Selasa, 17 September 2019

Godaan dan Kesetiaan

"Temptation" adalah kata favoritku dalam bahasa Inggris.
Selama tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
@noffret


Karena rayuan godaan, kesetiaan bertahun-tahun bisa hilang. Kenyataan itu saya alami, dengan ponsel yang pernah bertahun-tahun menemani.

Dulu, saya memiliki ponsel berbentuk sliding. Ponsel itu memiliki layar tidak terlalu besar, namun fasilitas di dalamnya tergolong lengkap, khususnya untuk ukuran waktu itu, termasuk kemampuan dalam hal foto dan video. Waktu itu teknologi layar sentuh belum populer, jadi ponsel sliding saya juga belum menggunakan layar sentuh. Meski begitu, ponsel dilengkapi keypad tersembunyi, yang enak disentuh.

Sejak membeli ponsel itu, saya benar-benar nyaman memilikinya. Warnanya putih metalik. Tampak elegan, nyaman digenggam, juga nyaman dikantongi. Lebih dari itu, semua yang saya inginkan dari ponsel, bisa dipenuhi olehnya. Kemampuan suaranya saat memperdengarkan musik tergolong bagus, apalagi kalau menggunakan headset. Kemampuan kameranya juga bagus, khususnya untuk ukuran waktu itu.

Saat sliding-nya tertutup, ukuran ponsel itu relatif kecil, hanya sebesar bungkus rokok. Tebalnya juga kira-kira segitu. Jadi, saat dikantongi di celana, terasa pas dan tidak mengganjal. Intinya, saya benar-benar puas dengan ponsel tersebut, dan—selama bertahun-tahun—tak pernah tergoda dengan ponsel lain mana pun. Saya sudah nyaman dengan ponsel yang saya miliki, dan persetan dengan ponsel lain.

Hingga kemudian, ponsel layar sentuh mulai populer. Berbeda dengan ponsel saya yang berukuran relatif kecil, ponsel-ponsel layar sentuh memiliki ukuran lebih besar, karena menggunakan layar yang juga lebih luas. Semula, saya masih bertahan untuk tidak tergoda, dan tetap nyaman dengan ponsel yang saya miliki. Saya tidak ingin menggantikannya dengan ponsel lain.

Tetapi, namanya manusia, akhirnya saya tergoda juga. Bagaimana tidak? Nyaris ke mana pun saya mengarahkan pandangan, yang tampak di depan mata adalah ponsel-ponsel besar dengan teknologi layar sentuh. Teman-teman saya menggunakan ponsel semacam itu. Tetangga-tetangga juga menggunakan ponsel semacam itu. Bahkan di berbagai media—cetak maupun elektronik—mata saya terus digoda ponsel semacam itu. Sejak itu pula, entah kenapa, ponsel sliding saya tampak ketinggalan zaman.

Pertahanan saya pun jebol, dan suatu hari berpikir untuk juga memiliki ponsel layar sentuh. Waktu itu, sebenarnya, ponsel sliding yang saya miliki tidak mengalami masalah apa pun. Itu ponsel hebat yang diproduksi pabrikan terkenal, yang memiliki teknologi kelas satu. Karenanya, meski telah digunakan bertahun-tahun, ponsel itu tidak pernah mengalami masalah apa pun. Tetapi, gara-gara godaan yang ada di sekitar, saya pun terpikir membeli ponsel baru.

Itulah yang kemudian saya lakukan. Setelah sempat mencari dan mempelajari ponsel layar sentuh mana yang bagus, saya pergi ke toko ponsel, dan membeli ponsel baru. Waktu itu, kartu SIM yang ada di ponsel sliding saya dicabut, dan dipindah ke ponsel baru. Sejak itu pula, ponsel sliding saya tidak lagi menyala, karena tidak digunakan. Kelak, saya tahu, itu kesalahan yang mengerikan.

Semula, saya menyukai ponsel layar sentuh itu, karena namanya juga ponsel baru. Jadi, meski ponsel sliding kesayangan kini tak pernah lagi digunakan, saya tidak peduli. Saya masih asyik dengan ponsel baru. Meski begitu, sejak awal sebenarnya saya sudah tidak nyaman dengan ponsel baru tersebut, karena ukurannya yang relatif besar. Akibatnya, saat dikantongi di celana, ponsel itu terasa mengganjal.

Meski begitu, saya menghibur diri dengan mengatakan, “Ya maklumlah, karena layar ponsel itu memang lebar. Namanya juga layar sentuh.” Jadi, meski terasa mengganjal di celana, dan sering menimbulkan rasa tidak nyaman, saya mencoba bertahan.

Lama-lama, saya mulai menyadari, ponsel baru itu memiliki beberapa kekurangan. Selain ukurannya yang besar, hasil foto yang dibuat dengan ponsel itu juga kalah bagus dibanding foto yang dihasilkan ponsel lama. Begitu pula dalam kualitas suara, sama-sama kalah. Lebih dari itu, belakangan saya bertanya-tanya, “Sebenarnya, apa manfaat yang kuperoleh dari memiliki ponsel layar sentuh ini?”

Jika dibandingkan ponsel lama saya, satu-satunya kelebihan ponsel layar sentuh hanya memiliki teknologi layar sentuh. Sudah, hanya itu. Dalam hal lain, dari urusan menelepon, berkirim SMS, dan lain-lain, bisa dibilang semuanya sama. Bahkan, ponsel sliding saya memiliki beberapa keunggulan, seperti hasil foto lebih bagus, dan kualitas suara yang lebih bagus. Karenanya, satu-satunya manfaat—kalau memang bisa disebut manfaat—dari ponsel layar sentuh hanyalah layarnya.

Tetapi, kemudian saya berpikir, apakah memang saya membutuhkan ponsel layar sentuh? Sejujurnya, kalau dipikir-pikir, saya tidak peduli apakah ponsel yang saya gunakan menggunakan teknologi touchscreen atau tidak. Karena fungsi ponsel bagi saya cuma untuk menelepon, berkirim SMS, sesekali membuat foto kalau sedang iseng, atau mendengarkan musik kalau lagi santai, atau juga membuka internet kalau memang sedang jauh dari komputer. Semua kebutuhan itu bisa diberikan oleh ponsel lama, meski tidak menggunakan teknologi touchscreen.

Akhirnya, setelah sekitar dua tahun menggunakan ponsel layar sentuh, saya jadi kangen dengan ponsel sliding yang dulu. Untung, ponsel itu masih ada, karena masih saya simpan. Saya terpikir untuk kembali menggunakannya, karena rasanya lebih nyaman menggunakan ponsel tersebut, daripada ponsel layar sentuh yang sekarang saya gunakan.

Jadi, saya pun mengambil ponsel sliding itu dari tempat penyimpanan, dan saya mendapati ponsel itu kini telah berubah. Warnanya yang dulu bening dan mulus kini kusam, karena lama tak disentuh. Sliding-nya yang dulu lancar kini terasa seret, karena lama tak digunakan. Bahkan, ketika saya telah memasukkan kartu SIM ke dalamnya, ponsel itu tidak mau menyala. Saya tekan tombol power pada ponsel, tapi tetap saja gelap, layarnya tidak menyala.

Dengan perasaan galau, saya mulai menyadari apa yang mungkin terjadi. Ponsel sliding itu, seperti umumnya barang elektronik lain, bisa mengalami masalah jika lama tidak digunakan. Dan saya telah menyimpannya tanpa pernah dipakai selama dua tahunan. Tidak hanya tampilan fisiknya yang kini berubah kusam, bagian dalam ponsel itu pun mungkin telah mengalami masalah.

Akhirnya, dengan perasaan risau, saya membawa ponsel itu ke tempat servis, untuk menanyakan apa yang terjadi pada ponsel tersebut. Penjelasan tukang servis tepat seperti yang saya bayangkan. Mesin ponsel itu mati, karena lama tidak digunakan. Bahkan baterainya sudah aus, karena lama tak difungsikan.

Tukang servis menyatakan, “Ponsel ini masih bisa diperbaiki, tapi mungkin biayanya cukup mahal, karena harus mengganti beberapa bagian mesin, juga mengganti baterai.” Setelah itu, sambil menyentuh bagian luar ponsel yang kini tampak kusam, dia berkata perlahan, “Biaya perbaikannya bisa digunakan untuk membeli ponsel baru, yang lebih bagus dari ini.”

Penjelasan itu terasa menampar saya. Melihat kondisi ponsel sliding itu—yang dulu telah menemani bertahun-tahun—membuat saya sedih. Dulu, ponsel itu tampak bagus, elegan, dengan warna yang cemerlang. Saat ini, bentuknya masih bagus dan elegan, tapi warnanya yang cemerlang telah memudar, sementara bagian-bagian dalamnya mengalami masalah serta kerusakan akibat lama tak terpakai.

Saya membawa pulang ponsel sliding itu, dan tidak jadi memperbaikinya. Di rumah, saya memegangi ponsel itu, menatapnya, dan berpikir, “Apa salah ponsel ini, hingga aku sampai menggantikannya dengan ponsel baru?”

Ponsel sliding itu tidak memiliki masalah atau kekurangan apa pun. Selama menemani saya bertahun-tahun, ia tidak pernah rewel, dan semua kebutuhan saya menyangkut ponsel bisa diberikan olehnya. Saat dikantongi di celana, ia juga tidak mengganggu, karena ukurannya relatif kecil. Sebenarnya, ia sudah sempurna bagi saya.

Tetapi manusia selalu menghadapi godaan, termasuk dalam urusan ponsel. Bahkan meski telah nyaman dengan ponsel yang saya miliki pun, saya masih tergoda pada ponsel baru. Kenyataannya, ponsel yang baru tidak lebih baik dari ponsel yang lama, bahkan memiliki beberapa kekurangan yang sebelumnya tak pernah saya bayangkan. Dan saat saya ingin kembali ke ponsel lama, ia telah berubah. Waktu telah menggerogoti sosoknya, luar dan dalam.

Tiba-tiba saya merasa kehilangan. Saat menggenggam ponsel itu di tangan, merasakan kelembutannya, saya membayangkan kenangan demi kenangan yang pernah kami lalui, saat-saat saya sangat jatuh cinta kepadanya. Sebenarnya, sampai kini pun saya tetap jatuh cinta kepadanya. Tetapi, bagaimana pun, ia telah hilang. Bahkan saat saya mencoba ke toko ponsel untuk mencari ponsel yang sama seperti itu, tidak ada lagi toko yang menyediakan.

Ponsel sliding itu masih saya miliki, sampai sekarang. Tapi layarnya kini selalu gelap. Dan setiap kali menatapnya, saya seperti diingatkan pada pentingnya kesetiaan... serta tidak pentingnya godaan.

Namanya juga Hidup

Tadi dolan ke rumah teman, disuguhi sepiring gorengan panas yang enak, dan kami ngobrol sambil nyeruput teh hangat dan udud. Pulang dari rumah teman, nemu penjual durian, dan duriannya wangi dan nikmat.

Subhanallah... tidak menikah membuatku bahagia dan lancar rezeki.

"Kamu pasti belum tahu gimana rasanya bingung bareng pasangan, mau makan tapi duit benar-benar gak ada. Kami sangat kebingungan, sampai saku-saku celana di ember cucian dirogoh, siapa tahu ada duit. Kamu pasti belum tahu gimana rasanya, kan?"

TERUS TERANG AKU TIDAK INGIN TAHU!

Kayak gitu dibangga-banggakan, sementara di lain waktu ngibul dan koar-koar menikah membuat bahagia dan lancar rezeki. Kalau mau ngibul mbok yang konsisten. Kalau bahagia ya konsisten ngomong bahagia, kalau keblangsak ya konsisten ngomong keblangsak. Ngibul wae masih plin-plan!

"Ya namanya orang hidup, ada seneng dan ada susahnya..."

LHA ITU TAHU!

Semua orang juga tahu kalau hidup ada senang dan ada susahnya. Jadi kenapa selama ini kamu menyuruh-nyuruh orang cepat kawin dengan mengatakan menikah pasti bahagia dan lancar rezeki? Mikir sebelum ndoktrin!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 April 2019.

Noffret’s Note: Ribet

Harbolnas apaan? Baru buka laman, barang-barangnya sudah habis semua.

Sepertinya aku memang tidak berjodoh dengan "ribut-ribut" semacam Harbolnas, obral, gebyar, diskonan, sale party, dan semacamnya. Lebih enak beli secara normal. Tenang, santai, dan tidak ribut juga tidak ribet.

Aku malas dengan ribut-ribut, benci dengan hal-hal ribet.

....
....

"Diskon 50%, syarat dan ketentuan berlaku."

Aku lebih suka membeli dengan harga normal, tanpa syarat dan ketentuan yang ribet.

"Cashback 50%, tapi..."

Aku lebih suka bayar penuh, tanpa ada tapi-tapian!

"Beli pakai kartu X, bisa dicicil 3 bulan."

Ribet! Aku bayar cash.

....
....

"Lu sombong amat, tong."

Bukan. Aku hanya benci hal-hal ribet! Segala sesuatu bisa dibuat mudah dan sederhana. Dan jika aku bisa mendapatkan dengan cara mudah, kenapa harus mempersulit diri dengan hal-hal ribet?

....
....

Apa kunci keberhasilan Gojek? Mereka memudahkan dan menyederhanakan hal-hal ribet!

Catatan ini kutulis jauh-jauh hari sebelum Gojek sepopuler sekarang. Siapa pun yang mampu melakukannya, dunia akan ada di tangannya: Aturan Paling Penting di Dunia » http://bit.ly/21IGl6h


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Desember 2018.

