Kamis, 20 Juli 2023

Kelihatan Miskin, Kelihatan Kaya

Mending kelihatan miskin tapi kaya, daripada sebaliknya, ya? Setidaknya, menurutku begitu.

"Kelihatan kaya" itu beban sosialnya tinggi. Kalau beneran kaya sih gak masalah. Tapi kalau "cuma kelihatan kaya", itu bisa bermasalah. Aslinya gak punya duit, tapi orang-orang ngira kita kaya, lalu berharap macam-macam.

Lebih enak kelihatan miskin—atau kelihatan biasa-biasa aja, dah—tapi aslinya kaya-raya, duit banyak, gak pusing mikir utang atau aneka tagihan. Orang semacam itu gak butuh tipu-tipu di Instagram, karena memang gak butuh pengakuan. Intinya dia kaya, itu aja.

Omong-omong, kelihatan kaya dan bener-bener kaya itu "rasanya" beda, lho. Orang yang cuma kelihatan kaya, bagaimana pun punya kekhawatiran, khususnya dalam urusan uang. Sementara orang yang benar-benar kaya gak punya kekhawatiran semacam itu. Wong memang asli kaya.

Begitu pun kelihatan miskin dan benar-benar miskin, "rasanya" juga beda. Orang yang benar-benar miskin bisa merasa terhina kalau diejek miskin. Sementara orang yang cuma tampak miskin, bisa menertawakan ejekan semacam itu. Wong aslinya dia kaya! Diejek miskin itu kayak lelucon.

Untuk membuktikan "tesis" ini, caranya mudah.

Masuklah ke mall dengan penampilan mewah. Kalau dompet kita lagi bokek, rasanya gak nyaman, karena kita tahu gak akan bisa beli apa-apa. Penampilan semewah apa pun gak bisa menolong. Yang ada malah batin tertekan, karena bokek.

Tapi kalau kita benar-benar kaya, masuk ke mall dengan penampilan gembel sekalipun gak masalah. Rasanya tenang, nyaman, dan bahagia, karena kita tahu bisa membeli apa pun yang kita inginkan di mall. Dalam hal ini, penampilan bisa dibilang tak berfungsi apa-apa.

Sayangnya, kita hidup di zaman ketika Instagram menjajah peradaban, dan tiap orang merasa butuh punya "etalase" untuk pamer. Masalah terjadi, ketika kita gak punya sesuatu untuk dipamerkan. Akibatnya, sebagian orang terpaksa berbohong demi tampak kaya, bahkan mewah.

Fenomena Instagram ini, dalam skala lebih luas, khususnya di dunia nyata, sebenarnya telah menimbulkan masalah. Orang-orang ingin tampak kaya dan kelihatan mewah, bahkan glamor, karena berpikir dunia menuntut mereka begitu. Padahal diri mereka sendiri yang menuntut begitu.

Di sisi lain, ada banyak orang yang kemudian menilai orang-orang lain berdasarkan penampilannya, akibat penetrasi dan pengaruh Instagram yang begitu kuat. Orang bisa diremehkan bahkan dihina, hanya karena terlihat miskin—padahal bisa jadi kaya-raya. Dan begitu juga sebaliknya.

Ngoceh soal ini mengingatkanku pada peristiwa tempo hari, yang beritanya bahkan sempat viral di medsos. Tentang pria bernama Zainal Abidin, yang merupakan salah satu miliuner di Malaysia. Dia kaya-raya, tapi suka berpenampilan sederhana, di antaranya pakai sandal jepit.

Tempo hari, dia masuk toko tas Louis Vuitton, dan pegawai toko memperlakukannya dengan hina, meremehkannya karena penampilan Zainal "tidak meyakinkan"; berpenampilan sederhana, dan cuma bersandal jepit. (Sebenarnya dia naik Lamborghini, omong-omong).

Karena perlakuan tidak mengenakkan itu, Zainal lalu membeli tas di sana, yang harganya lebih dari Rp100 juta, dan dengan santai merusaknya dengan gunting, di depan pegawai yang menghinanya tadi. 

Peristiwa ini viral di medsos, dan kalian bisa mencari sendiri videonya.

"Don't judge a book by its cover," kata pepatah terkenal. Tapi Instagram mengubahnya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Desember 2020.

Ingin Jadi Mas-mas Biasa

Ingin jadi mas-mas biasa aja. Apppeeeuuuhh...


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Oktober 2021.

