Kamis, 21 Maret 2019

Bocah yang Ngobrol dengan Tiang Listrik

Catatan ini sebaiknya tidak usah dibaca, karena tidak penting dan tidak bermanfaat, serta hanya akan membuang waktumu. Saya menulis catatan ini hanya untuk bersenang-senang dan menghibur diri sendiri.


Seorang bocah duduk di samping tiang listrik, dan tampak mengobrol asyik dengan tiang listrik. Entah bagaimana cara mereka mengobrol, yang jelas si bocah terlihat mengatakan sesuatu, mengatakan hal-hal seperti umumnya orang bercakap-cakap, dan sesekali tertawa-tawa.

....
....

“Kok bisa begitu, ya?” ujar si bocah. “Dari dulu, kalau diingat-ingat, rutenya selalu begitu. Ya hidup pun mungkin begitu, naik turun. Tapi kalau diingat-ingat memang begitu, kok. Bada, Rangu, Hayek, Yola, Simo, entah siapa lagi—aku lupa. Tapi ya intinya begitu. Dulu Simo pernah menanyakan, malah pernah membahas, tapi aku tidak paham.

“Apa? Simo, iya. Dulu dia pernah tanya apakah ada yang datang, lalu aku menunjukkan lembar manuskrip. Simo bilang, maksudnya bukan itu. Iya, aku paham, maksudnya bukan itu. Tapi aku sengaja menunjukkan manuskrip sebagai bentuk jawaban filosofis—kalau kau tahu maksudku. Tapi Simo sepertinya tidak paham hal-hal filosofis. Hahahaha....

“Jadi ya begitu. Tidak paham. Simo tidak paham maksudku, dan aku juga tidak paham maksud Simo. Karena ternyata Simo juga memaksudkan pertanyaannya sebagai hal filosofis, dan giliran aku yang tidak paham. Hah? Musim yang bukan musim? Waktu itu sesudah masanya. Malah sudah berlalu jauh dari musim itu.

“Ya asalnya dari situ. Setelah bertahun-tahun musim, lalu ada musim yang sedang tidak musim. Haha, lucu kalau diingat-ingat. Malah sampai berjalan jauh, menyeberang jalan yang ramai. Waktu itu, pas di sana, ada Nguh, sedang bercakap-cakap. Nguh bertanya, aku menjawab dari mana. Lalu musim itu pun datang—musim yang sedang tidak musim. Lalu aku pulang, karena sedang tidak musim.

“Nguh mengusulkan agar aku pulang naik karpet, tapi usulnya tidak bisa terwujud, karena ya itu tadi... sedang musim tidak musim. Lalu aku pulang saja.

“Sampai lama setelah itu, aku sama Gungun membahas sesuatu. Wah, kadang aku kangen sama Gungun. Dia pernah menyelamatkan hidupku. Tapi kalau dipikir-pikir, Gungun pun sama seperti hidup. Sekarang aku mau cerita soal Gungun, sambungan dari musim yang tidak musim, sebagai awal kenapa ada manuskrip filosofis.

“Waktu itu, aku dan Gungun membahas sesuatu. Oke, aku bilang ke Gungun. Karena dia orangnya tepat waktu, aku pun bisa mengandalkannya. Lalu aku pergi ke tempat yang dibilang Gungun. Jalan kaki. Waktu itu rasanya damai sekali, karena berpikir perjalanan yang jauh akan sampai di tempat yang indah.

“Sebelum itu, aku sudah bolak-balik jalan kaki, malah lebih jauh. Malah tidak ada indah-indahnya. Cukup lama itu, sampai kadang aku berpikir apa mungkin jalan yang kutempuh keliru? Nah, waktu aku jalan kaki yang barusan itu, muncullah cerita lanjutan tentang musim yang sedang tidak musim. Lha dia cerita sendiri, hahahaha...

“Dari situlah aku menyadari, ternyata kehidupan memang angin dingin. Padahal, sebelum itu, aku pernah ketemu Drume, sama waktu aku sedang berjalan menuju ke sana. Drume dan aku lalu bercakap-cakap. Soal beberapa, dan dia malah sempat menceritakan familinya yang sedang sakit tapi bingung karena anaknya akan terbang menuju antah berantah. Lalu kami berpisah, waktu pintu gerbang sampai.

“Beda lagi dengan musim itu. Yah, dari situ, aku pun jadi malas membahas musim, karena musim sedang tidak musim. Kalau dipikir-pikir memang aneh. Sudah bertahun-tahun berjalan, lalu suatu hari datang musim yang sedang tidak musim, lalu aku jalan kaki dan ketemu Drume, dan lama setelah itu aku menyadari tentang musim.

“Nah, dari situlah, aku dan Some membahas hal filosofis tadi, dan kami sama-sama tidak paham. Dulu waktu Rafu pulang, Some pernah bertanya apakah mungkin aku akan sama dengan Rafu. Aku bilang tidak, dan Some tertawa. Lalu soal manuskrip itu, Some bilang bukan itu. Ya, mestinya aku paham, tapi mungkin aku sedang goblok. Sepertinya aku memang sering goblok, kalau dipikir-pikir. Lalu pulanglah mereka, dan aku tidak tahu lagi bagaimana kabarnya.

“Kalau diingat-ingat memang aneh. Hayek itu kalau sedang sampai di sana ya seperti yang lain. Payi, juga. Hahaha, entah bagaimana kabarnya sekarang. Aku sudah lama tak ketemu. Niwa juga pernah menanyakan hal serupa. Apakah masih ke sini, dia bertanya. Aku bilang, ya, masih ke sini. Aku malah sempat bingung mendapati Niwa sering menanyakan hal serupa. Aku pernah terpikir untuk menjawab bahwa hal-hal berubah, semuanya berubah, karena kehidupan selalu berubah.

“Mungkin Niwa sudah tercerahkan sejak dulu. Aku pernah bilang kepadanya bahwa kita harus menyelamatkan dunia, tapi Niwa hanya tertawa. Mungkin baginya dunia tidak perlu diselamatkan. Ya benar juga, kalau dipikir-pikir. Lalu setelah itu Niwa menghilang. Aku pernah tanya pada seseorang, bagaimana kabarnya sekarang, dan katanya dia sudah berubah menjadi bundar.

“Kalau diingat-ingat memang aneh. Apakah ini sebenarnya plot yang sama, atau bagaimana? Hahahahaaa... soalnya aku tidak paham-paham. Mula-mula naik, naik, lalu turun, turun. Naik lagi, turun lagi. Mungkin sudah saatnya aku sadar, ya. Sadar kalau selama ini aku tidak sadar.

“Yang membuatku bertanya-tanya, kenapa musim bisa terjadi? Kalau dipikir-pikir, ini persoalan musim. Benar sekali. Tapi bagaimana bisa terjadi dan musim berulang? Mengapa ada musim yang tidak sedang musim? Dari dulu, kalau diingat-ingat. Dari zaman Luo, lalu zaman Sorah dan Dal, sampai zaman-zaman seterusnya. Itu sudah berabad-abad. Kok bisa?

“Lalu aku ingat Piar. Dia pernah menulis di meja tentang Diyu. Ya asal-usulnya memang Diyu, kalau dipikir-pikir. Tapi dia bisa melewati hidupnya dengan baik, meski mungkin susah, dan aku pernah terpikir untuk menirunya. Tapi zaman kami sudah jauh berbeda. Sekarang sudah tidak ada, dan aku membahas jalan dan rute. Piar katanya sudah terbang pakai karpet.

“Dari zaman Diyu sampai sekarang, sudah ada beberapa generasi, tapi kok bisa sama, ya. Dari waktu ke waktu ya mesti ada musim, dan musimnya sama. Itu-itu saja. Sampai aku bingung sendiri. Apa aku yang salah, apa musimnya yang salah. Dulu pernah kutulis di buku kecil itu, tapi mungkin sekarang bukunya sudah hilang. Entah kena banjir, entah kubuang.

“Yang baru juga begitu, zaman baru. Ada musim-musim yang sama. Lalu lubang besar di tengah jalan. Wah, parah itu. Tapi ya tidak ada yang peduli, dan aku menyadari bahwa itulah angin dingin. Aku menghadapi kegoncangan, salju, panas, hujan, dan banjir. Angin dingin yang datang. Musim yang tidak sedang musim.

“Orang-orang suka mempercayai yang ada dalam pikirannya sendiri. Lalu menganggap yang dipercayai itu betul, dan mengatakannya kepada orang lain. Lalu orang lain percaya, tanpa menyadari bahwa yang ia percaya awalnya hanya ada dalam pikiran seseorang yang entah benar atau tidak. Apakah itu berarti UFO benar-benar ada? Ya mungkin, hahahahaha....

“Kapu juga begitu. Impala. Sampai yang dekat-dekat itu ya percaya pada UFO. Lalu Hita. Kemarin dia malah bilang awal tapi malah ngilang, hahahaha. Sudah kuduga. Bagaimana kalau kita bisa masuk ke dalam cermin, dan hidup di dalamnya? Itulah yang kutanyakan kepada tusuk gigi, ketika suatu kali aku sedang bingung. Tusuk gigi mengatakan bisa saja. Lalu aku pun masuk cermin. Ternyata kehidupan di dalam cermin ya sama saja. Ada musim-musim.

“Pernah, dulu, ada Kidu yang mengatakan beberapa hal dan aku tertarik. Lalu seseorang mengatakan soal Obi entah siapa, dan musim yang sama datang. Sama, kalau dipikir-pikir. Malah dulu ada Ska segala, dan kami membentuk sebuah lingkaran. Seperti balon, lalu meletus di udara. Tapi ya kisahnya sama, seperti yang lain-lain. Malah aku sempat membahas itu dengan Ska, dan dia ternyata bisa serius, padahal sebelumnya suka cekikikan.

“Sekarang Ska sudah berubah, tidak pernah lagi cekikikan seperti dulu. Sekarang malah seperti serius sekali. Ini mengingatkanku pada hal-hal lain, pada musim-musim lain. Bahkan yang paling dekat pun. Apakah itu tidak menakjubkan? Sangat menakjubkan, menurutku. Cuma aku bingung, bagaimana hal-hal menakjubkan seperti itu bisa terjadi? Apakah ini yang disebut entah?

“Mungkin akan lebih baik kalau saja Simo tidak mengatakan soal musim, dan Niwa tidak membahas dunia yang perlu diselamatkan. Simo kembali bertemu denganku waktu dia baru saja terbang. Ya, kemana lagi dia harus datang, coba? Dan aku bilang kepadanya, itu sepuluh dari sepuluh. Dan aku tertawa. Tempo hari aku sempat melihatnya, dan dia telah berubah menjadi tiga. Aku terkesima.

“Sekarang mungkin sebaiknya aku mulai merintis... entah merintis apa. Kadang-kadang aku lelah. Kadang mempertanyakan. Kadang aku merasa terbang pakai karpet. Kadang aku berpikir musim sedang tidak musim. Kadang aku merasa goblok. Entahlah.

“Terima kasih sudah menjadi teman ngobrol yang menyenangkan. Kamu sungguh pendengar yang baik.”

....
....

Bocah itu menyentuh tiang listrik seperti menyentuh sahabatnya, lalu bangkit dari duduknya. Dia melangkah ringan—mungkin lebih ringan dibanding sebelum mengobrol dengan tiang listrik.

Aku menatap kepergiannya.

Aku menyulut udud.

Dan aku berpikir, “Hidup ini sungguh sia-sia jika kita tidak pernah ngobrol dengan tiang listrik.”

Feeling

Berdasarkan feeling-ku, kemungkinan besar feeling-ku keliru.

Noffret’s Note: Golput

Agak heran campur geli dengan orang yang marah-marah pada orang yang milih golput. Lha wong demokrasi ya begini. Ada yang memilih, ada yang tidak memilih. Bebas. Ini Indonesia, bukan Korea Utara. Lagi pula, kami golput karena pilihan, bukan karena dibayar.

Biasanya—ini biasanya, lho—yang suka marah-marah pada orang golput tuh para buzzer. Ya mereka wajar marah sih, wong mereka dibayar untuk itu. Artinya mereka memang punya kepentingan, meski jangka pendek. Bagi yang tak punya kepentingan, biasanya sih santai.

Dalam perspektifku yang gak penting-penting amat, golput tuh semacam ahimsa—gerakan untuk tidak melakukan apa-apa. Karena semua gerakan yang dilakukan terlihat percuma. Berbagai upaya sudah dilakukan, tapi hasilnya tetap gitu-gitu aja. Yo wis, golput wae.

Lagi pula, omong-omong, alasanku memilih golput bukan semata-mata karena dua pilihan yang ada, tapi juga karena muak melihat perilaku para buzzer selama ini di medsos. Jadi, golput yang kulakukan adalah semacam "upaya mengerjai" para buzzer yang selama ini telah "mengerjai" kami.

Sebenarnya, orang golput tuh gak macam-macam, cuma gak milih—itu aja. Dan kami juga gak ngerecokin pilihan orang lain. Yang membuat kami marah, karena pilihan kami untuk golput diusik. Padahal kami tidak punya kepentingan apa pun, jadi tidak ada ruginya bagi kami untuk melawan.

Dalam pertempuran, jangan pernah mencoba melawan orang yang tak punya kepentingan. Karena apa pun hasilnya, kau yang akan kalah dan lawanmu tak kehilangan apa pun. Kau mengusik pilihan kami, karena kau punya kepentingan. Sementara kami tidak. Melawan kami adalah tindakan sia-sia.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Januari 2019.

Sabtu, 16 Maret 2019

Seorang Teman Bernama Budip

Selalu menyenangkan bertemu teman lama.
Rasanya seperti membuka kembali album masa lalu
yang lusuh dan berdebu, tapi penuh kenangan.
@noffret


—untuk seorang teman

Saya punya seorang teman yang baik sekaligus unik, bernama Budi. Lengkapnya Budi Prasetya. Dia memiliki pembawaan yang selalu ceria, mudah tertawa, hingga siapa pun yang berdekatan dengannya ikut ceria. Saya termasuk salah satu teman yang senang mengobrol dengannya, karena bisa tertular energi keceriaan yang dimilikinya.

Dia hampir selalu mampu mengubah apa pun menjadi sesuatu yang bisa ditertawakan, dan “keahlian” itu juga menular ke teman-temannya, termasuk saya. Entah kenapa, humor paling garing sekali pun bisa menjadi sesuatu yang mampu membuat kami tertawa-tawa gila jika dinikmati bersama Budi.

Bertahun-tahun lalu, misalnya, kami—Budi, saya, dan beberapa teman yang masih sama-sama ABG—pernah berkumpul dan mengobrol bareng. Waktu itu lagi ngetren pijer (pager), sarana komunikasi sebelum ada ponsel. Kami pun asyik membicarakan pijer, meski sama-sama tidak memakainya. Boro-boro dolanan pijer, waktu itu gimbot (game watch) pun kami tidak punya.