Selasa, 10 September 2019

Dunia yang Melukai

Kalian telah kehilangan arah. Tapi aku telah kembali.
Hari pembalasan telah tiba. Semua gedung kalian, semua bangunan dan
kuil-kuil kalian, akan hancur. Kebangkitan era baru akan muncul.
Apocalypse


Manusia dibentuk oleh kehidupannya. Dan ketika punya kekuatan, yang ia inginkan adalah membentuk kehidupan—dunia ideal sebagaimana yang mereka bayangkan. Semua pahlawan, dan semua fasis, hidup dalam kerangka seperti itu. Semua superhero, dan semua villain, hidup dalam pola pikir seperti itu.

Thanos, Magneto, dan Apocalypse, adalah tiga orang berbeda, hidup di dunia berbeda, menjalani kehidupan di zaman berbeda. Tapi mereka memiliki pola pikir yang sama, punya impian dan ambisi yang sama, karena dibentuk kehidupan mereka sebelumnya. Tiga orang itu sama-sama ingin meruntuhkan peradaban, dan memusnahkan manusia!

Sebagian orang mungkin mengira Magneto dan Apocalypse hidup di zaman yang sama, karena mereka bertemu—bahkan bersekutu—sebagaimana terlihat dalam X-Men: Apocalypse. Tapi mereka sebenarnya berasal dari dunia yang berbeda. Apocalypse hidup ribuan tahun sebelum Magneto lahir.

Ribuan tahun sebelum Magneto lahir, Apocalypse telah memiliki pola pikir bahkan misi yang sama seperti yang ada dalam pikiran Magneto. Sementara Thanos, kita tahu, hidup di semesta berbeda. Meski begitu, Thanos juga memiliki pola pikir dan ambisi seperti Magneto dan Apocalypse. Selain misi yang sama, tiga orang itu memiliki kekuatan yang sama-sama menakjubkan.

Bagaimana bisa tiga orang yang hidup di dunia berbeda, di zaman berbeda, tapi memiliki cara berpikir bahkan misi yang sama?

Jawabannya adalah luka.

Dunia telah melukai mereka.

Dan mereka ingin balik melukai dunia.

Thanos, sebagaimana kita tahu, punya misi memusnahkan separo populasi semesta, dan untuk itu dia rela melakukan serta mengorbankan apa pun. Misi Thanos bisa dibilang mulia, karena ia melakukannya bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk “menyelamatkan kehidupan secara luas”.

Jika populasi tak terkendali, menurut Thanos, kita semua akan punah. Untuk itu, sebelum kepunahan massal terjadi, sebagian populasi harus musnah. Untuk tujuan itu, dia mengumpulkan Infinity Stones, dan dengan kekuatan batu-batu itu dia memusnahkan separo populasi hanya dengan jentikan jari. Mereka yang musnah tidak menderita, karena hanya berubah menjadi debu.

“Aku menyebutnya belas kasihan,” kata Thanos.

Sebelumnya, dia sudah berupaya mengajak kaumnya—di planet Titan—agar mengendalikan populasi, demi keselamatan hidup bersama, tapi ajakannya tidak dipedulikan. Populasi di planet Titan akhirnya meledak, dan “tempat yang dulu serupa surga, kini berubah menjadi padang gersang.”

Hancurnya planet Titan akibat ledakan populasi, akhirnya membawa Thanos untuk menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Jadi dia pun mengumpulkan Infinity Stones, dan menjalankan misinya.

Magneto juga punya misi yang sama. Dia ingin memusnahkan Homo sapiens (nonmutan), karena menurutnya Homo sapiens adalah makhluk tolol egois yang tidak bisa menerima perbedaan (mutan).

Dalam kisah X-Men, Homo sapiens (nonmutan) digambarkan khawatir dengan keberadaan mutan, meski mereka sebenarnya tidak yakin pada apa yang mereka takutkan. Dalam pandangan Homo sapiens, mutan berbeda dengan mereka. Bukan lebih lemah, tapi lebih unggul. Mutan memiliki kekuatan dan kemampuan yang tidak dimiliki Homo sapiens, dan karena itulah mereka merasa terancam—bahkan ketika mutan tidak melukai mereka.

Sebenarnya, kekhawatiran Homo sapiens terhadap keberadaan mutan adalah cermin sejarah mereka sendiri. Di masa lalu, Homo sapiens menjadi makhluk lebih unggul atas Neanderthal. Karena kenyataan itulah lalu Neanderthal punah, dan Homo sapiens eksis sampai sekarang. Ketika kemudian Homo sapiens berhadapan dengan mutan, mereka pun khawatir mengalami kepunahan, sebagaimana dulu mereka memusnahkan Neanderthal.

Dan upaya Homo sapiens untuk memusnahkan mutan telah dilakukan dengan berbagai cara. Sebagaimana yang digambarkan dalam serial X-Men, ada ilmuwan-ilmuwan yang merancang mutan buatan, yang mereka kendalikan untuk membasmi para mutan lain. Ketika upaya itu dianggap tidak efektif, mereka merancang robot-robot Sentinel untuk menghancurkan mutan di mana pun, bahkan membunuh mutan yang masih ada dalam kandungan.

Betapa kejinya Homo sapiens, kalau dipikir-pikir. Yang mereka lakukan persis kaum rasis di mana pun, yang melakukan genosida atas suatu kaum, hanya karena dianggap berbeda. Mutan yang melakukan kejahatan tentu layak disalahkan. Tapi bagaimana dengan mutan yang tidak melakukan kesalahan apa pun? Kenapa pula mereka harus memastikan setiap bayi yang lahir benar-benar Homo sapiens, sehingga janin mutan yang masih dalam kandungan pun harus dibunuh?

Kenyataan itulah yang menjadikan Magneto muak. “Manusia,” katanya, “selalu ketakutan pada hal-hal yang tidak mereka pahami.”

Kalimat itu mendeskripsikan secara tepat sifat manusia, karakter Homo sapiens. Mereka selalu takut pada hal-hal yang berbeda, dan ingin semua orang sama. Sebegitu besar ketakutan manusia pada perbedaan, hingga mereka menggunakan senjata paling mematikan dalam sejarah umat manusia: Doktrinasi.

Tidak ada satu pun senjata lain yang lebih efektif dibanding doktrinasi, karena senjata itu tidak terlihat, tidak melukai, tapi (pikiran) korbannya akan mati.

Manusia hidup tapi pikirannya mati itu seperti zombie—mereka tampak hidup, tapi sebenarnya mati, karena hanya mengikuti insting atau naluri. Dan apa naluri zombie? Oh, well, benar sekali, mereka akan membunuh dan memakan siapa pun yang tampak hidup!

Kalau kau menyampaikan pikiran-pikiranmu yang berbeda dengan masyarakatmu, mereka akan menatapmu dengan aneh dan mungkin mengucilkanmu. Kalau kau menjalani kehidupan yang berbeda dengan masyarakatmu, mereka akan menganggapmu salah, dan bisa jadi mereka akan menajiskanmu. Pendeknya, kalau kau tampak berbeda dengan masyarakatmu, bahkan kau tidak melakukan apa pun, mereka akan membencimu.

Dan kalau kau menempati posisi semacam itu, sekaligus memiliki kekuatan seperti yang dimiliki Magneto, apa yang mungkin akan kaulakukan? Kemungkinan besar, kau akan melakukan seperti yang ingin dilakukan Magneto; memusnahkan mereka!

Jika tidak ada yang menghalangi, Magneto akan benar-benar bisa memusnahkan manusia, bahkan dengan mudah. Dia mampu memanipulasi dan mengendalikan logam dengan kekuatan pikirannya, dan itu artinya dia bisa menggerakkan rudal-rudal nuklir di mana pun untuk meledak di mana pun, dan miliaran manusia akan musnah... beserta peradaban mereka.

Dalam hal itu, Magneto “beruntung” karena bersahabat dengan Charles Xavier a.k.a. Profesor X. Berbeda dengan Magneto yang penuh kebencian, Profesor X berusaha menghadapi Homo sapiens dengan cara yang lebih bijaksana. Bukan ingin menghancurkan, tapi ingin mereka sadar. Bukan dengan membenci, tapi berusaha memahami.

Profesor X bisa memiliki jiwa besar semacam itu, kenapa? Karena dia tidak mengalami luka seperti yang dialami Magneto. Masa kecil Profesor X begitu damai, hingga dia mengenal arti cinta kepada sesama. Berbeda dengan Magneto yang mengalami masa kecil traumatis, hingga yang ia kenal hanyalah kemarahan, luka, dan kebencian.

Profesor X tumbuh di lingkungan yang menerimanya. Sementara Magneto tumbuh di lingkungan yang merusaknya. Latar belakang serupa Magneto juga dialami oleh Thanos, yang telah mengalami luka dan trauma sejak kecil, hingga cara berpikir Thanos pun sama dengan Magneto!

Selain Thanos dan Magneto, orang lain yang sama-sama mengalami kehidupan penuh luka dan trauma adalah Apocalypse. Dan Apocalypse—sebagaimana umumnya bocah terluka—memiliki cara berpikir seperti Thanos dan Magneto!

Nama asli Apocalypse adalah En Sabah Nur. Nama itu, secara harfiah, artinya Cahaya Pagi. Nama yang indah. Sayangnya, kehidupan En Sabah Nur sama sekali tidak indah. Ketika masih anak-anak, ia dibuang orang tuanya, karena dianggap “berbeda”.

Merangkak sendirian di padang pasir Mesir yang terik, bocah En Sabah Nur ditemukan sebuah suku, yang lalu memeliharanya. Ia tumbuh besar tanpa kenal orang tua, tanpa diakui keluarga, tanpa cinta kasih yang seharusnya ia terima. Dan ketika menyadari dia dibuang orang tuanya ketika masih kecil, yang ada dalam pikiran En Sabah Nur hanyalah luka dan kebencian. Sejak itulah, dia menjadi Apocalypse.

Apocalypse, di masa dewasanya, memiliki kekuatan mahadahsyat. Dia bisa membunuh siapa pun tanpa menyentuh, bisa pergi ke mana pun dalam sekejap mata, dan bisa mewujudkan apa pun yang ada dalam pikirannya. Sebagai ilustrasi, Piramida di Mesir dibangun ribuan orang, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Apocalypse bisa membangun Piramida serupa, dan dia melakukannya sendirian, dalam waktu singkat.

Di atas semuanya, Apocalypse bisa berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain, sekaligus menyerap kekuatan tubuh yang didiaminya. Saat satu tubuh hampir mati, dia bisa pindah ke tubuh lain, dan begitu seterusnya, hingga bisa menjalani kehidupan beribu-ribu tahun, sekaligus semakin kuat. Dengan kata lain, Apocalypse, secara harfiah, hidup abadi, karena tak bisa mati.

Kalau kau memiliki kekuatan mahadahsyat seperti yang dimiliki Apocalypse, dan kau menjalani kehidupan pahit seperti yang dialaminya—dengan luka dan trauma, dengan kebencian dan kepedihan—kira-kira apa yang akan kaulakukan?

Ya, kau akan melakukan sesuatu yang tepat sama seperti yang dilakukan Apocalypse! Kau akan memusnahkan dunia yang telah menyakiti dan melukaimu, dan membangun dunia baru seperti yang kauinginkan. Dan itulah yang dilakukan Apocalypse, sebagaimana yang kita saksikan dalam X-Men: Apocalypse. 

Seperti yang dikatakannya, saat ia memulai kehancuran bumi, dan mengubah peradaban manusia menjadi debu, “Tidak ada lagi batu-batu (tidak ada lagi peradaban). Tidak ada lagi tombak-tombak (tidak ada lagi ideologi). Tidak ada lagi tali-tali (tidak ada lagi negara). Tidak ada lagi pedang-pedang (tidak ada lagi penguasa). Tidak ada lagi senjata! Tidak ada lagi aturan! Tidak akan ada lagi!

“Semua yang mereka bangun akan hancur. Dan dari abu kehancuran dunia mereka, kita akan membangun dunia baru yang lebih baik!”

Hanya dibutuhkan seorang bocah terluka, untuk mendatangkan petaka pada dunia.

Takdir Akhir Zaman

Ada orang-orang yang bertanya, "Kalaupun Thanos benar-benar berhasil memusnahkan separo populasi, apakah ada jaminan kehidupan akan lebih baik?"

Memang tidak ada jaminan kehidupan akan lebih baik. Tetapi, setidaknya, beban bumi akan lebih ringan. Itu intinya.

Tokoh seperti Thanos sebenarnya telah muncul berkali-kali dalam banyak film Hollywood. Ingat Kurt Hendricks dalam Mission Impossible: Ghost Protocol? Dia diceritakan sebagai sosok genius dengan IQ 190, dan... apa misinya? Benar, melenyapkan separo populasi dengan kekuatan nuklir.

Setelah Kurt Hendricks dalam MI: Ghost Protocol, muncul tokoh lain dengan misi serupa; Solomon Lane, sosok di balik organisasi bayangan yang berkuasa di dunia. Ia muncul dalam MI: Rogue Nation dan MI: Fallout. Dan misinya? Sama, melenyapkan separo populasi. Did you see that?

Dalam hal ini, Hollywood sangat menyadari untuk menempatkan siapa di tempat mana. Thanos, Kurt Hendricks, maupun Solomon Lane, sengaja diposisikan sebagai antagonis. Karena bagaimana pun mereka butuh jualannya laris. Jika Thanos dan yang lain jadi protagonis, filmnya takkan laku.

