Minggu, 16 Juni 2019

Reuni, dan Dunia yang Berbeda

Kalau kau punya teman yang sudah menikah, tapi kalian
masih bisa bersama, bercakap-cakap, bercanda dan tertawa,
saling bertukar pikir seperti dulu saat masih sama-sama lajang,
maka kau dan temanmu sungguh orang-orang
beruntung dan terberkati.
@noffret


Istilah reuni lekat dengan kenangan, nostalgia, dan hal-hal dari masa lalu, karena reuni memang sering dilakukan “orang-orang dari zaman dulu” di zaman sekarang. Reuni SMP mempertemukan kita dengan teman-teman zaman SMP, reuni SMA mempertemukan kita dengan teman-teman zaman SMA, dan begitu seterusnya. Kenyataannya, orang melakukan reuni karena memang ingin kembali bernostalgia dengan teman-teman lama.

Teman-teman saya dari zaman SMP juga mengadakan reuni. Sebenarnya, mereka bahkan melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar reuni.

Beberapa tahun lalu, Si A ketemu Si B, lalu ketemu Si C dan Si D. Mereka semua teman-teman saya, yang dulu bersekolah di SMP yang sama. Empat orang itu bertemu dan terhubung lewat Facebook, lalu berinisiatif mengumpulkan teman-teman dari zaman SMP. Inisiatif itu mudah terlaksana, karena sekarang ada Facebook, dan sebagian teman kami memang menggunakan media sosial tersebut.

Dari Facebook, mereka saling berbagi nomor ponsel, lalu aktif berkomunikasi di grup WhatsApp yang mereka bikin secara khusus. Lewat grup WA itulah, jaringan mereka semakin luas, karena Si D bisa terhubung dengan Si F, lalu terhubung dengan Si G, dan seterusnya, sampai akhirnya sebagian besar teman-teman SMP berkumpul di grup WA itu.

Dari obrolan di grup WA, mereka menindaklanjuti dengan pertemuan langsung, untuk mengakrabkan kembali pertemanan lama. Pertemuan itu pun sudah berlangsung berkali-kali, bisa dibilang secara rutin, kadang di rumah seseorang, kadang pula di tempat tertentu yang disepakati.

Selama itu pula, saya tidak pernah ikut terlibat sama sekali.

Salah satu teman SMP saya adalah anak famili saya. Sebut saja Si Z. Dia perempuan, sebaya dengan saya, dan sudah punya suami serta dua anak. Hubungan kami dekat—layaknya famili—tapi kedekatan itu juga hanya sebatas sebagai famili. Beberapa tahun lalu, ketika teman-teman dari zaman SMP saling terhubung di Facebook, Si Z memberitahu saya soal itu, bermaksud agar saya ikut terhubung.

Tapi karena saya tidak menggunakan Facebook, saya pun mengatakan terus terang. “Sayang sekali,” ujar saya waktu itu. “Aku hanya pakai Twitter. Kalau ada teman kita yang juga pakai Twitter, kabari aku, biar kita bisa saling follow.”

Di luar dugaan, waktu itu Si Z tampak bingung. “Twitter itu apa?”

Saya pun menjelaskan, bahwa Twitter tak jauh beda dengan Facebook, tapi lebih simpel. Dia manggut-manggut dengan penjelasan saya, tapi entah paham atau tidak.

Beberapa waktu kemudian, ketika teman-teman SMP mulai saling berkomunikasi lewat WhatsApp, Si Z juga menghubungi saya, dan meminta saya agar bergabung dengan grup WA yang telah dibuat. Tapi karena saya tidak menggunakan WhatsApp, saya pun berkata terus terang tentang hal itu.

“Sayang sekali, aku tidak pakai WA,” kata saya kepada Si Z. Tapi saya mengizinkan Si Z untuk membagikan nomor ponsel saya, agar teman-teman kami bisa menelepon atau berkirim SMS ke saya dengan mudah.

Mungkin karena teman-teman kami tidak pernah menggunakan sarana komunikasi selain WA, mereka tidak ada yang menelepon atau mengirim SMS ke saya—sampai saat ini.

Lalu, ketika teman-teman SMP mulai mengadakan pertemuan secara langsung, Si Z pun rutin menghubungi saya—lewat SMS atau menelepon. Biasanya, dia mengabari, “Nanti sore, teman-teman akan ketemu di Kafe G. Kamu datang, ya.”

Waktu itu, agak terkejut, saya merespons, “Duh, pemberitahuannya kok mendadak sekali?”

Karena sedang sangat sibuk, saya tidak berani menjanjikan akan datang atau tidak. Pikir saya, waktu itu, saya akan datang kalau memang bisa. Tapi kalau nyatanya memang tidak mungkin meninggalkan kerja, mau bagaimana lagi?

Akhirnya, waktu itu, saya tidak bisa datang.

Lain waktu, Si Z memberitahu, “Ini teman-teman lagi kumpul di rumahku. Kamu datang, sini!”

Pemberitahuan yang sangat mendadak. Saya tidak bisa datang.

Lain waktu lagi, Si Z mengabari, “Besok siang ada pertemuan di Rumah Makan F. Kami semua berharap kamu datang.”

Tapi lagi-lagi, saya tidak datang.

Dan hal itu terus terjadi beberapa kali, dan saya tetap tidak pernah datang. Waktu itu, saya sudah mengatakan pada Si Z, agar tidak mengabari secara mendadak, karena saya sering panik hingga tidak bisa datang, karena tidak mungkin meninggalkan pekerjaan begitu saja.

“Kalau bisa,” pesan saya pada Si Z, “kabari tiga hari sebelum hari H, agar aku bisa siap-siap.”

Tapi Si Z terus menerus mengabari secara mendadak. “Soalnya teman-teman juga bikin acara secara spontan,” katanya.

Jadi, mereka saling ngobrol ngalor ngidul di WA, lalu tercetus rencana tiba-tiba untuk kumpul di suatu tempat, dan rencana itu pun dilakukan. Itulah kenapa, menurut Si Z, acara pertemuan selalu mendadak.

Ya silakan saja, toh itu hak mereka. Tapi saya tidak bisa mengikuti acara-serba-mendadak semacam itu, apalagi sekadar kumpul-kumpul tidak jelas. Saya punya kesibukan dan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan sewaktu-waktu seenaknya. Dan kalau diminta memilih antara kerja atau kumpul-kumpul, saya jelas akan memilih kerja!

Saya hanya akan meninggalkan pekerjaan untuk sesuatu yang mendadak, jika—dan hanya jika—sesuatu itu memang mendesak. Misal, ada orang mati, dan saya harus melayat. Tak peduli sesibuk apa pun, saya akan meninggalkan pekerjaan, dan melayat si mati, termasuk mengantarkan kepergian terakhirnya ke kubur. Itu sesuatu yang memang mendesak, dan tidak bisa ditunda-tunda, juga tidak bisa direncanakan beberapa hari sebelumnya. Karenanya, tak peduli sesibuk apa pun, saya akan datang, dan meninggalkan pekerjaan.

Tapi kalau sekadar kumpul-kumpul, lalu haha-hihi tidak jelas—apa pun alasan dan motivasinya—saya tidak bisa “di-ndadak-ndadakkan”. Saya harus benar-benar meluangkan waktu untuk hal-hal semacam itu. Karenanya, saya bilang ke Si Z, “Kabari aku, minimal tiga hari sebelum acara.”

Karena saya tidak pernah datang setiap kali dikabari Si Z, rupanya ketidakdatangan itu menjadi bahan percakapan di antara teman-teman. Mungkin, teman-teman kami bertanya apa kesibukan saya pada Si Z, hingga sangat sulit untuk bertemu dengan mereka. Lalu mereka—sebagaimana orang-orang yang tidak akademis lainnya—mereka-reka dan berasumsi terkait alasan saya tidak pernah datang setiap kali diundang.

Dan asumsi mereka tiba pada kesimpulan yang tidak ilmiah dan tidak akademis, yang belakangan membuat saya ingin menangis sambil tertawa sambil ngamuk sambil misuh-misuh. Mereka berasumsi bahwa saya tidak pernah datang ke acara kumpul-kumpul, karena saya belum kawin!

Astaghfirullahalaziiim....

Teman-teman SMP saya memang rata-rata sudah kawin dan punya anak, baik yang laki-laki maupun perempuan. Fakta itu, rupanya, membawa mereka pada asumsi tadi, bahwa saya tidak pernah datang ke acara kumpul-kumpul, akibat malu karena belum kawin.

Itu benar-benar asumsi yang asu, seasu-asunya!

Saya tahu hal itu, karena Si Z mengatakannya langsung kepada saya. Pas lebaran kemarin, saya menemani ibu datang ke rumah Si Z untuk silaturrahmi, dan Si Z—untuk kesekian kali—mengabari saya tentang pertemuan yang akan diadakan teman-teman zaman SMP. Karena mendadak, saya pun—untuk kesekian kali—mengatakan tidak bisa datang.

Lalu Si Z mulai ngoceh, persis seperti ibu-ibu sok pintar yang merasa dirinya paling bijaksana di bawah langit. “Kamu tidak perlu malu,” ujarnya kepada saya, seolah saya anak idiot yang baru lulus TK. “Kamu tidak perlu malu karena belum kawin, toh teman-teman bisa memaklumi hal itu...” dan seterusnya, dan seterusnya, dan sebagainya, dan sebagainya, dan asu seasu-asunya.

Antara ingin tertawa dan menangis dan ngamuk, saya bertanya pada Si Z, “Kenapa kamu menyimpulkan aku tidak pernah datang ke acara kumpul-kumpul karena malu akibat belum kawin?”

Sekali lagi, Si Z menjawab pertanyaan saya dengan nada sok pintar, persis seperti ibu-ibu yang kurang belajar tapi merasa paling pintar sedunia-akhirat.

“Lha pekerjaanmu tuh apa?” ujarnya. “Wong kamu kerja di rumah sendiri, tidak menjadi karyawan di perusahaan mana pun, tapi kamu tidak pernah bisa meluangkan waktu. Wong teman-teman kita yang kerja kantoran saja bisa selalu datang. Padahal mereka cuma karyawan yang kerja di tempat orang lain, dan mereka juga punya banyak kesibukan karena sudah berkeluarga. Sementara kamu hidup sendirian, tinggal di rumah sendirian, bekerja di rumah sendiri, tapi diajak kumpul-kumpul tak pernah bisa.”

Si Z tahu saya menulis buku, jadi dia mengira pekerjaan saya hanya menulis buku. Dalam pikirannya, mungkin, pekerjaan menulis adalah pekerjaan bebas yang bisa dilakukan kapan saja, karena tidak terikat jam kantor. Yang tidak dia tahu... menulis buku HANYA SALAH SATU pekerjaan saya! (Selama ini saya memang tidak pernah menjelaskan pekerjaan lain yang saya urusi, karena Si Z tidak akan paham!)

Akhirnya, dengan agak dongkol, saya pun mencoba menjelaskan pada Si Z mengenai pekerjaan saya lebih detail—apa yang saya lakukan di rumah, bagaimana keterkaitan pekerjaan saya dengan beberapa perusahaan yang namanya mungkin ia kenal, sampai kesibukan yang terus saya geluti setiap hari, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi.

Menutup penjelasan itu, saya pun mengatakan, “Karena itulah, aku tidak bisa pergi-pergi seenaknya. Karena, meski bekerja di rumah sendiri, aku terikat jadwal yang sangat ketat. Kalau kamu mengabari acara mendadak, aku akan panik, karena jelas tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja. Lain soal kalau kamu mengabari beberapa hari sebelumnya, aku akan punya waktu untuk mempersiapkan pekerjaanku, hingga aku bisa meninggalkannya dengan tenang.”

Selama saya menjelaskan, Si Z ternganga-nganga. Seperti yang sudah saya duga, dia tidak paham sama sekali pada penjelasan saya! Beberapa kali dia bertanya, dan saya berusaha menjelaskan dengan cara sederhana, dan dia tetap tidak paham.

Saya pun akhirnya menyadari, kami hidup di dunia yang berbeda. Meski kami dekat sebagai famili, nyatanya hanya itulah yang kami miliki. Kami tersambung oleh garis darah, tapi kami rupanya tidak hidup di dunia yang sama.

Si Z, sebagaimana umumnya orang lain, telah memiliki dunianya sendiri—dunia yang telah sangat ia kenal—yakni perkawinan, keluarga, pasangan, dan anak-anak. Sebegitu yakin dia dengan dunianya, sampai berpikir bahwa saya malu bertemu teman-teman, karena tidak memiliki dunia sebagaimana yang ia—dan teman-teman lain—miliki.

Dan saya pun akhirnya bisa membayangkan, apa yang akan saya hadapi jika sewaktu-waktu saya berkesempatan datang di acara reuni teman SMP kami. Mereka pasti sama sekali tidak bisa memahami saya, sebagaimana saya juga tidak bisa memahami mereka. Karena meski pernah tumbuh bersama di sekolah yang sama, kami kini hidup di dunia yang berbeda.

Saya berharap Si Z, juga teman-teman dari SMP, membaca catatan ini, agar mereka tidak salah sangka, terkait ketidakdatangan saya pada acara reuni yang mereka adakan. Tapi saya tahu, mereka tidak akan menemukan catatan ini. Karena Si Z, dan mungkin teman-teman yang lain, tidak tahu kalau saya punya blog, bahkan mungkin tidak tahu apa itu blog.

Karena dalam pikiran mereka, internet hanyalah Facebook, dan setiap orang modern pasti menggunakan WhatsApp. Persis seperti anggapan orang-orang bahwa setiap manusia harus kawin dan beranak-pinak.

Entah kenapa, saya sedih membayangkannya.

