Kamis, 07 November 2019

Tak Terlihat, tapi Mengubah Kehidupan

Punya perut rata itu butuh latihan.
Termasuk latihan menahan (ke)lapar(an).
@noffret


Bayangkan kita punya berat badan 50 kg, yang membuat kita merasa ideal—tidak kurus, juga tidak gemuk. Suatu hari, saat bangun tidur, tiba-tiba kita mendapati tubuh kita sangat gemuk. Kita pun langsung menuju ke timbangan, dan mendapati berat badan telah naik menjadi 100 kg. Apa kira-kira yang akan menjadi reaksi kita?

Mungkin bingung. Atau terkejut. Atau bahkan panik.

Karena penambahan berat badan itu terjadi tiba-tiba—dari 50 kg menjadi 100 kg dalam semalam—alarm dalam diri kita pun berdering sangat keras, dan kita panik, ketakutan, bertanya-tanya, “Bagaimana ini bisa terjadi?”

Manusia tidak terbiasa dengan sesuatu yang tiba-tiba, dan, kenyataannya, kehidupan memang tidak berjalan secara tiba-tiba.

Bagaimana cara berat badan kita naik? Tidak tiba-tiba, tapi perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit. Sebegitu perlahan dan sedikit penambahan berat badan yang terjadi, kita tidak merasakannya, dan terlena. Setelah waktu berjalan lama, dan kita terbiasa dengan perubahan yang terjadi pada tubuh kita, suatu hari kita menimbang berat badan dan mendapati telah ada tambahan berat sekian puluh kilo.

Kita tidak panik, dan tidak bertanya-tanya bagaimana penambahan berat badan itu terjadi. Karena prosesnya perlahan. Sehari demi sehari. Lalu hari berubah menjadi minggu, lalu bulan, dan tumpukan lemak tumbuh sedikit demi sedikit. Kita tidak sadar ketika semua itu—pengumpulan lemak di tubuh—terjadi, karena prosesnya memang tidak tiba-tiba. Dan ketika mulai sadar, penambahan berat badan sekian puluh kilo sudah terjadi.

Sama seperti penambahan berat badan yang berlangsung perlahan-lahan dan membutuhkan waktu lama, upaya kita untuk menurunkan berat badan juga tidak bisa instan. Kita butuh waktu yang juga lama untuk bisa mengembalikan berat badan seperti semula—bahkan kadang lebih lama dan lebih sulit. Menumpuk lemak di tubuh itu mudah, tapi menghilangkannya butuh kerja keras dan kesabaran.

Sering kali, kehidupan kita, dan hal-hal yang kita lakukan sehari-hari, juga seperti itu. Semuanya berlangsung perlahan-lahan, biasanya juga sedikit demi sedikit, sampai suatu hari kita mendapati jumlahnya sangat banyak.

Kalau punya akun di Twitter, coba sesekali perhatikan akun yang kita miliki. Di masing-masing akun Twitter, ada jumlah tweet yang telah ditulis orang per orang. Jika sudah aktif di Twitter selama beberapa tahun, jumlah tweet biasanya sudah mencapai angka di atas 10.000. Artinya, kita sudah ngoceh di Twitter—dalam apa pun bentuknya—sebanyak sepuluh ribu kali lebih!

Sepuluh ribu jelas angka yang banyak, khususnya untuk ocehan. Kita pasti kelelahan setengah mati kalau nekat ngoceh sepuluh ribu kali dalam satu waktu. Tapi sepuluh ribu ocehan itu kita lakukan perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, hari demi hari, hingga tidak terasa. Tahu-tahu, kita sudah ngoceh seribu kali. Tahu-tahu, kita sudah ngoceh sepuluh ribu kali. Dan kelak, tahu-tahu, kita sudah ngoceh seratus ribu kali.

Begitulah kehidupan kita berjalan. Tak terasa. Tahu-tahu sudah banyak. Tahu-tahu sudah besar. Kita yang kemarin masih remaja, tahu-tahu sekarang sudah dewasa. Dan kelak, tahu-tahu sudah tua. Kita mengatakan hidup berjalan sangat cepat. Padahal, yang terjadi, hidup justru berjalan lambat. Sebegitu lambat, hingga kita tidak merasakannya.

Teman saya, Safik, punya pabrik yang mempekerjakan banyak orang. Suatu hari, Safik merenovasi pabriknya. Bangunan pabrik yang lama diruntuhkan, lalu dibangun kembali hingga benar-benar baru. Hasilnya, ada tumpukan bekas bangunan yang menggunung, dari dinding-dinding pabrik yang dirobohkan. Setidaknya dibutuhkan lima truk untuk mengangkut bekas bangunan yang tak terpakai itu.

Safik menawari para pekerjanya, siapa tahu mereka membutuhkan bekas bangunan tersebut, dan dia mempersilakan siapa pun untuk mengambilnya. Beberapa pekerja tertarik dengan tawaran itu, dan mereka pun menyatakan akan membawa bekas bangunan yang kini menggunung tersebut. Reruntuhan bangunan itu bisa mereka pakai untuk meninggikan lantai rumah atau halaman rumah.

Lalu bagaimana para pekerja akan mengangkut bekas bangunan yang jumlahnya sangat banyak itu? Pakai truk? Tidak! Pakai pikap? Gerobak? Juga tidak! Mereka membawanya sekilo demi sekilo, setiap hari!

Ada lima pekerja yang menyatakan akan mengambil reruntuhan bekas bangunan itu, dan mereka semua biasa berangkat kerja naik sepeda. Setiap hari, mereka membawa karung kecil atau tas plastik tebal ke tempat kerja. Usai kerja, mereka memasukkan reruntuhan bangunan yang menggunung di sana ke dalam karung atau tas plastik yang mereka bawa, lalu buntalan itu diikat di boncengan sepeda mereka. Jumlahnya tidak banyak, hanya sekilo atau dua kilo, dalam satu kali angkut.

Tapi mereka melakukannya setiap hari, sekilo demi sekilo, hari demi hari, dan, suatu hari, reruntuhan bangunan yang semula menggunung di depan pabrik lenyap tanpa bekas! Lima orang, dengan sepeda mereka, masing-masing telah mengangkut reruntuhan bangunan yang semula banyaknya mencapai lima truk. Artinya, masing-masing dari mereka, dengan sepeda, telah mengangkut satu truk!

Keajaiban dikerjakan melalui proses. Sedikit demi sedikit. Kadang perlahan. Tapi yang sedikit dan perlahan itu, bagaimana pun, mengubah sesuatu.

Piramida Giza dibangun bertahun-tahun, oleh ribuan orang, begitu pula Taj Mahal, Makam Terakota, Burj Khalifa, Taman Gantung Babilonia, Perpustakaan Alexandria, sampai jumlah ocehan kita di linimasa. Semuanya melewati proses, perlahan, setahap demi setahap, dari waktu ke waktu. Hingga membentuk sesuatu.

“Roma tidak dibangun dalam semalam,” kata pepatah. Begitu pula kehidupan kita, atau hal-hal besar yang kita kerjakan.

Pernah, suatu waktu ketika selo, saya iseng menghitung berapa total uang yang telah saya belanjakan untuk mengumpulkan ribuan buku yang saat ini saya miliki. Namanya orang iseng, saya telaten mengambil satu per satu buku dari rak, menuliskan judulnya di komputer, lengkap dengan harganya ketika saya beli. Jika saya tidak ingat harga pastinya, saya akan menggunakan perkiraan.

Butuh waktu berbulan-bulan untuk melakukan kerjaan iseng itu, karena saya memang melakukannya kalau pas selo. Ketika akhirnya semua buku telah terinventarisasi, saya mulai menghitung total harganya. Boleh percaya boleh tidak, total uang yang telah saya keluarkan untuk membeli ribuan buku itu bisa digunakan untuk membeli Honda Jazz seri terbaru, bahkan lebih! Nilainya sekitar Rp300 jutaan.

Ketika mendapati angka itu, saya benar-benar terkejut. Jika saya harus mengeluarkan uang Rp300 juta sekaligus untuk membeli buku dalam satu waktu, kemungkinan besar saya akan kesulitan.

Tapi nyatanya, sekarang, saya memiliki buku yang total nilainya sebesar itu. Bagaimana bisa terjadi? Karena saya melakukannya perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu, sampai bertahun-tahun. Tidak terasa, sejuta demi sejuta, setumpuk demi setumpuk, sampai akhirnya terbangun perpustakaan.

Begitulah hidup berjalan, dan begitulah kehidupan kita dibangun. Hari demi hari, waktu demi waktu, sedikit demi sedikit, perlahan-lahan, sampai kita tidak merasakannya. Dan kenyataan semacam itu tidak hanya untuk hal-hal yang mungkin akan membuat kita senang, tapi juga untuk hal-hal yang mungkin membuat kita menyesal.

Seperti berat badan, misalnya. Kita tidak mengumpulkan lemak sekian puluh kilo dalam sehari, hingga perut kita membuncit tiba-tiba. Yang kita lakukan hanyalah makan tiga kali sehari, di sela-sela mengunyah kentang, melahap burger, menikmati keripik, menyesap es krim dan aneka makanan lain, sambil ketawa-ketiwi karena hidup begitu mudah sejak ada layanan pesan antar online.

Malam hari, sambil leyeh-leyeh, kita iseng buka ponsel, melihat-lihat deretan menu yang tampak menggiurkan, lalu pesan makanan, dan kita menikmatinya sambil menonton teve. Tidak terasa. Kalau pun terasa, kita senang-senang saja, wong rasanya enak. Persetan, siapa pun setuju kalau ngemil sambil nonton teve itu enak. Apalagi diakhiri dengan ndusel.

Sayangnya, kenikmatan itu bisa berbuah penyesalan. Karena, seiring kenikmatan yang kita kunyah, lemak mengumpul perlahan-lahan, dan berat badan bertambah ons demi ons. Di perut, di paha, di lengan, di leher, lalu kita sok kaget, “Kok sekarang berat badanku naik lima puluh kilo? Tidak masuk akal!”

Saat itu terjadi, kita mungkin menyesali yang telah kita lakukan, dan mengutuk kentang, burger, es krim, atau apa pun yang kita santap hari demi hari. Dan jika ingin menghilangkan tumpukan lemak dari tubuh agar ideal seperti semula, kita pun butuh upaya dan kerja keras, yang bisa jadi lebih lama dari saat kita menimbunnya.

Kita perlu mengingat semua ini, saat ingin mengerjakan sesuatu, atau sedang menuju sesuatu. Karena bangunan sebesar apa pun membutuhkan fondasi pertama, perjalanan sejauh apa pun dimulai langkah awal, dan kehidupan berjalan perlahan-lahan.

Penumpang Gelap Feminisme

Di Twitter, sudah beberapa kali saya mendapati tweet berbunyi “who cares about what man like”—atau variannya—yang hampir selalu di-retweet ribuan akun. Tweet-tweet semacam itu biasanya (bahkan selalu) ditulis wanita, dalam merespons sesuatu yang terkait pria dan wanita.

Misalnya, ada berita berjudul “7 Hal yang Disukai Pria dari Wanita”. Lalu ada wanita meng-quote tweet berita itu, dengan menambahkan tweet “who cares about what man like”. Seperti yang saya sebut tadi, tweet berbunyi “who cares” itu selalu di-retweet dan difavoritkan ribuan akun.

Kadang pula, ada orang bertanya lewat tweet, “Benarkah pria menyukai wanita yang bla-bla-bla?” Lalu ada wanita lain merespons atau meng-quote tweet itu, dengan menambahkan tweet “who cares about what man like”. Lagi-lagi, tweet “who cares” itu di-retweet ribuan akun, hingga muncul di TL saya.

Lalu masalahnya di mana? Sebenarnya sama sekali tidak masalah, asal tweet ala-ala “who cares” itu boleh digunakan siapa pun, dan tidak dinilai dengan standar yang berbeda, terlepas penulisnya wanita atau pria. Artinya, gunakan standar yang sama ketika pria yang menulisnya.

Kalau wanita boleh menulis “who cares about what man like” tanpa merasa bersalah, tolong tidak usah ngamuk—dengan berbagai alasan apa pun—kalau sewaktu-waktu ada pria menulis “who cares about what woman like” atau semacamnya. Gunakan standar yang sama!

Yang membuat saya gatal menulis catatan ini, karena ada sebagian wanita yang menggunakan standar ganda, khususnya terkait perilaku pria dan wanita. Mereka (sebagian wanita itu) merasa bebas ngoceh apa pun tentang pria, tapi pria tidak boleh melakukan hal yang sama.

Seperti pada kasus “who cares” tadi. Ketika wanita menulis semacam itu, dia—dan sebagian wanita lain—menganggapnya hebat. Terbukti tweet semacam itu hampir selalu di-retweet ribuan akun. Tapi ketika pria yang menulis hal serupa, dianggap merendahkan wanita.

Dalam perspektif saya, wanita-wanita semacam itu adalah “penumpang gelap feminisme”, yang menganggap isu feminisme dapat digunakan seenaknya untuk meninggikan diri sekaligus merendahkan yang lain. Ini pula yang menjadikan sebagian orang lain muak pada istilah feminisme.

Fenomena ini tak jauh beda dengan sebagian Yahudi yang merasa bisa sewenang-wenang pada pihak lain, dengan berdalih, “Kami dulu telah menjadi korban!” Kenyataan itu pula yang menjadikan banyak orang muak pada Yahudi, meski tidak semua Yahudi pasti begitu.

