Kamis, 20 Februari 2020

Kesabaran yang Dilatih Kaset Ngodol

Generasi yang paling dimanjakan zaman 
tampaknya memang generasi yang lahir setelah internet tersedia. 
Sebagai bagian generasi '90-an, aku kadang iri pada mereka.


Anak-anak ’90-an kadang mengklaim sebagai generasi terbaik, khususnya jika dibandingkan generasi 2000-an. Saya tidak tahu klaim itu benar atau tidak. Yang saya tahu, generasi ’90-an menghadapi aneka keruwetan hidup yang tidak dihadapi oleh generasi 2000-an.

Salah satu keruwetan hidup yang dialami generasi ’90-an, adalah keruwetan kaset ngodol.

Anak-anak kekinian, yang menikmati musik secara streaming semisal lewat Spotify, mungkin tidak tahu apa itu kaset, dan tidak pernah membayangkan bahwa dulu—setidaknya era ’90-an—aktivitas menikmati musik bisa jadi sesuatu yang sangat merepotkan.

Saat ini, menikmati musik bisa dibilang sangat mudah. Cukup berlangganan musik streaming, dan kita bisa menikmati musik apa pun, kapan pun, di mana pun, secara praktis. Tapi dulu, di era ’90-an, urusan menikmati musik cukup merepotkan. Sarana untuk menikmati musik secara “eksklusif” hanya tersedia dalam bentuk kaset, yang diputar di benda purbakala bernama tape recorder.

Kaset adalah benda mungil seukuran bungkus rokok, berisi gulungan pita yang sangat tipis. Pada gulungan pita terdapat rekaman musik, yang biasanya satu album, dari seorang musisi atau grup musik. Rekaman dilakukan bolak-balik pada pita di kaset, karenanya masing-masing kaset memiliki sisi A dan sisi B. Kaset itulah yang digunakan bocah-bocah generasi ’90-an untuk menikmati musik.

Tapi kaset tidak berdiri sendiri. Untuk dapat memutar kaset dan menikmati musik di dalamnya, kita juga harus punya tape, yaitu sarana untuk memutar kaset. Harga kaset tergolong mahal, harga tape jauh lebih mahal. Punya banyak kaset tapi tidak punya tape, tidak bisa mendengarkan musik. Sebaliknya, punya tape tapi tidak punya kaset, mau nyetel apa?

Bayangkan kerumitan semacam itu dihadapi oleh semua bocah di era ’90-an, saat mereka ingin menikmati lagu-lagu terbaru atau musik dari penyanyi favorit.

Sebagai bocah generasi ’90-an, dan juga penikmat musik, saya harus berjuang—dalam arti harfiah—hanya untuk menikmati musik. Saya harus menabung sampai lama, demi bisa membeli tape, pemutar kaset. Setelah tape terbeli, saya harus kembali menabung sampai lama untuk mulai mengumpulkan kaset. Hanya untuk menikmati musik saja, prosesnya sulit dan tidak sebentar.

Karenanya, di era ’90-an, memiliki tape dan koleksi kaset rasanya sangat menyenangkan. Karena artinya kita bisa mendengarkan musik apa saja dan kapan saja, meski tidak bisa di mana saja. Pasalnya, tape memang tidak bisa dibawa-bawa seenaknya, karena harus mendapat sambungan listrik!

Biasanya, remaja yang punya tape di kamar akan sering berdiam di kamar—bisa seharian tidak keluar-keluar, karena asyik menikmati musik-musik kesayangan. Saya termasuk yang begitu. Kalau tidak ada urusan di luar rumah, saya pun asyik di kamar, seharian penuh membolak-balik kaset di tape untuk menikmati lagu-lagu yang saya suka. Rasanya sangat menyenangkan. Mungkin setara dengan generasi sekarang yang berbaring-baring damai dengan earphone di telinga, menikmati musik streaming.

Bedanya, generasi sekarang tidak mengalami fenomena menjengkelkan, yang disebut kaset ngodol.

