Nyeruput cokelat hangat, udud, dan kepikiran untuk melanjutkan ocehan ini. Mumpung TL sudah mulai sepi.
Kenapa istilah "ngewe" sekarang disebut "mantap-mantap"? Asli, aku penasaran dan ingin tahu. Jika ada yang bisa memberi tahu, aku akan sangat berterima kasih. —@noffret, 3 Februari 2020.
Dalam film Wonder Woman, Diana Prince berkata kepada Steve Trevor, “Aku telah membaca 12 jilid Clio tentang Risalah Kenikmatan Ragawi. ... Kesimpulannya adalah pria sangat penting untuk berkembang biak. Tapi untuk kenikmatan seks, pria tidak diperlukan.”
Jika kita melepaskan segala macam glorifikasi yang ndakik-ndakik terkait seks, sebagaimana yang mungkin sering kita dengar, kata-kata Diana Prince itu merupakan kesimpulan paling jujur sekaligus paling ilmiah terkait aktivitas seks; dengan diri sendiri, atau dengan orang lain.
Bahwa wanita, sebagaimana pria, sebenarnya bisa menikmati seks tanpa melibatkan orang lain—lebih spesifik; lawan jenis. Tapi Homo sapiens adalah budak evolusi, dan evolusi ingin kita berkembang biak. Karenanya, kita diiming-imingi untuk berpasangan, dengan aneka glorifikasi.
Evolusi ingin kita berpasangan—sebenarnya bukan untuk menikmati seks, melainkan untuk bereproduksi dan berkembang biak! Agar tujuan itu tercapai, evolusi menggunakan taktik licik berupa iming-iming kenikmatan seks melalui (ber)pasangan. Dan kita terkecoh, hingga sangat ngebet.
Padahal, sebagaimana kata-kata Diana Prince, “... untuk kenikmatan seks, pria tidak diperlukan.” Karena wanita sebenarnya bisa merasakan kenikmatan seks tanpa melibatkan pria, sebagaimana pria bisa merasakan kenikmatan seks tanpa melibatkan wanita. Dan itu ilmiah, tentu saja.
Selama bertahun-tahun, aku membaca ratusan riset Kinsey Institute terkait penelitian-penelitian mereka dalam aktivitas seksual manusia, dari yang paling sederhana dan primitif sampai yang paling rumit. Dan tumpukan riset itu, jika disimpulkan, membenarkan ucapan Diana Prince.
Selama bertahun-tahun pula, aku membaca ribuan artikel dan konsultasi seks di koran, majalah, buku, internet, sejak SMP sampai dewasa sekarang. Dari ribuan artikel dan konsultasi seks itu, aku disadarkan bahwa “glorifikasi kenikmatan seks dengan pasangan hanyalah omong kosong.”
Ketika sepasang manusia melakukan hubungan seks secara konsensual, tentu mereka merasakan kenikmatan. Tapi kenikmatan dari aktivitas itu sebenarnya tidak “sendakik-ndakik yang diglorifikasikan”. Karenanya, seperti yang kuocehkan di sini, itu cuma B aja.
Bahkan, dalam kadar tertentu, kenikmatan seks yang didapatkan wanita lebih besar daripada kenikmatan seks yang didapatkan pria, ketika aktivitas seks dilakukan secara berpasangan. Karena kenikmatan pria cuma sebatas sensasi dan ejakulasi, sementara wanita mendapatkan lebih.
Kenyataan ini bisa dilihat dari fakta sederhana yang tak bisa dibantah; alat kelamin pria berada di luar, sementara alat kelamin wanita berada di dalam. Sebanyak apa pun syaraf kenikmatan pada organ kelamin pria, ia ada di luar—tingkat kepekaannya tetap kalah dibanding di dalam.
Jadi, aku percaya bahwa secara ilmiah, ketika hubungan seks—secara konsensual—terjadi, wanita mendapat kenikmatan lebih banyak dibanding pria. Dari orgasme vaginal, orgasme clitoral, sampai multiorgasme, dan lain-lain. Dan pria? Cuma sensasi (khayal-visual) dan ejakulasi!
