Jumat, 24 Februari 2017

Nabi Khidhir di Hong Kong

Ada “sia” dalam “manusia”. Saat mereka ramai berteriak, bersahutan,
menciptakan kebisingan, mereka pun sungguh sia-sia. Oh, well, sia-sia.
@noffret


Jika kita menyetel musik rock—atau pop, atau keroncong, atau dangdut, atau musik apa pun—di rumah kita dengan volume sangat keras dan ingar bingar, tetangga kita bisa ngamuk. Orang-orang bisa mendatangi rumah kita dengan marah, karena terganggu oleh bising suara dari musik yang disetel di rumah kita. Anak-anak mereka yang masih bayi mungkin menangis karena ketakutan, sementara anak-anak yang lain tidak bisa belajar dengan tenang. Tetangga-tetangga kita pun jengkel karena suara bising dari rumah kita mengganggu ketenangan mereka.

Tetapi, kalau kita menyetel rekaman tilawah, atau rekaman orang mengaji, juga dengan suara sangat keras yang sama, tetangga kita mungkin tidak berani apa-apa. Meski mereka terganggu dengan suara rekaman tilawah atau suara mengaji yang sangat keras, tapi mereka bingung—atau setidaknya tidak enak hati—jika melarang kita melakukannya. Kenapa? Karena suara rekaman tilawah atau suara orang mengaji berhubungan dengan agama. Melarang kita menyetel rekaman tilawah akan membuat mereka khawatir kalau-kalau dianggap “melawan agama”.

Diakui atau tidak, kebanyakan masyarakat—khususnya masyarakat muslim—memiliki pola pikir semacam itu.

Ada banyak orang yang merasa terganggu dengan suara bising TOA yang disemburkan dari masjid atau mushala, tapi mereka memilih diam. Karena tidak enak. Karena suara TOA dianggap berhubungan dengan agama.

Padahal, jika kita menyetel musik dengan dikeraskan TOA, dan menciptakan volume suara yang sama, tetangga-tetangga kita akan ngamuk atau marah. Kenapa mereka berani marah? Karena tidak berhubungan dengan agama.

Jadi, di manakah esensi persoalan ini? Bukan pada volume, bukan pada terganggu atau tidak terganggu, melainkan karena keterkaitannya dengan agama. Dan itu, jika dipikir-pikir, sangat ironis. Karena agama seolah berhak melakukan apa saja, termasuk menimbulkan kebisingan dan mengganggu kehidupan orang-orang.

Saya tidak tahu mengapa fenomena kebisingan dari waktu ke waktu sepertinya makin mengkhawatirkan, seolah agama kini identik dengan kebisingan.

Dulu, waktu saya masih kecil, suasana sehabis maghrib sangat syahdu... atau hening. Orang-orang berada di rumah masing-masing, sebagian dari mereka ada yang membaca kitab suci dengan suara sayup-sayup, sementara anak-anak mulai belajar atau menyiapkan buku-buku pelajaran yang besok akan dibawa ke sekolah. Suasana hening itu terus berlanjut sampai isya, sampai larut malam, sampai subuh. Tidak ada suara apa-apa. Tidak ada kebisingan yang terdengar.

Sehabis subuh, suasana juga begitu hening, hingga orang-orang bisa memulai kehidupan dengan tenang, dengan perasaan tenteram. Pada waktu itu—ketika saya kecil dulu—orang-orang juga menjalankan ajaran agama dengan baik. Orang-orang pergi ke masjid, anak-anak rajin mengaji, dan semacamnya. Tapi tidak ada kebisingan.

Tetapi, kini, suasana yang saya hadapi telah jauh berubah. Sehabis maghrib, TOA dari masjid dan mushala menyala, memperdengarkan suara ceramah agama. Dan itu terus berlangsung sampai isya. Seusai isya, kadang TOA masih menyala, dan kembali terdengar suara ceramah agama. Anak-anak yang mau belajar bisa terganggu, sementara orang-orang tua yang ingin membaca kitab suci di rumah kadang tidak bisa khusyuk. Tidak ada lagi keheningan yang dulu saya nikmati ketika masih kecil.

Begitu pula seusai subuh. Semula, saya sangat menyukai suasana usai subuh. Karena begitu hening, dan udaranya juga masih bersih. Dulu, saya biasa menikmati usai subuh dengan membaca buku sambil menghirup kopi atau teh panas. Rasanya menyenangkan, belajar atau berpikir ketika hari masih sangat pagi, suasana begitu hening, sementara udara masih bersih.

Tetapi, kini, suasana hening itu telah hilang, dan—lagi-lagi—digantikan suara TOA dari masjid dan mushala. Kali ini, TOA-TOA itu memperdengarkan suara orang mengaji. Keindahan hening yang dulu saya nikmati kini terenggut oleh kebisingan suara orang mengaji.

Apakah hanya saya yang terganggu dengan suara TOA yang kini sangat rajin menyala? Mungkin orang-orang lain juga sama terganggu. Tapi mereka, sebagaimana saya, merasa tidak enak jika sampai mengatakan itu terang-terangan. Karena, bagaimana pun, TOA-TOA yang bising itu menyuarakan sesuatu yang terkait agama—dari ceramah, rekaman tilawah, sampai orang mengaji.

Orang-orang yang menggunakan TOA untuk ceramah atau mengaji itu mungkin berdalih sedang menjalankan ajaran agama. Tapi mereka mungkin lupa—atau tidak sempat memikirkan—bahwa agama atau ajaran agama tidak identik dengan kebisingan. Jadi, mereka pun terus menciptakan kebisingan, sambil berpikir bahwa begitulah cara agama dijalankan dan disiarkan.

Mungkin, mereka pikir, selama ini orang-orang tampak bisa menerima kebisingan dari TOA. Padahal, orang-orang yang “tampak bisa menerima” itu bukan sungguh-sungguh menerima kebisingan yang terjadi, tetapi semata karena tidak enak hati. Mereka merasa terganggu, tapi memilih diam daripada menimbulkan masalah.

Ketika agama dijalankan dengan kedangkalan, agama pun menciptakan dilema. Orang-orang terganggu suara TOA, tapi terpaksa menerima, karena suara yang mengganggu itu berkaitan dengan agama.

Tetapi... benarkah agama harus dijalankan dengan cara semacam itu?

Agama telah mengatur hubungan manusia dengan manusia lain, yang salah satunya menghormati hak orang lain. Hak untuk merasa tenang, hak untuk merasa tenteram, hak untuk tidak terganggu. Karenanya, dalam hubungan antarmanusia, agama memiliki fungsi sebagai “batas” sekaligus adab dan etika.

Jika kita mempelajari fiqih, misal, kita tidak boleh melihat isi rumah orang lain yang pintunya kebetulan terbuka. Jika kita lewat di depan suatu rumah, dan pintunya terbuka, kita tidak boleh melihat ke dalamnya. Kenapa? Karena melihat isi rumah orang lain—meski pintu rumahnya terbuka—sama artinya melanggar privasi. Itu melanggar hak manusia lain. Kita baru boleh melihat isi rumah orang lain, jika si pemilik rumah meminta atau mengizinkan.

Itu contoh kecil bagaimana agama mengatur hubungan antarmanusia. Dan kalau melihat isi rumah orang lain saja sudah dianggap melanggar etika, apalagi mengganggu ketenangan mereka?

Selain hubungan antarmanusia, agama juga mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan. Dan bagaimana bentuk ideal hubungan manusia dengan Tuhan? Dalam hening. Para Nabi beribadah dalam hening. Para wali beribadah dalam hening. Para malaikat beribadah dalam hening. Bahkan Nabi Khidhir, yang hidup ribuan tahun, beribadah dalam hening. Hanya manusia—masyarakat kita—yang beribadah dalam bising.

Padahal, ibadah yang menimbulkan kebisingan hanya menciptakan polusi suara. Kebaikan yang menimbulkan kebisingan hanya memekakkan telinga. Dan kebenaran yang bising hanya membuat orang-orang pusing. Sia-sia. Oh, well, sia-sia.

Ibadah yang bersifat ketuhanan adalah urusan manusia dengan Tuhan. Karenanya, saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang mengaku beribadah kepada Tuhan, tapi sibuk memamerkan dan membanggakan ibadahnya kepada sesama manusia. Sebegitu sibuk mereka berusaha menunjukkan ibadahnya, sampai-sampai TOA begitu dekat dengan urat nadi leher mereka.

Sia-sia. Oh, well, sia-sia.

Terkait kebisingan dan kesia-siaan, saya teringat pada sebuah kota yang berada di luar Hong Kong.

Tepat di luar Hong Kong, ada kota bernama Kowloon Walled City. Lokasinya bertetangga, sehingga kita bisa menyeberang dari Hong Kong ke Kowloon Walled City, atau sebaliknya, mirip batas antara Jakarta dengan Bekasi.

Di masa lalu, semasa pemerintahan Inggris di Cina, Hong Kong masuk wilayah Cina, begitu pula Kowloon Walled City. Ketika Perang Dunia II pecah, dan Jepang menduduki Cina, Kowloon dikuasai oleh Jepang. Pada akhir Perang Dunia II, ketika Jepang kalah perang dan kembali ke negaranya, Kowloon diambil alih oleh penduduk setempat.

Seiring dengan itu, terjadi sengketa antara Inggris dengan Cina. Masing-masing mereka merasa berhak memiliki kota tersebut. Bagi Cina, Kowloon adalah bagian negara mereka. Tapi Inggris memiliki pendapat lain. Bagi mereka, Kowloon adalah bagian dari Hong Kong. Karena Hong Kong waktu itu masuk pemerintahan Inggris, maka artinya Kowloon juga masuk wilayah Inggris. Dan sengketa itu tidak juga selesai, sampai lama.

Seiring dengan itu, Kowloon Walled City terus tumbuh, dan kota itu tumbuh dengan liar, menjadi kota tanpa hukum, karena bisa dibilang tidak ada negara atau pemerintah yang mengatur. Inggris maupun Cina masih sibuk meributkan siapa yang paling berhak atas kota tersebut. Sementara itu, perlahan tapi pasti, Kowloon terus tumbuh dari tahun ke tahun. Tanpa pemerintah, tanpa hukum, tanpa ada yang mengatur.

Seiring pertumbuhan Kowloon Walled City, populasi penduduk di sana pun terus berkembang, bahkan hingga beberapa dekade, dan terus tumbuh pesat. Sebegitu pesat pertumbuhan yang terjadi, sampai gedung-gedung di kota itu dibangun sangat tinggi, dan saling berhimpitan rapat, hingga sinar matahari tidak bisa mencapai tanah. Gedung-gedung pencakar langit di Jakarta tidak ada apa-apanya, dibandingkan gedung-gedung perumahan di Kowloon Walled City.

Karena itu pula, siang maupun malam, lampu-lampu neon terus menyala di sana, memberi penerangan. Jika lampu-lampu neon itu mati, keadaan siang di Kowloon tak jauh beda dengan malam hari. Gelap, karena sinar matahari terhalang gedung-gedung tinggi.

Dari waktu ke waktu, Kowloon semakin berkembang. Namun, karena tidak ada hukum negara yang mengatur, kota itu pun berkembang dengan liar. Kota itu menjadi tempat perjudian, peredaran kokain dan opium, senjata ilegal, serta aneka kejahatan lain.

Di sana juga tumbuh rumah makan-rumah makan yang menyediakan daging anjing, daging kucing, juga pabrik-pabrik rahasia, yang semuanya tidak terganggu apalagi terkontrol oleh pihak berwenang. Bahkan, Kowloon menjadi tempat persembunyian yang aman bagi para penjahat yang sedang menjadi buronan.

Bagaimana semua itu bisa terjadi? Jawabannya jelas, karena tidak ada kontrol pemerintah, tidak ada hukum yang mengatur, tidak ada undang-undang apa pun.

Karena tidak ada kontrol dari pihak otoritas, masyarakat di Kowloon pun mengembangkan sistem nilai sendiri. Dan sistem nilai yang mereka bangun sungguh mengerikan, karena nyaris semuanya terkait kejahatan. Setelah hal itu berlangsung bertahun-tahun, bahkan dekade demi dekade, lama-lama mereka tidak lagi menganggap itu kejahatan. Karena terbiasa. Karena terlalu terbiasa.

Karena itulah, kalau kau membunuh orang, dan pergi ke Kowloon, bisa dibilang kau akan aman, karena orang-orang di sana menganggap pembunuhan sebagai hal biasa. Polisi tidak berani masuk ke sana, karena—bagi polisi—mendatangi tempat itu sama artinya mencari mati.

Jadi, kita bisa membayangkan bagaimana mengerikannya kehidupan di Kowloon. Dari tempat itu, berbagai jenis narkoba diproduksi dan mengalir ke mana-mana, senjata ilegal diperdagangkan secara bebas, barang-barang berbahaya diproduksi dan diperjualbelikan, sementara para pembunuh dan penjahat lainnya setiap hari mengadakan reuni di sana. Tidak ada yang ditakuti, karena di sana tidak ada hukum, tidak ada pemerintah, tidak ada apa pun. Semuanya telah disepakati oleh penduduk setempat, bahwa semua itu—kejahatan, narkoba, dan semacamnya—adalah hal biasa.

