Senin, 01 Februari 2021

Dari Dinda Hauw dan Rey Mbayang, Kita Tidak Belajar Apa-Apa

Sambil nunggu udud habis.

Setiap kali ada artis menikah, entah mereka pacaran atau tidak, anak-anak Twitter selalu ramai, "Dari Si Anu kita bisa belajar bla-bla-bla", dan biasanya cuma menyebut hal-hal yang abstrak (berakhlak baik, agamis, tanggung jawab, berwawasan, dll).

Berakhlak baik, paham agama, bertanggung jawab, berwawasan, dan semacamnya, adalah hal-hal abstrak—bagaimana cara kita mengukurnya? Pertanyaan itu makin penting diajukan, jika kita kebetulan pro-taaruf; menjalin hubungan sekadarnya untuk kemudian menikah, tanpa pendalaman.

Untuk tahu apakah seseorang berakhlak baik, paham agama, bertanggung jawab, berwawasan, dan semacamnya, kita harus bersamanya secara intens. Itu sesuatu yang bahkan pacarnya (atau calon pasangannya) sendiri belum tentu tahu. Jadi, bagaimana kita bisa tahu, bahkan yakin, soal itu?

Setiap kali ada artis menikah, lalu orang-orang ngetwit "Dari Artis Anu kita bisa belajar bla-bla-bla", yang kutangkap hanyalah sebentuk romantisasi atau bahkan glorifikasi terkait hubungan dua manusia lawan jenis, tapi sekadar artifisial—khas remaja yang masih bau popok.

Kenyataannya, Homo sapiens memang punya kecenderungan semacam itu; senang mengkhayalkan hubungan yang indah sambil menafikan kemungkinan sebaliknya. Karenanya, saat ada artis cerai, tidak ada yang mengatakan, "Dari perceraian Artis Anu kita bisa belajar bla-bla-bla..."

Orang-orang "belajar" ketika ada artis menikah, tapi tidak belajar ketika ada artis bercerai. Padahal perkawinan dan perceraian adalah 2 hal yang seiring sejalan; orang yang menikah selalu punya kemungkinan untuk cerai. Tapi kita hanya melihat yang satu, sambil menafikan lainnya.

Jadi, inilah masalah kita. Yang remaja terbuai khayalan indah tentang sepasang manusia yang menjalin hubungan (dan model yang mereka gunakan adalah artis yang ganteng dan cantik), sementara yang sudah dewasa terbuai doktrin "menikah akan membuatmu bahagia dan lancar rezeki."

Di Twitter, ocehan ala-ala "Dari perkawinan artis anu kita bisa belajar bla-bla-bla" hampir selalu viral. Sebelas dua belas dengan ocehan ala-ala "Menikah akan membuatmu bahagia dan bla-bla-bla". 

Apa artinya itu? Khayalan dan keyakinan kita menumpulkan akal sehat dan kesadaran.

Tanpa disadari, manusia lebih sering (dan lebih senang) melihat bayangannya, atau khayalannya, atau refleksinya, dan bukan kenyataan yang jelas ada di depan matanya. Itulah kenapa mereka tetap percaya menikah akan membuat bahagia, meski tetangganya bercerai atau jadi korban KDRT.

Manusia tidak percaya pada kebenaran. Bahkan, dalam skala ekstrem, mereka tidak percaya pada kenyataan. Mereka hanya percaya pada yang ingin mereka percaya!

Kutipan klasik, "Jangan merasa (sok) kenal seseorang, sebelum tidur dengannya tiga malam."

Ocehan ini, kalau kulanjutkan, mungkin baru selesai pas subuh... tahun 8735. Tapi karena ududku sudah habis, yo wis, cukup sampai di sini. 

Akhirnya, dari Dinda Hauw dan Rey Mbayang, kita (sebenarnya) tidak belajar apa-apa.


*) Ditranskrip dari timeline @noffret, 11 Juli 2020.

 
;