Rabu, 01 Juli 2026

Ilusi Nasi Uduk

Catatan ini lanjutan catatan sebelumnya (Catatan dari Tahun Baru). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya baca catatan sebelumnya terlebih dulu. 

Tyo bertanya pada Arta, “Dari mana, Ta’?”

“Nyari nasi uduk,” jawab Arta.

“Ketemu?”

“Nggak.” Arta lalu curhat, “Di Jakarta, nyari nasi uduk gampang banget. Cuma jalan kaki beberapa meter, udah nemu warung nasi uduk. Di sini, nasi uduk kayak barang langka.”

Arta bertetangga dengan Tyo, kampung mereka bersebelahan. Namun, sekitar delapan tahun terakhir Arta tinggal di Jakarta, membantu kakaknya yang punya usaha di sana. Hal itu pula yang menjadikan kami—khususnya Arta dan saya—sangat lama sekali tidak ketemu. 

“Di Jakarta,” lanjut Arta, “saban malam aku makan nasi uduk. Cuma jalan kaki dari rumah, beberapa meter udah nemu warung. Kalaupun tutup, jalan kaki lagi udah nemu warung lagi yang jualan nasi uduk. Pas balik ke sini, aku sering kangen nasi uduk, tapi kayaknya nggak ada yang jual.”

Saya jadi penasaran, “Emang kamu udah berapa lama balik ke sini?”

“Udah cukup lama, sih,” jawab Arta, “sekitar lima bulanan ini.”

Sambil menahan senyum, Tyo lalu berkata pada Arta, “Di dekat tempat kita sebenarnya ada warung nasi uduk. Tapi nasi uduk KW.”

“Di daerah mana?” tanya Arta antusias—dia sepertinya tidak menangkap istilah aneh yang disebut Tyo.

Tyo lalu menjelaskan lokasi yang dia maksud, dan Arta langsung paham. Mereka sama-sama mengenal daerahnya. 

“Warung itu dulu ramai banget,” ujar Tyo. “Orang-orang yang suka nasi uduk, termasuk aku, datang ke sana. Tapi belakangan ketahuan kalau nasi uduk di sana ternyata bukan nasi uduk.”

“Maksudnya gimana?” Arta bingung. “Kok, nasi uduk tapi bukan nasi uduk?”

Tyo seperti menahan tawa, lalu mulai menjelaskan. 

Berdasarkan penjelasan Tyo, sekian tahun lalu—sekitar dua tahun setelah Arta tinggal di Jakarta—ada warung makan yang muncul di pinggir jalan. Warung itu mirip warung Lamongan. Ada spanduk besar bergambar lele, ayam, bebek, ikan. Warung itu buka sekitar pukul 17.00 sampai cukup larut malam.

Ketika pertama kali datang ke warung itu, Tyo mengira warung Lamongan seperti biasa. Dia pesan nasi dan pecel lele di sana. Dia sama sekali tidak kepikiran nasi uduk. Tetapi, ketika mendapati nasi di piring, Tyo berpikir itu nasi uduk. Alasannya sederhana: nasi itu ditaburi bawang goreng!

“Sumpah,” ujar Tyo sambil tertawa, “aku mengira itu nasi uduk!”

Waktu pertama kali makan di warung itu, Tyo merasa puas. Pecel lelenya enak, dan nasinya masih hangat. Ketika membayar, Tyo mendapati harga makanan di warung itu sama seperti di warung-warung Lamongan umumnya. Jadi, sejak itu pula, Tyo sering ke sana, untuk menikmati nasi uduk yang nikmat!

Belakangan, Aldi juga ikut terseret ke warung itu. Aldi ini juga teman nyangkruk kami. Sejak pertama kali diajak Tyo ke warung “nasi uduk” tersebut, Aldi juga merasa cocok. Jadi dia pun sering makan di warung itu—kadang sendirian, kadang bersama Tyo. Dan keduanya sama-sama berhalusinasi bahwa selama itu mereka makan nasi uduk!

Ternyata, yang mengalami hal semacam itu bukan cuma Tyo dan Aldi. Ada orang-orang lain yang datang ke sana karena sama-sama mengira warung itu menyediakan nasi uduk. Ketika sedang makan malam di sana, Tyo kadang ketemu orang yang ia kenal yang juga tinggal di daerah itu, dan mereka sama-sama mengira sedang makan nasi uduk. Keberadaan bawang goreng di atas nasi yang hangat ternyata mampu menciptakan ilusi. 

Yang “menakjubkan” dari kisah ini adalah fakta bahwa orang-orang yang makan di warung itu benar-benar percaya sedang makan nasi uduk, padahal di spanduk warung tidak ada keterangan bahwa itu warung nasi uduk. Orang-orang hanya tahu bahwa nasi uduk selalu ditaburi bawang goreng. Dan karena nasi di warung itu ditaburi bawang goreng, mereka pun menyimpulkan itu nasi uduk.

Saya perlu ngasih catatan di sini. Di kota saya maupun di daerah-daerah sekitarnya, nasi putih biasa (bukan nasi uduk) memang tidak ditaburi bawang goreng. Di warung mana pun saya makan, saya tidak pernah mendapati bawang goreng di atas nasi. Bawang goreng hanya ada pada nasi uduk. 

Ada alasan yang agak ilmiah terkait hal itu. Nasi uduk selalu ditaburi bawang goreng untuk meningkatkan aroma, memberi tekstur renyah, dan menambah kedalaman rasa gurih. Nasi uduk ditanak dengan santan yang membuat nasi jadi lebih lembut. Bawang goreng ditaburkan untuk menciptakan kontras tekstur.