Feminisme tidak berarti meninggikan wanita untuk kemudian bebas merendahkan pria—dalam apa pun bentuknya. Feminisme adalah upaya menempatkan wanita setara dengan pria. Tapi perilaku “para penumpang gelap” menjadikan feminisme tampak salah dan bikin orang muak.

Kita berharap dihormati orang lain, tapi kita tidak menunjukkan perilaku hormat pada orang lain. Bahkan iblis di neraka pun akan menertawakan. Oh, tolong jangan mengatakan bahwa tweet ala-ala “who cares” itu hanya bercanda—karena itu sama sekali tidak lucu, dan kita pun tahu!

Saya paham, catatan ini akan memancing orang berpikir, “Kenapa kamu menganggap tweet ‘who cares’ itu secara serius? Dia hanya bercanda!”

Oh, well, kadang-kadang pria juga bercanda tentang wanita, dan apa yang biasanya terjadi? Benar, standar ganda!

Jadi wanita merasa bebas menggunakan pria sebagai objek bercanda, sementara pria tidak boleh melakukan hal yang sama, apa pun alasan atau bagaimana pun caranya. Apa namanya kalau bukan standar ganda?

Feminisme, eh? Perilaku semacam itulah yang menjadikan orang muak.

Sekali lagi, tweet ala-ala “who cares” sama sekali tidak masalah, jika—dan hanya jika—boleh digunakan siapa pun tanpa dinilai dengan standar ganda. Sayangnya tidak. Sebagian wanita merasa berhak menyepelekan pria, sementara pria tidak boleh melakukan hal serupa.

Dan kalau pun boleh (kalau pun kita boleh saling menyepelekan dan saling merendahkan, dalam apa pun bentuknya), lalu apa guna ribut-ribut feminisme yang terus diupayakan? Balik saja ke zaman prasejarah, atau masa-masa ketika manusia masih biadab tanpa hormat.

“Respect is everything. Without respect, we’re just people. Common sitty people.” Ironisnya, kalimat penuh hormat itu diucapkan Jean Villain, bajingan yang membunuh manusia lain tanpa merasa bersalah.

Masalah kita, tampaknya, kebodohan dalam respek.

Tidak Bisa Move On

“Sembilan dari sepuluh orang yang pernah jatuh cinta kepadaku, tidak bisa move on.”

“Menakjubkan, eh?”

“Sebenarnya, itu mengerikan.”

Ini

Ooh... ini.

Jumat, 01 November 2019

Mengapa Banyak Orang Miskin Merokok?

Segelas kopi, sebatang rokok, dan setumpuk kebingungan hari ini.
Juga sedikit kegalauan di sudut hati.
@noffret


Cukai rokok akan naik tahun depan, dan sebagian orang yakin bahwa kenaikan cukai akan menurunkan jumlah perokok, karena harga rokok akan terdampak hingga ikut mahal. Dalam pikiran mereka, mungkin, harga rokok yang mahal akan membuat orang pikir-pikir untuk membeli rokok. Pola pikir semacam itu memang terdengar ilmiah, meski sebenarnya mengandung masalah.

Terkait ekonomi, setidaknya ada tiga golongan konsumen rokok. Yaitu dari golongan atas, golongan menengah, dan golongan bawah. Harga rokok yang naik—gara-gara cukai naik—bisa dibilang tidak akan terlalu banyak berpengaruh. Harga rokok yang mahal mungkin memang akan membuat segelintir orang untuk berhenti atau mengurangi rokok, tapi jumlahnya tidak akan banyak. Mengapa?

Bagi kalangan kaya, kenaikan harga rokok tidak akan memusingkan mereka, wong mereka bisa tetap membelinya dengan mudah. Orang yang bisa menghabiskan bergelas-gelas kopi mahal setiap hari tidak akan pusing dengan kenaikan harga rokok, dan mereka akan tetap udud!

Yang mungkin akan banyak pikir untuk membeli rokok—karena harganya makin mahal—adalah kalangan menengah. Namanya “menengah”, mereka tidak kaya tapi juga tidak miskin. Mereka biasanya sudah mapan bekerja, tapi juga punya kebutuhan yang luar biasa besar. Dari kebutuhan punya rumah, nyicil kendaraan, sampai kebutuhan eksis di kalangan sosial.

Bisa jadi, karena banyaknya kebutuhan tersebut, mereka akan menghilangkan atau mengurangi kebiasaan merokok, agar duit tak cepat habis. Pemerintah, dan aktivis antirokok, bisa puk-puk golongan ini.

Bagaimana dengan kalangan miskin? Kenaikan harga rokok mungkin memang akan membuat mereka pusing, karena duit sering pas-pasan. Tapi ingat, mereka kalangan paling ulet di antara semua strata ekonomi. Kalau kau terbiasa hidup dalam kekurangan dan kemiskinan, otakmu akan terus dipaksa untuk kreatif, dan hal itulah yang menjadikan banyak dari mereka terus bertahan.

Dalam menghadapi kenaikan harga rokok, gara-gara cukai yang naik, mereka pasti akan mencari cara agar bisa menyiasati. Ingat hukum ekonomi; jika ada permintaan, akan ada penawaran. Harga rokok legal (bercukai) mahal, maka rokok ilegal (tanpa cukai) akan bertebaran, meski lewat “bawah tanah”. Karena harga rokok naik, akan banyak orang kesulitan membeli rokok. Produsen rokok ilegal akan melihat itu sebagai kesempatan. Bahkan Adam Smith pun paham soal ini.

Pemerintah bisa menaikkan cukai, dan harga rokok akan semakin mahal. Tapi selalu ada upaya untuk “melawan”. Dalam kacamata orang-orang miskin, rokok ilegal adalah salah satu bentuk perlawanan. Mereka butuh merokok, dan persetan dengan cukai!

Bagaimana jika rokok ilegal benar-benar tidak ada?

Bisa jadi, pemerintah akan melakukan antisipasi dengan merazia rokok-rokok ilegal, untuk meminimalkan atau bahkan menghilangkan peredarannya. Bahkan kalau pun itu terjadi, selalu ada cara lain untuk merokok. Misalnya dengan membeli tembakau utuh, dan melinting rokok sendiri. Ingat, yang dibutuhkan orang-orang miskin hanya merokok, udud, atau apa pun sebutanmu. Dalam bahasa blak-blakan, mereka tidak peduli merek, prestise, apalagi cukai!

Sampai di sini, biasanya akan muncul suara-suara sinis, misalnya, “Sudah tahu miskin, masih juga merokok!” Ada pula yang akan mengatakan, dengan nada bijak, “Daripada uangnya dibelikan rokok, mending dipakai untuk kebutuhan yang lebih penting,” dan seterusnya, dan seterusnya.

Selama ini, tidak ada yang pernah menjawab ocehan semacam itu secara blak-blakan, atau secara frontal. Jadi, sekarang saya akan menjawabnya.

Mari kita mulai dengan pertanyaan bermasalah ini, “Kenapa banyak orang miskin yang merokok?”

Kalau kau orang miskin atau pernah miskin, pertanyaan semacam itu sebenarnya tidak patut diajukan, karena sangat kurang ajar! Orang-orang miskin menghadapi kehidupan yang amat berat, jauh lebih berat dari tumpukan teorimu. Mereka tidak hanya dibebani aneka masalah hidup yang tak pernah selesai, tapi juga dibebani kenyataan bahwa mereka kesepian—sebentuk perasaan tak berdaya menghadapi kenyataan.

Saya tahu yang saya katakan, karena saya pernah miskin, dan pernah menjalaninya bertahun-tahun.

Kalau kau kaya, kau akan mudah menemukan teman, bahkan mereka yang tampak asing di matamu akan bersikap seolah akrab denganmu. Tapi kalau kau miskin, kau akan merasa sendirian, kesepian... sulit menemukan orang untuk diajak berbagi. Karena memang tidak ada yang tertarik dengan penderitaanmu. Setiap orang punya masalahnya sendiri, dan mereka tidak peduli dengan masalahmu, kemiskinanmu, lara dan nestapamu.

Orang-orang miskin menghadapi aneka kekurangan, bukan sewaktu-waktu, tapi setiap waktu. Mereka menghadapi kesusahan bukan hanya ketika tak bekerja, tapi juga ketika giat bekerja. Karena hasil kerja mereka tidak mampu menutup semua kebutuhan yang kian hari kian mencekik.

Di tengah kondisi semacam itu, mereka membutuhkan sandaran, penopang, kehadiran orang lain yang menguatkan. Tetapi kita hidup di dunia yang mestinya sudah dimusnahkan oleh Thanos. Orang-orang di sekeliling kita punya masalah sendiri-sendiri, dan mereka tak peduli dengan masalah orang lain. Orang-orang di sekeliling kita sudah terlalu sibuk dengan kehidupan sendiri-sendiri, hingga tak punya waktu mengurusi kehidupan orang lain.

Karena itulah, ada banyak orang miskin yang merasa sendirian, dan diam-diam kesepian... meski mereka mungkin tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya kesepian. Dalam kondisi semacam itu, rokok sering kali menjadi teman yang baik. Teman yang tidak banyak bacot, tapi hanya menemani.

Bagi banyak orang miskin, aktivitas merokok bukan untuk “gagah-gagahan” atau semacamnya, tapi sebentuk upaya menguatkan diri, dan menganggap rokok sebagai teman sejati. Ketika mereka menyulut rokok, dan menikmati asapnya, mereka bisa menenangkan pikiran sejenak dari penatnya hidup, kadang sambil berusaha mencari jalan untuk berbagai masalah yang dihadapi.

Karenanya, pertanyaan “mengapa orang miskin merokok” adalah pertanyaan kurang ajar. Wong mereka merokok justru karena miskin! Karena kesepian! Karena menghadapi aneka masalah dan kekurangan! Karena hidup di dunia yang kejam!

Kalau kebetulan melihat orang miskin—atau orang yang banyak beban pikiran—sedang merokok, perhatikanlah. Mereka tampak sangat “khusyuk” saat merokok, begitu... well, tuma’ninah. Dalam arti tidak kebal-kebul asal-asalan. Karena mereka menganggap rokok sebagai teman sejati dalam kesusahan dan kesepian.

“Tapi merokok bisa mengganggu kesehatan dan bla-bla-bla.” Tolong katakan itu pada orang-orang kaya! Mereka lebih peduli kesehatan, karena mereka memiliki uang, sekaligus punya pikiran jauh ke depan!

Bagi orang-orang miskin, boro-boro mikir kesehatan, mikir bagaimana hidup besok saja kadang sudah berlebihan.

Jadi, jika cukai dinaikkan, dan harga rokok terdampak naik, korban pertama dari hal itu adalah orang-orang miskin. Pemerintah dan aktivis antirokok berharap orang-orang miskin tidak lagi merokok, tapi itu pikiran yang berbelok kejauhan. Wong yang menyebabkan orang miskin merokok justru karena kemiskinannya! Lha piye, pola pikirmu?

Jika ada survei atau penelitian ilmiah mengenai persentase orang merokok di Indonesia, saya berani bertaruh: Jumlah perokok terbesar berasal dari kalangan menengah ke bawah!

Kalau harga rokok naik, mereka akan mencari rokok ilegal yang lebih murah. Kalau rokok ilegal dihilangkan, mereka akan melinting—bikin rokok sendiri. Yang penting bisa merokok. Dan jika aktivitas melinting masih dipersulit, itu artinya pemerintah sedang mengundang bahaya. Ingatlah film Joker sebelum bikin keputusan yang berpotensi menyusahkan banyak orang!

Dalam perspektif saya, upaya terbaik untuk menurunkan jumlah perokok adalah—pertama-tama—dengan menurunkan angka kemiskinan! Ketika orang hidup sejahtera, mereka akan lebih mampu berpikir jauh ke depan. Bukan hanya berpikir bagaimana besok, tapi juga berpikir bagaimana masa depan. Dalam hal itu, bisa jadi mereka bisa berpikir lebih baik dan lebih bijak, salah satunya dengan meninggalkan aktivitas merokok.

Memaksa orang berhenti merokok, dengan cara menaikkan cukai dan harga rokok, adalah upaya mengatasi masalah tanpa mau melihat akar masalah—atau sengaja menutup mata dari masalah sebenarnya. Tentu bukan langkah yang bijak, khususnya karena akan berdampak pada jutaan orang yang hidupnya sudah susah. Meski berdalih itu upaya yang dimaksudkan baik, tapi bisa jadi justru akan menimbulkan lebih banyak masalah.

Visi Magneto

Mumpung selo dan mumpung ingat—juga mumpung sepi—aku mau melanjutkan ocehan ini » Paling Menggoda di Alam Semesta.

Dalam film X-Men, Magneto berusaha mengubah manusia (Homo sapiens, nonmutan) menjadi mutan, melalui “teknologi” yang ia ciptakan. Ketika ditanya mengapa ia ingin mengubah manusia menjadi mutan, Magneto menyatakan, “Let’s just say God works too slow.”

Kalimat Magneto dalam film itu mungkin terdengar biasa, tapi sebenarnya menyiratkan sesuatu. Perubahan manusia (evolusi) terus berlangsung, tapi prosesnya sangat lambat. Berdasarkan sejarah evolusi, kita butuh waktu jutaan tahun untuk berubah.

