Senin, 25 Juni 2018

Bisik-bisik Tetangga

Perilaku suka bertanya "kapan kawin?" atau menyuruh orang lain 
cepat menikah, itu serupa perilaku orang yang suka bergunjing. Tampak tidak 
ada untungnya. Tetapi, bagi si pelaku, hal itu memberi "keuntungan". Yaitu 
membuat mereka merasa lebih baik dari orang lain. Sinting, memang.


Tantangan hidup manusia, salah satunya, adalah menghadapi cocot orang lain, khususnya orang-orang di sekitar. Kau melakukan apa pun, selalu ada cocot nganggur yang akan berkomentar. Sebaliknya, kau tidak melakukan apa pun, juga selalu ada cocot nganggur yang akan ngomongin. Jadi, kau melakukan atau tidak melakukan, kau tetap berhadapan dengan cocot nganggur.

Urusan cocot nganggur ini makin parah, kalau kebetulan kau tinggal di lingkungan masyarakat yang memang suka usil. Sial bagi umat manusia, yang disebut “masyarakat” memang “suka usil”. Karenanya, Soe Hok Gie benar, bahwa “takdir terbaik adalah tidak dilahirkan”. Dan saya ingin menyambung, “hidup menjadi manusia adalah masalah terbesar.”

Kalau kau sudah cukup umur, tapi belum menikah, masyarakat akan nyocot, “Kapan kawin?” Kalau kau sudah kawin, masyarakat masih nyocot, “Kapan punya anak?” Bahkan kau sudah punya anak, masyarakat belum menutup cocot mereka, dan kini bertanya, “Kapan nambah anak?” Giliran kau punya banyak anak, mereka mencibir kau doyan ngeseks, sampai banyak anak. Dasar cocot nganggur!

Urusan cocot nganggur ini sebenarnya masalah klasik masyarakat, khususnya masyarakat yang—meminjam istilah Sujiwo Tejo—ber-IQ melati. Karenanya, ada ungkapan terkenal, “Orang besar membicarakan ide, orang kecil membicarakan orang.”

Ungkapan itu benar. Orang yang paling suka ngomongin orang (dalam hal ini ngomongin keburukan, dan tentu secara diam-diam) umumnya memang orang kecil. Maksud “orang kecil” di sini ya kecil otaknya, kecil hatinya, juga kecil kantongnya. Kapan pun mengobrol dengan mereka, yang dibicarakan pasti itu ke itu—hal-hal membosankan yang seharusnya tidak dibicarakan—semisal kekurangan orang, rumah tangga orang lain, dan semacamnya.

Sebaliknya, orang besar membicarakan ide. “Orang besar” yang dimaksud di sini, ya besar pikirannya, besar hatinya, juga—biasanya—besar kantongnya. Mereka justru malas ngomongin orang, karena sadar tidak ada manfaatnya. Hanya buang-buang waktu, pikiran, energi. Daripada ngurusan hidup orang lain, mereka lebih suka memikirkan hal-hal yang lebih bermanfaat, yang memberi kontribusi positif bagi hidup mereka.

Sekarang kita paham, kenapa orang tolol makin tolol, dan yang pintar makin pintar. Karena yang tolol sudah merasa pintar. Jadi, alih-alih belajar dan memperbaiki diri, mereka lebih suka ngurusin orang lain, dan mengomentari apa saja yang dilakukan atau yang terjadi pada orang lain. Namanya juga orang tolol!

Terkait hal ini, ada teman saya yang sempat mengalami dilema. Ketika mendengar kisah ini pertama kali, saya merasa pusing sambil ingin ngakak.

Ceritanya, Rino menikah dengan Fetty. Sebelum menikah, Rino sudah bertekad untuk mapan terlebih dulu, dalam arti dia harus sudah punya rumah sendiri, punya penghasilan yang cukup, dan—kalau bisa—juga punya tabungan yang bisa digunakan untuk keperluan darurat. Karena dia pekerja keras yang tekun, impian itu pun terwujud. Dia punya usaha yang memberinya penghidupan layak. Sebelum menikah, dia pun sudah punya hal-hal yang diinginkan. Jadi, dia lalu mantap untuk menikah.

Rino menikah tiga tahun yang lalu, dengan perempuan bernama Fetty. Karena Rino telah punya rumah sendiri, mereka pun segera tinggal di rumah Rino seusai menikah, dan mulai menjalani kehidupan sebagai suami istri. Bisa dibilang, kehidupan mereka baik-baik saja. Rino seorang suami yang bertanggung jawab, dan Fetty juga wanita yang baik.

