Jumat, 31 Juli 2026

Gara-gara Omongan Pacar

Ini kisah konyol yang sebenarnya membuat saya malu sendiri. Tetapi saya telanjur jengkel gara-gara kisah konyol ini, hingga memutuskan untuk menuliskannya di sini sebagai semacam klarifikasi terhadap pihak-pihak yang terlibat. Semua nama yang saya sebut dalam catatan ini telah disamarkan, namun alur peristiwanya sesuai yang benar-benar terjadi.

Kisah konyol ini dimulai dengan sebuah e-mail dari seorang perempuan. Sebut saja namanya Dewi. Di antara banyak e-mail lain yang biasa saya terima, Dewi hanyalah satu di antara sekian banyak orang di inbox e-mail. Artinya, saya tidak punya perhatian khusus kepadanya. Sebenarnya, saya bahkan tidak peduli siapa dia. Saya membalas e-mailnya secara relevan sebagaimana saya membalas e-mail orang-orang lain. 

Dewi berulang kali mengirim e-mail. Tidak semua e-mailnya saya balas. Lalu dia mengirim undangan agar saya bergabung dengannya di Facebook. Undangan itu pun saya abaikan. Sudah lama sekali saya kehilangan minat bermain Facebook. Kenyataannya, yang mengirim undangan semacam itu bukan hanya Dewi, dan semuanya saya abaikan.

Tetapi Dewi rupanya tidak pantang menyerah. Dia terus menerus mengirimkan undangan yang sama. Karena penasaran, saya pun mencoba mengecek akun Dewi di Facebook, untuk tahu lebih lanjut siapa sebenarnya perempuan itu. 

Di akun Facebook-nya, terdapat identitas cukup lengkap mengenai Dewi, termasuk artis idola sampai buku favorit. Yang menarik perhatian saya, ternyata Dewi berteman dengan Nabil. Si Nabil ini teman saya di dunia nyata. 

Lagi-lagi karena penasaran, saya mengontak Nabil, dan bertanya kepadanya, siapa Dewi. Di luar dugaan, ternyata Dewi adalah pacar Nabil.

Dan, sejak itu, hubungan saya dengan Nabil mulai renggang. Nabil menjauh dari saya.

Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang terjadi, hingga menyebabkan Nabil menjauhi saya. Kenyataannya kami memang tak pernah bertemu sejak itu, hingga dia maupun saya tidak bisa saling menjelaskan apa pun. Tetapi bahwa kenyataan itu terjadi setelah saya menanyakan Dewi kepadanya, mau tak mau membuat saya berpikir. 

Jika saya membayangkan apa yang telah terjadi, kira-kira seperti inilah bayangan saya mengenai apa yang terjadi....

Setelah saya bertanya pada Nabil tentang Dewi, yang ternyata pacarnya, Nabil pun meneruskan percakapan kami pada Dewi. Dia tentu penasaran, kenapa saya tiba-tiba bertanya tentang pacarnya. Bisa jadi, karena merasa “tertangkap basah”, Dewi mengarang cerita yang melenceng dari kisah sebenarnya, yang kemudian menyebabkan Nabil menjauhi saya. 

Dalam kisah sebenarnya, Dewi berulang kali mengirim e-mail kepada saya, hingga saya penasaran dan melacak dirinya. Tetapi, dalam kisah Dewi pada Nabil, tidak menutup kemungkinan dia menceritakan kisah yang berbeda. Sebagai pacar, Nabil tentu akan mempercayai cerita pacarnya. Tanpa klarifikasi kepada saya, bisa jadi dia diam-diam memendam kekesalan, hingga memutuskan menjauhi saya.

Kisah konyol itu memberi saya pelajaran mengenai pentingnya klarifikasi, agar tidak dikuasai prasangka. Kalau pacar kita menceritakan sesuatu menyangkut orang lain, silakan percaya kepadanya. Tapi jangan menutup diri untuk melakukan klarifikasi. 

Omong-omong soal klarifikasi, sekarang saya ingin menceritakan kisah seorang teman. Kisah ini mirip dengan yang saya alami, namun kadarnya lebih parah.

Safik, teman saya, berteman dengan Ale. Ale punya pacar bernama Ervin. Baik Ale maupun Ervin akrab dengan Safik. Mereka juga akrab dengan saya. Kami biasa ngumpul dan bercanda sebagaimana layaknya teman.

