Selasa, 15 Januari 2019

Mencari Cinta dan Pasangan Sempurna

Sebenarnya, kita tidak butuh pasangan yang hebat,
pintar, terkenal, atau mengagumkan. Kita hanya butuh
pasangan yang baik dan menenteramkan.
@noffret


Ini kisah lama, namun masih relevan untuk diceritakan.

Sepanjang Agustus 2015, setiap akhir pekan, ada pemandangan tak biasa di Taman Rakyat yang ada di Shanghai, Cina. Di taman yang kerap dikunjungi banyak orang itu, terdapat seorang wanita yang sedang mencari pasangan. Namanya—berdasarkan media Cina—Su Jingjing. Dia berusia 30 tahun, asal Hubei, Cina. Bagaimana kita tahu dia sedang mencari pasangan?

Jawabannya mudah, karena dia selalu berada di taman sambil memegangi karton cukup besar, berisi kata-kata ini:

“Aku lahir pada Februari 1985 di Provinsi Hubei. Aku sarjana. Kedua orang tuaku berasal dari Desa Bingcun. Tujuan hidupku adalah mengejar keunggulan. Hobiku membaca, menulis, mendengarkan musik, dan berolah raga. Aku juga bisa mengoperasikan komputer untuk pekerjaan.

“Standar untuk calon pasanganku: Dia mesti tinggal di pusat Kota Shanghai. Dia harus lahir pada 1980, 1981, atau 1982. Dia harus tidak berkaca mata. Dia mesti berkarakter baik. Dia harus punya tinggi di atas 170 cm. Dia juga harus seorang anak tunggal wirausahawan sukses atau pejabat pemerintahan.”

Keberadaan Su Jingjing di taman, yang rutin muncul setiap akhir pekan, menarik perhatian banyak orang, termasuk pers lokal. Beberapa wartawan pun mewawancarai, untuk memastikan yang ia lakukan bukan sekadar main-main. Kepada para wartawan, Su Jingjing mengaku serius dengan yang ia lakukan, bahwa dia benar-benar menginginkan suami.

Bahkan, ketika beberapa wartawan menyatakan kalau standar atau kriteria calon pasangannya terlalu tinggi, Su Jingjing tidak terpengaruh. Dia menekankan tidak akan pernah menurunkan standar yang ia pasang tersebut. “Sebenarnya, aku sudah enggan tinggal di Shanghai. Tapi aku sedang mencari pria dengan banyak uang, kekuasaan, kebajikan, berpenampilan baik, dan dari keluarga Shanghai,” ujarnya kepada wartawan.

Lalu siapakah Su Jingjing?

Su Jingjing lahir di sebuah desa bernama Xishui, Provinsi Hubei, pada 1985. Pada waktu berusia 18 tahun, dia meninggalkan desa, dan menuju kota untuk mencari pekerjaan. Pada 2008, dia datang ke Shanghai, dan sampai saat itu belum pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Di Shanghai, Su Jingjing tinggal di rumah petak berukuran 4x4 meter, di sudut utara Shanghai South Railway Station, dan bekerja sebagai pedagang kaki lima di sana.

Yang menyebabkan Su Jingjing nekat “mencari cinta” di Taman Rakyat dengan menenteng poster berisi kriteria calon pasangan yang diinginkan, karena dia merasakan tekanan sangat kuat untuk menikah.

Saat berusia 25, kisahnya pada wartawan, ia mulai mendapat banyak tekanan untuk segera menikah, khususnya dari keluarga. Akibat tekanan tersebut, Su Jingjing pun siap menikah. Yang masih jadi masalah, dia belum juga menemukan apalagi memiliki pasangan yang bisa diajak menikah. Jadi, itulah yang kemudian dia lakukan—datang ke taman setiap akhir pekan, dan menenteng poster berisi kriteria pasangan yang diharapkan.

Dalam kriteria yang ia tetapkan, pria yang dicarinya harus lahir pada 1980, 1981, atau 1982, sementara Su Jingjing lahir pada 1985. Artinya, dia mencari pasangan yang relatif sebaya. Saat ditanya wartawan, kenapa menginginkan pasangan sebaya, Su Jingjing menjelaskan, “Agar dia (pasangannya) patuh kepada saya.” Su Jingjing juga mengatakan, “Jika dia pebisnis atau pejabat pemerintah, saya akan mengajaknya pindah ke Hong Kong. Lalu kami bisa merintis bisnis bersama!”

Ketika wartawan kembali bertanya, apakah ada kemungkinan Su Jingjing mau menurunkan standar atau kriteria bagi calon pasangannya, Su Jingjing menggeleng. Bagaimana pun, calon pasangannya harus memenuhi standar yang ia tulis dalam poster.

Jadi, inilah kriteria pasangan yang diharapkan Su Jingjing untuk menjadi pasangannya: Tinggal di pusat Kota Shanghai; lahir pada 1980, 1981, atau 1982; tidak berkaca mata; berkarakter baik; tinggi badan di atas 170 cm; dan anak tunggal wirausahawan sukses atau pejabat pemerintahan. Oh, ya, satu lagi; juga mesti patuh pada Su Jingjing.

Kabar mengenai Su Jingjing mulai heboh di seluruh dunia, ketika berita itu masuk internet. Berita yang semula ada di media Cina diwartakan ulang dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, dan para pengguna internet di seluruh dunia bisa mengetahuinya. Sejak itu pula, aneka komentar bermunculan, yang semuanya ditujukan kepada Su Jingjing. Namanya internet, orang kadang tidak peduli kalau komentarnya terlalu blak-blakan.

Rata-rata, para pengguna internet mengejek Su Jingjing sebagai orang yang “kurang sadar diri”, “mengharapkan yang tak mungkin”, atau “terlalu tinggi dalam menetapkan standar”. Intinya, dari yang sempat saya baca, orang-orang menertawakan Su Jingjing karena menginginkan pasangan sempurna, tanpa melihat dan menyadari dirinya jauh dari sempurna.

Yang mungkin mereka lupa, Su Jingjing tentu berhak menetapkan kriteria seperti apa pun untuk calon pasangannya. Wong itu hidupnya, dan dia yang akan menjalani. Tentu dia punya hak dan kebebasan untuk menetapkan standar setinggi apa pun untuk orang yang akan diajaknya hidup bersama. Soal apakah dia mendapatkan atau tidak, itu urusan lain!

Lagi pula, omong-omong, bukankah kebanyakan kita juga begitu? Kita sangat tahu seperti apa standar atau kriteria menyangkut orang yang kita harapkan menjadi pasangan, seiring lupa siapa dan seperti apa diri kita. Oh, saya tidak menunjuk hidung siapa pun, karena saya sendiri pun begitu.