Di masa lalu, Homo sapiens berubah tanpa kendali dirinya, karena memang mereka tidak (belum) tahu bagaimana mengendalikannya. Tetapi, kini, manusia sudah bisa mengendalikan “perubahan” yang terjadi, karena telah menemukan kuncinya.

Apa kuncinya? DNA.

DNA manusia adalah hasil evolusi jutaan tahun, dan selama itu pula manusia belum menyadari bahwa DNA menjadi kunci penting perubahan/pertumbuhan mereka. Kini, setelah mereka menyadari, sebagian orang mulai menjadi Magneto—“anggap saja evolusi terlalu lambat”.

Sebagian ilmuwan berpikir, “Bagaimana kalau kita menyunting DNA?” Itu pikiran sederhana, tapi memiliki implikasi yang luar biasa. Ketika DNA mulai disunting dan diperbaiki, evolusi tidak lagi berjalan perlahan seperti sebelumnya, tapi melompat sedemikian jauh.

Meski mungkin terdengar futuristik, “penyuntingan DNA” sebenarnya sudah dilakukan sejak lama. Selama ini, hal itu ditujukan untuk keperluan medis, semisal mengatasi penyakit tertentu, atau memperbaiki bagian-bagian yang rusak (misal perbaikan cacat genetik).

Tapi bagaimana jika penyuntingan DNA juga dilakukan untuk hal lain? Dengan penyuntingan yang tepat pada DNA, tingkat kecerdasan pemiliknya bisa naik berkali lipat, begitu pula kekuatan dan kesehatannya. Selamat datang di dunia evolusi yang dirancang sendiri.

Jika uraian ini terdengar tidak masuk akal, kita perlu tahu bahwa hal ini sudah dan sedang terjadi. Diam-diam, jauh dari publisitas, ras manusia super sedang dirancang—dengan kemampuan, kecerdasan, dan kekuatan berkali lipat dari manusia normal.

Makalah terakhir Stephen Hawking—yang ia tulis sebelum wafat—juga membahas hal ini, dan ia mengkhawatirkannya. Sama seperti ia mengkhawatirkan AI (artificial intelligence), Hawking juga mengkhawatirkan implikasi lahirnya manusia super. Apa yang kira-kira akan mereka lakukan?

Saat dunia telah begitu akrab dengan diskriminasi, saat umat manusia makin sulit menerima orang lain hanya karena dianggap berbeda, saat yang liyan dianggap ancaman dan dijauhi dengan alasan perbedaan... selalu ada kemungkinan lahirnya Magneto.

Di mataku, Magneto bukan penjahat—ia korban diskriminasi dan ketidakmampuan manusia menerima perbedaan, kepicikan dan keterbelakangan Homo sapiens dalam menerima yang liyan. Magneto selalu ada ketika masyarakat menuntut persamaan dan mengharamkan perbedaan.

They wish to cure us. But I say to you, we are the cure! The cure for that infirm, imperfect condition called 'Homo sapiens'! They have their weapons... we have ours. We will strike with a vengeance and a fury that this world has never witnessed! —Magneto, X-Men 3


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 April 2019.

Noffret’s Note: Masalah

Pacaran = Masalah yang dibumbui cinta
Menikah = Masalah yang ditutupi sikap sok bahagia

Aku sudah kenyang (bahkan sudah muak campur mau muntah) dengan masalah. Karenanya, kalau yang kautawarkan adalah masalah (meski disebut pacaran atau menikah), aku tidak tertarik.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 Maret 2019.

Seharusnya Dunia Tidak Punya Hari Libur

Aku benci hari libur! Jalanan macet di mana-mana, urusan tersendat, pekerjaan terhambat, dan aku harus membuang waktu sia-sia di jalan. Seharusnya dunia tidak punya hari libur!

....
....

Sambil nunggu perut kembali nyaman setelah makan, aku mau ngoceh melanjutkan kejengkelan tadi pagi.

Sudah bertahun-tahun aku bekerja tanpa hari libur, tanpa cuti, apalagi liburan panjang. Rata-rata, aku bekerja 14 jam setiap hari. Dan aku tidak pernah mengeluhkan pekerjaanku, atau mengimpi-impikan datangnya liburan. Kalian bisa scroll TL-ku, dan tidak akan ada hal semacam itu.

Padahal, kalau mau, aku bisa libur kapan pun, cuti kapan pun, bahkan liburan sepanjang apa pun, wong aku bekerja di rumah sendiri dan menjadi majikan bagi diriku sendiri. Tapi aku lebih senang bekerja, melakukan sesuatu yang positif dan produktif, setidaknya bagi diriku sendiri.

Orang-orang mungkin menyebutku gila kerja, tapi aku menyebutnya mencintai kerja. Orang yang gila kerja (workaholic) tidak bisa meninggalkan pekerjaan dengan nyaman—tapi aku bisa!

Aku bisa meninggalkan pekerjaanku kapan pun dengan hati nyaman, asal ada sesuatu yang lebih menarik!

Apakah aku pernah meninggalkan pekerjaanku?

Sering!

Orang-orang menghubungiku, menawari sesuatu yang sangat menarik, dan aku pun meninggalkan sarangku yang nyaman, pergi ke tempat jauh, dan melepaskan tumpukan pekerjaan dengan hati ringan. No problem, karena begitulah hidup.

Kalau kau sekadar ingin bertemu denganku, aku tidak akan punya waktu—karena waktuku sudah habis untuk bekerja! Agar aku mau meninggalkan pekerjaan serta sarangku yang nyaman, kau harus memberiku alasan masuk akal. Karena aku tidak akan membuang-buang waktu untuk kesia-siaan.

Sebagian orang mungkin ingin ngemeng, "Ah, artis anu aja mudah ditemui, kok."

AKU BUKAN ARTIS!

Aku tidak butuh popularitas atau publisitas. Aku menjalani hidup dalam kesunyian, menikmati kesendirian, dan memang tidak ingin bertemu siapa pun, apalagi yang tidak/belum kukenal.

Well, sekarang aku mau kembali bekerja, dan persetan dengan dunia.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 April 2019.

Kemiskinan

Rasanya ingin tertawa kalau ada orang ceramah soal kemiskinan di depanku, dengan bahasa sendakik-ndakik apa pun.

Kau tidak tahu apa-apa soal kemiskinan, Nak! Dan tidak usah berceramah soal kemiskinan di depanku. Aku sudah menjalani kemiskinan, bahkan sebelum kau tahu soal kemiskinan.

Jumat, 25 Oktober 2019

Petaka di Surga

Kutipan favoritku, dari Ellen Key, "Cinta adalah
kegiatan moral tanpa disertai pernikahan,
tapi menikah adalah kegiatan moral tanpa cinta."
@noffret


Ini kisah mengerikan terkait perkawinan yang pernah saya temui; kisah nyata seorang laki-laki yang mengira memasuki surga, tapi ternyata menyongsong petaka. Kisah ini telah memberi pelajaran yang sangat keras untuk diri saya, dan semoga juga menjadi pelajaran bagi siapa pun.

Kisah ini cukup panjang, karena saya harus mengisahkannya dari awal secara runtut—yang dimulai bertahun-tahun lalu—lengkap dengan banyak detail yang memang tidak bisa dipisahkan dari inti cerita. So, agar benar-benar memahami kisah ini seutuhnya, juga agar tidak terjadi kesalahpahaman, bacalah dari awal sampai akhir.

Nama yang ada dalam kisah ini disamarkan menjadi “Sony”, tapi peristiwanya saya tulis sesuai yang terjadi. (Sony telah membaca catatan ini, sebelum saya terbitkan di blog).

....
....

Kisah ini dimulai bertahun-tahun lalu, ketika saya masih kecil, tepatnya saat kelas lima SD. Seperti yang sudah saya ceritakan di catatan-catatan terdahulu, saya memulai “karier” di jalanan—menjadi tukang parkir liar—saat kelas lima SD, demi bisa mendapat uang jajan.

Daerah operasi saya waktu itu sekitar alun-alun—di sana banyak penjual makanan, dan banyak orang berdatangan ke sana untuk makan. Di masa itu, sepeda motor masih barang mewah, jadi belum banyak orang naik motor. Artinya, penghasilan saya dari sana sangat kecil. Tapi karena tujuannya untuk “mendapat uang jajan”, yang kecil itu pun sudah saya syukuri.

Saya juga bersyukur, beberapa orang di sana begitu pemurah. Mereka memberikan receh untuk saya, semudah memberikan kerikil. Salah satu orang pemurah itu adalah seorang laki-laki bernama Sony. Orang inilah yang kelak memperkenalkan saya pada hal-hal menakjubkan... dan mengerikan.

Perkenalan saya dengan Sony dimulai di sana, di jalanan tempat saya mencari uang. Dia sering terlihat memasuki warung lontong opor ayam, sendirian, naik sepeda motor, dengan penampilan meyakinkan.

Waktu itu saya kelas lima SD, sementara Sony mungkin berusia sekitar 25. Jadi, dalam pikiran saya waktu itu, Sony mungkin anak orang kaya. (Oh, saya harus mengatakan, di masa itu sangat langka anak muda naik motor, apalagi kerap makan sendirian di warung lontong opor yang identik dengan orang-orang berduit!)

Dugaan saya bahwa Sony anak orang kaya makin menguat, karena dia termasuk orang pemurah. Setiap kali dia keluar dari warung lontong opor, dan saya mendekati motornya, dia menyerahkan beberapa keping receh kepada saya dengan ringan, seolah receh-receh itu hanya kerikil baginya. Lalu dia menaiki motornya dengan gagah, dan melaju pergi seolah dunia ini tempat bermain yang menyenangkan.

“Aku cinta orang ini!” batin saya waktu itu, sambil membayangkan kelak—saat sudah besar—saya juga ingin seperti dia.

Suatu malam, Sony masuk warung lontong opor seperti biasa, dan saya pun membayangkan akan dapat tambahan receh darinya. Karenanya, ketika dia kemudian keluar dari warung usai makan, saya pun mendekati motornya. Tapi Sony berkata, “Titip motor dulu, ya. Aku perlu ke tukang tambal ban di sana.”

Tidak jauh dari tempat itu memang ada tukang tambal ban (di masa itu, tukang tambal ban juga belum sebanyak sekarang). Sony melangkah ke sana, dan tak lama kemudian kembali dengan membawa banyak ban dalam bekas sepeda motor. Dia menaruh ban-ban bekas itu di motornya.

Waktu itu, saya duduk di trotoar, tidak yakin apakah harus mendekati Sony atau membiarkannya. Karena, bisa jadi, dia masih akan pergi lagi.

Usai membereskan ban-ban itu di motornya, Sony mendekati tempat saya duduk, bermaksud memberikan receh seperti biasa. Karena usia kami yang terpaut jauh, saya biasa memanggilnya “Bang”. (Waktu itu saya belum tahu nama dia).

Saat Sony mendekat, saya bertanya, “Ban segitu banyak, buat apa, Bang?”

Sony menjawab, “Tempat kerjaku membutuhkan banyak ban dalam sepeda motor, untuk tali pengikat. Kamu tahu tukang tambal ban mana, yang sekiranya punya banyak ban bekas?”

Saya menjawab tidak tahu. Seperti yang disebut tadi, di masa itu tukang tambal ban sepeda motor masih langka, belum sebanyak sekarang.

Sony lalu berkata, “Ini barusan beli ban-ban dalam di tukang tambal sana, seharga 800 (rupiah) per biji. Kalau kamu bisa mendapatkan ban-ban dalam seperti itu, nanti saya kasih untung 200 (rupiah) per biji.”

Tawaran yang menggiurkan, pikir saya. Maka saya pun berjanji untuk mengabari dia, kalau sewaktu-waktu saya mendapatkan ban dalam sepeda motor, seperti yang dia cari.

Sejak itu, sepulang sekolah, saya berjalan ke sana kemari, mencari tukang tambal ban sepeda motor, dan bertanya apakah mereka punya ban dalam bekas. Sebagian tukang tambal ban punya, meski hanya satu atau dua, dan saya membelinya dari mereka seharga Rp800. Malam harinya, saya bawa ban-ban dalam bekas itu, dan saya serahkan pada Sony. Seperti janjinya, dia memberi untung Rp200 untuk setiap ban yang saya dapatkan.

Urusan ban bekas itulah yang kelak mendekatkan kami, hingga bersahabat sampai bertahun-tahun kemudian.

Suatu hari, saya pergi ke pantai bersama Panda, seorang teman, dan kami jalan kaki bolak-balik. Dalam perjalanan pulang, saya mendapati tukang tambal ban, dan di sana terdapat banyak ban dalam bekas. Jumlahnya mencapai seratus lebih. Saya merasa menemukan harta karun, waktu itu. Tapi saya tidak punya uang untuk membeli ban bekas sebanyak itu.

Malam harinya, saat bertemu Sony seperti biasa, saya bilang kepadanya, “Bang, ada tukang tambal yang punya banyak ban dalam bekas, tapi aku tidak punya uang untuk membelinya.”

“Di mana tempatnya?” tanya Sony.

Saya pun menyebutkan lokasi tempat tambal ban itu.

Sony berkata, “Kalau begitu, biar nanti kita datangi bareng. Besok siang, bisa?”