Meski menempatkan Thanos dan yang lain sebagai antagonis, Hollywood sudah menyampaikan yang ingin mereka sampaikan. Bahwa kalau kau memiliki kekuatan seperti Thanos, atau kecerdasan seperti Kurt Hendricks, atau kekuasaan seperti Solomon Lane... kau tahu apa yang akan kaulakukan.

"Ada kenyataan di balik setiap legenda," kata Sir Edmund Burton dalam Transformer: The Last Knight. Dalam kalimat lain, aku bersepakat dengannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 November 2018.

Kerusakan Manusia dan Awal Kehancuran Dunia

Kenyataannya, di dunia ini memang banyak orang yang ingin semua sama seperti dirinya, dan yang tidak sama dianggap salah bahkan berdosa.

Sebagian orang berusaha melawan orang-orang yang tak punya toleransi semacam itu, sebagian lain hanya diam... karena sudah sangat lelah.

"Kelelahan" akibat menghadapi orang-orang tanpa toleransi dan tanpa empati itulah, yang kemudian melahirkan Thanos, Magneto, atau bahkan Kurt Hendricks. Mereka sudah sampai pada kesimpulan, "Sudah cukup. Mereka sudah tidak bisa lagi diajak bicara. Sekarang waktunya bertindak."

Thanos menyebut dirinya "penyintas"—perhatikan kata itu saat dia berdialog dalam Infinity War. Sintas atas apa? Kebodohan, keterbelakangan, ketiadaan empati dan toleransi, serta orang-orang yang mau benar sendiri. Dia sudah berusaha menyadarkan sesamanya, tapi gagal... dan lelah.

Hal serupa yang melahirkan Magneto. Orang-orang (Homo sapiens) sulit menerima orang lain yang dianggap berbeda (mutan), dan mereka menuntut agar semua mutan diisolasi, atau "dimanusiakan". Magneto pun berpikir, "Kenapa kami harus sama sepertimu, kalau kami bisa menghancurkanmu?"

Memang, di dunia ini ada orang-orang mulia seperti para superhero Avengers atau para pahlawan X-Men, yang memiliki maaf dan empati dalam jumlah tak terbatas. Tapi dunia juga selalu melahirkan Thanos atau Magneto yang sudah lelah menyaksikan kebodohan dan kerusakan tanpa batas.

Dan kerusakan dunia, ironisnya... dibuat oleh orang-orang yang merasa dirinya suci hingga menganggap orang lain rendah, yang merasa dirinya paling benar hingga sulit menerima perbedaan, yang merasa dirinya sempurna hingga memaksa siapa pun agar sama seperti dirinya.

I am no hero. Merely a man who has seen and done and endured what can never be forgotten or forgiven. —Magneto, Uncanny X-Men 1

I finally rest, and watch the sunrise on an grateful universe. The hardest choices require the strongest wills. —Thanos, Avengers: Infinity War


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 11 Desember 2018.

Kamis, 05 September 2019

Teman Perempuan

Bedanya teman perempuan dengan teman lelaki:
Teman perempuan tahu cara “mendengarkan”.
Yaitu mendengarkan dengan hati, dengan empati.
@noffret


Setelah tidak lagi kuliah, satu hal yang terasa hilang dari hidup saya adalah teman perempuan. Dan itu, bagi saya, kehilangan yang besar.

Dulu, waktu masih kuliah, saya punya banyak teman perempuan. Mereka terdiri dari teman sekelas, teman beda kelas, teman sefakultas, teman beda fakultas, teman sejurusan, teman beda jurusan, teman seangkatan, teman beda angkatan, pokoknya teman sekampus.

Kami kuliah di kampus sama, dan saling kenal, lalu berteman. Selama waktu-waktu itu, bisa dibilang saya tidak kekurangan teman perempuan. Bahkan waktu itu saya punya cukup banyak teman perempuan dari kampus lain.

Seperti ilustrasi tadi, teman perempuan saya merentang dari semua jurusan dan fakultas, bahkan lintas kampus. Jika teman perempuan saja segitu banyaknya, apalagi teman lelaki!

Dulu, kalau ada waktu luang, atau sedang iseng, atau lagi butuh ngobrol, atau sedang ingin curhat, saya akan datang ke teman perempuan. Khusus untuk urusan curhat, saya pasti datang ke teman perempuan. Urusan iseng, atau sekadar ingin ngobrol, saya bisa mendatangi teman lelaki. Tapi khusus urusan curhat, sekali lagi, saya hanya menemui teman perempuan!

Jadi, kadang suatu sore, atau suatu malam, saya kepengin curhat, dan berpikir, “Ke rumah Nisa’, ah!” Lalu saya datang ke rumah Nisa’. Lalu curhat.

Lain waktu, saya kepikiran ingin curhat lagi, dan berpikir, “Ke rumah Khusnul, ah!” Lalu saya datang ke rumah Khusnul.

Di lain waktu lagi, saya ingin kembali curhat, dan berpikir, “Ke rumah siapa, ya? Oh, ya, ke rumah Amelia aja!” Lalu saya datang ke rumah Amelia.

Sore hari, habis mandi, dan ingin curhat, saya kepikiran, “Kayaknya asyik nih, kalau ketemu Mbak Tasya.” Lalu saya pergi ke rumah Mbak Tasya.

Di waktu yang lain lagi, saat ingin curhat lagi, saya berpikir, “Ke tempat kosan Netty, ah!” Lalu saya datang ke kosan Netty. Lalu curhat sambil makan malam.

(Kok sering amat, curhatnya?)

YA SUKA-SUKA, LAAAH! WONG INI HIDUP SAYA, KOK!

Terus terang, satu hal yang membuat saya sangat menikmati masa kuliah adalah hal-hal itu. Maksud saya, teman perempuan yang bisa menjadi tempat curhat. Meski sering pula saya datang ke rumah mereka bukan untuk curhat, tapi sekadar ingin dolan. Senang rasanya menemui teman perempuan, lalu mengobrol berdua, kadang serius, kadang sambil cekikikan. Mengingat itu, membuat saya ingin kuliah lagi.

Seperti yang dibilang tadi, saya selalu datang ke teman perempuan, setiap kali ingin curhat. Kenapa? Karena perempuan adalah pendengar yang baik. Mereka lebih bisa berempati, dibandingkan teman lelaki.

Ketika kita datang ke teman perempuan, dan berkata, “Aku mau curhat,” mereka pun diam, dan menyediakan telinga untuk mendengar. Mereka benar-benar mendengarkan. Jika curhat kita terkait suatu masalah, mereka mungkin bisa memberi saran yang baik. Atau, kalau pun tidak, mereka dapat berempati dengan baik—setidaknya dalam bentuk sikap mendengarkan—sehingga kita merasa lega.

Hal itu berbeda dengan teman lelaki. Memang, teman lelaki adalah kawan yang asyik. Tapi mereka memiliki kekurangan khas—setidaknya teman lelaki yang saya kenal—yaitu ketidakmampuan “mendengarkan”. Lebih khusus, ketidakmampuan berempati.

Sebagai contoh, saya pernah sedih, waktu putus dengan pacar. Ketika saya curhat pada teman lelaki untuk menumpahkan kesedihan, mereka memang tampak mendengarkan, tapi berkali-kali menyela ucapan saya. Padahal, saya hanya butuh didengarkan—namanya juga orang curhat—tapi mereka menganggap saya sedang presentasi makalah! Bukannya mendengarkan, mereka menyela dan mendebat!

Dan ketika saya selesai curhat, bagaimana sikap atau respons mereka? Menunjukkan empati, dan memberi kata-kata menghibur? Tidak! Alih-alih meresapi curhat kesedihan saya, mereka malah berkata, “Bagaimana kalau kita ke pantai? Pasti kesedihanmu hilang, kalau sudah di pantai.”

Ketika mendapat respons semacam itu, rasanya saya ingin menjawab, “Begini, sialan. Aku tidak ingin pergi ke pantai keparat mana pun! Aku hanya ingin kau diam, tutup mulut, dan mendengarkanku!”

Tapi saya tidak mungkin ngomong begitu. Karena, bagaimana pun, akhirnya saya menyadari bahwa teman lelaki memang bukan partner curhat yang baik. Mereka hanya teman bermain yang asyik. Dalam urusan curhat, teman lelaki benar-benar bangsat!

Berbeda dengan teman perempuan. Saat saya datang pada mereka, dan menumpahkan curahan hati, semisal kesedihan, mereka benar-benar mendengarkan. Mereka diam selama saya berbicara, dan membiarkan saya menumpahkan semua yang ingin saya curahkan. Setelah itu, mereka tidak menawari pergi ke pantai keparat atau tempat-tempat keparat lain. Sebaliknya, mereka menunjukkan empati dengan kata-kata yang baik, yang menghibur, sehingga saya merasa dapat mengurangi beban kesedihan.

Itulah perbedaan teman lelaki dan teman perempuan, setidaknya dalam urusan curhat. Juga setidaknya menurut yang saya alami.

Kenyataan itu sebenarnya juga dilatari otak kita. Otak perempuan memang—kenyatannya—lebih kecil dibanding otak lelaki. Tapi otak perempuan mengandung area sensitivitas yang jauh lebih besar dibanding otak lelaki. Sebagian psikolog menyebut area sensitivitas itu dengan istilah “area biru” (blue area), yaitu area yang membuat si pemilik otak memiliki kepekaan dan sensitivitas.

Karena area biru pada otak perempuan jauh lebih besar, mereka pun lebih tahu bagaimana menghadapi orang lain dengan empati, sekaligus sensitivitas yang lebih baik, khususnya dibandingkan laki-laki. Karena itu pula, dalam urusan mendengarkan curhat, teman perempuan jauh lebih baik!

Dulu, ketika masih kuliah, saya tidak mengalami kesulitan setiap kali ingin curhat, karena waktu itu teman perempuan saya sangat banyak. Tetapi, kini, setelah tidak lagi kuliah, dan teman-teman perempuan satu per satu menikah—lagu pindah ke tempat jauh bersama suami mereka—saya merasa kehilangan. Tidak ada lagi teman yang bisa saya datangi ketika ingin curhat, tidak ada lagi teman perempuan yang benar-benar tahu cara mendengarkan.

Lebih dari itu, setelah tidak kuliah, mendapat teman perempuan rasanya sulit sekali. Setidaknya bagi saya.

Kalau di masa kuliah dulu, saya memiliki banyak teman perempuan, karena kampus mempertemukan kami. Di luar kampus, beberapa acara tertentu juga sering mempertemukan saya dengan kawan baru (lelaki atau pun perempuan) dari kampus lain, lalu kami akrab dan berteman. Jadi, selama masa kuliah, mendapatkan teman perempuan bisa dibilang sangat mudah.

Tetapi, setelah tidak lagi kuliah, saya kesulitan mendapat teman perempuan. Mau mencari teman perempuan di mana?

Kalau saya bekerja di suatu kantor atau perusahaan tertentu, mungkin ada kesempatan yang mempertemukan saya dengan teman-teman perempuan, yang juga bekerja di tempat sama. Susahnya, dalam hal ini, saya tidak bekerja di kantor atau perusahaan mana pun, tapi bekerja di rumah sendiri. Akibatnya, saya tidak punya teman blas! Sekalinya curhat, saya curhat pada termos!

Di lingkungan sekitar—khususnya lingkungan pertemanan—kadang saya menemukan perempuan yang asyik, dan berharap bisa berteman dekat dengannya, sebagai pengobat kerinduan pada teman perempuan. Tetapi, sial, setiap kali saya ingin dekat, selalu disangka sedang pedekate! Ending-nya benar-benar tidak enak. Saya bermaksud berteman, dia berharap jadian.

Peristiwa semacam itu bukan terjadi satu dua kali. Tapi berkali-kali. Sebegitu sering, hingga saya sampai trauma. Ketemu perempuan yang asyik, saya dekati dengan harapan bisa berteman... eh, dia mengira saya pedekate. Selalu begitu. Dan selalu begitu yang terjadi. Jika saya teruskan, dia akan berharap jadian. Jika saya berhenti, dia menuduh saya PHP. Jadinya serbasalah.

Kenyataan itu jelas berbeda ketika masa kuliah dulu. Di kampus, pertemanan bisa terjadi secara alami, termasuk dengan teman perempuan. Saat kami perlahan makin akrab, semuanya berlangsung secara alami, sehingga tidak ada satu pihak yang salah sangka. Saya murni bermaksud berteman, mereka juga menyadari kalau hubungan kami memang berteman.

Hal semacam itu sulit terjadi di luar kampus, setidaknya yang saya alami. Setelah tidak lagi kuliah, menemukan teman perempuan rasanya sulit sekali.

Kini, sudah bertahun-tahun saya tidak lagi berteman dengan perempuan, hingga kadang saya lupa bagaimana menghadapi perempuan.

Sekarang, kalau sedang ingin curhat, atau ingin ngobrol mendalam, saya pun mencurahkannya dalam tulisan. Sebagian dari hasil curhat itu ada yang saya unggah ke blog ini, sebagian lagi hanya saya baca sendiri. Kalau sedang malas menulis, saya curhat ke termos. Setidaknya, termos tidak akan menyangka saya pedekate, apalagi berharap jadian.

Indahnya Pernikahan Dini yang Ngapusi

"Menikah dini sungguh indah, karena memungkinkanmu pacaran secara halal, dan kau bisa bersama orang yang kaucintai siang malam, tanpa khawatir ada penggerebekan."

Oh, well, betapa indahnya pernikahan dini.

Prahara rumah tangga Taqy dan Salma tidak hanya menunjukkan realitas dari pernikahan dini, tapi juga menunjukkan betapa riskan hubungan cinta yang hanya berdasar kesan di dunia maya. Mereka hanya saling kenal di dunia maya, lalu merasa "cinta", dan... well, kau tahu lanjutannya.