Kalau saya ditanya, “Kamu ingin pasanganmu kelak seperti apa?” Maka saya pun fasih menjelaskan, dari soal kecantikan, kecerdasan, kepribadian, keramahan, latar belakang, sampai kemampuan memasak, dan lain-lain. Yang saya lupa, saya tidak sempat memikirkan apakah wanita sempurna semacam itu benar-benar ada. Bahkan kalau pun ada, saya juga tidak sempat memikirkan apakah dia mau sama saya.

Jadi, ketika membaca kisah Su Jingjing yang mencari cinta di taman Cina, saya sama sekali tidak menyalahkannya. Sekali lagi, dia berhak menetapkan standar atau kriteria macam apa pun untuk pasangannya sendiri, karena itu hidupnya, dia yang akan menjalani. Dan, sekali lagi, soal apakah dia mendapatkan atau tidak, itu urusan lain.

Karenanya, saya tertampar dengan kisah Su Jingjing, sebab kisah itu seperti cermin yang memaksa saya untuk berkaca. Bahwa saya terlalu tahu seperti apa calon pasangan yang saya impikan, tetapi ternyata belum benar-benar tahu seperti apa diri saya. Bahwa saya sangat tahu standar dan kriteria mengenai pasangan ideal bahkan sempurna, tetapi saya sendiri ternyata jauh dari ideal dan sempurna. Bahwa saya bisa mudah mengimpikan sosok yang ada di luar sana, tapi diam-diam tidak mengenali diri sendiri.

Memang, sungguh mudah membayangkan hal-hal indah. Yang sulit adalah mewujudkannya dalam kenyataan. Padahal, untuk mewujudkan sesuatu, yang dibutuhkan tidak hanya harapan dan sekadar angan-angan, tetapi juga kemampuan. Seperti mencari atau melamar kerja, kita mengharapkan pekerjaan yang kita pikir bagus, ideal, dan tepat untuk kita. Tetapi, yang “bagus, ideal, dan tepat” sering kali tidak mudah diperoleh, karena pekerjaan yang kita lamar pun menetapkan standar serupa.

Bekerja di bank mungkin menyenangkan—duduk di ruangan adem ber-AC, tiap hari mainan uang—dan bisa jadi kita berharap bekerja di bank. Karenanya, saat ada lowongan, kita pun melamar dengan harapan diterima. Tapi ada sedikit masalah di sini. Bagaimana pun, pekerjaan yang kita lamar juga memiliki kriteria dan menetapkan standar kepada para pelamar. Misalnya tingkat pendidikan, kompetensi, pengalaman, dan lain-lain. Artinya, meski telah menemukan lowongan pekerjaan yang tepat pun, kita tidak bisa serta merta mendapatkannya.

Jika ternyata syarat atau kriteria yang ditetapkan lowongan itu tidak bisa kita penuhi, lamaran kita pun sulit diterima, tak peduli sebesar apa pun harapan dan keinginan kita. Sebaliknya, jika kita memiliki semua kriteria yang dipersyaratkan oleh lowongan yang ada, kemungkinan besar kita mendapatkan pekerjaan itu.

Sampai di sini, sepertinya jauh lebih baik meningkatkan standar diri kita, dan bukan sekadar menetapkan standar pekerjaan yang kita inginkan. Karena jika nilai diri kita (pendidikan, pengalaman, kompetensi, dan lain-lain) memang tinggi, melamar pekerjaan yang tepat sering kali lebih mudah.

Sekali lagi, jauh lebih baik meningkatkan standar diri kita, daripada menetapkan standar yang ada di luar kita. Mungkin sulit, tetapi lebih realistis.

Memang, sungguh mudah membayangkan hal-hal indah, bahkan sempurna. Membayangkan punya pacar ideal itu mudah, sama mudah membayangkan punya pasangan sempurna. Tapi kita sering lupa, apakah pacar ideal—seperti dalam bayangan kita—benar-benar ada, ataukah hanya ada dalam bayangan kita? Apakah pasangan sempurna benar-benar ada, ataukah hanya ada dalam khayalan kita?

Akhirnya, kalau memang pacar ideal atau pasangan sempurna benar-benar ada, kita masih menghadapi persoalan lain. Persoalannya sederhana; apakah dia mau sama kita?

Cocot Para Idiot

Temanku, @SofwananismM, sudah menikah beberapa tahun. Dan di mana-mana selalu ada orang bertanya kepada dia atau istrinya, mengenai kapan punya anak, sampai menyuruh keduanya untuk "berikhtiar ke orang pintar", seolah tidak/belum punya anak adalah kesalahan.

Itu memang "penyakit sosial" masyarakat Indonesia, mengira (bahkan meyakini) semua pasangan pasti ingin punya anak. Padahal ada pasangan-pasangan yang memang tidak ingin punya anak, dengan berbagai alasan. Empati sepertinya bukan kebiasaan bangsa kita.

Adik perempuanku sudah menikah dan punya satu anak. Di mana-mana, selalu ada orang yang ribet bertanya, "Kapan nambah anak?" Bukan hanya bertanya, mereka sampai "memotivasi" adikku dengan aneka iming-iming yang terdengar seperti orang MLM memprospek calon downline.

Sementara aku, yang masih lajang, ke mana-mana selalu menerima pertanyaan "kapan kawin?"

Kepada orang-orang yang suka bertanya kapan kawin, kapan punya anak, atau kapan nambah anak, aku ingin bertanya, "Kapan kamu akan mati?"

In the end, itulah kenapa aku hanya akan duduk manis sambil udud, jika Thanos benar-benar muncul untuk memusnahkan separo populasi. Bumi akan menjadi tempat lebih baik kalau idiot-idiot yang tak bisa menjaga etika dan cocotnya musnah—setidaknya setengah dari mereka.

Yang menjadikan hidup ini berat sebenarnya bukan hidup itu sendiri, melainkan tuntutan masyarakat. Dan memenuhi tuntutan masyarakat tidak akan pernah selesai, bahkan setelah kita mati.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 November 2018.

Bila Thanos Tiba

Ngobrol sama bocah, membahas sesuatu yang sangat tidak environmental. Dia tanya, "Umpama di dunia kita ada Thanos, dan dia akan memusnahkan separo populasi, apa yang akan kamu lakukan?"

"Aku tidak akan melakukan apa-apa. Cukup duduk tenang, sambil udud."