Sebelumnya, Fetty bekerja sebagai pramuniaga di sebuah swalayan. Seusai menikah, Rino meminta istrinya agar tidak usah lagi bekerja. Sebagai pria yang baik, Rino memahami bahwa tugas istri di rumah sudah cukup berat—memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan tetek bengek lain. Dia tidak tega jika membiarkan istrinya masih harus bekerja di luar rumah. Lebih dari itu, Rino memiliki penghasilan yang mampu menghidupi mereka secara layak, tanpa istrinya ikut bekerja.

Karena nyatanya penghidupan mereka berkecukupan, Fetty pun menuruti keinginan Rino, dan berhenti dari pekerjaannya. Sejak itu, dia murni menjadi ibu rumah tangga yang tinggal di rumah. Kehidupan mereka baik-baik saja, seperti sebelumnya. Rino tetap rajin bekerja seperti biasa. Sementara istrinya, juga tetap menjadi wanita baik seperti sebelumnya. Bahkan, karena kini tidak lagi bekerja di luar, Fetty jadi punya waktu lebih banyak untuk merawat diri, sehingga tampil lebih cantik.

Sekitar setahun setelah menikah, pasangan Rino-Fetty memiliki anak. Mereka memang menginginkan anak, dan kelahiran sang anak disambut gembira. Setahun kemudian, lahir anak kedua. Lagi-lagi, mereka menyambut gembira.

Karena keberadaan anak, tugas Fetty pun tentu semakin banyak. Selain memasak dan sebagainya, ia sekarang juga harus kerepotan mengurusi anak. Dulu, ketika masih punya satu anak, kerepotan itu mungkin bisa dibilang “biasa saja”. Tapi setelah punya dua anak—dan keduanya masih kecil—kerepotan yang dialami Fetty jadi tampak mencolok.

Melihat hal itu, Rino punya niat mempekerjakan asisten rumah tangga, untuk meringankan beban istrinya. Maksud Rino, biarlah Fetty hanya fokus mengurusi anak, sementara tugas lain—dari memasak sampai bersih-bersih rumah—dikerjakan asisten rumah tangga. Tetapi, ketika niat itu ia sampaikan pada istrinya, Fetty spontan menolak dan melarang.

“Aku tidak tega melihatmu terlalu kerepotan,” ujar Rino dengan sayang.

“Aku tidak enak,” jawab Fetty. Kemudian, Fetty menyatakan, kira-kira seperti ini, “Dulu, sebelum punya anak, aku hanya tinggal di rumah tanpa bekerja (mencari nafkah). Aku tidak enak mendengar omongan tetangga. Mereka (wanita-wanita tetangga) bekerja, sementara aku hanya tinggal di rumah. Sekarang, kamu mau mempekerjakan asisten rumah tangga untuk membantuku di rumah. Apa kata tetangga? Tidak bekerja saja, aku sudah diomongin macam-macam. Sekarang, sudah tidak bekerja, masih dibantu asisten rumah tangga. Aku benar-benar tidak enak.”

Ketika Rino menceritakan kisah itu—termasuk percakapannya dengan sang istri—terus terang saya geleng-geleng kepala. Bagi saya, itu tidak masuk akal! Ternyata, sampai segitunya masyarakat mengurusi dan mengomentari rumah tangga orang lain.

Jadi, kalau istrimu bekerja, masyarakat akan nyocot, “Wanita macam apa yang masih mementingkan karier, padahal sudah menikah dan punya anak-anak?” Sebaliknya, kalau istrimu tidak bekerja, dan tampak damai di rumah, masyarakat juga akan nyocot, “Enak ya, jadi dia. Tinggal ngangkang doang.”

Masalah masyarakat adalah terlalu banyak cocot nganggur. Sebegitu nganggur, sampai apa pun dikomentari, dibisik-bisikkan, dibahas, dan disimposiumkan. Karena simposium kelas cocot nganggur, simposiumnya pun bisa di mana saja. Biasanya di depan rumah tetangga.

Kalian tahulah, bagaimana ekspresi wanita-wanita yang sedang membahas rumah tangga orang lain—mukanya serius, kayak sedang membahas rumus fisika. Padahal cuma mau ngemeng, “Enak bingit jadi dia. Tinggal ngangkang doang.”