Noffret’s Note: Timpang

Kepercayaan dan keyakinan seseorang terhadap sesuatu umumnya berbanding lurus dengan tingkat pendidikan dan intelektualitas mereka. Seperti apa yang mereka yakini, maka seperti itulah tingkat intelektualitasnya. Mereka tidak/belum mampu menjangkau pengetahuan di atas mereka.

Keyakinan terhadap "keindahan perkawinan", misalnya. Orang-orang itu sangat percaya, karena wawasan yang mereka dapatkan baru setingkat itu. Mereka butuh wawasan "yang lebih tinggi". Sayangnya, wawasan yang lebih tinggi sering sulit dipahami (misal karena pakai bahasa asing).

Ada banyak pengetahuan penting dan wawasan mencerahkan di luar sana, yang penting diketahui untuk memperluas cakrawala. Sayangnya, pengetahuan dan wawasan itu ditulis dalam bahasa asing, atau ditulis dengan bahasa rumit dan sok intelek, hingga orang-orang awam sulit memahami.

Kenyataan semacam itulah yang menjadikan si pintar semakin pintar, dan si bodoh semakin bodoh. Karena si pintar bisa mengakses pengetahuan seluas apa pun, sementara si bodoh kesulitan karena adanya keterbatasan pada diri mereka. Tugas kita mengikis ketimpangan semacam itu.

Karena latar belakang itu pula, aku selalu mewajibkan diri sendiri untuk menulis dalam bahasa Indonesia yang sederhana, mudah dipahami, hingga bisa dicerna kalangan mana pun.

Ada banyak pengetahuan keliru (bahkan menyesatkan) yang disebarkan di sekeliling kita, dan pengetahuan keliru itu diterima serta dipercaya banyak orang mentah-mentah, kenapa? Karena pengetahuan keliru itu disampaikan dengan bahasa sederhana, hingga siapa pun bisa menerima!

Sayangnya, pengetahuan-pengetahuan yang penting dan benar justru disampaikan dengan bahasa asing, atau dengan bahasa rumit yang sok ngintelek, hingga tidak setiap orang akan paham. Pengetahuan yang benar adalah satu hal, tapi cara kita menyampaikan adalah hal lain. Sederhanakan!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Juli 2018.

Noffret’s Note: Jilbab

Sejujurnya, aku lebih suka melihat Nikita Mirzani dan Kartika Dewi tidak berjilbab. Tetapi, bagaimana pun, berjilbab adalah hak masing-masing orang, dan aku harus menghormatinya. Asal yang berjilbab tidak memaksakan hal itu, atau menganggap wanita yang tak berjilbab lebih rendah.

Saat ada artis wanita berjilbab, sering media menulis berita dengan judul, misal, "Adem Melihatnya, Artis X Sekarang Berjilbab."

Bagaimana kita mengukur adem atau tidak, selain hanya pendapat pribadi? Judul semacam itu jelas penggiringan opini, dan itu tidak sehat bagi pembaca.

Ada sebagian wanita yang tidak nyaman berinteraksi dengan wanita berjilbab, karena adanya stigma bahwa wanita berjilbab cenderung menganggap rendah wanita lain yang tidak berjilbab. Bagaimana stigma itu muncul? Mungkin dari realitas, mungkin pula karena tergiring opini media.

Terkait jilbab, ada situasi awkward yang pernah kualami. Pas lebaran, beberapa teman berkumpul dengan membawa pasangan masing-masing. Beberapa perempuan di situ ada yang berjilbab, ada yang tidak. Lalu terjadi sesuatu yang tak terduga, dan hasilnya adalah kecanggungan luar biasa.

Salah satu perempuan yang berjilbab bertanya agak sinis, "Kenapa tidak pakai jilbab?" kepada yang tidak berjilbab, tentu saja.

Sebelum perempuan yang ditanya sempat menjawab, perempuan lain (yang berjilbab) menimpali, "Kasihan, ya. Sudah bersuami tapi belum berjilbab."

Hening.

Pertanyaan dan penghakiman itu membuat perempuan yang ditanya jadi bingung mau menjawab apa. Suami si wanita yang ditanya juga tampak bingung. Mereka akhirnya hanya diam. Dan suasana yang tadinya hangat berubah sangat canggung. Semua orang di sana jadi tidak betah berlama-lama.

Sejak itu pula, setiap ada acara kumpul pas lebaran, teman-teman perempuan yang tidak berjilbab (plus suaminya) tidak pernah lagi datang. Tentu aku memahami, mereka sakit hati atas pertanyaan dan penghakiman yang pernah mereka terima. Ini mungkin sepele, tapi memutus pertalian.

Sebagian orang tampaknya memang sulit menerima perbedaan, atau tak bisa tenang saat melihat orang lain berbeda. Dari jilbab sampai pernikahan, sampai kepemilikan anak, mereka sepertinya ingin sama semua. Padahal tidak setiap orang pasti memiliki hidup dan pikiran seperti mereka.

Sebagai penutup, dua catatan ini bisa dibaca sebagai pengantar tidur.

Jilbab Rina Nose » http://bit.ly/2BOYzQU
Jilbab Maria Ozawa » http://bit.ly/116qQou


Di waktu mendatang, mungkin aku akan tertarik menulis jilbab Nikita Mirzani, jilbab Syahrini, atau jilbab Kartika Dewi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Desember 2018.

Selasa, 11 Juni 2019

Lebaran dan Hal-Hal yang Bikin Eneg

Menyatakan Idulfitri sebagai "kembali suci" itu salah,
tapi kita menganggapnya benar, karena membayangkan diri
"kembali suci" terasa menyenangkan. Jadi kita pun menerimanya
sebagai kebenaran, karena memuaskan ego (ketololan) kita
@noffret


Boleh percaya boleh tidak, saya sangat jarang—bahkan hampir tidak pernah—makan lontong/ketupat opor di saat lebaran.

Kalau saya pulang ke rumah ortu, ibu saya memang menyediakan masakan opor, lengkap dengan sambal goreng kentang, dan lain-lain, plus ketupat dan lontong, seperti umumnya orang lain dalam merayakan lebaran. Tapi saya sangat jarang menikmati. Kalaupun ikut makan lontong opor, semata-mata hanya untuk—meminjam istilah Jawa—tombo pingin.

Sedari dulu saya memang kurang berminat pada masakan-masakan yang bikin eneg, semisal opor ayam, apalagi jika kuahnya kental, seperti yang biasa dibuat ibu-ibu di rumah. Ibu saya juga bikin kuah opor seperti itu—agak kental—jadi makan sedikit saja langsung eneg.

Saya pernah bilang kepadanya, agar bikin opor dengan kuah yang encer, seperti yang umum dibuat para penjual lontong opor di jalan. Tapi ibu saya bilang, dia sengaja bikin opor dengan kuah kental, untuk membedakannya dengan kuah opor yang dijual di mana-mana. “Itulah beda masakan opor buatan sendiri dengan opor hasil beli,” katanya.

Sebenarnya, saya justru bisa menikmati lontong opor yang beli di pinggir jalan, karena kuah opornya encer. Hasilnya, setelah makan selesai, perut terasa kenyang, bukan terasa eneg. Kata ibu saya—dan mungkin kata para ibu lain—para penjual lontong opor sengaja bikin kuah opor yang encer, agar tidak boros santan. “Namanya juga orang jualan,” kata mereka.

Tapi, bukankah tujuan orang makan adalah untuk merasakan kenyang—dan bukan untuk gagah-gagahan, meski sekadar gagah-gagahan dalam urusan santan?

Atau mungkin karena dasarnya saya memang kurang suka dengan masakan yang bikin eneg semacam itu. Kalau boleh memilih di saat lebaran, saya lebih suka makan nasi dengan sayur lodeh, atau sayur sop, atau sayur asem, dan yang segar-segar lain, daripada makan lontong dan opor berkuah kental plus sambal goreng yang—meski enak—juga bikin eneg.

Kenyataannya, ketika lebaran datang—khususnya sejak hari kedua atau ketiga lebaran—banyak warung di pinggir jalan yang diserbu pembeli, dari warung bakso, warung mi ayam, warung nasi goreng, warung lamongan, warung nasi uduk, warung soto, dan lain-lain.

Kenapa orang-orang itu menyerbu warung-warung makan—untuk mengenyangkan perut—padahal di rumahnya ada makanan berlimpah? Saya bertanya pada mereka yang saya kenal, dan mereka menjawab bahwa mereka bosan dengan makanan di rumah yang bikin eneg! Itulah kenapa, mereka terpaksa masuk warung makan, karena ingin menikmati makanan yang “wajar”.

Ironis atau konyol?

Jadi yang merasa eneg dengan masakan di rumah saat lebaran bukan cuma saya, tapi juga banyak orang lain. Mereka sama-sama eneg dengan lontong opor berkuah kental, dan perut mereka berontak, hingga mereka keluar rumah dan kelayapan, demi menemukan makanan wajar yang bikin perut nyaman. Sekali lagi, ironis atau konyol?

Tapi lontong opor tampaknya telah menjadi semacam kewajiban bagi banyak orang di saat lebaran, khususnya bagi masyarakat Indonesia. Sepertinya, lebaran belum bisa dianggap “kaffah” kalau belum bikin lontong opor. Karenanya, meski mereka sadar bahwa opor ayam cuma bikin eneg selama lebaran, mereka tetap membuatnya.

Karenanya pula, setiap menjelang lebaran, harga ayam akan naik karena orang-orang butuh daging ayam untuk opor. Begitu pula harga kelapa untuk santan, harga cabai, dan lain-lain. Tapi mereka tak peduli, tentu saja. Karena opor ayam, yang dinikmati dengan lontong atau ketupat, bagi mereka adalah “kewajiban di saat lebaran”.

Sekarang, sambil menulis catatan ini, saya bertanya-tanya, mengapa orang-orang Islam di Indonesia selalu merayakan lebaran dengan opor ayam? Sepertinya tidak ada hadist apalagi ayat suci yang memerintahkan, misalnya, “Hai orang-orang beriman, nikmatilah lebaran dengan opor ayam, karena dengan cara itulah kalian akan memahami makna kehidupan... dan seterusnya, dan seterusnya.”

Jadi, dari mana asal usul kebiasaan yang bikin eneg itu?

Kesalahan akan melahirkan kesalahan berikutnya, dan itulah yang terjadi di saat lebaran, khususnya di Indonesia. Masyarakat umum di Indonesia merayakan dan memahami lebaran secara salah, dan karenanya melahirkan kesalahan-kesalahan berikutnya. Setiap kesalahan yang tidak dibenahi, akan membuahkan kesalahan-kesalahan lain, dan begitu seterusnya.

Esensi lebaran atau hari raya Idulfitri, adalah kesempatan bagi umat muslim untuk menikmati makanan setelah sebulan berpuasa Ramadan. Karenanya, Idulfitri bermakna “hari raya makanan” atau hari raya untuk menikmati makan. Karena fungsinya untuk menikmati makanan, maka setiap orang berhak untuk memasak makanan apa pun, sesuai selera dan kesukaan masing-masing. Yang penting bisa dinikmati!

Bagi yang suka sayur lodeh, misalnya, bisa membuat sayur lodeh yang paling enak di hari lebaran, biar bisa menikmati sayur lodeh paling enak sedunia—meski menurut versi diri sendiri. Begitu pula yang suka makanan dengan sambal dan lalap, bisa membuat makanan semacam itu. Yang suka makan sate kambing, buatlah sate kambing. Yang suka sayur asem, masaklah sayur asem. Yang cinta sambal terasi, buatlah sambal terasi. Intinya, menikmati makanan yang kita suka!

Dengan membuat makanan kesukaan masing-masing, kita pun bisa merayakan Idulfitri secara “kaffah”, yaitu menikmati makanan yang benar-benar kita suka, setelah sebulan lamanya berpuasa. Sekali lagi, itulah esensi Idulfitri! Untuk menikmati makanan!

Sayangnya, masyarakat Indonesia merayakan Idulfitri secara salah. Wong disuruh bikin makanan apa saja yang disukai, agar bisa dinikmati di hari lebaran, tapi malah sibuk mencari ayam dan bikin santan. Diminta untuk menikmati makanan selama lebaran di rumah, malah kesana kemari untuk maaf-maafan. Giliran salah beneran, malah enggan minta maaf. Akibatnya, lebaran bikin eneg! Ya opornya, ya cara merayakannya yang keliru.

Mayoritas umat Islam di Indonesia mengira lebaran adalah “kembali suci” (hasil pemaknaan ngawur atas istilah Idulfitri). Karena pemahaman yang keliru itu, mereka pun merayakan lebaran dengan mewah, karena berpikir, “Yeah, orang suci ini!”

Itulah kenapa mereka sibuk maaf-maafan, karena mengira aktivitas itu menjadikan mereka “semakin suci”. Dan itulah kenapa mereka merayakan lebaran dengan opor ayam, karena... well, orang suci tentu makannya mewah, kan? Opor ayam! Masak iya orang suci makan sayur lodeh? Nggak level kalau orang suci menikmati lalapan! Ora pantes kalau orang suci makan sambel terasi!

Oh, well, orang suci! Orang suci yang makan opor ayam! Oh, well....

Agama sebenarnya mengajarkan kesederhanaan, dan—dalam hal-hal tertentu—menghormati pilihan masing-masing orang. Karena nyatanya tidak semua orang bisa diseragamkan, termasuk diseragamkan dalam hal opor ayam. Begitu pula dalam merayakan lebaran. Idulfitri tidak menjadikanmu suci, jadi berhentilah bertingkah seolah kau orang suci.

Idulfitri dimaksudkan agar umat Islam bisa menikmati makanan, setelah sebulan berpuasa Ramadan. Karena tujuannya untuk menikmati makanan, maka setiap orang boleh dan berhak bikin makanan apa pun yang disuka.