Hal berbeda terjadi pada nasi biasa (bukan nasi uduk). Nasi biasa, idealnya, agak akas, dan dapat dimakan dengan lauk apa pun, termasuk dengan sayur berkuah. Karenanya, secara umum, nasi biasa tidak membutuhkan bawang goreng. 

Kembali ke cerita Tyo.

Sampai cukup lama, Tyo percaya pada ilusi bahwa warung yang sering ia datangi memang warung nasi uduk. Tidak pernah sedetik pun ia meragukan keyakinannya. Karena nyatanya makan di warung itu terasa nikmat baginya. Sambal pecel lelenya enak. Nasinya hangat, dan ada taburan bawang goreng di atasnya. Dan Tyo bukan Chef Juna, juga bukan Chef Arnold, atau chef-chef lainnya. Lidahnya awam. Taburan bawang goreng pada nasi sudah cukup menciptakan halusinasi.

Sampai suatu malam, waktu lagi makan di warung itu, Tyo ditelepon ibunya, yang memintanya datang ke rumah. Tyo lalu terpikir membawakan nasi uduk plus ayam goreng buat ibu serta adik perempuannya.

Ibu serta adik Tyo senang dengan nasi yang dibawakan Tyo, khususnya karena disebut “nasi uduk”. Tetapi baru beberapa suap, ibu Tyo murka. 

“Nasi uduk apaan?” tanya ibu Tyo. “Ini nasi biasa!” 

Tyo kaget. Dia menyatakan itu nasi uduk, buktinya ada bawang goreng di atasnya. 

Adik Tyo mengonfirmasi pernyataan ibu mereka, bahwa itu nasi biasa—bukan nasi uduk. Tyo makin bingung.

Besok malamnya, saat kembali makan di warung langganan, Tyo memberanikan diri bertanya langsung pada penjualnya, “Mbak, sebenarnya ini nasi uduk apa nasi biasa?”

Mbak-mbak penjual warung, entah kenapa, menjawab Tyo dengan wajah agak lelah. “Nasi biasa, Mas. Di spanduk, kan, nggak ada tulisan nasi uduk.” 

Penjelasan itu seperti palu yang menghantam kesadaran Tyo. Ilusinya runtuh. Ketika ibu serta adiknya mengatakan itu nasi biasa, Tyo masih cukup pede dengan keyakinannya. Tapi ketika si penjualnya sendiri yang menyatakan itu nasi biasa, Tyo tidak punya sandaran lagi untuk ilusinya.

Tyo merasa tertipu, meski ia tidak bisa menuduh si pemilik warung menipunya. Faktanya, di warung itu memang sama sekali tidak ada tulisan atau keterangan bahwa mereka menjual nasi uduk. Spanduknya hanya berisi gambar lele, ayam, bebek, dan ikan. Tidak ada tulisan “nasi uduk” atau semacamnya. Dia sendiri yang menyimpulkan nasi di warung itu nasi uduk. Dan kesimpulan itu muncul gara-gara taburan bawang goreng di atas nasi.

Ketika Tyo menyampaikan kebenaran itu ke Aldi, mereka ketawa-tawa seperti orang gila. Pengalaman “makan nasi uduk yang ternyata bukan nasi uduk” sepertinya cukup mengguncang pikiran mereka.

Sambil tertawa, Tyo mengatakan pada saya dan Arta, “Sekarang, kalau ditanya kenapa nasi uduk dikasih bawang goreng tapi nasi biasa nggak dikasih bawang goreng, aku tahu jawabannya. Buat identifikasi!” 

Kami tertawa, dan memahami itu kebenaran yang lucu.

“Tapi warung itu nggak salah, kan?” ujar Arta kemudian. “Nyatanya mereka nggak pernah mengatakan itu nasi uduk.”

“Memang,” sahut Tyo. “Masalahnya, kenapa mereka ngasih bawang goreng di atas nasi, kalau itu sebenarnya nasi biasa?”

Sambil menahan tawa, saya mengatakan, “Ya suka-suka mereka, lah. Kalau nggak suka, kamu tinggal bilang jangan kasih bawang goreng.”

“Masalahnya bukan itu,” jawab Tyo. “Masalahnya, bawang goreng itu menciptakan ilusi kalau itu nasi uduk!”

Kami bertiga lalu tertawa-tawa, menyadari betapa anehnya kasus itu.  

Ponsel Tyo berbunyi. Dia merogoh saku celananya, dan mendapati Aldi di layar ponsel. “Panjang umur, nih, bocah,” ujarnya. 

Tyo lalu bercakap-cakap dengan Aldi lewat video call. Di tengah percakapan, Tyo berkata, “Al, coba tebak aku lagi sama siapa.”

“Pacar barumu?” sahut Aldi di ponsel.

Tyo mengarahkan layar ponselnya ke saya dan Arta.

“Anjrit!” seru Aldi setelah melihat kami bertiga. “Kalian tahun baruan, kenapa nggak ngajak aku?”

Kami pun lalu nimbrung ke percakapan di ponsel itu, dan Aldi mengatakan, “Di rumahku masih ada setengah karung jagung sisa semalam. Kenapa kalian nggak ke sini aja, buat bakar-bakar jagung? Mumpung tahun baru!”

Tyo menatap saya dan Arta, meminta pendapat.

Saya berkata, “Tahun baru atau bukan tahun baru, jagung bakar adalah favorit.”

Kami bertiga lalu bangkit, dan bersiap ke rumah Aldi.

 
;