Sebagian orang memuja pernikahan dini, tanpa menyadari bahwa hal-hal yang bersifat "dini" rentan mengandung masalah. Salah satunya... perceraian dini. Mohon maaf sebelumnya, menikah tiga bulan lalu cerai, itu apa namanya kalau bukan perceraian dini?

Dalam video, Awkarin bertanya pada Salma, bagaimana dia bisa menikah dengan Taqy. Salma bercerita, dia sampai istikharah berkali-kali, memastikan Taqy adalah jodohnya, dan takdir pun menjodohkan mereka hingga bisa menikah dini. Cerita yang indah... kalau saja mereka tak bercerai.

Mungkin, jumlah perceraian dapat berkurang drastis, kalau saja setiap orang diberitahu sulit dan beratnya membangun rumah tangga. Yang jadi masalah, mereka tidak pernah diberitahu, tapi justru dikibuli. Akibatnya, begitu menikah, mereka pun kecewa karena sadar telah dibohongi.

Orang-orang mengiming-imingi indahnya pernikahan, tentang kebahagiaan, dan taik kucing lainnya, yang terdengar seperti angin sorga. Kelak, kalau kau menikah, buktikan apakah semua bualan itu benar... dan kemungkinan besar kau akan kecewa, karena ternyata bualan belaka.

Kalau dipikir-pikir, pernikahan jadi seperti MLM. Yang belum mengalami, diiming-imingi aneka macam bualan, dari kebahagiaan sampai lancar rezeki. Begitu sudah mengalami, dan menyadari beratnya beban, mereka hanya bisa diam, karena malu kalau harus berterus terang. Karena tertipu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 Desember 2017.

Jualan Angin Sorga Bernama Perkawinan

Yang selama ini gembar-gembor "menikah akan membuatmu tenteram, bahagia, dan melancarkan rezeki", mana suaranya...? » Faktor Finansial yang Memicu Perceraian dan Pembunuhan

"Mereka yang bercerai, atau mengalami masalah KDRT, itu cuma kasuistis."

Kasuistis ndasmu! Kasuistis itu kalau hanya terjadi satu dua kali. Sudah ratusan sampai ribuan kasus, masih bilang kasuistis.

"Masalah rumah tangga sebaiknya tidak diomongkan ke orang lain."

Kedengarannya bagus. Yang jadi masalah, mereka terus ngibul dan membohongi orang-orang tentang indahnya berumah tangga, seolah menikah adalah kunci pasti hidup bahagia. Benar-benar standar ganda yang menjijikkan.

Orang-orang jujur di zaman dulu kerap menasihati, "Carilah pasangan yang mau diajak hidup susah." Nasihat itu dengan jelas memberitahu bahwa pernikahan akan menghadapi banyak masalah, cobaan, dan kadang penderitaan... tidak hanya berisi "bahagia, tenteram, dan lancar rezeki".

Hanya ada dua orang di dunia ini yang mengatakan "menikah itu indah". Satu, orang yang ingin menutupi realitas pernikahannya yang menyedihkan sambil ingin merendahkanmu. Dua, orang yang ingin menjual sesuatu atau berharap kau menyukainya sehingga mau membeli sesuatu yang ia jual.

Pernikahan di zaman sekarang telah mengalami komodifikasi, dan dijual sebagai bagian dari industri. Akibatnya, sebagaimana para penjual yang ingin dagangannya laku, para pembual itu pun ngibul tentang "indahnya pernikahan" sembari menutupi borok dan masalah yang mungkin terjadi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Desember 2017.

Senin, 02 September 2019

Hidup Terlalu Singkat, Urusan Terlalu Banyak

Alangkah banyak yang harus kukerjakan.
Makin sedikit waktu yang kumiliki.
@noffret


Jika diukur menggunakan skala gaya hidup orang-orang modern—khususnya dalam penggunaan teknologi untuk komunikasi—bisa dibilang saya “masih terbelakang”. Sampai saat ini, saya belum pernah menggunakan BBM, WA, Line, atau semacamnya. Jika butuh komunikasi, saya menelepon secara “konvensional”, atau menggunakan SMS.

Dari dulu, terus terang, saya memang tidak tertarik menggunakan sarana komunikasi semacam BBM, WA, atau semacamnya. Jika ada teman ingin menghubungi saya, mereka harus menelepon, atau mengirim SMS. Ketika ada orang yang tanya berapa nomor WA atau PIN BBB, saya pun menjawab, “Maaf, aku tidak pakai WA dan BBM.”

Ketidaktertarikan saya pada sarana komunikasi semacam BBM atau WA, karena sarana-sarana itu memungkinkan kita untuk “melakukan hal-hal tidak penting yang membuang-buang waktu”. Sudah biasa saya mendapati teman atau orang lain yang bilang (dengan nada mengeluh) kalau pesan di WA-nya bertumpuk-tumpuk. Bangun tidur, mengecek ponsel, dan mendapati ada ratusan pesan di WA. Saban hari begitu.

Tak jauh beda dengan BBM, dan sarana “komunikasi modern” lain. Semua memungkinkan penggunanya untuk melakukan hal-hal tidak penting, remeh-temeh, yang hanya menghabiskan waktu dan usia secara sia-sia.

Tentu saja tidak masalah, kalau orang memang punya waktu untuk hal-hal semacam itu, wong itu pilihan mereka. Saya pikir, UUD ’45 dan Pancasila juga tidak melarang orang menggunakan WA dan semacamnya. Menggunakan WA dan BBM atau tidak, hanya soal pilihan. Dalam hal ini, saya memilih untuk tidak menggunakan. Alasannya sepele, karena tidak punya waktu untuk dibuang-buang!

Jika ada sesuatu yang sangat... sangat saya sesali dalam hidup, itu adalah waktu saya di masa lalu yang terbuang sia-sia. Dulu, sejak remaja sampai masa kuliah, saya sering membuang dan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang—jika dipikir sekarang—tidak bermanfaat. Malam Tahun Baru, misal, saya nongkrong semalaman bersama teman-teman. Begitu pula pas hari-hari besar lain. Di lain waktu, saya jalan-jalan tanpa tujuan, keluyuran tanpa tujuan, dan semacamnya.

Jika mengingatnya sekarang, saya benar-benar menyesali yang telah saya lakukan. Sebegitu menyesal, hingga tidak ingin mengulang. Karena penyesalan itu pula, saya pun kini sangat hati-hati dalam menggunakan waktu. Saya sudah tidak punya waktu sedikit pun untuk acara tidak jelas di malam Tahun Baru, atau jalan-jalan tidak jelas ke mana pun, atau menghadiri acara-acara yang sama tidak jelas. Usia terus bertambah—dan itu artinya waktu saya makin sempit—sementara urusan hidup makin banyak.

Setiap hari, saya hanya berdiam di rumah. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, saya hanya berkutat mengurusi urusan dan kesibukan saya sendiri. Karena tidak ada orang lain di rumah, saya memiliki waktu sepenuhnya tanpa terganggu apa pun atau siapa pun. Tujuan saya hanya menyelesaikan tugas, urusan, dan pekerjaan yang menggunung.

Tetapi bahkan telah habis-habisan menggunakan waktu untuk bekerja, saya terus kekurangan waktu, sementara urusan yang harus saya tangani tak pernah habis. Padahal, saya bekerja sampai 14 jam setiap hari, tanpa libur, tanpa cuti, apalagi liburan panjang. Oh, well, saya bahkan benci hari libur, apalagi liburan panjang, karena hanya menghambat urusan saya!

Karena itulah, saya tidak berminat sama sekali menggunakan WA, BBM, atau sarana komunikasi semacamnya, karena hanya akan menyita waktu untuk hal-hal yang belum tentu penting. Bahkan, di dunia maya, saya tidak terlalu berminat menggunakan media sosial, meski memiliki akun di Twitter. Omong-omong, itu satu-satunya akun media sosial yang saya miliki.

Saya tidak terlalu tertarik menggunakan media sosial di internet, karena latar belakang yang sama. Twitter, Facebook, dan semacamnya, hanya menyita waktu untuk hal-hal tidak jelas, yang—bisa jadi—kelak akan saya sesali. Jika butuh komunikasi di internet, saya menggunakan e-mail. Di e-mail, setidaknya, orang tidak menulis sesuatu yang sia-sia (meski ada pula yang begitu). Terkait hal itu, saya tidak pernah tertarik mengurusi e-mail yang isinya tidak jelas!

Omong-omong soal ini, saya jadi perlu menjelaskan hal lain. Di internet, bisa jadi ada orang-orang yang mengira atau menganggap saya angkuh atau bahkan antisosial, karena bisa dibilang tidak pernah—atau jarang—berkomunikasi dengan siapa pun, dan tidak pernah bertemu dengan siapa pun. Urusan itu terlalu kompleks penjelasannya.

Well, saya ada di internet—menulis di blog dan sesekali mencuit di Twitter—memang tidak bertujuan untuk eksis! Saya aktif menulis di blog bukan karena ingin terkenal, tapi karena butuh tempat untuk menuang (atau membuang) kegelisahan dalam pikiran. Saya punya akun di Twitter, terus terang, juga karena alasan serupa. Bukan karena ingin terkenal atau jadi selebtwit, atau ingin punya pacar, atau ingin punya banyak teman, dan semacamnya.

Latar belakang itulah yang menjadikan saya tidak terlalu aktif berkomunikasi dengan orang lain. Karena saya memang tidak punya tujuan untuk eksis! Orang mau mengenal saya, ya silakan, tidak mengenal juga tidak apa-apa.

Jika memang ada sesuatu yang ingin saya tanyakan atau katakan pada seseorang di Twitter, misalnya, saya akan melakukannya. Kalau dia membalas, ya syukur, kalau tidak ya tidak apa-apa. Yang jelas, saya tidak melakukannya untuk basa-basi. Karena saya memang tidak bisa (dan bingung) kalau harus berbasa-basi.

Sebaliknya, kalau ada orang di Twitter menyapa atau menanyakan sesuatu pada saya, sebisa mungkin saya akan membalas atau menjawab. Kalau tidak bisa menjawab, juga tidak apa-apa. Kadang-kadang saya memang bingung saat harus merespons sapaan yang sifatnya basa-basi.

Mungkin orang-orang lain aktif di dunia maya untuk tujuan eksis, tapi saya tidak punya tujuan semacam itu. Saya hanya melakukan yang ingin saya lakukan... di sela-sela waktu yang saya miliki. Orang lain menganggap saya ada atau tidak ada, sama sekali tidak pernah merisaukan saya.

Noffret’s Note: IPCC

Rasanya frustrasi setiap kali membaca uraian ilmiah mengenai perubahan iklim, tapi sumbernya IPCC. Meski berada di bawah PBB, IPCC adalah organisasi bermasalah, dan sarat kepentingan. Segelintir ilmuwan yang benar-benar "netral" lebih memilih tidak bergabung dengan mereka.

Dalam deskripsi formal, "Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) atau Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim adalah panel ilmiah yang terdiri dari para ilmuwan dari seluruh dunia."

Tambahan informal, "Yang bisa dikendalikan". Itu sebenarnya sudah rahasia umum.

Karenanya, membaca "penelitian terkait iklim" yang dirilis IPCC tak jauh beda kalau kita membaca artikel/berita yang sumbernya Dailymail. Antara bisa dipercaya dan tidak. Dailymail sering ngawur dan "mengarang bebas" demi bisnis. IPCC? Sebelas dua belas, meski terdengar ilmiah.

....
....

Sambil nunggu ngantuk, aku mau ngoceh.

Ada yang heran, "IPCC itu kan organisasi para ilmuwan dari seluruh dunia. Mosok ilmuwan segitu banyaknya bisa dikendalikan?"

Biar kuluruskan. Meski disebut "dari seluruh dunia", tapi ilmuwan yang jadi anggota IPCC hanya 3.000-an.

Dari 3.000-an anggota IPCC, semuanya juga bukan dari kalangan ilmuwan/peneliti, tapi juga terdiri dari para birokrat!

Sekadar FYI, jumlah ilmuwan (terakreditasi) di seluruh dunia mencapai ratusan ribu. Dari ratusan ribu itu, jumlah 3.000 anggota IPCC tentu sangat kecil.

Sekadar ilustrasi atau perbandingan, anggota Mensa mencapai 100.000-an, yang berasal dari berbagai negara di dunia.

Bagi yang mungkin belum tahu, Mensa adalah organisasi yang mewadahi orang-orang yang memiliki IQ tertinggi di dunia (yang populasinya hanya 2% di planet ini).

Kembali ke IPCC. Organisasi ini dibentuk PBB pada akhir '80-an, dengan tujuan untuk mempelajari riset-riset terkait iklim bumi, dan melakukan pemetaan yang akan diterbitkan beberapa tahun sekali. Tujuannya baik. Tapi IPCC lalu berubah jadi organisasi penuh skandal dan kebohongan.

Pada 1990, IPCC telah mengumpulkan berbagai riset dari para ilmuwan di seluruh dunia, terkait iklim bumi. Waktu itu, mayoritas ilmuwan telah menyatakan bahwa mereka tidak bisa mendeteksi pengaruh manusia terhadap iklim, meski banyak pihak meyakini keduanya memiliki keterkaitan.

Mestinya, IPCC menyampaikan hal itu secara jujur kepada PBB, karena memang untuk tujuan itulah mereka dibentuk. Tapi tidak. Alih-alih menyampaikan laporan apa adanya, IPCC justru melakukan sesuatu yang sangat fatal sekaligus memalukan, yang belakangan menjadi skandal kebohongan.

