Sabtu, 20 Mei 2023

Sak Penake Dewe

Ada orang pacaran, cuma duduk berduaan, orang-orang ribut, lalu menggerebek. Alasannya, “Itu urusan masyarakat!” 

Ada suami istri terlibat KDRT, masyarakat pura-pura budeg. Alasannya, “Itu urusan pribadi, masalah keluarga!” 

Itu namanya sak penake dewe.

Ada lajang dikompori dan dinyinyiri agar cepat kawin. Alasannya, “Menikah akan membuatmu bahagia.” 

Lalu si lajang menikah, tapi ternyata hidupnya malah sengsara. Waktu dikomplain, jawabannya, “Ya namanya juga pernikahan.” 

Itu namanya sak penake dewe.

Orang-orang berkata, “Menikah akan melancarkan rezeki.” Lalu para lajang menikah, berharap mudah mendapat rezeki. 

Tapi ternyata hidupnya malah makin susah. Waktu dikomplain, jawabannya, “Namanya rezeki tidak harus berupa uang.” 

Itu namanya sak penake dewe.

Ada suami-istri memilih tidak punya anak dulu, karena belum siap. Malah dikompori, “Tiap anak punya rezeki sendiri.” 

Lalu mereka punya anak, dan hidup makin berat. Waktu dikomplain, jawabannya, “Mungkin takdirnya memang begitu.” 

Itu namanya sak penake dewe.

Banyak orang menyuruh-nyuruh kita segera menikah, dengan berbagai alasan yang terdengar indah dan ndakik-ndakik. Ketika kita mengikuti nasihat mereka, dan ternyata hasilnya terbalik, mereka tidak mau tanggung jawab. Apa namanya kalau bukan sak penake dewe?

Maksud saya begini. Kalau kita menyuruh orang lain melakukan sesuatu dan menjanjikan sesuatu jika dia mau melakukan, kita harus bertanggung jawab memastikan bahwa dia benar-benar mendapatkan yang kita janjikan. Jika tidak, itu namanya kebohongan atau penipuan.

“Lho, yang nikah orang lain, kenapa aku yang harus tanggung jawab? Itu hidup mereka, kan? Kenapa aku yang harus tanggung jawab?” 

Nah, kamu paham bahwa yang akan menikah adalah orang lain. Lalu kenapa kamu merasa punya hak ngerusuhi kehidupan orang lain, sampai menyuruhnya cepat kawin, cepat punya anak, dan lain-lain?

Memilih menikah—terkait kapan, dengan siapa, atau hal-hal terkait dengan itu—adalah bagian dari privasi orang per orang. Kita tidak bisa ngerusuhi hal itu. Bahkan jika mereka meminta pendapat kita, hak kita hanya sebatas memberi pendapat, bukan menyuruh atau mendoktrin.

Memahami privasi orang lain—misal menikah atau tidak, memilih punya anak atau tidak—adalah hal mendasar yang [seharusnya] dipahami orang-orang beradab. Jadi, kita bisa tahu apakah seseorang beradab atau tidak dengan melihat apakah dia ngerusuhi hal itu atau tidak.

Sekadar pengingat, KDRT itu kejahatan, dan pelakunya bisa dipidanakan, dituntut secara hukum. Begitu pun, melanggar privasi orang lain—semisal ngerusuhi kehidupan pribadinya—juga termasuk kejahatan, dan pelakunya bisa dipidanakan, dituntut secara hukum.

Noffret’s Note: Pengetahuan

Pengetahuan membantu kita mengetahui apa yang harus dilakukan, keahlian membantu kita mengetahui bagaimana melakukannya, dan kebijaksanaan membantu kita mengenali mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak perlu dilakukan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 24 Mei 2019.

Tidur Bisa Sangat Paradoks

Apa yang kamu pikirkan saat kamu mencoba untuk tidur?
@VICE_ID


Tidur bisa sangat paradoks. Saat membaringkan diri siang hari di karpet, sekadar ingin meluruskan punggung yang pegal, eh langsung ketiduran. Tapi saat sudah siap tidur di bed malam hari, malah sulit tidur dan mata seperti tak mau terpejam.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 6 November 2020.

Hal Paling Ironis

Hal paling ironis yang kutahu tentang manusia: Ada orang menyakiti orang lain, lalu berharap orang yang disakiti itu akan berbuat baik kepadanya. 

