Ini sangat menyedihkan.
Dari kemarin, status WhatsApp teman-teman di ponselku berisi banjir dan longsor. Bencana ini terjadi di wilayah kabupaten, jadi yang paling terdampak adalah yang tinggal di kabupaten. Di Petungkriyono, lokasi bencana, ada beberapa orang yang tewas, dan berbagai kerusakan terjadi.
Menurut teman-teman yang tinggal di sana, hujan deras turun tanpa henti, dan hal itu menyebabkan longsor sekaligus banjir. Sementara Petungkriyono adalah dataran tinggi, sehingga terjadi banjir bandang yang mengalir ke mana-mana, ke daerah-dearah lain yang relatif jauh dari sana.
Kedungwuni dan Wonopringgo, misalnya, adalah dua kecamatan yang relatif jauh dari Petungkriyono, tapi ikut terdampak banjir. Di dua tempat itu ada cukup banyak pengusaha batik dan penjual konveksi di marketplace. Membaca status-status mereka di WhatsApp, rasanya bikin mau nangis.
Ada teman yang rumahnya kebanjiran, dan air merendam tumpukan kain batik yang masih dalam proses pengerjaan maupun yang sudah jadi.
Ada pula teman yang sudah menyiapkan ratusan paket yang siap dikirim ke ekspedisi, dan ratusan paket itu terendam banjir yang datang tiba-tiba.
Belasan orang meninggal, entah berapa yang terluka, rumah-rumah hancur, jembatan ambrol, mobil-mobil terguling, ternak mati, banjir mengalir ke sembilan kecamatan, merendam ratusan rumah, dan mengakibatkan kerugian yang entah berapa besar.
Duka mendalam untuk korban bencana.
*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 22 Januari 2025.