Pada 1995, IPCC mengadakan sidang dengan para ilmuwan dari seluruh dunia, yang menghasilkan kesimpulan tetap bahwa mereka SULIT MENDETEKSI PENGARUH MANUSIA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM. Waktu itu, para ilmuwan yang hadir dalam sidang dengan tegas menyatakan, "Kami tidak tahu."

Kesimpulan mengenai sidang itu pun kemudian ditulis, yang akan diserahkan sebagai laporan untuk PBB. Berkas dokumen itu dengan jelas dan gamblang menyatakan bahwa para ilmuwan tidak bisa mendeteksi pengaruh manusia terhadap iklim. Semua yang hadir menjadi saksi dokumen tersebut.

Tetapi, ketika para ilmuwan dalam sidang telah pulang semua, IPCC menghapus dan mengubah isi laporan tersebut dengan menyatakan bahwa mereka telah menemukan bukti-bukti pengaruh nyata manusia terhadap iklim!

Itu penyelewengan besar sekaligus skandal pertama yang dilakukan IPCC.

Dalam laporan yang diserahkan kepada PBB, IPCC menyatakan bahwa mereka telah menemukan bukti-bukti pengaruh nyata manusia terhadap perubahan iklim, yang dibuktikan dengan berkas laporan yang mereka klaim sebagai kesimpulan para ilmuwan yang ikut bersidang.

Akibatnya? Geger!

Kebohongan yang dilakukan IPCC menghasilkan skandal luar biasa besar dalam dunia ilmu pengetahuan, sekaligus awal sejarah dusta paling terkenal. Perubahan isi dokumen yang dilakukan IPCC seenaknya itu kemudian memicu konflik antarilmuwan, dan konflik itu benar-benar panas.

Waktu itu, di depan sidang PBB, para ilmuwan terpecah. Yang pro dan kontra saling berhadapan, dalam arti sebenarnya. Mereka bertengkar, saling ribut, bahkan nyaris adu hantam. Para ilmuwan yang jujur merasa telah difitnah dan dimanfaatkan oleh IPCC dalam kesimpulan ngawur itu.

Inilah asal usul munculnya isu pemanasan global—sesuatu yang, sayangnya, jarang diketahui masyarakat umum.

Jadi, sejak awal, IPCC memang telah siap meluncurkan isu itu, dan mereka membangun legalitas dengan cara bersidang dengan para ilmuwan, yang belakangan mereka manipulasi.

Setelah melakukan skandal dan kebohongan tadi, apakah IPCC berhenti melakukan kebohongan? Tidak! Setelah itu, mereka masih terus melakukan serangkaian skandal lain (kalian bisa googling sendiri). Para ilmuwan pun akhirnya sadar, IPCC bukan lembaga ilmiah, tapi organisasi politik.

Yang menjadi masalah di sini, IPCC adalah lembaga di bawah PBB. Akibatnya, mereka memiliki kekuatan untuk memaksakan opininya, sengawur apa pun. Dan siapa yang tidak percaya? Menuduh mereka berbohong, sama absurdnya dengan menuduh WHO atau FAO atau UNICEF atau UNESCO berbohong.

Itulah kenapa, di awal ocehan ini aku mengatakan, aku frustrasi kalau membaca uraian ilmiah mengenai perubahan iklim, tapi sumbernya IPCC. Kalau sumbernya "hasil penelitian" bocah-bocah IPCC, yo kesimpulannya mesti begitu, wong mereka memang maunya begitu. Lha piye maneh?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2-3 Maret 2018.

Akhir Pekan yang Sempurna

Minggu siang, kepala berat berdenyut-denyut, dan tumpukan pekerjaan yang menggunung. Akhir pekan yang sempurna.

"Kamu stres? Mungkin kurang liburan, tuh. Bagaimana kalau kita piknik?"

"Piknik? Oh, tolong tawarkan hal lain yang lebih menarik bagiku."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Oktober 2018.

Rabu, 28 Agustus 2019

Hak untuk Hening

Magrib yang hening sepertinya kini tinggal sejarah,
karena usai magrib kini menjadi saat-saat yang bising.
@noffret


Jika membicarakan pro-kontra siaran televisi, kita sering harus membicarakan frekuensi publik. Karena hak frekuensi publik itu pula, televisi (seharusnya) tidak seenaknya menyiarkan acara-acara tidak bermutu, yang tidak memiliki manfaat jelas untuk kemaslahatan publik. Karena frekuensi yang digunakan televisi untuk penyiaran adalah milik publik. Dalam hal itu, televisi “meminjam” frekuensi yang dimiliki publik.

Frekuensi publik bisa menjadi analogi yang bagus untuk sesuatu yang juga menjadi hak milik kita, yaitu hak untuk hening.

Setiap orang, setiap kita, punya hak untuk menikmati dan menjalani kehidupan dengan hening, tanpa terganggu suara-suara bising. Masyarakat—kita semua—punya hak untuk menjalani kehidupan dengan tenang, tanpa terganggu suara-suara yang tak sepantasnya.

Karena adanya hak untuk hening itu pula, kita pun mengembangkan adab terkait suara. Misal, di rumah kita ada hajatan pernikahan, yang diramaikan suara musik. Dalam hajatan semacam itu, suara musik biasanya terus terdengar, dari pagi sampai siang, sampai malam. Tetapi, ketika malam mulai larut, kita pun sadar diri untuk mematikan suara. Tujuannya agar tidak menganggu orang lain yang akan tidur dan beristirahat.

Adanya kesadaran semacam itu, sebenarnya, bukan semata karena etika, melainkan juga karena kesadaran bahwa kita “meminjam” keheningan orang lain untuk kita isi dengan kebisingan, akibat adanya hajatan. Karena meminjam, kita pun tidak akan terus menerus memakainya. Begitu hajatan selesai, kebisingan pun hilang, dan kita “mengembalikan” keheningan milik orang lain, sebagaimana sebelumnya.

Tanpa kesadaran semacam itu, kita akan seenaknya memutar musik keras-keras sampai larut malam, setiap hari, tak peduli ada hajatan atau tidak. Tanpa adanya etika dan kesadaran, kita bisa saja berpikir, “Bodo amat, aku menyetel musik di rumahku sendiri. Kalau mereka merasa terganggu, itu bukan urusanku!”

Sebaliknya, tetangga-tetangga kita juga akan memaklumi kalau sewaktu-waktu kita menyetel musik dengan volume keras, pas ada hajatan. Mereka memaklumi, karena berpikir, “Yeah, namanya juga sedang hajatan. Wajar kalau ada suara musik sampai keras.”

Jadi, meski mereka mungkin terganggu karena suara musik yang memekakkan telinga, mereka tidak marah. Mereka berpikir, “Toh nanti, kalau hajatannya selesai, musiknya juga akan berhenti.”

Tetapi, kalau di rumah kita tidak ada hajatan atau acara apa pun, lalu kita memutar musik sangat keras sampai terdengar hingga radius puluhan meter, dan hal itu kita lakukan setiap hari, tetangga-tetangga kita bisa ngamuk.

Mereka marah, karena merasa terganggu, terusik, dan tidak bisa menjalani kehidupan dengan tenang. Mereka punya hak untuk hening, untuk menikmati ketenangan, dan kita memperkosa hak mereka dengan menyetel musik sangat keras. Tanpa etika dan kesadaran, orang sebaiknya tinggal di hutan.

Etika dan kesadaran, itulah nilai yang membedakan manusia dengan hewan. Etika untuk tidak memperkosa hak orang lain—termasuk hak untuk hening—serta kesadaran untuk tidak mengganggu kehidupan dan ketenteraman orang lain.

Ketika ada acara hajatan, kita menyetel musik dengan keras. Tetapi, ketika malam mulai larut, kita mematikan suara musik. Itu menunjukkan bahwa kita punya etika. Karena kita punya etika, orang lain pun tidak marah, karena mereka menyadari adanya suara-suara keras sebab ada hajatan.

Tetapi, jika kita tidak menggunakan etika, orang lain juga akan kehilangan kesabaran. Sudah larut malam, tapi musik masih terus berdentam-dentam keras. Orang lain juga akan marah dan melabrakmu, karena merasa haknya diinjak-injak seenaknya. Hak untuk tenang, hak untuk tidur, hak untuk istirahat, hak untuk hening.

Urusan seperti ini sebenarnya “pelajaran dasar” yang mestinya telah kita ketahui bersama, sejak puber. Karena etika dan kesadaran adalah dua hal yang mestinya sudah “default” dengan kemanusiaan kita. Karena itu pula, meski mungkin tidak ada yang mengajari, kita bisa paham sendiri.

Sedari kecil sampai dewasa, mungkin, tidak pernah ada orang yang memberitahu, “Kalau sudah larut malam, matikan musik, agar tidak menganggu orang lain.” Tetapi, meski tidak ada yang memberitahu, kita bisa tahu, dan paham untuk mematikan musik saat malam mulai larut, agar tidak mengganggu orang lain. Karena etika dan kesadaran memang pelajaran dasar yang (mestinya) sudah menancap secara default dengan setiap manusia.

Meski begitu, kadang ada masalah, karena orang tanpa etika dan tak punya kesadaran bisa muncul di mana saja. Misal, ada orang yang merasa dirinya kaya-raya. Ketika punya hajatan di rumahnya, seminggu penuh, dia menyetel musik dari pagi sampai pagi lagi, tanpa henti, dengan volume yang terus memekakkan telinga. Dia mungkin berpikir, “Aku orang paling kaya di sini, yang saban tahun membagi zakat bagi setiap orang yang bernapas di sekelilingku. Kalau ada yang tidak terima, silakan temui aku.”

Mungkin para tetangga memang tidak ada yang berani menegur. Bisa karena segan atau pekewuh, bisa pula karena berpikir, “Aku bisa mati kalau berani menegurnya.”

Jadi, meski mungkin terganggu akibat kebisingan tanpa henti, masyarakat pun memilih diam, karena segan atau takut. Memang tidak ada keributan, karena tidak ada orang yang menegur, tidak ada orang yang marah-marah, pendeknya suasana tampak damai seperti biasa.

Tetapi, ada hal penting yang terjadi di sini, yaitu hilangnya etika dan kesadaran, khususnya etika dan kesadaran si pelaku kebisingan.

Jika dia punya etika dan kesadaran, dia akan mematikan atau setidaknya melirihkan suara musik saat malam mulai larut, tak peduli sekaya apa pun dirinya. Persetan, memangnya sekaya apa manusia yang merasa berhak mengganggu ketenangan hidup orang lain?

Bahkan, kalau saja dia mau menjaga etika dan memelihara kesadarannya—tak peduli sekaya apa pun dia—orang-orang akan lebih menghormati. Masyarakat akan berpikir, “Dia orang kaya yang rendah hati, mau tepo sliro dengan masyarakatnya. Meski kaya-raya, dia tidak seenaknya.”

Sebaliknya, jika karena merasa kaya lalu berbuat seenaknya, masyarakat pun berpikir, “Dia mungkin merasa bebas seenaknya, karena merasa kaya. Dasar bangsat! Semoga cepat mati keparat itu!”

Jika kita menghilangkan etika dari diri kita, orang lain pun sama. Jika kita melepas kesadaran dari hidup kita, orang lain pun sama.

Sama seperti televisi yang menayangkan siarannya dengan meminjam frekuensi publik, kita menayangkan kebisingan dengan meminjam frekuensi milik masyarakat sekitar. Mereka—masing-masing orang di sekitar kita—punya hak untuk hening, hak untuk merasa tenang, hak untuk tidak terganggu, hak untuk tenteram dalam keheningan. Karenanya, kita tidak bisa seenaknya menguarkan kebisingan.

Karenanya pula, saya sering prihatin dengan masjid atau musala yang terkesan “seenaknya” dalam mengumbar kebisingan TOA. Masyarakat sekitar tentu memaklumi kalau masjid atau musala mengumandangkan azan, lima kali sehari.

Tetapi, jika di luar azan itu terus menerus ada kebisingan, masyarakat bisa terganggu. Suara keras yang selalu terdengar lima kali setiap hari, sepertinya sudah cukup. Tidak perlu ditambahi lagi dengan aneka suara lain yang terus menerus dikeraskan TOA. Karena berbau agama atau tidak berbau agama, kebisingan tetap kebisingan. Mau pengajian atau pasar malam, suara keras yang terus menerus bisa mengganggu kehidupan.

Jika selama ini masyarakat sekitar hanya diam dan tampak tidak terganggu, belum tentu kenyataannya memang begitu. Bisa jadi, mereka sebenarnya terganggu, tapi memilih diam. Ini mirip kasus orang kaya-raya yang menyetel musik keras seenaknya, dan para tetangga merasa segan saat ingin menegur.

Mereka pun diam, tapi bukan berarti mereka senang. Selalu ada kemungkinan orang-orang yang berpikir, “Bagaimana pun, mereka mayoritas, dan mungkin merasa bisa berperilaku seenaknya.”

Jadi, daripada menimbulkan keributan, mereka memilih mengutuk dalam diam.

Agama dan Perkawinan

Agama sebenarnya baik, dan mengajarkan banyak hal baik. Yang menyebalkan adalah orang-orang “mabuk agama”, yang memaksakan kehendaknya dengan dalih agama. Merekalah yang menjadikan citra agama justru rusak.

Tak jauh beda dengan perkawinan. Sebenarnya, perkawinan adalah konsep yang baik. Tapi konsep yang baik itu dirusak oleh orang-orang yang doyan membual tentang angin sorga demi menyuruh-nyuruh siapa pun cepat menikah. Akibatnya, citra perkawinan justru tampak tidak baik.