“Besok siang aku sekolah.”

Sony tersenyum. “Tentu saja sepulang kamu sekolah.”

Sony lalu meminta alamat rumah saya, dan berjanji akan menjemput sepulang saya sekolah. “Namamu siapa, biar nanti mudah mencari rumahmu.”

Saya menyebutkan nama, dan dia juga menyebutkan namanya. Waktu itulah, saya pertama kali tahu dia bernama Sony.

Besok siangnya, saya mendapati Sony menepati janji. Dia datang ke rumah saya, lalu kami pergi ke tukang tambal ban yang saya maksud. Di tempat tukang tambal ban tersebut, Sony mendapat banyak ban dalam bekas, dan dia tampak gembira. Bersama-sama, kami mengangkuti ban-ban dalam bekas itu ke motornya.

Semula, saya tidak terlalu berharap dapat untung dari hal itu—saya sudah senang bisa membantu Sony, sosok yang saya kenal pemurah. Tapi Sony memiliki hati mulia. Meski dia sendiri yang membeli ban-ban bekas itu, dia tetap memberi untung ke saya Rp200 per ban, seperti janjinya semula. Hari itu, saya merasa kaya-raya!

Hari itu juga, Sony membawa ban-ban bekas tadi ke tempat kerjanya. Saya diajak serta. Pada waktu itu pula, saya pun akhirnya tahu, Sony bekerja di perusahaan yang berurusan dengan peti kemas, dan ban-ban bekas tadi diubah menjadi tali untuk mengikat paket-paket barang yang dikemas untuk dikirim lewat kapal.

Setelah menyerahkan ban-ban bekas tadi, dan setelah urusan di tempat kerjanya selesai, Sony mengajak saya pulang. Namun, sebelum mengembalikan saya ke rumah, kami mampir ke rumah makan untuk makan siang. Itu menjadi peristiwa penting bagi saya, karena di hari itulah pertama kali saya menikmati makan di rumah makan. Tentu saja Sony yang membayar.

Kisah terkait ban dalam bekas itu menjadi awal pertemanan dan kedekatan saya dengan Sony—sebentuk persahabatan yang unik, karena usia kami terpaut sangat jauh, dan persahabatan kami berlangsung bertahun-tahun, dari saya masih anak-anak sampai saya dewasa, hingga dia menua sekarang.

Sejak itu, kami sering pergi bersama, mendatangi tukang tambal ban yang saya temukan, dan dia membeli semuanya, serta memberikan komisi untuk saya. Lama-lama, hubungan kami tidak sekadar urusan ban bekas. Sewaktu-waktu, siang hari—sepulang saya sekolah—dia datang ke rumah saya, dan mengajak pergi ke suatu tempat, untuk suatu urusan.

Biasanya, dia mengajak saya karena butuh seseorang untuk membantunya. Entah membantu membawa/mengangkat sesuatu, atau semacamnya. Dan saya selalu senang membantunya.

Seiring kebersamaan dan kedekatan itu pula, saya pun tahu latar belakang Sony seutuhnya. Kadang-kadang, Sony mengajak saya ke rumah orang tuanya. Dia bukan anak orang kaya seperti yang saya sangka sebelumnya. Dia berasal dari keluarga biasa, namun bekerja di perusahaan yang memberinya gaji besar. Karenanya, meski masih muda, dia menjalani kehidupan mewah untuk ukuran zaman itu.

Sony juga telah memiliki rumah sendiri, yang waktu itu masih kosong, karena ia masih tinggal bersama orang tuanya. Saya juga pernah diajak ke rumahnya yang kosong itu, di sebuah kompleks perumahan yang waktu itu baru dibangun. Untuk ukuran zaman itu, Sony—yang berusia 25 tahun—adalah lajang kaya-raya.

Saat kami mengobrol di rumahnya yang kosong, Sony menceritakan bahwa rumah itu akan ditinggalinya bersama istrinya kelak. Waktu itu, Sony sudah punya pacar, dan tidak lama lagi akan menikah. Karena kedekatan kami pula, Sony pernah mengajak saya ke rumah pacarnya, seorang perempuan yang cantik dan ramah.

Selama menatap dan mengetahui semua itu, saya benar-benar mengagumi Sony. Dia memiliki semua hal yang ingin dimiliki jutaan anak muda di dunia—uang banyak, kendaraan, rumah, dan pacar yang menawan! Sekali lagi, itu di zaman ketika sepeda motor masih dianggap barang mewah! Karenanya, saya membayangkan, menjalani kehidupan Sony adalah menjalani kehidupan di surga—hanya saja tanpa Hawa.

Dan surga itu akhirnya benar-benar sempurna.

Suatu hari, Sony menikah dengan perempuan yang telah dipacarinya. Saya ikut membantu-bantu dalam perkawinan mereka, dan ikut senang dengan kebahagiaan Sony.

Setelah menikah, Sony jarang muncul di tempat lontong opor langganannya. Tentu sekarang dia makan di rumah, menikmati masakan istrinya. Setidaknya, itulah yang saya bayangkan. Karenanya, saya pun hampir tidak pernah lagi mendapati Sony di warung lontong opor seperti dulu.

Meski begitu, kami tetap berhubungan. Sewaktu-waktu, siang hari, dia datang ke rumah saya, lalu mengajak pergi untuk suatu urusan, dan saya senang hati menemaninya.

Selama waktu-waktu itu, semuanya tampak biasa. Sony masih seperti biasa, dan kami menjalani kebersamaan seperti biasa. Saya pun berpikir waktu itu Sony menjalani kehidupan yang lebih bahagia. Sebagai lajang saja, dia sudah menjalani hidup menyenangkan. Apalagi kini sudah punya istri. Menikah akan membuatmu bahagia, itulah yang saya yakini sejak kecil, yang juga diyakini jutaan orang lain.

Tapi ternyata, diam-diam, neraka sedang memantik nyala.

Waktu-waktu berlalu, tahun berganti, dan saya terus tumbuh besar. Setelah lulus SD, saya masuk SMP, kemudian SMA. Lulus SMA, saya sudah tidak lagi hidup di jalanan, dan mendapat pekerjaan yang lebih baik. Belakangan, saya bahkan bisa mengontrak rumah sendiri, dan mendaftar kuliah di sebuah kampus. Di masa itu, kehidupan saya telah jauh lebih baik dibanding masa kecil dulu.

Sementara itu, perkawinan Sony telah menghasilkan anak-anak. Seiring waktu, kami mulai jarang ketemu, hingga sampai lama tidak pernah ketemu. Saya sibuk dengan urusan saya sendiri, dan Sony mungkin juga sibuk dengan urusannya sendiri. Omong-omong, di masa itu ponsel belum populer, jadi kami tidak bisa saling menyapa dengan mudah lewat ponsel.

Suatu hari, Sony datang ke rumah kontrakan saya. Waktu itu dia berkata, “Aku mendatangi rumahmu. Tapi kata orang tuamu, sekarang kamu mengontrak rumah sendiri. Jadi mereka memberikan alamatmu.”

Saya menyambut kedatangannya dengan senang, seperti sahabat yang lama tak bertemu. Kami lalu mengobrol panjang, dan saya mendapati Sony telah jauh berubah. Dia yang dulu begitu muda dan gagah, kini tampak menua, dengan rambut-rambut yang mulai memutih.

“Aku senang melihatmu sekarang,” ujar Sony, seperti ayah kepada anaknya. Bagaimana pun, dia telah melihat saya sejak kecil, ketika saya masih hidup di jalanan demi mendapat uang jajan.

Pertemuan itu pun kembali mendekatkan hubungan kami. Sejak itu pula, Sony sewaktu-waktu datang ke rumah saya, dan kami mengobrol seperti sepasang sahabat.

Ketika tahu saya aktif menulis di blog, dia pun mengaku rutin membaca tulisan-tulisan saya. Mungkin karena dia menganggap saya sudah dewasa—dan tahu saya sering menulis topik perkawinan di blog—dia pun mulai terbuka membicarakan perkawinan dan rumah tangga.

Topik perkawinan dalam percakapan kami dimulai saat saya mengatakan ingin dolan ke rumahnya. Saya bertanya, apakah dia bersama istri dan anak-anaknya sekarang tinggal di rumahnya yang dulu kosong? Sony menjawab, rumah itu sudah dijual. Lalu, dengan ragu, Sony mengatakan, “Tampaknya, itu kesalahan terbesar yang kulakukan.”

Lalu ceritanya mulai mengalir.

Kita harus flashback untuk melihat kisah Sony seutuhnya, yang dimulai dari perkawinannya bertahun-tahun lalu.

Seperti yang sudah saya ceritakan, Sony adalah lajang kaya ketika menikah. Dia memiliki penghasilan besar yang memungkinkannya punya rumah dan menjalani kehidupan nyaman. Karenanya, ketika menikah, siapa pun pasti membayangkan kehidupan Sony akan baik-baik saja, karena... memangnya apa yang kurang?

Jadi, ketika Sony menikah, saya pun membayangkan dia akan memboyong istrinya ke rumahnya sendiri, lalu mereka membangun keluarga bahagia bersama anak-anak mereka yang akan lahir. Dan mereka pun akan hidup bahagia selama-lamanya. Tapi apakah benar begitu? Ternyata tidak!

Sony punya satu adik laki-laki. Ketika orang tua meninggal, rumah orang tua mereka pun menjadi hak waris Sony dan adiknya. Karena Sony sudah punya rumah sendiri, mereka pun bersepakat si adik membayar hak waris Sony dalam bentuk uang, sehingga rumah warisan orang tua mereka menjadi hak milik adik Sony. Urusan itu beres tanpa masalah. Sejak itu, rumah warisan orang tua menjadi hak milik adik Sony, sementara Sony tinggal di rumah istrinya.

Istri Sony tidak mau diajak pindah ke rumah Sony, dengan alasan harus merawat orang tua. Menuruti permintaan istri, Sony pun tinggal di rumah mertua.

Ketika akhirnya mertua Sony meninggal dunia, Sony dan istrinya tetap tinggal di rumah itu. Istrinya beralasan tidak ingin pindah dari sana, dan ingin tetap menempati rumah tinggalan orang tuanya. Sony pun menurut, karena berpikir apa salahnya. Toh di rumah itu atau di rumahnya sendiri, yang tinggal hanya dia dan istrinya, beserta anak-anak mereka. Maka Sony pun melanjutkan hidup di rumah istrinya.

Karena rumah milik Sony telah kosong bertahun-tahun—tak pernah ditempati sejak menikah—istri Sony meminta agar rumah itu dijual saja, daripada dibiarkan kosong terus menerus. Ide penjualan rumah itu terkait dengan PHK yang dialami Sony. Perusahaan tempat kerjanya bangkrut, dan semua karyawan di-PHK, termasuk Sony. Karena tidak lagi mendapat penghasilan, ekonomi keluarga mulai goyang.

Karenanya, ketika istrinya menyarankan agar menjual rumahnya, Sony tidak melihat ada yang salah. Maka dia pun menuruti saran istrinya, dan menjual rumahnya yang kosong. Seperti yang ia sebut tadi, “itu kesalahan terbesar yang kulakukan.”

Seiring waktu, selama bertahun-tahun, rumah tangga Sony mengalami berbagai gejolak, seperti umumnya rumah tangga lain. Selama waktu-waktu itu pula, gejolak yang muncul selalu bisa diredam. Gejolak mulai sulit diredam, sejak Sony kehilangan pekerjaan, hingga ekonomi keluarga mulai bermasalah. Sony memang berhasil mendapat pekerjaan lain, tapi penghasilannya lebih kecil.

Sony menceritakan, istrinya mulai kehilangan respek kepadanya. Lama-lama, hubungan mereka makin parah—dari ketiadaan respek jadi menyepelekan. Istri Sony mungkin berpikir bahwa Sony “numpang tinggal” di rumahnya, jadi dia merasa bisa berlaku seenaknya. Sejak itu pula, Sony mendapati perkawinannya seperti neraka.

Tapi nyala, yang terjadi waktu itu, ternyata baru percikan kecil.

Neraka perkawinan benar-benar menyala dan berkobar, ketika Sony mengetahui istrinya selingkuh. (Saya membuktikan langsung ke lapangan untuk mengonfirmasi pengakuan Sony, dan kenyataan yang saya dapati memang mendukung pengakuannya—perselingkuhan adalah isu yang sulit diredam, dan hampir bisa dipastikan akan diketahui tetangga kiri-kanan.)

Sejak itulah, Sony menatap kehidupannya dengan hampa, marah, dan terluka. Perselingkuhan adalah satu hal, tapi dia juga menghadapi aneka hal lain yang sama-sama menghimpitnya.

Dia mungkin bisa memperkarakan perselingkuhan istrinya, bahkan mungkin menceraikannya. Tapi dia terbentur pada dua masalah lain. Pertama, nasib anak-anaknya. Kedua, dia tidak punya tempat tinggal.

Sony tinggal di rumah istrinya. Dia tidak bisa pulang ke rumah orang tuanya, karena rumah itu telah menjadi milik adiknya, yang kini ditempati bersama keluarganya. Dia juga tidak bisa pulang ke rumahnya sendiri, karena rumahnya telah dijual. Jika dia menceraikan istrinya, artinya dia yang harus pergi... dan dia tidak tahu ke mana harus pergi.