Semua playboy terkenal di dunia tahu kenyataan itu, dari Giacomo Casanova sampai Hugh Hefner, hingga mereka bisa menyimpulkan “semua wanita sama saja”—dan kau paham apa artinya. Karena yang berbeda cuma sensasi; khayalan tolol dan ndakik-ndakik yang ada di otak pria.
Mungkin ada yang berpikir, "Kalau memang wanita mendapat lebih banyak kenikmatan seks daripada pria, lalu kenapa justru pria yang tampaknya paling ngebet ngewe dibanding wanita?"
Jawabannya sangat sederhana, yakni karena testis di tubuh pria terus menerus memproduksi sperma!
Tubuh pria memproduksi sperma tanpa henti, dan tubuh pria juga memaksa agar sperma itu segera dikeluarkan kapan saja, agar tubuh bisa terus memproduksi sperma baru. Dorongan itulah yang menjadikan pria kemudian sangat ngebet ngewe, padahal tujuannya cuma melepaskan sperma.
Otak pria ditipu oleh fantasi dan khayalannya sendiri, membayangkan bahwa seks dengan pasangan begitu indah dan nikmat dan bla-bla-bla, padahal intinya cuma ingin melepaskan sperma. Begitu sperma dilepaskan, semua fantasinya lenyap. Buktinya, mereka langsung terlelap!
Sebenarnya, wanita juga memiliki hasrat seks sebesar pria. Tapi secara alami—atau kita bisa menyebutnya; secara biologis—wanita tahu bahwa pria “lebih menginginkan seks” karena tubuhnya terus memproduksi sperma. Karenanya, pria bersedia "mengejar-ngejar", dan wanita memahami itu.
Jangankan manusia, bahkan binatang pun tahu hal itu. Hewan-hewan betina tahu kalau hewan-hewan jantan bersedia melakukan apa pun demi bisa ngeseks. Badak jantan, misalnya, bersedia mengikuti badak betina sampai lama sekali untuk pedekate, demi diizinkan ngeseks dengannya.
Burung bower (bowerbird) jantan menghabiskan banyak waktu dan tenaga demi membangun sarang indah, dengan aneka pernak-pernik kemilau, demi menarik perhatian bowerbird betina yang matere. Intinya sama saja, untuk ngeseks, berkembang biak, beranak pinak—sesuai tuntutan evolusi.
Contoh-contoh lain masih banyak sekali, merentang dari hewan-hewan kecil semacam kutu atau cacing, sampai yang besar seperti kuda nil atau paus. Intinya, terkait urusan seks, mereka tak jauh beda dengan manusia. Bedanya, manusia mengglorifikasi aktivitas itu secara berlebihan.
Ocehan ini, kalau kulanjutkan, bisa panjang sekali, dan mungkin akan selesai tahun 2918. Intinya, sekarang, aku sama sekali tak percaya dengan segala macam glorifikasi ndakik-ndakik terkait [kenikmatan] hubungan seks. Karena, secara ilmiah, itu cuma B aja.
Kesadaran itulah yang menjadikanku tidak pernah—dan tidak akan pernah—melakukan modus-modus tolol dengan wanita mana pun demi tujuan ngewe. Aku tidak sudi ditipu dan dikibuli fantasiku sendiri. Wong paling cuma B aja, tapi harus buang waktu dan energi untuk modus segala macam.
“Semua yang kita lakukan sebenarnya demi pemuasan libido,” kata Freud. Dan pemuasan libido, sayangnya, B aja. Belakangan, kesadaran itu pula yang membuatku lebih santai dalam menjalani hidup. Tanpa hasrat macam-macam, tanpa khayalan ndakik-ndakik, dan tak sudi melakukan modus!
Kalau kita memang sama-sama tertarik, aturanku sederhana; mari buat segalanya lebih mudah! Kalau kau ingin drama yang rumit dan berbelit-belit, dengan segala macam modus tolol yang cuma buang-buang waktu dan tenaga, mohon maaf... aku lebih suka sibuk belajar dan bekerja.
*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 19 Februari 2020.