Di sela-sela percakapan, saya sempat nyeletuk, “Pijer makan tanaman.”

Celetukan itu mungkin garing. Tetapi Budi seketika ngakak sejadi-jadinya. Dia bahkan sampai tertawa-tawa lama, hingga kami semua ikut terpengaruh tawanya. Kebiasaan ngakak sejadi-jadinya itu memang ciri khas Budi. Dia seperti punya impuls tawa yang sangat peka, hingga mendengar kelucuan yang paling absurd pun akan membuatnya tertawa-tawa gila.

Bahkan, sejak itu, setiap kali di antara kami ada yang menyebut “pijer” saja, Budi akan tertawa-tawa gila, karena teringat “pijer makan tanaman”.

Dengan kebiasaannya yang mudah tertawa seperti itu, Budi pun menjadi sosok populer—di kalangan teman-teman, maupun di lingkungan tetangga tempatnya tinggal. Orang-orang selalu senang mengobrol dengannya, karena tertular keceriaannya.

Selain kebiasaannya yang ceria dan mudah tertawa, Budi juga punya keunikan lain. Meski namanya Budi Prasetya, dia sangat jarang—bahkan hampir tidak pernah—menulis namanya secara lengkap, kecuali jika memang diwajibkan. Kapan pun dia harus mengisi nama, misal mengisi buku tamu ketika menghadiri acara resepsi, dia akan menulis namanya “Budi P”. Huruf P di situ tentu singkatan “Prasetya”.

Yang agak “bermasalah”, dia sering menulis nama “Budi P” dengan jarak (spasi) yang sangat dekat, sehingga “Budi” dan “P” terkesan menempel. Selain itu, Budi juga selalu menulis “P” pada namanya dengan “p” (huruf kecil). Akibatnya, jika dilihat sekilas, nama “Budi P” akan terbaca “Budip”.

Semula, saya tidak menyadari kenyataan itu, meski sudah sering melihatnya. Saya pikir itu bukan masalah, toh saya tahu kalau itu maksudnya “Budi P” yang artinya “Budi Prasetya”. Jadi, meski sudah melihat nama itu berkali-kali, saya sama sekali tidak punya perhatian apa pun.

Sampai suatu hari, kelucuan yang sangat aneh terjadi.

Waktu itu, saya dan Budi mengikuti suatu pelatihan. Ada sekitar 20 orang dalam kelas, dan salah satu instruktur dalam acara itu seorang pria bule. Waktu acara akan dimulai, masing-masing peserta pelatihan diminta mengisi absensi seperti di ruang kuliah. Kami diminta mengisi nama serta tanda tangan di kolom yang disediakan.

Saya duduk berdampingan dengan Budi, waktu itu. Ketika melihatnya mengisi lembar absensi, saya lihat dia menulis namanya seperti biasa, dengan “Budi” dan “p” yang sekilas terbaca “Budip”.

Setelah semua peserta mengisikan nama di lembar absensi, instruktur bule lalu mengabsen satu per satu nama-nama kami. Tujuannya agar dia bisa mengenali siapa bernama siapa, sehingga bisa menyapa dengan akrab.

Instruktur bule itu tampak ramah. Dia menyebut nama di lembar absensi satu per satu, dan nama yang disebut mengacungkan tangan. Lalu si bule akan menyapa dengan hangat, serta mengatakan beberapa hal yang menyenangkan. Sampai tiba giliran Budi. Sesaat, instruktur bule mencermati lembaran absensi di tangannya, lalu dengan agak ragu menyebut, “Budip.”

Memahami namanya disebut, Budi pun mengacungkan tangan.

Instruktur bule menengok ke arahnya, dan memastikan, “Budip, huh?”

Budi hanya menjawab, “Yes, Sir.”

Si bule sepertinya terkesan dengan nama itu, hingga menyebutnya berkali-kali. Dia lalu berkata dengan hangat, “Saya sangat menyukai namamu, Budip. Unik, dan saya baru pertama kali menemukannya.”

Selama si bule menyebut-nyebut “Budip”, saya mati-matian menahan tawa. Nama itu saja—Budip—bagi saya sudah lucu. Dan ketika nama itu diucapkan lidah bule, kedengarannya semakin lucu. Tapi saya tidak mungkin tertawa-tawa gila di sana, jadi saya mati-matian menahan tawa, dan berusaha tetap menampilkan wajah serius.

Saya tidak tahu apakah Budi juga menganggap hal itu lucu. Yang jelas, dia tetap menampilkan muka lempeng, dan sama sekali tidak memperdengarkan cekikikan sedikit pun.

Setelah acara perkenalan selesai, instruktur bule mulai menjelaskan materi yang perlu kami pelajari. Dia menyampaikan materinya dengan baik, dengan sikap hangat seperti yang ia tunjukkan sejak awal. Di sela-sela memberikan materi, dia selalu menyempatkan untuk menyapa atau menyebut nama-nama kami, hingga kami terus fokus pada yang disampaikannya.

Mungkin karena sejak awal sudah terkesan pada nama “Budip”, si bule juga menyapa serta menyebut nama itu lebih banyak dari yang lain. Dan setiap kali si bule menyebut “Budip”, setiap kali pula saya mati-matian menahan tawa.

Materi si bule berlangsung sekitar 2 jam. Setelah itu, para peserta disodori lembar soal, yang isinya kira-kira seperti tes esai, dan berkaitan dengan penjelasan instruktur bule tadi. Ada 12 soal di lembar itu, dan jawabannya ditulis di lembar tersendiri yang banyaknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta dalam memberi jawaban.

Jadi, mula-mula kami hanya diberi selembar kertas soal, dan dua lembar kertas kosong untuk menulis jawaban. Namun, di depan kelas sudah disediakan setumpuk kertas kosong yang bisa diambil siapa pun, yang membutuhkan kertas lebih banyak untuk menulis jawaban.  

Ketika masing-masing orang sudah mendapatkan kertas soal, seketika suasana terasa tegang. Tidak ada keributan apa pun, tapi semua orang sama-sama menyadari bahwa kami dalam kondisi tegang. Pasalnya, 12 soal yang tertulis di lembar pertanyaan tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Tipe pertanyaannya kira-kira, “Jika ini terjadi, apa yang akan Anda lakukan?”, “Bagaimana cara melakukannya?”, dan, “Jelaskan secara detail ketika Anda mengambil langkah tersebut.” Untuk menjawab satu soal saja, rata-rata dibutuhkan minimal satu lembar kertas jawaban.

Detik-detik awal berjalan, dan kami semua terlihat tegang memandangi lembar soal yang sangat rumit. Belum ada satu pun yang mulai menulis jawaban—kami semua seperti sedang shock. Budi, yang duduk di samping saya, kelihatan gelisah seperti yang lain. Dia merundukkan kepalanya, lalu berbisik pada saya, “Soal-soal keparat apa ini?”

Saya, yang waktu itu juga stres menatap lembar pertanyaan, seketika nyeletuk, “Menurutku, ini soal-soal yang sungguh budip.”

Di luar dugaan, Budi seketika ngakak sejadi-jadinya waktu mendengar saya menyebut “budip”. Dia ngakak dengan gila seperti biasa, tanpa ingat waktu itu kami ada di dalam kelas bersama orang-orang yang tak dikenal. Seperti biasa pula, saya selalu terpengaruh ikut tertawa setiap kali mendengar dia tertawa, dan tawa saya pun ikut meledak—apalagi ditambah sejak tadi sudah menahan-nahan agar tidak tertawa.

Selama sesaat, kami berdua seperti orang gila yang tertawa tanpa aturan, dan kami butuh waktu beberapa saat untuk meredakan tawa kami yang menggila. Ketika saya mulai berhenti tertawa sambil memegangi perut yang kaku, saya sempat khawatir akan diusir dari sana, karena telah bertingkah tidak sopan.

Tapi rupanya kekhawatiran saya tidak terjadi. Tawa kami yang gila tadi rupanya ikut menurunkan ketegangan di dalam kelas. Orang-orang yang semula tampak serius dan murung melihat kertas soal, kini tampak lebih santai, dan beberapa terlihat senyum-senyum, meski mereka tentu tidak tahu apa yang membuat kami tertawa. Instruktur bule, yang duduk di depan kelas, tidak mengatakan apa pun, selain, “Kalau kalian sudah selesai (tertawa), silakan mulai kerjakan (soalnya).”

Sejak peristiwa itulah, saya sering menyebut “budip” (dengan b kecil) untuk menyifati segala sesuatu yang absurd, yang belakangan menjadi semacam humor internal antara saya dan Budi. Entah kenapa, kami selalu tertawa gila setiap kali menyebut kata itu.

Dalam banyak kesempatan, kami selalu menemukan hal-hal yang “bersifat budip”, dan kami lalu tertawa-tawa seperti orang gila. Saat makan bareng di tempat asing, misalnya, Budi kadang bertanya, “Bagaimana menurutmu, masakan di sini?”

Kalau saya kebingungan antara menjawab enak atau tidak, saya akan menjawab, “Menurutku, masakan di sini sangat budip.” Lalu kami ngakak bersama.

Well, hari ini, Budi Prasetya alias Budip berulang tahun, dan saya ingin menyampaikan selamat ulang tahun untuknya. Panjang umur dan selalu sehat, teman baik, dan tetaplah menjadi keceriaan, pijar tawa yang menggembirakan, bagi semua orang.

Doa Dalam Hati

Ketika bencana terjadi, orang-orang biasanya riuh mengucapkan kalimat belasungkawa dan iringan doa, namun ada pula yang tidak. Mereka yang tidak mengucapkan belasungkawa belum tentu tidak peduli. Mereka tentu turut sedih, namun memilih diam, dan hanya mendoakan dalam hati.

Karena sebagian orang mengekspresikan kesedihan lewat kata-kata, sebagian lain menghayati kesedihan tanpa suara.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 September 2018.

Noffret’s Note: Sirkus Kebohongan

Yang masih kupikirkan terkait sirkus hoax ini adalah... BAGAIMANA foto-foto terkait operasi itu bisa bocor ke publik? Itu bukan jenis foto yang ingin kita pamer-pamerkan ke orang lain. Jadi, BAGAIMANA foto-foto itu bisa keluar, hingga kita melihatnya?

Beberapa orang konon dipolisikan gara-gara sirkus hoax yang baru saja terjadi. Mestinya, media-media yang ikut masuk dalam sirkus kebohongan itu juga dipolisikan. Mereka telah berlaku sebagai TOA atas hoax yang disebar, dan mestinya mereka juga harus ikut bertanggung jawab.

Siapa yang paling diuntungkan oleh kasus hoax Ratna Sarumpaet? Bukan siapa pun, kecuali media! Merekalah yang berpesta. Saat kebohongan terungkap, mereka tinggal mengikuti irama sambil pura-pura amnesia. Bahkan berita yang ditulis sendiri pun dibantah sendiri dengan tanpa dosa.

Di Indonesia, sebagian media tak jauh beda dengan bandar judi. Tidak akan kalah dan rugi, apa pun yang terjadi. Saat angin bertiup pada kebohongan, mereka ikut. Saat kebohongan mulai terungkap, mereka pun ikut. Bagi mereka tidak ada ruginya, tapi kita yang menjadi korban mereka.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Oktober 2018.

Noffret’s Note: Ratna Sarumpaet

Lagi gatel.

Ratna Sarumpaet sudah mengakui dia berbohong. Media-media sudah mengklarifikasi berita mereka. Dan orang-orang yang dianggap menyebar hoax sudah dipolisikan. So, apakah kasus ini sudah selesai?

BELUM!

Ada yang sangat aneh dan membingungkan, atau tidak match, terkait kasus itu.

Umpama film, kisah kebohongan Ratna Sarumpaet seperti film buruk dengan tokoh yang tidak meyakinkan, adegan yang membingungkan, dan plot-hole sangat besar yang membuat penonton yang kritis akan bertanya-tanya karena kebingungan.

Berdasarkan pengakuan Ratna Sarumpaet, dia terpaksa berbohong karena ditanya anaknya, terkait mukanya yang "lebam". Karena kebingungan, dia pun berbohong dan mengatakan habis dianiaya orang.

Patut ditanyakan, anaknya yang mana yang menanyakan hal itu, hingga dia berbohong?

Karena, berdasarkan bukti temuan polisi, anaknya ikut membiayai operasi plastik yang dilakukan Ratna Sarumpaet, dengan bukti adanya transfer dari rekening si anak ke rumah sakit tempat Ratna Sarumpaet melakukan operasi. Artinya, si anak tahu ibunya melakukan operasi plastik.

Tapi bukan itu yang terpenting.

Yang terpenting adalah... bagaimana pengakuan (kebohongan) Ratna Sarumpaet kepada anaknya itu bisa "terdengar" ke orang-orang secara luas, hingga mereka sama-sama kompak "tahu" kalau Ratna Sarumpaet dianiaya?

Benar, jawabannya karena ADA FOTO.

Sekarang bagian yang paling penting terkait kasus ini. BAGAIMANA FOTO-FOTO ITU BISA BEREDAR?

Foto-foto itu bukan jenis foto yang ingin kita pamerkan ke orang lain, khususnya kalau kita mengingat watak Ratna Sarumpaet yang sangat keras. Jadi, BAGAIMANA FOTO-FOTO ITU BISA BEREDAR?

Di satu sisi, Ratna Sarumpaet sampai terpaksa berbohong pada anaknya, karena malu jika mengaku melakukan operasi plastik.

Di sisi lain, dia mengizinkan seseorang (entah siapa) mempublikasikan foto-fotonya saat sedang dalam perawatan terkait operasi plastik.

Bisa memahami plot-hole ini?

Tampaknya, polisi tidak cukup menangkap Ratna Sarumpaet. Mereka juga harus mencari dan menangkap ORANG YANG PERTAMA KALI MENYEBARKAN FOTO HOAX terkait Ratna Sarumpaet. Karena orang itulah awal hoax muncul, hingga termakan orang-orang lain yang tak tahu.

Post Script:

Sebenarnya, kasus hoax ini membingungkan, justru karena tokoh utamanya Ratna Sarumpaet. Tanpa bermaksud berlebihan, dia "wanita baja" dalam arti sesungguhnya. Kalau kau melihat dia di era '90-an, kau akan tahu maksudku. Karenanya, kasus ini aneh sekaligus absurd.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Oktober 2018.

Senin, 11 Maret 2019

Merpati yang Ingkar Janji

Terbang tinggi bukan hal sulit.
Yang sulit adalah tetap menapak bumi, sementara kau tahu
betapa nikmatnya terbang tinggi.
@noffret


“Aku akan membuatmu berdarah, bangsat!” Dan dia melakukannya.