Dengan marah dan terluka namun merasa tak berdaya, Sony akhirnya memilih mendiamkan masalah perselingkuhan istrinya, meski orang-orang di tempat tinggal mereka menjadikan itu sebagai gosip di antara tetangga. Sony bukan hanya kehilangan ketenteraman dalam rumah tangga, dia bahkan merasa “kehilangan harga diri”. Meski istrinya yang selingkuh, tatapan tetangga juga ditujukan kepadanya.

“Kini, aku menjalani hidup seperti orang mati,” ujar Sony, “tanpa semangat, tanpa gairah, tanpa pengharapan. Saat masih muda dan lajang, mungkin kamu mengharapkan pasangan dan menikah. Setelah menikah, mungkin kamu mengharapkan anak-anak sebagai keturunan. Aku telah memiliki semua itu, dan ternyata semua itu justru menghancurkanku.”

Saya terdiam usai mendengar penuturannya. Bagaimana pun, saya masih ingat betul saat-saat perkawinannya dulu, dan saya masih bisa mengingat bagaimana ekspresinya yang begitu bahagia. Dia mengajak saya ke tempat penyewaan kursi, pelaminan, dan lain-lain, untuk resepsi perkawinannya. Kami bercanda di rumahnya, saat saya membantu mempersiapkan banyak hal untuk pesta itu.

Meski peristiwanya telah terjadi bertahun-tahun lalu, semua gambarnya tersimpan di memori saya sejelas peristiwa kemarin. Saya masih ingat tawanya saat ia masih muda dulu, keriangannya saat menyambut hari pernikahannya... seperti jutaan orang lain yang tertawa riang menyambut surga.

Andai saya bisa kembali ke masa lalu, mungkin saya akan menghentikannya, dan berbisik kepadanya, “Sebaiknya hentikan ini, karena hanya akan membawamu pada petaka.”

Tapi saya tidak bisa kembali ke masa lalu, tentu saja, meski memori saya begitu jelas mengingat peristiwa lalu. Kini, sosok yang duduk di depan saya adalah lelaki tua berwajah muram, jauh beda dengan anak muda gagah dan riang, yang pernah saya saksikan bertahun-tahun lalu. Andai saya bisa menghentikan waktu....

Sony berkata perlahan, “Aku menceritakan semua ini, bukan semata karena percaya kepadamu. Tapi juga karena kupikir kamu telah tahu. Aku telah membaca tulisan-tulisanmu di blog, dan kamu membicarakan perkawinan secara blak-blakan. Aku telah menikah bertahun-tahun, dan aku menyadari yang kamu tulis memang benar. Perkawinan tidak seindah yang dikatakan atau dikhayalkan banyak orang.”

“Akhirnya,” ujar Sony kemudian, “kalau kamu memang akan menuliskan kisahku, aku berharap yang kualami bisa menjadi pelajaran bagi orang-orang lain. Ada banyak orang menjanjikan macam-macam keindahan perkawinan, dan itu membuat banyak orang lain tertipu. Mereka harus diberi tahu kenyataan sesungguhnya. Bahwa perkawinan tidak hanya menjanjikan surga, tapi juga petaka yang tak pernah terbayangkan.”

Tajam ke Dalam, Tumpul ke Luar

Sebagian orang tampaknya punya—dan menerapkan—standar ganda yang aneh. Terkait diri sendiri dan kehidupan pribadi, mereka sangat realistis. Tapi terkait kehidupan dengan orang lain (perkawinan), mereka sangat idealis.

Terkait kehidupan diri sendiri, mereka menilai diri dan kehidupannya dengan sangat realistis—sebegitu realistis, sampai (sebagian) mereka tidak mau berupaya untuk memperbaiki diri, karena menganggap dan menilai dirinya sendiri tidak mampu. Sangat realistis!

Tapi terkait kehidupan dengan orang lain (perkawinan), mereka sangat idealis—sebegitu idealis, sampai (sebagian) mereka meyakini bahwa kawin akan membuatnya bahagia, menjadi pribadi lebih baik, lancar rezeki, dan hal-hal hebat lainnya. Oh, well, sangat idealis!

Meski mungkin aneh, pola pikir semacam itu dimiliki dan dilakukan banyak orang. Dan mereka menganggapnya baik-baik saja—meski mungkin akan tampak konyol saat ditulis secara jelas dan blak-blakan seperti ini.

Pemikiran Bocah

Ketika menonton Fast & Furious 7, aku berpikir di dunia ini tidak ada yang mengalahkan Jason Statham. 

Bagaimana tidak? Dia sering muncul di film-film Hollywood dengan berbagai mobil mewah, dari Audi sampai Maserati. Dan saat menabrakkan mobil mewahnya—head to head—dengan mobil Dominic Toretto, hingga mobil mereka hancur di bagian depan, Jason Statham sama sekali tidak terluka, bahkan bisa keluar dari mobil yang hancur dengan gagah.

Jadi, aku berpikir di dunia ini tidak ada yang mengalahkan Jason Statham.

Tapi Jason Statham ternyata kalah oleh bocah-bocah Furious, dan bocah-bocah Furious kalah oleh bocah-bocah Expendables, dan bocah-bocah Expendables kalah oleh X-Men, dan X-Men kalah oleh Magneto, dan Magneto kalah oleh Avengers, dan Avengers kalah oleh Nabilah, dan Nabilah kalah oleh Thanos, dan Thanos kalah oleh Awkarin.

Di dunia ini tidak ada yang mengalahkan Awkarin... selain En Sabah Nur.

Rabu, 23 Oktober 2019

Memulai dari Diri Sendiri

PLN (dan pemerintah, tentu saja) benar-benar lucu dan anakronis. 
Mereka koar-koar agar masyarakat hemat listrik, hemat energi. 
Sekarang, mereka berencana memaksa masyarakat untuk menaikkan 
daya listrik, agar "bisa menggunakan listrik secara bebas dan leluasa." 
Jadi, piye karepe?
@noffret


Saya pernah menginap di rumah seorang teman hingga tiga hari, dan saya diberi kamar tersendiri. Di rumahnya, semua kamar dilengkapi AC atau pendingin udara, termasuk kamar yang saya tempati. Saya menyalakan AC saat akan tidur, dan mematikannya setelah saya bangun.

Suatu siang, teman saya—yang punya rumah—mengajak saya keluar. Waktu itu saya sedang membaca buku di dalam kamar. Karena cuaca yang panas, saya menyalakan AC. Ketika teman saya mengajak keluar, saya pun menyudahi aktivitas saya, dan segera bersiap. Lalu saya keluar kamar.

Sesampai di garasi, teman saya sudah siap di mobil. Namun, saya baru ingat, AC di kamar saya masih menyala. Tadi, karena buru-buru, saya lupa mematikannya. Jadi, saya pun bilang kepadanya, “Sori, aku mau mematikan AC dulu.”

Teman saya melarang, “Biarkan saja.” Dia sepertinya tersinggung, seolah saya sedang meremehkan kemampuannya dalam membayar listrik.

Saya tersenyum, “Aku bukan ingin menghemat uangmu, aku hanya melakukan kebiasaanku.”

Saya pun meninggalkannya sebentar, dan balik ke kamar untuk mematikan AC. Setelah itu, saya kembali ke mobil, dan kami pun pergi.

Di perjalanan, kami mengobrolkan hal itu, dan dia bertanya kenapa saya sampai segitunya—bela-belain balik ke kamar hanya untuk mematikan AC. “Toh paling hanya beberapa jam ditinggal,” ujarnya.

Saya menjawab, “Seperti yang kubilang tadi, aku hanya melakukan kebiasaanku menghemat energi. Kita mungkin bisa membayar listrik sebesar apa pun, sebesar yang kita gunakan. Tapi buat apa membuang-buang energi listrik jika tidak digunakan? Selain menghambur-hamburkan uang, yang kita lakukan juga menghambur-hamburkan energi. Kalau boleh kukatakan, itu tidak baik untuk kesehatan kantong kita, juga tidak baik untuk kesehatan bumi.”

Teman saya tersenyum. “Kamu membuatnya terdengar sangat dramatis.”

“Mungkin, ya,” saya menjawab. “Tapi begitu kita mengubah kebiasaan sepele itu—hanya menggunakan energi listrik jika memang dibutuhkan—kita akan melihat sesuatu yang benar-benar dramatis.”

Lalu saya menceritakan pengalaman yang benar-benar saya alami.

Di rumah, saya menggunakan sumur bor untuk kebutuhan air sehari-hari. Untuk penampungannya, ada sebuah tangki besar, dan dari tangki itulah semua kebutuhan air tersuplai—termasuk untuk mandi, kebutuhan dapur, dan lain-lain. Agar suplai air di rumah selalu lancar, saya harus memastikan untuk mengisi tangki air secara penuh, dan untuk itu dibutuhkan energi listrik.

Tangki air tersebut dilengkapi alat yang secara otomatis akan memutus energi listrik, begitu air telah penuh, sehingga air tidak sampai luber. Sebaliknya, ketika air di dalam tangki sudah agak berkurang, alat itu akan secara otomatis menyalakan listrik, sehingga air kembali mengisi tangki sampai penuh. Dengan alat otomatis itu, saya tidak perlu repot menyalakan atau mematikan saklar listrik untuk keperluan pengisian air.

Suatu hari, saya iseng dan mencoba melakukan “eksperimen”. Berdasarkan penelitian yang saya lakukan, alat otomatis pada tangki air akan menyala otomatis, saat air di dalam tangki berkurang 1 centimeter. Artinya, setiap kali air berkurang sedikit—misal digunakan untuk mencuci 3 buah gelas—alat otomatis itu akan menyala, dan mengisi air dalam tangki. Karena itu pula, setiap hari alat itu akan menyala dan mati otomatis sampai berkali-kali.

Lalu saya mencoba mematikan alat otomatis itu melalui saklarnya. Setelah saklar tidak tersambung ke listrik, alat otomatis itu tidak bisa lagi menyala-dan-mati seenaknya. Meski air di dalam tangki sudah jauh berkurang, alat itu tetap tidak bisa menyalakan listrik untuk mengalirkan air. Hasilnya, dalam beberapa hari, listrik untuk air tidak pernah menyala sama sekali, meski simpanan air di dalam tangki terus menyusut.

Setelah air di dalam tangki benar-benar akan habis, saya baru kembali menyalakan saklar untuk air, dan otomatis air kembali mengisi tangki sampai penuh. Setelah penuh, alat otomatis di tangki memutus aliran air. Lalu saya mencabut saklarnya kembali, dan mengulang langkah-langkah itu hingga di waktu-waktu selanjutnya.

Apa yang saya dapat dari “eksperimen” itu? Jawabannya; penghematan yang tak terduga!

Boleh percaya boleh tidak. Meski yang saya lakukan mungkin terkesan remeh, namun dampaknya sangat besar—setidaknya, itulah yang saya rasakan. Setiap bulan, saya harus membayar tagihan listrik, termasuk keperluan listrik untuk air. Ketika eksperimen tadi saya lakukan sebulan penuh, total tagihan listrik rumah saya berkurang hampir setengah! Dan yang “setengah” itu nilainya sangat besar.

Padahal, yang saya lakukan sangat sepele. Hanya mengisi air setelah air di tangki benar-benar hampir habis. Sudah, cuma itu. Dan hanya karena itu, saya bisa menghemat banyak uang setiap bulan. Selain itu, saya juga lebih nyaman, karena setiap hari tidak terus menerus mendengar suara pompa air yang menyala dan mati sewaktu-waktu. Meski sepele, suara pompa air yang bolak-balik menyala dan mati bisa mengganggu ketenangan saya.

Di atas semua itu, setidaknya saya telah berusaha berkontribusi terhadap penghematan sumber energi listrik. Kalau-kalau belum tahu, listrik yang kita nikmati untuk berbagai keperluan itu tidak didapatkan dengan sim salabim, tapi menggunakan sumber daya bumi, dan sebagian adalah sumber daya yang terbatas. Dengan kata lain, semakin banyak energi listrik yang kita gunakan, semakin banyak pula sumber daya bumi yang diambil.

Saya tentu tidak bisa bengok-bengok menyuruh orang-orang lain melakukan yang saya lakukan. Tetapi, setidaknya, saya bisa memulai hal baik itu—menghemat energi listrik—dari diri saya sendiri. Setelah saya terbiasa melakukannya di rumah sendiri, saya mulai menerapkan hal sama di tempat lain. Misal saat menginap di hotel.

Meski hotel membebaskan saya untuk menggunakan energi listrik yang tersedia di kamar—khususnya AC dan televisi—tapi saya berusaha untuk tidak memubazirkannya dengan dalih “toh sudah bayar”. Saat sedang tidur, misalnya, saya matikan televisi, karena memang tidak ditonton.

Karenanya, ketika menginap di rumah teman, saya pun memastikan diri untuk melakukan hal yang sama. Karenanya pula, waktu itu, saya mengatakan kepadanya, “Aku sudah terbiasa melakukannya, jadi akan merasa bersalah jika tidak melakukan.”

Ada banyak hal baik tapi tampak sepele, sehingga banyak orang mengabaikan atau menganggapnya tidak penting. Seperti menghemat listrik.