Puncaknya terjadi pada 1993. Akibat kejahatan dan kriminalitas yang kian mengerikan, pemerintah Cina dan pemerintah Inggris akhirnya mengambil kesepakatan. Karena populasi dan perkembangan di kota liar itu makin tak terkendali, makin anarkis, dan makin liar, pemerintah Cina dan Inggris mengambil kompromi bersama. Mereka akan menghancurkan kota itu. Mereka sama-sama menyadari, jika Kowloon tidak dihancurkan secepatnya, kota itu akan menjadi negara dalam negara.

Jadi, itulah yang terjadi. Cina dan Inggris bersama-sama meruntuhkan Kowloon seisi-isinya. Beberapa hari sebelum hari H, seluruh penduduk di sana diminta keluar dari kota, dan setelah itu semua bangunan yang ada di sana dirobohkan. Gedung-gedung tinggi yang semula menjulang ke langit dihancurkan hingga rata dengan tanah, rumah-rumah penduduk hancur menjadi tumpukan pasir dan kerikil, dan yang tertinggal kini hanya bekas-bekas peradaban, bukti bahwa manusia pernah ada di sana.

Kota yang semula terang siang malam, dan penuh ingar bingar, kini sunyi. Tidak ada satu pun manusia di sana. Jika kita datang ke Kowloon sekarang, yang akan kita temukan hanya reruntuhan, batu-batu bercampur pasir dan kerikil, serta tebaran seng yang melapuk digerogoti panas dan hujan. Tidak ada satu orang pun yang tinggal, karena tempat itu bahkan telah berubah menjadi padang sunyi mengerikan.

Siang hari, cahaya matahari dapat mencapai tanah di sana—karena tidak lagi terhalang gedung-gedung tinggi yang saling berhimpit—tapi kini tidak ada lagi suara apa pun. Malam hari, kegelapan pekat menyelimuti, dan tidak ada suara apa pun.

....
....

Setiap kali teringat Kowloon Walled City, entah kenapa, saya selalu teringat pada Khidhir dalam Sunyi.

Setiap kali teringat Kowloon Walled City, saya sering membayangkan Khidhir sesekali datang ke sana, menatap reruntuhan tinggalan manusia, menghirup udara sunyi yang tertinggal, dan—mungkin—menggelengkan kepala dengan getir, menyaksikan betapa sia-sianya manusia.

Masyarakat Bangsat

Dalam pikiranku, definisi “masyarakat” adalah “orang-orang yang
punya waktu mengurusi apa saja dan siapa saja, kecuali diri sendiri.”
@noffret


Jika neraka benar-benar ada, aku yakin kelak di dalamnya akan penuh masyarakat. Karena, kalau dipikir-pikir, tidak ada makhluk yang lebih bejat di muka bumi selain masyarakat. Apa pun salah di mata masyarakat. Bahkan kita telah berupaya memenuhi permintaan mereka pun, bangsat-bangsat itu tetap menganggap kita salah. Oh, well, tidak ada yang lebih bejat dibanding masyarakat!

Ada orang tidak atau belum menikah, masyarakat menggunjing.

Ada orang menikah tapi tidak punya anak, masyarakat menggunjing.

Ada orang menikah dan punya satu anak, masyarakat menggunjing.

Ada orang menikah dan punya banyak anak, masyarakat menggunjing.

Ada orang bercerai, masyarakat menggunjing.

Ada orang bercerai dan kawin lagi, masyarakat menggunjing.

Ada orang bercerai dan tidak kawin lagi, masyarakat menggunjing.

Apa pun yang kita lakukan, selalu salah di mata masyarakat, dan mereka terus menggunjing, menggunjing, dan menggunjing.

Bahkan umpama kita tidak melakukan apa pun, masyarakat tetap menggunjing.

Jadi, demi iblis di neraka, bangsat-bangsat macam apa sebenarnya yang disebut masyarakat?

Sesuatu yang Ubro

Ya gitu, ubro.

Senin, 20 Februari 2017

Pikiran dan Gaya Hidup

Melihat minumanmu saja, aku sudah minder. #IkiOpo
@noffret


Orang memang macam-macam. Cara orang menjalani kehidupan begitu beragam. Bagaimana orang menatap dan memandang hidup juga berbagai-bagai, tergantung latar belakang, pergaulan, pendidikan, dan lain-lain.

Di antara keragaman orang-orang dalam menjalani dan menatap kehidupan, saya bisa membaginya dalam empat kuadran. Tentu saja ada kemungkinan lain di luar empat kuadran yang saya bayangkan. Namun, empat kuadran berikut ini bisa dibilang telah mencakup hampir semua orang.

Kuadran pertama, orang yang gaya hidupnya sederhana, dan pikirannya juga sederhana. Orang-orang di kuadran pertama biasanya menjalani kehidupan apa adanya. Hidup sederhana, menatap kehidupan dengan pola pikir sederhana, tidak macam-macam, dan harapan hidupnya pun umumnya juga sederhana. Mereka makan sederhana, berpenampilan sederhana, dan pikiran mereka bebas (atau kosong) dari aneka paradigma yang rumit. Biasanya, mereka hidup di desa, atau di kota kecil.

Kuadran kedua, orang yang gaya hidupnya high class, dan pikirannya juga high class. Mereka jenis orang yang menjalani gaya hidup kelas atas, mengonsumsi makanan dan minuman yang namanya sulit dieja, berpenampilan mewah atau glamor, mengenakan barang-barang branded, dan biasanya juga hidup di kota-kota besar. Sama seperti gaya hidupnya, pikiran mereka pun sama high class. Otak mereka rumit oleh berbagai paradigma, khas orang-orang berpendidikan tinggi, atau setidaknya bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Dua kuadran di atas bisa dibilang “no problem”, atau minim masalah, dan tidak terlalu menghadapi banyak tantangan. Kuadran pertama, orang sederhana dengan pikiran sederhana. Jalan hidup mereka pun lurus, namanya juga orang sederhana. Begitu pula orang-orang di kuadran kedua, yaitu yang gaya hidupnya high class dan pikiran mereka juga high class. Sama-sama tidak masalah. Mereka punya modal untuk itu, dan mereka menikmati gaya hidup semacam itu.

Yang agak menghadapi masalah adalah orang-orang di kuadran ketiga dan keempat.

Kuadran ketiga, orang yang gaya hidupnya high class, tapi pikirannya sederhana. Orang-orang di kuadran ketiga menjalani gaya hidup kelas atas—sebagaimana orang-orang di kuadran kedua—tapi otak mereka tidak mampu mengikuti gaya hidup kelas atas yang mereka jalani. Jadi, secara penampilan, mereka hebat. Mewah dan glamor. Tapi begitu ngoceh, kelihatan tololnya. Mereka punya modal untuk hidup mewah, tapi sayang pikiran mereka kosong.

Terakhir, kuadran keempat, orang yang gaya hidupnya sederhana, tapi pikirannya high class. Orang-orang di kuadran keempat menjalani gaya hidup sederhana—sebagaimana orang-orang di kuadran pertama—tapi pikiran mereka tidak sederhana. Jadi, orang-orang ini biasa makan di warteg atau kaki lima, berpenampilan sederhana, menjalani hidup bersahaja, tapi pikiran mereka ruwet oleh berbagai perspektif, paradigma, dan aneka macam hal yang sangat rumit.

Dua kuadran tersebut—ketiga dan keempat—bisa jadi sering menghadapi masalah. Orang-orang di kuadran ketiga mungkin asyik diajak pesta, bersenang-senang, dan biasanya mereka juga teman yang menyenangkan—tapi hanya sebatas itu. Mereka tidak bisa diajak berpikir mendalam, karena pikiran mereka sederhana.

Karena itu pula, ketika mereka harus menghadapi persoalan yang—bagi mereka—berat, mereka pun biasanya cepat down. Mereka lebih tahu cara bersenang-senang, tapi tidak tahu bersusah-susah. Bahkan, bisa jadi, mereka tidak tahu di mana letak ban serep mobil mereka sendiri.

Begitu pula orang-orang di kuadran keempat. Kebalikan dari kuadran ketiga, orang-orang di kuadran keempat biasanya menjadi teman yang didatangi ketika butuh nasihat, atau saat kita ingin bertukar pikir. Mereka—orang-orang di kuadran keempat—biasa berpikir mendalam, penuh wawasan, dan bijaksana.

Tetapi, orang-orang yang pikirannya hebat itu tampak kaku ketika berurusan dengan hal-hal mewah atau glamor, karena mereka biasa menjalani gaya hidup sederhana. Bahkan, bisa jadi, mereka tidak tahu bagaimana cara makan pizza.

Di antara empat kuadran tersebut, di manakah kalian berada?

Seperti yang disebut tadi, masing-masing orang masuk dalam kuadran tertentu, biasanya dipengaruhi oleh latar belakang, keluarga, pergaulan, pendidikan, dan lain-lain. Semua hal itu ikut membentuk dan mengarahkan kita semua, untuk kemudian masuk ke dalam kuadran tertentu, dan terbiasa dengan hal itu.

Orang-orang yang tinggal di desa terpencil, sulit mendapat akses ke dunia luar, minim pendidikan, dan pergaulan juga terbatas, kemungkinan besar masuk kuadran pertama. Sebaliknya, orang-orang yang tinggal di kota besar, dan kebetulan juga tergolong kaya, hingga bisa sekolah sampai tingkat tinggi, kemungkinan besar masuk kuadran kedua.

Sementara orang-orang di kuadran ketiga dan keempat adalah orang-orang yang menghadapi dunia jungkir balik. Orang yang tumbuh di keluarga kaya, akrab dengan kemewahan, tapi mungkin malas belajar, biasanya masuk kuadran ketiga. Sebaliknya, orang yang tumbuh di keluarga sederhana, akrab dengan kesederhanaan, tapi rajin belajar hingga berwawasan luas, biasanya masuk kuadran keempat.

Sekali lagi, di antara empat kuadran tersebut, di manakah kalian berada?

Kalau saya introspeksi diri sendiri, saya masuk kuadran keempat, yang merupakan kuadran paling bermasalah. Kuadran pertama adalah yang paling mudah, kuadran kedua mudah dan menyenangkan, kuadran ketiga menyenangkan meski kadang bermasalah, sementara kuadran keempat yang paling bermasalah. Di kuadran paling bermasalah itulah saya berada.

Karena lahir dan tumbuh di keluarga berkekurangan, saya terbiasa dengan hal-hal sederhana. Makan sederhana, berpenampilan sederhana, menjalani kehidupan secara sederhana, sebagaimana umumnya orang lain yang menjalani hidup serba kekurangan. Tetapi, “sialnya”, saya terlalu rajin belajar, dan itu mengakibatkan pikiran saya tidak sederhana. Dari sinilah masalah saya dimulai.

Kini, ketika dewasa, mungkin hidup saya telah banyak berubah, dan saya pun menjalani kehidupan yang lebih baik. Tetapi, gaya hidup sederhana yang sejak kecil saya alami bisa dibilang semacam “doktrinasi” yang membuat saya sulit melepas. Dalam urusan makan, misal, saya tetap sederhana. Sampai kini, saya lebih suka masakan atau makanan tradisional, daripada makanan-makanan mewah yang nama dan rasanya sangat aneh. Bahkan meski saya bisa membelinya.

Karenanya, meski saya memiliki kemampuan finansial untuk makan di restoran mewah yang menyuguhkan aneka masakan “aneh”, saya tetap lebih menikmati makan di angkringan, atau di tempat-tempat yang jelas menyuguhkan masakan tradisional. Kadang-kadang, saya memang terpaksa masuk restoran mewah, misal karena diajak teman. Tetapi, kadang-kadang pula, lidah saya tidak cocok dengan masakan yang ada di sana.

Begitu pula soal penampilan, atau lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari, saya terbiasa berpenampilan sederhana, meski definisi “sederhana” juga bisa relatif. Yang jelas, saya menilai penampilan saya masih sederhana, dalam arti jauh dari kesan mewah apalagi glamor. Terus terang, saya tidak tertarik berpenampilan mewah atau glamor, meski mungkin saya mampu melakukannya. Saya lebih nyaman dinilai “seperti orang kebanyakan”.

Jadi, saya biasa menjalani gaya hidup sederhana, tidak macam-macam, bahkan saya termasuk bocah rumahan yang damai tinggal di rumah. Saya tidak punya cita-cita menjadi artis, selebritas, atau berambisi jadi orang terkenal, atau semacamnya. Karena saya orang sederhana, dan saya tenteram menjalani kehidupan yang sederhana. Intinya, gaya hidup saya sangat sederhana.

Yang menjadi masalah—khususnya yang saya alami—pikiran saya tidak sesederhana gaya hidup yang saya jalani. Dan itu, terus terang, kerap membuat saya bingung sendiri.

Tempo hari, saya ngobrol dengan Wawan—teman di dunia nyata—dan saya sempat bilang kepadanya, bahwa yang membuat saya kesulitan menemukan pasangan yang cocok, salah satunya karena hal itu tadi; kehidupan yang sederhana, tapi pikiran tidak sederhana. Menemukan pasangan wanita yang mampu serasi dengan saya—baik dalam pikiran maupun gaya hidup—bisa dibilang sulitnya luar biasa.