Kelak, pertarungan pertama di jalanan itu mengantarkannya menjadi petarung tangguh dan paling ditakuti di dunia. Tapi jalan takdir tak pernah bisa diduga. Ia bisa mengantarmu menjadi seorang juara, juga bisa menghancurkanmu dengan cara paling brutal.

Tumbuh sebagai anak miskin dengan orang tua tunggal, Michael Gerard Tyson adalah sosok pendiam. Dia tidak sempat mengenal ayahnya, karena sang ayah pergi saat Tyson berusia 2 tahun. Sang ibu, Lorna Smith, sendirian membesarkan Tyson, dan bocah itu tumbuh menjadi anak yang suka mengurung diri di rumah. Dia tak punya teman. Sementara lingkungan tempat tinggalnya, Brooklyn, dikenal sebagai tempat yang keras. Bocah itu pun lebih senang tinggal di rumah.

Karena tidak memiliki teman, dia biasa menghibur diri dengan berkunjung ke Taman Kota Brownsville, yang tak jauh dari rumahnya. Di taman itu ada banyak burung merpati berkerumun, dan dia senang menyaksikan mereka. Bagi Tyson, waktu itu, merpati adalah makhluk lembut yang ajaib.

Karena ketertarikannya pula, Tyson mengumpulkan uang untuk membeli seekor merpati. Ia merawat merpati miliknya dengan penuh sayang, dan itulah satu-satunya teman yang ia miliki. Ia rajin memberinya makan, memandikannya, bersamain-main, dan bersenda gurau dengannya. Hidup Tyson waktu itu hanya sebatas dengan burung merpati.

Suatu hari, dia terkejut mendapati merpati kesayangannya hilang, tak ada lagi di sangkar. Ketika mencoba mencari, yang ia dapati sungguh mengerikan.

Di Brooklyn, seperti umumnya di lingkungan keras lain, ada bocah-bocah yang tumbuh menjadi berandal. Bocah-bocah itu senang mencari gara-gara, dari mencorat-coret tembok, menghancurkan kaca mobil tetangga, melempari rumah, sampai menantang berkelahi siapa pun. Salah satu berandal di sana tahu, Tyson memelihara merpati dan menyayangi burung itu. Jadi, si berandal mengerjai Tyson, ingin melihatnya menangis.

Ketika Tyson sedang bingung di halaman rumah mencari merpati kesayangannya, berandal itu memanggil Tyson, dan berkata, “Lihat ini!”

Tyson menatap berandal di depan halaman rumahnya. Si berandal memegangi merpati yang ia cari-cari. Kemudian, dengan dingin, bocah berandal itu memelintir kepala merpati milik Tyson, lalu melemparkannya ke halaman rumah, di depan Tyson berdiri.

Tyson terpana menyaksikan merpati kesayangannya tergeletak menjadi bangkai, sementara si berandal tertawa-tawa. Setelah sadar dari keterkejutan, Tyson menatap berandal di depan rumahnya, dan merasakan darah di tubuhnya membakar murka.

“Aku akan membuatmu berdarah, bangsat!” ujarnya. Dan itulah yang kemudian ia lakukan.

Waktu itu, Tyson berusia 11 tahun, dengan tubuh ramping. Lawannya, si berandal yang membunuh merpatinya, berusia lebih tua dengan tubuh dua kali lipat lebih besar. Tapi amarah menyulut adrenalin, dan adrenalin yang mengalir deras bisa membuat siapa pun memiliki kekuatan super. Tyson, si bocah rumahan, waktu itu telah berubah menjadi monster.

Dengan amarah membara, Tyson mendekati si berandal, lalu menghajarnya tanpa ampun. Si berandal, yang mungkin tak mengira akan menghadapi serangan Tyson, tergagap dan tak mampu menyelamatkan diri dari hantaman bertubi-tubi yang datang. Dia terkapar, dengan muka berdarah-darah.

Pertarungan itu ditonton banyak orang—berandal-berandal di Brooklyn—dan mereka menyaksikan berandal kawan mereka babak belur. Sejak itu, mereka menilai Tyson dengan pandangan berubah.

Sejak itu pula, hidup Tyson ikut berubah. Anak rumahan yang semula hanya berteman merpati, berubah menjadi anak jalanan yang akrab dengan geng berandal. Dia berkelahi setiap hari, mencari masalah setiap pekan. Sejak itu, hidupnya hanya ada di dua tempat—di jalanan, dan di penjara. Sebelum berumur 13 tahun, Michael Gerard Tyson, yang akrab dipanggil Mike Tyson, telah ditangkap polisi 38 kali.

Lorna Smith, sang ibu, khawatir dengan perkembangan Tyson yang makin liar. Karena kekhawatiran pula, ia mengirim Tyson ke sekolah-asrama Tryon School for Boys di Johnstown, New York. Sekolah itu menampung banyak anak berandalan, dan memiliki banyak pilihan ekstrakurikuler. Tyson memilih tinju sebagai kegiatan ekstrakurikulernya.

Kelas tinju di sekolah itu dilatih oleh Bobby Stewart, seorang mantan petinju. Begitu melihat Tyson, Bobby segera mengenali bakatnya. Ia lalu mengenalkan Tyson pada pelatih tinju legendaris, Cus D’Amato. Kelak, lewat orang inilah Tyson akan menjadi petinju paling terkenal di dunia, dan orang-orang menjulukinya Si Leher Beton.

Tapi perjalanan ke sana masih panjang.

Dari Tryon School for Boys di Johnstown, New York, Mike Tyson dipindahkan ke sasana tinju milik D’Amato, di Catskill Boxing Club. Tempat itu menjadi Kawah  Candradimuka bagi Tyson. Di sana, Cus D’Amato bersama asistennya, Kevin Rooney, membentuk ulang Mike Tyson, si bengal dari Brooklyn, untuk menjadi petarung yang tangguh di atas ring.

Cus D’Amato bukan hanya melatih Tyson dalam urusan bertinju, tapi juga menanamkan kedisiplinan, melatihnya mengendalikan diri, mengajari bagaimana menjadi pemenang.

“Ingatlah ini,” kata D ‘Amato berulang-ulang, “disiplin, kendalikan diri, dan jadilah pemenang!”

Mike Tyson berjanji akan mengingatnya.

Tiga resep itu kelak terbukti mampu mengantarkan Tyson menjadi pemenang sesungguhnya—sang petarung paling ditakuti di dunia—yang bisa menjatuhkan lawan mana pun hanya dalam hitungan detik!

Kelak, bertahun-tahun kemudian, Mike Tyson mengenang D’Amato sebagai guru yang luar biasa. “Dia menghancurkan hidup saya,” ujar Tyson, “tapi juga membangunnya kembali.”

Ketika Tyson sedang berlatih keras di bawah bimbingan D’Amato, ibunya sedang sakit keras. Sejak lama, Lorna Smith berjuang menghadapi kanker yang menggerogoti tubuhnya, dan Tyson selalu berharap ibunya mampu melewati masa-masa berat itu. Ia ingin menunjukkan pada ibunya, bahwa anaknya yang bengal bisa menjadi orang yang patut dibanggakan.

Tetapi, harapan Tyson tak terkabul. Sebelum ia sempat memulai karier sebagai petinju profesional, ibunya meninggal.

Sepeninggal sang ibu, Cus D’Amato menjadi wali bagi Tyson. Ia tidak lagi hanya menjadi pelatih, tapi juga menjadi ayah bagi bocah itu. Sayang, D’Amato meninggal, tak lama setelah ibu Tyson wafat. Setelah D’Amato meninggal, Tyson dilatih Kevin Rooney, yang semula menjadi asisten D’Amato. Sama seperti sebelumnya, Tyson terus berlatih keras di bawah bimbingan Rooney.

Akhirnya, pada 1984, ketika berusia 18 tahun, Mike Tyson memulai debut tinju profesional.

Bocah berandal dari Brooklyn itu menghadapi Hector Mercedes sebagai lawan pertama di ring. Tyson mampu menganvaskan lawannya di ronde pertama. Mengalahkan Hector Mercedes membuka jalan bagi Tyson untuk menghadapi lawan-lawan berikutnya. Dan kemenangan demi kemenangan terus ia raih. Hampir semua lawan tersungkur KO. Mike Tyson, si bocah rumahan, berandal bengal, kini mulai dikenal sebagai juara.

Lalu tiba 1986, dan usia Tyson 20 tahun. Itu menjadi waktu penting bagi Tyson, karena ia harus berhadapan dengan Trevor Berbick, juara kelas berat versi WBC. Waktu itu, Berbick bertubuh lebih besar dari Tyson. Tapi Tyson bisa merobohkan sang juara di ronde kedua, sekaligus mencatatkan diri sebagai petinju termuda dalam sejarah, yang berhasil meraih sabuk juara kelas berat dunia. Ia meraihnya dalam usia 20 tahun, 4 bulan, 22 hari.

Sejak itu, para petinju lain mulai ketakutan.

Pada 1987, Tyson memukul KO James Smith, pemegang sabuk kelas berat WBA. Lima bulan kemudian, Tyson menjadi petinju pertama yang berhasil menyatukan seluruh gelar tinju kelas berat, setelah mengalahkan Tony Tucker, pemegang sabuk IBF. Tyson kemudian dikenal sebagai Raja KO. Selama itu, dia berhasil menang 28 kali, dan 26 di antaranya menang dengan KO atau TKO. Dari sejumlah pertarungan, 16 di antaranya menang KO di ronde pertama.

Setelah mengalahkan semua jawara di kelas berat, Tyson kemudian menghadapi para petinju yang mengincar gelar-gelar miliknya. Dari wajah-wajah baru sampai para jawara tua. Dan mereka semua menghadapi nasib sama; jatuh hanya dalam beberapa detik. Bahkan mantan juara kelas berat dunia, Larry Holmes, tersungkur di ronde keempat. Leonel Spinks jatuh dan tak bangun lagi, hanya dalam tempo 91 detik.

Kegarangan Tyson, yang kini dijuluki Si Leher Beton, terus mendunia. Resep Cus D’ Amato terbukti. “Disiplin, kendalikan diri, dan jadilah juara!”

Tetapi, rupanya, Mike Tyson mulai melupakan wasiat penting pelatihnya. Setelah berhasil mengalahkan para juara—dari yang paling terkenal sampai yang tidak dikenal—Tyson mungkin merasa tak terkalahkan. Disiplin dan pengendalian dirinya mulai mengendur. Hal itu diperparah oleh kedekatannya dengan Don King, promotor flamboyan yang gemar pesta. Sejak itu, banyak kalangan menyebut gaya hidup Tyson berubah.

Mike Tyson, yang semula sangat disiplin berlatih, kini mulai doyan pesta, dan sering tidak datang ke sasana latihan. Hubungannya dengan Kevin Rooney, sang pelatih, menjadi tegang. Rooney, sebagaimana D’Amato, adalah pelatih yang baik, sabar, sekaligus keras. Dia ingin Tyson tetap disiplin berlatih seperti dulu. Tapi rupanya Tyson lebih menyukai berpesta dengan Don King.

Hubungan Tyson dengan Rooney semakin menegang, dan puncak perseteruan mereka terjadi pada 1988. Tyson memecat Kevin Rooney tanpa sebab, dan pelatih yang telah susah-payah membentuk Tyson menjadi juara itu akhirnya pergi.

Setelah Rooney pergi, kehidupan Tyson makin liar. Tak ada lagi orang sesabar Rooney yang mengingatkan kedisiplinan dalam hidup, juga di atas ring. Sejak itu, Tyson kembali bengal. Rajin mabuk di pesta-pesta, dan melupakan latihan. Selama masa-masa itu pula, Tyson menghambur-hamburkan uangnya yang mungkin ia pikir tak akan habis. Dia membeli permata untuk cewek-ceweknya, semudah orang lain membeli es krim.

Badai kemudian datang melalui pukulan bertubi-tubi yang dilancarkan James Buster Douglas. Februari 1990, James Douglas sebenarnya bukan siapa-siapa, khususnya jika dibandingkan Mike Tyson. Tetapi, dalam pertarungan mereka di Jepang, Douglas mampu menghajar Tyson dengan hook beruntun, hingga Tyson kewalahan.

Douglas memang sempat sempoyongan, dan jatuh ke kanvas, setelah mendapat upper cut kanan Tyson yang mematikan. Tapi dia bangkit lagi. Bahkan, seperti dapat mengukur daya pukulan Tyson, Douglas kemudian tampil lebih impresif. Kali ini dia tahu bagaimana menghadapi Si Leher Beton, dan Douglas melancarkan hook kanan yang tak kalah mematikan, hingga Tyson jatuh mencium kanvas di ronde 10.

Itu menjadi sejarah penting di dunia tinju, bahwa Mike Tyson, Si Leher Beton, bisa dikalahkan.

Memang, dalam pertarungan ulang, Mike Tyson kemudian membalas dendam dengan memukul KO Douglas. Tapi pertarungan melawan Douglas—yang sempat menjatuhkannya—perlahan mulai meruntuhkan kedigdayaan Tyson. Si Raja KO itu bisa tersungkur, bahkan oleh pendatang baru.

Maka para penantang pun mulai berani.

Seharusnya, itu menjadi masa kritis yang membuat Tyson menyadari kesalahannya. Tapi tidak. Dia tidak segera memperbaiki kelemahan utamanya, yaitu kedisiplinan. Tanpa kedisiplinan, seorang juara pun akan kalah. Tapi Tyson sudah melupakan wasiat penting pelatihnya. Bukannya kembali ke sasana latihan untuk membentuk kedisplinan diri, dia malah makin liar di pesta-pesta, dan kehidupannya makin tak terkendali.

Puncaknya terjadi pada 1991, ketika dia ditangkap karena memperkosa ratu kecantikan dari Rhode Island, Desiree Washington. Insiden itu terjadi di Indianapolis. Tyson kemudian dijatuhi hukuman penjara enam tahun.

Di penjara, jauh dari ingar-bingar pesta, Tyson mulai memiliki waktu untuk berpikir, untuk merenung, dan dia mulai mengenali dirinya sendiri yang kini telah jauh berubah. Di penjara itu pula dia mempelajari kehidupan petinju idolanya, Muhammad Ali, hingga terinspirasi memeluk Islam seperti sang idola. Mike Tyson lalu mengubah namanya menjadi Malik Abdul Aziz.

Tiga tahun kemudian, karena dinilai berkelakuan baik, Mike Tyson dibebaskan dari penjara.

Waktu itu, Tyson bertekad untuk kembali menjadi dirinya yang dulu, yang disiplin, yang berlatih keras, dan yang mampu mengendalikan diri. Bersama tekadnya pula, Mike Tyson berhasil merebut gelar WBC dan WBA dengan memukul KO Frank Bruno dan Bruce Seldon. Namanya kembali gemilang di dunia tinju.