Ya mungkin memang ada orang semacam itu. Tapi yang jelas bukan aku.

Sebagai manusia biasa, aku menerapkan prinsip sederhana: Aku akan memperlakukan orang lain, sebagaimana orang lain memperlakukanku. Kamu baik kepadaku, aku pun baik kepadamu. Kalau kamu menyakitiku, aku akan menandaimu. Sesederhana itu.

Kadang-kadang

Kadang-kadang kita perlu disakiti untuk tahu bahwa disakiti itu sakit, agar kita tidak lagi menyakiti orang lain.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 3 Januari 2012.

Musim Meriang

Kayaknya lagi musim orang meriang.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Mei 2019.

Seperti Pikiranku

Malam Minggu, Ramadan, hampir lebaran, jalan raya semrawutnya seperti isi pikiranku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 25 Mei 2019.

Merindukan yang Dulu

Keponakanku sekarang udah besar, dan aku merindukan saat-saat dia masih kecil dulu, saat masih cadel dan lucu.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 8 Juni 2019.

Mewarnai Masa Remajaku

Baru tahu kalau vokalis Roxette, Marie Fredriksson, meninggal dunia. Lagu-lagunya pernah mewarnai masa remajaku.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 10 Desember 2019.

Tutorial Makeup

Devienna tutorial makeup di YouTube. Tapi dia lebih cantik waktu gak pakai makeup. Lha piye?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 20 November 2019.

Koyo Opo Tok

Iyo.

Rabu, 10 Mei 2023

Ngobrol Film

Dia berkata, “Lihat trailer film-film baru di YouTube, kayaknya bakal ada film-film bagus dalam waktu dekat.”

“Kayaknya,” saya menyahut. “Tapi ‘dalam waktu dekat’ itu bisa aja sangat relatif.”

“Maksudnya?”

“Dari dulu aku nungguin film ‘Extraction 2’. Itu trailernya udah muncul setahun lalu—lebih, malah. Tapi sampai sekarang film itu belum juga muncul.”

“’Extraction 2’ film Netflix, kan?”

“Iya. Nggak sabar banget rasanya. Trailernya udah muncul sejak lama, tapi filmnya nggak juga rilis.”

Dia lalu membuka ponsel, dan mengetik sesuatu. Setelah itu, dia berkata, “Kalau lihat di Google, ‘Extraction 2’ bakal dirilis 16 Juni mendatang. Udah bisa ditunggu, lah.”

“Moga aja.”

“Selain ‘Extraction 2’, film apa lagi yang kamu tunggu?”

“Ada beberapa. Misalnya ‘Equalizer 3’, ‘Meg 2’, ‘Transformer’ yang baru, sampai ‘Fast and Furious’ yang baru, karena ada Jason Statham.”

“Cocok!” Dia tersenyum. “’Sisu’, gimana? Aku nungguin banget film itu.”

“Ah, ya, ‘Sisu’. Itu kayaknya bakal jadi film aksi yang ngasih warna baru. Kalau lihat trailernya, kayaknya berlatar perang.”

Dia lalu menyulut rokok. Saya ikut menyulut rokok. Setelah menikmati asapnya sesaat, saya berkata, “Aku baru tahu kalau film-film India rata-rata punya rating tinggi.”

“Lhah, emangnya dulu nggak tahu?”

“Aku baru ngerti ada rating film tuh setelah kenal IMDB, di internet. Dulu nggak kenal internet, nggak tahu IMDB, jadi juga nggak ngerti ada rating film.”

“Menurutmu, apakah rating film penting buat mutusin untuk nonton film atau nggak?”

“Jujur aja, dulu sebelum ngerti ada rating, aku nonton film asal aja. Asal posternya bagus atau menarik, aku tonton. Atau, asal aktornya favorit, aku juga asal tonton aja. Tapi setelah ngerti rating, aku jadi nonton film dengan mempertimbangkan ratingnya.”

“Kalau ratingnya rendah, kamu malas nonton?”

“Kira-kira gitu.”

“Menurutmu, apakah rating film memang sesuai ekspektasimu? Kalau ratingnya tinggi, apakah kamu pasti puas nonton filmnya?”

“Sebenarnya belum tentu juga, sih. Cuma, rata-rata film yang ratingnya tinggi biasanya emang bagus, dan aku juga puas nontonnya. Meski kadang ada pula film yang ratingnya tinggi, tapi ternyata filmnya biasa aja, atau nggak sesuai seleraku.”