Urusan “membahas rumah tangga” orang lain, sebenarnya tidak hanya monopoli wanita. Kaum pria—bapak-bapak pengangguran yang cocotnya sama-sama nganggur—juga kadang punya hobi sama. Biasanya, mereka kongkow sama tetangga, lalu berbicara dengan ekspresi layaknya filsuf bijak, yang membahas filsafat kehidupan atau eksistensi Tuhan. Padahal yang diomongin cuma rumah tangga orang.

Mengapa ada sebagian—untuk tidak menyebut semua—masyarakat suka membahas orang lain, atau membicarakan rumah tangga orang lain?

Dalam perspektif saya, kecenderungan semacam itu tumbuh karena dua hal. Pertama, karena memang menganggur, atau kurang kesibukan. Dan kedua, karena mereka “orang kecil”. Ingat, orang kecil suka membicarakan (kekurangan) orang, karena dengan cara itu mereka merasa besar.

Latar belakang itulah, yang menjadikan apa pun yang kita lakukan selalu mendapat komentar mereka. Kau melakukan hal baik, mereka akan mencari keburukannya. Apalagi kau melakukan sesuatu yang buruk. Bahkan kau tidak melakukan apa pun, mereka akan mencari-cari, mengorek-ngorek, untuk tetap bisa membicarakanmu.

Karena itu pula, ada sebagian masyarakat yang selalu berupaya ngumpul dengan tetangga atau orang-orang lain, dengan tujuan agar mereka tidak diomongin. Itu sudah jadi “budaya” masyarakat di mana-mana, khususnya masyarakat yang—sekali lagi, meminjam istilah Sujiwo Tejo—ber-IQ melati.

Orang-orang ber-IQ melati itu tahu, kalau kau menjauh atau tidak mau berkumpul dengan masyarakatmu, atau—dengan kata lain—beda dengan mereka, masyarakat akan membicarakanmu. Jadi, sebisa mungkin, mereka akan selalu ngumpul bersama masyarakat, berusaha tidak berbeda dengan masyarakat, agar sebisa mungkin tidak sampai menjadi bahan omongan.

So, karena masyarakat menikah, kau juga harus menikah—kalau bisa sebelum mapan, karena begitulah yang umum terjadi di masyarakat. Meski hidupmu masih keblangsak, yang penting kawin! Tidak apa-apa, karena masyarakat juga menjalani hidup seperti itu. Agar kau sama dengan mereka, maka segeralah kawin, dan persetan dengan hari esok!

Begitu pula, karena istri-istri tetangga bekerja mencari nafkah, istrimu juga harus bekerja mencari nafkah. Karena kalau tidak, penghasilanmu tidak akan cukup untuk menghidupi keluarga. Itulah kenapa, kau harus buru-buru kawin sebelum mapan! Kalau kau menunggu mapan dulu sebelum menikah, nanti kau akan beda dengan masyarakat, dan mereka akan menggunjingmu.

Karena pasangan-pasangan di lingkunganmu punya anak, kau dan pasanganmu juga harus punya anak. Tak peduli hidup kalian masih kembang-kempis. Tak peduli kau mampu atau tidak menghidupi anak secara layak. Yang penting punya anak, sialan!

Karena, kalau kau dan pasanganmu adem ayem tanpa anak, mereka—maksud saya masyarakatmu yang cocotnya nganggur itu—akan ngemeng macam-macam. Bisa jadi kau akan dituduh impoten, atau istrimu akan dituduh mandul. Padahal, alasan masyarakat ngomong seperti itu sepele, karena iri melihat kalian bisa leha-leha, sementara mereka harus ribet ngurusin anak!

Tapi tidak apa-apa, yang penting kau sama dengan masyarakat, tidak berbeda dengan mereka. Karena masyarakatmu hidup keblangsak, kau dan pasanganmu juga harus sama keblangsak. Karena masyarakatmu masuk lubang biawak, kau juga harus masuk lubang biawak.

Dan jangan lupa, karena masyarakatmu suka menyindir dan meledek lajang yang belum kawin, kau juga harus melakukan hal sama. Meski perkawinanmu keblangsak, pura-puralah bahagia. Dan kapan pun kau bertemu orang yang belum kawin, sindir-sindirlah dan provokasilah agar cepat kawin sepertimu. Agar apa?

Oh, well, jawabannya sepele. Agar sama keblangsak sepertimu.

 
;