Kalau memang dasarnya suka opor ayam, ya buatlah opor ayam! Tapi jangan merasa berdosa hanya karena tidak bikin opor ayam di hari lebaran. Karena seperti apa makanan kesukaanmu, maka seperti itulah hari rayamu, lebaranmu, Idulfitri-mu! Bergembiralah karena bisa makan kembali setelah sebulan berpuasa, berbahagialah dengan makanan yang kita suka—apa saja.

Sekali lagi, Idulfitri adalah kesempatan untuk (kembali) menikmati makanan. Sudah, sesederhana itu.

Wong agama mengajarkan kesederhanaan, tapi kita malah sok petingkah. Agama memberi jalan kemudahan, kita malah mencari-cari masalah. Agama memerintahkan agar rajin introspeksi, kita malah merasa jadi orang suci!

Merasa suci, tapi makan opor ayam. Eneg, jadinya!

Idulfitri adalah Hari Raya Biasa

Saat lebaran datang, banyak ustad yang berceramah bahwa kita (umat Islam) telah kembali suci seperti bayi yang baru lahir.

Ungkapan itu populer dan diyakini banyak orang, padahal itu pemahaman keliru yang mestinya diluruskan, agar orang mulai beragama dengan ilmu dan kesadaran.

Pernyataan "kembali suci seperti bayi baru lahir" itu sebenarnya berasal dari pemahaman yang keliru dalam mengartikan "idul fitri".

"Idul fitri", yang arti sebenarnya "hari raya makanan" diartikan secara sotoy menjadi "kembali suci". Lalu didramatisir "seperti bayi baru lahir".

Ini salah satu bukti bahwa "kebohongan (dalam konteks ini; kekeliruan mengartikan istilah idul fitri) yang terus menerus diulang akan menjadi kebenaran yang diyakini". Tapi apa iya kita akan terus menerus beragama dengan cara semacam itu? Ini menggelikan sekaligus menyedihkan.

Sebenarnya, ada banyak ulama yang tahu masalah ini dan menyadari kekeliruan massal yang dialami umat Islam di Indonesia selama puluhan tahun dalam merayakan Idul Fitri. Tapi mereka memilih diam, mungkin karena tidak enak jika meluruskan "sesuatu yang telah dianggap kebenaran".

Bagi orang-orang yang tahu, ini situasi yang sangat dilematis—saat kebenaran memilih diam, karena buka suara justru akan disalahkan. Dalam bahasa yang "sastrawi", kebodohan yang mayoritas adalah kegelapan yang menindas nyala api minoritas di kesunyian, hingga cahaya pun hilang.

Jadi kita merayakan hari raya sambil gembira dan merasa "suci seperti bayi baru lahir", padahal tetap bergelimang dosa. Kita berpikir sedang membawa cahaya, padahal berjalan dalam gulita. Kita meyakini telah menjalani hidup dalam kebenaran, padahal terseok-seok dalam kegelapan.

"Kalau begitu, Idulfitri tidak memiliki makna yang besar seperti yang selama ini dipahami umat Islam khususnya di Indonesia? Ya, memang demikianlah yang sebenarnya. Idulfitri tidak mempunyai makna yang besar..." » Benarkah Idulfitri Berarti Kembali Ke Fitrah?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Mei 2019.

Ramadan Bukan Bulan Suci

Kita sering mendengar orang (dari awam sampai ustad) mengatakan, “Ramadan adalah bulan suci yang bla-bla-bla...”

Sebenarnya, RAMADAN BUKAN BULAN SUCI. Islam mengenal 4 bulan suci (haram), yaitu Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab. Ramadan tidak termasuk bulan suci!

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan yang empat itu.” —At Taubah: 36

”.... Satu tahun ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulan berturut-turut yaitu Zulkaidah, Zulhijjah, dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab yang terletak antara Jumadil (Akhir) dan Sya’ban.” —HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679.

Lebih lanjut, mari buka Tafsir Ibnu Katsir:

Bulan yang disucikan hanya ada 4. Tiga berurutan dan 1 berdiri sendiri karena manasik haji dan umrah. Ada 1 bulan yang disucikan, yang letaknya sebelum bulan-bulan haji, yaitu Zulkaidah, karena saat itu mereka menahan diri dari perang.

Bulan Zulhijjah disucikan, karena di bulan ini mereka menunaikan haji, dan pada bulan ini mereka menyibukkan diri dengan berbagai ritual manasik haji.

Setelahnya, bulan Muharram, juga disucikan, karena di bulan ini mereka kembali dari haji ke negeri asal, dengan aman dan damai.

Adapun bulan Rajab, yang terletak di tengah-tengah tahun, diharamkan (disucikan) karena orang yang berada di pelosok Jazirah Arabia berziarah ke Baitul Haram untuk umrah. Mereka datang berkunjung ke Baitul Haram, dan kembali ke negeri mereka dalam keadaan aman.

Jadi yang selama ini gembar-gembor mengatakan Ramadan bulan suci itu sumbernya merujuk ke mana? Al Qur'an, Hadist, hingga tafsir yang otoritatif dengan jelas mengatakan bahwa RAMADAN BUKAN BULAN SUCI.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Mei 2019.

Kamis, 06 Juni 2019

Mendoktrin Kucing, dan Mengajak Kubis Jalan-Jalan

Kucing-kucing di depan rumahku kalau bertengkar
pasti menimbulkan keributan. Mungkin pertengkaran mereka
akan lebih enak didengar, kalau saja mereka menggunakan
kosakata yang baik dan benar.
@noffret


Teman-teman dekat saya tahu, kalau saya punya kecenderungan aneh yang—menurut mereka—tidak ilmiah dan tidak akademis, tapi menyenangkan. Yaitu suka mengajak omong benda-benda mati. Mereka pernah memergoki saya sedang “mengobrol” dengan pecahan genteng, kurungan ayam, tusuk gigi, potongan kabel, bungkus rokok, tiang listrik, termos, isi staples, sebut lainnya.

Kenyataan itu bagi saya sama sekali tidak aneh. Karena, jauh sebelum mengenal kebiasaan itu, saya bahkan pernah berteman dengan tutup botol kecap sampai bertahun-tahun. Tampaknya, pertemanan dengan tutup botol kecap itulah yang lalu mengembangkan kesukaan saya berteman dengan benda-benda mati.

Biasanya, teman saya yang baru mengetahui kebiasaan itu akan kaget, lalu bingung—tapi belakangan mencoba melakukannya!

Ada teman yang pernah memergoki saya “ngobrol” dengan galon Aqua. Saya tertawa-tawa dengan galon Aqua, seolah kami sedang membicarakan sesuatu yang lucu. Teman saya tanpa sengaja melihat itu, dan mula-mula bingung. Setelah saya jelaskan kalau saya mengobrol dengan galon Aqua, dia menatap seolah saya “sudah tak bisa disembuhkan”.

Yang geblek, belakangan dia mengaku kalau sekarang juga kadang “mengobrol” dengan galon Aqua di rumahnya. “Ternyata rasanya menyenangkan,” ujarnya sambil cekikikan.

Ada teman lain bernama Farhan. Di rumahnya, Farhan punya kolam ikan berisi puluhan koi. Ikan-ikan itu tampak berenang ke sana kemari di air yang jernih, memamerkan tubuh putihnya yang indah. Ketika pertama kali mendapati kolam koi itu, saya merasakan hasrat tak tertahan ingin “mengedukasi” mereka. Jadi, itulah yang saya katakan pada Farhan, “Aku boleh memberikan edukasi untuk ikan-ikanmu?”

Farhan, yang paham dengan “ketidakberesan” saya, segera mempersilakan. “Pasti menyenangkan kalau ikan-ikanku bisa lulus kuliah,” ujarnya cekikikan.

Saya pun lalu duduk di dekat kolam ikan itu, dan mulai ngoceh ngalor ngidul, memberikan “edukasi” pada mereka. Sebegitu ekspresif saya ngoceh, sampai tanpa sadar saya menggerak-gerakkan tangan layaknya orang berorasi. Farhan terus cekikikan menyaksikan saya memberikan “edukasi” pada ikan-ikannya.

Tentu saya tidak tahu apakah ikan-ikan koi milik Farhan memahami yang saya katakan atau tidak. Dan itu tidak penting. Karena, kalau pun mereka paham, buat apa? Wong mereka ikan!

Tapi aktivitas “mengedukasi ikan koi” memberi saya semacam kepuasan batin, karena telah mengeluarkan aneka hal yang tidak mungkin saya katakan pada sesama manusia. Itulah intinya!

Belakangan, Farhan mengaku, dia juga kadang mengajak ngobrol ikan-ikannya, karena penasaran bagaimana rasanya berbicara dengan ikan koi. Ketika saya tanya bagaimana rasanya, dia menjawab, “Lebih menyenangkan daripada ngobrol dengan manusia.”

Di lain waktu, saya dolan ke rumah Haris, seorang teman lain. Di rumah Haris, ada beberapa kucing yang tampak lucu, tapi—kata Haris—kucing-kucing itu sering kurang ajar, seperti buang kotoran di tempat tidur, sampai mencuri makanan di dapur. Waktu mendengar itu, saya bilang ke Haris, “Sepertinya kucing-kucingmu perlu didoktrin agar tahu sopan santun.”

Haris lalu mengumpulkan kucingnya. Ada tiga kucing peliharaan Haris yang tampaknya menurut pada pemiliknya. Setelah tiga kucing itu berkumpul, saya pun mulai mendoktrin mereka tentang pentingnya menjaga etika, sopan santun, dan menjalani hidup dengan lurus. Kucing-kucing itu menatap saya—entah mereka paham atau tidak dengan ocehan saya—sementara Haris cekikikan sambil guling-guling.

Yang ajaib, menurut Haris, sejak itu kucing-kucingnya jadi lebih “sopan”, dan tidak lagi melakukan hal-hal menjengkelkan seperti sebelumnya. Gara-gara itu pula, belakangan ada teman-teman lain yang minta saya agar “mendoktrin” kucing-kucing mereka. “Tolong kucingku didoktrin, biar sopan kayak kucing-kucingnya Haris!”

Well, pada awal 2000-an, di Cina ada fenomena aneh yang menggejala di kalangan anak-anak muda, yaitu jalan-jalan dengan kubis. Jadi, mereka mengikatkan tali pada sebuah kubis yang masih utuh, lalu menarik kubis itu sambil jalan-jalan, seperti umumnya orang yang jalan-jalan dengan anjing peliharaan. Meski aneh, jalan-jalan dengan kubis pernah menjadi tren di Cina, yang dilakukan banyak anak muda di sana.

Bagaimana tren yang aneh semacam itu bisa terjadi? Setidaknya ada dua latar belakang. Pertama adalah kesepian, dan kedua adalah sulitnya menemukan orang yang benar-benar bisa disebut teman.

Anak-anak muda di Cina masa itu merasa kesepian, karena sulit menemukan orang yang benar-benar bisa disebut teman. Meski mungkin terdengar aneh, fenomena semacam itu sebenarnya terjadi di mana-mana. Ada banyak orang yang diam-diam kesepian, merasa tidak punya teman. Bisa karena orang-orang di sekeliling kita sibuk dengan urusan dan masalahnya sendiri, bisa pula karena mereka tidak bisa memahami atau menerima diri kita apa adanya.

Kondisi itu pula, sebenarnya, yang mengembangkan kebiasaan aneh saya dalam hal berbicara dengan benda-benda mati atau dengan hewan. Kalau kau berbicara dengan sesama manusia, selalu ada kemungkinan lawan bicaramu salah paham dengan maksudmu, menangkap omonganmu secara keliru, bahkan sampai membocorkan rahasiamu.

Hal serupa tidak terjadi kalau kau berbicara dengan galon Aqua, atau dengan termos, atau dengan pecahan genteng, atau dengan tusuk gigi, atau dengan kurungan ayam, atau dengan ikan-ikan koi.

Karenanya saya tidak heran, ketika beberapa teman yang mengikuti kebiasaan aneh itu mengatakan bahwa berbicara dengan benda-benda mati ternyata “lebih menyenangkan daripada ngobrol dengan manusia”.

Ini sebenarnya ironi paling ironis. Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang mampu berbicara. Kemampuan berbicara itu pula yang memungkinkan manusia untuk bercakap-cakap menggunakan kata dan kalimat yang terstruktur, serta bisa dipahami lawan bicara. Tetapi, meski memiliki fasilitas hebat semacam itu, manusia adalah lawan bicara yang sangat... sangat buruk!

Manusia sering salah paham dengan maksud lawan bicaranya, hingga yang dimaksud A tapi yang ditangkap malah Z. Lalu kesalahpahaman itu, bisa jadi, dikoar-koarkan kepada orang lain, hingga muncul salah paham bahkan fitnah. Kenapa? Alasannya sepele, karena manusia adalah bangsat yang paling tidak bisa mendengarkan!

Kalau kau berbicara dengan seseorang, bahkan iblis di neraka tidak bisa menjamin bahwa orang yang berbicara denganmu benar-benar mendengarkan dan memahamimu. Inilah masalah terbesar manusia, sekaligus yang paling menciptakan banyak masalah di dunia. Orang tidak mendengarkan dan menyimak dengan baik, salah paham, lalu mengabar-ngabarkan kesalahpahamannya kepada orang lain.

Cocot manusia, adalah lubang neraka sesungguhnya. Kalau menggunakan kalimat Jean Paul Sartre, “Hell is other people.”

Di Tokyo, Jepang, tepatnya di daerah Setagaya, ada sebuah bar bernama Tokyo Cotton Village. Kalau kita masuk ke bar itu, kita bisa memesan minuman yang tersedia di sana—layaknya di bar mana pun. Tapi ada yang spesial di Tokyo Cotton Village. Setiap tamu yang datang tidak hanya mendapat minuman yang dipesan, tapi juga sebuah gulungan kapas!

Untuk apa gulungan kapas itu? Untuk dijadikan teman selama di bar!

