Tadi siang, dengan perut kelaparan, saya berkendara perlahan-lahan sambil memperhatikan pinggir jalan, mencari warung yang cocok. Ada satu tempat makan, dengan spanduk besar bertulisan, “AYAM PANGGANG”. Di depan tempat makan itu juga ada alat pembakaran.
Kalau kamu mendapati tulisan “ayam panggang” dan melihat alat pembakaran, apa yang terlintas dalam pikiranmu? Kemungkinan besar, kamu akan membayangkan daging ayam yang dibakar, bersalut kecap, dan disuguhkan dengan sambal serta lalap, kan? Begitu pula yang ada di pikiran saya.
Jadi, saya berhenti di sana. Memesan nasi dan ayam panggang. Sambil duduk, saya membayangkan sesaat lagi akan mengisi perut yang lapar dengan sajian ayam panggang yang masih panas, sambal yang nikmat, plus lalapan. Tapi ekspektasi—atau kenyataan—ternyata mengkhianati.
Ketika disuguhkan, nasinya masih hangat. Tapi ayam panggangnya... ternyata tidak seperti yang tadi saya bayangkan. Itu memang ayam panggang, tapi [sudah] dimasak bersama kuah kental berwarna kuning kemerahan—kalian pasti tahulah jenis masakan itu. Dan tidak ada sambal, tentu saja.
Dengan bingung, saya bertanya, “Kok gini, Mas? Saya pikir daging ayamnya dibakar.”
Pria pemilik warung menjelaskan, “Ini masakan ayam panggang, Mas. Tadinya dibakar, tapi dimasak dengan kuah.”
Saya menatap ke luar, dan bertanya, “Jadi, alat pembakaran itu buat apa?”
Pria pemilik warung tampak bingung, dan tiba-tiba saya menyadari, alat pembakaran itu serupa “jebakan”. Alat pembakaran itu adalah “kenyataan” yang sengaja diletakkan di sana—di depan warung makan—untuk “menjebak” orang-orang agar berpikir keliru, seperti yang saya alami.
Saya merasa dikhianati kenyataan.
Tentu saja saya berekspektasi, tapi ekspektasi itu lahir karena adanya kenyataan yang jelas dan kasatmata. Saya membayangkan daging ayam dibakar, karena ada alat pembakaran di sana. Bahkan orang paling tolol sekalipun akan berpikir sama seperti itu.
Saya menatap sajian di meja. Sejujurnya saya doyan masakan itu; ayam panggang bercampur kuah. Apalagi nasinya juga kelihatan akas. Dan perut saya sangat keroncongan. Mestinya saya segera menyantap makanan itu seketika. Tapi perasaan yang dikhianati telanjur terluka.
