petani. Tapi takdir kadang menuntun kita untuk menjalani hidup yang berbeda dengan impian. Bahkan sejak awal, saya menyadari bahwa impian menjadi petani sangat sulit tercapai, karena saya tidak punya tanah atau sawah—itu butuh modal besar. Sebagai gantinya, saya menjadi penulis.

Menjadi penulis, bagi saya, terasa lebih mudah. Karena modal yang dibutuhkan hanyalah kertas dan pena, dan mesin tik—atau komputer, di zaman sekarang. Dulu, dibanding memiliki sawah, memiliki kertas dan alat tulis jauh lebih mudah dan lebih terjangkau bagi saya. Karenanya, saya pun akhirnya meletakkan hati atau passion pada aktivitas menulis. Sampai sekarang.

Meski begitu, saya masih kerap membayangkan diri menjadi petani. Dan tetap senang memandangi sawah.

Di daerah perbatasan antara Pekalongan dan Batang—yang merupakan jalan tembus—ada kawasan persawahan yang cukup luas. Sawah-sawah itu bersisian tepat dengan jalan raya, dengan posisi lebih ke bawah. Meski saya menyebutnya “jalan raya”, jalanan di situ relatif sepi, karena memang bukan jalan utama.

Kalau lewat daerah itu, saya sering berhenti, lalu duduk di pinggir jalan, menatap persawahan yang indah. Di tempat itu juga masih banyak pohon besar, hingga bisa membuat saya ngadem (menikmati suasana adem).

Duduk sendirian sambil menatap hamparan sawah, membuat saya tenang. Rasanya begitu damai. Pohon yang rindang memberikan suasana adem, angin silir-silir mengembuskan keteduhan, dan saya merasa betah berlama-lama di sana. Kalau saja bisa, saya ingin menggelar tikar di sana, lengkap dengan bantal dan guling, agar bisa tidur-tiduran. Intinya, kalau sudah ngadem di sana, saya merasa tak ingin pulang.

Sering kali, saat saya duduk-duduk di sana, di sawah tidak ada siapa-siapa, selain hamparan padi yang menghijau. Namun, di saat panen, saya mendapati orang-orang tampak sibuk bekerja—para petani yang memanen padi, laki-laki maupun perempuan, dengan caping mereka yang khas—dan saya senang menyaksikan mereka.

Kadang-kadang pula, saat duduk sendirian di sana, ada teman yang kebetulan lewat, dan melihat saya. Lalu mereka berhenti, dan menghampiri. Biasanya mereka bertanya, apa yang sedang saya lakukan di sana. Biasanya pula saya menjawab sedang ngadem. Kalau kebetulan sedang selo, mereka pun menemani saya ngadem di sana, lalu kami bercakap-cakap sambil udud.

Sendirian atau bersama teman, ngadem di pinggir sawah benar-benar menenangkan. Karena suasananya jauh berbeda dengan suasana pusat kota yang panas dan bising, yang setiap hari saya hadapi. Saat ngadem di sana, rasanya seperti menikmati oase di tengah padang gersang.

Salah satu teman yang pernah mendapati saya duduk di sana adalah Tyo. Dia tinggal di Batang, bertetangga dengan Goenawan Mohamad—iya, Goenawan Mohamad yang itu. Kalau mau ke Pekalongan, Tyo suka lewat jalan tembus yang tadi saya ceritakan, bukan lewat jalan utama. Begitu pula saat kembali ke Batang. Suatu siang, saat lewat di sana, dia mendapati saya sedang duduk sendirian di pinggir sawah.

Karena penasaran, dia pun berhenti, dan menghampiri. Ketika saya menengok ke arahnya, Tyo bertanya, “Lagi ngapain?”

“Lagi ngadem,” jawab saya.

Lalu dia duduk di samping saya, dan kami bercakap-cakap. Karena memang selo, kami pun mengobrol di sana sampai lama, menikmati percakapan yang menyenangkan, dengan angin yang silir-silir. Saat ada penjual es lewat, kami membeli es untuk membasahi tenggorokan, lalu melanjutkan obrolan sambil udud.

“Aku sering lewat sini,” ujar Tyo, “tapi tidak pernah kepikiran untuk duduk-duduk di sini. Ternyata kok nikmat sekali, ya.”