Jadi, suasana di Tokyo Cotton Village sangat unik. Orang-orang duduk di meja masing-masing, menyesap minumannya, dan mereka asyik sendiri-sendiri dengan gulungan kapas di tangan. Ada yang memutar-mutar kapas itu dengan khusyuk, ada pula yang mengajaknya bercakap-cakap. Bar aneh ini masih ada di Jepang, dan kalian bisa datang ke sana untuk membuktikan yang saya katakan.

Dengan layanan yang mungkin terdengar aneh itu, Tokyo Cotton Village termasuk bar terkenal yang dikunjungi banyak tamu di Tokyo. Alasannya juga aneh, karena orang-orang yang datang ke bar itu merasa bahwa bermain dengan kapas terasa “menenangkan pikiran dan tubuh”.

Banyak kalangan menengah di Jepang yang datang ke bar itu usai jam kerja, duduk menyesap minuman, lalu memutar-mutar kapas sendirian, dengan alasan aktivitas itu membantunya melupakan hal-hal buruk di tempat kerja.

Sekali lagi, kita mungkin bertanya-tanya, sesepi itukah kehidupan masyarakat Jepang? Pertanyaan itu sebenarnya bisa kita tanyakan pada diri sendiri: Benarkah kita tidak menghadapi kesepian sama seperti mereka?

Kita, yang hidup di negeri yang—konon—ramah-tamah ini, mungkin mudah menemukan dan mendapat teman bicara di saat kesepian. Tapi kita tidak pernah yakin apakah orang yang bersama kita, yang menghabiskan waktu berjam-jam ngobrol dengan kita, benar-benar mendengarkan dan memahami kita, ataukah sebaliknya. Bahkan, kita tidak pernah bisa yakin apakah dia memang bisa dipercaya atau tidak. Karena kawan yang paling dekat pun bisa berubah menjadi pengkhianat.

Ada satu titik ironi ketika manusia menyadari bahwa dia lebih nyaman bercakap-cakap dengan termos yang diam, daripada dengan manusia yang sama-sama bisa bicara tapi tak mampu mendengarkan.

Ada satu titik ironi ketika manusia memahami bahwa dia lebih senang berbicara dengan pecahan genteng yang bukan apa-apa, daripada dengan manusia yang tampak beradab tapi ternyata tak bisa dipercaya.

Ada satu titik ironi ketika manusia memilih berbicara dengan ikan-ikan koi, meski mereka tidak akan paham yang dia bicarakan, daripada berbicara dengan manusia dan hanya menimbulkan kesalahpahaman.

Akhirnya... ada satu titik ironi ketika manusia asyik jalan-jalan dengan kubis dan berteman dengan gulungan kapas, karena—meski benda mati—mereka benar-benar bisa menjadi teman.

Noffret’s Note: Ketidaksadaran

Dari dulu, akar masalah manusia cuma satu. Ketidaksadaran menjadi manusia.

Dunia ini penuh orang-orang yang membenci diri sendiri. Karena mereka tak bisa menyakiti diri sendiri, mereka berusaha menyakiti orang lain.

Bahkan kalau pun kita tidak pernah mengusik dan menyakiti orang lain, selalu ada orang yang berusaha mengusik dan menyakiti kita.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 November 2016.

Kepintaran yang Tercela

Ada kepintaran yang tercela. Pintar bohong termasuk di antaranya.

Sungguh menggelikan melihat orang bisa asyik berbohong sambil membawa-bawa nama Tuhan, seolah Tuhan akan melindungi kebohongan.

"Celakalah aku kalau berbohong!" | Semoga yang pintar bohong benar-benar celaka oleh kebohongannya sendiri.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 12 Oktober 2015.

Sabtu, 01 Juni 2019

Kenangan Terindah

Sulit jatuh cinta.
Tapi kalau sudah jatuh cinta,
sulit melupakan. Aku.
@noffret


Kenangan adalah wujud yang tak tampak, tapi bisa mengaduk-aduk pikiran dan perasaan. Ia seperti mesin waktu yang mampu membawamu ke masa lalu, membuatmu teringat banyak hal yang pernah terjadi bertahun silam, dan itu bisa membuatmu tertawa, menangis, atau tertawa sambil menangis.

Itulah yang saya alami, ketika tanpa sengaja menemukan buku berisi rekaman percakapan SMS dengan mantan pacar.

....
....

Bertahun lalu, ponsel belum secanggih sekarang. Di masa itu belum ada aneka aplikasi yang memudahkan komunikasi. Hanya ada dua sarana untuk berkomunikasi, yaitu telepon dan SMS. Di masa itu, tarif telepon (lewat ponsel) mahalnya ngujubilah setan. Jadi, kebanyakan orang mengandalkan SMS, yang waktu itu tarifnya “cuma” 350 rupiah (itu pun tergolong mahal kalau dilihat di masa sekarang).

Bahkan “semahal” itu pun, tiap SMS dibatasi hanya 160 karakter. Sekali lagi, di masa itu ponsel belum secanggih sekarang. Karenanya, SMS-SMS yang masuk dan keluar tidak disimpan dalam memori ponsel (karena waktu itu memang belum ada ponsel dengan memori), tapi disimpan di kartu SIM. Dan rata-rata kartu SIM di masa itu hanya mampu menyimpan 10 SMS. Jika sudah mencapai 10 SMS, ponsel akan hang (tidak bisa lagi mengirim dan menerima SMS).

Itu benar-benar kondisi yang sangat tidak environmental, khususnya kalau kau punya pacar. Khususnya lagi kalau kau sayaaaaaang banget sama pacarmu. SMS-SMS dengan pacarmu—yang isinya tentu sangat tidak ilmiah dan akademis—harus dihapus, agar ponsel tetap dapat digunakan untuk ber-SMS. Di situ saya sedih, dan dilema.

Karena merasa sayang jika menghapus SMS dari pacar, akhirnya saya melakukan sesuatu yang—kalau dipikir sekarang—mungkin terdengar konyol. Saya mentranskrip SMS-SMS dari pacar ke lembar kertas! Hanya dengan cara itulah, saya bisa terus berkirim dan menerima SMS dengan pacar, tanpa harus kehilangan satu pun SMS yang ia kirim.

Karena setiap hari kami selalu ber-SMS (ya namanya juga pacar), SMS dari pacar pun sangat banyak, dan belakangan saya menghabiskan beberapa buku untuk mentranskrip SMS-SMS kami. Kisah lebih jauh soal itu bisa dibaca di sini.

Belakangan, setelah kami tidak lagi menjadi pacar, dan menjalani hidup sendiri-sendiri, saya membuang buku-buku berisi rekaman SMS itu, meski—sejujurnya—dengan berat hati. Kenangan adalah benda tak berwujud yang sering kali membuat kita, khususnya saya, sangat berat membuangnya. Dan buku-buku berisi rekaman SMS itu salah satu kenangan terindah yang saya miliki bersama seseorang yang saya cintai.

Tapi kita harus move on, kata orang-orang. Jadi, meski dengan berat, itulah yang saya lakukan—move-fucking-on. Saya membuang buku-buku berisi rekaman SMS itu, sekian tahun yang lalu. Semula, saya pikir semua buku sudah terbuang. Tapi ternyata ada satu buku lagi yang belum sempat terbuang, dan buku itu terselip di antara barang-barang lain hingga saya tidak menyadari.

Kemarin, dalam rangka beres-beres rumah menjelang lebaran, saya membuka sebuah kardus berisi tumpukan aneka berkas. Di antara berkas-berkas itulah, sebuah buku terselip, dan saya berdebar. Saya langsung tahu, itu salah satu buku berisi rekaman SMS dengan pacar!

Saya membuka buku itu, dan seketika tenggelam dalam kenangan, saat membaca SMS demi SMS yang pernah saya kirim dan saya terima bertahun lalu, dengan seseorang yang pernah sangat dekat di hati.

Mas, ke warung soto ya. Tak tunggu skrg.
<11:28>


Di depan kampus kami, ada beberapa warung, dan salah satunya menyediakan soto. Banyak mahasiswa yang suka makan soto di sana, termasuk saya dan pacar. Karenanya, warung soto itu juga sering menjadi tempat kami ketemu, setelah jam kuliah selesai.

Karena kampus kami cukup luas, sering kali kami kesulitan untuk menemukan siapa sedang ada di mana. Begitu pun, saya sering tidak tahu pacar saya sedang ada di ruangan mana, atau di lantai berapa. Keberadaan warung soto di depan kampus cukup memudahkan kami ketemu. Biasanya, kalau pacar ingin ketemu, dia tinggal datang ke warung soto, lalu mengirim SMS ke saya. Dan saya pun datang menemuinya.

Itu salah satu kenangan indah dalam memori saya. Ketika mendapat SMS itu, saya pun segera keluar kampus, menemuinya di warung soto, dan dia tersenyum melihat saya, lalu kami duduk berdampingan. Dan bercakap-cakap dengan kedekatan seperti umumnya sepasang pacar.

Usai makan soto, kadang kami pulang ke rumah saya, atau ke rumahnya. Ngapain? Ya melanjutkan percakapan, membahas peradaban Yunani, keruntuhan Romawi, Perang Dunia II dan dampaknya bagi dunia, menghitung gletser yang mencair, memikirkan dampak lubang ozon bagi bumi, sampai mengukur berapa luas hutan yang hilang akibat modernisasi. YA ENGGAK, LAAAAAH!

Namanya pacar, rasanya ingiiiin ketemu terus, ingin selalu berdekatan. Itulah yang kami alami, waktu itu. Meski sudah ketemu di kampus, rasanya masih kurang. Apalagi, konon, perempuan suka kangen. Begitu pula pacar saya. Jadi, hampir setiap waktu saya menerima SMS yang isinya seputar itu.

Mas... aku kangen...
<23:11>

Sayang, gak tau kenapa tiba2 ak kangeeen banget.
Telpon ak ya. Ak gak bs tidur.
<21:21>

Mas, malam ini bs datang ga? Ak kangen!
<19:14>


Untuk menenangkannya, saya pun biasanya membalas SMS, atau meneleponnya. Di waktu lain, saya juga datang langsung menemuinya. Oh, saya tak bisa melupakan saat-saat itu. Ketika melihatnya membukakan pintu, dan tersenyum indah saat melihat saya datang, saat itulah saya mengetahui bagaimana rasanya mencintai dan dicintai oleh seseorang.

Di lain waktu, giliran saya yang kangen kepadanya, dan mengirim SMS serupa.

Nanti tidurnya agak larut ya. Ak ingin nilpon, tp gak ingin ganggu istirahatmu. Kangeeeen sm suara tawamu.
<20:48>


Dan dia benar-benar menunggu. Saat akhirnya saya menelepon, dia belum tidur, dan kami lalu bercakap-cakap, bercanda, tertawa—saya selalu senang mendengar tawanya. Hingga akhirnya telepon berakhir, dan saya tidur dengan hati berbunga-bunga. Betapa indahnya jatuh cinta....

Kini, saat benar-benar telah dewasa, saya kadang berpikir, mungkinkah saya bisa mengulangi keindahan serupa? Mungkinkah saya bisa menemukan seseorang yang membuat saya jatuh cinta, dan dia juga jatuh cinta kepada saya? Mungkinkah saya kembali menemukan perempuan yang mencintai diri saya apa adanya, hingga saya damai dan tenteram bersamanya?

Oh, well, mungkinkah saya kembali menemukan seseorang yang mampu menggetarkan hati saya, hingga saya menyadari jatuh cinta kepadanya?

Kadang-kadang saya apatis. Bahkan menemukan seseorang seperti mantan pacar pun kadang saya pesimis. Dia wujud terindah yang pernah saya saksikan, yang pernah saya temukan, yang pernah saya miliki... keindahan dalam kesederhanaan, keindahan dalam hati dan pikiran. Mencintai dan dicintai olehnya, membuat hidup saya terasa sempurna.

....
....

Saya memegangi buku berisi rekaman SMS itu, membuka-buka halamannya, membaca kalimat demi kalimat, dan merasakan dada menghangat. Kata-kata di dalamnya beberapa kali membuat saya tersenyum, dan beberapa kali membuat saya ingin menangis.

Dunia tampaknya bisa mengubah manusia menjadi apa pun, tapi tak pernah bisa menghapus kenangan-kenangan di dalamnya.

Noffret’s Note: Hunger Games

Tiap nonton akhir kisah Hunger Games, aku selalu menyayangkan kematian Finnick Odair. Dia telah menjalani hidup begitu berat, dan mestinya punya kesempatan untuk hidup lebih lama dalam kebahagiaan.

Mengapa Katniss Everdeen lebih memilih Peeta daripada Gale? Mungkin karena bersama dalam penderitaan adalah perekat paling kuat di antara dua orang.

‏Aku menonton seri Hunger Games berulang kali, untuk mengingatkan diri sendiri, "Setiap orang menanggung beban hidupnya masing-masing."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 & 10 September 2018.

Seorang Bocah Berkata pada Batu

Seorang bocah melangkah sendirian, melewati lapangan kosong dan sepi. Ketika sedang melangkah, dia melewati sebuah batu besar di pinggir lapangan.

Semula, dia tidak menghiraukan batu besar itu, dan terus melangkah. Namun, setelah beberapa meter dari batu tadi, dia berpikir, “Seharusnya aku mengajak bicara batu tadi. Ya, seharusnya aku mengajak bicara batu tadi. Karena hidup ini sungguh sia-sia jika kita tidak pernah bicara pada batu.”

Maka, dia pun berbalik dan melangkah mendekati batu besar tadi. Sambil menepuk-nepuk batu, si bocah berkata, “Apakah kamu pernah dindin, hem?”

Batu itu diam saja, karena ia batu. Si bocah kembali berkata, “Hem, apakah kamu pernah dindin, hem? Hidup ini sungguh sia-sia jika kita tidak pernah dindin, hem. Apakah kamu pernah dindin, hem? Hem?”