“Kalau film India gimana?”

“Gimana apanya?”

“Kan tadi kamu bilang, rata-rata film India punya rating tinggi. Apakah tingginya rating itu bikin kamu puas nonton filmnya?”

“Aku hampir nggak pernah nonton film India.”

“Kenapa? Kan ratingnya tinggi-tinggi.”

“Masalahnya, rata-rata film India punya durasi sampai tiga jam. Aku kok eman-eman waktunya, kalau nonton film sampai tiga jam. Umumnya film itu satu setengah jam, atau dua jam, lah. Menurutku, durasi segitu udah ideal. Kalau sampai tiga jam, kayaknya kelamaan.”

Dia manggut-manggut, lalu ikut ngaku, “Aku juga nggak pernah nonton film India.”

“Kenapa? Eman-eman waktunya juga?”

“Nggak, bukan gitu. Cuma, aku ngerasa nggak bisa menikmati film kalau dialog di dalamnya nggak pakai bahasa Inggris.”

Saya agak bingung. “Maksudnya gimana?”

“Gini. Kalau film-film Hollywood itu kan dialognya pakai bahasa Inggris. Nah, aku paling cocok kalau nonton film gitu. Bisa menikmati. Tapi kalau film India kan pakai bahasa India atau Tagalog atau apa, lah. Rasanya aku kurang bisa menikmati.”

“Kalau film berbahasa lain, gimana? Maksudku, film Prancis kan berbahasa Prancis. Atau film Spanyol juga berbahasa Spanyol. Apakah kamu juga nggak bisa menikmati?”

“Iya. Intinya film apa aja yang nggak pakai bahasa Inggris dalam dialognya, nggak bikin aku minat. Beberapa kali nonton film gitu—film-film non-Hollywood—dan aku sadar itu film-film bagus. Tapi karena bahasa dialognya bukan Inggris, aku jadi kurang bisa menikmati.”

“Kalau film Indonesia?”

“Kan pakai bahasa Indonesia.”

“Iya. Apakah kamu juga kurang bisa menikmati?”

“Sayangnya iya. Kadang aku penasaran sama film Indonesia yang lagi viral, kan. Terus nonton. Tapi karena nggak pakai bahasa Inggris, aku jadi kurang bisa menikmati.”

Saya mengisap rokok sesaat, lalu berkata, “Kok bisa, ya?”

“Kayaknya, mungkin, karena aku terlalu terpapar film-film Hollywood berbahasa Inggris. Jadinya kalau nonton film yang nggak pakai bahasa Inggris, rasanya jadi kayak aneh, gitu. Kamu sendiri gimana?”

“Kayaknya sama, sih. Hahaha...”

Dia mengisap rokoknya sesaat, lalu bertanya, “Di rumah, biasanya kapan kamu nonton film? Ada jadwal khusus, gitu?”

“Nggak,” saya menjawab. “Biasanya, kalau makan di rumah, aku nonton film sambil makan. Jadi waktunya nggak habis cuma buat nonton film. Atau pas nggak bisa tidur—kadang insomniaku kumat—aku nonton film, daripada gelisah di tempat tidur. Itu rasanya syahdu banget. Dini hari, hening, duduk santai sambil udud, dan menikmati film.”

“Apa film terakhir yang kamu tonton?”

“Film lama, 2007. Judulnya Death Sentence. Dibintangi Kevin Bacon sama Kelly Preston.”

“Pasti film action, ya?”

“Iya. Kisahnya tentang balas dendam seorang ayah yang anaknya terbunuh oleh sekelompok berandal. Menurutku, itu salah satu film terbaik Kevin Bacon.”

“Dari film-film action yang pernah kamu tonton, film apa yang menurutmu paling berkesan?”

“Kayaknya sulit kalau harus menyebut satu dua judul. Karena banyak sekali yang menurutku sangat mengesankan.”

“Sebut aja secara acak. Yang langsung terlintas di pikiranmu.”

“Uhm... mungkin Anna sama The Protege.”

“Alasannya?”