"Lha kalau kamu ikut musnah, gimana?"

"Ya tidak apa-apa. Wong paling musnah aja kok bingung."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 30 Oktober 2018.

Jumat, 11 Januari 2019

Agama yang Sederhana

Agama itu letaknya di dapur, tidak perlu dipamerkan di warungnya.
Tidak masalah kamu masak di dapur pakai gas, kompor biasa, atau apa pun.
Yang penting, yang kamu sajikan di ruang tamu adalah masakan yang
menyenangkan semua orang. Begitu juga dengan agama.
Tidak masalah agama apa pun yang dianut, yang penting output
di masyarakat itu baik—jadi orang yang mengamankan (memberi
rasa aman), menenteramkan, menolong saat dibutuhkan.
Cak Nun

Peran agama sesungguhnya adalah membuat orang sadar akan fakta
bahwa dirinya bagian dari umat manusia dan alam semesta.
Gus Dur


“Sebenarnya... Hoeda itu agamanya apa?”

Pertanyaan itu diajukan seorang dosen kepada mahasiswa yang sering runtang-runtung dengan saya, di zaman kuliah dulu.

Salah satu orang yang pernah dekat dengan saya di masa kuliah adalah Hadi. Sebenarnya, dia yunior saya—kami selisih empat semester. Tapi karena cocok, kami sering jalan bareng. Karena Hadi berambut gondrong, waktu itu, dia pun dipanggil “Gondrong” atau biasa disebut “Hadi Gondrong”, khususnya oleh teman-teman sekampus.

Hadi Gondrong termasuk preman kampus, dalam arti biasa menjalani kehidupan kuliah secara bebas—bukan tipe anak manis yang harus di rumah sepulang kuliah. Dia jarang pulang. Sepulang kuliah, kadang dia kelayapan bersama teman, lalu malam hari tidur di kosan siapa pun, atau di base-camp mahasiswa yang kebetulan ramai. Ketika dekat dengan saya, Hadi kerap tidur di rumah saya. Karena itu pula, kami pun sering terlihat runtang-runtung berdua.

Suatu hari, Puket 3 (dosen yang mengurus kemahasiswaan) memanggil Hadi ke kantornya, dan dosen itu bertanya pada Hadi, “Sebenarnya, Hoeda itu agamanya apa?”

Saya tahu kenyataan itu, karena Hadi menceritakan percakapan tersebut kepada saya. Dalam percakapan itu pula, dosen saya menjelaskan latar belakang kenapa dia sampai bertanya seperti itu—tentang apa agama saya—karena membaca tulisan-tulisan saya di majalah.

Seperti yang pernah diceritakan di sini, dulu saya membuat majalah di kampus. Dalam tulisan-tulisan di majalah itu, saya biasa menyitir Al-Qur’an, Injil, atau kitab-kitab suci agama lain. Saya juga kadang mengutip ucapan Nabi Muhammad, Yesus, Buddha, atau pun lainnya. Rupanya, hal itu membuat dosen saya tergelitik, hingga mempertanyakan, apa sebenarnya agama saya.

Kalau ingat kisah itu, saya senyum-senyum sendiri, dan heran, lalu miris. Sebenarnya, kisah itu lucu, khususnya karena melibatkan seorang dosen, yang tentu orang berpendidikan. Lebih spesifik, berpendidikan tinggi. Tetapi bahkan seorang berpendidikan tinggi pun rupanya masih perlu memastikan apa agama seseorang, dibanding apa yang dilakukan seseorang.

Maksud saya begini. Kalau kita melihat seseorang berbuat baik, semisal menyingkirkan paku-paku di jalan, apakah kita masih perlu mempertanyakan apa agama orang itu? Saya pikir tidak! Karena yang penting bukan apa agama orang itu, melainkan perbuatannya. Bahwa dia telah berbuat baik—dalam hal ini menyingkirkan paku di jalan—itu sudah cukup membuktikan bahwa dia manusia yang baik.

Begitu pula kalau kita melihat hal sebaliknya. Saat melihat orang berbuat jahat, entah yang ringan sampai yang berat, kita pun tidak peduli apa agamanya. Karena beragama apa pun, penjahat tetap penjahat. Apakah seorang koruptor akan menjadi baik jika dia beragama X, misalnya? Tentu saja tidak! Koruptor tetap koruptor, dan tetap bangsat, terlepas apa pun agamanya!

Kenyataan semacam itulah yang tampaknya belum terlalu dipahami sebagian orang, hingga lebih mementingkan apa agama seseorang, daripada apa yang dilakukan. Seperti dosen saya di kampus dulu. Dia mungkin heran mendapati saya bisa menyebutkan ayat-ayat Injil sefasih saat membaca Al-Qur’an. Dia mungkin pula penasaran kenapa saya tidak hanya mengutip hadist Nabi, tapi juga menyitir Buddha, Kong Hu Cu, dan Zarathustra.

Saya pikir, bukan masalah mengambil kebaikan dari mana pun, selama itu kebaikan. Karena kebaikan seperti air bersih. Yang dapat diambil dan digunakan untuk hal-hal baik, tak peduli di mana pun tempatnya. Yang penting airnya, bukan di mana air itu berada. Selama air itu bersih—tak peduli di ember, di baskom, atau di dalam kendi—kita bisa menggunakan untuk hal-hal baik dan bermanfaat. Dalam analogi ini, agama adalah tempat, sementara air adalah kebaikan yang bermukim di dalamnya.

Jadi, apa agama saya?

Kalau saja dosen saya dulu bertanya langsung, tentu dengan senang hati saya akan menjawab dan menjelaskan.

Tapi mungkin dia segan jika harus bertanya langsung kepada saya, jadi terpaksa mengundang Hadi Gondrong ke kantornya, demi bertanya apa agama saya.

Sebenarnya, saya memahami dan mempraktikkan agama secara sederhana. Sebegitu sederhana, hingga orang-orang yang tidak beragama pun bisa melakukannya. Yaitu, “Jalanilah hidup dengan baik, dan lakukanlah hal-hal baik—meski kecil dan sederhana—yang kita bisa.”

Saat melihat batu atau paku di jalan, dan bisa membahayakan orang lain, ambillah, dan singkirkan ke tepi. Dalam hal ini, kita berbuat kebaikan demi sesama manusia, dan tidak peduli siapa manusia yang mungkin telah kita “selamatkan”. Itu perbuatan sepele, sederhana, namun mengandung kebaikan. Dan kita bisa melakukannya dalam kesunyian, tanpa harus koar-koar, atau membawa spanduk dan berteriak melalui TOA.