Mematikan saklar listrik, mematikan televisi, mematikan AC, dan semacamnya, adalah aktivitas yang sangat mudah, remeh, dan bisa dilakukan sambil merem. Tapi mungkin karena dianggap terlalu mudah, kita pun meremehkannya. Padahal, kalau mau membiasakan diri melakukannya, kita akan terkejut dengan hasilnya.

Kebanyakan orang mungkin bosan mendengar istilah “hemat listrik”, karena dianggap tidak jelas manfaatnya. Sekarang saya ingin memberitahu, aktivitas itu punya manfaat besar, yang bahkan bisa dibuktikan.

Jika rumahmu menggunakan peralatan listrik yang membutuhkan energi besar—misal AC—cobalah lakukan penghematan dengan hanya menyalakan AC saat digunakan. Jika AC sedang tidak digunakan, matikan. Cukup lakukan itu saja secara rutin dalam sebulan, dan lihat hasilnya. Tagihan listrikmu akan berkurang!

Dan kalau kita mau menghemat pemakaian listrik, kita tidak hanya menghemat pengeluaran bulanan, tapi juga membantu menghemat sumber daya bumi. Kita berutang pada anak cucu kita kelak, karena mereka juga punya hak untuk menikmati sumber daya bumi—termasuk energi listrik—seperti yang sekarang kita nikmati.

Noffret’s Note: Menggiring Opini

Di Lokasi Ini Wiranto Ditusuk Orang Tak Dikenal Pengikut ISIS » http://dlvr.it/RFtfMk

Kentara sekali, media-media terkesan menggiring opini pembaca untuk mempercayai bahwa pelaku penyerangan terhadap Wiranto adalah anggota/simpatisan ISIS. Bagaimana informasi semacam itu bisa cepat sekali didapatkan? Dapat dari sumber atau dari "sumber"?

Aku sudah melihat pelaku penyerangan terhadap Wiranto, dan... yeah, akan sangat menarik andai ada jurnalis yang bisa menemuinya, face to face, dan langsung mendengarkannya berbicara. Pastikan saja dia berbicara secara normal!

Masih ingat kasus Saracen yang bikin heboh beberapa waktu lalu? Seseorang dituduh secara mengerikan, dan seluruh Indonesia percaya! Tapi waktu itu TIDAK ADA seorang pun yang menemuinya, untuk berbicara langsung dengannya! Belakangan terbukti, semua tuduhan itu mentah!

Enak sekali kerjaan para jurnalis sekarang. Tinggal menemui "sumber"—tak peduli siapa pun—lalu menuliskan ocehan si "sumber" seolah ayat suci, lalu para pembaca dipaksa mengamini. Well, kenapa kalian tidak mewawancarai tiang listrik sekalian?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Oktober 2019.

Noffret’s Note: Main Cucu

Akhirnya ada yang mengatakan sesuatu yang sejak dulu ingin kukatakan... maaf, ingin kuteriakkan. Dalih "main sama cucu" itu sejak dulu sudah tidak masuk akal. Tapi entah bagaimana jutaan orang (pura-pura) percaya. Itu jelas "eksploitasi", kalau kita mau jujur.

Satu hal yang hampir bisa dipastikan ada pada jutaan orang waras adalah menyukai anak kecil. Siapa pun bisa mendapat simpati dalam waktu singkat jika menunjukkan kedekatan/kecintaan pada anak kecil, sebagaimana siapa pun bisa dibenci banyak orang jika menunjukkan hal sebaliknya.

Tidak ada satu pun politisi waras yang akan menunjukkan ketidaksukaan pada anak kecil—bahkan jika aslinya dia tidak menyukai anak kecil. Karenanya, kita pun sering melihat politisi yang menunjukkan sikap mesra/kesukaan pada anak kecil, khususnya saat berinteraksi dengan rakyat.

Tim Jokowi tampaknya paham teknik persuasi semacam itu, dan kebetulan "diuntungkan" karena memiliki cucu yang masih kecil. Dalam hal ini, orang-orang—termasuk oposisi—kesulitan menyerangnya terang-terangan, karena si cucu seperti tameng baginya. Itulah yang kumaksud eksploitasi.

Kita telah membuktikan, selama ini, bahwa kapan pun Jokowi tampak asyik dengan cucunya di depan umum, tidak ada orang yang cukup berani bicara terang-terangan "menyerang" hal itu. Dalih "main sama cucu" terdengar tak terbantah, meski sering kali tak relevan.

Kita tidak bisa menyerang orang yang menyukai anak kecil—itu kenyataan yang sulit dibantah siapa pun yang waras. Dan kalau kita melakukannya, kita akan diserang banyak orang. Ini lebih terdengar seperti Captain America dengan tamengnya, daripada seorang kakek dengan cucunya.

Syukurlah, dalih "main sama cucu" itu akhirnya membentur batu keras kenyataan (dalih yang keterlaluan), hingga orang-orang tidak lagi segan untuk ngomong terang-terangan. Aku lebih percaya pada tukang sapu yang mengemong cucunya, daripada politisi dengan segala tingkahnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 September 2019.

Selasa, 15 Oktober 2019

Takut Ular atau Laba-Laba

Dan malam menjebak kegelapan,
gelepar teriak di antara jerat laba-laba.
@noffret


“Jangan pernah menjadikan fobia seseorang sebagai sarana lucu-lucuan.” Saya benar-benar mengingat hal itu setelah acara reuni SD, dan mendapati kenyataan yang tak terduga.

Di masa SD dulu, saya punya teman perempuan, bernama Uci. Dia seperti umumnya siswi lain, tak ada yang tampak berbeda. Yang khas dari Uci adalah ketakutannya yang luar biasa terhadap ular. Hal itu kami ketahui tanpa sengaja, saat suatu hari muncul ular di depan kelas. Ular itu tergolong kecil, dan entah muncul dari mana.

Murid-murid di sekolah waktu itu sempat menontonnya, dan mungkin menganggap kemunculan ular di sekolah sebagai semacam hiburan di jam istirahat. Uci juga sempat melihat ular itu, dan seketika berlari menjauh dengan ketakutan. Ular itu lalu diambil penjaga sekolah (yang biasa kami sapa Pak Bon), dan entah dibawa ke mana.

Di dalam kelas, beberapa murid ada yang menggoda Uci dengan menakut-nakuti seolah ada ular, dan Uci benar-benar ketakutan. Kami menganggap itu lucu, tanpa menyadari bahwa itu sama sekali tidak lucu bagi Uci.

Yang geblek, besoknya ada murid sekelas yang bela-belain bawa ular mainan, untuk menakut-nakuti Uci. Saya masih ingat betul peristiwa itu. Heri, nama teman kami, punya ular mainan di rumah. Ular mainan itu terbuat dari plastik lentur, dan sekilas benar-benar mirip ular asli, berwarna hijau kehitaman. Bagi yang tidak takut, ular mainan itu sama sekali tidak menakutkan. Tapi bagi yang takut, ular mainan itu tampak mengerikan.

Heri membawa ular mainan itu dari rumah, dan diperlihatkan ke teman-teman lelaki. Kami semua cekikikan, membayangkan reaksi Uci nantinya. Ketika waktu istirahat tiba, saat murid-murid keluar kelas untuk jajan, Heri memasukkan ular mainan tadi ke tas Uci. Tentu saja tujuannya untuk main-main, sekadar menakut-nakuti Uci, karena ketakutan Uci tampak lucu.

Tapi akibatnya ternyata mengerikan.

Saat jam istirahat selesai, dan jam pelajaran kembali dimulai, murid-murid sudah duduk di bangku masing-masing. Kami semua mengeluarkan buku dari dalam tas. Begitu pula Uci. Ketika dia memasukkan tangannya ke dalam tas, jari-jarinya menyentuh sesuatu yang kenyal, dan seketika dia menjerit ketakutan sambil melemparkan tasnya. Isinya pun berhamburan, termasuk ular mainan di dalamnya.

Reaksi Uci waktu itu memang tepat seperti yang kami—murid-murid lelaki—bayangkan, dan kami tertawa-tawa dengan kurang ajar. Tapi Uci lalu menangis histeris, dan belakangan seperti akan pingsan. Suasana kelas kacau. Guru yang mengajar waktu itu membawa Uci ke UKS (Usaha Kesehatan Sekolah).

Belakangan, setelah terungkap adanya ular mainan di tas Uci, guru kami pun marah, dan bertanya siapa yang melakukan. Heri, si pelaku, dibawa ke kantor guru, dan diceramahi macam-macam.

Besoknya, Uci tidak masuk sekolah beberapa hari.

Kisah itu terjadi bertahun-tahun lalu, dan mungkin akan terlupa dari memori saya, kalau saja tidak terjadi peristiwa baru. Bertahun-tahun kemudian, yakni tempo hari, teman-teman zaman SD mengadakan reuni. Teman-teman sekelas kami datang, termasuk Heri dan Uci.

Heri mungkin sudah lupa perbuatannya bertahun-tahun lalu, terkait ular mainan yang ia masukkan ke dalam tas Uci. Tetapi, Uci masih ingat... dan dia masih membenci Heri atas perbuatannya dulu.

Belakangan, Heri curhat pada saya, bahwa dia menyesali perbuatannya dulu, karena tidak menyangka akibatnya akan seperti itu. Saya percaya kepadanya, dan saya pun tidak menyalahkan, wong kami waktu itu masih anak-anak. Kami belum tahu, atau belum mengenal istilah “fobia”, jadi kami pun berpikir, “Masak sama ular mainan saja sampai segitu takutnya?”

Kenyataannya, orang yang mengalami fobia terhadap sesuatu memang takut—benar-benar ketakutan—terhadap benda-benda yang membuatnya takut, meski benda itu mainan. Terkait hewan, ada dua hewan yang sering membuat orang takut, yaitu ular dan laba-laba. Saya tahu soal ini gara-gara melihat sikap Uci pas reuni tempo hari, lalu mulai belajar soal fobia hewan.

Ternyata, ketakutan atau fobia terhadap ular dan laba-laba bukan sesuatu yang aneh. Sebaliknya, itu sangat manusiawi, bahkan ilmiah. Ketakutan itu rupanya diwariskan oleh nenek moyang kita, hingga kita bahkan sudah mengenal ketakutan pada ular dan laba-laba, sejak masih bayi. Dengan kata lain, ketakutan atau keengganan terhadap dua hewan itu merupakan sifat bawaan manusia.

Para ilmuwan dari Max Planck Institute for Human Cognitive and Brain Sciences di Jerman, melakukan penelitian soal ini pada bayi-bayi berusia 6 bulan. Menggunakan pendeteksi pupil inframerah, mereka mendapati bahwa pupil bayi akan melebar saat melihat foto ular dan laba-laba, dibanding saat melihat foto bunga atau foto ikan.

Dalam hasil studi yang dipublikasikan di jurnal Frontiers In Psychology, mereka menyatakan, “Bayi menunjukkan tanda stres yang lebih banyak saat melihat gambar ular dan laba-laba, dibandingkan saat melihat gambar lainnya.”

Penjabaran mereka masih panjang lebar, yang intinya menyatakan bahwa ketakutan sebagian orang terhadap ular dan laba-laba sama sekali bukan hal aneh, karena itu diwarisan nenek moyang kita sejak jutaan tahun lalu, yang terus terbawa manusia hingga era modern. Bedanya, sebagian kita ada yang mampu menumbuhkan keberanian untuk menghadapi hewan-hewan itu, sementara sebagian lain tidak.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa nenek moyang kita mewariskan ketakutan terhadap ular dan laba-laba, tapi tidak pada hewan lain? Kenapa mereka tidak mewariskan ketakutan (fobia) terhadap badak, atau beruang, atau godzilla, misalnya?

Jawabannya sederhana, yakni karena—dibandingkan hewan-hewan lain yang sama menakutkan—ular dan laba-laba adalah dua hewan yang paling dekat dengan manusia. Badak dan beruang memang menakutkan, tapi mereka hidup jauh dari manusia. Sementara ular dan laba-laba hidup berdampingan dengan nenek moyang kita selama jutaan tahun.

Diperkirakan, ada satu sampai lima persen dari populasi saat ini, yang secara klinis benar-benar mengalami fobia terhadap ular dan laba-laba. Mereka benar-benar takut pada dua hewan itu, dan mereka bisa mengalami gangguan fisik—semisal demam—hanya karena tersentuh dua hewan tersebut.

Mungkin ada yang berpikir, “Kok sampai segitunya, ya? Sepertinya tidak masuk akal kalau sampai segitu takutnya pada ular dan laba-laba.”

Kalau-kalau ada yang berpikir seperti itu, mungkin sekarang kita perlu tahu. Jika seluruh laba-laba di muka bumi bersatu dan menyerang manusia, mereka akan bisa menghabisi kita semua, hanya dalam waktu satu tahun! Para ilmuwan telah lama mempercayai hal ini, dan saya pun percaya.

Ya semoga saja laba-laba tidak sempat membaca penelitian para ilmuwan, sehingga mereka tidak sampai terpikir untuk melakukan penyerangan massal pada manusia. Karena kalau itu sampai terjadi, bisa modyar kita semua.

Pria Bukan Makhluk Rumit

Pria berpikir, "Bagaimana agar hal sulit ini bisa lebih mudah?"
Wanita berpikir, "Bagaimana agar hal mudah ini bisa lebih sulit?"

Itulah kenapa aku tak berminat menjalin hubungan dengan wanita. Urusan hidupku sudah terlalu banyak dan rumit, dan aku tidak berminat menambahinya.