Aku percaya agama mampu memperbaiki akhlak manusia, tapi agama yang introspektif, bukan agama yang dikoar-koarkan pada orang lain. Aku juga percaya perkawinan bisa mematangkan pikiran manusia, tapi perkawinan yang dilakukan dengan kesadaran, bukan perkawinan bermodal omong kosong.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Januari 2019.

Berlomba Dalam Kebisingan

Sejujurnya aku gak heran kalau ada orang nonmuslim merasa gak nyaman berdampingan dengan muslim. Wong yang sesama muslim aja kadang juga merasakan hal yang sama. Ini memang realitas pahit yang mestinya jadi bahan introspeksi orang muslim, untuk lebih bisa menerima perbedaan.

Aku pernah menemani teman nyari perumahan, dan kami mendatangi kompleks perumahan baru. Tapi temanku seketika kehilangan selera waktu tahu itu "perumahan islami".

Dia bilang blak-blakan, "Tempatku yang gak islami aja segitu bisingnya, apalagi ini yang jelas perumahan islami?"

Temanku ini muslim, bahkan tergolong alim. Tapi dia tipe orang yang beragama untuk diri sendiri, bukan orang yang menjadikan agama sebagai ajang pameran atau untuk "gagah-gagahan". Dia muak dengan lingkungannya yang "sok agamis" dengan toa yang terus membahana dan bising.

Di tempat tinggalku saat ini sudah sulit menemukan lingkungan yang tenang, dengan kebisingan yang minim. Karena semua tempat nyaris dikuasai toa yang tanpa henti. Fastabiqul khairat (berlomba melakukan kebaikan) tampaknya telah berubah menjadi berlomba dalam unjuk kebisingan.

Boleh percaya boleh tidak, lokasi-lokasi di tempat tinggalku yang paling hening hanya ada di perumahan-perumahan elit (yang penduduknya heterogen), yang harga rumahnya mencapai miliaran. Bagiku, ini ironis. Betapa untuk menikmati keheningan saja, kita harus membayar mahal.

Di suatu pertigaan yang ramai, aku mendapati baliho raksasa berisi tulisan, "MARI SHOLAT BERJAMAAH KE MASJID". Sejak pertama kali melihat baliho itu, aku merasakan "sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana". Dan aku gelisah sampai lama.

Setelah beberapa bulan melakukan investigasi (dan ini investigasi yang sangat sulit, karena semua orang memilih bungkam, atau tidak bisa memahami kegelisahanku), akhirnya aku menemukan orang yang tahu dan mau membuka mulut untuk menjelaskan "apa yang sebenarnya terjadi".

Dan apa yang sebenarnya terjadi? Jawabannya mengejutkan—bahkan di luar perkiraanku. Kapan-kapan, mungkin, akan kutulis di blog, agar kalimatku lebih tertata. Intinya, semua yang terjadi saat ini, termasuk kebisingan di mana-mana, tidak terjadi begitu saja. Itu memang disengaja.

"Sesuatu telah mengeksploitasimu," kata bocah zaman kuno di keheningan, "dan tugasmu seumur hidup adalah berusaha melepaskan eksploitasi itu dari kebodohanmu."

Yang menggelisahkan adalah... bagaimana jika sesuatu yang mengeksploitasimu itu begitu kauyakini sebagai "kebenaran"?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Mei 2019.

Kamis, 22 Agustus 2019

Pengantin Sunyi

Kenapa di acara resepsi perkawinan selalu ada musik
yang keras memekakkan telinga?
@noffret


Selain tidak tertarik pada perkawinan, hal lain yang membuat saya makin tidak berminat menikah adalah... karena urusan perkawinan identik dengan keramaian dan kebisingan!

Di Indonesia, setidaknya di lingkungan saya, acara perkawinan selalu diadakan dengan gegap gempita. Dari urusan pertunangan sampai resepsi perkawinan, sampai hal-hal ikutannya. Semuanya ramai, melibatkan banyak orang, dan—saat resepsi perkawinan—kebisingan terdengar nyaris tanpa henti.

Saya kurang tahu bagaimana adat atau budaya perkawinan di tempat-tempat lain. Namun, karena saya tinggal di lingkungan Jawa, seperti inilah kira-kira adat perkawinan di tempat tinggal saya. Agar uraian ini tidak bertele-tele—karena sebenarnya urusan ini memang sangat bertele-tele—kita skip saja pada bagian terpenting, yaitu akad dan resepsi perkawinan.

Setelah masing-masing pihak—keluarga mempelai pria dan keluarga mempelai wanita—menentukan hari H perkawinan, masing-masing rumah mempelai akan menggelar keramaian. Pagi hari, biasanya, di rumah mempelai pria maupun wanita menggelar acara sendiri-sendiri (biasa disebut walimah nikah).

Setelah acara walimah nikah di rumah mempelai pria selesai, maka mempelai pria—beserta rombongan—datang ke rumah mempelai wanita. Di rumah mempelai wanita, acara yang sama (walimah nikah) sedang berlangsung. Dan di rumah mempelai wanita itulah akad nikah dilakukan, dengan saksi dan penghulu dari Kantor Urusan Agama.

(Saat ini, sebagian mempelai ada pula yang melakukan akad nikah di KUA langsung—untuk memangkas biaya. Jika opsi ini yang dipilih, biasanya mempelai pria tetap akan datang ke rumah mempelai wanita, lalu menjemput mempelai wanita untuk pergi ke KUA).

Setelah itu, dua pasang anak manusia pun sah dan resmi menjadi pasangan suami istri. Tapi urusan ini belum selesai.

Siang hari, atau malam harinya, digelar resepsi. Urusan resepsi ini biasanya diadakan di tempat mempelai wanita, atau di gedung tertentu. Resepsi itu dihadiri banyak orang, tentu saja—dari tetangga kanan kiri, saudara dan famili, handai taulan, teman-teman, rekan kerja, dan lain-lain—dari pihak mempelai pria maupun dari pihak mempelai wanita. Jadi, biasanya, ada banyak sekali orang yang tumplek blek di acara resepsi.

Usai resepsi, mempelai pria biasanya tinggal dulu di rumah mempelai wanita. Tiga hari atau seminggu kemudian, si pria akan memboyong mempelai wanita yang kini menjadi istrinya, ke rumahnya sendiri... atau ke rumah orang tuanya. Dalam urusan itu, terjadi keramaian lagi.

Ketika si pria memboyong pasangan wanitanya, orang-orang (dari pihak si wanita) akan ikut mengantarkan. Mereka terdiri dari tetangga, saudara, famili, dan orang-orang terdekat.

Sementara itu, di rumah mempelai pria, sudah disiapkan keramaian untuk menyambut hal tersebut. Ada yang sambutan ala kadarnya, ada pula yang berupa gelaran resepsi tersendiri. Kali ini, karena yang menggelar resepsi pihak orang tua si pria, tamu-tamu yang diundang pun kebanyakan berasal dari kenalan dan rekanan orang tua si pria.

Baru, setelah itu, keramaian surut perlahan-lahan. Saya sebut “surut perlahan-lahan”, karena memang tidak mudah menghilangkan “keramaian” usai acara pernikahan.

Setelah sepasang pria-wanita resmi menikah, tamu-tamu biasanya masih berdatangan, meski acara resepsi dan keramaian sudah usai. Tamu-tamu yang datang bisa saudara, famili, teman-teman, atau orang-orang yang dulu belum sempat datang waktu resepsi. Dalam istilah Jawa, hal semacam itu biasa disebut “tilik manten” (menjenguk pengantin.)

Sekitar satu bulan kemudian, biasanya, kedua mempelai baru bisa menjalani kehidupan tenang, tanpa ribut-ribut lagi. (Kali ini, bisa jadi, mereka akan ribut sendiri.)

Nah, selama urusan-urusan yang saya uraikan di atas dilangsungkan—dari akad nikah, resepsi, sampai si pria memboyong istrinya—kebisingan akan melanda bumi.

Suara musik—atau suara tetek bengek lain—akan dikeraskan loudspeaker-loudspeaker besar, dan selama itu pula para tetangga harus bersiap menahan kebisingan yang berlangsung tanpa henti. Dari pagi sampai nyaris pagi lagi, selama berhari-hari. Dari sebelum akad nikah, sampai sesudah akad nikah. Dari sebelum resepsi, sampai sesudah resepsi. Teruuuuuuus bising.

Kenapa acara demi acara itu harus dihiasi kebisingan? Karena orang-orang biasanya menganggap memang seperti itulah seharusnya acara perkawinan. Harus ada suara-suara keras—dari musik dan segala macam—sehingga orang-orang tahu bahwa di sana sedang ada acara (dalam hal ini perkawinan). Masyarakat akan menganggap aneh kalau kau menikah dan menggelar acara perkawinan, tapi di rumahmu tidak terdengar kebisingan.

Itulah yang menjadikan saya makin tidak berminat menikah. Satu, karena saya memang tidak tertarik menikah. Dua, karena urusan menikah terkait dengan kebisingan—sesuatu yang sangat saya benci. Jadi, saya benar-benar tidak minat menikah blas! Di mata saya, acara itu tidak ada menarik-menariknya! Wong ramai dan bising tanpa henti, di mana menariknya?

Selama ini, biasanya, orang menilai “keasyikan” acara perkawinan dari kemeriahannya. Semakin meriah, semakin bagus. Yang jadi masalah, kemeriahan identik dengan keramaian dan kebisingan. Akibatnya, saya makin “ngeri”.

Itulah kenapa, di Twitter saya pernah menulis, urusan perkawinan di Indonesia—khususnya di lingkungan saya—benar-benar ribet. Sebelum menikah, urusannya ribet luar biasa. Ketika pernikahan dilangsungkan, urusannya makin ribet. Bahkan setelah acara pernikahan usai, keribetan belum selesai. Padahal, saya benci hal-hal ribet! Saya mencintai hal-hal sederhana, yang jauh dari keribetan.

Terkait perkawinan, mungkin “resepsi perkawinan” terbaik yang saya tahu adalah perkawinan Mark Zuckerberg dengan Priscilla Chan. Ketika menikah, Zuckerberg sudah jadi miliuner. Tapi dia bocah sederhana yang menyukai hal-hal sederhana, termasuk dalam urusan perkawinan.

Kalau mau, Zuckerberg tentu bisa menggelar resepsi perkawinan besar-besaran, luar biasa meriah, di gedung luas nan mahal, dihadiri ribuan orang, dengan tamu yang mirip daftar Who’s Who, dan segenap tetek-bengek kemewahan lain.

Tapi bukan hal-hal semacam itu yang dilakukan Zuckerberg. Alih-alih menggelar resepsi perkawinan di gedung megah, dia menggelar acara perkawinan di halaman belakang rumahnya. Yang diundang juga hanya teman-teman dekat, serta keluarga dari kedua mempelai.

(Bahkan, ketika mengabari teman-teman dekat dan kerabat mereka untuk datang, Zuckerberg maupun Priscilla tidak menyatakan itu acara perkawinan. Yang mereka katakan, acara itu “syukuran atas lulusnya Priscilla dari Perguruan Tinggi”.)

Di halaman belakang rumah Zuckerberg, acara digelar sederhana. Orang-orang menikmati makanan, menyesap minuman, sambil bercakap-cakap dengan suara biasa. Tidak ada kebisingan apa pun. Itu hanya seperti pertemuan keluarga dan teman-teman dekat, yang ikut gembira karena Zuckerberg dan Priscilla Chan kini sudah menikah. Sudah, hanya itu. Tidak ada ribut-ribut, tidak ada tetek-bengek yang ribet.

Acara perkawinan seperti itulah, sebenarnya, yang juga saya inginkan... jika kelak saya ternyata menikah. Sederhana, tidak macam-macam. Tanpa suara atau musik yang dikeraskan loudspeaker mengguncang langit, tanpa kebisingan yang merusak hening bumi.

Perkawinan yang hening. Saya pikir, apa yang lebih khidmat dari itu?

Tetapi, jika acara perkawinan semacam itu yang saya inginkan, kemungkinan saya akan menghadapi masalah. Saya maupun calon istri mungkin bisa bersepakat untuk melangsungkan acara perkawinan dengan hening, tanpa ribut-ribut.

Tapi bagaimana dengan keluarga saya maupun keluarga calon istri? Kemungkinan besar, orang tua kami ingin acara perkawinan digelar meriah, ramai, plus kebisingan, seperti umumnya orang-orang. Oh, well, seperti umumnya orang-orang! Membayangkan kalimat itu saja, bayangan saya langsung buyar.

Jadi, hal-hal semacam itulah yang membuat saya makin tidak berminat pada pernikahan. Satu, karena saya memang tidak tertarik menikah. Dan dua, karena acara serta urusan perkawinan identik dengan keribetan serta kebisingan, padahal saya menyukai hal-hal sederhana, dan mencintai keheningan!

Hidup adalah soal pilihan, begitu pula pernikahan. Seharusnya, setiap orang bisa memilih menikah atau tidak, dan—jika memilih menikah—mereka juga berhak memilih untuk menggelar perkawinan dalam bising atau dalam hening. Tetapi, seperti biasa, “umumnya orang-orang” tidak menyadari bahwa hidup adalah soal pilihan. Karena memang, begitulah umumnya orang-orang.

Mau Kawin Ribet, Sudah Kawin Ribut

Lagi mikir. Orang-orang yang dapat jodoh dari luar pulau itu apa tidak ribet, ya? Wong berjodoh dengan orang dari luar kota saja sudah ribet, apalagi dari luar pulau? (Ditinjau dari sudut pandang pikiranku yang tidak suka hal-hal ribet).