Tapi insiden tak terduga muncul, ketika ia berhadapan dengan Evander Holyfield, petinju yang telah lama menunggu giliran bertarung melawan Tyson. Pada 9 November 1996, Evander Holyfield memanfaatkan kesempatannya bertarung dengan Tyson, dan dia melancarkan pukulan bertubi-tubi, nyaris tanpa henti. Dia pasti telah melatih gerakan itu bertahun-tahun.

Menghadapi amukan Holyfield, Tyson seperti orang kebingungan, dan wasit menghentikan pertandingan. Mike Tyson kalah TKO, dan dia kehilangan gelar WBA.

Pertandingan ulang dilakukan, dan Tyson kembali berhadapan dengan Holyfield. Tapi pertandingan itu dinyatakan batal, karena Tyson menggigit telinga Holyfield. Atas perbuatannya, Tyson berdalih kesal karena kepala Holyfield terus membentur dahinya tanpa dihentikan wasit. Apa pun, yang jelas sejak itu Tyson jadi bahan olok-olok di dunia tinju.

Setelah cukup lama menghilang usai kalah dengan Evander Holyfield, Tyson muncul kembali pada 2002, ketika usianya 35. Tidak ada yang tahu apakah selama menghilang itu Tyson kembali berlatih dengan disiplin atau tidak. Yang jelas, saat bertarung melawan Lennox Lewis, Tyson kalah TKO. Empat tahun kemudian, pada 2006, Tyson akhirnya mengundurkan diri dari dunia tinju, setelah kalah KO dari Danny Williams dan Kevin McBride—dua petinju yang tak dikenal dunia.

Apa yang terjadi setelah itu?

Jawabannya ironi. Mike Tyson, yang semula menjadi petinju paling ditakuti di dunia, sang juara tak terkalahkan, berubah menjadi gembel jalanan tanpa uang, tanpa kebanggaan.

Selama berkarier di dunia tinju, Tyson sebenarnya telah mendapatkan uang dalam jumlah luar biasa. Setidaknya, dia telah meraup U$400 juta dolar, atau lebih dari Rp4 triliun. Dia dibayar sangat mahal untuk beraksi di atas ring. Pada masa kejayaannya, dia bahkan dibayar U$30 juta dolar atau sekitar Rp300 miliar untuk satu pertarungan.

Dengan kekayaan yang luar biasa itulah, Tyson terlena dan mabuk dalam banyak pesta, hingga melupakan kedisiplinan—wasiat penting D’Amato—yang menjadi kunci kesuksesannya. Dengan uang berlimpah, Tyson menikmati kehidupan glamor, memanjakan diri dengan pesta dan cewek-cewek. Tidak ada lagi latihan, tidak ada lagi kedisiplinan, tidak ada lagi kemampuan mengendalikan diri.

Saat sang pemenang melepaskan resep kemenangannya, dia sedang mengubah diri menjadi pecundang. Tapi Tyson tidak menyadari. Dan tidak ada yang menyadarkannya. Cus D’Amato, wali sekaligus pelatihnya, telah wafat. Sementara Rooney, pelatihnya yang sabar, telah ia pecat. Sendirian, Mike Tyson terlena oleh uang dan kekayaan, dan pesta, dan para wanita. 

Akhirnya, pada 22 Desember 2003, Mike Tyson menyatakan kebangkrutannya di Pengadilan Kebangkrutan Amerika Serikat, di Manhattan.

The New York Times melaporkan, Tyson memiliki utang U$23 juta dolar (lebih dari Rp200 miliar). Ia juga memiliki utang pajak di Amerika Serikat dan Inggris sebesar U$17 juta dolar (lebih dari Rp170 miliar). Tyson juga punya utang biaya pelayanan limousine, sejumlah U$300 ribu dolar (lebih dari Rp3 miliar), sementara beberapa utang lain mencapai U$750 ribu dolar (lebih dari Rp7 miliar).

“Saya benar-benar sudah melarat,” ujar Tyson kepada Times waktu itu.

Tidak hanya melarat dan kehabisan uang, Mike Tyson juga dikabarkan menjadi gembel. Pada 2004, berbagai forum internet ramai memberitakan Tyson yang hidup luntang-lantung tanpa rumah. Seluruh asetnya habis untuk membayar utang.

Dalam kehidupannya sebagai gembel waktu itu, mungkin sesekali Mike Tyson kembali ke Taman Kota Brownsville, menyaksikan burung-burung merpati di sana, seperti saat ia kecil dulu. Burung-burung merpati itu telah menjadi inspirasinya, jalannya menjadi petinju terkenal dunia, saat ia selalu menepati janji pada sang pelatih untuk disiplin, mengendalikan diri, dan menjadi pemenang.

Tetapi, tak seperti merpati, Tyson lupa memegang janji.

Noffret’s Note: Terhakimi

Ada banyak orang yang mudah menggampangkan persoalan hidup orang lain.

Pada orang yang belum menikah: "Soalnya kamu terlalu pemilih."
Pada orang yang depresi: "Soalnya kamu jauh dari agama."
Contoh ini bisa dilanjut lagi.

Padahal, sering kali, masalahnya tidak sesederhana itu.

Sebagai orang yang merasa sering terhakimi dan sulit menemukan orang lain yang bisa memahami, aku menyadari pelajaran penting dalam hidup:

Kita tidak menjalani kehidupan orang lain. Karenanya, kita tidak bisa merasa lebih tahu tentang kehidupan orang lain.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Juni 2018.

Seorang Bocah, Minggu Dini Hari

03.22
Terbangun dari tidur.
Mikir sejenak.
Kucek-kucek mata.
Ke dapur.
Bikin kopi.
Nyulut udud.
Mikir umat manusia.
Kangen mbakyu.
Kopi habis.
Udud habis.

03.57
Bertanya-tanya ini hari apa.
Lihat HP, sadar ini hari Minggu.
Well, sepertinya tidur lagi adalah pilihan bagus.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Juli 2018.

Rabu, 06 Maret 2019

Kepak Sayap Kupu-Kupu

Hidup bisa berantakan, dan upaya memperbaikinya
bisa penuh kekacauan. Tapi bukan berarti kita harus hancur.
@noffret


Kalau kita punya kakak atau adik, atau bahkan saudara kembar sekali pun, kita pasti akan mendapati perbedaan antara diri kita dengan mereka. Entah perbedaan dalam selera musik, gaya hidup, penampilan, kecenderungan-kecenderungan tertentu, dan lain-lain. Tidak ada dua orang—bahkan saudara kembar pun—yang tidak punya perbedaan sama sekali. Semua orang pasti berbeda.

Perbedaan masing-masing orang bisa berupa perbedaan-perbedaan “sepele”, seperti selera musik atau selera bacaan, sampai perbedaan-perbedaan yang bersifat “prinsip” seperti gaya hidup dan cara memandang hidup.

Dalam contoh yang sepele, satu orang bisa menggemari musik jazz, sementara orang lain menggemari rock. Manakah yang lebih baik? Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, wong itu selera. Kita toh tidak bisa memaksa selera setiap orang harus sama. Justru aneh dan gila kalau kita ngotot memaksakan selera kita pada semua orang. Tak peduli kita menganggap jazz adalah genre musik terbaik, misalnya, tidak setiap orang akan bisa menerima.

Begitu pula dalam selera makanan, atau gaya penampilan. Masing-masing orang memilih yang mereka suka, dan masing-masing orang memilih yang membuat mereka nyaman. Masakan rendang mungkin nikmat bagi sebagian orang, tapi ada sebagian lain yang justru tidak doyan atau menjauhi rendang. Celana jins mungkin nyaman dipakai, tapi tidak setiap orang pasti akan sepakat.

Sampai di sini, kita melihat dan memahami bahwa setiap orang—tak peduli siapa pun—pasti punya perbedaan, dan kita bisa memaklumi, serta tidak menganggap mereka salah. Setidaknya, selama ini saya belum pernah mendengar ada orang dikafir-kafirkan hanya karena tidak doyan rendang, atau dianggap sesat hanya karena tidak suka pakai celana jins.

Tetapi, perbedaan masing-masing orang tidak sebatas itu. Ada perbedaan-perbedaan lain yang bisa dibilang lebih penting, karena terkait prinsip hidup, dan biasanya kita gagal untuk bisa menerima perbedaan. Agar yang saya maksud lebih mudah dipahami, mari gunakan contoh nyata.

Saya punya teman bernama Masruri. Dulu, dia senior saya di kampus. Masruri lahir dan tumbuh di keluarga sederhana. Ayahnya seorang guru, dan ibunya seorang ibu rumah tangga biasa. Dia hidup di lingkungan yang agamis, sehingga juga menjadi orang yang sangat agamis—tak pernah meninggalkan ibadah, hingga dekat dengan para ustaz dan ulama.

Selama bertahun-tahun berteman dengannya, saya melihat Masruri sebagai orang yang memiliki kecerdasan emosi yang baik, hingga bisa bergaul dengan siapa pun. Dia dekat dengan sesama mahasiswa, dan akrab dengan para dosen. Dia baik dengan para tetangga, dan sangat menghormati orang tua. Kemampuan (atau kepribadian) itu tidak bisa dilepaskan dari latar belakang keluarganya yang memang rukun dan harmonis. Dia dibesarkan dengan baik, hingga tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Bertahun-tahun kemudian, yakni sekarang, Masruri telah menjadi orang sukses. Dia memiliki bisnis properti, dan menjadi direkturnya. Atas kesuksesan tersebut, dia tidak cuma kaya-raya, tapi juga sering menjadi pembicara di acara-acara bisnis. Perjalanan ke arah itu butuh perjuangan dan kerja keras yang luar biasa. Tapi yang jelas, dia sekarang sukses. Dan Masruri masih menjadi pribadi yang sama seperti sekian tahun lalu, yakni ramah pada siapa pun, rajin beribadah, dan sangat menghormati orang tuanya.

Jika kita bertanya kepadanya, apa rahasia suksesnya, Masruri akan menjawab kira-kira begini, “Pertama, dekatkan dirimu pada Tuhan. Rajinlah beribadah dan berdoa, karena kesuksesan datang dari Tuhan. Kedua, dapatkan ridha (restu) orang tuamu, karena ridha orang tua adalah ridha Tuhan. Mendapatkan ridha orang tua akan meluruskan jalanmu menuju kesuksesan.”

Apakah nasihat itu salah? Tentu saja tidak! Yang dikatakan Masruri itu benar. Rajinlah beribadah dan berdoa, karena kesuksesan hakikatnya datang dari Tuhan. Dan hormatilah orang tuamu, dapatkan ridha mereka. Karena ridha orang tua menjadi ridha Tuhan. Itu kebenaran yang sulit disangkal, khususnya bagi orang-orang beragama.

Tetapi, jangan lupa. Masruri bisa memiliki keyakinan semacam itu—dan bisa memberi nasihat semacam itu—karena latar belakangnya membentuknya untuk berpikir begitu. Seperti yang disebut tadi, dia tumbuh dalam keluarga harmonis, dibesarkan orang tua yang baik, dan dia hidup di lingkungan yang agamis. Semua itu, mau tak mau—disadari atau tidak—ikut membentuk dirinya.

Saat saya menulis catatan ini, Masruri sudah menikah dan punya anak-anak. Dia telah—meminjam istilah populer—“menjadi orang”, dalam arti bisa mencapai kesuksesan dan materi, memiliki keluarga yang lengkap, serta terpandang di kalangan masyarakat.

Sekarang, mari lihat teman saya yang lain.

Iwan adalah teman saya yang kini juga sukses. Iwan menjadi jurnalis internasional, yang tidak hanya membuat dia hidup nyaman, tapi juga memungkinkannya keliling dunia—keluyuran dari satu negara ke negara lain—semudah kita keluar masuk mal. Dia yang sekarang adalah dia yang seratus delapan puluh derajat berbeda, dengan dia yang dulu.

Bertahun-tahun lalu, Iwan bukan siapa-siapa. Dia anak terbuang yang saban hari dianiaya orang tuanya. Lahir dan tumbuh dalam keluarga miskin, membuat Iwan sudah kenyang penderitaan sejak masih dini. Orang tuanya sangat agamis, tapi perilaku mereka terhadap anak-anaknya sangat kejam, karena mungkin frustrasi menghadapi kemiskinan dan beratnya hidup.

Jadi, Iwan tidak hanya menghadapi hidup yang berat, tapi juga perlakuan orang tua yang—meminjam istilah yang digunakannya—“merusak diriku luar dalam”. Pada titik semacam itu, Iwan sejak dulu menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang bisa ia andalkan, selain dirinya sendiri.

“Aku tidak tahu seperti apa wujud iblis,” kata Iwan dengan amarah dan luka. “Tapi aku berpikir bahwa orang tuaku adalah iblis sesungguhnya.”

“Orang-orang mengatakan agar kita menghormati orang tua,” lanjut Iwan, masih dengan amarah dan luka, “tapi bagaimana aku bisa menghormati orang yang telah melahirkanku hanya untuk mengutuki hidup dan menyesali kelahiranku?”

Mendengar seseorang mengatakan kalimat sejujur dan seluka itu, bisakah kita membayangkan perlakuan buruk macam apa yang ia derita, yang ditimpakan orang tua kepadanya?

Iwan tidak percaya pada Tuhan atau agama—juga tidak percaya pada orang tuanya. Ayah-ibunya sangat taat pada Tuhan, tapi mereka menjalani kehidupan miskin yang mengubah mereka menjadi pribadi mengerikan. Orang tuanya sangat agamis, tapi mereka menjadi orang tua yang buruk, yang sering menyiksa anak-anaknya. Sejak dulu, Iwan adalah pribadi murung bermuka serius.

Karena kesadaran bahwa dia tidak bisa mengandalkan siapa pun selain diri sendiri, Iwan pun membentuk dirinya sendiri, dan memacu dirinya sendiri. Dia belajar sangat keras, dan bekerja sangat keras. Hasilnya, dia bisa mendapat beasiswa kuliah sampai S2. Kemampuannya dalam menulis dan presentasi, membuatnya memperoleh pekerjaan yang sampai sekarang ia jalani.

Ketika Iwan mulai kuliah, orang tuanya menentang. Mereka lebih ingin Iwan bekerja di pabrik, agar bisa segera mendapat penghasilan, agar bisa membantu ekonomi keluarga. Ketika Iwan bekerja sebagai jurnalis, lagi-lagi orang tuanya menentang. Mereka lebih ingin Iwan bekerja di kantor, dengan gaji jelas, agar bisa diandalkan dan dibanggakan.