Ketika wanita ingin digandeng, mereka tidak mengatakan keinginannya, tapi berjalan sangat cepat, dan berharap pria paham. Padahal, bagi pria, jauh lebih mudah kalau si wanita mengatakan, "Hei, tolong gandeng aku."

Mudah, sederhana. Tapi wanita suka mempersulit hal-hal mudah!

Wanita bicara menggunakan kode-kode rumit, dan berharap si pria paham. Padahal, pria tidak berinteraksi dengan cara semacam itu. Dan ketika si pria tidak paham kode yang dimaksud, si wanita marah, menuduh si pria tidak peka.

Bukan tidak peka, tapi si wanita yang terlalu rumit.

Kalau kau bicara dengan jelas pada seorang pria, dan dia tidak paham, bisa jadi dia memang pria goblok. Tapi kalau kau bicara menggunakan kode-kode tak langsung, dan si pria tidak juga paham, bisa jadi kaulah yang goblok.

Aturan main dengan pria: Katakan dengan jelas kepadanya.

Kalau kau merayu seorang pria dengan kalimat yang "mengundang", yang bisa dilihat siapa pun, pria bisa jadi berpikir bahwa rayuanmu ditujukan pada SEMUA PRIA. Usaha itu lebih mungkin gagal daripada berhasil.

Untuk berhasil, tujukan rayuanmu secara SPESIFIK.

Pria bukan makhluk rumit. Yang menjadikan pria tampak rumit, karena wanita terbiasa berpikir rumit.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Februari 2019.

Duane dan Kapur Merah

Duane menggesek-gesekkan kapur merah ke kakinya, seolah menggambar atau menulis atau membuat garis di betisnya, meski aku tidak paham dan tidak yakin. Atau mungkin dia ingin membuat garis luka, atau menyamarkan luka yang berdarah.

Entahlah.

Kami duduk di depan rumah, dan berbicara tentang hal-hal tidak jelas, dan aku masih menemukan Duane yang dulu, yang pernah kukenal. Meski semula aku tak mengenal. Betapa panjang waktu yang terlalui, yang tak kusadari.

Yang kusadari adalah bahwa kami sama-sama hilang, dengan takdir masing-masing yang sunyi. Aku bertanya-tanya apakah Duane pernah memikirkan atau mempertanyakan kenyataan itu, dan aku tak yakin. Dia mungkin terlalu sibuk dengan kenyataan, dengan banjir dan gelegar gunung, dengan badai api yang menjilat-jilat malam.

Duane menggesek-gesekkan kapur merah ke kakinya, seolah menggambar atau menulis atau membuat garis di betisnya, meski aku tidak paham dan tidak yakin. Atau mungkin dia ingin membuat garis luka, atau menyamarkan luka yang berdarah.

Kamis, 10 Oktober 2019

Midsommar Dalam Pikiran Saya

Beberapa film tampaknya memang bisa membuat penonton
keluar dari bioskop sambil merasa depresi.
@noffret


Selera tampaknya sulit diajak kompromi, termasuk selera dalam urusan menonton film. Bagi saya, film adalah hiburan, dan menonton film adalah upaya menghibur diri. Orang mau meluangkan waktu dan membayar sejumlah biaya untuk masuk bioskop, semata-mata karena ingin terhibur, bukan untuk bertambah pusing atau untuk mendapat beban pikiran baru.

Karena itu, bagi saya, tak peduli seartistik apa pun atau bahkan sehebat apa pun, film harus menghibur! Jika tidak menghibur, namanya bukan film, tapi tugas—atau PR, atau beban hidup, atau apa pun sebutanmu. Film kok bikin pusing! Itu film atau masalah hidup?

Sebelum ocehan ini makin melantur, mungkin saya perlu menegaskan terlebih dulu, bahwa cara orang terhibur memang berbeda. Meski sama-sama nonton film, selera orang per orang akan sangat berpengaruh. Satu film yang dianggap menghibur bagi satu orang, belum tentu akan sama menghibur bagi orang lain.

Banyak orang, misalnya, suka nonton horor, karena mereka merasa terhibur. Sebaliknya, saya malas nonton horor, karena—alih-alih terhibur—saya justru sering tertekan. Saya sering mengalami kesulitan dalam melupakan sesuatu, entah hal-hal yang saya lihat, dengar, atau rasakan. Karenanya, menonton horor, bagi saya, sama saja memasukkan informasi (tayangan film) yang buruk ke dalam memori saya. Dan itu jelas sangat tidak menghibur, sekaligus tidak sehat!

Orang lain nonton horor hari ini, dan lusa mungkin sudah lupa semua kengerian yang ia saksikan dalam film. Saya nonton horor hari ini, dan tahun depan masih ingat! Itu bukan menghibur diri sendiri, tapi meneror diri sendiri.

Karena latar belakang semacam itu, saya memilih untuk tidak menonton horor, dengan maksud agar memori saya tidak menyimpan hal-hal mengerikan yang saya saksikan.

Bagaimana dengan drama? Sebenarnya, film-film drama menyuguhkan pemandangan dan adegan yang tidak masalah untuk diingat. Susahnya, saya sering tidak sabar menonton drama, khususnya kalau ceritanya terlalu lambat dan bertele-tele. Biasanya, saya menonton drama kalau yang memerankan kebetulan aktor/aktris favorit saya. Setidaknya, saya senang bisa melihat mereka.

Kalau horor tidak doyan, dan drama terasa membosankan, lalu film apa yang saya sukai? Hanya film action atau petualangan! Sering kali, saya benar-benar terhibur kalau nonton film action, khususnya yang memang bagus, setidaknya menurut penilaian pribadi. Film-film superhero Marvel itu kan termasuk film action, dan saya senang menontonnya!

Yang jadi masalah, sering ada film-film horor yang jadi perbincangan banyak orang—khususnya di media sosial—dan membuat saya penasaran. Dari Hereditary, Us, sampai Midsommar. Di antara yang lain, tiga film horor itu dipuji-puji setinggi langit, bahkan sebagian orang sampai merasa perlu menerangkan “rahasia-rahasia” di dalamnya dengan penuh antusiasme. Karena penasaran, saya pun menonton. Dan respons saya, setelah menonton tiga film itu, hanyalah, “Wuoppppooooo.”

Us itu film apa, demi Tuhan! Saya tidak paham di mana letak menghiburnya nonton film semacam itu. Begitu pula Hereditary yang konon katanya “film paling mengerikan tahun ini”—mengerikan dari mananya, saya tidak paham! Lalu Midsommar—yang podo wae. Bukannya terhibur, saya nyaris mati bosan menonton film-film itu.

Midsommar punya durasi dua jam lebih. Dan apa yang saya dapat selama dua jam itu? Saya merasa hanya menyaksikan sekumpulan orang yang kurang kerjaan dan tidak punya kesibukan, lalu mengisi hidup dengan hal-hal tidak jelas. Dan tidak ilmiah. Dan tidak akademis.

Terlepas dari interpretasi ndakik-ndakik para kritikus yang menyebut Midsommar sebagai masterpiece, saya punya interpretasi yang lebih sederhana. Midsommar, bagi saya, adalah film yang menunjukkan betapa berbahaya ketika manusia tidak punya kesibukan! Dan itulah horor sesungguhnya.

Sering kali, yang menyelamatkan manusia dari melakukan hal-hal buruk dan penuh mudarat adalah kesibukan. Ketika manusia punya kesibukan (yang positif, semisal sibuk belajar atau bekerja), ia terhindar dari kemungkinan melakukan hal-hal buruk atau yang penuh mudarat, atau yang tidak bermanfaat dan sia-sia. Sebaliknya, ketika manusia tidak punya kesibukan, segala bentuk mudarat, kesia-siaan, bahkan kejahatan, akan menghampiri.

Dan ketika orang-orang yang tidak punya kesibukan semacam itu dikumpulkan, sebagaimana yang terlihat dalam Midsommar, maka lahirlah petaka. Dan itu, sekali lagi, horor yang sesungguhnya.

Siapakah yang paling sering melakukan perbuatan sia-sia di muka bumi? Bukan orang yang sibuk, tapi orang yang tidak punya kesibukan.

Siapakah yang paling sering kumpul dengan sesama, lalu menggunjing orang lain dan membicarakan keburukan tetangga? Sama saja, bukan orang yang sibuk, tapi orang yang tidak punya kesibukan!

Midsommar menunjukkan sekumpulan orang yang tidak punya kesibukan, dalam taraf yang paling berbahaya. Mereka—orang-orang yang tidak punya kesibukan itu—tidak hanya menggunjing orang lain, tapi sudah sampai pada taraf mencelakai orang lain, melakukan kejahatan terhadap orang lain... bahkan di tempat terang benderang. Apa yang lebih horor dari itu?

Dan, sebagai film, apakah Midsommar menghibur? Bagi saya, sama sekali tidak! Apa yang menghibur dari sekumpulan orang yang tidak punya kesibukan, lalu melakukan hal-hal tak masuk akal dan tidak akademis? Alih-alih terhibur, saya nyaris mati bosan! Tidak ada yang lebih membosankan selain menonton sekumpulan orang kurang kerjaan!

Kembali lagi, selera tampaknya memang sulit dinegosiasi, sulit diajak kompromi, termasuk dalam selera menonton film. Kita tak bisa yakin film yang kita anggap bagus—atau bahkan masterpiece—juga pasti akan dianggap serupa oleh orang lain. Yang kita anggap hebat bisa jadi buruk bagi orang lain, yang kita anggap buruk bisa jadi bagus bagi orang lain. Meski, dalam kadar tertentu, “bagus” dan “buruk” itu juga bisa sangat jelas.

Kenyataannya memang ada film bagus, dan ada film buruk. Terlepas dari hal itu, selera memegang peran. Midsommar, bagi kritikus film, bisa jadi film bagus, dan orang awam—seperti saya—tidak berani membantah. Tapi sebagai awam pula, saya punya selera pribadi. Dan Midsommar jelas bukan selera saya, tak peduli Ari Aster—sutradara Midsommar—disanjung-sanjung seolah dia nabi.

Sebaliknya, sebagian kritikus menganggap Angel Has Fallen sebagai film buruk, meski penilaian mereka terkesan maksa. Tapi Angel Has Fallen adalah jenis film yang memenuhi selera saya, dan persetan dengan kritikus!

Para kritikus mungkin bisa ngemeng, “Kamu menganggap Midsommar buruk, karena kamu tidak paham di mana hebatnya.”

Saya juga bisa bilang pada kritikus, “Kamu menganggap Angel Has Fallen buruk, karena kamu tidak paham di mana hebatnya.”

Ini seperti sebagian orang menganggap rebahan di kasur seharian sebagai aktivitas menyenangkan, dan di sisi lain ada orang yang menganggap sibuk bekerja seharian sebagai aktivitas menyenangkan.

Jika kelak ada film ala Hereditary, Us, atau Midsommar kembali ramai dibicarakan, kemungkinan besar saya tidak akan menonton, tak peduli umat manusia memuji-muji seolah film itu baru turun dari langit. Mending nonton JAV!

Noffret’s Note: Nonton Film

Gak sabar pengin nonton Angel Has Fallen.

....
....

"Adakah film yang ramai dibicarakan orang, tapi kamu tidak tertarik menontonnya?"

Ada. Banyak. Di antaranya Parasite.

Meski film itu dibicarakan banyak orang dengan aneka pujian, aku tidak tertarik menonton. Setidaknya, ragu-ragu. Aku sudah "trauma" dengan hal-hal kayak gitu.

Sudah berkali-kali aku nonton film hanya karena terpengaruh "keramaian" (film itu dibicarakan banyak orang, khususnya di medsos). Dan hasilnya mengecewakan.

Mungkin karena itu bukan jenis film-film yang kusukai, atau karena ekspektasiku terlalu tinggi (karena ramai dibicarakan).

Jadi, waktu Parasite ramai dibicarakan orang tempo hari, aku sama sekali tak terpengaruh. Kenyataannya, selera orang—khususnya dalam film—bisa berbeda, dan aku tidak perlu memaksa diri agar punya selera yang sama. Yang bagus bagi satu orang, belum tentu bagus pula bagi yang lain.

Menonton film yang bagus (dalam arti sesuai selera kita) adalah pengalaman yang menyenangkan. Begitu pula sebaliknya. Menonton film yang tidak sesuai selera kita bisa menjadi pengalaman yang menjengkelkan, dan membuat kita menyesal, karena sudah buang-buang waktu dan biaya.

Sekarang, aku hanya akan menonton film yang benar-benar sesuai seleraku, terlepas film itu ramai dibicarakan orang atau tidak. Kupikir, kita menonton film untuk menghibur dan menyenangkan diri sendiri, bukan untuk menyenangkan orang lain atau demi sekadar "mengikuti tren".

And now, aku sedang bersiap menonton Angel Has Fallen—jenis film yang sudah terjamin sesuai seleraku. Meski film ini tidak ramai dibicarakan orang, khususnya di medsos Indonesia, aku sudah yakin akan bisa menikmati film itu dengan penuh keasyikan. Dan aku akan menontonnya!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Agustus 2019.

Aku Ingin Menulis Mangopa

Mangopa.