“Sepertinya kamu telah mendapat hidayah,” sahut saya sambil tersenyum.

Tyo lalu bertanya, “Kamu sering duduk di sini—sendirian?”

“Ya.”

“Mencari ide untuk menulis?”

“Tidak. Hanya ingin ngadem.”

Dia tampak ragu-ragu. “Uhm... apakah pertemuan ini akan kamu tulis, di blog?”

Saya tersenyum. “Kalau itu yang kamu inginkan.”

Tyo tampak senang. Sambil nyengir, dia lalu berujar, “Karena kamu akan menulisnya, sepertinya aku harus mengatakan hal-hal keren.”

Saya cekikikan.

Setelah berpikir sejenak, Tyo mengatakan sesuatu yang tidak saya duga, “Uhm... kenapa kamu tidak ingin terkenal?”

Saya mengisap rokok sesaat, lalu menjawab, “Ada banyak orang yang ingin terkenal—bahkan mungkin hampir semua orang ingin terkenal—hingga melakukan berbagai upaya agar dikenal. Aku tidak perlu menambah persaingan. Biarlah mereka ingin terkenal, aku memilih tidak terkenal saja. Lagi pula, aku sadar tidak memiliki apa pun yang layak membuatku dikenal.”

“Kamu pasti sedang merendah,” sahut Tyo. “Jawabanmu juga sebenarnya belum menjawab pertanyaanku. Kamu hanya menyatakan keinginanmu—untuk tidak dikenal—tapi kamu belum menjelaskan apa yang melatarbelakangi keinginanmu.”

“Ada beberapa hal yang melatarbelakangi, tentu saja, dan kenyamanan salah satunya.” Setelah membuang puntung rokok, saya melanjutkan, “Aku merasa nyaman seperti sekarang—menjadi bukan siapa-siapa—hingga bisa ngadem di pinggir sawah dengan tenang, tanpa dikenali orang-orang yang memang tidak kenal. Itu privilese yang tidak dimiliki orang-orang terkenal, yang sosoknya akan dikenali di mana pun.”

“Tapi, katanya, orang terkenal justru lebih mungkin mendapat privilese yang tidak dimiliki orang biasa...”

“Tentu saja hak setiap orang untuk berpikir begitu. Menurutku, sesuatu yang disebut privilese itu bisa subjektif. Menjadi pusat perhatian di mana-mana, misalnya, bisa disebut privilese bagi yang memang suka menjadi pusat perhatian. Tapi bagi yang tidak suka, justru bisa menjadi tekanan batin. Kalau kamu terkenal, misalnya, ke mana pun kamu pergi selalu ada kemungkinan orang mengenalimu, lalu meminta foto bersama. Kalau kamu memang suka, dan nyaman melakukannya, tentu itu menyenangkan. Tapi kalau kamu tidak nyaman melakukannya, bisa jadi kamu malah tersiksa.”

Tyo mengangguk-angguk.

Saya melanjutkan, “Menjadi orang terkenal—lebih khusus menjadi orang yang dikenal—artinya menjadi pusat perhatian. Karena menjadi pusat perhatian, mau tak mau kita tidak bisa seenaknya. Misal, dalam penampilan. Kalau kita terkenal, selalu ada kemungkinan orang akan mengenali kita, di mana pun. Artinya, kita harus selalu siap dikenali.

“Karena kesadaran itu, kita pun akan berusaha berpenampilan sebaik mungkin, atau bahkan semewah mungkin. Karena kita tentu tidak ingin tampak lusuh atau menyedihkan di mata orang-orang yang mengenali kita. Kapan pun, di mana pun, selalu ada kemungkinan orang yang akan mengenali kita, meminta foto bersama, lalu mereka akan mengunggahnya ke media sosial. Dengan kenyataan semacam itu, kita pasti akan sangat memperhatikan penampilan. Karena kalau kamu orang terkenal, orang-orang akan memperhatikanmu, bahkan kadang sampai ke hal-hal terkecil.