Mencari wanita yang pikirannya serasi dengan saya mungkin mudah. Ada banyak wanita berpikiran maju dan berwawasan, di luar sana. Tetapi wanita yang memiliki pikiran high class, biasanya juga menjalani kehidupan yang sama high class—sesuatu yang bertolak belakang dengan kehidupan yang saya jalani. Saya hidup sederhana, dia biasa hidup mewah. Saya minum teh, dia minum... apa itu namanya.

Sebaliknya, mencari wanita yang sederhana juga sama mudah. Ada banyak wanita sederhana, yang mau menerima pasangan sederhana, dan bersedia diajak hidup sederhana. Tetapi, wanita-wanita sederhana semacam itu—umumnya—juga memiliki pikiran sama sederhana. Akibatnya, bisa jadi, kami hanya serasi dalam gaya hidup dan dalam kesederhanaan, tapi pikiran kami sulit “nyambung”.

Orang-orang bijak di zaman dulu punya nasihat baik untuk anak-anak muda, khususnya yang sedang mencari pasangan. “Dalam mencari pasangan,” kata mereka, “carilah pasangan yang seimbang.”

Saya pikir, nasihat itu tetap relevan hingga zaman sekarang. Carilah pasangan yang seimbang, yaitu pasangan yang mampu mendampingi diri kita secara serasi, dan tidak timpang. Saya pun akan mengikuti nasihat itu, jika kelak berencana mencari pasangan.

Karena saya orang sederhana, maka saya pun akan berusaha menemukan pasangan yang sama sederhana. Agar saya tidak kebingungan mengikuti gaya hidupnya, sebagaimana dia juga tidak kebingungan mengikuti gaya hidup saya. Serasi, seimbang, dan tidak timpang.

Karena itu pula, meski umpama—sekali lagi, umpama—Syahrini mau menikah dengan saya, bersedia menjadi istri saya, terus terang saya tidak bersedia. Masalahnya ya itu tadi, saya pasti akan kebingungan mengikuti gaya hidupnya, sebagaimana dia juga akan kebingungan mengikuti gaya hidup saya.

Asal kalian tahu, Syahrini harus menyamar hanya untuk beli pecel di warung favoritnya. Dia pakai sandal jepit, berpakaian sederhana, tanpa make up, dan—tentu saja—tidak naik Lamborghini. Mungkin terdengar konyol, tapi itu benar.

Syahrini—atau wanita glamor seperti dirinya—jelas bukan tipe wanita yang saya dambakan. Saya ingin, jika kelak punya pasangan, dia wanita yang enjoy datang ke warung pecel favorit tanpa harus repot-repot menyamar. Yaitu wanita sederhana, dengan penampilan bersahaja, yang menggunakan make up sekadarnya, sehingga tidak terlalu menarik perhatian.

Yang menjadi masalah, kembali ke soal tadi. Menemukan wanita semacam itu—sederhana, dan bersahaja—mungkin mudah. Tetapi wanita yang seperti itu, dan bisa memahami rumitnya pikiran saya, itulah yang tidak mudah. Setidaknya, sampai sekarang saya belum menemukannya.

Noffret’s Note: Bond

“My name is Bond. James Bond.” Sepertinya tidak ada yang bisa lebih percaya diri lagi saat menyebut namanya melebihi James Bond.
—Twitter, 21 Juli 2016

Kau layang-layang yang menari dalam badai, Mr. Bond. —Mr. White dalam Spectre. Kalimat itu juga terdengar untukku.
—Twitter, 5 September 2016

Menikmati nasi gudeg sambil menonton Spectre untuk kesekian kali. Menyeruput teh hangat, dan menyulut rokok. Benar-benar pagi yang sempurna.
—Twitter, 20 Agustus 2016

Tak pernah bosan menyaksikan Spectre-nya Daniel Craig. Dia benar-benar bocah!
—Twitter, 20 Agustus 2016

Setelah membuat James Bond tampak membosankan dalam Skyfall, akhirnya Sam Mendes bisa menebus kesalahannya melalui Spectre.
—Twitter, 20 Agustus 2016

Kalau dipikir-pikir, Spectre tampaknya memang seri pamungkas Bond versi Daniel Craig. Pantas dia tidak mau memerankan James Bond lagi.
—Twitter, 20 Agustus 2016

Daniel Craig tidak mau lagi memerankan James Bond. Aku tidak bisa membayangkan aktor lain yang mungkin pantas menggantikannya.
—Twitter, 21 Mei 2016

Serial James Bond memang selalu asyik ditonton. Satu-satunya masalah adalah... semua wanita yang terlibat di dalamnya tidak ada yang mbakyu.
—Twitter, 20 Agustus 2016

James Bond memutuskan meninggalkan pekerjaannya, dan menikahi wanita yang dicintainya, pada usia 44 tahun. Well, sepertinya itu bisa ditiru.
—Twitter, 15 September 2016


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Pada Sebongkah Batu Bata Pecah

Pada sebongkah batu bata pecah, aku bergumam, “Mungkin seperti itu...”

Batu bata pecah tidak menyahut, karena dia batu bata pecah. Tapi aku lega karena telah menyatakan sesuatu.

Mungkin seperti itu.

Kamis, 16 Februari 2017

Harga Cabai dan Nilai-nilai Manusia

Gorengan panas, cabai, teh hangat, dan rokok,
adalah kombinasi orgasmic yang melampaui fisika.
@noffret


Harga cabai naik gila-gilaan. Saya tahu hal itu bukan karena sering beli cabai, tapi karena membaca berita. Cabai yang semula seharga beberapa ribu per kilo, sekarang mencapai 160 ribuan per kilo. Agak tidak masuk akal, tapi begitulah kenyataannya.

Sebenarnya, saya tidak terkait langsung dengan urusan cabai. Maksudnya, meski harga cabai naik setinggi apa pun, bisa dibilang saya tidak terlalu mempermasalahkan, toh selama ini tidak pernah membeli cabai. Tetapi, ternyata, kehidupan di dunia ini saling berkaitan. Meski tidak pernah membeli cabai secara langsung, namun ternyata saya terdampak oleh mahalnya harga cabai.

Salah satu makanan favorit saya adalah gorengan. Setepatnya, gorengan panas. Khususnya tempe goreng yang enak, yang digoreng sampai benar-benar matang. Karena suka, saya pun sering membeli gorengan. Namanya gorengan, tentu dilengkapi cabai sebagai bumbu menikmati gorengan. Makan gorengan tanpa cabai itu seperti tidur tanpa guling. Ya sama-sama merem, cuma kurang afdol.

Tempo hari, saya beli gorengan tempe di tempat biasa. Tetapi, kali ini, si penjual tidak menyertakan cabai pada gorengan yang saya beli, tapi menggantinya dengan saus kemasan kecil.

Dengan heran, saya bertanya, “Kok pakai saus, Mbak?”

“Iya, Mas,” jawabnya. “Soalnya harga cabai mahal banget, jadi diganti ini (saus kemasan).”

Sesampai rumah, saya bengong memandangi gorengan tempe panas yang dilengkapi saus kemasan. Sejak kapan makan tempe goreng dengan saus?

Biasanya, saya menikmati gorengan tempe panas dengan cabai rawit, dan segelas teh hangat. Habis itu—sambil merasakan perut kenyang oleh gorengan, dan mulut terasa sedikit terbakar oleh cabai—saya minum teh, lalu menyulut rokok. Nikmatnya luar biassssaahh. Lha sekarang... saus?

Dengan jengkel, saya menyisihkan saus-salah-alamat itu, dan mulai menyantap gorengan tempe yang masih panas. Tetap enak, tapi kali ini tidak ada cabai rawit. Itu menjadikan prosesi makan gorengan terasa kurang afdol. Saya tidak sudi menggunakan saus sebagai teman makan gorengan. Karena itu tidak match, menyalahi kodrat, dan tidak sesuai hukum makan gorengan. Namanya makan gorengan, harus ditemani cabai—bukan apa pun, apalagi saus kemasan!

Tetapi harga cabai mahal, itu yang dikatakan penjual gorengan. Karena harga cabai mahal, mereka menyiasati dengan saus kemasan. Sebagai penjual gorengan, mungkin mereka tidak enak jika harus menjual gorengan tanpa “bumbu” apa pun (cabai rawit). Tapi karena harga cabai mahal, mereka pun menebus perasaan tidak enak dengan mengganti pakai saus kemasan. Dalam bisnis (termasuk bisnis gorengan), bisa dibilang itu bagian dari strategi. Modal yang dikeluarkan tidak membengkak, dan pembeli tetap senang.

Tapi benarkah pembeli tetap senang?

Saya meragukan. Karena nyatanya saya tidak puas, tidak senang, bahkan tidak sudi memakan saus yang disertakan dalam gorengan. Karena, saya pikir, itu salah! Makan gorengan tempe harus dengan cabai, bukan dengan saus kemasan!

Mungkin akan lebih baik kalau penjual gorengan berkata blak-blakan, misal, “Harga cabai sangat mahal, akhir-akhir ini, jadi kami ganti dengan saus. Tapi kalau tetap ingin dapat cabai, silakan tambah seribu perak.”

Jika ditawari seperti itu, saya memilih untuk membayar seribu perak (atau berapa pun) asal tetap bisa makan gorengan dengan cabai. Tidak masalah, bagi saya, untuk menambah pengeluaran, demi tetap bisa menikmati gorengan enak bersama cabai. Sebagai pembeli, saya tentu menyadari hal itu (naiknya harga cabai), dan saya bisa memaklumi kalau penjual gorengan mengenakan harga tersendiri.

Itu jauh lebih baik, daripada memaksa saya makan gorengan tempe dengan saus kemasan. Itu menghina akal sehat saya sebagai penikmat gorengan.

Dalam teori evolusi versi Darwin—emang versi siapa lagi?—disebutkan bahwa adaptasi adalah senjata paling penting dalam menghadapi perubahan. Adaptasi, itulah sesuatu yang memungkinkan makhluk tetap hidup... atau punah. Mati dan punahnya dinosaurus, menurut teori evolusi, karena mereka tidak mampu beradaptasi dengan perubahan. Sebaliknya, makhluk-makhluk yang sampai saat ini tetap eksis, disebabkan karena kemampuan beradaptasi.

Salah satu makhluk hidup yang tetap eksis sampai sekarang tentu manusia. Karenanya, manusia adalah makhluk yang sangat pintar beradaptasi. Salah satunya beradaptasi dengan mahalnya harga cabai.

Ketika harga cabai naik tinggi, manusia beradaptasi. Ibu-ibu rumah tangga mulai menanam cabai sendiri di pekarangan rumah. Sementara penjual gorengan mengganti cabai dengan saus kemasan. Tapi adaptasi tak selamanya menghasilkan nilai lebih baik. Ibu-ibu rumah tangga yang menanam cabai di pekarangan rumah mungkin bagus. Tapi mengganti cabai dengan saus kemasan untuk makan gorengan...?

Tentu saja mengganti cabai dengan saus untuk makan gorengan termasuk bagian adaptasi, tapi apakah itu baik?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, mari kita lihat kasus-kasus adaptasi lain yang terjadi di sekeliling kita. Agar mudah melihat, mari gunakan contoh yang besar, sekaligus paling mudah dibuktikan. Lihatlah rumah-rumah di sekelilingmu.

Di masa lalu, setidaknya ketika saya masih kanak-kanak, rumah-rumah dibangun dengan adab, dengan etika, dengan norma, dan dengan keluhuran manusia. Di masa lalu, masing-masing rumah memiliki “jeda”—biasanya dalam bentuk lorong kosong—yang memungkinkan air hujan dari genteng bisa jatuh di tanah milik sendiri. Selain itu, lorong di antara rumah juga berfungsi untuk menjaga privasi.

Rumah almarhum kakek saya, misal, memiliki lorong kosong di kanan kiri—masing-masing selebar 1,5 meter—sehingga rumah-rumah tetangga tidak langsung menempel dengan rumah kakek. Begitu pula, rumah-rumah tetangga di masa lalu juga memiliki lorong yang sama, sehingga rumah di sebelahnya tidak langsung menempel. Dan begitu seterusnya. Ada lorong di antara rumah, ada jeda yang ditujukan untuk menjaga privasi masing-masing orang.

Dengan adanya lorong-lorong yang memisahkan satu rumah dengan rumah lain, privasi masing-masing orang lebih terjaga. Misal, ada pasangan suami-istri yang bertengkar di dalam rumah. Karena adanya lorong yang memisahkan masing-masing rumah, tetangga sebelah tidak mendengar. Atau sebaliknya, ada pasangan suami-istri yang em-el dengan penuh desahan dan erangan. Karena adanya lorong yang memisahkan masing-masing rumah, tetangga juga tidak mendengar.

Itulah fungsi lorong di antara masing-masing rumah. Selain untuk memungkinkan air hujan dari genteng jatuh di tanah milik sendiri, juga untuk menjaga privasi masing-masing orang. Manusia-manusia luhur di zaman kuno telah memikirkan hal-hal semacam itu dengan matang, atau—meminjam istilah akademis—dengan komprehensif. Ada jeda, ada lorong, ada ruang kosong, sehingga hubungan antartetangga lebih sehat, karena masing-masing lebih dapat menjaga privasi.