Saat ada tetangga yang kesusahan atau sedang ditimpa kemalangan, kita bisa membantu memberi penghiburan. Bahkan umpama tetangga kita beda agama. Karena di hadapan kemalangan dan kesedihan, agama semua orang sama. Menemaninya saat susah, membantu apa yang bisa dibantu, memberi penghiburan untuk meredakan tangisnya, itu pun kebaikan. Lakukan, jika kita bisa melakukannya.

Saat ada teman yang sakit, kita bisa menjenguknya, dan membantu mendoakan semoga dia cepat sembuh. Bahkan umpama kita tidak membawakan apa pun untuknya, dia sudah senang. Karena teman yang datang saat kita sakit dan kesusahan akan lebih sulit dilupakan, daripada teman yang datang saat kita sehat dan gembira.

Menghadiri undangan dari orang lain—entah teman, famili, saudara—itu pun kebaikan. Undangan perkawinan yang kita hadiri akan menambah kebahagiaan mempelai yang menikah, undangan duka yang kita hadiri akan membantu mengurangi kedukaan si pengundang, undangan syukuran yang kita hadiri akan menambah rasa syukur orang. Itu pun kebaikan.

Contoh-contoh itu bisa diteruskan dan bisa diteruskan, karena di sekeliling kita selalu ada tempat dan kesempatan untuk melakukan kebaikan. Bahkan untuk hal-hal remeh sekali pun, selalu ada kesempatan bagi kita—setiap manusia—untuk berbuat hal-hal baik. Bekerja dengan benar, misalnya, itu pun kebaikan. Berdagang secara jujur, tidak merugikan orang lain, itu pun kebaikan. Dan lain-lain, dan sebagainya, yang daftarnya bisa sepanjang hayat manusia.

Saya pikir, itulah tugas manusia. Entah yang beragama atau pun tidak beragama. Yaitu melakukan hal-hal baik yang kita bisa, dengan ketulusan dan kesadaran, tanpa pamrih, karena menyadari itu kebaikan. Jika kita, masing-masing orang, mau fokus pada hal sederhana itu saja, seumur hidup tidak akan selesai. Dan itu jauh lebih baik daripada meributkan sistem khilafah, atau mengurusi tetek bengek tidak penting yang hanya memecah-belah manusia dengan sesamanya.

Karenanya, terus terang, saya tidak tertarik dengan sistem khilafah, pemerintahan syariah, atau apa pun namanya. Karena saya menyadari, yang penting bukan sistemnya, melainkan akhlak manusianya. Yang penting bukan seperti apa bentuk pemerintahannya, melainkan moral manusia di dalamnya. Tak peduli diletakkan di tempat mana pun, emas tetap emas, dan tinja tetap tinja.

Daripada meributkan sistem khilafah, pemerintahan syariah, atau hal-hal yang terdengar hebat tapi sebenarnya tidak kita pahami, saya lebih suka belajar tekun, bekerja dengan baik, memastikan keberadaan saya tidak membawa mudarat bagi orang lain, dan—kalau bisa—berbuat baik dan mulia, meski sederhana. Seperti menyingkirkan paku dan batu di jalan, memberi penghiburan bagi tetangga yang ditimpa kemalangan, menjenguk teman yang sakit, atau setidaknya membantu orang asing yang tersesat saat mencari suatu alamat.

Omong-omong soal tersesat ketika mencari alamat, saya termasuk sering mengalami. Ketika mencari alamat seseorang—apalagi di kawasan yang masih asing—saya sering kebingungan. Untung, selalu ada orang-orang baik yang saya temui. Jadi, saya bisa bertanya pada mereka, dan orang-orang itu tampak senang membantu saya.

Selama ini, saya pernah bertanya pada lelaki tua, pada pria muda, pada ibu-ibu, pada mbak-mbak, bahkan pada anak kecil, dan—selama ini pula—orang-orang itu selalu tampak senang membantu saya, ketika sedang berusaha menemukan suatu alamat.

Saya bertanya dengan sopan pada mereka, tentang alamat yang saya cari. Kalau kebetulan mereka tahu, mereka pun menjawab dengan baik, juga dengan sopan, bahkan sering kali membantu mengantarkan ke alamat yang dituju.

Ketika saya bertanya pada mereka—yang artinya meminta bantuan mereka—orang-orang itu tidak pernah mempertanyakan atau bertanya lebih dulu apa agama saya, atau apa keyakinan politik saya, atau apakah saya setuju sistem khilafah atau tidak.

Dalam pandangan mereka, saya manusia yang sedang butuh bantuan, dan mereka pun membantu. Tanpa peduli apa agama atau keyakinan saya. Di sisi lain, saat mendapat bantuan semacam itu, saya juga tidak peduli apa agama orang yang membantu saya. Di mata saya, mereka orang baik, yang rela meluangkan waktu demi membantu orang lain, yang bahkan tidak mereka kenal.

Membantu orang lain yang tidak kita kenal, dan tidak kenal kita... apa yang lebih baik dan mulia dari itu? Saya pikir, Tuhan pun akan setuju.

Agama dan Orang Beragama

Sepertinya memang benar. Yang membuat orang antipati dengan agama sebenarnya bukan agamanya itu sendiri, melainkan orang-orangnya.

Agama mengajarkan kejujuran, itu bagus. Tapi orang-orang menjalankan agama tidak dengan kejujuran, melainkan dengan ambisi-ambisi pribadi.

Agama mengajarkan ketulusan, itu mulia. Tapi orang-orang menjalankan agama tidak dengan ketulusan, melainkan dengan hasrat berkuasa.

Agama mengajarkan budi pekerti, itu baik. Tapi orang-orang menjalankan agama tidak dengan budi pekerti, melainkan dengan nafsu dan ambisi.

Betapa mengerikan ketika kebodohan menjadi mayoritas, dan merasa memegang kekuasaan. Itulah kenapa, agama mewajibkan belajar.

Tugas utama orang beragama (atau tak beragama) adalah belajar. Tugas penting setiap manusia (yang merasa manusia) adalah belajar.

Manusia berhenti menjadi manusia ketika berhenti belajar. Itulah awal kerusakan, hancurnya kemanusiaan, dan mengapa neraka diciptakan.


*) Ditranskrip dari timeline ‏@noffret, 7 Desember 2016.

Justru

Hmm....

Sabtu, 05 Januari 2019

Mencintai Tanpa Memiliki

Angin menyerbuki bunga tanpa membuatnya layu.
Kupu-kupu menari di antara bunga tanpa membuat
mereka terluka. Itulah cinta.
@noffret


Bisakah orang mencintai tanpa keinginan memiliki? Saya bisa. Entah dengan orang lain.

