Selasa, 10 September 2019

Dunia yang Melukai

Kalian telah kehilangan arah. Tapi aku telah kembali.
Hari pembalasan telah tiba. Semua gedung kalian, semua bangunan dan
kuil-kuil kalian, akan hancur. Kebangkitan era baru akan muncul.
Apocalypse


Manusia dibentuk oleh kehidupannya. Dan ketika punya kekuatan, yang ia inginkan adalah membentuk kehidupan—dunia ideal sebagaimana yang mereka bayangkan. Semua pahlawan, dan semua fasis, hidup dalam kerangka seperti itu. Semua superhero, dan semua villain, hidup dalam pola pikir seperti itu.

Thanos, Magneto, dan Apocalypse, adalah tiga orang berbeda, hidup di dunia berbeda, menjalani kehidupan di zaman berbeda. Tapi mereka memiliki pola pikir yang sama, punya impian dan ambisi yang sama, karena dibentuk kehidupan mereka sebelumnya. Tiga orang itu sama-sama ingin meruntuhkan peradaban, dan memusnahkan manusia!

Sebagian orang mungkin mengira Magneto dan Apocalypse hidup di zaman yang sama, karena mereka bertemu—bahkan bersekutu—sebagaimana terlihat dalam X-Men: Apocalypse. Tapi mereka sebenarnya berasal dari dunia yang berbeda. Apocalypse hidup ribuan tahun sebelum Magneto lahir.

Ribuan tahun sebelum Magneto lahir, Apocalypse telah memiliki pola pikir bahkan misi yang sama seperti yang ada dalam pikiran Magneto. Sementara Thanos, kita tahu, hidup di semesta berbeda. Meski begitu, Thanos juga memiliki pola pikir dan ambisi seperti Magneto dan Apocalypse. Selain misi yang sama, tiga orang itu memiliki kekuatan yang sama-sama menakjubkan.

Bagaimana bisa tiga orang yang hidup di dunia berbeda, di zaman berbeda, tapi memiliki cara berpikir bahkan misi yang sama?

Jawabannya adalah luka.

Dunia telah melukai mereka.

Dan mereka ingin balik melukai dunia.

Thanos, sebagaimana kita tahu, punya misi memusnahkan separo populasi semesta, dan untuk itu dia rela melakukan serta mengorbankan apa pun. Misi Thanos bisa dibilang mulia, karena ia melakukannya bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk “menyelamatkan kehidupan secara luas”.

Jika populasi tak terkendali, menurut Thanos, kita semua akan punah. Untuk itu, sebelum kepunahan massal terjadi, sebagian populasi harus musnah. Untuk tujuan itu, dia mengumpulkan Infinity Stones, dan dengan kekuatan batu-batu itu dia memusnahkan separo populasi hanya dengan jentikan jari. Mereka yang musnah tidak menderita, karena hanya berubah menjadi debu.

“Aku menyebutnya belas kasihan,” kata Thanos.

Sebelumnya, dia sudah berupaya mengajak kaumnya—di planet Titan—agar mengendalikan populasi, demi keselamatan hidup bersama, tapi ajakannya tidak dipedulikan. Populasi di planet Titan akhirnya meledak, dan “tempat yang dulu serupa surga, kini berubah menjadi padang gersang.”

Hancurnya planet Titan akibat ledakan populasi, akhirnya membawa Thanos untuk menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Jadi dia pun mengumpulkan Infinity Stones, dan menjalankan misinya.

Magneto juga punya misi yang sama. Dia ingin memusnahkan Homo sapiens (nonmutan), karena menurutnya Homo sapiens adalah makhluk tolol egois yang tidak bisa menerima perbedaan (mutan).

Dalam kisah X-Men, Homo sapiens (nonmutan) digambarkan khawatir dengan keberadaan mutan, meski mereka sebenarnya tidak yakin pada apa yang mereka takutkan. Dalam pandangan Homo sapiens, mutan berbeda dengan mereka. Bukan lebih lemah, tapi lebih unggul. Mutan memiliki kekuatan dan kemampuan yang tidak dimiliki Homo sapiens, dan karena itulah mereka merasa terancam—bahkan ketika mutan tidak melukai mereka.