Mengapa orang-orang zaman dulu bisa melakukan hal semacam itu—menyediakan lorong kosong di antara rumah? Karena di zaman dulu harga tanah belum semahal sekarang. Mengapa harga tanah di masa lalu belum semahal sekarang? Karena jumlah manusia di zaman dulu belum sebanyak sekarang.

Sekarang, karena jumlah manusia semakin banyak akibat populasi yang terus meningkat, harga tanah kian mahal. Manusia yang makin banyak membutuhkan tempat tinggal, dan itu mengakibatkan harga tanah terus melejit. Karena harga tanah makin mahal, rumah-rumah pun dibuat seefisien mungkin. Hasilnya seperti sekarang dapat kita lihat. Rumah-rumah di zaman sekarang umumnya saling menempel—tidak ada jeda, tidak ada lorong, tidak ada ruang kosong.

Rumah-rumah yang saling menempel ketat seperti sekarang adalah bentuk adaptasi, karena makin sempit dan makin mahalnya harga tanah. Tapi apakah adaptasi itu menghasilkan sesuatu yang lebih baik?

Jawabannya tidak!

Hal pertama yang muncul dari rumah-rumah yang saling menempel ketat seperti itu adalah hilangnya privasi masing-masing orang. Kita tidak bisa lagi bebas seperti orang zaman dulu, karena tetangga sebelah akan selalu mendengar apa pun dari dalam rumah kita.

Orang-orang zaman dulu bisa menyetel musik di rumahnya dengan suara relatif keras, dan tidak khawatir mengganggu tetangga. Karena jarak rumah dengan tetangga relatif jauh. Sekarang, jika kita menyetel musik dengan keras, kita sudah melanggar adab bertetangga, karena suara keras dari rumah kita dapat mengganggu mereka.

Di masa lalu, jika pasangan suami-istri bertengkar di dalam rumah, orang-orang lain tidak tahu. Karena masing-masing rumah relatif jauh—ada lorong yang memisahkan satu rumah dengan rumah lain. Sekarang, jika pasangan suami-istri bertengkar, para tetangga akan mendengar, karena rumah-rumah saling berdempetan.

Kita lihat...? Adaptasi tidak selamanya menghasilkan kebaikan. Dalam beberapa hal, adaptasi justru menurunkan nilai kita sebagai manusia.

Contoh-contoh semacam itu, kalau mau disebut semua, jumlahnya sangat banyak. Dari rumah yang kini saling berdempetan, jalan raya yang terus dilanda kemacetan, asap dan polusi yang kian meninggi, sumber-sumber air yang makin tercemar... daftarnya masih panjang. Manusia memang terus beradaptasi dengan hal itu, tapi pertanyaan intinya tetap sama, “Apakah adaptasi itu menghasilkan kebaikan, atau justru menurunkan nilai kemanusiaan kita?”

Dulu, orang-orang bisa minum air yang diambil dari sumur di rumah sendiri. Itulah ciri kehidupan orang merdeka. Mereka memiliki sumber air untuk kehidupan sehari-hari. Tapi sekarang...? Air sumur sudah tercemar, dan untuk minum harus beli. Kemerdekaan kita sebagai manusia sudah menyusut. Karena bahkan untuk mendapat air—yang merupakan kebutuhan vital untuk hidup—manusia harus membeli.

Membeli air, itu bentuk adaptasi manusia, agar dapat minum air bersih. Tapi apakah itu baik? Tentu lebih baik jika manusia—masing-masing kita—bisa minum dari air sumur di rumah sendiri, seperti di zaman dulu, ketika sumber-sumber air masih bersih dan murni.

Begitu pula asap dan polusi serta kemacetan yang luar biasa di mana-mana. Sebagai adaptasi, kita memakai masker, agar hidung kita tidak mengisap polutan yang berbahaya.

Memakai masker, itu bentuk adaptasi. Tapi apakah itu baik? Tentu lebih baik jika kita dapat ke mana-mana tanpa mengkhawatirkan asap dan polusi, seperti di zaman dulu, ketika udara masih bersih.

Begitu pula penjual gorengan yang mengganti cabai dengan saus kemasan. Itu juga bentuk adaptasi, karena harga cabai yang mahal. Tapi apakah itu baik? Sebagai manusia, dan sebagai penikmat gorengan, saya sangat keberatan! Cabai untuk makan tempe goreng tidak bisa serta-merta diganti saus kemasan, karena melanggar “etika makan gorengan”. Itu menghina akal sehat.

Tapi begitulah adaptasi, begitulah cara manusia beradaptasi. Seperti rumah-rumah yang kini saling menempel akibat harga tanah melejit, seperti polusi dan asap karena kemacetan dan industri, seperti air yang harus beli karena sumber-sumbernya telah tercemar... seperti cabai untuk makan gorengan diganti saus kemasan. Semuanya bentuk adaptasi.

Sayangnya, jika dipikirkan sepenuh hati, semua adaptasi itu justru menurunkan nilai kemanusiaan kita sendiri.

Tidak Waras

Suatu waktu, dengan sangat serius, saya ngemeng pada teman, “Kadang-kadang aku khawatir, suatu hari nanti aku bisa gila karena memikirkan semua ini.”

Teman saya menyahut, “Lhoh, bukannya kamu memang sudah gila?”

....
....

Well, kadang-kadang saya lupa kalau sudah lama tidak waras.

Noffret’s Note: Terorisme

Al-Qaeda ngebom WTC Amerika, lalu mengaku. ISIS ngebom Prancis, lalu mengaku. Skenario yang simpel, pola yang sama. Sebuah dunia yang buta.
—Twitter, 15 November 2015

Terorisme lahir bukan semata karena fanatisme yang picik, tapi karena kebodohan yang dikendalikan dengan sangat licik.
—Twitter, 15 November 2015


*) Ditranskrip dari timeline @noffret.

Minggu, 12 Februari 2017

Ospek yang Konyol (Bagian 1)

Mendikbud yang baru ini... sebenarnya bagaimana sih cara dia berpikir?
Ide sekolah seharian... dan sekarang hukuman fisik dianggap bagus.
@noffret


Ospek (orientasi studi dan pengenalan kampus) sepertinya terus memakan korban dari tahun ke tahun. Meski setiap tahun kasus kekerasan—hingga menyebabkan kematian—terkait ospek dikutuk banyak orang, tapi tampaknya ospek terus memakan korban. Tahun kemarin, ada yang mati. Tahun kemarinnya lagi, juga ada yang mati. Sekarang, tahun ini, lagi-lagi ada yang mati.

Karena dulu pernah menjalani ospek saat menjadi mahasiswa baru, saya juga tahu seperti apa “romansa” yang terjadi selama ospek berlangsung. Tetapi, di masa lalu—setidaknya saat saya menjadi mahasiswa baru—tingkat kekerasan yang terjadi selama ospek tidak sampai memakan korban. Itu artinya, tingkat kekerasan dalam ospek sepertinya mengalami eskalasi. Buktinya sampai ada yang mati, atau mengalami luka-luka.

Saya tidak tahu pasti apa yang terjadi pada ospek yang sampai mengakibatkan kematian, sebagaimana yang akhir-akhir ini diberitakan di berbagai media. Karenanya, saya lebih suka menceritakan pengalaman ospek yang saya alami sendiri, saat dulu menjadi mahasiswa baru. Pengalaman ini, siapa tahu, bisa menjadi semacam “studi banding”, khususnya dalam urusan ospek mengospek.

Ketika pertama kali masuk kampus, saya menjalani hari-hari-sialan yang disebut ospek, sebagaimana yang juga dialami mahasiswa baru yang lain. Dan selama waktu-waktu itu pula, kami—para mahasiswa baru—benar-benar menjadi “barang mainan” para senior di kampus. Namanya juga mahasiswa baru, kami tidak bisa apa-apa, selain menuruti apa kata mereka, selain juga waktu itu kami belum tahu apa-apa.

Kalau tidak salah ingat, ospek yang saya jalani sekitar seminggu. Selama hari-hari itu, para mahasiswa baru harus berangkat sejak subuh. Pukul 05.30 pagi sudah harus sampai di kampus. Kalau terlambat, dihukum. Hukumannya bisa lari-lari, push up, squat jump, sebut apa pun. Dan itu berlangsung seminggu berturut-turut.

Itu saja belum cukup. Para senior keparat itu sepertinya tahu cara menyiksa bocah-bocah yang baru lulus SMA. Selain diwajibkan berangkat pagi-pagi buta, kami—para mahasiswa baru—juga diwajibkan membawa barang-barang yang anehnya luar biasa. Misalnya, hari pertama harus membawa telur asin yang ada stempelnya. Kalau tidak ada stempelnya, dihukum.

Hari kedua, kami diminta membawa buku tulis kosong yang berisi 34 halaman. Katanya buku-buku tulis itu akan disumbangkan. Yang jadi masalah, rata-rata buku tulis berisi 32 atau 40 halaman! Itu kan asu! Wong mau menyumbang buku tulis saja kok harus ditentukan halamannya. Tapi kalau permintaan aneh itu tidak dituruti, kami dihukum.

Dalam hal ini, saya tahu cara menyiasatinya. Saya beli buku tulis berisi 40 halaman, lalu melepaskan 6 halaman dari dalamnya, hingga jumlah halaman tinggal 34. Saya selamat dari hukuman, tapi ratusan mahasiswa baru lain (yang mungkin terlalu culun) harus menghadapi hukuman.

Hari ketiga, kami diminta membawa pot. Saya ulangi, pot!

Mungkin terkesan remeh, wong paling diminta membawa pot. Yang jadi masalah adalah... waktu. Bayangkan, kami harus berangkat ke kampus pada pagi buta, dan seharian terus di kampus, lalu pulang sekitar maghrib. Artinya, kami baru bisa bebas dari kegiatan terkutuk itu setelah malam hari. Nah, setelah malam hari, di mana ada toko pot yang masih buka?

Toko-toko atau penjual pot—setidaknya di daerah saya—hanya buka siang hari. Begitu sore, toko-toko itu tutup. Karena, well, memangnya siapa yang akan beli pot malam-malam?

Tapi senior-senior keparat di kampus kami tidak peduli. “Pokoknya besok kalian harus bawa pot!” teriak mereka. Kalau tidak bisa? Ya dihukum. Atau dipermalukan di depan para mahasiswa baru yang lain.

Lalu hari keempat, kami diminta membawa air kemasan dalam botol yang berukuran 1,23 liter. Satu koma dua tiga liter!

Mungkin mudah mencari air kemasan, meski sudah larut malam, karena banyak yang jual. Tapi yang kemasan 1,23 liter? Yang benar saja! Bahkan sampai ke Antartika pun belum tentu ada.

Dan makin hari, permintaan senior-senior kurang kerjaan itu makin berat dan makin tak masuk akal. Sebegitu tak masuk akal, hingga saya pikir seharusnya mereka meminta kepada jin Aladdin, bukan kepada para mahasiswa baru.

Tapi begitulah budaya ospek. Di kampus saya maupun di kampus-kampus lain, mahasiswa baru selalu menjadi bulan-bulanan para senior yang menjadi panitia ospek, dan tampaknya mereka berhak berbuat apa saja. Dari meminta hal-hal yang tak masuk akal, memberi hukuman, sampai menyuruh kami berpenampilan absurd. Misal harus mencukur rambut sampai sangat pendek, memasang karton yang digantungkan di leher, dan lain-lain. Lalu, selama seharian, kami harus mendengar bentakan, teriakan, bentakan, teriakan, dan begitu terus sampai maghrib.

Meski begitu, ada hal “positif” yang perlu saya kemukakan di sini. Dalam peraturan di kampus kami, panitia ospek memang diberi hak untuk “mengisi acara ospek”—termasuk meminta hal-hal yang tak masuk akal sampai memberi hukuman—tetapi mereka dilarang melakukan kekerasan fisik, semisal memukul dan semacamnya. Intinya, panitia ospek dilarang “menyentuh” (secara fisik) peserta ospek.

Jadi, mereka hanya bisa berteriak, membentak, memberi hukuman lari-lari dan semacamnya, tapi mereka tidak memukul, menendang, atau semacamnya. Pendeknya, mereka benar-benar menjaga agar tidak sampai menyentuh kami (para mahasiswa baru). Dan, dalam hal ini, saya memuji para senior saya, karena mereka benar-benar mematuhi peraturan itu. Sedikit pun mereka tidak sampai menyentuh para yunior untuk melakukan kekerasan fisik.

Saya tahu peraturan tersebut, tapi kebanyakan mahasiswa baru tidak tahu. Rata-rata mereka berpikir para senior bisa saja memukul atau menendang mereka, atau benar-benar melakukan kekerasan fisik lainnya. Karenanya, mereka benar-benar ketakutan selama menjalani ospek.