Benar, saya bisa mencintai seseorang, jatuh cinta kepadanya, tapi tidak ingin memilikinya. Sebenarnya, “tidak ingin memilikinya” bukan frase yang tepat. Mungkin lebih tepat jika disebut “tidak ingin mengubahnya”.

Kedengarannya mungkin rumit. Jadi, mari saya uraikan.

Andaikan saya jatuh cinta pada seorang wanita. Namanya jatuh cinta, tentu timbul rasa ingin memiliki—itu manusiawi. Namun, ketika perasaan semacam itu muncul, saya bertanya pada diri sendiri, “Kalau pun dia menerimaku, bisakah aku menjadi pasangan yang tepat untuknya?”

Ketika dua orang menjalin hubungan, saya pikir dua orang itu harus memiliki kecocokan atau kesamaan, meski tidak harus dalam semua hal. Terkait gaya hidup, misalnya. Itu bagian penting yang perlu kita—khususnya saya—pikirkan, sebelum memutuskan untuk mendekati orang yang membuat jatuh cinta. Karena gaya hidup adalah sesuatu yang sulit diubah.

Saya sering menilai diri sendiri sebagai orang sederhana, yang menyenangi kehidupan sederhana. Selain itu, saya juga senang berdiam di rumah, dan tidak suka keluyuran—kecuali kalau terpaksa, semisal harus mengurus pekerjaan atau hal-hal penting semacamnya. Dalam kehidupan sehari-hari, saya juga senang menjalani hidup sebagaimana orang-orang biasa.

Itu gaya hidup yang saya jalani. Karena saya menjalani gaya hidup semacam itu, tentu saya pun akan lebih nyaman jika menemukan pasangan yang juga memiliki gaya hidup serupa. Yaitu wanita sederhana, yang menikmati kehidupan sederhana, dan damai tinggal di rumah. Ketika kami memutuskan untuk menjalin hubungan hingga akhirnya menikah, kami bisa mudah menyesuaikan diri, karena memiliki gaya hidup yang sama.

Sekarang, umpamakan saja, saya jatuh cinta pada seorang wanita, tapi dia memiliki gaya hidup yang seratus delapan puluh derajat berbeda. Cinta kadang salah alamat, kan? Bisa jadi, suatu hari saya mengenal seseorang yang membuat saya terpesona, lalu jatuh cinta, dan ingin memilikinya. Namun, ketika mengenalinya lebih lanjut, saya kemudian tahu dia memiliki gaya hidup yang jauh berbeda dengan saya.

Saya damai tinggal di rumah, dia senang jalan-jalan. Saya menikmati kehidupan bersahaja, dia menjalani kehidupan mewah. Saya senang menjadi orang biasa, dia menikmati gaya hidup selebritas. Dan begitu seterusnya. Intinya, gaya hidup kami jauh berbeda.

Ketika mendapati kenyataan semacam itu, saya bertanya pada diri sendiri, “Kalau pun dia mau menerimaku, mungkinkah aku bisa menjadi pasangan yang tepat untuknya?”

Karena, jujur saja, saya tidak akan mau jika diminta mengikuti gaya hidupnya. Artinya, jika kami benar-benar menjalin hubungan, dia yang harus mengubah gaya hidupnya. Dan jika itu yang terjadi, saya juga tidak mau, karena artinya saya telah mengubahnya menjadi pribadi yang berbeda. Mungkin saya akan senang, tapi bisa jadi dia akan tertekan karena terpaksa berubah demi saya.

Karena itulah, saya lebih memilih untuk tidak memilikinya, meski jatuh cinta kepadanya, agar dia tetap menjadi dirinya. Dalam hal itu, saya berharap dia menemukan orang yang tepat, agar bisa menjalin hubungan dan memiliki pasangan tanpa harus berubah menjadi pribadi yang lain.

Dalam bayangan saya, hal semacam itu tak jauh beda dengan keterpesonaan pada kuntum bunga. Bisa jadi, kita menemukan bunga yang tumbuh indah, yang membuat kita “jatuh cinta” kepadanya. Kita pun ingin memiliki bunga itu, agar bisa membawanya ke rumah.

Namun, jika kita memetik bunga itu, kita justru akan mematikannya, karena mencabutnya dari akar. Jadi, langkah terbaik adalah membiarkan bunga itu tetap tumbuh dan mekar di tempatnya, dan kita cukup memandanginya.

Itulah yang saya lakukan.

Dalam kehidupan sebagai lajang, kadang-kadang saya menemukan wanita yang membuat tertarik, bahkan jatuh cinta. Tapi saya yang sekarang tentu bukan saya yang naif seperti sekian tahun lalu, ketika masih remaja.

Dulu, ketika masih remaja, saya belum bisa berpikir matang. Ketika jatuh cinta pada seseorang, yang ada dalam pikiran saya hanya ingin memiliki, dan tidak ada pertimbangan apa pun. Itu pikiran yang egois. Saya hanya memikirkan diri sendiri (keinginan untuk memiliki), namun tidak memikirkan orang yang ingin saya miliki.

Kini, saya bisa berpikir lebih baik, dan menimbang secara bijak, apakah cinta yang saya rasakan akan membawa kebaikan bagi orang yang membuat saya jatuh cinta atau tidak. Saya tentu akan bahagia jika bisa memiliki wanita yang membuat saya jatuh cinta. Tetapi, apakah wanita itu juga akan sama bahagia jika menjalin hubungan dengan saya?

Dulu, waktu menjalin hubungan dengan mantan pacar, saya merasa nyaman, karena kami sama-sama memiliki gaya hidup serupa. Kami memiliki latar belakang yang sama, dan memiliki gaya hidup yang sama. Ketika menjalin hubungan, kami tetap menjadi pribadi yang sama—tidak ada yang berubah demi menyenangkan yang lain. Saya tetap menjadi diri saya apa adanya, dan dia juga tetap menjadi dirinya apa adanya.

Well, itu pertimbangan dasar atau yang pertama, mengapa saya bisa mencintai tanpa berharap memiliki. Karena saya tidak ingin pasangan saya terpaksa mengubah diri dan gaya hidupnya demi saya, sebagaimana saya juga tidak ingin terpaksa mengubah gaya hidup demi dirinya.

Jika pertimbangan pertama terkait gaya hidup, pertimbangan kedua terkait pandangan hidup. Bagaimana pun, saya ingin pasangan yang memiliki pandangan hidup sama, sehingga kami kelak bisa menjalani kehidupan dengan tenteram.