Keinginan orang tuanya, menurut Iwan, “benar-benar khas orang miskin-terbelakang yang memandang anak-anaknya sebagai investasi! Mereka merasa telah melahirkan dan membesarkan, dan sekarang mereka ingin balik modal!”

Bertahun-tahun kemudian, yakni sekarang, kepribadian Iwan tak jauh beda dengan Iwan yang dulu. Bertampang murung dan serius, sangat mandiri, serta berusaha menjauh—atau menjaga jarak—dari orang tuanya. Di luar itu, dia dikagumi teman-temannya, karena dianggap telah mencapai sesuatu yang mustahil bagi kebanyakan orang.

Jika kita bertanya pada Iwan mengenai resep kesuksesan, dia akan menjawab kira-kira begini, “Pertama, pahamilah bahwa satu-satunya orang yang bisa diandalkan di dunia ini adalah dirimu sendiri. Kau tidak bisa mengandalkan siapa pun—termasuk orang tuamu—karena takdirmu ada di tanganmu. Kedua, setelah menyadari bahwa kau hanya bisa mengandalkan diri sendiri, kau harus belajar dan bekerja, jauh lebih keras dari siapa pun.”

Apakah nasihat itu salah? Tentu saja tidak! Yang dikatakan Iwan itu benar. Kita harus membangun hidup dengan usaha dan upaya sendiri, karena nyatanya takdir setiap orang ada di tangannya sendiri. Bahkan jika seseorang ditakdirkan sebagai orang hebat sekali pun, takdir itu akan hilang jika orang bersangkutan tidak melakukan usaha dan upaya apa pun. Itu kebenaran yang sulit disangkal, tak peduli kau orang beragama atau tidak beragama.

Dan, jangan lupa. Iwan bisa memiliki keyakinan semacam itu—dan bisa memberi nasihat semacam itu—karena latar belakangnya membentuknya untuk berpikir begitu. Seperti yang disebut tadi, dia tumbuh dalam keluarga miskin, dibesarkan oleh orang tua yang buruk, hingga dia hidup dengan keyakinan tidak bisa mengandalkan siapa pun selain dirinya. Semua itu, mau tak mau—disadari atau tidak—ikut membentuk dirinya.

Kita lihat? Setiap orang memiliki perbedaan, tidak hanya dalam selera musik atau cara berpenampilan, tapi juga sampai pada prinsip hidup serta hal-hal yang mereka yakini. Karena nyatanya setiap orang tidak bisa dilepaskan dari lingkungan dan pengalaman hidupnya. Membicarakan prinsip orang per orang, sama artinya membicarakan kehidupan mereka seutuhnya. Kita tidak bisa menilai orang hanya dari hal-hal yang ia percaya, tanpa melihat latar belakang kehidupannya.

Jadi, berdasarkan contoh Masruri dan Iwan yang saya ceritakan, manakah yang lebih baik? Bagi saya, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, karena begitulah manusia tumbuh, seperti itulah kepercayaan terbentuk, dan dengan cara itulah prinsip hidup masing-masing orang terwujud. Sekali lagi, kita tidak bisa melepaskan orang dari pengalaman dan kehidupan yang mereka jalani, karena pengalaman dan kehidupan itulah yang membentuk mereka.

Karenanya, akan sangat bermasalah, kalau kita memaksakan sesuatu kepada orang lain, semata-mata karena kita menganggapnya benar. Karena yang “benar” bagi kita, tidak pernah terjamin benar pula bagi orang lain.

Masruri—atau orang-orang seperti Masruri—benar dengan kepercayaan mereka sendiri, karena kehidupan yang dijalani membentuk mereka untuk berpikir seperti itu. Tapi yang benar menurut mereka bisa menjadi masalah ketika dipaksakan kepada Iwan, atau orang-orang seperti Iwan. Karena nyatanya masing-masing orang punya jalan hidup dan pengalaman berbeda, yang membentuk keyakinan serta cara pandang mereka.

Dalam menjalani kehidupan—termasuk cara memandang hidup, upaya mencapai kesuksesan, sampai perkawinan dan kepemilikan anak—masing-masing orang punya pandangan sendiri, yang dibentuk oleh latar belakang mereka sejak kecil.

Masruri pasti sangat yakin bahwa menikah akan membuat bahagia, dan punya anak-anak akan melancarkan rezeki. Sama yakinnya bahwa kunci sukses adalah menghormati orang tua serta rajin berdoa. Kenapa? Karena jalan hidupnya membentuk dia berpikir seperti itu, dan kenyataannya dia memang menjalani kehidupan semacam itu.

Tapi akan bermasalah, jika—misalnya—Masruri memaksakan kepercayaan pribadinya terhadap Iwan, atau orang-orang semacam Iwan.

Berdasarkan pengakuannya sendiri, Iwan mengatakan, “Setiap kali mendengar kata perkawinan, yang terbayang dalam benakku adalah kehidupan orang tuaku yang menyedihkan. Perkawinan membuat bahagia? Itu benar-benar kebohongan yang mengerikan. Punya anak akan melancarkan rezeki? Orang tuaku punya banyak anak, tapi kehidupan kami keblangsak!”

Begitu pula terkait hal-hal lain. “Menghormati orang tua” mungkin terdengar mudah, bahkan mulia, khususnya bagi orang-orang yang punya orang tua baik, yang membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih. Sayangnya, tidak semua orang tua pasti baik. Sebagian mereka adalah orang tua buruk, yang membuat anak-anaknya sangat membenci dan berusaha menjauh.

Karenanya, sungguh lucu dan sia-sia memaksakan keyakinan pribadi kepada orang lain, karena nyatanya setiap manusia memang berbeda. Lebih dari itu, masalah kita sebenarnya bukan perbedaan—karena itu mutlak terjadi—melainkan cara kita dalam menghadapi perbedaan. Kita tidak bisa menghilangkan perbedaan, yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki sikap kita dalam menghadapi perbedaan.

Manusia lahir dan tumbuh, untuk kemudian hidup, seperti kupu-kupu. Sama-sama berasal dari ulat, sama-sama tumbuh dalam kepompong, tapi mereka kemudian menjelma dengan sayap warna-warni, dan tidak ada satu pun dari mereka yang serupa.

Dan kupu-kupu tidak pernah mempermasalahkan perbedaan yang ada. Mereka mengepakkan sayap dalam hening, menjalani kehidupan dengan damai... dan menyimpan luka, kesedihan, serta tangis dalam sunyi.

Benci Hal-hal Ribet

Sebagai manusia, saya sama seperti orang lain umumnya. Bedanya, mungkin, saya benci hal-hal ribet.

Orang lain butuh kerja demi mendapat penghasilan, saya juga butuh kerja untuk tujuan yang sama. Bedanya, orang lain mungkin mau ribet mengurus surat lamaran, bikin CV, membuat pasfoto, melegalisir ijazah, dan lain-lain. Sementara saya malas mengurus hal-hal ribet seperti itu. Karena itulah, saya bekerja di rumah sendiri, biar tidak ribet, dan agar bisa bekerja dengan cara saya sendiri.

Orang lain membutuhkan pasangan, saya juga membutuhkan pasangan. Bedanya, orang lain mungkin mau ribet pedekate sampai mengejar-ngejar, dari aktif menelepon, kirim pesan mesra, hahahihi yang membuang waktu, dan sebagainya. Sementara saya malas mengurus hal-hal ribet semacam itu. Karena itulah, saya memilih menikmati kesendirian tanpa diganggu apa pun, termasuk pasangan.

Karena saya benci hal-hal ribet!

Subjektif

“Kalau kita menghadapi dua hal yang sama-sama subjektif, bagaimana agar kita tetap objektif?”

“Ambil keduanya. Kalau hanya mengambil salah satu, kau lebih subjektif.”

Sabtu, 02 Maret 2019

Kembali ke Twitter dan Sedikit Curhat

Akhirnya bisa masuk ke sini lagi.
@noffret


Setelah sekitar setengah bulan tidak bisa mengakses Twitter karena akun dibatasi, akhirnya saya bisa kembali masuk Twitter dan mengakses akun saya kembali pada 18 Februari kemarin. Senang rasanya bisa kembali menikmati timeline dan mendapati banyak hal seperti biasa, termasuk cekikikan sendiri saat mendapati humor-humor yang bertebaran.

Humor ala Twitter adalah salah satu hal yang membuat saya merasa perlu masuk Twitter. Karena humor-humor para pengguna Twitter biasanya tak terduga, nyeleneh, sinting, absurd, dan sering membuat saya cekikikan. Itu hiburan segar yang mampu mengendurkan kembali syaraf tegang.

Biasanya, saat mendapati suatu humor di timeline, saya akan membuka bagian mention/komentar dari para pengguna Twitter lain. Karena komentar yang bertebaran di sana biasanya juga mengandung kelucuan, meski jika penulisnya tidak bermaksud melucu, dan saya sering cekikikan sendiri saat membacanya.

Selain menikmati humor yang kerap muncul, Twitter juga memungkinkan saya memahami berbagai pikiran orang lain, serta cara mereka berpikir. Itu, bagi saya, semacam pembelajaran yang tidak bisa saya dapatkan di tempat lain.

Kalau banyak orang berkumpul di dunia nyata, biasanya hanya satu dua orang yang berbicara, dan yang lain mendengarkan. Karenanya, kita hanya akan mendengar dari satu dua orang itu saja, karena yang lain diam. Jika banyak orang berkumpul itu sama-sama berbicara, kita justru tidak akan bisa mendengar apa-apa, karena suasana pasti akan sangat bising dan kacau.

Hal semacam itu tidak terjadi di Twitter. Meski semua orang berbicara bersamaan—yang lalu muncul di timeline—kita tetap bisa menikmati satu per satu yang mereka katakan, dan tidak merasa terganggu karena bising atau suasana yang kacau. Twitter memungkinkan kita mendengarkan suara banyak orang di waktu bersamaan, dengan tenang, terlepas apa pun yang mereka ocehkan.

Saya tidak tahu apa motivasi orang-orang lain dalam mem-follow suatu akun. Namun, saya mem-follow suatu akun di Twitter biasanya karena unik, atau karena keunikan pribadi. Yang namanya “unik” tentu bisa macam-macam, dari lucu, serius, berwawasan, bermanfaat, sampai absurd. Suka-suka mereka, lah. Selama mereka tetap menjadi diri sendiri—seabsurd apa pun—saya juga suka-suka aja.

Well, soal upaya peretasan akun yang terjadi tempo hari. Saya sempat berpikir, kenapa ada orang sampai repot-repot berusaha meretas akun Twitter saya?

Di Twitter, akun saya sama sekali bukan akun penting apalagi berpengaruh. Kalau pun bisa menguasai akun itu melalui peretasan—buat apa? Di Twitter, saya juga nyaris tidak pernah ribut soal politik atau terjun dalam kancah peperangan “cebong” dan “kampret”. Jadi, kalau pun bisa menguasai akun saya melalui peretasan, sekali lagi buat apa? Di Twitter, saya bahkan sangat jarang berkomunikasi dengan orang lain, wong saya lebih suka ngoceh sendiri. Jadi, apa kira-kira motivasi orang sampai repot-repot berusaha meretas akun Twitter saya?

Seorang teman mengatakan, “Mungkin ada orang yang penasaran ingin melihat interaksi DM (Direct Message) kamu di Twitter.”

Itu kemungkinan yang sebelumnya tak sempat saya pikirkan. Meski kemungkinan itu terdengar absurd, tapi sepertinya bisa menjadi kemungkinan paling logis kenapa ada orang sampai berusaha meretas akun Twitter saya. Ya, bisa jadi ada keparat kurang kerjaan yang mungkin berpikir, “Kira-kira bocah ini nyepik siapa saja lewat DM?”

Kalau memang itu tujuan si keparat-entah-siapa mencoba meretas akun Twitter saya, sekarang biar saya ceritakan saja—agar dia tidak perlu repot-repot berusaha menjebol akun saya.

Dulu, sekian tahun yang lalu, saya memang pernah terpikir memanfaatkan DM di Twitter untuk berkomunikasi dengan seorang wanita yang membuat saya tertarik.

Saya hanya mengenalnya lewat dunia maya, dan dulu kami juga sempat saling berinteraksi lewat mention. Namanya orang tertarik, saya ingin lebih akrab dengannya, dan saya terpikir untuk berkomunikasi lewat DM karena lebih privat. And you know what? Saya tidak tahu bagaimana caranya!

Bukan, saya bukan tidak tahu cara menggunakan DM di Twitter. Yang saya maksud, saya tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengannya, agar kami lebih akrab dan dekat! Dan sampai kini, yang artinya setelah bertahun-tahun kemudian, di antara kami tetap tidak ada apa-apa!

Kalian yang biasa membaca blog ini, dan mendapati saya biasa ngoceh panjang lebar tentang apa saja, mungkin berpikir kalau saya bisa enjoy berkomunikasi dengan siapa pun. Salah! Faktanya, saya sering kesulitan (mungkin lebih tepat disebut kebingungan) saat harus berkomunikasi dengan orang lain, khususnya orang yang tidak/kurang dikenal, khususnya lagi orang yang tidak/kurang komunikatif.

Di Twitter, konon ada cowok-cowok yang bisa enjoy ngirim DM ke cewek, berisi ajakan ngewe. Kenyataan itu sering terungkap, karena ada cewek-cewek yang meng-capture isi DM mereka. Lha saya? Boro-boro ngajak ngewe, sekadar menyapa “hai” saja sudah membuat saya kebingungan.

Setiap kali ingin menyapa seseorang—khususnya di Twitter—saya biasanya harus melakukan persiapan sampai lama, dan memastikan dia benar-benar orang ramah yang tidak akan terganggu dengan sapaan saya. Jika dalam hal itu saya merasa ragu, saya memilih untuk tidak menyapa sama sekali, meski jika sebenarnya ada hal sangat penting yang ingin saya katakan/tanyakan kepadanya.

Hal semacam itu saya alami saat ingin menyapa siapa saja, baik sesama pria maupun wanita. Kalau sekadar menyapa layaknya manusia normal saja saya sering kebingungan, apalagi saat ingin menyapa seseorang yang—katakanlah—membuat saya naksir? Wong tidak punya perasaan apa pun saja, saya sudah kebingungan. Apalagi kalau harus menyapa seseorang, sementara saya punya “perasaan khusus” kepadanya? 

Bayangkan adegan ini. Umpama—sekali lagi, umpama—saya menyapa “hai” pada seorang wanita, dan dia membalas “hai”, sampai di situ saya akan bingung, bagaimana meneruskannya? Saya kan tidak mungkin tiba-tiba bertanya kepadanya, “Apakah kamu percaya bahwa sebenarnya ada semesta lain di luar semesta kita, dan ada makhluk mirip kita di semesta lain itu?”