Curhat Nggak Jelas

Tadi sudah rencana mau tidur sore-sore. Jadi, jam 12 udah masuk kamar, siap menyambut mimpi indah. 

Tapi hampir dua jam gelisah nggak bisa tidur. Mikir macam-macam, dan mata yang udah ngantuk jadi terbuka lebar. Nggak bisa tidur! 

Nggak tahan gelisah, akhirnya keluar kamar, bikin minum, ngerokok, nyalain laptop, buka Twitter, dan nge-tweet curhat nggak jelas ini.

Sampai kapaaaaaaaaaaaaaaaaan hidup nggak jelas gini? Siang jadi malam, malam jadi pagi. Insomnia, oh insomnia! 

Dan aku pun menyulut rokok lagi. Menunggu kantuk atau subuh. Entah mana dulu yang akan datang. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16-17 September 2012.

Aku Suka Berpikir Sederhana

Ini yang kupikirkan, dan selalu kulakukan. Di dunia nyata, maupun di dunia maya. Jika aku tertarik pada seorang wanita, aku akan mendekatinya—sekali, dua kali—dengan baik dan sopan. Jika dia tidak merespons, artinya dia tidak tertarik, dan aku akan berhenti. Selesai.

Ketika mendekati wanita, banyak pria yang mengalami perangkap psikologis klise; ego defense mechanism; mengira sikap negatif wanita sebagai kepura-puraan, lalu berusaha mati-matian mendekatinya lagi, lagi, dan lagi, dan percaya bahwa kelak wanita itu akan luluh.

Sebagai pria, aku lebih suka berpikir sederhana. Jika seorang wanita tertarik, dia akan tertarik. Jika seorang wanita tidak tertarik, dia tidak tertarik. Selesai. Tanpa drama macam-macam, tanpa fafifu wasweswos seperti adegan sinetron. Hidup sudah rumit, tak perlu dibikin rumit.

Mungkin sebagian wanita memang suka main drama; bertingkah tidak tertarik padahal sebenarnya tertarik. Well, itu risiko dia. Pria menghadapi risiko penolakan ketika mendekati wanita. Dan wanita menghadapi risiko “salah sikap” saat merespons pendekatan pria. It’s fair.

Maksudku, wanita perlu tahu bahwa sikap jinak-jinak keparat—maaf, jinak-jinak luwak—mungkin memang berfungsi saat dimainkan pada sebagian pria, tapi itu tidak akan berfungsi untuk sebagian yang lain. Karena tidak semua pria punya waktu selo untuk bermain drama.

Nyatanya memang ada pria yang menyukai sikap jinak-jinak merpati ala wanita—biasanya pria yang memang punya banyak waktu luang untuk hal-hal semacam itu. Tapi bukan berarti semua pria pasti begitu. Karenanya, “semua pria sama saja” itu salah sejak dalam pikiran.

Jadi Mikir

Jadi mikir. Kalau aku kopdar sama orang, kira-kira dia ekspektasinya gimana, dah. Foto gak ada, chat sama orang nyaris gak pernah. 


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 September 2020.

Kakean Acara

Urip kok isine acara.

Lembut Saat Ditelan

Berbukalah dengan sesuatu yang lembut saat ditelan. #Appeeuuuhh

Misalnya... cincau.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 21 Mei 2019.

Menangis di Warung Mi Ayam

Tadi siang masuk warung mi ayam, berharap bisa mengganjal perut kelaparan dengan sajian mi ayam yang enak.

Ketika mi ayam disuguhkan, ternyata cuma mi instan yang direbus dan diberi kuah hitam, potongan sawi hijau, dan sedikit potongan ayam.

Jiwa bocahku menangis, "Opo maneh iki?"


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 Oktober 2021.

Sihir Makeup

Pada satu titik tertentu, kemampuan "sihir" makeup benar-benar mampu membuatku bergidik.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 29 Agustus 2021.

Growing

Like any other living, growing thing, love requires effort to keep it healthy.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 11 Januari 2012.

Senin, 10 Juli 2023

Catatan dari Beberapa Bulan Lalu

Tak terasa, sebulan sudah aku meninggalkan rumah. Di sini, aku menempati sebuah rumah sebagai basecamp, dan suasananya sangat nyaman. Hening, sunyi, tidak ada suara-suara bising yang mengganggu. Kondisi ini benar-benar sempurna untuk bekerja dan berpikir sepanjang hari.