“Sejujurnya, aku tidak mampu menjalani kehidupan semacam itu, dan karena itulah aku memilih untuk tidak terkenal, atau tidak dikenal. Aku lebih senang berpenampilan sederhana, dan lebih nyaman menjalani kehidupan seperti orang biasa. Karena tidak dikenal, aku bisa menjalani hidup sesuai yang kuinginkan, tanpa mengkhawatirkan penampilan, tanpa mengkhawatirkan komentar orang-orang, tanpa mengkhawatirkan ada media yang tiba-tiba memberitakan tentangku.

“Seperti sekarang, misalnya. Aku bisa ngadem di sini, mengobrol denganmu, dan orang-orang yang lewat tidak mengenali kita. Bayangkan kalau aku atau kamu orang terkenal. Selalu ada kemungkinan orang mengenali kita, lalu minta foto bersama, lalu mengunggah fotonya ke media sosial. Lalu media-media di internet ramai menulis berita yang isinya karangan bebas dan clickbait. Bayangkan saja judul seperti, ‘Terungkap, Bocah Ini Ternyata Suka Duduk di Pinggir Sawah, Alasannya Mencengangkan!’ Opo ora pecah, ndasmu? Wong kita cuma duduk-duduk saja, pakai alasan mencengangkan.”

Tyo cekikikan.

Saya menyulut rokok baru, lalu melanjutkan, “Umumnya, seseorang dikenal karena memiliki sesuatu yang layak dibanggakan, hingga membuatnya dikenal. Karenanya, dia pun pede dikenali di mana-mana. Sementara aku, seperti yang kusebut tadi, tidak punya apa pun yang membanggakan, yang layak membuatku dikenal. Karenanya, aku justru akan malu kalau sampai dikenali banyak orang.”

Tyo nyengir. “Entah kamu sedang merendah, atau aku yang salah paham...”

“Tentu saja kamu tidak salah paham.” Saya mengisap rokok sesaat, lalu berkata, “Kamu mengenalku, menjadi temanku bertahun-tahun. Kamu tahu segalanya tentangku. Sekarang pikirkan... apa hal membanggakan dan istimewa dariku, yang layak membuatku dikenal banyak orang?”

Tyo menjawab ragu-ragu, “Kamu menulis, dan banyak orang membaca tulisanmu...”

Saya tersenyum. “Dan berapa banyak orang yang seperti itu? Sangat banyak! Tak terhitung! Kenapa aku harus merasa istimewa hanya karena itu, padahal banyak orang lain yang juga melakukannya?”

Sekali lagi Tyo nyengir. “Kenapa jawabanmu terdengar masuk akal?”

Saya ikut nyengir. “Karena aku tidak mengada-ada. Kamu tidak beda denganku; sama-sama orang yang punya kesibukan pribadi. Aku sibuk dengan pekerjaanku, dan kamu sibuk dengan pekerjaanmu. Kenapa aku harus merasa lebih istimewa darimu? Kebetulan saja aku bekerja sebagai penulis, meski sebenarnya ingin menjadi petani. Bagiku, menjadi penulis atau menjadi petani tidak ada bedanya—sama-sama mengerjakan sesuatu yang dicintai. Dan umpama aku menjadi petani, apakah kamu akan berpikir bahwa aku harus terkenal, hanya karena menjadi petani?”

Tyo menyergah, “Tapi menjadi petani dan menjadi penulis adalah dua hal yang berbeda...”

“Kamu berpikir itu dua hal yang berbeda, karena kamu berpikir begitu. Sebaliknya, aku berpikir semua pekerjaan sama saja. Menjadi penulis, menjadi petani, menjadi pelukis, menjadi penyanyi, atau menjadi apa pun. Aku tidak ingin ngotot menjadi dokter, misalnya, karena sadar tidak akan mampu menjadi dokter. Aku memilih pekerjaan yang aku bisa, dan aku berusaha sebaik yang aku bisa. Begitu pun kamu, dan orang-orang lain. Kenapa kita harus merasa istimewa hanya karena pekerjaan kita berbeda dengan orang lain?”

Tyo mengangguk-angguk, tapi juga tampak bingung. “Kenapa aku merasa kesulitan menyanggah omonganmu?”

Saya nyengir. “Karena kamu memang tidak perlu menyanggahnya.”

“Yo wis,” ujar Tyo sambil ikut nyengir. “Omong-omong, apakah sejak tadi aku sudah mengatakan hal-hal keren?”

Saya tertawa.

 
;