Bisa-bisa dia menganggap saya tidak waras. Ya meski sebenarnya saya mungkin memang tidak waras, sih.

Latar belakang itulah yang menjadikan saya tidak/kurang komunikatif di Twitter, karena memang tidak bisa atau sering kebingungan saat ingin berkomunikasi dengan siapa pun. Dalam hal ini, yang bisa saya lakukan hanya membalas/menjawab mention orang lain dengan baik, khususnya jika mention itu bukan basa-basi tidak jelas atau hal-hal yang mestinya tidak perlu dibahas.

Berdasarkan curhat tidak penting ini, kalian bisa mengira isi DM saya? Ya, benar sekali, di boks DM saya tidak ada apa-apa, selain hanya komunikasi biasa dengan beberapa orang.

Jadi, buat keparat-kurang-kerjaan yang mungkin penasaran ingin tahu isi DM saya di Twitter, jauh lebih baik gunakan waktumu untuk hal-hal yang bermanfaat, daripada repot-repot berusaha meretas akun Twitter saya. Karena bahkan umpama kau berhasil, tetap saja usahamu akan sia-sia.

Bocah yang Kangen Mbakyunya tapi Tidak Tahu Gimana Ngomongnya

Seorang bocah curhat, “Aku kangen banget sama mbakyuku.”

Saya sok menasihati, “Kalau kangen tuh ya ditemui.”

Dia menjawab ragu-ragu, “Uhm... itulah masalahnya. Aku tidak tahu gimana ngomongnya. Fu... fu... fu...”

Diam-diam, saya merasa senasib dengannya.

Noffret’s Note: Politisi

Saat melihat para pejabat dan politisi, sering kali aku berpikir, "Apakah mereka bisa mengurus dirinya sendiri?"

Caleg-caleg gagal yang kemudian stres dan gila, sebaiknya memang gagal. Rasanya ngeri membayangkan kalau mereka sampai berhasil.

Terlalu banyak orang di negeri ini yang berambisi mengurus orang lain, padahal mengurus dirinya sendiri saja berantakan.

Kalau dipikir-pikir, cita-cita paling lucu adalah "menjadi pemimpin". Lucu, karena seolah tidak ada cita-cita lain yang lebih normal.

Aku tidak pernah bercita-cita menjadi pemimpin. Tapi aku sering bercita-cita menjadi Magneto. Kupikir itu normal.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Mei 2014.

Senin, 25 Februari 2019

Belajar Jujur di Belanda

Pengalaman terbaik adalah pengalaman yang diceritakan secara jujur.
Itu menjadi guru terbaik bagi orang lain, dan bagi diri sendiri.
@noffret


Orang Belanda, khususnya Amsterdam, bisa jadi orang-orang paling jujur dan paling blak-blakan di dunia. Mereka bisa dibilang tidak punya basa-basi atau bahkan etika—jika definisi etika menggunakan sudut pandang atau sistem nilai kita. Karenanya, orang-orang dari negara lain sering terkaget-kaget saat datang ke Belanda, misal saat memasuki kafe di Amsterdam.

Kalau kita masuk kafe, umumnya pelayan akan datang, mencatat pesanan, dan mengatakan hal-hal sopan, semisal menanyakan apa saja yang kita perlukan. Tapi hal semacam itu tampaknya tidak berlaku di Belanda. Kalau kita masuk kafe di sana, pelayan tidak datang kalau tidak diundang. Dan ketika pelayan datang ke meja kita, dia akan langsung bertanya, “Anda mau apa?”

Diucapkan dalam bahasa apa pun, pertanyaan semacam itu terdengar kasar. Apalagi ketika dilontarkan seorang pelayan ke pengunjung kafe.

Tetapi, ternyata, ucapan atau sikap semacam itu tidak dianggap kasar di Belanda. Mereka sepertinya memang tidak dididik agar tahu cara menggunakan basa-basi, melainkan dididik agar menjadi orang jujur dan terbuka. Jadi, ketika seorang pelayan mendatangi pengunjung kafe, dia tidak menggunakan basa-basi campur senyum sebagaimana yang biasa kita temukan, melainkan langsung bertanya frontal, “Anda mau apa?”

Ya, kita mau apa? Bukankah, kalau dipikir-pikir, memang itu esensinya? Kita datang ke kafe untuk menikmati minuman atau sesuatu yang lain. Jadi, sebutkan saja, dan pelayan akan membawakannya.

Di berbagai tempat di dunia, budaya memang bisa berbeda-beda. Tetapi, dalam komunikasi atau interaksi dengan orang lain, sepertinya kita menyepakati satu hal, yaitu meminimalkan ketersinggungan orang lain. Dengan kata lain, bersikap sopan.

Orang Inggris tahu cara bersikap ramah pada orang lain, khususnya kepada orang asing. Begitu pula orang Prancis. Meski logat mereka mungkin sulit dipahami, setidaknya kita tahu mereka bersikap sopan. Di negara mana pun, rata-rata orang menyuguhkan sikap sopan ketika berkomunikasi dengan orang lain. Rupanya, dalam hal itu, Belanda memiliki standar sendiri yang berbeda dengan umumnya standar di dunia.

Karena kenyataan itu pula, ada buku khusus yang menyoroti tindak-tanduk orang Belanda, berjudul Why the Dutch Are Different. Buku itu ditulis Ben Coates, orang Inggris yang pindah ke Belanda.

Ketika awal tinggal di Belanda, Ben Coates mengaku kerap terkaget-kaget saat berinteraksi dengan masyarakat Belanda yang biasa ngablak dan terus terang. Dari pengalaman “kurang menyenangkan” itu pula, dia berupaya mempelajari dan memahami kultur masyarakat Belanda, yang hasilnya ia tulis dalam buku.

Dalam buku tersebut, Ben Coates menceritakan salah satu pengalamannya yang bikin shock. Suatu hari, dia baru memangkas rambut dengan model baru, yang menurutnya dapat membuat penampilannya lebih baik. Ketika bertemu temannya, warga Belanda, Ben Coates pun bertanya bagaimana pendapat si teman tentang rambut barunya. Di luar dugaan, teman Ben Coates hanya menyatakan satu jawaban, “Jelek.”

Tentu saja jawaban itu tidak dimaksudkan untuk menghina atau menjelekkan, dan Ben Coates untungnya menyadari kenyataan itu, meski dengan terkejut. Ilustrasi itu bisa menjadi gambaran betapa orang Belanda memang tidak hanya biasa bersikap jujur, tapi juga blak-blakan. Kalau memang jelek, dia katakan jelek, bukan menggunakan kalimat berputar-putar atau eufemisme.

“Saya pikir, orang-orang Belanda tidak suka berpura-pura,” ujar Ben Coates, ketika mulai memahami kultur masyarakat barunya.

Karena sebelumnya tinggal lama di Inggris, Ben Coates pun bisa melihat “garis pemisah” antara kultur Inggris dan kultur Belanda. Dia bahkan mengatakan, perbedaan itu langsung terasa jelas begitu dia menginjakkan kaki di Belanda. Di Inggris, menurutnya, orang-orang cenderung berkomunikasi dan berperilaku dengan cara yang meminimalkan ketersinggungan orang lain.

“Anda tidak bicara keras-keras di kereta api, karena tidak sopan bagi orang-orang yang satu gerbong dengan Anda,” ujarnya. “Anda juga tidak memutar musik keras-keras di apartemen Anda, karena tidak sopan bagi tetangga. Ada kecenderungan untuk terus menyesuaikan tingkah laku Anda.”

Tapi di Belanda, masih menurutnya, “Ada kesan bahwa orang berhak mengatakan apa pun yang mereka mau, dan menjadi seterus terang yang mereka mau. Dan kalau orang lain tidak suka, itu salah mereka sendiri karena tersinggung."

Dalam kultur dan budaya yang mengenal sopan santun seperti Indonesia, mungkin perilaku orang Belanda yang terlalu jujur dan blak-blakan bisa jadi membuat risih, atau bahkan membuat kita berpikir mereka arogan. Di sisi lain, bagi orang Belanda, mungkin sikap kita yang terlalu banyak menggunakan basa-basi terlihat sangat membosankan, atau bahkan bisa jadi mereka menilai kita tidak jujur.

Di Indonesia, misalnya, ketika seorang penjahat atau tersangka kejahatan ditangkap, istilah yang sering digunakan adalah “diamankan”. Dalam beberapa konteks tertentu, istilah itu memang tepat. Misal pencuri ayam yang tertangkap di kampung, dan berpotensi dihakimi masyarakat. Ketika polisi membawa pencuri ayam tersebut, mereka mengatakan pencuri itu “diamankan”. Maksudnya, diamankan dari amukan masyarakat.

Tapi kita tentu juga pernah mendapati berita terkait artis yang ketahuan nyimeng, dan—tertulis di berita—artis bersangkutan telah diamankan. Kita pun bisa jadi bertanya-tanya, diamankan dari apa atau dari siapa?

Istilah “diamankan” untuk mengganti kata “ditangkap” adalah eufemisme—penghalusan bahasa. Sama halnya “maling duit rakyat” dihaluskan menjadi “koruptor”, atau “gelandangan” disebut “tunawisma”. Maknanya sama, tapi istilahnya berbeda. Kenapa kita merasa perlu menggunakan eufemisme? Mungkin karena kita orang-orang sopan dengan budi pekerti yang halus, atau mungkin pula karena kita ingin berjarak dari realitas.

Eufemisme menjauhkan kita dari realitas, mengaburkan kenyataan yang sebenarnya memprihatinkan atau mengkhawatirkan, menjadi terdengar “biasa saja”. Orang pasti akan terbetot perhatiannya ketika mendengar “Pejabat A ditangkap karena merampok uang rakyat.” Tetapi, kita biasa-biasa saja, ketika mendengar “Pejabat A ditangkap karena korupsi.”

Bagi kita, korupsi adalah kata yang tak punya arti, selain bahwa ia kejahatan. Sudah. Bisa jadi, itulah fungsi eufemisme. Menjauhkan kesadaran dari realitas.

Ilustrasi itu hanya contoh kecil dari banyak hal lain yang diselubungi eufemisme. Kita sering merasa berat untuk berlaku jujur, misal ketika ditanya teman, “Apakah aku tampak gemuk?” Meski kenyataannya dia memang tampak gemuk, kita tidak akan mengatakan blak-blakan. Bisa jadi, kita akan berkata, “Sepertinya kamu tampak lebih baik,” atau semacamnya.

Padahal, “Sepertinya kamu tampak lebih baik,” hanyalah eufemisme untuk mengatakan, “Iya, kamu tampak gemuk, seperti biasa!”

Orang-orang di Belanda melakukan hal berbeda. Ketika mereka ditanya temannya, mereka akan menjawab apa adanya. Kalau memang si teman tampak gemuk, mereka akan mengatakan persis seperti itu. Teman yang bertanya tidak marah, karena sama-sama menyadari bahwa yang mereka butuhkan adalah keterusterangan dan kejujuran, bukan kepura-puraan yang sebenarnya omong kosong.

Eleonore Breukel, orang Belanda yang menjadi peneliti antarbudaya dan melatih orang untuk berkomunikasi lebih baik di lingkungan multikultural, mengakui bahwa sikap orang Belanda memang cenderung ngablak. Ia mengatakan, “Orang lain mungkin menganggap kita (orang Belanda) tidak berempati. Dan mungkin itu karena, bagi kami, kejujuran lebih utama daripada empati.”

Kebiasaan itu tentu berbeda dengan budaya kita, yang cenderung lebih mementingkan empati daripada kejujuran. Karenanya, bagi sebagian kita, lebih baik tidak jujur tapi berempati, daripada sebaliknya. Perbedaan seperti itu, bisa jadi, karena kultur yang telah berjalan berabad-abad. Kita dididik untuk bersikap sopan, empatik, tahu beramah-tamah, bahkan berbasa-basi. Sebaliknya, masyarakat Belanda dididik sebaliknya; untuk selalu jujur, berterus terang, dan berbicara apa adanya.

Kejujuran dan keterusterangan begitu mengakar dalam kultur Belanda, sampai di sana ada istilah khusus yang menggambarkannya, yaitu “bespreekbaarheid”, yang berarti “segala hal bisa, dan perlu, dibicarakan”—tidak ada topik yang tabu.

Orang-orang Belanda menyukai keterbukaan, dan menempatkan kejujuran sebagai standar etika tertinggi. Karenanya pula, orang-orang Belanda bisa duduk di kafe yang ramai, lalu mengobrol dengan temannya mengenai perceraian orang tua, atau tentang masalah rumah tangga, dan hal-hal sensitif lainnya, dengan suara keras tanpa sikap risih.

Karena, bagi mereka, itu bukan hal tabu untuk dibicarakan. Kalau memang orang tuanya bercerai, atau kalau memang rumah tangganya bermasalah, mereka mengatakan apa adanya. Mereka berharap solusi atas masalah yang mereka ceritakan, bukan mengharapkan simpati.

Ini, sekali lagi, tentu berbeda dengan kebanyakan kita. Tidak setiap orang punya keberanian mengatakan rumah tangganya bermasalah, bahkan kepada orang yang dianggap teman. Karena rata-rata kita lebih membutuhkan simpati dan bukan solusi. Dengan kata lain, kita lebih memilih terperangkap dalam masalah yang kita hadapi sendiri, asal orang lain tidak tahu.

Karenanya pula, kalau selama ini kita tidak pernah mendengar orang mengeluhkan masalah rumah tangganya, atau mengeluhkan hubungannya dengan pasangan yang tidak lagi harmonis, bukan berarti mereka tanpa masalah atau hubungan mereka baik-baik saja. Kita telah dididik untuk tidak terlalu jujur, atau tidak terlalu berterus terang, demi sesuatu yang kita sebut kesopanan.

Bagi kita, mengatakan secara jujur bahwa rumah tangga kita bermasalah, itu tidak sopan. Kita menganggap urusan rumah tangga adalah privasi masing-masing orang, yang tidak baik jika diceritakan kepada orang lain. Kita memilih tidak jujur demi sikap sopan, berbanding terbalik dengan kultur orang Belanda yang lebih memilih jujur meski dianggap tidak sopan.

Lalu, apakah dengan begitu, berarti orang-orang Belanda tidak punya privasi, dan tidak menghargai privasi? Orang-orang Belanda tentu memiliki privasi, namun dalam konsep yang juga berbeda.

Meski mereka biasa berterus terang dan mengatakan apa adanya, namun ada hal-hal yang bagi mereka tabu untuk dibicarakan. Termasuk di antaranya adalah jumlah gaji atau tunjangan pensiun. Intinya, hal-hal yang terkait kekayaan atau kemewahan. Karenanya, orang Belanda sangat jarang membicarakan—dengan nada pamer—tentang mewahnya rumah mereka, atau tentang mobil baru mereka. Itu, bagi mereka, tabu untuk dibicarakan.