Soalnya kultur di (sebagian) Indonesia suka hal-hal ribet, khususnya terkait perkawinan. Ada lamaran, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya, sampai tiba di pelaminan, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Itu sangat... sangat ribet.

Anak familiku akan menikah dalam minggu ini, dan urusannya tampak sangat ribet. Aku yang sekadar bantu-bantu saja sudah pusing. Padahal itu cuma pernikahan antarkota. Apalagi antarpulau...?

Udah kawinannya ribet, hasilnya malah kek gini » http://bit.ly/2s7PufX


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Januari 2018.

Noffret’s Note: Dagang Jiwa

Film-film pendek yang merekam peristiwa kerusuhan Mei '98 dan kisah penculikan aktivis itu bagus disebarkan, untuk mendidik mereka yang tidak tahu/tak mengalami. Tapi jika tujuannya cuma untuk menjatuhkan lawan politik, itu sama saja berdagang jiwa... dan, maaf, itu menjijikkan.

Film-film itu rata-rata disebarkan para pendukung Jokowi, dan di dalamnya tersirat tuduhan kepada Prabowo sebagai pelaku penculikan. Fine! Tetapi KALAU MEMANG BEGITU KENYATAANNYA, kenapa selama ini pemerintahan Jokowi terkesan mendiamkan dan cuek pada kasus penculikan/HAM itu?

Selama lima tahun berkuasa, pemerintahan Jokowi sama sekali tidak mengutik kasus itu, bahkan tampak tidak ada itikad untuk mengusutnya. Kini, giliran bersaing dengan Prabowo dalam perebutan pilpres, video (dan tuduhan) itu disebarkan untuk keperluan kampanye. Miris sekali...

Sebenarnya aku malas ngomong ginian, karena nanti bisa dituduh mendukung salah satu capres. In fact, aku tidak peduli urusan pilpres, dan aku sudah memilih golput. Tapi memanfaatkan penderitaan korban atau keluarga korban penculikan untuk tujuan kampanye itu sungguh tak bermoral.

Penyebaran video-video itu mungkin dimaksudkan untuk menjatuhkan integritas Prabowo. Tetapi, di mataku, penyebaran video itu justru menjatuhkan integritas Jokowi sendiri, karena seolah Jokowi menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan lawan, termasuk dengan memperdagangkan jiwa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 April 2019.

Sabtu, 17 Agustus 2019

Mata Hati

Jika Tuhan tidak ingin kita menggunakan pikiran,
mengapa Ia memberikannya kepada kita?
Galileo


Bayangkan saya punya tiga anak. Sebut saja, tiga anak saya bernama A, B, dan C. Ketika mereka beranjak dewasa, saya memberi uang untuk mereka, masing-masing 10 juta rupiah. Tidak banyak, tapi cukup untuk melakukan sesuatu.

Ketika memberikan uang tersebut, saya berkata pada tiga anak saya, “Uang ini kuberikan kepada kalian, dan menjadi hak kalian sepenuhnya. Tetapi, aku berpesan, sebaiknya jangan menggunakannya. Karena, ketika kalian menggunakan uang tersebut, aku mengkhawatirkan bahaya yang mungkin datang.”

Si A, anak pertama saya, tergolong anak yang sangat berbakti pada orang tua, dan sangat mematuhi apa pun yang dikatakan ayahnya. Jadi, ketika saya mengatakan agar jangan menggunakan uang tersebut, dia mematuhi, tanpa ribut-ribut. Dia percaya pada saya sepenuhnya, dan tidak meragukan apa pun yang saya katakan.

Ketika menerima uang yang saya berikan, dia berkata dalam hati, “Aku mencintai ayahku, dan aku percaya kepadanya sepenuhnya. Apa pun yang ia katakan, aku akan mematuhi dengan segenap kemampuanku.” Dan dia benar-benar tidak pernah menggunakan uang yang saya berikan.

Si B, anak kedua, adalah tipe pemikir yang suka merenungkan banyak hal, seperti filsuf. Ketika saya menyerahkan sejumlah uang kepadanya, dan memintanya agar tidak menggunakan uang tersebut, Si B berpikir, “Apa sebenarnya maksud ayahku? Dia memberiku sejumlah uang, tapi tidak boleh menggunakannya. Kupikir, ini aneh. Tapi dia telah berpesan begitu, dan aku merasa berkewajiban mematuhi.”

Jadi, Si B terus berpikir dan merenungkan uang yang saya berikan—yang kini telah menjadi miliknya—namun dia tidak pernah menggunakan uang tersebut, sebagai bentuk penghormatan kepada saya. Dalam pikiran si B yang bijaksana, dia tahu uang itu telah menjadi haknya, sehingga bebas untuk digunakan. Namun, dengan kebijaksanaannya pula, dia memilih untuk tidak menggunakan, karena saya berpesan begitu.

Si C, anak ketiga, tipe pemberontak yang suka melawan kemapanan. Ketika mendapatkan sejumlah uang yang saya berikan, dia diam, tapi berpikir keras, “Ayah memberiku sejumlah uang, tapi dia berpesan agar aku tidak menggunakan. Aturan apa itu? Kalau dia memang ingin aku tidak menggunakan uang pemberiannya, mestinya dia tidak usah memberikan. Dan ayah mengkhawatirkan datangnya bahaya, kalau aku menggunakan uang ini. Aturan kacau apa pula itu?”

Dalam pikiran Si C, uang yang saya berikan kepadanya telah menjadi haknya. Karena uang itu telah menjadi haknya yang sah, maka dia bebas menggunakan, terlepas bahwa saya berpesan agar dia tidak menggunakan. Jadi, Si C kemudian berpikir lebih jauh, “Aku akan menggunakan uang ini, dan mari kita lihat. Apakah benar bahaya akan datang sebagaimana yang dihawatirkan ayahku, atau tidak?” 

....
....

Tiga anak saya terus tumbuh dewasa, dan mereka hidup sesuai pikiran, hati, dan keyakinan masing-masing.

Si A, anak pertama yang sangat patuh, terus menyimpan uangnya, dan tidak pernah menggunakan sedikit pun. Meski kadang mendapati hal-hal tertentu yang membutuhkan uang, dan dia terdesak keadaan, Si A tetap teguh dalam mematuhi pesan saya, dan tidak pernah menggunakan uang yang saya berikan. Intinya, dia lebih memilih mati daripada melawan atau melanggar pesan saya.

Ada masa-masa ketika Si A sampai kelaparan, karena tak punya makanan yang bisa dimakan. Dalam kondisi semacam itu, dia bisa saja mengambil uang yang telah saya berikan, untuk ia belikan makanan. Tapi Si A tidak melakukannya, karena terikat kepatuhannya pada saya. Dia benar-benar anak yang sangat patuh pada orang tua, dengan tingkat kepatuhan yang dapat mencucurkan air mata bidadari.

Si B, anak kedua yang senang berpikir mendalam, juga masih menyimpan uangnya secara utuh, dan dia selalu menjaga diri agar tidak pernah menggunakan, sebagaimana pesan saya.

Tahun demi tahun, seiring dia terus tumbuh, Si B masih terus memikirkan uang yang saya berikan, dan masih terus bertanya-tanya mengapa saya memberikan uang kepadanya, namun melarangnya menggunakan. Dia tidak juga paham. Meski begitu, dia memilih patuh kepada saya, dan hanya menyimpan uangnya dalam peti.

Kadang-kadang, Si B didatangi tetangga atau saudara, yang ingin meminjam uang karena terdesak kebutuhan sehari-hari. Dengan pikirannya yang bijaksana, Si B meminjamkan uangnya pada mereka, menggunakan uang yang saya berikan. Dan ketika orang-orang itu mengembalikan uang yang ia pinjamkan, Si B mengembalikan uang tersebut ke dalam peti, sehingga uang pemberian saya tetap utuh.

Dalam hal itu, Si B tetap patuh pada pesan saya untuk tidak menggunakan uang tersebut, namun seiring dengan itu dia juga bisa memberi manfaat bagi orang-orang lain yang kebetulan terdesak kebutuhan.

Si C, anak ketiga yang pemberontak dan tidak suka berpikir mapan, terang-terangan melanggar pesan saya. Dia menggunakan uang pemberian saya sesuai keinginannya sendiri. Meski saya berpesan agar tidak menggunakan uang tersebut, Si C tetap menggunakan.

Dia menggunakannya untuk membeli sejumlah bebek, serta membangun kandang bagi mereka. Sejak itu, Si C asyik dengan bebek-bebeknya. Setiap hari, ia keluarkan bebek-bebek miliknya untuk ia gembalakan, dan dia menikmati hari dengan riang.

Semula, bebek yang dimiliki Si C hanya sedikit. Namun yang sedikit itu lalu berkembang. Bebek-bebek itu bertelur, dan telurnya menetas menjadi bebek baru. Jumlah bebek Si C terus berkembang, dan jumlahnya makin banyak.

Seperti umumnya para pemilik bebek, Si C kadang menjual bebeknya pada para pemilik restoran yang menyediakan daging bebek, juga menjual telur bebek untuk para pembuat telur asin. Dan usaha Si C terus berkembang membesar.

....
....

Bertahun-tahun kemudian, tiga anak saya mengalami perbedaan hidup, dan menjalani kehidupan yang sangat jauh berbeda.

Si A, yang sangat patuh dan berbakti pada orang tua, menjadi pribadi yang salih, dengan keteguhan hati dan pikiran tak tergoyahkan apa pun. Dia masih menyimpan uang yang saya berikan dalam jumlah utuh, tidak pernah ia gunakan sedikit pun, tak peduli seberat apa pun kehidupan yang harus dijalani.

“Karena ayahku berpesan agar aku tidak menggunakan,” ia berpikir, “sampai mati pun aku tidak akan pernah menggunakan.”

Sejarah telah mengenal Si A, para martir yang rela mati demi keyakinan.

Si B, yang senang berpikir mendalam dan bijaksana, menjadi sosok yang dihormati orang-orang sekelilingnya. Orang-orang mengenal Si B sebagai orang baik yang menjalani kehidupan bersahaja, namun ringan tangan dalam membantu sesama. Saat ada tetangga butuh berutang, Si B memberikan, meski mewanti-wanti agar pinjaman itu dikembalikan. “Karena uang yang kupinjamkan kepadamu sebenarnya titipan ayahku, bukan milikku sepenuhnya.”

Selain dalam urusan uang, Si B juga ringan tangan dalam membantu hal-hal lain, seputar mengatasi aneka masalah yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Si B adalah pemikir bijaksana, yang dapat melihat banyak hal dalam cakrawala lebih luas, dan orang-orang senang meminta nasihat Si B. Mereka percaya Si B bukan hanya orang baik, tapi juga bijaksana.

Sejarah telah mengenal Si B, para filsuf agung yang ajarannya terus abadi.

Si C, yang suka memberontak dan melawan kemapanan berpikir, telah berubah jauh dari kehidupannya semula. Berbeda dengan saudara-saudaranya yang menjalani kehidupan sederhana, Si C menjalani kehidupan kaya-raya. Uang 10 juta yang saya berikan kepadanya telah berubah dan berkembang jutaan kali lipat. Usaha bebeknya, yang dimulai dari sangat sedikit, telah tumbuh menjadi bisnis berskala raksasa. Si C dikenal masyarakatnya sebagai angon bebek yang miliuner.

Dia sadar telah melawan pesan saya, karena dia menggunakan uang yang saya berikan. Namun, seiring dengan itu, dia juga berusaha membuktikan bahwa kekhawatiran saya tak terjadi. Meski dia menggunakan uang yang saya berikan, dia berupaya agar uang itu terus tumbuh dengan benar, sehingga tidak mendatangkan masalah.

Jadi, Si C tetap berusaha menjalani kehidupan lurus, meski uangnya berlimpah. Dan ia menggunakan kekayaannya untuk membantu orang-orang lain, membiayai pendidikan anak-anak miskin, menyantuni yatim piatu, memberi nafkah orang-orang fakir, dan lain-lain, yang ia pikir baik untuk kemanusiaan... demi dunia yang lebih baik.

Pelajaran Ngewe di Twitter

Pelajaran yang bisa kuambil dari urusan ngewe yang sedang heboh di Twitter: Enaknya gak seberapa, ribet dan ributnya luar biasa.

"Aku mau ketemu, tapi kamu harus begini, harus begitu..."

WONG TIDAK KETEMU KAMU JUGA TIDAK MASALAH, KOK. KENAPA KAMU BERPIKIR AKU MAU DIPERSULIT DAN DIBIKIN RIBET HANYA UNTUK KETEMU?

Satu hal yang paling kubenci di muka bumi adalah masalah, dan hal-hal mudah yang dibikin sulit. Hidup ini sudah susah, bahkan tanpa harus dibikin susah.

Bahkan umpama aku jatuh cinta setengah mati pada seseorang, dan dia mencoba mempersulitku, aku akan bilang persetan dengannya, dan dia boleh pergi ke neraka.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 April 2019.

Percakapan di Warung Mi Ayam

Dilema antara ingin makan nasi uduk atau mi ayam.

....
....

Di warung mi ayam ketemu teman yang juga penggemar mi ayam, dan dia cerita tentang temannya yang sama-sama penggemar mi ayam.

"Sebelum nikah, dia makan mi ayam pakai sumpit," dia menceritakan temannya. "Tapi setelah nikah, dia makan mi pakai garpu."

Aku penasaran. "Alasannya?"

Temanku menceritakan, bahwa temannya menceritakan kepadanya, "Kata istriku, makan mi pakai sumpit itu berdosa, karenanya aku sekarang makan mi pakai garpu."