Sampai cukup lama, si bocah mengajak bicara batu, meski batu tetap diam tak bergerak. Akhirnya, setelah merasa cukup berbicara pada batu, si bocah kembali melangkah pergi.

Beberapa meter melangkah, si bocah mendengar batu di belakangnya bersuara, “Dindin itu apa, hem?”

Si bocah menengok, terkejut, lalu kabur.

Minggu, 26 Mei 2019

Semalam Bersama Ateis

Kepedulian dan kemampuan mendengarkan itu mudah dikatakan, 
tapi sulit ditemukan—khususnya oleh orang yang benar-benar 
membutuhkannya. Itulah kenapa, sejujurnya, aku tidak heran dengan orang 
bunuh diri, karena aku benar-benar memahami yang dirasakannya.


Ajakan pertemuan bisa menyenangkan bagi saya, asal pertemuan itu memenuhi “selera” saya. Seperti ajakan Husni, suatu siang, ketika dia menelepon. Husni adalah teman yang bekerja di sebuah institusi.

Saya sedang membaca buku di rumah, ketika ponsel bergetar, dan mendapati nama Husni. Lalu kami bercakap lewat telepon. Dia menyampaikan undangan, agar saya datang ke sebuah pertemuan.

“Acara apa?” tanya saya.

“Brainstorming,” jawab Husni.

“Brainstorming?”

Lalu Husni menjelaskan garis besar acara. “Acaranya cuma dua hari,” ujarnya. “Tapi kalau kamu sekalian ingin liburan, kamu bisa di sini tiga hari atau sampai kapan pun.”

Saya memastikan, “Apakah ada publisitas?”

“Ini acara internal,” jawab Husni. “Tidak ada publisitas apa pun.”

“Foto-foto?”

“Tidak ada.”

“Ngemeng-ngemeng di video?”

Husni tertawa. “Tidak ada.” Lalu dia menegaskan, “Tidak ada hal-hal yang akan membuatmu risih atau tidak nyaman. Aku juga berani mengundangmu, karena aku tahu acara ini pasti cocok denganmu. Orang-orang lain yang diundang juga sama sepertimu—mereka tidak menyukai publisitas, dan lebih senang bekerja di balik layar.”

“Siapa saja yang diundang?”

“Ada sekitar sepuluh orang.” Lalu Husni menyebut beberapa nama mereka, yang kebetulan saya kenal.

Saya pun berkata, “Sepertinya menyenangkan. Sebutkan tempatnya.”

Husni mendiktekan alamat secara lengkap.

Setelah percakapan selesai, saya menghubungi biro travel, dan lima hari kemudian berangkat ke tempat pertemuan yang diberikan Husni.

....
....

Husni menyambut saya dengan semringah. Dengan semringah pula dia menggiring saya masuk, untuk diperkenalkan dengan orang-orang lain yang sudah ada di sana. Waktu itu ada enam orang, semuanya laki-laki, dan dua di antaranya sudah saya kenal.

Saya bersalaman dengan mereka. Salah satu orang di sana bernama Nino, yang belum saya kenal. Saat menyalami saya, Nino tersenyum dan berkata, “Husni sering bercerita tentangmu.”

Saya membalas senyumnya. “Semoga belum semuanya.”

“Aku juga suka membaca blogmu,” lanjut Nino.

“Kedengarannya seperti kebiasaan buruk.”

Senyum Nino makin lebar.

....
....

Seperti yang dibilang Husni sebelumnya, acara pertemuan itu memang brainstorming. Namanya brainstorming, kami saling menyampaikan pendapat secara panjang lebar terkait topik yang dibicarakan, dan saling mendengarkan.

Acaranya santai, membahas hal-hal serius diiringi obrolan ringan, dan canda tawa menyenangkan. Tentu saja sambil menyeruput minuman dan udud. Tidak ada publisitas di media sosial, tidak ada foto-foto, tidak ada rekaman video, tidak ada selfie-selfie. Saya senang selama menjalaninya.

Malam hari, usai acara di hari pertama, Nino berkata kepada saya, “Tadi, waktu mendengarkanmu berbicara, aku seperti sedang membaca blogmu dalam versi live.”

Saya tertawa.

....
....

Acara dua hari itu sangat menyenangkan. Sudah lama saya tidak menikmati acara semacam itu. Sebenarnya, saya bahkan “prihatin” setiap kali menerima tawaran atau undangan pertemuan dari pihak mana pun, karena acara pertemuan di zaman sekarang hampir bisa dipastikan akan “disiarkan” secara live di linimasa media sosial, akan ada foto-foto, ada rekaman video, dan tetek bengek semacamnya.

Karenanya, ketika menerima undangan Husni, dan pertemuan itu benar-benar “steril” tanpa publisitas, saya pun sangat menikmati. Senang rasanya bisa kembali berbicara dengan nyaman, dan berdiskusi dengan banyak orang seperti dulu.

Malam kedua, setelah acara benar-benar usai, kami semua mengobrol sambil merokok. Semakin larut, satu per satu mulai masuk kamar, untuk tidur. Saya duduk di sofa dengan Nino. Sepertinya kami saling cocok. Selain usia yang sama, obrolan kami juga nyambung, jadi kami segera akrab. Lebih dari itu, Nino memiliki pembawaan menyenangkan, sehingga mudah akrab dengan siapa pun.

Setelah mengobrol cukup lama, Nino berkata dengan serius, “Kalau aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang ateis, bagaimana menurutmu?”

“Menurutku,” saya menjawab dengan sama serius, “kamu sudah dewasa, berakal waras, dan tentunya bisa bertanggung jawab atas apa pun pilihanmu.”

Nino tersenyum. “Aku benar-benar senang mendengarmu bicara. Rasanya seperti membaca blogmu dalam versi live.”

Mau tidak mau saya tertawa.

Nino bangkit dari duduk, dan berkata, “Aku mau ambil minum. Kamu mau?”

Saya mengangguk.

Sesaat kemudian, dia membawa dua teh botol.

Setelah menyedot minuman dan menyulut rokok, saya berkata, “Kalau aku bertanya mengapa jadi ateis, kamu mau menjelaskan?”

Nino menjelaskan, dan kalimat awalnya terdengar seperti pembukaan cerita yang mengejutkan. “Orang tuaku sangat religius,” ujarnya. “Tapi yang mereka hasilkan adalah anak yang menjadi ateis.”

Setelah itu, Nino menyatakan, “Berdasarkan pembacaanku atas tulisan-tulisanmu di blog, mungkin kita punya latar belakang serupa. Kemiskinan, masa kecil yang suram, perlakuan buruk orang tua, masalah demi masalah, luka, trauma, sebut lainnya. Kalau kamu meragukan yang barusan kukatakan, kamu bisa menanyakan pada Husni. Dia sangat tahu siapa aku, beserta latar belakangku seutuhnya.”

Pembukaan itu cukup mengejutkan, bagi saya. Melihat sosok Nino yang tampak ceria, saya seperti melihat orang yang mungkin tidak pernah menghadapi masalah.

Saya berkata, “Jadi, bagaimana kamu menjadi ateis?”

“Ceritanya panjang,” jawab Nino.

“Aku mendengarkan.”

....
....

Nino memiliki latar belakang tak jauh beda dengan saya. Dia anak kedua, dan memiliki dua adik. Kakaknya, perempuan, sudah menikah, dan hidup di tempat jauh. Sementara dua adiknya masih lajang. Nino juga masih lajang, dan belum punya rencana untuk menikah.

Ihwal ateisme yang kemudian dipeluk Nino adalah hasil perjalanan panjang kehidupan yang dijalaninya, bersama pengalaman penuh luka.

Keluarga Nino sangat miskin. Semenjak kecil, Nino—dan tentu kakak serta adik-adiknya—sering prihatin saat harus membayar biaya keperluan sekolah. Sementara kehidupan sehari-hari juga penuh keprihatinan. Dari semua anak, hanya Nino dan kakak perempuannya yang kuliah. Sementara adik-adiknya hanya lulus SMA.

Nino dan kakaknya bisa kuliah, semata karena upaya sendiri. Begitu lulus, kakak perempuan Nino menikah, dan meninggalkan keluarga untuk hidup bersama suaminya. Sejak itu, Nino merasa semua beban dan tanggung jawab ada di pundaknya. Sejak itu pula, hantaman keras kehidupan seperti mengguncang pikirannya.

“Masyarakat menghormati ayahku sebagai orang baik yang religius,” ujar Nino. “Tetapi, sebagai anak, aku mengenalnya sebagai ayah yang buruk dan tidak bertanggung jawab pada keluarga.”

Sedari kecil sampai remaja, Nino telah terbiasa dengan kekerasan dan perlakuan buruk orang tua. Tetapi, selama waktu-waktu itu, dia tidak pernah berpikir macam-macam, karena bagaimana pun “anak wajib berbakti pada orang tua”, karena “orang tua telah melahirkan serta membesarkan anak”, dan semacamnya. Selama waktu-waktu itu pula, Nino belum menyadari bahwa akar kekerasan dalam keluarga yang ia hadapi berawal dari kemiskinan mereka.

“Ayahku bisa tampak sabar dan bijaksana saat di hadapan masyarakat,” ujar Nino. “Tapi kesabaran dan kebijaksanaannya hilang di hadapan keluarganya.”

Belakangan, saat dewasa, Nino menyadari bahwa yang mendorong orang tuanya melakukan kekerasan serta memperlakukan anak-anaknya dengan sangat buruk, karena kemiskinan yang mereka hadapi. Orang tuanya frustrasi menghadapi hidup yang terus menekan, dan anak-anak mereka yang kemudian menjadi korban. Karenanya, begitu kakak perempuannya segera menikah usai lulus kuliah, Nino pun menyadari; itu upaya sang kakak untuk menjauhkan diri dari keluarga mereka yang “rusak”.

Tidak lama setelah sang kakak menikah, ayah mereka meninggal dunia.

Nino tidak bisa secuek kakaknya. Bagaimana pun, dia tidak tega jika harus meninggalkan keluarga begitu saja. Karenanya, alih-alih segera menikah untuk membangun keluarga sendiri, Nino memilih bekerja keras untuk menghidupi keluarga yang ditinggalkan ayahnya. Tetapi, rupanya, itu pun pilihan buruk yang kemudian memerangkap hidupnya hingga sangat terluka.

(Sampai di sini, Nino menjelaskan masalah keluarganya yang sangat parah. Namun, karena alasan tertentu, dia meminta agar saya tidak menuliskannya secara gamblang. Intinya, kisah Nino adalah “kisah klise” anak yang menjadi korban keluarga yang dihasilkan orang tua tanpa tanggung jawab.)

“Jadi,” ujar Nino, “aku bertanya-tanya, untuk apa sebenarnya aku dilahirkan? Semenjak kecil sampai dewasa, aku dihadapkan pada masalah demi masalah, penderitaan demi penderitaan. Seiring usiaku makin besar, masalah yang kuhadapi makin besar. Aku seperti wujud hidup novel lama—tak putus dirundung malang.”

Selama bertahun-tahun, setiap kali terpuruk akibat menanggung beban masalah yang ditimpakan keluarganya, sang ibu biasanya berkata, “Ini cobaan Tuhan, jadi serahkan segalanya pada Tuhan. Selalu ada kebahagiaan setelah cobaan.”

“Tetapi,” lanjut Nino, “setiap kali aku akan bahagia, orang tuaku lagi-lagi menimpakan beban dan masalah, dan begitu seterusnya. Kenyataan itu terus kuhadapi dari kecil sampai dewasa. Lama-lama aku menyadari, semua masalah dan penderitaan itu bukan cobaan Tuhan, melainkan hasil kemiskinan dan kebodohan, yang bercampur dengan iman tanpa kesadaran. Orang tuaku mengatakan agar menyerahkan semua masalah kepada Tuhan. Kenyataannya, mereka menyerahkan dan menimpakan semua masalah kepadaku!”

Setelah terdiam beberapa lama, Nino berkata perlahan-lahan, “Aku merasa... seperti marah pada Tuhan. Aku dilahirkan orang tuaku tanpa pernah meminta, tapi dipaksa percaya bahwa akulah yang meminta dilahirkan. Setelah itu, aku tumbuh besar dengan segala susah dan derita, sambil dipaksa percaya bahwa itu cobaan Tuhan, dan aku harus kuat menanggungnya.

“Aku menghadapi orang tua yang begitu buruk dan kejam, tapi dipaksa untuk berbakti pada mereka, dan harus percaya bahwa orang tua ingin anak-anaknya bahagia. Yang jadi masalah, bagaimana orang tua bisa membahagiakan anak-anaknya, kalau diri mereka sendiri tidak bahagia? Kenyataannya, kita didoktrin untuk membahagiakan orang tua.

“Jadi, selama ini orang tua kita tidak bahagia, hingga melahirkan anak-anak untuk didoktrin agar membahagiakan mereka. Ini seperti lingkatan setan. Orang tua tidak bahagia melahirkan anak-anak dengan dalih ingin melihat anak-anaknya bahagia. Tetapi, sebenarnya, mereka tidak bahagia, sehingga mereka mendoktrin anak-anak untuk membahagiakan mereka. Lalu anak-anak mereka mengulangi hal serupa, dan menghasilkan anak-anak lain yang menjadi korban selanjutnya.”

Nino menyedot teh dalam botol yang tinggal setengah, kemudian melanjutkan, “Di tengah kekacauan semacam itulah, aku merasa marah kepada Tuhan. Ayahku membaktikan hidupnya untuk Tuhan, tapi yang ia hasilkan adalah kemiskinan dan penderitaan keluarga.

“Ibuku sangat taat beragama, tapi hidup tertekan dalam kemiskinan, hingga memperlakukan anak-anaknya dengan sangat buruk. Dan sambil melakukan semua itu, mereka mengatakan itu cobaan Tuhan, menyemburkan doktrin yang membuatku sangat tertekan, dan menimpakan semua masalah mereka kepadaku hingga membuatku merasa hidup dalam kutukan.”