Sementara bagi yang tahu—bahwa para senior tidak bisa menyentuh kami—relatif lebih santai dalam menjalani masa-masa ospek. Karena, segalak apa pun, kenyataannya mereka tidak bisa menyentuh kami. Bahkan umpama kami tidak mau menuruti perintah mereka pun, mereka tidak bisa apa-apa. Wong hak mereka sebatas membentak dan berteriak. Kalau misal mereka menyuruh saya lari-lari, dan saya tidak mau, mereka tidak bisa apa-apa. Paling-paling mereka akan berteriak lebih kencang, membentak lebih keras, tapi hanya sebatas itu.

Aturan semacam itu bahkan terus dijaga hingga tahun-tahun berikutnya. Dua tahun setelah menjadi mahasiswa, saya aktif di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan menjadi salah satu panitia ospek. Sebagai senior, kami juga tidak pernah menyentuh mahasiswa baru, apalagi sampai melakukan tindak kekerasan secara langsung. Kami hanya bisa berteriak, membentak, memberi hukuman, dan meminta mereka membawa barang-barang aneh yang hanya tersedia di planet Mars. Selebihnya, kami tidak punya hak untuk melakukan kekerasan.

Nah, bagian inilah yang mungkin telah mengalami perubahan, khususnya di kampus-kampus lain. Jika dulu para panitia ospek benar-benar mematuhi aturan dan kode etik yang diberlakukan (tidak boleh melakukan kekerasan fisik secara langsung), sekarang aturan itu telah dihapus, atau kode etik itu telah dilanggar. Sekarang, para senior (panitia ospek) bisa melakukan kekerasan fisik secara langsung pada para mahasiswa baru, hingga ada yang terluka bahkan tewas.

Kenyataan itu tentu saja sangat memprihatinkan. Karena, kalau dipikir-pikir, apa manfaatnya—khususnya dalam pendidikan?

Wong meminta para yunior membawa barang-barang aneh saja sebenarnya sudah tidak masuk akal, dan minim manfaat, terlepas apa pun dalih dan apologi para senior (panitia ospek). Apalagi ditambah kekerasan. Apa manfaatnya?

Oh, mungkin—bagi para senior—hal itu bermanfaat. Karena kekerasan yang mereka lakukan bisa menjadi cara untuk menunjukkan kekuasaan. Atau bisa pula kekerasan yang terjadi selama ospek menjadi semacam saluran pembalasan dendam, karena mereka dulu juga diperlakukan seperti itu oleh para senior sebelumnya. Tapi jika itu yang menjadi motivasi, saya pikir dunia pendidikan kita sedang menghadapi masalah.

Dan tampaknya memang itulah yang terjadi. Para senior di kampus ingin menunjukkan kekuasaan mereka kepada para mahasiswa baru, dan mereka memanfaatkan masa ospek untuk unjuk superioritas. Seiring dengan itu, mereka juga menjadikan masa ospek sebagai saluran pembalasan dendam kepada para senior mereka yang dulu mungkin telah berlaku keras dan kejam. Karena mereka tidak bisa membalas pada para senior, mereka pun melampiaskan pada para yunior.

Jadi, kalau memang begitu kenyataannya, pendidikan di negeri ini tidak hanya mentransformasikan pengetahuan, tapi juga mewariskan dendam dan kekerasan. Itu pula yang mungkin menjadi penjawab kenapa dari tahun ke tahun ospek makin terdengar menyeramkan, dan selalu jatuh korban akibat tindak kekerasan. Karena ospek tidak sekadar menjadi masa orientasi pengenalan kampus, tapi juga menjadi masa unjuk superioritas, dan penyaluran dendam. Lingkaran dendam yang diwariskan turun temurun, dari tahun ke tahun.

Pertanyaannya, tentu saja, sampai kapan...?

Tiba-tiba Kangen Mbakyu

Aku kangen mbakyuku.

Tiba-tiba aku kangen mbakyukuuuuuuuuh!

Aku kudu piye, ya Allah...?

Provider Internet Bukan Polisi Moral

Ada provider yang tampaknya sangat rajin memblokir situs. Kenapa? Sederhana, karena dengan itu, mereka bisa memasang iklan! Sangat licik!

Setiap kali provider memblokir situs apa pun, perhatikan. Di halaman pemblokiran akan muncul iklan milik si provider. Cerdik dan licik!

Karena itulah, provider di Indonesia sangat rajin mencari-cari situs untuk diblokir, karena dengan cara itu mereka bisa memasang iklan.

Believe it or not, ada situs besar di Indonesia (saat ini) yang sebenarnya lahir dari proses pemblokiran. Situs besar itu milik si provider.

Setiap kali si provider ini memblokir situs (dengan alasan apa pun), halaman pemblokiran akan mengiklankan situs milik si provider.

Karena hal-hal semacam itulah, provider-provider di Indonesia jadi "semangat" memblokir situs milik pihak lain. Dan itu benar-benar licik!

Seharusnya, provider tidak diberi hak untuk memblokir situs mana pun, karena tugas mereka memberi fasilitas, bukan menjadi polisi moral.

Jika provider diberi hak untuk memblokir situs mana pun dengan alasan apa pun, hak itu akan berbahaya dan sangat rentan disalahgunakan.

Hak memblokir situs seharusnya hanya ada di tangan Kemkominfo. Agar setiap pemblokiran yang terjadi dilandasi tanggung jawab jelas.

Kenyataannya, provider di Indonesia sudah kebablasan. Mereka bersikap seolah memiliki hak prerogatif untuk “memanfaatkan” pelanggannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 4 Januari 2017.

Rabu, 08 Februari 2017

Gadis Penjual Risoles

Jika kelak kau sampai di surga, pastikan di sana ada risoles.
Jika tidak ada, mungkin kau salah masuk.
@noffret


 —Cerita ini saya tulis karena diminta Deni, seorang teman, yang ingin “sekali-sekali namaku muncul di blogmu.” Semoga Deni senang membacanya.

***

Siang itu saya duduk di emper sebuah mal, sendirian. Di samping kiri dan kanan juga ada orang-orang lain yang sama duduk di emper, saling sibuk dengan teman atau dengan aktivitas sendiri. Karena bengong, saya pun mengeluarkan rokok, dan menyulut sebatang.

Saat batang rokok habis separuh, ada yang menepuk pundak saya dari belakang. Ketika saya tengok, ternyata seorang teman. Deni Prasetya bersama pacarnya, yang baru selesai berbelanja. Mereka membawa tas plastik berisi belanjaan.

“Lagi ngapain di sini?” sapa Deni.

“Nunggu penjual risoles,” jawab saya jujur.

“Nunggu... apa?”

“Penjual risoles.”

Deni menatap saya, seolah memastikan pendengarannya. “Nunggu penjual risoles?”

Saya mengangguk.

Deni kembali bertanya, “Emang, si penjual risoles lagi ke mana?”

“Lagi shalat.”

“Jadi, kamu nungguin penjual risoles yang lagi shalat, di sini, duduk di emper mal, sendirian. Emang kamu mau ngapain?”

Saya tersenyum. “Aku mau beli risoles.”

Pacar Deni—namanya Sulis—tampak senyum-senyum. Kami juga saling kenal, meski tidak terlalu akrab.

Lalu Deni berkata seperti orang putus asa, “Nggak di dunia maya, nggak di dunia nyata, kamu selalu aneh.”

Saya kembali tersenyum. “Menurutku nggak aneh sama sekali. Wong cuma mau beli risoles, kok aneh.”

“Pasti ceritanya panjang,” ujar Deni.

Ceritanya, saya suka risoles. Di mal tempat saya biasa berbelanja, ada sebuah konter yang menjual risoles, karamel, donat, serta aneka roti. Konter itu bukan milik mal, tapi mungkin hanya menyewa tempat di sana. Jadi, konter itu berjejeran dengan beberapa konter lain, yang menjual aneka barang lain. Konter risoles itu dijaga seorang perempuan, yang usianya sekitar 22 atau 23 tahun.

Dulu, saya mengenal konter itu tanpa sengaja, ketika baru selesai belanja di mal dan akan keluar. Waktu itu saya melihat konter tersebut, yang memajang aneka roti yang tampak enak di lemari kaca. Lalu saya mendekat, dan membeli beberapa roti serta karamel. Ketika melihat di sana ada risoles, saya juga membeli risoles. Ternyata, karamel juga risoles di sana sangat enak. Sebegitu enak, hingga saya ketagihan. Sejak itu, saya sering membeli risoles dan karamel, khususnya ketika belanja ke mal.

Yang menjadi masalah, karamel maupun risoles yang enak itu sering habis saat malam hari. Padahal, saya sering belanja ke mal pada malam hari. Jadi, selama beberapa waktu, saya memendam kekecewaan gara-gara kehabisan risoles. Gadis penjual risoles menyarankan, sebaiknya saya ke sana siang hari kalau ingin mendapatkan risoles. “Karena memang cepat habis,” ujarnya waktu itu.

Maka, demi kenikmatan risoles yang tiada tara, saya pun sengaja mendatangi mal siang hari. Dulu, saya ke mal memang untuk berbelanja, lalu sepulang belanja mampir ke konter risoles untuk membeli karamel dan risoles. Lama-lama, karena ketagihan risoles, saya sengaja datang ke mal hanya untuk membeli risoles.

Suatu siang, saya datang ke mal pas dhuhur. Memasuki mal, saya langsung menuju konter risoles, karena memang hanya bertujuan membeli risoles. Sesampai di sana, saya tidak mendapati gadis penjualnya. Di kaca etalase terdapat sebuah karton, berisi tulisan, “Sedang shalat”.

Di depan mal—dipisahkan alun-alun—ada sebuah masjid. Tampaknya, gadis penjual risoles sedang shalat di sana. Jadi, saya pun keluar dari mal yang penuh AC, lalu duduk di emper mal, dan menyulut rokok. Beberapa menit kemudian, saya melihat gadis penjual risoles melangkah ke arah mal, sambil mendekap bungkusan yang mungkin peralatan shalat.

Dia terus melangkah melewati saya yang sedang duduk sendirian. Saya menengoknya, dan melihat dia menuju konter tempat jualannya. Setelah itu, saya pun membuang rokok, masuk ke mal, dan mendekati konter. Lalu beli risoles dan karamel sebagaimana tujuan semula. Setelah itu saya pulang, dan menikmati risoles yang nikmatnya tiada tara.

Saya ingin berkata kepada kalian, hei umat manusia, hidup kalian belum bisa dibilang sempurna, jika belum pernah menikmati risoles yang enak tiada tara. Bahkan, sebenarnya, hidup ini sungguh sia-sia jika tidak pernah merasakan kenikmatan risoles.

Karena itu pula, saya pun rajin datang ke mal, untuk membeli risoles. Karena waktu luang saya kebetulan pas dhuhur, saya pun sering kali datang ke sana pas dhuhur. Itu artinya, gadis penjual risoles sedang shalat di masjid, dan saya harus menunggu di emper mal. Sendirian, sambil merokok, seperti biasa, seperti sebelumnya.

Kemudian, beberapa menit setelah menunggu, saya melihat gadis penjual risoles melangkah sendirian, sambil mendekap peralatan shalat. Dia melangkah melewati saya, menuju konternya. Lalu saya membuang rokok, bangkit, dan menuju konter gadis itu, untuk membeli risoles.

Lama-lama, gadis itu mengenali saya.

Suatu siang, seperti biasa, saya datang ke mal. Saat menuju konter risoles, saya mendapati pemberitahuan di lemari kaca, sebuah karton berisi tulisan, “Sedang shalat”. Maka, seperti biasa, saya pun duduk di emper mal, merokok, dan menunggu si gadis penjual risoles.

Siang agak mendung, waktu itu. Dari kejauhan, gadis penjual risoles tampak melangkah sendirian. Saat langkahnya semakin dekat dengan saya, dia tersenyum—atau menahan senyum. Sekarang dia sudah mengenali saya, pelanggannya yang setia, yang sering menunggunya selesai shalat, untuk membeli karamel dan risoles.

Jadi, siang itu, saat melihat saya duduk sendirian di emper mal, dia pun tahu. Saya sedang menunggunya.

Sejak itu, setiap kali mendapati saya duduk sendirian di emper mal, dia akan tersenyum dengan jelas. Dan saya pun membalas senyumnya. Tentu saja dia tidak tahu siapa saya atau siapa nama saya, sebagaimana saya tidak tahu siapa dia atau siapa namanya. Dia hanya tahu saya pelanggannya yang setia, dan saya hanya tahu dia gadis penjual risoles yang salihah, karena meluangkan waktu untuk beribadah di sela-sela bekerja.

Meski begitu, dia tampak senang setiap kali melihat saya. Alasannya tentu sederhana, sebagaimana penjual mana pun yang mendapati pelanggan setia. Saya juga selalu senang setiap kali melihatnya melangkah ke mal seusai shalat. Alasannya juga sederhana, karena sesaat lagi saya akan bisa menikmati risoles yang enak.

Kian hari, kebiasaan itu menjadi ritual yang menyenangkan. Saya senang duduk sendirian di emper mal, menunggu gadis itu datang. Lalu saya akan melihatnya melangkah sendirian dari kejauhan. Tangannya mendekap sesuatu di dada. Lalu, saat langkahnya makin dekat, dia akan tersenyum.