Lalu temanku bertanya kepadaku, "Bagaimana menurutmu?"

"Sangat inspiratif," aku menjawab, "meski tidak environmental!"


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Maret 2019.

Jumat, 09 Agustus 2019

KFC, Eskalator, dan Rumitnya Otak Manusia

Kejahatan terburuk yang pernah kuperbuat adalah
berpura-pura pada semua orang bahwa aku orang yang bahagia.
Kurt Cobain


Siapa pun yang biasa makan di Kentucky Fried Chicken (KFC) pasti melihat siluet wajah seorang pria di kemasan KFC—misal di gelas mereka. Kita tahu, itu siluet Harland Sanders, si penemu resep KFC. Jika kita perhatikan, siluet tersebut menampilkan wajah Harland Sanders seutuhnya, dan di bawah wajah atau kepala Harland Sanders terdapat dasi berbentuk silang.

Siluet itu sebenarnya dengan jelas mengilustrasikan wajah dan dasi, dan orang pun paham bahwa itu wajah dan dasi. Karenanya, setiap kali kita melihat siluet wajah Harland Sanders di gelas atau kemasan KFC, otak kita pun seketika membayangkan wajah Harland Sanders dan dasinya.

Lalu, suatu hari, seseorang di Twitter menampilkan gambar siluet wajah Harland Sanders plus dasi tersebut, dengan tambahan tweet, “Kenapa wajah bapak ini lebih besar dari ukuran tubuhnya?”

Jadi, rupanya, dia mengira dasi yang menyilang di bawah wajah Harland Sanders sebagai miniatur tubuh—dua tangan dan kaki!

Tweet itu viral, dan seketika ditanggapi banyak orang, yang—anehnya—ikut melihat “tubuh” Harland Sanders!

Banyak orang yang memberi komentar, kira-kira seperti ini, “Dari dulu saya sudah tahu kalau itu wajah dan dasi. Tapi sekarang saya jadi melihat bahwa itu sebenarnya wajah dan tubuh.”

Komentar lain, “Sekarang saya kesulitan untuk melihat bahwa itu wajah dan dasi. Yang saya lihat sekarang adalah wajah dan tubuh. Tolong kembalikan penglihatan saya!”

Komentar lain lagi, “Tweet ini (maksudnya tweet awal yang mempertanyakan kenapa wajah Harland Sanders lebih besar dari tubuhnya) telah meng-hack pikiran saya. Sekarang yang saya lihat adalah wajah dan tubuh!”

Sebegitu ramai tweet tersebut, sampai pihak KFC (diwakili akun Twitter resmi mereka) memberi respons dengan menyatakan, “Itu dasi, Mas!”

Bahkan meski KFC telah menegaskan bahwa “itu dasi”, orang-orang yang telah membaca tweet awal tadi telanjur mengalami “kekacauan otak”. Meski sejak awal mereka tahu dan sadar bahwa itu dasi, sekarang mereka melihat objek lain, bahwa “bisa jadi yang menyilang di bawah wajah Harland Sanders adalah tubuh—tangan dan kaki”.

Kisah ini adalah salah satu contoh nyata yang menunjukkan rumitnya otak manusia. Betapa otak—sumber pikiran kita—ternyata bisa “dibelokkan” dengan sangat mudah, dan kita benar-benar “berbelok”.

Sebelum tweet awal tadi muncul, orang-orang sudah tahu dan memahami bahwa siluet di kemasan KFC adalah wajah Harland Sanders dan dasi. Mereka tidak membayangkan dasi menyilang di bawah wajah Sanders sebagai miniatur tubuh. Tapi begitu membaca tweet itu, otak mereka seperti digiring untuk melihat “sesuatu yang sebelumnya tak terlihat”. Bahwa bisa jadi itu sebenarnya bukan dasi, melainkan tubuh dalam ukuran kecil.

Pikiran manusia adalah sesuatu yang kuat sekaligus rapuh. Ia kuat, karena bisa mewujudkan sesuatu yang tidak/belum ada menjadi ada. Tapi juga rapuh, karena ia rentan dimanipulasi, atau mudah dipengaruhi—meski dalam kadar berbeda.

Di mal atau swalayan, kita biasa menjumpai eskalator, yang memungkinkan kita naik dan turun dengan mudah. Setidaknya ada dua macam eskalator, yaitu eskalator yang berundak (mirip tangga), dan eskalator yang rata (tidak berundak). Saat menggunakan eskalator itu, entah naik atau turun, saya pikir kalian tidak punya pikiran macam-macam, selain hanya berdiri dan membiarkan eskalator membawa ke atas atau ke bawah.

Dulu, saya juga tidak punya pikiran apa pun, setiap kali menggunakan eskalator di mal atau swalayan, entah eskalator berundak atau datar. Tetapi, sejak menyaksikan serial Final Destination, saya punya “kekhawatiran” setiap kali menggunakan eskalator datar. (Kalian yang sudah menonton Final Destination dan masih ingat adegan-adegan di dalamnya, pasti paham yang saya maksud.)

Ketika menggunakan eskalator berundak, saya tidak punya perasaan atau kekhawatiran apa pun. Tapi ketika menggunakan eskalator datar, saya sering diliputi kekhawatiran. Entah kenapa, saya selalu berpikir, “Jangan-jangan eskalator ini runtuh saat orang-orang masih di tengah jalan... dan sebagainya, dan sebagainya.” (Ya meski kekhawatiran saya tidak pernah terbukti, dan semoga tidak akan pernah terjadi!)

Karena adanya kekhawatiran itu pula, saat menggunakan eskalator datar, indra-indra di tubuh saya jadi sangat sensitif. Telapak kaki saya (meski memakai sepatu) seperti bisa merasakan ganjalan yang paling halus sekalipun, mata saya bisa melihat apakah permukaan eskalator benar-benar rata atau memiliki sedikit gundukan, sementara telinga saya seperti bisa mendengar dengung lembut mesin yang menggerakkan eskalator. Ini insting alami ketika manusia merasa khawatir.

Kenyataannya, eskalator yang saya gunakan baik-baik saja, hanya saya yang mungkin terlalu khawatir, gara-gara teringat adegan dalam Final Destination.

Sekali lagi, ilustrasi ini menunjukkan bagaimana rumitnya otak manusia, dan bagaimana otak kita mencerna informasi yang pernah kita terima. Orang-orang yang semula sudah tahu bahwa siluet di kemasan KFC adalah wajah dan dasi, bisa berubah melihat wajah dan tubuh, ketika pikiran mereka diberi informasi tentang itu. Saya yang sebelumnya nyaman tiap kali menggunakan eskalator di swalayan, bisa berubah khawatir, setelah pikiran saya mendapat informasi menyeramkan dari adegan film.

Kenyataannya, sering kali—entah sadar atau tidak—kita menghadapi dan menilai sesuatu berdasarkan informasi (pengetahuan, pengalaman) yang pernah kita terima sebelumnya. Dalam hal ini, tentu saja, masing-masing orang bisa berbeda, karena pengetahuan dan pengalaman tiap orang juga berbeda, atau bahkan subjektif.

Kalian yang pernah menonton Final Destination, dari seri satu sampai seri terakhir, bisa jadi tidak mengalami kekhawatiran yang saya alami saat naik eskalator. Begitu pula, ada orang-orang yang tak terpengaruh ketika mereka diberitahu bahwa siluet di kemasan KFC adalah wajah dan tubuh. Di mata mereka, siluet itu tetap menunjukkan wajah dan dasi. Karena cara pikiran kita merespons sesuatu memang tidak bisa disamaratakan.

Tapi urusan siluet KFC atau eskalator sebenarnya tidak penting-penting amat, karena itu bukan bagian besar dalam kehidupan banyak manusia. Ada hal lain yang lebih penting untuk kita perhatikan, terkait cara pikiran kita merespons dan memproses sesuatu, khususnya dalam kehidupan sebagai manusia.

Dalam contoh mudah, ada orang-orang yang sangat peka, sehingga masalah yang mungkin ringan bisa jadi berat dalam pikiran mereka. Sebaliknya, ada orang-orang yang sangat santai, sehingga masalah yang mungkin besar bisa jadi terasa ringan bagi mereka. Bahkan menghadapi satu masalah yang sama pun, respons masing-masing orang bisa berbeda.

Orang bisa gelisah dan sulit tidur semalaman, misalnya, karena punya utang seratus ribu, dan besok sudah jatuh tempo. Ia gelisah, dan menganggap masalah yang dialaminya sangat berat, dan dia stres, tak bisa tidur, memikirkan hal itu terus menerus. Dia sudah janji untuk membayar utang itu besok pagi, dan dia harus menemukan cara agar bisa memenuhi janjinya.

Sebaliknya, ada orang yang bisa tidur pulas meski punya utang sejuta, dan besok juga sudah jatuh tempo, padahal ia juga tidak/belum punya uang untuk membayarnya. Dalam pikirannya, bisa jadi dia berpikir bahwa itu bukan masalah yang perlu membuatnya stres, karena tinggal ngomong saja belum ada uang, dan habis perkara. Jatuh tempo bisa diundur beberapa hari ke depan!

Itu contoh ekstrem terkait bagaimana cara kita memproses suatu masalah, khususnya dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan semacam itu bisa jadi karena faktor gen, tapi pengalaman yang kita serap dalam kehidupan tentu juga punya pengaruh dalam membentuk cara kita berpikir dan merespons segala sesuatu. Dengan kata lain, cara orang dalam memandang sesuatu tidak bisa disamaratakan.

Ada kalanya, kita mendengar teman curhat mengenai masalah yang ia hadapi, dan tampak khawatir dengan masalah tersebut. Sementara, bagi kita, masalah yang ia hadapi sebenarnya hal ringan yang tidak perlu membuatnya khawatir. Jika kita ceroboh, bisa jadi kita akan menggampangkan masalah yang ia hadapi, dan mengatakan, “Ah, masalah gitu aja, tak perlu dipikirkan!”

Respons semacam itu—menggampangkan masalah orang lain—bisa jadi respons umum yang biasa kita tunjukkan. Padahal, ada sesuatu yang sangat penting terjadi di sini. Tidak semua orang bisa digeneralisasi!

Teman kita khawatir dengan masalahnya—kenapa? Jawabannya sangat jelas dan gamblang, karena dialah yang menghadapi masalah itu! Dia yang menghadapi masalah itu, bukan kita. Dia yang punya masalah itu, bukan kita. Karena masalah itu tidak terkait dengan kita, maka kita pun bisa menilai secara objektif—bahwa masalah itu tidak berat—atau malah menggampangkannya.

Kemudian, balik lagi ke uraian panjang lebar tadi, bahwa cara kita merespons dan memproses suatu masalah bisa berbeda. Ada orang yang memang dasarnya sangat peka—atau kita bisa menyebutnya melankolis—sehingga masalah yang mungkin sepele pun bisa terasa berat baginya. Sebaliknya, ada orang yang santai—atau bahkan terlalu santai—sehingga masalah yang mungkin besar pun bisa terasa ringan baginya.

Karenanya, menggeneralisasi cara berpikir manusia adalah tindakan yang tidak bijaksana, sama halnya dengan menggeneralisasi manusia. Wong manusia sudah jelas berbeda, apalagi cara berpikirnya.

Jadi, apa yang mestinya kita lakukan saat menghadapi teman atau orang lain yang terlalu melankolis, atau terlalu santai, dalam menghadapi masalahnya?

Jika teman kita curhat mengenai masalah yang membuatnya khawatir, dan kita ingin memberi respons, jangan katakan agar dia tidak usah memikirkannya! Dia sudah memikirkannya, dan itu tidak bisa diubah dengan mudah! Ingat kembali kasus siluet KFC, atau bayangan saya terkait eskalator!

Daripada menggampangkan masalah teman kita, dengan mengatakan agar dia tidak usah memikirkannya, jauh lebih baik jika kita mengajaknya untuk melihat dan mempelajari masalah itu bersama-sama, secara objektif.

Misal, dengan mengatakan, “Tentu kamu menganggap masalah ini berat, karena bagaimana pun kamulah yang menghadapi, dan kamu punya tanggung jawab di dalamnya. Sementara aku berada di luar masalahmu, sehingga tidak merasakan yang mungkin kamu rasakan. Jadi, mari kita pelajari masalah yang kamu hadapi secara objektif dari sudut pandangku, sebagai pihak yang berada di luar masalah.” Lalu sampaikan pikiran kita terkait masalahnya, dan kalau bisa sampaikan pula solusi yang mungkin bisa ia ambil.

Itu jauh lebih baik dan lebih bijak—sekaligus lebih menenangkan teman kita—daripada menggampangkan masalahnya dengan mengatakan, “Ah, gitu aja, tidak usah dipikir!”

Hujan yang turun di pagi hari tentu bukan masalah, apalagi kalau memang musim penghujan. Karena kita bisa menggunakan payung, jika memang ingin keluar rumah. Jika ada orang yang menganggapnya masalah, itu jelas salahnya sendiri!

Tapi jika ada orang yang anaknya masuk rumah sakit dan harus menjalani operasi, misalnya, lalu dia stres dan khawatir serta menganggapnya masalah, tentu saja itu wajar! Justru tidak wajar kalau ada orang bisa santai, sementara anaknya sekarat di rumah sakit! Pak edan opo piye?

Masing-masing orang menghadapi masalahnya sendiri, berat maupun ringan, dan cara mereka merespons serta menghadapi masalah tidak bisa digeneralisasi. Karenanya, jika kita memang tidak bisa membantu meringankan, jangan menggampangkan. Jika kita tidak bisa meringankan masalah yang ada, setidaknya jangan menambah berat pikiran mereka.

 
;