Suatu hari, ada acara kumpul-kumpul di suatu tempat. Ada banyak orang yang datang waktu itu, termasuk Safik, Ale, Ervin, dan saya. Malam hari, seusai acara rampung, saya duduk di depan komputer, browsing internet. Lalu muncul Safik, disusul Ervin. Kami bercakap-cakap di depan komputer, sambil saya terus memindai laman-laman internet. 

Di suatu laman, kebetulan ada gambar kartun yang lucu; wanita gemuk yang lagi pegang sapu. Safik meledek Ervin, menyatakan kartun itu mirip Ervin. Ervin paham itu cuma olok-olok yang ditujukan sebagai candaan, dan kami pun tertawa bersama waktu itu. Saya tahu betul, Ervin sama sekali tidak marah, karena memahami itu cuma gurauan antarteman. Kenyataannya kami semua—termasuk Safik dan Ervin—telah akrab berteman.

Pagi harinya, usai bangun tidur, saya duduk-duduk bersama Ale sambil menikmati teh hangat. Di luar dugaan, kami mendapati Ervin baru datang bersama Rudi, cowok yang juga teman kami. Ale maupun saya tidak tahu dari mana Ervin dan Rudi waktu itu. Tapi saya hanya berpikir positif, mungkin Ervin baru saja sarapan dengan Rudi, karena Ale masih tidur.

Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Yang jelas, siang harinya, Ale marah-marah pada Safik. Pasalnya, menurut Ale, Safik telah menghina pacarnya, dengan menyamakan Ervin seperti kartun jelek di internet. Safik kebingungan. Seingatnya, masalah kartun itu hanya olok-olok yang dimaksudkan sebagai gurauan, dan Ervin sama sekali tidak marah. Kenapa sekarang Ale marah-marah soal itu?

Safik menyatakan, “Biar kujelaskan apa yang terjadi...”

Tapi Ale sudah meradang. “Jelaskan sendiri pada pacarku! Dia sedang menangis gara-gara ulahmu semalam!”

Bisakah kita melihat apa yang telah terjadi?

Semalam, saya menjadi saksi peristiwa soal kartun yang sekarang dipermasalahkan Ale. Semalam, saya tahu betul bahwa urusan kartun yang disebut mirip Ervin hanyalah gurauan, dan Safik maupun Ervin paham itu cuma gurauan. Saya bahkan menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa Ervin tertawa-tawa karena gurauan itu, dan sama sekali tidak marah. Tetapi, sekarang, Ale menyatakan Ervin sedang menangis karena disamakan seperti kartun oleh Safik.

Sekali lagi, bisakah kita melihat apa yang telah terjadi?

Tanpa bermaksud membela siapa pun, saya bisa membayangkan apa yang telah terjadi. Ketika Ervin kepergok Ale baru pulang bersama Rudi, Ervin mungkin merasa bersalah. Sebagai pacar, Ale mungkin bertanya pada Ervin, dari mana dia dengan Rudi. 

Entah apa yang dinyatakannya kepada Ale, yang jelas Ervin kemudian “memanipulasi” kisah antara dirinya dan Safik soal kartun semalam, dengan tujuan “membelokkan” kemarahan Ale. Hasilnya, alih-alih marah kepada pacarnya, Ale berbalik marah kepada Safik—tepat seperti yang diharapkan Ervin.

Salah satu keahlian perempuan adalah memanipulasi pacarnya. Dan laki-laki biasanya mudah teperdaya oleh pacarnya, apalagi jika didramatisir air mata. 

Karenanya, jika cewekmu menceritakan apa saja yang terkait orang lain, percayalah kepadanya. Tapi jangan berhenti di situ. Lakukan klarifikasi pada orang terkait, agar tidak menimbulkan masalah. Karena, jika kita semata hanya percaya tuturan pacar namun tidak mau melakukan klarifikasi, kita hanya separuh benar. Dan separuh benar tentu bukan kebenaran. 

Sampai sekarang, hubungan Safik dengan Ale tidak sebaik dulu. Padahal sebelumnya mereka berteman akrab tanpa masalah. Bagaimana pun, Safik mengakui, dia masih jengkel kepada Ale, karena disalahkan untuk sesuatu yang ia pikir bukan kesalahannya. Safik juga mengakui masih membenci Ervin, karena dia menilai Ervin telah memanipulasi dirinya.

Hanya karena tuturan pacar secara sepihak, hubungan pertemanan bertahun-tahun yang semula baik dan menyenangkan bisa rusak dan terpecah. 

 
;