Seperti yang disebut tadi, di dalam kaset terdapat pita rekaman berisi lagu-lagu yang kita dengarkan. Pita itu sangat tipis. Kalau kita sering menyetel kaset di tape, dan sering dibolak-balik tanpa henti, selalu ada kemungkinan pita akan kusut. Ketika itu terjadi, pita dalam kaset akan keluar dari putarannya, dan nyangkut di dalam tape. Lalu musik yang kita dengarkan seketika terhenti, dan kita harus menghadapi kenyataan bernama kaset ngodol, yaitu kaset yang pitanya ruwet tak karuan.

Ketika kaset benar-benar ngodol, kita harus mempersiapkan kesabaran setingkat nabi—atau setidaknya, saya berpikir begitu.

Pertama, kita harus sebisa mungkin menahan amarah gara-gara musik yang kita dengarkan terhenti. Ini penting, karena kita harus mengeluarkan kaset dari dalam tape, lalu menarik perlahan-lahan pita yang ngodol, dan mengusahakan agar pita kaset tidak semakin ruwet. Jika kita menariknya sambil marah, pita bisa semakin ruwet tak karuan, atau bahkan sampai terputus.

Kedua, setelah kaset dan pita yang ngodol bisa dikeluarkan dari tape, kita harus menggulung pita perlahan-lahan di dalam kaset, agar kembali seperti semula. Proses ini membutuhkan kesabaran, agar pita yang kita gulung benar-benar lurus, tidak terlipat-lipat, sehingga nantinya bisa kita setel lagi di tape. Karenanya, sambil menggulung pita di kaset, kita juga perlu meluruskan bagian-bagian pita yang tampak terlipat.

Ketiga, jika ada bagian pita yang terputus, kita harus berhati-hati menyambungnya, agar rekaman lagu di dalamnya dapat didengarkan kembali secara utuh seperti semula. Dalam hal ini, saya biasanya menggunakan selotip. Saya sambung bagian pita yang putus, dan merekatkannya dengan hari-hati ke selotip. Sekali lagi, proses melakukan hal itu membutuhkan kesabaran luar biasa. Dalam bayangan saya, itu mirip tim gegana yang sedang menjinakkan bom!

Apakah generasi sekarang menghadapi kerumitan semacam itu? Tentu saja tidak! Mereka tinggal menggunakan gadget, langganan musik streaming, dan lagu-lagu apa pun bisa didengarkan dengan mudah. Tidak perlu beli tape, tidak perlu beli kaset, dan—tentu saja—tidak perlu menghadapi kemungkinan kaset ngodol.

Karenanya, saya kadang iri pada generasi 2000-an. Mereka menghadapi kehidupan yang lebih mudah, jauh lebih mudah dibanding kehidupan yang saya jalani. Karenanya pula, ketika generasi ’90-an mengatakan mereka generasi terbaik, mungkin karena mereka harus menghadapi banyak kerumitan yang tidak dihadapi generasi sekarang. Salah satunya kerumitan kaset ngodol.

Tentu saja klaim atau penilaian itu bisa subjektif. Karena, bagaimana pun, setiap generasi tentu menghadapi tantangannya sendiri, meski dalam bentuk yang berbeda. Generasi ’90-an menghadapi tantangan kaset ngodol, generasi 2000-an bisa jadi menghadapi tantangan gadget rusak atau semacamnya.

Apa pun, tantangan mestinya menumbuhkan perjuangan, kesabaran, dan sikap pantang menyerah... seperti bocah yang berusaha sebaik mungkin mengatasi kaset ngodol, demi bisa mendengarkan lagu-lagu yang disukai.

Kini, saat dewasa, dan setelah jauh meninggalkan era ’90-an, saya menjadikan kaset ngodol sebagai bagian pelajaran untuk mengingatkan diri pada kesabaran. Setiap kali menghadapi hal-hal sulit, saya mengingatkan diri, “Ini lebih mudah daripada kaset ngodol!”

Kenyataannya, masalah-masalah hidup memang tak jauh beda dengan kaset ngodol. Sewaktu-waktu kesulitan muncul, sesuatu yang kita nikmati tiba-tiba terhenti atau mengalami kemacetan, dan kita kebingungan. Dalam hal itu, saya bersyukur karena menjadi generasi ’90-an, yang terlatih sabar dalam menghadapi kaset ngodol.

 
;