Siang itu, saya juga sedang menunggunya selesai shalat. Ketika Deni dan pacarnya kebetulan mendapati saya duduk sendirian di sana.

Deni bertanya, “Kamu jatuh cinta sama dia?”

“Nggak,” saya menjawab. “Aku hanya senang melihatnya.”

Setelah terdiam sesaat, Deni kembali berkata, “Jadi, apa pelajaran dari kisah ini?”

Saya tersenyum. “Nggak ada pelajaran apa pun. Aku hanya senang risoles, dan aku senang membeli risoles di sini. Juga senang melihat penjualnya.”

Deni dan pacarnya senyum-senyum seperti orang bingung, lalu mereka pamit, dan pergi meninggalkan saya sendirian.

Sekitar tiga menit kemudian, gadis penjual risoles tampak melangkah dari kejauhan, seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya. Dan, seperti biasa pula, saya senang melihatnya.

Noffret’s Note: Risih

UKDW Yogya masang foto mahasiswinya yang berjilbab di baliho. Lalu ada orang Islam yang marah. Sebagai sesama orang Islam, aku merasa sedih.

Dosen di USD Yogya menghentikan ujian di kelas, karena ada mahasiswa muslim yang mau shalat Jumat, dan menunggu sampai si mahasiswa kembali.

USD adalah universitas kaum Jesuit dari agama Katolik. Mahasiswa muslim di sana minoritas. Tapi di sana ada toleransi dan saling menghargai.

Yang mengerikan, sebenarnya, bukan buldoser yang mengancam di depan kita, melainkan rayap-rayap yang menggerogoti dari dalam.

Sering kali aku malu, dan risih, dan sedih, menjadi bagian mayoritas yang merasa bisa sewenang-wenang dan tak adil terhadap minoritas.

Tembok Cina yang meraksasa tidak hancur oleh musuh, tapi justru digerogoti para penjaganya. Ironi kekuatan yang merasa paling besar.

Dulu, orang-orang percaya Tembok Cina dapat terlihat dari luar angkasa. Kenyataannya tidak, dan sudah dibuktikan. Tapi mereka tetap percaya.

Hal-hal besar selalu mengandung ironi. Termasuk yang merasa paling besar (atau paling benar) sendiri.

Mungkin agak ironis, bahwa satu-satunya kota yang justru dapat dilihat dari angkasa hanya Las Vegas; kota yang paling sadar penuh dosa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Desember 2016.

Zuckerberg dan Mbakyunya

Banyak yang bilang, istri Mark Zuckerberg tidak cantik. Tahu kenapa Zuckerberg memilihnya? Karena Priscilla tidak membuang-buang waktu.

Semua baju Mark Zuckerberg berwarna sama, hingga dikira tidak pernah ganti baju. Padahal itu cara dia agar tidak buang waktu memilih baju.

Banyak wanita cantik mendekati Mark Zuckerberg, dan mereka SEMUANYA gagal. Karena semuanya menggunakan cara tolol yang membuang waktu.

Cewek-cewek mendekati Mark Zuckerberg dengan cara tolol yang sama; menggunakan kode. Priscilla menggunakan kata-kata. Dia yang menang.

Jika untuk urusan baju saja Zuckerberg tidak mau buang waktu, apalagi untuk ngurusin cewek? Gobloknya, cewek-cewek tidak mikir sejauh itu.

Zuckerberg sangat memuja istrinya, meski dia sadar (dan mengakui) Priscilla tidak cantik. Kenapa? Karena Priscilla hanya mengatakan, “Ya.”

Cewek-cewek lain membalas chat sampai bermenit-menit. Priscilla membalas chat dalam waktu seketika. Dan Mark Zuckerberg memilihnya.

Tirulah wanita itu. Dia seorang mbakyu.


*) Ditranskrip dari timeline ‏@noffret, 10 Desember 2016.

Minggu, 05 Februari 2017

Mengapa Ira Koesno Belum Menikah

Yang baik bagimu belum tentu baik bagi orang lain. Karenanya, tidak usah
repot-repot memaksakan pilihan hidupmu pada hidup orang-orang lain.
@noffret


Nama Ira Koesno kembali disebut-sebut banyak orang, setelah menjadi moderator debat pilkada DKI. Sebelumnya, wanita cantik ini bisa dibilang “menghilang” cukup lama, setelah tidak lagi menjadi presenter Liputan 6 di SCTV. Dulu, waktu Ira Koesno masih sering terlihat di televisi, saya masih remaja, dan senang menyaksikannya. Di mata saya, waktu itu, dia seorang mbakyu.

Lalu Ira Koesno “menghilang”, dan tidak lagi terlihat di televisi. Kabar yang saya dengar waktu itu, Ira Koesno sedang melanjutkan pendidikan di luar negeri. Sampai cukup lama saya tidak lagi melihat sosoknya, hingga tempo hari dia muncul sebagai moderator di acara debat pilkada. Dia masih seperti dulu—cantik, anggun, cerdas, dan menawan.

Munculnya Ira Koesno di acara debat itu, seketika kembali memopulerkan nama serta sosoknya. Tiba-tiba, banyak orang menyebut-nyebut nama Ira Koesno, termasuk di media sosial. Semua orang sepakat bahwa Ira Koesno wanita cantik, juga cerdas, dan menawan. Tetapi, rupanya, sebagian orang “tidak sepakat” dengan status Ira Koesno yang sampai sekarang masih lajang (belum menikah).

Sebagian orang—di media sosial—bahkan sampai mem-bully Ira Koesno dengan kalimat-kalimat menghina serta menjijikkan, yang menunjukkan betapa pelakunya bukan hanya sok tahu dan sok pintar, tapi juga kampungan dan ketinggalan zaman. Orang-orang sok tahu itu mencerca Ira Koesno dengan aneka tuduhan, seolah mereka lebih tahu kenapa sampai sekarang Ira Koesno masih melajang. Antara geli dan muak membaca komentar-komentar mereka.

Di antara komentar yang sempat saya baca, ada yang menuduh Ira Koesno “terlalu pemilih”, sehingga sulit menemukan pasangan. Ada pula yang menyindir bahwa yang dibutuhkan seorang wanita seharusnya “keluarga kecil bahagia”, bukan popularitas atau diidolakan banyak orang. Bahkan ada juga yang menganggap Ira Koesno “tidak laku”, karena belum juga menemukan jodoh dan belum menikah.  

Sekali lagi, antara geli dan muak ketika membaca komentar-komentar sok tahu yang mem-bully itu. Orang-orang itu bersikap seolah mereka lebih tahu apa yang terbaik bagi Ira Koesno, bahkan mereka bertingkah seolah mereka lebih tahu seperti apa seharusnya kehidupan yang dijalani Ira Koesno. Lucu, sekaligus memuakkan. Orang lain yang menjalani, tapi mereka yang pusing.

Sekarang, jika kita dihadapkan pada pertanyaan, “Mengapa Ira Koesno belum menikah?” kira-kira apa yang ada dalam benakmu? Sebagai wanita, Ira Koesno bisa dibilang sempurna—cantik, cerdas, terkenal, bahkan kaya. Kalau wanita sempurna seperti dirinya masih melajang hingga sekarang, apa yang ada dalam benak kebanyakan orang?

Diakui atau tidak, disadari atau tidak, orang-orang akan terpecah menjadi dua golongan, ketika menghadapi pertanyaan itu.

Golongan pertama akan berpikir, “Mungkin Ira Koesno terlalu pemilih, sehingga sulit menemukan jodoh. Mungkin dia merasa dirinya sempurna, hingga ingin mendapatkan pasangan sempurna. Wanita macam apa yang tidak juga menikah, padahal usianya sudah sangat dewasa? Seharusnya dia sudah punya suami dan anak-anak!” Dan lain-lain semacam itu.

Sementara golongan kedua berpikir, “Mungkin Ira Koesno punya pilihan hidup sendiri, yang berbeda dengan pilihan kebanyakan orang. Kita tidak tahu isi pikirannya, sebagaimana kita tidak tahu kehidupan yang dihadapi dan dijalaninya. Bagaimana pun, orang menginginkan kehidupan yang terbaik, begitu pula Ira Koesno.” Dan lain-lain semacam itu.

Kita lihat?

Golongan pertama adalah golongan sok tahu—orang-orang yang menganggap, bahkan meyakini, semua orang harus sama seperti diri mereka. Karena mereka menikah, maka artinya semua orang juga harus menikah. Karena mereka punya anak, maka artinya semua orang juga harus punya anak. Kalau ada orang yang tidak menikah atau tidak punya anak, maka mereka akan menganggap itu kesalahan.

Golongan pertama adalah golongan sok tahu—orang-orang yang merasa lebih tahu kehidupan seperti apa yang seharusnya dijalani setiap orang, yaitu kehidupan yang sama seperti mereka. Menikah, punya pasangan, melahirkan anak-anak, dan membangun—sesuai istilah mereka—“keluarga kecil bahagia”. Karena mungkin hanya dengan cara itu mereka akan “bahagia selama-lamanya”, seperti kisah Cinderella.

Sementara golongan kedua adalah golongan bijaksana—orang-orang yang menyadari bahwa setiap kita bisa berbeda. Baik dalam pilihan hidup, maupun dalam pikiran terkait cara memandang kehidupan. Setiap orang adalah individu yang unik, dengan latar belakang berbeda, keluarga berbeda, lingkungan berbeda, jalan hidup yang berbeda, dan tentunya perbedaan-perbedaan itu bisa melahirkan perbedaan pikiran dan pilihan.

Golongan kedua adalah golongan bijaksana—orang-orang yang mampu menerima perbedaan dengan orang lain, yang terbuka menerima kenyataan bahwa tidak semua orang harus sama. Golongan kedua bisa jadi pria atau wanita yang telah menikah dan punya anak. Tapi mereka menyadari, tidak setiap orang harus sama seperti mereka, karena masing-masing orang memang memiliki hak untuk berbeda.

Pertanyaannya, sekarang, berapa banyakkah orang-orang di sekeliling kita yang masuk golongan pertama? Mungkin banyak! Oh, well, banyak sekali!

Sebaliknya, berapa banyakkah orang-orang di sekeliling kita yang masuk golongan kedua? Mungkin sedikit! Oh, well, sedikit sekali!

Sudah melihat masalah di sini?

Ada yang timpang—bahkan sangat timpang—dalam sistem masyarakat kita, khususnya terkait jodoh, pasangan, pernikahan, kepemilikan anak, dan semacamnya.

Masyarakat kita menganggap—bahkan meyakini—bahwa “orang normal” adalah yang menikah (khususnya di usia muda), lalu punya anak-anak, dan membangun keluarga. Masyarakat kita memiliki persepsi—bahkan semacam iman suci—bahwa seperti itulah seharusnya manusia menjalani hidup. Dengan kata lain, masyarakat akan menganggapmu salah, kalau kau tidak menikah padahal usiamu sudah dewasa, atau kau tidak juga punya anak padahal sudah lama menikah.

Keyakinan semacam itu bahkan telah diwariskan turun temurun berpuluh atau bahkan beratus tahun, sehingga mau tidak mau masyarakat kita hari ini terdoktrin untuk berpikir seperti itu. Yang tidak mereka sadari, kehidupan hari ini berbeda dengan kehidupan masa lalu, dunia hari ini telah jauh berbeda dengan dunia ratusan tahun lalu.

Keyakinan semacam itu—bahwa orang harus menikah, punya anak, membangun keluarga, dan semacamnya—sudah tidak relevan untuk dipaksakan di zaman sekarang. Karena kehidupan sudah berubah, zaman sudah berubah, dunia sudah berubah, dan (sebagian) manusia sudah berubah. Masyarakat maju di luar sana sudah memikirkan kehidupan di masa depan, masyarakat di sini masiiiiiiiiih saja mengurusi selangkangan orang!

Seperti yang dihadapi Ira Koesno, atau orang-orang lain yang mirip Ira Koesno. Tentu saja Ira Koesno atau siapa pun berhak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, dalam hal ini untuk menikah atau tidak, atau menunda menikah.

Sama saja setiap orang yang menikah juga punya hak untuk punya anak atau tidak. Masing-masing orang memiliki dan menghadapi kehidupan yang berbeda, dan selalu ada kemungkinan lahirnya perbedaan dalam menjalaninya. Kenapa sesuatu yang sangat jelas dan gamblang seperti ini masih sulit dipahami?

Jika saya bertanya pada orang yang menikah, kenapa dia memilih menikah, maka tentu dia akan memberi setumpuk jawaban yang merupakan latar belakang serta motivasinya menikah. Begitu pun, kalau orang bertanya kepada saya, kenapa sampai sekarang tidak/belum menikah, maka saya pun akan bisa memberi setumpuk jawaban yang merupakan latar belakang serta motivasi saya melajang.

Apakah ada yang salah di sini? Tentu saja tidak, karena setiap orang memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sendiri yang dianggap terbaik.

Tujuan hidup setiap manusia sebenarnya sederhana. Hanya ingin menjalani kehidupan yang damai, tenteram, bahagia, dan aman—secara fisik maupun emosional. Diakui atau tidak, disadari atau tidak, tujuan setiap orang hidup sesederhana itu. Tetapi, itu tujuan. Meski tujuannya sama, cara mencapai tujuan bisa berbeda. Sekali lagi, sesederhana itu masalahnya.