Dalam contoh mudah, misalnya, saya tidak ingin punya anak. Jika pasangan saya ternyata ingin punya anak, kami tentu akan sama-sama tertekan. Karenanya, tak peduli secinta apa pun saya pada seorang wanita, saya akan memilih untuk tidak memilikinya, jika ternyata pandangan hidup kami berbeda.

Dua pertimbangan itu adalah contoh ekstrem, dalam arti terkait hal-hal besar, yaitu gaya hidup dan pandangan hidup. Di luar itu, tentu masih ada pertimbangan lain yang menjadikan saya bisa mencintai tanpa keinginan memiliki, khususnya terkait diri saya sendiri.

Sampai saat ini, saya tidak/belum punya keinginan menikah. Boro-boro menikah, bahkan pacaran pun saya tidak minat.

Kesadaran itulah yang menjadikan saya tidak “grusa-grusu” dalam hal pasangan. Karena, jika saya memiliki pasangan saat ini, bisa jadi hanya akan mengecewakannya, sebab tidak bisa memberi kepastian apa pun untuknya. Jadi, daripada menjalin hubungan dengan seseorang yang pada akhirnya hanya akan mengecewakan, saya lebih memilih untuk tidak punya pasangan sama sekali.

Tentu bohong kalau saya mengatakan tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun selama bertahun-tahun. Selama menikmati kesendirian bertahun-tahun, saya tentu pernah jatuh cinta pada seseorang. Tetapi, seperti yang disebut tadi, saya belajar untuk mencintai tanpa keinginan memiliki. Karena jika saya memaksa diri untuk menjalin hubungan, saya khawatir hanya akan saling mengecewakan.

Mungkin, suatu hari nanti, saat akhirnya siap menjalin hubungan dengan seseorang, saya akan menemukan seseorang yang tepat—memiliki gaya hidup serupa, memiliki pandangan hidup yang sama—hingga saya mantap untuk saling jatuh cinta. Namun, saat ini, saya memilih untuk membiarkan bunga indah tetap mekar di tempatnya... tanpa saya harus memetiknya.

Jangan Campurkan Coca-Cola ke Dalam Bensin Mobilmu

Apa yang sekiranya akan terjadi, kalau kita mencampurkan Coca-Cola—atau minuman bersoda lainnya—ke bensin mobil kita?

Pertanyaan menarik, eh? Atau aneh? Mungkin menarik sekaligus aneh, dan memancing keingintahuan. Seorang bocah di Amerika tampaknya penasaran dengan pertanyaan itu, dan dia benar-benar mencobanya.

Di YouTube, ada sebuah video yang diunggah oleh akun Techrax, memperlihatkan seseorang menuangkan dua liter Coca-Cola ke dalam tangki bensin mobil miliknya. Mobil yang digunakan untuk percobaan geblek ini adalah BMW 325i keluaran tahun 2003.

Setelah dua liter Coca-Cola tertuang ke tangki bensin, dia menghidupkan starter mobil, dan mesin hidup secara normal. Dia jalankan mobilnya, dan mobil bisa melaju seperti biasa. Dia bahkan mengatakan performa mobilnya terasa baik-baik saja.

Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai menunjukkan gejala aneh, dan—seperti yang sudah kita duga—mobil itu mogok. Bocah Amerika yang mengemudikan mobil itu mencoba menghidupkan kembali mesin mobilnya beberapa kali, tapi usahanya tak berhasil. BMW malang itu benar-benar ngambek!

Ketika melihat video itu, saya membatin, “Kerusakan macam apa kira-kira yang terjadi pada mobil itu?”

Beberapa waktu kemudian, saya mencoba menanyakan hal tersebut pada mekanik langganan. Lewat ponsel, saya tunjukkan video “eksperimen Coca-Cola” itu kepadanya, dan menanyakan apa yang kira-kira terjadi pada mobil tersebut hingga mogok.

Mekanik yang saya tanya menjawab, “Kayaknya itu kena water hammer.”

Kedengarannya sangat teknis, pikir saya. “Water hammer itu... maksudnya gimana?”

Dia menjelaskan, “Water hammer tuh air atau cairan masuk ke ruang bakar, lalu terkompresi. Setelah terkompresi, tekanannya jadi lebih besar. Tekanan yang besar itu membuat setang piston atau connecting rod mobil jadi bengkok.”

Saya manggut-manggut sok paham, padahal tidak paham blas. Di telinga saya, dia sepertinya bicara dengan bahasa Swahili. Tetapi, agar tidak kelihatan bego, saya melanjutkan pertanyaan, “Terus, kalau itu terjadi... mobilnya mogok?”

“Iya,” dia menjawab. “Yang bahaya tuh kalau setang piston sudah bengkok, lama-lama blok mesin bisa pecah. Kalau itu terjadi, berarti mesin sudah benar-benar rusak, dan itu yang menyebabkan mobil mogok.”

Sekali lagi saya manggut-manggut sok ngerti. Lalu tercetus dalam pikiran saya mengenai cara memperbaiki mobil yang mengalami water hammer. Saya pun menanyakan, “Kalau sudah kayak gitu, solusinya gimana?”

Dia tampak mikir sejenak, lalu menjelaskan, “Kalau water hammer, biasanya ada tiga komponen yang rusak; piston, ring piston, dan connecting road. Komponen-komponen itu harus diperbaiki atau diganti.”

Ketika saya tanya berapa kira-kira biaya yang harus dikeluarkan, jawabannya agak mengejutkan.

“Itu tadi BMW, ya,” ujarnya mengingat mobil dalam video yang tadi saya tunjukkan. “Kalau BMW dan harus ganti piston dan ringnya saja, biayanya kira-kira Rp20 juta. Kalau ketiga komponennya rusak, biayanya bisa Rp50 jutaan.”

Edan, pikir saya. Hanya karena iseng memasukkan Coca-Cola ke tangki bensin, kita harus membobol celengan dan menghabiskan biaya puluhan juta! Itu benar-benar keisengan yang luar biasa mahal. Hanya karena mencampurkan dua hal secara keliru, akibatnya benar-benar fatal.

Coca-Cola dan bensin sebenarnya dua hal yang sama-sama punya manfaat. Coca-Cola bermanfaat melepas dahaga, bensin bermanfaat sebagai bahan bakar kendaraan. Tetapi, ketika dua hal yang sama-sama bermanfaat itu dicampurkan, bukan manfaat dobel yang didapat, tapi justru kerusakan yang muncul. Ini, saya pikir, contoh nyata bahwa tidak selamanya dua hal yang sama-sama baik bisa selalu menghasilkan percampuran yang juga baik. Karena bisa jadi malah rusak.