Sebenarnya, kekhawatiran Homo sapiens terhadap keberadaan mutan adalah cermin sejarah mereka sendiri. Di masa lalu, Homo sapiens menjadi makhluk lebih unggul atas Neanderthal. Karena kenyataan itulah lalu Neanderthal punah, dan Homo sapiens eksis sampai sekarang. Ketika kemudian Homo sapiens berhadapan dengan mutan, mereka pun khawatir mengalami kepunahan, sebagaimana dulu mereka memusnahkan Neanderthal.

Dan upaya Homo sapiens untuk memusnahkan mutan telah dilakukan dengan berbagai cara. Sebagaimana yang digambarkan dalam serial X-Men, ada ilmuwan-ilmuwan yang merancang mutan buatan, yang mereka kendalikan untuk membasmi para mutan lain. Ketika upaya itu dianggap tidak efektif, mereka merancang robot-robot Sentinel untuk menghancurkan mutan di mana pun, bahkan membunuh mutan yang masih ada dalam kandungan.

Betapa kejinya Homo sapiens, kalau dipikir-pikir. Yang mereka lakukan persis kaum rasis di mana pun, yang melakukan genosida atas suatu kaum, hanya karena dianggap berbeda. Mutan yang melakukan kejahatan tentu layak disalahkan. Tapi bagaimana dengan mutan yang tidak melakukan kesalahan apa pun? Kenapa pula mereka harus memastikan setiap bayi yang lahir benar-benar Homo sapiens, sehingga janin mutan yang masih dalam kandungan pun harus dibunuh?

Kenyataan itulah yang menjadikan Magneto muak. “Manusia,” katanya, “selalu ketakutan pada hal-hal yang tidak mereka pahami.”

Kalimat itu mendeskripsikan secara tepat sifat manusia, karakter Homo sapiens. Mereka selalu takut pada hal-hal yang berbeda, dan ingin semua orang sama. Sebegitu besar ketakutan manusia pada perbedaan, hingga mereka menggunakan senjata paling mematikan dalam sejarah umat manusia: Doktrinasi.

Tidak ada satu pun senjata lain yang lebih efektif dibanding doktrinasi, karena senjata itu tidak terlihat, tidak melukai, tapi (pikiran) korbannya akan mati.

Manusia hidup tapi pikirannya mati itu seperti zombie—mereka tampak hidup, tapi sebenarnya mati, karena hanya mengikuti insting atau naluri. Dan apa naluri zombie? Oh, well, benar sekali, mereka akan membunuh dan memakan siapa pun yang tampak hidup!

Kalau kau menyampaikan pikiran-pikiranmu yang berbeda dengan masyarakatmu, mereka akan menatapmu dengan aneh dan mungkin mengucilkanmu. Kalau kau menjalani kehidupan yang berbeda dengan masyarakatmu, mereka akan menganggapmu salah, dan bisa jadi mereka akan menajiskanmu. Pendeknya, kalau kau tampak berbeda dengan masyarakatmu, bahkan kau tidak melakukan apa pun, mereka akan membencimu.

Dan kalau kau menempati posisi semacam itu, sekaligus memiliki kekuatan seperti yang dimiliki Magneto, apa yang mungkin akan kaulakukan? Kemungkinan besar, kau akan melakukan seperti yang ingin dilakukan Magneto; memusnahkan mereka!

Jika tidak ada yang menghalangi, Magneto akan benar-benar bisa memusnahkan manusia, bahkan dengan mudah. Dia mampu memanipulasi dan mengendalikan logam dengan kekuatan pikirannya, dan itu artinya dia bisa menggerakkan rudal-rudal nuklir di mana pun untuk meledak di mana pun, dan miliaran manusia akan musnah... beserta peradaban mereka.

Dalam hal itu, Magneto “beruntung” karena bersahabat dengan Charles Xavier a.k.a. Profesor X. Berbeda dengan Magneto yang penuh kebencian, Profesor X berusaha menghadapi Homo sapiens dengan cara yang lebih bijaksana. Bukan ingin menghancurkan, tapi ingin mereka sadar. Bukan dengan membenci, tapi berusaha memahami.