Ada orang yang berkeyakinan bahagia dengan menikah, silakan. Tapi jangan pernah berpikir semua orang harus sama sepertimu, lalu memaksakan keyakinan seperti itu pada semua orang. Sama saja, ada yang berkeyakinan bahwa keluarga baru dibilang lengkap jika telah punya anak atau beberapa anak. Juga silakan. Tapi jangan pernah berpikir semua orang harus berpikir sama sepertimu, lalu memaksakan keyakinan seperti itu pada semua orang.

Hidupmu bukan milik orang lain, begitu pula hidup orang lain bukan milikmu. Kehidupanmu tentu berbeda dengan kehidupan orang lain, begitu pula kehidupan orang lain berbeda dengan kehidupanmu. Sebelum memaksakan pilihan hidupmu kepada orang lain, pikirkan terlebih dulu, “Maukah aku menerima, jika orang lain memaksakan pilihan hidupnya kepadaku?”

Kebahagiaan Tak Butuh Pengakuan

Tidak suami, tidak istri, dari dulu aku sudah berpikir (bahkan yakin)
kalau sebenarnya yang terjadi memang seperti di artikel di bawah ini.
@noffret

Ini Dia Pertanda Wanita Tidak Bahagia Jadi Seorang Ibu
http://bit.ly/2kefFNq
‏—@kompascom


Suami (/istri) yang butuh pengakuan di dunia maya, yang sok bahagia dalam perkawinannya, sebenarnya di dunia nyata mengalami hal sebaliknya.

Orang senang menciptakan khayalan dirinya. Ketika khayalan tidak bisa diwujudkan, mereka pun menganggap khayalan seolah-olah kenyataan.

Perbedaan orang yang bahagia dan tidak bahagia itu sederhana. Kalau kau butuh pengakuan bahwa kau bahagia... maka artinya kau tidak bahagia!

Orang yang berkoar-koar tentang indahnya perkawinan, sebenarnya sedang butuh pengakuan bahwa dia bahagia dalam perkawinannya. Sudah paham?

Orang yang benar-benar bahagia tidak peduli orang lain menganggapnya bahagia atau tidak. Dia tidak butuh pengakuan untuk kebahagiaannya.

Orang yang benar-benar kaya tak peduli orang lain menganggapnya kaya atau tidak. Yang tidak kaya, berusaha pamer agar diakui kalau dia kaya.

Orang yang benar-benar hebat tidak peduli orang lain menganggapnya hebat atau tidak. Kalau masih butuh pengakuan, berarti tidak hebat.

Tak peduli orang bersumpah bahwa dia bahagia dalam perkawinannya, aku tidak akan percaya. Karena kebahagiaan tak pernah butuh pengakuan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Januari 2017.

Sesuatu yang Dilakukan Jutaan Orang Bukan Hal Istimewa. Jadi Sangat Aneh kalau Dibangga-banggakan, Apalagi Digembar-gemborkan dan Dipamer-pamerkan.

Misalnya… punya pasangan.

Rabu, 01 Februari 2017

Dosa Paling Mengerikan (2)

Catatan ini lanjutan catatan sebelumnya. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah catatan sebelumnya terlebih dulu.

***

Jika Tajudin menculik anak-anak dari keluarga mereka untuk kemudian dipaksa bekerja, sementara orangtua anak-anak itu tidak mengetahui, dan anak-anak itu juga merasa dipaksa atau menghadapi kekerasan, kita bisa dengan yakin mengatakan Tajudin bersalah. Dia telah melakukan kejahatan, kekerasan, eksploitasi anak, penculikan, sebut apa pun.

Tapi yang terjadi tidak seperti itu, kan? Tajudin menerima anak-anak itu karena diminta orangtua anak-anak tersebut. Dan anak-anak tersebut juga bekerja atas dasar kerelaan, tanpa paksaan, dan tanpa kekerasan. Lebih dari itu, orangtua DD dan CN meminta Tajudin mengajak anak-anaknya bekerja, karena dua bocah itu putus sekolah. Karenanya, jika kita harus mengacungkan jari pada pihak yang salah, maka semua pihak bersalah. Termasuk pemerintah!

Para pakar bisa saja mengatakan, “Seharusnya anak-anak itu bersekolah, bukan bekerja!”

Oh, well, seharusnya! Betapa indah kata itu.

Orang yang tidak pernah menjalani kemiskinan dan kehidupan yang berat mungkin enteng mengatakan “seharusnya”—dari seharusnya bersekolah, seharusnya menjalani masa kanak-kanak, seharusnya gembira, seharusnya tertawa riang, dan sejuta tetek bengek seharusnya yang lain. Yang menjadi masalah, betapa sulit mewujudkan “seharusnya” yang kalian katakan, khususnya bagi orang-orang miskin yang menjalani hidup amat susah!

Terkait kasus Tajudin yang malang, sekarang saya ingin bercerita, dan saya harap kalian—para pakar hukum eksploitasi anak—benar-benar memperhatikan yang saya ceritakan.

Saya mulai bekerja mencari uang, sejak kelas 3 SD. Saya ulangi, sejak kelas tiga Sekolah Dasar! Ibu saya masih hidup saat ini. Dan jika kalian tidak percaya yang saya katakan, silakan temui ibu saya untuk mengonfirmasi kebenaran yang saya katakan di sini. Bukan hanya ibu saya. Bahkan tetangga-tetangga saya akan menjadi saksi atas kebenaran cerita ini.

Tetangga saya—yang juga famili keluarga saya—bekerja sebagai penjahit kodian. Dia punya majikan yang berbisnis pakaian, dan famili saya bekerja menjahit pakaian-pakaian milik majikannya. Dia menjahit di rumah. Pakaian-pakaian yang ia jahit dilengkapi bordir di bagian tepi, dan sisa kain di bawah bordir itu harus dirapikan dengan cara digunting secara manual.

Karena banyaknya pakaian yang harus dikerjakan, famili saya sering kewalahan dan kehabisan waktu. Maka, dia menawari siapa pun untuk membantu pekerjaannya. Ibu-ibu dan para wanita di sekitar rumah kami menerima tawaran pekerjaan itu. Ada yang membantu menjahit, ada pula yang membantu menggunting kain di bawah bordir, dan lain-lain. Kami semua senang. Famili saya terbantu pekerjaannya, sementara para tetangga—wanita dan ibu-ibu—mendapat uang dari pekerjaan tersebut.

Karena pekerjaan menggunting kain di bawah bordiran termasuk pekerjaan gampang, pekerjaan itu pun dikerjakan anak-anak tetangga, termasuk saya. Sejak itu, saya bekerja sebagai tukang gunting kain di bawah bordiran pakaian. Itulah karir pertama saya di dunia. Dan pekerjaan itu mulai saya terima, ketika saya awal kelas tiga Sekolah Dasar. Sejak itu pula, setiap hari saya bekerja sepulang sekolah, kadang sampai larut malam. Dari pekerjaan itu, saya bisa punya uang saku, meski tidak seberapa.

Apakah saya merasa terpaksa melakukannya? Jelas!

Sebagai anak-anak, seharusnya—oh, well, seharusnya—saya asyik bermain-main gembira, tertawa-tawa bersama teman sebaya, atau duduk manis di depan televisi sambil mengunyah popcorn, dan bukannya memeras keringat untuk mencari uang! Karena mencari nafkah bukan tugas saya, yang masih anak-anak! Dalam hal ini, saya sepakat dengan kalian, hei para pakar eksploitasi anak.

Tapi saya bisa apa...?

Orangtua saya miskin, dan kami menjalani kehidupan yang amat berat! Sebegitu miskin, hingga saya sering prihatin karena tidak punya uang saku, tidak bisa jajan seperti anak-anak lain, dan persetan, saya menjalani kehidupan yang sangat berat, padahal waktu itu saya masih anak-anak. Jadi, ketika ada tawaran kerja yang menghasilkan uang—dalam hal ini menggunting ujung kain di bawah bordiran—saya pun dengan senang hati menerima. Karena dengan cara itu saya bisa dapat uang, bisa jajan seperti anak-anak lain.

Apakah dengan memberi pekerjaan semacam itu berarti famili saya telah mengeksploitasi saya, yang waktu itu masih anak-anak? Terus terang, saya justru bersyukur dan berterima kasih pada famili saya tersebut, karena melalui dirinya saya bisa menghasilkan uang, melalui bantuannya saya bisa jajan, melalui pekerjaan yang diberikannya saya bisa seceria anak-anak lain.

Famili saya—yang memberi pekerjaan tersebut—tidak jauh beda dengan Tajudin di Bandung yang membantu dua keponakannya untuk bekerja mencari uang.

Karenanya, seperti yang disebut di atas, jika kita harus mengacungkan jari untuk menunjuk pihak yang salah, maka semua pihak bersalah!

Tajudin mungkin bersalah, karena—meminjam istilah kalian—dia telah mengeksploitasi anak-anak. Tapi jangan lupa, orangtua anak-anak itu juga bersalah, karena anak-anaknya tidak mampu sekolah, hingga terpaksa bekerja mencari uang, padahal masih anak-anak. Memberi nafkah untuk anak adalah tugas dan tanggung jawab orangtua. Jika orangtua tidak mampu memberikan itu, artinya mereka tidak bertanggung jawab!

Kemudian, pemerintah juga bersalah, karena konon katanya orang miskin dan anak-anak telantar dipelihara pemerintah. Jadi, di mana tanggung jawab pemerintah terhadap mereka? Demi Tuhan, saya ingin sekali mendengar jawaban atas pertanyaan itu.

Di manakah pemerintah, ketika dulu saya harus bekerja keras mencari uang, padahal saya masih anak-anak? Saya masih kelas tiga SD ketika dipaksa nasib harus bekerja mencari uang sendiri. Dua tahun setelah itu, ketika kelas lima SD, saya bahkan menjalani pekerjaan yang lebih berat, bahkan lebih berbahaya, di jalanan. Saya masih kecil, waktu itu—kelas lima Sekolah Dasar—dan harus berjuang menyabung nyawa di tengah kekerasan jalanan, demi bisa mendapat uang.

Di manakah pemerintah waktu itu? Dan di manakah kalian, yang sekarang asyik berceloteh tentang hak-hak anak, tentang eksploitasi anak, dan tetek bengek lain? Di mana? Akhirnya, ketika saya harus mati-matian bekerja mencari uang di jalanan, padahal waktu itu saya masih anak-anak, siapakah sebenarnya yang telah mengeksploitasi saya?

Jika kita mau berpikir secara luas dan mendalam, pihak yang paling bersalah dalam hal ini adalah masyarakat. Khususnya masyarakat yang hobi nyinyir bertanya “kapan kawin?” dan “kapan punya anak?” Jika kita harus mengacungkan jari untuk menunjuk pihak yang bersalah, merekalah tertuduh yang paling bersalah!

Ada banyak orang yang terpaksa menunda menikah, karena menyadari kondisinya yang belum mampu. Tapi masyarakat tidak peduli, dan terus nyinyir bertanya, “Kapan kawin?” Karena tidak enak hati terus menerus menghadapi tekanan masyarakat, orang-orang itu pun terpaksa menikah, dengan harapan tidak lagi dinyinyiri.

Tapi masyarakat hobi nyinyir. Setelah orang-orang itu menikah, mereka bertanya lagi, “Kapan punya anak?” Lagi-lagi, dengan terpaksa akibat tekanan masyarakat, orang-orang itu pun melahirkan anak. Setelah punya satu anak, masyarakat nyinyir lagi, “Kapan nambah anak?” Dan itulah awal mula lahirnya anak-anak telantar, akibat keluarga dililit kemiskinan dan kemelaratan.

Tajudin di Bandung hanyalah contoh kasus. Di luar Tajudin, ada banyak hal serupa yang melilit dan membelit orang-orang lain, anak-anak lain, keluarga-keluarga lain. Mereka yang menikah tanpa persiapan, mereka yang memiliki anak-anak tanpa kematangan berpikir.

Karena itu pula, di dunia nyata maupun di dunia maya, saya tidak pernah berhenti marah kepada siapa pun yang suka mengompori dan memprovokasi orang-orang lain untuk cepat menikah, cepat punya anak, sambil ngibul mengatakan bahwa menikah pasti bahagia, punya anak pasti lancar rezeki, dan tetek bengek lain. Bagi saya, semua itu kebohongan, dusta, dan penipuan! Orang-orang itulah yang paling bersalah, dalam kasus Tajudin, maupun dalam kasus mana pun yang mirip Tajudin!

Terkait kasus Tajudin, saya berharap dia dibebaskan dari tuduhan kejahatan yang tidak dilakukannya. Dia orang lugu yang hanya berpikir membantu saudaranya, mengajak kerja keponakannya, dengan pekerjaan sederhana. Anak-anak yang bekerja jualan cobek itu pun bekerja tanpa paksaan, tanpa kekerasan, bahkan keikutsertaan mereka dengan Tajudin atas permintaan orangtuanya.

