Rabu, 28 Agustus 2019

Hak untuk Hening

Magrib yang hening sepertinya kini tinggal sejarah,
karena usai magrib kini menjadi saat-saat yang bising.
@noffret


Jika membicarakan pro-kontra siaran televisi, kita sering harus membicarakan frekuensi publik. Karena hak frekuensi publik itu pula, televisi (seharusnya) tidak seenaknya menyiarkan acara-acara tidak bermutu, yang tidak memiliki manfaat jelas untuk kemaslahatan publik. Karena frekuensi yang digunakan televisi untuk penyiaran adalah milik publik. Dalam hal itu, televisi “meminjam” frekuensi yang dimiliki publik.

Frekuensi publik bisa menjadi analogi yang bagus untuk sesuatu yang juga menjadi hak milik kita, yaitu hak untuk hening.

Setiap orang, setiap kita, punya hak untuk menikmati dan menjalani kehidupan dengan hening, tanpa terganggu suara-suara bising. Masyarakat—kita semua—punya hak untuk menjalani kehidupan dengan tenang, tanpa terganggu suara-suara yang tak sepantasnya.

Karena adanya hak untuk hening itu pula, kita pun mengembangkan adab terkait suara. Misal, di rumah kita ada hajatan pernikahan, yang diramaikan suara musik. Dalam hajatan semacam itu, suara musik biasanya terus terdengar, dari pagi sampai siang, sampai malam. Tetapi, ketika malam mulai larut, kita pun sadar diri untuk mematikan suara. Tujuannya agar tidak menganggu orang lain yang akan tidur dan beristirahat.

Adanya kesadaran semacam itu, sebenarnya, bukan semata karena etika, melainkan juga karena kesadaran bahwa kita “meminjam” keheningan orang lain untuk kita isi dengan kebisingan, akibat adanya hajatan. Karena meminjam, kita pun tidak akan terus menerus memakainya. Begitu hajatan selesai, kebisingan pun hilang, dan kita “mengembalikan” keheningan milik orang lain, sebagaimana sebelumnya.

Tanpa kesadaran semacam itu, kita akan seenaknya memutar musik keras-keras sampai larut malam, setiap hari, tak peduli ada hajatan atau tidak. Tanpa adanya etika dan kesadaran, kita bisa saja berpikir, “Bodo amat, aku menyetel musik di rumahku sendiri. Kalau mereka merasa terganggu, itu bukan urusanku!”

Sebaliknya, tetangga-tetangga kita juga akan memaklumi kalau sewaktu-waktu kita menyetel musik dengan volume keras, pas ada hajatan. Mereka memaklumi, karena berpikir, “Yeah, namanya juga sedang hajatan. Wajar kalau ada suara musik sampai keras.”

Jadi, meski mereka mungkin terganggu karena suara musik yang memekakkan telinga, mereka tidak marah. Mereka berpikir, “Toh nanti, kalau hajatannya selesai, musiknya juga akan berhenti.”

Tetapi, kalau di rumah kita tidak ada hajatan atau acara apa pun, lalu kita memutar musik sangat keras sampai terdengar hingga radius puluhan meter, dan hal itu kita lakukan setiap hari, tetangga-tetangga kita bisa ngamuk.

Mereka marah, karena merasa terganggu, terusik, dan tidak bisa menjalani kehidupan dengan tenang. Mereka punya hak untuk hening, untuk menikmati ketenangan, dan kita memperkosa hak mereka dengan menyetel musik sangat keras. Tanpa etika dan kesadaran, orang sebaiknya tinggal di hutan.

Etika dan kesadaran, itulah nilai yang membedakan manusia dengan hewan. Etika untuk tidak memperkosa hak orang lain—termasuk hak untuk hening—serta kesadaran untuk tidak mengganggu kehidupan dan ketenteraman orang lain.

Ketika ada acara hajatan, kita menyetel musik dengan keras. Tetapi, ketika malam mulai larut, kita mematikan suara musik. Itu menunjukkan bahwa kita punya etika. Karena kita punya etika, orang lain pun tidak marah, karena mereka menyadari adanya suara-suara keras sebab ada hajatan.

Tetapi, jika kita tidak menggunakan etika, orang lain juga akan kehilangan kesabaran. Sudah larut malam, tapi musik masih terus berdentam-dentam keras. Orang lain juga akan marah dan melabrakmu, karena merasa haknya diinjak-injak seenaknya. Hak untuk tenang, hak untuk tidur, hak untuk istirahat, hak untuk hening.

Urusan seperti ini sebenarnya “pelajaran dasar” yang mestinya telah kita ketahui bersama, sejak puber. Karena etika dan kesadaran adalah dua hal yang mestinya sudah “default” dengan kemanusiaan kita. Karena itu pula, meski mungkin tidak ada yang mengajari, kita bisa paham sendiri.