“Aku benar-benar sangat tertekan,” lanjut Nino perlahan-lahan. “Dan perasaan tertekan itu berlangsung bertahun-tahun. Di satu sisi, aku terus beribadah dan berdoa kepada Tuhan, sambil terus berupaya menghormati orang tua sesuai doktrin agama. Tetapi, bersamaan dengan itu, aku ditikam masalah demi masalah, derita demi derita, yang tak juga usai. Hingga akhirnya, di satu titik, saat semua kesabaran dan keteguhanku seperti terkuras, aku merasa lelah... sangat lelah.”

Nino terdiam cukup lama, dan saya berkata, “Sejujurnya, sejak bertemu denganmu, aku tidak pernah menyangka kamu menjalani semua ini—semua masalah hidup yang kamu ceritakan. Kamu tampak ceria, seperti tak punya masalah berat.”

“Aku menjalani terapi,” jawab Nino lirih. Kemudian, dengan ragu-ragu, dia melanjutkan, “Aku mencoba bunuh diri, tapi selamat. Setelah itu, aku menjalani terapi pemulihan. Usai terapi, Husni memberiku uang dan memintaku agar berlibur, menjauh dari keluargaku, dan menenangkan diri. Kamu bisa menanyakan kebenaran yang kukatakan ini pada Husni. Bahkan, gara-gara itu pula, Husni menceritakan tentangmu. Bahwa aku tidak sendirian, bahwa ada orang lain di luar sana, yang sama mengalami masalah sepertiku.”

“Jadi, setelah itu, kamu berlibur—menenangkan diri?”

Nino mengangguk. “Aku pergi ke Bali. Bukan untuk wisata, tentu saja, tapi semata untuk menjauh sejenak dari berbagai masalah keluargaku, agar aku bisa menenangkan diri, menata pikiran dan hati.”

Selama di Bali, Nino benar-benar sendirian, dan kondisi itu ia manfaatkan untuk melakukan refleksi atas diri dan kehidupannya. Sampai dua minggu dia di Bali, sendirian, menikmati hidup tanpa masalah atau gangguan apa pun, hingga dapat berpikir tenang, dan selama waktu-waktu itu Nino merasa—sesuai istilahnya—“dilahirkan kembali”. Saat akhirnya pulang, Nino telah menjadi ateis.

“Sejak itu, aku tidak lagi beribadah, dan sama sekali tak peduli dengan agama maupun doktrin-doktrinnya,” ujar Nino. “Sebenarnya, aku bahkan tak peduli lagi Tuhan benar-benar ada atau tidak. Aku tidak peduli akhirat benar-benar ada atau tidak, sebagaimana aku tak peduli lagi pada surga dan neraka.”

Setelah terdiam sesaat, Nino melanjutkan, “Percaya atau tidak, justru setelah memutuskan menjadi ateis, aku merasa lebih ringan menjalani hidup. Pikiranku tidak lagi seberat semula. Kini, aku hanya tahu satu hal—berupaya membereskan masalah-masalah keluargaku, dan menjalani hidup dengan baik. Aku tidak mau lagi dibelenggu doktrin-doktrin mengerikan tentang akhirat dan segala macam isinya. Jadi, inilah aku sekarang. Kamu mengatakan aku seperti orang tak punya masalah, dan aku senang mendengarnya.”

Kami terdiam cukup lama, dan saya tahu cerita Nino telah berakhir.

Saya kemudian berkata, “Aku boleh menanyakan sesuatu?”

Dia mengangguk.

“Umpama,” saya berkata, “umpama kelak setelah mati ternyata ada akhirat, dan kamu harus menghadap Tuhan yang ternyata benar-benar ada, kira-kira apa yang akan kamu lakukan?”

Nino tersenyum. “Kita sama-sama percaya Tuhan bukan hanya Mahatahu, tapi juga Mahabijaksana. Jadi, itulah yang akan kukatakan kepada-Nya. Jika Tuhan benar-benar ada, Dia pasti tahu seperti apa perjalananku selama di dunia, bagaimana kehidupan ini—khususnya orang tuaku—memperlakukanku hingga akhirnya aku menjadi ateis. Tidak ada akibat tanpa sebab, kan?

“Jadi, kalau Tuhan memutuskan aku bersalah, aku akan menyeret orang tuaku agar menghadapi kesalahan yang sama, karena merekalah sumber masalahku. Orang tuaku menjalani kehidupan religius, mendoktrinku agar percaya kepada Tuhan, tapi hasilnya justru menjadikanku ateis. Jika aku dinyatakan bersalah, mereka menanggung kesalahan yang sama.”

Saya merasa kehilangan kata-kata.

Hollywood Memang Licik

Apakah Thanos orang baik atau orang jahat? Menurutku, dia orang baik. Kalau dia jahat, dia pasti akan memilih siapa saja yang akan ia musnahkan, sesuai seleranya. Tapi tidak, dia membiarkan alam semesta memusnahkan setengah makhluk di dalamnya, tanpa intervensi apa pun darinya.

Karenanya, kisah Avengers mestinya sudah selesai. Alam semesta sudah seimbang, misi Thanos sudah tercapai, dan bocah-bocah Avengers bisa kembali ke kehidupan masing-masing. Apa pun yang terjadi, kondisi bumi dan planet lainnya sudah lebih baik karena adanya penurunan populasi.

Tapi Hollywood memang licik. Sejak awal, mereka menempatkan Avengers sebagai protagonis, dan Thanos sebagai antagonis. Akibatnya, jika seri Avengers selesai, kalian pasti tidak puas dan bisa jadi akan ngamuk. Jadi, Avengers: Endgame pun dirilis, agar kita semua bisa tidur tenang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 9 April 2018.

Sesuatu yang Mbuh Kabeh karena Dibuat dari Barang Sedih

Kira-kira begitu.

Senin, 20 Mei 2019

Perempuan-Perempuan Perkasa di Korea

Perempuan mungkin diciptakan ketika langit sedang hujan, 
atau ketika angin cemburu pada hening rembulan.


Kalau keluyuran ke Korea Selatan, jangan hanya menyusuri pusat kota sambil berharap ketemu oppa. Sambagilah salah satu tempat terindah dan paling syahdu di Korea Selatan, bernama Cheju Do. Itulah tempat paling makmur dan paling aman di Korea Selatan, dengan penduduk yang ramah-tamah. Saking makmurnya, di sana tidak ada pengemis, dan tidak ada kejahatan.

Cheju Do atau Pulau Cheju adalah pulau yang terletak di ujung selatan Korea Selatan. Sebagai pulau vulkanik, Pulau Cheju menyimpan jejak lava berusia sekitar 2 juta tahun, yang kini mewujud dalam pemandangan luar biasa. Di tengah pulau ada gunung tertinggi di Korea, yakni Mount Halla (1.950 meter di atas permukaan laut). Dari puncaknya, kita bisa menatap seluruh pulau yang hanya seluas 1.845 km persegi.

Di sekitar lereng, berbagai flora tumbuh, sementara hewan-hewan berkeliaran bebas dan berdekatan dengan manusia, seolah di kebun binatang. Sementara di kaki gunung, padang rumput menghampar luas, dengan hewan-hewan ternak digembalakan.

Di bawah, terdapat pantai yang bersih dan indah, dan di pantai itulah perempuan-perempuan paling perkasa di dunia menunjukkan kehebatannya.

Di Pulau Cheju, patriarki sudah lama mati.

Pencari nafkah di Pulau Cheju adalah perempuan, dan mereka mencari nafkah dengan cara yang sangat indah, memukau, sekaligus berbahaya. Setiap hari, perempuan-perempuan di sana menyelam ke dasar laut yang jernih untuk menangkap abalone, sejenis siput laut bercangkang keras, yang merupakan seafood paling mahal di dunia.

Sekadar FYI, abalone adalah makanan laut langka yang sangat bernilai, lebih mahal dari lobster bahkan kaviar! Masakan abalone biasa disantap para miliuner di Asia, semacam lobster di Eropa.

Di Pulau Cheju, abalone hidup di dasar laut, dan para perempuan “memanen” abalone dengan menyelami lautan. Dalam proses penyelaman itu, mereka hanya berbekal baju selam karet, goggle (kacamata selam), keranjang di bahu, dan sekop mini di tangan. Tanpa alat bantu pernapasan, tapi perempuan-perempuan itu bisa bertahan di dalam air hingga 3 menit.

Biasanya, mereka bekerja secara kelompok, 3-4 orang, yang menyebar di beberapa titik lokasi. Setelah lokasi pencarian ditentukan, mereka pun menyelam ke kedalaman 12-20 meter di bawah laut, dan mulai mencari abalone. Gerakan mereka sangat lincah, liat, dan—tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan, kecuali—perkasa. Di permukaan laut yang sangat jernih, perempuan-perempuan itu bisa disaksikan “menari” di kedalaman laut, seolah mereka bisa bernapas di sana.

Kalian mungkin membayangkan mereka perempuan-perempuan muda yang memang bertubuh kuat, liat, dan lentur? Salah!

Perempuan-perempuan penyelam di Pulau Cheju, yang mampu menyelam hingga tiga menit tanpa alat bantu pernapasan, rata-rata berusia 50 tahun ke atas. Sebagian mereka bahkan ada yang berusia 60 bahkan 70 tahun! Karena itulah, tidak ada kata yang lebih tepat digunakan, selain “perkasa”. Dalam bahasa lokal, mereka disebut Haenyo.

Di kedalaman laut, mereka mencari abalone dengan sekop mini yang mereka bawa. Abalone yang tertangkap lalu dimasukkan ke keranjang di punggung mereka.

Meski mungkin terdengar mudah, kenyataannya mencari abalone di dalam laut bukan pekerjaan mudah. Pertama, abalone sulit ditemukan, karena langka. Kedua, abalone adalah hewan laut yang sangat berbahaya. Jika salah memegangnya, cangkang abalone akan menutup dengan cepat, dan menjepit tangan. Terjepit cangkang abalone bisa menimbulkan cacat seumur hidup, bahkan kematian.

Karenanya, menyelam untuk mencari abalone tidak hanya membutuhkan kekuatan dan kelincahan, tapi juga keterampilan. Karena itu pula, sajian abalone di restoran-restoran elite harganya luar biasa mahal.

Rata-rata, para perempuan di Pulau Cheju menyelam sekitar 3-4 jam setiap hari, dan mereka melakukannya sekitar 7-10 hari dalam sebulan. Di luar waktu-waktu itu... apa yang mereka lakukan? Macam-macam, ada yang mengelola kafe, restoran, hotel, dan berbagai usaha lain. Sebagian mereka bahkan memiliki vila-vila indah yang biasa digunakan untuk bersantai.

Jangan salah, perempuan-perempuan penyelam itu kaya-raya, dan menjadi warga terhormat di Korea Selatan. Rumah mereka rata-rata luas dan mewah di pusat kota, meski mereka tinggal di tepi pantai. Rata-rata mereka juga punya bisnis yang memungkinkan keluarga mereka berkelimpahan, dan anak-anak mereka mengenyam pendidikan sampai tinggi.

Jika para perempuan itu bekerja sedemikian keras, lalu ke mana para laki-laki yang menjadi suami mereka? Para suami berdiam di rumah, mengurus rumah tangga, dari memasak sampai membersihkan rumah! Karena itulah, seperti yang disebut tadi, patriarki sudah lama mati di Pulau Cheju.

Sekian abad yang lalu, Korea Selatan menjadi negara yang sangat patriarkis. Kaum laki-laki ditempatkan sebegitu tinggi, sementara kaum perempuan ditempatkan sedemikian rendah. Upah pekerja laki-laki sangat besar, upah pekerja perempuan sangat kecil. Laki-laki juga mendapat berbagai fasilitas—misal layanan publik—yang tidak didapat perempuan. Lebih dari itu, pajak yang ditetapkan pada kaum laki-laki jauh lebih tinggi, dibanding pajak yang ditetapkan pada perempuan.

Karena harus membayar pajak sangat tinggi, kaum laki-laki di Korea Selatan seperti berlari dalam tong setan, hanya berputar-putar tapi tak sampai ke mana pun. Semakin banyak penghasilan mereka, pajak mereka semakin besar. Akibatnya, penghasilan bersih mereka sangat minim, dan hal itu berakibat pada sulitnya memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Di sisi lain, perempuan hanya dikenai pajak yang kecil. Karenanya, meski penghasilan mereka lebih kecil, tapi hasil yang diperoleh (penghasilan bersih) lebih besar daripada laki-laki.

Sekian abad yang lalu, banyak laki-laki di Pulau Cheju yang bekerja sebagai nelayan. Karena harus membayar pajak yang besar, istri mereka pun berinisiatif mencari uang tambahan, dengan cara menyelam ke laut, mencari berbagai hasil laut yang bisa dijual. Belakangan, hasil yang diperoleh para perempuan tersebut jauh melebihi hasil kaum laki-laki.

Sejak itu, perempuan-perempuan Pulau Cheju pun alih profesi menjadi penyelam, sebagai tulang punggung ekonomi keluarga. Sementara laki-laki tinggal di rumah, mengambil alih pekerjaan wanita, mengurus rumah tangga, memasak, mencuci, dan ngemong anak. Itu jauh lebih baik, daripada bekerja keras tapi hasilnya cuma cukup untuk bayar pajak.

Dari situlah, tradisi menyelam para perempuan di Pulau Cheju menggeser nilai lama, dan patriarki perlahan-lahan mati.

Memasuki abad ke-19, kebiasaan perempuan-perempuan laut itu pun diwariskan dari generasi ke generasi. Dan kini, perempuan-perempuan Cheju mendapat tempat terhormat sebagai “kepala keluarga”.