Profesor X bisa memiliki jiwa besar semacam itu, kenapa? Karena dia tidak mengalami luka seperti yang dialami Magneto. Masa kecil Profesor X begitu damai, hingga dia mengenal arti cinta kepada sesama. Berbeda dengan Magneto yang mengalami masa kecil traumatis, hingga yang ia kenal hanyalah kemarahan, luka, dan kebencian.

Profesor X tumbuh di lingkungan yang menerimanya. Sementara Magneto tumbuh di lingkungan yang merusaknya. Latar belakang serupa Magneto juga dialami oleh Thanos, yang telah mengalami luka dan trauma sejak kecil, hingga cara berpikir Thanos pun sama dengan Magneto!

Selain Thanos dan Magneto, orang lain yang sama-sama mengalami kehidupan penuh luka dan trauma adalah Apocalypse. Dan Apocalypse—sebagaimana umumnya bocah terluka—memiliki cara berpikir seperti Thanos dan Magneto!

Nama asli Apocalypse adalah En Sabah Nur. Nama itu, secara harfiah, artinya Cahaya Pagi. Nama yang indah. Sayangnya, kehidupan En Sabah Nur sama sekali tidak indah. Ketika masih anak-anak, ia dibuang orang tuanya, karena dianggap “berbeda”.

Merangkak sendirian di padang pasir Mesir yang terik, bocah En Sabah Nur ditemukan sebuah suku, yang lalu memeliharanya. Ia tumbuh besar tanpa kenal orang tua, tanpa diakui keluarga, tanpa cinta kasih yang seharusnya ia terima. Dan ketika menyadari dia dibuang orang tuanya ketika masih kecil, yang ada dalam pikiran En Sabah Nur hanyalah luka dan kebencian. Sejak itulah, dia menjadi Apocalypse.

Apocalypse, di masa dewasanya, memiliki kekuatan mahadahsyat. Dia bisa membunuh siapa pun tanpa menyentuh, bisa pergi ke mana pun dalam sekejap mata, dan bisa mewujudkan apa pun yang ada dalam pikirannya. Sebagai ilustrasi, Piramida di Mesir dibangun ribuan orang, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Apocalypse bisa membangun Piramida serupa, dan dia melakukannya sendirian, dalam waktu singkat.

Di atas semuanya, Apocalypse bisa berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain, sekaligus menyerap kekuatan tubuh yang didiaminya. Saat satu tubuh hampir mati, dia bisa pindah ke tubuh lain, dan begitu seterusnya, hingga bisa menjalani kehidupan beribu-ribu tahun, sekaligus semakin kuat. Dengan kata lain, Apocalypse, secara harfiah, hidup abadi, karena tak bisa mati.

Kalau kau memiliki kekuatan mahadahsyat seperti yang dimiliki Apocalypse, dan kau menjalani kehidupan pahit seperti yang dialaminya—dengan luka dan trauma, dengan kebencian dan kepedihan—kira-kira apa yang akan kaulakukan?

Ya, kau akan melakukan sesuatu yang tepat sama seperti yang dilakukan Apocalypse! Kau akan memusnahkan dunia yang telah menyakiti dan melukaimu, dan membangun dunia baru seperti yang kauinginkan. Dan itulah yang dilakukan Apocalypse, sebagaimana yang kita saksikan dalam X-Men: Apocalypse. 

Seperti yang dikatakannya, saat ia memulai kehancuran bumi, dan mengubah peradaban manusia menjadi debu, “Tidak ada lagi batu-batu (tidak ada lagi peradaban). Tidak ada lagi tombak-tombak (tidak ada lagi ideologi). Tidak ada lagi tali-tali (tidak ada lagi negara). Tidak ada lagi pedang-pedang (tidak ada lagi penguasa). Tidak ada lagi senjata! Tidak ada lagi aturan! Tidak akan ada lagi!

“Semua yang mereka bangun akan hancur. Dan dari abu kehancuran dunia mereka, kita akan membangun dunia baru yang lebih baik!”

Hanya dibutuhkan seorang bocah terluka, untuk mendatangkan petaka pada dunia.

 
;