“Anna sama The Protege sama-sama mengisahkan aksi jagoan wanita. Anna diperankan Sasha Luss, aktris Rusia. Sementara The Protege dibintangi Maggie Q, aktris Asia-Amerika. Dua wanita itu sama-sama ramping, bahkan cenderung kurus, tampak feminin... tapi sangat brutal dan mematikan. Puas banget nontonnya.”

Dia tersenyum, lalu bertanya, “Siapa nama tokoh yang diperankan Maggie Q dalam The Protege?”

“Kalau nggak salah ingat, Anna Dutton.”

“Siapa nama tokoh yang diperankan Sasha Luss dalam film Anna?”

“Anna Poliatova.”

“Kok bisa sama-sama bernama Anna, ya?”

Neraka Keburu Membeku

Mau nangis kalau baca yang beginian.


Dan sekarang aku jadi gatal ingin ngoceh.

Sambil nunggu udud habis.

Dua nasihat terkenal terkait kesehatan; makan cukup dan istirahat cukup. Yang disebut makan cukup biasanya 3 kali sehari, atau setidaknya 2 kali sehari. Sementara istirahat cukup adalah tidur 8 jam setiap malam. Kita sepakat nasihat itu baik dan benar. Dan kita ingin mengikuti.

Orang waras mana pun tentu ingin bisa makan cukup, tiga kali sehari—sarapan, makan siang, dan makan malam. Bagi yang lagi diet mungkin dua kali sehari. Sementara bagi yang suka makan, mungkin lebih dari tiga kali. Intinya, kita semua ingin makan cukup, bahkan kalau bisa enak.

Begitu pun istirahat cukup, tidur 8 jam setiap hari. Siapa yang tidak ingin menikmati tidur yang cukup? Kita semua ingin! Sayangnya, makan cukup dan istirahat cukup bisa jadi semacam kemewahan yang tidak terjangkau semua orang, dan hanya sebagian orang yang bisa mendapatkan.

Ada jutaan orang di dunia ini yang hanya makan satu kali sehari, bahkan kadang dengan tak cukup gizi. Bukan karena ingin menentang nasihat kesehatan, tapi karena memang tidak punya uang untuk membeli makan! Dan mereka melakukannya berhari-hari, bahkan bisa jadi bertahun-tahun.

Begitu pun, ada jutaan orang yang tak pernah bisa istirahat cukup. Siang malam terus bekerja membanting tulang. Bukan karena ingin menentang nasihat kesehatan, tapi karena kondisi hidup menuntut mereka begitu. Karena jika mereka tidak begitu, mereka tidak bisa melanjutkan hidup.

Makanlah teratur, istirahatlah yang cukup, hindari stres, rajinlah olahraga, dan semacamnya, dan semacamnya, adalah nasihat kesehatan yang sangat merdu didengar telinga. Sayangnya, tidak semua orang bisa mempraktikkan. Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak mampu.

Menghindari stres adalah keinginan semua orang. Masalahnya, ada jutaan orang yang menjalani kehidupan seperti dalam kutukan. Mereka hidup dalam kekurangan, ditimpa petaka dan masalah, ditikam kebingungan siang dan malam. Dan kita meminta mereka agar tidak stres? Oh, well!

Karena realitas itu, kadang aku berpikir, nasihat kesehatan adalah nasihat yang bias kelas. Karena nasihat-nasihat [yang sebenarnya baik dan benar] itu sering kali—dan lebih masuk akal—diikuti orang-orang kaya, tapi sulit diikuti orang-orang miskin. 

Ada yang bisa membantah?

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, masih panjang sekali, dan neraka keburu membeku. Tapi ududku habis.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 23 Oktober 2021.

Moment Paling Menyedihkan

Sekian waktu lalu, salah satu temanku, Agus Setiawan (biasa dipanggil Agus Bagong), meninggal. Sayang aku terlambat mendengar kabar itu, hingga tak bisa mengantar ke makamnya. Dulu, sebelum menikah, dia sering dolan ke tempatku, dan kami ngobrol sampai larut malam. 

Belakangan dia jadi wartawan di harian Suara Merdeka, dan tak lama kemudian menikah. Sejak itu kami jarang ketemu, karena rumah kami berjauhan—dia tinggal bersama anak dan istrinya di tempat baru. Mendengar kabar dia meninggal, aku merasa sangat kehilangan.

Ada beberapa temanku yang telah meninggal, mereka masih muda, dan biasanya karena mengalami sakit tertentu. Yang paling membuatku sangat berduka adalah saat Haris, salah satu teman, meninggal. Anaknya waktu itu berusia 5 tahun, seorang bocah lelaki yang lucu.