Dalam banyak hal, kita bahkan tidak pernah tahu kenyataan itu.

Kita tidak tahu, apa yang akan terjadi sekiranya kita masukkan bubuk Abate ke dalam gelas kopi kita, misalnya. Kita juga tidak tahu apa yang mungkin terjadi kalau kita iseng mengoser-oserkan oli kendaraan ke mi instan yang akan kita santap (tolong tidak usah dicoba!)

Dalam contoh itu, kopi, Abate, oli kendaraan, dan mi instan, adalah hal-hal baik. Mereka baik, jika berdiri sendiri, dan digunakan sesuai fungsinya. Tetapi ketika dicampurkan, hasilnya malah buruk. Kopi dan mi instan mungkin terdengar pasangan klop. Tapi coba saja tuangkan kopi ke piring mi instan—apa masih klop? Terus terang, saya tidak akan doyan.

Untungnya, kita punya semacam insting alami untuk memahami hal-hal semacam itu, sehingga hidup kita tidak berjalan dari iseng ke iseng yang berbahaya.

Akhirnya, jika sewaktu-waktu kita naksir seseorang dan kemudian ditolak, setidaknya kita bisa positive thinking. Mungkin kita sama-sama orang baik, tapi bisa rusak—atau tidak baik lagi—jika bersatu.

Nomor Satu adalah Dua

Betul.

Selasa, 01 Januari 2019

Tuhan, Manusia, dan Hal-Hal Tak Selesai

"Oh, Tuhan, selamatkanlah jiwaku yang malang."
Edgar Allan Poe membisikkan kata-kata itu di akhir hidupnya.
Dia telah tahu arti hidup.
@noffret


Di zaman Mesir Kuno, ada sebuah buku terkenal yang disebut Egyptian Book of the Dead atau Kitab Kematian Orang Mesir. Yang disebut buku atau kitab sebenarnya lembaran-lembaran papirus berisi gambar-gambar yang dilengkapi berbagai tulisan.

Karl Richard Lepsius, seorang pakar Mesir Kuno dari Jerman, menyeleksi dan menerbitkan sebagian papirus itu pada 1842, dan diberi judul Book of the Dead.

Papirus Mesir Kuno, yang disebut Book of the Dead, berisi tata cara penguburan, serta petunjuk bagi si orang mati mengenai perjalanannya menuju akhirat. Karenanya, di zaman Mesir Kuno, gulungan papirus itu akan dimasukkan ke dalam peti mati atau sarkofagus, dan dimakamkan bersama si mati.

Karena di masa lalu—khususnya di zaman Mesir Kuno—belum ada teknologi cetak, papirus-papirus yang berisi aneka petunjuk penting itu pun ditulis/digambar menggunakan tangan. Meski begitu, isinya rata-rata sama—mengenai perjalanan yang akan dilalui oleh setiap orang mati, dari sejak penguburan sampai perjumpaan dengan para dewa Mesir Kuno di alam akhirat.

Orang-orang Mesir Kuno merasa perlu mengikutsertakan Book of the Dead ke dalam setiap pemakaman orang mati, dengan harapan si mati tidak “tersesat” saat melakukan perjalanan ke alam akhirat. Jadi, gulungan papirus itu semacam “buku petunjuk menuju alam akhirat”. Karenanya, buku itu juga dikenal dengan nama The Book of Coming or Going Forth By Day.

Dalam kepercayaan Mesir Kuno, setiap orang yang mati akan berpindah alam, dari dunia kasar ke alam halus atau akhirat. Untuk bisa sampai ke alam akhirat, setiap orang mati harus melalui tahapan-tahapan tertentu, dan di situlah fungsi buku petunjuk yang disebut Book of the Dead.

Setelah orang Mesir Kuno mati, ia akan dihadapkan pada Anubis, sang dewa kematian. Anubis akan menimbang hati orang tersebut, yang akan ditimbang (dibandingkan) dengan sehelai bulu yang diambil dari Ma’at atau dewi kebenaran. Jika bulu yang lebih ringan, maka orang itu dinyatakan “tidak dibebani dosa”, sehingga diizinkan melanjutkan perjalanan. Proses penimbangan hati itu disaksikan oleh Osiris, sang dewa akhirat.

Dalam proses penimbangan hati tersebut, Thoth—dewa penulisan dan kebijaksanaan—menjadi saksi yang akan mencatat nama orang per orang, beserta berat hatinya. Di samping Thot ada Ammit, sang monster mengerikan, yang akan memakan hati siapa pun yang dianggap penuh dosa.

Jadi, kalau seseorang mati, dan hatinya ditimbang lalu dinyatakan penuh dosa, hati itu akan dilemparkan kepada Ammit untuk dimakan. Sementara orang yang memiliki hati tersebut tidak diizinkan melanjutkan perjalanan ke akhirat.

Sebaliknya, jika hati seseorang ditimbang, dan dinyatakan bahwa hati itu bersih, Anubis akan berkata kepada Osiris, “Hatinya adalah saksi yang akurat.” Dan Osiris akan menjawab, “Berikan kepadanya mata dan mulutnya, karena hatinya adalah saksi yang akurat.”

Lalu orang bersangkutan akan pergi ke alam akhirat.

Sejak kapan orang-orang Mesir mempercayai hal semacam itu? Berdasarkan penelitian terhadap teks-teks Book of the Dead, versi teks paling awal diketahui berasal dari abad ke-16 SM, atau saat pemerintahan Dinasti ke-18 (1580 SM-1350 SM). Beribu-ribu tahun yang lalu, jauh sebelum Masehi, orang-orang Mesir Kuno telah mengenal alam akhirat, bahkan bisa menjelaskannya dengan detail, bahkan bisa menciptakan buku panduan terkait alam tersebut.

Apakah ini aneh? Mungkin tidak. Namun, mendapati kenyataan itu, saya berpikir, sejak kapan sebenarnya manusia mengenal konsep akhirat?

Masing-masing agama, dan masing-masing kepercayaan, sama-sama memiliki konsep akhirat, atau alam setelah kematian. Umat Muslim mengenal Padang Mahsyar, tempat umat manusia—dari zaman Adam sampai akhir zaman—akan dikumpulkan untuk diadili. Umat Kristiani mengenal Purgatorium dan Limbo. Sementara umat Hindu dan Buddha mengenal Reinkarnasi... dan Nirwana.