Dengan kata lain, masyarakat Belanda tidak mau membicarakan apa pun yang menyinggung ketidaksetaraan atau relasi kuasa. Memamerkan foto rumah baru bisa jadi aib bagi mereka, meski mungkin kita bisa melakukannya dengan bangga. Sama halnya, membicarakan mobil baru yang kita miliki rasanya menyenangkan, bahkan membanggakan, tapi orang Belanda menganggap itu tabu yang seharusnya tidak dilakukan.

Intinya, orang Belanda senang bersikap jujur dan terbuka, selama tidak terkait relasi kuasa. Kalau tatanan rambutmu jelek, mereka akan mengatakannya. Meski begitu, mereka tidak akan mengatakan kepadamu bahwa mereka lebih baik darimu. Karena itu pula, di Belanda ada pepatah terkenal, “Doe maar normaal, dan ben je al gek genoeg”—jadilah orang normal, itu saja sudah cukup gila.

Terkait kejujuran, saya suka gaya orang Belanda.

Noffret’s Note: Memang

Memang, orang paling kaya di dunia bukan yang memiliki paling banyak, tapi yang tak khawatir kehilangan apa pun.

Memang, orang paling miskin di dunia bukan yang tidak memiliki apa-apa, tapi yang terlalu rakus ingin mendapatkan apa saja.

Memang, orang paling bahagia di dunia bukan yang tak pernah merasa sedih, tapi yang merasa berhak tertawa kapan saja.

Pikiran melahirkan kata, kata melahirkan tindakan, tindakan melahirkan kebiasaan, kebiasaan melahirkan karakter, karakter melahirkan nasib.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Juni 2017.

Cara Berkenalan dengan Cewek Cantik

“Bagaimana cara mengajak kenalan cewek cantik?”

“Aku tidak tahu.”

“Really?”

“Ya. Biasanya, mereka yang mengajakku kenalan.”

Jumat, 22 Februari 2019

Perjalanan dan Pengalaman Membaca Novel

Mereka berdua saling cinta diam-diam, dan keduanya pun
saling mendiamkan. —Draf novel, halaman 142.
@noffret


Profesi penulis dijalani pria maupun wanita, sebagaimana umumnya profesi lain. Karenanya, ada novelis pria, juga ada novelis wanita. Sebagaimana hasil kerja yang lain, baik atau buruknya suatu hasil kerja (dalam hal ini novel) tentu tidak bisa disandarkan semata-mata pada jenis kelamin. Ada novel bagus yang ditulis pria maupun wanita, sebagaimana ada novel buruk yang ditulis pria maupun wanita.

Asumsikan saja semua novel yang terbit dan beredar luas—yang ditulis pria maupun wanita—sama-sama bagus, terbukti novel itu terbit dan bisa ditemukan di toko-toko buku. Jadi, kita tidak akan membicarakan “bagus” atau “buruk” di sini, karena saya juga menulis catatan ini sekadar untuk membicarakan pengalaman dalam membaca dan menikmati novel.

Persentuhan saya dengan novel dimulai sejak SD (kalau tidak salah ingat, waktu kelas 2 atau 3 SD). Ada anak tetangga saya yang waktu itu sudah kuliah, dan dia senang membaca novel. Sering saya melihatnya duduk di depan rumah, asyik sendirian dengan novel di tangan.

Di masa itu, saya belum mengenal keasyikan membaca buku, jadi saya bertanya kenapa dia bisa khusyuk membaca buku-buku tebal seperti itu. (Waktu itu saya belum mengenal istilah “novel”.)

Tetangga saya menjelaskan kesenangan dan keasyikan membaca novel. Dia bahkan menawari untuk meminjamkan novelnya untuk saya baca. “Kalau kamu sudah tahu asyiknya membaca, kamu tidak ingin berhenti,” ujarnya. Dari dialah, kemudian saya mulai berkenalan dengan novel.

Buku atau novel awal yang saya baca waktu itu serial Lupus karya Hilman. Karena tergolong tipis, dan isinya memang asyik, saya pun bisa membaca dan mengkhatamkan novel-novel itu dengan mudah.

Dari situ, kegemaran membaca mulai tumbuh, dan saya mulai menikmati keasyikan membaca. Bertahun-tahun kemudian, membaca tidak hanya sekadar “kegemaran” bagi saya, tapi sudah sampai pada taraf “kegilaan”.

Ketika SMP, saya mendaftar jadi anggota perpustakaan umum. Waktu itu, tidak jauh dari sekolah, ada perpustakaan lumayan besar milik pemerintah, dan saya kerap mampir ke sana sepulang sekolah.

Di perpustakaan itu tersedia banyak bacaan—fiksi dan nonfiksi—karya penulis Indonesia maupun luar negeri. Melalui perpustakaan itu pula, saya mulai kenal nama-nama novelis semacam V. Lestari, Marga T., Mira W., Gola Gong, Bubin Lantang, Gus TF Sakai, sampai Sidney Sheldon, Mario Puzo, Danielle Steel, dan lain-lain.

Karena kegemaran membaca terus terjaga, saya pun rutin meminjam buku ke perpustakaan, dan hal itu berlangsung sejak SMP sampai saya lulus SMA. Selama tujuh tahun (sejak awal SMP hingga selepas SMA), saya telah mengkhatamkan semua buku yang ada di perpustakaan tersebut, seisi-isinya!

Mula-mula, saat pilihan masih banyak, saya masih pilah-pilih buku yang akan saya pinjam untuk dibaca. Biasanya, saya memilih yang sekiranya menarik. Tetapi, seiring waktu, buku-buku yang ada di sana terus saya lahap, dan pilihan saya makin sedikit. Jika sebelumnya buku yang belum saya baca lebih banyak, lama-lama buku yang sudah saya baca yang lebih banyak. Hasilnya, mau tak mau, saya harus memilih buku apa saja yang belum saya baca. Sampai akhirnya, seperti yang disebut tadi, semua buku di perpustakaan itu “ludes”—telah saya baca semua.

Saya masih ingat “hari penting” itu, ketika mengitari rak-rak di sana, mencari-cari dengan tekun buku yang mungkin belum saya baca. Tapi tidak ada. Semuanya sudah pernah saya pinjam, semuanya sudah saya baca.

Petugas perpustakaan—yang mengenali saya, karena sering ketemu—sampai ikut membantu mencarikan buku yang belum saya pinjam, tapi dia juga tidak berhasil menemukan. Tak peduli buku fiksi atau nonfiksi, semua judul buku di sana telah tercatat dalam daftar pinjaman saya.

Itu menjadi hari terakhir saya mengunjungi perpustakaan. Karena tidak ada lagi buku yang bisa dipinjam.

Kisah itu—dari perkenalan dengan novel melalui tetangga, sampai keasyikan melahap buku-buku di perpustakaan umum—merupakan tonggak penting dalam kedekatan saya dengan buku, yang kemudian memberi pengaruh besar dalam kehidupan saya. Meski semula novel (fiksi) yang mendekatkan saya dengan buku, namun akhirnya saya juga menikmati buku-buku nonfiksi. Kini, terkait buku, bisa dibilang tidak ada bedanya bagi saya. Mau fiksi atau nonfiksi, saya akan senang membaca.

Well, terkait novel, ada sesuatu yang ingin saya ocehkan.

Di awal catatan ini, saya menyebut bahwa novel ditulis pria maupun wanita, karenanya ada novelis pria dan novelis wanita. Apakah ada bedanya? Bagi saya, ya. Ada bedanya! Perbedaan itu sangat terlihat (atau terasa) dalam kisah yang mereka tulis.

Berdasarkan pengalaman saya—dan ini tentu bisa subjektif—novel-novel yang ditulis pria memiliki alur dan plot yang lebih cepat, dibanding novel yang ditulis wanita. Novel-novel pria—setidaknya yang pernah saya baca—bergerak simultan, terus membuat pembaca asyik dan penasaran untuk membuka halaman berikutnya, hingga mengkhatamkan novel pria terasa lebih mudah sekaligus lebih singkat. Khususnya bagi saya.

Sebaliknya, novel-novel yang ditulis wanita bergerak lebih lambat, hingga kadang—bahkan sering—membuat saya tidak sabar saat membaca kisah di dalamnya. Bukan hanya lambat, novel-novel yang ditulis wanita juga terlalu banyak memasukkan hal-hal yang bisa dibilang remeh-temeh, termasuk percakapan-percakapan melantur yang tidak punya kaitan dengan jalan cerita.

Di perpustakaan yang saya ceritakan di atas, ada banyak sekali novel Danielle Steel, dan saya telah membaca semua novel karyanya yang ada di sana. Melalui Danielle Steel pula, saya mulai menyadari, umumnya novelis wanita memang punya kecenderungan memasukkan terlalu banyak hal yang sebenarnya tidak penting, ke dalam novel yang ditulisnya. Entah perasaan tidak penting, percakapan tidak penting, sampai adegan-adegan tidak penting, yang sebenarnya tidak memiliki kaitan vital dengan jalan cerita.

Novel-novel wanita bisa dikenali dengan ciri khas ini; ada banyak “perasaan” sang tokoh, “yang dirasakan” sang tokoh, “bayangan si tokoh”, dan semacamnya, yang semuanya berurusan dengan emosi. Dengan kata lain, ada terlalu banyak hal abstrak di dalamnya!

Pembaca wanita mungkin menyukai hal-hal semacam itu. Buktinya, novel-novel Danielle Steel—yang memang ditujukan untuk pembaca wanita—sangat laris. Tetapi, sebagai pria, terus terang saya tidak sabar saat membacanya. Karena kenyataan itu pula, saya sempat berpikir kebanyakan novel karya penulis wanita memang ditujukan untuk pembaca wanita.

Mari kita gunakan contoh yang mungkin dapat dipahami bersama. Novel serial Twilight, karya Stephanie Meyer, adalah contoh mudah untuk melihat yang saya maksud. Novel serial itu tebal-tebal, masing-masing seri mencapai ratusan halaman. Ketika membacanya, terus terang, saya merasa sangat... sangat... sangat... tersiksa.

Serial Twilight mengisahkan segitiga Bella Swan, Edward Cullen, dan Jacob Black. Dalam kisah tersebut, Stephanie Meyer—sang penulis—menggunakan narasi orang pertama (“aku”). Dan, seperti umumnya penulis wanita, Stephanie Meyer menulis kisahnya dengan “berbunga-bunga”. Kombinasi itu benar-benar sukses membuat saya tersiksa setengah mati selama membaca Twilight dan serialnya.

Serial Twilight, jujur saja, adalah “buku paling berat” yang pernah saya khatamkan, dalam arti harfiah.

Selama membaca novel itu, berkali-kali saya berpikir, “Ya Tuhan, kenapa hal-hal tidak penting seperti ini harus dibahas panjang lebar?”, “Kenapa penjelasan soal remeh sampai harus bertele-tele seperti ini?”, “Kenapa kalian berdialog seperti orang-orang idiot?”, “Demi Tuhan, bisakah kita skip saja adegan-adegan tolol ini?”, dan semacamnya, dan semacamnya, dan semacamnya.

Ada banyak sekali adegan Bella Swan yang—bagi saya—sangat tidak penting sekali, tapi diumbar sampai menghabiskan berlembar-lembar halaman. Gaya penceritaan semacam itu mungkin disukai pembaca wanita, dan tampaknya benar. Terbukti serial Twilight sangat laris, dan mayoritas penggemarnya memang wanita. Tetapi, sebagai pembaca pria, saya ingin jujur mengatakan bahwa novel itu sangat menyiksa (untuk tidak menyebut membosankan) selama membacanya.

Sebenarnya, bukan hanya penulis modern seperti Stephanie Meyer yang bercerita dengan gaya semacam itu. Agatha Christie, penulis yang juga wanita, pun melakukan hal serupa saat menulis novel-novelnya—setengah abad sebelum Stephanie Meyer menulis serial Twilight.

Penggemar Agatha Christie pasti paham yang saya maksud. Dalam banyak novelnya, Agatha Christie kerap memasukkan dialog-dialog panjang yang tidak penting, bahkan bertele-tele dan kerap melantur. Untung, hal itu tertolong oleh misteri dalam kisah, sehingga hal-hal yang bertele-tele dimaklumi pembaca yang mungkin berpikir, “Bisa jadi petunjuk misteri terletak dalam dialog-dialognya.”

Sebagai perbandingan, kita bisa menggunakan serial Sherlock Holmes yang ditulis Sir Arthur Conan Doyle. Serial Sherlock Holmes ditulis jauh-jauh hari sebelum Agatha Christie menulis novel. Tetapi, berbeda dengan novel-novel Agatha Christie yang bertele-tele, serial Sherlock Holmes memiliki jalan cerita yang lebih cepat, alur ringkas yang tidak membosankan, khas novel-novel pria.

Mary Higgins Clark, novelis wanita yang disebut sebagai “penerus Agatha Christie”, juga tampaknya terjebak pada hal sama. Sebagai catatan, novel-novel awal Mary Higgins Clark sangat mengasyikkan—memiliki plot dan jalan cerita yang cepat, serta minim hal-hal tidak penting seperti perasaan yang melantur tak karuan. Terkait hal itu, saya mengira ada peran editor (yang mungkin pria) yang telah bekerja keras “merampingkan” kisah yang ditulis Mary Higgins Clark, sehingga hasilnya benar-benar pas untuk pembaca pria.

Tetapi, lama kelamaan, novel-novel Mary Higgins Clark mulai berubah, dan makin menunjukkan ciri khas novel wanita—jalan cerita yang lambat, detail-detail tidak penting, alur bertele-tele. Terkait hal itu, lagi-lagi saya mengira, editor yang menangani naskahnya berbeda, dan kemungkinan besar juga seorang wanita. Hasilnya, novel-novel akhir Mary Higgins Clark lebih tepat untuk pembaca wanita.

Tentu saja, setiap orang—khususnya pembaca novel—memiliki selera berbeda. Dalam hal ini, saya lebih menyukai novel beralur cepat, dengan plot yang ringkas, detail yang padat, serta tidak membosankan. Contoh sempurna untuk hal ini, tentu saja, novel-novel Dan Brown dan Sidney Sheldon. Novel-novel mereka sangat tebal, tapi saya bisa tenggelam dalam kisah yang mereka tulis, karena sangat mengasyikkan. Lamanya waktu yang saya habiskan untuk membaca novel mereka, berbanding lurus dengan kenikmatan yang saya rasakan.