Saat Haris masih hidup, aku suka dolan ke rumahnya, dan bermain-main dengan anaknya yang lucu. Ketika Haris meninggal, aku mendapati bocah itu tampak seperti linglung, dengan mata berkaca-kaca, dan bergumam, “Semoga ini hanya mimpi... semoga hanya mimpi...”

Dengan hati terasa hancur, aku meraih bocah itu ke dalam dekapanku, dan kami menangis bersama. Itu salah satu moment paling menyedihkan yang pernah kurasakan, yang pernah kualami. 

Noffret’s Note: Konsensual

Ingin konsensual. Apppeeeuuuuhh...

Arti "konsensual" itu sebenarnya gak terbatas pada urusan seks. Dalam berbagai sisi kehidupan kita, dari sekadar pertemuan dua orang asing sampai pergaulan dengan teman-teman, konsensual itu sebenarnya juga penting. Makna konsensual itu kan "persesuaian kehendak".

Dalam pergaulan, misalnya, contoh konsensual bisa berupa "tidak saling memaksa dalam urusan minum". Ini terjadi di pergaulanku. Aku gak mempermasalahkan teman-temanku yang minum, tapi mereka juga tidak pernah memaksa semua orang harus minum. Jadi sama-sama nyaman.

Cuma karena kita lebih sering melekatkan istilah konsensual dalam urusan seks, jadinya istilah itu seperti hanya terkait dengan seks. Akibatnya, ketika seseorang mengatakan "konsensual", pikiran kita langsung tertuju pada urusan seks. Apalagi ada kata "sensual" di situ.

"Berarti kalau konsensual, kita bisa boleh ngeseks di kantin kampus?"

Ya kalau konsensual, kamu juga boleh udud, boleh baca buku, boleh jungkir balik, boleh ngoceh sendiri seperti orang gila, di kantin kampus, di rektorat, atau di mana pun. Tapi mosok pertimbangannya cuma gitu?


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 13 November 2021.

Biasa, deh

Biasa, deh. Penjual nasgor tuh kalau nggak ditunggu, bolak-balik lewat. Kalau ditunggu, nggak ada satu pun yang nongol!


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 7 September 2012.

Noffret’s Note: Sabun

Jangankan sabun badan dan sabun [cuci] tangan, bahkan sabun (khususnya buat muka) untuk pria dan wanita pun sebenarnya bahan dasarnya sama. Cuma pewanginya yang beda. Pewangi untuk sabun wanita dibuat lebih lembut, sedangkan untuk pria dibikin lebih "maskulin".


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Maret 2020.

Jiwa Penuh Luka

Jauh lebih aman bagimu bermain-main dengan kebuasan singa, daripada dengan jiwa yang penuh luka.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 April 2012

Diri

Aku orang egois. Aku tidak takut kehilanganmu, atau siapa pun. Yang kutakutkan adalah kehilangan diriku sendiri.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 17 April 2012

Senin, 01 Mei 2023

Menulis untuk Menjaga Kewarasan

Seharian tadi saya membaca On Writing, buku tentang kepenulisan karya Charles Bukowski. Dia penulis/sastrawan asal Jerman yang tinggal di Los Angeles, dan telah menulis ratusan cerita pendek, ribuan puisi, enam novel, dan telah menerbitkan lebih dari 50 buku.

On Writing, buku yang saya baca tadi, berisi narasi-narasi Bukowski tentang proses kreatifnya sebagai penulis. Sebagai orang yang aktif menulis, saya menemukan banyak sekali narasi di buku itu yang menyentuh hati dan pikiran, sekaligus menguatkan dan menginspirasi. 

Berikut ini saya terjemahkan beberapa di antaranya. (Kalau kamu kebetulan juga penulis, atau aktif menulis, atau ingin jadi penulis, On Writing patut dibaca.) 

“Menulis membutuhkan kedisiplinan, sama seperti yang lain. Jam berlalu sangat cepat, bahkan ketika aku sedang tidak menulis.”

“Menulis apa yang kita sukai jauh lebih mudah, daripada berusaha menciptakan tulisan yang disukai banyak orang.”

“Aku tidak berusaha menjadi penulis, aku hanya melakukan sesuatu yang terasa menyenangkan bagiku.”