Kadang-kadang aku keluar rumah, entah siang atau malam hari, untuk berbagai keperluan, dan sangat jarang ketemu tetangga. Suatu sore, aku keluar karena ada penjual bakpao lewat depan rumah, dan kebetulan waktu itu ada dua tetangga—semua pria—yang juga keluar rumah.

Sebagai bentuk keramahan, karena kami baru ketemu waktu itu, kami bertiga lalu makan bakpao sambil ngobrol. Dari mereka, aku tahu kalau orang-orang di kompleks ini punya kesibukan sendiri-sendiri. Siang bekerja di luar, dan pulang kerja sudah lelah hingga istirahat tenang di rumah.

Sebenarnya, aku memang sudah menduga begitu. Pagi-pagi sekali, aku selalu mendengar suara kendaraan—motor atau mobil—yang tampaknya membawa pemiliknya ke tempat kerja, dan biasanya mereka baru pulang sore atau menjelang malam. Karenanya, tempat ini selalu sepi dan tenang.

“Kami jarang berinteraksi dengan tetangga,” kata salah satu pria yang mengobrol denganku. “Meski begitu, kekerabatan di sini sangat baik. Kalau ada tetangga yang punya hajat, misalnya, kami saling bantu. Sebulan sekali, kami juga punya acara pertemuan antartetangga.”

Lalu pria satunya menimpali, “Sebenarnya, kami memang sengaja menciptakan kondisi seperti ini—sebisa mungkin tidak sering berinteraksi antartetangga—untuk meminimalkan kemungkinan gesekan. Bertemu sebulan sekali lebih baik, daripada berinteraksi setiap hari.”

Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan itu, dan memahami sepenuhnya maksud mereka. Penjelasan itu juga membuatku paham kenapa anggota keluarga yang di rumah—yang tidak berangkat kerja—juga tampaknya sangat jarang keluar rumah untuk ngerumpi dengan tetangga.

Waktu kutanya apakah mereka nyaman tinggal di lingkungan ini, mereka tampak tersenyum. “Nyaman sekali!” kata salah satu dari mereka. 

Lalu satunya menimpali, “Kami justru pindah ke tempat ini karena memang ingin mendapatkan suasana tenang tanpa keributan apa pun.”

Karena tertarik, aku tanya bagaimana mereka bisa menciptakan lingkungan seperti ini, dan salah satunya menjelaskan, “Kami mungkin beruntung, karena yang tinggal di sini rata-rata berusia sama—tidak ada yang jauh lebih tua atau jauh lebih muda—jadi semua orang merasa setara...”

“Kemudian,” lanjutnya, “semua orang yang tinggal di sini juga berpendidikan, dan masing-masingnya punya pekerjaan serta kesibukan. Dengan latar belakang seperti itu, kami jadi lebih mudah saat berkomunikasi, karena satu sama lain bisa saling memahami dengan baik.”

Sekali lagi aku mengangguk-angguk, dan membayangkan betapa ideal kehidupan yang “tanpa sengaja” mereka ciptakan. Semua orang berusia rata-rata sama, sehingga tidak ada yang sok tua. Semua orang juga berpendidikan (beradab), sehingga tidak ada yang suka nyinyir pada tetangga.

Semua orang juga punya kesibukan sendiri-sendiri, sehingga tidak ada waktu luang untuk nongkrong atau ngerumpi. Dengan sistem kehidupan semacam itu, pantas kalau semua orang merasa tenang, tenteram, dan bahagia. Karena, sebagaimana kata Sartre, “L'enfer, c'est les autres.”

Kelas Menengah Ngehek

Harga seporsi mi tek-tek naik seribu rupiah, mulai malam ini. "Maklumlah, Ramadan," kata penjualnya tadi, saat menjelaskan kenaikan harga.

Dan aku hampir yakin, kelak—setelah Ramadan dan lebaran jauh berlalu—bahkan sampai kiamat sekali pun, harga itu tidak akan pernah turun.

"Lhah, paling naik seribu perak aja ribut!"

Jangan salah paham. Esensi yang kupersoalkan bukan nominalnya, tapi dampak yang ditimbulkan oleh datangnya Ramadan dan lebaran terhadap kaum dhuafa—pihak yang seharusnya bersuka cita dengan datangnya lebaran, tapi malah kian tercekik.