Sebegitu nikmat saat membaca novel-novel Dan Brown atau Sidney Sheldon, sampai-sampai saya sering mengkhatamkan tanpa sadar, dan berpikir, “Aduh, kisahnya sudah selesai.” Rasanya sayang, dan ingin membacanya sekali lagi. Sebaliknya, ketika membaca novel yang penuh hal-hal tidak penting dan bertele-tele, saya berpikir, “Ya Tuhan, sudah membaca dari tadi, baru dapat sepuluh halaman? Kapan aku bisa menyelesaikan novel ini?”

Setelah membaca cukup banyak novel—setidaknya saya telah membaca lebih dari seribu novel—saya sampai pada kesimpulan ini: Rata-rata novel karya penulis pria memiliki jalan cerita lebih cepat, dan lebih cocok untuk saya. Sebaliknya, rata-rata novel wanita memiliki jalan cerita lebih lambat, dan terus terang saya kurang cocok. 

Memang, tidak semua penulis wanita bertele-tele atau terlalu banyak mengumbar perasaan tidak penting dalam novel. J.K. Rowling, misalnya, bisa menjadi contoh penulis wanita yang mampu menulis dengan plot yang hebat, detail-detail menarik namun ringkas, serta alur yang padat, khususnya dalam serial Harry Potter.

Saya ulangi, khususnya dalam serial Harry Potter! (Dalam novel-novel lain, saya menilai J.K. Rowling sebelas dua belas dengan rata-rata novelis wanita.)

Membaca serial Harry Potter sangat mengasyikkan, karena semua bagian dalam kisah tidak ada yang sia-sia! Tidak ada pengumbaran perasaan yang konyol, tidak ada hal bertele-tele, tidak ada bagian yang membosankan.

Perlu dikatakan di sini, bahwa editor J.K. Rowling telah bekerja keras membuat serial Harry Potter benar-benar “sempurna” seperti yang kita kenal. Dan, omong-omong, tahu mengapa nama Jeanne Kathleen Rowling disingkat menjadi J.K. Rowling? Tidakkah kalian pikir penyingkatan itu aneh?

Penyingkatan nama itu sebenarnya bukan keinginan Rowling. Semula, dia bermaksud menggunakan namanya secara lengkap—Jeanne Kathleen Rowling. Tetapi, nama lengkap itu menunjukkan kalau si penulis berjenis kelamin wanita!

Sudah jadi rahasia umum—khususnya di kalangan penikmat novel—bahwa novel karya wanita lebih cocok untuk pembaca wanita. Karena latar belakang itu, pihak agen dan penerbit mempertimbangkan, jika novel Harry Potter menggunakan nama penulis Jeanne Kathleen Rowling, orang akan mengenali itu nama wanita, dan sebagian pembaca—yang berjenis kelamin pria—bisa jadi tidak tertarik. Akhirnya, mereka bersepakat untuk menyingkat nama si penulis menjadi J.K. Rowling, yang lebih sulit dipastikan jenis kelaminnya.

Hasilnya tepat seperti yang mereka perkirakan. Calon pembaca (awalnya) tidak tahu J.K. Rowling seorang pria atau wanita, dan mereka mendapati serial Harry Potter sangat mengasyikkan. Belakangan, setelah serial Harry Potter terbukti dan terjamin mengasyikkan, jutaan pembaca di dunia tidak lagi peduli apakah penulisnya pria atau wanita.

Well, sebenarnya, sebagai pembaca, saya juga tidak peduli suatu novel ditulis pria atau wanita. Asal isinya asyik, saya akan asyik pula melahapnya. Sayang, berdasarkan pengalaman—sebagai pembaca pria—saya lebih sering menemukan keasyikan saat membaca novel pria, daripada saat membaca novel wanita. Mungkin, dan bisa jadi, pembaca wanita punya pengalaman sebaliknya.

Noffret’s Note: Kekacauan

Semula, para vampir dan para serigala hidup tenang. Lalu muncul Bella Swan, dan terjadilah kekacauan.

Apa yang dihadirkan Bella Swan dalam Twilight? Benar. Kekacauan, kekacauan, kekacauan, kekacauan, kekacauan, kekacauan, kekacauan...

Bella Swan adalah tipe perempuan yang datang ke dalam hidupmu, lalu mengubah kedamaian menjadi kekacauan dan kerepotan.

Aku berdoa semoga dijauhkan dari perempuan-perempuan seperti Bella Swan. Masalah hidupku sudah terlalu banyak!

Bella Swan bersinonim dengan kekacauan. Kesimpulannya mutlak; dia bukan mbakyu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 Agustus 2017.

Sesuatu yang Gmweggxx Yyffsdjwe&&gixvxvvd Lwwirvtr

Ya, itu.

Sabtu, 16 Februari 2019

Mengubah Takdir

Seseorang berkata, "Nasib adalah kesunyian masing-masing."
Dan sekarang aku mengerti, takdir bersenandung dalam hening.
@noffret


Takdir mungkin diciptakan, tapi ia mewujud setelah dibentuk. Dan yang membentuk, biasanya, lingkungan. Seperti apa lingkunganmu, biasanya seperti itulah dirimu. Yang disebut lingkungan adalah keluarga, tetangga, tempat tinggal, teman-teman, sekolah yang memberi pendidikan, sampai buku-buku dan bacaan dan tontonan, dan apa saja yang masuk ke dalam kehidupan seseorang.

Berdasarkan hal-hal itu, saya bahkan bisa tahu akan seperti apa seseorang sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, dengan melihat kehidupannya yang sekarang. Karena takdir mungkin memang diciptakan, tapi kitalah yang mewujudkan. Karenanya, kita bisa tahu akan seperti apa “takdir” seseorang sekian tahun ke depan, dengan melihat takdirnya yang sekarang.

Tiga puluh tahun yang lalu, ada seorang wanita yang melahirkan bayi kembar. Dua-duanya perempuan. Si wanita tentu bersyukur dengan kelahiran bayi kembarnya. Namun, dia juga kebingungan, karena kondisi ekonomi yang susah. Dengan kemiskinan yang menghimpitnya, ia tahu akan kesulitan mengurus dua anak yang lahir dan tumbuh berbarengan.

Untung, ada pasangan suami istri yang tertarik mengadopsi salah satu bayi perempuan tersebut, karena kebetulan mereka tidak punya anak. Si wanita menyerahkan salah satu bayinya, dan dia percaya anaknya akan dirawat dengan baik. Suami istri yang mengadopsi itu bukan hanya orang baik, tapi juga kaya. Si wanita percaya, anak yang ia serahkan akan diasuh secara layak oleh mereka.

Sekarang, untuk memudahkan cerita, kita sebut dua bayi kembar itu bernama Lea dan Ana.

Lea adalah bayi yang diadopsi oleh keluarga kaya. Sementara Ana dibesarkan orang tua kandungnya yang miskin. Mereka hidup terpisah ratusan kilometer. Dan takdir sepasang bayi kembar dimulai... segugus takdir yang berawal dari tempat sama, namun berubah dengan sangat mencengangkan.

Sebagai anak keluarga miskin, Ana menjalani kehidupan seperti umumnya anak miskin. Dia sekolah dari SD sampai SMA dengan identitas sekaligus kesadaran akan kemiskinan dan kekurangan. Dia tumbuh menjadi perempuan biasa, dengan penampilan sederhana, dengan isi pikiran yang sama sederhana, dan meyakini bahwa seperti itulah kehidupan. Bahwa segala hal dalam hidup sulit diraih.

Sementara Lea, yang tumbuh besar di tengah keluarga kaya, menjalani kehidupan jauh berbeda. Dia bersekolah dari SD sampai SMA dengan identitas sekaligus kesadaran akan kekayaan dan keberlimpahan. Dia tumbuh menjadi perempuan cantik, dengan penampilan elegan, dengan isi pikiran yang mekar, dan meyakini bahwa seperti itulah kehidupan. Bahwa segala hal dalam hidup bisa ia raih.

Di waktu-waktu tertentu—biasanya pas lebaran—orang tua angkat Lea mengunjungi orang tua Ana, dan dua anak kembar itu pun bertemu. Namun, Lea dan Ana tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya anak kembar, karena orang tua masing-masing telah saling berjanji untuk tidak mengungkapkan kenyataan itu. Jadi, Lea sama sekali tidak tahu bahwa dia anak angkat dalam keluarganya, dan Ana juga tidak tahu bahwa Lea sebenarnya saudara kembarnya.

Ketika mereka sama-sama SMA, bisa dibilang keduanya berbeda—meski sebenarnya mereka kembar identik. Semua orang sepakat, Lea jauh lebih indah (atau lebih mewah) dibanding Ana yang tampak sederhana. Meski begitu, ada satu ciri khas yang membuktikan bahwa mereka memang saudara, khususnya saudara kembar. Yaitu cara berjalan. Lea dan Ana memiliki gaya berjalan yang benar-benar mirip.

Orang-orang—khususnya para tetangga dan famili mereka—tahu kalau dua perempuan itu sebenarnya bersaudara, tapi mereka juga ikut menjaga rahasia tersebut. Orang-orang itu juga menyadari bahwa Lea dan Ana memiliki ciri-ciri tertentu yang membuktikan bahwa mereka memang saudara kembar, salah satunya cara mereka berjalan. Ajaibnya, Lea dan Ana sepertinya tidak menyadari hal itu.

Ketika Lea dan Ana duduk di bangku SMA, saya juga SMA. Dan saya juga tahu latar belakang mereka, sebagaimana saya menyadari bahwa keduanya memang memiliki ciri-ciri kembar. Cara mereka berjalan benar-benar identik. Tapi saya juga menyadari, mereka memiliki gaya bicara (bercakap) yang sangat mirip. Saat bercakap-cakap, dan menekankan sesuatu pada ucapannya, cara mereka benar-benar mirip. Semuanya mirip... kecuali penampilan mereka!

Lalu tahun-tahun berlalu.

Lulus SMA, Ana menikah. Karena, apa lagi yang bisa ia lakukan selain menikah? Dia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan orang tuanya—sebagaimana umumnya orang tua sederhana yang tradisional—menginginkan anak perempuannya cepat menikah. Jadi, saat ada lelaki yang melamar, tidak ada jawaban lain selain menerima.

Setahun setelah menikah, Ana dan suaminya memiliki anak. Lalu anak kedua lahir dua tahun kemudian. Seperti orang tuanya, Ana membangun rumah tangga sendiri— dengan keluarga sederhana, kehidupan pas-pasan, dan sepertinya anak-anaknya kelak juga akan mengulang kehidupan serupa. Karena di mana kau dilahirkan, di situlah takdirmu berkembang.

Sementara Lea menjalani kehidupan berbeda. Lulus SMA, dia kuliah di universitas. Lulus S1, dia melanjutkan S2. Setelah itu, melalui kolega ayah (angkatnya), Lea mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan, dan di sanalah dia kemudian bertemu dengan pria yang lalu menjadi suaminya.

Saat Lea akan menikah itulah, rahasia asal usulnya terbongkar.

Dalam Islam, pernikahan dianggap sah jika ada wali si perempuan. Karena ayah kandung Lea masih hidup, maka ayah kandungnya yang menjadi wali. Dalam hal itu, mau tak mau, orang tua angkat Lea akhirnya membukakan asal usul Lea, demi kelancaran pernikahan. Lea pun akhirnya tahu bahwa dia anak angkat dalam keluarganya.

Singkat cerita, terbukanya asal usul tersebut tidak menimbulkan masalah apa pun. Lea menerima kenyataan itu dengan baik, begitu pula (calon) suaminya. Lalu mereka pun menikah, hingga memiliki anak. Saat saya menulis catatan ini, Lea maupun Ana telah memiliki keluarga sendiri-sendiri, dan—tentu saja—keluarga Lea jauh berbeda dengan keluarga Ana.

Kini, ketika membayangkan dan memikirkan kembali kisah mereka, saya seperti melihat bagaimana cara takdir bekerja. Betapa dua manusia yang dilahirkan bersama sebagai saudara kembar—yang mestinya akan menghadapi takdir sama—bisa jauh berbeda ketika keduanya dipisahkan, dan menjalani kehidupan berbeda.

Lea tumbuh sebagai perempuan yang mekar dengan indah, dengan pikiran yang sama mekar dan indah, karena ia tumbuh di tempat yang memungkinkannya mekar dan indah. Sebaliknya, Ana tumbuh sebagai perempuan sederhana, dengan pikiran sederhana, lalu menjalani hidup dengan pola pikir sederhana, karena ia tumbuh di tempat yang membentuknya seperti itu.

Andai posisi mereka ditukar... andai Ana yang diadopsi oleh keluarga kaya, sementara Lea masih bersama orang tua kandungnya yang miskin. Apa yang akan terjadi? Kita bisa membayangkan jawabannya nyaris akurat: Ana akan menempati takdir Lea, dan Lea akan menempati takdir Ana!

Jadi, omong-omong, di manakah takdir sebenarnya? Apakah takdir memang melekat pada orang per orang? Mungkin, ya. Tapi takdir itu ternyata bisa berubah ketika orang per orang dipindah ke tempat berbeda, bahkan jika mereka saudara kembar! Ketika menyadari kenyataan ini, saya sangat... sangat tercengang.

Kenyataan inilah yang belakangan memberitahu saya, mengapa ada orang kaya dan orang miskin. Persoalannya bukan karena takdir semata, melainkan lebih pada mental dan pola pikir orang per orang. Takdir bisa diubah—kita telah melihat buktinya dengan melihat Lea dan Ana. Tapi sesuatu yang dihasilkan oleh takdir itulah yang sulit diubah. Yaitu mental dan pola pikir!

Anak-anak orang kaya menjalani hidup dengan mental kaya, dengan pola pikir keberlimpahan. Sementara anak-anak orang miskin menjalani hidup dengan mental miskin, dengan pola pikir serba kekurangan. Mental dan pola pikir itulah yang lalu mengikat mereka dengan sangat erat, dan mewujudkan hasil secara tepat. Yang bermental kaya menjemput takdir kekayaan, yang bermental miskin juga menjemput takdir kemiskinan. Takdir adalah cermin tak terlihat!

Dan saya bisa membayangkan... kelak, berpuluh tahun mendatang, anak-anak Ana akan menjalani kehidupan seperti orang tuanya, persis seperti anak-anak Lea juga akan menjalani kehidupan seperti orang tuanya. Karena di mana kau tumbuh besar, di situ takdirmu berkembang.

Jika anak-anak Ana bertanya kepada saya, bagaimana cara keluar dari lingkaran setan kemiskinan yang membelit mereka, inilah jawabannya, “Lepaskan mental miskinmu, dan perbarui pola pikirmu.”

Setelah memikirkan, merenungkan, dan menjalaninya bertahun-tahun, saya tahu... hanya itu satu-satunya cara mengubah takdir. Tetapi, berdasarkan pengalaman, saya pun tahu... mengubah takdir adalah pekerjaan sulit yang nyaris mustahil.

 
;