Konsepnya bisa dibilang sama, meski “alur” di dalamnya bisa berbeda. Berdasarkan kenyataan itu, mungkin sebagian kita berpikir bahwa konsep akhirat dikenalkan oleh agama. Faktanya, jauh-jauh hari, ketika peradaban manusia belum mengenal agama, konsep akhirat sudah ada.

Jika konsep akhirat—yang identik dengan agama—ternyata sudah ada jauh sebelum keberadaan agama... lalu bagaimana manusia bisa mengenal konsep akhirat?

Jawabannya mungkin Tuhan—atau haruskah saya menulisnya dengan “tuhan”? Bangsa Mesir Kuno tidak mengenal agama, tapi mengenal konsep tuhan—yang mereka sebut dewa—yakni sosok-sosok penguasa alam manusia. Mereka mengenal Osiris, sang penguasa alam akhirat. Mereka mengenal Thoth, penguasa pikiran dan kebijaksanaan. Mereka mengenal Ma’at, sang penguasa kebenaran. Mereka pun mengenal Anubis, sang penguasa kematian. Dan lain-lain, dan lain-lain.

Melalui sosok-sosok itulah, bangsa Mesir Kuno mengenal alam akhirat. Pertanyaannya kemudian, bagaimana mereka bisa mengenal sosok-sosok tersebut? Siapakah yang mengenalkannya? Bagaimana mereka bisa menyepakati keyakinan itu?

Sampai di sini, saya teringat Feuerbach—iya, Feuerbach yang itu.

Nama lengkapnya Ludwig Andreas Feuerbach. Bagi yang mungkin belum tahu, Feuerbach adalah “bocah mbeling” yang hidup pada masa 1804-1872. Di kalangan para bocah, Feuerbach adalah sosok menonjol pada abad ke-19, bahkan pemikiran-pemikirannya banyak mempengaruhi tokoh-tokoh generasi selanjutnya, di antaranya Sigmund Freud dan Karl Marx, hingga Richard Dawkins.

Feuerbach pernah ngoceh, “Bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tapi manusialah yang menciptakan Tuhan.”

Dalam konsep Feuerbach, Tuhan adalah sebentuk kebutuhan psikologis dari dalam diri manusia, sehingga manusia terpaksa "menciptakan" sosok Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya, menjaga, serta memberikan jaminan di masa depan yang penuh misteri dan tidak pasti.

Dengan kata lain, Feuerbach ingin mengatakan bahwa Tuhan hanyalah ilusi yang menopang kebutuhan psikologis manusia. Belakangan, konsep itu diteriakkan secara frontal oleh Richard Dawkins dalam The God Delusion.

Jika Tuhan hanya ilusi—atau delusi, menurut Dawkins—lalu bagaimana dengan agama? Sigmund Freud punya jawabannya. “Agama,” kata Freud, “adalah gangguan neurosis.” Dalam ocehan yang lebih panjang, Freud menyatakan bahwa kepercayaan terhadap Tuhan—yakni konsep agama—adalah sebentuk penyakit kejiwaan. Atau candu, kata Karl Marx.

Feuerbach begitu meyakini tesisnya, bahwa Tuhan sebenarnya hanya “akal-akalan” manusia, yang didorong kebutuhan untuk memiliki tempat sandaran atau penyembahan, sekaligus sosok yang bisa memastikan banyak hal di dalam ketidakpastian. Dari sisi ini, tesis Feuerbach terdengar logis.

Tetapi... dari mana manusia bisa mengenal konsep ketuhanan, hingga bisa “menciptakan” sosok Tuhan? Siapa—kalau boleh disebut begitu—yang memberi ide pada manusia untuk mengenal konsep ketuhanan?

Feuerbach tidak bisa menjawab. Setidaknya, dia tidak pernah menjelaskannya.

Feuerbach tidak pernah mempertanyakan dari mana asal ide tentang Tuhan bisa muncul dalam benak manusia. Kenyataannya, meski secara terang-terangan menyangkal sosok Tuhan, Feuerbach juga tidak mau menyebut dirinya ateis.

Agustinus, filsuf yang hidup pada abad ke-4, mungkin bisa memberi jawaban. “Tuhan,” kata Agustinus, “telah menciptakan kita sedemikian rupa, sehingga kita tidak dapat tenang sebelum berpaling kepada-Nya."

Dalam konsep Agustinus, ada ruang kosong dalam hidup manusia yang hanya dapat diisi oleh—sesuai istilahnya—Oknum Ilahi. Konsep itulah yang, menurutnya, menjadi kerangka dasar antropologi modern tentang manusia sebagai makhluk religius.

Antropologi telah mengonfirmasi kenyataan itu dalam bentuk temuan beragam ritus penyembahan umat manusia, dari kebudayaan-kebudayaan kuno hingga modern. Manusia adalah makhluk rohani atau penyembah—sebentuk kesadaran bahwa ia lemah—hingga menyadari untuk menyandarkan pengharapan, terhadap eksistensi-lebih-tinggi di luar manusia.

Kedamaian Bocah

Di teras rumahnya yang sepi, bocah ini kadang terlihat bermain sendirian. Dia menelungkupkan badan di atas lantai teras yang bersih, dengan kepala berbantal tangan kiri. Sementara tangan kanannya memegangi koin, yang ia ketuk-ketukkan ke lantai. Sambil melakukan hal itu, dia biasa berkata sendiri, “Dia adalah anggota... dia adalah anggota... dia adalah anggota....”

Karena tertarik ingin mencoba, suatu hari saya menirunya. Saat teras rumahnya sedang sepi seperti biasa, saya berbaring menelungkup di sana, meletakkan kepala di tangan kiri, sementara tangan kanan memegangi koin yang saya ketuk-ketukkan ke lantai. Meniru bocah itu, saya berkata, “Dia adalah anggota... dia adalah anggota... dia adalah anggota....”

Ternyata, rasanya menyenangkan.

Resolusi untuk 2019

Saya tidak berani bikin resolusi yang muluk-muluk, karena yang sederhana saja ternyata sulit diwujudkan. Seperti tahun kemarin, 2018, saya bikin resolusi sederhana yang berisi 3 hal. Tapi tiga hal yang sederhana itu ternyata tidak juga terwujud, sampai kini datang 2019.

Jadi, mengulang 2018, saya akan menetapkan resolusi yang sama sederhana, yaitu hanya tiga hal:

Satu, menambah berat badan.

Dua, menonton lanjutan film It.

Tiga, hehehe... » http://bit.ly/2C4VlVi

 
;