Kalau yang kupersoalkan adalah kenaikan harga, tentu aku akan meributkan harga tiket pesawat yang naik gila-gilaan. Tapi tidak, karena memang bukan itu yang kupersoalkan. Tiket pesawat tidak menyentuh kehidupan langsung kaum dhuafa, dan konsumennya punya daya untuk menentang.

Kalau kau naik Lamborghini, bahkan pengamen jalanan tidak berani mendekati mobilmu. Tapi kalau kau naik bus kota, pengamen bahkan bisa menodongkan pisau ke dadamu. Itu ilustrasi mudah kenapa yang satu bisa dibiarkan, tapi yang satu lagi patut dipikirkan [dan dibantu] hak-haknya.

Di lingkungan tempat tinggalku, ada banyak orang yang mendapat upah Rp30-40 ribu per hari. Mereka tidak peduli harga tiket pesawat yang semahal setan, tapi mereka mengeluh dan merasa teraniaya dengan harga makanan sehari-hari yang selalu naik tiap Ramadan dan lebaran datang.

Orang-orang yang tidak pernah miskin memang sering kali sulit memahami seperti apa rasanya menjadi miskin—terdesak oleh hidup, tercekik kenyataan pahit. Persis seperti orang-orang miskin yang juga tidak percaya ketika diberitahu bahwa sebiji sekrup Lamborghini harganya 3 juta.

Mungkin itu pula kenapa muncul istilah "kelas menengah ngehek". Karena yang suka "ngehek" memang cuma kelas menengah—miskin tidak pernah, tapi kaya juga tidak! Akibatnya sulit berempati pada orang-orang miskin, tapi juga tidak tahu seperti apa menjadi kaya. Dasar ngehek!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 14 Mei 2019.

Pantun Mbakyu

Lihat tagar #PantunPuasa, jadi iseng ingin ikutan.

Siang-siang kangen mbakyu
Tapi gak tahu gimana ngomongnya
Lalu ingat gak punya mbakyu
Mbuh ini pantun apa


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 Mei 2019.

Wong Edan

Wayahe wong turu, malah gemboran.

Uyah Ngguyu

Kalau lagi jalan-jalan santai, saya kadang mendapati tulisan atau grafiti di dinding pinggir jalan, yang biasanya dibuat menggunakan cat semprot. Biasanya pula, saya memperhatikan tulisan itu, tanpa alasan apapun.

Suatu waktu, saya mendapati tulisan atau grafiti, yang tereja “Uyah ngguyu”. Karena tidak yakin, saya sempat memperhatikan cukup lama, dan tulisan itu memang berbunyi “Uyah ngguyu”. 

Maksudnya gimana ini, pikir saya sambil berusaha memahami kata itu.

Dalam bahasa Jawa, uyah berarti garam, dan ngguyu berarti tertawa. Kalau kata tadi diartikan bersama, “uyah ngguyu” artinya “garam tertawa”. Maksudnya gimana, ya?

Sampai sekarang, kadang-kadang saya masih teringat tulisan atau grafiti itu.

Andub

Ternyata andub.

Don’t Grieve

Don’t grieve. Anything you lose comes round in another form. —Rumi


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 27 Mei 2019.

Mendung tapi Panas

Cuacanya agak mendung, tapi udaranya masih panas.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 1 November 2019.

Seger Banget

Orang yang ava-nya seger banget itu fotonya pas habis mandi, apa gimana? Emesh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 2 November 2019.

Waduh

Waduh, aku telanjur ngoceh padahal belum mandi.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 November 2019.

Sabtu, 01 Juli 2023

Wanita Tercantik di Dunia

Dilraba Dilmurat itu nama unik. Kayaknya cuma dia satu-satunya di dunia yang punya nama itu.

Omong-omong soal Dilraba Dilmurat, aku teringat sesuatu.

Di salah satu tempat di Afrika, ada budaya unik terkait lamaran perkawinan. Ketika seorang pria melamar wanita yang akan dinikahinya, dia harus mengirim sejumlah kerbau. Jika tidak bisa kerbau, kambing atau sapi juga bisa.

Dalam budaya di tempat itu, jumlah kerbau yang dikirim biasanya tergantung pada kecantikan si wanita yang akan dinikahi. Semakin cantik si wanita, semakin banyak kerbau yang akan dikirim pihak pria. Umumnya, para wanita di sana mendapat 2 sampai 20 kerbau saat lamaran.

Lalu, suatu hari, seorang pria jatuh cinta pada seorang wanita di sana. Menurut penduduk setempat, wanita itu tidak cantik, dan mereka membayangkan si wanita hanya akan mendapat 2 kerbau saat lamaran.