Sedari kecil sampai dewasa, mungkin, tidak pernah ada orang yang memberitahu, “Kalau sudah larut malam, matikan musik, agar tidak menganggu orang lain.” Tetapi, meski tidak ada yang memberitahu, kita bisa tahu, dan paham untuk mematikan musik saat malam mulai larut, agar tidak mengganggu orang lain. Karena etika dan kesadaran memang pelajaran dasar yang (mestinya) sudah menancap secara default dengan setiap manusia.

Meski begitu, kadang ada masalah, karena orang tanpa etika dan tak punya kesadaran bisa muncul di mana saja. Misal, ada orang yang merasa dirinya kaya-raya. Ketika punya hajatan di rumahnya, seminggu penuh, dia menyetel musik dari pagi sampai pagi lagi, tanpa henti, dengan volume yang terus memekakkan telinga. Dia mungkin berpikir, “Aku orang paling kaya di sini, yang saban tahun membagi zakat bagi setiap orang yang bernapas di sekelilingku. Kalau ada yang tidak terima, silakan temui aku.”

Mungkin para tetangga memang tidak ada yang berani menegur. Bisa karena segan atau pekewuh, bisa pula karena berpikir, “Aku bisa mati kalau berani menegurnya.”

Jadi, meski mungkin terganggu akibat kebisingan tanpa henti, masyarakat pun memilih diam, karena segan atau takut. Memang tidak ada keributan, karena tidak ada orang yang menegur, tidak ada orang yang marah-marah, pendeknya suasana tampak damai seperti biasa.

Tetapi, ada hal penting yang terjadi di sini, yaitu hilangnya etika dan kesadaran, khususnya etika dan kesadaran si pelaku kebisingan.

Jika dia punya etika dan kesadaran, dia akan mematikan atau setidaknya melirihkan suara musik saat malam mulai larut, tak peduli sekaya apa pun dirinya. Persetan, memangnya sekaya apa manusia yang merasa berhak mengganggu ketenangan hidup orang lain?

Bahkan, kalau saja dia mau menjaga etika dan memelihara kesadarannya—tak peduli sekaya apa pun dia—orang-orang akan lebih menghormati. Masyarakat akan berpikir, “Dia orang kaya yang rendah hati, mau tepo sliro dengan masyarakatnya. Meski kaya-raya, dia tidak seenaknya.”

Sebaliknya, jika karena merasa kaya lalu berbuat seenaknya, masyarakat pun berpikir, “Dia mungkin merasa bebas seenaknya, karena merasa kaya. Dasar bangsat! Semoga cepat mati keparat itu!”

Jika kita menghilangkan etika dari diri kita, orang lain pun sama. Jika kita melepas kesadaran dari hidup kita, orang lain pun sama.

Sama seperti televisi yang menayangkan siarannya dengan meminjam frekuensi publik, kita menayangkan kebisingan dengan meminjam frekuensi milik masyarakat sekitar. Mereka—masing-masing orang di sekitar kita—punya hak untuk hening, hak untuk merasa tenang, hak untuk tidak terganggu, hak untuk tenteram dalam keheningan. Karenanya, kita tidak bisa seenaknya menguarkan kebisingan.

Karenanya pula, saya sering prihatin dengan masjid atau musala yang terkesan “seenaknya” dalam mengumbar kebisingan TOA. Masyarakat sekitar tentu memaklumi kalau masjid atau musala mengumandangkan azan, lima kali sehari.

Tetapi, jika di luar azan itu terus menerus ada kebisingan, masyarakat bisa terganggu. Suara keras yang selalu terdengar lima kali setiap hari, sepertinya sudah cukup. Tidak perlu ditambahi lagi dengan aneka suara lain yang terus menerus dikeraskan TOA. Karena berbau agama atau tidak berbau agama, kebisingan tetap kebisingan. Mau pengajian atau pasar malam, suara keras yang terus menerus bisa mengganggu kehidupan.

Jika selama ini masyarakat sekitar hanya diam dan tampak tidak terganggu, belum tentu kenyataannya memang begitu. Bisa jadi, mereka sebenarnya terganggu, tapi memilih diam. Ini mirip kasus orang kaya-raya yang menyetel musik keras seenaknya, dan para tetangga merasa segan saat ingin menegur.

Mereka pun diam, tapi bukan berarti mereka senang. Selalu ada kemungkinan orang-orang yang berpikir, “Bagaimana pun, mereka mayoritas, dan mungkin merasa bisa berperilaku seenaknya.”

Jadi, daripada menimbulkan keributan, mereka memilih mengutuk dalam diam.

 
;