Begitu seseorang yakin bahwa ia sudah mengerti, pikirannya berhenti mencari kemungkinan lain. Semua petunjuk baru mulai dinilai berdasarkan keyakinan lama, bukan sebaliknya. Bukan karena informasi baru sulit diterima, tetapi karena informasi itu mengganggu bangunan yang sudah telanjur terasa nyaman.
Manusia tidak terlalu takut pada ketidaktahuan. Yang lebih ditakuti adalah saat ketidaktahuan itu terlihat oleh diri sendiri. Mengucapkan "saya belum tahu" berarti mengakui bahwa pengetahuan di kepala ternyata tidak seluas yang dibayangkan. Mengucapkan "tolong beri tahu saya" berarti menyerahkan sebagian kendali kepada orang lain. Ego menafsirkan keadaan itu sebagai kekalahan kecil, padahal kenyataan sedang menawarkan jalan keluar.
Pola semacam itu muncul dalam bentuk yang lebih halus di hampir setiap bidang kehidupan. Pengalaman yang panjang sering berubah menjadi tembok yang menghalangi pengalaman baru. Keahlian yang dulu membawa keberhasilan mulai dipertahankan seperti identitas. Setiap pengetahuan baru terasa mengganggu, bukan karena buruk, tetapi karena mengingatkan bahwa pengetahuan lama memiliki batas.
Di usia tertentu, pertumbuhan sering melambat bukan karena otak kehilangan kemampuan belajar. Pertumbuhan melambat karena rasa ingin tahu mulai dianggap mengganggu citra diri. Orang yang terus bertanya terlihat kurang meyakinkan. Orang yang selalu punya jawaban tampak lebih berwibawa. Dunia memberi hadiah sosial kepada kepastian, padahal perubahan hampir selalu dimulai dari keberanian mengoreksi kepastian itu.
Rasa ingin tahu tidak membuat seseorang tampak lebih pintar. Sering kali justru sebaliknya. Ia membuat kita terlihat belum tahu. Anehnya, hanya melalui keadaan itulah pengetahuan benar-benar punya tempat untuk masuk.