“Aku akan terus menulis hingga embusan napas terakhir. Tak peduli orang lain menganggapnya bagus atau tidak. Dari awal sampai akhir. Aku ditakdirkan untuk melakukannya, dan menjadi seperti ini. Sederhana dan mendalam.” 

“Apa pun yang kutulis, baik atau buruk, pastilah aku apa adanya.”

“Semua penulis bagus bisa menulis dengan sangat bagus. Tapi, ya Tuhan, mereka mirip satu sama lain. Aku tidak mau seperti itu, aku ingin menulis apa pun yang kuinginkan. Aku menulis dari rasa sakit, kegilaan, dan kebenaran.” 

“Jangan khawatir soal frase, hitungan atau akhiran yang berima. Tulis apa adanya, keras, kasar, atau sebaliknya—terserah caramu menyampaikan.”

“Tak masalah kalau tulisanku dikritik. Tapi diubah menjadi seperti tulisan orang lain merupakan sesuatu yang sangat tidak bagus.”

“Kebanyakan penulis hebat menghasilkan karya-karya hebat karena tujuan utamanya adalah untuk menjaga kewarasan.” 

“Penulis-penulis yang bisa menulis dengan baik adalah orang-orang yang menulis supaya tidak gila.”

Mandi Pagi Itu Konsep Absurd

Sampai sekarang aku belum paham dengan konsep mandi pagi yang dilakukan usai bangun tidur. Mungkin konsep mandi pagi semacam itu cocok untuk sebagian orang—khususnya yang harus keluar rumah untuk kerja pagi-pagi—tapi belum tentu cocok untuk semua orang.

Orang bangun tidur di pagi hari, apalagi masih subuh, itu kan [metabolisme] tubuhnya belum “terjaga” seratus persen, apalagi kalau kebetulan kurang tidur (misal baru tiga atau empat jam tidur). Badan masih lemes, mata masih sulit dibuka, eh... disuruh mandi. Kok berat amat hidupmu.

Terus terang aku tidak/belum mampu menjalani cara hidup yang berat semacam itu. Kalau bangun tidur, paling-paling aku cuma cuci muka. Habis itu nyeduh kopi, dan udud. Kalau pun mandi, ya mandinya nanti—kalau selo, dan kalau tidak keburu kiamat. 

Entahlah

"Entahlah" adalah colekan lembut pengetahuan pada kebingungan, atau genggaman yang disembunyikan di kegelapan.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 16 Februari 2012.

Yeah, Begitulah...

Seorang cewek curhat, “Cowokku tuh bangsat! Dia keluyuran ke Frankfurt, Paris, Amsterdam, New York, bahkan ke Roma dan Tokyo, tanpa merasa bersalah. Tapi diminta nemuin aku ke Depok aja, dia ogah-ogahan. Katanya jauh. JAUH? Beuh! Depok, jauh? Bangsat!”

Tapi sampai sekarang dia masih pacaran dengan si bangsat.

Zaman Vice Masih Cupu

Kenapa ketawa sama nangis suaranya kadang sama?
@VICE_ID


Bagian otak yang mengendalikan tangis dan tawa berada di satu tempat. Dalam kasus tertentu, orang bisa mengalami pathological laughter and crying (PLC), yang membuatnya tidak mampu mengendalikan ekspresi tangis dan tawa. Saat itu terjadi, suara tangis dan tawa kadang tak berbeda.


*) Ditranksrip dari timeline @noffret, 21 Mei 2019.

Noffret’s Note: Docmart

Kayaknya yang paling bener emang Docmart. Mau acara apa pun tetap matching. Tanya aja Awkarin!

Ada suatu masa ketika aku tergila-gila pada boot Docmart—dulu waktu masih belia. Sampai bertahun-tahun aku memakainya. Kini, setelah sering melihat Awkarin pakai boot, aku jadi ingin kembali memakainya.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 26 Mei 2018 &  22 Nov 2018.

Ngobrol

“Ketemuan, yuk.”

“Ngapain?”

“Ngobrol.” 

Seketika aku membayangkan perjalanan jauh, lelah yang akan kurasakan, sementara aku harus meninggalkan pekerjaan bertumpuk di rumah. 

Dan semua itu cuma untuk ngobrol? 

Mohon maaf, aku tidak bisa!

 
;