Jika memang Tajudin dinilai telah mengeksploitasi anak, saya pikir menghukum Tajudin bukan langkah bijak. Karena jika hal itu yang dilakukan, maka yang menjadi korban bukan hanya Tajudin, melainkan juga istri dan anak-anaknya.

Jadi, lebih baik bebaskan Tajudin, dan biarkan dia kembali bekerja mencari nafkah seperti biasa. Sementara anak-anak yang dinilai telah dieksploitasi, kembalikan pada orangtuanya. Jika anak-anak itu seharusnya masih sekolah, katakan itu pada orangtua mereka! Jika mereka tidak mampu menyekolahkan, sampaikan hal itu pada pemerintah. Karena konon katanya orang miskin dan anak telantar dipelihara pemerintah.

Akhirnya, hei masyarakat, berhentilah menyuruh-nyuruh dan memprovokasi orang lain cepat menikah, cepat punya anak, dan tetek-bengek lain yang biasa kalian ocehkan. Kalian tidak tahu bahwa ocehan yang mungkin terkesan ringan itu bisa melahirkan dampak yang besar sekaligus mengerikan. Yaitu lahirnya anak-anak telantar akibat orangtuanya menikah tanpa persiapan matang.

Untuk setiap perkawinan yang rusak, untuk setiap keluarga yang berantakan, untuk setiap anak yang telantar, kalian ikut menanggung dosa dan kesalahan. Dan itulah dosa paling mengerikan, yaitu merusak kehidupan orang lain, merusak kehidupan anak-anak, merusak kehidupan manusia.

Karena itu, tutuplah cocot kalian. Demi Tuhan, tutuplah cocot kalian!

Dosa Paling Mengerikan (1)

Dunia tidak punya masalah, karenanya tidak perlu diubah. Yang 
punya masalah adalah manusia. Merekalah yang seharusnya berubah.


Dua anak lelaki, masing-masing berusia 13 dan 14 tahun, berjualan cobek di pinggir jalan, di komplek Villa Melati Mas dan BSD City, Serpong, Tangerang Selatan. Keberadaan dua anak yang menjual cobek itu menjadi awal petaka bagi Tajudin, lelaki berusia 41 tahun, yang tak menyangka niat baiknya berujung tuduhan kejahatan.

Tajudin adalah warga Kecamatan Padalarang, Bandung Barat, Jabar. Pada 2005, dia datang ke Tangerang, dan berjualan cobek yang diproduksi warga di desanya, Kampung Pojok, Desa Jaya Mekar, Kecamatan Padalarang. Sejak tiga tahun yang lalu, Tajudin mengontrak rumah petak yang ia huni bersama kerabat satu kampung, yang juga jualan cobek. Setiap pagi, Tajudin mengantar cobek ke pasar, atau menjual secara eceran dengan berkeliling dari rumah ke rumah.

Selama waktu-waktu itu, Tajudin tidak mengalami masalah apa pun. Dia lelaki yang bekerja mencari nafkah dengan cara halal, berusaha menghidupi anak dan istrinya yang ada di Bandung. Setiap 15 hari sekali, Tajudin pulang ke Bandung bersama kerabatnya yang mengontrak di Tangerang. Biasanya, Tajudin membawa uang untuk istri dan anaknya sekitar Rp500.000 hingga Rp700.000 jika dagangannya laris. Setelah itu, ia kembali ke Tangerang sambil membawa cobek untuk dijual.

Sampai kemudian, pada 2015, ada dua anak lelaki dari desanya (tetangga Tajudin), yang ingin ikut ke Tangerang. Dua anak lelaki itu DD (13 tahun) dan CN (14 tahun), dan merupakan keponakan Tajudin. Dua bocah itu putus sekolah. Orangtua mereka menitipkan keduanya kepada Tajudin, untuk belajar mencari uang dan agar tidak menganggur. Dengan itikad baik, Tajudin menerima permintaan itu, dan DD bersama CN ikut bersamanya ke Tangerang.

Di Tangerang, DD dan CN ikut tinggal di rumah kontrakan yang ditinggali Tajudin dan kerabatnya. Mereka hidup bersama di rumah petak itu, saling berbagi satu sama lain. Kepada harian KOMPAS, Tajudin menceritakan, “Kami patungan untuk membayar sewa kontrakan, tergantung siapa yang punya uang. Uang mereka (DD dan CN) biasanya untuk diberikan kepada orangtuanya, paling mereka hanya mengambil untuk jajan.”

Selama tinggal di Tangerang bersama Tajudin, DD dan CN ikut berjualan cobek, sebagaimana yang dilakukan Tajudin dan kerabatnya selama ini. Sebagai anak-anak putus sekolah, dua bocah lelaki itu telah mematuhi keinginan orangtua mereka, yaitu “belajar mencari uang dan agar tidak menganggur”.

Semula, segalanya berjalan tanpa masalah. Tajudin yang lugu berpikir dia telah membantu saudaranya, dengan memberi kerja anak-anak mereka yang kebetulan putus sekolah. DD dan CN—anak-anak yang bekerja menjual cobek—juga menjalani aktivitas itu tanpa paksaan Tajudin. Keberadaan mereka bersama Tajudin pun atas permintaan orangtua. Tetapi, ternyata, pemerintah Indonesia punya pikiran lain.

Pada 20 April 2016, Tajudin tiba-tiba ditangkap polisi di Jalan Raya Perumahan Graha Raya, Bintaro, pukul 22.00. Ia dituduh telah melakukan perdagangan manusia dan mengeksploitasi anak-anak. Tajudin pun ditahan hingga 9 bulan selama proses hukum, dan kasusnya disidangkan di Pengadilan Negeri Tangerang.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Tangerang, dua anak lelaki yang jualan cobek mengatakan kepada Hakim bahwa mereka tidak dipaksa untuk berjualan. Majelis hakim yang dipimpin Syamsudin pun kemudian menjatuhkan vonis bebas kepada Tajudin, pada Kamis, 12 Januari 2017.

Vonis bebas itu dilandasi sisi sosiologis bahwa anak-anak itu harus bekerja untuk membantu orangtua, dan Hakim memandang bahwa hal itu seharusnya menjadi tanggung jawab negara. Fakta bahwa Tajudin mengajak dua anak itu bekerja tidak bisa disebut sebagai eksploitasi, mengingat hal itu tanpa paksaan, tanpa kekerasan, bahkan dilatari permintaan orangtua anak-anak tersebut.

Meski begitu, kasus yang melilit Tajudin belum bisa dibilang selesai. Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang mengajukan kasasi ke MA, untuk membatalkan keputusan Hakim yang telah membebaskan Tajudin.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Kabupaten Tangerang, Pradana Probo Setyarjo, menyayangkan putusan Hakim PN Tangerang yang membebaskan Tajudin. Dia menilai, pengadilan seharusnya bersama-sama menyelamatkan anak-anak demi masa depan mereka. Menurutnya, hal seperti ini tidak bisa dibiarkan. Dia tetap berkeyakinan Tajudin bersalah.

“Seharusnya anak-anak yang masih usia sekolah menjadi tanggung jawab kita-kita semua agar anak-anak bisa sekolah, bukan menyuruh anak-anak bekerja,” ujar Pradana Probo Setyarjo. “Sangat biadab tindakan tersebut, memanfaatkan anak-anak untuk kepentingan ekonomi. Bisa Anda bayangkan kalau anak tersebut adalah anak Anda.”

Sementara itu, Ninik Rahayu, pakar hukum di Bidang Perdagangan Orang, yang juga hadir dalam pengadilan Tajudin di PN Tangerang, mengatakan bahwa Tajudin telah mengeksploitasi anak-anak (DD dan CN). “Ini kan kejam sekali,” ujar Ninik. “Keduanya (DD dan CN) masih di kategori usia sekolah.”

Hal senada juga dikatakan oleh Herlina Mustika Sari, Kepala Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Tangerang Selatan. Ia mengatakan, “Anak-anak di bawah 18 tahun belum cukup dewasa untuk menentukan pilihan. Karena itu, meski mereka memilih untuk tidak melanjutkan sekolah, orang dewasa sudah seharusnya mengarahkan mereka untuk tetap bersekolah. Kedua anak masih usia wajib belajar, dan seharusnya duduk di bangku SMP.”

Jadi, setelah menjadi tahanan 9 bulan selama menjalani proses hukum, dan kemudian diputus bebas oleh pengadilan, Tajudin masih harus menghadapi kemungkinan akan kembali dihadapkan ke pengadilan untuk kasus yang sama.

Terus terang, saya bingung campur miris membaca berita tersebut. Jika mengikuti kronologi dan memahami fakta-fakta yang terjadi, yang kita hadapi terkait kasus ini sebenarnya bukan sekadar Tajudin dan tuduhan eksploitasi anak, tapi juga lingkaran setan yang mengerikan, kenaifan dalam memahami realitas, serta rusaknya kehidupan manusia.

Mari kita mulai dari awal lagi, dan lihat apa yang sebenarnya terjadi di sini.

Tajudin adalah seorang lelaki, seorang suami, yang bekerja dengan cara berjualan cobek. Ia membawa cobek yang diproduksi tetangganya di Bandung, dan menjualnya di daerah Tangerang. Hasilnya tidak banyak. Namun setidaknya, dari usaha itu, ia bisa menafkahi istri dan anaknya di Bandung. Setengah bulan sekali, Tajudin pulang menemui istri dan anaknya, menyerahkan uang yang mungkin tak seberapa, lalu kembali ke Tangerang dengan membawa cobek-cobek untuk dijual kembali.

Lalu saudaranya menitipkan dua anaknya (DD dan CN) agar ikut bekerja bersama Tajudin. DD dan CN adalah dua keponakan Tajudin yang putus sekolah. Orangtuanya sendiri yang menitipkan dua bocah itu kepada Tajudin, dengan alasan “agar bisa belajar mencari uang, dan biar tidak menganggur”.

Menghadapi permintaan seperti itu dari saudaranya sendiri, kira-kira apa yang harus dilakukan Tajudin? Sebagai lelaki lugu yang mencari nafkah dengan cara sederhana, Tajudin tentu tidak sempat memikirkan “eksploitasi anak” dan semacamnya. Yang ada dalam pikirannya, tentu, apa salahnya menolong saudara sendiri dengan mengajak kerja dua anaknya?

Maka, Tajudin pun mengajak dua keponakannya ke Tangerang. Karena nyatanya Tajudin di Tangerang berjualan cobek, maka dua keponakannya pun ikut bekerja jualan cobek. Tajudin berpikir telah menolong dua keponakannya. DD dan CN berpikir telah bisa membantu orangtua dengan mulai bekerja. Sementara orangtua DD dan CN mungkin senang, karena anaknya yang putus sekolah kini mulai bisa menghasilkan uang.

Jadi, jika pemerintah—dan orang-orang yang disebut “pakar”—menganggap Tajudin bersalah, saya ingin sekali tahu... di mana letak salahnya?

Lanjut ke sini: Dosa Paling Mengerikan (2)

Perkawinan dan Hukum Alam

Aku sulit percaya pada hal-hal yang melanggar hukum alam, meski banyak orang mati-matian berusaha meyakinkan.

Sesekali, hukum alam memang bisa berubah, tapi insidental. Jika ada banyak orang bisa melanggar hukum alam terus menerus, itu pasti bohong.

Dalam satu sekolah, ada murid yang pintar, ada pula yang tidak. Itu hukum alam. Jika semua murid pasti pintar, itu melanggar hukum alam.

Di kampus, ada mahasiswa yang senang kuliah, ada pula yang tidak. Itu hukum alam. Jika semua senang kuliah, itu justru melanggar hukum alam.

Jika kita melemparkan 10 biji mangga ke tanah, paling cuma 3 atau 5 yang tumbuh. Itu hukum alam. Sulit kalau mengharapkan bisa tumbuh semua.

Satu-satunya hukum di dunia yang tak bisa dilanggar hanya hukum alam. Karena melanggar hukum alam sama artinya berbohong. Percuma.

Kenapa aku tak pernah percaya kalau semua orang yang menikah pasti bahagia, tenteram, damai, lancar rezeki? Karena itu melanggar hukum alam!

Jangan buang waktu membohongiku untuk percaya pada sesuatu yang melanggar hukum alam. Karena sengotot apa pun, aku tidak akan percaya.

Ada orang yang menikah dan bahagia, tapi ada pula yang tidak. Itu hukum alam. Kalau pasti bahagia semua, itu justru melanggar hukum alam.

Ada yang berkeluarga dan rezeki jadi lancar. Tapi tentu tidak semua. Kalau berkeluarga lalu rezeki lancar semua, itu melanggar hukum alam.

Dalam hidup, segalanya berpasangan. Begitu pula perkawinan. Ada yang bahagia, ada pula yang tidak. Itulah hukum alam. Tidak usah bohong.

Konyol adalah mengakui keberadaan hukum alam, tapi ngotot mengatakan semua orang menikah pasti bahagia. Itu justru melanggar hukum alam.

Menyatukan satu pria dan satu wanita dalam satu rumah akan menghasilkan banyak kemungkinan. Naif kalau mengatakan hasilnya pasti sama semua.


*) Ditranskrip dari timeline ‏@noffret, 6 November 2017.

 
;