Sejak era ‘70-an, hasil tangkapan para perempuan di Pulau Cheju mendapat pasar tetap, terutama untuk ekspor ke Jepang. Harga makanan laut itu semakin melejit naik. Uang pun mengalir ke kantong perempuan-perempuan perkasa di Cheju. Memungkinkan mereka untuk meningkatkan taraf hidup, membangun rumah baru, menyekolahkan anak-anak, bahkan menabung untuk masa depan.

Berbeda dengan jutaan perempuan lain di dunia yang harus bekerja 8 jam setiap hari, perempuan-perempuan di Pulau Cheju hanya bekerja 3-4 jam dalam sehari, dan rata-rata mereka hanya bekerja 7 hari dalam sebulan. Tapi mereka mendapat penghasilan sangat besar, hingga mampu membangun bisnis, dari usaha penginapan sampai restoran.

Kini, Pulau Cheju menjadi tempat paling makmur sekaligus paling aman di Korea Selatan. Hal itu, ditunjang dengan keindahan alamnya yang luar biasa, menjadikan Pulau Cheju sebagai destinasi para wisatawan. Para turis yang datang ke sana selalu takjub menyaksikan perempuan-perempuan yang menyelam dengan lincah dan indah, seolah sedang berlomba di Olimpiade.

Sekadar saran, jika ingin ke sana, datanglah saat musim semi (Maret-Mei) atau saat musim gugur (September-November). Di saat-saat itu, keragaman flora di Pulau Cheju sangat memukau, hingga siapa pun tak ingin pulang.

Feminisme Salah Kaprah

Saat ini ada sebagian orang yang tampaknya berusaha menganggap bahwa semua kesalahan wanita bukan kesalahan, atau harus dimaklumi jika pelakunya wanita, seolah-olah wanita adalah makhluk yang tidak mungkin bersalah, dan kita harus menganggap mereka tak bersalah.

Berkendara di jalan seenaknya itu salah. Tapi kalau pelakunya wanita—khususnya ibu-ibu, tentu saja—kita diminta memaklumi. Menyalakan lampu sein kiri belok kanan itu salah, bahkan berbahaya. Tetapi, lagi-lagi, kita diminta untuk memaklumi seolah itu hal biasa-biasa saja.

Padahal, orang baru bisa memperbaiki kesalahannya, jika menyadari itu kesalahan. Kalau kita terus membela mereka seolah mereka tak bersalah, sampai kapan pun mereka tidak akan belajar dan berupaya memperbaiki kesalahannya. Ngapain, wong kita terus menerus memaklumi.

Membela wanita secara membabi buta semacam itu sebenarnya justru menjadikan wanita tidak belajar dari kesalahannya, dan terus melakukan kesalahan serupa, karena mereka pikir itu bukan kesalahan, atau kesalahan yang bisa dimaklumi... hanya karena mereka wanita.

Kita menyebut bahwa wanita kadang (atau bahkan sering) melakukan kesalahan di jalan raya, bukan karena melarang mereka berkendara. Mereka tentu punya hak untuk berkendara, tapi mereka juga wajib mematuhi aturan sehingga tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain. Itu poinnya!

Mentang-mentang sekarang lagi tren feminisme, lalu kita bersikap seolah-olah wanita tak pernah salah, atau kita harus terus menerus memaklumi kesalahan mereka. Itu bukan feminisme, tapi seenaknya-sendiri-isme! Kesalahan tetap kesalahan, tak peduli siapa pun pelakunya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 November 2018.

Enam Huruf

Enam kotak, depannya R belakangnya S.

Ringes.

Rabu, 15 Mei 2019

Kisah Si Bedebah

Ngobrol sama bocah.

Aku: Howone semromong.
Dia: Semromong kabeh, sak dunyo.
Aku: Yo ora sak dunyo. Antartika wae mesti tetep adem.
Dia: Uhm... Antartika kuwi opo?
Aku: Antartika kuwi Kutub Selatan.
Dia: Ooh. Lha nang kono, agamane opo, kok iso adem?

Percakapan pun terhenti.


Di lingkungan tempat saya tinggal, ada lelaki yang populer dengan sebutan Si Bedebah. Saya tidak perlu menyebutkan nama aslinya, tapi orang-orang menyebutnya Bedebah.

Bedebah adalah lelaki berusia 35-an, dan tergolong “kurang genap” pikirannya. Maksud saya begini. Andai kapasitas otak yang dimiliki orang-orang normal/waras adalah 100 persen, maka kapasitas otak Bedebah mungkin sekitar 70-80 persen. Jadinya kurang genap atau kurang penuh.

Karena kondisi itu pula, Bedebah menunjukkan perilaku yang berbeda dengan umumnya orang lain yang kapasitas otaknya genap atau benar-benar penuh—atau, dengan kata lain, waras/normal. Sebenarnya, Bedebah juga bisa disebut waras atau normal, tapi ya itu tadi... kurang genap—kalau kau paham maksud saya.

Semua orang di lingkungan saya tinggal mengenal Bedebah. Karena dia sosok yang ramah pada siapa saja. Bukan hanya ramah, dia bahkan memiliki kemampuan berkomunikasi dengan siapa pun—dari anak-anak sampai orang tua, dari pejabat kelurahan sampai masyarakat biasa—bahkan bisa langsung akrab dengan orang asing mana pun yang ditemuinya.

Seiring perjalanan waktu, saya pun tahu kalau Bedebah “kurang genap”. Hal itu saya tahu dari para tetangga, juga dari interaksi yang terjadi antara saya dengannya. Dalam hal itu, saya tidak mempermasalahkan kondisi Bedebah. Dia orang baik, tidak pernah mengganggu atau membuat masalah, dan itu saja sudah cukup.

Bahkan, sejujurnya, saya sering iri campur kagum pada kemampuan Bedebah dalam menjalin interaksi dengan orang lain. Dia seperti tak punya rasa canggung atau ragu-ragu saat menyapa siapa pun, sehingga bisa berkomunikasi dengan siapa saja, dengan mudah. Karena hal itu pula, orang-orang pun selalu “welcome” setiap kali melihat Bedebah, karena menganggapnya orang ramah.

Itu benar-benar kemampuan yang tidak saya miliki, yang sangat ingin saya miliki. Kadang-kadang, saat melihat Bedebah sedang asyik mengobrol dengan seseorang, dan mereka tampak tertawa-tawa, saya membayangkan untuk mengurangi kapasitas otak saya agar “kurang genap” seperti dirinya—entah bagaimana caranya.

Sore hari, kalau pas selo, saya kadang duduk di depan rumah sambil udud, dan kadang Bedebah lewat. Biasanya, kalau melihat saya di depan rumah, dia akan berhenti, lalu mengajak saya mengobrol. Dia pernah tanya, “Kamu tinggal sendirian di rumah besar kayak gini, pasti sering lihat penampakan, ya?”

Saya menjawab, “Nggak pernah.”

Dia menunjukkan ekspresi tidak percaya. “Ah, yang bener? Pasti sering lihat penampakan!”

“Nggak pernah,” saya menegaskan.

“Ah, bohong. Pasti sering!”

Dia terus memaksa agar saya mengakui sering melihat penampakan, meski saya tetap kukuh mengatakan tidak pernah.

Ketika itu, ada tetangga-tetangga yang juga lewat di depan rumah saya. Dan setiap kali ada tetangga lewat, Bedebah akan menghentikannya, lalu berkata pada si tetangga, “Eh, tahu nggak, ternyata Hoeda sering melihat penampakan di rumahnya!”

Si tetangga, yang tahu siapa Bedebah, biasanya cuma tertawa atau menyetujui apa pun yang dikatakan Bedebah. Ada pula yang sengaja—meminjam istilah Jawa—ngonggrong, dengan maksud agar Bedebah makin semangat menjelaskan ceritanya. Dan dia terus melakukan hal itu setiap kali ada tetangga lewat, tak peduli pria maupun wanita. Hanya dalam waktu singkat, orang sekampung tahu kalau saya “sering melihat penampakan di rumah”.

Benar-benar bedebah!

Percakapan soal “melihat penampakan” itu terjadi beberapa tahun lalu. Saya pikir, dia sudah lupa dengan hal itu. Ternyata tidak! Tempo hari, waktu ada tukang batu di rumah saya yang merenovasi ruangan buku, Bedebah datang. Dia melihat-lihat para tukang bekerja, memperhatikan ruangan di rumah saya, lalu bertanya dengan tanpa dosa, “Jadi, di mana kamu biasanya melihat penampakan?”

Sekarang saya paham kenapa dia disebut Bedebah!

Tampaknya, setiap orang di lingkungan saya punya kisah masing-masing terkait Si Bedebah, seperti yang saya alami. Dan hal itu, mungkin, yang membuat kami punya semacam “ikatan emosional” dengan Bedebah—suatu perasaan yang tidak kami miliki pada sembarang orang. Berinteraksi dengan Bedebah artinya menghadapi kemungkinan mengejutkan yang bisa membuat kami cekikikan, meski kemungkinan itu benar-benar bedebah.

Seperti yang saya alami kemarin malam. Bersama para tetangga, saya salat tarawih di musala. Bedebah juga tarawih di sana, meski dia sering terlihat keluar masuk musala dengan santai, seolah musala itu miliknya.

Kemarin malam, usai tarawih rampung, saya buru-buru pulang, karena dikabari ada tamu yang menunggu di depan rumah. Jadi, saya langsung keluar musala begitu salat witir selesai, sementara jemaah yang lain masih duduk di musala, membaca doa kamilin (doa usai tarawih).

Di depan musala, dengan agak buru-buru, saya memakai sandal yang saya pikir milik saya, karena bentuknya sama dengan sandal yang saya pakai ke musala. Tetapi, saat sampai di gerbang musala, saya merasa sandal itu bukan milik saya—rasanya berbeda dengan sandal yang biasa saya pakai. Saya pun berhenti, dan memperhatikan sandal itu. Akhirnya saya yakin, itu bukan sandal saya, meski bentuknya sama. Lalu saya berbalik masuk lagi, bermaksud mengganti sandal yang benar.

Ketika saya berbalik dan sedang melangkah menuju tempat sandal, Bedebah kebetulan juga baru sampai di sana. Ketika melihat saya berdiri di tempat sandal, dia bertanya dengan nada prihatin, “Waduh, kamu baru datang, ya? Sayang sekali, tarawihnya sudah selesai.”

Saya, yang sedang sibuk mencari sandal, belum sempat menyahut ucapannya.

Dan Bedebah melanjutkan, “Apa kita perlu minta imamnya mengulang tarawih, biar kamu bisa salah tarawih?”

Sebelum sempat saya mengatakan apa pun, Bedebah sudah nyelonong ke pintu musala, dan berkata dengan lantang—seolah dia si pemilik musala, “Ini Hoeda minta tarawihnya diulang, soalnya dia baru datang.”

Serentak, orang-orang di musala menengok ke arah saya yang sedang berdiri di tengah-tengah hamparan sandal.

Saya merasa ingin mati detik itu juga.

Noffret’s Note: Origin

Butuh 20 jam nonstop bagiku untuk mengkhatamkan Origin-nya Dan Brown, seisi-isinya. Seperti yang sudah diduga, aku puas menikmatinya.

Aku menyebutnya "Hukum Ketiga Newton" dalam membesarkan anak: Untuk setiap kegilaan, selalu ada kegilaan yang sama besar dan berlawanan arah. —Edmond Kirsch, Origin

Tensi ketegangan dalam Origin tidak setinggi novel-novel Dan Brown sebelumnya. Malah cenderung datar. Tapi kisah di dalamnya... paling gila di antara semua novel sebelumnya.

Siapakah pahlawan dalam serial novel Dan Brown? Robert Langdon? Bukan. Menurutku, pahlawan sesungguhnya dalam novel-novel Dan Brown justru para antagonisnya. Robert Langdon hanya berfungsi sebagai semacam "narator".

Dalam Inferno-nya Dan Brown, Bertrand Zobrist diposisikan sebagai antagonis. Menurutku, dialah pahlawan sesungguhnya.

Catatan (untuk tidak menyebut pesan moral) dari Origin: Jika agama dulu pernah menentang kebenaran teori Galileo, tapi sekarang menerimanya... ada kemungkinan kelak agama juga akan menerima kebenaran teori evolusi, setelah tidak bisa lagi berkelit dari fakta-fakta yang ada.

Sekian ratus tahun lalu, teori Galileo (bumi mengitari matahari) jelas hantaman telak bagi ajaran agama, yang mengajarkan matahari mengitari bumi. Tapi toh kebenaran teori itu tak bisa dibantah. Di zaman kita, teori evolusi seperti mengulang hal serupa.

Dalam bayanganku, sekian puluh tahun mendatang, agama-agama akan menerima kebenaran teori evolusi, meski saat ini mati-matian menentangnya, sebagaimana agama sekarang menerima kebenaran teori Galileo meski dulu mati-matian menentangnya.

Akan sangat menarik membayangkan jika itu terjadi, saat agama-agama akhirnya menerima kebenaran teori evolusi, karena tidak bisa lagi berkelit dari sekian banyak fakta yang tak bisa dibantah. Karena penerimaan itu akan menjadi semacam pengakuan dengan implikasi yang mengerikan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Desember 2017.

Tulisan Ini Telah Dibagikan Jutaan Kali

Jangan percaya. Saya bohong.

Sabtu, 11 Mei 2019

Guru Terbaik, Termahal, dan Paling Berbahaya

Pengalaman terbaik adalah pengalaman yang diceritakan secara jujur. 
Itu menjadi guru terbaik bagi orang lain, dan bagi diri sendiri.


Kita tentu sering mendengar ungkapan, “Pengalaman adalah guru terbaik.” Ungkapan itu benar, karena banyak orang belajar dari pengalaman, sehingga dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik. Tetapi, sayang, pengalaman juga guru yang sangat mahal, dan—dalam beberapa hal—sangat berbahaya.