Tapi ternyata mereka keliru. Pria yang melamar wanita itu mengirim 200 kerbau.

Penduduk gempar. Wanita tercantik yang mereka kenal, dulu hanya mendapat 20 kerbau. Sekarang, wanita yang mereka anggap tidak cantik justru mendapat 200 kerbau.

Ketika pria yang melamar ditanya kenapa mengirim kerbau sebanyak itu, dia menjawab, “Bagiku, dia wanita tercantik.”

Ketika resepsi perkawinan digelar, penduduk di sana pun berdatangan, akibat kegemparan yang ditimbulkan oleh banyaknya kerbau yang diterima si wanita. Dan rata-rata orang yang datang menyatakan bahwa seumur hidup mereka baru menyaksikan pengantin wanita secantik itu!

Kecantikan wanita itu kini tampak memancar indah, dan mereka takjub. Bagaimana keajaiban itu bisa terjadi? 

Pria yang menikahi wanita itu menyatakan, “Kalau kau memperlakukan seorang wanita seolah dia tercantik di dunia... dia akan menjadi yang tercantik di dunia.”

Kisah itu aku baca di buku Chicken Soup for The Soul, meski tidak ingat apa judulnya. Tapi aku selalu mengingat kisahnya, dan pelajaran yang tersembunyi di sana.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 September 2021.

Yang Aneh dari Hati

Yang aneh dari hati, ia sering menginginkan yang jauh, dan mengabaikan yang bisa direngkuh.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 September 2012.

Hal Terakhir

Mungkin memang pahit. Tapi nyatanya banyak cinta yang memudar karena jarak, dan banyak cinta yang tumbuh karena kebersamaan. Selain nasi lembek yang lengket dan menggumpal, LDR adalah hal terakhir yang kuinginkan.

Jiwa yang Lelah

Jiwa yang lelah menangis hanya merindukan senyuman.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 April 2012

Senyum dan Tangis

Sungguh mudah mengubah senyum menjadi murung, mengubah tawa menjadi tangis. Sayangnya, tak mudah pula untuk membalikkannya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Inilah Pagi

Kemudian, dengan setengah hati, aku berkata pada diri sendiri, "Inilah pagi."


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 September 2012.

Ingin Sahur

Ingin sahur dengan yang putih-putiiiiiiiiiiihhhh... #Apeuuuuhhh #Emesssshhh

Oke, fix, sahur nasi uduk.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 Mei 2019.

Prelude: Ziana Fazura

Di Twitter ini, ada dua orang yang benar-benar identik, dengan semua ciri yang benar-benar serupa, sampai sifat/karakter yang mereka tunjukkan lewat tweet pun sama! Yang pertama menggunakan nama akun Ziana Fazura, satunya lagi... coba tebak? Kalian (pernah) sangat mengenalnya!

Akun pertama pernah populer, sampai hampir kesandung masalah besar, hingga dia ketakutan dan menghapus semua tweet-nya, dan sekarang mengunci akunnya. Sejak itu pula dia menggunakan akun Ziana Fazura. Tapi karakter dan "sidik tweet" tidak bisa berbohong. Dia orang yang sama!

Kenapa aku punya perhatian khusus soal ini? Karena Ziana Fazura (dan alter egonya) adalah keping puzzle yang selama ini aku cari-cari terkait salah satu kasus yang sangat membingungkan, yang selama ini kupikirkan jawabannya. Begitu aku menemukan akunnya, akhirnya aku pun paham.

Dan siapakah alter ego Ziana Fazura? Juga kasus apa yang terkait dirinya? Mungkin besok aku jelaskan, kalau selo. Sekarang aku mau tidur.

Update: Penjelasannya bisa dibaca di sini: Ziana Fazura dan Siapa Dia Sebenarnya


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 Agustus 2019.

Dua Pola Pikir

Ada orang yang menjalani kehidupan dengan berpikir untuk hari ini, titik. 

Ada pula orang yang menjalani kehidupan dengan berpikir untuk hari ini, dan hari esok (masa yang akan datang). 

Itu dua pola pikir yang mungkin terkesan biasa saja, tapi menimbulkan banyak sekali perbedaan.

Membawa Botol Kosong

Di pagi buta, seseorang melangkah sambil membawa botol kosong.

Entah apa, entah siapa.

 
;