Minggu, 06 Oktober 2019

Percakapan di Dapur

Selalu menyenangkan bertemu teman lama.
@noffret


Travel yang saya tumpangi berhenti di depan sebuah rumah, tepat pukul 1.30 dini hari. Saya turun dari travel, dan pintu rumah yang saya datangi seketika terbuka. Seseorang tersenyum lebar, dan berkata menyambut, “Aku sudah menunggu kedatanganmu.”

Saya membalas senyumnya. “Sori, kalau sudah mengganggu istirahatmu.”

“Sama sekali tidak.”

Dia menutup pintu rumah, membiarkan saya melepas sepatu dan meletakkan tas, lalu berkata, “Mari ke dapur.”

Di dapurnya yang bersih dan nyaman, saya duduk di sebuah kursi, dan dia menawari, “Kopi? Teh?”

“Teh saja.”

Lalu kami duduk berdampingan di dapur, dipisahkan sebuah meja, dengan dua gelas teh hangat. Saya menyulut rokok. Dia melakukan hal sama. Selama sesaat, kami membicarakan perjalanan jauh yang saya tempuh, dan percakapan-percakapan ringan seperti umumnya sepasang teman.

“Aku senang kamu datang ke sini,” ujarnya.

Saya tersenyum kecut, “Sebenarnya, aku merasa kehabisan teman, karena rata-rata mereka sudah menikah dan sibuk dengan keluarga masing-masing. Jadi, saat ingin bercakap-cakap dengan seseorang secara bebas—bertukar pikir dan meminta saran sebagai teman—aku agak kesulitan. Aku bersyukur bisa menemuimu sekarang.”

“Hidup yang aneh, ya,” ujarnya sambil mengembuskan asap rokok. “Dulu, kita memiliki begitu banyak teman—orang-orang yang selalu ada di sekeliling kita dalam senang maupun sedih—dan kita percaya akan bersama selamanya. Kita bahkan pernah mengangankan untuk hidup bersama di satu kompleks, sebagai tetangga, jika masing-masing telah menikah. Agar bisa tetap bersama sebagai teman. Tapi ternyata kehidupan punya alur sendiri, yang jauh menyimpang dari angan-angan kita.”

Lalu kami mengenang satu per satu teman-teman kami yang sudah menikah dan punya anak. Sambil bernostalgia ke masa lalu, saat kami masih sama-sama lajang dan bebas, berpikir akan bersama selamanya. Di masa itu, kami merasa memiliki teman di mana-mana, berpikir betapa hidup mudah dijalani karena masing-masing orang tersambung oleh tali tak kasatmata bernama pertemanan, persahabatan, persaudaraan.

Bertahun lalu, kami bersama teman-teman yang lain pernah mengangankan bisa hidup bersama di satu kompleks, sebagai tetangga—jika kami semua telah menikah—agar hubungan pertemanan tetap terjaga sampai tua. Tapi kehidupan punya skenario sendiri, dan kami harus menerima kenyataan. Bukannya berkumpul dalam satu kompleks perumahan sebagai tetangga sebagaimana yang dulu diangankan, kami semua justru hidup terpencar-pencar.

Dia tersenyum kecut, dan berkata, “Siapa yang mengira kita akan mengalami fase seperti yang sekarang kita alami?”

Saya memahami maksudnya. Entah kami semua menyadari atau tidak, nyatanya hubungan pertemanan kami memang merenggang setelah satu per satu menikah. Karena kami semua memang terpencar-pencar, sementara sebagian lain hidup di tempat-tempat jauh. Juga karena waktu semakin sempit, karena tanggung jawab semakin banyak, karena prioritas hidup telah jauh berubah.

Dia kembali berkata, “Dulu, kamu pernah membayangkan suatu ketika kita akan menghadapi kenyataan seperti sekarang?”

Saya tersenyum. “Sejujurnya tidak. Mungkin terdengar naif, tapi aku benar-benar tidak tahu bahwa kita akan tiba pada fase kehidupan seperti yang sekarang kita jalani.”

Dia ikut tersenyum. “Masa dewasa yang aneh dan absurd! Kenapa tidak ada yang memberi tahu kita, kalau suatu saat kehidupan akan sangat aneh seperti ini?”

Sesaat kami terdiam, dan dapur terasa begitu hening.

Saya berkata menerawang, “Mungkin, kamu tidak akan merasa atau menganggap hidupmu sekarang aneh, kalau kamu menikah dan punya keluarga—istri dan anak-anak.”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Aku tidak tahu. Aku bilang mungkin.” Setelah mengisap rokok, saya melanjutkan, “Maksudku, kalau kamu menikah dan punya keluarga, mau tak mau energi dan pikiranmu akan terkuras habis untuk istri dan anak-anakmu, hingga kamu tidak sempat memikirkan kehidupan seperti yang sekarang kita jalani.”

Dia mengangguk. “Ya, aku paham maksudmu. Kalau aku punya istri dan anak-anak, mungkin, kehidupanku akan terasa wajar, karena dari bangun tidur sampai mau tidur lagi akan selalu ada hal yang harus kukerjakan, hingga tidak punya waktu untuk berpikir dan diam sejenak untuk menatap kehidupan.”

“Itulah yang kumaksud.”

Dia mengisap rokoknya, lalu berkata, “Bagaimana denganmu? Saat di rumah sendirian, apakah kamu juga kadang menyadari hidupmu aneh?”

“Aku bersyukur karena waktu serta pikiranku terus tersita untuk belajar dan bekerja, hingga tidak sempat mikir macam-macam. Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, selalu ada yang kukerjakan, jadi pikiranku tidak pernah menganggur apalagi melantur. Kamu tentu juga menjalani rutinitas semacam itu?”

Dia kembali mengangguk. “Ya, aku juga menjalani hari yang padat, hingga tidak sempat mikir macam-macam. Meski, kadang-kadang, aku juga sempat memikirkannya. Saat kebetulan selo, tidak ada kegiatan, atau saat akan tidur, sambil menunggu lelap, kadang aku berpikir... kok aneh sekali hidup ini?”

Saya mengetukkan abu rokok ke asbak, lalu berkata perlahan-lahan, “Sebenarnya, aku juga kadang mengalami hal semacam itu—menganggap ada yang aneh dengan hidup... atau mungkin aku yang aneh. Maksudku, sejak bangun pagi sampai larut malam, aku terus bekerja, dan pikiranku terus tercurah pada pekerjaan. Tapi setelah tengah malam, saat selesai kerja, lalu mandi... bikin cokelat hangat dan menikmatinya sambil merokok... kadang pikiranku melantur, dan kadang pula berpikir betapa hidup ini sangat aneh.”

“Mungkin benar ucapanmu tadi,” dia menyahut. “Mungkin kalau kita punya istri dan anak-anak, kita tidak akan menganggap hidup ini aneh. Karena di rumah ada istri dan anak-anak—beserta segala masalah dan kesibukan—yang akan terus menyita waktu, energi, dan pikiran, hingga kita tidak sempat berpikir macam-macam.”

Saya tersenyum. “Kamu bisa mencobanya, kalau mau.”

Dia tertawa. “Kenapa tidak kamu saja yang mencoba?”

Saya ikut tertawa. “Aku tidak tertarik menikah—atau belum. Jangankan menikah, pacaran saja aku tidak tertarik!”

Seperti umumnya percakapan antarteman, topik percakapan sering melompat-lompat dari satu hal ke hal lain. Ketika percakapan kami menyinggung pernikahan dan lawan jenis, kami pun lalu membicarakan topik itu.

Dia bertanya, “Ada perempuan yang dekat denganmu, saat ini?”

“Tidak ada,” saya menjawab jujur. “Sebenarnya, bahkan teman perempuan pun aku tidak punya! Sudah lama sekali aku tidak berinteraksi dengan perempuan secara dekat—maksudku sebagai teman—hingga aku kadang menyadari begitu canggung saat berinteraksi dengan perempuan. Aku seperti lupa bagaimana menghadapi perempuan, tidak yakin bagaimana bersikap serta bercakap secara wajar dengan mereka...”

Dia tertawa seperti orang kegelian. “Benar-benar pengakuan yang aneh!”

Saya paham maksudnya, dan saya pun ikut tertawa—menertawakan diri sendiri. Dia tentu masih ingat, sekian tahun lalu—saat kami masih kuliah—saya biasa dekat dengan banyak perempuan.

Saya pun mencoba menjelaskan, “Ini seperti kemampuan menyetir mobil, kemampuan menari, atau kemampuan lain. Kalau kamu lama tidak melakukan, kamu akan merasa kaku atau canggung, bahkan kadang tidak pede melakukannya. Zaman kuliah dulu, kita biasa dikelilingi teman-teman perempuan, dan kita pun sangat tahu berinteraksi dengan mereka secara luwes. Tapi aku sudah tidak berinteraksi dengan perempuan sampai bertahun-tahun, hingga kadang bingung saat memulai interaksi dengan mereka...”

Dia mengangguk-angguk. “Di tempat kerjaku ada beberapa teman perempuan, jadi aku masih biasa menghadapi lawan jenis.”

“Syukurlah,” saya menyahut. “Sepertinya, kemampuan berinteraksi dengan orang lain, khususnya lawan jenis, bukan kemampuan bawaan—itu sesuatu yang dipelajari. Dan jika kita lama tidak mempraktikkannya, kemampuan itu bisa hilang.”

Sekali lagi dia tertawa seperti kegelian. “Kedengarannya seperti orang kena Alzheimer.”

Saya tertawa terpingkal-pingkal.

Dia lalu berkata dengan serius, “Mungkin kita memang tidak bisa meraih semuanya. Aku masih ingat, dulu, kamu ingin meneladani Plato, Isaac Newton, hingga Grigori Perelman. Kamu mungkin berhasil meneladani mereka—dan sejujurnya aku mengagumi itu—tapi kamu juga menghadapi dampak yang mereka hadapi. Plato membangun pusat pendidikan paling berpengaruh di Eropa, tapi tidak punya keluarga. Newton menghasilkan banyak karya, tapi hidup selibat dan tidak kenal perempuan. Sementara Perelman... yeah, dia memang hebat, tapi hidup seperti orang gila yang mengisolasi diri.”

Saya menyahut, “Kedengarannya kamu ingin menyarankan, agar aku meneladani Hugh Hefner atau Cassanova.”

Dia cekikikan. “Aku tidak bermaksud begitu. Maksudku, dampak yang sekarang kamu alami—kecanggungan saat berinteraksi dengan perempuan—mungkin karena terlalu lama mengisolasi diri sendiri. Seperti yang kamu bilang tadi, kemampuan berinteraksi dengan lawan jenis adalah hasil latihan. Dan kemampuan itu bisa hilang saat tidak lagi dipraktikkan. Aku jadi yakin kalau Plato, Newton, atau Perelman, sama-sama canggung saat menghadapi perempuan, meski mereka hebat dalam bidang akademis. Kenyataannya kita memang tidak mungkin meraih semua hal secara sempurna.”

Saya mengangguk-angguk, memahami maksudnya.

Dia mematikan puntung rokok di asbak, menyesap minuman di gelas, lalu berkata, “Jadi, apa rencanamu saat ini?”

Saya tersenyum. “Rencanaku tak pernah berubah. Meruntuhkan peradaban!”

Dia tertawa. “Menjadi Magneto?”

“Sekarang aku ingin menjadi En Sabah Nur.”

Lalu kami cekikikan, seperti dua bocah yang membicarakan tokoh kartun favorit.

Saya mematikan puntung rokok di asbak, dan berkata perlahan, “Akhir tahun ini, kontrak kerjaku akan berakhir. Aku berencana untuk berhenti, dan tidak memperpanjang lagi.”

Dia menatap saya. “Kamu mau kembali ke lapangan?”

“Tidak. Aku hanya berpikir... ingin menikmati kehidupan baru—maksudku, suasana hidup baru, yang berbeda. Meski aku juga belum yakin apa yang akan kulakukan.”

“Kenapa tiba-tiba kamu punya pikiran begitu?”

“Sebenarnya tidak tiba-tiba.” Saya meraih gelas, menyesap minuman di dalamnya, dan menjelaskan, “Dua tahun lalu, ketika kontrak berakhir, aku sudah punya rencana untuk berhenti. Tapi mereka ingin aku terus bekerja, dan... yeah, kupikir tidak ada salahnya. Jadi dua tahun lagi berjalan, sampai sekarang. Aku menikmatinya, tentu saja, tapi seperti yang kubilang tadi... aku merasa perlu suasana hidup baru, dan kupikir inilah saatnya.”

Dia mengambil sebatang rokok, dan menyulutnya. Lalu kami berbicara panjang lebar tentang kehidupan kami, tentang pekerjaan, tentang harapan-harapan. Kami saling memberikan pertimbangan, saling mendengarkan, saling melempar canda dan menikmati tawa.

Di akhir percakapan, saya berkata, “Aku senang masih memiliki teman yang bisa kudatangi dini hari seperti ini. Bisa bercakap dan bertukar pikir dengan teman yang dipercaya adalah harta yang berharga.”

Dia tersenyum. “Kamu selalu bisa menemuiku, kapan pun.”

“Dan aku tidak yakin sampai berapa lama aku masih bisa menemuimu seperti sekarang.”

Dia tertawa, memahami maksud saya. “Aku tidak punya rencana menikah dalam waktu dekat.”

“Semoga saja begitu.”

Di kejauhan, azan pertama terdengar.

 
;