Teman saya, Dewi, mendapat pengalaman yang memberi pelajaran, yang pasti tidak akan ia lupa seumur hidup. Tetapi, untuk mendapat pelajaran itu, Dewi harus menginap di rumah sakit sampai berhari-hari.

Ceritanya, Dewi berboncengan motor dengan adiknya, Evi, pergi ke suatu tempat. Evi duduk di belakang Dewi. Mereka sudah biasa melakukan aktivitas itu—berboncengan motor—dan mereka tidak pernah menyadari sesuatu yang sangat berbahaya.

Evi biasa mengenakan gaun panjang, dan dia membonceng di jok motor dengan duduk menyamping. Tanpa setahu Dewi maupun Evi, gaun panjang yang dikenakan Evi rupanya menutupi lampu belakang motor. Kenyataan itu pasti telah sering mereka alami, tapi keduanya tidak pernah menyadari.

Lalu tiba hari petaka. Suatu siang, saat keduanya melaju berboncengan seperti biasa, Dewi bermaksud membawa motor ke kanan. Untuk tujuan itu, dia pun menyalakan lampu sein kanan. Lampu sein berkedip normal. Tetapi, karena lampu belakang tertutup pakaian yang dikenakan Evi, lampu sein yang berkedip itu tidak terlihat. Atau, setidaknya, tidak dapat terlihat jelas.

Kebetulan, dari arah belakang, ada sepeda motor lain yang sedang melaju kencang. Si pengendara, seorang lelaki, tampaknya tidak melihat lampu sein yang menyala di depannya. Akibatnya, ketika Dewi membawa motornya ke kanan, lelaki itu terkejut. Lanjutannya bisa ditebak. Lelaki itu, mungkin karena kesulitan mengerem laju motor, menabrak motor Dewi.

Dewi dan Evi jatuh menghantam aspal, begitu pula si penabrak. Karena kecelakaan itu pula, Dewi mengalami luka parah, hingga harus menginap di rumah sakit. Evi, adiknya, hanya mengalami luka ringan. Begitu pula lelaki yang menabrak mereka, juga hanya mengalami luka ringan.

Dalam hal itu, si penabrak mengaku, sama sekali tidak melihat lampu sein motor Dewi yang menyala, karena lampu itu tertutup pakaian yang dikenakan Evi. Karenanya, dia sangat terkejut, hingga tak dapat mengerem laju motor, ketika tiba-tiba melihat motor Dewi memotong jalan ke arah kanan.

Sejak peristiwa itu, setiap kali mengendarai motor, Dewi akan memastikan Evi—atau siapa pun yang memboncengnya—merapikan pakaian yang dikenakan, agar tidak sampai menutupi lampu belakang motor. Dewi tidak akan menjalankan sepeda motor, sampai dia yakin hal itu. Bagaimana pun, keselamatan mereka yang menjadi taruhan.

Peristiwa yang dialami Dewi tentu pengalaman yang memberi pelajaran sangat baik dan berharga. Sebegitu baik dan berharga, sampai Dewi bisa dipastikan akan mengingat seumur hidup. Tetapi, itu juga pengalaman yang sangat mahal, sekaligus berbahaya. Mahal, karena harus mengalami kecelakaan terlebih dulu untuk memahami pelajaran tersebut. Juga berbahaya, karena... bagaimana kalau yang menabrak bukan sepeda motor, tapi mobil atau bus yang melaju kencang?

Tetangga saya mengalami peristiwa serupa, yang lebih berbahaya. Kali ini sepasang suami istri. Kasusnya mirip yang dialami Dewi dan Evi, yaitu pakaian panjang yang dikenakan si istri. Ketika sedang melaju di atas sepeda motor, kain panjang si istri masuk ke rantai motor, dan sepeda motor mereka terbanting ke aspal.

Meski tidak ada kendaraan lain yang menabrak mereka, efek kecelakaan itu tidak seringan yang mungkin kita kira. Gara-gara kecelakaan itu, tulang kaki si suami patah. Bahkan, sampai saya menulis catatan ini, masalah yang diderita si suami akibat patah tulang kaki belum bisa dibilang sembuh. Sementara si istri, yang membonceng, mengalami luka-luka.

Sama seperti Dewi dan Evi, tetangga saya yang mengalami kecelakaan juga selalu mengingat peristiwa tersebut sebagai pelajaran penting. Dia bahkan mengingatkan orang-orang lain agar waspada saat berkendara, khususnya jika mengenakan pakaian panjang, “Pastikan pakaianmu tidak menyentuh rantai motor, karena akibatnya bisa berbahaya.”

Dewi maupun tetangga saya mendapatkan pelajaran penting dari guru terbaik, yaitu pengalaman. Sayang, dalam kasus mereka, pengalaman yang menjadi guru terbaik itu membutuhkan harga mahal, bahkan harus mempertaruhkan keselamatan jiwa. Karena itu, saya pun ikut menjadikan pengalaman mereka sebagai guru, agar juga berhati-hati saat berkendara. Meski saya tidak mengalami pengalaman mereka, setidaknya saya bisa ikut memetik pelajaran. Bagaimana pun, pengalaman adalah guru terbaik, meski dialami orang lain.

Mengapa saya terpengaruh untuk ikut memetik pelajaran dari pengalaman yang dialami Dewi atau tetangga saya? Karena saya melihat langsung dampak yang terjadi. Saya melihat Dewi terkapar di rumah sakit akibat luka yang parah, sebagaimana saya menyaksikan tetangga saya tidak bisa berjalan normal sampai sangat lama, akibat kecelaaan yang dialami. Karena melihat langsung akibat yang terjadi, saya ikut belajar. Meski saya tidak mengalami.

Sayang, dalam hal ini, saya kadang naif, sebagaimana mungkin orang-orang lain. Ada kalanya, orang memberitahukan atau menceritakan pengalaman yang mereka alami, dengan harapan agar kita ikut belajar dari pengalaman mereka. Tetapi, karena tidak melihat dampak langsung dari pengalaman mereka, kita tidak memperhatikan, dan tidak belajar.

Pada waktu SMA, saya punya guru sejarah yang bijaksana. Bertahun-tahun lalu, di depan kelas, dia berkata pada kami, murid-muridnya, “Saat ini, usia saya 40 tahun. Jika saya bisa dilahirkan kembali, hal pertama yang akan saya ingat adalah menghargai waktu. Dulu, saat masih remaja seusia kalian, saya membuang-buang waktu untuk hal-hal tak berguna, dan sekarang saya sangat menyesal. Tapi penyesalan yang saya alami tentu tak berguna, karena semua telah terjadi, dan masa muda saya sudah hilang.”

Setelah terdiam sejenak, dia menatap kami, dan melanjutkan, “Karena itu, mumpung kalian masih muda, ingat-ingatlah untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Karena, jika kalian membuang-buang waktu tanpa guna seperti yang saya lakukan, kalian akan sangat menyesal, kelak saat kalian mulai tua. Ketika penyesalan itu datang, kalian akan mengingat yang saya katakan hari ini.”

Yang dikatakan guru saya tentu benar, karena berdasarkan pengalaman. Tetapi, ironisnya, kami—setidaknya saya—tidak belajar dari pengalamannya. Pada waktu SMA, bahkan hingga masa-masa kuliah, saya masih suka membuang-buang waktu untuk hal-hal tak berguna. Nongkrong semalaman, jalan-jalan tanpa tujuan, dan semacamnya. Selama waktu-waktu itu, saya bahkan lupa pada yang dikatakan guru saya di SMA.

Kini, ketika benar-benar telah dewasa, sejujurnya saya sangat... sangat menyesal. Menyesal, karena tidak mengingat yang dikatakan guru saya, menyesal karena telah membuang banyak waktu untuk hal-hal tak berguna, menyesal karena waktu tak bisa diundur kembali, dan menyesal karena menyadari betapa banyak waktu yang telah saya buang sia-sia. Dan ketika penyesalan itu datang, saya baru ingat yang dikatakan guru di SMA bertahun-tahun lalu—tepat seperti yang dikatakannya.

“Ketika penyesalan itu datang, kalian akan mengingat yang saya katakan hari ini.”

Mengapa dulu saya tidak mengingat dan belajar dari pengalaman yang diceritakan guru di SMA? Mungkin, karena saya tidak melihat dampak atau akibat langsung dari yang ia ceritakan. Ketika menceritakan pengalamannya, guru saya tampak sehat, waras, dan terlihat baik-baik saja. Akibatnya, mungkin, dampaknya “kurang dramatis”—setidaknya bagi saya—sehingga kami tidak tertarik untuk langsung belajar dari pengalamannya.

Padahal, dampak yang dialami guru saya memang tidak terlihat, karena tersimpan dalam hati dan pikiran, juga dalam penyesalan. Seperti yang saya alami sekarang. Saat ini, meski wujud luar saya tampak baik-baik saja, tapi ada dampak tertentu yang tergurat dalam pikiran saya, berupa penyesalan yang amat dalam. Penyesalan akibat dulu membuang-buang waktu seenaknya, padahal waktu tak bisa dibeli, dan tak bisa diulang lagi.

Sekarang, umpama saya menjadi guru, dan berkata di depan kelas pada murid-murid, tentang penyesalan yang saya alami akibat membuang-buang waktu, apakah murid-murid saya akan percaya? Lebih lagi, apakah murid-murid saya akan mengingat yang saya katakan, sehingga mereka akan sangat menghargai waktu yang dimiliki? Kemungkinannya sama, tidak! Kenapa? Karena mereka tidak melihat dampak langsung yang saya alami!

Jika orang mengalami kecelakaan di jalan, lalu terluka parah, atau patah tulang, dan dia berkata, “Hati-hatilah berkendara di jalan raya,” kemungkinan besar kita akan mengingat ucapannya, dan belajar dari pengalamannya. Kita melihat dampak langsung yang mengerikan akibat kecelakaan di jalan. Luka parah sampai patah tulang. Kita tidak ingin mengalami peristiwa serupa, sehingga ingat untuk hati-hati saat berkendara. Kita percaya, dan kita ingat, karena melihat dampaknya.

Tetapi, ketika seseorang mengatakan, “Hargailah waktumu, karena kelak kau akan menyesal jika membuang-buang waktu tanpa guna,” kemungkinan besar kita akan lupa ucapannya, dan tidak belajar dari pengalamannya. Kita tidak melihat dampak langsung yang mengerikan akibat pengalaman itu. Karena tidak ada dampak yang terlihat, kita pun mengabaikan.

Padahal, semua pengalaman memiliki dampak, terlihat maupun tak terlihat. Apa pun dampaknya, semua pengalaman adalah pelajaran terbaik, juga sangat mahal. Pengalaman kecelakaan di jalan raya sering menunjukkan dampak yang jelas, berupa luka kasatmata, yang dapat dilihat orang lain. Sementara, pengalaman membuang waktu di masa muda kerap tidak menimbulkan dampak fisik serupa, karena dampaknya hanya terasa oleh si pelaku. Terlihat atau tak terlihat, dampak akibat pengalaman sama-sama mahal, dan menjadi pelajaran yang baik.

Sayangnya, dalam hal ini, kita lebih mudah belajar dari pengalaman orang lain yang dampaknya jelas terlihat, daripada belajar dari pengalaman yang tidak memiliki dampak jelas. Bahkan, sering kali kita mengabaikan pengalaman orang lain, karena kita tidak melihat dampak langsung. Alih-alih memperhatikan untuk mengingat, kita sering kali justru mengulangi pengalaman serupa.

Salah satu teman saya bernama Arif. Waktu kuliah, dia berpacaran dengan teman sekampus, lalu mereka menikah tidak lama setelah wisuda. Kini, Arif telah memiliki satu anak, dan dia maupun istrinya memutuskan untuk menunda punya anak lagi. Alasannya mungkin klise, yaitu tanggung jawab menghidupi anak yang dirasa berat.

Berbeda dengan kebanyakan orang lain yang lebih suka menutupi kondisi rumah tangganya, Arif justru menjadikan pengalamannya berumah tangga agar menjadi pelajaran bagi teman-teman yang belum menikah.

Kepada kami, yang belum menikah, Arif berkata blak-blakan, “Kalau bisa, sebaiknya jangan buru-buru menikah. Bangunlah dulu hidupmu, bekerja yang rajin, persiapkan segalanya dengan matang, baru setelah itu menikah. Karena, jika kalian buru-buru menikah seperti yang kulakukan, bisa jadi kalian akan menyesal. Ketika penyesalan itu datang, kalian tidak bisa melakukan apa pun, karena sudah terikat perkawinan.

“Saat itu terjadi, kalian akan sadar harus berbenah—membenahi diri dan berusaha hidup lebih baik—tapi kalian telah punya beban berat berupa pasangan dan anak. Sejujurnya, itu sangat berat, dan aku tahu pasti karena telah mengalami. Jadi, belajarlah dari pengalamanku. Jangan buru-buru menikah, jika belum benar-benar siap. Jauh lebih baik menunda keinginan, daripada menyesal.”

Nasihat yang disampaikan Arif tentu sangat baik, karena didasarkan pengalamannya langsung dalam hal menikah dan berumah tangga. Tapi apakah teman-teman kami mengingat untuk lebih berhati-hati? Lebih banyak yang tidak! Kenapa? Mungkin karena mereka tidak melihat dampak langsung yang dapat disaksikan. Bagaimana pun, saat menceritakan pengalamannya, Arif tampak sehat dan baik-baik saja.

Jadi, meski telah diberitahu dengan jelas seperti itu pun, banyak teman kami yang cepat-cepat menikah—tentu dengan berbagai alasan—padahal mungkin belum benar-benar siap. Biasanya, setelah waktu-waktu berlalu, khususnya saat mereka mulai punya anak, mereka mengatakan baru ingat ucapan Arif sebelumnya. Penyesalan selalu datang di belakang.

Dalam hal itu, mungkin saya patut bersyukur. Karena, setidaknya, saya belajar untuk tidak menambah deret penyesalan.

 
;