Rabu, 04 Desember 2019

Di Balik Kelambu Pernikahan

PRIA:
Ya = Ya
Tidak = Tidak
Terserah = Terserah

WANITA:
YA = Bisa ya, bisa tidak
Tidak = Bisa tidak, bisa ya
Terserah = Hanya Tuhan yang tahu artinya

PRIA:
Mari ubah hal-hal sulit agar lebih mudah.

WANITA:
Mari ubah hal-hal mudah agar lebih sulit.

Begitu terus sampai kiamat.

Fakta yang tak bisa dibantah siapa pun: Pria dan wanita adalah makhluk berbeda, baik dalam fisik maupun cara berpikir. Ketika dua makhluk berbeda itu disatukan di bawah satu atap bernama pernikahan, sejuta kemungkinan bisa dan pasti terjadi.

Tidak ada rumus pasti mengenai kemungkinan yang terjadi dalam pernikahan. Keduanya (suami-istri) bisa jadi saling mendominasi, atau bisa saling berkompromi, atau salah satunya yang mendominasi. Faktor inilah, salah satunya, yang lalu melahirkan sistem patriarki.

Ribuan tahun lalu, ada orang yang cukup pintar untuk memahami "reaksi" yang terjadi jika pria dan wanita disatukan. Dia paham, ketika pria dan wanita disatukan, sejuta kemungkinan bisa dan pasti terjadi. Karenanya, dia lalu merancang konsep yang sekarang kita sebut patriarki.

Cara berpikir yang melatari konsep patriarki sebenarnya primitif: Manusia adalah serigala bagi manusia lain, remember? "Jadi, sebelum mereka (wanita) menindas, kita (pria) harus terlebih dulu menindas mereka." Konsep itu lalu diadopsi dan dilembagakan dari generasi ke generasi.

Konsep patriarki telah ada jauh-jauh hari sebelum manusia menyebutnya "patriarki". Istilah atau sebutan "patriarki" muncul di zaman modern, sementara konsepnya berasal dari zaman purba. Dan manusia mulai mengenal konsep itu, seiring mereka mulai mengenal konsep pernikahan!

Ketika pria dan wanita bertemu dan berkumpul sewaktu-waktu, masalah belum muncul. Kalau pun muncul, masalahnya mudah diatasi. Tapi ketika pria dan wanita disatukan untuk hidup bersama sampai bertahun-tahun, masalah pasti muncul! Homo sapiens sudah paham hal ini sejak zaman purba!

Karenanya, ketika mereka mulai mengenal konsep hidup bersama (pernikahan), mereka pun melengkapinya dengan instrumen yang memungkinkan masalah (dalam pernikahan) bisa diminimalkan. Dengan latar kehidupan mereka di zaman purba, konsep patriarki menjawab kebutuhan mereka.

Jadi, sejak awal, manusia sudah memahami bahwa setiap pernikahan berpotensi memunculkan masalah! Di masa lalu, ketika sistem patriarki mengakar kuat, masalah dalam pernikahan bisa ditutupi dengan mudah, karena istri selalu kalah dan mengalah. Itulah sebenarnya tujuan patriarki!

Sistem patriarki memungkinkan pernikahan di zaman purba (atau kuno) untuk terlihat baik-baik saja, dan masyarakat bisa hidup dengan tenteram.

Belakangan, zaman berubah, dan sebagian wanita mulai sadar kalau selama ini mereka diam-diam ditindas, dan perlahan-lahan mereka bangkit.

Kesadaran dan kebangkitan para wanita tidak hanya memunculkan istilah "patriarki" yang lalu dikenal sebagai konsep dalam relasi pria-wanita, tapi juga menguak tabir mengerikan di balik kelambu pernikahan. Bahwa ternyata, selama ini, keindahan pernikahan hanya ngapusi.

Perlahan tapi pasti, orang-orang mulai memahami bahwa pernikahan tidak seindah yang terlihat di permukaan. Para pelaku pernikahan mulai berani buka suara, mengungkapkan apa sesungguhnya yang terjadi dalam pernikahan mereka, dan kesadaran yang mengerikan mulai terbuka.

Sebagian manusia kalang kabut. Sistem peradaban (khususnya perkawinan) yang mereka bangun mulai runtuh dan tercabik-cabik. Kebohongan yang disembunyikan di balik tirai perkawinan telah mulai terbuka, dan mereka harus menemukan cara agar manusia tetap percaya pada perkawinan.

Maka lahirlah aksi ngibul paling legendaris sepanjang masa, yang menandai dimulainya Abad Dusta. Aksi ngibul itu biasanya berbunyi, "Menikah akan membuatmu bahagia," atau, "Menikah akan melancarkan rezeki," serta doktrin-doktrin dusta lainnya yang terdengar seperti angin sorga.

Doktrin-doktrin itu jelas dusta, bahkan sudah cacat sejak awal. Karena, bahkan ribuan tahun yang lalu, manusia purba sudah paham. Bahwa ketika pria dan wanita disatukan di bawah satu atap bernama perkawinan, masalah pasti akan terjadi! Masalah keparat apa yang membuatmu bahagia?

Ingat kembali fakta tak terbantah ini: Pria dan wanita adalah makhluk berbeda. Dan ketika dua makhluk yang jelas berbeda disatukan di bawah satu atap selama bertahun-tahun, masalah pasti akan terjadi! Omong kosong kalau perkawinan PASTI bahagia. Bahagia hanya satu kemungkinan.

Bahkan, dalam pikiranku, kebahagiaan perkawinan itu "kecelakaan" (accident). Jika menggunakan perspektif biologi, psikologi, fisiologi, filsafat dan matematika digabung jadi satu, orang lebih mungkin tertekan dalam perkawinan daripada bahagia. Kemungkinannya satu banding sejuta!

Karena latar belakang itulah, aku berani menulis catatan berisi tantangan ini, dan selama bertahun-tahun, meski telah dibaca ribuan orang, tidak ada satu orang pun yang berani menjawab tantanganku: Ikrar Suci » http://bit.ly/1UKSzWq


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 15 Maret 2019.

 
;